Salut Dengan BBM Malaysia

Salut dengan BBM (bahan bakar minyak) di Malaysia, khususnya BBM diesel mereka. Ada:

  • Euro2 dengan sulfur 500 ppm, dan
  • Euro5 dengan sulfur 10 ppm

Sementara kita:

  • Solar busuk comberan dengan sulfur 3500 ppm,
  • Dexlite dengan sulfur 1.200 ppm,
  • Pertadex dengan sulfur 300 ppm.

Mungkin inilah kenapa anak-anak Malaysia tampak cerdas-cerdas (yaaa kalo liat Upin-Ipin sih 😀 Hehehehe), mungkin karena hanya sedikit sulfur yg mereka hirup dan meresap ke aliran darah. Kalo kata seorang kolega saya yg mantan TKI dari Malaysia, sepuluhan tahun silam, “Di Malaysia itu “solar”-nya warna merah Mas (low-sulphur), ndhak item (hi-sulphur) kayak solar di sini.”

#Catatan: Solar adalah salah satu nama dagang BBM diesel dari Pertamina, sebagaimana Dexlite, Pertadex. Cuman nama dagang ini semacam sudah menjadi metonimia untuk BBM diesel, khususnya di tempat-tempat yg jauh dari kota besar dan tidak/belom mengenal BBM diesel selain “Solar”.

Beda dengan anak muda Indonesia yg sering kita sangka sebagai generasi micin, mungkin selain karena kebanyakan micin beneran – ini cuman mungkin lho, kita juga kebanyakan menghirup sulfur yg berterbangan di jalan raya bahkan hingga ke persawahan pedesaan.

Mungkin. CMIIW.

Regards,
– Freemadex non lite.

Advertisements

Mobil Listrik: Pola Pikir Masa Depan Sekarang

Sekian tahun silam, mungkin lima tahunan silam – saya lupa, saya dicemplungkan ke sebuah forum otomotif Motuba sama seorang rekan dari Yogya. Kala itu warganya masih seuprit, hanya seribuan kalo ndhak salah.

Kadang saya rasa di forum ini tuh gini: ada case jangka panjang, eh dikupas dengan bahasan jangka pendek. Atau mungkin sebaliknya.

Ada juga trit yg komengnya beratus-ratus tapi isinya komeng diulang-ulang sampe puluhan kali oleh akun yg berbeda, atau komeng candaan yg sangat amat dominan dan mayoritas hingga mengalahkan secuil komeng yg related dg tritnya; sebuah trit yg kalo dikompres paling cukupnya berisi beberapa komen saja.

Trus ada trit/bahasan konseptual, tapi sama yg komeng dikaji dengan kunci pragmatis. Atau trit bahasan prinsip, tapi terus-terusan dikomengi dengan bahasan teknis.

Salah satu contohnya misal bahasan mobil listrik. Dilihat dari segala sisi, khususnya sisi ekonomis, mobil listrik itu jelas sama sekali ndhak ekonomis. Daya jelajahnya terbatas, isi ulangnya lama, sembarangnya masih mahal. Bahkan yg katanya ramah lingkungan pun, dia bisa jadi masih pake sumber listrik bertenaga fosil buat chargingnya.

Tapi saya sepakat dengan komeng Lik @Wendy Kurniawan: teknologi dan riset, kalau tidak ada yg memulai, pasti tidak akan pernah efisien.

Mungkin inilah alasan mobil listrik (mulai) hadir sekarang ini, dengan segala keterbatasannya dan kemahalannya.

(Terlepas bahwa kapitalis butuh instrumen produksi & investasi baru agar produk lama jadi basi dan ada produk baru yg terpaksa harus dibeli, agar uang terus bisa mereka keruk dan duit terus berputar di dunia ini.)

Artinya, secara sederhana, mobil listrik adalah aspek jangka “nanti”, bukan aspek jangka “now”, apalagi jangka sorong.

Pro dan kontra teramat sangat wajar bilamana ada. Dan mungkin inilah yg akan membuat produsen akan berbenah.

Tapi mbok ya, gimana ya bilangnya, itu lho: lha wong namanya mobil listrik itu masih belom efisien dan belom menemukan bentuknya, terlebih skala ekonomisnya; mbok kalo komen itu diletakkan pada koridornya yg sesuai.

Wong namanya hal jangka panjang mbok ya dikritisi dengan aspek jangka panjang, bukan jangka pendek, apalagi jangka sorong atau instrumen berjangka.

Jangan-jangan yg mengkritisi hal jangka panjang dengan sudut pandang jangka pendek itu, dianya masih keturunan orang jaman old yg mengkritisi hadirnya mobil saat menggantikan dokar: bensinnya belom ada di mana-mana, mesinnya ndhak dipahami oleh banyak orang, kapasitas angkutnya sungguh terbatas, mogokan mungkin, dll. dll.

Sementara pedati itu sungguh sangat ekonomis dan skalabel: kuda lapar, di sepanjang jalan banyak rumput. Bensin habis, eh kuda haus, tinggal minggirkan ke sungai. Beban berat, tinggal tambah lagi kudanya di depan, jadilah belasan tenaga kuda. Mogok/kaki kudanya patah, tinggal sembelih dan dimaem. Spare-parts cadangan pun tersedia: itu si anak kuda yg ikut dituntun di samping kereta. Sungguh efisiensi yg tak terkalahkan bukan?

Jaman segitu, lantas ngapain orang bikin mobil segala? Mana udah gitu eh ada yg mbeli lagi… Pasti jaman segitu yg bikin mobil maupun yg mbeli adalah kategori orang yg ndhak waras.

Sama kayak produsen sekarang yg bikin mobil listrik maupun pembelinya.

Ngapain buang-buang duit untuk hal/mobil yg SEKARANG ini masih sama sekali ndhak efisien? Tolol banget kan?

Ngapain ndhak ditunggu aja sampe ntar kalo baterenya udah efisien: nge-charge cepet, dan daya jelajah sudah sangat amat jauh?

Mustinya mobil listrik kan diproduksi dan dikeluarkan ntar aja kan: kalo baterenya udah cuepett di-charge secepet kita ngisi bensin dan sekali charge daya jelajahnya setara setanki bensin kita bukan?

ITU cuman contoh saja. Seperti kalimat pembuka saya di trit ini: kadang saya rasa. Ini cuman perasaan saya saja.

DAN kapan waktu lalu, mungkin setahunan silam, saya pernah bikin trit uneg-uneg juga. Kalo ndhak salah protes saya terhadap dominasi penggunaan bahasa Jawa, di trit yg isi dan skup warganya luas gitu. Karena beragamnya cara pandang warga di situ, trit saya dianggap jadi rusuh. Akhirnya saya didepak oleh salah seorang admin.

Ini untuk pertama kalinya saya didepak dari semua group yg saya ikuti di fesbuk. Kalo di Motuba sendiri, kayaknya sudah beberapa kali trit saya didelete sama admin. Alasannya jelas: bikin rusuh/kontroversi. Yaaa… 😀

Tau akan hal ini, admin founder Mbah Muhsin Bonsai sampai minta maaf ke saya dan kembali memasukkan akun saya ke grup besarnya ini. Padahal siapa juga saya, sampe doi segitunya gitu. 😀

Makasih Mbah Bons.

Regards,
– Freema HW V8

Triptonic Tiptronic Steptronic Manumatic


Bahkan, penggemar/pengguna biem pun masih buuuanyakkk yg menuliskan steptronic dengan tiptronic. Lebih parahnya lagi, juauhhh lebih buuuanyakkk lagi yg salah menulis dan menulis salah tiptronic dengan triptonic. Googling aja triptonic, maka google akan menyarankan yg benar dg tiptronic.

Udah steptronic salah jadi tiptronic, udah gitu diperparah lagi malah jadi triptonic.

Masih lebih parah lagi, kejadian ini udah berlangsung lama, udah berkali-kali dibahas, eh masih terus aja berulang-ulang ini kesalahan yg sama.

Dan bahkan mungkin sangat suuuedikittt yg ngerti bahasa generiknya: manumatic.

Tuduhan subyektif saya, yg mempopulerkan, melestarikan, dan melanggengkan kesalahan ini adalah para pedagang umum yg lagi jualan biem. Yakni para pedagang sok tau yg mana kelakuan mereka justru kita amini dengan sikap jarang memverifikasi ulang setiap informasi yg masuk ke kita.

Cek aja di setiap post, komen, atau trit di fesbuk; atau lapak dagangan di jual-beli online, berapa yg menuliskan steptronic dan berapa yg menuliskan tiptronic, sori “triptonic”, untuk BMW.

Ternyata “kecanggihan” pengguna BMW belom tentu secanggih mobilnya.

– Freematronic

Nomenclature

Sebagaimana kita ketahui, nomenklatur BMW berdasarkan seri dan cc. Kayaknya semakin kesini semakin ndhak relevan.

BMW masih bisa ngeles bahwa “cc”-nya adalah penyetaraan saja. Tapi semakin besok, kayaknya harusnya mulai sekarang deh, harusnya BMW semakin sadar bahwa “penyetaraan” itu pun akan semakin menjauh.

Mesin 2000 cc sekarang tenaganya bisa setara mesin 5000 cc kemarin-kemarin ntar. Karena mesin sekarang sudah semakin presisi dan efisien, banyak intervensi elektronik di semua lini: injeksinya langsung masuk ke mesin bukan lagi ke pipa intake, katup-katupnya diintervensi dengan perangkat elektronik dan dikendalikan komputer,

plus sudah diperkuat dengan turbo generasi terkini yg semakin smooth karena kitirannya bisa diatur-atur atau diubah-ubah miringnya, pun jumlah turbonya bisa banyak atau bertingkat-tingkat boost & tahapan/urutan kerjanya;

atau pake hybrid;

atau keduanya.

Sekarang aja mesin 2000 cc tenaganya udah jamak setara dengan mesin 3500 cc era dua dekade silam. BMW M550d mesinnya cuman 3000 cc, dianggap setara 5000 cc. Di beberapa mesin Volkswagen, mesin 1600 cc juga udah setara dengan mesin 3000 cc era kemarin.

Dulu saya pernah ngetik ginian jadi komen di angkringan-online bimmerfan mataraman, tapi saya search koq ndhak nemu. Baiklah saya ketik lagi aja.

Sekarang sih turbo sama hybrid seolah masih merupakan bagian “tambahan” buat mesin. Kelak, bisa jadi ini semua sudah menjadi hal yg (dianggap) built-in, satu kesatuan, bukan tambahan, dan bukan merupakan bagian terpisah, sebagaimana kontrol elektronik pada katup mesin. Sampe akhirnya mobil jadi listrik semua. Who knows kan?

Mending nomenklasi BMW dibiarkan tetap skemanya, tapi belakangnya diubah jadi indikasi tenaganya.

Jadi kalo ada 320i, maka pengertiannya adalah Seri 3 dengan 200 ps. BMW 540i adalah Seri 5 dengan 400 ps. Trus 730Li maka pengertiannya adalah Seri 7 dengan tenaga 300 ps, LWB. Gampang, dan bakal jamak ntar mobil dengan tenaga segitu, karena dihasilkan oleh mesin yg kecil, imut, ringkas, efisien, dan irit. Berkat kemajuan teknologi yg semakin presisi dan semakin ringan.

Kalo toh nanti semua mobil jadi listrik, nomenklasi ini rasanya masih akan tetap relevan. Cuman bedanya kalo kemarin 320i adalah Seri 3 dengan 200 ps bermesin 1500 cc misalnya, kini tetap Seri 3 dengan 200 ps bermotor listrik. Atau biar lebih ke-listrikan (kenikian yg menggunakan listrik/elektrik), itu 320i tinggal di-update aja jadi: Seri 3 dengan 200 Kw (setara kurleb 270 ps). “i”-nya adalah intelligent atau pinter banget atau apalah. Nanti “is”-nya jadi intelligent+sport. “d”-nya jadi durable atau double atau apa gitu. “e”-nya jadi economic-version mungkin. Tinggal dicocok-cocokkan aja pokoknya. 😀

Audi aja udah mulai sadar diri. Karena kalo cuman menampilkan Audi A4 2.0TFSI, orang ndhak akan sadar kalo tenaganya udah 250 ps. Kalo cc 2000 era kemarin-kemarin itu biasanya keluarannya cuman 150an ps.

Volvo juga menyembunyikan kapasitas silindernya. Kini dia menjenjangkan produknya (tetap) dengan T4, T5, T6, atau T8; cuman intinya makin tinggi T-nya makin gedhe aja kemampuannya. Pokoknya gitu. Bukan lagi turbo+jumlah silinder lagi. Atau apalah itu skema sebelumnya. Mohon dijabarkan kalo temen-temen punya penjelasan detail, rinci, dan spesifiknya.

Mercy, masih konvensional kayak BMW. Dan masih sama ngacaunya. C250 konon mesinnya cuman 1800 cc.

INI cuman pikiran iseng saya sih. Kalo toh nanti BMW atau Mercy berubah beneran, bahwa angka yg sama di belakangnya bukanlah lagi isi cc melainkan sudah berganti jadi keluaran/out-put tenaganya, mereka tinggal bilang, “Kami sudah merencanakannya sejak lama, dan perlu waktu untuk berpindah/bertransformasi ke proses ini.”

Kelar urusan.

Dan Anda sekalian ndhak usah terlalu serius menganal isis posting ini. Posting ini bukanlah posting tentang kejar-kejaran cepet-cepetan menampilkan berita GIIAS atau launching produk terbaru plus sok-sok spyshot produk yg bakal meluncur atau gosip-gosip garing tentang bakal/calon replacement suatu produk otomotif ke depannya.

Posting ini juga tidak menyangkut kehidupan bernegara yg baik, benar, bijak, dan madani. Apalagi menyangkut hajat hidup orang banyak. Atau menyangkut politik yg membuat kita semua mendadak menjadi pakar paling pakar, lebih-lebih lagi menyangkut surga dan neraka yg membuat kita menjadi kelompok paling benar dan yg lain pasti & harus salah.

Posting ini cuman sekedar posting sinting yg sangat pantes dicibir oleh banyak orang: “udah bersyukur aja mas punya mobil, ndhak usah sok-sokan mikir yg aneh-aneh. Dibayar juga ndhak, punya sahamnya juga ndhak apalagi sampe punya pabriknya. Ngapain sih pusing-pusing mikirkan nomenklasinya BMW segala? BMW aja ndhak pernah sedikitpun ikut pusing memikirkan nasib Mas yg terjungkal-jungkal miara mobil Mas sendiri koq! Ya tho?”

Ya banget sih.

– Freema HW 3.0i 300ps.

Rawon Eh Pecel Eh Mobil Setan

Habis Dodge Challenger Hellcat, muncul lagi varian paling gaharnya: Dodge Challenger SRT(c) Demon.

Korona di mata (baca: dual-headlamp) Dodge Challenger ini mengingatkan Anda pada sesuatu? Yup, mirip BMW Angel Eyes yg kondnag itu. 😀 Cuman kalo itu orang Eropa pake nama malaikat (BMW Angel Eyes), itu orang Amerika pake nama setan (Hellcat, Demon).

Ini umpama kalo dari Indonesia, mustinya nama-nama kayak gini mustahil dipakai resmi sama pabrikan.

Bayangkan kalo ada Toyota FT86 Demit; Lexus IS300 Setan Edition; Nissan Patrol V8 Gendruwo Limited; Suzuki Every Pocong Cekli – Urban Style Lincah; Daihatsu Tuyul Pickup – Jagoan Cari Duit; Nissan Kuntilanak – Lovely Family Van; apa ndhak gimana gitu kalo sama empunya dibawa jumatan ke masjid? 😀

Tapi ndhak ah, dari Eropa juga banyak nama setan: Lamborghini Diablo (devil); The Red Devil; Rolls-Royce Ghost; dll tambahkan dong…

Mirip varian pecel sama rawon era kekinian ya?

– Freema HW

Segera Hapuskan Premium & Solar!

Pertamina mengklaim bahwa minat masyarakat terhadap Premium turun. Well, saya ndhak bermaksud membela atau menghujat Pertamina sama sekali. Tapi pada kenyataannya, kalo kita mau ngitung secara cermat dan teliti, pake Premium itu justru break-down-nya mahal, khususon buat kendaraan yang sudah lumayan modern: kompresi tinggi, injeksi tekanan tinggi, dan sebagainya.

Apalagi era sekarang ini, rata-rata kubikasi mesin tinggal setengahnya untuk mencapai tenaga yang sama dengan mesin-mesin era satu-dua apalagi tiga dasawarsa kemarin.

Apalagi denger-denger, BBM dengan oktan setara Premium itu udah lenyap di muka bumi ini, konon tinggal segelintir-dua gelintir negara yang masih pakai.

SEJAK sekian tahun lama, sejak jaman SBY, saya mencermati banyak penggemar otomotif ini malah berharap Premium dan Solar dihapus, agar ada unsur keterpaksaan bagi pengendara untuk membeli BBM dg oktan lebih tinggi, yang memang harganya kerasa lebih mahal namun pada kenyataannya break-down-nya lebih murah.

Kalo masih ada yang beralasan premium masih dibutuhkan oleh rakyat miskin bla bla bla, ya gimanalah caranya mereka dikasih uang mentah aja ketimbang membakar Premium/Solar yang bikin emisi sangat tinggi di jalanan dan mesin-mesin mereka malah mahal biaya perawatannya.

Atau yang paling bagus lagi, mereka diberdayakan secara intensif sehingga tidak lagi terus terjebak pada -maaf- mentalitas miskin yang harus disuapi subsidi individual secara langsung. Karena subsidi itu masih diperlukan untuk kebutuhan komunal.

Well, di mata saya yang juga sering ndhak pegang uang ini, ndhak punya duit itu keadaan. Namun (merasa) miskin itu adalah mentalitas. Bangsa ini akan susah maju kalo mentalitas (merasa) miskin ini terus dipeli hara, entah oleh siapapun untuk tujuan apapun.

Tapi inget lho, menolak (mentalitas) miskin bukan berarti (harus berkelakuan) sok kaya! Jelas koq ini bedanya!

***

Sekarang malah bagusan Pertamina ngeluarkan Pertamax Turbo. Ini jenis BBM yg paling dicari oleh kalangan otomotif. Harganya Pertamax Turbo itu mahal banget lho, tapi bikin mesin lebih optimal tingkat kerusakan/keausannya bisa dibilang lebih rendah, dan optimasi tenaga mesinnya tercapai.

Kalo kita perhatikan era sekarang ini, rata-rata kubikasi mesin tinggal setengahnya untuk mencapai tenaga yang sama dengan mesin-mesin era satu-dua apalagi tiga dasawarsa kemarin.

Jatuh-jatuhnhya: semua akan kerasa malah relatif lebih murah.

Jadi jangan dianggap mereka yang beli BBM oktan tinggi itu orang kaya yang enteng menghamburkan uang. Buktinya, BBM oktan tinggi dibeli oleh mereka-mereka justru untuk berhemat secara ekonomis: yakni agar biaya perawatan kendaraan sesuai dengan jangkanya, bukan lebih cepat ketimbang jangkanya.

Apalagi sekarang udah masuk era mobil listrik. Masih banyak kontroversi, yang saya lebih membacanya sebagai tantangan ketimbang kontroversi. Antara lain anggapan bahwa mobil listrik itu hanya memindah energi fosil ke sentra pembangkit listrik alih-alih mereduksi apalagi menghilangkannya; plus masih belum layaknya mobil listrik untuk mengganti mobil berbahan bakar fosil/minyak, terutama dari sisi jarak tempuh dan kecepatan recharging.

Tapi liat saja nanti, cepat atau lambat niscaya mobil listrik akan serupa mobil berbahan bakar fosil/minyak: jarak tempuhnya panjang dan baterenya bisa di-charge dengan cepat, atau semacam di-replace gitu dengan batere penuh daya tatkala yang nempel di mobil sudah (mulai) habis. Dan sentra pembangkit listrik pun mungkin juga akan berganti ke teknologi yang lebih ramah lingkungan, entah dengan sel surya yang makin murah atau bentuk lain.

Industri akan segera menciptakannya, karena mereka memang juga perlu barang baru sebagai sarana investasi baru untuk menciptakan keuntungan/profit baru yang terus-menerus dan tak pernah putus.

Dan saya cuman asyik jadi penonton saja ketimbang ikutan terjun di dalamnya untuk menimbun kapital dengan wahana perubahan ini.

***

MASIH berangggapan Premium/Solar untuk menyelamatkan orang miskin dan BBM oktan tinggi itu hanya sanggup dibeli oleh orang kaya-raya yang serba kelebihan duit?

Itu sudah bukan lagi teori basi, melainkan emang kenyataan basi. Mudah-mudahan demikian.

Dan jangan dikira kalo saya sanggup posting demikian ini artinya saya enteng banget beli bensin. Sebaliknya, ini malah matii-matian bermotor demi menghindari mbensini mobil terus-terusan. Ngerti po ra?

– Freema Bapakne Rahman
V8

Lebar Velg, Velg Kaleng

Sejak 2014 kemarin velg Si Badak Biru kami ganti pake velg kaleng. Dari bawaan aslinya Rim 15″ kami ganti dengan velg kaleng Rim 17″. Lebih keren?

Saya ndhak nyari kerennya. Saya murni nyari fungsinya. Sengaja saya ganti kaleng, kalo kena aspal berlobang lagi, bisa langsung digetok di pinggir jalan. Kalo pake velg alloy bawaannya atau velg lain yg serupa, musti dibawa ke tukang speialis repair velg. Biasanya velg bakal dipanasi dulu trus dikenteng pelan-pelan atau di-press pake mesin.

Sekian tahun menjalani waktu bersama si Badak Biru, sampe bosen dapet peyang di velg gara-gara kejedat lobang tajam di aspal, biasanya pas jalan AKAP, di kawasan Pantura gitu.

Kalo pake velg kaleng, peyang kena lobang parah di jalanan tinggal bawa minggir dan getok aja di tukang ban terdekat.

Ini kaleng yg kami dapet, kalo ndhak salah punyanya Hyundai Santa-Fe ato Tucson gitu yg generasi lawas. Saya pasang pake adapter 2 cm. Tapi tenang, asal adapternya bener, lari kenceng juga aman. Itu yg turun Nyentul, adapternya malah sampe 3 cm, larinya kaya halilintar semua itu.

***

Velg kaleng rata-rata lebar velgnya umum aja. Beda sama velg aslinya BMW, meski Rim 15″, lebar velgnya 7″ dan ban standarnya bertapak 205, atau tepatnya 205/65-15.

Di mobil lain velg Rim 15″ lebar velgnya palingan 6,5″ dengan tapak ban paling 195, atau tepatnya biasanya 195/65-15.

Selisih lebar tapaknya mungkin cuman 10 mm, tapi harga di paarannya sudah beda seratus-dua ratus ribu pada merk/varian murmer yg sama. Kalikan empat ban aja biar kerasa perbedaan harganya. 😦

Jadi biar ukuran Rim kecil, velg standar BMW masih pantes-pantes aja diliat, karena tapaknya yg lebih lebar itu tadi. 😀 Plus harganya yg berbeda itu tadi. 😦

Lha begitu saya kasih kaleng yg lebarnya standar, makanya jadi ndhak enak kalo cuman saya kasih Rim 16″. Dulu sebelom dapet yg Rim 17″ ini sempat saya pasangi kaleng RIM 16″ dengan lebar 6″ atau 6,5″ gitu kalo ndhak salah, lupa saya, dan males liat lagi di balik velgnya. 😀

Malah lebih bagusan bawaannya yg Rim 15″ dilihatnya ketimbang kaleng Rim 16″, karena setelah saya amati: beda di lebarnya itu tadi.

SETELAHNYA saya telateni hunting kaleng Rim 17″. Entah berapa lama saya nyanggong di forum online. Sekian bulan kayaknya, saya lupa, udah tiga tahun silam juga. Dapetnya dari Jakarta, COD pas saya ke sana.

Keren? Meskipun besarnya Rim 17″, ternyata lebar velgnya sama kayak velg Rim 15″ bawaan BMW: sama-sama 7″! Hiks…. 😦

Yaaakh paling ndhak lumayan bisa dilihat mata lah ketimbang yg lebar 6,5″ apalagi yg cuman 6″ buat ukuran Badak. 😀

***

Tapi ternyata, ada mobil rekan yg dikasih kaleng Rim 15″ tapi lebarnya di-double, jadi 8″ atau 9″ gitu lebarnya, ternyata juga ciamik banget.

Cuman ndhak tau tuh, berapa duit buat beli ban-nya, yg tentunya tapaknya lebar banget. Seperti kita ketahui, semakin lebar tapak ban apalagi semakin tipis profilnya, harganya semakin melejit!

Maka kesimpulan saya, kadang cakepnya velg itu bukan karena gedhenya rim-nya belaka, melainkan juga dibanding dengan proporsi lebarnya. Bukan makin besar Rim-nya yg makin keren, tapi kalo saya liat-liat: makin lebar velg-nya itu yg bikin tambah makin keren!

Dan rata-rata velg bawaan BMW lebarya melebihi rata-rata velg pada umumnya.

Maklum, dia musti dikasih ban dengan tapak lebih lebar dari kebanyakan mobil lainnya, untuk menampung tenaga mesin & traksi-nya, agar bisa enak di-kickdown dan ndhak ngepot ke sana kemari bokongnya. Mungkin demikian. 😀

Mohon dikoreksi kalo saya ada salah pendapat, data, dan fakta.

– Freema HW
tapak lebar.