Pengkhianat Adalah Sesiapa Yang Tak Mau Memajukan Negeri Ini

Konon, hanya 1 dari 1000 (atau 10.000?) orang Indonesia -negeri mayoritas muslim dan konon dengan populasi muslim terbesar di dunia- yg punya minat baca (buku). Kayaknya, secara kasar ini satu desa atau bahkan kecamatan hanya seorang saja yg demen mbaca buku.

Sedih. Miris. Tragis.

Padahal secara literal konon ayat pertama Al Quran jelas-jelas: Iqra’ …! Bacalah …!

Entah kurangnya minat baca (buku) ini terjadi sejak dulu atau sejak datangnya era digital, Indonesia rasanya masih teramat sangat jauh dari kemajuan kalo minat baca di negeri ini masih belum meningkat. Infrastruktur: jalan tol, gedung sekolah megah, bandara internasional, dll. adalah hal yg kita butuhkan namun saya rasa sama sekali bukanlah tolok ukur kemajuan negeri ini.

Minat baca (buku) yg tinggi (otomatis biasanya akan diikuti dengan habit: bicaranya berisi analisis berdasar data/fakta/informasi, tidak membuang sampah sembarangan, bisa antri, dan beradab dalam berlalu lintas) adalah tolok ukur sejati kemajuan bangsa dan negara ini.

Deasy Ibune Rahman: yuk terus mbentengi si kecil agar terus rajin membaca: Iqra’ bismi rabbikaladhÄ« khalaq.

Dan tetap tebarkan inspirasi ke temen-temennya agar ikutan demen membaca. Meski susah karena orang tuanya kadang ada yg sama sekali “tak mendukung”: lebih demen beli pakaian atau henpon baru dll. yg bisa jadi ndhak terlalu dibutuhkan ketimbang beli buku.

Setidaknya, at least, mari selamatkan si kecil kita sendiri. Ini upaya terakhir yg bisa kita lakukan untuk bangsa, negara, agama, dan peradaban ini. Sebab, jika kita tak bersedia berusaha memajukan negeri ini: memajukan bangsa, negara, dan peradaban ini secara hakiki; rasanya kita telah menjadi pengkhianat atas tugas Allah pada kita: menjadi khalifah di muka bumi ini; untuk memimpin pergerakan diri kita guna bersama mengubah nasib: melanjutkan peradaban.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman

Jangan Pernah Lelah Untuk Mencintai Indonesia

“Yang paling tidak mengerti, biasa paling keras memaki.”

“Saya disumpah untuk taat pada hukum dan undang-undang. Selama aspirasi rakyat tidak melanggar hukum pasti diperjuangkan!”

“Jangan pernah lelah untuk mencintai Indonesia.”

“Kamu-kamu belajar yang rajin, jauhi narkoba, sayangi teman. Suatu hari gantikan kami ya?”

Ridwan Kamil

Hari ini dunia bergerak semakin cepat dan semakin cepat bergerak untuk terus memperbaiki diri. Salah satu contohnya: semakin gencarnya fase (pre)kehadiran mobil listrik, atau kehadiran beragam renewable-energy plant.

Meanwhile/sementara itu di Indonesia, masih jamak kita saksikan orang membuang sampah (anorganik) seenaknya atau merokok sembarangan. Atau ndhak bisa rapi antri. Atau nihil pengetahuan, wawasan, dan tatakrama berlalu-lintas, misal: belok kanan mepet kanan, belok kiri tanpa menyalakan sein, dll.

Dunia sudah melaju kencang, Indonesia masih berkutat dengan hal-hal terbelakang yang “sepele”.

Negara ini tak pernah sungguh-sungguh hadir memperbaiki diri, hadir untuk memperbaiki rakyatnya, atau menjadi trigger kemajuan yang hakiki/beresensi.

Negara (baca: pemerintah) cuman kakehan teori dan cangkem, persis pleg saya.

– FHW,
berpikiran kotor.

Post from my mobile-phone.

Kami

Kami bukan pendukung Jokowi. Tapi banyak penentang Jokowi yang menentangnya tanpa kecerdasan (sama sekali).

Yakni mereka yang cuman umbar gosip, miskin analisis, rendahan logikalnya. Bukan mengkalkulasi, memformulasi, dan mengolah data dan fakta untuk mengerucutkan hipotesis, tapi lebih banyak merangkai segala elemen pembenaran opini sendiri.

Bahkan ini yang pualinggg mengerikan: sampe kami pandang tiada cover-both-side-story (tabayyun) sama sekali pada banyak ulasan (baca: paparan murahan) yang beredar!

Menjadi penentang itu sesungguhnya bermartabat, jika kita bisa memberikan atau menunjukkan kebaikan bersama untuk semua. Karena menjadi cecunguk, itulah seapes-apesnya kita hidup. Ini cuman pandangan subyektif kami pribadi.

Kami tetep bukan pendukung Jokowi! Tapi kami juga males ngikuti polah mereka yang cuman umbar gosip, miskin analisis, rendahan logikalnya. Bukan mengkalkulasi, memformulasi, dan mengolah data dan fakta untuk mengerucutkan hipotesis, tapi lebih banyak merangkai segala elemen pembenaran opini sendiri.

Eman-eman otak kami, anugerah terbesar dari Sang Maha Besar yang Maha Pemberi ini. Udah otak kami ini pas-pasan kemampuannya, maka sayang kalo cuman kami pakai buat mem-forward berita gosip, miskin analisis, dan rendahan logikalnya.

Apalagi buat menghabiskan hari buat ngajak itung-itungan sama Tuhan. Kami bisa ngitung kayak gimana? Wong apa yang Dia berikan itu tak terhitung semuanya, sementara apa yang kami lanjutkan dari-Nya untuk (kebaikan) dunia dan kehidupan ini nyaris blass tak ada hitungannya.

Mending kami pakai (otak ini buat) menyerap segala hal yang meningkatkan taqwa hanya kepada Yang Maha Kuasa; untuk (memikirkan) sesuatu yang berguna, yang maslahat untuk semua manusia, yang bermanfaat untuk segenap kehidupan. Mumpung sekali-sekalinya kami hidup. Soale kalo sudah mati, semua ini jadi berhenti.

Kami berusaha menggapai sesuatu yang berguna aja susyahnya minta ampyun pake banget. Niat ada juga jalannya seringkali masih gagal. Apalagi kalo di awal isinya cuman menggunakan anugerah badan ini untuk merangkai segala elemen pembenaran opini sendiri.

Eman-eman. Sayang.

ATAU mungkin tepatnya: kami tidak menentang atau mendukung (baca: ndhak ambil peduli pada) Jokowi.

Kami cuman ingin selalu peduli kepada negeri ini. Negeri buah ridha Allah, yang marus memakmurkan dan mencerdaskan rakyatnya, serta berpartisipasi pada perdamaian dunia.

Indonesia, negeri yang mencari rahmat Tuhan Yang Maha Esa, dengan menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi ini.

– Bismillah cinta Indonesia.

Cara Mudah Menghancurkan Indonesia

Menghancurkan negeri Indonesia ini sangatlah teramat mudah.

Bukan dengan sekedar memaling & melarikan isi perut bumi Ibu Periwi ke luar negeri; bukan dengan sekedar terus mengadu domba antar umat beragama atau antar aliran internal agama; bukan dengan terus menggalakkan korupsi atau menguatkan sistem yang koruptif sehingga orang ndhak niat korupsi pun bisa terpaksa harus korupsi; dan tak cukup hanya dengan menebar mudah-mudah berbagai jenis narkoba ke para remaja dan seluruh elemen bangsa, serta gak cukup hanya dengan terus menguatkan sistem multi-parpol pemecah antar golongan belaka. Meski mengerikan, itu semua hanya efek dari satu hal saja…

Menghancurkan negeri dan bangsa Indonesia teramatlah mudah.

Hancurkan (dan lenyapkan) saja pendidikan BUDI PEKERTI di negeri ini. Dijamin, bangsa ini bakal segera tamat riwayatnya ndhak pake lama!

Ndhak percaya?

– FHW