Artistik Visual

*Ini adalah sebuah posting subyektif tentang dunia (awak) media massa. Semua gambar di laman ini diambil dari tautan lain.

Menyampaikan informasi dari pihak lain tanpa mengurangi esensi informasi tersebut adalah kewajiban kita sebagai informan, wartawan, jurnalis, atau penyampai informasi/berita.

Atau sekedar masyarakat biasa yang sedang menyampaikan pesan.

Apalagi jika informasi yang kita sampaikan/teruskan adalah informasi yang bermuatan tinggi, berbobot, padat, berisi, montok, semok, semlohai, dan dapat mengubah dunia: baik dunia secara harfiah maupun dunia pemikiran masing-masing orang ke arah yang lebih baik (maslahat) dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sayangnya, meski berbobot, informasi yang terlalu padat tanpa disertai dengan sentuhan artistik bisa jadi, kadang kala, atau takutnya membuat pembaca eneg, bosan, dan males baca.

Membantu mengurangi kejumudan audience (pendengar, pemirsa, pembaca) informasi yang kita sampaikan, kita bisa “meringankan” keenegan itu semua dengan sentuhan artistik dalam penyampaian.

Maklum, tidak semua orang rakus membaca, luas wawasannya dalam menerima berbagai kondisi, dan sebagainya. (Meski kalo kita males baca (hal yang baik), yang rugi kita-kita sendiri juga). Sentuhan artistik dalam penyampaian informasi diharapkan bertujuan membuat audience lebih nyaman dan terus berlanjut dalam menikmati sajian informasi yang kita usung/sampaikan.

MENUANGKAN sentuhan artistik dalam penyampaian informasi memaktub kewajiban berupa tetap utuhnya informasi yang disampaikan. Dengan kata lain, kita dilarang alias jangan sampai sentuhan artistik yang kita buat mengurangi isi apalagi esensi informasi pihak ketiga yang kita teruskan penyampaiannya.

SENTUHAN ARTISTIK

Ada dua hal utama dalam memberikan sentuhan artistik dalam penyampaian informasi.

1. Berupa intonasi dalam lisan atau diksi dalam tulisan. Ini agak-agak riskan, karena beberapa informasi dari pihak ketiga berpotensi berubah jika kita salah menyunting diksi dan redaksionalnya.

2. Berupa visualisasi artistik, bisa gestur dalam penyampaian lisan atau seni visual dalam penyampaian visual.

Seni visual ini tergantung media yang kita pakai. Apakah penyiaran elektronik, media cetak, atau daring.

Dalam penyiaran elektronik (broadcasting), olah suara atau olah gambar dan/atau keduanya menjadi kunci utama. Sementara kita tidak akan membahas lebih lanjut tentang sisi ini. Sementara kita fokus pada olah artistik dalam penyampaian informasi melalui media cetak dan/atau laman daring.

Dalam enerbitan (publishing) cetak atau laman daring, maka permainan warna, corak, ilustrasi, dan pemilihan foto menjadi sebagian kunci utama yang berperan luar biasa besar memberikan nilai rasa (sense) dan rasa itu sendiri (taste) yang susah diukur dalam parameter angkawi namun bisa diukur dalam penilaian relatif.

Tidak ada ukuran pasti dalam hal ini, namun banyak pencontohan dan studi kasus yang bisa kita gunakan.

Pada laman blog saya https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/01/12/hijrahmigrasi-dominasi/ misalnya, ini sama sekali bukan merupakan parameter namun saya berharap ini bisa menjadi contohnya, sedikit olahan artistik visual yang saya lakukan pada laman tersebut:

– Pemilihan foto yang menggugah selera dan ketertarikan. Pas pada case ini, foto tersebut memang foto nyuplik dari sumber lain. Namun dari foto tersebut bisa kita ambil nuansa, metode, dan maknanya. Dan ini yang terpenting: foto yang bermakna.

Belakangan kita bisa memproduksi foto senuansa untuk menguatkan tulisan kita.

Ingat, menguatkan, bukan merusak!

Indikatornya case-per-case aja.

Dan pada kondisi hukum tertentu, kita tidak bisa seenaknya mencomot foto dari pihak lain tanpa izin/legalitas yang sah.

Drop-cap pada beberapa sub-frame tulisan. Ini gunanya untuk membuat pembaca bernafas.

Selain drop-cap, pemenggalan sub-frame dengan simbol alphabet tertentu juga lumayan membuat otak bernafas. Misal dengan tiga bintang (***), kombinasi seperti -oOo- atau yang lainnya terserah kreativitas kita.

– Warna pada pemerian. Alih-alih plain, pada pemerian (pointing) yg ada di posting tsb. saya coba bikin berwarna. Hurufnya tidak harus kapital semua seperti itu, itu kebetulan saja saya memilih template mode-3 (pada text-editor WordPress) yang otomatis mengkapitalkan satu kalimat/seleksi.

Intinya, kita bisa memberikan suatu aksentual yang membuat nafas otak bisa lebih ringan, santai, dan menjadi lebih rileks sehingga informasi yang diserap bisa lebih masuk lagi.

WARNA

Adakah patokan (baku pemilihan) warna yang menarik yang bisa kita gunakan?

Tidak ada sebenarnya. Kadang selera dan intuisi lebih berbicara, meski inspirasinya tetap memperhatikan konsep keseluruhan dalam memproduksi halaman-halaman cetak maupun daring.

Dan, hati-hati ketika bicara selera di sini!

Kita mem-posting tulisan secara terbuka, artinya kita meletakkan tulisan tersebut di tengah-tengah ruang publik.

Siapa publik yang kita letaki tulisan, itulah salah satu acuan (referensi) yang kita perlu mengolahnya.

Warna sebenarnya adalah hal yang netral. Namun spektrum frekuensi pada warna membuat otak bekerja dengan tingkat kesibukan yang berbeda untuk melihat masing-masing warna sehingga menjadikan warna seperti bermuatan dan bercitra sendiri-sendiri.

Alhasil, kita mengenali (semacam) konvensi bahwa warna hijau menggambarkan kesegaran alam atau suasana; biru menggambarkan dinamisme; merah menggambarkan semangat membara; putih menggambarkan kedataran, kekosongan, bahkan sebaliknya ke-penuh-an; coklat menggambarkan nuansa alam; hitam menggambarkan ketegasan, kekuatan, atau bahkan kehilangan. Merah muda menggambarkan hati, cinta, dan keindahan. Oranye menggambarkan kesegaran fluida atau hawa. Dan warna-warna pastel, yakni warna utama yang ditambahi putih, akan menggambarkan hal yang ringan, santai, atau familiar atau dunia anak-anak. Dan sebagainya

TIDAK ada yang baku dan pasti (tentang patokan ini). Semua(warna)nya terkait dengan komponen pembentuk yg lain: tulisan, bangun ilustrasi, dll.

Tentang warna ini, akhirnya kita mesti meng-STP (segment, target, positioning) media kita, dimana posisi keberadaan kita dengan absorber media kita, dan paling penting: siapa segmen yang kita tuju:

apakah bapak-bapak yang model calm? Apakah anak muda yang gaul? Apakah anak muda yang bergelut dengan dunia tertentu: dunia olah raga tertentu, dunia saintifik, dll.? Apakah bapak-bapak dari kalangan pekerja biasa? Apakah ibu-ibu rumah tangga? Apakah wanita karir? Apakah anak-anak? Atau semua demografi segmen?

Atau berbicara tentang hobi, profesi, dan preferensi tertentu: otomotif, kuliner, kereta api, dunia penerbangan/aviasi, dunia pelayaran; pariwisata; sejarah dan seni-budaya; politik hubungan antar bangsa-golongan; agama, dll.?

MENGGABUNGKAN pertimbangan antara penentuan segmen yang dituju, dengan mempertimbangkan kekuatan daya kerja otak mereka untuk mengabsorbsi informasi serta (kekuatan) menyerap frekuensi warna; plus konten yang dimaktubkan; itulah kemudian sebuah publikasi bisa dirancang dengan warna-warna khas tertentu atau jika tidak dia akan berdasar putih datar (plain) yang kemudian oleh tim vesual bersama tim editor diputuskan hendak diisi corak atau warna apa sebagai aksentual penguat, penegas, dan pembangun.

Jadi siapapun itu yang kita tuju sebagai pihak penerima pesan yang hendak kita sampaikan, itu semua memerlukan pola dan skema operasional yang tepat dan jitu -bahkan sangat rumit meski hasilnya sederhana- untuk memutuskan segala pilihan yang kita buat: diksi, ilustrasi, komposisi, dan visualisasi.

Di sinilah selera kita bisa berbaur, bekerja, dan berkompromi.

FONTAGE

Selain warna, pemilihan font (khot, jenis/gaya huruf) juga membawa nuansa tersendiri dalam publikasi yang kita wujudkan.

Font secara umum terbagi pada serif (huruf berkaki-berkepala), san-serif (tanpa kaki dan tanpa kepala) serta sebagai tambahan adalah freehand (bebas) dan symbol.

Huruf serif terkesan lebih formal, berwibawa, namun justru mengusung nuansa ringan.

Huruf sans-serif lebih berkarakter gaul, informal, namun malah agak menyedot tenaga otak jika dibaca dalam tulisan yang panjang.

Karena itu, pemilihan font ini mesti dipertimbangkan dengan matang.

Selain pengenalan terhadap segmen yang membaca publikasi kita, kekuatan merasakan tentang karakter font ini juga perlu kita olah dan kita perkuan dalam diri kita yang berhubungan dengan hal ini.

Belakangan ini, dunia industri publikasi telah berkembang sehingga banyak font beredar yang mendobrak pakem. Beberapa font tampak seperti perkawinan silang antara serif dan san-serif.

Dan beberapa font sengaja diciptakan untuk kebutuhan khusus (title, bodytext, dll.) namun banyak juga font yang bisa mengakomodasi kebutuhan yang ‘bereberangan’ tersebut sekaligus. Artinya ia tampak sangat elok kala berukuran (size) besar namun tetap cantik terbaca kala berukuran kecil.

NORAK

Dengan mudah dan murahnya perangkat teknologi yang membantu kita dalam mem-publish segala sesuatu, jika tidak dibarengi dengan kekuatan mental dan kecerdasan dalam membuat batasan serta kelihaian dalam menentukan pilihan, kita berpotensi untuk berbuat norak.

Kadang warna asal kita penuh-penuhkan tanpa pertimbangan matang. Alih-alih cantik, warna yang ‘ngawur’ dipasangkan kadang malah tampak aneh dilihat, memberangus muatan tulisan, dan lain sebagainya.

“Dalam chaos ada keteraturan.” Inilah hukum fisika yang bisa kita gunakan untuk mengkomposisi warna.

Chaos warna tidak haram, tapi perhatikan pertimbangannya. Ini mirip chaos di lalu-lintas pasar rakyat atau kota besar India. Kendaraan atau lalu-lalang orang tampak tidak rapi. Namun kecelakaan jarang terjadi, karena semua memperhatikan ‘keteraturan’ untuk tidak saling bertabrakan.

Salah satu tabrakan yang dipertimbangkan ini misalnya kemeja batik dengan celana jeans. Malah keren!

Ini dalam visualisasi tertentu, kita bisa menggabungkan coklat dengan biru; dua komposisi yang kadang terlihat mati namun bisa hidup jika kita pas mengkomposisikannya. Dibantu dengan garis dan lengkung yang sedemikian rupa, kecantikan visual bisa kita dapatkan.

Sementara jika tidak yakin dengan chaositas kayak gitu, pakai metode standar saja. Ambil warna yang mendukung untuk dicampurkan.

Trik lain, kita bisa mengambil skema warna (theme) dari nuansa tulisan, segmen yang kita tuju, atau scheme dari foto yang kita gunakan.

Jika fotonya mengandung nuansa merah, kita bisa memilih warna merah untuk aksentual pernak-pernik visual lain. Misal judul (title tulisan), sub-judul, quote (kutipan), teaser, header, dll.

SELAIN chaos warna, kadang chaos font juga menjadi persoalan rendahnya kualitas publikasi kita, khususnya publikasi cetak.

Dulu, jaman dunia percetakan masih menggunakan typeset: font berbentuk lempengan yang disusun dalam mesin cetak untuk di-cap-kan ke kertas sehingga muncullah tulisan -persis sebagaimana mesin ketik mengetukkan lempengan font ke kertas hanya saja ini lebih massif dan font sudah dibariskan ribuan lempengan sehingga sekali ketuk langsung satu lembar kertas ter’ketik’- memilih jenis font, ukuran/(size)nya, bahkan sekedar memiringkan huruf menjadi persoalan yang luar biasa rumit.

Warisan ‘kebekuan’ opsionalisasi font ini masih kita lihat pada mesin ketik.

Kini dengan dunia digital, komputer akan menuruti kemauan gila kita untuk mengatur font sesuka hati.

Mudahnya font di-copy (padahal tidak semua font legal untuk di-copy begitu saja, banyak yang harus dibeli untuk digunakan) membuat kita maruk. Semua font kita pakai habis-habisan tanpa memperlihatkan pertimbangan yang matang dan dalam.

Font yang tanpa aksentual memang seperti makan ayam goreng lezat tiap hari. Jadinya malah datar.

Aksentual diperlukan, namun perhatikan pilihannya. Tepatkan dengan nuansa tulisan, sesuaikan dengan nuansa foto, atau dengan pertimbangan lain yang kuat.

Intinya, tidak batasan tentang pemilihan font atau warna. Namun hati-hati jangan sampai kebablasan dalam memfontasi atau mewarnai halaman.

Silakan rekan-rekan kunjungi buanyak (contoh) halaman, baik media cetak atau laman daring, untuk membandingkan tentang aksen dan penggunaan unsur artistik-visual sebagai referensi.

***

Artistik visual memang susah terpisah dari preferensi masing-masing diri kita. Namun di sinilah letak seninya. Kita bisa melayani kondisi yang kita hadapi tanpa kehilangan jati diri sendiri jika memahami semua ini.

Dan satu quote pernah dikatakan seorang rekan dekat kepada saya: “Tidak penting apa tools yang kamu pakai dalam bekerja kreatif, mendesain misalnya. Yang terpenting dari itu semua adalah ide dan kreativitas dasar yang kita munculkan.”

Senada dengan hal ini, pada halaman preface buku manual PageMaker edisi jadul (dari namanya aja udah menunjukkan kalo dia jadul: PageMaker, jaman masih Aldus dan kemudian sebentar berpindah ke Adobe, yang kemudian ditranformasi menjadi InDesign) tertulis: “PageMaker memberikan semua tools yang Anda butuhkan untuk mendesain/menata letak halaman. Kecuali satu hal: ide dan kreativitas.”

Sebab ide dan kreativitas itu ada di tangan kita sendiri, langit adalah batas keluasan ide dan kreativitas kita.

Kesimpulan ngasal dari tulisan teramat ndhak jelas ini: selalu ada pilihan di depan mata kita. Kitalah yang menentukan dengan pertimbangan.

CMIIW.

Freema HW,

– Sarjana Ekonomi (Manajemen), bukan orang seni. Terinspirasi dari pengalaman pribadi nirteori. Pengecer jasa/layanan komunikasi produk/pemasaran di sini http://www.facebook.com/awindocreative
Mobile: +62855 362 0665
Email: freema97@yahoo.co.id

Ini Referensi Asyik

http://speckyboy.com/2008/06/15/32-inspirational-examples-of-amazing-layout-and-typography/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s