Bimmer Turis, Turis Bimmer

Bimmer, yg miara biem, itu kalo saya ibaratkan laksana turis.

Ada turis kelas hotel. Dari mana ke mana naik pesawat tanpa peduli harga tiket dan pedulinya malah pada kualitas layanan dan jenis kelas pesawatnya, naik mobil antar jemput charteran atau paling ndhak taksi kelas premium. Maemnya menu hotel, buffet. Menu-menunya bahasa inggris semua: ice lemon tea, lychee tea, dan semacamnya.

Ada turis kelas rombongan. hunting tiket pesawatnya jauh-jauh hari dan mungkin dibela-belani begadang sapa tau dapet supres harga murah. Ke sana kemari pake mobil rombongan ala seniyapansa. Masih bisa naik taksi tapi senantiasa taksi kelas biasa atau mungkin taksi online. Maemnya di warung yg judulnya warung tapi tempatnya cekli. Dan sama buffet-nya cuman namanya biasanya ganti prasmanan. Menu-menu maemnya pakai bahasa inggris tapi bahasa inggris medhok. #Halah!

Ada turis kelas backpacker. Siap naik kereta ekonomi. Ke sana kemari jalan kaki atau naik angkot. Tidurnya di losmen atau homestay itu pun jadi pilihan terakhir kalo atap langit sudah tak memungkinkan. Makan di warteg atau nasi bungkusan di kios kopi dan minuman dingin pinggir jalan, yg gk pernah ada menu makanannya.

Dan kesemuanya punya persamaan:

  • Sama-sama berwisata, menjelajahi tempat baru yang belom pernah dijelajahi; mengeksplorasi hal-hal baru, baik untuk kesenangan melepas penat maupun untuk makanan otak dan batin – menambah wawasan; dan
  • Pada era kekinian: mereka semua sama-sama mengandalkan teknologi dan informasi. Cuman mungkin bedanya yang kelas atas mengandalkan geskan kartu kredit, yang kelas bawah mengandalkan kuota bonus buat menjelajahi tempat-tempat baru yang asyik tapi MURAH.

Saya mengamati di kalangan bimmerfan juga demikian adanya.

Ada yang miara biemnya super perfect. Yang ini pokoknya susah dan panjang dijlentrehkannya. Biasanya kaum inilah yang di-eksploitasi di-eksplorasi oleh media massa ataupun ATPM BMW karena mendukung posisi mereka: kendaraan premium dan luxury.

Biem keluaran taon anyar. Atau meskipun yg dimainkan itu biem tuwa bmwangka, tapi budget mainannya sama sekali bukan main-main. Jumlah mmereka sangat banyak, sama sekali gk bisa dibilang sedikit, dan cukup keliatan. Pokoknya susah kalo dibilang minoritas.

Berlebihan kah mereka?

Berlebihan itu kalo melebihi kemampuannya. Kalo semuanya itu tidak mengganggu kehidupan(finansial) mereka dan justru membawa kesenangan psikologis dan membawa manfaat kepada pihak lain, ya tentu bagus banget dong ah!

***

Ada yg kelas “rombongan”. Biemnya dipiara dengan baik dan benar. Namun susah untuk masuk kelas museum, kelas kontes orisinalitas, kontes collectible-item, dsb.

Model yg ginian ini emang rombongan beneran. Jumlahnya banyak, massif. Kalo pas ada bimmerfest, ada kopdar, ada gelaran yg ngumpulkan para bimmerfan, inilah yang memenuhsesaki acara. Beberapa dari irisan segmen ini udah masuk ke kasta yg biemnya kolektibel itu tadi.

Tanpilannya rata-rata monoton: mobil ceper, velg-velg ditonjolkan eksistensinya – meski yg kesengsem kenbanyakan cuman dirinya sendiri atau sedikit orang yg berselera sama. Selebihnya, orang biasanya cuman melihat tanpa ekspresi apapun. Atau mungkin cenderung merasa aneh.

‘Mereka itu ngapain sih?’ Mungkin kayak gitu yg di benak orang.

Kebalik dengan apa yg di benak mereka, bahwa ini-itu semua, biem dan pernak-perniknya itu, adalah simbol pencapaian atas pencarian. Pencarian jati diri yang sangat didukung dengan daya dukung nominal. Kalo bukan nominal, apa lagi? Adakah yg lainnya? Kalo kita mau berani jujur: gk ada!

Ya emang itulah satu-satunya syarat dan prasyarat. Kondisi dan pra-kondisi.

Duit mereka -kaum bimmer ‘turis rombongan’- itu sama sekali bukan sedikit lho! Tapi sepertinya kelas mereka masih tidak masuk klasifikasi sebagai pihak yg diperhatikan dan dibutuhkan untuk penguatan citra merk BMW. Entah karena apa. Mungkin -meskipun berbiaya sangat muahalll- karena style/gaya miara biem mereka cenderung independen, suka-suka sesuai selera, dan kurang mendekati unsur ‘premium dan kuxury’ ala BMW.

Atau kalo bimmerfan kelas kaum turis rombongan ini tampil gaya susah, tampil gaya susahnya itu pake biaya buanyakkk lho! Bukan susah beneran.

Lebay kah mereka?

Yg lebay itu yg nganggap mereka lebay.

Semua memiliki dimensi dan ukuran – kondisi masing-masing. Sebab bisa jadi, apa yang mereka belanjakan untuk membuat biemnya jalan dan dandan, kalo ditotal masih lebih murah ketimbang total cost of ownership untuk memiliki sebuah MPV atau SUV sejuta umat. Who knows tho?

Biarkan segmen ini bergerak. Sebab merekalah yang turut membuat dunia perekonomian bergerak juga.

Akan banyak pekerja bengkel yang mendapatkan rejeki-Nya via segemn ini. Akan banyak penjual pernak-pernik dan komponen/onderdil yang berputar keuangannya karena keberadaan mereka. Akan buanyak vendor item macem-macem ini-itu dapet banyak orderan karena dinamisme mereka.

Akan terus berputar, berjalan, dan bergerak aktivitas hidup ini juga karena keberadaan mereka semua.

***

Nah, yg unik dan menarik adalah justru wisatawan sori bimmerfan kelas kere kiri. Ini ibarat wisatawan adalah wisatawan nekat. Berani berwisata, tapi makannya ala… bukan ala tapi beneran khas orang susah.

Kartu debitnya buat cadangan pulang, bukan buat belanja senang-senang.

Gayanya ngikuti pertunjukan-pertunjukan kelas berat: sendratari, theater, musik yg kesemuanya bersufix ‘jalanan’; yg berat di pikiran namun gratis di ongkosan. Padahal sebenarnya karena gk kuat aja buat mengikuti gaya hidup ala urban dan nasib mereka jauh panggang dari api, jauh tampang dari hedonisme.

Omongannya selangit, karena banyak menghabiskan waktunya dengan makan wawasan; ya sebenarnya hanya karena tak bisa banyak menghabiskan waktunya dengan uang atau membeli kesenangan dengan nominal.

Model yg ginian, biemnya itu serasa jadi korban dan tumbal. Ngisi bensin mapuluh rebu. Ada rusak diakal-akali. Mobilnya kusam di sekujur bodi. Kaca jamuran penuh daki. Velg peyang sana-sini. Tapi sok ngerti aja sama mesin elektrikal mekanikal dan perawatan mobil. Ya karena suka belajar dari kerusakannya. Cuman tak ada isi dompet untuk menjawab itu (PR) semuanya.

Kadang mengejar sebuah angan impian cita-cita pas ada rejeki nomplok, apapun itu bentuk atau wujudnya: entah ganti shock bagus, ganti ini-itu yg biasanya cuman dikadali dan diakali, atau apalah namanya. Tapi kalo ndhak ya cuman se-item itu yg bisa diwujudkan, selebihnya paling ya sekali-sekali itu aja bisa mewujudkannya.

Useless-kah keberadaan mereka? Secara ekonomi mungkin iya. Tidak banyak nominal berputar dari kalangan ini.

Tapi, tanpa eksistensi alias keberadaan porsi bawah yg biemnya acakadut amburadul ini, mereka-mereka yang berada di lapisan atasnya tidak akan pernah punya ukuran penilaian bahwa biem mereka keren!

Ya apa ya?

Well, yg model kere kiri di barisan aliran terakhir ginian ini, yg selain saya hayo ngacung!

Yakh koq cuman kalian doang sih? Udah ah, bubar aja kita, gk usah bikin genk dan komplotan aliran kere kiri! Diasepin sama yg biemnya kinclong dan kenceng, tahu rasa ntar! Ayo sana pada pulang! Diapain gitu sana biemnya, pokoknya ada kesibukan dan sok perhatian ama biemnya sana! Gk usah pake banyak nggosip! Huh!

ITULAH dunia. Itulah turis. Itulah bimerfan. Dan ini semua cuman sudut pandang sangat subyektif yang saya ungkapkan dengan pemikiran yg sepenuh asal ngawur dan asal njeplak.

Kalo toh ini nyata, bagusnya ini posting tetep aja kita anggap ngawur. Jadi jika bagi Anda apa yg saya utarakan ini ngawur, ya kan udah saya bilang tadi!!! Bahwa ini tuh ngawur dan asal njeplak! Gimana sih…

– FHW.
Gaya turis, Sok ala backapcker.

Advertisements

Ford Ecosport Storm

Pertama kali melihat sosok Ford Ecosport di jalanan Indonesia, saya melihatnya di Jakarta kala itu pas awal-awal dia abis di-launching, saya terkesima dengan sosoknya. Aneh, tidak memunculkan kesan lucu, tapi unik dan menarik.

Mobil urban, dan terlihat cocoknya buat dinaiki pria/wanita pekerja ketimbang anak-anak kuliah – yang pantesnya mbawa Brio atau Jazz atau Yaris; kesan subyektif saya semacam itu. Ya tapi siapa yg bilang gk cocok kalo Ford Ecosport dinaiki anak SMA sebagaimana Jazz atau Yaris dinaiki seorang supervisior atau bahkan manajer? πŸ˜€

Mungkin karena Ford Ecosport ini produk global, bisa dibilang desainnya justru khas Ford banget, tidak bernuansa atau bernafaskan region tertentu. Platform B2E-nya sama dengan Ford Fiesta kalo di Indonesia sini. Ford Ecosport yang kita kenal adalah generasi kedua. Generasi pertama dibikin di Brazil untuk pasar Amerika Selatan. Baru yang generasi kedualah dirakit di banyak tempat, yakni Rumania, Brazil, China, India, dan Thailand untuk dijual buat pasar yang lebih global.

Saya tidak tau, untuk pasar Indonesia dapet mesin apa. kayaknya cuman 1,5l dengan 109 ps dan 140 Nm. Entah juga transmisi manumatiknya itu yg versi 4-speed automatic atau 6-speed PowerShiftβ„’ dual-clutch transmission (DCT). Kalo versi globalnya sih komplit; mulai mesin NA 1,5l 1,6l 2,0l juga diesel 1,5l hingga mesin buas Ecoboost 1,0l yang cc-nya paling imut tapi bisa menyemburkan tenaga 120 ps dan 170 Nm, melebihi keluaran dari mesin 1,6l yg 60% lebih gedhe cc-nya itu.

Ford Ecosport ini kerasa beneran hawa mobil internasionalnya. Jok ada arm rest-nya meski cuman di supir; ada lumbar support; setirnya juga dapet teleskopik selain tilt. Bukaan pintu belakangnya juga masih ala setir kiri: dibuka ke kiri. Mirip Mercy Klasse-G. Atau Chevy/Isuzu Trooper. Karet pintunya pun doubel dan tebel. Plus ada lis dalem berlapis kain macam mobil premium.

Switch/saklar lampunya juga model puteran di dashboard, bukan puteran di ujung tuas sein. Tuas sein/wipernya pun “kebalik”: sein di tuas kiri dan wiper di tuas kanan. Akrab banget dengan gaya mobil Eropa. Spion tengah nih: ada fitur auto-dimming.

Lampu dan wipernya pake autosensor. Plus ada vanity-lamp di balik visor, meski manual pake saklar pencet nyalakannya. Kalo di biem tua kita kan udah ostosmatis ikut bukaan cermin/sunvisornya. Dapet sunroof, meski gk ada handgrip untuk semua penumpang. Detail tentang mobil ini sebagaimana saya cuplik sekilas di atas bisa Anda dapatkan di wiki atau beberapa review dari youtuber dalam negeri.

***

DI Kediri, saya koq seperti belom pernah melihat unit ini lalu-lalang di jalanan. Mungkin ada, tapi saya kelewatan. Maklum, di sini kan gk ada dealernya Ford. Ford apapun, di Kediri sini lumayan jarang terlihat, termasuk Everest juga Fiesta. Ranger masih lumayan lah. Tapi jika Anda tiap hari di jalanan, belom tentu tiap hari -bahkan mungkin seminggu sekali- Anda liat Ford. Intinya begitu kurang lebihnya.

Dan akhirnya pukauan saya kepada si Ecosport memudar seiring waktu.

Hingga selusur-selusur dunia maya, saya nemu berita tentang Ford Ecosport edisi Storm.

Sama kayak Ecosport generasi pertama, Ford Ecosport Storm ini dirilis oleh Ford Brazil lagi.

Ubahannya, intinya dia lebih offroad-looks ketimbang standarnya yang urban-looks. Kalo Motor1 bilang, dia adalah Raptor Wannabe. Raptor sendiri adalah versi dedicated-offroad dari truk-pikap F-Series.

Sungguh Ford Ecosport Storm ini emang keren. Khususon grill-nya yang Raptor-looks itu. Asli keren.

Ditambah lagi dengan warna velg yg sangar bingar, wiks.. bikin merinding disco melihatnya. Fender item dan juga aksen item di bodi samping atau kap mesinnya mempertegas kesan offroad ini. Meski umpama saya yang memilikinya, saya akan lepas itu stiker di samping dan di kap mesin. Biar lebih keliatan simpel dan rapi, gk pating grΓͺmbΓ¨l. πŸ˜€

Yup, Ecosport Storm emang kesannya offroad, lebih dari sekedar cross-over. Karena Ecosport itu sendiri adalah sebuah CUV/compact utility vehicle ketimbang sekedar cross-over.

Dan kemudian saya kangen lagi tentang kisah si Ecosport yang sekali pun belom pernah saya jamah.

Ada yg mau minjemkan Ford Ecosport-nya ke saya buat saya test? πŸ˜€

IMHO, CMIIW.
– FHW Raptor Storm

Android 4G Pertama di Dunia

HTC Evo 4G, sebagai merk dagang dia musti diketik huruf kapital: EVO 4G, berjalan di jaringan 4G WIMAXX. Juga dipasarkan sebagai HTC EVO WiMAX ISW11HT di Jepang. Ponsel buatan HTC – pabrikan Taiwan ini oleh operator Sprint USA jadi ponsel Android flagship mereka, melampaui Palm Pre, Samsung Instinct, dan Motorola Razr V3. Ponsel ini diluncurkan pada tanggal 4 Juni 2010.

Spek ponsel ini terbilang gambot. Dengan dimensi 122 x 66 x 13 mm dan berat 170 gram. Mengingat ponsel era kekinian bisa dibilang rata-rata tebalnya udah di bawah 10mm.

Bentang layarnya 4,3″. Masih jenis TFT dengan warna 65K – belum jutaan warna ala ponsel sekarang dan ber-resolusi 480 x 800 pixles. Karena model papan atas, layarnya udah dilapisi corning gorilla glass.

CPU-nya masih 1 Ghz, bahkan belum dual-core apalagi quad-core sebagaimana jamaknya ponsel sekarang. Menjalankan Android 2.1 Enclair yang bisa ditingkatkan ke Android 2.3 Gingerbread; dengan UI HTC-Sense.

RAM-nya 512 MB dengan memory internal “cuman” 1 GB. Ada slot memory tambahan yang mendukung hingga 32GB. Dalam penjualannya langsung dikasih memory tambahan 8 GB. Entah berapa harga MMC 32 GB kala 2010 itu. Mungkin 500 RB. Kalo sekarang sih sekitar 100an RB.

Kamera ber-resolusi 8 MP autofocus, udah dual-LED flash! Bisa geo-tagging. Resolusi ngrekam videonya paling gedhe udah HD 720p. Sementara kamera depannya 1.3 MP.

Koneksi Wi-Fi masih 802.11 b/g belom n. Mendukung bluetooth 2.1 A2DP. GPS ada-lah tentunya. Colokan daya dan data model micro-USB 2.0

Fitur lainnya adalah accelerometer, proximity, compass. Messaging-nya SMS bisa threaded view, MMS, Email, Push Email, IM. Browser HTML mendukung Adobe Flash.

Dilengkapi juga HDMI port, yang mana di ponsel sekarang malah pada amblas.

Tenaga baterenya 1500 mAh, removable Li-Ion. Lama stand-by hingga 146 jam dan lama bicara hingga 5 jam 12 menit.

HTC EVO 4G ini lantas dilanjutkanoleh adiknya: HTC EVO 4GLTE. Layarnya lebih gedhe jadi 4,7″ dengan resolusi HD 720 x 1280 pixels. Prosesornya naik jadi 1,5 GHz dual-core. RAM udah meningkat dua kali lipat jadi 1 GB dan memory internalnya meluas jadi 16 GB. Batere 2000 mAh dan wifi udah mengusung draft IEEE 802.11 A,B,G,N. Bluetooth pun udah versi 4.0 yang kesemuanya dijalankan oleh Android 4.0 Ice Cream Sandwich (ICS).

KEDUA ponsel tersebut adalah ponsel 4G. Dan sekarang saat posting ini saya ketik, juga masih era 4G belum 5G yg digadang-gadang akan segera datang. Tapi, mengamat-amati lamat-lamat HTC EVO 4G ini koq serasa mengamati ponsel era jadul gitu ya?

Dunia emang bergerak super cepat.

– FHW 4G

Trik Memilih BMW Seken

Dapet pertanyaan kayak gini, “Di-compare dong amtara tipe ini vs tipe ini vs tipe ini; yg komplit semuanyalah, trus value masing-masing model biar kami yg ekstra nubie ini paham jika nanti menetukan pilihan, apalagi yg tinggal di kota kecil macam kami ini,”

Kalo super ekstra nubie, prinsipnya gini aja: beli BMW yg se-baru mungkin yg kitanya kuat ngangkat plus siap budget maintenisnya.

Soale kalo udah keterlaluan tuanya si BMW, dia udah pindah posisi dari mobil fungsional ke mobil hobi dan koleksi. Maintenisnya malah ngelunjak, soale tingkat kerusakannya asumsinya makin parah dan partsnya khawatirnya makin langka. Kecuali njenengan bersedia menyelami sedalam-dalamnya sehingga bisa me-manage waktu dan budget buat hunting parts atau nyari subtitusinya sedapat-dapatnya.

Kalo asal terbaru mungkin, jatuh perawatannya malah enak/gampang. Cuman gampang bukan berarti (relatif paling) murah lho!

Jadi kalo misalnya budget siap berapa nih, taruh kata 50 atau 100 atau 150 atau mungkin cuman 25 misalnya; ya dari kesiapan budget itu baru hunting yg sebaru mungkin yg bisa diangkat plus budget itu termasuk maintenis awalnya. Soale biar gimana-gimana, kita beli mobil buat dipakai; bukan mindah mobil ngangkrak dari garasi orang ke garasi kita.

BERAPA yang musti disiapkan buat maintenis/benah-benah awal?

Ini relatif banget. Dan banyak patokan yg beredar di beragam kalangan bimmerfan.

Tapi setidaknya, perlu biaya buat tune-up – ganti semua fluida: oli mesin, oli transmisi, oleh gardan, minyak rem, minyak power-steering, air radiator, dll dll; ganti semua filter: filter bbm, filter oli, filter udara, filter kabin/filter AC; ganti bvusi dan semua belt; dll. Tune-up standar gitulah. Kecuali sama sellernya disebutkan kalo itu semua barusan diganti.

Termasuk drier dan freon+oli kompresor AC juga. Sukur-sukur sekalianseal-seal sambungan AC. Ini sering bikin masalah bocor. Drier yg udah kadaluwarsa juga bikin kompresor kasihan kerjanya ntar. Oia, avap bersihkan juga.

Plus beberapa hal yg kita curigai udah rawan ganti: kaki-kaki, ban, water-pump, thermostat, dll. Karena itu semua tersembunyi dan rawan bikin runyam kalo ndhak diganti. Ya sekali lagi kecuali kalo sellernya bilang udah ada penggantian itu sebelumnya.

Kalo mau joss lagi, ya restorasi. Mesin turun setengah buat dibersihkan, semua gasket diganti baru, termasuk seal-klep. Serta pastikan bearing-bearing dalam kondisi lancar: bearing AC, tensioner, dll.

Itu semua kalo dikerjakan di mobil lawas sejuta umat, biayanya cuman sekian persen dari harga perolehan mobil. Kalo di BMW, itu semua bisa sama bahkan melebihi harga beli mobilnya!

Suka ndhak suka, senang ndhak senang, percaya ndhak percaya, plis jadikan ini pegangan. Dan inilah emangf yg bikin harga biem jatuh hancur. Soale maintenisnya emang sering mengejutkan dan bikin shock bagi sesiapa yang memaksakan persepsi maintenis biem kayak mobil jepangan pasaran.

#Saya duliu beli biem juga bisa dipakai dan larinya kuencang koq! Meski sekarang ngangkrak. πŸ˜› πŸ˜› πŸ˜›

Secara sederhana, yang musti kita pegang kala nyari biem seken secara umumnya:

  1. Prinsip ngambil biem adalah se-baru mungkin/semuda mungkin tahunnya. Biem itu newer is overall better.
  2. Jangan habiskan budget buat ngangkat aja. Budget yg tersedia musti dipecah/disiapkan buat: ngangkat + benah-benah awal.
  3. Nah, dari budget yg disiapkan itu nantinya baru bisa diarahkan bagusnya ke model apa.
  4. Mau apapun tipe biemnya, persyaratan dasarnya adalah: kita musti tahu bengkel rujukan, paham teknis-teknis dasar: cek/nambah air radiator – kebanyakan tipe biem pakai sistem bleeding, dan paham semua makna/maksud indikator di instrument-cluster. Wajib! Terserah gimana cara Anda.

Tambahan dikit: pas hunting upayakan printhilan slow-movingnya dalam kondisi bagus. Slow-moving ini macam parts/kondisi interior, lampu-lampu, dll. Soale bikin bagus itu semua, budgetnya alamak bener deh!

Nah, di atas saya bayangkan: dari budget yg disiapkan itu nantinya baru bisa diarahkan bagusnya ke model apa. Pilihan model ini, nantinya akan disesuaikan dengan selera Anda.

Akan ada sedikit kompromi di sini. Seri 3 mungkin harga perolehannya sedikit lebih tinggi ketimbang seri lainnya, khususnya seri 5. Karena biem ini emang yg paling pasaran dan paling dicari. Maklum, rasa dan sensasinya tetep biem, sementara dia relatif paling irit dan maintenisnya paling mudah+murah diantara seri-seri biem lainnya. Meski per varian nanti bisa saja menghasilkan kesimpulan yg berbeda. Tapi secara umum bisalah kita bilang kayak gitu kan ya? πŸ˜€

Kalo misalnya satu varian, misalkan E34 M20 vs E34 M50 vs E34 M50TU (Vanos); ya tetep prinsipnya yg terbaru mungkin. Yakni M50TU. Karena kalo dalam kondisi optimal, tentu varian terbaru yg meberikan optimasi paling bagus. Optimasinya pada umumnya: bensin lebih irit, namun tenaga lebih gedhe. Kalo perkara maintenisnya gimana, itu tergantung kondisi si mobil aja kalo khusus case spesifik kayak gini.

Jadi inti dan kuncinya sih ya itu tadi: sebaru mungkin yg budget kuat ngangkat plus sekalian maintenisnya.

DARI segala susahnya nyari biem plus maintenis awal tersebut, sayangnya biem cuman ngasih satu hal saja: kepuasan tiada tara nan tak tergantikan.

Gak percaya? Terserah koq. πŸ˜› πŸ˜› πŸ˜›

IMHO, CMIIW. Ini cuman pikiran subyektif saya pribadi, monggo kalo ada yg mau ngoreksi atau nambahi.

Moga membantu & bermanfaat. Terima kasih sudi meluangkan waktu membaca clometan saya.

– FHW TU Non-Vanos Halah Mbuh

Philips Retro

Menjelajahi dunia maya, saya lagi pingin mengkoleksi gambar-gambar produk dari Philips yang bertema retro. Umumnya produk-produk ini tak dipasarkan di Indonesia. Bahkan di sononya, beberapa produk juga sudah diskontinyu.

Jika dulu produk-produk tersebut masih berteknologi analog, yang tentunya sudah sedemikian teramat canggih pada eranya, plus desain yang genuine: tak ada sebelumnya; maka tentunya di era kekinian produk-produk tersebut sudah pada digital semua.

Itu Philip Boombox, atau tape-compo lazim disebutnya di sini pada era 90an, slot kasetnya berisi colokan USB. Buat flashdisk tentunya. Atau mungkin ada CD-playernya di dalamnya situ.

Entahlah. Saya tak terlalu menelusuri sepk masing-masing produk. Saya hanya terkesima dengan desainnya yang luar biasa. Luar biasa keren, dan bisa jadi inspirasi: semacam melanggengkan tradisi yang adaptif dengan kondisi era kekinian.

BTW, anak-anak sekolah sekarang ngerti tape-compo atau mini-compo enggak ya? Yang jelas kalo si kecil kami sih enggak ngeh. Meski masih ada mini-compo peninggalan jaman kuliah ibunya di rumah.

Thanks Philips, you inspire us.

– FHW double-deck

Philips Original Radio ORD7300

Philips Original Radio ORT7500/10

Philips Original Radio Mini ORD2100B/37




Philips Retro Radio AE2730

Philips Sound Machine OS685/05



Philips Retro Vinyl Spinner OTT2000


TAMBAHAN

Philips Classic LED, bohlam LED serasa bohlam pijar/filamen.



Nintendo Classic Mini, mengingatkan era 90an. Permainan di dalamnya pun berisi permainan era 8bit kala itu.


Honda Super Cub



Honda Super Cub 2017, lampunya LED, tentunya.

Chevrolet HHR, melahirkan kembali van 60an.




Chevrolet SSR, melahirkan kembali truk 60an.



FORD Thunderbird



Chrysler PT Cruiser


VW New-Beetle


MINI

Korban Matic

Di kampung halaman pedalaman Kediri gini, sejauh pengamatan sepintas saya, publik masih kurang doyan sama mobil matic. Banyakan maunya pada mobil manula. Eh manual.

Jadinya kayak dua temen saya. Yg pertama kali nyetir mobil matic kami. Keduanya sama-sama mengutarakan report yg sama: pas enak-enaknya nyetir, kaki kiri nginjek rem sekuat tenaga, berasa nginjek kopling yg emang biasanya diinjek sekonyong-konyong bukan pelan-pelan.

Alhasil, seisi mobil pada mencelat ke depan.

Meski bukan kategori apa-apa dan mencelatnya aman-aman saja, sumpah serapah keluar dari para penumpang.

Kebalik sama di luar negeri yang mayoritas kendaraan di sana bisa dipilang “pasti” matic. Saya pernah mbaca di suatu media, sayangnya pas saya googling ulang koq belom ketemu: ada maling yg udah ngerusak mobil buat diembat. Tapi si maling ngurungkan niatnya karena itu mobil transmisinya manual.

Well… Sekarang trend penjualan mobil di Indonesia, khususnya di kota besar, yg laku malah yg matic. Jalanan semakin macet, orang udah males ngopling.

Begitulah, beginilah ketikan iseng saya di siang ini.

– Freema Bapakne Rahman
Manumatic
Triptonic Tiptronic Steptronic Manumatic
Matic
Automatic
Manual

Nyetir Lagu, Mendengarkan Kendaraan

Bukannya pro atau kontra sama pak plokis isilop, tapi kalo saya pribadi emang juarang ndengerkan musik di perjalanan.

Bukannya gk pernah apalagi gk pernah sama sekali, pernah dan lumayan sering juga koq.

Cuman overall saya lebih suka tanpa musik, atau volume lirih/secukupnya aja muternya; dan enakan ndenger radio atau ngobrol sama istri.

Jadi, haram bin mubadzir nbih pasang audio kenceng-kenceng? Saya ndhak bilang gitu. Itu case-nya macam lampu HID yg warnanya buuuiiiruuu. Atau stop/tail-lamp yg harusnya merah dijadikan putih.

Boleh koq, kalau keperluannya kosmetikal-artistik, misalnya untuk kontes, karena itu -katakanlah- ada unsur keindahannya. Yaaa mobil dalam satu sisi tertentu kan juga merupakan benda seni, sebagai makanan psikologis. Atau apalah alasannya terserah. Ini sangat relatif sekali. Ndhak bisa di-gebyah uyah, di-judge dengan pukul rata.

Tapi kalo udah berbicara jalan raya, ya itu: aturan adalah di atas segalanya. Lamnpu depan buiru, stop/tail-lamp putih, ya hukumnya haram jadah. Membahayakan diri sendiri dan terutama orang lain. Bisa sampe nyawa urusannya. Kasarnya kata: gara-gara stop/tail lamp putih itu bisa jadi nyawa orang melayang. Bukankah ini sama artinya dengan pembunuhan (berencana yg dilakukan tanpa sengaja)?

Yakh intinya sih: driving is driving. An sich.

Kita musti bisa nyetir/mengendalikan lagu (agar tak mengganggu) dan mendengarkan, merasakan, get the feel dan keep in touch dengan kendaraan. Jangan samapi pas enak-enaknya ndengerkan musik kenceng di kabin, gk sadar kalo bumper lepas (ya embuh apa sebabnya, pokoknya contohnya gitu. πŸ˜› Weeekkk! πŸ˜€ Hehehehehehe)

MUSIK, radio, ngobrol itu mengganggu? Tergantung kitanya sih.

Pas istri nanyak sesuatu dan saya lagi butuh konsentrasi, ya jawabannya saya pending dulu bentar koq. Usainya baru saya bilang ke istri, “Eh nanyak apa tadi?”

Trus saya di keplak mesra. Saking mesranya sampe pipi saya panas, berasa ngecap tangan gitu.

Istrimu mesra gitu juga ndhak sama kamu lik?

Regards,
– Freema Bapakne Rahman
Supir keluarga.

*********

Ini penjelasan psikolog tentang musik di mobil itu:

Tapi memang saat mendengarkan musik di mobil, musik bisa membuat perhatian Anda teralihkan saat menyetir, atau istilah kerennya distraksi.

Menurut psikolog Agatha N. Ardhiati, 88 persen pengendara selalu mendengarkan musik di dalam kendaraan, sementara sisanya kadang-kadang saja atau tidak mendengarkan musik.

“Faktor-faktor distraksi adalah apa yang kita lihat, dengar, cium/hirup, rasakan, pikirkan. Sebenarnya walaupun lewat indera pendengaran, tetapi lewat musik kita bisa memunculkan emosi, perasaan tertentu, dan itu yang membuat jadi distraksi saat nyetir,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Alasan kedua musik bisa jadi distraksi saat menyetir adalah kita bisa tiba-tiba jadi mengkhayal, memikirkan pengalaman masa lalu.

“Jadi bukan hanya musiknya saja, tetapi efeknya bisa memunculkan emosi/perasaan tertentu,” ujar Agatha.

Jadi bagaimana mendengarkan musik yang benar dalam mobil? Dia menyarankan pengguna kendaraan memilih lagu-lagu atau membuat playlist yang bisa menjaga emosi.

“Kalau lagi galau, jangan setel lagu-lagu galau, diganti ama yang senang. Pilih musik yang sesuai yang bisa berfungsi menjaga perasaan, kalau tadi senang tetep senang,” ujarnya.

Namun ada kalanya saat nyetir kita benar-benar harus mematikan musik, misalnya saat parkir kendaraan.

“Matiin saja musiknya, jangan sampai tukang parkirnya sudah bilang setop-setop eh malah ‘dug!’ udah deh,” ujarnya.

Saat melalui jalan tikus yang sempit, kadang kita perlu mematikan musik, karena saat itu butuh konsentrasi yang tinggi.

“Tetapi kalau kalau situasi normal, biar moodnya bagus menyalakan musik sih oke-oke saja,” pungkasnya.

Lengkapnya silakan menuju dimari https://oto.detik.com/berita/d-3894221/heboh-larangan-dengarkan-musik-di-mobil-ini-penjelasan-polisi