Triptonic Tiptronic Steptronic Manumatic


Bahkan, penggemar/pengguna biem pun masih buuuanyakkk yg menuliskan steptronic dengan tiptronic. Lebih parahnya lagi, juauhhh lebih buuuanyakkk lagi yg salah menulis dan menulis salah tiptronic dengan triptonic. Googling aja triptonic, maka google akan menyarankan yg benar dg tiptronic.

Udah steptronic salah jadi tiptronic, udah gitu diperparah lagi malah jadi triptonic.

Masih lebih parah lagi, kejadian ini udah berlangsung lama, udah berkali-kali dibahas, eh masih terus aja berulang-ulang ini kesalahan yg sama.

Dan bahkan mungkin sangat suuuedikittt yg ngerti bahasa generiknya: manumatic.

Tuduhan subyektif saya, yg mempopulerkan, melestarikan, dan melanggengkan kesalahan ini adalah para pedagang umum yg lagi jualan biem. Yakni para pedagang sok tau yg mana kelakuan mereka justru kita amini dengan sikap jarang memverifikasi ulang setiap informasi yg masuk ke kita.

Cek aja di setiap post, komen, atau trit di fesbuk; atau lapak dagangan di jual-beli online, berapa yg menuliskan steptronic dan berapa yg menuliskan tiptronic, sori “triptonic”, untuk BMW.

Ternyata “kecanggihan” pengguna BMW belom tentu secanggih mobilnya.

– Freematronic

Advertisements

BMW, Boros, Shadowmasochist

BMW boros?

Sebenarnya ungkapan ini sama sekali ndhak berlaku buat pengguna 4 silinder atau 6 silinder. Bandingkan aja 323i atau 325i dengan Innova empat silinder; pada perilaku dan jalanan yg sama, boros mana kira-kira.

BMW boros rasanya hanya berlaku mutlak pada pengguna V8. Yg dari lahir ceprotnya aja, buku manual BMW udah mengatakan kalo konsumsi BBM-nya itu 1:6 untuk kondisi urban. Dan jalanan masa kini, di manapun rasanya adalah urban. Bahkan jalan tol pun, yg udah di kota besar, ia bukan jalan tol – bebas hambatan lagi, melainkan jalan tol – berbayar.

Saya juga miara sebuah E34 V8. Dan saya berdarah-darah miaranya. Namun ini darah kepedihan nan nikmat. Semakin berdarah, saya semakin merasakan kenikmatan. E34 V8 itu, laksana dewi cantik namun gualakkk nan sangat cantik dan teramat sangat begitu menggoda dan menggairahkan.

Tentunya hanya bagi yg bisa tergoda dan bergairah dengannya, itu V8. Ia suka mengelus kemudian menampar pipi kita, dan kemudian mengelusnya lagi. Bukan cuman pipi, yg bawah juga: dielus, dilentik, trus dijepit. Ouwh!

Yg bawahnya lagi apalagi: dijilat, diputer, dicelupin. Alamaaakkk… Rasanya, begitu manis legit! Apalagi dicelupinnya ke susu, persis iklannya di tipi itu, gurihnya…

*Apasih!*

Tapi ndhak semua pengguna V8 adalah shadowmasochist macam saya. Ada yg miaranya beneran laksana senopati miara kuda perangnya atau adipati miara kereta kencananya.

Tapi sesiapa pun mereka, saya sungguh angkat topi, salut tiada terkira, buat yg dengan sadar dengan sengaja milih miara E34 jadul matanya telanjang ndhak kekinian, dengan mesin V8 yang boros.

Mereka adalah segelintir manusia yg berbeda. Baik berbeda dengan tetesan dan luluran darah macam saya, atau berbeda laksana senopati atau adipati yg mengayomi rakyat kadipaten. Kadipaten-online Mataraman Hadiningrat. Halah!

Semoga Lik Valdirama Merzaputra Hartawan segera mendapatkan kereta kencananya yg siap bertempur menggempur barisan musuh: para prajurit sejuta umat dari tlatah Jepang. Eh bukan ding, bukan! 😀

Regards,
Freema HW
– V8
– TDCi

Nomenclature

Sebagaimana kita ketahui, nomenklatur BMW berdasarkan seri dan cc. Kayaknya semakin kesini semakin ndhak relevan.

BMW masih bisa ngeles bahwa “cc”-nya adalah penyetaraan saja. Tapi semakin besok, kayaknya harusnya mulai sekarang deh, harusnya BMW semakin sadar bahwa “penyetaraan” itu pun akan semakin menjauh.

Mesin 2000 cc sekarang tenaganya bisa setara mesin 5000 cc kemarin-kemarin ntar. Karena mesin sekarang sudah semakin presisi dan efisien, banyak intervensi elektronik di semua lini: injeksinya langsung masuk ke mesin bukan lagi ke pipa intake, katup-katupnya diintervensi dengan perangkat elektronik dan dikendalikan komputer,

plus sudah diperkuat dengan turbo generasi terkini yg semakin smooth karena kitirannya bisa diatur-atur atau diubah-ubah miringnya, pun jumlah turbonya bisa banyak atau bertingkat-tingkat boost & tahapan/urutan kerjanya;

atau pake hybrid;

atau keduanya.

Sekarang aja mesin 2000 cc tenaganya udah jamak setara dengan mesin 3500 cc era dua dekade silam. BMW M550d mesinnya cuman 3000 cc, dianggap setara 5000 cc. Di beberapa mesin Volkswagen, mesin 1600 cc juga udah setara dengan mesin 3000 cc era kemarin.

Dulu saya pernah ngetik ginian jadi komen di angkringan-online bimmerfan mataraman, tapi saya search koq ndhak nemu. Baiklah saya ketik lagi aja.

Sekarang sih turbo sama hybrid seolah masih merupakan bagian “tambahan” buat mesin. Kelak, bisa jadi ini semua sudah menjadi hal yg (dianggap) built-in, satu kesatuan, bukan tambahan, dan bukan merupakan bagian terpisah, sebagaimana kontrol elektronik pada katup mesin. Sampe akhirnya mobil jadi listrik semua. Who knows kan?

Mending nomenklasi BMW dibiarkan tetap skemanya, tapi belakangnya diubah jadi indikasi tenaganya.

Jadi kalo ada 320i, maka pengertiannya adalah Seri 3 dengan 200 ps. BMW 540i adalah Seri 5 dengan 400 ps. Trus 730Li maka pengertiannya adalah Seri 7 dengan tenaga 300 ps, LWB. Gampang, dan bakal jamak ntar mobil dengan tenaga segitu, karena dihasilkan oleh mesin yg kecil, imut, ringkas, efisien, dan irit. Berkat kemajuan teknologi yg semakin presisi dan semakin ringan.

Kalo toh nanti semua mobil jadi listrik, nomenklasi ini rasanya masih akan tetap relevan. Cuman bedanya kalo kemarin 320i adalah Seri 3 dengan 200 ps bermesin 1500 cc misalnya, kini tetap Seri 3 dengan 200 ps bermotor listrik. Atau biar lebih ke-listrikan (kenikian yg menggunakan listrik/elektrik), itu 320i tinggal di-update aja jadi: Seri 3 dengan 200 Kw (setara kurleb 270 ps). “i”-nya adalah intelligent atau pinter banget atau apalah. Nanti “is”-nya jadi intelligent+sport. “d”-nya jadi durable atau double atau apa gitu. “e”-nya jadi economic-version mungkin. Tinggal dicocok-cocokkan aja pokoknya. 😀

Audi aja udah mulai sadar diri. Karena kalo cuman menampilkan Audi A4 2.0TFSI, orang ndhak akan sadar kalo tenaganya udah 250 ps. Kalo cc 2000 era kemarin-kemarin itu biasanya keluarannya cuman 150an ps.

Volvo juga menyembunyikan kapasitas silindernya. Kini dia menjenjangkan produknya (tetap) dengan T4, T5, T6, atau T8; cuman intinya makin tinggi T-nya makin gedhe aja kemampuannya. Pokoknya gitu. Bukan lagi turbo+jumlah silinder lagi. Atau apalah itu skema sebelumnya. Mohon dijabarkan kalo temen-temen punya penjelasan detail, rinci, dan spesifiknya.

Mercy, masih konvensional kayak BMW. Dan masih sama ngacaunya. C250 konon mesinnya cuman 1800 cc.

INI cuman pikiran iseng saya sih. Kalo toh nanti BMW atau Mercy berubah beneran, bahwa angka yg sama di belakangnya bukanlah lagi isi cc melainkan sudah berganti jadi keluaran/out-put tenaganya, mereka tinggal bilang, “Kami sudah merencanakannya sejak lama, dan perlu waktu untuk berpindah/bertransformasi ke proses ini.”

Kelar urusan.

Dan Anda sekalian ndhak usah terlalu serius menganal isis posting ini. Posting ini bukanlah posting tentang kejar-kejaran cepet-cepetan menampilkan berita GIIAS atau launching produk terbaru plus sok-sok spyshot produk yg bakal meluncur atau gosip-gosip garing tentang bakal/calon replacement suatu produk otomotif ke depannya.

Posting ini juga tidak menyangkut kehidupan bernegara yg baik, benar, bijak, dan madani. Apalagi menyangkut hajat hidup orang banyak. Atau menyangkut politik yg membuat kita semua mendadak menjadi pakar paling pakar, lebih-lebih lagi menyangkut surga dan neraka yg membuat kita menjadi kelompok paling benar dan yg lain pasti & harus salah.

Posting ini cuman sekedar posting sinting yg sangat pantes dicibir oleh banyak orang: “udah bersyukur aja mas punya mobil, ndhak usah sok-sokan mikir yg aneh-aneh. Dibayar juga ndhak, punya sahamnya juga ndhak apalagi sampe punya pabriknya. Ngapain sih pusing-pusing mikirkan nomenklasinya BMW segala? BMW aja ndhak pernah sedikitpun ikut pusing memikirkan nasib Mas yg terjungkal-jungkal miara mobil Mas sendiri koq! Ya tho?”

Ya banget sih.

– Freema HW 3.0i 300ps.

Everybody Love Maroon

Adakah orang yg sangat mencintai BMW-nya dg segala pengorbanan? Adakah BMW yg dicintai juragannya dg sepenuh hati? Banyak.

Mulai berkorban mbenahi kerusakan yg aslinya kecil tapi jadi berat karena kurangnya daya dukung dompet; atau sampe mengkoleksi barisan velg mewah, yg semua atas nama cinta, pengorbanan, atau … pencapaian!

Adakah orang yg turut mencintai BMW orang lain? Adakah BMW milik sesorang yg juga dicintai orang lain? (Mungkin) ada.

Adakah sebuah BMW yg dicintai semua orang? Ada! Itu si Maroon M3 (Maroon Mawoot Morat-mariit).

Adakah semua orang mencintai sebuah BMW? Ada! Mereka adalah warga angkringan-online Bimmerfan Mataraman, mencintai sebuah BMW bernama Si Maroon.

Angkringan-online Bimmerfan Mataraman bukanlah sebuah klub bukan pula sebuah komunitas. Ini hanyalah sekedar angkringan-online belaka. Namun, Tanpa pengurus, namun kita terurus. Tanpa struktur, tapi kita teratur. Tanpa organisasi, tapi kita rapi. Tanpa bentuk, tapi kita berwujud. Tanpa lokasi, tapi kita eksis. Tanpa rupa, namun kita ada. Nyata.

Borderless friendship, unlimited silaturahmi.

– Freema Bapakne Rahman
V8

Body-Kit BMW

Cantumin di komen dong Om yg sudah menggunakan spoiler 😀

Demikian trit di angkringan-online. Dan ndhak ada yg ngomeni.

Well… Kayaknya ndhak banyak yg modif aneh-aneh BMW-nya.

BMW itu emang ndhak kayak mobil Jepang, yg selalu cantik kalo dimodif apapun: bumper dijadikan besar, dikasih wing-spoiler, dikasih side-skirt lebar, dll dll dll.

BMW bisa digitukan, tapi susah untuk sembarangan ngemodif, apalagi kalo modelnya cuman sesuai selera kita aja. Dijamin, pasti jeleknya ketimbang cakepnya,

Ngemodif tampang BMW, biasanya yg dilakukan rekan-rekan adalah beli add-ons dari (single-)tuner, alias tuner yg mengkhususkan diri buat ngemodif BMW; atau tepatnya satu/beberapa-sedikit pabrikan khusus, baik ngemodif tampang atau performanya, tapi biasanya sepaket keduanya sekaligus, karena modifan pada tampang BMW itu buat mendukung peningkatan performa pada sektor dapur pacu atau kaki-kakinya.

Beberapa nama pemain ini antara lain Hartge, Alpina, ACS, Breyton, Racing Dynamics, BBS, dll.

Dan wujud modifan di BMW itu biasanya: sederhana, tak terlalu kentara, “sedikit berubah” saja. Dengan kata lain: susah dibikin ekstrim.

Kenapa?

Saya tak tau jawabnya. Mungkin ini berkaitan dengan bahasa desain produk. Desain BMW, atau kebanyakan mobil Eropa, cenderung konservatif, alias ndhak banyak gurat-gurat perubahan (ekstrim) yg bisa hadir.

Ferrari, dari awal sampe sekarang bentuknya seperti gitu-gitu aja, serasa cuman berubah bentuk lampu aja pada “bodi yg terus sama”.

Porsche, dari awal sampe sekarang ya “gitu terus bentuknya”. Seperti satu mobil yg terus menerus disempurnakan. Bandingkan dengan Nissan GTR generasi awal sampe terbaru, seperti mobil yg selalu baru.

BMW, desain bodinya sebenarnya berubah lumayan drastis. Tapi karena ada ikatan elemen desain yg konsisten: kidney-grill, hofmeister-kink, layered-dashboard, dll. seolah tampangnya seperti di-facelift aja terus-terusan.

Yg agak bikin “males” itu kalo membandingkan Alphard vs Caravelle. Alphard sekali keluar baru, desainnya langsung berubah frontal. Caravelle? Seperti seolah pihak VW ndhak punya desainer lagi dan cuman ngubah dikiiittt aja dari tampang lamanya.

Alhasil, dengan garis desain yg konservatif, desain-desain mobil Eropa jadi lebih timeless; tetep ciamik meski udah tua; bahkan makin tua makin ciamik, khususon yg kerawat dengan baik dan benar (caranya dan duitnya. Hiks…)

Dan di BMW, sebenarnya sebelum ngomongkan body-kit, hal terpenting yg musti diperhatikan sebenarnya adalah kesehatan si mobil duluan: tune-up, perawatan, dan perbaikannya.

BMW yg sehat, segalanya sudah bisa didapat: melaju kencang, stabil, manuver lincah, nyaman melibas asbal growal, dan enteng tatkala kick-down (tancap gas mendadak).

Ditambah AC yg dingin dan segar, lupa deh kalo ini cuman mobil 9seken) yg seharga setengah dari mobil sejuta umat. Bahkan lupa juga deh kita sama add-ons body-kit, apalagi body-kit asal-asalan yg ndhak jelas tampang dan nuansa desainnya gitu.

Itulah kenapa, di jalanan kita susah banget nemui BMW yg pake body-kit “aneh-aneh”: bumpernya gambrot, pake wing-spoiler, pake side-skirt luebar, dll dll dll. Karena kalo bukan (replika) dari single-tuner, dijamin jelek, pasti jelek!

Karena apa?

Sesungguhnya saya ndhak tau kenapa pastinya.

Tapi satu garis kecil yg saya dapati: ketika ada bimmerfan cuman sibuk dengan body-kit (jelas punya duit ini pastinya) dan tak hirau/tak peduli (belajar) gimana ngerawat mobilnya, bisa disinyalir itu biemnya dalam kondisi ancur tak kentara.

Tapi ini cuman garis kecil, bukan garis besar.

– Freema Bapakne Rahman

Newer Overall Better

Saya dari Malang pengguna E36 tahun ’96.
Rencana mau ganti ke E46 tahun 2004 atau E90 pre-facelift.
Sudah sempet googling soal keduanya.
Mungkin disini ada yg make E46 atau E90, mohon review-nya ya: soal kenyamanan, penyakit, dll.
Matur suwun.

Demikian sebuah posting pertanyaan di angkringan-online.

Saya coba awali mancing perkara dulu, moga-moga di bawah ntar ada yg mbetulkan.

Begini…

  1. Prinsip dasar teknis biem (seken) itu: newer is overall better, tapi juga makan duit lebih banyak. Jelas, karena teknologinya lebih update, maka ongkos bedak dan gincunya juga ndhak sembarangan.
  2. Prinsip dasar ekonomi mbeli biem seken adalah: jangan habiskan seluruh budget hanya untuk membeli. Pecah jadi dua segmen: ngangkat mobilnya + biaya benah-benah awal.

Berapa biaya benah-benah awal ini?

Ini yg sangat relatif, tergantung tipe, tahun, dan kelangkaannya. Tipe dan taon yg udah kelewat tua maka maintenisnya justru mungkin akan lebih mihil ketimbang tipe dan taon pasaran.

Tapi prinsipnya: makin baru makin banyak biaya maintenisnya. Ini teori. Praktiknya di lapangan bisa aja sangat kasuistis.

Berapa kisarannya aja untuk biaya benah-benah awal ini?

Lebih detailnya kita bahas di angkringan-online saja. Soale rentan berubah, agak riskan kalo saya cantumkan di sini. Soale mungkin saat posting ini dibaca lagi suatu saat kelak, nilai-nilai angkawinya sudah berubah terus, kayak posting Memilih BMW yg parameter angkawinya udah berubah karena itu posting saya ketik taon 2011, enam taon silam. 😀

***

PERIHAL komparasi teknis antara E46 vs E90, tentu dari sisi keseluruhan (overall) akan jauh lebih maknyusss E90: dimensinya, fiturnya (udah iDrive), dll. Juga rasio power mesinnya.

Tapi ya itu, buat mbenahi audio E90 aja udah setara nginstall audio kelas hi-end karena saking ribetnya dan semuanya saling terintegrasi. Sepintas yg tampak mata: itu monitor sama head-unitnya kan udah ada (installed) dan terpisah posisinya tho? Demikian sedikit petuah yg ane denger langsung dari suhu (suka huru-hara) Lik Abi Bintara yg belakangan ini nyaris ndhak pernah posting karena sedang sibuk “ngetik” pake mesin ketik yg empuk dan ginjur-ginjur. (Kecuali pas pitanya merah, mungkin doi nulis pake tangan). 😀

Belom lagi transmisi E90 yg udah mekantronik: gabungan dari mekanikal dan elektronis. Beda sama E46 yg masih mekanikal di dalam jeroan transmisinya, katakanlah demikian sederhananya.

Ribet? Mahal? Tapi canggih? Jelas, wong teknologi baru bin mutakhir yg mungkin baru akan hadir sepuluh taon lagi di mobil sejuta umat.

Sementara E46, meski saya pribadi masih belom bisa menerima keberadaan sisi teknis (apalagi sisi ekonomis)nya mobil ini, sudah relatif mudah ditangani ketimbang E90.

Cuman bawaan khas mobil tetep ada. Misal gasket yg musti diganti tiap sekian puluh rb km (saya lupa, moga-moga rekan-rekan E46ers ada yg ngoreksi); atau konstruksi kaki-kakinya yg sudah secanggih seri atasnya (E39/E38) dengan bahan full-alumunium: menjamin kenyamanan berkendara tapi ya gitu, kurang repairable untuk bimmerfan kelas saya (saya cocognya sebenarnya cukup Kijang lawas saja, bukan biem. 😀 Hehehehehe…).

Bahkan kalo ngganti alternator E46 dg ampere yg lebih tinggi pun perlu penyesuasian via diagnostic-tool (scanner). Tapi ini bukan hal yg ribet. BMW sejak era akhir 90an sudah wajib musti ditancepkan ke diagnostic-tool kalo mau ngrawat/repair. Yg ndhak wajar justru kalo ndhak ditancepkan scanner gitu: antara mekaniknya hebat luar biasa atau entahlah. 😀

Tapi ya gitu, nyari printhilan E46 secara umum rasanya (jauh) lebih murah ketimbang E90. Head-unitnya pun bisa diganti pake Dynavin, ajib deh, umurnya secara loncat semuda E90.

Tapi ya gitu, harga Dynavin ini sendiri juga ajib. Bahkan kalo mobilnya dijual, biasanya Dynavin-nya dilepas dan dijual terpisah, malah lebih mahal jatuh dapetnya.

***

JADI kesimpulannya, maaf saya ndhak bisa menjlentrehkan sisi teknis dari keduanya. Tapi sebelum mengupas sisi teknis lebih lanjut, intinya saya rasa balik ke itu tadi: seberapa siap budget kita mau ngangkat.

Kalo budgetnya cuman siap untuk ngangkat E46 plus benah-benah awalnya, saran saya nantinya jadikanlah salah satu E46 terbaik yg ada di jalanan Indonesia: yg kondisinya dibenahi semua mulai kaki-kaki, gasket-gasket, waterpump, dll. dll. Jadi tinggal pakai dan bisa dapet joy of driving.

Tapi kalo budgetnya bisa siap untuk ngangkat E90 plus benah-benah awalnya, tentu saya pribadi menyarankan ambil E90. Karena dia lebih baru dan overall lebih bagus ketimbang generasi sebelumnya.

Secara keseluruhan, bukan parsial, saya rasa BMW tidak pernah membuat generasi berikutnya lebih jelek dari generasi sebelumnya. Mereka selalu bikin lebih bagus.

So sekali lagi, batasan ukurannya adalah: kekuatan budget kita aja.

IMHO, CMIIW.

– Freema Bapakne Rahman

REF https://www.google.com/search?q=bmw+e46+vs+e90

BMW Yang Penuh Kepalsuan

BMW tua itu penuh kepalsuan. Jelas-jelas semua di sini tau kisah si Badak Biru kayak gimana acakadutnya.

Eh koq masih di-wow-kan terus ama orang-orang: parkir di hotel dikasih di depan lobby, beli penganan harganya mendadak dibikin naik, dll. dll.

Terakhir saya ke sebuah supermarket sama istri, mbak kasirnya sempat ngelihat dari dalam, eh tanpa malu dia bilang ke istri saya pas mbayar: “Itu mobil(tua)nya ya Bu? Keren…!”

Keren mbahmu! Mbaknya cuman liat siy enteng aja bilang keren. Ndhak tau apa kita nangis-nangis darah kayak gimana…

Dikira dompet kita ini tebelnya selemak perut dan saldo ATM kita unlimited gitu kali ya?

MIARA BMW itu sebenarnya sangat ndhak sebanding dengan apa yg kita dapat. Bayangkan kalo Anda miara seniyapansa: beli di depannya mungkin akan sedikit mahal; tapi sama itu mobil akan diganti dengan perawatannya murah, bensinnya irit, keluarga sekampung juga bisa diangkut. Udah gitu pas butuh duit, dijual kembali juga gampang banget.

Yang didapet jadinya adalah kegembiraan bersama keluarga. Perkara bahaya diseruduk truk atau melintir di tol, itu kan tergantung gimana kita nyetirnya aja. Perkara punggung serasa mau patah dan kaki kram ketekuk, itu kan persoalan perasaan dan bagaimana kita menerimanya aja. Nyatanya, jutaan keluarga Indonesia pemakai seniyapansa tak satupun ada yg ngeluh!

Bandingkan dengan miara BMW. Udah harga belinya kadang tetep ndhak murah, eh udah gitu masih ditimpuk tangga dengan: ngerawatnya susah, parts-nya mahal, dijual kembali ndhak laku-laku, isinya cuman empat orang, bensinnya wajib dibilang boros; eh dari segambreng susah itu yg didapet cuman keasyikan berkendara alias joyfull journey, gitu doang!

Masih niat miara BMW?

– Freema Keren Bapaknya Rahman,
foto hanya mulustrasi.