Biem Menapak Bumi

Mungkin biem kita statusnya udah lebih dari sekedar alat transportasi yang menghubungkan kita dengan banyak tempat dan beragam titik tujuan ke mana pun kita memaui dan menghendaki.

Mungkin biem kita udah naik kelas, atau tetap terus pada kelas aslinya: sebagai citra gaya hidup/life-style dan barang penyalur hobby serta pemuas hasrat emosi tersendiri dari dalam diri.

Sementara di luaran sana, masih banyak saudara-saudara kita yg mungkin masih terisolasi secara berkala dari gemerlapnya dunia fana ini.

Silakan lajukan biem Anda sekencang biem sanggup. Silakan ngebut sekuat nyali Anda kuat. Silakan turing sejauh Anda bisa bisa beli bahan bakar.

Tapi jika saya boleh berpesan, semelayangnya angan kita dengan si biem hingga ke awang-awang fantasi dan bayangan kenikmatan berkendara: tetaplah kaki hati dan tapak jiwa ini melekat pada bumi.

Sebab jika sampai ndhak menapak bumi, kemungkinannya kalo ndhak kita lagi naik pesawat terbang ya mungkin ternyata nyawa ini udah terpisah dari jasad, melayang ke tujuh angkasa di sebelah sana.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman

Advertisements

Sembarangan Buang Bahasa

Seorang redaktur newsblog curhat akan amburadul dan ugal-ugalannya bahasa para penulis.

Saya khawatir bahwa budaya antri, tidak membuang sampah sembarangan, beradab dan bertata-krama lalu-lintas, serta rapi bertutur kata itu mencerminkan tingkat keagungan adab dan budaya suatu bangsa.

Tetapi, ngapain sih repot mikirin itu semua?

Biar saja orang mau seenakudelnya berlalu-lintas, yg penting kita jaga jarak dari mereka dan selamat sampai rumah. Biasanya, kecelakaan itu terjadi karena pengendara ndhak mengindahkan aturan lalu-lintas atau bahkan mungkin ndhak mengerti. Persetan aja sama mereka, yg penting ndhak nyenggol mobil saya. Situ mau nyungsep, ya derita situ. Salah sendiri di jalanan koq seenaknya.

Ngapain sih kita bingung dengan kelakuan orang yg membuang sampah sembarangan? Mau mereka mbuang sampah di jalan tol, di selokan, di sungai, mbuka jendela mobil dan mbuang sampah seenaknya di jalanan, di trotoar, di depan masjid, di parkiran mobil, keluar ruko, di lapangan pas nonton konser, di sepanjang jalan pas acara jalan santai, di pantai atau di gunung, di mana saja bukan urusan saya; yg penting bukan di halaman rumah kita. Beres!

Koq pusing amat sih kita sama orang yg ndhak mau antri, yg penting kita bukan bagian dari mereka aja kan kelar perkara. Kalo terpaksa semua ndhak mau antri, ya kita ikuti arus aja: situ jual sini beli!

Dan, kenapa juga kita harus mengkoreksi kerapian tutur kata dan bahasa (diri) kita sendiri? Kita ngetik dan ngomong amburadul, nabrak aturan bahasa sana-sini, mencampakkan EYD ke tong sampah, sms tanpa titik tanpa koma, dan dengan segala kelakuan ugal-ugalan berbahasa aja kita bisa nyari duit bahkan bisa beli mobil koq!

Riil aja, apa sih pentingnya beradab dalam berbahasa sekarang ini? Kalo bahasa kita morat-marit trus kita mati atau ndhak bisa kerja gitu?

Satu nusa satu bangsa satu BAHASA? Itu mah jargon! Yg penting adalah bagaimana saya bisa beli spare-parts dan ngerawat mobil, selesai urusan.

Regards,
– Sarkas HW

Sampah

BBKSDA Jawa Timur melarang kegiatan wisata di cagar alam Pulau Sempu. Larangan wisata ke pulau Sempu akan mengakhiri polemik di dunia maya soal pemanfaatan CA Pulau Sempu untuk kepentingan wisata.

Satu kenangan saya dengan pulau Sempu adalah hampir 20 taon silam saat saya masih kuliah, saya pernah berenang dari Sendang Biru ke Pulau Sempu. Didampingi temen-temen yg menjaga saya dengan bersampan.

Itu jaman badan saya masih ceking dan perut masih rata, masih bisa gaya kupu-kupu. Sekarang dijamin saya bakal tenggelam kalo musti berenang kayak gitu lagi, saya cuman bisa gaya dada dan gaya batu. “Dadaaa!” ๐Ÿ˜€

Dulu, lebih dari 20 taon silam saat saya masih SMA, pergi ke Rinjani itu benar-benar mengasyikkan. Kemarin, saya baca di media, sekarang isinya sampah di mana-mana. Alhamdulillah dan salut buat yg pada mbersihkan.

Baiknya, pengunjung jangan dilarang untuk menjelajahi cagar alam. Tapi bagi siapa yg kedapatan mengotori bumi ini dengan sampah sembarangan, baiknya langsung tenggelamkan aja di laut atau tendang aja ke jurang dalam. Habis perkara.

Tapi yg ngeri lagi tuh cerita emak saya saat pergi haji sepuluhan taon silam. “Saat rombongan jemaah Indonesia beranjak dari duduk-duduk lesehannya di bandara sana, serakan sampah langsung terpampang di luasan lantai di depan mata!”

Itu semua dilakukan oleh orang yg pulang haji lho!

Gusti Allah…

– Freema HW

Sepatu 43

Mungkin seperti bunda-bunda yang dianugerahi anak seusia Aleef Rahman, kami juga dibikin pusing untuk urusan sepatunya. Pertumbuhan badannya yang cukup pesat, membuat kami tiap taon harus ngganti sepatunya. Bukan cuman sepatunya, juga baju dan celananya. Hiks…

Duluuu saat dia masih kecil, namanya orang tua yang sebisa mungkin selalu berusaha memberikan yang terbaik buat buah hatinya.

Masuk TK, kami belikan dia sepatu yang menurut ukuran kami sudah cakep dan (teramat sangat) mahal (banget). Sebuah Converse Chuck Taylor All Star original. Sebuah sepatu yang desainnya enggak berubah selama 100 taon ini. Dan sejak taon 2003 kemarin Converse dimiliki oleh Nike.

Sekitar dua tahunan kami menikmati kelucuan si kecil dengan sepatu model jadul tapi kerennya, sepatu itu pun harus pensiun dini sebelum ada kerusakan apapun sedikitpun: kakinya udah enggak muat masuk itu sepatu.

Masuk sekolah dasar, dia kami masukkan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Doko, Kediri. Turun grade, kami belikan dia merk lokal namun lumayan kondang: Precise.

Awet ini sepatu, baik kualitas dan ukurannya. Sepatu pertamanya di tingkat sekolah dasar ini bertahan hingga dua tahun alias hingga dia usai kelas dua.

Kelas tiga, bapaknya mencoba bereksperimen dengan membelikannya sepatu di lapak kaki lima seharga 35rb. Ternyata cuman dalam hitungan sedikit bulan, itu sepatu sudah amburadul. Kulit sintetisnya mengelupas semua. Sol/(outsole/sockliner)-nya siy bisa dijahitkan, cuman dindingnya yang kena jahitan pada sobek. Trauma jadinya kami membelikan barang yang kelewatan murahnya gini.

Tapi Allah itu maha adil dan maha pengasih lagi maha penyayang. Pas sepatu eksperimentalnya rusak, alhamdulillah si kecil dapet rejeki nomplok: dia dibelikan sepatu oleh budhenya. Ndilalah sama, sepasang Precise lagi.

Kelas empat, alhamdulillah rejeki anak sholeh, si kecil bersama seorang sahabatnya yang yatim piatu dihadiahi sepasang Tomkins, kali ini gantian Omnya yang ngasih.

Jelas awet. Sukses sampai setahun. Tapi ujung kukunya jadi bolong, kalah sama kelakuan si kecil. Dan terutama lagi: udah enggak muat.

Bersama si Tomkins ini, Aleef Rahman juga punya sepasang sepatu pantofel untuk acara resmi. Merk distro gitu. Eh enggak dinyana, sepatu ini agak buruk secara kualitas. Kulitnya melar dan ngelupas, ujungnya mulai bolong, dan lem-lemannya melepuh lepas. Mirip sepatu abal-abal harga beberapa puluh ribu. Cuman yang ini masa pakainya lumayan lama. Dan yang pasti, di akhir masanya ini sepatu benar-benar enggak bisa dilungsurkan alias diberikan ke sesiapa yang masih bisa menggunakannya.

Kelas lima dan kembali harus ganti sepatu. Kami tak langsung menuju toko sepatu, yang hari-hari sebelumnya kami udah sempat jalan-jalan dan memperhatikan harga beberapa item sepatu yang cocok untuk si kecil.

Kami buka dulu salah satu lapak jual beli lokal khusus kawasan Kediri dan sekitarnya sini.

Kami mendapati penjual yang menawarkan sepatu merk lokal lain lagi: Ardiles; dengan harga relatif sangat murah: mulai 60 hingga 125rb, tergantung ukuran. Lokasinya enggak terlalu jauh dari rumah. Tempatnya di rumahan. Stok barangnya segunung!

Cuman kami amati, modelnya memang enggak terlalu banyak. Tampaknya si mbak penjual beli/konsinyasi sedikit model dengan banyak volume demi ngedapatkan harga kulak murah. So bisa dijual dengan tetep murah tentunya, menyasar ke pembeli sepatu yang hanya berorientasi fungsi dan harga bukan berorientasi model.

Untuk ukuran Aleef Rahman kala itu hanya kena harga 60rb rupiah saja!

Beneran enggak nih sepatu?

Ah nothing to loose-lah, taruh kata hanya kepakai dan awetnya cuman sebulan, anggap saja breakdown-nya ya segitu itu. Kami pernah posting kisahnya di sini.

Ternyata eh ternyata, sepatu ini awet hingga setaon sodara-sodara! Sebagaimana janji si mbak penjual setaon kemarin pas kami membeli, โ€œKalo kuatnya kuat koq Mbak. Mungkin itu sepatu duluan sesaknya ketimbang rusaknya.โ€

Memang sih sol bawahnya udah mulai menghalus, dan dindingnya udah mulai melar pun ada beberapa jahitan yang udah mulai lepas. Tapi sepatu ini masih bisa dipakai dengan normal kalo mau. Dan, pensiun bukan karena rusak, tapi murni karena udah enggak muat lagi! Umpama masih muat di kakinya, tentu akan kami biarkan ia memakai terus sepatu ini.

Sepatu Abal-Abal Mahal

Kelas enam, kini kaki Aleef Rahman udah makin “bengkak”. Di beberapa sepatu nomor 42 kakinya terlalu ngepas, dan itu pun dicoba tanpa kaus kaki. Jadi buat main amannya kami mau nyarikan sepatu ukuran 43 aja buat dia.

Pengalaman membeli Ardiles seharga 60rb itu membuat kami yakin, bahwa sepatu murah belom tentu murahan.

Model taon kemarin itu, taon ini harganya udah naik.

Di tempat si mbak yang taon kemarin kami beli udah abis stok ukuran besarnya, dan kami lupa nanyakan berapa harga di dia sekarang. Yang jelas udah enggak 60rb kayak taon kemarin.

Lari ke sebuah toko sepatu, kami mendapati Ardiles dengan ukuran lebih gedhe harganya kena 100rb lebih dikit, 108rb mungkin, kami lupa. Cuman si Aleef Rahmannya menggeleng saat kami tawari. Dia kurang suka modelnya katanya. Duh nih anak…!

Nyari toko lain, ada sebuah model yang ditawarkan dengan harga 100rb. Dan si kecil mengangguk tanda suka modelnya. Akhirnya kami beli.

Bersamaan dengan sepatu olah raga/sepatu sekolah tersebut, sekaligus kami beli juga sepatu cadangan berupa safety-shoes, di toko lain lagi yang spesial jualan safety-shoes. Berpotongan tinggi, dan ada besi pelindungnya di bagian ujung kuku.

Semacam buatan home-industri dengan merk tembakan, harganya enggak sampai 200rb (175rb). Biasanya, sepatu ginian terkenal awet-awet aja dipakai. Entah kalo kena minyak beneran, solnya sanggup apa enggak menahan licin sebagaimana safety-shoes yang asli.

Awalnya si kecil menolak sepatu ini. Tapi kami yakinkan kalo sepatu ini cocok buat perjalanan, atau dipakai sekolah pas bukan hari dengan jam pelajaran olah raga. Akhirnya dia mau, dan gagah banget di memakainya. ๐Ÿ˜€

***

TAK dinyana, trauma kami tentang sepatu 35an rb terulang. Ini sepatu olah raga/sepatu sekolah seharga 100rb yang baru dipakai si kecil selama enam kali, ya enam kali dalam waktu kurang dari sebulan, udah rusak parah.

Lem-lemannya bagian bawah ngelupas luas, dan kulit-kulit aksentualnya di sisi samping mengelupas semua.

Setelah kami perhatikan baik-baik, ini sepatu rasanya lebih ke merk abal-abal yang tak jelas di mana produksinya atau dari mana asalnya ketimbang merk lokal yang setidaknya udah terkenal dari beberap ataon silam atau malah berani pasang iklan di TV.

Yakh, sesal dan kecewa memang selalu datang belakangan.

Tapi kami coba sedikit usaha. Kami datangi tokonya dengan pertanyaan pertama, “Mas, sepatu di sini ada garansinya enggak?”

Sambil kami menyodorkan itu sepatu rusak yang kardusnya masih snagat kinclong.

Pihak tokonya tampak gelagapan. Tapi masih bisa membantah. “Adik saya sendiri pakai sepatu ini sekian lama aman-aman saja. Bahkan dipakai juga untuk kegiatan baris berbaris. Mungkin ini sepatu rusak karena pemakaian.”

Kami tersenyum sambil sedikit berargumen tanpa bermaksud membantah. “Mas ini kan penjual sepatu, pasti hafal antara sepatu rusak karena (salah) pemakaian dengan rusak karena memang mutu bahan dan produksinya abal-abal.

Kami tadi pertama langsung bertanya, ada garansinya enggak? Kalo memang enggak ada, ya udah gpp. Udah risiko kami (salah) memilih.

Tapi kalo boleh kami mohon, kalo bisa mungkin jangan njual sepatu yang model ini lagi. Kasihan nanti kalo ada pembeli yang menalami kejadian kayak kami, baru dipakai beberapa kali udah rusak kayak gini.”

Anehnya, si Mas tokonya sama sekali enggak membantah dan malah mengucapkan, “Baiklah…”

Tanda dia sesungguhnya menyadari dan mengakui kondisi ini.

ITU sepatu kami masukkan kembali ke dalam kardus dan kami letakkan di atas tempat sampah tertutup yang ada di depan toko. Kepada tukang parkir (liar) yang ada di situ, kami sampaikan kalo kami meletakkan sepatu bekas, tidak sobek dinding sepatunya, hanya lepas besar lem-leman solnya, dan kemungkinan besar masih bisa dijahit lagi.

Mas tukang parkirnya senang dan bahkan enggak minta uang parkir ke kami. Di perjalanan, kami berdoa semoga itu sepatu bisa dijahit dan bisa bermanfaat ke mas si tukang parkir.

Prediksi kami harusnya itu sepatu masih bisa banget dijahit, Hanya kami udah terlanjur illfeel aja, makanya itu sepatu kami enyahkan dari kehidupan kami. Halah!

Dan kami sengaja enggak ngefoto itu sepatu plus kondisinya, biar kenangan pahit ini segera terlupakan dari perjalanan waktu kami. Halahhh!!! ๐Ÿ˜€

***

Alhasil, kami harus kembali mencarikan sepatu olah raga/sepatu sekolah buat si kecil, menemani sepatu safety yang dia pakai di luar jam olahraga.

Kembali nyoba browsing di lapak jual beli Kediri. Eh nemu ada sepatu bekas yang ditawarkan seharga 50rb. Merknya Nike, sudah pasti abal-abal. Cuman, meski abal-abal, kalo dipakai udah beberapa lama, tentunya malah ada nilai worthed-nya: paling enggak dia malah bukan tipikal baramg yang langsung rusak begitu beberapa kali dipakai.

Kami coba hubungi via online si Mas penjual dan janjian liat barangnya.

Tempatnya jauh keluar kota Kediri, arah kaki Gunung Wilis. Enggak terlalu jauh sih sebenarnya, sekitar 20km. Tapi jalannya kecil/sempit dan berkelak-kelok. Melewati hutan, persawahan, dan perkampungan berselang-seling. Sehingga perlu satu jam perjalanan untuk mencapai lokasi si penjual, di sebuah desa yang segala sinyal seluler beneran hilang dan kami ketemunya atas bantuan arahan penduduk. Tapi si mas penjualnya justru malah bisa internetan dengan adanya wifi desa. ๐Ÿ˜€

Ketemu. Kondisi sepatunya lumayan. Sambungan sol dan dinding sepatunya udah dijahit tambahan. Solnya masih bagus. Hanya ada sedikit jahitan di tungkai yang mengelupas kecil, kami pertimbangkan bisa dijahit lagi atau dilem sedikit saja. Dan entah kenapa alasan itu sepatu dijual, kami enggak menanyakannya. Yang jelasnya akun fesbuknya riil dan lumayan terbuka, setidaknya dengan ini kami meyakini kalo ini bukan sepatu curian.

Si kecil pun okey dengan modelnya. Alhasil kami dapat diskon 10rb, jadinya jatoh harga 40rb.

Cuman BBM mobil ke sananya mungkin hampir dua kalinya itu harga sepatu. ๐Ÿ˜€

Enggak apa-apa, sebelum kami memutuskan berangkat liat barang, kami sudah niati sekalian jalan-jalan malam mingguan bersama keluarga ke kaki Gunung Wilis yang dingin, sunyi, dan bener-bener lenyap segala sinyal seluler. Namun penduduknya yang kami jumpai ramah-ramah.

Well… Pelajaran moral yang bisa kami petik di sini: jangan pernah sekali-sekali beli sepatu abal-abal. Mending KW, masih bisa diprediksi kekuatannya.

Dan beli sepatu merk lokalpun enggak menjamin kualitasnya sepadan dengan harganya. Perlu referensi yang kuat tentang hal ini. Kecuali emang ada duit super enteng buat beli sepatu muahalll macam yang kami ceritakan di atas, itu lain soal lagi. Kalo enggak ada?

Ngomong-ngomong sepatu mahal, BTW, dulu Bapaknya Aleef Rahman pernah kehilangan sepatu di masjid, pas jaman dia kuliah. Udah gitu, itu sepatu pinjem dari temennya lagi. Pas itu bapaknya Aleef Rahman nginep di kos temennya, datang pake sandal, kemudian dia perlu ke kampus sehingga minjem sepatu temennya. Mampir ke masjid, pas mau capcus sepatunya udah raib.

Sepatu mahal. Kala itu harganya 200rb saat seporsi nasi pecel masih 750 rupiah. Sekarang harga seporsi nasi pecel rata-rata 7rb.

Dari sini, bapaknya Aleef Rahman jadi trauma juga dengan sepatu mahal. Plus kami emang enggak ada anggarannya khusus buat beli sepatu mahal. Dan, kami juga bukan maniak sepatu. Alhasil asal sepatu bisa dan layak dipakai, ya udah.

Bapaknya Aleef Rahman pun sukannya cuman sepatu safety, meski bukan berarti anti dengan model sepatu lainnya. Mungkin ini terkait dengan dunia dan karakternya. Plus lagi mungkin karena pengaruh almarhum bapandanya yang pensiunan dari sebuah perusahaan tambang, yang bisa dibilang seumur-umur kenalnya ya sepatu safety. Klop jadinya.

Perburuan sepatu murah emang butuh penggalian referensi, pengamatan mendetail dan mendalam, serta kekuatan doa dan keyakinan batin yang akan menjadi pengisi waktu dan perjalanan hidup yang menyenangkan. Sebagaimana kami bisa gembira karena dapet sepatu lumayan bagus dengan harga relatif murah atau harus bersedih karena kena sepatu abal-abal yang harganya setara sepatu lokal.

Yang penting semua jangan terlalu: terlalu gembira atau terlalu bersedih. Dinikmati saja. Masih banyak di luar sana yang lebih pusing daripada kami: bahkan untuk mendapatkan sepatu paling abal-abal pun mungkin mereka masih kesulitan.

Wallahualambisawab.

– Deasy Ibune Rahman,
dan ini sepatu KW yang kami beli seharga 40rb. Akan kami update nanti seberapa lama dia bisa dipakai Aleef Rahman.

Dan maaf kalo cuman urusan sepatu murah aja sampai segini panjang kisahnya. Kalo sudah cerita tentang anak, apa sih yang bisa kita persingkat? ๐Ÿ˜€

Persiapan 2019

Ada sebuah akun. Mengomentari kubu lawannya dengan “2019 masih jauh woy! Udah pencitraan aja!”

Pas saya becandai, saya diblok.

Sementara dari kubunya sendiri, tampaknya persiapan 2019 juga udah mulai dilakukan.

Bullshit, semuanya!

Ndhak usah tutup mata, 2017 ini, pada kenyataannya semua pihak udah siap-siap menyambut 2019. Dan sebenarnya bukan sejak 2017 ini, sejak hajatan Pilpres 2014 kemarin kelar, semuanya pasti akan langsung berkoordinasi untuk mulai menyambut 2019.

Dan kembali peristiwa 2014 akan terulang: kedua belah pihak akan adu kuat: adu kuat inkonsistensinya. Saya menggaransi ini terjadi, garansi untuk diri saya sendiri. Garansi tidak berlaku untuk Anda.

Inkonsistensi, dari KEDUA belah kubu. Alias semua kubu.

2019 nanti peta sementara akan mirip Pilkadal DKI kemarin. Kubu Jokowi akan semakin kuat. Dan kubu SBY/Prabowo akan pakai strategi mirip pilkadal DKI: ada calon utama dan ada calon untuk pemecah suara.

Kemarin itu, dengan kesadaran saking kuatnya Ahok kalo “dilawan sendirian”, alhasil dipasanglah Anies sebagai calon utama, dan Agus sebagai pemecah suara.

Berhasil!

Plus ditambah kampanye “di luar sistem”. Macam Ahok yg ditekan dengan cap penista agama. Yg bahkan suara Buya Syafi’i Ma’arif yg dengan tegas mengatakan bahwa apa yg dilakukan Ahok bukanlah penistaan agama, dengan segala cara akan dikesampingkan.

Dua faktor ini sukses mengantarkan Ahok terdepak dari kancah politik DKI. Dan setidaknya, langkahnya untuk terus tampil ke muka bumi perpolitikan Indonesia sukses terhambat.

Jokowi kayaknya akan dibeginikan juga, entah dengan cara apa. Pemanasan yg ada, Jokowi udah mulai dicap dengan stempel “musuh Islam”. Namun langkah ini agak sulit karena NU “menghambat”.

Biar bagaimana kekuatan NU masih sangat diperhitungkan di negri ini. Apa dhawuh kyai, masih menjadi langkah komando yg ajib untuk menggerakkan jutaan massa NU.

Maka tampaknya, kini NU yg musti dirongrong dari dalam. Entah ada yg disusupkan ke dalam NU atau dijebak untuk memecah NU atau dirongrong secara sistematis lain, saya kurang paham. Tapi langkah ini logis untuk diupayakan.

Atau sambil jalan, mungkin tim komando dan tim intelijen masing-masing kubu sudah menyiapkan dan merangkai beberapa langkah strategis maupun langkah taktis lain demi saling menjegal lawan. Mustahil tidak.

Semuanya demi politik.

Semuanya adalah politik.

Dan warganet terus bersorak riuh tempik-sorai menyatakan semuanya sebagai kebenaran, keadilan, apapunlah namanya.

Dan inilah cerminan politik negeri ini, di mata pandang saya pribadi. Tidak berlaku untuk Anda.

***

MAKA, saya pun juga siap-siap dengan 2019.

Kini saya mulai meng-unfollow fanpage atau grouppage yg konon bilangnya keagamaan atau kebangsaan tapi di dalamnya berisi politik. Entah kepada kubu siapapun dia berpihak. Karena selama dia berpihak dan tidak universal, saya pribadi menganggapnya bukan kebangsaan dan bukan keagamaan.

Kalo dari kaum kebangsaan masih “enteng” buat dijawab umpama saya di-counter sama mereka. Kalo dari kaum keagamaan, ini yg repot. Sebab dari kemarin hingga detik ini, cara untuk meng-counter adalah sama sekali ndhak pake otak, sesuatu yg dianugerahkan-Nya untuk kita gunakan.

Cara mereka meng-counter biasanya pake stempel. Barangsiapa tidak sama dengan pandangan mereka, maka kita adalah kafir, sesat, laknat, liberal, sekuler, dll. Atau kalo kalah opini, pasti pake senjata jauhi perdebatan kusir. Padahal sesungguhnya ini adu otak, bukan debat kusir tanpa dasar tanpa logika.

Yawsudahlah.

***

SELAIN fanpage atau groupage, yg sudah lama saya lakukan sejak tahun-tahun silam adalah me-remove akun-akun sektarian begitu. Bukan karena saya benci mereka secara perorangan, melainkan murni karena saya ndhak ingin “terlibat”, meskipun cuman membaca posting statusnya, dalam perkubuan ke mana saja.

Bukan karena saya benci mereka. Sama sekali bukan. Saya hanya ndhak kuat mengisi waktu dengan membaca gituan. Maka lebih adil dan bijak, dalam sudut pandang saya sendiri, jika akun-akun demikian saya remove.

Saya akui, saya dalam konteks ini jauh dari kehebatan istri saya yg cerewet minta ampun itu. Istriku adalah sedikit dari kaum istri yg cerewetnya level 30 kalo di ukuran Boncabe.

Saya lagi geletakan mau berangkat kopdar ama temen-temen aja, dia udah berkali-kali nanyak. “Kamu ndhak kopdar? Ndhak jadi berangkat tho?”

Padahal itu kopdar bukanlah sekolah. Mau saya kopdar atau ndhak, ndhak ada urusannya dengan naik-turunnya keimanan, kondisi negara, apalagi stabilitas harga pangan.

Plus saya sedang ndhak janjian dengan siapa-siapa. Jadi kalo saya jadi kopdar, itu asyik karena menambah silaturahmi. Kalo saya ndhak jadi kopdar, itu juga asyik karena saya bisa istirahat di rumah.

Eh pas saya males njawab, malah saya jadinya yg salah, “Diajak ngomong gitu doang diem terus!”

Bayangkan coba, kuping lelaki mana yg ndhak illfeel dengan gituan? Dan apapun alasan saya, laki-laki pasti akan salah di mata perempuan. Pasti!

Ini baru satu contoh. Yg ndhak saya ingat-ingat mungkin bakalan ndhak cukup seharian atau semingguan saya ketikkan di sini. Nyaris saban hari bray! ๐Ÿ˜ฆ Hiks…

Tapi saya ndhak ngingat-ngingat. Ini bukan sekedar masalah saya mencintainya sepenuh hati sehingga ndhak mau ngingat-ngingat yg ginian. Ini kayaknya murni cuman karena saya laki-laki yg ndhak pernah bisa ngingat-ngingat hal ginian.

Bahkan mbawa handuk pas mandi aja sering lupa. Alhasil saya teriak minta tolong istri ngambilkan handuk. Dan alhasil kembali kuping ini kena semprot. “Udah berkali-kali mandi ketinggalan handuk, masih aja terus lupa!”

Lucunya, dia tetap ngambilkan handuk ke saya bray! Begitu terus berulang-ulang tiap kali saya lupa mbawa handuk pas mandi. Eits bukan cuman saya, juga si kecil.

Dan kasihan dia, kecil-kecil udah kena semprot ibunya. “Kamu itu jan persis bapakmu!”

Kadang si kecil bingung, kadang dia meringis. Mungkin batin dia, “Apa sih salahku?”

TAPI dia istriku itu hebat. Saya cek di dinding(ratapan) alias wall FB-nya, ada dua kubu politik yg rajib banget update status. Timeline-nya malah sepertinya berisi 80% politis dan 20% kehidupan universal ~> itu pun masih dibagi antara pendidikan anak dan kucing sama kuliner dan sedikit traveling.

Atau kalo angkanya kegedhean, baiklah 60% politis dan 40% kehidupan universal. Atau baiklah, saya ngelihatnya pas momen tertentu barangkali, jadi ini ndhak mewakili kondisi keseluruhan.

(Tapi kayaknya “momen tertentu” gitu koq sering banget ya di FB gitu? Kayak selalu ada terus gitu…)

Tapi pas saya nanyak, kenapa ini akun yg berkubu-kubuan ndhak kamu unfollow aja?

Dia bilang, “Mereka semua teman saya, dan kebetulan saya bisa cuek mendapati posting-posting mereka.”

Hebat! Suaminya dicereweti, teman-temannya malah dicueki.

Harusnya kalo dia sayang sama saya suaminya ini, suaminya dimanja-manja, dan cerewetilah itu temen-temenmu yg menjadikan FB sebagai ruang pubik bersama sebagai ajang kampanye masing-masing kubu.

Entahlah.

Saya ndhak mau melanjutkan posting ini.

Abis ini telingaku pasti kena semprot lagi.

Demikian dari kemarin, hari ini, hingga seterusnya.

Hiks… Nasib…

“Lho Mas, perempuan itu cerewet kepada orang yg disayanginya, itu karena pertanda cinta.”

Baiklah, ini cinta.

Baiklah. Saya juga mencintainya dari kemarin, hari ini, hingga seterusnya.

Tapi tetap saja, kuping ini, hiks…

– Freema Bapakne Rahman.

Pedagang “Gila”

Lumrahnya pedagang adalah menyembunyikan berapa harga modal dagangannya, dan mengambil keuntungan saat menjualnya. Berapa keuntungan yang diambil? Era kini sangat beragam patokannya. Sebab perdagangan bukan lagi “jual-beli” melainkan sudah menghitung oportunitas; bisa oportunitas tempat ataupun waktu. Bahasa kasarnya: memanfaatkan keadaan.

Selain oportunitas tempat dan waktu, modal (capital) telah menjadi kekuatan perdagangan yang sukses melengserkan kekuatan sumber daya ((human)resources).

Di tengah “lumrahnya” perdagangan yang sejak lama telah menjadikan oportunitas tempat dan waktu sebagai tambahan faktor nilai jual, ternyata di sudut-sudut dunia ini masih tersimpan mereka-mereka yang berdagang “melawan arus”.

Di tengah kejamakan perdagangan yang sangat menjunjung tinggi hawa kapitalistis ini, masih tersimpan segelintir manusia yang mendudukkan perdagangan sebagai sekedar “jual beli” semata.

Berikut diantaranya yang kami temui.

Pak Nan Jus22

Sebuah warung jus buah plus kopi, mie instan, dan beragam kudapan untuk teman cangkrukan ini terletak di ruko nomer 22 Stadion Brawijaya, Kediri. Tiap malam, khususnya akhir pekan, tempat ini pasti ramai dijadikan tempat nongkrong warga klub otomotif Yang biasa kopdar di parkiran di depannya. Anak otomotif di Kediri bisa dibilang pasti mengenalnya.

Pak Nan dikenal ramah. Bisa bergaul dengan segala kalangan. Plus termasuk “santri gaul”. Dulu doi sempat menyimpan seutas kisah kelam dalam sepenggal waktu perjalanan hidupnya, yang saya tak ingin menceritakannya di sini.

Saya menganggapnya “gila” karena pernah mengalami beberapa kejadian, namun satu yang saya ingat; suatu malam saya ngopi dan mengudap beberapa item kudapan. Pas kelar nongkrong dan mau mbayar total yang cuman beberapa ribu, saya hanya punya uang 100 rb di dompet. Abis ngambil ATM soale.

Kebetulan waktu itu saya termasuk pengunjung berisan terakhir. Karena mau tutup, melihat besaran duit yang saya sodorkan, Pak Nan tampaknya males buat nyarikan kembalian di laci uangnya.

“Besok aja kalo ke sini lagi!”

Tolak dia sambl ngusir saya agar segera pulang, maksudnya saya ndhak usah ngeyel mbayar malem itu. Soalnya doi (lebih memilih) mau beres-beres nutup warung (ketimbang ngacak-ngacak laci duitnya yang emang ndhak beraturan buat nyari kembalian ke saya).

SEKIAN hari lamanya saya ndhak sempat ke situ. Pas ke situ lagi, saya udah lupa kemarin berapa nominal yang musti saya bayarkan. Dan doi juga lupa!

“Gila” niy orang! Ndhak pake catatan, ndhak ngingat-ngingat pula.

Akhirnya saya memeras otak mengingat-ngingat minuman dan cemilan-cemilan yang saya maem. Pas saya sodornya hasil ingatan keras saya, Pak Nan langsung mengiyakan begitu saja.

Pas iseng saya ngobrol dengannya, koq “seenaknya” menjalankan usaha, apa ndhak takut rugi?

Dengan “seenaknya” pula dia bilang, ada Gusti Allah Yang Maha Tahu. Hanya itu kalimatnya. Membuat saya merenung alih-alih bertanya lebih panjang.

Mas Ma’ruf, Tukang Bakso

Dulunya doi adalah (salah satu) tukang bakso keliling di kampung kami. Ikut inang asuhnya (yang sekaligus juragannya), tetangga sebelah rumah (yang saat ini baik si Bapak maupun si Ibu tetangga kami tsb. telah almarhum).

Cara jualannya seenaknya. Kalo yang mbeli warga kampung yang udah akrab dengannya, dia males kalo disuruh ngeladeni. Yang mbeli disuruh ngambil bakso sendiri. Duitnya dia suruh naruh di (dan kembaliannya diambil sendiri dari) kotak duit di rombong baksonya.

Dianya asyik leyeh-leyeh sambil mainan hape atau gitaran. Kadang dia bawa gitar sendiri sambil keliling, kadang main gitarnya anak-anak nongkrong kampung sini.

Saya sempat iseng ngetes dia mbayar pake duit palsu, saya nge-print duit sendiri tapi saya tandai kalo itu duit mainan. Sengaja duitnya saya sodorkan pas dia melayani pembeli yang musti dia layani. Biasanya orang tua, anak-anak, atau orang lain.

Pas nerima duit palsu dari saya, dia sama sekali ndhak ngecek, bahkan melihat (memperhatikan) duit itu pun ndhak. Dia cuman melihat sambil lalu, sambil menerima maksudnya, hanya untuk sekedar mengetahui nominal duit itu berapa. Langsung dia masukkan laci/kotak duitnya lantas ngasihkan kembalian.

Selesai transaksi, saya baru minta kembai duit palsu yang saya berikan dan memberikan duit asli. Dia tampak bingung. Dan malah semakin bingung waktu saya jelaskan kalo duit yang saya kasihkan itu duit palsu.

Hati kecil saya meyakini, dia tidak membatin “kenapa ya saya koq ndhak waspada sama uang palsu.” Atau “duh apesnya saya koq kena/menerima duit palsu.”

Saya yakin dia lebih membatin, “Koq ada ya orang tega (baca: menghina dirinya sendiri dengan) membayar dengan uang palsu?”

Keyakinan batin kecil ini berdasarkan keseharian saya ngobrol dengan si Ma’ruf. Banyak cerita dan bukti kisahnya yang mengerucutkan bahwa semacam itulah kondisi batiniah Ma’ruf kala mendapatkan perlakuan “buruk” dari orang lain.

INI jelas kasta batin yang super tinggi yang bisa diraih manusia: lebih merasa kasihan kepada sesiapa yang berbuat munkar alih-alih marah atau murka. Karena sesiapa yang berbuat munkar, sesungguhya mereka telah menjerumuskan dan mencelakai dirinya sendiri ketimbang yang tampaknya mencelakai orang lain. Tanpa harus kita hukum, orang sudah akan terhukum sendiri oleh karena perbuatannya sendiri.

“Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. 43:76) “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. 42:30)

SESUAI namanya, Ma’ruf. Dia hanya mengenal dan sejauh yang saya tahu dia hanya melakukan kebaikan dan kesehariannya, tanpa harus kehilangan kegaulan dan kesantriannya.

Sudah lama Ma’ruf tidak tinggal di kampung kami lagi sejak dia menikah dan berpindah ke kecamatan yang jauh dari tempat kami, namun masih satu kabupaten.

Semoga Allah berikan kesehatan senantiasa kepadanya dan keluarganya. Aamiin.

Tukang Tambal Ban

Ini kejadian masih terbilang barusan sebelum saya ngetik posting ini.

Nyaris tengah malam pas saya bermotor dalam perjalanan pulang dari Blitar. Jalur yang saya lalui melewati kawasan lereng Gunung Kelud, jalan pintas Kediri – Blitar, dari Kediri langsung mengarah ke tenggara ke arah Blitar, yang sebenarnya waktu tempuhnya kadang malah lebih lama karena kondisi jalanannya; ketimbang melewati jalur normal yang agak memutar: karena harus mengarah lurus ke selatan dulu kemudian berbelok lurus ke timur.

Dari total sekisar 65 km, ini sudah 4/5 perjalanan sebelum nyampai kota Kediri/rumah. Di malam yang sepi dan berangin kencang itu, mendadak ban saya gembos pas habis sebuah perkampungan dan memasuki area “bulak” atau area yang di kiri-kanannya hanya persawahan.

Mau mundur ke balakang ke kampung yang barusan saya lewati, perasaan rumah warga udah pada sepi, tak ada tambal ban yang terlihat (buka) tadi.

Akhirnya dengan ban yang habis anginnya, motor tetap saya paksa melaju perhalan, dan posisi duduk saya semaju mungkin ke depan. Untung saya sendirin kala itu, ndhak mbonceng anak atau istri tercinta.

Masuk perkampugan lagi, Alhamdulillah ada kios kecil tambal ban yang masih menyala lampunya. Lampu “ruangan utama”-nya, bukan sekedar lampu kecil yang buat penerangan jalan gitu.

Pas saya berhenti celingukan nyari orangnya, mendadak seseorang berlari dari warung kopi kecil di seberang itu kios tambal ban. Rupanya si empunya kios lagi ngopi tipis-tipis di warung yang juga masih buka itu, demikian jelasnya. Entah sampe jam berapa itu warung buka, saya lupa menanyakan.

Apalagi konsumen yang dia sasar dengan buka sampe tengah malam itu: apakah traveler Kediri – Blitar yang sekali-dua emang masih ada yang melintas atau warga setempat yang sempatnya bercengkrama hanya kala malam setelah sesiangan sibuk bekerja di sawah, juga tak terlintas untuk saya tanyakan.

Saya hanya begitu exited mendapati jam segini, gelap malam yang sangat dingin karena kencangnya angin plus di tempat yang bukan jalur utama antar kota ini masih ada lapak tambal ban yang buka.

(Bahkan pas di kawasan Blitar yang dingin, jaket tak kuasa menahan merasukknya dingin, saya sempat merasakan hipotermia ringan: sekujur badan rasanya kayak dicelupkan ke air es sehingga geraham saya bergemelutuk kencang serta mulut mulai mengigau – tanda serangan hipotermia. Punggung rasanya super kaku serasa mau patah.)

Kata si Mas, kalo malem meski pintu kiosnya ditutup, dia masih bisa diketok pintu. Asal lampu teras kiosnya nyala, brarti dia ada di situ. Kalo mati, maka dia lagi keluar. Selain nambal ban, dia juga kerja serabutan: membersihkan kebun sampe mijat orang, dan ini justru kadang pas sorean, bukan malem-malem tentunya.

LANGSUNG sama si Mas motor saya digarap. Ban tidak kena paku, diagnosisnya adalah ban terlalu tua (emang udah empat tahun sih, meski kilometer motor serasa masih setahun-dua untuk pemakaian rata-rata orang), sehingga bodi ban sudah tidak lagi firm: ban kemungkinan meleyot kala saya menikung agak miring meski ndhak semiring Rossi, sehingga ban dalamnya kejepit dan sobek.

Hiks… Padahal itu ban dalam belom ada tambalannya sama sekali. Utuh tuh tuh, habis ganti kapan lalu (karena kena paku dan sempat terseret paksa juga sehingga sobek lebar dan tak bisa ditambal).

Karena ban dalamnya sobek malam itu, terpaksa ganti ban dalam. Untung si Mas punya ban dalam bekas, bekas beberaoa titik tambalan yang sama kustomer sebelumnya pilih “dibuang” dan diganti baru saja, sehingga si Mas bisa menawarkan ulang itu ban dengan harga sepertiga dari harga baru. Ban luar dan dalam ini masih bisa dipakai, asal tekanan anginnya selalu dijaga keras, jangan sampe berkurang.

AWALNYA saya sempat deg-degan, karena duit di dompet tinggal 22 RB, kembalian dari beli bensin yg 28 RB sebelumnya tadi. Pikir saya, umpama duit kurang, saya mau ninggal hape dan pergi nyari ATM dulu.

Duluuu juga pernah kayak gini soale, pas kena aspal berlobang, ban kejedhog keras sehingga ban dalam sobek. Jalan sekitar sekilo dan ketemu tambal ban, eh duit kurang 10 RB. Akhirnya saya ninggal hape dan pergi nyari ATM dulu.

Alhamdulillah pas mbayar malam itu, ban dalam bekasnya sama si Mas dihargai 15 RB dan ongkos bongkar pasangnya hanya 5 RB!

Hari gini duit 5 RB ternyata (masih) “ada” artinya.

Pas iseng saya nanyak, “Mas koq ongkos dan harga bannya murah banget, padahal ini tengah malam dan kayak saya gini kan ndhak ada pilihan lain?”

Dia dengan seenaknya njawab, “Buat apa mas saya jual (jasa dan barang) mahal-mahal. Segini aja udah cukup.”

Speechless saya.

Nanti kalo ganti ban, ini ban dalam bekas pingin saya hibahkan ke dia. Siapa tau, bukan berarti ini berharap lho, ada pemotor lain yang kena musibah ban dalamnya sobek di area situ, ini ban bisa dijadikan ban pengganti sementara.

Ya Allah, berilah si Mas itu sehat dan berkah-Mu. Kiosnya emang sangat kecil dan sederhana, tidak ada kompresor dan hanya pakai pompa tangan biasa – yang artinya dia tak bisa untuk mengerjakan ban mobil, juga tanpa ada peralatan tubeless (saya ketahui pas ngobrol sambil lalu), tapi hatinya besar.

Dia tidak mau “gila” memanfaatkan keadaan: keadaan di mana kustomernya tak punya pilihan lain dan mau tak mau harus membayar berapapun harga yang ada.

Si Mas ini benar-benar “gila”!

***

Ini contoh kecil dari banyak kejadian senada yang pernah saya alami. Sengaja saya memposting hal “sepele” ini agar saya bisa bersykur, bahwa masih ada manusia-manusia “miskin” materi tapi teramata sangat kaya jiwa.

Kebaikanlah yang menjadi oksigen bagi nafas peradaban ini. Konon kata Aesop, “No act of kindness, no matter how small, is ever wasted.”. Dengan kata lain, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (QS. 99:7)”

Dan catatan kecil ini juga ingin saya jadikan prasasti di hati saya, agar saya selalu mengingat kebaikan orang.

Maklum, kelakuan hati saya biasanya paling sulit untuk melupakan dan paling mudah untuk mengingat keburukan & kejelekan orang lain; namun paling gampang untuk melupakan dan paling sulit untuk mengingat budi & kebaikan orang. Saya ingin berusaha membalik ini. Mohon doakan dan restui saya.

Apa pengalaman Anda saat menemukan orang-orang “gila” serupa di atas?

– Freema Bapakne Rahman.

Pengkhianat Adalah Sesiapa Yang Tak Mau Memajukan Negeri Ini

Konon, hanya 1 dari 1000 (atau 10.000?) orang Indonesia -negeri mayoritas muslim dan konon dengan populasi muslim terbesar di dunia- yg punya minat baca (buku). Kayaknya, secara kasar ini satu desa atau bahkan kecamatan hanya seorang saja yg demen mbaca buku.

Sedih. Miris. Tragis.

Padahal secara literal konon ayat pertama Al Quran jelas-jelas: Iqra’ …! Bacalah …!

Entah kurangnya minat baca (buku) ini terjadi sejak dulu atau sejak datangnya era digital, Indonesia rasanya masih teramat sangat jauh dari kemajuan kalo minat baca di negeri ini masih belum meningkat. Infrastruktur: jalan tol, gedung sekolah megah, bandara internasional, dll. adalah hal yg kita butuhkan namun saya rasa sama sekali bukanlah tolok ukur kemajuan negeri ini.

Minat baca (buku) yg tinggi (otomatis biasanya akan diikuti dengan habit: bicaranya berisi analisis berdasar data/fakta/informasi, tidak membuang sampah sembarangan, bisa antri, dan beradab dalam berlalu lintas) adalah tolok ukur sejati kemajuan bangsa dan negara ini.

Deasy Ibune Rahman: yuk terus mbentengi si kecil agar terus rajin membaca: Iqra’ bismi rabbikaladhฤซ khalaq.

Dan tetap tebarkan inspirasi ke temen-temennya agar ikutan demen membaca. Meski susah karena orang tuanya kadang ada yg sama sekali “tak mendukung”: lebih demen beli pakaian atau henpon baru dll. yg bisa jadi ndhak terlalu dibutuhkan ketimbang beli buku.

Setidaknya, at least, mari selamatkan si kecil kita sendiri. Ini upaya terakhir yg bisa kita lakukan untuk bangsa, negara, agama, dan peradaban ini. Sebab, jika kita tak bersedia berusaha memajukan negeri ini: memajukan bangsa, negara, dan peradaban ini secara hakiki; rasanya kita telah menjadi pengkhianat atas tugas Allah pada kita: menjadi khalifah di muka bumi ini; untuk memimpin pergerakan diri kita guna bersama mengubah nasib: melanjutkan peradaban.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman