Komparasi Tiga SUV Gajah: Kita Cukup Beteman Biasa Saja

Dari sekian banyak full-size SUV, baik berbasis kendaraan komersial umumnya berjenis body-on-frame yang perkasa menerjang hambatan maupun yang dedicated untuk kenyamanan penumpang dengan menggunakan sasis monokok, ada tiga model yang saya teramat sangat terkesima melihat tampangnya.

Mereka adalah Cadillac Escalade, Mercy GLS, dan BMW X7 yang baru saja lahir dari rahim Bavaria.

Cadillac Escalade 4th Gen (GMT K2XL)

Saya enggak suka semua generasinya. Yang saya sukai adalah Cadillac Escalade generasi keempat (GMT K2XL). Baik SUV (SWB, wheelbase 116.0 in atau 2,946 mm) maupun ESV (LWB, wheelbase 130.0 in atau 3,302 mm), keduanya begitu teramat amat keren di mata saya.

Diluncurkan sebagai model 2015, meskipun produksinya dimulai sejak Januari 2014. Bermesin depan dengan penggerak roda belakang atau empat roda.

Menggunakan platform GMT K2XX, ia kembar beda tampang saja dengan SUV GMC Yukon, Chevy Tahoe (SWB)/Suburban (LWB); serta truk GMC Sierra dan Chevy Silverado.

Cadillac Esclade 4th gen ini hanya dipasangi mesin 6.2L EcoTec3 L86 V8 yang menyemburkan 420 tenaga kuda (313 kW) @ 5600 rpm dan menendangkan torsi 460 lb⋅ft (624 N⋅m) @ 4100 rpm. Ada dua pilihan transmisi yakni 6 perepatan GM 6L80 atau 8 percepatan GM 8L90, keduanya otomatis. Pada tahun 2019 ini yang 8 jadi 10 percepatan otomatis.

Meski cc-nya segitu gaban, di keluarga mesin GM, jajaran mesin LS ini masuk anggota keluarga small-block engine.

Jajaran mesin LS lahir sejak tahun 1996 (produksi dimulai tahun 1995), sementara varian L86 sendiri adalah generasi kelima yang nongol sejak tahun 2013.

Bonus: Cadillac Escalade 3rd Gen (2007- 2014) GMT 900

Mercy GL/GLS Class

Awalnya penamaan kelas ini adalah GL. Berikutnya, sesuai perapian klasifikasi kendaraan di jajaran Mercy, namanya berubah jadi GLS Class (Klasse, Jerman). Hirarkinya: G = geländewagen (off road), L = long-running atau bisa diterjemahkan turing, dan S adalah kasta SUV ini yg sejajar S-Class.

Konon, GLS Class ini diciptakan untuk menggantikan dan meneruskan kiprah G-Class yang udah tua bangka itu. Tak dinyana, G Class masih memiliki penggemar kuat dan permintaannya terus berlanjut.

ALih-alih dimatikan dan diganti GL-Class, hingga detik ini G-Class malah terus disempurnakan habis-habisan, dirombak total teknologinya, diganti menyeluruh semua fiturnya, tentunya dengan kemampuan yang terus meningkat dan efisiensi yang semakin dan semakin tinggi namun tetap menggunakan platform body yang enggak pernah berubah sejak sekian dasawarsa silam!

Hanya ada dua kode bodi G-Class sejak lahirnya di tahun 1979 silam, yakni W460 (1979-1990) dan W461 (1990 – ) dan W463 1st ge (1990 – 2018) dan 2nd gen W463 (mulai 2018).

Alhasil, jadilah G-Class dan GL(S) Class ini berpisah di kerangkanya saja. Lainnya itu: kemampuan offroad, kemewahan, teknologi dan fitur, dll. sudah semakin susah dibedakan. Bedanya hanya di: karakter.

Dalam perkembangannya, G-Class diperkuat branding dan karakternya untuk kegunaan off-road. Tepatnya: off-road yang teramat super-duper mewah. Itulah kenapa G-Class 6×6 foto-fotonya banyakan di gurun Dubai sana, tempat offroad-nya orang kaya. Enggak off-road “beneran” macam Land Rover Defender ataupun Jeep Wrangler.

Sementara GLS-Class seolah dan serasa adem ayem aja beritanya di jagad otomotif dunia.

Saya pribadi mengendusnya, GL-Class beneran jadi barang jualan sementara G-Class diperkuat sisi awareness-nya. Mengingat penjualan sepanjang tahun 2017 di US, GLS-Class laku 32 rb unit lebih, sementara G-Class hanya 4.200 unit kurang dikit. Yakh, mungkin karena faktor harga juga kali ya? Di US, GLS550 dijual USD 90 grand sementara G550 dilego USD 124,5 grand.

Saya suka kedua model GL(S)-Class yang telah ada: generasi pertama X164 (2006-2012) dan generasi kedua/sekarang X166 (2012-). Malahan, X164 saya lihat secara subyektif malah lebih keren: simpel, lugas, enggak banyak guratan yang enggak perlu gitu sepertinya.

Baik X164 maupun X166 punya sumbu roda sama 3,075 mm (121.1 in).

GLS Class ini punya mesin V6 dan V8 bensin serta V6 diesel yang dipecah menjadi lima varian model.

BMW X7

Ini adalah spesies terbaru dari BMW yangbelum pernah ada sebelumnya: BMW X7. Diproduksi sejak 2018, untuk keluaran sebagai model 2019.

Punya sumbu roda 3,105 mm (122.2 in).

Varian yang ada adalah:

  • Bensin B58B30M0 3.0 L I6 turbo (X7 xDrive40i). Bertenaga 250 kW (335 hp) @ 5,500–6,500 rpm dan torsi menendang sekuat 450 N⋅m (332 lb⋅ft) @ 1,500–5,200 rpm
  • Bensin N63B44M3 4.4 L V8 twin-turbo (X7 xDrive50i). Luapan tenaganya 340 kW (456 hp) @ 5,250–6,000 rpm dan hantaman torsinya 650 N⋅m (479 lb⋅ft) @ 1,500–4,750 rpm
  • Diesel B57D30 3.0 L I6 turbo (X7 xDrive30d). Tenaganya “imut” 195 kW (261 hp) @ 4,000 rpm namun seperti biasanya torsi diesel yang melimpah-ruah: 620 N⋅m (457 lb⋅ft) @ 2,000–2,500 rpm
  • Diesel B57D30C 3.0 L I6 quad turbo (X7 M50d). Berkekuatan 294 kW (394 hp) @ 4,400 rpm dengan torsi membludak 760 N⋅m (561 lb⋅ft) @ 2,000–3,000 rpm

Yap, BMW emang onsisten enggak bikin mesin V6.

Khayalan Tingkat Tinggi

Saya engak berniat mengupas fitur, teknologi, atau kemewahan di sini. Semua kendaraan tentu udah punya rem cakram di keempat rodanya dengan segala fitur pengeremannya: ABS, EBD, decent & accent assist, lane-keeping assist, park-assist, automatic ini-itu. dll. dengan bahasa dagang masing-masing.

Joknya jelas semuanya kulit dan penuh wood-panel di trim interiornya. Secara, mobil ginian apalagi yang perlu dikupas untuk sisi teknis dan materialnya.

Kapasitas bagasi pun meski berbeda-beda bukanlah hal yang menarik perhatian saya untuk saya gali perbandingannya. Karena jelaslah, seberapapun kapasitas bagasinya, pasti gedhe muatnya.

Bobot ketiganya pun ya imbang-imbang aja, di kisaran 2,5 ton. GLS yang sedikit agak ndut: 2,6 ton.

Ada sedikit perbedaan “kecil” di sini adalah: Cadillac Escalade adalah model body-on-frame yang punya dua wheelbase/sumbu roda, pendek (SWB) dan panjang (LWB). Yang mana SWB-nya lebih pendek ketimbang wheelbase BMW/Mercy sementara yang LWB lebih panjang dari keduanya.

Sementara Mercy GLS dan BMW X7 adalah SUV (BMW menyebutnya SAV – Sport activity vehicle) yang bersasis monokok dan hanya punya satu wheelbase/sumbu roda yang panjangnya berada di tengah-tengah antara Escalade SWB dan LWB.

Kelakuan mobil Amerika masih kebawa di Cadillac Escalade ini: mesinnya guedhe namun tenaganya memble, namun konsumsi bensinnya tumben lebih irit. Dengan mesin 6.2l yang paling gedhe di sini, ia cuman punya specific output 68.2 bhp/litre dan specific torque 101.27 Nm/litre dengan konsumsi BBM-nya adalah 16.8/10.2 l/100km city/highway. Mercy GLS AMG63 5.5l punya 105.7 bhp/litre dan 139.17 Nm/litre serta menenggak bensin 18.1/13.8/16.8 l/100km city/highway/combined.

Sementara Mercy GLS550 4.7l memiliki keluaran daya spesifik 96.3 bhp/litre dan torsi spesifik 150.12 Nm/litre serta minum bensin 13.8/10.7/12.4 l/100km city/highway/combined. Adapun BMW X7 xDrive5.0 yang bermesin paling imut 4.4l punya output spesifik 103.8 bhp/litre dan torsi spesifik 147.9 Nm/litre, seperti biasa dengan mesin lebih kecil tenaganya lebih gedhe namun torsinya kalah ketimbang Mercy. Saya belom dapet data konsumsi BBM-nya.

Oia satu yang sama lagi: ketiganya sama-sama 3 row seat/7 seater. Ini barang yang lumayan langka untuk pasar negara maju yang umumnya lebih individualistis namun sangat praktikal. Itulah kenapa kendaraan dengan dua baris tempat duduk pada umumnya sudah teramat cukup dan laris manis.

Model rendah: sedan atau estate/turing/wagon juga bisa dibilang merajai penjualan, mungkin karena unsur keamanan dan kenyamanannya. Plus hari-hari ini SUV yang kemudian naik daun, karena SUV sekarang udah bisa mendekati kenyamanan sedan karena laju perkembangan teknologi yang sedemikian pesat sehingga menjad fitur mumpuni dan memanusiakan di beragam produk kendaraan.

Satu-satunya faktor yang menarik perhatian saya hanyalah desain kendaraan dan aura karakter yang keluar dari ketiga SUV gajah di atas.

Dari model kendaraanya, jujur saya paling suka dengan Cadillac Escalade generasi keempat tersebut. Saya paling demen dengan karakter desain yang simpel, lugas, enggak banyak corak yang enggak perlu.

Bandingan ekstrimnya: saya jauh lebih demen VW Caravell yang “kota” begitu saja, lampu depan-belakangnya ya cuman begitu, yang seolah didesain sambil ngantuk ketimbang Alphard yang penuh corak: garis bodinya melekuk sana melekuk sini, lampu depan-belakangnya menyot sana menyot sini, atau grilnya yang entahlah gimana itu desainnya.

Bukan enggak keren, ini murni selera. Otak saya ngilu kalo memperhatikan desain Alphard yang meliuk-liuk kayak gitu. Sementara jiwa ini tenang rasanya ngelihat desain Caravelle yang ya cuman gitu itu.

Pun dengan Escalade, GLS, dan X7 itu.

Meski masing-masing punya akses yang kecil-kecil saja namun begitu terlihat: Escalade pada sudut lampunya, X7 pada grill-nya yang berkuasa, dan GLS pada… entah yang mana satu point of interest-nya, namun kesemuanya mencerminkan desain yang lugas dan enggak norak.

Dan dari ketiganya, Escalade K2XL yang saya nobatkan menjadi pemenang yang berhasil mencuri hati saya.

Namun secara brand, bukan per mobil, saya tetep cinta mampus sama BMW.

Bayangkan kalo punya duit, saya sebagai pecandu BMW eh kemudian memilih membeli itu Cadillac Escalade, orang pasti bingung memahami apa yang ada di isi benak saya.

Enggak perlu Anda susah-payah memahami. Pertama saya bukan keluarga Anda yang memang perlu saling memahami tanpa ada alasan apapun. Kalau pun toh Anda adalah teman saya, pemahaman Anda enggak akan menghasilkan tambahan pendapatan bagi Anda. Kita cukup berteman biasa saja.

– FHW

Advertisements

Jangan Beli Biem, Belilah Xeniavanza.

Edian sampe segininya.

Xeniavansa kayaknya udah bukan sekedar mobil lagi, dia berasa udah jadi metonimia dalam konteks tertentu.

Kendaraan ini sepertinya udah jadi simbol kultur.

#

Well, saya gk pernah punya xeniavansa (dan blackberry), dan nyatanya hidup saya baik-baik saja, meski terkena sengsara miara bmw.

Tapi mungkin hidup saya akan jadi jauh lebih baik kalo dari awal saya punyanya xeniavansa dan gk pernah mengenal (sehingga jadi keracunan) bmw gini.

So bagi yg belom, urungkan niat anda beli bmw. Asli susah dan sengsara kalo udah keracunan: dipiara kerasa berat, dilepas malah jauh lebih berat lagi, dan bikin mobil pasaran jadi gk enak sejak dari masih di dealer.

Bagi yg belum terlanjur terjerumus jadi bimmerfan, segeralah beli xeniavansa.

Atau wuling mungkin lebih baik.

Waspadalah. Waspadalah. Waspadalah.

– FHW

Rally vs Sirkuit

Dari penelusuran saya di internet, emang buanyakkk yang pakai BMW buat rally.

Konon, E30 M3 itu yang menghabiskan adalah para tim rally. Saking bagusnya mobil itu, laris buat dipakai rally, dan pada remuk karena berbagai kejadian. Alhasil, kini populasinya jadi super sedikit. Kisahnya ini mirip Peugeot 205 Rallye atau Renault GT5 gitu, pernah baca tapi saya lupa dari mana sumbernya.

Namun officially saya belom pernah menemukan BMW secara resmi terjun di rally, khususnya WRC, seperti beberapa pabrikan lain macam: VW, Citroen, Peugeot, Renault, Hyundai, dll.

Ketimbang mendukung balapan di atas kerikil tanah, pihak BMW tampaknya lebih demen olahraga aspal sirkuit: DTM, dll.

Tampaknya, emang buat di aspal jalananlah BMW pingin membangun citranya.

Jadi kalo Anda penggemar BMW buat melintasi jalanan tanah berkerikil, itu sama sekali tidak salah. Cuman bukan di situ tampaknya BMW ingin meletakkan perhatiannya.

Dan memang nyatanya, nyaris kebanyakan kaum bimmerfan yang saya temui, mobilnya senantiasa dibikin ceper. Yang hanya bisa menjalani kehidupannya di atas aspal mulus. Pastinya, mereka akan tak sanggup untuk menghadapi dunia maksudnya jalanan yang penuh kerikil.

Mungkin demikin. Mungkin.

– FHW,
supir turing bukan supir racing.

(Transportasi) Masa Depan

Ada sebuah skenario masa depan: kendaraan pribadi, entah mobil maupun motor, tak lagi menjadi aset/kepemilikan pribadi. Dia kelak akan menjadi barang publik yg bisa diakses oleh siapa saja.

Gambarannya: kelak produsen kendaraan akan terus memproduksi kendaraan, tapi tak lagi banyak dijual kepada perorangan.

Produsen kendaraan akan memproduksi kendaraan, untuk “disewakan”.

Kendaraan akan diparkir di banyak tempat, kemudian publik akan memakainya dari titik A ke B dengan membayar biaya pemakaian, bisa per trip atau langganan. Semua operasionalnya include dengan teknologi tentunya.

Bisa jadi, ini kenapa Yamaha, atau Astra atau BMW-Mercy dll udah mulai akses ke korporasi atau operator transportasi publik. Mungkin ini akan menjadi langkah transisi halus mereka untuk menuju skenario maaa depan tersebut.

Plus operasionalisasi semuanya akan menggunakan kendaraan listrik tentunya. Saat kendaraan terparkir, akan dicas setrumnya.

Mungkin inilah kenapa BMW sampe melahirkan brand baru mereka: BMWi. Kendaraan BMWi itu, taruh kata i3, dia sama sekali susah untuk dibandingkan dengan kendaraan bermesin bakar lho. Khususnya di titik: trip range.

Kendaraan listrik emang kuat nariknya, tapi mereka lemah di jarak tempuh.

Kelemahannya itu, bisa jadi akan menjadi kekuatan besar kalo harus melibas kepadatan kota yg penuh dg stop & go: motor listrik itu hp-nya rendah tapi torsinya ganas dan super buas. Sentil dikit, kemdaraan dan bisa mencelat. Artinya, ini akan sangat efisien di kondisi stop and go.

Kelemahan jarak? Kan balik itu tadi: dia akan disetrum saat parkir. Baterenya aman. Toh sependek-pendeknya mobil listrik, dia bisa normal dibikin dalam range ratus km koq.

Cukup untuk mengelilingi atau membelah kota besar, macam Jakarta.

Dan mobil listrik itu, khususon motor listriknya – kita abaikan dulu sound system dan AC-nya- bekerjanya berdasarkan kilometer, bukan jam.

Mobil mesin bakar, kalo macet sejam, dia akan tetap membakar BBM karena mesinnya harus terus nyala.

Kendaraan listrik, kalo macet sejam, ya motor listriknya gk maem setrum.

KEMARIN pada suatu kesempatan di Semarang, saya bersama banyak rekan seindonesia sempat mendapatkan paparan singkat tentang seknario masa depan ini dari pihak @BMW Indonesia. Intinya itu tadi: kelak, 20 tahun kelak, lawannya BMW itu bukan lagi Mercy Audi Volvo dll.

Sebab pertarungan akan terjun ke: personal-public transport itu tadi. Bukan lagi sekedar mass-public transport.

Tanda-tandanya: korporasi ojek online terus dapat suntikan dana, dan ada Migo yg menyewakan sepeda listrik itu tadi.

Mungkin demikian.

Mungkin.

Tapi apapun yg terjadi kelak, entah 5 10 20 30 50 100 tahun ke depan itu, saya salut banget sama mereka yg udah memikirkan dan menyiapkan masa depan dari sekarang.

Wajar mereka kalo senantiasa jadi pemenang.

Sementara saya di sini, cuman mikir besok dolan ke mana, yg intinya justru menghabiskan masa sekarang alih-alih capek berpikir tentang masa depan.

Sebab di masyarakat kita, memikirkan masa depan itu bisa jadi kita akan dicap gila, aneh, kelewatan, dann lebay.

Gk percaya? Cobalah tanyakan ke orang sekitar Anda, gimana rencana masa depan kita, keluarga kita, dan bangsa negara ini (bukan pemerintahannya lho) untuk 50 tahun ke depan.

Kalo ada yg menanggapi, segera jadikam dia teman baikmu.

Masyarakat wajar normal dan umumnya, mungkin akan menjawab:

“Kamu ngomong apaan sih? Mikirin hari ini aja pusing! Malah ngajak mikirin yg gk jelas!”

IMHO. CMIIW.

– FHW

Refs: BMW Group dan Daimler: Bergandengan Tangan untuk Satu Layanan Mobilitas.

BMW F10 vs G30

Ada buanyakkk ternyata perbedaan BMW Seri 5 F10 dengan G30. Semprotan kaca depannya bikin baper.

Ini versi nemu dari internet. Saya belom pernah ngamati keduanya secara detail. Dan bisa jadi ini versi luar negeri, gk sama item/printhilan/fiturnya dengan versi Indonesia.

Yang berbeda di G30 dari F10:


  • Enggak ada lagi puteran kontrol temperatur di tengah-tengah diantara lobang ventilasi udara.
  • Indikator dan wiper kini punya “klik” on/off mekanikal.
  • Tidak ada roda kontrol suhu ventilasi udara sentral.
  • Posisi roda kemudi paling rendah tidak serendah F10.
  • Intensitas pencahayaan yang dapat disesuaikan pada lampu atap.
  • Glovebox memiliki volume yang sama tetapi ukuran yang bisa digunakan berkurang.
  • Kotak penyimpanan di konsol tengah lebih kecil.

  • Ada “jari-jari” di lubang tempat gelas sehingga gelas bisa dimasukkan dengan lebih pas.
  • Radio on/off button used to put electrics in stand-by rather than pressing start button once. ~> Yg ini saia gk paham gimana teknisnya.
  • Sekarang enggak lagi pakai pengungkit di bawah tepi depan kap mesin, sekarang pakai tarikan ganda pada tuas pembuka.
  • Tidak ada lapisan lembut di kotak penyimpanan kecil di dekat kemudi.
  • Tidak ada kotak penyimpanan di sandaran tangan belakang.
  • “Sayap” di jok bisa disesuaikan lebarnya.
  • Kursi lebih berkontur daripada F10.
  • Ada sakelar khusus lampu parkir samping kiri/kanan.

  • Tak ada lagi jaring penyimpanan di sisi penumpang, kini dijual sebagai aksesoris terpisah.
  • Molding plastik di sekitar pangkal kursi depan dibuat lebih padat sehingga tidak ada lagi suara berderit.
  • Handel pelipat kursi belakang kini bekerja lebih lembut/halus.
  • Saklar nyala/mati lampu terasa lebih presisi.
  • Fungsi otomatis penghapus (wiper) kaca depan sekarang diaktifkan dengan menggerakkan tuas wiper ke atas.
  • Tidak ada tweeter di pintu depan pada sistem suara versi standar.
  • Spion langsung melipat saat mengunci, tanpa harus menahan tombol kunci ke bawah.
  • Auto-hold pada rem parkir kini bermode aktif secara permanen tanpa harus menekan/mengaktifkannya tiap kalo mobil dinyalakan.
  • Setir kemudi terasa lebih tebal, tapi mungkin ini hanya perasaan subyektif bagi sebagian orang.
  • Ada tiga semprotan air ke kaca depan, bukan dua!
  • Bagasi kini lebih aluminium dan lebih mudah ditutup.

  • Posisi kamera mundur lebih menjauh dari tutup bagasi, jadi gampang kotor.
  • Botol isian air semprotan kaca sekarang pindah ke dekat engsel kap mesin.
  • Kotak penyimpanan di bagasi jadi lebih kecil tapi jadi ada dua.
  • Tidak ada area penyimpanan besar di bawah lantai bagasi.
  • Bagasi sedikit lebih sempit tapi sedikit lebih tinggi.
  • Soket listrik 12V hilang dari bagasi, sekarang jadi opsi.
  • Fitment roda sekarang ber-PCD 5×112 dan center-bore 66.6 sama seperti Mercy atau Audi, sehingga velg BMW generasi sebelum-sebelumnya tak lagi bisa dipasangkan.

Monggo dikoreksi. Matur nuwun.

– FHW

Kini BMW Bervelg Mercy!

Ada sesuatu yg menarik pada BMW generasi kode bodi G. BMW G30 (Seri 5, sedan) atau BMW G11 (Seri 7) misalnya, kini memiliki velg dengan PCD 5 x 112 dengan center-bore 66,6; meninggalkan spesifikasi lama yang 5×120 dengan center-bore 72,6.

Spesifikasi ini persis sis sis sis pleggg dengan spesifikasi PCD dan center-bore Mercy selama ini.

Kalo offset, rata-rata mobil era sekarang sudah pakai offset berangka besar, alias bagian tengah velg berposisi lebih ke-luar.

Dalam bahasa perbeemwean, offsetnya tuh offset Seri 3, bukan lagi offset Seri 5 atau 7 yg terkenal ber-angka kecil.

Suedikittt yg berbeda cuman di gendutnya baut. BMW pakai 1,25 sementara Mercy pakai 1,5. Ini malah enak, bautnya BMW bisa masup sluppp saat dipasangi velg Mercy.

INI berbalik dengan kelakuan VW/Audi. Ada model yg dimelarkan PCD-nya dari 5 x 112 dengan center-bore 57,1 mm menjadi 5×120 dengan center-bore 66,1; ada model yang tetap PCD-nya (%x112) namun dengan center-bore membengkak, dari 67,1 menjadi 66,5.

Biasanya, VW/Audi bisa dipasangi velgnya Mercy namun dengan dibuatkan center-bore ring buat mengepaskan center-borenya. Kini, tampaknya pengguna VW/Audi malah bisa pakai velg (lama) BMW dan tinggal bikinkan ring buat center-borenya.

***

Saat saia telusuri alasan kenapa BMW mengubah PCD dan center-borenya ini, saia belom menemukan informasinya.

Monggo dikomeng jika njenengan menemukan beritanya tentang alasan tersebut.

– Freema Bapakne Rahman.

Ket.: satuan-satuan angka mengikuti satuan baku yg dipakai, di sini adalah mm (milimeter).
Refs.: car.info, wheel-size.com

BMW Motorrad: Kode Sasis

Sebagaimana di mobil BMW era modern yg punya kode bodi, motor BMW (BMW Motorrad) pun juga punya.

Cuman saya bingung ini kode apa, mustinya sih kode sasis. Karena pada kode yg sama bisa jadi model/varian yg berbeda, tergantung mesin dan peruntukannya (road/street, all-road, sport, dll.)

Kayaknya iya, karena kode bodi pada mobil BMW sebenarnya juga mengacu ke sasis, cuman kebetulan ‘sasis yang itu’ langsung ditempeli ‘bodi yg itu’. Jadinya kode bodi.

K50 = R 1200 GS 2011-2018
K51 = R 1200 GS Adventure 2012-2018
K52 = R 1200 RT 2013-2018
K53 = R 1200 R 2013-2018
K54 = R 1200 RS 2014-2018

K25 = R 1200 GS, GS Adventure, HP 2002-2012

K26 = R 900 RT, R 1200 RT 2003-2014
K27 = R 1200 R 2005-2014
K28 = R 1200 ST 2003-2007
K29 = R 1200 S, HP2 Sport 2004-2010

K21 = R nineT 2013-2018
K22 = R nineT Pure 2015-2018
K23 = R nineT Scrambler 2015-2018
K32 = R nineT Racer 2015-2018
K33 = R nineT Urban G/S 2016-2018

K40 = K 1200 S, K 1300 S 2003-2015
K43 = K 1200 R, Sport; K 1300 R 2004-2015
K44 = K 1200 GT, K 1300 GT 2004-2010

K42 = HP4 2011-2014
K46 = S 1000 RR 2008-2018
K47 = S 1000 R 2013-2018
K49 = S 1000 XR 2014-2018
K60 = HP4Race 2017-2018

K48 = K 1600 GT, K 1600 GTL 2010-2018
K61 = K 1600 Bagger 2017-2018

K80 = F 750 GS 2016-2018
K81 = F 850 GS 2016-2018
K70 = F 700 GS 2011-2017
K71 = F 800 S, F 800 ST, F 800 GT 20014-2018
K72 = F 650 GS, F 800 ST, F 800 GT 2004-2018
K73 = F 800 R 2005-2018
K75 = F 800 GS Adventure 2012-2017

E169 = F 650, F 650 ST 1993-2003

R13 = F 650 GS, GS Dakar 1999-2007

K14 = F 650 CS 2000-2005
K17 = C Evolution 2013-2018
K18 = C 600 Sport, C 650 Sport 2011-2018
K19 = C 650 GT 2011-2018
K09 = C 400X 2018-

K02 = G 310 GS 2016-
K03 = G 310 R 2016-

R13 = G 650 GS 2008-2015
R13 = G 650 GS Sertao 2010-2014

K16 = G 450 X 2007-2010
K15 = G 650 X 2006-2009

259 = R 850 GS, R 1100 GS 1993-2006
R21 = R 1150 GS 1998-2003
R21 = R 1150 GS Adventure 2001-2005
259R = R 850 R, R 1100 R 1993-2002
R28 = R 850 R, R 1150 R, Rockster 1999-2007
259 = R 850 RT, R 1100 RT 1994-2001
R22 = R 850 RT, R 1150 RT, R 1150 RS 2000-2006
259 = R 1100 S, R 1100 RS 1992-2005
259C = R 850 C, R 1200 C 1996-2004
259C = R 1200 C Montauk 2002-2004
259C = R 1200 C Independent 2000-2004

K30 = R 1200 CL 2001-2004
K589 = K 1100 RS, K 1100 LT 1989-1999
K589 = K 1200 RS, K 1200 LT 1996-2008
K41 = K 1200 GT, K 1200 RS 2000-2005
C1 = 1999-2003
A73
A40
A61 = 1997-2000
A67 = 2005
A15

– FHW