Persiapan 2019

Ada sebuah akun. Mengomentari kubu lawannya dengan “2019 masih jauh woy! Udah pencitraan aja!”

Pas saya becandai, saya diblok.

Sementara dari kubunya sendiri, tampaknya persiapan 2019 juga udah mulai dilakukan.

Bullshit, semuanya!

Ndhak usah tutup mata, 2017 ini, pada kenyataannya semua pihak udah siap-siap menyambut 2019. Dan sebenarnya bukan sejak 2017 ini, sejak hajatan Pilpres 2014 kemarin kelar, semuanya pasti akan langsung berkoordinasi untuk mulai menyambut 2019.

Dan kembali peristiwa 2014 akan terulang: kedua belah pihak akan adu kuat: adu kuat inkonsistensinya. Saya menggaransi ini terjadi, garansi untuk diri saya sendiri. Garansi tidak berlaku untuk Anda.

Inkonsistensi, dari KEDUA belah kubu. Alias semua kubu.

2019 nanti peta sementara akan mirip Pilkadal DKI kemarin. Kubu Jokowi akan semakin kuat. Dan kubu SBY/Prabowo akan pakai strategi mirip pilkadal DKI: ada calon utama dan ada calon untuk pemecah suara.

Kemarin itu, dengan kesadaran saking kuatnya Ahok kalo “dilawan sendirian”, alhasil dipasanglah Anies sebagai calon utama, dan Agus sebagai pemecah suara.

Berhasil!

Plus ditambah kampanye “di luar sistem”. Macam Ahok yg ditekan dengan cap penista agama. Yg bahkan suara Buya Syafi’i Ma’arif yg dengan tegas mengatakan bahwa apa yg dilakukan Ahok bukanlah penistaan agama, dengan segala cara akan dikesampingkan.

Dua faktor ini sukses mengantarkan Ahok terdepak dari kancah politik DKI. Dan setidaknya, langkahnya untuk terus tampil ke muka bumi perpolitikan Indonesia sukses terhambat.

Jokowi kayaknya akan dibeginikan juga, entah dengan cara apa. Pemanasan yg ada, Jokowi udah mulai dicap dengan stempel “musuh Islam”. Namun langkah ini agak sulit karena NU “menghambat”.

Biar bagaimana kekuatan NU masih sangat diperhitungkan di negri ini. Apa dhawuh kyai, masih menjadi langkah komando yg ajib untuk menggerakkan jutaan massa NU.

Maka tampaknya, kini NU yg musti dirongrong dari dalam. Entah ada yg disusupkan ke dalam NU atau dijebak untuk memecah NU atau dirongrong secara sistematis lain, saya kurang paham. Tapi langkah ini logis untuk diupayakan.

Atau sambil jalan, mungkin tim komando dan tim intelijen masing-masing kubu sudah menyiapkan dan merangkai beberapa langkah strategis maupun langkah taktis lain demi saling menjegal lawan. Mustahil tidak.

Semuanya demi politik.

Semuanya adalah politik.

Dan warganet terus bersorak riuh tempik-sorai menyatakan semuanya sebagai kebenaran, keadilan, apapunlah namanya.

Dan inilah cerminan politik negeri ini, di mata pandang saya pribadi. Tidak berlaku untuk Anda.

***

MAKA, saya pun juga siap-siap dengan 2019.

Kini saya mulai meng-unfollow fanpage atau grouppage yg konon bilangnya keagamaan atau kebangsaan tapi di dalamnya berisi politik. Entah kepada kubu siapapun dia berpihak. Karena selama dia berpihak dan tidak universal, saya pribadi menganggapnya bukan kebangsaan dan bukan keagamaan.

Kalo dari kaum kebangsaan masih “enteng” buat dijawab umpama saya di-counter sama mereka. Kalo dari kaum keagamaan, ini yg repot. Sebab dari kemarin hingga detik ini, cara untuk meng-counter adalah sama sekali ndhak pake otak, sesuatu yg dianugerahkan-Nya untuk kita gunakan.

Cara mereka meng-counter biasanya pake stempel. Barangsiapa tidak sama dengan pandangan mereka, maka kita adalah kafir, sesat, laknat, liberal, sekuler, dll. Atau kalo kalah opini, pasti pake senjata jauhi perdebatan kusir. Padahal sesungguhnya ini adu otak, bukan debat kusir tanpa dasar tanpa logika.

Yawsudahlah.

***

SELAIN fanpage atau groupage, yg sudah lama saya lakukan sejak tahun-tahun silam adalah me-remove akun-akun sektarian begitu. Bukan karena saya benci mereka secara perorangan, melainkan murni karena saya ndhak ingin “terlibat”, meskipun cuman membaca posting statusnya, dalam perkubuan ke mana saja.

Bukan karena saya benci mereka. Sama sekali bukan. Saya hanya ndhak kuat mengisi waktu dengan membaca gituan. Maka lebih adil dan bijak, dalam sudut pandang saya sendiri, jika akun-akun demikian saya remove.

Saya akui, saya dalam konteks ini jauh dari kehebatan istri saya yg cerewet minta ampun itu. Istriku adalah sedikit dari kaum istri yg cerewetnya level 30 kalo di ukuran Boncabe.

Saya lagi geletakan mau berangkat kopdar ama temen-temen aja, dia udah berkali-kali nanyak. “Kamu ndhak kopdar? Ndhak jadi berangkat tho?”

Padahal itu kopdar bukanlah sekolah. Mau saya kopdar atau ndhak, ndhak ada urusannya dengan naik-turunnya keimanan, kondisi negara, apalagi stabilitas harga pangan.

Plus saya sedang ndhak janjian dengan siapa-siapa. Jadi kalo saya jadi kopdar, itu asyik karena menambah silaturahmi. Kalo saya ndhak jadi kopdar, itu juga asyik karena saya bisa istirahat di rumah.

Eh pas saya males njawab, malah saya jadinya yg salah, “Diajak ngomong gitu doang diem terus!”

Bayangkan coba, kuping lelaki mana yg ndhak illfeel dengan gituan? Dan apapun alasan saya, laki-laki pasti akan salah di mata perempuan. Pasti!

Ini baru satu contoh. Yg ndhak saya ingat-ingat mungkin bakalan ndhak cukup seharian atau semingguan saya ketikkan di sini. Nyaris saban hari bray! šŸ˜¦ Hiks…

Tapi saya ndhak ngingat-ngingat. Ini bukan sekedar masalah saya mencintainya sepenuh hati sehingga ndhak mau ngingat-ngingat yg ginian. Ini kayaknya murni cuman karena saya laki-laki yg ndhak pernah bisa ngingat-ngingat hal ginian.

Bahkan mbawa handuk pas mandi aja sering lupa. Alhasil saya teriak minta tolong istri ngambilkan handuk. Dan alhasil kembali kuping ini kena semprot. “Udah berkali-kali mandi ketinggalan handuk, masih aja terus lupa!”

Lucunya, dia tetap ngambilkan handuk ke saya bray! Begitu terus berulang-ulang tiap kali saya lupa mbawa handuk pas mandi. Eits bukan cuman saya, juga si kecil.

Dan kasihan dia, kecil-kecil udah kena semprot ibunya. “Kamu itu jan persis bapakmu!”

Kadang si kecil bingung, kadang dia meringis. Mungkin batin dia, “Apa sih salahku?”

TAPI dia istriku itu hebat. Saya cek di dinding(ratapan) alias wall FB-nya, ada dua kubu politik yg rajib banget update status. Timeline-nya malah sepertinya berisi 80% politis dan 20% kehidupan universal ~> itu pun masih dibagi antara pendidikan anak dan kucing sama kuliner dan sedikit traveling.

Atau kalo angkanya kegedhean, baiklah 60% politis dan 40% kehidupan universal. Atau baiklah, saya ngelihatnya pas momen tertentu barangkali, jadi ini ndhak mewakili kondisi keseluruhan.

(Tapi kayaknya “momen tertentu” gitu koq sering banget ya di FB gitu? Kayak selalu ada terus gitu…)

Tapi pas saya nanyak, kenapa ini akun yg berkubu-kubuan ndhak kamu unfollow aja?

Dia bilang, “Mereka semua teman saya, dan kebetulan saya bisa cuek mendapati posting-posting mereka.”

Hebat! Suaminya dicereweti, teman-temannya malah dicueki.

Harusnya kalo dia sayang sama saya suaminya ini, suaminya dimanja-manja, dan cerewetilah itu temen-temenmu yg menjadikan FB sebagai ruang pubik bersama sebagai ajang kampanye masing-masing kubu.

Entahlah.

Saya ndhak mau melanjutkan posting ini.

Abis ini telingaku pasti kena semprot lagi.

Demikian dari kemarin, hari ini, hingga seterusnya.

Hiks… Nasib…

“Lho Mas, perempuan itu cerewet kepada orang yg disayanginya, itu karena pertanda cinta.”

Baiklah, ini cinta.

Baiklah. Saya juga mencintainya dari kemarin, hari ini, hingga seterusnya.

Tapi tetap saja, kuping ini, hiks…

– Freema Bapakne Rahman.

Pedagang “Gila”

Lumrahnya pedagang adalah menyembunyikan berapa harga modal dagangannya, dan mengambil keuntungan saat menjualnya. Berapa keuntungan yang diambil? Era kini sangat beragam patokannya. Sebab perdagangan bukan lagi “jual-beli” melainkan sudah menghitung oportunitas; bisa oportunitas tempat ataupun waktu. Bahasa kasarnya: memanfaatkan keadaan.

Selain oportunitas tempat dan waktu, modal (capital) telah menjadi kekuatan perdagangan yang sukses melengserkan kekuatan sumber daya ((human)resources).

Di tengah “lumrahnya” perdagangan yang sejak lama telah menjadikan oportunitas tempat dan waktu sebagai tambahan faktor nilai jual, ternyata di sudut-sudut dunia ini masih tersimpan mereka-mereka yang berdagang “melawan arus”.

Di tengah kejamakan perdagangan yang sangat menjunjung tinggi hawa kapitalistis ini, masih tersimpan segelintir manusia yang mendudukkan perdagangan sebagai sekedar “jual beli” semata.

Berikut diantaranya yang kami temui.

Pak Nan Jus22

Sebuah warung jus buah plus kopi, mie instan, dan beragam kudapan untuk teman cangkrukan ini terletak di ruko nomer 22 Stadion Brawijaya, Kediri. Tiap malam, khususnya akhir pekan, tempat ini pasti ramai dijadikan tempat nongkrong warga klub otomotif Yang biasa kopdar di parkiran di depannya. Anak otomotif di Kediri bisa dibilang pasti mengenalnya.

Pak Nan dikenal ramah. Bisa bergaul dengan segala kalangan. Plus termasuk “santri gaul”. Dulu doi sempat menyimpan seutas kisah kelam dalam sepenggal waktu perjalanan hidupnya, yang saya tak ingin menceritakannya di sini.

Saya menganggapnya “gila” karena pernah mengalami beberapa kejadian, namun satu yang saya ingat; suatu malam saya ngopi dan mengudap beberapa item kudapan. Pas kelar nongkrong dan mau mbayar total yang cuman beberapa ribu, saya hanya punya uang 100 rb di dompet. Abis ngambil ATM soale.

Kebetulan waktu itu saya termasuk pengunjung berisan terakhir. Karena mau tutup, melihat besaran duit yang saya sodorkan, Pak Nan tampaknya males buat nyarikan kembalian di laci uangnya.

“Besok aja kalo ke sini lagi!”

Tolak dia sambl ngusir saya agar segera pulang, maksudnya saya ndhak usah ngeyel mbayar malem itu. Soalnya doi (lebih memilih) mau beres-beres nutup warung (ketimbang ngacak-ngacak laci duitnya yang emang ndhak beraturan buat nyari kembalian ke saya).

SEKIAN hari lamanya saya ndhak sempat ke situ. Pas ke situ lagi, saya udah lupa kemarin berapa nominal yang musti saya bayarkan. Dan doi juga lupa!

“Gila” niy orang! Ndhak pake catatan, ndhak ngingat-ngingat pula.

Akhirnya saya memeras otak mengingat-ngingat minuman dan cemilan-cemilan yang saya maem. Pas saya sodornya hasil ingatan keras saya, Pak Nan langsung mengiyakan begitu saja.

Pas iseng saya ngobrol dengannya, koq “seenaknya” menjalankan usaha, apa ndhak takut rugi?

Dengan “seenaknya” pula dia bilang, ada Gusti Allah Yang Maha Tahu. Hanya itu kalimatnya. Membuat saya merenung alih-alih bertanya lebih panjang.

Mas Ma’ruf, Tukang Bakso

Dulunya doi adalah (salah satu) tukang bakso keliling di kampung kami. Ikut inang asuhnya (yang sekaligus juragannya), tetangga sebelah rumah (yang saat ini baik si Bapak maupun si Ibu tetangga kami tsb. telah almarhum).

Cara jualannya seenaknya. Kalo yang mbeli warga kampung yang udah akrab dengannya, dia males kalo disuruh ngeladeni. Yang mbeli disuruh ngambil bakso sendiri. Duitnya dia suruh naruh di (dan kembaliannya diambil sendiri dari) kotak duit di rombong baksonya.

Dianya asyik leyeh-leyeh sambil mainan hape atau gitaran. Kadang dia bawa gitar sendiri sambil keliling, kadang main gitarnya anak-anak nongkrong kampung sini.

Saya sempat iseng ngetes dia mbayar pake duit palsu, saya nge-print duit sendiri tapi saya tandai kalo itu duit mainan. Sengaja duitnya saya sodorkan pas dia melayani pembeli yang musti dia layani. Biasanya orang tua, anak-anak, atau orang lain.

Pas nerima duit palsu dari saya, dia sama sekali ndhak ngecek, bahkan melihat (memperhatikan) duit itu pun ndhak. Dia cuman melihat sambil lalu, sambil menerima maksudnya, hanya untuk sekedar mengetahui nominal duit itu berapa. Langsung dia masukkan laci/kotak duitnya lantas ngasihkan kembalian.

Selesai transaksi, saya baru minta kembai duit palsu yang saya berikan dan memberikan duit asli. Dia tampak bingung. Dan malah semakin bingung waktu saya jelaskan kalo duit yang saya kasihkan itu duit palsu.

Hati kecil saya meyakini, dia tidak membatin “kenapa ya saya koq ndhak waspada sama uang palsu.” Atau “duh apesnya saya koq kena/menerima duit palsu.”

Saya yakin dia lebih membatin, “Koq ada ya orang tega (baca: menghina dirinya sendiri dengan) membayar dengan uang palsu?”

Keyakinan batin kecil ini berdasarkan keseharian saya ngobrol dengan si Ma’ruf. Banyak cerita dan bukti kisahnya yang mengerucutkan bahwa semacam itulah kondisi batiniah Ma’ruf kala mendapatkan perlakuan “buruk” dari orang lain.

INI jelas kasta batin yang super tinggi yang bisa diraih manusia: lebih merasa kasihan kepada sesiapa yang berbuat munkar alih-alih marah atau murka. Karena sesiapa yang berbuat munkar, sesungguhya mereka telah menjerumuskan dan mencelakai dirinya sendiri ketimbang yang tampaknya mencelakai orang lain. Tanpa harus kita hukum, orang sudah akan terhukum sendiri oleh karena perbuatannya sendiri.

“Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. 43:76) “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. 42:30)

SESUAI namanya, Ma’ruf. Dia hanya mengenal dan sejauh yang saya tahu dia hanya melakukan kebaikan dan kesehariannya, tanpa harus kehilangan kegaulan dan kesantriannya.

Sudah lama Ma’ruf tidak tinggal di kampung kami lagi sejak dia menikah dan berpindah ke kecamatan yang jauh dari tempat kami, namun masih satu kabupaten.

Semoga Allah berikan kesehatan senantiasa kepadanya dan keluarganya. Aamiin.

Tukang Tambal Ban

Ini kejadian masih terbilang barusan sebelum saya ngetik posting ini.

Nyaris tengah malam pas saya bermotor dalam perjalanan pulang dari Blitar. Jalur yang saya lalui melewati kawasan lereng Gunung Kelud, jalan pintas Kediri – Blitar, dari Kediri langsung mengarah ke tenggara ke arah Blitar, yang sebenarnya waktu tempuhnya kadang malah lebih lama karena kondisi jalanannya; ketimbang melewati jalur normal yang agak memutar: karena harus mengarah lurus ke selatan dulu kemudian berbelok lurus ke timur.

Dari total sekisar 65 km, ini sudah 4/5 perjalanan sebelum nyampai kota Kediri/rumah. Di malam yang sepi dan berangin kencang itu, mendadak ban saya gembos pas habis sebuah perkampungan dan memasuki area “bulak” atau area yang di kiri-kanannya hanya persawahan.

Mau mundur ke balakang ke kampung yang barusan saya lewati, perasaan rumah warga udah pada sepi, tak ada tambal ban yang terlihat (buka) tadi.

Akhirnya dengan ban yang habis anginnya, motor tetap saya paksa melaju perhalan, dan posisi duduk saya semaju mungkin ke depan. Untung saya sendirin kala itu, ndhak mbonceng anak atau istri tercinta.

Masuk perkampugan lagi, Alhamdulillah ada kios kecil tambal ban yang masih menyala lampunya. Lampu “ruangan utama”-nya, bukan sekedar lampu kecil yang buat penerangan jalan gitu.

Pas saya berhenti celingukan nyari orangnya, mendadak seseorang berlari dari warung kopi kecil di seberang itu kios tambal ban. Rupanya si empunya kios lagi ngopi tipis-tipis di warung yang juga masih buka itu, demikian jelasnya. Entah sampe jam berapa itu warung buka, saya lupa menanyakan.

Apalagi konsumen yang dia sasar dengan buka sampe tengah malam itu: apakah traveler Kediri – Blitar yang sekali-dua emang masih ada yang melintas atau warga setempat yang sempatnya bercengkrama hanya kala malam setelah sesiangan sibuk bekerja di sawah, juga tak terlintas untuk saya tanyakan.

Saya hanya begitu exited mendapati jam segini, gelap malam yang sangat dingin karena kencangnya angin plus di tempat yang bukan jalur utama antar kota ini masih ada lapak tambal ban yang buka.

(Bahkan pas di kawasan Blitar yang dingin, jaket tak kuasa menahan merasukknya dingin, saya sempat merasakan hipotermia ringan: sekujur badan rasanya kayak dicelupkan ke air es sehingga geraham saya bergemelutuk kencang serta mulut mulai mengigau – tanda serangan hipotermia. Punggung rasanya super kaku serasa mau patah.)

Kata si Mas, kalo malem meski pintu kiosnya ditutup, dia masih bisa diketok pintu. Asal lampu teras kiosnya nyala, brarti dia ada di situ. Kalo mati, maka dia lagi keluar. Selain nambal ban, dia juga kerja serabutan: membersihkan kebun sampe mijat orang, dan ini justru kadang pas sorean, bukan malem-malem tentunya.

LANGSUNG sama si Mas motor saya digarap. Ban tidak kena paku, diagnosisnya adalah ban terlalu tua (emang udah empat tahun sih, meski kilometer motor serasa masih setahun-dua untuk pemakaian rata-rata orang), sehingga bodi ban sudah tidak lagi firm: ban kemungkinan meleyot kala saya menikung agak miring meski ndhak semiring Rossi, sehingga ban dalamnya kejepit dan sobek.

Hiks… Padahal itu ban dalam belom ada tambalannya sama sekali. Utuh tuh tuh, habis ganti kapan lalu (karena kena paku dan sempat terseret paksa juga sehingga sobek lebar dan tak bisa ditambal).

Karena ban dalamnya sobek malam itu, terpaksa ganti ban dalam. Untung si Mas punya ban dalam bekas, bekas beberaoa titik tambalan yang sama kustomer sebelumnya pilih “dibuang” dan diganti baru saja, sehingga si Mas bisa menawarkan ulang itu ban dengan harga sepertiga dari harga baru. Ban luar dan dalam ini masih bisa dipakai, asal tekanan anginnya selalu dijaga keras, jangan sampe berkurang.

AWALNYA saya sempat deg-degan, karena duit di dompet tinggal 22 RB, kembalian dari beli bensin yg 28 RB sebelumnya tadi. Pikir saya, umpama duit kurang, saya mau ninggal hape dan pergi nyari ATM dulu.

Duluuu juga pernah kayak gini soale, pas kena aspal berlobang, ban kejedhog keras sehingga ban dalam sobek. Jalan sekitar sekilo dan ketemu tambal ban, eh duit kurang 10 RB. Akhirnya saya ninggal hape dan pergi nyari ATM dulu.

Alhamdulillah pas mbayar malam itu, ban dalam bekasnya sama si Mas dihargai 15 RB dan ongkos bongkar pasangnya hanya 5 RB!

Hari gini duit 5 RB ternyata (masih) “ada” artinya.

Pas iseng saya nanyak, “Mas koq ongkos dan harga bannya murah banget, padahal ini tengah malam dan kayak saya gini kan ndhak ada pilihan lain?”

Dia dengan seenaknya njawab, “Buat apa mas saya jual (jasa dan barang) mahal-mahal. Segini aja udah cukup.”

Speechless saya.

Nanti kalo ganti ban, ini ban dalam bekas pingin saya hibahkan ke dia. Siapa tau, bukan berarti ini berharap lho, ada pemotor lain yang kena musibah ban dalamnya sobek di area situ, ini ban bisa dijadikan ban pengganti sementara.

Ya Allah, berilah si Mas itu sehat dan berkah-Mu. Kiosnya emang sangat kecil dan sederhana, tidak ada kompresor dan hanya pakai pompa tangan biasa – yang artinya dia tak bisa untuk mengerjakan ban mobil, juga tanpa ada peralatan tubeless (saya ketahui pas ngobrol sambil lalu), tapi hatinya besar.

Dia tidak mau “gila” memanfaatkan keadaan: keadaan di mana kustomernya tak punya pilihan lain dan mau tak mau harus membayar berapapun harga yang ada.

Si Mas ini benar-benar “gila”!

***

Ini contoh kecil dari banyak kejadian senada yang pernah saya alami. Sengaja saya memposting hal “sepele” ini agar saya bisa bersykur, bahwa masih ada manusia-manusia “miskin” materi tapi teramata sangat kaya jiwa.

Kebaikanlah yang menjadi oksigen bagi nafas peradaban ini. Konon kata Aesop, “No act of kindness, no matter how small, is ever wasted.”. Dengan kata lain, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (QS. 99:7)”

Dan catatan kecil ini juga ingin saya jadikan prasasti di hati saya, agar saya selalu mengingat kebaikan orang.

Maklum, kelakuan hati saya biasanya paling sulit untuk melupakan dan paling mudah untuk mengingat keburukan & kejelekan orang lain; namun paling gampang untuk melupakan dan paling sulit untuk mengingat budi & kebaikan orang. Saya ingin berusaha membalik ini. Mohon doakan dan restui saya.

Apa pengalaman Anda saat menemukan orang-orang “gila” serupa di atas?

– Freema Bapakne Rahman.

Pengkhianat Adalah Sesiapa Yang Tak Mau Memajukan Negeri Ini

Konon, hanya 1 dari 1000 (atau 10.000?) orang Indonesia -negeri mayoritas muslim dan konon dengan populasi muslim terbesar di dunia- yg punya minat baca (buku). Kayaknya, secara kasar ini satu desa atau bahkan kecamatan hanya seorang saja yg demen mbaca buku.

Sedih. Miris. Tragis.

Padahal secara literal konon ayat pertama Al Quran jelas-jelas: Iqra’ …! Bacalah …!

Entah kurangnya minat baca (buku) ini terjadi sejak dulu atau sejak datangnya era digital, Indonesia rasanya masih teramat sangat jauh dari kemajuan kalo minat baca di negeri ini masih belum meningkat. Infrastruktur: jalan tol, gedung sekolah megah, bandara internasional, dll. adalah hal yg kita butuhkan namun saya rasa sama sekali bukanlah tolok ukur kemajuan negeri ini.

Minat baca (buku) yg tinggi (otomatis biasanya akan diikuti dengan habit: bicaranya berisi analisis berdasar data/fakta/informasi, tidak membuang sampah sembarangan, bisa antri, dan beradab dalam berlalu lintas) adalah tolok ukur sejati kemajuan bangsa dan negara ini.

Deasy Ibune Rahman: yuk terus mbentengi si kecil agar terus rajin membaca: Iqra’ bismi rabbikaladhÄ« khalaq.

Dan tetap tebarkan inspirasi ke temen-temennya agar ikutan demen membaca. Meski susah karena orang tuanya kadang ada yg sama sekali “tak mendukung”: lebih demen beli pakaian atau henpon baru dll. yg bisa jadi ndhak terlalu dibutuhkan ketimbang beli buku.

Setidaknya, at least, mari selamatkan si kecil kita sendiri. Ini upaya terakhir yg bisa kita lakukan untuk bangsa, negara, agama, dan peradaban ini. Sebab, jika kita tak bersedia berusaha memajukan negeri ini: memajukan bangsa, negara, dan peradaban ini secara hakiki; rasanya kita telah menjadi pengkhianat atas tugas Allah pada kita: menjadi khalifah di muka bumi ini; untuk memimpin pergerakan diri kita guna bersama mengubah nasib: melanjutkan peradaban.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman

Jauh Herbal Dari Hembing

Ibunda saya perawat, tapi saya & ibunda sendiri sebenarnya sangat tidak suka akrab dengan obat.

Kalo sakit ringan (demam, pilek, pening, dll.) sama ibu malah suka disuruh minum “konsentrat” buah, makan banyak, air putih banyak, trus tidur. Atau metode “penanganan” lain yg sesuai dg diagnosis ibu.

Di rumah ibunda saya juga rutin bikin rebusan ramuan herbal, biasanya rempah-rempah (empon-empon) dan beberapa akar atau kulit dan daun tanaman. Terkadang beli, seringnya metik/ngambil dari hasil pekarangan sendiri.

Kami jga akrab dengan nama-nama besar pabrik jamu: Jago, Sido Muncul, dll. Atau pabrik jamu + bahan perawatan badan: Mustika Ratu & Sariayu.

Kalo tulang keseleo atau otot melintir, kami juga punya langganan “pakar” pijat tradisional yang bertahun-tahun menjadi solusi kami untuk menangani case ini, sedikitpun tanpa ada campur tangan metode medis/farmasi modern!

Dan saya juga takut banget disuntik.

Tapi bukan berarti kami anti medis/dokter/farmasi. Saat alm, bapanda saya stroke dulu, selain pengobatan medis kedokteran, beliau juga diupayakan dengan metode akupuntur.

(Kami sudah berusaha sekuat tenaga, namun Allah lebih sayang beliau dan memanggilnya pulang. Meski kami semua ikhlas sepenuhnya, namun tetap saja kepergiannya terasa cepat bagi kami.)

Di kotak obat di rumah juga tersedia mulai parasetamol dan beberapa obat medis lainnya.

Semuanya berpadu dalam dunia kami.

***

Intinya, medis maupun herbal, dalam sudut pandang kami tebagi menjadi dua kategori: pencegahan dan pengobatan. Kebanyakan ramuan herbal kalo kami nilai buat pencegahan, sementara medis buat pengobatan.

Pencegahan adalah sesuatu yg strategis, gradual, dan panjang, pengobatan adalah tindakan taktis, cepat, dan (harus) pendek. Mustinya jangan dibalik.

Kami kurang tahu jikamana ada metode herbal untuk pengobatan yg sifatnya taktis, cepat, dan pendek.

Bacaan kami sekeluarga juga Professor Hembing. Wikipedianya obat-obatan tanaman/herbal.

Cuman, fenomena belakangan ini, memang banyak pengobatan herbal di mana-mana. Cuman kami ndhak tau, apakah mereka sekelas Professor Hembing atau jauh herbal dari Hembing.

Dan saya juga ndhak tau Jeng Ana ini yg kayak gimana. Apakah herbalnya emang top cuman omongan medisnya itu yg super duper ngawur kalo kata artikel, atau emang herbalnya cuman gaya hidup aja plus omongan medisnya sama sekali ndhak berdasar kompetensi keilmuan.

Mari kita selamatkan dunia herbal dari oportunis yang tak jelas. Mari kita menyelamatkan diri dari herbalis oportunis.

Ajakan ini khususon buat diri kami sendiri.

Dunia sekarang sepertinya emang semakin rancu, absurd, dan nisbi. Kita harus punya prinsip dan pegangan yang jelas.

Wallahualambisawab.

– Freema HW,
“H”-nya bukan herbal.

Berbeda Itu Haram(?)

Ada satu tokoh publik. Posting statuta-nya saya komeni berseberangan. Eh saya diblokir.

Postingnya sempat saya screenshoot untungnya, tapi saya save pribadi aja, tidak untuk publikasi terbuka.

Well…

Terutama sejak pilpres 2014 kemarin, saya memilih tidak berkubu. Saya mencoba memposisikan diri memandang segala sesuatu secara seobyektif dan senetral mungkin.

Alhasil, isi pikir saya bisa menghujat sekaligus membela satu hal atau hal yg lain, satu pihak atau pihak yg lain, satu kubu atau kubu yg lain.

Saya hanya meyakini, tak ada kebenaran atau kesalahan mutlak di (makhluk yg ada di) dunia ini.

Pilihan sikap pribadi saya adalah membela negara dan bangsa ini sekuat tenaga sebisa mungkin sesuai kapasitas dan kemampuan saya.

Membela negara (dan pemerintahan), tak berarti pasti membela (pihak) pemerintahnya.

Namun sayang,

di lapangan ada pihak yg “memaksa” bahwa kita harus berpijak hanya di salah satu dari dua kondisi saja: harus terus membela (pihak) pemerintah atau harus terus anti (pihak) pemerintah.

Kalo saya uraikan secara asal, mencuplik lalu-lintas posting di dunia maya, ada empat golongan warga di negeri ini:

– Pro demo berjilid dan pro presiden. Saya ndhak tau golongan ini ada apa ndhak.

– Pro demo berjilid dan anti presiden. Golongan ini teramat jelas keberadaannya.

– Anti demo berjilid dan pro presiden. Golongan ini teramat jelas keberadaannya.

– Anti demo berjilid dan anti presiden. Golongan ini samar terlihat namun saya rasakan ada.

Dan mungkin, mungkin saja, saya masuk golongan yg terakhir itu tadi. Tapi bukan berarti saya menggolongkan ini. Mungkin saja, mungkin, sikap pribadi saya/kami senada, sedefinisi, serupa, mirip, atau seperti mereka. Mungkin.

APAPUN golongan yg ada, intinya bangsa ini telah sukses menguatkan potensi SARA: ber(antar)golongan.

So, adu otak & pemikiran yg mengedepankan kerukuran sepertinya tidak lagi diperlukan era sekarang ini.

Siapa berbeda, maka mereka adalah golongan lain. Siapa berbeda, maka mereka pasti salah dan kita yang benar. Kalo mereka benar dan bukan dari golongan kita, maka harus jadi salah. Dan siapa salah kalo itu dari golongan kita, maka harus dibenar(-benar)kan.

Golongan adalah segalanya. Golongan adalah tuhan.

Berbeda itu telah haram(?)

– Freema HW,
golong-golong.

Plagiasi Blogger Reproduksi: Yang Penting SEO, Persetan Etika

Ada anak remaja meng-copas posting orang lain, dia didakwa secara sosial melakukan plagiasi. Si remaja mengaku bersalah dan udah minta maaf, dan yg punya tulisan awal pun juga memposting uraian tak berkeberatan sama sekali.

Akhirnya kasus selesai.

Meski demikian, plagiasi tentu bukan hal yg legal, layak, etis, atau patut -apatah nama atau istilahnya- untuk dilanjutkan, diteruskan, apalagi dikembangkan dan dibiarkan begitu saja menjadi budaya.

Tetapi bukan sebuah plagiasi jika kita meramu beberapa ide dari beragam sumber dan memformulasikannya menjadi sebuah ide baru yg (lebih) genuine. Mungkin akan panjang kalo kita jlentrehkan detail dan jabaran konsepsinya. Tapi saya yakin kita semua bisa memahami, setidaknya memahfumi, konsepsi ini.

Cuman….

Saya jadi mikir…

Itu bloger-bloger yg kerjaannya demenannya ngereproduksi tulisan dari laman-laman warta berita yg mustinya bisa tinggal di-share gitu doang;

apa ndhak lebih parah dari plagiasi tho?

Pewarta di seberang sono jungkir balik nyari berita, editor kerja keras meramu tulisan, tim teknis produksi berpacu melawan waktu menyajikan isi dan tampilan paling cakep;

eh di sebelah sini blogger-blogger cuman copas, udah kalimat dikit, dan menjadikan laman asli tulisan seolah sebagai narasumber ketimbang pemilik asli postingan;

dengan sadar dan sengaja dan dilakukan berulang-ulang,

mungkin bukan plagiasi; tapi apa namanya kelakuan (menjijikkan) kayak gini?

KALO memang ndhak sempat untuk memproduksi berita & informasi sendiri, mbok jangan mereproduksi. Nulis opini dengan dialektika yg matang dan analisis yg dalam justru akan membuat Anda-Anda para blogger jadi disegani di dunia persilatan ketikan.

Tapi memang pasar tulisan tajam itu jauh dari hits dan adsense.

Tulisan gosip: baik agama, politik, sosial, teknologi, bahkan sampe masakan (saya ndhak enak mau bilang ghibah) yang kebanyakan micin… sori, bumbu tulisan mungkin akan jauh lebih laku diklik orang.

Dan biar keren, polanya klasik tapi permanen (busuknya): pengantar tiga paragraf, isi satu paragraf, penutup satu paragraf. Dah panjang banget itu postingan, kayak diketik sama profesional di bidangnya.

Yang penting SEO. Persetan etika. Iya ndhak?

– Freemlagiat HW

*Siapa pemilik foto di laman-laman posting blog saya ini, klik kanan dan lihat gambar aja. Di situ link/tautan aslinya koq!

Asal Kita Lahir

Saat kita semua masih kecil, inget ndhak ortu kita bilangnya kita lahir dari mana? Dari pantat? Dari pintu di perut? Atau dibuat dari adonan tepung?

Masih mending kalian semua yg dulu kecilnya diboongi kalo kalian itu lahir dari pantatlah, dari pintu di perutlah, atau dibuat dari adonan.

Nah ortu ane bilang, ane ini asalnya dari kali Brantas. Ditemu sama mereka berdua. Trus dipiara. Meong kali ya?

Sampe sekarang ane masih dendam sama ortu kalo ingat cerita ini. Pingin ane dudukkan mereka berdua terus ane semprot abis-abisan.

Tapi Bapak udah duluan berpulang kepada-Nya. Kini saya malah sibuk mendoakannya. Dan menjaga emak yg kini sayang banget sama cucu-cucunya.

Subhanallah wallahuakbar.

– Freema KB (Kali Brantas)