(Street Legal) Race Car.

“Curang” nih… Kalo tim balap biasanya beli mobil jadi; trus dibongkar dan dibangun ulang: chasis enforcement, bikin body kit, dan pasang segala perlengkapan (roll bar, pemadam, dll) sesuai homologasi, sama sunat sana-sini buat meringankan berat;

berhubung ini tim balapnya BMW, maka ia cukup memenggal body jadi tapi belom selesai dari jalur produksi dan melanjutkan sendiri segala proses yg diperlukan secara hand-made. Tanpa harus memasang parts yg tak diperlukan tentunya: jok penumpang, dashboard komplit, dll. Dan biasanya juga tidak termasuk AC, sound-system, perangkat electric tambahan (power-window, dll.), dll.

Yaaa… mungkin bukan cuman BMW, tim-tim resmi pabrikan kelas dunia mungkin juga sama kayak gini prosesnya.

Dan mobil balap yg dibikin legal di jalan raya, karena sudah dikompliti segala atribut yg dipersyaratkanb oleh regulasi jalan raya: lampu, sein, instrumen cluster, dll. kemudian dijual ke umum melalui dealer resminya sebagai street-legal race car.

Duit maning dapetnya.

Itulah kita kalo pintar, nyari duit itu jadi “gampang”.

Saya bukan penggemar mobil balap/racing. Karena jiwa saya itu mobil dolan/turing.

Tapi menonton video ini tuh imprssif banget.

Layak ditonton dan inspiratif. (y)

Advertisements

Bimmer Turis, Turis Bimmer

Bimmer, yg miara biem, itu kalo saya ibaratkan laksana turis.

Ada turis kelas hotel. Dari mana ke mana naik pesawat tanpa peduli harga tiket dan pedulinya malah pada kualitas layanan dan jenis kelas pesawatnya, naik mobil antar jemput charteran atau paling ndhak taksi kelas premium. Maemnya menu hotel, buffet. Menu-menunya bahasa inggris semua: ice lemon tea, lychee tea, dan semacamnya.

Ada turis kelas rombongan. hunting tiket pesawatnya jauh-jauh hari dan mungkin dibela-belani begadang sapa tau dapet supres harga murah. Ke sana kemari pake mobil rombongan ala seniyapansa. Masih bisa naik taksi tapi senantiasa taksi kelas biasa atau mungkin taksi online. Maemnya di warung yg judulnya warung tapi tempatnya cekli. Dan sama buffet-nya cuman namanya biasanya ganti prasmanan. Menu-menu maemnya pakai bahasa inggris tapi bahasa inggris medhok. #Halah!

Ada turis kelas backpacker. Siap naik kereta ekonomi. Ke sana kemari jalan kaki atau naik angkot. Tidurnya di losmen atau homestay itu pun jadi pilihan terakhir kalo atap langit sudah tak memungkinkan. Makan di warteg atau nasi bungkusan di kios kopi dan minuman dingin pinggir jalan, yg gk pernah ada menu makanannya.

Dan kesemuanya punya persamaan:

  • Sama-sama berwisata, menjelajahi tempat baru yang belom pernah dijelajahi; mengeksplorasi hal-hal baru, baik untuk kesenangan melepas penat maupun untuk makanan otak dan batin – menambah wawasan; dan
  • Pada era kekinian: mereka semua sama-sama mengandalkan teknologi dan informasi. Cuman mungkin bedanya yang kelas atas mengandalkan geskan kartu kredit, yang kelas bawah mengandalkan kuota bonus buat menjelajahi tempat-tempat baru yang asyik tapi MURAH.

Saya mengamati di kalangan bimmerfan juga demikian adanya.

Ada yang miara biemnya super perfect. Yang ini pokoknya susah dan panjang dijlentrehkannya. Biasanya kaum inilah yang di-eksploitasi di-eksplorasi oleh media massa ataupun ATPM BMW karena mendukung posisi mereka: kendaraan premium dan luxury.

Biem keluaran taon anyar. Atau meskipun yg dimainkan itu biem tuwa bmwangka, tapi budget mainannya sama sekali bukan main-main. Jumlah mmereka sangat banyak, sama sekali gk bisa dibilang sedikit, dan cukup keliatan. Pokoknya susah kalo dibilang minoritas.

Berlebihan kah mereka?

Berlebihan itu kalo melebihi kemampuannya. Kalo semuanya itu tidak mengganggu kehidupan(finansial) mereka dan justru membawa kesenangan psikologis dan membawa manfaat kepada pihak lain, ya tentu bagus banget dong ah!

***

Ada yg kelas “rombongan”. Biemnya dipiara dengan baik dan benar. Namun susah untuk masuk kelas museum, kelas kontes orisinalitas, kontes collectible-item, dsb.

Model yg ginian ini emang rombongan beneran. Jumlahnya banyak, massif. Kalo pas ada bimmerfest, ada kopdar, ada gelaran yg ngumpulkan para bimmerfan, inilah yang memenuhsesaki acara. Beberapa dari irisan segmen ini udah masuk ke kasta yg biemnya kolektibel itu tadi.

Tanpilannya rata-rata monoton: mobil ceper, velg-velg ditonjolkan eksistensinya – meski yg kesengsem kenbanyakan cuman dirinya sendiri atau sedikit orang yg berselera sama. Selebihnya, orang biasanya cuman melihat tanpa ekspresi apapun. Atau mungkin cenderung merasa aneh.

‘Mereka itu ngapain sih?’ Mungkin kayak gitu yg di benak orang.

Kebalik dengan apa yg di benak mereka, bahwa ini-itu semua, biem dan pernak-perniknya itu, adalah simbol pencapaian atas pencarian. Pencarian jati diri yang sangat didukung dengan daya dukung nominal. Kalo bukan nominal, apa lagi? Adakah yg lainnya? Kalo kita mau berani jujur: gk ada!

Ya emang itulah satu-satunya syarat dan prasyarat. Kondisi dan pra-kondisi.

Duit mereka -kaum bimmer ‘turis rombongan’- itu sama sekali bukan sedikit lho! Tapi sepertinya kelas mereka masih tidak masuk klasifikasi sebagai pihak yg diperhatikan dan dibutuhkan untuk penguatan citra merk BMW. Entah karena apa. Mungkin -meskipun berbiaya sangat muahalll- karena style/gaya miara biem mereka cenderung independen, suka-suka sesuai selera, dan kurang mendekati unsur ‘premium dan kuxury’ ala BMW.

Atau kalo bimmerfan kelas kaum turis rombongan ini tampil gaya susah, tampil gaya susahnya itu pake biaya buanyakkk lho! Bukan susah beneran.

Lebay kah mereka?

Yg lebay itu yg nganggap mereka lebay.

Semua memiliki dimensi dan ukuran – kondisi masing-masing. Sebab bisa jadi, apa yang mereka belanjakan untuk membuat biemnya jalan dan dandan, kalo ditotal masih lebih murah ketimbang total cost of ownership untuk memiliki sebuah MPV atau SUV sejuta umat. Who knows tho?

Biarkan segmen ini bergerak. Sebab merekalah yang turut membuat dunia perekonomian bergerak juga.

Akan banyak pekerja bengkel yang mendapatkan rejeki-Nya via segemn ini. Akan banyak penjual pernak-pernik dan komponen/onderdil yang berputar keuangannya karena keberadaan mereka. Akan buanyak vendor item macem-macem ini-itu dapet banyak orderan karena dinamisme mereka.

Akan terus berputar, berjalan, dan bergerak aktivitas hidup ini juga karena keberadaan mereka semua.

***

Nah, yg unik dan menarik adalah justru wisatawan sori bimmerfan kelas kere kiri. Ini ibarat wisatawan adalah wisatawan nekat. Berani berwisata, tapi makannya ala… bukan ala tapi beneran khas orang susah.

Kartu debitnya buat cadangan pulang, bukan buat belanja senang-senang.

Gayanya ngikuti pertunjukan-pertunjukan kelas berat: sendratari, theater, musik yg kesemuanya bersufix ‘jalanan’; yg berat di pikiran namun gratis di ongkosan. Padahal sebenarnya karena gk kuat aja buat mengikuti gaya hidup ala urban dan nasib mereka jauh panggang dari api, jauh tampang dari hedonisme.

Omongannya selangit, karena banyak menghabiskan waktunya dengan makan wawasan; ya sebenarnya hanya karena tak bisa banyak menghabiskan waktunya dengan uang atau membeli kesenangan dengan nominal.

Model yg ginian, biemnya itu serasa jadi korban dan tumbal. Ngisi bensin mapuluh rebu. Ada rusak diakal-akali. Mobilnya kusam di sekujur bodi. Kaca jamuran penuh daki. Velg peyang sana-sini. Tapi sok ngerti aja sama mesin elektrikal mekanikal dan perawatan mobil. Ya karena suka belajar dari kerusakannya. Cuman tak ada isi dompet untuk menjawab itu (PR) semuanya.

Kadang mengejar sebuah angan impian cita-cita pas ada rejeki nomplok, apapun itu bentuk atau wujudnya: entah ganti shock bagus, ganti ini-itu yg biasanya cuman dikadali dan diakali, atau apalah namanya. Tapi kalo ndhak ya cuman se-item itu yg bisa diwujudkan, selebihnya paling ya sekali-sekali itu aja bisa mewujudkannya.

Useless-kah keberadaan mereka? Secara ekonomi mungkin iya. Tidak banyak nominal berputar dari kalangan ini.

Tapi, tanpa eksistensi alias keberadaan porsi bawah yg biemnya acakadut amburadul ini, mereka-mereka yang berada di lapisan atasnya tidak akan pernah punya ukuran penilaian bahwa biem mereka keren!

Ya apa ya?

Well, yg model kere kiri di barisan aliran terakhir ginian ini, yg selain saya hayo ngacung!

Yakh koq cuman kalian doang sih? Udah ah, bubar aja kita, gk usah bikin genk dan komplotan aliran kere kiri! Diasepin sama yg biemnya kinclong dan kenceng, tahu rasa ntar! Ayo sana pada pulang! Diapain gitu sana biemnya, pokoknya ada kesibukan dan sok perhatian ama biemnya sana! Gk usah pake banyak nggosip! Huh!

ITULAH dunia. Itulah turis. Itulah bimerfan. Dan ini semua cuman sudut pandang sangat subyektif yang saya ungkapkan dengan pemikiran yg sepenuh asal ngawur dan asal njeplak.

Kalo toh ini nyata, bagusnya ini posting tetep aja kita anggap ngawur. Jadi jika bagi Anda apa yg saya utarakan ini ngawur, ya kan udah saya bilang tadi!!! Bahwa ini tuh ngawur dan asal njeplak! Gimana sih…

– FHW.
Gaya turis, Sok ala backapcker.

Trik Memilih BMW Seken

Dapet pertanyaan kayak gini, “Di-compare dong amtara tipe ini vs tipe ini vs tipe ini; yg komplit semuanyalah, trus value masing-masing model biar kami yg ekstra nubie ini paham jika nanti menetukan pilihan, apalagi yg tinggal di kota kecil macam kami ini,”

Kalo super ekstra nubie, prinsipnya gini aja: beli BMW yg se-baru mungkin yg kitanya kuat ngangkat plus siap budget maintenisnya.

Soale kalo udah keterlaluan tuanya si BMW, dia udah pindah posisi dari mobil fungsional ke mobil hobi dan koleksi. Maintenisnya malah ngelunjak, soale tingkat kerusakannya asumsinya makin parah dan partsnya khawatirnya makin langka. Kecuali njenengan bersedia menyelami sedalam-dalamnya sehingga bisa me-manage waktu dan budget buat hunting parts atau nyari subtitusinya sedapat-dapatnya.

Kalo asal terbaru mungkin, jatuh perawatannya malah enak/gampang. Cuman gampang bukan berarti (relatif paling) murah lho!

Jadi kalo misalnya budget siap berapa nih, taruh kata 50 atau 100 atau 150 atau mungkin cuman 25 misalnya; ya dari kesiapan budget itu baru hunting yg sebaru mungkin yg bisa diangkat plus budget itu termasuk maintenis awalnya. Soale biar gimana-gimana, kita beli mobil buat dipakai; bukan mindah mobil ngangkrak dari garasi orang ke garasi kita.

BERAPA yang musti disiapkan buat maintenis/benah-benah awal?

Ini relatif banget. Dan banyak patokan yg beredar di beragam kalangan bimmerfan.

Tapi setidaknya, perlu biaya buat tune-up – ganti semua fluida: oli mesin, oli transmisi, oleh gardan, minyak rem, minyak power-steering, air radiator, dll dll; ganti semua filter: filter bbm, filter oli, filter udara, filter kabin/filter AC; ganti bvusi dan semua belt; dll. Tune-up standar gitulah. Kecuali sama sellernya disebutkan kalo itu semua barusan diganti.

Termasuk drier dan freon+oli kompresor AC juga. Sukur-sukur sekalianseal-seal sambungan AC. Ini sering bikin masalah bocor. Drier yg udah kadaluwarsa juga bikin kompresor kasihan kerjanya ntar. Oia, avap bersihkan juga.

Plus beberapa hal yg kita curigai udah rawan ganti: kaki-kaki, ban, water-pump, thermostat, dll. Karena itu semua tersembunyi dan rawan bikin runyam kalo ndhak diganti. Ya sekali lagi kecuali kalo sellernya bilang udah ada penggantian itu sebelumnya.

Kalo mau joss lagi, ya restorasi. Mesin turun setengah buat dibersihkan, semua gasket diganti baru, termasuk seal-klep. Serta pastikan bearing-bearing dalam kondisi lancar: bearing AC, tensioner, dll.

Itu semua kalo dikerjakan di mobil lawas sejuta umat, biayanya cuman sekian persen dari harga perolehan mobil. Kalo di BMW, itu semua bisa sama bahkan melebihi harga beli mobilnya!

Suka ndhak suka, senang ndhak senang, percaya ndhak percaya, plis jadikan ini pegangan. Dan inilah emangf yg bikin harga biem jatuh hancur. Soale maintenisnya emang sering mengejutkan dan bikin shock bagi sesiapa yang memaksakan persepsi maintenis biem kayak mobil jepangan pasaran.

#Saya duliu beli biem juga bisa dipakai dan larinya kuencang koq! Meski sekarang ngangkrak. 😛 😛 😛

Secara sederhana, yang musti kita pegang kala nyari biem seken secara umumnya:

  1. Prinsip ngambil biem adalah se-baru mungkin/semuda mungkin tahunnya. Biem itu newer is overall better.
  2. Jangan habiskan budget buat ngangkat aja. Budget yg tersedia musti dipecah/disiapkan buat: ngangkat + benah-benah awal.
  3. Nah, dari budget yg disiapkan itu nantinya baru bisa diarahkan bagusnya ke model apa.
  4. Mau apapun tipe biemnya, persyaratan dasarnya adalah: kita musti tahu bengkel rujukan, paham teknis-teknis dasar: cek/nambah air radiator – kebanyakan tipe biem pakai sistem bleeding, dan paham semua makna/maksud indikator di instrument-cluster. Wajib! Terserah gimana cara Anda.

Tambahan dikit: pas hunting upayakan printhilan slow-movingnya dalam kondisi bagus. Slow-moving ini macam parts/kondisi interior, lampu-lampu, dll. Soale bikin bagus itu semua, budgetnya alamak bener deh!

Nah, di atas saya bayangkan: dari budget yg disiapkan itu nantinya baru bisa diarahkan bagusnya ke model apa. Pilihan model ini, nantinya akan disesuaikan dengan selera Anda.

Akan ada sedikit kompromi di sini. Seri 3 mungkin harga perolehannya sedikit lebih tinggi ketimbang seri lainnya, khususnya seri 5. Karena biem ini emang yg paling pasaran dan paling dicari. Maklum, rasa dan sensasinya tetep biem, sementara dia relatif paling irit dan maintenisnya paling mudah+murah diantara seri-seri biem lainnya. Meski per varian nanti bisa saja menghasilkan kesimpulan yg berbeda. Tapi secara umum bisalah kita bilang kayak gitu kan ya? 😀

Kalo misalnya satu varian, misalkan E34 M20 vs E34 M50 vs E34 M50TU (Vanos); ya tetep prinsipnya yg terbaru mungkin. Yakni M50TU. Karena kalo dalam kondisi optimal, tentu varian terbaru yg meberikan optimasi paling bagus. Optimasinya pada umumnya: bensin lebih irit, namun tenaga lebih gedhe. Kalo perkara maintenisnya gimana, itu tergantung kondisi si mobil aja kalo khusus case spesifik kayak gini.

Jadi inti dan kuncinya sih ya itu tadi: sebaru mungkin yg budget kuat ngangkat plus sekalian maintenisnya.

DARI segala susahnya nyari biem plus maintenis awal tersebut, sayangnya biem cuman ngasih satu hal saja: kepuasan tiada tara nan tak tergantikan.

Gak percaya? Terserah koq. 😛 😛 😛

IMHO, CMIIW. Ini cuman pikiran subyektif saya pribadi, monggo kalo ada yg mau ngoreksi atau nambahi.

Moga membantu & bermanfaat. Terima kasih sudi meluangkan waktu membaca clometan saya.

– FHW TU Non-Vanos Halah Mbuh

Korban Matic

Di kampung halaman pedalaman Kediri gini, sejauh pengamatan sepintas saya, publik masih kurang doyan sama mobil matic. Banyakan maunya pada mobil manula. Eh manual.

Jadinya kayak dua temen saya. Yg pertama kali nyetir mobil matic kami. Keduanya sama-sama mengutarakan report yg sama: pas enak-enaknya nyetir, kaki kiri nginjek rem sekuat tenaga, berasa nginjek kopling yg emang biasanya diinjek sekonyong-konyong bukan pelan-pelan.

Alhasil, seisi mobil pada mencelat ke depan.

Meski bukan kategori apa-apa dan mencelatnya aman-aman saja, sumpah serapah keluar dari para penumpang.

Kebalik sama di luar negeri yang mayoritas kendaraan di sana bisa dipilang “pasti” matic. Saya pernah mbaca di suatu media, sayangnya pas saya googling ulang koq belom ketemu: ada maling yg udah ngerusak mobil buat diembat. Tapi si maling ngurungkan niatnya karena itu mobil transmisinya manual.

Well… Sekarang trend penjualan mobil di Indonesia, khususnya di kota besar, yg laku malah yg matic. Jalanan semakin macet, orang udah males ngopling.

Begitulah, beginilah ketikan iseng saya di siang ini.

– Freema Bapakne Rahman
Manumatic
Triptonic Tiptronic Steptronic Manumatic
Matic
Automatic
Manual

BMW E34 520i Non-Vanos

Untuk BMW E34 520i non-vanos , perhatikan aja:

  • Mesin jangan pincang, apapun alasan(seller)nya.
  • Knalpot jangan sampe ngasep pedih apalagi sampe berasep putih yg pedih banget.

    Kalo berasep banyak pagi-pagi dan ndhak pedih, itu malah sehat. Asep embun, kompresi mesinnya masih bagus brarti.

  • Jalankan pelan. Mobil jangan sampai tersendat-sendat.

Paling enak sih kalo seller-nya fair: kapan km terakhir tune-up: ganti oli, ganti filter oli, kiras transmisi, ganti filter udara, ganti filter bensin.

Jadi maintenisnya dapet dikira-kira.

***

Bener kata lik Berlin Sianipar: utamakan interior rapi. Mesin relatif mudah untuk dibenahi.

Namun demikian, pastikan:

  • Power-window lancar semua.
  • Semua kaca gk ada yg retak.
  • Lampu-lampu utuh.
  • Kabel gk ada jumper-jumperan acakadut.

Kalo jadi meminang, jika tidak ada riwayat perbaikan/perawatan barusan dari seller, maka persiapkan kocek buat:

  • Tune-up total (ganti oli, filter oli, filter udara, filter bbm).
  • Cek kesehatan rumah sekering (fuse box item di bagian kiri kompartemen mesin). Semprot total sama penetrant. Pastikan gk ada soket yg gosong. Lantas cadangkan sekring cadangan yg bagua. Jangan yg ece-ece. Gampang meleleh ntar.
  • Karet wiper diganti. Plafon-plafon dibersihkan.
  • Waspadai restorasi kaki-kaki. Ini muahalll: total jendral bisa 10jutaan. Tapi coba deh cek dg biaya ganti total kaki-kaki corolla atau innova. Rasanya so-so aja. 😀

    Tapi ini bisa dibikin gradual, gk langsung total, tapi kalo bisa per paket biar ongkos kerjanya gk dobel-dobel.

    Sekarang udah banyak bengkel kaki-kaki yg bisa rekondisi kaki-kaki bmw dg hasil kerja ajib koq.

    E34 adalah bmw yg termasuk generasi ekonomis. Shocknya tergolong paling murah diantara semua generasi bmw, khusunya generasi kode bodi setelahnya (e36, dst).

  • Buat pernak-pernik yg biasanya atas dasar rekues istri. Kalo dituruti, ntar istri pasti seneng. Dan biemnya ndhak boleh dijual. Jangan lupa ajak turing inisiasi buar perkenalan rasa si biem dg keluarga.

Kalo sampe semua pada bilang enakan naik biem ketimbang innova, itu bukan sentimen emosional.

Itu fakta.

Coba aja.

Selamat datang ke dunia biem.

Jangan hiraukan kata orang yg katanya, katanya, katanya, padahal mereka gk tau apa-apa.

Buktinya kuta di sini bisa-bisa aja koq miara biem dg tenaga yg beneran apa-adanya, bukan adanya apa.

Kalo orang bilang biem itu partsnya mahal, perawatan susah, bensinnya boros, percayalah mereka itu cuman katanya dan sesungguhnya benar adanya. Lho? 😁

Salam innova. Eh…

F25 LCI vs F48

Saat saya beserta dua sahabat baik saya: Kamituwa (Mbah Wo) Kedirian Ardian Boeng Satriyadi dan Lurah Kedirian Ghofar Ilmi K bertiga semobil, kami tidak bisa membedakan wajah X-Series yg membuntuti kami, apakah dia F25 LCI ataukah F48.

Kami bertiga ternyata sanggupnya cuman membedakan E36 M-Tech atau standar. Poll mentok tinggi-tinggi cuman sanggup membedakan wajah E46 pre-facelift & facelift, yg ferang keliatan bedanya itu.

Dan jadinya itu tadi: begitu ada X-Series membuntuti kami, kami berdebat panjang apakah itu F25 LCI ataukah sebuah F48.

Sampai kemudian dia itu X-Series berbelok dan menghilang, tanpa kami mendapatkan keputusan dan kepastian yg fix: dia itu F25 LCI ataukah F48.

So, jangan percaya sama omongan kami yg ternyata membedakan wajah F25 LCI sama F48 aja belom sanggup, apalagi kalo sampe Anda menuduh kami ini maniak BMW. Kebangeten keterlaluan nuduhnya itu namanya.

– FHW LCI

Mencintai Perbedaan Dengan Hati

Di keluarga besar kami, ada kendaraan: beberapa mobil Jepang dan beberapa mobil Eropa.

Masing-masing punya positioning dan fungsionalitas sendiri-sendiri.

Ada yg masih pake karbu dan perawatannya super guuuampanggg mudahhh dan murahhh serta muatnya banyak plus dijual kembali harganya oke buangettt. Mobil legenda yg rasanya luar biasa campur aduk tak karuannya.

Ada si imut VVTi yg bensinnya uiritttttt puollllll tapi rasanya yaaa gitu deh.

Ada yg bbm-nya wajib jib jib pertadex/shell diesel dan haram jadah solar busuk yg meskipun mahal harga per liternya tapi lumayan bisa dibilang irit konsumsinya ketimbang mobil Eropa meski tetep jauh lebih boros ketimbang si VVTi mesin kecil; tapi ya gitu rasanya: gemlodhak ndhak karuan dibanding si mobil Eropa.

Dan ada mobil Eropa dengan ciri khas (baca: stigma) permanennya: parts muahalll, bensin buorosss, dan dijual kembali serasa dihibahkan aja ke orang. Tapi rasanya tiada pernah bisa tertandingi dan tergantikan oleh yg manapun yg ada di kami.

DARI beragamnya barisan kendaraan yg ada tersebut kami semua akhirnya bisa mendapatkan kesimpulan hati:

kami bisa mencintai si mobil Eropa yg tiada pernah tertandingi rasanya, karena berkendara itu bagi kami adalah soal rasa dan pengalaman di perjalanan; meski perawatannya bikin kami mau muntah;

tanpa harus membenci sedikitpun mobil-mobil yg punya fungsional tinggi meski kami anggap tanpa ada rasa (soul)nya.

Sebab seenak-enaknya mobil Eropa yg ada di kami, pada suatu ketika, yakni ketika kami butuh fungsionalitas tertentu, mereka para mobil Eropa (sedan) itu mendadak jadi barang useless yg ndhak berguna sama sekali.

INI kondisi yg kami rasakan sendiri dan kami alami sendiri. Bukan dari “katanya, katanya, katanya”; bukan dari kondisi berdasar apa kata orang. Apalagi orang yg ndhak hidup bersama mobil Jepang(pasaran) dan mobil Eropa sekaligus.

***

Kami bisa mencintai mobil Eropa dan Jepang kami sepenuh hati dengan beragam karakternya masing-masing.

Kami bisa mencintai mobil Jepang dan mobil Eropa kami dengan sepenuh hati dan berdasarkan perbedaan masing-masing kondisi.

Kami bisa mencintai mobil Jepang kami yg irit dan murah perawatannya tapi ancur-ancuran rasanya tanpa pernah sedikitpun membenci mobil Eropa yg boros dan muahalll maintenisnya itu.

Kami bisa mencintai mobil Eropa kami yg luar biasa tak tertandingi enaknya meskipun mihil maintenisnya tanpa pernah membenci sedikitpun mobil Jepang yg soul-less namun fungsionalitasnya super tinggi dan bisa membuat mobil Eropa kami mendadak useless pada suatu kondisi.

– FHW Eropang.