Anak Muda Penis Kecil Ngacengan

Saya sempat terkesima dengan status fesbuk ini.

Well, itu anak-anak muda yg suka pake motor ‘trondhol’ dengan ban cacing dan sejenisnya: kayaknya penis mereka tuh kecil banget, itu pun gampang banget ngacengan; plus susah bagi diri mereka untuk mengendalikan dirinya sendiri apalagi sampai tahap membangun kualitas dirinya sendiri; sehingga mereka bingung mau membanggakan apa dari dirinya sendiri.

Jadi anak muda itu emang musti bisa nakal. Kalo ndhak bisa nakal, maka matilah otak kalian.

Tapi nakalnya itu yg sama sekali ndhak mengganggu apalagi sampe bikin susah orang lain.

Dan yg pasti: di atas kenakalan itu harus ada kreativitas yg berguna lagi bermanfaat plus ada kualitas & kemampuan diri yg mumpuni dan bisa diandalkan.

Kayak gini ini nih contohnya nakal, tembok bagus-bagus malah dicorat-coret. 😛 Nakal yg lain bisa dengan bersenjatakan kuas, gitar, stick drum, gamelan, bola, dll. Bahkan cuman bersenjatakan mulut!

Itu baru anak muda yg nakal dengan sebenar-benarnya nakal, yg keren beud nakalnya. Itu baru namanya macho dan jantan.

Kalo cuman pamer motor ‘trondhol’ ban cacing apalagi semua itu masih fasilitas yg minta sama ortunya: cemen gini koq dipamerkan. Nyari eksistensi pake cara kayak gini?

Jelas, kayaknya hanya anak muda yg penisnya kecil buanget dan guampang ngacengan doang yg bisa melakukan kecemenan ini.

Mungkin demikian.

– Freema HW
Sudah pemuda.

#Foto-foto & klip-klip nemu dari internet, hak milik dan hak cipta masing-masing pengkaryanya.

Advertisements

Sembarangan Buang Bahasa

Seorang redaktur newsblog curhat akan amburadul dan ugal-ugalannya bahasa para penulis.

Saya khawatir bahwa budaya antri, tidak membuang sampah sembarangan, beradab dan bertata-krama lalu-lintas, serta rapi bertutur kata itu mencerminkan tingkat keagungan adab dan budaya suatu bangsa.

Tetapi, ngapain sih repot mikirin itu semua?

Biar saja orang mau seenakudelnya berlalu-lintas, yg penting kita jaga jarak dari mereka dan selamat sampai rumah. Biasanya, kecelakaan itu terjadi karena pengendara ndhak mengindahkan aturan lalu-lintas atau bahkan mungkin ndhak mengerti. Persetan aja sama mereka, yg penting ndhak nyenggol mobil saya. Situ mau nyungsep, ya derita situ. Salah sendiri di jalanan koq seenaknya.

Ngapain sih kita bingung dengan kelakuan orang yg membuang sampah sembarangan? Mau mereka mbuang sampah di jalan tol, di selokan, di sungai, mbuka jendela mobil dan mbuang sampah seenaknya di jalanan, di trotoar, di depan masjid, di parkiran mobil, keluar ruko, di lapangan pas nonton konser, di sepanjang jalan pas acara jalan santai, di pantai atau di gunung, di mana saja bukan urusan saya; yg penting bukan di halaman rumah kita. Beres!

Koq pusing amat sih kita sama orang yg ndhak mau antri, yg penting kita bukan bagian dari mereka aja kan kelar perkara. Kalo terpaksa semua ndhak mau antri, ya kita ikuti arus aja: situ jual sini beli!

Dan, kenapa juga kita harus mengkoreksi kerapian tutur kata dan bahasa (diri) kita sendiri? Kita ngetik dan ngomong amburadul, nabrak aturan bahasa sana-sini, mencampakkan EYD ke tong sampah, sms tanpa titik tanpa koma, dan dengan segala kelakuan ugal-ugalan berbahasa aja kita bisa nyari duit bahkan bisa beli mobil koq!

Riil aja, apa sih pentingnya beradab dalam berbahasa sekarang ini? Kalo bahasa kita morat-marit trus kita mati atau ndhak bisa kerja gitu?

Satu nusa satu bangsa satu BAHASA? Itu mah jargon! Yg penting adalah bagaimana saya bisa beli spare-parts dan ngerawat mobil, selesai urusan.

Regards,
– Sarkas HW

Sampah

BBKSDA Jawa Timur melarang kegiatan wisata di cagar alam Pulau Sempu. Larangan wisata ke pulau Sempu akan mengakhiri polemik di dunia maya soal pemanfaatan CA Pulau Sempu untuk kepentingan wisata.

Satu kenangan saya dengan pulau Sempu adalah hampir 20 taon silam saat saya masih kuliah, saya pernah berenang dari Sendang Biru ke Pulau Sempu. Didampingi temen-temen yg menjaga saya dengan bersampan.

Itu jaman badan saya masih ceking dan perut masih rata, masih bisa gaya kupu-kupu. Sekarang dijamin saya bakal tenggelam kalo musti berenang kayak gitu lagi, saya cuman bisa gaya dada dan gaya batu. “Dadaaa!” 😀

Dulu, lebih dari 20 taon silam saat saya masih SMA, pergi ke Rinjani itu benar-benar mengasyikkan. Kemarin, saya baca di media, sekarang isinya sampah di mana-mana. Alhamdulillah dan salut buat yg pada mbersihkan.

Baiknya, pengunjung jangan dilarang untuk menjelajahi cagar alam. Tapi bagi siapa yg kedapatan mengotori bumi ini dengan sampah sembarangan, baiknya langsung tenggelamkan aja di laut atau tendang aja ke jurang dalam. Habis perkara.

Tapi yg ngeri lagi tuh cerita emak saya saat pergi haji sepuluhan taon silam. “Saat rombongan jemaah Indonesia beranjak dari duduk-duduk lesehannya di bandara sana, serakan sampah langsung terpampang di luasan lantai di depan mata!”

Itu semua dilakukan oleh orang yg pulang haji lho!

Gusti Allah…

– Freema HW

Satu Pijak Beda Tabiat

Ini semua adalah murni subyektivitas ngasal dan ngawur saya.

Ada akun yg berbicara tentang hal yg sama. Mereka satu kubu, satu persepsi, satu “pihak” sebenarnya: berdiri di sisi yg sama.

Bedanya, satu berbicara dengan bobot, cerdas, bernas; datanya kuat, faktanya akurat, analisisnya matang, hipotesisnya tajam. Banyak hal yg dirangkum jadi satu butir uraian, jadinya uraiannya padat montok berisi.

yg satu berbicara dengan membabi-buta, penuh emosi, hanya berisi opini subyektif belaka. Sederhananya: tong kosong nyaring bunyinya. Baru tau satu hal, uraiannya berlipat-lipat lebih panjang lagi. Jadinya nggelambir kayak lemak perut saya.

Satu pihak yg sama, satu kubu yg sama, satu persepsi yg sama, satu pijakan kaki pun ternyata (bisa) beda tabiat; bisa terpilah jadi dua item yg sungguh sama sekali berbeda berlainan total telak.

#bersih-bersih fesbuk perlahan-lahan, persiapan 2019: #unfollow puluhan page ndhak jelas yg miskin data, lemah fakta, mentah analisis, dan tumpul hipotesis.

– Freema Bapakne Rahman,
subyektif.

Persiapan 2019

Ada sebuah akun. Mengomentari kubu lawannya dengan “2019 masih jauh woy! Udah pencitraan aja!”

Pas saya becandai, saya diblok.

Sementara dari kubunya sendiri, tampaknya persiapan 2019 juga udah mulai dilakukan.

Bullshit, semuanya!

Ndhak usah tutup mata, 2017 ini, pada kenyataannya semua pihak udah siap-siap menyambut 2019. Dan sebenarnya bukan sejak 2017 ini, sejak hajatan Pilpres 2014 kemarin kelar, semuanya pasti akan langsung berkoordinasi untuk mulai menyambut 2019.

Dan kembali peristiwa 2014 akan terulang: kedua belah pihak akan adu kuat: adu kuat inkonsistensinya. Saya menggaransi ini terjadi, garansi untuk diri saya sendiri. Garansi tidak berlaku untuk Anda.

Inkonsistensi, dari KEDUA belah kubu. Alias semua kubu.

2019 nanti peta sementara akan mirip Pilkadal DKI kemarin. Kubu Jokowi akan semakin kuat. Dan kubu SBY/Prabowo akan pakai strategi mirip pilkadal DKI: ada calon utama dan ada calon untuk pemecah suara.

Kemarin itu, dengan kesadaran saking kuatnya Ahok kalo “dilawan sendirian”, alhasil dipasanglah Anies sebagai calon utama, dan Agus sebagai pemecah suara.

Berhasil!

Plus ditambah kampanye “di luar sistem”. Macam Ahok yg ditekan dengan cap penista agama. Yg bahkan suara Buya Syafi’i Ma’arif yg dengan tegas mengatakan bahwa apa yg dilakukan Ahok bukanlah penistaan agama, dengan segala cara akan dikesampingkan.

Dua faktor ini sukses mengantarkan Ahok terdepak dari kancah politik DKI. Dan setidaknya, langkahnya untuk terus tampil ke muka bumi perpolitikan Indonesia sukses terhambat.

Jokowi kayaknya akan dibeginikan juga, entah dengan cara apa. Pemanasan yg ada, Jokowi udah mulai dicap dengan stempel “musuh Islam”. Namun langkah ini agak sulit karena NU “menghambat”.

Biar bagaimana kekuatan NU masih sangat diperhitungkan di negri ini. Apa dhawuh kyai, masih menjadi langkah komando yg ajib untuk menggerakkan jutaan massa NU.

Maka tampaknya, kini NU yg musti dirongrong dari dalam. Entah ada yg disusupkan ke dalam NU atau dijebak untuk memecah NU atau dirongrong secara sistematis lain, saya kurang paham. Tapi langkah ini logis untuk diupayakan.

Atau sambil jalan, mungkin tim komando dan tim intelijen masing-masing kubu sudah menyiapkan dan merangkai beberapa langkah strategis maupun langkah taktis lain demi saling menjegal lawan. Mustahil tidak.

Semuanya demi politik.

Semuanya adalah politik.

Dan warganet terus bersorak riuh tempik-sorai menyatakan semuanya sebagai kebenaran, keadilan, apapunlah namanya.

Dan inilah cerminan politik negeri ini, di mata pandang saya pribadi. Tidak berlaku untuk Anda.

***

MAKA, saya pun juga siap-siap dengan 2019.

Kini saya mulai meng-unfollow fanpage atau grouppage yg konon bilangnya keagamaan atau kebangsaan tapi di dalamnya berisi politik. Entah kepada kubu siapapun dia berpihak. Karena selama dia berpihak dan tidak universal, saya pribadi menganggapnya bukan kebangsaan dan bukan keagamaan.

Kalo dari kaum kebangsaan masih “enteng” buat dijawab umpama saya di-counter sama mereka. Kalo dari kaum keagamaan, ini yg repot. Sebab dari kemarin hingga detik ini, cara untuk meng-counter adalah sama sekali ndhak pake otak, sesuatu yg dianugerahkan-Nya untuk kita gunakan.

Cara mereka meng-counter biasanya pake stempel. Barangsiapa tidak sama dengan pandangan mereka, maka kita adalah kafir, sesat, laknat, liberal, sekuler, dll. Atau kalo kalah opini, pasti pake senjata jauhi perdebatan kusir. Padahal sesungguhnya ini adu otak, bukan debat kusir tanpa dasar tanpa logika.

Yawsudahlah.

***

SELAIN fanpage atau groupage, yg sudah lama saya lakukan sejak tahun-tahun silam adalah me-remove akun-akun sektarian begitu. Bukan karena saya benci mereka secara perorangan, melainkan murni karena saya ndhak ingin “terlibat”, meskipun cuman membaca posting statusnya, dalam perkubuan ke mana saja.

Bukan karena saya benci mereka. Sama sekali bukan. Saya hanya ndhak kuat mengisi waktu dengan membaca gituan. Maka lebih adil dan bijak, dalam sudut pandang saya sendiri, jika akun-akun demikian saya remove.

Saya akui, saya dalam konteks ini jauh dari kehebatan istri saya yg cerewet minta ampun itu. Istriku adalah sedikit dari kaum istri yg cerewetnya level 30 kalo di ukuran Boncabe.

Saya lagi geletakan mau berangkat kopdar ama temen-temen aja, dia udah berkali-kali nanyak. “Kamu ndhak kopdar? Ndhak jadi berangkat tho?”

Padahal itu kopdar bukanlah sekolah. Mau saya kopdar atau ndhak, ndhak ada urusannya dengan naik-turunnya keimanan, kondisi negara, apalagi stabilitas harga pangan.

Plus saya sedang ndhak janjian dengan siapa-siapa. Jadi kalo saya jadi kopdar, itu asyik karena menambah silaturahmi. Kalo saya ndhak jadi kopdar, itu juga asyik karena saya bisa istirahat di rumah.

Eh pas saya males njawab, malah saya jadinya yg salah, “Diajak ngomong gitu doang diem terus!”

Bayangkan coba, kuping lelaki mana yg ndhak illfeel dengan gituan? Dan apapun alasan saya, laki-laki pasti akan salah di mata perempuan. Pasti!

Ini baru satu contoh. Yg ndhak saya ingat-ingat mungkin bakalan ndhak cukup seharian atau semingguan saya ketikkan di sini. Nyaris saban hari bray! 😦 Hiks…

Tapi saya ndhak ngingat-ngingat. Ini bukan sekedar masalah saya mencintainya sepenuh hati sehingga ndhak mau ngingat-ngingat yg ginian. Ini kayaknya murni cuman karena saya laki-laki yg ndhak pernah bisa ngingat-ngingat hal ginian.

Bahkan mbawa handuk pas mandi aja sering lupa. Alhasil saya teriak minta tolong istri ngambilkan handuk. Dan alhasil kembali kuping ini kena semprot. “Udah berkali-kali mandi ketinggalan handuk, masih aja terus lupa!”

Lucunya, dia tetap ngambilkan handuk ke saya bray! Begitu terus berulang-ulang tiap kali saya lupa mbawa handuk pas mandi. Eits bukan cuman saya, juga si kecil.

Dan kasihan dia, kecil-kecil udah kena semprot ibunya. “Kamu itu jan persis bapakmu!”

Kadang si kecil bingung, kadang dia meringis. Mungkin batin dia, “Apa sih salahku?”

TAPI dia istriku itu hebat. Saya cek di dinding(ratapan) alias wall FB-nya, ada dua kubu politik yg rajib banget update status. Timeline-nya malah sepertinya berisi 80% politis dan 20% kehidupan universal ~> itu pun masih dibagi antara pendidikan anak dan kucing sama kuliner dan sedikit traveling.

Atau kalo angkanya kegedhean, baiklah 60% politis dan 40% kehidupan universal. Atau baiklah, saya ngelihatnya pas momen tertentu barangkali, jadi ini ndhak mewakili kondisi keseluruhan.

(Tapi kayaknya “momen tertentu” gitu koq sering banget ya di FB gitu? Kayak selalu ada terus gitu…)

Tapi pas saya nanyak, kenapa ini akun yg berkubu-kubuan ndhak kamu unfollow aja?

Dia bilang, “Mereka semua teman saya, dan kebetulan saya bisa cuek mendapati posting-posting mereka.”

Hebat! Suaminya dicereweti, teman-temannya malah dicueki.

Harusnya kalo dia sayang sama saya suaminya ini, suaminya dimanja-manja, dan cerewetilah itu temen-temenmu yg menjadikan FB sebagai ruang pubik bersama sebagai ajang kampanye masing-masing kubu.

Entahlah.

Saya ndhak mau melanjutkan posting ini.

Abis ini telingaku pasti kena semprot lagi.

Demikian dari kemarin, hari ini, hingga seterusnya.

Hiks… Nasib…

“Lho Mas, perempuan itu cerewet kepada orang yg disayanginya, itu karena pertanda cinta.”

Baiklah, ini cinta.

Baiklah. Saya juga mencintainya dari kemarin, hari ini, hingga seterusnya.

Tapi tetap saja, kuping ini, hiks…

– Freema Bapakne Rahman.

Menjaga dan Merawat Indonesia

Bismillahirahmanirahim.

Sejak pilpres-pilpresan 2014 silam, saya sudah menetapkan diri sebisa mungkin menghindari posting statuta politik. Memilih netral (ber)politik bukan berarti tidak mencintai bangsa dan negara ini kan?

Hingga sampe Pilkadal DKI yg bikin linimasa saya tampak teramat sangat njancuki, saya masih bisa menahan diri untuk ndhak terseret arus menggempur dan menempeleng sebagian dari kedua belah pihak yg menjijikkan di linimasa.

Tapi ketika sekarang di linimasa mulai muncul suara-suara kecil ribut case Cak Nun vs PBNU ini, saya gatel tergelitik ingin ikutan mengungkapkan perasaan.

Dari pengamatan subyektif sepintas saya, yg ribut buta masalah Cak Nun vs PBNU, itu:

  1. Bukan dari kalangan Maiyah atau Nahdliyin. Mereka cuman nyari kesempatan untuk memecah-belah dua kubu yg selama ini, ibarat diagram Venn, mereka adalah bidang interseksi/irisan yg sangat luas. Nyaris bisa dikatakan, tepatnya dikiaskan, bahwa jemaah Maiyah = Nahdliyin. Tapi ini tidak mutlak lho! Ini cuman kiasan, bukan faktualisasi sebenarnya.
  2. Nahdiyin gagap yg sotoy.
  3. Maiyah gagap yg sotoy.

“Ributnya” case Cak Nun vs PBNU ini sangat berbeda dengan tongkolnya kedua kubu: pro-Jokowi vs anti-Jokowi atau kubu pro-Ahok vs anti-Ahok. Mereka yg mendukung atau anti dengan cerdas dan cinta, terpaksa harus tergusur oleh mereka yg mendukung dan anti dengan tongkol dan dungu ~> ini yg dominan mendominasi linimasa dunia maya; dalam pengamatan subyektif sepintas saya.

Sementara dalam case Cak Nun vs PBNU, isinya justru jemaah yg sama-sama bermajelis taklim: menyimak sungguh-sungguh apa kata guru, ustadz, mursyid, kyai.

Maiyah maupun Nahdliyin, adalah dua dari segenap kekuatan besar dalam menjaga dan merawat Indonesia.

Satu-dua (dari kalangan Nahdliyin atau Maiyah) mungkin terlihat reseh. Tapi sangat bisa dikesampingkan.

Well sekali lagi, “perseteruan” ini seru. Serunya adalah karena mereka lebih banyak saling menggali satu sama lain; alih-alih saling menguruk satu sama lain sebagaimana umumnya perseteruan dua kubu yg ada. Kalo saya bahasakan, ini seperti dua saudara yg berdebat sengit dan keras bagaimana menyelamatkan warisan orang tua, bukan berebut mati-matian jatah warisan orang tua. Intinya, banyak adu cerdas dalam “perseteruan” ini ketimbang adu bolot.

Kalo (ada) yg reseh beneran dan banyak bolotnya, cek aja, dia kayaknya nyaris bisa dipastikan bukan Nahdliyin dan bukan Maiyah.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman,
Muslim WNI.

Foto nemu dari internet.

Atheis(me)

Tentu, saya pribadi tidak ingin menjadi atheis. Kebetulan di hati kecil menemukan gimana rasanya nikmat bersyukur. Sesuatu yg susah saya deskripsikan hanya dengan ucapan, namun begitu dalam saya rasakan di lubuk hati terdalam saya pribadi. Maka, persoalan hati saya beriman ini sementara biarlah menjadi ranah privat saya, bukan ranah publik yg musti ditunjukkan dengan pemenuhan eksistensi berupa penilaian dan pengakuan (oleh orang lain).

Sama artinya ketika hati kecil saya menolak atheisme, tentu ini adalah ranah privat saya yg tidak ingin saya carikan pemenuhan eksistensinya, misalnya dengan membunuh kaum atheis atau semacamnya. Sebab bisa jadi malah nanti saya yg terbunuh, soale badan mereka kebetulan pas lebih gedhe ketimbang badan saya. Hehehehehe….

Dan well, sebagai makhluk sosial yg mana saya hidup bersama dengan beragam jenis orang, maka kali ini saya ingin berbicara dengan saya sebagai bagian dari kesemuaan.

Menolak bukan berarti musti membenci. Saya menolak atheisme, tapi saya tidak (ingin) membenci atheis dan mengingkari kenyataan yg terwakilkan pada gambaran di poto ini.

Menurut beragam informasi yg ada, kebanyakan negara-negara dengan atheisme tinggi, kebanyakan di Eropa, emang lebih “islami” hasilnya:

– mereka berpendidikan dan berkeilmuan tinggi,
– kesehatan dan fasilitas kesehatannya sangat memadai,
– punya banyak penemuan teknolgi yg membantu memudahkan hidup dan kehidupan,
– sistem ekonominya stabil
– menghormati orang lain,
– bisa antri, dan
– tidak membuang sampah sembarangan.

Atau dengan kalimat sederhana: mereka malah bisa hidup dan menjadi masyarakat madani (civil-society), sesuatu yg menurut kisah-kisah “Islami” adalah apa yg dibentuk dan dibangun oleh Muhammad Rasulullah SAW.

Hal yg mustinya sangat bisa diraih oleh kaum muslimin, karena kitab sucinya berisi kemahailmuan dari segala jurusan/disiplin keilmuan, justru malah diraih oleh kaum atheist atau kaum “kadir”. Sedikit pengobatan atas kerinduan pemcapaian ini adalah adanya cerita pada era Islamic-golden-age, di mana Eropa masih diliputi kegelapan jahiliyah (kebodohan, keterbelakangan), sementara kaum muslimin telah berhasil mencetak barisan ilmuan yg bebas merdekan untuk berpikir dan menciptakan penemuan (invention) dan inovasi (inovation) dan segala bidang: kedokteran/kesehatan, matematika, fisika, astronomi, ekonomi, sosial, dll.

Selepas itu, meski bisa mengikuti gemerlapnya kemajuan dunia(wi), kaum muslimin kembali terpuruk serasa kembali ke jaman jahilitah, saat cahaya pencerahan Islam belom datang. Segala pencapaian pada era Islamic-golden-age berangsur berpindah ke benua Eropa, entah kenapa dan entah gimana kisahnya.

Banyak kemudian yg memanfaatkan pergantian era ini dengan alasan khalifah/khilafiah-lah, penjajahan budayalah, bahwa pencapaian re-Islamic-golden-age oleh bangsa barat itu adalah pencapaian kaum kafirlah, sampai kemudian ada yg menghibur diri dengan mengunggulkan angka fakta tingginya trend masuknya warga Eropa menjadi mualaf.

Sampai kemudian penentangan terbesar dari dalam diri kaum muslimin sendiri adalah dengan mengsekulerisasi: ini khasanah keilmuan Islam, yg ngomongkan beragam ritual atau amalan, dan yg itu adalah khasanah keilmuan umum (yg bukan kailmuan Islam).

Ini yg saya tolak mati-matian, Semua keilmuan: ekonomi, sosial, fisika, biologi, astronomi, bikin pesawat terbang, bikin mobil, mengembangkan metode pendidikan, dll. adalah keilmuan Islam atau ilmu agama Islam sejauh dikepentingkan untuk kemaslahatan umat manusia. Umat manusia, bukan cuman umat Islam.

Bagi saya, umat Islam adalah sesiapa yg memiliki kesadaran batiniah akan ketauhidan pada Sang Esa dan menjalankan tugasnya menjadi khalifah di muka bumi ini, yakni berbuat untuk peradaban, bukan untuk kebiadaban.

Ini pengertian yg saya pegang.

Tapi dari satu atau beragam pengertian lain, umat Islam sudah terpecah (baca: bertentangan), bukan lagi sekedar berbeda untuk bersama.

Dan pada paragraf terakhir di atas, itulah kemudian yg menjadi titik tekan atheis untuk “menusuk” kaum muslimin. Bahwa kita ini sudah pada taraf berpecah, bukan lagi berbeda. Yg mana perpecahan ini ibarat perang, masing-masing pihak berusaha menjadi kemenangan eksistens, hingga hasilnya kehidupanlah yg menjadi korban.

Kaum muslimin, yg konon kuat religinya, justru malah hidup terbelakang (pendidikan, keilmuan habbit antri dan mbuang sampahnya, dll.) di era yg semakin modern dan mutahir dalam beragam parameternya ini. Dan sekali lagi, kita terus-terusan “menolak” pencapaian kembali era Islamic-golden-age dengan terus mengsekulerkan/memisahkan: “ilmu agama” dan “ilmu umum”.

JANGAN salah pengertian, saya tidak ingin memuja-muji atheis(me), saya hanya ingin mengutarakan sejumput kenyataan yg ada di muka bumi ini. Bahwa inilah sepertinya gambaran kondisi yg ada sekarang.

Andai ada pertanyaan, kenapa kita kaum muslimin koq tidak bisa hidup (semaju) seperti mereka (kaum atheis itu – dalam bidang keilmuan sebagaimana pencapaian era Islamic-golden-age), apa yg musti kita jawabkan lik? Jawaban apa yg musti kita berikan lik?

Tentu tidak sekedar jawaban: wallahualam. Meski posting ini saya tutup dengan wallahualambisawab.

– Freema HW

CATATAN:

Kata ireligius mustinya tidak bisa sementah-mentah saya artikan atheis. Sebab bisa saja itu agnostik: bertuhan tapi tidak beragama. Tapi informasi yg ada, negara-negara yg maju itu memang tingkat atheismenya tinggi. Sehinga saya sementara mengkorelasikan ireligius dengan atheisme.

Plus kenyataan bahwa nyaris semua aliran Islam juga menolak agnostisme: ngakunya bertuhan tapi koq ndhak menjalankan “syariat”? Macam gitu.

Plus lagi, bahwa dominan pengertian yg ada adalah ketika orang “beragama” tapi bukan secara (aliran) Islam maka secara literal, searah, dan nirdialektika juga akan langsung disebut kafir.

Jadi frasa atheis yg saya pakai di sini selain atheis secara literal mungkin juga atheis secara klausal, yakni “non-muslim” dalam pengertian pada umumnya sekarang.

Daya angkawinya akan saya coba update nantinya kalo sempat. Ini tadi ngetiknya ndhak pake dikoreksi dulu soale. Tapi saya yakin, yg biasa mengikuti peredaran informasi secara luas bisa memahfumi postingan opini nirdata angkawi saya ini.

Tq.