Sepatu 41

Sepatunya yang ‘barusan’ berumur setahun udah enggak muat. Solnya sempat terkelupas sedikit – dan sempat kami jahitkan. Namun ujung jempolnya sobek kecil.

Hendak membelikannya, kami tak langsung menuju toko sepatu, yang hari-hari sebelumnya kami udah sempat jalan-jalan dan memperhatikan harga beberapa item sepatu yang cocok untuk si kecil.

Kami buka dulu Lapak Jual Beli Kediri. Salah satu lapak jual beli lokal yang cukup kondang dan terkelola dengan lumayan baik oleh tim adminnya,

Tim admins LJB Kediri meng-setting itu forum dengan status close. Harapannya keliatan: agar seller dan buyer yang bergabung di sana sama-sama serius njual dan nyari barang.

Kalo open, khawatirnya banyak seller yang terlalu bombing post, ngepost banyak-banyak supaya trit/thread-nya di atas terus. Cara yang sah, namun jelas sama sekali enggak etis. Macam serakah ini namanya.

Hal semacam inilah yang membuat sebuah forum jual beli terkesan kumuh, rusak, semrawut, dan kurang jelas kondisinya: banyak anggota dan lalu-lintas postingnya, namun acakadut dan terlalu morat-marit kesan yang kita dapatinya: teramat buanyak trit kembar-kembar yang bukannya menarik perhatian namun malah bikin eneg ngeliatnya.

Sayangnya, meski admin LJB Kediri lumayan tegas memperingatkan seller yang nakal melanggar rule, masih banyak juga seller nakal yang melanggar rule dan masih lolos dari pantauan admin.

Semoga tim admins LJB Kediri bisa semakin berbenah memperbaiki kondisi forum agar benar-benar menjadi forum jual-beli paling berkualitas di area Kediri Raya.

***

Searching pake kata kunci sepatu, muncul beragam trit/lapak. Ada yang jual sepatu bekas, ada yang khusus jual sepatu khusus pantofel; dan kami menemukan sebuah trit sepatu sekolah/olah raga dengan harga dipajang 90RB.

Kami telpun empunya trit, ibu-ibu. Ternyata lokasinya enggak terlalu jauh dari rumah. Langsung kami meluncur.

Sampai di lokasi, si ibu yang punya lapak menyambut kami. Tempatnya di rumahan.

Stok barangnya segunung! Cuman kami amati, modelnya memang enggak terlalu banyak. Tampaknya si ibu beli/konsinyasi sedikit model dengan banyak volume demi ngedapatkan harga kulak murah. So bisa dijual dengan tetep murah tentunya. Dan harga yang tertera di price list emang membelalakkan mata: mulai 60RB hingga termahal 125RB!

Pilah-pilih sana-sini, nyoba sana-sini, kaki si kecil ternyata sudah berukuran 41!!!

Omegod… Ukuran 40 siy muat, cuman terlalu ngepas. Itu juga belom disumpel pake kaus kaki. Alhasil ukuran kami naikkan jadi 41.

Ibu yang punya lapak sama beberapa anggota keluarga yang ada di situ sempat terheran. “Putranya kelas berapa siy Mbak, koq kakinya gedhe banget?”

“Kelas lima, Bu…” Jawab saya pasrah.

“Byuh, lha itu nanti kalo idah SMP, berapa ukuran sepatunya?”

Saya hanya bisa tersenyum. Entah apa kata nanti ajalah.😀

***

Kami dapet model yang kami tebus dengan harga 60RB. Si ibu buka rahasia, “Yang ini harga 60RB, soale saya kulakan putus Mbak… Kalo yang ini 90RB, soale ini konsinyasi. Kalo enggak laku saya bisa retur.”

Oooh… Ternyata biaya konsinyasi itu besar juga ya… Sampe 50% selisihnya. Wuih!

Cuman kalo itu model yang si Ibu kulakan putus banyak yang enggak laku, ya lumayan juga risikonya. Mana kami lihat tadi ada beberapa kardus lagi, dan satu kardus tampaknya isi dua lusin pasang sepatu. Ckckckckckck!

Inilah kaum wirausahawan, mereka berani menantang risiko, tentunya dengan perhitungan, pertimbangan, kalkulasi, dan keyakinan. Luar biasa!

***

Dilematis juga membelikan sepatu -dan baju- buat si kecil. Pertumbuhan badannya cepet banget.

Dulu Utinya pernah membelikannya celana cakep. Namanya celana cakep, dipakainya cuman buat kondangan aja. Dan yang kami ingat, itu celana cuman dia pakai beberapa kami aja, langsung enggak muat.😦

Alhasil, pakpuh, budhe, bulik, dll. semuanya kami teriakin. “Sini kalo udah punya celana enggak muat!”

Beneran, koleksi celana pakpuh dan budhenya yang udah enggak muat, pas dipakai si kecil! Alamaaak!

Jadinya, kami mikir kalo membelikannya barang bagus. Sebentar udah enggak muat, sayang duit jadinya.

Akhirnya kami putuskan: kalo harus membelikannya pakaian/sepatu, kami belikan yang sekiranya daya tahannya selama muat dia pakai. Estimasi kami: setahun doang!

Namun kadang kami keterlaluan juga.

Dulu pernah nyarikan sepatu juga. Kami nyari di lapak sepatu kaki lima yang harganya lebih ekstrim lagi: mulai 15RB!

Kami membelikannya sepatu seharga 35RB. Ternyata cuman dalam hitungan sedikit bulan, itu sepatu sudah amburadul. Kulit sintetisnya mengelupas semua. Solnya siy bisa dijahitkan, cuman kulitnya yang kena jahitan pada sobek.

Trauma kami membelikan barang yang kelewatan murahnya gini.

Dan untuk sepatu yang barusan kami tebus, semoga bisa tahan setidaknya hingga setahun. Si Ibu pemilik lapak sepatu mencoba meyakinkan kami, “Kalo kuatnya kuat koq Mbak. Mungkin itu sepatu duluan sesaknya ketimbang rusaknya.”

Semoga.

Setidaknya untuk harga pengalaman kali ini adalah 60RB.

– Deasy Ibune Rahman

Lik Sugik

OOT but not OOB | Out of Topic but not Out of Bimmer.

Dialah Lik Sugik. Di angkringan-online sini sekalipun kita ada/banyak yang belom pernah ketemu dengannya, dia dikenal dan ‘dipuja’ setinggi langit;

  • Karena inspirasinya yang tak pernah berhenti,
  • Karena semangatnya yang tak pernah padam,
  • Berani out of the back (kalo out of the box itu sudah pasaran), dan
  • Berani berdiri di atas kaki (baca: jati diri) sendiri dalam kesendirian.

Kesendiriannya yang justru mendatangkan keramaian.

Keramaian munculnya suara-suara bimmerfan aliran kere… eh, kiri yang selama ini teralienasi dari gemebyarnya dunia baling-baling yang penuh dengan barang-barang bernilai tinggi bernominal banyak dan sarat dengan besarnya kalkulasi angka.

Jimat kawatnya untuk memelihara si Maroon menjadi penampar bagi kita semua, bahwa menjadi kaum aliran kiri itu bukan pilihan, melainkan garis waktu yang harus dijalani dengan penuh keberanian. Baik keberanian untuk menjalaninya itu sendiri maupun keberanian untuk mengubahnya dengan baik dan benar.

Sayangnya, segala inspirasinya (yang bahkan pihak BMW sendiri pun ndhak mau memperhatikan: bilangnya ngasih suvenir tapi ndhak pernah nyampe sampe posting ini diketik, cek di sini https://m.facebook.com/photo.php?fbid=605482922929573 – wajar tentunya, karena keberadaan si Maroon yang aliran kiri tentu akan merusak citra merk BMW yang elegan, premium, dan luxury) yang diikuti oleh ratusan bahkan ribuan bimmerfan di sini, hanyalah berlaku di sini saja.

Di angkringan-online ini dia dikenal dan dipuja setinggi langit; di lapak sebelah dia dihina-dina hanya karena keberaniannya membela kaum minoritas.

Dihina-dina yang kayak gimana?

Dihina-dinanya begini: pikiran out of the back-nya malah diperhatikan dan banyak yang mengamini di angkringan-online, tapi trit out of the back-nya malah dilenyapkan di lapak sebelah. Entah apa alasan adminnya. Cuman mengacu pada regulasi di sono yang sedikit saya ketahui, kayaknya trit tersebut dicap biang rusuh. (Padahal yang rusuh komengnya, bukan tritnya mustinya). BTW apapun alasannya, itu hak admin sepenuhnya koq!😀

Di angkringan-online, warga yang suka pakai bahasa daerah tanpa ada translate atau inteprete atau maksud yang diglambrangkan suka dia marahi. Dan yang dimarahi nurut manggut-manggut. Sementara di lapak sebelah, saat dia membela kaum minortitas yang memperjuangkan hal yang mirip dengan di angkringan-online, tritnya di-‘bully’ oleh banyak akun. Dan kayaknya tritnya lenyap kemudian.

Ini bukan masalah benar atau salah. Ini hanya masalah satu hal saja: bahwa di dua tempat tersebut, di angkringan-online Bimmerfan Mataraman dan di lapak sebelah kulturnya beda.

Cuman itu saja. Bukan yang lain.

DISCLAIMER

  • Ini bukan masalah kebencian, emosi, dan sebagainya. Jangan mengintepretasikan kondisi/perasaan datar saya di depan layar monitor saya dengan perasaan Anda sendiri di seberang sana yang bisa jadi Anda belom kenal dan ndhak tau (karakter) saya.

    Baca saja semua kalimat di posting ini dengan datar, tanpa beban, tanpa penilaian (positif/negatif), dan tanpa maksud dan tujuan lain selain: MENDESKRIPSIKAN belaka, tentunya mendeskripsikan dengan sudut pandang subyektif saya sendiri.

    Kalo Anda mendeskripsikan posting ini sebagai lupakan esmosi atau kemarahan, brarti Anda cuman beronani dengan perasaan Anda sendiri.

  • Maaf, saya ndhak akan menyebutkan ‘lapak sebelah’ itu mana. Kalo Anda sudah tau, ya sudah. Soale saya cuman pingin mengupas fenomenanya, bukan siapa-siapanya. Saya ingin mengajak Anda semua mengambil hikmahnya jika ada, bukan hendak mengupas kejadiannya.
  • Ini cuman opini saya, bukan berita bukan fakta. Opini yang berdasar pandangan subyektif saya. So, semua bisa benar adanya pun bisa berbalik telak: salah total semuanya.
  • Jika ini ada baiknya, ambil hikmahnya. Jika ini buruk, tinggalkan, jangan diikuti, dan jadikan pembelajaran bahwa inilah hal/posting buruk yang ndhak perlu diperhatikan isinya.

BTW, nasibmu Lik Gik, rasain!😀 Waaakakakak!

– FHW,
jancuk tenan, aku koq sepakat sama ide-ide gilanya Lik Sugik ya… Pehhh…!

*Siapakah Lik Sugik? Cek di sini https://freemindcoffee.wordpress.com/2016/02/27/lik-sugik/

*Foto di atas adalah si Maroon yang sedang diduduki oleh temen-temen Mataraman. Tidak ada wajah Lik Sugik yang menyebalkan di foto tersebut. Foto dicomot dari Bro Yuda.*

Ikonik

Pernahkah Anda mengidentifikasikan sebuah produk, atau merk, hanya dari siluetnya saja? Tentu kita semua pernah, meski tidak semua produk ikonik kita mengenalnya, mungkin karena batasan preferensi dari subyektif kita masing-masing.

Merk atau produk yang meresap di mindset/benak kustomernya (harus) akan mudah dikenal dari ikon, atau siluetnya.

Mereka gampang dikenali, selain karena umur merk/produk mereka memang udah lama, lebih dari itu memang karena mereka membuat produk dengan karakter dan konsistensi yang khas.

Yang saya pribadi amati lebih mendalam tentunya BMW. Hanya dengan siluet kidney grille-nya atau gril ginjal alias gril lobang/bolong dua yang sangat khas dan ikonik itu, ketika digambar dalam bentuk siluet publik akan mengenalnya sebagai BMW.

Lebih spesifik, meski produk-produk BMW sering dianggap “kembar-kembar” terus, ternyata tiap produk yang dirilis memiliki karakter khas dan spesifik. Ketika ada siluet tiap produknya, bimmerfan/penggemar BMW akan langsung bisa mengidntifikasi: oh ia E12, ia E21, ia E30, ia E34, ia E36, ia E39, ia E46, dll. Itulah BMW yang ikonik.

***

Yang paling ikonik yang semua orang tanpa pandang sekat bisa mengenal dan mengenalinya mungkin si Volkswagen (VW) bug/beetle/kumbang atau kodok di sini kita biasanya menjulukinya.

VW kodok dengan bentuk yang super khas, tak tertiru oleh siapapun, telah dikenal dan mudah dikenali via siluet oleh siapa saja.





***

Citoren ini juga ikonik, hanya mungkin tak semua orang mengenal produk ini.

Yang ini mungkin siapapun juga kenal.

Benda ini juga ikonik. Namun sekali lagi, mungkin tak semua publik mengenalnya.

***

Nah sekarang, dapatkah Anda mengenali dua produk ini?


MUNGKIN dari sini kita bisa tarik secuil inspirasi: jadilah ikonik untuk kelanggengan merk atau produk Anda. Ciptakan produk dengan karakter dan konsistensi yang khas.

Ikonik bukan berarti gambar atau siluet. Akan tetapi ketika seseorang dari kota lain datang ke kota Anda kemudian bertanya, “Apa makanan paling enak atau paling khas di kota ini?”

Dan banyak warga kota yang bisa menyebutkan warung kecil tersembunyi Anda misalnya, maka itulah ikonik.

– FHW
pernak-pernik

Endpson

Epson TX121. Beli dari baru.

Dulu pernah mati tanpa gejala apapun. Ternyata mainboard-nya kena.

Trus saya ganti di servisan printer. Bayar beberapa ratus ribu, sekitar sepertiga harga unit barunya.

Trus board-nya mati lagi. Nyari part-nya ke mana-mana ndhak ketemu. Kata servisan printer, barangnya emang langka. Konon karena banyak yang butuh dan board T-Series ini gampang rusak. Walah….

Eh kersaning Allah, pakpuhnya si kecil punya barang yg sama: Epson TX121 yg sowak printhead-nya.

Dihibahkan ke saya, saya copot mainboard-nya buat kanibalan. Waraslah usai cangkok mainboard untuk yg keduakalinya.

Sekarang mati lagi. Saya coba tuker power supply-nya, ndhak nyala. Mungkin board-nya lagi? 😭

***

Entah taon berapa saya beli printer Epson TX121 ini, sampe lupa. Pokoknya saya beli pas barusan keluar.

Dulu awal pake, di awal milenium 2000 pake Canon S100SP, usai biasa ngeprint di rentalan pake Canon BJC1000 saat masih kuliah. Di UKM kampus juga sempat menikmati Lexmark, lupa tipenya, mirip BJC1000. Namun printer paling pertama yg saya kenal ya printer krek-krek itu, waktu masih menempuh masa pendidikan menengah di era ’90an.

Canon S100SP si printer awal masih kerja normal, pensiun karena cartridge-nya udah ndhak ada di pasaran sejak lama.

Akhirnya itu pinter saya injek sampe remuk karena sebel: giliran saya pegang duit, eh kartrid diskontinyu! 😞

Lantas ganti HP Deskjet D1360 sekitar taon 2002. Yang harga unit baru dengan dua kartrid perkenalannya cuman selisih 50rb dari beli kartrid baru satu set. Lumayan, suntik tiga kali karena pada suntikan keempat biasanya kartrid udah sowak, beli printer baru lagi.

Lantas ganti Epson C43SX. Lantas ganti Epson C45. Saya pilih dia karena mendadak Epson paling enak disuntik/diisi ulang tintanya dan bisa direset pake resetter. Sekian jam terbang, print head-nya sowak juga.

Kemudian printer sowak, ganti lagi pake Canon ipxxxx lupa tipenya. Bodi warna putih merebah mirip Canon Pixma ip1700. Lumayan, suntik sampe banyak kali. Hingga sowak juga.

Ganti Epson lagi. Epson C90. Terpakai normal. Yg ini rekor, selesai bertugas karena saya jual. 😂

Ada rejeki, maruk memborong banyak printer:

  • Epson CX550, multifunction pertama yg kami punyai.
  • Samsung laser mono ML-2010 buat nyetak dokumen monokrom banyak dan cepat.
  • Samsung CLP-300N buat nyetak warna alakadarnya.
  • HP Color Laserjet 1600, pake toner orisinal, buat proofing warna.
  • Kesemuanya udah sowak satu per satu.

    Paling akhir adalah TX121 ini.

    Entah taon berapa saya beli printer Epson TX121 ini, sampe lupa. Pokoknya saya beli pas barusan keluar.

    Mungkin emang waktunya minta ganti.

    Ada rekomendasi printer low-end yg buadak?

    Terima kasih saran dan masukannya.
    – FHW X111

Mangkel Sebel Kokel

Dan aku serukan kepadamu sekalian, maka sesungguhnya berbahagialah bagi kalian jika diizinkan-Nya memiliki mobil(bekas) berpenggerak roda belakang.

Sebab mungkin bagimu tidak tertimpa perkara kokel sebagaimana kaum berpenggerak roda depan.

Maka bersyukurlah selalu kepada Tuhanmu.

– FHW FWD RWD RWT.

(Manusia Sampah,) Sampah Manusia

Sepeda motor, kalo enggak salah jenis Honda Vario warna hitam-merah nopol AG5250GH(?), dikendarai sepasang suami-istri, melintasi jalan antar desa dari desa sebelah masuk ke desa kami.

Dari atas jembatan kecil sungai perbatasan desa, pengendaranya melempar sebonggol kantung kresek (sampah detected) ke sungai yang lokasinya cuman beberapa meter di belakang rumah.

Bapakne Rahman yang kebetulan bermotor dari arah berlawanan melihatnya.

Motor tersebut lantas dicegat oleh Bapakne Rahman, dia hadangkan motornya di depan motor mereka.

Bapakne Rahman: “Ngapunten, ingkang njenengan bucal teng lepen wau sampah?”

– Misi Pak, yang bapak buang ke sungai tadi sampah?

Pemotor: (cengengesan) “Hehehe… Iya…”

Bapakne Rahman: “Lain kali mbok dibuang di TPS (Tempat Pembuangan Sementara) di selatan situ.. Kasihan sungainya kotor, siapa yang mbersihkan ntar?”

Seratus meter dari rumah ada TPS yang udah lama disediakan oleh pemerintah.

Pemotor: “Nggih Pak…” Sambil tetep cengengesan dan langsung tancap gas.

***

Lainnya kejadian ini, seringkali di depan/samping rumah ada sampah plastik berserakan.

Beberapa kali kami lihat dari kejauhan/dalam rumah, ada anak berseragam, pulang sekolah dibonceng (mustinya) ibundanya, membuang gelas plastik bekas minuman atau plastik pembungkus kudapan begitu saja sambil melaju dari atas motor.

Doakan sekali waktu kami bisa memergoki mereka dan menangkap tangan langsung.

Sungguh, kami hendak bikin perhitungan.

Yang ada di pikiran kami bukan memarahi atau minta upeti kompensasi kepada mereka.

Yang ada di pikiran kami: kami hendak menghadap pak Lurah desa kami atau Lurah desa sebelah kalo mereka warga desa sebelah yang sering melintasi jalanan depan/samping kami, dan bersama/disaksikan perangkat desa, kami akan membuang sampah di depan rumah mereka.

Kami pingin lihat, mereka itu manusia yang punya akal dan perasaan atau bukan ketika orang lain membuang sampah seenaknya di depan rumah mereka.

Itu masih di halaman rumah kita, sanksi terdekatnya mungkin cuman dari si pemilik rumah.

Kami juga sering melihat bonggolan kantung-kantung kresek, sebagian isi sampahnya udah berserakan, dibuang di jalanan antar desa sisi lain, tepatnya jalan antar desa Doko dan desa Burengan – Kediri yang kebetulan jalanan tersebut melintasi area persawahan dan agak jauh dari permukiman terdekat.

Sampah adalah pangkal kerusakan. Oleh karena itu, sampah musti kita kelola penanganannya.

Kalo sampah itu kita buang di halaman tanah negara, atau kita serakkan di hamparan bumi Allah, maka urusannya pasti adzab: banjir, penyakit, dan degradasi mental serta kualitas kehidupan.

Tidak sadarkah kita bahwa rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik? So, kalo kita berbuat kerusakan, maka rahmat Allah bakal jauh dari kita.

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 7:56)

– Deasy & Freema
belajar menjadi manusia.

Tahu Bulat

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? (QS. 50:6)

Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata. (QS. 50:7)

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman? (QS. 21:30)

Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya. (QS. 21:32)

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya, (QS. 21:33)

***

Saya 100% percaya ayat quran.

Tapi saya 100% ndhak tau apakah bumi ini bulat atau datar. Soalnya saya ndhak pernah ke ruang angkasa pun ke antartika.

Dan saya yakin, tentang persoalan bumi entah bulat entah datar, paling kaum muslimin-muslimin itu juga cuman debat doang, ndhak membuktikan ke ruang angkasa pun ke antartika.

Dengan kata lain, quran cuman jadi jimat kayak batu yg disimpan dan diyakini membawa tuah. Tanpa pernah diriset dan dibuktikan kinerja faktualnya.

Al Quran serasa jadi jimat: cukup sekedar diyakini, dan itu sudah membuat kita masuk sorga. Ndhak perlu lagi quran kita jadikan petunjuk: untuk kita melakukan dan membuktikan sesuatu. Pergi ke ruang angkasa pun antartika misalnya. Atau terus menerus melakukan riset dan pembuktian sgala isi dan kandungannya.

Namanya petunjuk, petunjuk apapun, adalah berlaku jika diaplikasikan dan diimplementasikan. Sebutlah petunjuk apa saja: petunjuk penggunaan ponsel, petunjuk ngisi jawaban soal ujian, petunjuk lalu-lintas, petunjuk masak, petunjuk meredam hati nan gundah, petunjuk menawar barang, petunjuk melalui keramaian kerumunan agar lolos sampai tujuan. Dan Quran adalah petunjuk kehidupan ini, mulai biologi-molekular hingga teknologi terapan sampai sistem ekonomi dan bagaimana membangun civil society/masyarakat madani.

Dan petunjuk itu cuman duduk di ranah teoritis. Seperti buku manual yg selalu kita baca namun gawainya ndhak kita operasikan. Seperti peta yg kita pelajari namun rutenya tidak kita lalui. Seperti rambu-rambu yg kita pahami namun jalanan tiada pernah kita lintasi.

Seperti seminar yg kita gelar tanpa hasil riset kita wujudkan. Seperti uji laboratorium kita tuntaskan namun penerapannya tiada pernah ada.

Al Quran telah kita penggal kekuatannya menggerakkan kaum muslimin untuk menguasai dunia: mulai biologi-molekular hingga teknologi terapan sampai sistem ekonomi dan bagaimana membangun civil society/masyarakat madani, semuanya tak ada di tangan kita.

Suka atau tidak, diakui atau tidak, pusat kekuasaan ekonomi, teknologi, informasi, bahkan kekuasaan dunia ada di tangan barat, sebutlah Amerika dan konco-konconya.

Termasuk kepastian apakah bumi ini bulat atau datar, ternyata semuanya cuman (kembali) wacana. Kaum muslimin yg dibekali Quran, secara khifayah tidak pernah memastikan secara saintifik dan faktual mana yg benar!

Dan sekali lagi, energi dan wawasan kaum muslimin yg dibekali Quran itu, sekali lagi dan lagi-lagi cuman terus-terusan habis untuk debat. Berwacana, tanpa ada hasil nyata yg mengubah dunia.

Dan akhir dari semua ini, tetep aja zionis -atau siapalah mereka entah- yg menang telak atas semuanya. Setidaknya mereka telah menang:

  • Diam-diam mengimplementasikan segala clue & manfaat ilmu pengetahuan dalam quran untuk kepentingan mereka sendiri,
  • Diam-diam membalik segala clue fakta ilmu oengetahuan dalam Quran untuk membuat mereka terus menguasai kita, membuat kita selalu bergantung pada mereka,
  • Menjadikan Quran laksana jimat yg cukup digenggam erat, dicium-cium, dan dibaca secara literal; bukan sebagai kitab yg perlu “diacak-acak” agar terkuak semua misteri isinya demi kemaslahatan umat manusia, kehidupan, & peradaban sepanjang masa.

Ini pendapat datar saya tentang bumi yg bulat. Pendapat dari saya yg ndhak becus agama. Maka, jangan percaya posting saya ini.

Percayalah hanya kepada Tuhan Sang Maha Kuasa.

– FHW

***