Anak Muda Penis Kecil Ngacengan

Saya sempat terkesima dengan status fesbuk ini.

Well, itu anak-anak muda yg suka pake motor ‘trondhol’ dengan ban cacing dan sejenisnya: kayaknya penis mereka tuh kecil banget, itu pun gampang banget ngacengan; plus susah bagi diri mereka untuk mengendalikan dirinya sendiri apalagi sampai tahap membangun kualitas dirinya sendiri; sehingga mereka bingung mau membanggakan apa dari dirinya sendiri.

Jadi anak muda itu emang musti bisa nakal. Kalo ndhak bisa nakal, maka matilah otak kalian.

Tapi nakalnya itu yg sama sekali ndhak mengganggu apalagi sampe bikin susah orang lain.

Dan yg pasti: di atas kenakalan itu harus ada kreativitas yg berguna lagi bermanfaat plus ada kualitas & kemampuan diri yg mumpuni dan bisa diandalkan.

Kayak gini ini nih contohnya nakal, tembok bagus-bagus malah dicorat-coret. 😛 Nakal yg lain bisa dengan bersenjatakan kuas, gitar, stick drum, gamelan, bola, dll. Bahkan cuman bersenjatakan mulut!

Itu baru anak muda yg nakal dengan sebenar-benarnya nakal, yg keren beud nakalnya. Itu baru namanya macho dan jantan.

Kalo cuman pamer motor ‘trondhol’ ban cacing apalagi semua itu masih fasilitas yg minta sama ortunya: cemen gini koq dipamerkan. Nyari eksistensi pake cara kayak gini?

Jelas, kayaknya hanya anak muda yg penisnya kecil buanget dan guampang ngacengan doang yg bisa melakukan kecemenan ini.

Mungkin demikian.

– Freema HW
Sudah pemuda.

#Foto-foto & klip-klip nemu dari internet, hak milik dan hak cipta masing-masing pengkaryanya.

Advertisements

Salut Dengan BBM Malaysia

Salut dengan BBM (bahan bakar minyak) di Malaysia, khususnya BBM diesel mereka. Ada:

  • Euro2 dengan sulfur 500 ppm, dan
  • Euro5 dengan sulfur 10 ppm

Sementara kita:

  • Solar busuk comberan dengan sulfur 3500 ppm,
  • Dexlite dengan sulfur 1.200 ppm,
  • Pertadex dengan sulfur 300 ppm.

Mungkin inilah kenapa anak-anak Malaysia tampak cerdas-cerdas (yaaa kalo liat Upin-Ipin sih 😀 Hehehehe), mungkin karena hanya sedikit sulfur yg mereka hirup dan meresap ke aliran darah. Kalo kata seorang kolega saya yg mantan TKI dari Malaysia, sepuluhan tahun silam, “Di Malaysia itu “solar”-nya warna merah Mas (low-sulphur), ndhak item (hi-sulphur) kayak solar di sini.”

#Catatan: Solar adalah salah satu nama dagang BBM diesel dari Pertamina, sebagaimana Dexlite, Pertadex. Cuman nama dagang ini semacam sudah menjadi metonimia untuk BBM diesel, khususnya di tempat-tempat yg jauh dari kota besar dan tidak/belom mengenal BBM diesel selain “Solar”.

Beda dengan anak muda Indonesia yg sering kita sangka sebagai generasi micin, mungkin selain karena kebanyakan micin beneran – ini cuman mungkin lho, kita juga kebanyakan menghirup sulfur yg berterbangan di jalan raya bahkan hingga ke persawahan pedesaan.

Mungkin. CMIIW.

Regards,
– Freemadex non lite.

Sembarangan Buang Bahasa

Seorang redaktur newsblog curhat akan amburadul dan ugal-ugalannya bahasa para penulis.

Saya khawatir bahwa budaya antri, tidak membuang sampah sembarangan, beradab dan bertata-krama lalu-lintas, serta rapi bertutur kata itu mencerminkan tingkat keagungan adab dan budaya suatu bangsa.

Tetapi, ngapain sih repot mikirin itu semua?

Biar saja orang mau seenakudelnya berlalu-lintas, yg penting kita jaga jarak dari mereka dan selamat sampai rumah. Biasanya, kecelakaan itu terjadi karena pengendara ndhak mengindahkan aturan lalu-lintas atau bahkan mungkin ndhak mengerti. Persetan aja sama mereka, yg penting ndhak nyenggol mobil saya. Situ mau nyungsep, ya derita situ. Salah sendiri di jalanan koq seenaknya.

Ngapain sih kita bingung dengan kelakuan orang yg membuang sampah sembarangan? Mau mereka mbuang sampah di jalan tol, di selokan, di sungai, mbuka jendela mobil dan mbuang sampah seenaknya di jalanan, di trotoar, di depan masjid, di parkiran mobil, keluar ruko, di lapangan pas nonton konser, di sepanjang jalan pas acara jalan santai, di pantai atau di gunung, di mana saja bukan urusan saya; yg penting bukan di halaman rumah kita. Beres!

Koq pusing amat sih kita sama orang yg ndhak mau antri, yg penting kita bukan bagian dari mereka aja kan kelar perkara. Kalo terpaksa semua ndhak mau antri, ya kita ikuti arus aja: situ jual sini beli!

Dan, kenapa juga kita harus mengkoreksi kerapian tutur kata dan bahasa (diri) kita sendiri? Kita ngetik dan ngomong amburadul, nabrak aturan bahasa sana-sini, mencampakkan EYD ke tong sampah, sms tanpa titik tanpa koma, dan dengan segala kelakuan ugal-ugalan berbahasa aja kita bisa nyari duit bahkan bisa beli mobil koq!

Riil aja, apa sih pentingnya beradab dalam berbahasa sekarang ini? Kalo bahasa kita morat-marit trus kita mati atau ndhak bisa kerja gitu?

Satu nusa satu bangsa satu BAHASA? Itu mah jargon! Yg penting adalah bagaimana saya bisa beli spare-parts dan ngerawat mobil, selesai urusan.

Regards,
– Sarkas HW

Sampah

BBKSDA Jawa Timur melarang kegiatan wisata di cagar alam Pulau Sempu. Larangan wisata ke pulau Sempu akan mengakhiri polemik di dunia maya soal pemanfaatan CA Pulau Sempu untuk kepentingan wisata.

Satu kenangan saya dengan pulau Sempu adalah hampir 20 taon silam saat saya masih kuliah, saya pernah berenang dari Sendang Biru ke Pulau Sempu. Didampingi temen-temen yg menjaga saya dengan bersampan.

Itu jaman badan saya masih ceking dan perut masih rata, masih bisa gaya kupu-kupu. Sekarang dijamin saya bakal tenggelam kalo musti berenang kayak gitu lagi, saya cuman bisa gaya dada dan gaya batu. “Dadaaa!” 😀

Dulu, lebih dari 20 taon silam saat saya masih SMA, pergi ke Rinjani itu benar-benar mengasyikkan. Kemarin, saya baca di media, sekarang isinya sampah di mana-mana. Alhamdulillah dan salut buat yg pada mbersihkan.

Baiknya, pengunjung jangan dilarang untuk menjelajahi cagar alam. Tapi bagi siapa yg kedapatan mengotori bumi ini dengan sampah sembarangan, baiknya langsung tenggelamkan aja di laut atau tendang aja ke jurang dalam. Habis perkara.

Tapi yg ngeri lagi tuh cerita emak saya saat pergi haji sepuluhan taon silam. “Saat rombongan jemaah Indonesia beranjak dari duduk-duduk lesehannya di bandara sana, serakan sampah langsung terpampang di luasan lantai di depan mata!”

Itu semua dilakukan oleh orang yg pulang haji lho!

Gusti Allah…

– Freema HW

Pengkhianat Adalah Sesiapa Yang Tak Mau Memajukan Negeri Ini

Konon, hanya 1 dari 1000 (atau 10.000?) orang Indonesia -negeri mayoritas muslim dan konon dengan populasi muslim terbesar di dunia- yg punya minat baca (buku). Kayaknya, secara kasar ini satu desa atau bahkan kecamatan hanya seorang saja yg demen mbaca buku.

Sedih. Miris. Tragis.

Padahal secara literal konon ayat pertama Al Quran jelas-jelas: Iqra’ …! Bacalah …!

Entah kurangnya minat baca (buku) ini terjadi sejak dulu atau sejak datangnya era digital, Indonesia rasanya masih teramat sangat jauh dari kemajuan kalo minat baca di negeri ini masih belum meningkat. Infrastruktur: jalan tol, gedung sekolah megah, bandara internasional, dll. adalah hal yg kita butuhkan namun saya rasa sama sekali bukanlah tolok ukur kemajuan negeri ini.

Minat baca (buku) yg tinggi (otomatis biasanya akan diikuti dengan habit: bicaranya berisi analisis berdasar data/fakta/informasi, tidak membuang sampah sembarangan, bisa antri, dan beradab dalam berlalu lintas) adalah tolok ukur sejati kemajuan bangsa dan negara ini.

Deasy Ibune Rahman: yuk terus mbentengi si kecil agar terus rajin membaca: Iqra’ bismi rabbikaladhī khalaq.

Dan tetap tebarkan inspirasi ke temen-temennya agar ikutan demen membaca. Meski susah karena orang tuanya kadang ada yg sama sekali “tak mendukung”: lebih demen beli pakaian atau henpon baru dll. yg bisa jadi ndhak terlalu dibutuhkan ketimbang beli buku.

Setidaknya, at least, mari selamatkan si kecil kita sendiri. Ini upaya terakhir yg bisa kita lakukan untuk bangsa, negara, agama, dan peradaban ini. Sebab, jika kita tak bersedia berusaha memajukan negeri ini: memajukan bangsa, negara, dan peradaban ini secara hakiki; rasanya kita telah menjadi pengkhianat atas tugas Allah pada kita: menjadi khalifah di muka bumi ini; untuk memimpin pergerakan diri kita guna bersama mengubah nasib: melanjutkan peradaban.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman

Jangan Pernah Lelah Untuk Mencintai Indonesia

“Yang paling tidak mengerti, biasa paling keras memaki.”

“Saya disumpah untuk taat pada hukum dan undang-undang. Selama aspirasi rakyat tidak melanggar hukum pasti diperjuangkan!”

“Jangan pernah lelah untuk mencintai Indonesia.”

“Kamu-kamu belajar yang rajin, jauhi narkoba, sayangi teman. Suatu hari gantikan kami ya?”

Ridwan Kamil

Hari ini dunia bergerak semakin cepat dan semakin cepat bergerak untuk terus memperbaiki diri. Salah satu contohnya: semakin gencarnya fase (pre)kehadiran mobil listrik, atau kehadiran beragam renewable-energy plant.

Meanwhile/sementara itu di Indonesia, masih jamak kita saksikan orang membuang sampah (anorganik) seenaknya atau merokok sembarangan. Atau ndhak bisa rapi antri. Atau nihil pengetahuan, wawasan, dan tatakrama berlalu-lintas, misal: belok kanan mepet kanan, belok kiri tanpa menyalakan sein, dll.

Dunia sudah melaju kencang, Indonesia masih berkutat dengan hal-hal terbelakang yang “sepele”.

Negara ini tak pernah sungguh-sungguh hadir memperbaiki diri, hadir untuk memperbaiki rakyatnya, atau menjadi trigger kemajuan yang hakiki/beresensi.

Negara (baca: pemerintah) cuman kakehan teori dan cangkem, persis pleg saya.

– FHW,
berpikiran kotor.

Post from my mobile-phone.