Kakek

Banyak kita jumpai di linimasa medsos, posting kisah-kisah inspiratif dari para Nabi, para sahabat Nabi, tokoh-tokoh dunia mulai Bunda Theresa, Gandhi, Steve Jobs, hingga pahlawan rakyat jelata macam tukang sate di peristiwa bom Sarinah, pemulung yang menyekolahkan anaknya hingga tinggi, anak tukang becak yang sukses jadi sarjana, dan buanyakkk lagi. Termasuk mereka yang lebih suka menjual kerupuk dan sayuran kelas tiga ketimbang memilih menjadi pengemis.

Sungguh, semuanya inspiratif.

Melengkapi jutaan peredaran kisah inspiratif dari linimasa dan berbagai seminar atau tulisan di berbagai cetakan, kami ingin menorehkan kisah tentang kakek-nenek kami sendiri.

KAKEK Lamidjan & Nenek Poniyem, orang tua dari Ibunda kami. Mereka berasal dari kawasan terpencil -namun sekarang ndhak lagi karena jaringan transportasi sudah lancar- di kawasan Blitar selatan. Tepatnya dusun Kaligambang, Panggungrejo, Blitar.

Kakek-Nenek kami tinggal Blitar selatan yang tandus tanpa ada air sumur, nyari airnya ke mata air yang harus berjalan beberapa lama.

Masa perjuangan, beliau dicari sama PKI karena dituduh pro-pemerintah dan ndhak mau jadi BTI, sekaligus dicari sama TNI karena dianggap PKI.

Saat kami gedhe, kami dapati di lemarinya banyak aksesoris yang pro Bung Karno. Setidaknya ada kaca mata hitam khas punya Bung Karno, yang ndhak cukup kami pakai sehingga terus tersimpan di lemari.

Kaca mata hitam ini mengingatkan kami pada Kakek yang tak pernah berhenti dan selalu penuh semangat menceritakan perjuangan Soekarno. Namun Kakek tak pernah bercerita tentang Megawati dan partainya.

***

DUA dekadean silam, kakek sempat mati-matian mendesak PLN agar mau mengolor jaringan kabel listriknya. Alhamdulillah perjuangan berbulan-bulan ini membuahkan hasil. Akhirnya listrik masuk Panggungrejo.

Kini desa setengah mati itu punya kehidupan normal. Toko buka sampai malam, pun warung dan deretan penjual beragam makanan.

Menjelang akhir hayatnya, kakek mengumpulkan warga setempat untuk swadaya beli pompa air dan pipa-pipa hingga air dapat dialirkan ke rumah-rumah.

Kini warga di seputaran rumah peninggalan alm. kakek-nenek bertekad menjaga pepohonan di seputaran mata air agar air ndhak ludes saat kemarau.

Saksi perjuangan mereka adalah warga Kaligambang/Panggungrejo di hamparan bumi nan indah Blitar selatan sana. Khususnya kaum pinisepuh yang sudah mulai meninggalkan dunia satu per satu.

Belakangan, banyak program bantuan pemerintah untuk peningkatan pembangunan infrastruktur di Panggungrejo.

KAKEK dikenal sebagai pribadi yang teramat begitu gigih membela bangsa dan negara sekaligus super pedas jika mengkritik pemerintah(an) yang loyo dan memble, khususnya Lurah (kepada desa) dan Camat setempat jika ndhak langsung trengginas melayani dan mengayomi warganya.

Jangan pernah sekali-sekali mendakwa bangsa dan negara Indonesia, buah rahim Ibu Pertiwi dan Bapak Nusantara ini sebagai bangsa yang rendahan. Dakwaan kita bakal mentah habis dihadapan kakek. Tapi juga jangan pernah menjadi abdi negara yang ece-ece menjalankan sumpah dan tugasnya atau menjadi rakyat yang manja dan sukanya cuman mengeluh. Pemikiran busuk Anda bakal binasa oleh semprotan tuah Kakek.

Mungkin karena inilah, Ibunda -anak pertama kakek/nenek- dikenal sebagai salah satu abdi negara yang bengal di mata kekuasaan: nyaris ndhak pernah mbolos/meninggalkan kerja sepanjang karirnya sekaligus ndhak mau ikutan kampanye Golkar dan menolak diberi kaos Golkar pada masa kuat dan jayanya cengkeraman orba silam.

Ibunda yang mengabdi pada negara melalui institusi kepolisian, juga dengan santainya ngomelin Perwira-nya, “Wong jabatan tinggi gaji juga gedhe, koq sering sakit-sakitan. Mikir apa sih Ndan?”

Untung Ibunda ndhak pernah kena sanksi apalagi sampe kena mutasi atau dipecat dari dinas gara-gara prinsipnya. 😀

SELAIN bertani dan itu satu-satunya mata pencaharian mereka, Kakek juga punya grup ketoprak yang rutin pentas. Ibunda saya kala remaja menjadi salah satu pemainnya. Sementara kakek jadi produser dan sutradaranya.

Kakek sendiri lihai kalo ngocok perut orang dengan ‘banyolan Semar’-nya: memberikan nasihat bijak yang disampaikan dengan bahasa membumi dan lucu. Sarat kritikan namun tak pernah menyakitkan, penuh sindiran pada banyak kesalahan namun tak membuat kemarah sama sekali pada siapapun, pihak manapun.

Hakikat seni sesungguhnya menyadarkan dunia tersadar akan kekeliruan dan segera bergerak untuk perbaikan. Itulah seni dan kiprahnya dalam kehidupan: menata kehidupan tanpa kelihatan.

Darah seni ini menurut kisah keluarga, udah muncul sejak buyut kami. Makanya salah satu kakak tunggal buyut kami ada yang menjadi pelukis hebat. Bulik-buliknya si kecil juga lihai berkarawitan. Paman kami juga lihai membuat hasta karya: sculpture, menata landscape, atau meracik menu wah dari bahan yang sederhana dan didapat dari sekitaran. Si kecil sendiri kini suka bikin animasi pake kompie, salah satu bentuk seni era kekinian.

Itu semua seni yang indah dan mengindahi hidup, memberikan sumbangsih dan menfaat pada kehidupan nyata.

***

SATU yang selalu kami ingat dari kakek, beliau tak pernah ‘ngudang’ (apa bahasa Indonesianya ‘ngudang’ ya?) cucu-cucunya untuk menjadi orang kaya. Baliau hanya selalu ngudang cucu-cucunya agar menjadi orang pintar dan berguna bagi bangsa, negara, kehidupan.

Bagi dunia, kakek-nenek kami adalah bukan sesiapa. Anda yang membaca posting ini pun mungkin masih tak bisa mengenal mereka dengan tutur dan utaran ini.

Namun bagi kami, kakek-nenek adalah inspirasi yang sangat luar biasa. Mereka turun menginjeksi bahan bakar otak dan semangat kehidupan kami untuk menatap dunia.

Tepat setahunan usai kakek meninggal sekian tahun silam, nenek menyusul menuju kehadirat-Nya karena terkena hepatitis. Liver Nenek sudah bengkak membiru. Nenek menysul kakek dengan cintanya, kakek yang sempat menghadiahi nenek seperangkat gelas baru untuk isi dapurnya, saat cucunya udah pada dewasa.

Hadiah yang diberikan dengan cinta.

GALILAH inspirasi luar biasa dari manusia terdekat Anda. Temukanlah, pasti ada. Jangan biarkan inspirasi dari leluhur generasimu lenyap tak berbekas.

Galilah inspirasi luar biasa dari manusia terdekat Anda. Itulah injeksi bahan bakar otak dan semangat kehidupan Anda untuk menatap dan berkiprah pada dunia.

– FHW,
Aleef Rahman Hadiwiyono bin Freema Hadi Widiasena bin Somo Hadiwiyono bin Makun

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s