Sepatu 43

Mungkin seperti bunda-bunda yang dianugerahi anak seusia Aleef Rahman, kami juga dibikin pusing untuk urusan sepatunya. Pertumbuhan badannya yang cukup pesat, membuat kami tiap taon harus ngganti sepatunya. Bukan cuman sepatunya, juga baju dan celananya. Hiks…

Duluuu saat dia masih kecil, namanya orang tua yang sebisa mungkin selalu berusaha memberikan yang terbaik buat buah hatinya.

Masuk TK, kami belikan dia sepatu yang menurut ukuran kami sudah cakep dan (teramat sangat) mahal (banget). Sebuah Converse Chuck Taylor All Star original. Sebuah sepatu yang desainnya enggak berubah selama 100 taon ini. Dan sejak taon 2003 kemarin Converse dimiliki oleh Nike.

Sekitar dua tahunan kami menikmati kelucuan si kecil dengan sepatu model jadul tapi kerennya, sepatu itu pun harus pensiun dini sebelum ada kerusakan apapun sedikitpun: kakinya udah enggak muat masuk itu sepatu.

Masuk sekolah dasar, dia kami masukkan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Doko, Kediri. Turun grade, kami belikan dia merk lokal namun lumayan kondang: Precise.

Awet ini sepatu, baik kualitas dan ukurannya. Sepatu pertamanya di tingkat sekolah dasar ini bertahan hingga dua tahun alias hingga dia usai kelas dua.

Kelas tiga, bapaknya mencoba bereksperimen dengan membelikannya sepatu di lapak kaki lima seharga 35rb. Ternyata cuman dalam hitungan sedikit bulan, itu sepatu sudah amburadul. Kulit sintetisnya mengelupas semua. Sol/(outsole/sockliner)-nya siy bisa dijahitkan, cuman dindingnya yang kena jahitan pada sobek. Trauma jadinya kami membelikan barang yang kelewatan murahnya gini.

Tapi Allah itu maha adil dan maha pengasih lagi maha penyayang. Pas sepatu eksperimentalnya rusak, alhamdulillah si kecil dapet rejeki nomplok: dia dibelikan sepatu oleh budhenya. Ndilalah sama, sepasang Precise lagi.

Kelas empat, alhamdulillah rejeki anak sholeh, si kecil bersama seorang sahabatnya yang yatim piatu dihadiahi sepasang Tomkins, kali ini gantian Omnya yang ngasih.

Jelas awet. Sukses sampai setahun. Tapi ujung kukunya jadi bolong, kalah sama kelakuan si kecil. Dan terutama lagi: udah enggak muat.

Bersama si Tomkins ini, Aleef Rahman juga punya sepasang sepatu pantofel untuk acara resmi. Merk distro gitu. Eh enggak dinyana, sepatu ini agak buruk secara kualitas. Kulitnya melar dan ngelupas, ujungnya mulai bolong, dan lem-lemannya melepuh lepas. Mirip sepatu abal-abal harga beberapa puluh ribu. Cuman yang ini masa pakainya lumayan lama. Dan yang pasti, di akhir masanya ini sepatu benar-benar enggak bisa dilungsurkan alias diberikan ke sesiapa yang masih bisa menggunakannya.

Kelas lima dan kembali harus ganti sepatu. Kami tak langsung menuju toko sepatu, yang hari-hari sebelumnya kami udah sempat jalan-jalan dan memperhatikan harga beberapa item sepatu yang cocok untuk si kecil.

Kami buka dulu salah satu lapak jual beli lokal khusus kawasan Kediri dan sekitarnya sini.

Kami mendapati penjual yang menawarkan sepatu merk lokal lain lagi: Ardiles; dengan harga relatif sangat murah: mulai 60 hingga 125rb, tergantung ukuran. Lokasinya enggak terlalu jauh dari rumah. Tempatnya di rumahan. Stok barangnya segunung!

Cuman kami amati, modelnya memang enggak terlalu banyak. Tampaknya si mbak penjual beli/konsinyasi sedikit model dengan banyak volume demi ngedapatkan harga kulak murah. So bisa dijual dengan tetep murah tentunya, menyasar ke pembeli sepatu yang hanya berorientasi fungsi dan harga bukan berorientasi model.

Untuk ukuran Aleef Rahman kala itu hanya kena harga 60rb rupiah saja!

Beneran enggak nih sepatu?

Ah nothing to loose-lah, taruh kata hanya kepakai dan awetnya cuman sebulan, anggap saja breakdown-nya ya segitu itu. Kami pernah posting kisahnya di sini.

Ternyata eh ternyata, sepatu ini awet hingga setaon sodara-sodara! Sebagaimana janji si mbak penjual setaon kemarin pas kami membeli, β€œKalo kuatnya kuat koq Mbak. Mungkin itu sepatu duluan sesaknya ketimbang rusaknya.”

Memang sih sol bawahnya udah mulai menghalus, dan dindingnya udah mulai melar pun ada beberapa jahitan yang udah mulai lepas. Tapi sepatu ini masih bisa dipakai dengan normal kalo mau. Dan, pensiun bukan karena rusak, tapi murni karena udah enggak muat lagi! Umpama masih muat di kakinya, tentu akan kami biarkan ia memakai terus sepatu ini.

Sepatu Abal-Abal Mahal

Kelas enam, kini kaki Aleef Rahman udah makin “bengkak”. Di beberapa sepatu nomor 42 kakinya terlalu ngepas, dan itu pun dicoba tanpa kaus kaki. Jadi buat main amannya kami mau nyarikan sepatu ukuran 43 aja buat dia.

Pengalaman membeli Ardiles seharga 60rb itu membuat kami yakin, bahwa sepatu murah belom tentu murahan.

Model taon kemarin itu, taon ini harganya udah naik.

Di tempat si mbak yang taon kemarin kami beli udah abis stok ukuran besarnya, dan kami lupa nanyakan berapa harga di dia sekarang. Yang jelas udah enggak 60rb kayak taon kemarin.

Lari ke sebuah toko sepatu, kami mendapati Ardiles dengan ukuran lebih gedhe harganya kena 100rb lebih dikit, 108rb mungkin, kami lupa. Cuman si Aleef Rahmannya menggeleng saat kami tawari. Dia kurang suka modelnya katanya. Duh nih anak…!

Nyari toko lain, ada sebuah model yang ditawarkan dengan harga 100rb. Dan si kecil mengangguk tanda suka modelnya. Akhirnya kami beli.

Bersamaan dengan sepatu olah raga/sepatu sekolah tersebut, sekaligus kami beli juga sepatu cadangan berupa safety-shoes, di toko lain lagi yang spesial jualan safety-shoes. Berpotongan tinggi, dan ada besi pelindungnya di bagian ujung kuku.

Semacam buatan home-industri dengan merk tembakan, harganya enggak sampai 200rb (175rb). Biasanya, sepatu ginian terkenal awet-awet aja dipakai. Entah kalo kena minyak beneran, solnya sanggup apa enggak menahan licin sebagaimana safety-shoes yang asli.

Awalnya si kecil menolak sepatu ini. Tapi kami yakinkan kalo sepatu ini cocok buat perjalanan, atau dipakai sekolah pas bukan hari dengan jam pelajaran olah raga. Akhirnya dia mau, dan gagah banget di memakainya. πŸ˜€

***

TAK dinyana, trauma kami tentang sepatu 35an rb terulang. Ini sepatu olah raga/sepatu sekolah seharga 100rb yang baru dipakai si kecil selama enam kali, ya enam kali dalam waktu kurang dari sebulan, udah rusak parah.

Lem-lemannya bagian bawah ngelupas luas, dan kulit-kulit aksentualnya di sisi samping mengelupas semua.

Setelah kami perhatikan baik-baik, ini sepatu rasanya lebih ke merk abal-abal yang tak jelas di mana produksinya atau dari mana asalnya ketimbang merk lokal yang setidaknya udah terkenal dari beberap ataon silam atau malah berani pasang iklan di TV.

Yakh, sesal dan kecewa memang selalu datang belakangan.

Tapi kami coba sedikit usaha. Kami datangi tokonya dengan pertanyaan pertama, “Mas, sepatu di sini ada garansinya enggak?”

Sambil kami menyodorkan itu sepatu rusak yang kardusnya masih snagat kinclong.

Pihak tokonya tampak gelagapan. Tapi masih bisa membantah. “Adik saya sendiri pakai sepatu ini sekian lama aman-aman saja. Bahkan dipakai juga untuk kegiatan baris berbaris. Mungkin ini sepatu rusak karena pemakaian.”

Kami tersenyum sambil sedikit berargumen tanpa bermaksud membantah. “Mas ini kan penjual sepatu, pasti hafal antara sepatu rusak karena (salah) pemakaian dengan rusak karena memang mutu bahan dan produksinya abal-abal.

Kami tadi pertama langsung bertanya, ada garansinya enggak? Kalo memang enggak ada, ya udah gpp. Udah risiko kami (salah) memilih.

Tapi kalo boleh kami mohon, kalo bisa mungkin jangan njual sepatu yang model ini lagi. Kasihan nanti kalo ada pembeli yang menalami kejadian kayak kami, baru dipakai beberapa kali udah rusak kayak gini.”

Anehnya, si Mas tokonya sama sekali enggak membantah dan malah mengucapkan, “Baiklah…”

Tanda dia sesungguhnya menyadari dan mengakui kondisi ini.

ITU sepatu kami masukkan kembali ke dalam kardus dan kami letakkan di atas tempat sampah tertutup yang ada di depan toko. Kepada tukang parkir (liar) yang ada di situ, kami sampaikan kalo kami meletakkan sepatu bekas, tidak sobek dinding sepatunya, hanya lepas besar lem-leman solnya, dan kemungkinan besar masih bisa dijahit lagi.

Mas tukang parkirnya senang dan bahkan enggak minta uang parkir ke kami. Di perjalanan, kami berdoa semoga itu sepatu bisa dijahit dan bisa bermanfaat ke mas si tukang parkir.

Prediksi kami harusnya itu sepatu masih bisa banget dijahit, Hanya kami udah terlanjur illfeel aja, makanya itu sepatu kami enyahkan dari kehidupan kami. Halah!

Dan kami sengaja enggak ngefoto itu sepatu plus kondisinya, biar kenangan pahit ini segera terlupakan dari perjalanan waktu kami. Halahhh!!! πŸ˜€

***

Alhasil, kami harus kembali mencarikan sepatu olah raga/sepatu sekolah buat si kecil, menemani sepatu safety yang dia pakai di luar jam olahraga.

Kembali nyoba browsing di lapak jual beli Kediri. Eh nemu ada sepatu bekas yang ditawarkan seharga 50rb. Merknya Nike, sudah pasti abal-abal. Cuman, meski abal-abal, kalo dipakai udah beberapa lama, tentunya malah ada nilai worthed-nya: paling enggak dia malah bukan tipikal baramg yang langsung rusak begitu beberapa kali dipakai.

Kami coba hubungi via online si Mas penjual dan janjian liat barangnya.

Tempatnya jauh keluar kota Kediri, arah kaki Gunung Wilis. Enggak terlalu jauh sih sebenarnya, sekitar 20km. Tapi jalannya kecil/sempit dan berkelak-kelok. Melewati hutan, persawahan, dan perkampungan berselang-seling. Sehingga perlu satu jam perjalanan untuk mencapai lokasi si penjual, di sebuah desa yang segala sinyal seluler beneran hilang dan kami ketemunya atas bantuan arahan penduduk. Tapi si mas penjualnya justru malah bisa internetan dengan adanya wifi desa. πŸ˜€

Ketemu. Kondisi sepatunya lumayan. Sambungan sol dan dinding sepatunya udah dijahit tambahan. Solnya masih bagus. Hanya ada sedikit jahitan di tungkai yang mengelupas kecil, kami pertimbangkan bisa dijahit lagi atau dilem sedikit saja. Dan entah kenapa alasan itu sepatu dijual, kami enggak menanyakannya. Yang jelasnya akun fesbuknya riil dan lumayan terbuka, setidaknya dengan ini kami meyakini kalo ini bukan sepatu curian.

Si kecil pun okey dengan modelnya. Alhasil kami dapat diskon 10rb, jadinya jatoh harga 40rb.

Cuman BBM mobil ke sananya mungkin hampir dua kalinya itu harga sepatu. πŸ˜€

Enggak apa-apa, sebelum kami memutuskan berangkat liat barang, kami sudah niati sekalian jalan-jalan malam mingguan bersama keluarga ke kaki Gunung Wilis yang dingin, sunyi, dan bener-bener lenyap segala sinyal seluler. Namun penduduknya yang kami jumpai ramah-ramah.

Well… Pelajaran moral yang bisa kami petik di sini: jangan pernah sekali-sekali beli sepatu abal-abal. Mending KW, masih bisa diprediksi kekuatannya.

Dan beli sepatu merk lokalpun enggak menjamin kualitasnya sepadan dengan harganya. Perlu referensi yang kuat tentang hal ini. Kecuali emang ada duit super enteng buat beli sepatu muahalll macam yang kami ceritakan di atas, itu lain soal lagi. Kalo enggak ada?

Ngomong-ngomong sepatu mahal, BTW, dulu Bapaknya Aleef Rahman pernah kehilangan sepatu di masjid, pas jaman dia kuliah. Udah gitu, itu sepatu pinjem dari temennya lagi. Pas itu bapaknya Aleef Rahman nginep di kos temennya, datang pake sandal, kemudian dia perlu ke kampus sehingga minjem sepatu temennya. Mampir ke masjid, pas mau capcus sepatunya udah raib.

Sepatu mahal. Kala itu harganya 200rb saat seporsi nasi pecel masih 750 rupiah. Sekarang harga seporsi nasi pecel rata-rata 7rb.

Dari sini, bapaknya Aleef Rahman jadi trauma juga dengan sepatu mahal. Plus kami emang enggak ada anggarannya khusus buat beli sepatu mahal. Dan, kami juga bukan maniak sepatu. Alhasil asal sepatu bisa dan layak dipakai, ya udah.

Bapaknya Aleef Rahman pun sukannya cuman sepatu safety, meski bukan berarti anti dengan model sepatu lainnya. Mungkin ini terkait dengan dunia dan karakternya. Plus lagi mungkin karena pengaruh almarhum bapandanya yang pensiunan dari sebuah perusahaan tambang, yang bisa dibilang seumur-umur kenalnya ya sepatu safety. Klop jadinya.

Perburuan sepatu murah emang butuh penggalian referensi, pengamatan mendetail dan mendalam, serta kekuatan doa dan keyakinan batin yang akan menjadi pengisi waktu dan perjalanan hidup yang menyenangkan. Sebagaimana kami bisa gembira karena dapet sepatu lumayan bagus dengan harga relatif murah atau harus bersedih karena kena sepatu abal-abal yang harganya setara sepatu lokal.

Yang penting semua jangan terlalu: terlalu gembira atau terlalu bersedih. Dinikmati saja. Masih banyak di luar sana yang lebih pusing daripada kami: bahkan untuk mendapatkan sepatu paling abal-abal pun mungkin mereka masih kesulitan.

Wallahualambisawab.

– Deasy Ibune Rahman,
dan ini sepatu KW yang kami beli seharga 40rb. Akan kami update nanti seberapa lama dia bisa dipakai Aleef Rahman.

Dan maaf kalo cuman urusan sepatu murah aja sampai segini panjang kisahnya. Kalo sudah cerita tentang anak, apa sih yang bisa kita persingkat? πŸ˜€

Advertisements

Kangen BUCKS

Kangen saya sama rekan-rekan BUCKS. Genk awal yg saya kenal pada skup luas pertama kali ya BUCKS ini. Entah taon kapan itu saya meregisterkan diri via email ke BUCKS, dan akhirnya saya masuk list warga bimmer underground ini. Yg jelas, BUCKS kemarin barusan ultah ke-9 saat si Badak Biru udah 8 taon bersama kami.

Orang-orang di dalamnya pada sangat sepintas yg saya kenal, sama aja kayak genk-genk bimmer lain. Ada yg brengsek sampe temen-temennya sendiri jadi malu, ada yg dedikasi dan loyalitasnya luar biasa. Mengabdikan diri ke komunitas nyaris setara mengabdikan diri pada agama, bangsa, dan keluarga.

Dan ini mirip juga dengan kalangan genk-genk bimmer lain;

  • ada yg omongannya (angkawi)kelas berat mlulu: velg mahal, ganti biem, biem ceper, biem kenceng, biem kinclong;
  • ada punya yg karakter kere eh sori, kiri hore persis kayak saya.

Tapi ada satu hal dominan sejauh sekian taon saya (merasa)tergabung jadi warga underground BUCKS selama ini: meski buanyakkk yg guyon “internal sendiri”, yakni guyonan yg susah diikuti atau dimengerti oleh orang lain di luar kalangan; tapi omongan mereka tentang teknis per-bieman itu terasa sangat dominan. Poin ini yg saya sangat suka dengan BUCKS.

Sederhana kata, mayoritas yg saya dapati bukan sekedar: rusak – bawa bengkel, kelar. Masih ada bahasan kalo rusak kayak gini tuh kenapa dan banyak yg ikutan mengupasnya.

Sampai pada suatu malam era akhir 2013 atau awal 2014 mungkin, saya udah lupa waktunya, saya ngobrol dengan beberapa dedengkot BUCKS pas saya lagi di Jakarta: bahwa saya dan rekan-rekan Kedirian ingin membentuk chapter dan bergabung dengan BMWCCI. Tentu secara refleks mereka nanyak, “Kenapa ndhak membesarkan BUCKS saja di sana/di Kediri dan sekitarnya sini?”

Saya perlu waktu setengah malam untuk menjelaskan tentang pilihan kawan-kawan saya di kampung halaman sini.

Pertama, warga Kedirian itu bisa dikata blank total tentang BMW. Sampai hari ini empat taon umur Kediri Chapter, omongannya kalo kopdar ya cuman senang-senang melepas penat pekerjaan saja. Saya rasa cukup minoritas bahasan-bahasan belajar teknis tentang perbieman, meskipun bahasan ini tetap ada dan bukan berarti hilang sama sekali.

Dalam hal seperti ini, kalo Kedirian tidak saya bawa ke klub resmi BMWCCI dan malah seperti pilihan awalnya: jadi klub lokalan saja (bahkan juga bukan BUCKS yg skupnya nasional), maka mau jadi apa Kedirian ntar? Mau jadi paguyuban ngopi?

Temen-temen Blitarian Bimmer, komunitas lokal dimana saya juga tergabung dalam paguyuban ini pun bisa ngeh teknisnya biem karena kebetulan ada lik Abi aja yg sangat paham biem. Tanpa ada manusia yg satu ini, niscaya mereka bakal cuman jadi paguyuban biem terlantar yg mungkin bakal terlunta-lunta miara biemnya.

Dan semoga semakin besok warga Kediri Chapter benar-benar menjadi bimmerfan yg memahami biem, setidaknya biemnya sendiri-sendiri masing-masing. Tinggal pengurus dan warga punya semangat untuk bersama-sama menuju arah ini atau ndhak. Pun dengan rekan-rekan Blitarian, mumpung ada ilmu yg bisa diserap, ayo seraplah sebanyak-banyaknya buat bekal miara biem dengan baik dan benar (serta murah).

Beda ama BUCKS. Mereka-mereka yg melahirkan BUCKS karena sebelumnya udah punya kemaniakan terhadap BMW. Mereka sangat mengenali biemnya, dan cinta mati ama biem, meskipun hariannya pakai mobil Jepangan sejuta umat. πŸ˜€

Alhasil, ketika BUCKS mereka ciptakan, dasar kemaniakan terhadap biem inilah yg jadi kultur besar mereka. So, bagi BUCKS, bisa dimaklumi kalo ber-sistem atau mengsistemkan diri itu justru mungkin malah akan menghambat soliditas komunitas ini.

Jadi itulah kenapa saya memilih menolak ide lik Ardian “Boeng” Satriyadi dkk. yg awalnya pinginnya menjadikan Kedirian ini sebagai klub lokalan independen saja dan setengah malam itu juga di Kediri saya mati-matian meyakinkan ke kawan-kawan Kedirian agar kami bergabung ke BMWCCI, sebuah organisasi dg sistem, agar ada pegangan sistemik yg bisa menjadi arah langkah kumpulan ini.

Agar ayam-ayam tanpa indukan ini punya satu pegangan arah untuk melangkah.

Kedua, lainnya itu di (setengah) malam itu di Jakarta, saya mengulangi janji pada internal temen-temen Kedirian ke temen-temen BUCKS: bahwa Kedirian akan menjadi chapter yg taat regulasi tapi sekaligus tidak akan pernah menghilangkan nilai keguyuban dan kecairannya pada siapa saja untuk selamanya! Sebagaimana guyub dan cair pada siapa saja inilah semangat awal mula terkumpulnya Kedirian.

Bagi saya pribadi, mengajak rekan-rekan Kedirian menjadi chapter BMWCCI bukan berarti saya bakal meninggalkan BUCKS, yg mana inilah salah satu dimana sumber wawasan perbieman saya berasal. Dengan tetap menjadi BUCKSer sekaligus warga Kediri Chapter, maka saya akan (ingin) menjadi pribadi yg lebih luas lagi berpandangan, berteman, berwawasan, dan berpola pikir; menambah teman-teman baru, menambah pergaulan baru, tanpa harus mengubah gaya hidup(baru) sedikitpun. Ini harapan saya pribadi.

Alhamdulillah temen-temen bisa memahami.

2011 kami pertama kali ikut turing bersama temen-temen Blitarian (kala itu masih bernama Tuner) ke Pantai Prigi, Trenggalek. 2012 kami dan temen-temen Madiunan ikut hadir pada acara pengukuhan BMWCCI Malang Chapter.

2012 juga ada kopdar pertama temen-temen Madiun, Kediri, Blitar, Malang di Simpang Lima Gumul, Kediri yg dihadiri oleh Lik Catur.

2013 kami ikutan turing dari Jakarta bersama temen-temen BUCKS dateng ke ID Bimmerfest, Yogya.

2014 BMWCCI Kediri Chapter terbentuk. 2015 ikutan liat ID Bimmerfest di Jakarta.

Puncaknya sejauh ini, Februari 2017 kemarin saya berkesempatan hadir di syukuran ultah Amazin9 BUCKS di Bawen, Jawa Tengah. Kembali bertemu, berkumpul, dan bercengkrama dengan para dedengkot BUCKS serta rekan-rekan lainnya yg sedikitpun ndhak pernah luntur keguyuban dan keakrabannya yg terasa begitu cair.

SEDIKIT flashback, era 2010-an Kedirian sudah berteman sangat akrab dengan temen-temen Madiunan. Era 2011, Kediri+Madiun pernah mengajukan diri jadi chapter BMWCCI dengan nama chapter Mataraman. Dan tentu saja usulan nama ini ditolak.

Akhirnya ide tersebut kami pending. Dan nama itu sempat diteruskan juga jadi nama angkringan-online ini, yg semangatnya angkringan-online adalah menyatukan beragam asal-usul menjadi satu kebersamaan tanpa sekat dan batas, borderless friendship, unlimited silaturahmi

Belakangan, kini Kediri dan Madiun masing-masing udah jadi chapter BMWCCI.

Karena dari awalnya semangat Kedirian ini adalah borderless friendship & unlimited silaturahmi, maka inilah kenapa macam saya pribadi jadi sangat enjoy berteman dengan siapa saja, mengenal siapa saja, dan duduk bergabung dengan rekan-rekan dari bendera mana saja.

Saya dengan bangga bisa menyebut diri saya sebagai warga Kediri Chapter, warga BUCKS, atau warga Blitarian Bimmer. Termasuk warga-online di angkringan-online tercinta ini.

Dan manusia macam Lik Sugik, bimmer independen paling independen seindonesia itu dengan santainya juga bisa cangkrukan dengan Ki Lurah Kedirian Risky Mujiono​​ atau rekan-rekan dari BMWCCI Malang Chapter. Cair sekali.

Manusia macam Lik Catur di sini, mbah dan manusia yg kita sesepuhkan untuk jadi pengayom kita semua di angkringan-online ini pun juga adalah sesosok manusia merdeka & independen yg kebimmerannya bisa dibilang “bebas agama”. Lik Catur adalah manusia yg bisa dimiliki oleh semuanya tanpa terkecuali, bukan manusia yg mengibarkan satu bendera bimmer tertentu. Kecuali urusan rumah tangga, maka doi cuman milik keluarganya semata.

Atau juga Cak Rizal, doi adalah bimmerfan yg juga telah “bebas agama”. Saat ini, loyalitas kebiemannya hanyalah pada guru Semar Lik Sugik semata. Eh… πŸ˜€

Dan inilah angkringan-online ini kemudian memutuskan tetap jadi angkringan-online belaka. Angkringan-online Bimmerfan Mataraman ini bukanlah klub atau komunitas. Namun demikian kita punya kepala pemerintahan virtual di sini, yakni lae camat-online Naulinet yg bercokol di Padangsidimpuan saja.

Cair, akrab, guyub, bebas sekat. Semuanya indah sekali bukan?

So kalo ada member klub manapun yg ndhak bisa loyal ke klub/komunitasnyanya atau sekaligus menolak untuk cair dengan bimmerfan siapapun dari manapun, menurut saya ini adalah tipikal bimmerfan alay.

– Freema HW,
kangen BUCKS.

Nomenclature

Sebagaimana kita ketahui, nomenklatur BMW berdasarkan seri dan cc. Kayaknya semakin kesini semakin ndhak relevan.

BMW masih bisa ngeles bahwa “cc”-nya adalah penyetaraan saja. Tapi semakin besok, kayaknya harusnya mulai sekarang deh, harusnya BMW semakin sadar bahwa “penyetaraan” itu pun akan semakin menjauh.

Mesin 2000 cc sekarang tenaganya bisa setara mesin 5000 cc kemarin-kemarin ntar. Karena mesin sekarang sudah semakin presisi dan efisien, banyak intervensi elektronik di semua lini: injeksinya langsung masuk ke mesin bukan lagi ke pipa intake, katup-katupnya diintervensi dengan perangkat elektronik dan dikendalikan komputer,

plus sudah diperkuat dengan turbo generasi terkini yg semakin smooth karena kitirannya bisa diatur-atur atau diubah-ubah miringnya, pun jumlah turbonya bisa banyak atau bertingkat-tingkat boost & tahapan/urutan kerjanya;

atau pake hybrid;

atau keduanya.

Sekarang aja mesin 2000 cc tenaganya udah jamak setara dengan mesin 3500 cc era dua dekade silam. BMW M550d mesinnya cuman 3000 cc, dianggap setara 5000 cc. Di beberapa mesin Volkswagen, mesin 1600 cc juga udah setara dengan mesin 3000 cc era kemarin.

Dulu saya pernah ngetik ginian jadi komen di angkringan-online bimmerfan mataraman, tapi saya search koq ndhak nemu. Baiklah saya ketik lagi aja.

Sekarang sih turbo sama hybrid seolah masih merupakan bagian “tambahan” buat mesin. Kelak, bisa jadi ini semua sudah menjadi hal yg (dianggap) built-in, satu kesatuan, bukan tambahan, dan bukan merupakan bagian terpisah, sebagaimana kontrol elektronik pada katup mesin. Sampe akhirnya mobil jadi listrik semua. Who knows kan?

Mending nomenklasi BMW dibiarkan tetap skemanya, tapi belakangnya diubah jadi indikasi tenaganya.

Jadi kalo ada 320i, maka pengertiannya adalah Seri 3 dengan 200 ps. BMW 540i adalah Seri 5 dengan 400 ps. Trus 730Li maka pengertiannya adalah Seri 7 dengan tenaga 300 ps, LWB. Gampang, dan bakal jamak ntar mobil dengan tenaga segitu, karena dihasilkan oleh mesin yg kecil, imut, ringkas, efisien, dan irit. Berkat kemajuan teknologi yg semakin presisi dan semakin ringan.

Kalo toh nanti semua mobil jadi listrik, nomenklasi ini rasanya masih akan tetap relevan. Cuman bedanya kalo kemarin 320i adalah Seri 3 dengan 200 ps bermesin 1500 cc misalnya, kini tetap Seri 3 dengan 200 ps bermotor listrik. Atau biar lebih ke-listrikan (kenikian yg menggunakan listrik/elektrik), itu 320i tinggal di-update aja jadi: Seri 3 dengan 200 Kw (setara kurleb 270 ps). “i”-nya adalah intelligent atau pinter banget atau apalah. Nanti “is”-nya jadi intelligent+sport. “d”-nya jadi durable atau double atau apa gitu. “e”-nya jadi economic-version mungkin. Tinggal dicocok-cocokkan aja pokoknya. πŸ˜€

Audi aja udah mulai sadar diri. Karena kalo cuman menampilkan Audi A4 2.0TFSI, orang ndhak akan sadar kalo tenaganya udah 250 ps. Kalo cc 2000 era kemarin-kemarin itu biasanya keluarannya cuman 150an ps.

Volvo juga menyembunyikan kapasitas silindernya. Kini dia menjenjangkan produknya (tetap) dengan T4, T5, T6, atau T8; cuman intinya makin tinggi T-nya makin gedhe aja kemampuannya. Pokoknya gitu. Bukan lagi turbo+jumlah silinder lagi. Atau apalah itu skema sebelumnya. Mohon dijabarkan kalo temen-temen punya penjelasan detail, rinci, dan spesifiknya.

Mercy, masih konvensional kayak BMW. Dan masih sama ngacaunya. C250 konon mesinnya cuman 1800 cc.

INI cuman pikiran iseng saya sih. Kalo toh nanti BMW atau Mercy berubah beneran, bahwa angka yg sama di belakangnya bukanlah lagi isi cc melainkan sudah berganti jadi keluaran/out-put tenaganya, mereka tinggal bilang, “Kami sudah merencanakannya sejak lama, dan perlu waktu untuk berpindah/bertransformasi ke proses ini.”

Kelar urusan.

Dan Anda sekalian ndhak usah terlalu serius menganal isis posting ini. Posting ini bukanlah posting tentang kejar-kejaran cepet-cepetan menampilkan berita GIIAS atau launching produk terbaru plus sok-sok spyshot produk yg bakal meluncur atau gosip-gosip garing tentang bakal/calon replacement suatu produk otomotif ke depannya.

Posting ini juga tidak menyangkut kehidupan bernegara yg baik, benar, bijak, dan madani. Apalagi menyangkut hajat hidup orang banyak. Atau menyangkut politik yg membuat kita semua mendadak menjadi pakar paling pakar, lebih-lebih lagi menyangkut surga dan neraka yg membuat kita menjadi kelompok paling benar dan yg lain pasti & harus salah.

Posting ini cuman sekedar posting sinting yg sangat pantes dicibir oleh banyak orang: “udah bersyukur aja mas punya mobil, ndhak usah sok-sokan mikir yg aneh-aneh. Dibayar juga ndhak, punya sahamnya juga ndhak apalagi sampe punya pabriknya. Ngapain sih pusing-pusing mikirkan nomenklasinya BMW segala? BMW aja ndhak pernah sedikitpun ikut pusing memikirkan nasib Mas yg terjungkal-jungkal miara mobil Mas sendiri koq! Ya tho?”

Ya banget sih.

– Freema HW 3.0i 300ps.

Everybody Love Maroon

Adakah orang yg sangat mencintai BMW-nya dg segala pengorbanan? Adakah BMW yg dicintai juragannya dg sepenuh hati? Banyak.

Mulai berkorban mbenahi kerusakan yg aslinya kecil tapi jadi berat karena kurangnya daya dukung dompet; atau sampe mengkoleksi barisan velg mewah, yg semua atas nama cinta, pengorbanan, atau … pencapaian!

Adakah orang yg turut mencintai BMW orang lain? Adakah BMW milik sesorang yg juga dicintai orang lain? (Mungkin) ada.

Adakah sebuah BMW yg dicintai semua orang? Ada! Itu si Maroon M3 (Maroon Mawoot Morat-mariit).

Adakah semua orang mencintai sebuah BMW? Ada! Mereka adalah warga angkringan-online Bimmerfan Mataraman, mencintai sebuah BMW bernama Si Maroon.

Angkringan-online Bimmerfan Mataraman bukanlah sebuah klub bukan pula sebuah komunitas. Ini hanyalah sekedar angkringan-online belaka. Namun, Tanpa pengurus, namun kita terurus. Tanpa struktur, tapi kita teratur. Tanpa organisasi, tapi kita rapi. Tanpa bentuk, tapi kita berwujud. Tanpa lokasi, tapi kita eksis. Tanpa rupa, namun kita ada. Nyata.

Borderless friendship, unlimited silaturahmi.

– Freema Bapakne Rahman
V8

Satu Pijak Beda Tabiat

Ini semua adalah murni subyektivitas ngasal dan ngawur saya.

Ada akun yg berbicara tentang hal yg sama. Mereka satu kubu, satu persepsi, satu “pihak” sebenarnya: berdiri di sisi yg sama.

Bedanya, satu berbicara dengan bobot, cerdas, bernas; datanya kuat, faktanya akurat, analisisnya matang, hipotesisnya tajam. Banyak hal yg dirangkum jadi satu butir uraian, jadinya uraiannya padat montok berisi.

yg satu berbicara dengan membabi-buta, penuh emosi, hanya berisi opini subyektif belaka. Sederhananya: tong kosong nyaring bunyinya. Baru tau satu hal, uraiannya berlipat-lipat lebih panjang lagi. Jadinya nggelambir kayak lemak perut saya.

Satu pihak yg sama, satu kubu yg sama, satu persepsi yg sama, satu pijakan kaki pun ternyata (bisa) beda tabiat; bisa terpilah jadi dua item yg sungguh sama sekali berbeda berlainan total telak.

#bersih-bersih fesbuk perlahan-lahan, persiapan 2019: #unfollow puluhan page ndhak jelas yg miskin data, lemah fakta, mentah analisis, dan tumpul hipotesis.

– Freema Bapakne Rahman,
subyektif.

Persiapan 2019

Ada sebuah akun. Mengomentari kubu lawannya dengan “2019 masih jauh woy! Udah pencitraan aja!”

Pas saya becandai, saya diblok.

Sementara dari kubunya sendiri, tampaknya persiapan 2019 juga udah mulai dilakukan.

Bullshit, semuanya!

Ndhak usah tutup mata, 2017 ini, pada kenyataannya semua pihak udah siap-siap menyambut 2019. Dan sebenarnya bukan sejak 2017 ini, sejak hajatan Pilpres 2014 kemarin kelar, semuanya pasti akan langsung berkoordinasi untuk mulai menyambut 2019.

Dan kembali peristiwa 2014 akan terulang: kedua belah pihak akan adu kuat: adu kuat inkonsistensinya. Saya menggaransi ini terjadi, garansi untuk diri saya sendiri. Garansi tidak berlaku untuk Anda.

Inkonsistensi, dari KEDUA belah kubu. Alias semua kubu.

2019 nanti peta sementara akan mirip Pilkadal DKI kemarin. Kubu Jokowi akan semakin kuat. Dan kubu SBY/Prabowo akan pakai strategi mirip pilkadal DKI: ada calon utama dan ada calon untuk pemecah suara.

Kemarin itu, dengan kesadaran saking kuatnya Ahok kalo “dilawan sendirian”, alhasil dipasanglah Anies sebagai calon utama, dan Agus sebagai pemecah suara.

Berhasil!

Plus ditambah kampanye “di luar sistem”. Macam Ahok yg ditekan dengan cap penista agama. Yg bahkan suara Buya Syafi’i Ma’arif yg dengan tegas mengatakan bahwa apa yg dilakukan Ahok bukanlah penistaan agama, dengan segala cara akan dikesampingkan.

Dua faktor ini sukses mengantarkan Ahok terdepak dari kancah politik DKI. Dan setidaknya, langkahnya untuk terus tampil ke muka bumi perpolitikan Indonesia sukses terhambat.

Jokowi kayaknya akan dibeginikan juga, entah dengan cara apa. Pemanasan yg ada, Jokowi udah mulai dicap dengan stempel “musuh Islam”. Namun langkah ini agak sulit karena NU “menghambat”.

Biar bagaimana kekuatan NU masih sangat diperhitungkan di negri ini. Apa dhawuh kyai, masih menjadi langkah komando yg ajib untuk menggerakkan jutaan massa NU.

Maka tampaknya, kini NU yg musti dirongrong dari dalam. Entah ada yg disusupkan ke dalam NU atau dijebak untuk memecah NU atau dirongrong secara sistematis lain, saya kurang paham. Tapi langkah ini logis untuk diupayakan.

Atau sambil jalan, mungkin tim komando dan tim intelijen masing-masing kubu sudah menyiapkan dan merangkai beberapa langkah strategis maupun langkah taktis lain demi saling menjegal lawan. Mustahil tidak.

Semuanya demi politik.

Semuanya adalah politik.

Dan warganet terus bersorak riuh tempik-sorai menyatakan semuanya sebagai kebenaran, keadilan, apapunlah namanya.

Dan inilah cerminan politik negeri ini, di mata pandang saya pribadi. Tidak berlaku untuk Anda.

***

MAKA, saya pun juga siap-siap dengan 2019.

Kini saya mulai meng-unfollow fanpage atau grouppage yg konon bilangnya keagamaan atau kebangsaan tapi di dalamnya berisi politik. Entah kepada kubu siapapun dia berpihak. Karena selama dia berpihak dan tidak universal, saya pribadi menganggapnya bukan kebangsaan dan bukan keagamaan.

Kalo dari kaum kebangsaan masih “enteng” buat dijawab umpama saya di-counter sama mereka. Kalo dari kaum keagamaan, ini yg repot. Sebab dari kemarin hingga detik ini, cara untuk meng-counter adalah sama sekali ndhak pake otak, sesuatu yg dianugerahkan-Nya untuk kita gunakan.

Cara mereka meng-counter biasanya pake stempel. Barangsiapa tidak sama dengan pandangan mereka, maka kita adalah kafir, sesat, laknat, liberal, sekuler, dll. Atau kalo kalah opini, pasti pake senjata jauhi perdebatan kusir. Padahal sesungguhnya ini adu otak, bukan debat kusir tanpa dasar tanpa logika.

Yawsudahlah.

***

SELAIN fanpage atau groupage, yg sudah lama saya lakukan sejak tahun-tahun silam adalah me-remove akun-akun sektarian begitu. Bukan karena saya benci mereka secara perorangan, melainkan murni karena saya ndhak ingin “terlibat”, meskipun cuman membaca posting statusnya, dalam perkubuan ke mana saja.

Bukan karena saya benci mereka. Sama sekali bukan. Saya hanya ndhak kuat mengisi waktu dengan membaca gituan. Maka lebih adil dan bijak, dalam sudut pandang saya sendiri, jika akun-akun demikian saya remove.

Saya akui, saya dalam konteks ini jauh dari kehebatan istri saya yg cerewet minta ampun itu. Istriku adalah sedikit dari kaum istri yg cerewetnya level 30 kalo di ukuran Boncabe.

Saya lagi geletakan mau berangkat kopdar ama temen-temen aja, dia udah berkali-kali nanyak. “Kamu ndhak kopdar? Ndhak jadi berangkat tho?”

Padahal itu kopdar bukanlah sekolah. Mau saya kopdar atau ndhak, ndhak ada urusannya dengan naik-turunnya keimanan, kondisi negara, apalagi stabilitas harga pangan.

Plus saya sedang ndhak janjian dengan siapa-siapa. Jadi kalo saya jadi kopdar, itu asyik karena menambah silaturahmi. Kalo saya ndhak jadi kopdar, itu juga asyik karena saya bisa istirahat di rumah.

Eh pas saya males njawab, malah saya jadinya yg salah, “Diajak ngomong gitu doang diem terus!”

Bayangkan coba, kuping lelaki mana yg ndhak illfeel dengan gituan? Dan apapun alasan saya, laki-laki pasti akan salah di mata perempuan. Pasti!

Ini baru satu contoh. Yg ndhak saya ingat-ingat mungkin bakalan ndhak cukup seharian atau semingguan saya ketikkan di sini. Nyaris saban hari bray! 😦 Hiks…

Tapi saya ndhak ngingat-ngingat. Ini bukan sekedar masalah saya mencintainya sepenuh hati sehingga ndhak mau ngingat-ngingat yg ginian. Ini kayaknya murni cuman karena saya laki-laki yg ndhak pernah bisa ngingat-ngingat hal ginian.

Bahkan mbawa handuk pas mandi aja sering lupa. Alhasil saya teriak minta tolong istri ngambilkan handuk. Dan alhasil kembali kuping ini kena semprot. “Udah berkali-kali mandi ketinggalan handuk, masih aja terus lupa!”

Lucunya, dia tetap ngambilkan handuk ke saya bray! Begitu terus berulang-ulang tiap kali saya lupa mbawa handuk pas mandi. Eits bukan cuman saya, juga si kecil.

Dan kasihan dia, kecil-kecil udah kena semprot ibunya. “Kamu itu jan persis bapakmu!”

Kadang si kecil bingung, kadang dia meringis. Mungkin batin dia, “Apa sih salahku?”

TAPI dia istriku itu hebat. Saya cek di dinding(ratapan) alias wall FB-nya, ada dua kubu politik yg rajib banget update status. Timeline-nya malah sepertinya berisi 80% politis dan 20% kehidupan universal ~> itu pun masih dibagi antara pendidikan anak dan kucing sama kuliner dan sedikit traveling.

Atau kalo angkanya kegedhean, baiklah 60% politis dan 40% kehidupan universal. Atau baiklah, saya ngelihatnya pas momen tertentu barangkali, jadi ini ndhak mewakili kondisi keseluruhan.

(Tapi kayaknya “momen tertentu” gitu koq sering banget ya di FB gitu? Kayak selalu ada terus gitu…)

Tapi pas saya nanyak, kenapa ini akun yg berkubu-kubuan ndhak kamu unfollow aja?

Dia bilang, “Mereka semua teman saya, dan kebetulan saya bisa cuek mendapati posting-posting mereka.”

Hebat! Suaminya dicereweti, teman-temannya malah dicueki.

Harusnya kalo dia sayang sama saya suaminya ini, suaminya dimanja-manja, dan cerewetilah itu temen-temenmu yg menjadikan FB sebagai ruang pubik bersama sebagai ajang kampanye masing-masing kubu.

Entahlah.

Saya ndhak mau melanjutkan posting ini.

Abis ini telingaku pasti kena semprot lagi.

Demikian dari kemarin, hari ini, hingga seterusnya.

Hiks… Nasib…

“Lho Mas, perempuan itu cerewet kepada orang yg disayanginya, itu karena pertanda cinta.”

Baiklah, ini cinta.

Baiklah. Saya juga mencintainya dari kemarin, hari ini, hingga seterusnya.

Tapi tetap saja, kuping ini, hiks…

– Freema Bapakne Rahman.

Menjaga dan Merawat Indonesia

Bismillahirahmanirahim.

Sejak pilpres-pilpresan 2014 silam, saya sudah menetapkan diri sebisa mungkin menghindari posting statuta politik. Memilih netral (ber)politik bukan berarti tidak mencintai bangsa dan negara ini kan?

Hingga sampe Pilkadal DKI yg bikin linimasa saya tampak teramat sangat njancuki, saya masih bisa menahan diri untuk ndhak terseret arus menggempur dan menempeleng sebagian dari kedua belah pihak yg menjijikkan di linimasa.

Tapi ketika sekarang di linimasa mulai muncul suara-suara kecil ribut case Cak Nun vs PBNU ini, saya gatel tergelitik ingin ikutan mengungkapkan perasaan.

Dari pengamatan subyektif sepintas saya, yg ribut buta masalah Cak Nun vs PBNU, itu:

  1. Bukan dari kalangan Maiyah atau Nahdliyin. Mereka cuman nyari kesempatan untuk memecah-belah dua kubu yg selama ini, ibarat diagram Venn, mereka adalah bidang interseksi/irisan yg sangat luas. Nyaris bisa dikatakan, tepatnya dikiaskan, bahwa jemaah Maiyah = Nahdliyin. Tapi ini tidak mutlak lho! Ini cuman kiasan, bukan faktualisasi sebenarnya.
  2. Nahdiyin gagap yg sotoy.
  3. Maiyah gagap yg sotoy.

“Ributnya” case Cak Nun vs PBNU ini sangat berbeda dengan tongkolnya kedua kubu: pro-Jokowi vs anti-Jokowi atau kubu pro-Ahok vs anti-Ahok. Mereka yg mendukung atau anti dengan cerdas dan cinta, terpaksa harus tergusur oleh mereka yg mendukung dan anti dengan tongkol dan dungu ~> ini yg dominan mendominasi linimasa dunia maya; dalam pengamatan subyektif sepintas saya.

Sementara dalam case Cak Nun vs PBNU, isinya justru jemaah yg sama-sama bermajelis taklim: menyimak sungguh-sungguh apa kata guru, ustadz, mursyid, kyai.

Maiyah maupun Nahdliyin, adalah dua dari segenap kekuatan besar dalam menjaga dan merawat Indonesia.

Satu-dua (dari kalangan Nahdliyin atau Maiyah) mungkin terlihat reseh. Tapi sangat bisa dikesampingkan.

Well sekali lagi, “perseteruan” ini seru. Serunya adalah karena mereka lebih banyak saling menggali satu sama lain; alih-alih saling menguruk satu sama lain sebagaimana umumnya perseteruan dua kubu yg ada. Kalo saya bahasakan, ini seperti dua saudara yg berdebat sengit dan keras bagaimana menyelamatkan warisan orang tua, bukan berebut mati-matian jatah warisan orang tua. Intinya, banyak adu cerdas dalam “perseteruan” ini ketimbang adu bolot.

Kalo (ada) yg reseh beneran dan banyak bolotnya, cek aja, dia kayaknya nyaris bisa dipastikan bukan Nahdliyin dan bukan Maiyah.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman,
Muslim WNI.

Foto nemu dari internet.