Bosen nyetir, kecuali …

Saya (pernah) menggunakan mobil pasaran dan mobil Eropa.

Kalo pakai mobil pasaran, itu rasanya fungsional banget.

Perawatannya gampang, suku cadang relatif murah dan mudah alias melimpah, dan mobil gak pakai fitur aneh-aneh yang itu kadang justru jadi bumerang jika bermasalah, sebut saja macam airmass, sensor ini-itu, dll.

Pake mobil pasaran yang fungsional gitu, rasanya setiap hari selalu terjamin fungsionalitasnya. Ibarat kata, tinggal isi bensin dan ganti oli doang, mobil selalu ready to drive. Colok kontak, start, ngacir.

Kalo udah waktunya maintenis, maintenisnya pun gak bikin pening. Ya itu tadi: harga suku cadang dan ketersediaannya (yang relatif murah dan murah/melimpah).

Kaki-kaki udah aus dan tua, tinggal masukkan ke bengkel kaki-kaki. Brak bruk prak pruk; kelar dan bayar. Selesai tanpa beban berat.

Adalah masalah dengan elektrikal apa-apa gitu, gampang, Biasanya gak jauh dri soket-soket aja atau fitting yang kotor.

Mesin juga nyaris itu-itu aja: ganti oli & filter-filter, bersih-bersih, udah.

Ganti-ganti parts apapun, biasanya kalo toh bengkel enggak nyetok, nyarinya juga mudah. Di toko parts biasanya pasti ada. Kecuali kalo parts-nya yang tipikal very-very slow moving.

Tapi slow moving ini juga saya kesulitan mendefinisikannya. Soale dari bumper hingga batok lampu sampe kokel/gardan dll. tuh toko parts gedhe biasanya pasti nyetok.

Ada temennya temen pernah kecelakaan sebuah Rushterios hingga sub-frame depannya mlesak. Eh, beli di toko parts lokalan sini aja ada! Coba kalo ini BMW. Boro-boro sub-frame, filter oli juga bisa dikata enggak ada yang nyetok di kampung halaman Kediri sini. Lik Bim Salam Syim ditemani Lik Sugik sampe puter-puter seantero Madiun juga enggak nemu filter oli E36 M43-nya.

Pokoknya mobil pasaran yang ada di Indonesia, apapun itu, sebenarnyalah yang sesungguh-sungguhnya mobil.

Tinggal pakai, beres.

Tapi mobil pasaran tuh enggak ada sensasi-sensasinya yang gimanaaa gitu. Yang nikungnya enaklah. Yang kickdown-nya asyiklah. Yang kalo di tol uantenggg nggleser-gleserlah. Yang di jalan keriting masih empuklah. Dll.

Intinya sih ya itu tadi: fungsional. Starter, pakai. Gitu aja.


BEDA dengan mobil Eropa.

Kalo ada yang bilang mobil Eropa itu bikin pening, mobil Eropa itu menyenangkan, iya emang … keduanya!

Mobil Eropa itu bikin pening, bohong kalo ada yang bilang enggak. Kecuali buat Anda yang masih punya garansi resmi all-in diganti. Mungkin demikian.

Lainnya itu, sepunya-punyanya duit, saya koq haqul yakin pasti miara mobil Eropa itu bikin pening.

Kalo ada problem, ngelarkannya enggak bisa cepet atau ditunggu dengan tanpa gelisah.

Ada duit buat beli parts pun, biasanya bengkel-bengkel juarang nyetok parts dalam jumlah besar sementara perbaikan-perbaikan “kecil” di mobil Eropa itu umumnya musti sepaket. Kecuali emang Anda lihai banget sehingga mbetulkan mobil Eropa bisa cuman satu item-satu item aja. Perbaikan lho ya, bukan sekedar mengencangkan soket lampu belakang yang kendor.

Alhasil, kalo udah ketemu rusaknya, biasanya bengkel bakal ngorder dulu parts yang mau buat pergantian/perbaikan. Dan ini mustinya takes time kan?

Belom lagi kalo udah elektrikalnya yang kena. Kalo enggak gantinya lumayan kerasa, lainnya itu waktu perbaikannya biasanya juga panjang.

Alhasil, berat sebenarnya menjadikan mobil Eropa sebagai kendaraan sehari-hari, kecuali Anda memang punya program khusus untuk waktu perawatan komprehensif sehingga selebihnya tinggal pakai.

Tapi memang, dengan harga yang dibayar, ada nuansa dan katakanlah sensai tersendiri yang itu benar-benar membuat nyetir kita jadi hidup plus menyenangkan: anteng di kecepatan tinggi, enak-enak aja nelibas jalan acakadut, dan semuanya.

Kita duduk diam pun rasanya enak di badan.

Nyetir berlama-lama tuh biasanya bikin bosen, kecuali nyetir mobil Eropa. Kita nyetir jauh tuh kalahnya biasanya sama ngantuk, bukan sama capek atau sama bosen.

Jadinya, kalo lama enggak nyetir mobil Eropa gitu, rasanya jadi kayak sakaw.

Dan sakaw nyetir mobil Eropa ini emang harganya enggak murah. Ya itu tadi: waktu dan biaya maintenisnya.

BEDA sama mobil pasaran. Kadang belom nyetir juga udah kerasa capeknya duluan. Makin jauh nyetir, rasanya makin bosan dan beneran capek.

Ini bukan masalah enggak bersyukur atau gimana.

Ini hanya sekedar deskripsi yang saya rasakan.

Jadi, buat yang belum terkena racun mobil Eropa, saya sarankan jangan sekali-sekali beli mobil Eropa. Mending takutlah duluan buat miara atau mbeli mobil Eropa. Dan cukupkan saja mindeset Anda ke mobil pasaran.

Saya jamin, kalo terlanjur kecebur miara mobil Eropa, itu bakal ngeri banget. Ngeri kalo pas punya duit, bawaannya pingin dolan terus. Lebih ngeri lagi kalo pas gk punya duit, baik buat bensin apalagi buat maintenis, bawaannya sakaw.

Gak percaya?

  • Freema Bapakne Rahman.
Advertisements

Dirgahayu 5 tahun BMWCCI Kediri Chapter.

Yang pertama kali mengucapkan selamat ultah kelima BMWCCI Kediri Chapter adalah presiden BMWCCI, Om Asido Regazoni via sebuah komen beliau di sebuah posting IG resmi @bmwccikedirichapter pada 14022019 silam.

14022014 sedianya memang akan dijadikan hari pengukuhan BMWCCI Kediri Chapter. Namun rencana itu tertunda karena sponsor yang katanya komitmen hendak ngasih support ke acara pengukuhan tersebut ternyata batal memberikan dukungannya.

Ndilalah, pas hari itu Gunung Kelud mbledhug. Alhasil, alam seperti menyelamatkan penundaan ini.

Jadilah kemudian acara pengukuhan digeser, rencananya ke 04042014 (de facto) yang secara de jure/administratif baru terlaksana dan diterimalah surat peresmian pada 20042014.

Sejak itu, senantiasa dibikin acara pengingat kelahiran klub ini setiap bulan April. Dari sekedar tumpengan super sederhana secara internal hingga bikin gelaran Bimmercamp sebagaimana terlaksana tahun 2014 kemarin.

April tahun 2019 ini, karena satu dan lain hal yang enggak ada acara khusus untuk memperingati ulang tahun BMWCCI Kediri Chapter. Kalo doa bersama sebagai panjatan syukur dan harapan baik ke depan sih adalah tentunya.

Tapi (meski enggak ada acara khusus) ini bukan alasan bagi saya pribadi untuk terus dan semakin mencintai klub ini, yang memang pada kenyataannya klub ini banyak memberikan banyak hal kepada saya ketimbang saya yang banyak memberi kepada klub ini.

Dirgahayu 5 taon BMWCCI Kediri Chapter.

Semoga klub ini bisa menjadi ajang kegembiraan kepada warganya pada khususnya maupun kepada sesiapa saja pada umumnya.

Semoga klub ini bisa terus memberikan manfaat kepada warganya pada khususnya maupun kepada sesiapa saja pada umumnya.

Semoga klub ini terus bersinar, menyinari, dan di/tersinari; memberikan pencerahan kepada warganya pada khususnya maupun kepada siapa saja pada umumnya.

Semoga klub ini bisa menjadi ajang kumpul maslahat dan sarana buang mudharat.

Semoga klub ini bisa langgeng sepanjang masa, dibimbing oleh BMWCCI sekaligus berkprah kepada BMWCCI.

#

Saya ini asli beneran sungguh enggak punya malu dalam semua hal. Tapi kali ini, pada lima tahun BMWCCI Kediri Chapter ini, saya pribadi justru merasa malu.

Karena saya masih lebih banyak menyusu, meminta, dan menghisap kepada klub ini ketimbang memupuk, merawat, dan membesarkan klub ini.

Lha koq bisa saya merasa seperti ini?

Sebab orang banyak mengenal saya sebagai warga BMWCCI Kediri Chapter, yang artinya saya “menerima” predikat dan identitas dari klub ini; sementara tidak banyak yang bisa saya sumbangsihkan untuk memupuk, merawat, dan membesarkan klub ini.

Ini ucapan selamat sekaligus renungan saya pribadi, pada lima tahun #bmwccikediri #bmwccikedirichapter ini.

#

Selamat ulang tahun BMWCCI Kediri Chapter. Aku mencintaimu sepanjang masa.

  • Freema Bapakne Rahman.

Dijual kampak: BMW E34 M60 530i AT 1995 Mauritius Blue Metallic.

Salam.

Yang paling pertama, saya ingin mengatakan dan mohon ini diingat-ingat karena akan berhubungan dengan semua pertanyaan yang akan muncul di benak Anda atau berkaitan dengan seluruh isi postingan ini:

Saya bukan pedagang mobil bekas, saya bukan pedagang barang kampakan/copotan. Saya menjual karena menjual, begitu saja. Bukan menjual karena berdagang.

Kalo Anda masih bingung apa maksudnya, oke ngalir dulu aja.

Ini adalah mobil kami sendiri. Sebuah BMW E34 M60 530i AT 1995 Mauritius Blue Metallic. Bermesin V8 dengan individual coil.

Mesin.

Mesin enggak bisa dibilang sehat. Namun dia masih bisa aja dipacu melewati batas kecepatan maksimal di jalan tol.

Water-pump-nya udah goyang.

Empat biji knocking sensor-nya saya hibahkan temen sejak lama, dan timing pengapiannya saya lock-an di Premium.

Radiator enggak kesumbat, namun plastik sisi samping radiatornya udah kemodif pake logam. Pecah pas dipakai temen dulu itu soale.

Klip radiator ilang satu. Fan-shroud pecah.

Selang-selang jelas semua udah tua, meski masih fungsi. Dan ujung sambungan reservoir-nya udah mulai kritis.

Lainnya itu, thermostat masih normal kayaknya.

Ada bocor pada water-pan di selangkangan V-engine-nya. Ini lagi saya lepas, rencananya mau saya las-kan ke ahlinya ahli. Tapi blionya ahlinya ahli tukang las barusan kena kecelakaan hebat, jadi masih ngangkrak.

Mesin enggak ngebul. Bahkan masih ngembun pagi.

MAF, ICV, dll. masih normal.

Intinya, mesin sih enggak rusak. Normal. Tapi emang perlu maintenis banyak.

Pas banget buat bahan restorasi mesin Anda atau buat bahan swap. Swap ke E30 misalnya.

Transmisi siy enggak njedhag dan enggak terlalu njendul. Katakanlah normal. Komputernya juga masih lihai dan smart banget ngepaskan posisi gigi dan rpm mesin. Cuman memang oli transmisinya perlu ganti. Cocok buat Anda yang perlu ganti transmisi.

AC juga masih dingin. Kompresor enggak ngorok.

Kaki-kaki.

Berani aja kalo buat cruising di tol. Tapi emang waktunya peremajaan semuanya.

Power-brake-nya masih kerasa empuk.

Eksterior.

Jelas sama sekali jauh dari kata mint. Namun overall bodinya mulus, menurut saya. Yang bisa jadi kebalik menurut Anda.

Mobil ini enggak pernah nabrak hebat, kecuali kena trotoar. Jadinya bumper depan udah pernah saya repair. Dan bumper belakang ada bocel-bocelnya. Semua kerusakan bumper ini karena kelakuan orang lain yang pinjem mobil saya.

Plus fender kiri belakang juga ada penyok. Kena pagar oleh kakak ipar yang kaget dengan tenaga mesinnya yang menghentak.

Kap mesin juga udah pudar karena kejemur di luar jadinya kena panas hebat. Dan ada sedikit penyok. Maklum, dia sering diinjek-injek si kecil dulu itu.

Kaca depan ada baret karena kegores tangkai wiper.

Lainnya itu, semua oke. Lis samping pintu masih utuh.

Kover spion kanan jatuh karena dihajar motor yang byayakan. Udah saya belikan kover gantinya, baru dan belum dicat, tapi saya lupa naruhnya dimana.

Leveling-headlamp-nya masih berfungsi normal.

Auto nutup/buka kaca jendela pakai kunci terakhir juga masih normal.

Interior.

Ini bagian yang paling saya demeni di badak saya. Interiornya masih enyak-nyak-nyak.

Interiornya berwarna abu-abu. Kulit asli bawaan BMW sejak barunya mobil. Overall utuh tuh tuh. Hanya ada gripis di pinggiran jok pengemudi. Dengan kondisi yang sudah menua tentunya.

Wood panel mewahnya yang masih komplit, termasuk tuas transmisi dan tatakan lebar di bawahnya. Tuas-tuas, knob, dan kisi-kisi AC semua masih utuh sempurna.

Karpet/alas kaki juga bawaan mobil.

Karena ini bukan versi individual, maka joknya mekanis bukan elektris. Kerai belakang juga manual bukan elektris. Dan tak ada kulkas di balik arm-rest jok belakangnya tentunya.

Nyaris enggak ada bagian dari bawaan mobil yang berganti atau berubah. Kecuali trim pintu yang aslinya bludru udah saya ganti dengan kulit sintetis karena aslinya mengelupas.


Harga.

Terus terang saya enggak tau musti njual geondngan berapa atau njual prethelan-prethelannya berapa.

  • Njual koq enggak tau harganya sih?

Sebagaimana saya bilang tadi, saya hanya mau menjual, bukan berdagang.

Kalo Anda pingin menawar, tawarlah saja. Sukur-sukur Anda bawa referensi dari suatu sumber/link.

Kalo tawaran Anda sreg, saya lepas. Kalo saya enggak sreg, ya mohon maaf saa tolak atau kita negosiasi. Atau bahkan Anda minta gratisan, saya juga enggak keberatan koq asal klausulnya jelas dan sekali lagi: saya sreg.

  • Ah enggak niat jualan nih Lik Freema.

Bodo amat. Kalo Anda enggak mau beli, ya gpp. Silakan cari seller lain yang bejibun di belantara perdagangan dan jual-beli barang copotan/kampakan.

Sekali lagi, saya cuman mau njual. Bukan berdagang. Maaf kalo urusannya sama saya jadi enggak ada aturan dagang-dagangnya blasss.

Catatan.

Oia, harga FOB Kediri. Dan ini yang terpenting: ada empat item yang tidak termasuk atau tidak ada, karena hilang atau mau saya simpen sendiri.

  1. Semua surat: STNK BPKB & buku manualnya enggak termasuk. Mau saya simpen.
  2. Klakson enggak termasuk, mau saya simpen sendiri.
  3. Semua isi toolkit-box enggak termasuk, mau saya simpen sendiri.
  4. Velg. Velg orinnya badak tiga biji ilang dibawa orang. Ini velg kalengnya enggak termasuk, mau saya simpen.

Kalo mau nggeser mobilnya, monggo. Velg bawa dulu. Tapi abis itu balikin. Atau baiknya bawa velg sendiri atau gimanalah bagusnya.

Jadi kayak gitu.

Dan bagi Anda yang nanyak, “Koq dijual lik?”

Biasa, kami lagi BU dan mobil ini udah beberapa tahun enggak kami rawat. Ketimbang semakin rusak, lebih baik kalo jadi uang dan ada manfaatnya buat sesama. Dan kami ada kendaraan lain buat operasional sehari-hari.

Untuk pertanyaan lain silakan komeng di bawah atau WA saya di 0896 9686 7628.

Terima kasih.

  • FHW.
A jet with propeler engine.
Cockpit, control panel.
Target locking knob.
Contra-periscope… a spy set.
Lets feel about a mach…ummm a math… The art of a mach…ummm a math!
One mach controller.
Rudal button.
Wings controller.
“SEKURIT. See the glass. Glass to see.
A man toy… real men’s thing!
A spy set.
Cool-calm-confident flight-signal.
Cool-calm-confident flight-signal.
Flight number.
Angry bird.

Mercury Grand Marquis, grill pongah BMW G11/12 facelift?

Ini adalah Mercury Grand Marquis generasi ketiga (EN114, 1998-2002), model kembar dari Ford Crown Victoria generasi kedua (EN114; 1998–2012).

Masuk di kategori full-sized sedan, dengan mesin yang gaban: 4.6l V8.

Versi sport-nya bernama Mercury Marauder. Versi mewah kembarannya lagi dijual di bawah Lincoln dengan nama Town Car, generasi ketiga (FN145; 1998–2011).

Namun pada Ford Crown Victoria ataupun Mercury Marauder, grill-nya enggak sejenong kayak versi Lincoln Town Car atau Mercury Grand Marquis-nya

Mereka bertiga yang dibangun di atas platform Panther dengan model body on frame alias terpisah antara sasis dan bodinya.

Meski sama-sama dibangun di atas platform Panther, namun dimensi Town Car berbeda. Karena itulah untuk kode bodinya menjadi FN116 (2nd gen facelift 1995-1997) lanjut FN145 (3rd gen 1998–2011).

Ford Crown Vic sering kita lihat sebagai mobil polisi Amerika. Sementara Lincoln Town Car sering dipanjangkan menjadi stretched-limousine.

Lincoln Town Car 1998 – 2002, stretched limousine. Lampu sipit panjang dengan grill jenong.
Lincoln Town Car 1998 – 2002.
1995 – 1997 (FN36) Lincoln Town Car, lampu sipit dan grill jenong.
1998 – 2002 Frod Crown Victoria LX. Grill-nya jenong enggak?

Mercury adalah merk mewah/premium entry-level milih Ford Motor Company (FMC). Merk ini diposisikan diantara Ford dan Lincoln yang premium-luxury. Jika Toyota punya Lexus, saya enggak tahu apakah Lincoln atau Mercury ini yang setara Lexusnya.

Tahun 2011, Mercury ditutup oleh FMC karena FMC memilih konsolidasi kekuatan teknis dan pemasaran untuk Ford dan Lincoln saja. Namun demikian, Mercury tetaplah merk yang menjadi hak milik FMC, setidaknya hingga tahun 2025.

Berlampu agak sipit dan grill yang agak jenong, desain beberapa model Lincoln Town Car, Mercury Grand Marquis, atau Ford Crown Victoria yang bermata sipit dan ber-grill jenong seperti itu untuk era ’90an mungkin sudah tergolong ekstra ataupun berani, meski secara keseluruhan desain mobil masih terlihat konservatif namun lumayan kekinian untuk eranya pada saat itu – khas kendaraan Amerika. Rasanya demikian.

Melihat tampang mata sipit dan grill jenong dari beberapa model Lincoln Town Car, Mercury Grand Marwuis, atau Ford Crown Victoria; mendadak saya langsung teringat BMW Seri 7 G11/12 facelift yang matanya sipit dan grill-nya besar-pongah banget itu.

Nuansa desainnya jelas beda telak antara Lincoln Town Car, Mercury Grand Marquis, atau Ford Crown Victoria dengan BMW G11/12 facelift tersebut. Mereka lahir di generasi yang jauh berbeda.

Akan tetapi itu tadi, saya merasakan seperti ada persamaan sensasi pada kedua kendaraan ini, sesuai pada jamannya masing-masing.

Sayangnya, pada era ’90an saya kelar SD lanjut SMP – SMA dan belom ngeh tentang mobil apalagi tentang itu Mercury Grand Marquis, tentu saya enggak bisa merasakan nuansa kehadirannya seperti apa.

Beda dengan era internet broadband saat ini yang benar-benar membuang jarak dan sekat, mobil yang enggak ada di sini pun bisa kita rasakan feel kehadirannya sekalipun kita enggak menyentuhnya.

Ya meskipun tetap beda antara merasakan dengan melihat dan mendengar dengan menyentuhnya langsung.

Kenapa BMW bisa segitu “nekat” meluncurkan Seri 7 G11/12 facelift yang banyak dikomentari dengan beragam itu, karena saya yakin BMW menawarkan feel dengan sentuhan langsung yang pastinya bakal berbeda dengan hanya dilihat semata.

Dari semua BMW yang pernah saya coba, kekuatan paling terasanya adalah ketika kita merasakannya secara langsung dengan sentuhan: sentuhan badan pada jok, sentuhan tangan pada kemudi, dan sentuhan tapak kaki pada pedal gas. Plus rasaan panca indera pada aroma (baca: sensasi) interiornya, pada “kulit” bodinya, dan semua aspek lain pada si kendaraan. Mungkin seperti inilah semua model BMW dibuat, apapun itu tipe dan variannya: diperlukan feel dengan sentuhan langsung yang pastinya bakal berbeda dengan hanya dilihat semata.

Era 2000an dulu E65/66 dan E60 banyak dicibir karena desainnya yang mendobrak tatanan khas BMW kala itu yang konsisten konservatif. Pakdhe Chris Bangle kabarnya sampe didepak dari kepala desain BMW gara-gara kedua produk ini, padahal pastinya kan desainnya udah pasti disetujui oleh BOD – Board of Directors-nya BMW tho?

Alhasil Lik Adrian Von Hoydonk yang sebenarnya mendesain E65/66 – E60 yang kala itu fruit child-nya pakdhe Chris yang kemudian naik tahta jadi kelapa desain BMW dan mengembalikan F10 dan F01/02 kembali ke nuansa yang lebih konservatif meski grill-nya F01/02 juga aneh kayak gaban.

Namun saat ini, baik E65/66 apalagi E60 tampak begitu mempesona dan malah terlihat semakin/tambah mempesona. Bagaimana bisa para tukang rancang-bangun BMW membuatnya demikian?

ANDA-anda yang mungkin udah gedhe di era ’90an atau bahkan mungkin tinggal di Amerika kala eranya Mercury Grand Marquis generasi ketiga – keempat tersebut, mungkin bisa Anda berbagi gimana perasaan saat melihatnya. Terima kasih sebelum dan sesudahnya.

  • FHW Grand Manggis.
Ford Crown Victoria.
Ford Crown Victoria.
Ford Crown Victoria extended/LWB.

BMW E34 vs Istri.

Mendadak jadi keinget, dulu banyak yang telpun saya, mereka ber-“konsultasi” mengenai E34.

Hiks…. Salah apa saya ini koq sampe mereka-mereka yang banyakan saya belom kenal offline itu sampe tega “konsultasi” tentang E34 ke saya?

Padahal serius, saya ini enggak ngeh-ngeh banget tentang BMW. Mana sekolah saya IPS lagi.

Saya cuman … kebetulan aja merangkum apa cerita temen-temen yang paham teknis ke blog ini. Plus copas referensi sana-sini. Sama berbagi suedikittt pengalaman pribadi. Itu aja. Enggak lebih. Lain tidak. Iya ‘kan? Sesuai dengan apa yang ada di blog ini ‘kan?

Selain telpun, banyakan lagi juga pada inbox.

Intinya mereka semua menanyakan & menyatakan hal yang sama/senada: apa kelebihan dan kekurangan BMW E34, gimana trik merawatnya, dan mereka semuanya para bapak itu tertarik untuk meminang E34.

Soale model ini lumayan worth it: harga murmer, perawatan lumayan murmer untuk ukuran BMW, dan kenyamanan jelas masih dapet banget sementara buat tarik-tarikan ringan juga enggak letoy-letoy amat.

Tapi belakangan, dari mereka-mereka yang konsultasi, pada akhirnya kesimpulannya sama: istri-istri mereka enggak menyetujui. Para istri pilih Seri 3 saja, yang meski lebih mahal harga angkatnya ketimbang Seri 5/E34 namun mereka suka lihat tampangnya.

Pada awalnya saya kasihan juga: pertimbangan teknis yang berjibun dari para bapak itu ternyata kalah dalam satu veto sekejap dari istri-istri mereka. Tapi lama kelamaan saya akhirnya terbiasa dan sama sekali benar-benar mati rasa pada fenomena ini. Enggak sedih, juga enggak bahagia. Datar saja. Enggak ada sisi emosional sedikitpun di hati saya akan fenomena ini.

Dan belakangan lagi saya justru turut bersyukur atas pilihan (istri-istri) para bapak itu.

Yakh, mobilnya buat keluarga brarti. Dan artinya para bapak itu takut eh sayang istri sehingga langsung mau menuruti apa sabda istrinya.

***

Kami dulu milih E34 bukan karena cinta, namun karena terpaksa. Setelah punya dan setelah tau rasanya, barulah kami sekeluarga cinta mati sama mobil ini. Terutama justru si kecil kami, yang kini melarang saya menjual atau mengkampak badak mangkrak ini.

BMW itu, ternyata jauh lebih banyak yang bisa kita rasakan ketimbang yang bisa kita deskripsikan. Ya apa iya sih?

Meski peliknya, rasa itu termasuk rassa bahagia saat bersama keluarga mengendarainya atau rasa pilu pedih perih kala … ah temen-temen semua tahulah. Enggak jauh dari nota bengkel pokoknya.

Ibunya si kecil pun juga turut melarang saya membinasakan si badak biru ini. “Pertama, buanyak cerita kita bersamanya. Mobil ini telah menemani perjalan kita sekeluarga ribuan puluhan ribu kilometer kemana-mana sebelum kamu ketemu temen-temen senasibmu dan kemudian kalian berkumpul bersama.

Kedua, susah nyari mobil yang kondisinya kayak mobil kita ini umpamanya ini (laku) dijual dan andaikata kelak kita bisa beli lagi.

Ketiga, aku bukan kayak para istri yang lain yang mainstream aliran dan pola pandangannya. Aku suka badak ini justru karena antiknya. Out of the box. Antimainstream. Orang bisa aja bilang mobil ini enggak keren. Tapi di mataku, ini justru luar biasa unik dan bikin aku suka.”

Sungguh, istriku bilang kayak gitu ke aku!

Kalo aku sih whatever ajalah. Aku enggak anti barang antik namun juga enggak ber-passion dengan itu semua. Aku suka barang baru tapi sama sekali nggak ngejar barang baru Blass, sedikitpun enggak.

Aku cuman nuruti butuh aja, bukan nuruti selera.

Dan sekarang aku paham, kenapa ibune thole dulu mau aku pinang alih-alih menerima lamaran cowok-cowok lain yang tampangnya eh pola pandangnya mainstream. Jadi bukan aku yang berselera dengan barang antik, melainkan ibunya thole-lah yang justru berselera dengan barang unik. Paham kalian semua?

***

Buat yang lagi nyari BMW, sungguh saya enggak pernah menyarankan apalagi mengajak Anda untuk beli E34 atau Seri 5. Bahkan saya katakan kepada Anda: pikirkanlah berlipat-lipat kali jika mau ngangkat E34 ataupun Seri 5. Ajaklah istri (share holder) dan anggota keluarga (stake holder) Anda bicara sekomplit-komplitnya.

Dan saya justru menyarankan Anda yang berencana ikut terjerumus miara BMW buat ngangkat Seri 3 saja, secukupnya budget buat ngangkat plus benah-benah awal. Seri 3 itu sudah BMW banget koq. Malah BMW banget rasanya: nyamannya iya tetep dapet, apalagi kalo yang duduk di bangke belakang itu para si kecil atau -maaf- warga keluarga yang dengkulnya enggak se-slothang kaki belalang macam saya.

Perawatannya juga paling mudah-meriah, apalagi yang empat silinder, apalagi lagi kalo Anda enggak demen melanggar regulasi jalan tol dan memang menomorsatukan kendaraan untuk kenyamanan keluarga bukan buat memuaskan hasrat bejek gas diri sendiri.

Lainnya itu, tampang Seri 3 itu selalu bikin tenang semua mata yang memandangnya; suka enggak suka BMW atau ngerti enggak ngerti BMW.

Dijual kembali pun juga harganya paling kecil depresiasinya untuk semua jajaran BMW, kecuali model-model yang emang uniknya unik bener.

Dan buat yang udah (baca: terlanjur) miara E34, entah karena passion ataupun karena terpaksa (pada awalnya, karena price vs value-nya yang lumayan untuk ukuran BMW tuwir): selamat.

Anda adalah semacam manusia out of the box.

Meski sesungguhnya Andalah yang tahu akan diri Anda sendiri: beneran out of the box, atau menyendiri dengan dalih pendirian diri sendiri, atau aslinya terjerumus namun kemudian ngeyel sok-sokan suka dengan karakter unik E34, atau murni beli E34 karena murahnya belaka dan yang penting fungsional – with no heart feeling, atau yang lain.

Itu semua hanya diri Anda sendiri yang tahu. Itu juga jika Anda (mau) mencari tahu dan mau berusaha melihat diri Anda sendiri. Kalo saya sih males aja….

– Freema Bapakne Rahman.
Lama enggak nulis (tentang) E34 nih!

Seberapa panjang punya saya?

Saat ini kami memiliki sebuah BMW Seri 5 E34 tahun 1995 (E34 diproduksi sejak tahun 1987 hingga 1996) dan sebuah Ford Everest TDCi 2007.

Sesuai tajuk blog ini yang ngasal dan ngawur, mendadak saya iseng pingin membandingkan panjang unit-unit turangga (kuda, kendaraan) kami dengan beberapa kendaraan lain yang kira-kira sedimensi namun beda jenis, meski saya cantumkan juga beberapa kompetitor sebandingnya. Pokoknya ini komparasi ngasal ngawurlah intinya, yang enggak jelas apa perspektifnya.

Toyota Kijang Innova 2.5 d.


Jarak sumbu roda: 2750 mm (108,3 in)
Panjang: 4555 mm (179,3 in)
Lebar: 1770 mm (69,7 in)
Tinggi: 1750 mm (68,9 in)
Berat kosong: 1665 kg (3671 lb)

Mesin: 2KD-FTV 2.5L Turbo Diesel (D4-D) 2.5 L (2494 cc). Kapasitas mesin ini diambil dari generasi sebelumnya yaitu mesin 2L engine. Diameter tetap 92 mm namun langkahnya menjadi 93.8 mm. Dilengkapi dengan turbocharger dan intercooler.

Menghasilkan tenaga 101 hp (75 kW) pada 3400 rpm dan torsi 191.7 lb·ft (200 N·m) pada 1600-3600 rpm tanpa intercooler dan 118 hp (88 kW) pada 3400 rpm dan torsi 239.85 ft·lbf (325 N·m) pada 1600-3600 rpm dengan intercooler. Toyota Thailand menambahkan teknologi variable nozzle turbo (VNT) dengan intercooler yang bisa menaikkan tenaga mesin menjadi 142 hp (106 kW) pada 3400 rpm dengan torsi 343 N⋅m (253 lb⋅ft) pada 1600-2800rpm.

Transmisi: Manual 5 percepatan dan Otomatis 4 percepatan

Toyota Innova Reborn 2.4 d.

Dimensi
P x L x T (mm): 4585 x 1775 x 1750
Jarak Poros Roda (mm): 2750
Jarak Pijak Depan (mm): 1510
Jarak Pijak Belakang (mm): 1510

Tipe Mesin: 4 Silinder Segaris, 16 Katup, DOHC, D-4D
Isi Silinder (cc): 2494
Diameter x Langkah (mm): 92.0 x 93.8
Daya Maksimum (Ps/rpm): 102/3600
Torsi Maksimum (Kgm/rpm): 26.5/1600-2400
Sistem Pemasukan Bahan Bakar: Common Rail Type
Bahan Bakar: Diesel
Kapasitas Tangki / Fuel Capacity (liter): 55
Steering (Power Steering): with (Electric Power Steering)

Mitsubishi Pajero Sport (Challenger).

PB/PC series; 2008–2016

Wheelbase: 2,800 mm (110.2 in)
Length: 4,695 mm (184.8 in)
Width: 1,815 mm (71.5 in)
Height: 1,840 mm (72.4 in)

QE series; 2015–present

Wheelbase: 2,800 mm (110.2 in)
Length: 4,785 mm (188.4 in)
Width: 1,815 mm (71.5 in)
Height: 1,805 mm (71.1 in)
Curb weight: 2,045 kg (4,508 lb)

BMW E34 Seri 5 530i.


Menurut wiki, dimensinya adalah sebagai berikut.

  • Length: 4,720 mm (186 in).
  • Width: 1,750 mm (69 in).
  • Height: 1,420 mm (56 in).
  • Wheelbase: 2,760 mm (109 in).
  • Curb weight: 1,440–1,800 kg (3,170–3,970 lb).

Towing capacity-nya saya telusuri dari beberapa situs menunjukkan kisaran 1500 kg juga.

BMW E34 sendiri diproduksi sejak tahun 1987 hingga 1996 alias sembilan tahun lamanya.

Toyota Fortuner.

AN50/AN60; 2004–2015

Wheelbase: 2,750 mm (108.3 in)
Length: 4,705 mm (185.2 in)
Width: 1,840 mm (72.4 in)
Height: 1,850 mm (72.8 in)

AN150/AN160; 2015–present

Wheelbase: 2,745 mm (108.1 in)
Length: 4,795 mm (188.8 in)
Width: 1,855 mm (73.0 in)
Height: 1,835–1,850 mm (72.2–72.8 in)
Curb weight: 2,105–2,135 kg (4,641–4,707 lb)

Ford Everest TDCi 2007.

Menurut situs ini, Ford Everest ini memiliki dimensi sebagai berikut.

  • Length: 5060 mm.
  • Width excl mirrors / Incl mirrors: 1788 mm.
  • Height: 1826 mm.
  • Wheelbase: 2860 mm.
  • Ground clearance: 208 mm.
  • Kerb weight: 1894 Kg.
  • Towing capacity unbraked: 1200 Kg.
  • Towing capacity braked: 1500 Kg.

Isuzu Elf.

Ada dua model untuk Elf minibus, atau microbus, atau apalah namanya itu. SWB sama LWB.

ELF SWB NHR 55.

DIMENSI
Panjang Keseluruhan: 4,590 (mm)
Lebar Keseluruhan: 1,695 (mm)
Tinggi Keseluruhan: 2,127 (mm)
Jarak Terendah: 210 (mm)
Jarak Poros Roda: 2,490 (mm)
Jarak Pijak Roda Depan: 1,425 (mm)
Jarak Pijak Roda Belakang: 1,405 (mm)
Seating Capacity: 16 (person)
Front Axle Capacity: 1,600 (kg)
Rear Axle Capacity: 3,500 (kg)

BERAT
Curb Weight (berat kosong): 1,470 (kg)
Gross Vehicle Weight (berat total): 5,100 (kg)

BAN & VELG
Ban Depan: Single, 225/75/R16
Ban Belakang: Single, 225/75/R16
Velg: 16 x 7.00

MESIN
Model/Tipe: 4JB1-TC
Sistem injeksi bahan bakar: OHV, Direct Injection 4 Cylinder
Isi silinder: 2,771 (cc)
Tenaga maksimum: 100 / 3,400 (PS/rpm)
Torsi maksimum: 22.5 / 2,000 – 3,200 (Kgm/rpm)
Garis tengah x langkah: 93 x 102 (mm)
Radius Putar: 5.4 (m)

TRANSMISI
Model MSB5S
C
gigi 1 5.016
gigi 2 2.672
gigi 3 1.585
gigi 4 1.000
gigi 5 0.770
Rev 4.783
Final Gear Ratio 4.875

ELF LWB NKR 55.

DIMENSI
Panjang Keseluruhan: 5,505 (mm)
Lebar Keseluruhan: 1,695 (mm)
Tinggi Keseluruhan: 2,127 (mm)
Jarak Terendah: 190 (mm)
Jarak Poros Roda: 3,405 (mm)
Jarak Pijak Roda Depan: 1,425 (mm)
Jarak Pijak Roda Belakang: 1,405 (mm)
Seating Capacity: 20 (person)
Front Axle Capacity: 2,300 (kg)
Rear Axle Capacity: 2,800 (kg)

BERAT
Curb Weight (berat kosong): 1,650 (kg)
Gross Vehicle Weight (berat total): 5,100 (kg)

BAN & VELG
Ban Depan: Single, 225/75/R16
Ban Belakang: Single, 225/75/R16
Velg: 16 x 7.00

MESIN
Model/Tipe: 4JB1-TC
Sistem injeksi bahan bakar: OHV, Direct Injection 4 Cylinder
Isi silinder: 2,771 (cc)
Tenaga maksimum: 100 / 3,400 (PS/rpm)
Torsi maksimum: 22.5 / 2,000 – 3,200 (Kgm/rpm)
Garis tengah x langkah: 93 x 102 (mm)
Radius Putar: 7.4 (m)

TRANSMISI
Model MSB5M
C
gigi 1 5.594
gigi 2 2.814
gigi 3 1.660
gigi 4 1.000
gigi 5 0.794
Rev 5.334
Final Gear Ratio 5.857

Kesimpulan ngasal ngawur: beda karakter overhang.

JARAK SUMBU RODA.
Toyota Fortuner: 2,750 mm
BMW E34: 2,760 mm
Mitsubishi Pajero Sport: 2,800 mm
Ford Everest TDCi: 2860 mm

PANJANG TOTAL.
Mitsubishi Pajero Sport: 4,695 mm
Toyota Fortuner: 4,705 mm
BMW E34: 4,720 mm
Ford Everest TDCi: 5060 mm

SELISIH TOTAL OVERHANG.
Mitsubishi Pajero Sport: 1.895 mm
Toyota Fortuner: 1.955 mm
BMW E34: 1.960 mm
Ford Everest TDCi: 2.200 mm

Ada beberapa hal menarik yang bisa kita cermati dari data-data di atas.

Toyota Fortuner (konon satu platform dengan Toyota Innova dan Toyota Hilux satu generasi), Mitsubishi Pajero Sport, dan Ford Everest kita golongkan sebagai satu kelas kompetisi. Bersama Nissan Terra dan Isuzu Mux dan kembarannya si Chevy Trailblazer mustinya. Tapi kita pelototi saja dua nama besar raja pasar selain Ford Everest itu saja.

Untuk yang segenerasi, Toyota Fortuner memiliki jarak sumbu roda yang sangat pendek namun memiliki panjang bodi yang lumayan panjang. Sehingga total overhang-nya lebih panjang daripada Mitsubishi Pajero Sport. Namun angka paling enggak enak teteplah dipegang oleh Ford Everest TDCi, yang dari angka total overhang-nya maka kelihatan kalo mobil ini paling ndhowèer tampangnya.

Dan karena mereka semua berpenggerak roda belakang, tampak secara kasat mata kalo ndhowèr-nya itu lebih di overhang belakang. Ini cuman berdasarkan pengamatan saja, saya masih nyari data detail overhang masing-masing unit. Monggo dibantu di komeng jika Anda nemu link-nya.

Overhang, konon berfungsi untuk akomodasi ruang mesin dan bagasi, plus berpengaruh juga pada stabilitas handling.

Contohnya MINI yang memiliki overhang depan dan belakang yang sangat pendek. Hal ini memberikan kontribusi terhadap ketajaman handling MINI, khususnya saat melahap tikungan.

Sementara jarak sumbu roda semakin panjang akan menghasilkan gaya pada roda lebih stabil. Dari kestabilan ini barulah muncul kenyamanan.

Cuman saya enggak tau, kalo dikombinasikan apakah jadinya “jarak sumbu panjang dengan overhang pendek maka akan menghasilkan handling yang tajam sekaligus tetap memunculkan kenyamanan” ataukah masih ada faktor krusial lain (selain weight-distribution dan center of gravity). Monggo masukannya lik.

BMW segedhe SUV.

BMW E34 memang pada saat barunya tergolong mobil mewah. Namun dibanding SUV kelas menengah yang hadir satu dekade setelahnya, E34 ternyata masih tergolong bongsor juga. Jarak sumbu rodanya satu centimeter lebih panjang ketimbang Toyota Fortuner dan panjang totalnya 1,5 cm lebih panjang ketimbang Toyota Fortuer.

Elf yang luar biasa.

Elf SWB punya dimensi paling bentet dari semuanya. Jarak sumbu rodanya 2.490 mm, ini jauh lebih pendek ketimbang Innova/Fortuner yang 2.750 mm. Panjang bodinya pun 4.590 mm, hanya 4 cm lebih panjang dari Toyota Innova yang 2.555 mm.

Namun ELf ini punya kapasitas penumpang yang banyak: 16 orang!

Okelah itu karena modelnya cab-over (cab-over engine) alias kabinnya di atas mesin alias hidungnya pesek alias enggak pake moncong alias nggak ada panjang kendaraan yang “kebuang” buat kompartemen mesin. Tapi kapasitas segitu, itu tetep saja wow rasanya. Itu artinya ada 5 baris kursi dengan konfigurasi 3 seat per bari dan ada sebaris yang berisi empat.

Atau mungkin 4 baris dengan empat seat per barisnya, sementara di barisan depan itu biasanya cuman 3 seat.

Entahlah. Yangjelas ini tetep saja saya nilai incredible, meski pagi kalangan pengguna Elf ini adalah hal lumrah dan biasa.

Lha bagaimana enggak incredible, itu Elf SWB dibanding BMW E34 tuh jarak sumbu rodanya 27 cm lebih pendek dan panjang bodinya juga 13 cm lebih bentet. Sementara dengan dimensi segitu, E34 cuman bisa muat 4+1 penumpang.

Atau dibanding Everest yang bisa muat 5+2 penumpang, itu Elf SWB jarak sumbu rodanya 37 cm lebih pendek dan panjang totalnya 47 cm lebih pendek. Nyaris setengah meter.

Untuk Elf LWB, jangan ditanyalah. Selisih panjang sekaligus selisih jarak subu roda Elf LWB vs SWB itu sama-sama 91,5 cm. Dengan dimensi yang jauh lebih melar dan sumbu rodanya juga jauh lebih panjang itu, ya panjang kalo daya tampungnya 20 penumpang.

Sebentar, hanya selisih 4 penumpang saja dibanding versi SWB-nya?

*Mikir keras.*

BTW menurut penilaian saya pribadi, bohong besar kalo Everest tuh dibilang isi 7 penumpang. Kompartemen bagasi belakangnya aja ada slot buar rak bagasi/shelf-nya, artiya belakang itu emang mustinya cuman buat bagasi saja dan bangku belakang itu cuman aksesoris yang kebetulan saja bisa diduduki namun rasanya sama sekali enggak layak karena tinggi seat-nya yang super pendek. Ukurannya: anak-anak pun pahanya masih berpotensi terangkat ke atas banget.

Padahal namanya tempat duduk, mustinya bisa menopang paha dengan baik bagi peruntukannya yang sesuai. Kalo toh ada anak yang kecil banget yang pahanya bisa menapak kursi, saya kasihan berat dengan goncangan di bangku paling belakang yang ekstrimnya berbeda telak dengan pen-duduk di bangku tengah apalagi di bangku depan.

Ini saya menilai mobil saya sendiri lho, bukan mobil orang lain. Dan sekali lagi, ini subyektif.

Saya enggak tahu untuk Fortuner atau Pajero Sport. Saya enggak punya unitnya dan belom pernah ngetes langsung sendiri.

Kalo Innova Reborn, posisi duduk baris ketiga masih enak (banget). Paklik saya punya unitnya soale, jadi saya bisa ngetes langsung sendiri dengan lumayan leluasa.

Dan kayaknya emang Innova merancang unit ini sebagai mobil penumpang beneran sih, paha orang dewasa rata-rata masih bisa menapak pada jok. Enggak salahnya sama sekali kalo dia menyatakan diri sebagai mobil dengan 7 penumpang.

Tapi saya kurang suka dengan Innova atau Fortuner atau Pajero Sport. Otak saya udah keracunan barang bule, entah Eropa ataupun Amerika. Karakter desainnya itu selalu lebih simpel dan lebih timeless gitu.

Yaaa meskipun ini Ford Everest aslinya sepenuhnya Mazda BT Series. Namun desainnya udah diubah jadi lebih Ford gitu. Jadi meskipun kursi supirnya enggak punya pengatur ketinggian, setirnya cuman bisa naik-turun (tilt) enggak bisa maju-mundur (teleskopik) – sehingga punggung atas saya cuepet pegal karena seating-posotion ini padahal saya bisa menerima sepenuhnya goncangan yang datang dari karakter suspensinya, dan jok baris ketigaya saya anggap sebagai aksesoris saja ketimbang jok beneran, saya tetep jauh lebih suka mobil ini ketimbang Fortuner atau Pajero Sport yang sedemikian laris dan populer itu.

Karena ini sudah urusan subyektif.

Sebagaimana saya enggak bisa lepas dari BMW yang saya berasa enggak sanggup lagi miaranya ini.

Anda bingung ya?

Sama. Saya juga bingung koq bisa-bisanya orang beli seniyavansa atau aylagaya yang gedhenya “cuman” segitu dan isinya 7 penumpang itu. Tapi bagi Anda pengguna mobil tersebut, Anda pasti heran kenapa saya sampai bingung dengan pilihan Anda itu.

Meski saya enggak ambil pusing, tapi sungguh, diam-diam saya tetap bingung.

Tapi kalo Anda enggak bingung dengan kenapa saya koq enggak bisa lepas dari BMW yang bikin hidup setengah hidup ini, baiklah saya juga enggak akan bingung dengan kenapa Anda milih mobil imut yang isinya 7 penumpang itu.

Tapi awas hati-hati, jangan sampai Anda gegabah mencap saya anti barang Jepang apalagi China. Overall, buanyak barang merk Jepang dan China yang kami pakai dalam keseharian. Mobil pun dalam keluarga besar kami juga lebih banyak Jepangannya ketimbang Eropa/Amerika. Ini sudah hal yang sangat kontekstual dan -sekali lagi- subyektif.

– FHW

Penasaran sama BMW Indonesia dan Jerman.

Saya koq jadi penasaran, pihak BMW Indonesia atau sekalian BMW AG Jerman sana kalo ngikuti angkringan-online Bimmerfan Mataraman ini kayak gimana ya perasaan mereka?

Geram atau malah ngakak-ngakak ya?

Atau langsung jajaran manajemen (board of directors/BOD) dan tim R&D-nya rapat maraton, membahas fenomena adanya sekelompok penggemar BMW garis keras tapi beraliran kere eh (jarum bensinnya) kiri alias kelakuannya kayak enggak ada BMW-BMW-nya blas kayak kita di sini ini,

termasuk mendatangkan ahli bahasa untuk membahas materi posting berisi “Ini dompet apa kopiah” di forum yang ngakunya forum penggemar BMW?

Atau mungkin FB Group ini (sama blog saya) udah diblokir ama mereka (tapi diam-diam di rumah para pekerjanya sembunyi-sembunyi mbaca-mbaca, trus pas istirahat siang di kantin pabrik Dingolfing mereka rasan-rasan “Pssst gaes, udah tau belom ada fenomena baru lagi dari Indonesia: jam tangan BMW yang dibawa ke tukang jam bolak-balik masih enggak bener-bener juga“)?

Tapi kalo saya musti dipanggil ke Jerman untuk diinterogasi atas keberadaan kita di sini, saya bakal langsung bikin paspor seketika.

Kalo interogratornya nanti pakai bahasa Jerman, jelas saya akan diem saja karena enggak bisa bahasa Jerman. Kalo interogratornya ntar pake bahasa Inggris, saya bakal jawab “little-little I can” dan saya ulur waktunya biar jadi luama, pake gelagapan gitu.

Dan ini bukan gelagapan gaya-gayaan karena ya emang bahasa Inggris itu bikin saya gelagapan macam bule mau tenggelam dan teriak “Help! help! Help!” gitu.

Yang mana setelah Lik Sugik lihat bule mau tenggelam dan teriak-teriak helep-helep gitu, Lik Sugik langsung teriak ke Lik Catur “Bule klelep! Bule klelep!”

Jadilah Lik Sugik penemu asal kata klelep (tenggelam).

Kalo interogratornya pakai bahasa Indonesia, saya bakal pisuhi dia “Jancuk, lha ngapa takon barang, ngapain ente nanyak-nanyak aja sih? Kayak hidup dari mana aja kamu tuh ya!”

Kalo interogratornya pakai bahasa Arab, mau ngomong apapun dia, nanti saya tinggal bilang “Aamiin… aamiin…”

Sebab kalo dia ngomong jelek terlebih lagi enggak ada dasarnya, dia sendiri ntar yang dosa.

– Freema MW,
penasaran tapi enggak gentayangan.