Level Loyalitas

Suatu waktu saya sedang ngobrol sama seorang bapak driver ojol (ojek online). Beliau udah lumayan sepuh. Umuran orang udah punya cucu gitulah.

“Saya pindah daro ojol lama ke ojol baru, Mas!” Demikian kisahnya. “Ojol lama saya itu kapitalis sejati; pelit ngasih bonus buat penumpang juga buat drivernya.”

Saya manggut-manggut.

“Kalo yang baru ini enak. Murah hati mereka. Suka ngasih bonus buat penumpang juga buat drivernya.” Lanjut kisahnya.

Urutan kata anatara ‘penumpang’ dan ‘driver’ tampaknya benar-benar diperhatikan sama si bapak. “Suka ngasih bonus buat penumpang juga buat drivernya” itu maknanya mendahulukan kebaikan buat penumpang terlebih dahulu baru kemudian buat drivernya.

Saya kembali manggut-manggut.

Usai si bapak berkisah, baru saya mencoba mengutarakan pendapat menurut cara pandang saya.

“Pak, mohon maaf nih… Ojol lama bapak itu kan emang udah lama hadirnya/lama umurnya tho? Kalo kita ingat-ingat, dulu mereka suka banting harga dan banyak ngasih bonus dan sekarang udah ndhak. Wajar Pak, dulu mereka masih mencari pelanggan dan menciptakan basis pelanggan. Atau dalam bahasa kerennya: menciptakan ekosistem.” Pelan-pelan saya membuka opini saya.

“Nah, ketika ekosistem pelanggan udah terbentuk, yakni pelanggan berkumpul banyak-banyak karena trigger/dipicu oleh harga murah tadi awalnya, sehingga pelanggan apal sama seluk-beluk aplikasinya, apal kapan musti segera order dan apal berapa lama ojol akan dateng, dll dll dll. maka selanjutnya mereka bakal beralih ke tahap berikutnya: me-maintain ekosistem tersebut untuk membangun loyalitas pelanggan kepada merk/produk.” Lanjut saya sok-sokan aja pokoknya.

“Pada tahap ini, ojol lama bapak sudah ndhak akan terlalu fokus bermain dengan harga. Mereka akan sibuk memperbaiki dan menjaga kualitas layanan: driver berkendara dengan sopan, kondisi kendaraan terjaga kesehatan dan tampangnya, driver konstan dan konsisten menjaga kesopanan berbahasa dan bersikap kepada penumpang dan itu alami yang dibangun/dibentuk/diciptakan/dilahirkan bukan dibuat-buat, dan lain sejenisnya.” Saya semakin jumawa ngoceh. “Penumpang pun mungkin juga sudah ndhak hirau dengan harga, Pak! Mungkin pikir penumpang: aha selisih seribu-dua riba perak, pake ojol yang ini enak nih, drivernya sopan nyetirnya beradab dan kendaraannya pun nyaman.”

Si Bapak mulai terdiam oleh bualan saya.

“Mungkin ojol baru bapak ini masih pada tahap pertama. Mereka masih bermain di sisi insentif: bonus untuk penumpang pun driver. Tapi kalo penumpang sudah banyak karena pancingan harga murah, basis pelanggannya sudah terbentuk, ekosistem pelanggannya udah terbangun; mustinya mereka akan masuk ke tahap berikutnya yg sama juga untuk menjaga, merawat, dan mempertahankan ekosistemnya: fokus pada layanan, bukan lagi sekedar harga.” Saya semakin menjadi-jadi beromong besar.

Si Bapak mulai manggut-manggut.

***

Secara anti-klimaks dan tanpa fade-out kami menyudahi percakapan kami. Mungkin benak si bapak kerasukan sesuatu dari mulut besar saya: omong besar saya tentang level loyalitas kita.

Saya sama sekali tidak menyalahkan si Bapak karena aksi “reaksioner”-nya. Cuman dari ini semua saya jadi merenung, beliaunya -si Bapak- karena (maaf) “tidak’ memiliki bekal pemahaman terhadap hal-hal kayak gini, jadinya gampang terbang terombang-ambing menuju sorotan cahaya yang lebih terang. Padahal kita tak tau, cahaya itu bisa terang dan semakin terang selamanya atau hanya lebih terang secara temporer aja.

Dan akhirnya saya pribadi merasakan benar apa kata Ali: harta itu kita yg musti menjaga, sementara ilmu itu menjaga kita.

Pun benarlah adanya kiranya, semakin kita tambah tahu sesuatu, semakin tersadar bahwa kita ternyata semakin tak tahu tentang apa-apa. Terlalu luas hal-hal tak kelihatan yg bisa kita jelajahi sepanjang umur kita berlangsung di dunia ini. Maka alangkah eloknya jika kita tak gampang memfatwa sesuatu karena reaktif belaka.

Ini jadi self reminder buat saya pribadi, yg bahkan kondisi ini ndhak sampai selaksa buih di tengah samudera.

Saya ngobrol sama si Bapak ojol itu aja udah sedemikian besarnya mulut dan omongan saya. Gimana kalo saya ngobrol sama diri saya sendiri yg tanpa ada kontrol dari pihak lain selain diri saya sendiri ini? Pasti jatuhnya saya bakal semakin jumawa dan merasa paling tau, paling bisa, dan paling benar.

– FHW

Advertisements

Gulung Tikar Sajalah Kalian

Internet sudah menjadi kebutuhan pokok di era sekarang ini. Sebagaimana sembako.

Sayangnya, alih-alih menyediakan akses internet yang semakin merata dan terjangkau sehingga volume penjualannya bisa banyak, ada ISP yang masih jual mahal ketika jaringannya telah masuk ke suatu tempat. Sementara ISP lain yang jual murah tampaknya membatasi diri saja untuk ekspansi area cakupan layanan.

Seperti saat mengamati paket unlimited dari Bolt yang cuman ada di kota besar ini http://www.bolt.id/bolt-4g-ultra-lte-luncurkan-ultra-unlimited. Saya cuman bisa mengatupkan mulut dan membatin, “Betapa beruntungnya mereka yang tinggal di kota besar. Sudah fasilitasnya bejibun, murah lagi…”

DULU, saya mendoakan agar ISP-ISP itu berani turun harga agar pelanggan semakin membludak. Rumus sederhana, untung 100 dengan pelanggan 5000 tentu lebih banyak ketimbang untung 500 dengan pelanggan 1000.

Loh, hatuh dapetnya kan sama-sama 500.000?

Kalo pelanggan banyak, dengan harga yang dianggap murah oleh pelanggan, harapannya churn alias pelanggan mati tidak terlalu mempengaruhi kinerja atau penjualan perusahaan. Churn 10 dari 5000 pelanggan itu tentu kecil nilainya ketimbang churn 5 dari 1000 pelanggan.

Bukannya ngeri me-maintain pelanggan yang sebegitu banyak?

Relatif. Pelanggan sedikit biasanya perlu layanan prioritas. Apalagi kalo harga pembelian yang mereka bayarkan tinggi. Pelanggan banyak, juga perlu handling yang memeras konsentrasi.

Tapi itulah bisnis, harus dijalani.

SEBERANI apa kita perlu menjual banyak dan murah produk kita?

Ini sungguh sesuatu yang sangat kasuistis. Namun di bisnis telko, beberapa testimoni yang saya dengar langsung dari pelaku bisnis teknologi informasi ini, nyatanya selalu menggunakan strategi klasik untuk meraup pelanggan baru atau mempertahankan pelanggan lama: pakai harga murah!

Ndhak rugi?

Ada keniscayaan dari hukum Moore, sehingga harga teknologi begitu teramat sangat cepat terkoreksi; makin murah, makin murah, dan makin murah.

Jual dengan harga murah, ekspansi harus sesegera mungkin dilakukan, agar duit segera muter, agar investasi cepet segera balik; hingga datangnya bentuk revisi baru teknolgi yang ada, untuk dijual ulang menjadi produk baru atau perbaruan produk.

TERAKHIR, jangan percaya dengan analisis saya ini. Saya sama sekali bukan pelaku bisnis teknologi. Saya cuman dengar dari temen-temen saya yang para pelakunya langsung.

Mereka yang paling paham tentang apa yang dihadapi dan apa yang harus(nya) dilakukan. Entah kemudian dilakukan beneran dengan penuh keberanian menghadapi risiko “kegagalan penjualan” atau tidak dilakukan karena ketakutan. Ketakutan pada kegagalan penjualan yang ternyata membuat bisnis bisa jadi stagnan.

DULU, saya mendoakan agar ISP-ISP itu berani turun harga agar pelanggan semakin membludak. Tapi kini doa saya berubah: kalo memang tak berniat mengejar perkembangan, gulung tikar sajalah kalian.

Biar lebih pasti nasib kalian. Kalo ya yang iya, kalo ndhak yang ndhak.

Tapi, berdoa yang buruk tentunya sangat tidak baik. Maka kini saya hanya bisa menyadari, saya dan mungkin jibunan warga negeri ini yang berpikiran sama dengan saya jikalau memang ada, mungkin bukan merupakan kustomer mereka, barisan ISP yang susah ditebak bagaimana pola bisnisnya.

Plus, mereka itu semu adalah perusahaan swasta. Urusan mereka cuman nyari untung, tak ada urusannya sedikitpun apalagi sampai level kewajiban untuk memperhatikan betapa sengsaranya jutaan warga bangsa di seluruh pelosok Indonesia yang tuna-internet.

Perkara pemerataan dan internet gratis, misalnya hingga kecepatan 1 mbps maka tarif gratis sebagaimana penggunaan listrik pada sekian kwh pertama atau air hingga sekian kubik pertama, itu adalah urusan pemerintah; yang urusannya adalah pola pandang pemerintah apakah internet sudah dianggap kebutuhan pokok sebagaimana listrik dan air atau bukan.

Dan tentang barisan ISP swasta itu, itu semua adalah bisnis milyaran dan triliunan, bukan bisnis warungan yang mungkin cuman jutaan aset dan omsetnya. Ada banyak taktik, strategi, elemen, faktor, dan berbagai hal terkait yang tersembunyi dan harus disembunyikan, entah karena murni kepentingan bisnis atau mungkin terkait kepentingan politis. So, tentunya mustahil untuk dinilai dengan mudah semudah menilai 2×2=4.

Yang bisnis warungan aja kadang susah untuk dinilai, apalagi yang triliunan.

Jelas, posting ini hanyalah tentang omong kosong dan mulut besar saya semata. Tak lain dan tak bukan. Sekali lagi, jangan pernah percaya posting ini. Ini cuman posting baper karena masih saya lihat begitu banyaknya warga tuna-internet di negeri ini.

– FHW
extralimited.

Iseng

Ultra Luxury

MERK/TYPE CC HP RB
Bentley Continental GT W12 5.993 560 5.177.000
Bentley Flying Spur W12 5.998 560 5.380.000

Full-Size Premium/Luxury

MERK/TYPE CC HP RB
Mercy S300 L 2.996 231 1.599.000
BMW 730Li 2.996 258 1.688.000
Audi A8L FSI Quattro 3.000 290 1.900.000
MERK/TYPE CC HP RB
Mercy S600 L 5.513 510 3.399.000
BMW 760Li 5.972 544 3.348.000
600h L 4.969 394 2.728.000

Mid-size Premium/Luxury

MERK/TYPE CC HP RB
Mercy E200 CGI 1.796 184 799.000
BMW 523i Business 2.497 204 788.000
Audi A6 2.8 FSI 2.773 204 985.000
Volvo S80 2.5 A/T 2.521 200 885.000
MERK/TYPE CC HP RB
Mercy E300 Avantgrade 2.996 231 1.089.000
BMW 535i 2.979 306 1.228.000
Audi A6 3.0 TFSI Quattro 2.995 300 1.190.000
Lexus GS 300 2.995 245 1.233.500

Compact Premium/Luxury

MERK/TYPE CC HP RB
Mercy C180 CGI Style 1.796 156 529.000
Mercy C200 CGI 1.796 184 549.000
BMW 320i Sport 1.997 184 599.000
Audi A4 1.8 T FSI PI 1.798 160 557.500
MERK/TYPE CC HP RB
Mercy C300 Avantgrade 2.996 231 759.000
BMW 335i Luxury 2.996 306 849.000
Lexus IS300 2.995 288 1.119.000

Tukune nganggo duit kabeh kuwi, belinya pake duit semua tuh ya?

– FHW
Sumber: AutoBild

Dijual! Salah Dua Dari Tiga Item Ini: Mesin BMW E34 M60; BMW E38 M62 735iL; Ford Everest 2007 AT

Dijual salah dua dari tiga item berikut ini.

  • Mesin E34 M60
  • BMW Seri 7 E38 M62 735iL
  • Ford Everest 2007 Matic – Bukan Kucing Dalam Karung

Kalo dua dari tiga item di atas udah laku, maka item ketiga akan saya simpan/keep/pakai sendiri (dulu). 😀 Posting ini akan saya update sesuai kondisi.

Mesin E34 M60

Posisi barang: Kediri, Jatim.

Saya jual mesin M60B30 lengkap girbok matic dan ECU/wiringnya.

Saat ini mesin masih terpasang di mobil.

Kondisi terakhir mesin saat dicek sama Om Abi lumayan okey, cuman kotor aja. Belom terdeteksi kerusakan yang signifikan.

Cocok buat Anda yang:

  • Pingin ngerestorasi E34 530i AT.
  • Perlu ngganti mesin M60 pada E38 730iL.
  • Pingin swap E30 atau E36 atau E34 M50 dll. dengan M60 V8.
  • Atau apa aja terserah Anda. 😀 Hehehehehe.

Saya ndhak tau ini musti dijual berapa. Coba tawar aja atau kasih referensi. Kalo harga sreg, saya lepas.

Dijual FOB Kediri, Jatim. Kalo tawaran masuk, ongkos bongkar pasang biar saya yang nanggung.

Dijual mesinnya saja?

Ya! Kalo mesinnya udah kejual, mobil sedang saya pertimbangkan untuk:

  • Lanjut dikampak. Akan saya jual tethelan kecuali interiornya komplit! Interior mau saya simpen sendiri.
  • Mau saya ganti dengan M70 V12. Hehehehehehe…

Foto berikut sekedar untuk ilustrasi.

BMW Seri 7 E38 M62 735iL

Posisi barang: Kediri, Jatim.

Akan dijual dengan kondisi terestorasi. Harga sekitar 125jt (terestorasi fungsi) hingga 150jt (sekalian balik nama), tergantung paket restorasi yang Anda minta. Detailnya bisa kita bicarakan dengan diskusi yang lebih detail.

Kalo kondisi mobil saat ini siy, intinya: body overall oke, bisa jalan, bisa ngebut, tapi: surat mati; interior masih acakadut – soale sambil dibenahi pelan-pelan sambil jalan; bumper ada bocelnya; ada rembesan di klem-kleman pipa power-steering, dan modar regulator power-windownya sisi belakang kiri sama lepas pengait dalam handel pintu sopir.

Kenapa dijual dengan kondisi terestorasi?

BMW kelas Seri 7 gini adalah mobil yang perlunya dinikmati, buat dinikmati. Bahkan malah kurang cocog kalo buat kaki/harian. Udah badannya gambrot – lumayan susah kalo parkir di mall, bensinnya juga aduhai nguras SPBU.

Kalo saya jual mentahan kayak gini, sayang aja buat Anda kalo ntar ndhak segera bisa menikmati ini mobil karena hanya terus-terusan dibenahi di bengkel.

Mending kalo Anda minat, saya setengah maksa Anda buat mbeli dalam kondisi terestorasi. Jadi tinggal isi bensin dan ganti oli.

Kalo mau paket kumplit 150jt, kami tambahkan free maintenis selama setahun kecuali parts tertentu – syarat ketentuan berlaku. Katakanlah ini semacam garansi terbatas gitu. Namun apapun opsi Anda, akan kami sertakan stok parts fast-moving untuk tune-up (filter oli, busi, filter udara, filter bensin) just as a bonus, sebagai bonus.

Dibeli mentahan aja boleh?

Prinsipnya siy boleh aja. Tapi jujur dengan kondisi yang masih perlu mayan banyak benah-benah, kami mungkin menjualnya di angka 60an jt. Ini pun entah kami bisa memberikan diskon atau ndhak.

Lebih detailnya siy hubungi kami aja via PM Fesbuk saya http://fb.com/freema.hw atau email ke saya freema97@yahoo.co.id

Gambar berikut hanyalah ilustrasi. Mobil kurang lebih demikian.

Ford Everest 2007 Matic – Bukan Kucing Dalam Karung

Posisi barang: Serpong/BSD, Tangerang Selatan, Jakarta/Banten.

Sale by Owner, Dijual Tanpa Perantara | Ford Everest AT 2007

Kondisi almost-perfect. Semua fungsi dijamin normal: AC, kaki-kaki, elektrikal. AC, kaki-kaki, baru direstorasi dalam setahun ini; juga oli matic udah dikuras dan timing belt udah diganti.

Filter solar diganti rutin berkala juga. Oli mesin/tune-up rajin sesuai jadwal. Intinya insya Allah very well-maintained.

Interior masih maknyusss, kulit trim utuh semua. Dijual dg kondisi interior standar (audio akan dilepas).

Pajak off, tapi harga jual termasuk perbaruan pajak alias pajak jadi tanggungan saya. Cocok kalo mau dibalik-nama sekalian.

Minumnya always Pertadex. Interior seger karena kami tidak merokok. Posisi mobil di Jakarta/BSD.

Asking price 150.000RB, jangan khawatir nego koq Gan! 😀 Maaf kalo mahal, saya berharap dengan memilih mobil ini Anda ndhak bakal ‘membeli kucing dalam karung’ soale. 😀

Terima barter dengan:
– Audi A8 (D3) Facelift/single-frame. Spec terserah.
– BMW E39 M54B30
– Honda Elysion V6

Info lebih lanjut hubungi saya Freema – 08553620665.

Lebih lengkap cek di sini Ford Everest – Bukan Kucing Dalam Karung 😀 http://olx.co.id/iklan/ford-everest-at-bukan-kucing-dalam-karung-terima-barter-IDkpZLj.html

Butuh BMW Terestorasi?

BMW itu mobil nikmat dan enak. Harga beli seken awal plus biaya restorasi di depannya bahkan masih jauh lebih murah ketimbang mobil low-end baru yang fiturnya bahkan masih jauh di bawah BMW tua seken.

Namun BMW tua seken akan jadi momok kalo semuanya masih dalam kondisi nanggung: mobil tidak fit bener. Sehingga mobil justru akan jadi pelanggan bengkel alih-alih siap-sedia Anda gunakan.

Agar BMW tua seken -yang rasanya masih nikmat dan harganya jauh lebih murah ketimbang mobil low-end baru- itu siap sedia setiap saat untuk digunakan, bagusnya memang langsung direstorasi di depan. Sehingga Anda tinggal isi bensin dan ganti oli saja.

Jika Anda sepakat dengan kondisi ini dan sedang mencari sebuah BMW yang siap dipakai, Anda bisa menghubungi saya. Akan saya carikan unit yang sesuai kebutuhan Anda dan kami restorasi hingga siap dikirimkan ke Anda.

Atau kirimkan unit yang sudah Anda dapatkan untuk kami restorasi. Hingga selesai dan kami kirim balik untuk siap-sedia Anda hela.

Harga paket restorasi ini berwariasi. Bisa sekitar 40jutaan untuk Seri 3 era 90an hingga harus kami hitung secara tersendiri untuk tipe dan taon lain, baik yang lebih tua maupun yang lebih muda.

Monggo PM ke Fesbuk saya http://fb.com/freema.hw atau email ke saya freema97@yahoo.co.id atau komen di bawah ini untuk diskusi lebih detail dan mendalam.

Dan monggo juga bookmark laman ini. Siapa tau suatu saat Anda membutuhkannya. 😀

Terima kasih telah membaca post ini. Silakan hubungi saya pada kontak di atas untuk hal-hal lebih lanjut.

Regards,
– Freema HW

Ikonik

Pernahkah Anda mengidentifikasikan sebuah produk, atau merk, hanya dari siluetnya saja? Tentu kita semua pernah, meski tidak semua produk ikonik kita mengenalnya, mungkin karena batasan preferensi dari subyektif kita masing-masing.

Merk atau produk yang meresap di mindset/benak kustomernya (harus) akan mudah dikenal dari ikon, atau siluetnya.

Mereka gampang dikenali, selain karena umur merk/produk mereka memang udah lama, lebih dari itu memang karena mereka membuat produk dengan karakter dan konsistensi yang khas.

Yang saya pribadi amati lebih mendalam tentunya BMW. Hanya dengan siluet kidney grille-nya atau gril ginjal alias gril lobang/bolong dua yang sangat khas dan ikonik itu, ketika digambar dalam bentuk siluet publik akan mengenalnya sebagai BMW.

Lebih spesifik, meski produk-produk BMW sering dianggap “kembar-kembar” terus, ternyata tiap produk yang dirilis memiliki karakter khas dan spesifik. Ketika ada siluet tiap produknya, bimmerfan/penggemar BMW akan langsung bisa mengidntifikasi: oh ia E12, ia E21, ia E30, ia E34, ia E36, ia E39, ia E46, dll. Itulah BMW yang ikonik.

***

Yang paling ikonik yang semua orang tanpa pandang sekat bisa mengenal dan mengenalinya mungkin si Volkswagen (VW) bug/beetle/kumbang atau kodok di sini kita biasanya menjulukinya.

VW kodok dengan bentuk yang super khas, tak tertiru oleh siapapun, telah dikenal dan mudah dikenali via siluet oleh siapa saja.





***

Citoren ini juga ikonik, hanya mungkin tak semua orang mengenal produk ini.

Yang ini mungkin siapapun juga kenal.

Benda ini juga ikonik. Namun sekali lagi, mungkin tak semua publik mengenalnya.

***

Nah sekarang, dapatkah Anda mengenali dua produk ini?


MUNGKIN dari sini kita bisa tarik secuil inspirasi: jadilah ikonik untuk kelanggengan merk atau produk Anda. Ciptakan produk dengan karakter dan konsistensi yang khas.

Ikonik bukan berarti gambar atau siluet. Akan tetapi ketika seseorang dari kota lain datang ke kota Anda kemudian bertanya, “Apa makanan paling enak atau paling khas di kota ini?”

Dan banyak warga kota yang bisa menyebutkan warung kecil tersembunyi Anda misalnya, maka itulah ikonik.

– FHW
pernak-pernik

Endpson

Epson TX121. Beli dari baru.

Dulu pernah mati tanpa gejala apapun. Ternyata mainboard-nya kena.

Trus saya ganti di servisan printer. Bayar beberapa ratus ribu, sekitar sepertiga harga unit barunya.

Trus board-nya mati lagi. Nyari part-nya ke mana-mana ndhak ketemu. Kata servisan printer, barangnya emang langka. Konon karena banyak yang butuh dan board T-Series ini gampang rusak. Walah….

Eh kersaning Allah, pakpuhnya si kecil punya barang yg sama: Epson TX121 yg sowak printhead-nya.

Dihibahkan ke saya, saya copot mainboard-nya buat kanibalan. Waraslah usai cangkok mainboard untuk yg keduakalinya.

Sekarang mati lagi. Saya coba tuker power supply-nya, ndhak nyala. Mungkin board-nya lagi? 😭

***

Entah taon berapa saya beli printer Epson TX121 ini, sampe lupa. Pokoknya saya beli pas barusan keluar.

Dulu awal pake, di awal milenium 2000 pake Canon S100SP, usai biasa ngeprint di rentalan pake Canon BJC1000 saat masih kuliah. Di UKM kampus juga sempat menikmati Lexmark, lupa tipenya, mirip BJC1000. Namun printer paling pertama yg saya kenal ya printer krek-krek itu, waktu masih menempuh masa pendidikan menengah di era ’90an.

Canon S100SP si printer awal masih kerja normal, pensiun karena cartridge-nya udah ndhak ada di pasaran sejak lama.

Akhirnya itu pinter saya injek sampe remuk karena sebel: giliran saya pegang duit, eh kartrid diskontinyu! 😞

Lantas ganti HP Deskjet D1360 sekitar taon 2002. Yang harga unit baru dengan dua kartrid perkenalannya cuman selisih 50rb dari beli kartrid baru satu set. Lumayan, suntik tiga kali karena pada suntikan keempat biasanya kartrid udah sowak, beli printer baru lagi.

Lantas ganti Epson C43SX. Lantas ganti Epson C45. Saya pilih dia karena mendadak Epson paling enak disuntik/diisi ulang tintanya dan bisa direset pake resetter. Sekian jam terbang, print head-nya sowak juga.

Kemudian printer sowak, ganti lagi pake Canon ipxxxx lupa tipenya. Bodi warna putih merebah mirip Canon Pixma ip1700. Lumayan, suntik sampe banyak kali. Hingga sowak juga.

Ganti Epson lagi. Epson C90. Terpakai normal. Yg ini rekor, selesai bertugas karena saya jual. 😂

Ada rejeki, maruk memborong banyak printer:

  • Epson CX550, multifunction pertama yg kami punyai.
  • Samsung laser mono ML-2010 buat nyetak dokumen monokrom banyak dan cepat.
  • Samsung CLP-300N buat nyetak warna alakadarnya.
  • HP Color Laserjet 1600, pake toner orisinal, buat proofing warna.
  • Kesemuanya udah sowak satu per satu.

    Paling akhir adalah TX121 ini.

    Entah taon berapa saya beli printer Epson TX121 ini, sampe lupa. Pokoknya saya beli pas barusan keluar.

    Mungkin emang waktunya minta ganti.

    Ada rekomendasi printer low-end yg buadak?

    Terima kasih saran dan masukannya.
    – FHW X111

Saya terkesima menyimak iklan tersebut. Sebuah iklan, namun sungguh menginspirasi. (Sekali lagi) tentang kewirausahaan, wirausahawan.

Wirausahawan, bekerja untuk dirinya sendiri bahkan bisa memberikan pekerjaan untuk orang lain, adalah sungguh masuk barisan para mulia. Sekalipun pendapatannya tak menentu, dan kadang justru juauh di bawah pendapatan karyawan.

Wirausahawan adalah manusia dengan mentalitas baja, kreativitas super, ide-ide brilian, dan berani keluar dari pakem namun tidak keluar dari jalur. Wirausahawan adalah manusia dengan pendirian kuat namun dengan fleksibilitas super tinggi. Wirausahawan adalah sosok yang teguh kokoh kuat pada prinsipnya sendiri namun begitu luruh luber lumer pada kondisi sosial sekitar.

Indonesia kekurangan 10x lipat wirausahawan. Berdikari, berdiri di atas kaki sendiri.

– FHW,
pingin meniru keuletan para wirausahawan dan masih belajar jadi wirausahawan dengan mengecer jasa ide di http://fb.com/awindocreative