#JanganBeliBiem #JanganBeliBMW

Ada sebuah komeng di sebuah trit: biem dengan usia belasan bahkan puluhan taon, apa yg bisa diharapkan (untuk daily usage)?

Yup, sama sekali ndhak ada, jika kita berparadigma memperlakukannya kayak mobil baru -se-“murah” apapun itu mobil baru- yg tinggal isi bensin ganti oli dan bejek gas. Plus masih ada garansi dari pabrikan.

Mobil baru -se”murah” apapun itu- yg kayak gini: tinggal isi bensin dan ganti oli doang inilah yg paling cocok buat daily usage.

Lalu buat apa biem itu? Beberapa rekan mengatakan itu cuman buat hobi saja. Mobil yg disayang-sayang, karena meskipun rasanya masih enak – jauh lebih enak ketimbang mobil baru yg harga perolehannya sama, dia tetep kurang cocok karena umurnya yg udah tua. Potensi terjadinya unexpected-trouble masih terpampang di depan mata.

Well, fix di situkah?

Ternyata belom tentu juga. Saya mendapati beberapa rekan menggunakan biemnya untuk penggunaan harian. Buat ngantor saban hari, khususnya musim penghujan gini. Atau buat wira-wiri ke mana-mana urusan kerjaan. Normal-normal aja. Nothing scary happen. Ndhak ada kejadian horror yg terjadi.

Mungkin selain beruntung, atau juga emang perawatannya boleh gitu, bisa jadi karena paradigmanya beda.

BEGINI, kata seorang temen, dengan duit yg sama kita bisa “menciptakan garansi” sendiri. Sederhana kata, paradigma harga beli biem yg selama ini ada dan tertancap di persepsi kita dan persepsi banyak orang musti diubah.

Kalo selama ini kita mungkin berpikiran harga beli atau harga perolehan adalah harga saat kita membeli itu si mobil (bekas), dan kemudian ada biaya TAMBAHAN berupa perbaikan-perbaikan, entah ringan atau berat, seusai kita ngangkat si mobil;

maka selanjutnya kita musti mengubah persepsi tersebut menjadi: harga beli atau harga perolehan adalah harga ngangkat si mobil plus biaya restorasinya. Bukan lagi perbaikan-perbaikan, melainkan restorasi.

Atau biar lebih mengerucut, kata restorasi ini kita ganti aja dengan rejuvenasi alias penyegaran semua komponen yg diperlukan untuk disegarkan. Kalo restorasi, kesannya kayak membangun ulang semua mobil menjadi seolah baru lagi. 😀

Maka, rejuvenasi ini akan lebih kompleks, luas, dan banyak skupnya ketimbang perbaikan-perbaikan yg sifatnya reaktif. Alias yg rusak aja yg diperbaiki.

Rejuvenasi akan bersifat preventif. Dengan kata lain, meskipun ndhak rusak, kita juga perlu mengganti apa yg mesti disegarkan.

Contoh: kalo perbaikan-perbaikan, maka parts kaki-kaki yg udah sowak dan oblak aja mungkin yg kita ganti. Kalo rejuvenasi, maka semua komponen kaki-kaki musti kita ganti.

Kalo perbaikan, maka water pump yg oblak aja yg kita ganti. Tapi kalo rejuvenasi, seluruh cooling-system akan kita ganti. Dengan begitu, kita bisa meminimalisasi terjadi unexpected error alias “menciptakan garansi” sendiri.

Banyak duitnya dong?

Jelas!

Namanya juga rejuvenasi. Namanya juga preventif. Namanya juga menciptakan garansi sendiri.

So, ndhak bisa lagi sebuah biem (seken) kita tebus dengan harga ngangkat mapuluh juta kemudian perbaikan-perbaikan awal lima atau mabelas juta. Sebuah biem yg kita angkat mapuluh juta, bisa jadi ntar biaya rejuvenasinya mapuluh juta juga.

Sadis?

Pasti! Tapi itulah harga yg kmusti kita bayar buat menciptakan garansi sendiri.

Lantas dengan biaya dan proses sebegitunya, kita bener-bener mendapatkan garansi sebagaimana kita beli mobil baru?

Kalo dilihat secara matematis dan probabilitas statistik, mungkin tetap tidak. Sebab bisa jadi meski kita udah ganti wiring-set, ada soket yg kelewatan ngepong sehingga memutus arus dan membuat si biem berhenti mendadak di tengah jalan. Namun secara realistis, kejadian macam ini jarang saya dengar berita dan kejadiannya.

Kalo ada berita biem kawan-kawan trouble di perjalanan, setelah kita audit, biasanya terjadi karena kurang perawatan. Dan saya tau bener contoh biem yg direstorasi, kemudian dirawat dengan skedul perawatan yg semestinya (ingat teori 10rb km: Oil ChangeInspection IInspection II, cek pdf-nya di sini) ternyata ya bertahun-tahun dipakai ya aman-aman saja. Kalo toh ke bengkel, kalo ndhak perawtaan rutin sebagaimana skedul tersebut, palingan ya upgrade-upgrade apa gitu.

DAN ini semua kembali ke masalah mental. Dengan duit 100jt, kita siap ndhak merejuvenasi sebuah biem tua dan menikmati segala kelebihannya: kencang, nyaman, stabil, di punggung ndhak sakit, dan mungkin aja sih mungkin semacam bergengsi geitu;

atau kita nebus aja LCGC misalnya yg maaf guyonannya kena hembpasan angin aja udah geyal-geyol dan dijalankan di “jalanan Indonesia pada umumnya” rasanya kayak ngepruk punggung namun irit banget dan dapet garansi pabrikan.

Saya tidak mengatakan mana yg lebih baik., Ini adalah pilihan. Sebab di keluarga besar kami, ada koq:

  • mobil “pasaran” baru: ada yg sedan 1500cc VVTi, ada yg LMPV 7 seater 1400cc, ada yg MPV 7 seater 2000cc. Ketiganya beli gress, dan dibeli dengan alasan sendiri-sendiri, terutama sih karena kapasitas angkut orangnya itu 😀 Hehehehe;
  • ada mobil lawas sejuta umat pada kalanya: Kijang Grand Extra;
  • ada SUV berbasis pikap: Ford “X-verets” Everest;
  • dan mobil premium lawas: ada yg V8 dan kami beli dengan kondisi super well maintained meski sekarang udah remuk dan ada V6 yg terejuvenasi (biem ndhak punya V6);

sehingga sedikit-banyak saya berani berkata bahwa saya memahami tabiat dan karakter masing-masing.

Dan pilihan saya pribadi: tetep juauh lebih enak bawa mobil premium lawas yg terejuvenasi/well maintained. Ulang-alik Kediri-Jakarta Jakarta-
Kediri berkali-kali PP alhamdulillah ndhak ada trouble. Dan badan rasanya enaaak banget. Bensinnya? Yg MPV 7 seater 2000cc kayaknya ndhak lebih irit ketimbang itu V8 3000cc atau V6 2600cc dengan bobot sama atau malah juauh lebih berattt.

Kalo pake mobil (sedan) 1500cc VVTi gress yg super irit, emak saya bawaannya menggenggam erat handle/pegangan tangan atas terus-terusan tatkala saya mbejek gas, melanggar sedikit di atas batas kecepatan atas jalan tol. 😀 (Jangan ditiru. Karena saya tau kelakuan Anda biasanya melanggar banyak dari batas atas kecepatan jalan tol. Maka niru saya artinya downgrade tho? 😛 😛 😛 Hahahaha!)

Sementara pake mobil premium lawas, emak saya ndhak percaya kalo beberapa puluh meter sebelumnya kami barusan mengalami pecah ban saat saya jalan santai 140kmh, setelah sebelumnya menghajar lobang aspal. Ini kejadian faktual. Emak saya yg ndhak ngerti mobil, sering saya jadikan parameter rasa sebuah mobil.

Kemudian istri saya yg saya ajak naik sebuah LMPV tiga baris 7 seater (katanya, tapi sempitnya minta ampun) gresss keluar dealer, malah sambat dan lebih demen naik biem tuwa 4 silinder umur 30 taon punya temen.

Ya itu, asal direjuvenasi dan dirawat dengan bener, kekhawatiran terjadinya unexpected trouble/error bisa diminimalisisasi.

Dan saya khawatirnya, garansi pabrikan terhadap mobil baru itu, sebagaimana kata mereka: limited warranty alias garansi terbatas, jangan-jangan lebih menyentuh aspek psikologis kita ketimbang aspek teknis. Nyatanya, mobil gress yg bergaransi tetep ndhak dapat pertanggungan apa-apa kala velg peyang dan ban hamil gara-gara menghajar lobang aspal.

Ingat, garansi pabrikan itu kalo kita cermati lebih kepada garansi karena kerusakan produksi, bukan kerusakan pemakaian lho! 😀 Artinya, kalo lolos dari kerusakan produksi, secara faktual garansi itu sebenarnya seperti ndhak pernah terjadi.

Dan di jalanan pun, mobil anyar yg minggir dan buka kap mesin dengan asep mengepul dari ruang mesinnya ada aja koq kejadiannya. Tapi ini bukan berita menarik untuk diviralkan. Akan jauh menggugah dan mengundang esmosi pembaca jika yg diviralkan adalah sebuah biem tua yg mogok, atau kecelakaan, atau kebakaran, atau segala bentuk celaka lainnya.

Bagi hater biem, maka ini akan menjadi makanan empuk: mobil mewah koq celaka. Bagi fansboy biem, ini akan menjadi bahan pertahanan reaktif: itu karena kurang perawatan, salah perawatan, dll dll dll.

Mobil itu sebuah mobil. Alat transportasi. Eh ternyata bisa membuat kubu-kubuan dan membawa aspek psikologis juga. Hadew…

Akan tetapi, kenyamanan, keantengan, stabilitas, dll itu rasanya bukanlah aspek psikologis, Itu semua bisa diukur mustinya. Dengan seismograf, alat pengukur benturan, dll dll misalnya. Saya ndhak paham metode teknikalnya. Tapi saya meyakini demikian adanya.

Dan kejadian barusan; saya akhir-akhir ini gantian mbawa X-verest, nama buat Ford Everest kami. Setelah dulu biasanya keseharian mbawa Kijang Grand Extra yg barangnya masih ada dan tersimpan di garasi, sekali-sekali dipakai dan dipanasi. Mbawa kedua jenis mobil ini, kalo ada polisi tidur wajib ngerem. Kalo ndhak, badan bisa kelempar dan kepala mentok plafon.

Mendadak saya dijemput temen bawa biemnya. Sebuah Seri 3 berusia 20 taon. Eh pas melewati poldur deket rumah yg langganan saya lewati, doi ndhak ngeliat dan lupa ngerem tentunya. Pada kecepatan ala dalam kompleks perumahan sih!

Tapi tetep saja saya refleks berteriak dan tangan mendadak menggenggam handle/pegangan atas buat siap-siap kelempar.

Eh ndhak terjadi apa-apa. Cuman jendhul-jendhul enak gitu. Kalo mbawa X-verest atau Kijang, bukannya jendhul-jendhul enak tapi pasti juendhulll glodhakkk!!!

***

SEMUA kendaraan yg kami ceritakan di sini adalah ada di keluarga besar di rumah. Bukan ngomongin kendaraannya orang lain. Kecuali itu Seri 3 punya temen atau kendaraan yg saya deskripsikan lain.

Jadi pilih mana?

Kalo paradigma Anda ngangkat biem tua adalah sebagaimana ngangkat Kijang tua, yg harga perolehannya adalah = harga beli sementara biaya perbaikan adalah biaya TAMBAHAN, saya sangat menyarankan jangan pernah sekali-sekali beli biem. #JanganBeliBiem #JanganBelBMW

Tapi kalo Anda bisa menyadari dan bisa mengatur budget untuk ngangkat+rejuvenasi sebagai harga beli/harga perolehan, maka silakan bicarakan lebih intensif dengan keluarga apakah tetap ngangkat LCGC misalnya atau biem tua terejuvenasi tsb.

Tapi ingat: jangan sampai salah milih bengkel biem. Silakan konsultasikan metode perawatannya dan ke mana arah perginya dengan rekan-rekan di angkringan-online ini.

Dan serejuvenasi-rejuvenasinya biem tua, kalo bisa jangan sampe salah milih bahan. Bukannya rejuvenasi, khawatirnya yg ada malah dapet bahan yg sewderhana katanya unrepairable. Misal: liner silinder udah baret dan krowak. Dll.

Semua tetep bisa diperbaiki atau diganti baru. Tapi takutnya bukan lagi rejuvenasi dan Anda tinggal ganti oli + isi bensin + bejek gas ke depannya tapi malah over budget dan biem cuman pindah bengkel tanpa sempat kita pakai dengan puas. Inilah yg saya istilahkan secara kontekstual unrepairable. Oleh karena itu ajaklah mekanik yg terpercaya untuk hunting bahan.

NGERI? Syerem? Menakutkan? Bikin ragu?

Yawdah, dengan budget yg sama belilah LCGC saja. Atau belilah mobil seken lain yg bisa jalan tanpa harus rejuvenasi-rejuvenasian. Selesai persoalan. Anda akan bebas dari kekhawatiran psikologis ke depannya. 😀

Sebab beli biem itu emang ndhak cukup kalo punya uang saja. Yg pertama diperlukan adalah: niat, niat, dan niat.

Semua ini hanyalah opini berdasarkan pengalaman pribadi saya. Silakan bagi pengalaman Anda juga yg mungkin berbeda dan berkebalikan dengan ini semua. Biar bisa cover both side story alias tabayyun.

Matur nuwun.

– Freema Bapakne Rahman
Bimmer enthusiast with great passion.

Remember, we talk about passion, not about money. Inget!!!

Advertisements

Biem Menapak Bumi

Mungkin biem kita statusnya udah lebih dari sekedar alat transportasi yang menghubungkan kita dengan banyak tempat dan beragam titik tujuan ke mana pun kita memaui dan menghendaki.

Mungkin biem kita udah naik kelas, atau tetap terus pada kelas aslinya: sebagai citra gaya hidup/life-style dan barang penyalur hobby serta pemuas hasrat emosi tersendiri dari dalam diri.

Sementara di luaran sana, masih banyak saudara-saudara kita yg mungkin masih terisolasi secara berkala dari gemerlapnya dunia fana ini.

Silakan lajukan biem Anda sekencang biem sanggup. Silakan ngebut sekuat nyali Anda kuat. Silakan turing sejauh Anda bisa bisa beli bahan bakar.

Tapi jika saya boleh berpesan, semelayangnya angan kita dengan si biem hingga ke awang-awang fantasi dan bayangan kenikmatan berkendara: tetaplah kaki hati dan tapak jiwa ini melekat pada bumi.

Sebab jika sampai ndhak menapak bumi, kemungkinannya kalo ndhak kita lagi naik pesawat terbang ya mungkin ternyata nyawa ini udah terpisah dari jasad, melayang ke tujuh angkasa di sebelah sana.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman

Kosakata BMW

Sebagaimana kita tahu, kata bisa diklasifikasikan menjadi:

Kata sandang atau artikel/artikula misalnya, kita tahu sejauh ini adalah si dan sang. Meski detailnya bisa lebih luas dari itu.

Sementara kata sambung alias konjungsi ini yang kayaknya paling sering kita pakai dalam keseharian, macam: dan, atau, serta, dengan, dan masih buuuanyakkk lagi yang fungsionalnya bisa Anda cermati di sini.

Termasuk kata depan atawa preposisi yang sering kita kenal adalah di, ke, dan dari yang luasannya bisa disimak di sini.

Atau kata ganti alias pronimona ku, mu, nya, kita, kami, mereka, dia, ia, dia ini mungkin lamah yang paling sering kita ucapkan/ketikkan/gunakan dalam keseharian? Entahlah. 😀

***

NAH, menjadi bimmerfan itu juga memperkaya khasanah dan perbendaharaan kosakata kita lho!

Saat mengunjungi Bimmerfest misalnya, inilah fungsinya ngunjungi Bimmerfest atau beragam gathering/meet BMW: bisa menambah perbendaharaan kata benda atau nomina. Misalnya: E12, E21, E23, E24, E28, E30, E31, E32, E34, E36, sampe F30, F31, F32, F33, F36, F80, F82, F83, dll dll.

Sementara jika rajin nongkrong di angkringan-online gini, kita juga bisa menambah perbendaharaan kata bilangan alias numeralia. Misal:
– Shock 2jt
– Filter oli 150rb
– Filter udara 175rb
– Filter bensin 200rb
– Busi 8x30rb = 240rb
– Oli 7 litres x 50-150rb = tak terhingga
Dll dll.

Jika kita rajin DIY atau bahasa Sundanya du it yourself (duit-duit ente sendiri), maka diri jiwa dan hati kita akan kaya dengan kata kerja alias verba. Misal:
– Dikampak
– Mengampak
– Ogel-ogel
– Ugil-ugil
– Oblak
– Koclak
– Malem minggu bongkar relay
– Weekend masang manifold
– Pulang kerja mbetulkan wiper
– Abis nganter istri langsung deh ngecek power-widow eh window
Dll dll.

Semakin mengenali biem kita sendiri, kita juga akan banyak belajar tentang kata sifat atawa adjektiva; baik itu sifat asli, sifat yang sesungguhnya, atau seringnya sifat yang dibuat-biat. Misalnya:
– Biem itu canggih.
– Biem itu kuat.
– Biem itu dijual kembali harganya tinggi selangit, udah gitu njualnya guampangnya minta ampun, sampai jadi rebutan para makelar jualan mobil.
– Biem itu perawatannya mudah banget.
– Biem itu harga spare-parts/suku cadangnya murah banget.
– Biem itu bensinnya irittt polll, sampe lupa bulan apa bahkan tahun kapan terakhir kali ngisi bensin.
– Biem itu yakin sifatnya kayak di atas itu.
Ini contohnya. Contoh!!!

Adapaun jika kita rajin browsing, bertanya kesana-kemari, jalan-jalan ke sana-ke sini, maka wawasan kita akan kaya dan penuh dengan kata keterangan alias adverbia; baik keterangan waktu, keterangan tempat, atau keterangan keadaan maupun keterangan palsu. Misalnya:
– Buluk
– Kucel
– Kusam
– Buthek
– Kapan dikampak
– Saatnya ngampak
– Kampakan
– Cocok dikampak
– Ganti BPKB
– Unrepairable
– Gergaji saja
Dll dll.

Pun jika kita banyak ketemu temen sesama bimmerfan, kita juga bisa menambah perbendahaan kata seru alias injeksi eh interjeksi. Misalnya:
– Jancuuuk, bushingku jebol lagi!
– Bajilakkk!!! Bensin habis!!!
– Kamprettt, visco-fan nyampluk radiator!!!
– @#$%^&**^%###!!!
– (Tiiit)
– (Sensor)
Dll dll.

Itu sedikit pengalaman yg bisa saya share tentang kepandaian saya berbahasa Indonesia sub cabang bahasa bimmer. Monggo bantu share juga kelihaian dan kecakapan temen-temen dalam menjunjung tinggi kosa kata bimmerfan. Mari kita semua menjadi bimmerfan yang pintar lagi cerdas. Plus nihil baperan, mengingat paragraf yang sedang Anda baca ini sangat kental mengandung unsur humor yang bisa bikin baper jika dianggap serius. Okey ndhak, cuk?

Matur tengkyu sudi membaca posting (tak) berguna ini. Sudah menghitung ada berapa banyak kata sesuai jenisnya di posting ini?

– F16

Honda MogePro 3.0l 32-Valves V8 218ps 290Nm

Dear Honda,

Kami telah berhasil dan sukses memodifikasi sebuah Honda MogePro menjadi bermesin 3.0l 32-valves V8 dengan keluaran tenaga mencapai 218 ps (212 hp) dan torsi 290 Nm .

Namun untuk keselamatan jalan raya, kecepatan motor ini tetap kami batasi secara elektronis pada 100 kpj saja.

Kami juga telah berhasil mengubah transmisi manual ceklac-ceklic pada motor ini menjadi transmisi 7 kecepatan step tronic.

Sedikit penyeuaian lain yg kami lakukan adalah penambahan electronic-spoiler di bagian belakang (belakangnya motor, agak jauh ke sono).

Front-difuser juga telah kami tambahi wiper dengan opsi speed-sensing, namun rain-sensor telah kami lepas mengingat ini tetaplah sebuah motor, mau semahal apapun tetap saja kehujanan, oleh karena itu mending beli biem bekas ndhak kehujanan ndhak kepanasan ketimbang beli kalo tidak Ninja tidak cinta kalo bukan FU ndhak ai loop yu.

Semua fitur ini terintegrasi dengan Engine-DME Bosch(oc) version 6.9 terbaru dari pasaran loakan.

Oia, instrumen-cluster juga telah kami sempurnakan dengan paket android yg detachable, sehingga bisa diupgrade dan ditambahi aplikasi.

Semua proses modifikasi ini dikerjakan langsung sendirian saja oleh bengkel Sugitech di kawasan Bunderan Serayu, Madiun yg merupakan bagian dari Group SukurCom.

Bengkel ini termasuk salah satu bengkel kaliber internasional bahkan antar planet dan antar galaxy – mulai galaxy s sampai galaxy s-cond. Karena selain mennangani modifikasi segala jenis kendaraan baik BMW, Mitsubishi Colt T, Suzuki Truntung, Vespa, hingga motor besar jenis MogePro; Sugitech juga menangani segala servis elektronik mulai VCD Compo, speaker aktif, blender, kulkas, dispenser, rice-cooker dan er-er lainnya.

Juga yg terutama adalah SukurCom ini melayani segala kebutuhan cetak-mencetak Anda, mulai undangan manten (terserah mantenannya Anda atau siapapun), kertu nama, kertu siapa, dan kertu apa, hingga kertu mana. Beneran ini!

Jika Anda tertarik dengan karya otentik modifikasi anak bangsa(t) ini, silakan komeng dimari https://m.facebook.com/photo.php?fbid=178525259391423

***

JUGA tak lupa kami ucapkan hai dunia, lihat dan saksikanlah, inilah kami anak-anak BMW. Mosok pake motor cuman 150cc? Apaan tuh?

Namanya kami anak BMW, jelas kami ndhak terima dong dengan fakta menyedihkan ini!

Oleh karena maka daripada itu adapun kemudian akhirnya diperkenankanlah perkenalan modifikasi yang daripadamananya telah mengubah mesin 150cc tersebut menjadi mesin gahar sekaliber badak buas beringas nan kesetrum wabah kejang leher sehingga susah belok.

Maka saksikanlah apa yang mana daripadanya sebuah mahakarya tralala dari kami semua ini begini kapan kenapa seperti sebagaimana ininyalah: Honda MogePro 3.0l V8!

Tepuk tangan semua! Prok prok prok!

Demikian persembahan luar bi(n)asa dari kami hanya untuk Anda sedunia. Semoga berita gembira ini bisa bermanfaat mengendorkan saraf-saraf kaku dan hampir kram di otak Anda semua.

Akhirul kalam, jalesveva jayamahe, sekali di udara tetap di udara. Salam Wuling!

– Freema V8

Triptonic Tiptronic Steptronic Manumatic


Bahkan, penggemar/pengguna biem pun masih buuuanyakkk yg menuliskan steptronic dengan tiptronic. Lebih parahnya lagi, juauhhh lebih buuuanyakkk lagi yg salah menulis dan menulis salah tiptronic dengan triptonic. Googling aja triptonic, maka google akan menyarankan yg benar dg tiptronic.

Udah steptronic salah jadi tiptronic, udah gitu diperparah lagi malah jadi triptonic.

Masih lebih parah lagi, kejadian ini udah berlangsung lama, udah berkali-kali dibahas, eh masih terus aja berulang-ulang ini kesalahan yg sama.

Dan bahkan mungkin sangat suuuedikittt yg ngerti bahasa generiknya: manumatic.

Tuduhan subyektif saya, yg mempopulerkan, melestarikan, dan melanggengkan kesalahan ini adalah para pedagang umum yg lagi jualan biem. Yakni para pedagang sok tau yg mana kelakuan mereka justru kita amini dengan sikap jarang memverifikasi ulang setiap informasi yg masuk ke kita.

Cek aja di setiap post, komen, atau trit di fesbuk; atau lapak dagangan di jual-beli online, berapa yg menuliskan steptronic dan berapa yg menuliskan tiptronic, sori “triptonic”, untuk BMW.

Ternyata “kecanggihan” pengguna BMW belom tentu secanggih mobilnya.

– Freematronic

BMW, Boros, Shadowmasochist

BMW boros?

Sebenarnya ungkapan ini sama sekali ndhak berlaku buat pengguna 4 silinder atau 6 silinder. Bandingkan aja 323i atau 325i dengan Innova empat silinder; pada perilaku dan jalanan yg sama, boros mana kira-kira.

BMW boros rasanya hanya berlaku mutlak pada pengguna V8. Yg dari lahir ceprotnya aja, buku manual BMW udah mengatakan kalo konsumsi BBM-nya itu 1:6 untuk kondisi urban. Dan jalanan masa kini, di manapun rasanya adalah urban. Bahkan jalan tol pun, yg udah di kota besar, ia bukan jalan tol – bebas hambatan lagi, melainkan jalan tol – berbayar.

Saya juga miara sebuah E34 V8. Dan saya berdarah-darah miaranya. Namun ini darah kepedihan nan nikmat. Semakin berdarah, saya semakin merasakan kenikmatan. E34 V8 itu, laksana dewi cantik namun gualakkk nan sangat cantik dan teramat sangat begitu menggoda dan menggairahkan.

Tentunya hanya bagi yg bisa tergoda dan bergairah dengannya, itu V8. Ia suka mengelus kemudian menampar pipi kita, dan kemudian mengelusnya lagi. Bukan cuman pipi, yg bawah juga: dielus, dilentik, trus dijepit. Ouwh!

Yg bawahnya lagi apalagi: dijilat, diputer, dicelupin. Alamaaakkk… Rasanya, begitu manis legit! Apalagi dicelupinnya ke susu, persis iklannya di tipi itu, gurihnya…

*Apasih!*

Tapi ndhak semua pengguna V8 adalah shadowmasochist macam saya. Ada yg miaranya beneran laksana senopati miara kuda perangnya atau adipati miara kereta kencananya.

Tapi sesiapa pun mereka, saya sungguh angkat topi, salut tiada terkira, buat yg dengan sadar dengan sengaja milih miara E34 jadul matanya telanjang ndhak kekinian, dengan mesin V8 yang boros.

Mereka adalah segelintir manusia yg berbeda. Baik berbeda dengan tetesan dan luluran darah macam saya, atau berbeda laksana senopati atau adipati yg mengayomi rakyat kadipaten. Kadipaten-online Mataraman Hadiningrat. Halah!

Semoga Lik Valdirama Merzaputra Hartawan segera mendapatkan kereta kencananya yg siap bertempur menggempur barisan musuh: para prajurit sejuta umat dari tlatah Jepang. Eh bukan ding, bukan! 😀

Regards,
Freema HW
– V8
– TDCi

Nomenclature

Sebagaimana kita ketahui, nomenklatur BMW berdasarkan seri dan cc. Kayaknya semakin kesini semakin ndhak relevan.

BMW masih bisa ngeles bahwa “cc”-nya adalah penyetaraan saja. Tapi semakin besok, kayaknya harusnya mulai sekarang deh, harusnya BMW semakin sadar bahwa “penyetaraan” itu pun akan semakin menjauh.

Mesin 2000 cc sekarang tenaganya bisa setara mesin 5000 cc kemarin-kemarin ntar. Karena mesin sekarang sudah semakin presisi dan efisien, banyak intervensi elektronik di semua lini: injeksinya langsung masuk ke mesin bukan lagi ke pipa intake, katup-katupnya diintervensi dengan perangkat elektronik dan dikendalikan komputer,

plus sudah diperkuat dengan turbo generasi terkini yg semakin smooth karena kitirannya bisa diatur-atur atau diubah-ubah miringnya, pun jumlah turbonya bisa banyak atau bertingkat-tingkat boost & tahapan/urutan kerjanya;

atau pake hybrid;

atau keduanya.

Sekarang aja mesin 2000 cc tenaganya udah jamak setara dengan mesin 3500 cc era dua dekade silam. BMW M550d mesinnya cuman 3000 cc, dianggap setara 5000 cc. Di beberapa mesin Volkswagen, mesin 1600 cc juga udah setara dengan mesin 3000 cc era kemarin.

Dulu saya pernah ngetik ginian jadi komen di angkringan-online bimmerfan mataraman, tapi saya search koq ndhak nemu. Baiklah saya ketik lagi aja.

Sekarang sih turbo sama hybrid seolah masih merupakan bagian “tambahan” buat mesin. Kelak, bisa jadi ini semua sudah menjadi hal yg (dianggap) built-in, satu kesatuan, bukan tambahan, dan bukan merupakan bagian terpisah, sebagaimana kontrol elektronik pada katup mesin. Sampe akhirnya mobil jadi listrik semua. Who knows kan?

Mending nomenklasi BMW dibiarkan tetap skemanya, tapi belakangnya diubah jadi indikasi tenaganya.

Jadi kalo ada 320i, maka pengertiannya adalah Seri 3 dengan 200 ps. BMW 540i adalah Seri 5 dengan 400 ps. Trus 730Li maka pengertiannya adalah Seri 7 dengan tenaga 300 ps, LWB. Gampang, dan bakal jamak ntar mobil dengan tenaga segitu, karena dihasilkan oleh mesin yg kecil, imut, ringkas, efisien, dan irit. Berkat kemajuan teknologi yg semakin presisi dan semakin ringan.

Kalo toh nanti semua mobil jadi listrik, nomenklasi ini rasanya masih akan tetap relevan. Cuman bedanya kalo kemarin 320i adalah Seri 3 dengan 200 ps bermesin 1500 cc misalnya, kini tetap Seri 3 dengan 200 ps bermotor listrik. Atau biar lebih ke-listrikan (kenikian yg menggunakan listrik/elektrik), itu 320i tinggal di-update aja jadi: Seri 3 dengan 200 Kw (setara kurleb 270 ps). “i”-nya adalah intelligent atau pinter banget atau apalah. Nanti “is”-nya jadi intelligent+sport. “d”-nya jadi durable atau double atau apa gitu. “e”-nya jadi economic-version mungkin. Tinggal dicocok-cocokkan aja pokoknya. 😀

Audi aja udah mulai sadar diri. Karena kalo cuman menampilkan Audi A4 2.0TFSI, orang ndhak akan sadar kalo tenaganya udah 250 ps. Kalo cc 2000 era kemarin-kemarin itu biasanya keluarannya cuman 150an ps.

Volvo juga menyembunyikan kapasitas silindernya. Kini dia menjenjangkan produknya (tetap) dengan T4, T5, T6, atau T8; cuman intinya makin tinggi T-nya makin gedhe aja kemampuannya. Pokoknya gitu. Bukan lagi turbo+jumlah silinder lagi. Atau apalah itu skema sebelumnya. Mohon dijabarkan kalo temen-temen punya penjelasan detail, rinci, dan spesifiknya.

Mercy, masih konvensional kayak BMW. Dan masih sama ngacaunya. C250 konon mesinnya cuman 1800 cc.

INI cuman pikiran iseng saya sih. Kalo toh nanti BMW atau Mercy berubah beneran, bahwa angka yg sama di belakangnya bukanlah lagi isi cc melainkan sudah berganti jadi keluaran/out-put tenaganya, mereka tinggal bilang, “Kami sudah merencanakannya sejak lama, dan perlu waktu untuk berpindah/bertransformasi ke proses ini.”

Kelar urusan.

Dan Anda sekalian ndhak usah terlalu serius menganal isis posting ini. Posting ini bukanlah posting tentang kejar-kejaran cepet-cepetan menampilkan berita GIIAS atau launching produk terbaru plus sok-sok spyshot produk yg bakal meluncur atau gosip-gosip garing tentang bakal/calon replacement suatu produk otomotif ke depannya.

Posting ini juga tidak menyangkut kehidupan bernegara yg baik, benar, bijak, dan madani. Apalagi menyangkut hajat hidup orang banyak. Atau menyangkut politik yg membuat kita semua mendadak menjadi pakar paling pakar, lebih-lebih lagi menyangkut surga dan neraka yg membuat kita menjadi kelompok paling benar dan yg lain pasti & harus salah.

Posting ini cuman sekedar posting sinting yg sangat pantes dicibir oleh banyak orang: “udah bersyukur aja mas punya mobil, ndhak usah sok-sokan mikir yg aneh-aneh. Dibayar juga ndhak, punya sahamnya juga ndhak apalagi sampe punya pabriknya. Ngapain sih pusing-pusing mikirkan nomenklasinya BMW segala? BMW aja ndhak pernah sedikitpun ikut pusing memikirkan nasib Mas yg terjungkal-jungkal miara mobil Mas sendiri koq! Ya tho?”

Ya banget sih.

– Freema HW 3.0i 300ps.