Jauh Herbal Dari Hembing

Ibunda saya perawat, tapi saya & ibunda sendiri sebenarnya sangat tidak suka akrab dengan obat.

Kalo sakit ringan (demam, pilek, pening, dll.) sama ibu malah suka disuruh minum “konsentrat” buah, makan banyak, air putih banyak, trus tidur. Atau metode “penanganan” lain yg sesuai dg diagnosis ibu.

Di rumah ibunda saya juga rutin bikin rebusan ramuan herbal, biasanya rempah-rempah (empon-empon) dan beberapa akar atau kulit dan daun tanaman. Terkadang beli, seringnya metik/ngambil dari hasil pekarangan sendiri.

Kami jga akrab dengan nama-nama besar pabrik jamu: Jago, Sido Muncul, dll. Atau pabrik jamu + bahan perawatan badan: Mustika Ratu & Sariayu.

Kalo tulang keseleo atau otot melintir, kami juga punya langganan “pakar” pijat tradisional yang bertahun-tahun menjadi solusi kami untuk menangani case ini, sedikitpun tanpa ada campur tangan metode medis/farmasi modern!

Dan saya juga takut banget disuntik.

Tapi bukan berarti kami anti medis/dokter/farmasi. Saat alm, bapanda saya stroke dulu, selain pengobatan medis kedokteran, beliau juga diupayakan dengan metode akupuntur.

(Kami sudah berusaha sekuat tenaga, namun Allah lebih sayang beliau dan memanggilnya pulang. Meski kami semua ikhlas sepenuhnya, namun tetap saja kepergiannya terasa cepat bagi kami.)

Di kotak obat di rumah juga tersedia mulai parasetamol dan beberapa obat medis lainnya.

Semuanya berpadu dalam dunia kami.

***

Intinya, medis maupun herbal, dalam sudut pandang kami tebagi menjadi dua kategori: pencegahan dan pengobatan. Kebanyakan ramuan herbal kalo kami nilai buat pencegahan, sementara medis buat pengobatan.

Pencegahan adalah sesuatu yg strategis, gradual, dan panjang, pengobatan adalah tindakan taktis, cepat, dan (harus) pendek. Mustinya jangan dibalik.

Kami kurang tahu jikamana ada metode herbal untuk pengobatan yg sifatnya taktis, cepat, dan pendek.

Bacaan kami sekeluarga juga Professor Hembing. Wikipedianya obat-obatan tanaman/herbal.

Cuman, fenomena belakangan ini, memang banyak pengobatan herbal di mana-mana. Cuman kami ndhak tau, apakah mereka sekelas Professor Hembing atau jauh herbal dari Hembing.

Dan saya juga ndhak tau Jeng Ana ini yg kayak gimana. Apakah herbalnya emang top cuman omongan medisnya itu yg super duper ngawur kalo kata artikel, atau emang herbalnya cuman gaya hidup aja plus omongan medisnya sama sekali ndhak berdasar kompetensi keilmuan.

Mari kita selamatkan dunia herbal dari oportunis yang tak jelas. Mari kita menyelamatkan diri dari herbalis oportunis.

Ajakan ini khususon buat diri kami sendiri.

Dunia sekarang sepertinya emang semakin rancu, absurd, dan nisbi. Kita harus punya prinsip dan pegangan yang jelas.

Wallahualambisawab.

– Freema HW,
“H”-nya bukan herbal.

Berbeda Itu Haram(?)

Ada satu tokoh publik. Posting statuta-nya saya komeni berseberangan. Eh saya diblokir.

Postingnya sempat saya screenshoot untungnya, tapi saya save pribadi aja, tidak untuk publikasi terbuka.

Well…

Terutama sejak pilpres 2014 kemarin, saya memilih tidak berkubu. Saya mencoba memposisikan diri memandang segala sesuatu secara seobyektif dan senetral mungkin.

Alhasil, isi pikir saya bisa menghujat sekaligus membela satu hal atau hal yg lain, satu pihak atau pihak yg lain, satu kubu atau kubu yg lain.

Saya hanya meyakini, tak ada kebenaran atau kesalahan mutlak di (makhluk yg ada di) dunia ini.

Pilihan sikap pribadi saya adalah membela negara dan bangsa ini sekuat tenaga sebisa mungkin sesuai kapasitas dan kemampuan saya.

Membela negara (dan pemerintahan), tak berarti pasti membela (pihak) pemerintahnya.

Namun sayang,

di lapangan ada pihak yg “memaksa” bahwa kita harus berpijak hanya di salah satu dari dua kondisi saja: harus terus membela (pihak) pemerintah atau harus terus anti (pihak) pemerintah.

Kalo saya uraikan secara asal, mencuplik lalu-lintas posting di dunia maya, ada empat golongan warga di negeri ini:

– Pro demo berjilid dan pro presiden. Saya ndhak tau golongan ini ada apa ndhak.

– Pro demo berjilid dan anti presiden. Golongan ini teramat jelas keberadaannya.

– Anti demo berjilid dan pro presiden. Golongan ini teramat jelas keberadaannya.

– Anti demo berjilid dan anti presiden. Golongan ini samar terlihat namun saya rasakan ada.

Dan mungkin, mungkin saja, saya masuk golongan yg terakhir itu tadi. Tapi bukan berarti saya menggolongkan ini. Mungkin saja, mungkin, sikap pribadi saya/kami senada, sedefinisi, serupa, mirip, atau seperti mereka. Mungkin.

APAPUN golongan yg ada, intinya bangsa ini telah sukses menguatkan potensi SARA: ber(antar)golongan.

So, adu otak & pemikiran yg mengedepankan kerukuran sepertinya tidak lagi diperlukan era sekarang ini.

Siapa berbeda, maka mereka adalah golongan lain. Siapa berbeda, maka mereka pasti salah dan kita yang benar. Kalo mereka benar dan bukan dari golongan kita, maka harus jadi salah. Dan siapa salah kalo itu dari golongan kita, maka harus dibenar(-benar)kan.

Golongan adalah segalanya. Golongan adalah tuhan.

Berbeda itu telah haram(?)

– Freema HW,
golong-golong.

Plagiasi Blogger Reproduksi: Yang Penting SEO, Persetan Etika

Ada anak remaja meng-copas posting orang lain, dia didakwa secara sosial melakukan plagiasi. Si remaja mengaku bersalah dan udah minta maaf, dan yg punya tulisan awal pun juga memposting uraian tak berkeberatan sama sekali.

Akhirnya kasus selesai.

Meski demikian, plagiasi tentu bukan hal yg legal, layak, etis, atau patut -apatah nama atau istilahnya- untuk dilanjutkan, diteruskan, apalagi dikembangkan dan dibiarkan begitu saja menjadi budaya.

Tetapi bukan sebuah plagiasi jika kita meramu beberapa ide dari beragam sumber dan memformulasikannya menjadi sebuah ide baru yg (lebih) genuine. Mungkin akan panjang kalo kita jlentrehkan detail dan jabaran konsepsinya. Tapi saya yakin kita semua bisa memahami, setidaknya memahfumi, konsepsi ini.

Cuman….

Saya jadi mikir…

Itu bloger-bloger yg kerjaannya demenannya ngereproduksi tulisan dari laman-laman warta berita yg mustinya bisa tinggal di-share gitu doang;

apa ndhak lebih parah dari plagiasi tho?

Pewarta di seberang sono jungkir balik nyari berita, editor kerja keras meramu tulisan, tim teknis produksi berpacu melawan waktu menyajikan isi dan tampilan paling cakep;

eh di sebelah sini blogger-blogger cuman copas, udah kalimat dikit, dan menjadikan laman asli tulisan seolah sebagai narasumber ketimbang pemilik asli postingan;

dengan sadar dan sengaja dan dilakukan berulang-ulang,

mungkin bukan plagiasi; tapi apa namanya kelakuan (menjijikkan) kayak gini?

KALO memang ndhak sempat untuk memproduksi berita & informasi sendiri, mbok jangan mereproduksi. Nulis opini dengan dialektika yg matang dan analisis yg dalam justru akan membuat Anda-Anda para blogger jadi disegani di dunia persilatan ketikan.

Tapi memang pasar tulisan tajam itu jauh dari hits dan adsense.

Tulisan gosip: baik agama, politik, sosial, teknologi, bahkan sampe masakan (saya ndhak enak mau bilang ghibah) yang kebanyakan micin… sori, bumbu tulisan mungkin akan jauh lebih laku diklik orang.

Dan biar keren, polanya klasik tapi permanen (busuknya): pengantar tiga paragraf, isi satu paragraf, penutup satu paragraf. Dah panjang banget itu postingan, kayak diketik sama profesional di bidangnya.

Yang penting SEO. Persetan etika. Iya ndhak?

– Freemlagiat HW

*Siapa pemilik foto di laman-laman posting blog saya ini, klik kanan dan lihat gambar aja. Di situ link/tautan aslinya koq!

Akun Fesbuk Lenyap Pt.2

Akun admin “Tahukah Anda” lenyap lagi digaruk sugeblek. Apa salahnya akun ini tho sebenarnya: akun kriminal bukan, akun teroris bukan, akun penipuan bukan, akun gelap juga bukan, apalagi akun PSK online.

Bahkan ini akun (dan akun-akun admin lainnya di Mataraman) dikelola secara resmi oleh tim admins;

hanya karena melanggar administrasi fesbuk aja sampe digaruk. Fesbuk memang konon mempersyaratkan akun musti riil dan isinya tidak melanggar ketentuan komunitas fesbuk.

Sayang banget deretan like & komen yg udah ada jadi ilang.

Ya sudahlah, namanya juga numang gratisan di fesbuk, suka-sukanya yg bikin fesbuk.

So pelajaran yg bisa kita petik: jangan pernah sekali-sekali naruh postingan atau tulisan yg serius di fesbuk. Sebab kita ndhak pernah tau kapan akun kita dilenyapkan; tanpa ada kepastian bisa kembali atau tidak.

Akun kita mungkin bisa dilenyapkan cukup dengan “hasil aduan” oleh pengguna lain atau entah apa; tanpa pernah ada pengadilan, investigasi, atau apapun secara resmi.

Atau mungkin dianggap SARA/melanggar ketentuan komunitas fesbuk, alih-alih sebenarnya isinya hanya kebebasan berpikir atau berpendapat yg sesungguhnya sangat mungkin masih bisa dipertanggung jawabkan.

Intinya, kita tak bisa lagi membuat satu akun profil -dengan fungsionalisasi administrator- yg itu mewakili eksistensi komunal atau bersama.

Entah kenapa eksistensi yg ada dalam bentuk akun profile di fesbuk wajib sebagai eksistensi personal. Padahal bisa saja kita sebagai pengguna ini -dengan berbagai alasan tertentu yg sekiranya logis-
membutuhkan akun profil yg mana itu mewakili eksistensi komunal, melebihi eksistensi personal.

Tapi apapun, fesbuk adalah pencipta dan pemilik fesbuk. Kita di sini ada cuman numpang gratisan buat ajang sasaran iklan dan obyek untuk diawasi oleh tim keamanan dunia; dengan bonus ajang silaturahmi maya; yg pada silaturahmi sesungguhnya dan yg hakiki itu adalah jika kita ketemu (batin) secara langsung.

Jangankan fesbuk yg gratisan, kita langganan telepon seluler yg jelas-jelas mbayar secara mutlak untuk layanan yg kita pilih aja masih jadi korban iklan yg menyaru sebagai informasi koq!

So, kalo mau nilis yg perlu diwariskan ke pembaca atau generasi mendatang, tulislah di blog, atau bagus lagi bikinlah buku.

Di dunia maya khususon fesbuk, tulislah apasaja yg bisa ilang dengan seketika yg kita tak perlu mencari dan menggalinya lagi. Posting picisan atau mungkin hoax, itu saja kayaknya cukup. Dan mungkin malah aman. Apalagi nulis hoax dan posting picisannya serius banget.

Yg penting di fesbuk lalu-lintas postingnya rame, sehingga iklan laku dijual. Ibarat kata, “Kalian ngomong apalah gitu yg enteng-enteng aja, yg penting kalian pada liat iklan yg terpampang!”

Jangan sampe kalian nulis yg penuh pikiran, sehingga orang cuman fokus pada postingan dan sampe lupa kalo ada iklan yg perlu diklik dan jadi tambang uang bagi mereka.

Mungkin demikian.

Mungkin.

Tapi yg pasti, ini posting saya adalah posting picisan, terindikasi hoax, dan disinyalir memecahbelah persatuan dan kesatuan umat manusia.

– FHW

Akun Fesbuk Ilang Pt.1 https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/04/03/akun-fesbuk-saya-hilang/

Selamat Tinggal WA

Duluuu, waktu WA mulai populer di negeri ini, saya masih belom nge-intstall.

Selain waktu itu hape masih tipe 3G jadul dengan layar cuman 3,5″ dengan resolusi 480 x 320 pixels, saya ndhak (pernah) punya paket data untuk hape dan hanya terkoneksi via wifi-only;

saya ini juga tergolong lambat menerima perkembangan.

Akun fesbuk pun awalnya saya numpang sama akun istri. Hanya sekedar buat chit-chat. Hingga kemudian temen di pihak saya tambah banyak dan akhirnya saya bikin akun sendiri.

Pun dengan WA. Karena banyak yang nanyakan, akhirnya saya pasang WA dan ikutan beragam grup.

Boom!

Hape jadul itu ndhak kuat kena serbuan notifikasi yang bisa seribuan saban hari. Notifikasi emang bisa di-mute sehingga tak ada centhang-centhung pun load media-content bisa di-disable; tapi tetep saja banjir trafik WA gitu bikin hape hang terus.

Alhasil WA saya uninstall.

***

Sampe kemudian ada rejeki buat ganti hape. Sebuah hape 4G dengan harga termurah yang ada di pasaran kala itu. Dan kali ini rutin saya isi paket data, mengingat pake data 4G harganya sudah sedemikian relatif murah dan terjangkau. Dengan harga yang sama, paketan 4G bisa dapet data 10 kali lipatnya 3G. Plus satu keuntungan bahwa area edar saya dominan masuk jangkauan sinyal 4G.

Saya install WA lagi. Entah gimana ceritanya, ternyata saya ter-unsubscribe dari beragam grup yang sempat saya ikuti sebelumnya.

Akhirnya saya masuk lagi ke beragam grup yang saya ikuti sebelumnya.

Dan kejadiannya sama: jibunan notifikasi dateng ke hape setiap hari.

Hape yang ini sedikit lebih kuat. Tapi settingan standar saya pakai: mute semua grup, dan disable auto-load media-content sekalipun pake wifi.

Plus kali ini: setting notifikasi (show notification) dari aplikasinya saya matikan/uncheck/tak tercentang. Jadi selain tak ada suara karena saya mute, juga tak ada notifikasi di bar atas hape.

Alhasil. saya akan baru tau kalo ada WA masuk ketika aplikasi WA-nya saya buka/nyalakan. Lainnya itu, jika sekian hari lamanya aplikasi WA (males) saya buka, ya saya ndhak pernah tau kalo ada yang nge-WA saya, baik dari personal apalagi dari grup.

***

Dan sekarang case yang saya temukan beda, bukan lagi hape yang mbledhuk terkena serbuan postingan WA.

Kali ini case-nya dalam pengamatan saya pribadi: tingkat kegunaan WA ketika berada di tangan saya, saya nilai sekitar 5-10an % saja. Sisanya: sesuatu yang ‘tak akan terjadi apa-apa’ kalo saya ndhak ngecek WA.

Maklum, saya bukan pedagang online yang wajib punya nomor WA untuk mem-paste informasi yang sama berulang-ulang kepada banyak orang.

Padahal mustinya bisa aja kan ya sebenarnya satu informasi itu di-posting ke laman fesbuk atau laman web misalnya, sehingga bisa dibaca dulu oleh (calon) kustomer, dan baru nge-WA untuk menanyakan info yang belom jelas, gitu kan ya?

Tapi mungkin habbit, behavior, dan kultur di Indonesia sini beda. Orang kayaknya lebih suka nanyakan beragam hal satu per satu sambil jalan dan sambil lalu ketimbang “membaca dulu seluruh buku manual sebelumnya” untuk memahami sesuatu.

Kebetulan, saya tidak berada di lingkaran aktivitas yang (suka nanyakan beragam hal satu per satu sambil jalan dan sambil lalu) seperti itu. Maka secara ostosmastis, kebutuhan saya akan WA jadi rendah sekali.

Kalo ada hal penting, lebih clear kalo saya pakai metode komunikasi SMS atau telpun langsung.

Mengingat kesumpekan di dalam tubuh hape yang sudah tak bisa saya kendalikan, dan saya ternyata juga kesusahan untuk mengingat informasi yang telah terposting via WA, maka akhirnya dengan berat hati saya putuskan uninstall WA untuk yang kedua kalinya.

***

Lama saya udah uninstall WA dari hape, ternyata status WA saya di kontak temen/rekan/relasi/kolega masih menyala aktif. Saya cek di hape istri atau hape lain, ternyata status saya masih “pakai WA”. Padahal aplikasinya sudah saya uninstall.

Saya cari-cari opsi signout agar tidak nongol di kontak orang lain, ternyata ndhak ada.

Alhasil barusan ini tadi:
– saya install ulang WA, untuk
delete account, dan
uninstall WA lagi.

Pfiuh…

***

Dengan melenyapkan WA dari hape, saya bukan koq anti (media)sosial. Cuman sekian lamanya make WA, setelah saya pertimbangkan, kegunaan WA ketika berada di tangan saya, saya nilai sekitar 10an % saja. Sisanya: sesuatu yang ‘tak akan terjadi apa-apa’ kalo saya ndhak ngecek WA.

Tapi jangan salah, sekali lagi saya bukan antisosial/anti-medsos koq!

Buktinya, saya masih rajin mantau angkringan-online ini.

Sebab mau ndhak mau musti saya akui, fesbuk ini paling rapi dan paling organized sistemnya. Kita bisa ikutan banyak grup tanpa harus terpaksa menerima postingan/komenan/atau semacam itulah entah apa namanya. Karena bisa di-unfollow(-post) atau kita tak menerima notifikasi jika tak menyalakannya.

Kalo di WA, meski notifikasi bisa di-mute, tetep status kita mau tak mau haru terus nerima postingan masuk.

Lainnya itu, WA kalo udah puanjang scroll-nya, saya jadi susah nyari lagi ke atas. Apalagi dengan hobi saya yang suka nge-clear-chat.

Kalo di fesbuk gini, postingan lama masih bisa dicari dan ditemukan lagi. Tidak perlu menanyakan hal yang sama berulang kali, kecuali case tertentu atau khusus atau mendesak gitu.

Well, selamat tinggal WA. Entah ini seterusnya, atau entah saya harus terpaksa install lagi suatu saat nanti karena satu dan lain hal.

– FreeWA HW

Lenyapkan Kerukunan

Yang paling mengerikan jika Indonesia kuat memilikinya adalah: kerukunan.

Jikalau semua suku, semua umat beragama, semua aliran agama, semua golongan, hobi banget saling rukun saling tolong saling memaafkan saling memberi saling membantu getol melindungi semua umbar senyum gemar tertawa berpikir dewasa berhati bijak berlaku bajik dll. serta bersatu padu bergotong-royong saling mengisi dan memajukan kehidupan ketentraman kedamaian bersama;

jikalau semua suku, semua umat beragama, semua aliran agama, semua golongan demen banget menolak perpecahan melupakan friksi/gesekan cepet memaafkan muak menyakiti ndhak gampang tersinggung dll.;

maka Indonesia akan teramat susah untuk dikuasai dan dikendalikan oleh demi untuk kepentingan siapapun.

Maka kerukunan harus sebisa mungkin dieliminasi kalo perlu dilenyapkan keberadaan dan kekuatannya dari negeri ini dengan segala cara segala taktik segala strategi segala metode segala alasan segala apapun; mulai paling kasar sampai paling halus.

Tentunya akan sangat mengerikan jika kerukunan ada teramat kuat di negeri ini, maka Indonesia akan teramat susah untuk dikuasai dan dikendalikan oleh demi untuk kepentingan siapapun.

Tentunya akan sangat menyenangkan jika kerukunan bisa dilenyapkan dari negeri ini. Maka kedaulatan dan kemandirian akan runtuh dengan sendirinya dari negeri ini. Indonesia akan kekal hidup dalam dikte.

Maka akan sangat mengerikan jika kerukunan dan kedamaian hidup teramat kuat di negeri ini.

– FHW

Posting Politik

Saya mengamati sebuah akun fesbuk, akunnya ndhak friend-nan ama saya.

Posting-posting terbukanya, isinya bisa dibilang 100% politik. Dan postingnya super rajin banget.

Yang jadi pertanyaan saya: itu orang kerjaannya apa ya?

Sebab dalam benak saya, mengamati fenomena politik itu tidak bisa seperti semerta-merta menyimpulkan besarnya gajah atau kecilnya semut.

Mengamati fenomena politik; rasanya banyak hal absurd, nisbi, abstrak, relatif, paradoksal, hiperbolik, dinamis, kontra-konsisten, fluktuatif, fleksibel, dsb. yang tentunya itu perlu didukung dengan data komprehensif dan analisis yang dalam. Plus laiknya disertai jam terbang yang tinggi dalam menghadapi beragamnya warna-warni kehidupan, khususnya kehidupan di bawah sana nan tak kasat mata oleh banyak orang. Tidak bisa seperti semerta-merta menyimpulkan besarnya gajah atau kecilnya semut.

Bisa jadi posting satu paragraf bahkan satu kalimat tentang politik itu memerlukan perasan otak yang seperas-perasnya, ibarat cucian hingga tiada air menetes lagi. Plus laiknya disertai jam terbang yang tinggi dalam menghadapi beragamnya warna-warni kehidupan, khususnya kehidupan di bawah sana nan tak kasat mata oleh banyak orang.

Lha itu akun begitu rajinnya posting politik. Koq kuat banget otaknya ya?

Jadi, itu orang kerjaannya apa ya?

– FHW,
serabutan