Desain: Software Bajakan

Di kota kecil Kediri, harga jasa setting cuman 20rb. Di sini, kebanyakan orang ngertinya cuman setting, belom sampe taraf (memahami) desain. Plus penyedia jasa layanan setting ndhak perlu mengembalikan investasi pembelian software/perangkat lunak orisinal yang harganya bukan lagi mahal, tapi mihil.

Yang tinggal di Kediri pasti memahami hawa ginian ini.

Kalo ndhak pinter-pinternya menyusupkan charge desain ke layanan, alamat babak belur jadi desainer di kota kecil kayak Kediri gini.

Di sini, siapa coba mau kena charge minimal 500rb untuk kerjaan tanpa bentuk barang, hanya berwujud sebuah desain (yang itu dikerjakan siang-malam berhari-hari)?

Di sini, siapa coba mau pesanan ratusan lembar undangan uniknya di-charge 15rb sebiji hanya karena keunikan desainnya? Paling segelintir orang yang susah diharapkan kontinyuitasnya. Yang lain pasti minta yang 4rb sebiji, atau seribuan sebiji.

Di sini, siapa coba yang mau mbayar kalo pesanan banner 10 meternya seharga 20an rb per meter kena ongkos desain 150-250rb?

Di sini siapa coba mau kena charge yang komponennya adalah: pengembalian investasi perangkat keras (hardware), biaya operasional (listrik dll.), plus brainware: bukan lagi sekedar ongkos kerja tapi juga plus ongkos pikiran?

Tanpa bermaksud mengeluh atau males bersaing secara profesional, gimana kita bisa ngembalikan investasi pembelian perangkat lunak orisinal yang harganya jutaan rupiah?

Di kota kecil Kediri, kebanyakan orang ngertinya cuman setting, belom sampe taraf (memahami) desain.

Di sini, persaingan bisa dibilang cuman harga, harga, dan harga. Kompetisi profesional bukan pada indah-menarik/atraktif-komunikatifnya sebuah karya desain (grafis). Percayalah, sepertinya hanya satu-dua yang berani membayar nuansa mahakarya Anda di kota kecil yang diapit gunung Kelud dan gunung Wilis serta dibelah oleh kali Brantas ini. Yang satu-dua ratus klien mungkin hanya akan menanyakan, “Berapa harganya?”

Di sini, Anda tak perlu berinvestasi sebuah workstation, baik desktop maupun mobile dengan dua biji prosesor masing-masing berinti enam atau lebih yang ber-thread ganda dengan memory hingga empat hingga enam slot {dua atau tiga kali lebih banyak ketimbang mainboard biasa} ber-dedicated GPU (graphic processing unit) yang kesemuanya makan listrik banyak watt untuk merender gambar dengan puluhan layer atau ribuan poly hasil karya grafis yang Anda kerjakan siang malam siang malam siang malam {atau jikapun tanpa layer dan poly ratusan(ribu) mungkin risetnya yang berhari-hari} demi menciptakan masterpiece yang mempesona, menarik perhatian (calon) kustomer klien Anda, dan diharapkan menciptakan brand-awareness tinggi untuk mengikat atau menguatkan loyalitas kustomernya.

Di sini Anda cukup berinvestasi ke komputer rakitan, atau branded kelas pasaran dengan wattage rendah yang cukup buat nyetting spanduk atau selebaran -maaf- alakadarnya: yang penting warnanya norak dan penuh kolase tanpa perlu kalkulasi efektivitas penyampaian message; yang cukup diisi aplikasi bajakan – dengan alasan (baca: pembenaran) menekan harga jual jasa, karena (sekali lagi baca: pembenaran) kita tak perlu menghargai kerja keras dan jerih payah pembuat software sebab toh kerja keras kita juga dihargai murah oleh klien.

Bahkan mungkin, di sini jika Anda sampai galau karena masih menggunakan perangkat lunak bajakan dan berusaha sekuat tenaga menggunakan perangkat lunak legal (dengan membeli atau pakai perangkat lunak bebas/open-source) mungkin Anda juga akan diketawai sinis, mendapat penolakan, atau semacam dianggap sinting.

“Ngapain aneh-aneh sih? Pake yang ginian ajalah… Semua juga pake ginian…” Sedihnya kalo yang bilang gitu justru orang yang ngerti aiti (IT maksudnya alias teknologi informasi – koq kebalik kepanjanganya?) 😦

“Waduh, ndhak sanggup ane ngoperasikan Linux. Susah mennn… Biasa pake Windows niy…!” Padahal mereka yang bilang gitu mungkin juga bingung ngadepi (kerumitan) perbedaan Windows 10 usai biasa ngadepi tampeng Windows XP atau 7.

Seru lagi kalo misalnya kita rajin menyebarkan dakwah: “Amalan ini akan dilipatgandakan pahalanya berlipat-lipat ratusan ribuan kali; amalan ini membuat pintu dan cahaya sorga terbuka untuk kita; jangan begini biar ndhak dicambuk api neraka; yang ini haram, ndhak boleh! Umat harus konsisten menegakkan panji-panji kebenaran! Basmi kekafiran! Tinggalkan kesesatan!”

Dan menuliskannya itu semua pake perangkat lunak bajakan. Kalo kami bayangkan, ini seperti orang menyebarkan kitab Quran hasil nyolong entah dari mana. Atau mungkin seperti kita pakai baju rapi, gamis, tapi hasil ngembat dari orang lain.

“Ah, (perkara software bajakan) ini kan cuman urusan duniawi… Yang penting kita rajin menyembah Tuhan…” Sambil komat-kamit teriak dalil menegakkan syariat katanya.

Jadi…, sementara bisa kita simpulkan, bahwa menggunakan perangkat lunak bajakan itu tidak melanggar syariat, tidak membuat kita kecemplung ke neraka. Perkara (penggunaan/menggunakan) perangkat lunak ini bukan bagian dari ibadah, apalagi pada zaman Rasulullah ndhak ada perangkat lunak. Yang bikin kita kecemplung ke neraka adalah kalo tidak mau beribadah. Menggunakan perangkat lunak bajakan ini bukan perbuatan sesat. Sesat itu kalo kita mempertahankan tradisi jaman baheula. Begitu ya?

Dan sangat disayangkan kalo ada yang dengan santainya bilang, “Udahlah ndhak usah nyari repot…”

Padahal sesungguhnya bagian dari tugas dan perjalanan hidup kita adalah dengan kuat/tenang/jernih/jitu/cerdas/mantab menaklukkan kerepotan demi kerepotan (baca: tantangan, untuk) membuat terang keadaan dengan keterbukaan; terbuka bahwa ada perangkat lunak legal dan ilegal. Bukan menjadikan sepanjang hidup nan indah terang elok cantik ini menjadi senantiasa kita pandang gelap karena kesempitan dan ketertutupan pikiran kita.

Tapi ini semua sesungguhnya bukan pembenaran buat beli aplikasi bajakan. Sebab bajakan bukanlah tentang keterbukaan informasi.

Bajakan apapun alasannya, teteplah maling, pencurian, tindakan haram. Kita dapat duit makan dari penggunaan software/perangkat lunak haram, sesungguhnya tak ada bedanya dengan kita makan dari duit hasil korupsi.

Hei, itu kan bikinan Zionist?

M#t#mu suwek kuwi… Bahkan seorang polisi mencuri barang hasil curian maling pun dia menjadi maling juga. Apalagi ini perangkat lunak yang sesungguhnya begitu membantu dan memudahkan kehidupan kita, plus bisa menghasilkan uang.

Sodaramu, temenmu, keluargamu, bahkan bisa jadi (kelak) anak-anakmu bisa jadi (kelak) jadi programer yang dapat duit buat makan dan menyambung hidup dari bikin software.

Gimana kalo hasil karya mereka anak-anakmu sodaramu keluargamu dibajak tetanggamu sendiri, dibajak rekan sekantor, dibajak rekan sekomunitas, dibajak oleh banyak orang? Masih berani bilang ikhlas?

Ati-ati, jangankan ucapan seriusmu, ucapan batin seriusmu pun didenger sama Tuhan.

Well,, terima kasih bagi Anda yang telah membaca tulisan ini hingga di kalimat ini. Namun mohon jangan berpikir macam-macam, tulisan ini kami tujukan buat bayangan diri kami sendiri yang terpampang di depan cermin koq! Jikapun ada manfaat atau inspirasi yang bisa Anda dapatkan, itu semua cuman titipan Allah via tulisan ini. Dan jika ada sesuati yang nj#ncuki dari tulisan ini, itu murni kelakuan kami.

– FHW,
designlessspeechless.
#Gambar nge-link dari laman orang.#

Blender

© Deasy Ibune Rahman

Namaku Aleef Rahman. Bisa dipanggil Aleef bisa dipanggil Rahman. Umurku 9 tahun, kelas 3 di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Doko, Kediri. Kebetulan hari Minggu ini, 19 April 2015, aku untuk pertama kalinya dengan ditemani Bapak dan Ibu ikut berkumpul bersama komunitas pengguna program/aplikasi pengolah 3-dimensi (3D) Blender se-(karesidenan) Kediri Raya.

Biasanya pertemuan ini diadakan di ruang workshop di kantor Telkom Kediri. Namun khusus hari ini, karena ruang workshop yang disediakan oleh pihak Telkom sedang digunakan, maka para pengurus komunitas ini memindah sementara di sebuah balai warga di sebuah kompleks perumahan di Kediri Barat.

Pertemuannya seru! Mulai jam sembilan hingga tengah siang. Intinya siy coaching-clinic, workshop, dan sharing seputar Blender. Pertemuan ini digelar rutin setiap minggu. Namun Aleef Rahman mungkin akan membolos beberapa pertemuan dalam sebulan jika ada aktivitas lain bersama Bapak dan Ibu.

Tutornya mas-mas yang masih kuliah atau barusan lulus dan bekerja. Pesertanya nyaris seragam: kebanyakan mas-mas dan mbak-mbak yang udah gedhe. Dua peserta terkecil adalah aku dan satu lagi seorang mas yang duduk satu kelas di atasku. Ia kelas empat, rumahnya di kawasan kaki Gunung Kelud yang kemarin meletus itu. Kebetulan untuk sesi hari ini, workshop-nya membuat 3D kursi.

© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman

Sejak playgroup, sebelum TK, Bapakku sudah ngajari aku main komputer. Komputernya ada gambar penguin. Itu penguin ternyata punya nama, namanya Tux. Tux ini ikon/maskot dari sistem-operasi Linux. Lucu si Tux ini, imut dan menggemaskan 🙂 Linux di komputerku pakenya distro Ubuntu.

Ubuntu berasal dari bahasa Afrika, yang artinya “kemanusiaan kepada sesama”. Kata Bapak, distro adalah bentuk perwujudannya Linux. Bapak sendiri juga kadang pake Linux OpenMandriva atau Fedora.

Dulu komputer kami gambarnya Apple krowak. Bapak bilang itu namanya Macintosh. Tapi komputernya rusak, mati layarnya. Kata Bapak, muuuahalll kalo mau mbetulinnya. Akhirnya Bapak pake yang gratis saja katanya: Linux namanya.

Kata Bapak, Linux itu seperti kita berteman dan membuat sesuatu bersama-sama. Hasil yang kita buat bersama tersebut jadinya bisa dipakai dengan bebas bahkan gratis, enggak pake beli. Belinya kalo perlu aplikasi yang super-khusus. Itu juga jika penggunaannya sudah kelas pekerja profesional atau perusahaan gedhe.

Karena dibuat dan dijaga bersama, Linux jadinya bisa diawasi oleh siapa saja. Tapi namanya buatan manusia, Linux juga pasti punya kelemahan. Tapi kelemahan yang ada justru akan membuat komunitas pendukungnya kuat, karena mereka akan selalu dan terus bergotong-royong: dari semua, oleh semua, untuk semua.

Seperti prinsip bangsa Indonesia ya: gotong-royong! Di sekolah aku juga diajari gotong-royong ini. Gotong-royong akan membuat hal yang berat menjadi ringan, dan membuat setiap kesulitan akan cepat ditemukan jalan keluarnya. Semoga semangat gotong royong ini senantiasa terjaga di negeriku Indonesia ini.

GCompris

Awalnya main Linux, aku cuman main GCompris. Aplikasi dasar komputer buat anak usia dini hingga pendidikan dasar. Aplikasinya seperti game atau permainan, tapi isinya benar-benar berguna dan edukatif sekali. Dengan GCompris kita bisa belajar komputer benar-benar dari dasar: – menggerakkan mouse dengan lihai. – memencet keyboard dengan pas. Demikian seterusnya.

Ada sekitar 100 jenis-jenis kegiatan (permainan) dalam GCompris, yang sekali lagi intinya untuk mengenalkan komputer pada anak usia dini dan membentuk ketrampilan dasar kita sampai tangan bisa lancar dan enggak kaku bergerak. Pokoknya basic banget. Bahkan untuk akung-uti yang sudah sepuh dan belum mengenal komputer sebelumnya pun pun bisa diajari komputer dengan GCompris ini lho! Kan lumayan, agar mereka bisa menemani cucunya main komputer. Hihihihihi…

Dan kata Bapak, inilah dasar dari semua penggunaan komputer kelak, agar kita bisa terampil dan cekatan menggunakan komputer, khususnya program-program yang memerlukan keahlian atau kecakapan khusus. Harusnya, setiap orang tua yang mengajari komputer kepada anaknya, dan setiap sekolah yang memiliki laboratorium komputer harus memiliki aplikasi Gcompris ini.

GCompris dapat diunduh bebas. Versi lengkapnya tersedia di Linux. Di Windows dan Mac juga ada, tapi entah apakah full-version atau tidak. Sebab aku menggunakannya hanya di Linux.

Program GCompris bisa di-setting bahasanya. Ada bahasa Inggris, juga bahasa Indonesia. Cocok untuk kita-kita yang ingin belajar komputer sekaligus belajar bahasa Inggris.

Kalo saran Bapak dan Ibuku, selain GCompris, semua komputer di sekolah mestinya pakai Linux. Sebab Linux mengajarkan semangat gotong-royong itu tadi.

Kalo pake program komputer yang berbayar, takutnya nanti kita akan terbiasa memandang segala sesuatu dengan uang semata. Kalo menggunakan aplikasi berbayar, sama artinya kita anak-anak sekolah ini diajari untuk nantinya terbiasa membeli, apa-apa serba duit; bukan bekerja sama dan sebisa mungkin membuat segala sesuatu sendiri alias mandiri.

Aku sih belum mengerti ini. Tapi aku percaya, kedua orang tuaku memberikan arahkan yang baik dan benar kepadaku.

Masuk sekolah, bapak mulai mengenalkanku dengan Blender. Blender adalah salah satu aplikasi pengolah 3D/animasi. Jika teman-teman suka nonton Marsha, Upin-Ipin, dll. animasi tersebut dibuat oleh program pengolah 3D/animasi. Banyak jenis program animasi/3D.

Blender ini adalah aplikasi animasi /3D yang bebas/open-source dan kebetulan gratis untuk kita diperoleh. Blender Bisa diinstal di Linux, Mac, atau Windows.

Awalnya Bapak menunjukkan ke aku gambar-gambar 3D (tiga dimensi) sederhana yang dibuat dengan Blender. Ada kotak: kubus, balok; prisma, limas, silinder, dll. Pokoknya sederhana banget. Trus bapak ngasih tutorial dasar membuat obyek/model sederhana: gelas, cangkir, botol. Model-model yang pasti dijalani buat sesiapa saja yang belajar aplikasi tiga dimensi.

Kini aku sudah bisa membuat obyek bergerak lho …! Aku sudah bisa membuat pesawat terbang yang take-off atau landing. Juga truk yang melintas di jalanan. Atau kereta api yang berputar-putar di atas rel. Kini, Bapakku malah yang kalah dan ketinggalan lawan aku! Hihihihihi…

Tapi aku bisanya masih dikit itu koq. Ini juga masih terus belajar. Masih banyak yang aku belom tau. Banyak banget. Dan semoga nantinya banyak yang membimbingku belajar. Allhuma aamiin.

https://i1.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/af/Tux.png/220px-Tux.pngUbuntuBlender

Meskipun suka komputer, Ibuku tetap melarangku terus-terusan main komputer. Pulang sekolah, aku harus tidur siang jika tidak ada ekstra kurikuler di sekolah.

Sore hari, Ibuku menyuruhku bermain dengan teman-teman sebaya di sekitar rumah. Kami main sepedaan, atau main main-mainan balok-balok kayu: bikin sepur-sepuran atau truk-trukan. Atau kadang juga sekedar nonton Marsha di TV. Sesekali juga main layang-layang, tapi enggak bisa terbang tinggi karena lahan kosong di sekitar kami sudah mulai habis 😦 😀

Intinya kata Bapak dan Ibu; aku tetep harus bersosialisasi, berinteraksi dengan temen-temen. Aku nggak boleh sampe dikuasai komputer, komputerlah yang harus aku kuasai.

Habis maghrib, aku juga dituntun belajar mengaji oleh Ibuku.

Malemnya sama Bapakku sukanya aku disuruh bermain saja, dilarang mengerjakan PR yang buuuanyakkk gitu. Kata Bapak, “Anak kecil ngapain dikasih PR buanyak-banyak gini? Enggak perlu!”

Begitu pendapatnya. Tapi Ibuku suka marah-marah sama Bapak. Katanya Bapakku ini ngajarin enggak bener sama anaknya. Masak PR dari sekolah koq enggak boleh dikerjakan? Hihihihihi…

Akhirnya Ibuku yang selalu menemaniku ngerjakan PR. Dan habis dimarahi Ibu gitu, Bapak kemudian pergi ngadep komputernya sendiri. Liat monitor sambil ngakak-ngakak sendiri. Hoalah Bapakku… -_-

WELL… Bulik, Paklik, Budhe, Pakpuh semuanya, ini tadi cerita tentang aku Aleef Rahman. Aleef Rahman mohon doa dan bimbingannya selalu ya; agar aku senantiasa patuh pada orang tua, dan kelak jika besar bisa berguna bagi bangsa & negara Indonesia serta bagi kehidupan umat manusia. Aamiin. Salam sayang, – Aleef Rahman H.

*Tentu yang nulis ini adalah Bapak dan Ibuku yang selalu baik kepadaku 🙂 Hihihihihi…*

LAINNYA: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10152848279223287&id=641283286 https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10152875596443287&id=641283286 https://www.facebook.com/groups/147515281967047?view=permalink&id=917255378326363

Sempat ada yang memperingatkan kami, anak kecil koq udah dicekoki komputer, enggak baik buat perkembangannya, di sini semua ceritanya https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/04/27/belajar-menjadi-orang-tua/. 🙂

Hijrah/Migrasi

“‘Kan aku terima jasa nge-print/pencetakan, nah semisal ada klien nge-print data office, tetep bisa dibuka di office-nya Linux ya? Extensinya beda gak?” Penasaran si temen saya.

Ekstensinya “sama”. Hanya saja, mungkin layout-nya bisa jadi sedikit berubah.

Yang paling enak untuk migrasi caranya gini:

– (pahit:) ente siapkan satu lagi komputer. Install dengan Linux. Jangan dualboot: bisa milih masuk ke Linux atau masuk ke Windows di depannya.

– Trus itu kompie berisi linux, ente kasih emulator sehinga MS Ofice bisa di-install di situ.

Kalo pas dibuka dengan LibreOffice layoutnya jadi berantakan, terpaksa ente buka dulu pake MS Officenya lagi yang udah ente pasang di atas emulator tadi. Trus di-print.

Kompie yang lama biarkan berjalan apa adanya, sampe ente lumayan nguasai Linux dan aplikasi-aplikasinya.

Dalam proses migrasi ini, yang ente perlukan selain dua kompie (kalo bisa, kalo gak lebih enak dibikin dualboot gpp), yang terpenting adalah semangat, semangat, semangat.

Sebab di perjalanan nanti, ente akan mengalami banyak hal baru yang memerlukan cara penanganan dan pemecahan.

Sederhana saja, kalo di MS Office kita biasa mendapatkan pengaturan halaman di menu File, di LibreOffice menu ini berpindah ke Format.

Menemukan cara baru untuk mendapatkan hal yang sama, inilah biasanya tantangan yang cukup menyita waktu dalam proses hijrah/migrasi dari Windows ke Linux.

– MS Office hanya membuat berkas dengan ekstensi doc. LibreOffice bisa membuat dokumen dg ekstensi odf bisa juga doc (sehingga bisa dibuka di MS Office).

– MS Office tidak bisa membuka berkas odf. LibreOffice bisa membuka berkas odf juga doc. 😀

Kurlebnya demikian.

– Ciao!

TUANGAN PIKIR SEBELUMNYA
https://freemindcoffee.wordpress.com/2014/12/28/linux-aman-bekerja/
https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/01/13/aplikasi/

Aplikasi

“Misal aku ganti Linux, untuk program kerjaku seperti office, potoshop, corel draw bisa diinstal di Linux gak?” Kata seorang temen

Dan tiba-tiba saya punya pikiran ngawur.

*Lanjutan dari https://freemindcoffee.wordpress.com/2014/12/28/linux-aman-bekerja/*

I

– Linux dan Windows itu, katakanlah ibarat Android sama Symbian atau Blackberry.

Ada aplikasi yang dibuat untuk berjalan di masing-masing platform. Misal: Whatsapp ada di Android, ada di Windows phone, ada di Blackberry.

Di Linux atau Windows juga ada yg kayak gitu. Misal Firefox atau Google Chrome ada versi Windows, versi Linux, versi Macintosh. OpenOffice/LibreOffice bisa berjalan di Windows, Linux, Mac, atau SolarisOS.

Namun ada aplikasi yg oleh produsennya hanya dibuat di platform tertentu saja. Misalnya Photoshop hanya dibuat di Mac dan Windows saja.

QuarkEXpress hanya dibuat di Mac dan Windows.

Corel hanya dibuat di Windows saja. Bahkan di Mac pun ndhak bisa.

Sementara FinalCut Editor, aplikasi editing movie/video yang banyak digunakan oleh industri perfilman kelas kakap (kalo ndhak salah Lord of The Ring juga difinishing pake aplikasi ini) malah hanya bisa diinstall di Mac. Versi Windowsnya pun gak ada.

Dll.

Jadi kalo ada yg bilang, “Ini gak bisa diinstall di Windows.”

Lebih tepatnya sebenarnya bukan gak bisa, melainkan produsennya gak mau.
Umumnya, aplikasi yg gak dibuat versi Linuxnya adalah aplikasi yg aslinya dijual ribuan dollar, misal Photoshop atau Corel.

– Di muka bumi ini, ada aplikasi lain yang setara fungsi. Misal, untk mengetik selama ini kita mengenal MS Office. Nah, di muka bumi ini ada banyak aplikasi untuk mengetik juga, misal OpenOffice/LibreOffice, Kingsoft Office, dll.

Fungsionalitasnya sama. Hanya bentuk beda-beda.

Kebetulan beberapa aplikasi hanya bisa berjalan di platform tertentu, misal MS Office hanya bisa berjalan di Windows dan Macintosh, namun tidak bisa berjalan secara native di Linux.

Karena Microsoft hanya membuat Office mereka untuk versi Windows dan versi Macintosh.

Sementara aplikasi office-suit lain oleh produsennya dibuat di versi Windows, versi Macintosh, versi Linux juga.

II

– Ada beberapa aplikasi berbeda nama namun sama fungsi namun tidak terkoneksi. Misal Blackberry messenger dan Whatsapp. Keduanya berbeda, namun fungsinya kurang lebih sama.

Kebetulan dua aplikasi tersebut ndhak terkoneksi. Namun fungionalitasnya sama. Jadi kalo ada orang yang hapenya ndhak bisa diinstall BBM, dia bisa pake Whatsapp untuk terkoneksi dengan dunia. Atau pake Telegram.

Telegram dan Whatsapp adalah aplikasi yang sama fungsi namun tidak terkoneksi. Artinya, data yang masuk ke Whatsapp gak bisa dibuka via Telegram dan sebaliknya.

Di Linux dan Windows juga ada fenomena kayak gini. Ada aplikasi yang berjalan hanya di Windows only, misalnya MS Visual Basic. Dan ada aplikasi yang hanya berjalan di Linux namun tidak bisa berjalan di Windows. Biasanya yg ginian cuman game yg khusus Linux.

– Ada aplikasi yang beda bentuk namun sama fungsi dan bisa terkoneksi. Misal OpenOffice vs KingsoftOffice vs MS Office.

Ketiga aplikasi ini memiliki tipe document masing-masing. Namun kebetulan OpenOffice/LibreOffice dan Kingsoft Office juga dirancang untuk bisa/sanggup membuka dokumen MS Office.

Hanya MS Office yg gak dibuat untuk bisa membuka dokumen pada format lain.
Biasanya, akan ada plugin dari pihak ketiga yang menyediakan kemampuan tambahan untuk ini.

III APLIKASI SUBTITUSI/ALTERNATIF

– Di muka bumi ini, ada aplikasi lain yang setara fungsi. Misal, selama ini kita mengenal Photoshop untuk mengolah gambar. Kita mengenal Corel untuk membuat ilustrasi. Kita mengenal PageMaker/Quark/InDesign untuk menata letak halaman.

Nah, di muka bumi ini ada banyak aplikasi lain yang fungsionalitasnya sama.

Ada GIMP yang fungsinya sama kayak Photoshop. Ada Inkscape yang fungsinya mirip kayak Adobe Illustrator atau CorelDRAW. Ada Blender 3D yang fungsinya sama kayak 3Ds Max. Ada Bluefish Editor yang fungsinya kayak Macromedia/Adobe Dreamweaver.

Ini yang jarang diketahui atau dipahami orang.

– Pernah denger kan, menginstall apk-nya Android ke Windows? Atau menjalankan game PlayStation ke Windows? Orang menggunakan engine tambahan yang disebut emulator. Jadi dengan android emulator apk tersebut seolah-olah diinstal ke Android yang ditanamkan ke Windows. Atau game PS tersebut seolah-olah berjalan di PS dengan menggunakan PS Emulator.

Emulator bukan cuman itu. Ada Windows emulator yang bisa diinstall ke Linux atau Mac. Jadi aplikasi yang hanya berjalan di Windows bisa dipasang di Linux atau Mac.

Sebaliknya, juga ada Linux dan Mac emulator di Windows. Jadi aplikasi yang hanya dibuat untuk Linux dan Mac bisa dipasang ke Windows.

Hanya saja, karena ini tidak berjalan native (langsung), biasanya kinerja emulator tidak akan pernah sesempurna aplikasi yang dipasang native.

Berhijrah, migrasi, dari Windows ke Linux memang bukan perkara mudah. Saya pribadi biasanya hanya berani berdakwah hijrah meninggalkan Windows (yg digunakan secara bajakan) pagi pengguna komputer yang hanya melakukan pekerjaan ‘ringan’, misalnya sekedar mengetik, ngenet, dan memutar lagu/video.

Yg lebih dari itu, saya pribadi masih belom berani.

Memang konsekuensinya nantinya jika kita hijrah adalah, kita seolah seperti ndhak bisa. Seperti biasanya ngoprek Android kemudian ngoprek Symbian.

Namun kalo kita memaui, kita sebenarnya pasti mampu.

Jadi kuncinya adalah di kemauan, belom tentu masalah kemampuan.

Meskipun memang, ada beberapa aplikasi berbayar yang memang versi alternatifnya di Linux mungkin belom pernah bisa menandingi kemampuan/kompetens dan kapabilitasnya.

Namun biasanya yang sudah kelas ginian, itu sudah digunakan oleh industri superbesar yang nilai perputaran uangnya banyak milyaran hingga triliunan rupiah.

Apakah kita kemudian perlu berpindah ke Linux?

Tidak harus.

Semuanya pilihan. Sebagaimana kita memilih beli Honda bekas atau BMW bekas.

Termasuk memilih Linux untuk membantu negara menghemat keluarnya devisa atau membeli Windows legal dan membiarkan jutaan dollar uang kita lari e luar negeri.

Secara hukum, semuanya sah. Kecuali kayak saya: pake bajakan.

Pertimbangannya masing-masing.

CMIIW.

Freema HW,
– pengguna Mac, Linux, dan Windows haram (bajakan).

Bajakan adalah maling. Maling itu dosa. Dosa itu bikin masuk neraka. Dan saya pengguna bajakan.

*Lanjut ke https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/01/13/hijrahmigrasi/*

Linux: Aman Bekerja

Linux

Perasaan sekejam-kejamnya update (pemutakhiran) Linux, gk sekejam update Windows(7).

Update gedhe-gedhean di Linux tinggal unduh (download), pasang (installing), kelar. Kalo restart paling sekali. Sama sekali ndhak nganggu kerja selama download/update berlangsung.

Di Windows(7), update yg kelewatan tidak dilakukan secara parsial membuat resources disedot luar biasa. Kompie jadi bego. Udah gitu perubahannya luama bingit plus bisa beberapa kali restart.

LINUX adalah sistem operasi. Jika di ponsel Anda mengenal Symbian, Windows Phone, Android, Firefox OS, IOS, di komputer juga ada kayak gitu. Ada MacOS yang hanya berjalan di perangkat keras Macintosh, ada Windows, ada AmigaOS, BSD, pun Linux.

Kebanyakan selain Windows, semua adalah turunan Unix/*NIX. Berasal dari satu bahasa komputasi yang sama. Termasuk juga si Android.

Sistem operasi turunan Unix, biasanya bersifat open-source. Kodenya terbuka. Sesiapa saja bebas (=free) untuk memodifikasi dan mengembalikan hasilnya kepada komuntas. MacOS yang mengunci kode desktopnya (tampilan graphical user interface/GUI/tampak muka)nya pun masih membuka kernel, inti utama, sistem operasinya.

Linux dibangun oleh komunitas. Secara prinsip bisa dibilang mereka bukan tim profesional. Sementara Windows dikerjakan oleh tim profesional murni, sebagaimana Mac.

Kalo toh orang Linux nyari duit, mereka biasnya cuman karena menjual tenaga dan pikiran/waktunya. Menjual layanan, perawatan, solusi, dan berbagai tindakan lain yang juga dilakukan sama persisi untuk sistem operasi lainnya. Bedanya, Linux-nya itu sendiri tidak dijual.

Linux Milestone

Di luar negeri, negara-negara maju yang logis cara berpikir mereka, banyak pemerintahan di sana yang beralih menggunakan Linux untuk sistem komputasi pemerintahannya. Dan ini sudah berlangsung sejak lama. Sekali lagi alasannya logis: keamanan, daya tahan sistem, stabilitas sistem.

KALO sampe Windows lebih keren dibanding Linux, itu wajar. Wong yang ngerjakan tim profesional Tapi kalo sampe Windows kalah keren: performa, kinerja, stabilitas, skalabilitas, dll.nya dibanding Linux, enggg……gak jadi deh 😀

Lagian, sekeren-kerenya tampang Windows, banyak yang mengatakan bahwa tetep aja Windows ndhak pernah lebih keren tampangnya dibanding Mac. Tidak pernah!

– Lho, di Linux kan gk bisa diinstali ini ini ini? (Semua yg disebutkan aplikasi bajakan yg harga ribuan dollar)

Bukan ndhak bisa, pembuatnya aja yg ndhak mau bikin versi Linux.

Jika Anda hanya menggunakan kompie untuk aplikasi officing dan tasking sederhana sehari-hari plus internetan, saya tidak mengkampanyekan, hanya mengatakan bahwa menggunakan Linux akan membuat Anda aman dan selamat dalam bekerja. Karena Linux stabil dan sejauh ini relatif bebas virus. Mudah-mudahan demikian.

– Kampanye niy?

Santai, Linux bukan perusahaan. Sesiapa yang ber’kampanye’ seperti saya, sesungguhnya murni untuk kemaslahatan umat belaka dan tidak mengandung unsur komersial. Gampangnya kata: siapa siy yg mbayar orang yg mengkampanyekan Linux?

Rasanya gk ada. Kita semua hanya merasa mendapatkan manfaat dan kebaikan, dan sekedar ingin berbagi atas apa yang kita dapatkan. Itu aja siy 😀

Dan, jika kita berkoar-koar meneriakkan negara yang terbebani macam-macam beban/hutang sehingga harus berhemat, dengan menggunakan Linux sesungguhnya kita telah membantu negara berhemat. Sebab tidak akan pernah ada devisa negara yang keluar untuk pembelian lisensi penggunaan Linux.

Berbeda dengan Windows yang kita perlu membayar (lisensi)nya untuk digunakan.

Bayangkan jika sebiji Windows seharga 100 dollar, kali sekian juta komputer di negeri ini, berapa banyak kita menghamburkan duit untuk hal yang semestinya kita bisa menggantinya dengan Linux?

Fenomena rakyat yang latah menggunakan Windows ini, mungkin mirip dengan rakyat yang membuang sampah seenaknya ke sungai. Sama-sama mengotori (kondisi) dan membebani negara.

Mungkin demikian. Mohon maaf jika ada kurang-lebihnya dan salah kata.

Freema HW,
– Pengguna Linux, dan
– Pengguna Windows haram/hasil maling/curian.

*Lanjut dimari https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/01/13/aplikasi/*