Gadis China

Enggg… gini, pas kondisi siap nikah dulu, saya pingin banget nikah ama gadis China yang manis. Yaaa, kasarnya ngomong, buat “memperbaiki keturunan”. Maklum, saya kan item manis. Hahahaha…

Dan biasa, keluarga, relasi, kolega beragam pendapatnya.

Ada yang menentang karena alasan untuk mempertahankan agama sehingga jangan sampai menikah dengan non-muslim (lho, padahal etnis Cina kan ada yang muslim juga to?) sehingga biar anakku kelak pasti jadi muslim juga; ada yang melarang karena khawatir terjadi cultural-gap & lag pemikiran/pola pandang, dll. Termasuk dengan alasan stigma kaum etnis China yang eksklusif, belom bisa bercampur secara cair dengan warga asli pribumi, dll.

Bener-bener alasan yang emosional. Ada-ada aja…

Ada pula yang mendukung dengan alasan agama tidak melarang koq menikah dengan gadis non-muslim, apalagi ‘sekedar’ beda etnis. Sekaligus ini keren agar terjadi perbauran kultural, dan ini bagus untuk kerukunan, dll. Toh semua manusia sama. Kaum etnis China belom tentu lebih baik atau lebih buruk ketimbang kita-kita (kaum pribumi). Semua kembali pada masig-masing manusianya. Dan segala alasan lain yang sungguh masuk akal dan bener-bener indah untuk kehidupan ini.

Dan seiring perjalanan waktu, yakh, “ternyata” yang saya dapet gadis Jawa juga. Cuman untungnya dia kulitnya putih, dan matanya sipit juga untuk ukuran gadis Jawa, jadi miriplah dengan gadis Cina. *menghibur diri mode-on* 😀

Apakah saya menyesal dengan ‘pilihan’ku ini? Sama sekali tidak.

Sebab saya meyakini, apa yang jadi jodohku ini adalah takdir dan sudah diatur Gusti Allah. Gusti Allah pasti punya alasan tersendiri kenapa saya dipasangkan dengan istriku sekarang, yang harus saya jaga dia sepanjang masa saya sanggup menjaga dan menemaninya. Sebagaimana dia juga berniat dan melakukan hal yang sama kepada saya.

Apakah kemudian ini artinya lebih baik ketimbang umpama saya menikah dengan gadis China?

Saya yakin sama sekali tidak. Karena bagiku semua manusia tetep sama di hadapan Tuhan. Polah kelakuan kita semasa hidup inilah yang jadi pembedanya, dan satu-satunya penilai yang berhak memberikan penilaian hanya Tuhan YME, tak seorang manusiapun berhak.

Mau dia gadis China, gadis item manis Papua, gadis Jawa, gadis Melayu, gadis Minang, gadis Sunda, gadis Minahasa, gadis Bali atau Nusa Tenggara, semua sama manisnya di mataku dalam beragam warna kulit, bentuk mata, atau jenis rambut masing-masing.

Mereka semua manis sejauh makan makanan sehat dan tidak menumpuk bahan kimia di kulit dan dagingnya. Mereka semua cantik sejauh bersih hatinya: ndhak suka bergunjing, suka membaca, tabayyun (cover both-side story), tidak menyakiti binatang, dan menjaga kelestarian lingkungan.

Dengan kata lain, tak ada bedanya saya menikah dengan siapapun, sejauh ini memang jodohku, which means: (pernikahan ini adalah) tugasku dari-Nya untuk kujalani dengan segala kesepenuhan, keikhlasan, kemantaban hati plus rasa syukur yang semoga tiada pernah putus dan henti.

Istriku bukan wanita paling sempurna di dunia ini. Dia bukan wanita yang lebih dibanding wanita lain atau kurang dibanding wanita lain. Semua wanita dan manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hanya yang pasti, tentu dia adalah wanita paling pas dan paling cocok untukku, dalam penilaian dan penentuan Tuhan, bukan penilaian dan penentuan manusia.

Dan saya yakin inilah yang pasti juga Anda rasakan saat memandang istri Anda masing-masing.

KINI yang saya yakini, saya masih harus melanjutkan tugas menjaga kerukunan, menjaga perbauran, menjaga kebersamaan, dan menjaga kesetraaan kemanusiaan antar manusia apapun agama – suku- bahasa – budaya – latar belakang – dll.nya. setiap saat setiap waktu, tanpa harus dengan menikahi gadis China.

Dan yang jelas kelak ketika si kecil dewasa kemudian mengenalkan seorang gadis manis kepada kami orang tuanya ini untuk minta ijin dia sunting, kami Insha Allah akan merestuinya; apapun latar belakangnya, sejauh dia bertakwa – tunduk, patuh, dan taat kepada Tuhan yang esa, entah dengan cara atau bahasa apa.

Dan sejauh mereka saling mencintai, dan sejauh meyakini bahwa pernikahan itu adalah tugas yang diperintahkan oleh Tuhan kepada kita: bersatu dengan pasangan kita untuk mengingat kebesaran-Nya.

Pernikahan adalah hal yang sama, apapun bentuk dan kondisinya. Menjalani pernikahan itulah yang beragam kondisinya.

Ada yang berjuang dalam kemiskinan, menahan segala ketidakpunyaan, sebab dengan itulah iman dan takwa pasangan itu diuji.

Ada pula pasangan yang dilimpahi dengan harta. Sebab dengan harta itulah, sesungguhnya sepasang pasangan/suami-istri lebih diuji lagi.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s