Pertama kali belajar nyetir manual.

Minjem mobilnya Om @ferryshuan buat belajaran thole menjalankan mobil manual.

Ini pertama kalinya AleefRahman nyoba mobil manual.

Sekali mati mesin, tiga kali gas ketinggian, habis itu bisa lancar.

Maju mundur – maju mundur aja dulu. Yang penting bisa sinkron dan smooth dulu antara kopling vs pedas gasnya.

Kalo matic, AleefRahman udah lancar dan berani kami ajak ke jalan umum, namun pada lingkup yang terbatas dan aman serta pastinya kami dampingi dengan pengawasan ketat.


Terima kasih telah mengkhawatirkan kami, yang pasti si kecil tidak akan kami biarkan begitu saja naik motor -apalagi bawa mobil- sendiri saat belum cukup umur hukum seperti kebanyakan anak-anak yang diijinkan oleh orang tuanya; yang sungguh miris kita lihat itu.

Untuk melepasnya, jelas kami harus menunggu dia pada cukup umur hukum. Namun sekali lagi: untuk pembelajaran, kami punya prinsip bahwa semua harus kami ajarkan ke dia sejak dini. Termasuk mengendarai mobil maupun motor.

Meski semua bidang apa ahli spesifiknya, si kecil Aleef Rahman telah kami program untuk menerima beberapa “pelatihan”, seperti:

  • Mengemudi – ibaratkanlah ini laksana menunggang kuda, karena jaman sekarang kita berkendaranya pakai mobil/motor; termasuk prosedur pengecekan sebelum berkendara: tekanan ban, lampu-lampu dan indikator, segala fluida, dll.
  • Menggergaji; memaku dan memalu; dan membelah bambu.
  • Menyolder; merangkai ikatan kabel sederhana, misalnya mengganti colokan listrik.
  • Menggunakan dan mengenakan perangkat keselamatan: sarung tangan, kaca mata keselamatan, sepatu keselamatan, dll.
  • Merawat dan membersihkan fisik perangat komputasi dan komunikasi, termasuk memperbarui (update) perangkat lunaknya..
  • Berenang & bela diri.
  • Memasak makanan pokok dan menyeduh air/membuat minuman hangat (teh/kopi/susu).
  • Merapikan selimut dan tempat tidurnya.
  • Mengikat simpul dasi.
  • Menyapu lantai (rumah/kamarnya).
  • Mencuci peralatan makan, mencuci bajunya sendiri.
  • Menangkap ayam, menyembelih, dan mencabuti bulu-bulunya.
  • Kemampuan seni sesuai minat/bakatnya. Saat ini dia tertarik dengan karawitan.

Semua bertahap sesuai perkembangan usia (baca: kematangan psikologis)nya, dan kami memilih serta memilah mana yang harus kami dahulukan dan segerakan sejak dini.

Selain kemampuan teknis tersebut, kami senantiasa menekankan agar dia selalu ingat tiga frasa sosial ini: permisi/mohon maaf, minta tolong, dan terima kasih.

Mohon arahan, bimbingan, masukan, dan dukungannya senantiasa.

  • Deasy Ibune Rahman
Advertisements

Membaca.

Membaca = ,emyelami dan memhami sesuatu, memang ngeri efeknya. Orang bisa keracunan bmw gegara membaca blog sesat ini. Sebaliknya, orang bisa ‘sinting’ gegara kebanyakan membaca anny arrow misalnya.

Membaca jadi seperti pistol, tinggal mau diinjeksikan ke polisi atau penjahat.

Mungkin itulah kenapa Soekarno, Hitler, dll dll dll hobi menulis, untuk mengubah dunia dengan kekuatan membaca.

Tinggal bikin bacaan yang baik, fainsya allah dunia bisa berubah lebih baik.

Dan itulah rasanya, kenapa semua kitab suci dijadikan buku bacaan.

So, kalo dibalik: untuk memburuk dunia, maka bukan dengan membombardir bacaan yang jelek. Karena itu lebih mudah diabaikan oleh pembacanya.

Untuk memperburuk dunia, cukup dengan menghilangkan kemauan orang, habit masyarakat, dan segala daya dukung untuk membuat orang membaca.

Inilah kenapa mungkin negara maju bisa maju, karena habit membaca mereka tinggi.

Dan inilah mungkin kenapa Indonesia kayak gini-gini aja, itu karena kita semua juga rasanya: males membaca.

Selamat buat yg bernasib “apes” telah kesasar ke blog laknat ini. Selamat bagi yang telah bernasib “naas” kecebur miara bmw tuwa, khususon gegara blog ini. Selamat menikmati menjadi manusia terasing di tengah kejamakan jumud di Indonesia sini.

Itu karena “salah” Anda: membaca (blog sesat ini).

Mungkin demikian.

Mungkin.

– Freema Bapakne Rahman

Menjadi petani.

Kami pernah: lombokku sesawah harus dibabat karena pepes semua dihajar cuaca.

Udah gedhe, tapi belom sempat panen.

Untung rugi, bagi petani itu sudah asam garam.

Kita kerap untung karena diuntungkan oleh cuaca. Plus kita juga bisa rugi besar juga karena cuaca.

Tapi kita enggak pernah menjilat atau membenci cuaca.

Kita cuman sebel, kalo ada yang enggak menghargai petani, plus kalo ada yang suka memanfaatkan kondisi petani untuk kepentingan segelintir/sekelompok pihak saja.

Petani pada dasarnya enggak butuh dikasihani, juga enggak ngemis perhatian.

Petani hanya butuh kepastian, kejelasan, dan kejernihan tatanan kenegaraan ini.

Tapi, kami sudah memberontak koq terhadap negara ini.

Dari dulu, kalo panen beras, kami enggak pernah jual.

Kami maem sendiri perlahan-lahan.

Sementara di sana-sini orang sibuk menjerit dengan harga beras. Politikus ribut dengan impor beras. Oposan teriak-teriak negara enggak becus nangani beras.

Sakarepmu.

Dan bayangkan kalo petani ini sudah berani menarik anaknya dari sekolah, memanggil pulang anak-anak gedhenya yang kerja sebagai buruh pabrik, mengumpulkan anggota keluarganya yang tercecer, dan menguatkan tekat: kita makan seadanya yang penting kta enggak tergantung orang lain, politikus, dan pemerintah; …

… kita unsubscribe segala layanan pemerintah;

maka bakal kelimpunganlah semua yang selama ini memanfaatkan petani: yang memeras keringatnya maupun yang menjual nasibnya.

#

Untungnya petani itu manusia paling sabar du dunia.

Terpaan dan tempaan cuaca telah membangun sebongkah hati dan jiwa paling baja yangada di muka bumi, sekaligus hati dan jiwa paling lembut yang pernah ada.

Karena itu siapapun: politisi, oposan, bahkan ustadz: enggak usah kakehan cangkem ngomongin petani, kalo enggak ngerti bener megang cacing itu kayak apa rasanya;

tengah malam ngurusi daun tanaman itu kayak gimana rasanya;

atau menyiapkan lanjaran itu kayak gimana rasanya.

Ngomongin petani di ruang ber-AC DPR, entahlah…. Saya gk bisa mbayangkan.

#

Nenek moyang kami petani, meski banyak anggota keluarga yang menjadi pegawai, bahkan saya sendiri saat sebelum menikah.

Dan begitu mengganti KTP karena menikah satu setengah dasawarsa silam, saya dengan tegar dan tegas menutuskan mengganti pekerjaan saya dari Swasta menjadi: Petani.

Mungkin karena bawaan batin inilah, saat orang sibuk membuat taman di depan rumahnya, kami menamainya dengan buah dan sayur. Bukan membenci tanaman hias, sekali lagi mungkin karna bawaan batin.

Ini adalah nawaitu untuk mencari dan menghadap Tuhan.

Semampu dan sekuat kami; berpijak di atas kaki sendiri.

Meski sesungguhnya kami sama sekali enggak mampu, jauh dari mampu.

Tapi alam ini lebih suka mengasihi dan mengayomi kaum enggak mampu seperti kami ini ketimbang menendang dan menindasnya. Angin kencang, hujan lebat, panas terik itu adalah bentuk perhatian dan kasih sayang alam yang sesejati-sejatinya.

Mreka yang jauh dari alamlah yang mendeskripsikannya sebagai bencana dan prahara.

“Keganasan” alam itu, melemahkan badan, namun menguatkan batin.

Tinggal kita lulus dan lolos atau enggak dari semua ini.

^ Sesuatu yang teramat gampang saya ketik, tapi sungguh kaki ini seperti berhenti melangkah membayangkan itu semua harus dihadapi.

Karena sesungguhnya saya sama sekali enggak mampu, jauh dari mampu.

Tapi alam ini lebih suka mengasihi dan mengayomi kaum enggak mampu seperti saya ini.

Namun apapun yang terjadi, semua senjatanya hanya satu untuk menghadapi: syukur, ikhtyar, tawakal, ikhlas, balik lagi ke syukur dan seterusnya.

Wallahualam.

– Freema Bapakne Rahman
Ngaku-ngaku petani.

LG E410: yang terbaik itu belum tentu yang sempurna.

Ketika masuk era 4G, kami dengan sadar dan sengaja mempesiunkan beberapa jajaran unit ponsel yang masih hanya sanggup berlari di jalur 3G (H+). Satau diantara adalah sebuah LG Optimus L1 E410 single SIM.

Ponsel ini memiliki layar yang imut, hanya 3.0″ saja. Yang parah adalah resolusinya: 240 x 320 pixels kedalaman warna 256K dengan rasio 4:3. Ini setara resolusi layar ponsel fitur/candybar yang dimekarkan ke bidang 3 inci. Plus jenis layarnya bor-boro IPS, ia masih TFT yang kalo dimiringkan dikit aja dia langsung gelap atau terang banget tergantung ke mana arah nungging eh mirngnya.

Alhasil layar segitu cuman dapat densitas atau kerapatan ~133 ppi. Ini cuman sepertiga bahkan seperempat bahkan lagi seperlima ponsel-ponsel kekinian.

Dimensinya jelas mungil meski proporsinya sebenarnya lumayan endut. Screen-to-body ratio-nya ~45.8% sementara rata-rata ponsel kekinian itu 60-70% bahkan ponsel bezel-less mencapai 90%. Dengan dimensi 102.9 mm x 59.2 mm, ia punya tebal 12.2 mm atau lebih dari satu centimeter. Kerasa tebal memang. Apalagi dibanding ponsel-ponsel masa kini yang ketebalannya (atau ketipisannya?) bisa dibilang selalu di bawah 1 cm, bahkan banyak yang lumayan jauh dari 1 cm, mungkin 7-8 mm saja.

Baterenya juga “ala kadarnya”, 1540 mAh.

Spek lainnya juga miris untuk dibahas dalam sudut pandang hari ini: prosesornya cuman 1 Ghz dengan RAM 512 MB dan dari ROM 4 GB hanya tersedia sisa 1,6 GB saja. Untungnya masih bisa dilesaki kartu memori hingga 32 GB.

Kamera belakangnya, ya bisalah buat njepret foto pas siang hari, itu pun jangan sambil berlari. Kamera depannya enggak ada.

Lha wong memang saat dilahirkan, ia menyasar segmen murmer koq! Beda dengan iPhone 4 yang dimensinya kurang lebih sama, namun jelas saat lahir ceprot dulu dia sudah langsung berkasta mewah.

Aneh.

Tapi anehnya, warna layarnya lumayan tajam. Rasanya ini lebih tajam atau katakanlah sama dengan Nokia N95 saya yang ilang atau Lenovo Tab 2 yang dipakai si kecil yang sudah IPS. Meski sekali lagi, kalo dimiringkan kecerahannya langsung berubah.

Plus satu lagi “keanehannya”, dengan layar segitu imut, keyboardnya (mestinya disebut keytap ya?) bisa dibilang presisi banget. Tukang insinyurnya LG bikin algoritma yang dirancang lebih khusus kayaknya untuk LG Keyboard yang terpasang di ponsel ini.

Suaranya juga lumayan jernih dan nyaring. Intinya, bukan speaker ecek-ecek yang dipasang di ponsel ini. Speaker ya harus berfungsi sebagai speaker. Meskipun ini sama sekali bukan speaker hi-fi kelas ponsel. Dan yang terenting, volumenya bisa keras secara bertahap. Enggak kayak ponsel China abal-abal yang volumenya naik satu aja udah langsung berasa keceng maksimal, dan seolah enggak ada bedanya sama level setengah maksimal.

Kalo perkara layarnya TFT, itu memang kelasnya. Tapi di jajaran TFT, dia bukan TFT ecek-ecek yang buram atau pudar warnanya dan enggak ada vivid-vividnya sedikitpun gitu, kayak -jujur aja- ponsel China kelas abal-abal pada eranya dulu itu.

Baterenya yang ala kadarnya, ternyata malah bikin saya tercengang. Stand by-nya lumayan lama, dan kalo dipakai online-nan juga bisa bertahan lama. Seharian juga sanggup-sanggup aja. Mungkin karena layarnya yang imut dimensinya lus rendah resolusinya sehingga enggak banyak nyedot batere.

Cuman meski dipakai online-nan koq sanggup bertahan lama, yang ini saya enggak tahu gimana penjelasannya. Sebab dulu ada ponsel 3G (H+) juga, sebuah Motorolla Droidrazr XT910 dan Smartfren Andromax i yang masih CDMA EVDO setara H+ juga, dia cuman sanggup 4 jam dipakai online. Jauh berbeda dengan si LG yang mencengangkan ini.

Cuman, saya kapok browsing pake ponsel ini. Selain tampang situsnya jadi maha berantakan, ia juga kerasa lemot. Trlebih lagi kalo dipakai WA-nan, dulu pernah sampe hang gegara grup WA yang sadis trafiknya. Alhasil Jelly Beannya saya root, google play store dan semua aplikasi yang bisa diunduh darinya saya lenyapkan.

Jadi ini ponsel cuman buat telpun, SMS yang hanya dikirimi promosi dari operator, plus ini yang penting: kalkulator, musik, dan radio FM saja. Plus beberapa aplikasi bawaan sistem yang tetap saya biarkan tentunya, macam file manager, kalender, dll.

Intinya: enggak ada browser, enggak ada WA.

Sang juru selamat.

Enggak dinyana, ponsel 4G saya yang seumur-umur seinget saya maksimal cuman bisa nyedot data sekencang 10 mbps, malah saya amat-amati reratanya cuman 5 mbps saja plus panas yang konsisten dan saya pernah was-was kalo ini ponsel mau meledak telah sekarat dan sekalian saya bunuh dengan kejam.

Enggak ada ponsel lagi, si LG ini saya tarik dari kotak tempat semula saya menghempaskannya. Saya charge, kartu saya pindahkan, dan semua berjalan normal.

Untungnya paket data saya per hari 2,5 GB bisa berjalan di semua jaringan. Alhasil, selain buat nerima telepon yang juarang banget bunyi – berbeda dengan saat WA saya online rasanya koq sering-sering aja orang menghubungi saya via WA dengan lag yang bikin depresi plus suara putus-putus yang menjijikkan, kini si ponsel putih ini rutin saya pakai tethering.

Saya mengetik posting ini pun dengan tethering ponsel ini.

Dan alhasil, Anda-anda yang mungkin WA saya seperti enggak saya baca, inilah sebab-musababnya. Namun saya masih aktif di belantara fesbuk. Ya tentunya kalo pas saya online via kompie sih…

Kecepatan unduhnya lumayan, kisaran 1 sampai 3 mbps konstan. ALhamdulillah sih, selalu dapat sinyal bagus terus soale. Kecepatan segitu itu udah enggak bikin youtuban kluwer-kluwer. Kecepatan unggahnya juga enggak jelek-jelek amat, saya barusan ngunggah beberapa puluh foto yang totalnya hampir 300 mb di kompie ke fesbuk, ya wajar lancar dan bisa ditunggu tuh. Enggak perlu sampe ditinggal (tidur) gitu.

Saya menilai, dari hasil penggunaan ponsel ini beberapa hari lamanya, kecepatannya bisa dibilang 75-80% nya dari ponsel 4G yang senantiasa panas membara itu. Sementara LG E410 ini nyaris tanpa ada panas-panasnya. Dipakai tethering seharian pun cuman hangat-hangat tai ayam saja. Malah enggak terlalu hangat rasanya. Berasa “masih di bawah hangat”.

Cuman bedanya, kalo pas mbales pesan, di messenger misalnya, agak sedikit kerasa bedanya. Kalo pake jaringan 4G, begitu enter, pesen itu kayak langsung sent gitu. Sementara pakai ini, berasa ada beberapa milidetik atau sedetik-dua baru sent. Mungkin ini karakter jaringan 3G yang kuota kanalnya hanya puluhan dibanding gate 4G yang ratusan. Mungkin. Tapi ini sama sekali bukan hal yang mengganggu.

Meskipun nanti kalo ada duit, saya masih pingin beli lagi ponsel 4G, yang sebisa mungkin enggak ada panas-panasnya. Yang kameranya layak untk langsung posting ke IG. Karena ada akun IG yang saya turut mengadmini, dan itu mempersyaratkan kelayakan hasil jepret kamera ketika dibutuhkan/diperlukan.

Well, LG E410 emang bukan ponsel kelas terbaik, sama sekali bukan. Ponsel ini rasanya hadir buat menghadapi gempuran ponsel China pada masanya, yang menawarkan buanyak ragam dan seolah ngiming-ngimingi spek.

Tapi ponsel ini sungguh sempurna untuk kebutuhan saya beraktivitas daring via komputer. Saya jadi kepikiran ini jadinya: malah bisa jadi, mungkin yang terbaik itu belum tentu yang sempurna. *merenung*

Dan kini saya baru sadar, kenapa ponsel ini/LG, juga Samsung atau Nokia dan merk-merk besar lainnya, kerasa begitu tinggi harganya dibanding rival-rivalnya dari China. Ponsel-ponsel merk senior itu ternyata ngeyel enggal mau mengorbankan kualitas dalam setiap level spek yang ada.

Dan mungkin, ponsel-ponsel merk China yang sudah mulai mapan atau mulai menyasar level papan atas akan/sudah menerapkan strategi ini: mereka mulai benar-benar menjaga kualitas dan bukan sekedar mengumbar spek tinggi dengan kualitas yang tak terjaga. Salah satu indikatornya: kemampuan kencang tapi panasnya masih membara. Mungkin mereka mulai akan mikir bikin ponsel kencang namun enggak lagi panas. Dan ini tentu makan biaya R&D serta produksi yang berlipat dibanding dengan ponsel kencang dengan kualitas pemberontakan.

Pfiuh… Inilah si LG E410 yang enggak jelas nasibnya di pasaran dulu itu. Namun bisa dikata, ponsel yang telah saya campakkan ini, kini hadir kembali sebagai juru selamat saya. Sekali lagi, untuk kebutuhan online ke komputer, jauh lebih nyaman menggunakan ponsel ini ketimbang ponsel 4G yang hobi panas membara seperti musim pertarungan pilpres yang lagi-lagi kelakuan para pendukung kubu capresnya bikin saya nyaris gila padahal saya enggak punya urusan apa-apa dengan mereka atau pilpres-pilpresan ini.

– FHW 34G

Foto bukan punya saya. Nanti saya update dengan foto asli ponsel saya.

NU

Saya bukan warga Nahdiyin, enggak pernah mondok, dan enggak pernah ikut pengajiannya NU kacuali bikin acara tahlilan di rumah buat mendoakan alm. Bapanda & para leluhur kami yang telah berpulang karena emang kami tinggal di lingkungan NU yang kuat.

Utinya si kecil-lah yang aktif dan rutin ngaji bersama ibu-ibu muslimat Fatayat, meski di rumah tetap lihat pengajiannya Cak Nun – yang terus-terusan mendeklarasikan diri bukan sebagai warga Nahdiyin maupun Muhammadiyin.

Namun Utinya si kecil enggak masang kalender NU di ruang tamu.

Kalo saya, yang saya liat ceramahnya cuman Cak Nun sama Gus Mus. Lainnya itu enggak pernah. Sekalipun itu Ustadz Maulana, Ustadz Abdul Somad, Mamah Dedeh, Yusuf Mansyur, pun para kyai NU yang ketika ada pengajian di sini, jamaahnya selalu membludak.

BTW herannya, pengikut Ustadz Abdul Somad atau Yusuf Mansyur gitu koq saya amat-amati secara sepintas seperti enggak sama dengan mereka yang mengikuti para kyai (NU). Entah benar atau salah pengamatan saya ini, cobalah Anda jawab dengan berdasarkan hati nurani lantas akui saja jika memang itu benar namun koreksilaah jika saya salah.

#

Warga NU emang beragam kondisi sosial – ekonomi – pendidikannya. Jangankan warganya, kyai-nya pun juga beragam pola pikir dan pola pandangnya.

Gotong-royongnya kuat, kebersamaannya tinggi, dan enggak pernah kerasa ada pembedaan hanya karena beda aliran akidahnya. Inilah keseharian tinggal di lingkungan NU yang kuat.

Kalo ada undangan pengajian di mushalla, saya senantiasa mengupayakan datang untuk menghormati si pengundang plus menjaga silaturahmi dan ukhuwah lahiriyah-batiniyah dengan para warga/tetangga lingkungan sekitar, sesuatu yang saya nilai sebagai bagian “namun lebih dari sekedar” ukhuwah islamiyah. Hati-hati, saya pake tanda petik itu ngetiknya. Jangan ditelan mentah-mentah dan dipersepsikan menurut perspesi Anda.

Tapi jujur, saya sering merem saja dan enggak terlalu memperhatikan apa yang dingajikan.

Bukan berarti apa yang dingajikan itu jelek atau enggak berguna, itu lebih karena saya punya kekurangsepahaman atau berbeda paham saja, yang mana saya juga merasa punya dasar atas apa yang saya pahami sendiri. Terlalu panjang untuk saya uraikan di sini, ini sudah merupakan prinsip batiniah saya. Dan ini sudah urusan personal saya.

Satu yang pasti, seumur-umur saya ikut pengajian di mushalla, dari yang sejauh saya ketahui, kyainya enggak pernah menyinggung perbedaan NU dengan Muhammadiyah ataupun perbedaan sunni-syiah. Sama sekali!

Lainnya itu, pengajian khas kaum Nahdiyin itu jika saya tarik benang merahnya, rata-rata mereka (saling) mengajak untuk terus menyembah Tuhan, tunduk dan patuh kepada Tuhan, menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya dalam konteks yang mereka yakini (dan saya amati: apa yang mereka yakini sebenarnya buanyakkk persamaannya dengan banyak golongan/kaum/aliran/kelompok selain NU);

namun dalam ingatan saya, saya belom pernah mendengar sedikitpun teriakan-teriakan bela Islam atau teriakkan-teriakkan tegakkan syariah dari mereka. Baik secara harfiah (berteriak dengan suara keras/lantang) maupun istilah (berteriak dalam pengertian doktrinasi atau semacamnya).

Pengajian-pengajian (umum) dari kaum Nahdiyin yang saya ikuti hanya di mushalla kampung saya (lumayan sering pihak takmir mengadakan acara pengajian yang mengundang semua warga), umumnya membahas amalam-amalan untuk meningkatkan nilai pahala dan mengurangi/menghapus dosa.

Mengutarakan kepasrahan kita kepada Tuhan dengan bahasa yang sesuai audience emang jauh lebih berguna dan bermanfaat ketimbang membahas sesuatu yang terlalu jauh dari konteks riil keseharian kita.

Sayangnya, dalam semua pengajian yang pernah saya ikuti, enggak ada satupun life-guidance semacam jangan membuang sampah sembarangan, tertiblah berlalu-lintas, atau kejarlah pendidikan setinggi langit, dll. Sepertinya, hal-hal seperti ini masih dipahami bukan merupakan “ajaran agama”.

Secara langsung mungkin iya. Tapi tidak membuang sampah sembarangan misalnya, itu jelas-jelas pengejawentahan ayat Quran tentang tdak berbuat kerusakan.

Andaikan NU bisa menterjemahkan(/praktik atas konsepsi) Quran secara lebih kekinian, niscaya bangsa ini akan lebih luar biasa lagi dari yang sekarang udah tahan banting menghadapi kenyataan begini.

WELL, apapun kondisi mereka, yang kami rasakan satu hal: tinggal dan mengikuti kehidupan lingkungan NU itu nyaman; mereka dibentuk dan dididik untuk mencari kebenaran namun sama sekali tanpa pernah apalagi terus-terusan menyalahan-nyalahkan pihak lain.

Terlebih lagi, di lingkungan tempat tinggal kami ada punden keramat. Mushalla lingkungan kami, senantiasa menghentikan suara speaker luar setelah jam 10 malam saat ada yang tadarus di malam-malam bulan Ramadhan. Untuk menghormati yang lagi nyepi di punden.

Saat acara bersih desa pun, di punden tersebut malam sebelumnya senantiasa diadakan tahlilan untuk mendoakan si mati, dipimpin oleh mbah kyai kampung sini.

Ini merupakan sesuatu yang masih menjadi kontroversi di kalangan umat Islam kebanyakan. Banyak yang bilang, mendoakan kaum non-muslim itu sia-sia dan enggak boleh.

Tapi kami yang hidup di sini punya sudut pandang berbeda. Si mati di punden itu adalah pihak yang kami percayai membabat/mendirikan desa ini. Atas jasa merekalah akhirnya kami semua bisa tinggal dan hidup serta berkehidupan di sini. Termasuk beragama dan menjadi pemeluk agama.

Jadilah mereka itu, siapapun itu, kita anggap sebagai orang tua ideologis bagi kami smua. Dan mendoakan orang tua itu sudah menjadi kewajiban bagi kita semua.

Terserah Anda berpikiran dan berpandangan apa, kami semua yang meng-alami kondisi ini justru merasakan kepasrahan dan ketundukan serta pengingatan hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lain tidak.

Hidup di lingkungan NU itu damai. Asli damai.

#

Memang masih banyak yang harus dikritik dan dibenahi di kultur Nahdiyin namun jauh lebih banyak lagi yang musti dijaga dan dipertahankan. Namun ini biarlah berkembang bersama jaman.

Saya enggak akan pernah (berencana) bergabung dengan NU pun ormas (keagamaan) lainnya, apapun itu. Namun saya berdoa besar, agar NU senantiasa terus hidup, tumbuh, dan berkembang di negeri ini.

Dan saya juga mendoakan, agar semakin buanyakkk cendekiawan berhati NU yang tekun menjalankan Islam dan menjaga NKRI seutuhnya. Allhuma aamiin.

SAYA bukan warga Nahdiyin. Tapi saya harus jujur, inilah kenyataan yang saya alami sejak kecil hingga punya anak gini tinggal di lingkungan Nahdiyin.

Ini murni deskripsi eksposisi. Sama sekali enggak ada nawaitu persuasi apalagi agitasi untuk dan atas (nama/kepentingan) apapun.

– Freema Bapakne Rahman

Patah As

Pernah lihat truk patah as roda? Bagaimana perasaan Anda?

Kalo saya, jujur saya kasihan, berempati, namun sekaligus enggak terlalu peduli dengan fenomena ini.

Saya kasihan, begitulah beratnya supir truk bekerja, dia harus membawa truk dengan beban yang sangat melebihi kapasitas sehingga berpotensi terhambat pekerjaannya yang bisa jadi bukan karena salahnya. Terhambat pekerjaannya yang bisa jadi bukan karena salahnya inilah yang membuat saya berempati.

Tapi saya cuek dan enggak ambil pusing. Itu as, saya meyakini benar, patah karena beban muatannya yang berlebih. Sebab kejadiannya beberapa kali saya lihat di ruas jalan yang kondisinya baik-baik saja, bukan jalanan yang rusak.

Kalo jalanan rusak, okelah mungkin si jalan yang menyebabkan musibahnya. Dan jalan rusak ini bisa jadi karena dua perkara saja: kendaraan yang dibiarkan melebihi tonasenya terus-menerus melintas, atau pemerintah yang bikin jalan alakadarnya, dengan dalih anggaran enggak cukup dan rusak karena cuaca.

So, saya enggak sempat berpikir bagaimana mengatasi as roda truk yang patah begitu. As roda truk patah? Ya sudah. Cuman itu yang ada di pikiran saya.

Dan kalo jalanan macet karena kejadian itu, ya mau enggak mau saya harus bersabar. Mau mengumpat pun enggak ada hasilnya. Jadinya, jujur saya bersabar karena “terpaksa”, bukan karen ikhlas dan karena berempati.

***

Pernah lihat mobil penumpang patah as roda? Bagaimana perasaan Anda?

Kalo saya, jujur saya kasihan, berempati, dan berdoa.

Kasihan si pemilik mobil harus mengalami kejadian seperti itu Berempati dengan membantu sebisanya kalo memungkinkan, setidaknya saya bersabar saat lalu-lintas macet karenanya, dan ini bersabar bukan karena saya terpaksa bersabar. Ini bersabar karena saya bisa memahfuminya. Sama-sama bersabar, tapi isi hati ini yang membedakan kalusulnya.

Dan selanjutnya saya berdoa, semoga pemilik mobil punya rejeki untuk merawat mobilnya sehingga potensi patah as – yang bisa jadi karena telat perawatan, bisa segera diperbaiki dan dirawat dengan benar. Karena memang kenyataannya hal seperti ini urusannya bukan lagi kenyamanan melainkan sudah pada urusan keselamatan. Ya kselematan diri sendiri ya keselamatan orang lain.

Atau kalo misalnya orangnya punya duit dan tau bahwa as rodanya waktunya diservis/diganti namun dia mendahulukan mempercantik kosmetikal mobil, misalnya dengan bikin audio jebam-jebum, ya semoga kejadian seperti ini menyadarkannya untuk menomorsatukan perawatan dan perbaikan yang berhubungan dengan faktor dan aspek keselamatan kendaraan.

***

Lantas bagaimana jika ada kendaraan pribadi yang patah as roda karena jalan berlubang?

Ini kejadian yang baru saya alami semalam sebelum saya mengetik post ini.

Saya sedang di atas bis dalam perjalanan pulang ke Kediri. Kebetulan duduk saya pas di bangku belakang sopir.

Saat itu sekitar abis maghrib dan situasi hujan.

Mendadak bis berhenti karena masuk ke dalam antrian kendaraan yang macet. Lokasinya di utara kawasan Minggiran, Kediri.

Kendaraan berjalan bergantian dengan kendaraan dari arah depan.

Saat kemudian kami melihat bahwa kemacetan ini disebabkan oleh sebuah kendaraan kecil yang posisinya melintas di ruasnya dengan salah satu roda patah. Rodanya kiri depannya melesak ke dalam fender/spakbor mobil dan begitu sangat miring. Jelas sekali kalo itu patah, bukan modifan enggak penting dan enggak berguna ala hellaflush. Enggak penting dan enggakberguna bagi saya, bukan Anda.

Kendaraannya masih lumayan bagus, umurnya masih muda meski bukan model yang sedang dijual. Kondisinya pun bagus: kinclong, keren, mulus.

Si kendaraan menyalakan lampu hazard. Ada kendaraan lain yang juga menyalakan hazard sedang berhenti di bahu jalan di sebelah si kendaraan yang mengalami celaka itu.

Sebelum posisi kendaraan yang patah as roda, terpasang cone untuk pengaman. Cone, bukan segitiga pengaman. Saya menebak, cone itu dari sebuah BPR yang berada seitar beberapa puluh meter dari lokasi kejadian. Mungkin dipinjam atau dipinjami dari situ.

Dan kendaraan yang berhenti di bahu jalan, ini murni tebakan saya, mungkin hendak menolng menyeret namun enggak bisa. Entah enggak ada tali entah memang kendaraan yang patah as roda itu enggak bisa diseret.

Tampak dua orang, mereka berpayung, bercakap-capak. Sekali lagi ini cuman tebakan saya, mereka adalah dua temen. Mungkin kendaraan di bahu jalan itu adalah temen si korban yang datang ke situ untuk menemani atau hendak membantu.

Enggak ada petuga skepolisian tampak di lokasi.

Saya hanya merasa kasihan dan berdoa semoga ini semua segera tertangani dan lalu-lintas enggak macet.

***

Yang bikin perasaaan saya berkecamuk, adalah komentar si sopir bis kepada kenek/kondektur yang duduk di bangku asisten di dekat pintu bus.

“Saya yakin, itu patah karena dia menghantam lobang dalam dan tajam di situ. Ada lobang yang dalam dan tajam. Saya hafal bener bahwa di situ itu posisinya. Mungkin lobang itu enggak kelihatan karena tadi tertutup genangan air.” Kata pak sopir bus kepada keneknya.

Duh, kasihan si pemilik mobil. Ini kategorinya ranjau darat, bukan jalan rusak yang rusaknya merata. Ranjau darat itu ya lobang-lobang parsial atau sporadis yang berada di jalanan yang bisa dibilang pada umumnya baik-baik saja atau bahkan mulus.

Saya enggak tau apa penyebab ranjau darat kayak gini. Tapi bertahun-tahun saya menyusuri jalanan, nyaris setiap kali perjalanan, saya menemukan ranjau darat. Mulai yang sifatnya ringan namun cukup menimbulkan guncangan di bada, hingga yang kondisinya berat sampai bikin suara stopper suspensi kerasa banget: jedhakkkk!!! Plus perut yang seperti ditonjok dan punggu yang serasa dihantam balok.

Yang langsung ada di pikiran saya saat bis melintasi kendaraan yang patah as roda itu adalah: betapa dia kalo telat membayar pajak, denda langsung meyergap. Sementara saat dia kena celaka dan harus berkorban waktu, tenaga, terutama biaya karena terkena ranjau darat; maka itu akan sepenuhnya dianggap kecelakaan atau musibah yang enggak dikehendaki bersama. Seolah Tuhanlah penyebab dan yang menakdirkan semua ini.

Hingga hari ini saya enggak pernah mendengar bahwa hal begini adalah karena/sebuah kelalaian pemerintah yang enggak rutin menginspeksi jalanan dan langsung menambal lobang berbahaya yang mengancam keselamatan pengguna jalan raya.

Dan kenapa koq enggak ada inspeksi rutin terhadap lobang pengancam keselamatan pengguna jalan raya? Pasti penyebabnya adalah karena enggak ada anggaran, dan pemerintah kekuarangan SDM untuk bikin unit inspeksi rutin yang terus-terusan berkeliling jalanan sambil membawa bahan untuk menambal lobang pengancam nyawa, setidaknya suspensi kita seperti itu.

Rasa-rasanya, aspal berlubang adalah bukan sesuatu yang menjadi tanggung jawab khusus bagi pihak yang harus(nya) bertanggung jawab untuk itu. Ini semua berasa bukan sesuatu yang lepas tanggung jawab dari siapa yang harusnya bertanggung jawab, melainkan seolah seperti takdir alam.

Saya yakin seperti itu.

– FHW
Gambar hanya ilustrasi. Saya enggak sempat foto kejadiannya.

Membodohi Kustomer?

Ini adalah ponsel kami. Rusak?

Bukan. Saya rusak.

Lho kenapa?

***

Ponsel ini sebelumnya kena air. Layarnya mati. Saya bawa ke tempat servis ponsel, bukan servis resmi, keputusannya diganti modul layarnya.

Kena biaya 250an rb dan ponsel bia berjalan normal.

Hanya selang waktu satu bulan, bahkan belum sebenarnya, ponsel menunjukkan masalah yang aneh. Layarnya kadang enggak responsif sama sekali, kadang bergerak-gerak sendiri kayak digeser atau dipencet-pencet gitu.

Beberapa hari saya biarkan kondisi ini. Namun lama kelamaan, kondisi ini semakin parah. Layar semakin enggak responsif, kayak bener-bener enggak bisa diapa-apakan. Kalo toh bisa disentuh, bagian tengah layar seperti udah lumpuh/mati sentuhan. Hanya bagian atas, bawah, atau sisi kiri-kanan layar yang masih bisa disentuh. Itu pun kalibrasinya seperti ngacau. Disentuh apa, kepencetnya yang lain.

Saya bawa kembali ke tempat servis semula.

Pas tukang servisnya nanya, ini kenapa. Saya jelaskan jika layarnya enggak responsif, bahkan enggak bisa disentuh, dan kadang malah kayak disentuh-sentuh/kepencet-pencet dan kegeser-geser sendiri.

Mas tukang servisnya kemudian langsung memastikan bahwa layarnya harus diganti.

Saya bilang, kalo layar ini barusan diganti di sini, ya sebulanan sebelumnya, dengan biaya seperempat juta.

Mas-nya langsung sedikit kagok.

Mendadak, si mas tukang servis langsung ngeles, jangankan sebulan, dua hari pun kalo salah penggunaan, misalnya ponsel dikantongi di celana jean yang ketat, itu juga bisa bikin layarnya bermasalah.

Saya langsung illfeel ndengerkan jawaban ngeles masnya. Kalo ponsel tertekan parah, pasti udah duluan rusak ketimbang bermasalah seperti itu.

Kemudian saya jawab dengan sindiran, “Kalo ponselnya salah penggunaan, saya bingung mas, salahnya yang seperti apa. Ponsel itu dipakai seperti biasanya sebagaimana sebelumnya (sebelum rusak). Dan juga enggak pernah saya pakai mukul paku atau semacamnya koq!”

Yang artinya saya tekankan: ini rusak karena layar penggantinya enggak berkualitas.

Masnya ngeles lain: ini udah lewat sebulan, garansinya udah hangus. Kalo mau bener, ya ganti layar lagi.

Saat saya tanyakan, kalo layarnya saya ganti lagi, dan garansinya cuman sebulan, artinya kalo udah lewat sebulan dan layarnya rusak lagi, brarti saya tiap bulan musti ganti layar?

Si mas servis bilang, “Ya namanya barang elektronik, itu enggak tentu dapatnya. Untung-untungan, nasib-nasiban. Kita dapat barangnya juga tergantung sales/toko supliernya.”

Saya semakin illfeel. Omongannya kayak penjudi. Padahal penjudi aja masih pakai kalkukasi statistikal.

***

Akhirnya saya bilang ke masnya, “Anda ini tukang servis yang ngerti teknis. Mustinya Anda bisa memverifikasi dulu, mana barang yang layak Anda jual kembali ke kustomer dan mana yang tidak. Menjual barang yang enggak layak jual kayak gini, meski secara hukum apa yang Anda lakukan adalah sah, namun ini adalah kegiatan yang sama sekali enggak beretika dan bermoral.

Kalo memang yang Anda jual ini adalah barang yang enggak dapat dipertanggung jawabkan kondisinya, ya mending jangan menjual atau menerim apenggantian LCD kayak gini. Kasihan kustomer Anda, bisa kehilangan duit yang bisa jadi teramat sangat berharga karena uang yang mereka keluarkan enggak sebanding dengan manfaat yang didapat.

Atau kalo memang dijual, ya katakan bahwa umur teknisnya bisa jadi enggak bisa panjang, yag pengertiannya bisa jadi uang yang dikeluarkan enggak sebanding dengan manfaat yang didapat. Bukan cuman ngeles yang penting udah digaransi sebulan. Yang kayak gini ini namanya membodohi kustomer.”

Masnya sempat diam dan gelagapan. Sayangnya, dia kemudian merenges, seolah ini bukan sebuah kesalahan dan seolah ini adalah nasib apes saja yang bukan urusan dia.

Melihat kondisi yang terkesan meremehan, akhirnya ponsel yang jelas udah enggak bisa digunakan ini saya patahkan di depan batang hdungnya dan saya tinggal dia pergi.

Jangan salah persepsi.

Ini bukan tentang Mi, ponsel yang merknya tampak nyata di foto itu. Ponsel ini kami beli sejak barunya barang tersebut. Ini sudah beberapa tahun silam. Dan selama ini working-well, bekerja dengan sempurna.

Ponsel yang kami beli ini bukan tipe garansi resmi dari pemegang merknya di Indonesia. Konon ini disebutnya garansi distributor, sebuah pengertian kontekstual yang artinya adalah ini adalah barang asli dari pabrikan/merknya, namun dijual bukan melalui perwakilan/distributor/agen resmi untuk wilayah hukum Indonesia; sehingga semua kondisi perangkat keras dan lunaknya tidak ditanggung layanan purna jualnya.

Tidak masalah. Saat kami hendak membelinya, toko yang menjualnya dulu sudah menerangkan ini semua dan kami memahaminya. Artinya, apa yang terjadi setelah kami membelinya, itu adalah tanggung jawab kami sendiri.

Dan alhamdulillah, setelah bertahun-tahun kami pakai, nyatanya enggak ada kualitas jelek dari barang ini. Artinya, barang ini memang udah lolos dari QC (kontrol kualitas) pabrikannya.

Bayangkan, itu Redmi 2 Prime dan sekarang udah pada generasi Redmi 7. Secara ekonomis, barang ini udah kadaluwarsa nilainya. Kami beli dulu pada harga 1,8 juta, sekarang harga sekennya kurang lebih tinggal 500 rb saja – karena kondisi teknisnya memang masih bsa untuk dipakai: sinyalnya 4G. Ini berbeda dengan ponsel 3G yang meskipun lebih mewah dan harga barunya lebih mahal pada umur yang sama dengan Redmi 2 Prime kami itu, tapi harga sekennya tinggal 100-300 rb saja. Tinggal tunggu nol rupiah harganya sebagaimana ponsel canggih CDMA yang mendadak jadi zombie karena ditinggal jaringan sinyalnya.

Dan itu ponsel pun rusak bukan karena umur atau pemakaian normal. Ia rusak karena kondisi force-majeure: tercemplung air.

Artinya ini semua adalah: masalahnya bukan pada merknya atau pada (produksi) ponselnya.

Masalahnya di sini adalah si tukang servis menjual suku cadang yang dia enggak verifikasi kualitasnya.

Beda soal kalo misalnya dia menerangkan di depan bahwa suku cadang yang dia jamin ini sama sekali enggak bisa dipertanggung jawabkan kondisinya.

Si tukang servis hanya ngeles pada jaminan garansi sebulan yang dia berikan. Dan ternyata layar ini rusak setelah sebulan.

Garansi pabrik.

Hampir semua garansi pabrik intinya menyatakan hal yang sama: garansi itu diberikan pada kerusakan yang terjadi karena kesalahan produksi dari pabrik, bukan karena pemakaian pengguna atau karena kondisi force-majeure. Bahkan kesalahan karena pengirimannya itu enggak dijamin.

Pemakaian pengguna, artinya kalo itu sebuah ponsel, yang enggak bisa kita jadikan ganjal meja. Force-majeure jelas: terkena air, petir, bencana alam.

Pabrik akan berusaha keras membuat QC pada produk dan produksinya. Namun jikamana ada kesalahan rekayasa rancang bangun, kesalahan desain produk dan produksi, atau kesalahan apapun yang itu dari pabrikan maka mereka secara hukum punya kewajiban untuk memberikan garansi.

Dan rata-rata, barang yang sudah lolos QC, nilai fungsi dan manfaatnya pasti melebihi harganya. Kecuali kita kebangeten minta barang yang bisa awet seumur hidup.

Hanya saja yang agak kritis belakangan ini adalah layar pada perangkat televisi. Umur pakainya rata-rata 5 tahunan, dan mereka akan rusak dengan sendiri bukan karena sebab kesalahan pengguna(an) apalagi force-majeure.

Namun jika kita bersedia legowo, tivi berumur lima tahun ini sudah bagus. Sudah umurnya. Ya sudah segitunya. Kecuali jika masih tiga tahun apalagi kalo cuman setahun, ya emang agak gimana gitu….

Meski umurnya lima tahun, kebanyakan pabrikan tetap hanya memberikan garansinya sepanjang setahunan saja. Yaaa namanya barang elektronik yang dialiri listrik, bisa jadi kalo terus-menerus dipakai, kondisinya akan berubah dong karena pemakaian: panas karena aliran slistrik, perubahan kondisi karena perubahan suhu/temperatur, dll dll.

Wajar.

Meskipun saat ini beberapa pabrikan elektronik khususnya TV udah berani menggaransi layar LED mereka hingga 5 tahun.

Mungkin material atau proses produksinya udah berubah atau berkembang, sehingga bisa dipastikan setelah lolos dan lulus QC, maka dalam 5 tahun tidak akan kerusakan yang disebabkan karena pemakaian normal, meskipun benda itu terus-menerus dialiri listrik dan mendapatkan perbuahan suhu/temperatur.

Namun saya meyakini, pasti garansi juga tetap enggak berlaku karena kesalahan pengguna(an) atau sebab force-majeure.

Bukan kali pertama.

Tololnya, bukan kali pertama saya berhubungan dengan tukan servis itu. Konternya sangat ramai, bahkan sering antri-antri. Timnya ada beberapa orang. Rata-rata saya lihat ada 3 – 4 orang yang tampak bekerja di situ.

Sebelumnya, ada Redmi Note 3 yang saya serviskan di situ. Rusaknya adalah kayarnya pecah karena ponsel terjatuh.

Kali pertama itu, modul layarnya saya mbeli sendiri, trus saya pasangkan di situ.

Belom genap setahun, masih jauh dari setahun, sekitar 4 bulanan layarnya berulah. Saat agak lama dipakai layarnya akan blinking/berkedip-kedip alias mati-nyala-mati-nyala dengan sendirinya.

Saat saya bawa kembali ke tukang servis itu, keputusannya sama: harus ganti layar.

Saat saya bilang ini baru empat bulanan diganti layarnya, mereka bilang sama: namanya barang elektronik, nasibnya enggak jelas.

Dan saat saya konsultasikan dengan temen-temen, sarannya semua sama: enggak usah diservis. Mending beli ponsel lagi.

Dan akhirnya enggak saya servis.

Masalahnya, ini Redmi 2 telah diservis, sebelum Redmi Note 3 bermasalah layarnya. Dan kemudian keduanya bermasalah pada saat yang berbarengan.

Nasib.

***

Jadi pengalaman buat semuanya saja, kalo layar hape Anda bermasalah, mending enggak usah diservis kecuali itu tipe hape lama yang biasanya malah handal.

Mending ngalahi beli lagi aja.

Atau servislah di tempat servis resmi, jika barangnya memang masih sangat ‘sesuatu’ atau sangat berarti tersendiri bagi Anda. Namun yang kayak gini, biasanya hanya menerima barang resmi dari jaringan resmi mereka, kemudian harga servisnya tinggi (dengar-dengan ganti layar hape sekitar 500 rb untuk hape yang sekennya udah tinggal sejuta), dan bisa jadi waktunya lama kecuali mereka memang memberikan jaminan waktu – biasanya untuk jenis kerusakan tertentu.

Dan ini bukan cuman buat ponsel atau barang elektronik lainnya.

Di suku cadang mobil pun, fenomena seperti ini juga kerap terjadi. Dan khususnya juga untuk suku cadang yang bersifat elektronik meskipun untuk suku cadang yang murni mekanis atau non elektronis juga berlaku sama.

Biasanya yang kerap terjadi pada suku cadang yang umurnya teramat sangat pendek kalo itu bukan grade orinya anatara lain:

  • Sensor-sensor, bisa dibilang segala sensor. Kejadian yang sering adalah pada sensor TD, cam maupun crank. Barang jelek harganya 750an ribu, sepaurh dari aslinya. Dan yang jelek umurnya keseringan hanya bertahan dalam jangka waktu bulan saja. Yang bagus bisa bertahun-tahun.
  • Visco fan atau radiator. Visco fan yang biasanya harganya 450an ribu. Yang bagus dua kali lipatnya. Viscofan biasa kadang hanya bisa bekerja dalam jangka waktu bulan saja. Yang bagus bisa bertahun-tahun lamanya. Pun radiator jelek, kadang ada aja masalahnya. Yang bagus bisa membuat temperatur mesin stabil di suhu kerja normalnya. Namun kini radiator kualitas jelek udah mulai hilang dari pasaran.
  • Velg TW/KW/replika vs velg (grade) ori. Velg TW/KW biasanya modelnya cakep-cakep. Dan secara kasat mata, kini tampangnya udah semakin mature/matang, enggak keliatan kayak barang abal-abal lagi. Tampak fisik logamnya atau catnya udah buagus banget mirip sekualitas ori. Harga baru velg KW itu super murmer, bisa setengah bahkan bisa dibilang seperempat bahkan lagi cuman sepersepuluhnya dariharga baru velg grade ori. Nmun sekali kena jedhoan di jalanan, dia langsung peyang bahkan sampai pecah/retak. Dipakai normal pun entahlah lama-lama kondisi keseimbangan (balancing)-nya. Jelas beda dengan velg ori yang bisa bertahun-tahun bahkan puluhan tahun kekuatannya dan enggak gampang complong jika kena kecelakaan.

Demikian. Mohon koreksi jika saya salah perepsi atau salah menterjemahkan informasi di sini.

– Freema Bapakne Rahman

Refs:

Badan internasional yang menangani standarisasi untuk pelek racing adalah Japan Light Alloy Automotive Wheel Testing Council (JWL) dan Japan Vehicle Inspection Association (VIA) . Setiap pabrik yang memproduksi pelek harus melewati beberapa tahap proses pengecekan sebelum diperbolehkan membubuhi tanda JWL dan VIA sebagai tanda bahwa pelek lulus uji. Tanda ini biasanya terdapat pada pelek-pelek bawaan (OEM), orisinal (Jepang, Amerika, Itali, Jerman dll). Juga ada sebagian pelek replika untuk menjamin kuat dan aman sesuai fungsi dan aturannya.