Mencintai Perbedaan Dengan Hati

Di keluarga besar kami, ada kendaraan: beberapa mobil Jepang dan beberapa mobil Eropa.

Masing-masing punya positioning dan fungsionalitas sendiri-sendiri.

Ada yg masih pake karbu dan perawatannya super guuuampanggg mudahhh dan murahhh serta muatnya banyak plus dijual kembali harganya oke buangettt. Mobil legenda yg rasanya luar biasa campur aduk tak karuannya.

Ada si imut VVTi yg bensinnya uiritttttt puollllll tapi rasanya yaaa gitu deh.

Ada yg bbm-nya wajib jib jib pertadex/shell diesel dan haram jadah solar busuk yg meskipun mahal harga per liternya tapi lumayan bisa dibilang irit konsumsinya ketimbang mobil Eropa meski tetep jauh lebih boros ketimbang si VVTi mesin kecil; tapi ya gitu rasanya: gemlodhak ndhak karuan dibanding si mobil Eropa.

Dan ada mobil Eropa dengan ciri khas (baca: stigma) permanennya: parts muahalll, bensin buorosss, dan dijual kembali serasa dihibahkan aja ke orang. Tapi rasanya tiada pernah bisa tertandingi dan tergantikan oleh yg manapun yg ada di kami.

DARI beragamnya barisan kendaraan yg ada tersebut kami semua akhirnya bisa mendapatkan kesimpulan hati:

kami bisa mencintai si mobil Eropa yg tiada pernah tertandingi rasanya, karena berkendara itu bagi kami adalah soal rasa dan pengalaman di perjalanan; meski perawatannya bikin kami mau muntah;

tanpa harus membenci sedikitpun mobil-mobil yg punya fungsional tinggi meski kami anggap tanpa ada rasa (soul)nya.

Sebab seenak-enaknya mobil Eropa yg ada di kami, pada suatu ketika, yakni ketika kami butuh fungsionalitas tertentu, mereka para mobil Eropa (sedan) itu mendadak jadi barang useless yg ndhak berguna sama sekali.

INI kondisi yg kami rasakan sendiri dan kami alami sendiri. Bukan dari “katanya, katanya, katanya”; bukan dari kondisi berdasar apa kata orang. Apalagi orang yg ndhak hidup bersama mobil Jepang(pasaran) dan mobil Eropa sekaligus.

***

Kami bisa mencintai mobil Eropa dan Jepang kami sepenuh hati dengan beragam karakternya masing-masing.

Kami bisa mencintai mobil Jepang dan mobil Eropa kami dengan sepenuh hati dan berdasarkan perbedaan masing-masing kondisi.

Kami bisa mencintai mobil Jepang kami yg irit dan murah perawatannya tapi ancur-ancuran rasanya tanpa pernah sedikitpun membenci mobil Eropa yg boros dan muahalll maintenisnya itu.

Kami bisa mencintai mobil Eropa kami yg luar biasa tak tertandingi enaknya meskipun mihil maintenisnya tanpa pernah membenci sedikitpun mobil Jepang yg soul-less namun fungsionalitasnya super tinggi dan bisa membuat mobil Eropa kami mendadak useless pada suatu kondisi.

– FHW Eropang.

Advertisements

Pengetahuan Tentang Lebar Tapak Ban Dan Pengaruh Harganya Serta Hal-Hal Lain Yang Berkaitan Dengannya

Saya sih ndhak tertarik dengan supercar gituan. Selain masalah selera: saya lebih suka mobil buas bertampang (agak)biasa macam BMW-M atau Audi-RS (biar agak enak ngomongnya) juga masalah doku so pasti tentunya (nah ini inti sebenarnya. Klasik banget kan? Hehehehe…). Yakh, namanya beli baju kan musti ukur badan sendiri. Ya tho ya tho?

Cuman saya ndhak pernah lupa tentang bannya supercar/sportcar ginian. Kapan lalu pas di toko ban gedhe di kotapraja sana, saya lama tertegun memperhatikan pricelist ban dengan spek sportcar: tapaknya mayan luebar banget dan profilnya mayan tipis: 305/35 rimnya lupa, mungkin 20.

Harganya sebiji 12jt untuk merk kelas menengah-atas yg ada di pasaran Indonesia. Untuk merk-merk papan atas ndhak ada pricelist-nya di toko tersebut.

Spek dan harga yg tampak teramat sangat aneh sekali banget bagi saya, meski mungkin itu sangat umum lumrah jamak bagi Anda-Anda yg biasa cangkruk di Sentul sambil ngamati orang-orang naik mobil trondhol jeroannya dengan (suara)knalpot ndhak bener muter-muter sirkuit. Ampun likkk!!! 😀

Selain harganya yg teramat sangat mencengangkan sekali banget bagi ukuran saya pribadi, satu hal lagi yg saya meyakini: kayaknya ban ukuran tersebut ndhak ada yg jual copotan di lapak ban gedhe di pinggir jalan. Kalo 205/65-15 atau atau 215/55-17 buat badak kan relatif banyak banget, setidaknya ada aja di sana. Asyik tho? Yekan?

Well liks, inilah opini saya berupa pengetahuan tentang lebar tapak ban dan pengaruh harganya serta hal-hal lain yang berkaitan dengannya. Jadi ini semua sebenarnya saya ngomongin apa sih ya?

– Freema Ban Widiasena
Pelanggan lapak jual-beli (pinggir jalan tidak) online.

Salut Dengan BBM Malaysia

Salut dengan BBM (bahan bakar minyak) di Malaysia, khususnya BBM diesel mereka. Ada:

  • Euro2 dengan sulfur 500 ppm, dan
  • Euro5 dengan sulfur 10 ppm

Sementara kita:

  • Solar busuk comberan dengan sulfur 3500 ppm,
  • Dexlite dengan sulfur 1.200 ppm,
  • Pertadex dengan sulfur 300 ppm.

Mungkin inilah kenapa anak-anak Malaysia tampak cerdas-cerdas (yaaa kalo liat Upin-Ipin sih 😀 Hehehehe), mungkin karena hanya sedikit sulfur yg mereka hirup dan meresap ke aliran darah. Kalo kata seorang kolega saya yg mantan TKI dari Malaysia, sepuluhan tahun silam, “Di Malaysia itu “solar”-nya warna merah Mas (low-sulphur), ndhak item (hi-sulphur) kayak solar di sini.”

#Catatan: Solar adalah salah satu nama dagang BBM diesel dari Pertamina, sebagaimana Dexlite, Pertadex. Cuman nama dagang ini semacam sudah menjadi metonimia untuk BBM diesel, khususnya di tempat-tempat yg jauh dari kota besar dan tidak/belom mengenal BBM diesel selain “Solar”.

Beda dengan anak muda Indonesia yg sering kita sangka sebagai generasi micin, mungkin selain karena kebanyakan micin beneran – ini cuman mungkin lho, kita juga kebanyakan menghirup sulfur yg berterbangan di jalan raya bahkan hingga ke persawahan pedesaan.

Mungkin. CMIIW.

Regards,
– Freemadex non lite.

Mobil Listrik: Pola Pikir Masa Depan Sekarang

Sekian tahun silam, mungkin lima tahunan silam – saya lupa, saya dicemplungkan ke sebuah forum otomotif Motuba sama seorang rekan dari Yogya. Kala itu warganya masih seuprit, hanya seribuan kalo ndhak salah.

Kadang saya rasa di forum ini tuh gini: ada case jangka panjang, eh dikupas dengan bahasan jangka pendek. Atau mungkin sebaliknya.

Ada juga trit yg komengnya beratus-ratus tapi isinya komeng diulang-ulang sampe puluhan kali oleh akun yg berbeda, atau komeng candaan yg sangat amat dominan dan mayoritas hingga mengalahkan secuil komeng yg related dg tritnya; sebuah trit yg kalo dikompres paling cukupnya berisi beberapa komen saja.

Trus ada trit/bahasan konseptual, tapi sama yg komeng dikaji dengan kunci pragmatis. Atau trit bahasan prinsip, tapi terus-terusan dikomengi dengan bahasan teknis.

Salah satu contohnya misal bahasan mobil listrik. Dilihat dari segala sisi, khususnya sisi ekonomis, mobil listrik itu jelas sama sekali ndhak ekonomis. Daya jelajahnya terbatas, isi ulangnya lama, sembarangnya masih mahal. Bahkan yg katanya ramah lingkungan pun, dia bisa jadi masih pake sumber listrik bertenaga fosil buat chargingnya.

Tapi saya sepakat dengan komeng Lik @Wendy Kurniawan: teknologi dan riset, kalau tidak ada yg memulai, pasti tidak akan pernah efisien.

Mungkin inilah alasan mobil listrik (mulai) hadir sekarang ini, dengan segala keterbatasannya dan kemahalannya.

(Terlepas bahwa kapitalis butuh instrumen produksi & investasi baru agar produk lama jadi basi dan ada produk baru yg terpaksa harus dibeli, agar uang terus bisa mereka keruk dan duit terus berputar di dunia ini.)

Artinya, secara sederhana, mobil listrik adalah aspek jangka “nanti”, bukan aspek jangka “now”, apalagi jangka sorong.

Pro dan kontra teramat sangat wajar bilamana ada. Dan mungkin inilah yg akan membuat produsen akan berbenah.

Tapi mbok ya, gimana ya bilangnya, itu lho: lha wong namanya mobil listrik itu masih belom efisien dan belom menemukan bentuknya, terlebih skala ekonomisnya; mbok kalo komen itu diletakkan pada koridornya yg sesuai.

Wong namanya hal jangka panjang mbok ya dikritisi dengan aspek jangka panjang, bukan jangka pendek, apalagi jangka sorong atau instrumen berjangka.

Jangan-jangan yg mengkritisi hal jangka panjang dengan sudut pandang jangka pendek itu, dianya masih keturunan orang jaman old yg mengkritisi hadirnya mobil saat menggantikan dokar: bensinnya belom ada di mana-mana, mesinnya ndhak dipahami oleh banyak orang, kapasitas angkutnya sungguh terbatas, mogokan mungkin, dll. dll.

Sementara pedati itu sungguh sangat ekonomis dan skalabel: kuda lapar, di sepanjang jalan banyak rumput. Bensin habis, eh kuda haus, tinggal minggirkan ke sungai. Beban berat, tinggal tambah lagi kudanya di depan, jadilah belasan tenaga kuda. Mogok/kaki kudanya patah, tinggal sembelih dan dimaem. Spare-parts cadangan pun tersedia: itu si anak kuda yg ikut dituntun di samping kereta. Sungguh efisiensi yg tak terkalahkan bukan?

Jaman segitu, lantas ngapain orang bikin mobil segala? Mana udah gitu eh ada yg mbeli lagi… Pasti jaman segitu yg bikin mobil maupun yg mbeli adalah kategori orang yg ndhak waras.

Sama kayak produsen sekarang yg bikin mobil listrik maupun pembelinya.

Ngapain buang-buang duit untuk hal/mobil yg SEKARANG ini masih sama sekali ndhak efisien? Tolol banget kan?

Ngapain ndhak ditunggu aja sampe ntar kalo baterenya udah efisien: nge-charge cepet, dan daya jelajah sudah sangat amat jauh?

Mustinya mobil listrik kan diproduksi dan dikeluarkan ntar aja kan: kalo baterenya udah cuepett di-charge secepet kita ngisi bensin dan sekali charge daya jelajahnya setara setanki bensin kita bukan?

ITU cuman contoh saja. Seperti kalimat pembuka saya di trit ini: kadang saya rasa. Ini cuman perasaan saya saja.

DAN kapan waktu lalu, mungkin setahunan silam, saya pernah bikin trit uneg-uneg juga. Kalo ndhak salah protes saya terhadap dominasi penggunaan bahasa Jawa, di trit yg isi dan skup warganya luas gitu. Karena beragamnya cara pandang warga di situ, trit saya dianggap jadi rusuh. Akhirnya saya didepak oleh salah seorang admin.

Ini untuk pertama kalinya saya didepak dari semua group yg saya ikuti di fesbuk. Kalo di Motuba sendiri, kayaknya sudah beberapa kali trit saya didelete sama admin. Alasannya jelas: bikin rusuh/kontroversi. Yaaa… 😀

Tau akan hal ini, admin founder Mbah Muhsin Bonsai sampai minta maaf ke saya dan kembali memasukkan akun saya ke grup besarnya ini. Padahal siapa juga saya, sampe doi segitunya gitu. 😀

Makasih Mbah Bons.

Regards,
– Freema HW V8

Triptonic Tiptronic Steptronic Manumatic


Bahkan, penggemar/pengguna biem pun masih buuuanyakkk yg menuliskan steptronic dengan tiptronic. Lebih parahnya lagi, juauhhh lebih buuuanyakkk lagi yg salah menulis dan menulis salah tiptronic dengan triptonic. Googling aja triptonic, maka google akan menyarankan yg benar dg tiptronic.

Udah steptronic salah jadi tiptronic, udah gitu diperparah lagi malah jadi triptonic.

Masih lebih parah lagi, kejadian ini udah berlangsung lama, udah berkali-kali dibahas, eh masih terus aja berulang-ulang ini kesalahan yg sama.

Dan bahkan mungkin sangat suuuedikittt yg ngerti bahasa generiknya: manumatic.

Tuduhan subyektif saya, yg mempopulerkan, melestarikan, dan melanggengkan kesalahan ini adalah para pedagang umum yg lagi jualan biem. Yakni para pedagang sok tau yg mana kelakuan mereka justru kita amini dengan sikap jarang memverifikasi ulang setiap informasi yg masuk ke kita.

Cek aja di setiap post, komen, atau trit di fesbuk; atau lapak dagangan di jual-beli online, berapa yg menuliskan steptronic dan berapa yg menuliskan tiptronic, sori “triptonic”, untuk BMW.

Ternyata “kecanggihan” pengguna BMW belom tentu secanggih mobilnya.

– Freematronic

Nomenclature

Sebagaimana kita ketahui, nomenklatur BMW berdasarkan seri dan cc. Kayaknya semakin kesini semakin ndhak relevan.

BMW masih bisa ngeles bahwa “cc”-nya adalah penyetaraan saja. Tapi semakin besok, kayaknya harusnya mulai sekarang deh, harusnya BMW semakin sadar bahwa “penyetaraan” itu pun akan semakin menjauh.

Mesin 2000 cc sekarang tenaganya bisa setara mesin 5000 cc kemarin-kemarin ntar. Karena mesin sekarang sudah semakin presisi dan efisien, banyak intervensi elektronik di semua lini: injeksinya langsung masuk ke mesin bukan lagi ke pipa intake, katup-katupnya diintervensi dengan perangkat elektronik dan dikendalikan komputer,

plus sudah diperkuat dengan turbo generasi terkini yg semakin smooth karena kitirannya bisa diatur-atur atau diubah-ubah miringnya, pun jumlah turbonya bisa banyak atau bertingkat-tingkat boost & tahapan/urutan kerjanya;

atau pake hybrid;

atau keduanya.

Sekarang aja mesin 2000 cc tenaganya udah jamak setara dengan mesin 3500 cc era dua dekade silam. BMW M550d mesinnya cuman 3000 cc, dianggap setara 5000 cc. Di beberapa mesin Volkswagen, mesin 1600 cc juga udah setara dengan mesin 3000 cc era kemarin.

Dulu saya pernah ngetik ginian jadi komen di angkringan-online bimmerfan mataraman, tapi saya search koq ndhak nemu. Baiklah saya ketik lagi aja.

Sekarang sih turbo sama hybrid seolah masih merupakan bagian “tambahan” buat mesin. Kelak, bisa jadi ini semua sudah menjadi hal yg (dianggap) built-in, satu kesatuan, bukan tambahan, dan bukan merupakan bagian terpisah, sebagaimana kontrol elektronik pada katup mesin. Sampe akhirnya mobil jadi listrik semua. Who knows kan?

Mending nomenklasi BMW dibiarkan tetap skemanya, tapi belakangnya diubah jadi indikasi tenaganya.

Jadi kalo ada 320i, maka pengertiannya adalah Seri 3 dengan 200 ps. BMW 540i adalah Seri 5 dengan 400 ps. Trus 730Li maka pengertiannya adalah Seri 7 dengan tenaga 300 ps, LWB. Gampang, dan bakal jamak ntar mobil dengan tenaga segitu, karena dihasilkan oleh mesin yg kecil, imut, ringkas, efisien, dan irit. Berkat kemajuan teknologi yg semakin presisi dan semakin ringan.

Kalo toh nanti semua mobil jadi listrik, nomenklasi ini rasanya masih akan tetap relevan. Cuman bedanya kalo kemarin 320i adalah Seri 3 dengan 200 ps bermesin 1500 cc misalnya, kini tetap Seri 3 dengan 200 ps bermotor listrik. Atau biar lebih ke-listrikan (kenikian yg menggunakan listrik/elektrik), itu 320i tinggal di-update aja jadi: Seri 3 dengan 200 Kw (setara kurleb 270 ps). “i”-nya adalah intelligent atau pinter banget atau apalah. Nanti “is”-nya jadi intelligent+sport. “d”-nya jadi durable atau double atau apa gitu. “e”-nya jadi economic-version mungkin. Tinggal dicocok-cocokkan aja pokoknya. 😀

Audi aja udah mulai sadar diri. Karena kalo cuman menampilkan Audi A4 2.0TFSI, orang ndhak akan sadar kalo tenaganya udah 250 ps. Kalo cc 2000 era kemarin-kemarin itu biasanya keluarannya cuman 150an ps.

Volvo juga menyembunyikan kapasitas silindernya. Kini dia menjenjangkan produknya (tetap) dengan T4, T5, T6, atau T8; cuman intinya makin tinggi T-nya makin gedhe aja kemampuannya. Pokoknya gitu. Bukan lagi turbo+jumlah silinder lagi. Atau apalah itu skema sebelumnya. Mohon dijabarkan kalo temen-temen punya penjelasan detail, rinci, dan spesifiknya.

Mercy, masih konvensional kayak BMW. Dan masih sama ngacaunya. C250 konon mesinnya cuman 1800 cc.

INI cuman pikiran iseng saya sih. Kalo toh nanti BMW atau Mercy berubah beneran, bahwa angka yg sama di belakangnya bukanlah lagi isi cc melainkan sudah berganti jadi keluaran/out-put tenaganya, mereka tinggal bilang, “Kami sudah merencanakannya sejak lama, dan perlu waktu untuk berpindah/bertransformasi ke proses ini.”

Kelar urusan.

Dan Anda sekalian ndhak usah terlalu serius menganal isis posting ini. Posting ini bukanlah posting tentang kejar-kejaran cepet-cepetan menampilkan berita GIIAS atau launching produk terbaru plus sok-sok spyshot produk yg bakal meluncur atau gosip-gosip garing tentang bakal/calon replacement suatu produk otomotif ke depannya.

Posting ini juga tidak menyangkut kehidupan bernegara yg baik, benar, bijak, dan madani. Apalagi menyangkut hajat hidup orang banyak. Atau menyangkut politik yg membuat kita semua mendadak menjadi pakar paling pakar, lebih-lebih lagi menyangkut surga dan neraka yg membuat kita menjadi kelompok paling benar dan yg lain pasti & harus salah.

Posting ini cuman sekedar posting sinting yg sangat pantes dicibir oleh banyak orang: “udah bersyukur aja mas punya mobil, ndhak usah sok-sokan mikir yg aneh-aneh. Dibayar juga ndhak, punya sahamnya juga ndhak apalagi sampe punya pabriknya. Ngapain sih pusing-pusing mikirkan nomenklasinya BMW segala? BMW aja ndhak pernah sedikitpun ikut pusing memikirkan nasib Mas yg terjungkal-jungkal miara mobil Mas sendiri koq! Ya tho?”

Ya banget sih.

– Freema HW 3.0i 300ps.

Rawon Eh Pecel Eh Mobil Setan

Habis Dodge Challenger Hellcat, muncul lagi varian paling gaharnya: Dodge Challenger SRT(c) Demon.

Korona di mata (baca: dual-headlamp) Dodge Challenger ini mengingatkan Anda pada sesuatu? Yup, mirip BMW Angel Eyes yg kondnag itu. 😀 Cuman kalo itu orang Eropa pake nama malaikat (BMW Angel Eyes), itu orang Amerika pake nama setan (Hellcat, Demon).

Ini umpama kalo dari Indonesia, mustinya nama-nama kayak gini mustahil dipakai resmi sama pabrikan.

Bayangkan kalo ada Toyota FT86 Demit; Lexus IS300 Setan Edition; Nissan Patrol V8 Gendruwo Limited; Suzuki Every Pocong Cekli – Urban Style Lincah; Daihatsu Tuyul Pickup – Jagoan Cari Duit; Nissan Kuntilanak – Lovely Family Van; apa ndhak gimana gitu kalo sama empunya dibawa jumatan ke masjid? 😀

Tapi ndhak ah, dari Eropa juga banyak nama setan: Lamborghini Diablo (devil); The Red Devil; Rolls-Royce Ghost; dll tambahkan dong…

Mirip varian pecel sama rawon era kekinian ya?

– Freema HW