(Street Legal) Race Car.

“Curang” nih… Kalo tim balap biasanya beli mobil jadi; trus dibongkar dan dibangun ulang: chasis enforcement, bikin body kit, dan pasang segala perlengkapan (roll bar, pemadam, dll) sesuai homologasi, sama sunat sana-sini buat meringankan berat;

berhubung ini tim balapnya BMW, maka ia cukup memenggal body jadi tapi belom selesai dari jalur produksi dan melanjutkan sendiri segala proses yg diperlukan secara hand-made. Tanpa harus memasang parts yg tak diperlukan tentunya: jok penumpang, dashboard komplit, dll. Dan biasanya juga tidak termasuk AC, sound-system, perangkat electric tambahan (power-window, dll.), dll.

Yaaa… mungkin bukan cuman BMW, tim-tim resmi pabrikan kelas dunia mungkin juga sama kayak gini prosesnya.

Dan mobil balap yg dibikin legal di jalan raya, karena sudah dikompliti segala atribut yg dipersyaratkanb oleh regulasi jalan raya: lampu, sein, instrumen cluster, dll. kemudian dijual ke umum melalui dealer resminya sebagai street-legal race car.

Duit maning dapetnya.

Itulah kita kalo pintar, nyari duit itu jadi “gampang”.

Saya bukan penggemar mobil balap/racing. Karena jiwa saya itu mobil dolan/turing.

Tapi menonton video ini tuh imprssif banget.

Layak ditonton dan inspiratif. (y)

Advertisements

Jihad

Saya masih inget bener, akun seorang rekan meng-share catatan panjang tentang pengertian bahwa jihad itu harus perang. Perang fisik, bertempur melawan ‘orang kafir’.

Tulisan itu menentang keras pengertian jihad yg: jihad ekonomi – dimana kita harus berperang melawan kemiskinan ketimpangan dan penindasan ekonomi; jihad iptek – dimana kita musti menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi demi sebesar-besaranya kemaslahatan umat; dan semacamnya.

Oleh akun tsb, ulama-ulama hakiki macam Gus Mus dkk dll dalam seingatan saya tak pernah dikutip. Jelas yg bolak-balik di-share adalah mereka ‘ustadz-ustadz islamis’, yg pengikutnya pada kenyataannya emang mayan banyak.

Akun-akun kayak gini, kalo diajak diskusi pakai pikiran, tentu menghindar/membiarkan tanpa pernah menanggapi. Karena jelas, mereka beranggapan bahwa apa yg dilakukannya adalah membela islam dan macam kita-kita ini adalah penentang islam, pembela kafir, dsb dsj dst. Dan kemudian akan mengerucut: kita bakal didakwa sebagai golongan kubu politik seberang.

Jatuh-jatuhnya ujung-ujungnya akhirnya balik juga muaranya: ke persoalan politik kubu-kubuan. Kasihan banget kaum netral yg bebas kubu dan tak berkubu macam saya gini…

Dan mereka akan terus gencar posting, posting terus-terusan. Tema yg berbeda namun dengan inti yg sama. Diulang-ulang duputer-puter terus-menerus tiada pernah dan tanpa ada henti.

Kuatnya brainwash dan brainstorming pada mereka dg dalih cinta Allah cinta islam dan berjuang demi/untuk dan dalam islam benar-benar membuat logika bawah sadar mereka buntu. Mereka kuat luar biasa untuk terus-terusan mengulang-ulang posting berbeda-beda namun intinya sama saja. Sampai kita-kita yg berani membangunkan logika diri sendiri ini, yg mengajak tukar pikiran baik-baik ini jadi jengah dan bosen sendiri.

Ini macam teori komunikasi pemasaran: kampanye terus-terusan akan membuat sebuah citra menjadi menancap di benak audience, sekalipun audience tak menghendaki.

Islam itu merekalah yg berhak memiliki. Kita yg berbeda ini akan dicap bukan islam.

Tuhan serasa telah mereka ambil alih kekuasannya.

Akhirnya saya yg gk kuat, saya unfriend itu akun. saya kalah melawan itu akun.

******

Miris. Di bawah sana, Indonesia masih penuh dengan ancaman pada kedamaian.

Yg cinta Islam, cinta NKRI, dan cinta kedamaian ini kalo gk bergerak nyata membendung itu semua; entahlah apa yg bakal terjadi dg negeri ini.

Mungkin kita akan tunggu waktu untuk jadi afghanistan, suriah, iraq, libya… Porak-poranda karena kuatnya mereka yg tak pernah merasa kalo merasa menjadi islam paling benar, yg dikendalikan oleh entah siapa.

Bohong kalo Indonesia itu aman-aman saja. Ada bara tak pernah padam di bawah sana, yg mana mereka mengatasnamakan berjuang dalam islam, berjuang untuk islam, berjuang demi islam, dan seterusnya.

Mereka itu semua, saya meyakini sepenuhnya, tak pernah bisa diajak bicara baik-baik dengan akal-pikiran terbuka.

Salahnya, kadang yg berseberangan dengan mereka, meng-counter-nya (sama-sama) dengan sinisme. Jadi di kedua kubu kadang hanya terjadi gontok-gontokan picisan murahan yg sama-sama menjijikkan dan tak ada inti pikiran yg bisa didapat.

Parahnya lagi, perang gontok-gontokan ginian bisa berkepanjangan, dan melibatkan akun yg sangat buanyak.

Njijiki bener.

Mungkin demikian.

Mungkin.

Double-Deck

Dulu, ngumpulkan uang saku, buat beli kaset kosongan, trus bikin album kompilasi. Pake tape compo double-deck.

Tape compo double-deck, bukan bis Volvo double-decker yg udah sempat kami coba di kota besar Surabaya saat main ke bonbin; yg sekarang baru digandrungi ulang oleh abg-abg kagetan yg ngakunya maniak bis.

Rame-rame bawa koleksi kaset sama temen, atau pinjem temen anak orang kaya yg punya banyak koleksi kaset.

Trus diputer di tape-deck rumah, atau compo di kamar, atau walkman sambil bergaya jalan-jalan darma wisata sekolah. Laguku komplit: mulai Metallica, Europe, Firehouse, Def Leppard, hingga NKOTB.

Radio pun isinya Dewa19, masih pakai 19 bukan yg tanpa 19, dan yg jelas gk ada dangdut koplo.

Dunia isinya indah banget jaman segitu. Gk ada caci-maki di medsos.

Kala itu, jaman ribuan berbahagia karena dibelikan sepeda Federal sementara ribuan lainnya hanya sanggup memimpikannya belaka.

Jaman E34 atau E36 kita barusan nongol kinyis-kinyis baru lahir, mobil yg sama sekali belom saya kenal.

– Freema Bapakne Rahman

Saya masih menemukan, beberapa kali jika gk bisa dibilang sering, orang bikin page-break dengan menekan enter buuuanyakkk kali hingga ke halaman berikutnya; alih-alih dengan “ctrl+enter”.

Dan barusan yg saya dapati adalah sebuah dokumen dari pemerintah.

Pentingkah hal demikian untuk diperhatikan?

Bagi mereka mungkin tidak. Dan bagi banyak orang juga tidak. Bagi Indonesia mungkin juga tidak. Selama pekerjaan bisa selesai sesuai dengan tugas yg dihadapi. Selama halaman bisa ter-break sesuai dengan isi yang harus diketikkan.

Cuman kalo kita mau jujur mengakui, dari sini sebenarnya menunjukkan, rendahnya tingkat efektivitas kerja & kinerja SDM yg melakukannya.

Bayangkan untuk mem-break halaman harus menekan enter buanyakkk kali, meski waktunya mungkin cuman dalam hitungan detik, tapi ini adalah proses pekerjaan yg berulang-ulang dan sangat membuang waktu. Proses yg panjang dan tidak ringkas.

Belom lagi kalo ada perubahan isi atau perubahan layout, bisa-bisa ntar ngeditnya dari awal halanan hingga akhir halaman.

Iya kalo cuman 10 halaman. Kalo ratusan halaman, gimana coba?

Padahal hanya dengan ctrl+enter, itu cuman satu proses: cring, jadi!

Dan ketika ada satu halaman diedit, halaman yang sebelum atau sesudah ter-break tidak akan terganggu posisinya.

“Yaaa… kan gk semua orang ngerti dan bisa!”

Baiklah. Tapi ini sebenarnya ilmu yang sangat dasar di dunia ketik-mengetik.

Ini mirip seperti pengetahuan tentang perlu (baca: wajib)nya kita menyalakan sein kendaraan saat berbelok, sekalipun belok kiri.

Kita tetap bisa berbelok (kiri) meski sein tak kita nyalakan. Motor tidak akan macet, laju tak akan terhenti.

Beda dengan jika tanki tak kita isi bahan bakar atau kampas rem habis tak kita ganti., Itu efeknya direct.

Lampu sein? Itu mirip ctrl+enter.

Tak ada efek direct. Tapi ini efek mentalitas (kita bicara sisi teknis dan psikologis dulu, terlepas dari sisi hukum kewajiban hukum menyalakan sein dalam hal ini).

Kita semua tau kan apa bedanya sesiapa yang menyalakan sein saat belok (kiri) dengan yang tidak?

Mungkin seperti itulah bedanya yang menekan ctrl+enter sekali dengan puluhan enter berkali-kali.

“Yaaa… satu kasus ini kan bukan berarti semua aparat pemerintah seperti itu.”

Betul banget. Tapi benerkah ini cuman oknum atau aparat minoritas?

Mudah-mudahan memang demikian: ini hanya oknum dan aparat minoritas.

Bukan sebagaimana persepsi kotor yg selama ini bercokol di otak saya: yg kinerja efektif dan efisien, yg skill-nya mumpuni, yg pelayanannya profesional itulah yg oknum dan minoritas.

Mudah-mudahan itu tadi.

***

INI baru masalah halaman. Belum masalah lain yang lebih banyak, lebih kompleks, dan berdampak luas dan besar.

Alhasil, macam kasus eKTP kemarin sampe bisa sebegitunya: antri berbulan-bulan, masyarakat menghabiskan waktu dan tenaga untuk sesuai yang sama sekali tak produktif. Yang mending dibuat tidur ketimbang kepanasan di balai kecamatan atau apalah nama tempatnya.

Sementara di sana-sini, bank bisa menerbitkan jutaan kartu ATM yang lebih canggih dalam waktu yang sedemikian singkat.

Itu baru satu contoh yang kelihatan.

KALO di pelayanan swasta, kita tinggal ganti provider/produsen jika adalah hal yang tidak memuaskan.

Kalo pelayanan pemerintah tidak memuaskan, mau ganti dan pindah ke mana coba? Sementara kita sudah mati-matian mencintai negeri ini dan mati-matian ingin memajukannya sekuat tenaga. Syangnya, gate utama niatan ini, yakni pemerintah, sama sekali jauh panggang dari api, jauh pelayanan pemerintah dari pelayanan swasta.

Wahai pemerintah, gk usah banyak kampanye menghabiskan anggaran untuk koar-koar bahwa Anda semakin baik melayani rakyat.

Simpan anggaran yg mungkin milyaran itu untuk sesuatu yg riil dan nyata.

Pemerintah ndhak dituntut menghasilkan laba. Karena itu gk usah bikin promosi pencitraan.

Baiknya bikinlah kerja nyata dalam senyap, dengan hanya satu hasil dan parameter saja: tak ada layanan swasta manapun yg bisa mengalahkan efektif dan efisiennya layanan pemerintahan.

Itu saja sudah cukup.

Regards,
– FHW,
hanyalah sesosok rakyat abal-abal tanpa skill atawa kemampuan mumpuni. Mangkanya ndhak cocok jadi aparatur pemerintahan.

Bimmer Turis, Turis Bimmer

Bimmer, yg miara biem, itu kalo saya ibaratkan laksana turis.

Ada turis kelas hotel. Dari mana ke mana naik pesawat tanpa peduli harga tiket dan pedulinya malah pada kualitas layanan dan jenis kelas pesawatnya, naik mobil antar jemput charteran atau paling ndhak taksi kelas premium. Maemnya menu hotel, buffet. Menu-menunya bahasa inggris semua: ice lemon tea, lychee tea, dan semacamnya.

Ada turis kelas rombongan. hunting tiket pesawatnya jauh-jauh hari dan mungkin dibela-belani begadang sapa tau dapet supres harga murah. Ke sana kemari pake mobil rombongan ala seniyapansa. Masih bisa naik taksi tapi senantiasa taksi kelas biasa atau mungkin taksi online. Maemnya di warung yg judulnya warung tapi tempatnya cekli. Dan sama buffet-nya cuman namanya biasanya ganti prasmanan. Menu-menu maemnya pakai bahasa inggris tapi bahasa inggris medhok. #Halah!

Ada turis kelas backpacker. Siap naik kereta ekonomi. Ke sana kemari jalan kaki atau naik angkot. Tidurnya di losmen atau homestay itu pun jadi pilihan terakhir kalo atap langit sudah tak memungkinkan. Makan di warteg atau nasi bungkusan di kios kopi dan minuman dingin pinggir jalan, yg gk pernah ada menu makanannya.

Dan kesemuanya punya persamaan:

  • Sama-sama berwisata, menjelajahi tempat baru yang belom pernah dijelajahi; mengeksplorasi hal-hal baru, baik untuk kesenangan melepas penat maupun untuk makanan otak dan batin – menambah wawasan; dan
  • Pada era kekinian: mereka semua sama-sama mengandalkan teknologi dan informasi. Cuman mungkin bedanya yang kelas atas mengandalkan geskan kartu kredit, yang kelas bawah mengandalkan kuota bonus buat menjelajahi tempat-tempat baru yang asyik tapi MURAH.

Saya mengamati di kalangan bimmerfan juga demikian adanya.

Ada yang miara biemnya super perfect. Yang ini pokoknya susah dan panjang dijlentrehkannya. Biasanya kaum inilah yang di-eksploitasi di-eksplorasi oleh media massa ataupun ATPM BMW karena mendukung posisi mereka: kendaraan premium dan luxury.

Biem keluaran taon anyar. Atau meskipun yg dimainkan itu biem tuwa bmwangka, tapi budget mainannya sama sekali bukan main-main. Jumlah mmereka sangat banyak, sama sekali gk bisa dibilang sedikit, dan cukup keliatan. Pokoknya susah kalo dibilang minoritas.

Berlebihan kah mereka?

Berlebihan itu kalo melebihi kemampuannya. Kalo semuanya itu tidak mengganggu kehidupan(finansial) mereka dan justru membawa kesenangan psikologis dan membawa manfaat kepada pihak lain, ya tentu bagus banget dong ah!

***

Ada yg kelas “rombongan”. Biemnya dipiara dengan baik dan benar. Namun susah untuk masuk kelas museum, kelas kontes orisinalitas, kontes collectible-item, dsb.

Model yg ginian ini emang rombongan beneran. Jumlahnya banyak, massif. Kalo pas ada bimmerfest, ada kopdar, ada gelaran yg ngumpulkan para bimmerfan, inilah yang memenuhsesaki acara. Beberapa dari irisan segmen ini udah masuk ke kasta yg biemnya kolektibel itu tadi.

Tanpilannya rata-rata monoton: mobil ceper, velg-velg ditonjolkan eksistensinya – meski yg kesengsem kenbanyakan cuman dirinya sendiri atau sedikit orang yg berselera sama. Selebihnya, orang biasanya cuman melihat tanpa ekspresi apapun. Atau mungkin cenderung merasa aneh.

‘Mereka itu ngapain sih?’ Mungkin kayak gitu yg di benak orang.

Kebalik dengan apa yg di benak mereka, bahwa ini-itu semua, biem dan pernak-perniknya itu, adalah simbol pencapaian atas pencarian. Pencarian jati diri yang sangat didukung dengan daya dukung nominal. Kalo bukan nominal, apa lagi? Adakah yg lainnya? Kalo kita mau berani jujur: gk ada!

Ya emang itulah satu-satunya syarat dan prasyarat. Kondisi dan pra-kondisi.

Duit mereka -kaum bimmer ‘turis rombongan’- itu sama sekali bukan sedikit lho! Tapi sepertinya kelas mereka masih tidak masuk klasifikasi sebagai pihak yg diperhatikan dan dibutuhkan untuk penguatan citra merk BMW. Entah karena apa. Mungkin -meskipun berbiaya sangat muahalll- karena style/gaya miara biem mereka cenderung independen, suka-suka sesuai selera, dan kurang mendekati unsur ‘premium dan kuxury’ ala BMW.

Atau kalo bimmerfan kelas kaum turis rombongan ini tampil gaya susah, tampil gaya susahnya itu pake biaya buanyakkk lho! Bukan susah beneran.

Lebay kah mereka?

Yg lebay itu yg nganggap mereka lebay.

Semua memiliki dimensi dan ukuran – kondisi masing-masing. Sebab bisa jadi, apa yang mereka belanjakan untuk membuat biemnya jalan dan dandan, kalo ditotal masih lebih murah ketimbang total cost of ownership untuk memiliki sebuah MPV atau SUV sejuta umat. Who knows tho?

Biarkan segmen ini bergerak. Sebab merekalah yang turut membuat dunia perekonomian bergerak juga.

Akan banyak pekerja bengkel yang mendapatkan rejeki-Nya via segemn ini. Akan banyak penjual pernak-pernik dan komponen/onderdil yang berputar keuangannya karena keberadaan mereka. Akan buanyak vendor item macem-macem ini-itu dapet banyak orderan karena dinamisme mereka.

Akan terus berputar, berjalan, dan bergerak aktivitas hidup ini juga karena keberadaan mereka semua.

***

Nah, yg unik dan menarik adalah justru wisatawan sori bimmerfan kelas kere kiri. Ini ibarat wisatawan adalah wisatawan nekat. Berani berwisata, tapi makannya ala… bukan ala tapi beneran khas orang susah.

Kartu debitnya buat cadangan pulang, bukan buat belanja senang-senang.

Gayanya ngikuti pertunjukan-pertunjukan kelas berat: sendratari, theater, musik yg kesemuanya bersufix ‘jalanan’; yg berat di pikiran namun gratis di ongkosan. Padahal sebenarnya karena gk kuat aja buat mengikuti gaya hidup ala urban dan nasib mereka jauh panggang dari api, jauh tampang dari hedonisme.

Omongannya selangit, karena banyak menghabiskan waktunya dengan makan wawasan; ya sebenarnya hanya karena tak bisa banyak menghabiskan waktunya dengan uang atau membeli kesenangan dengan nominal.

Model yg ginian, biemnya itu serasa jadi korban dan tumbal. Ngisi bensin mapuluh rebu. Ada rusak diakal-akali. Mobilnya kusam di sekujur bodi. Kaca jamuran penuh daki. Velg peyang sana-sini. Tapi sok ngerti aja sama mesin elektrikal mekanikal dan perawatan mobil. Ya karena suka belajar dari kerusakannya. Cuman tak ada isi dompet untuk menjawab itu (PR) semuanya.

Kadang mengejar sebuah angan impian cita-cita pas ada rejeki nomplok, apapun itu bentuk atau wujudnya: entah ganti shock bagus, ganti ini-itu yg biasanya cuman dikadali dan diakali, atau apalah namanya. Tapi kalo ndhak ya cuman se-item itu yg bisa diwujudkan, selebihnya paling ya sekali-sekali itu aja bisa mewujudkannya.

Useless-kah keberadaan mereka? Secara ekonomi mungkin iya. Tidak banyak nominal berputar dari kalangan ini.

Tapi, tanpa eksistensi alias keberadaan porsi bawah yg biemnya acakadut amburadul ini, mereka-mereka yang berada di lapisan atasnya tidak akan pernah punya ukuran penilaian bahwa biem mereka keren!

Ya apa ya?

Well, yg model kere kiri di barisan aliran terakhir ginian ini, yg selain saya hayo ngacung!

Yakh koq cuman kalian doang sih? Udah ah, bubar aja kita, gk usah bikin genk dan komplotan aliran kere kiri! Diasepin sama yg biemnya kinclong dan kenceng, tahu rasa ntar! Ayo sana pada pulang! Diapain gitu sana biemnya, pokoknya ada kesibukan dan sok perhatian ama biemnya sana! Gk usah pake banyak nggosip! Huh!

ITULAH dunia. Itulah turis. Itulah bimerfan. Dan ini semua cuman sudut pandang sangat subyektif yang saya ungkapkan dengan pemikiran yg sepenuh asal ngawur dan asal njeplak.

Kalo toh ini nyata, bagusnya ini posting tetep aja kita anggap ngawur. Jadi jika bagi Anda apa yg saya utarakan ini ngawur, ya kan udah saya bilang tadi!!! Bahwa ini tuh ngawur dan asal njeplak! Gimana sih…

– FHW.
Gaya turis, Sok ala backapcker.

Ford Ecosport Storm

Pertama kali melihat sosok Ford Ecosport di jalanan Indonesia, saya melihatnya di Jakarta kala itu pas awal-awal dia abis di-launching, saya terkesima dengan sosoknya. Aneh, tidak memunculkan kesan lucu, tapi unik dan menarik.

Mobil urban, dan terlihat cocoknya buat dinaiki pria/wanita pekerja ketimbang anak-anak kuliah – yang pantesnya mbawa Brio atau Jazz atau Yaris; kesan subyektif saya semacam itu. Ya tapi siapa yg bilang gk cocok kalo Ford Ecosport dinaiki anak SMA sebagaimana Jazz atau Yaris dinaiki seorang supervisior atau bahkan manajer? 😀

Mungkin karena Ford Ecosport ini produk global, bisa dibilang desainnya justru khas Ford banget, tidak bernuansa atau bernafaskan region tertentu. Platform B2E-nya sama dengan Ford Fiesta kalo di Indonesia sini. Ford Ecosport yang kita kenal adalah generasi kedua. Generasi pertama dibikin di Brazil untuk pasar Amerika Selatan. Baru yang generasi kedualah dirakit di banyak tempat, yakni Rumania, Brazil, China, India, dan Thailand untuk dijual buat pasar yang lebih global.

Saya tidak tau, untuk pasar Indonesia dapet mesin apa. kayaknya cuman 1,5l dengan 109 ps dan 140 Nm. Entah juga transmisi manumatiknya itu yg versi 4-speed automatic atau 6-speed PowerShift™ dual-clutch transmission (DCT). Kalo versi globalnya sih komplit; mulai mesin NA 1,5l 1,6l 2,0l juga diesel 1,5l hingga mesin buas Ecoboost 1,0l yang cc-nya paling imut tapi bisa menyemburkan tenaga 120 ps dan 170 Nm, melebihi keluaran dari mesin 1,6l yg 60% lebih gedhe cc-nya itu.

Ford Ecosport ini kerasa beneran hawa mobil internasionalnya. Jok ada arm rest-nya meski cuman di supir; ada lumbar support; setirnya juga dapet teleskopik selain tilt. Bukaan pintu belakangnya juga masih ala setir kiri: dibuka ke kiri. Mirip Mercy Klasse-G. Atau Chevy/Isuzu Trooper. Karet pintunya pun doubel dan tebel. Plus ada lis dalem berlapis kain macam mobil premium.

Switch/saklar lampunya juga model puteran di dashboard, bukan puteran di ujung tuas sein. Tuas sein/wipernya pun “kebalik”: sein di tuas kiri dan wiper di tuas kanan. Akrab banget dengan gaya mobil Eropa. Spion tengah nih: ada fitur auto-dimming.

Lampu dan wipernya pake autosensor. Plus ada vanity-lamp di balik visor, meski manual pake saklar pencet nyalakannya. Kalo di biem tua kita kan udah ostosmatis ikut bukaan cermin/sunvisornya. Dapet sunroof, meski gk ada handgrip untuk semua penumpang. Detail tentang mobil ini sebagaimana saya cuplik sekilas di atas bisa Anda dapatkan di wiki atau beberapa review dari youtuber dalam negeri.

***

DI Kediri, saya koq seperti belom pernah melihat unit ini lalu-lalang di jalanan. Mungkin ada, tapi saya kelewatan. Maklum, di sini kan gk ada dealernya Ford. Ford apapun, di Kediri sini lumayan jarang terlihat, termasuk Everest juga Fiesta. Ranger masih lumayan lah. Tapi jika Anda tiap hari di jalanan, belom tentu tiap hari -bahkan mungkin seminggu sekali- Anda liat Ford. Intinya begitu kurang lebihnya.

Dan akhirnya pukauan saya kepada si Ecosport memudar seiring waktu.

Hingga selusur-selusur dunia maya, saya nemu berita tentang Ford Ecosport edisi Storm.

Sama kayak Ecosport generasi pertama, Ford Ecosport Storm ini dirilis oleh Ford Brazil lagi.

Ubahannya, intinya dia lebih offroad-looks ketimbang standarnya yang urban-looks. Kalo Motor1 bilang, dia adalah Raptor Wannabe. Raptor sendiri adalah versi dedicated-offroad dari truk-pikap F-Series.

Sungguh Ford Ecosport Storm ini emang keren. Khususon grill-nya yang Raptor-looks itu. Asli keren.

Ditambah lagi dengan warna velg yg sangar bingar, wiks.. bikin merinding disco melihatnya. Fender item dan juga aksen item di bodi samping atau kap mesinnya mempertegas kesan offroad ini. Meski umpama saya yang memilikinya, saya akan lepas itu stiker di samping dan di kap mesin. Biar lebih keliatan simpel dan rapi, gk pating grêmbèl. 😀

Yup, Ecosport Storm emang kesannya offroad, lebih dari sekedar cross-over. Karena Ecosport itu sendiri adalah sebuah CUV/compact utility vehicle ketimbang sekedar cross-over.

Dan kemudian saya kangen lagi tentang kisah si Ecosport yang sekali pun belom pernah saya jamah.

Ada yg mau minjemkan Ford Ecosport-nya ke saya buat saya test? 😀

IMHO, CMIIW.
– FHW Raptor Storm

Android 4G Pertama di Dunia

HTC Evo 4G, sebagai merk dagang dia musti diketik huruf kapital: EVO 4G, berjalan di jaringan 4G WIMAXX. Juga dipasarkan sebagai HTC EVO WiMAX ISW11HT di Jepang. Ponsel buatan HTC – pabrikan Taiwan ini oleh operator Sprint USA jadi ponsel Android flagship mereka, melampaui Palm Pre, Samsung Instinct, dan Motorola Razr V3. Ponsel ini diluncurkan pada tanggal 4 Juni 2010.

Spek ponsel ini terbilang gambot. Dengan dimensi 122 x 66 x 13 mm dan berat 170 gram. Mengingat ponsel era kekinian bisa dibilang rata-rata tebalnya udah di bawah 10mm.

Bentang layarnya 4,3″. Masih jenis TFT dengan warna 65K – belum jutaan warna ala ponsel sekarang dan ber-resolusi 480 x 800 pixles. Karena model papan atas, layarnya udah dilapisi corning gorilla glass.

CPU-nya masih 1 Ghz, bahkan belum dual-core apalagi quad-core sebagaimana jamaknya ponsel sekarang. Menjalankan Android 2.1 Enclair yang bisa ditingkatkan ke Android 2.3 Gingerbread; dengan UI HTC-Sense.

RAM-nya 512 MB dengan memory internal “cuman” 1 GB. Ada slot memory tambahan yang mendukung hingga 32GB. Dalam penjualannya langsung dikasih memory tambahan 8 GB. Entah berapa harga MMC 32 GB kala 2010 itu. Mungkin 500 RB. Kalo sekarang sih sekitar 100an RB.

Kamera ber-resolusi 8 MP autofocus, udah dual-LED flash! Bisa geo-tagging. Resolusi ngrekam videonya paling gedhe udah HD 720p. Sementara kamera depannya 1.3 MP.

Koneksi Wi-Fi masih 802.11 b/g belom n. Mendukung bluetooth 2.1 A2DP. GPS ada-lah tentunya. Colokan daya dan data model micro-USB 2.0

Fitur lainnya adalah accelerometer, proximity, compass. Messaging-nya SMS bisa threaded view, MMS, Email, Push Email, IM. Browser HTML mendukung Adobe Flash.

Dilengkapi juga HDMI port, yang mana di ponsel sekarang malah pada amblas.

Tenaga baterenya 1500 mAh, removable Li-Ion. Lama stand-by hingga 146 jam dan lama bicara hingga 5 jam 12 menit.

HTC EVO 4G ini lantas dilanjutkanoleh adiknya: HTC EVO 4GLTE. Layarnya lebih gedhe jadi 4,7″ dengan resolusi HD 720 x 1280 pixels. Prosesornya naik jadi 1,5 GHz dual-core. RAM udah meningkat dua kali lipat jadi 1 GB dan memory internalnya meluas jadi 16 GB. Batere 2000 mAh dan wifi udah mengusung draft IEEE 802.11 A,B,G,N. Bluetooth pun udah versi 4.0 yang kesemuanya dijalankan oleh Android 4.0 Ice Cream Sandwich (ICS).

KEDUA ponsel tersebut adalah ponsel 4G. Dan sekarang saat posting ini saya ketik, juga masih era 4G belum 5G yg digadang-gadang akan segera datang. Tapi, mengamat-amati lamat-lamat HTC EVO 4G ini koq serasa mengamati ponsel era jadul gitu ya?

Dunia emang bergerak super cepat.

– FHW 4G