Menjaga dan Merawat Indonesia

Bismillahirahmanirahim.

Sejak pilpres-pilpresan 2014 silam, saya sudah menetapkan diri sebisa mungkin menghindari posting statuta politik. Memilih netral (ber)politik bukan berarti tidak mencintai bangsa dan negara ini kan?

Hingga sampe Pilkadal DKI yg bikin linimasa saya tampak teramat sangat njancuki, saya masih bisa menahan diri untuk ndhak terseret arus menggempur dan menempeleng sebagian dari kedua belah pihak yg menjijikkan di linimasa.

Tapi ketika sekarang di linimasa mulai muncul suara-suara kecil ribut case Cak Nun vs PBNU ini, saya gatel tergelitik ingin ikutan mengungkapkan perasaan.

Dari pengamatan subyektif sepintas saya, yg ribut buta masalah Cak Nun vs PBNU, itu:

  1. Bukan dari kalangan Maiyah atau Nahdliyin. Mereka cuman nyari kesempatan untuk memecah-belah dua kubu yg selama ini, ibarat diagram Venn, mereka adalah bidang interseksi/irisan yg sangat luas. Nyaris bisa dikatakan, tepatnya dikiaskan, bahwa jemaah Maiyah = Nahdliyin. Tapi ini tidak mutlak lho! Ini cuman kiasan, bukan faktualisasi sebenarnya.
  2. Nahdiyin gagap yg sotoy.
  3. Maiyah gagap yg sotoy.

“Ributnya” case Cak Nun vs PBNU ini sangat berbeda dengan tongkolnya kedua kubu: pro-Jokowi vs anti-Jokowi atau kubu pro-Ahok vs anti-Ahok. Mereka yg mendukung atau anti dengan cerdas dan cinta, terpaksa harus tergusur oleh mereka yg mendukung dan anti dengan tongkol dan dungu ~> ini yg dominan mendominasi linimasa dunia maya; dalam pengamatan subyektif sepintas saya.

Sementara dalam case Cak Nun vs PBNU, isinya justru jemaah yg sama-sama bermajelis taklim: menyimak sungguh-sungguh apa kata guru, ustadz, mursyid, kyai.

Maiyah maupun Nahdliyin, adalah dua dari segenap kekuatan besar dalam menjaga dan merawat Indonesia.

Satu-dua (dari kalangan Nahdliyin atau Maiyah) mungkin terlihat reseh. Tapi sangat bisa dikesampingkan.

Well sekali lagi, “perseteruan” ini seru. Serunya adalah karena mereka lebih banyak saling menggali satu sama lain; alih-alih saling menguruk satu sama lain sebagaimana umumnya perseteruan dua kubu yg ada. Kalo saya bahasakan, ini seperti dua saudara yg berdebat sengit dan keras bagaimana menyelamatkan warisan orang tua, bukan berebut mati-matian jatah warisan orang tua. Intinya, banyak adu cerdas dalam “perseteruan” ini ketimbang adu bolot.

Kalo (ada) yg reseh beneran dan banyak bolotnya, cek aja, dia kayaknya nyaris bisa dipastikan bukan Nahdliyin dan bukan Maiyah.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman,
Muslim WNI.

Foto nemu dari internet.

Rawon Eh Pecel Eh Mobil Setan

Habis Dodge Challenger Hellcat, muncul lagi varian paling gaharnya: Dodge Challenger SRT(c) Demon.

Korona di mata (baca: dual-headlamp) Dodge Challenger ini mengingatkan Anda pada sesuatu? Yup, mirip BMW Angel Eyes yg kondnag itu. 😀 Cuman kalo itu orang Eropa pake nama malaikat (BMW Angel Eyes), itu orang Amerika pake nama setan (Hellcat, Demon).

Ini umpama kalo dari Indonesia, mustinya nama-nama kayak gini mustahil dipakai resmi sama pabrikan.

Bayangkan kalo ada Toyota FT86 Demit; Lexus IS300 Setan Edition; Nissan Patrol V8 Gendruwo Limited; Suzuki Every Pocong Cekli – Urban Style Lincah; Daihatsu Tuyul Pickup – Jagoan Cari Duit; Nissan Kuntilanak – Lovely Family Van; apa ndhak gimana gitu kalo sama empunya dibawa jumatan ke masjid? 😀

Tapi ndhak ah, dari Eropa juga banyak nama setan: Lamborghini Diablo (devil); The Red Devil; Rolls-Royce Ghost; dll tambahkan dong…

Mirip varian pecel sama rawon era kekinian ya?

– Freema HW

Body-Kit BMW

Cantumin di komen dong Om yg sudah menggunakan spoiler 😀

Demikian trit di angkringan-online. Dan ndhak ada yg ngomeni.

Well… Kayaknya ndhak banyak yg modif aneh-aneh BMW-nya.

BMW itu emang ndhak kayak mobil Jepang, yg selalu cantik kalo dimodif apapun: bumper dijadikan besar, dikasih wing-spoiler, dikasih side-skirt lebar, dll dll dll.

BMW bisa digitukan, tapi susah untuk sembarangan ngemodif, apalagi kalo modelnya cuman sesuai selera kita aja. Dijamin, pasti jeleknya ketimbang cakepnya,

Ngemodif tampang BMW, biasanya yg dilakukan rekan-rekan adalah beli add-ons dari (single-)tuner, alias tuner yg mengkhususkan diri buat ngemodif BMW; atau tepatnya satu/beberapa-sedikit pabrikan khusus, baik ngemodif tampang atau performanya, tapi biasanya sepaket keduanya sekaligus, karena modifan pada tampang BMW itu buat mendukung peningkatan performa pada sektor dapur pacu atau kaki-kakinya.

Beberapa nama pemain ini antara lain Hartge, Alpina, ACS, Breyton, Racing Dynamics, BBS, dll.

Dan wujud modifan di BMW itu biasanya: sederhana, tak terlalu kentara, “sedikit berubah” saja. Dengan kata lain: susah dibikin ekstrim.

Kenapa?

Saya tak tau jawabnya. Mungkin ini berkaitan dengan bahasa desain produk. Desain BMW, atau kebanyakan mobil Eropa, cenderung konservatif, alias ndhak banyak gurat-gurat perubahan (ekstrim) yg bisa hadir.

Ferrari, dari awal sampe sekarang bentuknya seperti gitu-gitu aja, serasa cuman berubah bentuk lampu aja pada “bodi yg terus sama”.

Porsche, dari awal sampe sekarang ya “gitu terus bentuknya”. Seperti satu mobil yg terus menerus disempurnakan. Bandingkan dengan Nissan GTR generasi awal sampe terbaru, seperti mobil yg selalu baru.

BMW, desain bodinya sebenarnya berubah lumayan drastis. Tapi karena ada ikatan elemen desain yg konsisten: kidney-grill, hofmeister-kink, layered-dashboard, dll. seolah tampangnya seperti di-facelift aja terus-terusan.

Yg agak bikin “males” itu kalo membandingkan Alphard vs Caravelle. Alphard sekali keluar baru, desainnya langsung berubah frontal. Caravelle? Seperti seolah pihak VW ndhak punya desainer lagi dan cuman ngubah dikiiittt aja dari tampang lamanya.

Alhasil, dengan garis desain yg konservatif, desain-desain mobil Eropa jadi lebih timeless; tetep ciamik meski udah tua; bahkan makin tua makin ciamik, khususon yg kerawat dengan baik dan benar (caranya dan duitnya. Hiks…)

Dan di BMW, sebenarnya sebelum ngomongkan body-kit, hal terpenting yg musti diperhatikan sebenarnya adalah kesehatan si mobil duluan: tune-up, perawatan, dan perbaikannya.

BMW yg sehat, segalanya sudah bisa didapat: melaju kencang, stabil, manuver lincah, nyaman melibas asbal growal, dan enteng tatkala kick-down (tancap gas mendadak).

Ditambah AC yg dingin dan segar, lupa deh kalo ini cuman mobil 9seken) yg seharga setengah dari mobil sejuta umat. Bahkan lupa juga deh kita sama add-ons body-kit, apalagi body-kit asal-asalan yg ndhak jelas tampang dan nuansa desainnya gitu.

Itulah kenapa, di jalanan kita susah banget nemui BMW yg pake body-kit “aneh-aneh”: bumpernya gambrot, pake wing-spoiler, pake side-skirt luebar, dll dll dll. Karena kalo bukan (replika) dari single-tuner, dijamin jelek, pasti jelek!

Karena apa?

Sesungguhnya saya ndhak tau kenapa pastinya.

Tapi satu garis kecil yg saya dapati: ketika ada bimmerfan cuman sibuk dengan body-kit (jelas punya duit ini pastinya) dan tak hirau/tak peduli (belajar) gimana ngerawat mobilnya, bisa disinyalir itu biemnya dalam kondisi ancur tak kentara.

Tapi ini cuman garis kecil, bukan garis besar.

– Freema Bapakne Rahman

Newer Overall Better

Saya dari Malang pengguna E36 tahun ’96.
Rencana mau ganti ke E46 tahun 2004 atau E90 pre-facelift.
Sudah sempet googling soal keduanya.
Mungkin disini ada yg make E46 atau E90, mohon review-nya ya: soal kenyamanan, penyakit, dll.
Matur suwun.

Demikian sebuah posting pertanyaan di angkringan-online.

Saya coba awali mancing perkara dulu, moga-moga di bawah ntar ada yg mbetulkan.

Begini…

  1. Prinsip dasar teknis biem (seken) itu: newer is overall better, tapi juga makan duit lebih banyak. Jelas, karena teknologinya lebih update, maka ongkos bedak dan gincunya juga ndhak sembarangan.
  2. Prinsip dasar ekonomi mbeli biem seken adalah: jangan habiskan seluruh budget hanya untuk membeli. Pecah jadi dua segmen: ngangkat mobilnya + biaya benah-benah awal.

Berapa biaya benah-benah awal ini?

Ini yg sangat relatif, tergantung tipe, tahun, dan kelangkaannya. Tipe dan taon yg udah kelewat tua maka maintenisnya justru mungkin akan lebih mihil ketimbang tipe dan taon pasaran.

Tapi prinsipnya: makin baru makin banyak biaya maintenisnya. Ini teori. Praktiknya di lapangan bisa aja sangat kasuistis.

Berapa kisarannya aja untuk biaya benah-benah awal ini?

Lebih detailnya kita bahas di angkringan-online saja. Soale rentan berubah, agak riskan kalo saya cantumkan di sini. Soale mungkin saat posting ini dibaca lagi suatu saat kelak, nilai-nilai angkawinya sudah berubah terus, kayak posting Memilih BMW yg parameter angkawinya udah berubah karena itu posting saya ketik taon 2011, enam taon silam. 😀

***

PERIHAL komparasi teknis antara E46 vs E90, tentu dari sisi keseluruhan (overall) akan jauh lebih maknyusss E90: dimensinya, fiturnya (udah iDrive), dll. Juga rasio power mesinnya.

Tapi ya itu, buat mbenahi audio E90 aja udah setara nginstall audio kelas hi-end karena saking ribetnya dan semuanya saling terintegrasi. Sepintas yg tampak mata: itu monitor sama head-unitnya kan udah ada (installed) dan terpisah posisinya tho? Demikian sedikit petuah yg ane denger langsung dari suhu (suka huru-hara) Lik Abi Bintara yg belakangan ini nyaris ndhak pernah posting karena sedang sibuk “ngetik” pake mesin ketik yg empuk dan ginjur-ginjur. (Kecuali pas pitanya merah, mungkin doi nulis pake tangan). 😀

Belom lagi transmisi E90 yg udah mekantronik: gabungan dari mekanikal dan elektronis. Beda sama E46 yg masih mekanikal di dalam jeroan transmisinya, katakanlah demikian sederhananya.

Ribet? Mahal? Tapi canggih? Jelas, wong teknologi baru bin mutakhir yg mungkin baru akan hadir sepuluh taon lagi di mobil sejuta umat.

Sementara E46, meski saya pribadi masih belom bisa menerima keberadaan sisi teknis (apalagi sisi ekonomis)nya mobil ini, sudah relatif mudah ditangani ketimbang E90.

Cuman bawaan khas mobil tetep ada. Misal gasket yg musti diganti tiap sekian puluh rb km (saya lupa, moga-moga rekan-rekan E46ers ada yg ngoreksi); atau konstruksi kaki-kakinya yg sudah secanggih seri atasnya (E39/E38) dengan bahan full-alumunium: menjamin kenyamanan berkendara tapi ya gitu, kurang repairable untuk bimmerfan kelas saya (saya cocognya sebenarnya cukup Kijang lawas saja, bukan biem. 😀 Hehehehehe…).

Bahkan kalo ngganti alternator E46 dg ampere yg lebih tinggi pun perlu penyesuasian via diagnostic-tool (scanner). Tapi ini bukan hal yg ribet. BMW sejak era akhir 90an sudah wajib musti ditancepkan ke diagnostic-tool kalo mau ngrawat/repair. Yg ndhak wajar justru kalo ndhak ditancepkan scanner gitu: antara mekaniknya hebat luar biasa atau entahlah. 😀

Tapi ya gitu, nyari printhilan E46 secara umum rasanya (jauh) lebih murah ketimbang E90. Head-unitnya pun bisa diganti pake Dynavin, ajib deh, umurnya secara loncat semuda E90.

Tapi ya gitu, harga Dynavin ini sendiri juga ajib. Bahkan kalo mobilnya dijual, biasanya Dynavin-nya dilepas dan dijual terpisah, malah lebih mahal jatuh dapetnya.

***

JADI kesimpulannya, maaf saya ndhak bisa menjlentrehkan sisi teknis dari keduanya. Tapi sebelum mengupas sisi teknis lebih lanjut, intinya saya rasa balik ke itu tadi: seberapa siap budget kita mau ngangkat.

Kalo budgetnya cuman siap untuk ngangkat E46 plus benah-benah awalnya, saran saya nantinya jadikanlah salah satu E46 terbaik yg ada di jalanan Indonesia: yg kondisinya dibenahi semua mulai kaki-kaki, gasket-gasket, waterpump, dll. dll. Jadi tinggal pakai dan bisa dapet joy of driving.

Tapi kalo budgetnya bisa siap untuk ngangkat E90 plus benah-benah awalnya, tentu saya pribadi menyarankan ambil E90. Karena dia lebih baru dan overall lebih bagus ketimbang generasi sebelumnya.

Secara keseluruhan, bukan parsial, saya rasa BMW tidak pernah membuat generasi berikutnya lebih jelek dari generasi sebelumnya. Mereka selalu bikin lebih bagus.

So sekali lagi, batasan ukurannya adalah: kekuatan budget kita aja.

IMHO, CMIIW.

– Freema Bapakne Rahman

REF https://www.google.com/search?q=bmw+e46+vs+e90

Atheis(me)

Tentu, saya pribadi tidak ingin menjadi atheis. Kebetulan di hati kecil menemukan gimana rasanya nikmat bersyukur. Sesuatu yg susah saya deskripsikan hanya dengan ucapan, namun begitu dalam saya rasakan di lubuk hati terdalam saya pribadi. Maka, persoalan hati saya beriman ini sementara biarlah menjadi ranah privat saya, bukan ranah publik yg musti ditunjukkan dengan pemenuhan eksistensi berupa penilaian dan pengakuan (oleh orang lain).

Sama artinya ketika hati kecil saya menolak atheisme, tentu ini adalah ranah privat saya yg tidak ingin saya carikan pemenuhan eksistensinya, misalnya dengan membunuh kaum atheis atau semacamnya. Sebab bisa jadi malah nanti saya yg terbunuh, soale badan mereka kebetulan pas lebih gedhe ketimbang badan saya. Hehehehehe….

Dan well, sebagai makhluk sosial yg mana saya hidup bersama dengan beragam jenis orang, maka kali ini saya ingin berbicara dengan saya sebagai bagian dari kesemuaan.

Menolak bukan berarti musti membenci. Saya menolak atheisme, tapi saya tidak (ingin) membenci atheis dan mengingkari kenyataan yg terwakilkan pada gambaran di poto ini.

Menurut beragam informasi yg ada, kebanyakan negara-negara dengan atheisme tinggi, kebanyakan di Eropa, emang lebih “islami” hasilnya:

– mereka berpendidikan dan berkeilmuan tinggi,
– kesehatan dan fasilitas kesehatannya sangat memadai,
– punya banyak penemuan teknolgi yg membantu memudahkan hidup dan kehidupan,
– sistem ekonominya stabil
– menghormati orang lain,
– bisa antri, dan
– tidak membuang sampah sembarangan.

Atau dengan kalimat sederhana: mereka malah bisa hidup dan menjadi masyarakat madani (civil-society), sesuatu yg menurut kisah-kisah “Islami” adalah apa yg dibentuk dan dibangun oleh Muhammad Rasulullah SAW.

Hal yg mustinya sangat bisa diraih oleh kaum muslimin, karena kitab sucinya berisi kemahailmuan dari segala jurusan/disiplin keilmuan, justru malah diraih oleh kaum atheist atau kaum “kadir”. Sedikit pengobatan atas kerinduan pemcapaian ini adalah adanya cerita pada era Islamic-golden-age, di mana Eropa masih diliputi kegelapan jahiliyah (kebodohan, keterbelakangan), sementara kaum muslimin telah berhasil mencetak barisan ilmuan yg bebas merdekan untuk berpikir dan menciptakan penemuan (invention) dan inovasi (inovation) dan segala bidang: kedokteran/kesehatan, matematika, fisika, astronomi, ekonomi, sosial, dll.

Selepas itu, meski bisa mengikuti gemerlapnya kemajuan dunia(wi), kaum muslimin kembali terpuruk serasa kembali ke jaman jahilitah, saat cahaya pencerahan Islam belom datang. Segala pencapaian pada era Islamic-golden-age berangsur berpindah ke benua Eropa, entah kenapa dan entah gimana kisahnya.

Banyak kemudian yg memanfaatkan pergantian era ini dengan alasan khalifah/khilafiah-lah, penjajahan budayalah, bahwa pencapaian re-Islamic-golden-age oleh bangsa barat itu adalah pencapaian kaum kafirlah, sampai kemudian ada yg menghibur diri dengan mengunggulkan angka fakta tingginya trend masuknya warga Eropa menjadi mualaf.

Sampai kemudian penentangan terbesar dari dalam diri kaum muslimin sendiri adalah dengan mengsekulerisasi: ini khasanah keilmuan Islam, yg ngomongkan beragam ritual atau amalan, dan yg itu adalah khasanah keilmuan umum (yg bukan kailmuan Islam).

Ini yg saya tolak mati-matian, Semua keilmuan: ekonomi, sosial, fisika, biologi, astronomi, bikin pesawat terbang, bikin mobil, mengembangkan metode pendidikan, dll. adalah keilmuan Islam atau ilmu agama Islam sejauh dikepentingkan untuk kemaslahatan umat manusia. Umat manusia, bukan cuman umat Islam.

Bagi saya, umat Islam adalah sesiapa yg memiliki kesadaran batiniah akan ketauhidan pada Sang Esa dan menjalankan tugasnya menjadi khalifah di muka bumi ini, yakni berbuat untuk peradaban, bukan untuk kebiadaban.

Ini pengertian yg saya pegang.

Tapi dari satu atau beragam pengertian lain, umat Islam sudah terpecah (baca: bertentangan), bukan lagi sekedar berbeda untuk bersama.

Dan pada paragraf terakhir di atas, itulah kemudian yg menjadi titik tekan atheis untuk “menusuk” kaum muslimin. Bahwa kita ini sudah pada taraf berpecah, bukan lagi berbeda. Yg mana perpecahan ini ibarat perang, masing-masing pihak berusaha menjadi kemenangan eksistens, hingga hasilnya kehidupanlah yg menjadi korban.

Kaum muslimin, yg konon kuat religinya, justru malah hidup terbelakang (pendidikan, keilmuan habbit antri dan mbuang sampahnya, dll.) di era yg semakin modern dan mutahir dalam beragam parameternya ini. Dan sekali lagi, kita terus-terusan “menolak” pencapaian kembali era Islamic-golden-age dengan terus mengsekulerkan/memisahkan: “ilmu agama” dan “ilmu umum”.

JANGAN salah pengertian, saya tidak ingin memuja-muji atheis(me), saya hanya ingin mengutarakan sejumput kenyataan yg ada di muka bumi ini. Bahwa inilah sepertinya gambaran kondisi yg ada sekarang.

Andai ada pertanyaan, kenapa kita kaum muslimin koq tidak bisa hidup (semaju) seperti mereka (kaum atheis itu – dalam bidang keilmuan sebagaimana pencapaian era Islamic-golden-age), apa yg musti kita jawabkan lik? Jawaban apa yg musti kita berikan lik?

Tentu tidak sekedar jawaban: wallahualam. Meski posting ini saya tutup dengan wallahualambisawab.

– Freema HW

CATATAN:

Kata ireligius mustinya tidak bisa sementah-mentah saya artikan atheis. Sebab bisa saja itu agnostik: bertuhan tapi tidak beragama. Tapi informasi yg ada, negara-negara yg maju itu memang tingkat atheismenya tinggi. Sehinga saya sementara mengkorelasikan ireligius dengan atheisme.

Plus kenyataan bahwa nyaris semua aliran Islam juga menolak agnostisme: ngakunya bertuhan tapi koq ndhak menjalankan “syariat”? Macam gitu.

Plus lagi, bahwa dominan pengertian yg ada adalah ketika orang “beragama” tapi bukan secara (aliran) Islam maka secara literal, searah, dan nirdialektika juga akan langsung disebut kafir.

Jadi frasa atheis yg saya pakai di sini selain atheis secara literal mungkin juga atheis secara klausal, yakni “non-muslim” dalam pengertian pada umumnya sekarang.

Daya angkawinya akan saya coba update nantinya kalo sempat. Ini tadi ngetiknya ndhak pake dikoreksi dulu soale. Tapi saya yakin, yg biasa mengikuti peredaran informasi secara luas bisa memahfumi postingan opini nirdata angkawi saya ini.

Tq.

Metalcito

Saya ndhak lagi pingin menjelajahi Youtube seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya untuk mencari dan menemukan pejuang-pejuang rock dan menyeleksinya satu per satu.

Ini hanya perjalanan iseng tanpa arah untuk mendapati mereka –metalcito ini-
sedapatnya dan seadanya. Monggo disimak, kalo ada tambahan referensi silakan komeng, nanti saya update.

Regards,
– Freemacito Bapakne Rahman

***

DARI Indonesia nih! Berasa peranakan Avenged 7 Fold sama Helloween, Asyik, keren!

Kental banget Eurock-nya. Si Mas ini macam adiknya lik Miljenko “Mike” Matijevic. Asyik, keren!

Serasa Blink 182 yg dilahirkan kembali oleh generasi fesbuk, mereka yg lahir pada era J-Rock dan besar di era K-Pop. Asyik, keren!

Avenged 7 Fold-lah.

Persilangan Breaking Benjamin campur Korn dikit. Atau Bulet for My Valentine? Entahlah.

Yg ginian saya juga udah mulai ndhak kuat nyimaknya. 😀

The Original

Bonus

BMW Yang Penuh Kepalsuan

BMW tua itu penuh kepalsuan. Jelas-jelas semua di sini tau kisah si Badak Biru kayak gimana acakadutnya.

Eh koq masih di-wow-kan terus ama orang-orang: parkir di hotel dikasih di depan lobby, beli penganan harganya mendadak dibikin naik, dll. dll.

Terakhir saya ke sebuah supermarket sama istri, mbak kasirnya sempat ngelihat dari dalam, eh tanpa malu dia bilang ke istri saya pas mbayar: “Itu mobil(tua)nya ya Bu? Keren…!”

Keren mbahmu! Mbaknya cuman liat siy enteng aja bilang keren. Ndhak tau apa kita nangis-nangis darah kayak gimana…

Dikira dompet kita ini tebelnya selemak perut dan saldo ATM kita unlimited gitu kali ya?

MIARA BMW itu sebenarnya sangat ndhak sebanding dengan apa yg kita dapat. Bayangkan kalo Anda miara seniyapansa: beli di depannya mungkin akan sedikit mahal; tapi sama itu mobil akan diganti dengan perawatannya murah, bensinnya irit, keluarga sekampung juga bisa diangkut. Udah gitu pas butuh duit, dijual kembali juga gampang banget.

Yang didapet jadinya adalah kegembiraan bersama keluarga. Perkara bahaya diseruduk truk atau melintir di tol, itu kan tergantung gimana kita nyetirnya aja. Perkara punggung serasa mau patah dan kaki kram ketekuk, itu kan persoalan perasaan dan bagaimana kita menerimanya aja. Nyatanya, jutaan keluarga Indonesia pemakai seniyapansa tak satupun ada yg ngeluh!

Bandingkan dengan miara BMW. Udah harga belinya kadang tetep ndhak murah, eh udah gitu masih ditimpuk tangga dengan: ngerawatnya susah, parts-nya mahal, dijual kembali ndhak laku-laku, isinya cuman empat orang, bensinnya wajib dibilang boros; eh dari segambreng susah itu yg didapet cuman keasyikan berkendara alias joyfull journey, gitu doang!

Masih niat miara BMW?

– Freema Keren Bapaknya Rahman,
foto hanya mulustrasi.