F25 LCI vs F48

Saat saya beserta dua sahabat baik saya: Kamituwa (Mbah Wo) Kedirian Ardian Boeng Satriyadi dan Lurah Kedirian Ghofar Ilmi K bertiga semobil, kami tidak bisa membedakan wajah X-Series yg membuntuti kami, apakah dia F25 LCI ataukah F48.

Kami bertiga ternyata sanggupnya cuman membedakan E36 M-Tech atau standar. Poll mentok tinggi-tinggi cuman sanggup membedakan wajah E46 pre-facelift & facelift, yg ferang keliatan bedanya itu.

Dan jadinya itu tadi: begitu ada X-Series membuntuti kami, kami berdebat panjang apakah itu F25 LCI ataukah sebuah F48.

Sampai kemudian dia itu X-Series berbelok dan menghilang, tanpa kami mendapatkan keputusan dan kepastian yg fix: dia itu F25 LCI ataukah F48.

So, jangan percaya sama omongan kami yg ternyata membedakan wajah F25 LCI sama F48 aja belom sanggup, apalagi kalo sampe Anda menuduh kami ini maniak BMW. Kebangeten keterlaluan nuduhnya itu namanya.

– FHW LCI

Advertisements

Mencintai Perbedaan Dengan Hati

Di keluarga besar kami, ada kendaraan: beberapa mobil Jepang dan beberapa mobil Eropa.

Masing-masing punya positioning dan fungsionalitas sendiri-sendiri.

Ada yg masih pake karbu dan perawatannya super guuuampanggg mudahhh dan murahhh serta muatnya banyak plus dijual kembali harganya oke buangettt. Mobil legenda yg rasanya luar biasa campur aduk tak karuannya.

Ada si imut VVTi yg bensinnya uiritttttt puollllll tapi rasanya yaaa gitu deh.

Ada yg bbm-nya wajib jib jib pertadex/shell diesel dan haram jadah solar busuk yg meskipun mahal harga per liternya tapi lumayan bisa dibilang irit konsumsinya ketimbang mobil Eropa meski tetep jauh lebih boros ketimbang si VVTi mesin kecil; tapi ya gitu rasanya: gemlodhak ndhak karuan dibanding si mobil Eropa.

Dan ada mobil Eropa dengan ciri khas (baca: stigma) permanennya: parts muahalll, bensin buorosss, dan dijual kembali serasa dihibahkan aja ke orang. Tapi rasanya tiada pernah bisa tertandingi dan tergantikan oleh yg manapun yg ada di kami.

DARI beragamnya barisan kendaraan yg ada tersebut kami semua akhirnya bisa mendapatkan kesimpulan hati:

kami bisa mencintai si mobil Eropa yg tiada pernah tertandingi rasanya, karena berkendara itu bagi kami adalah soal rasa dan pengalaman di perjalanan; meski perawatannya bikin kami mau muntah;

tanpa harus membenci sedikitpun mobil-mobil yg punya fungsional tinggi meski kami anggap tanpa ada rasa (soul)nya.

Sebab seenak-enaknya mobil Eropa yg ada di kami, pada suatu ketika, yakni ketika kami butuh fungsionalitas tertentu, mereka para mobil Eropa (sedan) itu mendadak jadi barang useless yg ndhak berguna sama sekali.

INI kondisi yg kami rasakan sendiri dan kami alami sendiri. Bukan dari “katanya, katanya, katanya”; bukan dari kondisi berdasar apa kata orang. Apalagi orang yg ndhak hidup bersama mobil Jepang(pasaran) dan mobil Eropa sekaligus.

***

Kami bisa mencintai mobil Eropa dan Jepang kami sepenuh hati dengan beragam karakternya masing-masing.

Kami bisa mencintai mobil Jepang dan mobil Eropa kami dengan sepenuh hati dan berdasarkan perbedaan masing-masing kondisi.

Kami bisa mencintai mobil Jepang kami yg irit dan murah perawatannya tapi ancur-ancuran rasanya tanpa pernah sedikitpun membenci mobil Eropa yg boros dan muahalll maintenisnya itu.

Kami bisa mencintai mobil Eropa kami yg luar biasa tak tertandingi enaknya meskipun mihil maintenisnya tanpa pernah membenci sedikitpun mobil Jepang yg soul-less namun fungsionalitasnya super tinggi dan bisa membuat mobil Eropa kami mendadak useless pada suatu kondisi.

– FHW Eropang.

Xverest: Gerinda Lubang Kunci

Habis menghadiri pembukaan kafe+pemancingannya lik Sugeng Ariadi di kawasan Tulungagung timur, kami dari rekan-rekan Blitarian-Kedirian melanjutkan diri turing ke Pantai Gemah, di Tulungagung selatan.

Usai bergembira ria main air, kepanikan mendadak menyergap dan melanda kami semua. Istri saya meninggalkan kunci di dalam mobil dan pintu meng-auto locking sendiri karena selama sekian detik tak ada aktivitas.

Untung beribu untung, warga sekitar ada yg punya gerinda. Dan di E36-nya pak bayan Blitarian Miftachul Huda ada inverter dg wattage gedhe.

Akhirnya, sama paklik berbaju Mataraman itu dibikinlah lobang kecil di posisi dibalik plat nomor untuk meng-unlocking tuas belakang.

Prosesinya paling sekitar 15 menit, diluar nunggu gerindanya datang sama survei-survei metode mbobol kunci di pinggir pantai yg jauh dari peralatan gitu.

Seru deh!

# video by pak bayan Kedirian Byan Bojana
# pic by mbah wo Kedirian Boeng Satriyadi
# seru-seruan by all bimmerfan blitarian/kedirian semuanya!!!
#kedirian #blitarian BMWCCI Kediri Chapter Blitarian Bimmer #touring

BMW X2 Has The Most Honest Car Design Of 2018

Lupakan sejenak perhatian kita pada The All New Rushter. Crossover ini juauh lebih cuakuppp kuerennn ciamikkk: The First Ever BMW F39 X2.

Desain kidney grill-nya bernuansa baru, dan agak aneh. Tapi ditolong dengan kesesuaian lampunya yang konsisten ala BMW: garang.

Garis potongan bumper dan bunderan foglamp-nya pun tampaknya dibikin kayak bidang kotak depannya Rolls-Royce Sweptail. Sama-sama aneh, tapi bikin gemez, jadi kayak pingin nyubit dan nguyel-uyel. Jika kita amat baik-baik, guratan desain Rolls-Royce era BMW banyak dimasuki pernak-pernik khas BMW tanpa meninggalkan bahasa desain asli Rolls-Royce, sebagaimana Lamborghini era VW mulai dipasangi elemen-elemen hawa desain Audi tanpa sedikitpun meninggalkan gaya asli Lamborghini. Tapi kini tampaknya udah kebalik, gaya Sweptail mulai diekspor ke BMW. Kayaknya sih.

Dan ini yg paling greng: ada roundel/badge bunder di pilar C, ngingetin roundel di fender depan Z-Series mulai era tipi tabung atau jaman LCD baru nongol dan masih mihil kemarin; atau BMW E9 yg juga punya roundel di pilar belakang.

Jadi agak aneh karena sejauh ini ndhak ada tempelan ginian di sisi samping BMW, ya kecuali yg lumayan ke-rasa ya Z-Series atau E9 itu.

BMW lagi krisis eksistensi kah, karena karakter desain mobil era sekarang-sekarang ini udah mirip-mirip, sehingga musti dikasih logonya di sisi samping?

Dan bahkan, BMW tampaknya lagi kebingungan dan berjudi dengan corak-corak baru kidney grill-nya. Kalo menurut saya, ini tampak mulai era F01 kemarin. Desain kidney grill-nya kerasa aneh. Kalo jaman E65 pre-facelift kan lampunya yang tampak aneh, kidney grill-nya malah jadi serasa luput dari perhatian. Kebalik sama jaman nongolnya F01. 😀

Entahlah. Tapi bagi penggemar BMW ini, atau penggemar BMW kalangan tertentu, mungkin ini malah bikin hati mereka riang-gembira. Karena akan semakin keliatan identitas BMW-nya. Kalo kata Jalopnik.com: The 2018 BMW X2 Has The Most Honest Car Design Of 2018

Meski bisa ngoceh menanggapi sok ala-ala pengamat ostosmotif gini, kalo saya sih aslinya ndhak ambil pusing. Sebab BMW itu bagi saya urusannya bukan persoalan desain, fitur, atau performa. Urusan saya jelas dengan BMW: kebeli atau ndhak. Itu aja.

– Freema X Widiasena
IMHO CMIIW

Foto-foto dari sini.

Pengetahuan Tentang Lebar Tapak Ban Dan Pengaruh Harganya Serta Hal-Hal Lain Yang Berkaitan Dengannya

Saya sih ndhak tertarik dengan supercar gituan. Selain masalah selera: saya lebih suka mobil buas bertampang (agak)biasa macam BMW-M atau Audi-RS (biar agak enak ngomongnya) juga masalah doku so pasti tentunya (nah ini inti sebenarnya. Klasik banget kan? Hehehehe…). Yakh, namanya beli baju kan musti ukur badan sendiri. Ya tho ya tho?

Cuman saya ndhak pernah lupa tentang bannya supercar/sportcar ginian. Kapan lalu pas di toko ban gedhe di kotapraja sana, saya lama tertegun memperhatikan pricelist ban dengan spek sportcar: tapaknya mayan luebar banget dan profilnya mayan tipis: 305/35 rimnya lupa, mungkin 20.

Harganya sebiji 12jt untuk merk kelas menengah-atas yg ada di pasaran Indonesia. Untuk merk-merk papan atas ndhak ada pricelist-nya di toko tersebut.

Spek dan harga yg tampak teramat sangat aneh sekali banget bagi saya, meski mungkin itu sangat umum lumrah jamak bagi Anda-Anda yg biasa cangkruk di Sentul sambil ngamati orang-orang naik mobil trondhol jeroannya dengan (suara)knalpot ndhak bener muter-muter sirkuit. Ampun likkk!!! 😀

Selain harganya yg teramat sangat mencengangkan sekali banget bagi ukuran saya pribadi, satu hal lagi yg saya meyakini: kayaknya ban ukuran tersebut ndhak ada yg jual copotan di lapak ban gedhe di pinggir jalan. Kalo 205/65-15 atau atau 215/55-17 buat badak kan relatif banyak banget, setidaknya ada aja di sana. Asyik tho? Yekan?

Well liks, inilah opini saya berupa pengetahuan tentang lebar tapak ban dan pengaruh harganya serta hal-hal lain yang berkaitan dengannya. Jadi ini semua sebenarnya saya ngomongin apa sih ya?

– Freema Ban Widiasena
Pelanggan lapak jual-beli (pinggir jalan tidak) online.

Respect Your Older

Arab & UAE ini isinya orang kaya semua. Receh tipisss kalo cuman beli biem baru.
Tapi ternyata ada yg masih melestarikan biem tuwir.

Well, setiap seri biem baru yg muncul emang selalu membawa fitur dan teknologi baru yg meninggalkan kakak-kakaknya jauh di belakang. Secara teknis emang demikian.

Tapi justru semakin tua biem, kesan dan karakternya bukannya luntur namun malah semakin kuat.

Kenapa kesan dan karakter biem tuwir semakin kuat? Karena apa yg dipijakkannya: mengedepankan fitur dan teknologi, senantiasa dipertegas oleh adik-adik generasi barunya itu tadi. Secara filosofis rasanya inilah adanya.

Mungkin inilah kenapa muncul semboyan: respect your older. Hormati tetua kita.

Dan emang pada kenyataannya, melihat biem baru itu kadangkala (cuman) seperti melihat segepok uang belaka. Kadangkala lho, kadangkala! 😛 Namun melihat biem tuwir yg dilestarikan, itu seperti melihat semangat, meski di belakangnya ada bayangan segepok uang juga sih! 😀

So, apapun tipe seri dan varian biem Anda-Anda semua, salut; Anda adalah bagian dari sejarah yang tak pernah terputuskan. Dan justru terus sambung-menyambung dengan hadirnya biem-biem baru yg muncul satu per satu bak air bah itu.

– Freema HW
Lagi ngomongin biem (tua) orang yg cakep-cakep itu, bukan ngomongkan biem (tua) saya sendiri. Paham?

Untuk chit-chat biem monggo ngangkring-online dimari https://m.facebook.com/groups/323699264381705

#JanganBeliBiem #JanganBeliBMW

Ada sebuah komeng di sebuah trit: biem dengan usia belasan bahkan puluhan taon, apa yg bisa diharapkan (untuk daily usage)?

Yup, sama sekali ndhak ada, jika kita berparadigma memperlakukannya kayak mobil baru -se-“murah” apapun itu mobil baru- yg tinggal isi bensin ganti oli dan bejek gas. Plus masih ada garansi dari pabrikan.

Mobil baru -se”murah” apapun itu- yg kayak gini: tinggal isi bensin dan ganti oli doang inilah yg paling cocok buat daily usage.

Lalu buat apa biem itu? Beberapa rekan mengatakan itu cuman buat hobi saja. Mobil yg disayang-sayang, karena meskipun rasanya masih enak – jauh lebih enak ketimbang mobil baru yg harga perolehannya sama, dia tetep kurang cocok karena umurnya yg udah tua. Potensi terjadinya unexpected-trouble masih terpampang di depan mata.

Well, fix di situkah?

Ternyata belom tentu juga. Saya mendapati beberapa rekan menggunakan biemnya untuk penggunaan harian. Buat ngantor saban hari, khususnya musim penghujan gini. Atau buat wira-wiri ke mana-mana urusan kerjaan. Normal-normal aja. Nothing scary happen. Ndhak ada kejadian horror yg terjadi.

Mungkin selain beruntung, atau juga emang perawatannya boleh gitu, bisa jadi karena paradigmanya beda.

BEGINI, kata seorang temen, dengan duit yg sama kita bisa “menciptakan garansi” sendiri. Sederhana kata, paradigma harga beli biem yg selama ini ada dan tertancap di persepsi kita dan persepsi banyak orang musti diubah.

Kalo selama ini kita mungkin berpikiran harga beli atau harga perolehan adalah harga saat kita membeli itu si mobil (bekas), dan kemudian ada biaya TAMBAHAN berupa perbaikan-perbaikan, entah ringan atau berat, seusai kita ngangkat si mobil;

maka selanjutnya kita musti mengubah persepsi tersebut menjadi: harga beli atau harga perolehan adalah harga ngangkat si mobil plus biaya restorasinya. Bukan lagi perbaikan-perbaikan, melainkan restorasi.

Atau biar lebih mengerucut, kata restorasi ini kita ganti aja dengan rejuvenasi alias penyegaran semua komponen yg diperlukan untuk disegarkan. Kalo restorasi, kesannya kayak membangun ulang semua mobil menjadi seolah baru lagi. 😀

Maka, rejuvenasi ini akan lebih kompleks, luas, dan banyak skupnya ketimbang perbaikan-perbaikan yg sifatnya reaktif. Alias yg rusak aja yg diperbaiki.

Rejuvenasi akan bersifat preventif. Dengan kata lain, meskipun ndhak rusak, kita juga perlu mengganti apa yg mesti disegarkan.

Contoh: kalo perbaikan-perbaikan, maka parts kaki-kaki yg udah sowak dan oblak aja mungkin yg kita ganti. Kalo rejuvenasi, maka semua komponen kaki-kaki musti kita ganti.

Kalo perbaikan, maka water pump yg oblak aja yg kita ganti. Tapi kalo rejuvenasi, seluruh cooling-system akan kita ganti. Dengan begitu, kita bisa meminimalisasi terjadi unexpected error alias “menciptakan garansi” sendiri.

Banyak duitnya dong?

Jelas!

Namanya juga rejuvenasi. Namanya juga preventif. Namanya juga menciptakan garansi sendiri.

So, ndhak bisa lagi sebuah biem (seken) kita tebus dengan harga ngangkat mapuluh juta kemudian perbaikan-perbaikan awal lima atau mabelas juta. Sebuah biem yg kita angkat mapuluh juta, bisa jadi ntar biaya rejuvenasinya mapuluh juta juga.

Sadis?

Pasti! Tapi itulah harga yg kmusti kita bayar buat menciptakan garansi sendiri.

Lantas dengan biaya dan proses sebegitunya, kita bener-bener mendapatkan garansi sebagaimana kita beli mobil baru?

Kalo dilihat secara matematis dan probabilitas statistik, mungkin tetap tidak. Sebab bisa jadi meski kita udah ganti wiring-set, ada soket yg kelewatan ngepong sehingga memutus arus dan membuat si biem berhenti mendadak di tengah jalan. Namun secara realistis, kejadian macam ini jarang saya dengar berita dan kejadiannya.

Kalo ada berita biem kawan-kawan trouble di perjalanan, setelah kita audit, biasanya terjadi karena kurang perawatan. Dan saya tau bener contoh biem yg direstorasi, kemudian dirawat dengan skedul perawatan yg semestinya (ingat teori 10rb km: Oil ChangeInspection IInspection II, cek pdf-nya di sini) ternyata ya bertahun-tahun dipakai ya aman-aman saja. Kalo toh ke bengkel, kalo ndhak perawtaan rutin sebagaimana skedul tersebut, palingan ya upgrade-upgrade apa gitu.

DAN ini semua kembali ke masalah mental. Dengan duit 100jt, kita siap ndhak merejuvenasi sebuah biem tua dan menikmati segala kelebihannya: kencang, nyaman, stabil, di punggung ndhak sakit, dan mungkin aja sih mungkin semacam bergengsi geitu;

atau kita nebus aja LCGC misalnya yg maaf guyonannya kena hembpasan angin aja udah geyal-geyol dan dijalankan di “jalanan Indonesia pada umumnya” rasanya kayak ngepruk punggung namun irit banget dan dapet garansi pabrikan.

Saya tidak mengatakan mana yg lebih baik., Ini adalah pilihan. Sebab di keluarga besar kami, ada koq:

  • mobil “pasaran” baru: ada yg sedan 1500cc VVTi, ada yg LMPV 7 seater 1400cc, ada yg MPV 7 seater 2000cc. Ketiganya beli gress, dan dibeli dengan alasan sendiri-sendiri, terutama sih karena kapasitas angkut orangnya itu 😀 Hehehehe;
  • ada mobil lawas sejuta umat pada kalanya: Kijang Grand Extra;
  • ada SUV berbasis pikap: Ford “X-verets” Everest;
  • dan mobil premium lawas: ada yg V8 dan kami beli dengan kondisi super well maintained meski sekarang udah remuk dan ada V6 yg terejuvenasi (biem ndhak punya V6);

sehingga sedikit-banyak saya berani berkata bahwa saya memahami tabiat dan karakter masing-masing.

Dan pilihan saya pribadi: tetep juauh lebih enak bawa mobil premium lawas yg terejuvenasi/well maintained. Ulang-alik Kediri-Jakarta Jakarta-
Kediri berkali-kali PP alhamdulillah ndhak ada trouble. Dan badan rasanya enaaak banget. Bensinnya? Yg MPV 7 seater 2000cc kayaknya ndhak lebih irit ketimbang itu V8 3000cc atau V6 2600cc dengan bobot sama atau malah juauh lebih berattt.

Kalo pake mobil (sedan) 1500cc VVTi gress yg super irit, emak saya bawaannya menggenggam erat handle/pegangan tangan atas terus-terusan tatkala saya mbejek gas, melanggar sedikit di atas batas kecepatan atas jalan tol. 😀 (Jangan ditiru. Karena saya tau kelakuan Anda biasanya melanggar banyak dari batas atas kecepatan jalan tol. Maka niru saya artinya downgrade tho? 😛 😛 😛 Hahahaha!)

Sementara pake mobil premium lawas, emak saya ndhak percaya kalo beberapa puluh meter sebelumnya kami barusan mengalami pecah ban saat saya jalan santai 140kmh, setelah sebelumnya menghajar lobang aspal. Ini kejadian faktual. Emak saya yg ndhak ngerti mobil, sering saya jadikan parameter rasa sebuah mobil.

Kemudian istri saya yg saya ajak naik sebuah LMPV tiga baris 7 seater (katanya, tapi sempitnya minta ampun) gresss keluar dealer, malah sambat dan lebih demen naik biem tuwa 4 silinder umur 30 taon punya temen.

Ya itu, asal direjuvenasi dan dirawat dengan bener, kekhawatiran terjadinya unexpected trouble/error bisa diminimalisisasi.

Dan saya khawatirnya, garansi pabrikan terhadap mobil baru itu, sebagaimana kata mereka: limited warranty alias garansi terbatas, jangan-jangan lebih menyentuh aspek psikologis kita ketimbang aspek teknis. Nyatanya, mobil gress yg bergaransi tetep ndhak dapat pertanggungan apa-apa kala velg peyang dan ban hamil gara-gara menghajar lobang aspal.

Ingat, garansi pabrikan itu kalo kita cermati lebih kepada garansi karena kerusakan produksi, bukan kerusakan pemakaian lho! 😀 Artinya, kalo lolos dari kerusakan produksi, secara faktual garansi itu sebenarnya seperti ndhak pernah terjadi.

Dan di jalanan pun, mobil anyar yg minggir dan buka kap mesin dengan asep mengepul dari ruang mesinnya ada aja koq kejadiannya. Tapi ini bukan berita menarik untuk diviralkan. Akan jauh menggugah dan mengundang esmosi pembaca jika yg diviralkan adalah sebuah biem tua yg mogok, atau kecelakaan, atau kebakaran, atau segala bentuk celaka lainnya.

Bagi hater biem, maka ini akan menjadi makanan empuk: mobil mewah koq celaka. Bagi fansboy biem, ini akan menjadi bahan pertahanan reaktif: itu karena kurang perawatan, salah perawatan, dll dll dll.

Mobil itu sebuah mobil. Alat transportasi. Eh ternyata bisa membuat kubu-kubuan dan membawa aspek psikologis juga. Hadew…

Akan tetapi, kenyamanan, keantengan, stabilitas, dll itu rasanya bukanlah aspek psikologis, Itu semua bisa diukur mustinya. Dengan seismograf, alat pengukur benturan, dll dll misalnya. Saya ndhak paham metode teknikalnya. Tapi saya meyakini demikian adanya.

Dan kejadian barusan; saya akhir-akhir ini gantian mbawa X-verest, nama buat Ford Everest kami. Setelah dulu biasanya keseharian mbawa Kijang Grand Extra yg barangnya masih ada dan tersimpan di garasi, sekali-sekali dipakai dan dipanasi. Mbawa kedua jenis mobil ini, kalo ada polisi tidur wajib ngerem. Kalo ndhak, badan bisa kelempar dan kepala mentok plafon.

Mendadak saya dijemput temen bawa biemnya. Sebuah Seri 3 berusia 20 taon. Eh pas melewati poldur deket rumah yg langganan saya lewati, doi ndhak ngeliat dan lupa ngerem tentunya. Pada kecepatan ala dalam kompleks perumahan sih!

Tapi tetep saja saya refleks berteriak dan tangan mendadak menggenggam handle/pegangan atas buat siap-siap kelempar.

Eh ndhak terjadi apa-apa. Cuman jendhul-jendhul enak gitu. Kalo mbawa X-verest atau Kijang, bukannya jendhul-jendhul enak tapi pasti juendhulll glodhakkk!!!

***

SEMUA kendaraan yg kami ceritakan di sini adalah ada di keluarga besar di rumah. Bukan ngomongin kendaraannya orang lain. Kecuali itu Seri 3 punya temen atau kendaraan yg saya deskripsikan lain.

Jadi pilih mana?

Kalo paradigma Anda ngangkat biem tua adalah sebagaimana ngangkat Kijang tua, yg harga perolehannya adalah = harga beli sementara biaya perbaikan adalah biaya TAMBAHAN, saya sangat menyarankan jangan pernah sekali-sekali beli biem. #JanganBeliBiem #JanganBelBMW

Tapi kalo Anda bisa menyadari dan bisa mengatur budget untuk ngangkat+rejuvenasi sebagai harga beli/harga perolehan, maka silakan bicarakan lebih intensif dengan keluarga apakah tetap ngangkat LCGC misalnya atau biem tua terejuvenasi tsb.

Tapi ingat: jangan sampai salah milih bengkel biem. Silakan konsultasikan metode perawatannya dan ke mana arah perginya dengan rekan-rekan di angkringan-online ini.

Dan serejuvenasi-rejuvenasinya biem tua, kalo bisa jangan sampe salah milih bahan. Bukannya rejuvenasi, khawatirnya yg ada malah dapet bahan yg sewderhana katanya unrepairable. Misal: liner silinder udah baret dan krowak. Dll.

Semua tetep bisa diperbaiki atau diganti baru. Tapi takutnya bukan lagi rejuvenasi dan Anda tinggal ganti oli + isi bensin + bejek gas ke depannya tapi malah over budget dan biem cuman pindah bengkel tanpa sempat kita pakai dengan puas. Inilah yg saya istilahkan secara kontekstual unrepairable. Oleh karena itu ajaklah mekanik yg terpercaya untuk hunting bahan.

NGERI? Syerem? Menakutkan? Bikin ragu?

Yawdah, dengan budget yg sama belilah LCGC saja. Atau belilah mobil seken lain yg bisa jalan tanpa harus rejuvenasi-rejuvenasian. Selesai persoalan. Anda akan bebas dari kekhawatiran psikologis ke depannya. 😀

Sebab beli biem itu emang ndhak cukup kalo punya uang saja. Yg pertama diperlukan adalah: niat, niat, dan niat.

Semua ini hanyalah opini berdasarkan pengalaman pribadi saya. Silakan bagi pengalaman Anda juga yg mungkin berbeda dan berkebalikan dengan ini semua. Biar bisa cover both side story alias tabayyun.

Matur nuwun.

– Freema Bapakne Rahman
Bimmer enthusiast with great passion.

Remember, we talk about passion, not about money. Inget!!!