Sampah, (Aliran) Agama

Saya bodo amat dengan sistem kenegaraan. Bagi saya, apapun yg penting: gotong royong. Dan alhamdulillah negara ini sebenarnya adalah manifestasi prinsip gotong royong.

Termasuk, saya bodo amat tentang agama-agama dan aliran-aliran dalam agama. Mau islam kristen hindu budha; mau sunni syiah; mau NU Muhammadiyah; mau quranis mau hadistis, bahkan mau beragama maupun enggak, … terserah.

Yang penting enggak mbuang sampah sembarangan, yang prinsipnya (enggak buang sampah sembarangan) itu sampe meresap ke dalam hati.

Sebab kalo orang sudah takut untuk berbuat kerusakan: dengan tidak mbuang sampah dan “sampah” sembarangan, mustinya hati ini akan ketakutan untuk merusak diri kita sendiri, merusak orang lain, merusak alam dan lingkungan, merusak tatanan kehidupan, merusak alam raya ini.

Mau apapun agama atau alirannya.

Wallahualam bisawab.

– FHW

Advertisements

Ikhlas

Si kecil kami, Aleef Rahman, udah mainan Blender 3D sejak kelas 3 SD, tepatnya MIN (madrasah ibtidaiyah negeri). Dia dulu sekolah di MIN Doko (MIN 2), Kediri

Kami ajari sepintas dasar-dasarnya, kemudian dia menyimak klip tutorial, yang entahlah koq begitu mudah diserap oleh anak usia 9 tahun/kelas 3 SD gitu; dan selanjutnya udah bikin macam-macam sendiri.

Masih sangat jauh dari sempurna, bahkan hingga hari ini. Obyek yang dia bikin masih sangat kurang detailnya. Poly-nya pun sedikit juga. Dan rendernya low-medium aja.

Karena masih terbatasnya waktu yang dia pakai, karena dia harus tetep belajar dan harus tetep main-main sama temen-temen kecilnya; sehingga pastinya tak cukup waktu untuk bikin obyek dengan detail tinggi dan poly yang buanyak.

Plus komputer kami emang apa adanya. Teramat apa adanya. Udah bisa running Blender dan bisa render aja udah bagus. Keseringan, dia perlu semaleman buat render. Sambil ditinggal tidur, dan pagi harinya baru dia cek hasilnya.

*

Kemudian kami bikinkan channel/kanal/saluran Youtube khusus untuknya. Hasil karyanya tak lagi kami muat berceceran di kanal Youtube atau akun Fesbuk kami.

Isi kanalnya masih teramat sedikit. Nanti pelan-pelan apa yang udah kami unggah di Fesbuk akan kami unduh dan kami unggah ulang ke kanal Youtubenya. Tapi mohon maaf sebelumnya, videonya acak-acakan. Ya nyutingnya, ya editingnya (lebih tepatnya tanpa editing sih). Karena orientasi kami hanya dokumentasi. Bukan eksistensi, apalagi promosi dan komersialisasi.

Dan kini si kecil kami udah besar. Physically, dia lebih besar/lebih tinggi dari kami, orang tuanya ini. Plus bertambah lebih besar juga daya pandangnya.

Kini dia sudah bisa bikin klip youtubenya sendiri, 100% dia kerjakan sendiri.

Bikin story-board sendiri, meski cuman sebaris kata, katakanlah demikian.

Bikin penyutradaraan sendiri, gimana dia musti nampilkan sudut pandang/arah kamera pengambilan gambar animasinya.

Bikin editing sendiri (mestinya ngetiknya: ngedit sendiri. Sudahlah. Hehehehehe….) Dia bikin scene pembuka, nyuplik video pengantar, dan nampilkan karya animasinya.

Bikin deskripsi sendiri di itu klipnya: bahwa dia pakai program animasi Blender 3D, program editing video Openshot, dan kesemuanya running di Ubuntu Linux, sistem operasi yang dia kenal sejak kecil setelah kami memutuskan purna dari MacOS saat dia belom bisa start dan shutdown komputer sendiri dulu.

Plus unggah semuanya di kanal Youtubenya.

Sebagaimana tampak di klip di atas itu.

*

Kini dia mulai seneng saat klipnya ada yg nge-like. Dia kini mulai memantau, berapa views klipnya.

Kini dia mulai memiliki harapan. Kini dia sudah mulai mengenal angka-angka.

Kini tugas kami bertambah lagi.

Kami harus terus memupuk harapannya: bikin klip animasi yg lebih bagus, yang disukai temen-temennya, namun tetap sesuai dengan isi hatinya sendiri.

Sekaligus kami harus membentenginya dengan keikhlasan: jangan hirau dan galau dengan kuantitas views atau subscriber, jangan hirau dan galau dengan angka-angka.

*

Di dunia yang semakin angkawi ini, serasanya semua ukuran/perameter apa-apa kini musti angkawi: kesuksesan, kegagalan, progres, regres, dll. Parameter kualitatif pun kadang dipaksa musti bisa diangkawikan juga: derma, sedekah, dll.

Ini beratnya kami membentengi dia, sebagaimana kami tetap berat membentengi diri sendiri:

hidup ini harus seperti menanam tanaman di sawah/ladang.

Kita harus tekun memilih dan memilah bibitnya. Kita harus telaten menanam biji/benihnya. Kita harus sungguh-sungguh merawat tanamannya: menyiangi rumputnya, mengusir ulat-ulatnya, … pokoknya memperlakukan tanaman itu seperti anak kita sendiri;

tapi kita dilarang, jangan sampai, kalkulasi/itungan-itungan di depan: berapa kita telah investasi dan berapa nanti pendapatan panennya.

Sebagaimana semua diajarkan oleh pakpuh kami yang dipercaya oleh keluarga untuk ngopeni sawah keluarga di Blitar Selatan sana.

Semuanya harus ikhlas.

Sementara dunia di luar sana, terus dan semakin kencang bergerak dengan angka: diskonan, gratisan pembelian, proyeksi profit, tingkat laba, return of investment, dll dll dll.

Kami harus kuat terjepit di sudut larinya dunia ini: kerjakan semua dengan sungguh-sungguh sesungguh-sungguhnya, tapi musti ikhlas untuk tidak pernah berharap dengan hasilnya nanti, tidak berharap dengan angka-angka.

Sementara kami sendiri harus bertarung melawan angka-angka: token listrik harus rutin diisi, bensin motor harus kembali diisi lagi, buku si kecil juga waktu beli lagi.

Dunia emang berat.

Berat, karena kita harus memenangkan diri sendiri, tanpa harus mengalahkan satupun siapapun pihak lain. Sementara sudah jamak di era sekarang, kemenangan kita adalah hasil mengalahkan orang/pihak lawan.

Berat, karena kami memilih untuk sekuat mungkin menghindari kejamakan era sekarang itu, menghindari memilih parameter angkawi dalam hidup ini. Dan entahlah kami mampu atau tidak dengan ini semua. Kalo toh mampu pun, seberapa mampu kami bertahan, kami sendiri juga tak tahu.

Yang penting dijalani aja (dulu), dilakoni kanthi laku.

INI tentang mblajari si kecil, dan diri kami sendiri, tentang ikhlas. Saat dia sudah mulai “mengenal angka” dan saat kami harus bertarung dengan angka-angka.

Semoga kami masih terus kuat menggali dan menggapai ridho-Nya senantiasa. Allahuma aamiin.

– Freema & Deasy,
Bapakne & Ibune Aleef Rahman.

Zonasi

Sepintas dari pengamatan kami yg sangat sepintas, berhubung tahun ini si kecil (udah) masuk ke SLTP,

dari pergelutan dan pergulatan ibune si kecil melawan tenggat, berjibaku melawan waktu, pontang-panting ngurusi sekolah anaknya (aku mung dapuk supir, ora ngerti blas apa sing diurus emake thole 😂),

sistem zonasi ini kami rasakan membawa pengaruh yg teramat sangat positif di kota kecil Kediri sini.

Dulu, semua pada berebut masuk SMPN 1 Kediri Kota.

Anak-anak pinter dari pucuk gunung dan luar kota pada berebut bermodal NEM dan kepercayaan tinggi, masuk ke SMPN 1 Kediri Kota. Saia termauk alumnus sana.

Alhasil, sekolah ini sukses bertahun-tahun jadi menara gading yang tak retak.

Segala kejuaraan mereka sabet pialanya. Lomba apapun. Nyaris tak tersisa buat lainnya. Bisa dibilang demikian.

Mulai lomba bidang studi, olah raga, hingga Pramuka dan gerak jalan agustusan.

Kalo bukan SMPN 1 Kediri Kota, maka itu artinya adalah sekolah dengan kasta lebih rendah, di bawahnya.

Kini, dengan sistem zonasi, mendadak semua malik grembyang, berubah 180 derajat, seperti terbaliknya telapak tangan.

Orang tua gk peduli lagi dengan SMP 1 itu.

Semua berlomba mendaftarkan anaknya ke sekolah terdekat.

Dan denger-denger, alhasil sekolah di lereng gunung Kelud sana konon rataan NEM atau NEM tertingginya -entahlah- setanding dengan sekolah di pusat kota. Kami belom pegang data faktualnya untuk ini. Tapi sepintas dari pengamatan siswa yg diterima di sekolah-sekolah terdekat kemarin itu, bisa kami tarik kesimpulan kasar, emang kini kondisi siswa tampaknya lebih merata. Kalo toh belom merata, setidaknya tak lagi terfokus ke satu titik. ~> #future research#

Tampaknya kini orang tua memang lebih mengejar pendidikan untuk anaknya, bukan lagi mengejar sekolah.

***

Beberapa suara sumbang tetep masih saja kami dengar. Alasan yg terungkap antara lain: khawatir sekolah pinggiran kualitas pendidikan dan sarana-prasarananya berbeda dengan di kota, khawatir kualitas gurunya berbeda, dan sebagainya.

Tampak faktual, tapi lebih ke subyektif-diskriminatif rasanya.

Tebakan kami, mungkin mereka kecewa, karena sekolah kota yg jadi tujuannya, tak lagi menjadi sekolah menara gading dan jadinya sama saja dengan sekolah-sekolah lain. Mungkin.

Dan persoalan kualitas guru atau sarana-prasarana, yg okelah taruh kata masih berbeda, mungkin seiring perjalanan waktu bisa akan semakin seimbang.

Mengingat kualitas kemampuan/kompetensi siswa kini bisa dibilang merata dan tersebar.

Who knows aja.

Ini sedikit pengalaman kecil kami.

***

Belakangan kemudian, si kecil milih masuk MTsN ketimbang SMP, yg emang gk ada zonasi & regulasinya ikut kemenag, bukan kemendikbud. Tapi tetep lumayan jadi rebutan juga – nyaris semua MTsN di sini, apalagi yg favorit.

– Freema Bapakne Rahman

Inilah Politik, Inilah Bisnis, Inilah Indonesia

– Apa mustinya yg kita perbuat pada orang yg gk tau sementara kita mengetahuinya? Ya kita kasih tau.

Tapi di bisnis/perdagangan/jual-beli kadang lain. Kustomer yg gk punya pengetahuan tentang produk adalah makanan empuk buat kita porotin duitnya. Kita bisa jual produk jelek dengan harga tinggi. Karena pembeli kita gk tau.

– Apa yg seharusnya kita jalankan pada orang yg sedang silap/khilaf sementara kita tau benernya musti gimana? Ya kita arahkan gimana yg benernya.

Tapi di politik lain. Lawan politik yg sedang silap/khilaf adalah makanan empuk untuk kita jatuhkan.

– Apa yg semestinya kita perbuat ketika menghadapi sesuatu yg tampak aneh, tak semestinya, dan tak biasa di mata kita? Tabayyun, mencari klarifikasi dan konfirmasi kepada yang bersangkutan, itu sebenarnya apa atau ada apa di balik itu.

Tapi kebanyakan masyarakat Indonesia itu lain. Itu adalah bahan hujatan yg empuk dan sangat memuaskan batin kita.

Kami mengalaminya banyak kali hal-hal demikian semua itu tadi.

***

Yg pertama adalah saat saya iseng “menantang” temen sedan dari merk Jepang, berpenggerak roda depan (FWD), dan ber-cc sedengan namun bertransmisi manual untuk drag dengan mobil yg saya kendarai: BMW 3000cc V8 tapi otomatis. Dan jarak dragnya cuman 50 meter!

Drag terpendek di muka bumi ini normalnya 201 meter, itu pun sebenarnya jarak maksa. Setidaknya musti dua kali lipatnya biar pertandingan bisa berlangsung normal.

Temen yg saya ajak sempat terdiam. Ini pertarungan yg sama sekali gk adil dan gk patut lagi layak dijalankan. Namun demi kesenangan belaka dan “bodo amat” sama sekali. pertarungan tetep kami jalankan.

Temen yg bersedan manual udah siap-siap launch-control. Kaki kanan menginjak gas dalam-dalam, kaki kiri menginjak kopling. Begitu aba-aba start dimulai, dia tinggal lepas kopling dan mobilnya lansung melesat bak anak panah dilepaskan dari busurnya.

Sementara pada saat yg bersamaan, kaki kiri saya ada di foot-rest, kaki kanan masih menginjak pedal rem agar mobil yg masuk D -dengan mode S (sport)- gk ngeloyor. Begitu aba-aba start dimulai, saya baru saja melepas kaki kanan dari pedal rem, memindahkan ke pedal gas berikut menginjaknya dalam-dalam. Transmiis otomatik yg dari lahirnya udah hilang 20% tenaga saat start dibanding manual ini hanya bisa mengeram perlahan.

Alhasil, penonton dari kubu lawan saya bersorak-sorai tiada tara. Sebuah mobil Jepang ber-cc sedengan sanggup meninggalkan jauh sebuah BMW bermesin 3000cc V8 di drag 50 meter itu.

Dan dari kubu saya, saya dihujat habis-habisan, karena dianggap melakukan tindakan konyol yg sudah pasti saya akan kalah telak.

Tanpa pernah ada orang yg tau, bahwa lawan tanding saya begitu sungkannya mengungkapkan perasaan, karena dia menangnya “garing”, “tanpa perjuangan”, dan seperti kemenangan karena WO (walk-out). Dan saat saya ajak nyoba ganti mode: balapan beberapa kilometer, dia angkat kedua tangannya.

Namun karena nawaitu kami berdua adalah iseng seiseng-isengnya, kami berdua tetep ketawa-ketiwi.

Hanya kami berdua dan Tuhan yg tau kondisi ini.

Masyarakat di luar sana, bertahan dengan persepsinya masing-masing, dan pasti jauh lebih nikmat bertahan dengan persepsi masing-masing ketimbang perlu mencari tau fakta yg ada.

***

Lainnya itu, kami mengunggah video si kecil di Youtube. Si kecil yg kala itu berumur lima tahun melafalkan doa khatam Quran dg pronunciation yg amburadul. Morat-marit menurut tata bahasa Arab. Ya, itulah si kecil kami yg terlambat bicara. Namun kami bangga dia berani berlagu melafalkan doa suci itu.

Tapi apa komentar netijen? Sebuah komentar sewot mendarat di klip tersebut: banyak salah (pengucapan/pelafalannya), (klip/channel) kayak gini ngapain di-subscribe?

Namun alhamdulillah, tiga jempol naik ke atas, dua jempol turun ke bawah.

Yg tiga jempolnaik ke atas, kami cutiga itu adalah famili kami sendiri yg paham bener keadaan si kecil yg punya kebutuhan ekstra, bukan khusus. Yg dua jempol ke bawah, mungkin tipikal masyarakat judgementalis yg langsung menilai segala sesuatu dari hanya apa yg tampak, ter-frame, dan sekilas belaka.

Dan memang kenyataannya klip kami tersebut memang sekilas, sepotong, sepenggal dari keseluruhan. Meski sepenuhnya bukan klip framing.

Bayangkan jika Anda jadi orang tua dengan anak yg “lain” seperti itu, dengan maksud dan tujuan tertentu; alih-alih mendapatkan apresiasi, yg muncul malah hujatan.

Bagaimana perasaan Anda?

Kalo kami sih sudah kebal lahir batin.

Bodo amat sama masyarakat. Ada Tuhan di atas sana yg Maha Tahu segalanya.

***

Dan masih banyak contoh kejadian senada yg kami alami dalam hidup ini. Yg itninya sedemikian itu.

Anda juga pernah mengalaminya? Sering?

Jangan marah dan jangan kecewa. Mungkin kami, kita, juga sering/pernah melakukan hal demikian kepada orang lain, dengan atau tanpa kita sadari. Dan mungkin tabiat demikian ini sedang kita muntabkan menjelang/di musim pilihan presiden demikian. Di mana kita mengharamkan tabayyun, klarifikasi, dan konfirmasi dalam hidup kita. Karena kemenangan persepsi kita adalah tuhan kita secara de-facto, meski secara de-yure kita ngomongnya mengakui Tuhan Illahi.

Ini adalah saat mana hidup dalam persepsi subyektif kita sendiri “harus” kita fatwakan sebagai kebenaran dan obyektivitas.

Mungkin itulah kenapa tampaknya di muka bumi ini persepsi menjadi komoditas yg (perlu) selalu dikelola, dibentuk, dibangun, selalu diciptakan dan dimunculkan, serta selalu dijaga. Sementara kenyataan (obyektif), adalah sesuatu yg tidak perlu kita hiraukan.

INILAH Indonesia. Mending jangan pernah hidup dengan goal alias tujuan hidup obyektif yg kita rancang sendiri. Mending hiduplah kita dalam garis judgemental – garis penilaian masyarakat luas.

Sebab di sini kebenaran bukian ditentukan dengan obyektivitas, dari fakta yg ada, dan kenyataan yg sesungguhnya melainkan dari persepsi yg dominan beredar di masyarakat.

Jika Anda ngoceh tentang teknolgi 10 atau 50 taon ke depan, atau ngoceh tentang idealisme ekonomi yg bersandar pada sumber daya (resources) bukan pada kapital-nomimal, jika Anda mengagungkan agama yg hakiki-maknawi-implementatif bukan agama yg ritualistis kosong sarat dengan ajang pelarian; Anda akan menjadi manusia alien, manusia asing, yg gk layak hidup dalam realita Indonesia. Apa yg Anda ocehkan hanyalah akan menjadi khayalan alih-alih itu visi.

Jika Anda membayangkan bisa berprestasi dengan sesuatu yg tak jamak di Indonesia, mending bermimpilah untuk bisa hidup di negara maju yg mengakomodasi khayalan alias imajinasi tinggi Anda yg kelewat batas.

Di sini, Anda wajib hidup dengan realita hari ini, berotak datar yg nirvisi, dan ilegal untuk membahas dan membicarakan masa depan.

Di muka bumi sekarang ini, kebaikan adalah tentang apa yg diterima banyak orang, bukan apa yg sesungguhnya bermanfaat bagi banyak orang.

Mungkin demikian. Mungkin.

Jika Anda gk sepakat, mending tetep diamlah; jangan bersuara dan menyuarakannya kepada Indonesia.

Karena nasib kita bukan bergantung pada gotong-royong kehidupan yg semakin tergerus termakan jaman. Nasib kita tergantung tangan individual kita sendiri-sendiri.

Hidup kita bukan lagi ditentukan oleh hidupnya orang-orang lain. Hidup kita, tergantung matinya orang lain.

Mungkin demikian. Mungkin.

– Freema Bapakne Rahman
Kalo tentang bensin saya kering, itu fakta, bukan persepsi. Anda gk perlu berperepsi tentang hal ini.

Perisakan

https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4199435/sekolah-akui-kecolongan-bocah-bandung-dibully-sejak-kelas-4-sd


Si kecil kami badannya gedhe, tapi berpikirnya lurus. Dia susah menangkap guyon-guyon pasaran kebanyakan temen-temen sebayanya. Bagi dia, “lucu” itu kalo ada pesawat yg salah konsturksi, kereta yg salah desain, dan sejenisnya. Biasanya, hal demikian ada di Natgeo atau kanal Youtube. Intinya, hal yg sama sekali gk umumlah untuk kebanyakan (baca: nyaris semua) anak-anak seusianya.

Karena pola pikirnya yg gk selaras sama komunitasnya, jadinya si kecil malah sering dirisak (bullyed) sama temen-temennya. Baik dirisak dengan kata-kata – ini yg paling sering, maupun tindakan.

Pas kami suruh dia mbales/pukul aja temennya yg suka merisak, dia bilang: “Jangan, nanti aku gk disayang Allah…”

***

Dulu pernah, mungkin karena gk kuat menahan hati karena dirisak temen-temennya, akhirnya meledaklah emosinya. Temennya dilempar pake botol air mineral hingga hidungnya mengucurkan darah.

Kami berdua orang tuanya si kecil ini dipanggil ke sekolah. Dinasihati sama pihak sekolah agar si kecil lebih kami perhatikan.

Ya kami jawab aja dengan enteng ke bu gurunya: “Bu, anak saya yg menjadi pelaku atau korban perisakan sehingga bereaksi seperti itu?

Masih “untung” si kecil kami cuman melempar botol ke temennya, bukan tidak mungkin lho korban perisakan gini meledak dan membunuh temennya….”

Pihak sekolah terdiam.

Kayaknya perkara perisakan gini, juga fenomena masih massifnya rakyat yg buang sampah sembarangan, belom menjadi perkara yg serius untuk ditangani di negeri ini,

Dan pihak sekolah belom mau kalah.

Kata bu gurunya: “Pas kami tanya ke para santri (sekolahnya thole kala itu di madrasah ibtidaiyah, sekarang dia udah masuk MTs) siapa yg pagi tadi gk sholat (baca: sembahyang) Subuh, putra njenengan yg tunjuk jari. Katanya karena bapaknya juga bangun (ke)siang(an) jadi gk subuhan.”

Ya kami jawab dengan santai: “Alamdulillah kalo gitu bu, putra kami jujur. Itu temen-temennya yg gk ngacung, dijaminkah kalau mereka semua subuhan? Jadi sebenarnya siapa yg ‘sholat’ di sini: si kecil kami yg jujur bilang gk subuhan atau anak-anak yg mungkin diem gk ngaku kalo gk subuhan?”

Well, soale sedikit banyak kami kenal dan tau modelannya temen-temennya si kecil yg kadang kala main ke rumah.

Pihak sekolah melongo lagi.

Kayaknya maksud baik mereka jadi ancur lebur karena aka model orang tua murid kayak kami.

Dan yg pasti, kami pun si kecil hingga detik ini tetaplah menjadi warga bumi yg teralienasi. Kami susah banget diterima di banyak komunitas, karena cara berpikir kami. Dan kami juga songong: males ngikuti pola pandang dan pola pikir publik yg kadang … well, kami susah untuk menggambarkannya. Sebab pasti kami akan menjadi pihak yg salah karena menggambarkan kultur dan budaya dominan mayoritas.

Nanti akan kami sambung lagi ke bagian lain, tentang teralienasinya si kecil kami.

– FHW HDW

Double-Deck

Dulu, ngumpulkan uang saku, buat beli kaset kosongan, trus bikin album kompilasi. Pake tape compo double-deck.

Tape compo double-deck, bukan bis Volvo double-decker yg udah sempat kami coba di kota besar Surabaya saat main ke bonbin; yg sekarang baru digandrungi ulang oleh abg-abg kagetan yg ngakunya maniak bis.

Rame-rame bawa koleksi kaset sama temen, atau pinjem temen anak orang kaya yg punya banyak koleksi kaset.

Trus diputer di tape-deck rumah, atau compo di kamar, atau walkman sambil bergaya jalan-jalan darma wisata sekolah. Laguku komplit: mulai Metallica, Europe, Firehouse, Def Leppard, hingga NKOTB.

Radio pun isinya Dewa19, masih pakai 19 bukan yg tanpa 19, dan yg jelas gk ada dangdut koplo.

Dunia isinya indah banget jaman segitu. Gk ada caci-maki di medsos.

Kala itu, jaman ribuan berbahagia karena dibelikan sepeda Federal sementara ribuan lainnya hanya sanggup memimpikannya belaka.

Jaman E34 atau E36 kita barusan nongol kinyis-kinyis baru lahir, mobil yg sama sekali belom saya kenal.

– Freema Bapakne Rahman

Nyetir Lagu, Mendengarkan Kendaraan

Bukannya pro atau kontra sama pak plokis isilop, tapi kalo saya pribadi emang juarang ndengerkan musik di perjalanan.

Bukannya gk pernah apalagi gk pernah sama sekali, pernah dan lumayan sering juga koq.

Cuman overall saya lebih suka tanpa musik, atau volume lirih/secukupnya aja muternya; dan enakan ndenger radio atau ngobrol sama istri.

Jadi, haram bin mubadzir nbih pasang audio kenceng-kenceng? Saya ndhak bilang gitu. Itu case-nya macam lampu HID yg warnanya buuuiiiruuu. Atau stop/tail-lamp yg harusnya merah dijadikan putih.

Boleh koq, kalau keperluannya kosmetikal-artistik, misalnya untuk kontes, karena itu -katakanlah- ada unsur keindahannya. Yaaa mobil dalam satu sisi tertentu kan juga merupakan benda seni, sebagai makanan psikologis. Atau apalah alasannya terserah. Ini sangat relatif sekali. Ndhak bisa di-gebyah uyah, di-judge dengan pukul rata.

Tapi kalo udah berbicara jalan raya, ya itu: aturan adalah di atas segalanya. Lamnpu depan buiru, stop/tail-lamp putih, ya hukumnya haram jadah. Membahayakan diri sendiri dan terutama orang lain. Bisa sampe nyawa urusannya. Kasarnya kata: gara-gara stop/tail lamp putih itu bisa jadi nyawa orang melayang. Bukankah ini sama artinya dengan pembunuhan (berencana yg dilakukan tanpa sengaja)?

Yakh intinya sih: driving is driving. An sich.

Kita musti bisa nyetir/mengendalikan lagu (agar tak mengganggu) dan mendengarkan, merasakan, get the feel dan keep in touch dengan kendaraan. Jangan samapi pas enak-enaknya ndengerkan musik kenceng di kabin, gk sadar kalo bumper lepas (ya embuh apa sebabnya, pokoknya contohnya gitu. 😛 Weeekkk! 😀 Hehehehehehe)

MUSIK, radio, ngobrol itu mengganggu? Tergantung kitanya sih.

Pas istri nanyak sesuatu dan saya lagi butuh konsentrasi, ya jawabannya saya pending dulu bentar koq. Usainya baru saya bilang ke istri, “Eh nanyak apa tadi?”

Trus saya di keplak mesra. Saking mesranya sampe pipi saya panas, berasa ngecap tangan gitu.

Istrimu mesra gitu juga ndhak sama kamu lik?

Regards,
– Freema Bapakne Rahman
Supir keluarga.

*********

Ini penjelasan psikolog tentang musik di mobil itu:

Tapi memang saat mendengarkan musik di mobil, musik bisa membuat perhatian Anda teralihkan saat menyetir, atau istilah kerennya distraksi.

Menurut psikolog Agatha N. Ardhiati, 88 persen pengendara selalu mendengarkan musik di dalam kendaraan, sementara sisanya kadang-kadang saja atau tidak mendengarkan musik.

“Faktor-faktor distraksi adalah apa yang kita lihat, dengar, cium/hirup, rasakan, pikirkan. Sebenarnya walaupun lewat indera pendengaran, tetapi lewat musik kita bisa memunculkan emosi, perasaan tertentu, dan itu yang membuat jadi distraksi saat nyetir,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Alasan kedua musik bisa jadi distraksi saat menyetir adalah kita bisa tiba-tiba jadi mengkhayal, memikirkan pengalaman masa lalu.

“Jadi bukan hanya musiknya saja, tetapi efeknya bisa memunculkan emosi/perasaan tertentu,” ujar Agatha.

Jadi bagaimana mendengarkan musik yang benar dalam mobil? Dia menyarankan pengguna kendaraan memilih lagu-lagu atau membuat playlist yang bisa menjaga emosi.

“Kalau lagi galau, jangan setel lagu-lagu galau, diganti ama yang senang. Pilih musik yang sesuai yang bisa berfungsi menjaga perasaan, kalau tadi senang tetep senang,” ujarnya.

Namun ada kalanya saat nyetir kita benar-benar harus mematikan musik, misalnya saat parkir kendaraan.

“Matiin saja musiknya, jangan sampai tukang parkirnya sudah bilang setop-setop eh malah ‘dug!’ udah deh,” ujarnya.

Saat melalui jalan tikus yang sempit, kadang kita perlu mematikan musik, karena saat itu butuh konsentrasi yang tinggi.

“Tetapi kalau kalau situasi normal, biar moodnya bagus menyalakan musik sih oke-oke saja,” pungkasnya.

Lengkapnya silakan menuju dimari https://oto.detik.com/berita/d-3894221/heboh-larangan-dengarkan-musik-di-mobil-ini-penjelasan-polisi