Komparasi Tiga SUV Gajah: Kita Cukup Beteman Biasa Saja

Dari sekian banyak full-size SUV, baik berbasis kendaraan komersial umumnya berjenis body-on-frame yang perkasa menerjang hambatan maupun yang dedicated untuk kenyamanan penumpang dengan menggunakan sasis monokok, ada tiga model yang saya teramat sangat terkesima melihat tampangnya.

Mereka adalah Cadillac Escalade, Mercy GLS, dan BMW X7 yang baru saja lahir dari rahim Bavaria.

Cadillac Escalade 4th Gen (GMT K2XL)

Saya enggak suka semua generasinya. Yang saya sukai adalah Cadillac Escalade generasi keempat (GMT K2XL). Baik SUV (SWB, wheelbase 116.0 in atau 2,946 mm) maupun ESV (LWB, wheelbase 130.0 in atau 3,302 mm), keduanya begitu teramat amat keren di mata saya.

Diluncurkan sebagai model 2015, meskipun produksinya dimulai sejak Januari 2014. Bermesin depan dengan penggerak roda belakang atau empat roda.

Menggunakan platform GMT K2XX, ia kembar beda tampang saja dengan SUV GMC Yukon, Chevy Tahoe (SWB)/Suburban (LWB); serta truk GMC Sierra dan Chevy Silverado.

Cadillac Esclade 4th gen ini hanya dipasangi mesin 6.2L EcoTec3 L86 V8 yang menyemburkan 420 tenaga kuda (313 kW) @ 5600 rpm dan menendangkan torsi 460 lb⋅ft (624 N⋅m) @ 4100 rpm. Ada dua pilihan transmisi yakni 6 perepatan GM 6L80 atau 8 percepatan GM 8L90, keduanya otomatis. Pada tahun 2019 ini yang 8 jadi 10 percepatan otomatis.

Meski cc-nya segitu gaban, di keluarga mesin GM, jajaran mesin LS ini masuk anggota keluarga small-block engine.

Jajaran mesin LS lahir sejak tahun 1996 (produksi dimulai tahun 1995), sementara varian L86 sendiri adalah generasi kelima yang nongol sejak tahun 2013.

Bonus: Cadillac Escalade 3rd Gen (2007- 2014) GMT 900

Mercy GL/GLS Class

Awalnya penamaan kelas ini adalah GL. Berikutnya, sesuai perapian klasifikasi kendaraan di jajaran Mercy, namanya berubah jadi GLS Class (Klasse, Jerman). Hirarkinya: G = geländewagen (off road), L = long-running atau bisa diterjemahkan turing, dan S adalah kasta SUV ini yg sejajar S-Class.

Konon, GLS Class ini diciptakan untuk menggantikan dan meneruskan kiprah G-Class yang udah tua bangka itu. Tak dinyana, G Class masih memiliki penggemar kuat dan permintaannya terus berlanjut.

ALih-alih dimatikan dan diganti GL-Class, hingga detik ini G-Class malah terus disempurnakan habis-habisan, dirombak total teknologinya, diganti menyeluruh semua fiturnya, tentunya dengan kemampuan yang terus meningkat dan efisiensi yang semakin dan semakin tinggi namun tetap menggunakan platform body yang enggak pernah berubah sejak sekian dasawarsa silam!

Hanya ada dua kode bodi G-Class sejak lahirnya di tahun 1979 silam, yakni W460 (1979-1990) dan W461 (1990 – ) dan W463 1st ge (1990 – 2018) dan 2nd gen W463 (mulai 2018).

Alhasil, jadilah G-Class dan GL(S) Class ini berpisah di kerangkanya saja. Lainnya itu: kemampuan offroad, kemewahan, teknologi dan fitur, dll. sudah semakin susah dibedakan. Bedanya hanya di: karakter.

Dalam perkembangannya, G-Class diperkuat branding dan karakternya untuk kegunaan off-road. Tepatnya: off-road yang teramat super-duper mewah. Itulah kenapa G-Class 6×6 foto-fotonya banyakan di gurun Dubai sana, tempat offroad-nya orang kaya. Enggak off-road “beneran” macam Land Rover Defender ataupun Jeep Wrangler.

Sementara GLS-Class seolah dan serasa adem ayem aja beritanya di jagad otomotif dunia.

Saya pribadi mengendusnya, GL-Class beneran jadi barang jualan sementara G-Class diperkuat sisi awareness-nya. Mengingat penjualan sepanjang tahun 2017 di US, GLS-Class laku 32 rb unit lebih, sementara G-Class hanya 4.200 unit kurang dikit. Yakh, mungkin karena faktor harga juga kali ya? Di US, GLS550 dijual USD 90 grand sementara G550 dilego USD 124,5 grand.

Saya suka kedua model GL(S)-Class yang telah ada: generasi pertama X164 (2006-2012) dan generasi kedua/sekarang X166 (2012-). Malahan, X164 saya lihat secara subyektif malah lebih keren: simpel, lugas, enggak banyak guratan yang enggak perlu gitu sepertinya.

Baik X164 maupun X166 punya sumbu roda sama 3,075 mm (121.1 in).

GLS Class ini punya mesin V6 dan V8 bensin serta V6 diesel yang dipecah menjadi lima varian model.

BMW X7

Ini adalah spesies terbaru dari BMW yangbelum pernah ada sebelumnya: BMW X7. Diproduksi sejak 2018, untuk keluaran sebagai model 2019.

Punya sumbu roda 3,105 mm (122.2 in).

Varian yang ada adalah:

  • Bensin B58B30M0 3.0 L I6 turbo (X7 xDrive40i). Bertenaga 250 kW (335 hp) @ 5,500–6,500 rpm dan torsi menendang sekuat 450 N⋅m (332 lb⋅ft) @ 1,500–5,200 rpm
  • Bensin N63B44M3 4.4 L V8 twin-turbo (X7 xDrive50i). Luapan tenaganya 340 kW (456 hp) @ 5,250–6,000 rpm dan hantaman torsinya 650 N⋅m (479 lb⋅ft) @ 1,500–4,750 rpm
  • Diesel B57D30 3.0 L I6 turbo (X7 xDrive30d). Tenaganya “imut” 195 kW (261 hp) @ 4,000 rpm namun seperti biasanya torsi diesel yang melimpah-ruah: 620 N⋅m (457 lb⋅ft) @ 2,000–2,500 rpm
  • Diesel B57D30C 3.0 L I6 quad turbo (X7 M50d). Berkekuatan 294 kW (394 hp) @ 4,400 rpm dengan torsi membludak 760 N⋅m (561 lb⋅ft) @ 2,000–3,000 rpm

Yap, BMW emang onsisten enggak bikin mesin V6.

Khayalan Tingkat Tinggi

Saya engak berniat mengupas fitur, teknologi, atau kemewahan di sini. Semua kendaraan tentu udah punya rem cakram di keempat rodanya dengan segala fitur pengeremannya: ABS, EBD, decent & accent assist, lane-keeping assist, park-assist, automatic ini-itu. dll. dengan bahasa dagang masing-masing.

Joknya jelas semuanya kulit dan penuh wood-panel di trim interiornya. Secara, mobil ginian apalagi yang perlu dikupas untuk sisi teknis dan materialnya.

Kapasitas bagasi pun meski berbeda-beda bukanlah hal yang menarik perhatian saya untuk saya gali perbandingannya. Karena jelaslah, seberapapun kapasitas bagasinya, pasti gedhe muatnya.

Bobot ketiganya pun ya imbang-imbang aja, di kisaran 2,5 ton. GLS yang sedikit agak ndut: 2,6 ton.

Ada sedikit perbedaan “kecil” di sini adalah: Cadillac Escalade adalah model body-on-frame yang punya dua wheelbase/sumbu roda, pendek (SWB) dan panjang (LWB). Yang mana SWB-nya lebih pendek ketimbang wheelbase BMW/Mercy sementara yang LWB lebih panjang dari keduanya.

Sementara Mercy GLS dan BMW X7 adalah SUV (BMW menyebutnya SAV – Sport activity vehicle) yang bersasis monokok dan hanya punya satu wheelbase/sumbu roda yang panjangnya berada di tengah-tengah antara Escalade SWB dan LWB.

Kelakuan mobil Amerika masih kebawa di Cadillac Escalade ini: mesinnya guedhe namun tenaganya memble, namun konsumsi bensinnya tumben lebih irit. Dengan mesin 6.2l yang paling gedhe di sini, ia cuman punya specific output 68.2 bhp/litre dan specific torque 101.27 Nm/litre dengan konsumsi BBM-nya adalah 16.8/10.2 l/100km city/highway. Mercy GLS AMG63 5.5l punya 105.7 bhp/litre dan 139.17 Nm/litre serta menenggak bensin 18.1/13.8/16.8 l/100km city/highway/combined.

Sementara Mercy GLS550 4.7l memiliki keluaran daya spesifik 96.3 bhp/litre dan torsi spesifik 150.12 Nm/litre serta minum bensin 13.8/10.7/12.4 l/100km city/highway/combined. Adapun BMW X7 xDrive5.0 yang bermesin paling imut 4.4l punya output spesifik 103.8 bhp/litre dan torsi spesifik 147.9 Nm/litre, seperti biasa dengan mesin lebih kecil tenaganya lebih gedhe namun torsinya kalah ketimbang Mercy. Saya belom dapet data konsumsi BBM-nya.

Oia satu yang sama lagi: ketiganya sama-sama 3 row seat/7 seater. Ini barang yang lumayan langka untuk pasar negara maju yang umumnya lebih individualistis namun sangat praktikal. Itulah kenapa kendaraan dengan dua baris tempat duduk pada umumnya sudah teramat cukup dan laris manis.

Model rendah: sedan atau estate/turing/wagon juga bisa dibilang merajai penjualan, mungkin karena unsur keamanan dan kenyamanannya. Plus hari-hari ini SUV yang kemudian naik daun, karena SUV sekarang udah bisa mendekati kenyamanan sedan karena laju perkembangan teknologi yang sedemikian pesat sehingga menjad fitur mumpuni dan memanusiakan di beragam produk kendaraan.

Satu-satunya faktor yang menarik perhatian saya hanyalah desain kendaraan dan aura karakter yang keluar dari ketiga SUV gajah di atas.

Dari model kendaraanya, jujur saya paling suka dengan Cadillac Escalade generasi keempat tersebut. Saya paling demen dengan karakter desain yang simpel, lugas, enggak banyak corak yang enggak perlu.

Bandingan ekstrimnya: saya jauh lebih demen VW Caravell yang “kota” begitu saja, lampu depan-belakangnya ya cuman begitu, yang seolah didesain sambil ngantuk ketimbang Alphard yang penuh corak: garis bodinya melekuk sana melekuk sini, lampu depan-belakangnya menyot sana menyot sini, atau grilnya yang entahlah gimana itu desainnya.

Bukan enggak keren, ini murni selera. Otak saya ngilu kalo memperhatikan desain Alphard yang meliuk-liuk kayak gitu. Sementara jiwa ini tenang rasanya ngelihat desain Caravelle yang ya cuman gitu itu.

Pun dengan Escalade, GLS, dan X7 itu.

Meski masing-masing punya akses yang kecil-kecil saja namun begitu terlihat: Escalade pada sudut lampunya, X7 pada grill-nya yang berkuasa, dan GLS pada… entah yang mana satu point of interest-nya, namun kesemuanya mencerminkan desain yang lugas dan enggak norak.

Dan dari ketiganya, Escalade K2XL yang saya nobatkan menjadi pemenang yang berhasil mencuri hati saya.

Namun secara brand, bukan per mobil, saya tetep cinta mampus sama BMW.

Bayangkan kalo punya duit, saya sebagai pecandu BMW eh kemudian memilih membeli itu Cadillac Escalade, orang pasti bingung memahami apa yang ada di isi benak saya.

Enggak perlu Anda susah-payah memahami. Pertama saya bukan keluarga Anda yang memang perlu saling memahami tanpa ada alasan apapun. Kalau pun toh Anda adalah teman saya, pemahaman Anda enggak akan menghasilkan tambahan pendapatan bagi Anda. Kita cukup berteman biasa saja.

– FHW

Advertisements

Jangan Beli Biem, Belilah Xeniavanza.

Edian sampe segininya.

Xeniavansa kayaknya udah bukan sekedar mobil lagi, dia berasa udah jadi metonimia dalam konteks tertentu.

Kendaraan ini sepertinya udah jadi simbol kultur.

#

Well, saya gk pernah punya xeniavansa (dan blackberry), dan nyatanya hidup saya baik-baik saja, meski terkena sengsara miara bmw.

Tapi mungkin hidup saya akan jadi jauh lebih baik kalo dari awal saya punyanya xeniavansa dan gk pernah mengenal (sehingga jadi keracunan) bmw gini.

So bagi yg belom, urungkan niat anda beli bmw. Asli susah dan sengsara kalo udah keracunan: dipiara kerasa berat, dilepas malah jauh lebih berat lagi, dan bikin mobil pasaran jadi gk enak sejak dari masih di dealer.

Bagi yg belum terlanjur terjerumus jadi bimmerfan, segeralah beli xeniavansa.

Atau wuling mungkin lebih baik.

Waspadalah. Waspadalah. Waspadalah.

– FHW

Rally vs Sirkuit

Dari penelusuran saya di internet, emang buanyakkk yang pakai BMW buat rally.

Konon, E30 M3 itu yang menghabiskan adalah para tim rally. Saking bagusnya mobil itu, laris buat dipakai rally, dan pada remuk karena berbagai kejadian. Alhasil, kini populasinya jadi super sedikit. Kisahnya ini mirip Peugeot 205 Rallye atau Renault GT5 gitu, pernah baca tapi saya lupa dari mana sumbernya.

Namun officially saya belom pernah menemukan BMW secara resmi terjun di rally, khususnya WRC, seperti beberapa pabrikan lain macam: VW, Citroen, Peugeot, Renault, Hyundai, dll.

Ketimbang mendukung balapan di atas kerikil tanah, pihak BMW tampaknya lebih demen olahraga aspal sirkuit: DTM, dll.

Tampaknya, emang buat di aspal jalananlah BMW pingin membangun citranya.

Jadi kalo Anda penggemar BMW buat melintasi jalanan tanah berkerikil, itu sama sekali tidak salah. Cuman bukan di situ tampaknya BMW ingin meletakkan perhatiannya.

Dan memang nyatanya, nyaris kebanyakan kaum bimmerfan yang saya temui, mobilnya senantiasa dibikin ceper. Yang hanya bisa menjalani kehidupannya di atas aspal mulus. Pastinya, mereka akan tak sanggup untuk menghadapi dunia maksudnya jalanan yang penuh kerikil.

Mungkin demikin. Mungkin.

– FHW,
supir turing bukan supir racing.

(Transportasi) Masa Depan

Ada sebuah skenario masa depan: kendaraan pribadi, entah mobil maupun motor, tak lagi menjadi aset/kepemilikan pribadi. Dia kelak akan menjadi barang publik yg bisa diakses oleh siapa saja.

Gambarannya: kelak produsen kendaraan akan terus memproduksi kendaraan, tapi tak lagi banyak dijual kepada perorangan.

Produsen kendaraan akan memproduksi kendaraan, untuk “disewakan”.

Kendaraan akan diparkir di banyak tempat, kemudian publik akan memakainya dari titik A ke B dengan membayar biaya pemakaian, bisa per trip atau langganan. Semua operasionalnya include dengan teknologi tentunya.

Bisa jadi, ini kenapa Yamaha, atau Astra atau BMW-Mercy dll udah mulai akses ke korporasi atau operator transportasi publik. Mungkin ini akan menjadi langkah transisi halus mereka untuk menuju skenario maaa depan tersebut.

Plus operasionalisasi semuanya akan menggunakan kendaraan listrik tentunya. Saat kendaraan terparkir, akan dicas setrumnya.

Mungkin inilah kenapa BMW sampe melahirkan brand baru mereka: BMWi. Kendaraan BMWi itu, taruh kata i3, dia sama sekali susah untuk dibandingkan dengan kendaraan bermesin bakar lho. Khususnya di titik: trip range.

Kendaraan listrik emang kuat nariknya, tapi mereka lemah di jarak tempuh.

Kelemahannya itu, bisa jadi akan menjadi kekuatan besar kalo harus melibas kepadatan kota yg penuh dg stop & go: motor listrik itu hp-nya rendah tapi torsinya ganas dan super buas. Sentil dikit, kemdaraan dan bisa mencelat. Artinya, ini akan sangat efisien di kondisi stop and go.

Kelemahan jarak? Kan balik itu tadi: dia akan disetrum saat parkir. Baterenya aman. Toh sependek-pendeknya mobil listrik, dia bisa normal dibikin dalam range ratus km koq.

Cukup untuk mengelilingi atau membelah kota besar, macam Jakarta.

Dan mobil listrik itu, khususon motor listriknya – kita abaikan dulu sound system dan AC-nya- bekerjanya berdasarkan kilometer, bukan jam.

Mobil mesin bakar, kalo macet sejam, dia akan tetap membakar BBM karena mesinnya harus terus nyala.

Kendaraan listrik, kalo macet sejam, ya motor listriknya gk maem setrum.

KEMARIN pada suatu kesempatan di Semarang, saya bersama banyak rekan seindonesia sempat mendapatkan paparan singkat tentang seknario masa depan ini dari pihak @BMW Indonesia. Intinya itu tadi: kelak, 20 tahun kelak, lawannya BMW itu bukan lagi Mercy Audi Volvo dll.

Sebab pertarungan akan terjun ke: personal-public transport itu tadi. Bukan lagi sekedar mass-public transport.

Tanda-tandanya: korporasi ojek online terus dapat suntikan dana, dan ada Migo yg menyewakan sepeda listrik itu tadi.

Mungkin demikian.

Mungkin.

Tapi apapun yg terjadi kelak, entah 5 10 20 30 50 100 tahun ke depan itu, saya salut banget sama mereka yg udah memikirkan dan menyiapkan masa depan dari sekarang.

Wajar mereka kalo senantiasa jadi pemenang.

Sementara saya di sini, cuman mikir besok dolan ke mana, yg intinya justru menghabiskan masa sekarang alih-alih capek berpikir tentang masa depan.

Sebab di masyarakat kita, memikirkan masa depan itu bisa jadi kita akan dicap gila, aneh, kelewatan, dann lebay.

Gk percaya? Cobalah tanyakan ke orang sekitar Anda, gimana rencana masa depan kita, keluarga kita, dan bangsa negara ini (bukan pemerintahannya lho) untuk 50 tahun ke depan.

Kalo ada yg menanggapi, segera jadikam dia teman baikmu.

Masyarakat wajar normal dan umumnya, mungkin akan menjawab:

“Kamu ngomong apaan sih? Mikirin hari ini aja pusing! Malah ngajak mikirin yg gk jelas!”

IMHO. CMIIW.

– FHW

Refs: BMW Group dan Daimler: Bergandengan Tangan untuk Satu Layanan Mobilitas.

Sampah, (Aliran) Agama

Saya bodo amat dengan sistem kenegaraan. Bagi saya, apapun yg penting: gotong royong. Dan alhamdulillah negara ini sebenarnya adalah manifestasi prinsip gotong royong.

Termasuk, saya bodo amat tentang agama-agama dan aliran-aliran dalam agama. Mau islam kristen hindu budha; mau sunni syiah; mau NU Muhammadiyah; mau quranis mau hadistis, bahkan mau beragama maupun enggak, … terserah.

Yang penting enggak mbuang sampah sembarangan, yang prinsipnya (enggak buang sampah sembarangan) itu sampe meresap ke dalam hati.

Sebab kalo orang sudah takut untuk berbuat kerusakan: dengan tidak mbuang sampah dan “sampah” sembarangan, mustinya hati ini akan ketakutan untuk merusak diri kita sendiri, merusak orang lain, merusak alam dan lingkungan, merusak tatanan kehidupan, merusak alam raya ini.

Mau apapun agama atau alirannya.

Wallahualam bisawab.

– FHW

Safety

Sebagai manusia yang memilih untuk percaya kepada Tuhan, setiap kali hendak bepergian, kami selalu berdoa sebelum berangkat. Agar perjalanan lancar dan kami diberi keselamatan oleh-Nya senantiasa.

Namun sekaligus, kami “reseh” dalam urusan milih mobil. Kami suka mobil dengan fitur keselamatan tinggi. Katakanlah dalam hal ini: mobil Eropa. Meski tidak selalu pasti dan belom tentu juga yang lainnya enggak seperti itu. Frasa mobil Eropa ini hanya untuk kiasan atau mewakili atau menggambarkan saja. Dan juga, meskipun ini mobil tua entah masih seberapa waras kondisi safety feature-nya. Tapi secara prinsip, demikianlah pilihan kami.

ANEHNYA, mobil-mobil teraman di dunia, malah datang dari negara dengan tingkat atheisme yang sangat tinggi.

Katakanlah, mereka enggak mengenal doa tentunya.

Mungkin karena enggak mengenal “pasrah kepada Tuhan” itulah mereka jadi mikir habis-habisan gimana caranya selamat. Mungkin, karena nyawa adalah miliknya sendiri, bukan milik Tuhan. Mungkin.

Makanya mobil-mobil buatan mereka, fitur safety-nya pol-polan.

Sebagai contoh katakanlah Volvo misalnya, dari Swedia, negara yang konon tingkat atheismenya tinggi.

Volvo itu penemu seatbelt, yang sekarang ada di semua mobil di dunia.

Volvo itu penemu foglamp, yang kita semua begitu demen demen ada foglamp di mobil kita.

Volvo itu penemu side-impact protection system: ada palang besi di pintu samping plus airbag dari sisi samping-dalam mobil (di sisi samping kursi kalo enggak salah).

Volvo itu penemu seat-collaps system. Kalo kecelakaan, sandaran jok depan akan rebah ke belakang, sehingga penumpang berkurang kemungkinannya ngantem dashboard.

Terakhir, volvo itu penemu pedestrian air-bag. Airbag-nya bukan cuman di dalam mobil, tapi juga di luar mobil, menggelembung dari bawah kaca depan. Jadi kalo nabrak orang, orangnya akan disambut oleh air bag.

Bukan cuman Volvo, Mer4cy BMW Audy dan sebangsanya itu sampe sekarang masih ngeyel bikin bodi kokoh dan rangka kuat, rangka mobil itu sudah melebihi kekuatan roll-bar rasanya, agar penumpang aman jika mobilnya rolling. Padahal ini jelas bikin harga jual sangat mahal dan enggak terjangkau semua kalangan.

BMW juga misalnya, karena saya kenalnya cuman ini meski aslinya enggak paham-paham banget juga, terkenal rewel: kalo ada sistem yang fault, biasanya dia enggak mau distarter.

BMW, justru membuat beberapa parts dari bahan yang sangat rapuh. Misalnya thermostat housing. Kalo ada fault di cooling-system, biar dia rusak duluan, enggak sampe kena semuanya/perangkat sistem lainnya.

BMW juga beberapa kendaraan lain yang umurnya udah beberapa puluh taon itu, punya active seat belt. Kalo ada kecelakaan, seatbelt-nya akan ditarik mengencang. Sehingga penumpang dihatapkan berkurang potensi terlemparnya ke depan.

BMW yang umurnya puluhan taon ini, engine mounting-nya malah dirancang lemah. Agar kalo kecelakaan, mesinnya ambrol ke bawah, enggak ngantem kabin.

Meskipun rangkanya kuat, BMW juga beberapa kendaraan lain malah dibikin melipat moncong depannya kalo kecelakaan. Jadi kabinnya aman. Moncongnya dikorbankan. Istilahnya: crumple-zone. Pernah lihat Lamborghini yang kecelakaan hebat sampe moncongnya hancur lebur tapi kabinnya utuh tuh tuh gitu? Semacam itulah skenario teknisnya.

Dan kalo kecelakaan, BMW juga beberapa kendaraan lain akan meng-unlock sendiri kunci pintu, sehingga penumpang enggak terjebak di dalam.

Dan masih buanyakkkk fitur keselamatan yang ada di BMW tua ini. Apalagi yang muda.

*

Mobil keluaran terbaru sekarang fitur keselamatannya malah semakin edan lagi: ada warning “ngopi” kalo mobil membaca telah dikendarai non-stop lebih dari sekian jam.

Ada lane-keeping assist, kalo dia membaca bahwa posisinya mulai menerjang marka jalanan, mobil akan membelokkan sendiri kemudinya sehingga posisinya tetap lurus di antara dia garis marka, di posisi yang benar.

Ada lagi early collision warning with brake assist. Mobil punya radar yang membaca depannya. Kalo mobil menengarai sopir enggak ngerem sementara obyek did epannya semakin mendekat, mobil akan mengerem sendiri.

Di beberapa mobil juga ada fitur SOS-call. Mobil akan otomatis mengirim sinyal atau panggilan telepon darurat jika dia mengalami kecelakaan.

Dan masih bejibun lagi fitur keselamatan terbaru yang semakin membuat saya cuman bisa melongo.

Konon ada yang mengatakan itu semua lebay, hanya ulah kapitalis yang menginginkan agar lebih banyak lagi uang yang dibelanjakan oleh konsumennya. Tapi kalo ini lebay, kenapa urusannya serius banget: nyawa?

Terlepas dari itu, anehnya semua fitur keselamatan itu dibikin oleh negara-negara yang mengijinkan atheisme….

Padahal kalau kita yang mengenal doa dan Tuhan, mustinya kita akan lebih reseh dan jauh lebih hirau tentang safety/keselamatan ketimbang mereka yang atheis. Karena kita bersyukur pada tuhan YME dengan menghargai dan menjaga sekuat tenaga nyawa satu-satunya di kandung badan ini.

Entah kenapa kita lebih suka bersandar pada argumen bahwa hidup-mati itu urusan Tuhan sehingga aspek keselamatan sering kali tidak menjadi prioritas pilihan kita.

Iya enggak sih?

Wallahualam bisawab.
– FHW.

Ikhlas

Si kecil kami, Aleef Rahman, udah mainan Blender 3D sejak kelas 3 SD, tepatnya MIN (madrasah ibtidaiyah negeri). Dia dulu sekolah di MIN Doko (MIN 2), Kediri

Kami ajari sepintas dasar-dasarnya, kemudian dia menyimak klip tutorial, yang entahlah koq begitu mudah diserap oleh anak usia 9 tahun/kelas 3 SD gitu; dan selanjutnya udah bikin macam-macam sendiri.

Masih sangat jauh dari sempurna, bahkan hingga hari ini. Obyek yang dia bikin masih sangat kurang detailnya. Poly-nya pun sedikit juga. Dan rendernya low-medium aja.

Karena masih terbatasnya waktu yang dia pakai, karena dia harus tetep belajar dan harus tetep main-main sama temen-temen kecilnya; sehingga pastinya tak cukup waktu untuk bikin obyek dengan detail tinggi dan poly yang buanyak.

Plus komputer kami emang apa adanya. Teramat apa adanya. Udah bisa running Blender dan bisa render aja udah bagus. Keseringan, dia perlu semaleman buat render. Sambil ditinggal tidur, dan pagi harinya baru dia cek hasilnya.

*

Kemudian kami bikinkan channel/kanal/saluran Youtube khusus untuknya. Hasil karyanya tak lagi kami muat berceceran di kanal Youtube atau akun Fesbuk kami.

Isi kanalnya masih teramat sedikit. Nanti pelan-pelan apa yang udah kami unggah di Fesbuk akan kami unduh dan kami unggah ulang ke kanal Youtubenya. Tapi mohon maaf sebelumnya, videonya acak-acakan. Ya nyutingnya, ya editingnya (lebih tepatnya tanpa editing sih). Karena orientasi kami hanya dokumentasi. Bukan eksistensi, apalagi promosi dan komersialisasi.

Dan kini si kecil kami udah besar. Physically, dia lebih besar/lebih tinggi dari kami, orang tuanya ini. Plus bertambah lebih besar juga daya pandangnya.

Kini dia sudah bisa bikin klip youtubenya sendiri, 100% dia kerjakan sendiri.

Bikin story-board sendiri, meski cuman sebaris kata, katakanlah demikian.

Bikin penyutradaraan sendiri, gimana dia musti nampilkan sudut pandang/arah kamera pengambilan gambar animasinya.

Bikin editing sendiri (mestinya ngetiknya: ngedit sendiri. Sudahlah. Hehehehehe….) Dia bikin scene pembuka, nyuplik video pengantar, dan nampilkan karya animasinya.

Bikin deskripsi sendiri di itu klipnya: bahwa dia pakai program animasi Blender 3D, program editing video Openshot, dan kesemuanya running di Ubuntu Linux, sistem operasi yang dia kenal sejak kecil setelah kami memutuskan purna dari MacOS saat dia belom bisa start dan shutdown komputer sendiri dulu.

Plus unggah semuanya di kanal Youtubenya.

Sebagaimana tampak di klip di atas itu.

*

Kini dia mulai seneng saat klipnya ada yg nge-like. Dia kini mulai memantau, berapa views klipnya.

Kini dia mulai memiliki harapan. Kini dia sudah mulai mengenal angka-angka.

Kini tugas kami bertambah lagi.

Kami harus terus memupuk harapannya: bikin klip animasi yg lebih bagus, yang disukai temen-temennya, namun tetap sesuai dengan isi hatinya sendiri.

Sekaligus kami harus membentenginya dengan keikhlasan: jangan hirau dan galau dengan kuantitas views atau subscriber, jangan hirau dan galau dengan angka-angka.

*

Di dunia yang semakin angkawi ini, serasanya semua ukuran/perameter apa-apa kini musti angkawi: kesuksesan, kegagalan, progres, regres, dll. Parameter kualitatif pun kadang dipaksa musti bisa diangkawikan juga: derma, sedekah, dll.

Ini beratnya kami membentengi dia, sebagaimana kami tetap berat membentengi diri sendiri:

hidup ini harus seperti menanam tanaman di sawah/ladang.

Kita harus tekun memilih dan memilah bibitnya. Kita harus telaten menanam biji/benihnya. Kita harus sungguh-sungguh merawat tanamannya: menyiangi rumputnya, mengusir ulat-ulatnya, … pokoknya memperlakukan tanaman itu seperti anak kita sendiri;

tapi kita dilarang, jangan sampai, kalkulasi/itungan-itungan di depan: berapa kita telah investasi dan berapa nanti pendapatan panennya.

Sebagaimana semua diajarkan oleh pakpuh kami yang dipercaya oleh keluarga untuk ngopeni sawah keluarga di Blitar Selatan sana.

Semuanya harus ikhlas.

Sementara dunia di luar sana, terus dan semakin kencang bergerak dengan angka: diskonan, gratisan pembelian, proyeksi profit, tingkat laba, return of investment, dll dll dll.

Kami harus kuat terjepit di sudut larinya dunia ini: kerjakan semua dengan sungguh-sungguh sesungguh-sungguhnya, tapi musti ikhlas untuk tidak pernah berharap dengan hasilnya nanti, tidak berharap dengan angka-angka.

Sementara kami sendiri harus bertarung melawan angka-angka: token listrik harus rutin diisi, bensin motor harus kembali diisi lagi, buku si kecil juga waktu beli lagi.

Dunia emang berat.

Berat, karena kita harus memenangkan diri sendiri, tanpa harus mengalahkan satupun siapapun pihak lain. Sementara sudah jamak di era sekarang, kemenangan kita adalah hasil mengalahkan orang/pihak lawan.

Berat, karena kami memilih untuk sekuat mungkin menghindari kejamakan era sekarang itu, menghindari memilih parameter angkawi dalam hidup ini. Dan entahlah kami mampu atau tidak dengan ini semua. Kalo toh mampu pun, seberapa mampu kami bertahan, kami sendiri juga tak tahu.

Yang penting dijalani aja (dulu), dilakoni kanthi laku.

INI tentang mblajari si kecil, dan diri kami sendiri, tentang ikhlas. Saat dia sudah mulai “mengenal angka” dan saat kami harus bertarung dengan angka-angka.

Semoga kami masih terus kuat menggali dan menggapai ridho-Nya senantiasa. Allahuma aamiin.

– Freema & Deasy,
Bapakne & Ibune Aleef Rahman.