Jauh Herbal Dari Hembing

Ibunda saya perawat, tapi saya & ibunda sendiri sebenarnya sangat tidak suka akrab dengan obat.

Kalo sakit ringan (demam, pilek, pening, dll.) sama ibu malah suka disuruh minum “konsentrat” buah, makan banyak, air putih banyak, trus tidur. Atau metode “penanganan” lain yg sesuai dg diagnosis ibu.

Di rumah ibunda saya juga rutin bikin rebusan ramuan herbal, biasanya rempah-rempah (empon-empon) dan beberapa akar atau kulit dan daun tanaman. Terkadang beli, seringnya metik/ngambil dari hasil pekarangan sendiri.

Kami jga akrab dengan nama-nama besar pabrik jamu: Jago, Sido Muncul, dll. Atau pabrik jamu + bahan perawatan badan: Mustika Ratu & Sariayu.

Kalo tulang keseleo atau otot melintir, kami juga punya langganan “pakar” pijat tradisional yang bertahun-tahun menjadi solusi kami untuk menangani case ini, sedikitpun tanpa ada campur tangan metode medis/farmasi modern!

Dan saya juga takut banget disuntik.

Tapi bukan berarti kami anti medis/dokter/farmasi. Saat alm, bapanda saya stroke dulu, selain pengobatan medis kedokteran, beliau juga diupayakan dengan metode akupuntur.

(Kami sudah berusaha sekuat tenaga, namun Allah lebih sayang beliau dan memanggilnya pulang. Meski kami semua ikhlas sepenuhnya, namun tetap saja kepergiannya terasa cepat bagi kami.)

Di kotak obat di rumah juga tersedia mulai parasetamol dan beberapa obat medis lainnya.

Semuanya berpadu dalam dunia kami.

***

Intinya, medis maupun herbal, dalam sudut pandang kami tebagi menjadi dua kategori: pencegahan dan pengobatan. Kebanyakan ramuan herbal kalo kami nilai buat pencegahan, sementara medis buat pengobatan.

Pencegahan adalah sesuatu yg strategis, gradual, dan panjang, pengobatan adalah tindakan taktis, cepat, dan (harus) pendek. Mustinya jangan dibalik.

Kami kurang tahu jikamana ada metode herbal untuk pengobatan yg sifatnya taktis, cepat, dan pendek.

Bacaan kami sekeluarga juga Professor Hembing. Wikipedianya obat-obatan tanaman/herbal.

Cuman, fenomena belakangan ini, memang banyak pengobatan herbal di mana-mana. Cuman kami ndhak tau, apakah mereka sekelas Professor Hembing atau jauh herbal dari Hembing.

Dan saya juga ndhak tau Jeng Ana ini yg kayak gimana. Apakah herbalnya emang top cuman omongan medisnya itu yg super duper ngawur kalo kata artikel, atau emang herbalnya cuman gaya hidup aja plus omongan medisnya sama sekali ndhak berdasar kompetensi keilmuan.

Mari kita selamatkan dunia herbal dari oportunis yang tak jelas. Mari kita menyelamatkan diri dari herbalis oportunis.

Ajakan ini khususon buat diri kami sendiri.

Dunia sekarang sepertinya emang semakin rancu, absurd, dan nisbi. Kita harus punya prinsip dan pegangan yang jelas.

Wallahualambisawab.

– Freema HW,
“H”-nya bukan herbal.

Berbeda Itu Haram(?)

Ada satu tokoh publik. Posting statuta-nya saya komeni berseberangan. Eh saya diblokir.

Postingnya sempat saya screenshoot untungnya, tapi saya save pribadi aja, tidak untuk publikasi terbuka.

Well…

Terutama sejak pilpres 2014 kemarin, saya memilih tidak berkubu. Saya mencoba memposisikan diri memandang segala sesuatu secara seobyektif dan senetral mungkin.

Alhasil, isi pikir saya bisa menghujat sekaligus membela satu hal atau hal yg lain, satu pihak atau pihak yg lain, satu kubu atau kubu yg lain.

Saya hanya meyakini, tak ada kebenaran atau kesalahan mutlak di (makhluk yg ada di) dunia ini.

Pilihan sikap pribadi saya adalah membela negara dan bangsa ini sekuat tenaga sebisa mungkin sesuai kapasitas dan kemampuan saya.

Membela negara (dan pemerintahan), tak berarti pasti membela (pihak) pemerintahnya.

Namun sayang,

di lapangan ada pihak yg “memaksa” bahwa kita harus berpijak hanya di salah satu dari dua kondisi saja: harus terus membela (pihak) pemerintah atau harus terus anti (pihak) pemerintah.

Kalo saya uraikan secara asal, mencuplik lalu-lintas posting di dunia maya, ada empat golongan warga di negeri ini:

– Pro demo berjilid dan pro presiden. Saya ndhak tau golongan ini ada apa ndhak.

– Pro demo berjilid dan anti presiden. Golongan ini teramat jelas keberadaannya.

– Anti demo berjilid dan pro presiden. Golongan ini teramat jelas keberadaannya.

– Anti demo berjilid dan anti presiden. Golongan ini samar terlihat namun saya rasakan ada.

Dan mungkin, mungkin saja, saya masuk golongan yg terakhir itu tadi. Tapi bukan berarti saya menggolongkan ini. Mungkin saja, mungkin, sikap pribadi saya/kami senada, sedefinisi, serupa, mirip, atau seperti mereka. Mungkin.

APAPUN golongan yg ada, intinya bangsa ini telah sukses menguatkan potensi SARA: ber(antar)golongan.

So, adu otak & pemikiran yg mengedepankan kerukuran sepertinya tidak lagi diperlukan era sekarang ini.

Siapa berbeda, maka mereka adalah golongan lain. Siapa berbeda, maka mereka pasti salah dan kita yang benar. Kalo mereka benar dan bukan dari golongan kita, maka harus jadi salah. Dan siapa salah kalo itu dari golongan kita, maka harus dibenar(-benar)kan.

Golongan adalah segalanya. Golongan adalah tuhan.

Berbeda itu telah haram(?)

– Freema HW,
golong-golong.

Plagiasi Blogger Reproduksi: Yang Penting SEO, Persetan Etika

Ada anak remaja meng-copas posting orang lain, dia didakwa secara sosial melakukan plagiasi. Si remaja mengaku bersalah dan udah minta maaf, dan yg punya tulisan awal pun juga memposting uraian tak berkeberatan sama sekali.

Akhirnya kasus selesai.

Meski demikian, plagiasi tentu bukan hal yg legal, layak, etis, atau patut -apatah nama atau istilahnya- untuk dilanjutkan, diteruskan, apalagi dikembangkan dan dibiarkan begitu saja menjadi budaya.

Tetapi bukan sebuah plagiasi jika kita meramu beberapa ide dari beragam sumber dan memformulasikannya menjadi sebuah ide baru yg (lebih) genuine. Mungkin akan panjang kalo kita jlentrehkan detail dan jabaran konsepsinya. Tapi saya yakin kita semua bisa memahami, setidaknya memahfumi, konsepsi ini.

Cuman….

Saya jadi mikir…

Itu bloger-bloger yg kerjaannya demenannya ngereproduksi tulisan dari laman-laman warta berita yg mustinya bisa tinggal di-share gitu doang;

apa ndhak lebih parah dari plagiasi tho?

Pewarta di seberang sono jungkir balik nyari berita, editor kerja keras meramu tulisan, tim teknis produksi berpacu melawan waktu menyajikan isi dan tampilan paling cakep;

eh di sebelah sini blogger-blogger cuman copas, udah kalimat dikit, dan menjadikan laman asli tulisan seolah sebagai narasumber ketimbang pemilik asli postingan;

dengan sadar dan sengaja dan dilakukan berulang-ulang,

mungkin bukan plagiasi; tapi apa namanya kelakuan (menjijikkan) kayak gini?

KALO memang ndhak sempat untuk memproduksi berita & informasi sendiri, mbok jangan mereproduksi. Nulis opini dengan dialektika yg matang dan analisis yg dalam justru akan membuat Anda-Anda para blogger jadi disegani di dunia persilatan ketikan.

Tapi memang pasar tulisan tajam itu jauh dari hits dan adsense.

Tulisan gosip: baik agama, politik, sosial, teknologi, bahkan sampe masakan (saya ndhak enak mau bilang ghibah) yang kebanyakan micin… sori, bumbu tulisan mungkin akan jauh lebih laku diklik orang.

Dan biar keren, polanya klasik tapi permanen (busuknya): pengantar tiga paragraf, isi satu paragraf, penutup satu paragraf. Dah panjang banget itu postingan, kayak diketik sama profesional di bidangnya.

Yang penting SEO. Persetan etika. Iya ndhak?

– Freemlagiat HW

*Siapa pemilik foto di laman-laman posting blog saya ini, klik kanan dan lihat gambar aja. Di situ link/tautan aslinya koq!

Asal Kita Lahir

Saat kita semua masih kecil, inget ndhak ortu kita bilangnya kita lahir dari mana? Dari pantat? Dari pintu di perut? Atau dibuat dari adonan tepung?

Masih mending kalian semua yg dulu kecilnya diboongi kalo kalian itu lahir dari pantatlah, dari pintu di perutlah, atau dibuat dari adonan.

Nah ortu ane bilang, ane ini asalnya dari kali Brantas. Ditemu sama mereka berdua. Trus dipiara. Meong kali ya?

Sampe sekarang ane masih dendam sama ortu kalo ingat cerita ini. Pingin ane dudukkan mereka berdua terus ane semprot abis-abisan.

Tapi Bapak udah duluan berpulang kepada-Nya. Kini saya malah sibuk mendoakannya. Dan menjaga emak yg kini sayang banget sama cucu-cucunya.

Subhanallah wallahuakbar.

– Freema KB (Kali Brantas)

BMacW

Mobil Eropa, salah satunya BMW, dikenal punya konsistensi nuansa desain dari generasi ke generasi, meski sebenarnya garis-garis desain mereka berubah lumayan radikal.

Kidney-grill dan segenap elemen konsistensi lain telah menyatukan beragam perbedaan garis desain pada tiap-tiap generasi BMW. Padahal dimensi desain kidney-grill itu sendiri berubah-ubah lumayan radikal.

Pada komputer, Apple Macintosh juga punya konsistensi semacam ini. Desain menu bar yang konsisten di atas ndhak “pindah-able”, dan suara Mac Chime yang khas meski pitch-nya sedikit berbeda, mungkin dipengaruhi oleh perangkat kerasnya juga.

BTW, Apple = hardware, Macintosh = software. Biasa disebut sepaket karena memang secara baku hardware tersebut diisi oleh software tersebut atau bisa disebut sebaliknya sebaliknya, software tersebut mengisi hardware tersebut.

Saya pertama mengenal/menggunakan komputer era DOS pada masa SMP, awal 90an. SMA, mulai mengenal Windows 3.1. Kuliah mulai mengenal Windows 95 dan 98. Juga Linux, meski belom menggunakannya. Di Windows mulai saya jalankan StarOffice, aplikasi office alternatif kala itu tatkala nyaris se-Indonesia seolah hanya mengenal Microsoft Office.

StarOffice belakangan menjadi OpenOffice.org dan kemudian bertransformasi lagi menjadi LibreOffice; perangkat office baku pada beragam distro Linux.

Lainnya itu saya juga mulai mengenal Mac dari beberapa tempat yang saya kenal.

Akhir masa kuliah, 2001, saya mulai menggunakan Linux dan perlahan menomorduakan Windows. Selanjutnya 2003, saya pertama kali menggunakan Mac.

Kala itu berkali-kali sering ditanya orang, “Mas ini laptopnya pake Windows apa sih, koq cantik tampilannya?”

Mereka terkesima lihat docking yang menari-nari dan meloncat-loncat itu.

Selanjutnya lama saya dan sekeluarga perlahan mengenal dan menggunakan Mac. Prosesnya masih PPC kala itu. Total ada empat biji Mac pada kami sekeluarga. Si kecil pun sudah kemi kenalkan dengan Mac sejak dia masih playgroup/TK.

Mac begitu pas mantab buat kerja. Stabil, bebas virus, konsisten kinerjanya, akurat warnanya.

Windows, selalu terkenal dengan BSOD (blue screen of death) dan suara login yang berubah-ubah pada tiap versi. Tapi dia teramat sangat populer, karena bisa dipasangkan di perangkat keras kelas apa saja. Mulai mainboard seharga 50 dolar hingga 500 dolar bahkan lebih.

Plus bajakannya melimpah. Alhasil semua orang bisa kenal komputer berikut kecanduan (bajakan)nya.

***

Kemudian era Mac keluar dengan Intel, Mac PPC mulai terhenti pemutakhirannya. Mendakan Mac cuman jadi barang koleksi, ndhak bisa dipakai kerja.

Dan mendadak Mac menjadi barang seperti PC Windows biasa, namun yang kelas hi-end; bukan lagi “komputer yang berbeda”.

Mulailah kami berhenti menggunakan Mac.

Saat ini kami sekeluarga pake PC dengan Linux sebagai sistem-operasinya. Windows masih kami pasang, untuk penggunaan tertentu.

***

ENAM tahun setelah menggunakan Mac, saya baru punya BMW. Mobil Eropa pertama yang ada di keluarga.

Awalnya kagok melihat mobil Eropa yang “serba beda semua” gini. Beda cara nananginya, beda (harga dan) spesifikasi-dimensi parts standarnya, beda fotur dan perlakuannya.

Tapi setelah mengingat Mac yang telah sekian lama mengisi dan menghiasi hari-hari kami sekeluarga, rasanya semua “seperti udah biasa” aja.

***

SEKARANG rasanya mulai tipis batas performa dan kecantikan (desain hardware maupun software) antara Windows dan Mac. Windows 10 pada jenis-jenis komputer kelas atas: komputer 2in1 (bisa jadi laptop atau tablet; komputer workstation; dll. begitu kelihatan cantik dan luar biasa peningkatan performanya. Windows 10 (rasanya sejak Windows 8) serasa telah meninggalkan Windows era lama/sebelumnya. Meski masih penuh corak warna, namun Windows 10 udah meninggalkan warna latar yang warna-warni dan bikin pedih mata, malah bikin susah konsentrasi kerja. Ini kalo saya. Ndhak tau kalo Anda.

Mac yang masih konsisten dengan nuansa lamanya, sebenarnya juga mulai berubah lumayan. Mac mulai penuh warna meski tetap ndhak pernah bisa norak kayak Windows. Secara umumnya warna sistem operasinya tetaplah simpel. Karakter warna simpel ini justru sekarang banyak kita temukan di laman web. Yang paling kondang tentunya ya si google itu. Putih mulus sepi corak norak gitu.

Kalo Linux mah, suka-suka yang bikin (distro). Bisa simpel kayak Mac, bisa norak kayak Windows. Namanya aja open-source, bisa dioprek semaunya yang bisa ngoprek.

Linux itu kan “bukan perusahaan” kayak Mac atau Windows. Dia kan kayak paguyuban warga, kayak orang banyak lagi gotong royong, atau mirip-miripnya kayak koperasi lah modelnya.

Koperasi kan juga bisa punya pabrik atau tokok kayak perusahaan gedhe. Tapi ngerti kan bedanya apa antara koperasi vs perusahaan partikelir? Ya kayak gitulah kurang lebihnya. 😀

***

Dan, era internet & koneksi telah membawa mereka semua ke satu fokus: offline-less. “OS”-store telah menjadi kata kunci yang senada sejak era Blackberry, Linux, Android, iOS, dan kemudian Windows serta Mac.

Bahkan perangkat kerasnya pun mulai semakin tipis perbedaannya. Antara ponsel, tablet, dan komputer cuman dibedakan pada sedikit penggunaan khusus aja. Sebab udah lumrah ada komputer atau ponsel seukuran tablet.

MacBook yang judulnya masih laptop itu pun jeroannya juga jeroan henpun.

Dan… BMW pun juga semakin tipis bedanya dengan mobil lain. Apalagi di era mobil listrik yang udah dekat ini. Di dalam BMW udah mulai banyak cup-holder. Dan BMW vs Crown bahkan Camry sekalipun – ndhak perlu harus Lexus, rasanya sudah semakin sedikit dan semakin sedikit perbedaan (kemewahan)fiturnya.

Hanya konsistensi karakter yang membuat Mac dan BMW masih “berbeda” dengan yang lain. Yakni kidney-grill dan konco-konconya serta palang atas berikut suara Mac Chime itu, juga dockingnya

Hal sederhana, namun ternyata menjadi pembeda yang luar biasa. Susah ditandingi lawan-lawannya. Kecuali ntar manajemennya salah langkah, bukan tak mungkin nasib mereka terjungkal.

Semoga Mac dan BMW terus selalu mengusung konsistensi mereka.

– Freemac HW,
pengguna BMacW.

Selamat Tinggal WA

Duluuu, waktu WA mulai populer di negeri ini, saya masih belom nge-intstall.

Selain waktu itu hape masih tipe 3G jadul dengan layar cuman 3,5″ dengan resolusi 480 x 320 pixels, saya ndhak (pernah) punya paket data untuk hape dan hanya terkoneksi via wifi-only;

saya ini juga tergolong lambat menerima perkembangan.

Akun fesbuk pun awalnya saya numpang sama akun istri. Hanya sekedar buat chit-chat. Hingga kemudian temen di pihak saya tambah banyak dan akhirnya saya bikin akun sendiri.

Pun dengan WA. Karena banyak yang nanyakan, akhirnya saya pasang WA dan ikutan beragam grup.

Boom!

Hape jadul itu ndhak kuat kena serbuan notifikasi yang bisa seribuan saban hari. Notifikasi emang bisa di-mute sehingga tak ada centhang-centhung pun load media-content bisa di-disable; tapi tetep saja banjir trafik WA gitu bikin hape hang terus.

Alhasil WA saya uninstall.

***

Sampe kemudian ada rejeki buat ganti hape. Sebuah hape 4G dengan harga termurah yang ada di pasaran kala itu. Dan kali ini rutin saya isi paket data, mengingat pake data 4G harganya sudah sedemikian relatif murah dan terjangkau. Dengan harga yang sama, paketan 4G bisa dapet data 10 kali lipatnya 3G. Plus satu keuntungan bahwa area edar saya dominan masuk jangkauan sinyal 4G.

Saya install WA lagi. Entah gimana ceritanya, ternyata saya ter-unsubscribe dari beragam grup yang sempat saya ikuti sebelumnya.

Akhirnya saya masuk lagi ke beragam grup yang saya ikuti sebelumnya.

Dan kejadiannya sama: jibunan notifikasi dateng ke hape setiap hari.

Hape yang ini sedikit lebih kuat. Tapi settingan standar saya pakai: mute semua grup, dan disable auto-load media-content sekalipun pake wifi.

Plus kali ini: setting notifikasi (show notification) dari aplikasinya saya matikan/uncheck/tak tercentang. Jadi selain tak ada suara karena saya mute, juga tak ada notifikasi di bar atas hape.

Alhasil. saya akan baru tau kalo ada WA masuk ketika aplikasi WA-nya saya buka/nyalakan. Lainnya itu, jika sekian hari lamanya aplikasi WA (males) saya buka, ya saya ndhak pernah tau kalo ada yang nge-WA saya, baik dari personal apalagi dari grup.

***

Dan sekarang case yang saya temukan beda, bukan lagi hape yang mbledhuk terkena serbuan postingan WA.

Kali ini case-nya dalam pengamatan saya pribadi: tingkat kegunaan WA ketika berada di tangan saya, saya nilai sekitar 5-10an % saja. Sisanya: sesuatu yang ‘tak akan terjadi apa-apa’ kalo saya ndhak ngecek WA.

Maklum, saya bukan pedagang online yang wajib punya nomor WA untuk mem-paste informasi yang sama berulang-ulang kepada banyak orang.

Padahal mustinya bisa aja kan ya sebenarnya satu informasi itu di-posting ke laman fesbuk atau laman web misalnya, sehingga bisa dibaca dulu oleh (calon) kustomer, dan baru nge-WA untuk menanyakan info yang belom jelas, gitu kan ya?

Tapi mungkin habbit, behavior, dan kultur di Indonesia sini beda. Orang kayaknya lebih suka nanyakan beragam hal satu per satu sambil jalan dan sambil lalu ketimbang “membaca dulu seluruh buku manual sebelumnya” untuk memahami sesuatu.

Kebetulan, saya tidak berada di lingkaran aktivitas yang (suka nanyakan beragam hal satu per satu sambil jalan dan sambil lalu) seperti itu. Maka secara ostosmastis, kebutuhan saya akan WA jadi rendah sekali.

Kalo ada hal penting, lebih clear kalo saya pakai metode komunikasi SMS atau telpun langsung.

Mengingat kesumpekan di dalam tubuh hape yang sudah tak bisa saya kendalikan, dan saya ternyata juga kesusahan untuk mengingat informasi yang telah terposting via WA, maka akhirnya dengan berat hati saya putuskan uninstall WA untuk yang kedua kalinya.

***

Lama saya udah uninstall WA dari hape, ternyata status WA saya di kontak temen/rekan/relasi/kolega masih menyala aktif. Saya cek di hape istri atau hape lain, ternyata status saya masih “pakai WA”. Padahal aplikasinya sudah saya uninstall.

Saya cari-cari opsi signout agar tidak nongol di kontak orang lain, ternyata ndhak ada.

Alhasil barusan ini tadi:
– saya install ulang WA, untuk
delete account, dan
uninstall WA lagi.

Pfiuh…

***

Dengan melenyapkan WA dari hape, saya bukan koq anti (media)sosial. Cuman sekian lamanya make WA, setelah saya pertimbangkan, kegunaan WA ketika berada di tangan saya, saya nilai sekitar 10an % saja. Sisanya: sesuatu yang ‘tak akan terjadi apa-apa’ kalo saya ndhak ngecek WA.

Tapi jangan salah, sekali lagi saya bukan antisosial/anti-medsos koq!

Buktinya, saya masih rajin mantau angkringan-online ini.

Sebab mau ndhak mau musti saya akui, fesbuk ini paling rapi dan paling organized sistemnya. Kita bisa ikutan banyak grup tanpa harus terpaksa menerima postingan/komenan/atau semacam itulah entah apa namanya. Karena bisa di-unfollow(-post) atau kita tak menerima notifikasi jika tak menyalakannya.

Kalo di WA, meski notifikasi bisa di-mute, tetep status kita mau tak mau haru terus nerima postingan masuk.

Lainnya itu, WA kalo udah puanjang scroll-nya, saya jadi susah nyari lagi ke atas. Apalagi dengan hobi saya yang suka nge-clear-chat.

Kalo di fesbuk gini, postingan lama masih bisa dicari dan ditemukan lagi. Tidak perlu menanyakan hal yang sama berulang kali, kecuali case tertentu atau khusus atau mendesak gitu.

Well, selamat tinggal WA. Entah ini seterusnya, atau entah saya harus terpaksa install lagi suatu saat nanti karena satu dan lain hal.

– FreeWA HW

Pelajaran Hidup

Blitar (baru saja) disiram hujan deras. Mendekati Imlek, hujan seperti sebuah kepastian. Dan memang faktualnya hari-hari ini hujan deras. Seperti kemarin dan hari ini. Entah esok.

Saya sendirian di Starnafs Cafe. Salah satu tempat biasa temen-temen bengkel nongkrong dan ngopi, selain warung Mbokdhe War yang berada tepat di seberang bengkel, buat sesi ngopi malamnya karena dia buka saat matahari tenggelam hingga lewat tengah malam sampai dini hari.

Warung Mbokdhe War dan Starnafs Cafe ini berjejer, hanya selisih jalan masuk sawah dan sedikit petak kecil.

Starnafs Cafe ini keren. Pasangan suami-istri pemiliknya, tepatnya si Masnya, adalah maniak kopi. Dia bisa menceritakan tentang kopi berjam-jam. Dari beragam jenis kopi dan bagaimana biji kopi dipilih hingga diproses.

Di Starnafs Cafe ini tersedia beragam jenis kopi dari beberapa penjuru nusantara. Si Mas pemiliknya pernah komplain ke salah satu supliernya, “Biji kopi yang kamu petik masih muda. Besok lagi kirimi saya biji kopi yang beneran matang.”

Supliernya sempat menyanggah. Namun si Mas bilang, lidahnya ndhak bisa dibohongi. Belakangan supliernya selalu ngirim kopi dari biji yang dipetik matang beneran.

Keren.

Tempatnya juga homey. Ada lima set meja kursi. Ada yang seperti meja-kursi teras, ada yang seperti satu set meja kursi makan ala Jawa.

Di bawah atap atasnya, justru rumbia digunakan sebagai plafon mengikui/menempel atap. Jika dilihat dari dalam, Starnafs Cafe ini seperti beratap rumbia. Menimbulkan perasaan hangat.

Interiornya sederhana, namun aksentualnya pas banget. Daun pintu kupu-tarung (suicide doors)-nya berpola daun pintu rumah Jawa/joglo. Dan bisa jadi itu daun pintu eks rumah tua beneran. Nanti saya tanyakan ke Mas-nya kalo pas ngobrol.

Membingkai daun pintunya adalah sepasang jendela terbuka dengan teralis dari kayu berpola kotak miring bersilangan, dengan tembok bata telanjang tanpa diaci. Selain dinding sisi depan barulah diaci.

Ruang kafe ini tak luas. Mungkin sekitar 25 meter persegi. Sekali lagi, hanya berisi lima set meja dengan enam belas kursi.

Di teras depan masih tersedia dua meja dengan total empat kursi. Buat yang masih wifi-an saat kafe udah tutup. Buka dan 8:30 hingga 15:30. Break istirahat sebentar baru buka lagi bakda maghrib hingga jam 23:00

Satu yang menarik di sini: ada rak bukunya. Bukunya dominan buku budaya-agama, plus beberapa buku tentang motivasi dan terselip pula buku teknologi informasi. Silakan baca di tempat hingga puas.

Mahalkah menunya?

Segelas kopi tersedia mulai empat ribu hingga sepuluh ribu saja. Coklat panas lima rb. Jus tujuh rb. Mie instan tujuh ribu.

***

Malah ini saya mengetik posting ini di Starnafs Cafe sini, suasini sepi banget. Hanya saya seorang kustomer yang datang. Saya cuman memesan segelas coklat panas usai menikmati makan malam di luar rame-rame sama temen-temen bengkel barusan tadi.

Yang lain tak ada yang mau saya ajak nongkrong di sini. Pilih meringkuk bersama ponselnya.

Jadilah saya buka laptop, dan olah raga jari sebentar mengetik posting ini.

***

Posting tentang Starnafs Cafe?

Bukan. Saya bersama ibunya si kecil dulu pernah ngobrol dengan Mbak pemilik kafe, saat si Mas-nya lagi keluar kota kerja proyekan. Ngobrol tentang sejarah kafe ini, tentang pola bisnisnya, plus sederet foto-foto yang kami ambil dengan kamera.

Udah lamaaa banget. Sampai kami lupa di mana kami simpan file rekamannya sama foto-fotonya. Nantilah kalo ketemu akan kami unggah.

Malam ini dalam kesepian Mblitar diiring fade-in dan fade-out suara kendaraan di jalan raya depan kafe/depan bengkel ini, saya pribadi cuman pingin bersyukur.

Belakangan ini saya banyak ngobrol tentang hidup dan kehiduapn dengan banyak teman di banyak kesempatan yang berbeda. Bukan lagi berdominasi obrolan tentang BMW.

Entah kenapa koq belakangan ini saya sering ngobrol tentang hidup dan kehidupan.

Dan malam ini, usai ber-video call dengan si thole di rumah sambil nunggu coklat panas datang, saya merasa begitu bersyukur dengan hidup yang saya/kami miliki.

Dua belas tahun saya mengarungi kebersamaan dengan ibunya si kecil, dengan segala suka duka yang kami hadapi dan kami lalui; dengan tawa dan tangis; dengan tegang dan lega; dengan sedih pun gembira; ngambek-ngambekan namun yag pati selalu saling merindukan; pegang duit atau sama sekali tak punya makanan; kami hanya bisa bersyukur atas semuanya.

Di pojokan Starnafs Cafe ini saya memejamkan mata dan melihat kembali hidup kami. Ternyata, apa yang kami miliki, yang telah kami lalui, dan tentunya yang hendak kami hadapi besok lusa dan seterusnya; semata hanyalah tentang keindahan.

Keindahan di atas kanvas kehidupan yang nampak dengan terwarna dengan kuas syukur. Saat kita bersyukur, semuanya akan tergambar. Saat kita bersyukur, semuanya akan muncul. Saat kita bersyukur, semuanya akan terpampang.

Manusia memiliki lika-liku dan jalan hidup masing-masing. Kami memiliki tentangan hidup yang orang lain mungkin tak mengalaminya, pun sebaliknya orang lain mengalami tantangan hidup berbeda yang kami mungkin juga tak memilikinya. Orang kadang menyebutnya dengan misteri kehidupan. Bagi kami, inilah/itulah kehidupan itu sendiri.

Kehidupan adalah tentang perjalanan. Perjalanan melintasi waktu dan melalui masa. Perjalanan menapaki detik dan melewati saat. Orang Jawa membahasakan: laku (walking, passing… process). Bahasa sederhana laku di sini adalah proses..

Kabeh kudu dilakoni. Dilakoni kanthi laku. Laku.

Semua musti dijalani. Dijalani dengan proses. Berproses.

Ungkapan simpel, namun maknanya ternyata begitu mendalam. Meluas. Serasa tiada ada habisnya ditulis dan selalui ditulis oleh sesiapa yang sedang menemukan sudut pandang (baru) berdasar pengalaman yang dialaminya.

Bersyukur, bagi kami adalah tentang keikhlasan. Ikhlas menjalani dan ikhlas menerima.

Seperti kala kami menjalani semuanya ini bersama berdua. Belakangan kami menemukan frasa untuk menggambarkannya: kita mustinya bukan mencari jodoh, melainkan (saling) menerima jodoh.

Kami bersyukur menerima satu sama lain.

Jika ada orang berfalsafah bahwa hidup ini penuh persoalan, maka kami bisa menjawab setidaknya untuk diri kami sendiri, persoalan itu bisa diatasi dengan bersyukur.

Bersyukur menjalani pekerjaan, bersyukur menjalani antrian tiket, bersyukur menjalani lika-liku rumah tangga, bersyukur atas apapun kondisi dan isi dompet, bersyukur dalam pertemanan, bersyukur atas kondisi kesehatan, bersyukur dengan menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan, bersyukur atas apapun dan untuk semuanya. Semuanya.

Laiknya kami dua belas tahun kami melalui kebersamaan ini. Tentunya kami berharap bisa terus bersama melalui masa hingga sampai akhir permulaan kelak.

Ya Allah, selalu limpahkan rasa syukur kepada-Mu di hati-hati kami, di hati semua hamba-Mu.

Syukur pangkal mengatasi masalah.

Inilah pelajaran yang kami petik hari ini.

Bagi Anda yang mengenal kami, atau sekedar membaca posting ini, mohon kiranya sudilah memberikan kritik dan masukan kepada kami agar lebih baik dalam menjalani hidup ini, untuk menggapai kelak pada saatnya tanpa masa.

Alhamdulillah.

– FHW

https://freemindcoffee.wordpress.com/2014/08/27/pelajaran-hidup/