(Street Legal) Race Car.

“Curang” nih… Kalo tim balap biasanya beli mobil jadi; trus dibongkar dan dibangun ulang: chasis enforcement, bikin body kit, dan pasang segala perlengkapan (roll bar, pemadam, dll) sesuai homologasi, sama sunat sana-sini buat meringankan berat;

berhubung ini tim balapnya BMW, maka ia cukup memenggal body jadi tapi belom selesai dari jalur produksi dan melanjutkan sendiri segala proses yg diperlukan secara hand-made. Tanpa harus memasang parts yg tak diperlukan tentunya: jok penumpang, dashboard komplit, dll. Dan biasanya juga tidak termasuk AC, sound-system, perangkat electric tambahan (power-window, dll.), dll.

Yaaa… mungkin bukan cuman BMW, tim-tim resmi pabrikan kelas dunia mungkin juga sama kayak gini prosesnya.

Dan mobil balap yg dibikin legal di jalan raya, karena sudah dikompliti segala atribut yg dipersyaratkanb oleh regulasi jalan raya: lampu, sein, instrumen cluster, dll. kemudian dijual ke umum melalui dealer resminya sebagai street-legal race car.

Duit maning dapetnya.

Itulah kita kalo pintar, nyari duit itu jadi “gampang”.

Saya bukan penggemar mobil balap/racing. Karena jiwa saya itu mobil dolan/turing.

Tapi menonton video ini tuh imprssif banget.

Layak ditonton dan inspiratif. (y)

Advertisements

Ford Ecosport Storm

Pertama kali melihat sosok Ford Ecosport di jalanan Indonesia, saya melihatnya di Jakarta kala itu pas awal-awal dia abis di-launching, saya terkesima dengan sosoknya. Aneh, tidak memunculkan kesan lucu, tapi unik dan menarik.

Mobil urban, dan terlihat cocoknya buat dinaiki pria/wanita pekerja ketimbang anak-anak kuliah – yang pantesnya mbawa Brio atau Jazz atau Yaris; kesan subyektif saya semacam itu. Ya tapi siapa yg bilang gk cocok kalo Ford Ecosport dinaiki anak SMA sebagaimana Jazz atau Yaris dinaiki seorang supervisior atau bahkan manajer? ๐Ÿ˜€

Mungkin karena Ford Ecosport ini produk global, bisa dibilang desainnya justru khas Ford banget, tidak bernuansa atau bernafaskan region tertentu. Platform B2E-nya sama dengan Ford Fiesta kalo di Indonesia sini. Ford Ecosport yang kita kenal adalah generasi kedua. Generasi pertama dibikin di Brazil untuk pasar Amerika Selatan. Baru yang generasi kedualah dirakit di banyak tempat, yakni Rumania, Brazil, China, India, dan Thailand untuk dijual buat pasar yang lebih global.

Saya tidak tau, untuk pasar Indonesia dapet mesin apa. kayaknya cuman 1,5l dengan 109 ps dan 140 Nm. Entah juga transmisi manumatiknya itu yg versi 4-speed automatic atau 6-speed PowerShiftโ„ข dual-clutch transmission (DCT). Kalo versi globalnya sih komplit; mulai mesin NA 1,5l 1,6l 2,0l juga diesel 1,5l hingga mesin buas Ecoboost 1,0l yang cc-nya paling imut tapi bisa menyemburkan tenaga 120 ps dan 170 Nm, melebihi keluaran dari mesin 1,6l yg 60% lebih gedhe cc-nya itu.

Ford Ecosport ini kerasa beneran hawa mobil internasionalnya. Jok ada arm rest-nya meski cuman di supir; ada lumbar support; setirnya juga dapet teleskopik selain tilt. Bukaan pintu belakangnya juga masih ala setir kiri: dibuka ke kiri. Mirip Mercy Klasse-G. Atau Chevy/Isuzu Trooper. Karet pintunya pun doubel dan tebel. Plus ada lis dalem berlapis kain macam mobil premium.

Switch/saklar lampunya juga model puteran di dashboard, bukan puteran di ujung tuas sein. Tuas sein/wipernya pun “kebalik”: sein di tuas kiri dan wiper di tuas kanan. Akrab banget dengan gaya mobil Eropa. Spion tengah nih: ada fitur auto-dimming.

Lampu dan wipernya pake autosensor. Plus ada vanity-lamp di balik visor, meski manual pake saklar pencet nyalakannya. Kalo di biem tua kita kan udah ostosmatis ikut bukaan cermin/sunvisornya. Dapet sunroof, meski gk ada handgrip untuk semua penumpang. Detail tentang mobil ini sebagaimana saya cuplik sekilas di atas bisa Anda dapatkan di wiki atau beberapa review dari youtuber dalam negeri.

***

DI Kediri, saya koq seperti belom pernah melihat unit ini lalu-lalang di jalanan. Mungkin ada, tapi saya kelewatan. Maklum, di sini kan gk ada dealernya Ford. Ford apapun, di Kediri sini lumayan jarang terlihat, termasuk Everest juga Fiesta. Ranger masih lumayan lah. Tapi jika Anda tiap hari di jalanan, belom tentu tiap hari -bahkan mungkin seminggu sekali- Anda liat Ford. Intinya begitu kurang lebihnya.

Dan akhirnya pukauan saya kepada si Ecosport memudar seiring waktu.

Hingga selusur-selusur dunia maya, saya nemu berita tentang Ford Ecosport edisi Storm.

Sama kayak Ecosport generasi pertama, Ford Ecosport Storm ini dirilis oleh Ford Brazil lagi.

Ubahannya, intinya dia lebih offroad-looks ketimbang standarnya yang urban-looks. Kalo Motor1 bilang, dia adalah Raptor Wannabe. Raptor sendiri adalah versi dedicated-offroad dari truk-pikap F-Series.

Sungguh Ford Ecosport Storm ini emang keren. Khususon grill-nya yang Raptor-looks itu. Asli keren.

Ditambah lagi dengan warna velg yg sangar bingar, wiks.. bikin merinding disco melihatnya. Fender item dan juga aksen item di bodi samping atau kap mesinnya mempertegas kesan offroad ini. Meski umpama saya yang memilikinya, saya akan lepas itu stiker di samping dan di kap mesin. Biar lebih keliatan simpel dan rapi, gk pating grรชmbรจl. ๐Ÿ˜€

Yup, Ecosport Storm emang kesannya offroad, lebih dari sekedar cross-over. Karena Ecosport itu sendiri adalah sebuah CUV/compact utility vehicle ketimbang sekedar cross-over.

Dan kemudian saya kangen lagi tentang kisah si Ecosport yang sekali pun belom pernah saya jamah.

Ada yg mau minjemkan Ford Ecosport-nya ke saya buat saya test? ๐Ÿ˜€

IMHO, CMIIW.
– FHW Raptor Storm

Philips Retro

Menjelajahi dunia maya, saya lagi pingin mengkoleksi gambar-gambar produk dari Philips yang bertema retro. Umumnya produk-produk ini tak dipasarkan di Indonesia. Bahkan di sononya, beberapa produk juga sudah diskontinyu.

Jika dulu produk-produk tersebut masih berteknologi analog, yang tentunya sudah sedemikian teramat canggih pada eranya, plus desain yang genuine: tak ada sebelumnya; maka tentunya di era kekinian produk-produk tersebut sudah pada digital semua.

Itu Philip Boombox, atau tape-compo lazim disebutnya di sini pada era 90an, slot kasetnya berisi colokan USB. Buat flashdisk tentunya. Atau mungkin ada CD-playernya di dalamnya situ.

Entahlah. Saya tak terlalu menelusuri sepk masing-masing produk. Saya hanya terkesima dengan desainnya yang luar biasa. Luar biasa keren, dan bisa jadi inspirasi: semacam melanggengkan tradisi yang adaptif dengan kondisi era kekinian.

BTW, anak-anak sekolah sekarang ngerti tape-compo atau mini-compo enggak ya? Yang jelas kalo si kecil kami sih enggak ngeh. Meski masih ada mini-compo peninggalan jaman kuliah ibunya di rumah.

Thanks Philips, you inspire us.

– FHW double-deck

Philips Original Radio ORD7300

Philips Original Radio ORT7500/10

Philips Original Radio Mini ORD2100B/37




Philips Retro Radio AE2730

Philips Sound Machine OS685/05



Philips Retro Vinyl Spinner OTT2000


TAMBAHAN

Philips Classic LED, bohlam LED serasa bohlam pijar/filamen.



Nintendo Classic Mini, mengingatkan era 90an. Permainan di dalamnya pun berisi permainan era 8bit kala itu.


Honda Super Cub



Honda Super Cub 2017, lampunya LED, tentunya.

Chevrolet HHR, melahirkan kembali van 60an.




Chevrolet SSR, melahirkan kembali truk 60an.



FORD Thunderbird



Chrysler PT Cruiser


VW New-Beetle


MINI

Korban Matic

Di kampung halaman pedalaman Kediri gini, sejauh pengamatan sepintas saya, publik masih kurang doyan sama mobil matic. Banyakan maunya pada mobil manula. Eh manual.

Jadinya kayak dua temen saya. Yg pertama kali nyetir mobil matic kami. Keduanya sama-sama mengutarakan report yg sama: pas enak-enaknya nyetir, kaki kiri nginjek rem sekuat tenaga, berasa nginjek kopling yg emang biasanya diinjek sekonyong-konyong bukan pelan-pelan.

Alhasil, seisi mobil pada mencelat ke depan.

Meski bukan kategori apa-apa dan mencelatnya aman-aman saja, sumpah serapah keluar dari para penumpang.

Kebalik sama di luar negeri yang mayoritas kendaraan di sana bisa dipilang “pasti” matic. Saya pernah mbaca di suatu media, sayangnya pas saya googling ulang koq belom ketemu: ada maling yg udah ngerusak mobil buat diembat. Tapi si maling ngurungkan niatnya karena itu mobil transmisinya manual.

Well… Sekarang trend penjualan mobil di Indonesia, khususnya di kota besar, yg laku malah yg matic. Jalanan semakin macet, orang udah males ngopling.

Begitulah, beginilah ketikan iseng saya di siang ini.

– Freema Bapakne Rahman
Manumatic
Triptonic Tiptronic Steptronic Manumatic
Matic
Automatic
Manual

Nyetir Lagu, Mendengarkan Kendaraan

Bukannya pro atau kontra sama pak plokis isilop, tapi kalo saya pribadi emang juarang ndengerkan musik di perjalanan.

Bukannya gk pernah apalagi gk pernah sama sekali, pernah dan lumayan sering juga koq.

Cuman overall saya lebih suka tanpa musik, atau volume lirih/secukupnya aja muternya; dan enakan ndenger radio atau ngobrol sama istri.

Jadi, haram bin mubadzir nbih pasang audio kenceng-kenceng? Saya ndhak bilang gitu. Itu case-nya macam lampu HID yg warnanya buuuiiiruuu. Atau stop/tail-lamp yg harusnya merah dijadikan putih.

Boleh koq, kalau keperluannya kosmetikal-artistik, misalnya untuk kontes, karena itu -katakanlah- ada unsur keindahannya. Yaaa mobil dalam satu sisi tertentu kan juga merupakan benda seni, sebagai makanan psikologis. Atau apalah alasannya terserah. Ini sangat relatif sekali. Ndhak bisa di-gebyah uyah, di-judge dengan pukul rata.

Tapi kalo udah berbicara jalan raya, ya itu: aturan adalah di atas segalanya. Lamnpu depan buiru, stop/tail-lamp putih, ya hukumnya haram jadah. Membahayakan diri sendiri dan terutama orang lain. Bisa sampe nyawa urusannya. Kasarnya kata: gara-gara stop/tail lamp putih itu bisa jadi nyawa orang melayang. Bukankah ini sama artinya dengan pembunuhan (berencana yg dilakukan tanpa sengaja)?

Yakh intinya sih: driving is driving. An sich.

Kita musti bisa nyetir/mengendalikan lagu (agar tak mengganggu) dan mendengarkan, merasakan, get the feel dan keep in touch dengan kendaraan. Jangan samapi pas enak-enaknya ndengerkan musik kenceng di kabin, gk sadar kalo bumper lepas (ya embuh apa sebabnya, pokoknya contohnya gitu. ๐Ÿ˜› Weeekkk! ๐Ÿ˜€ Hehehehehehe)

MUSIK, radio, ngobrol itu mengganggu? Tergantung kitanya sih.

Pas istri nanyak sesuatu dan saya lagi butuh konsentrasi, ya jawabannya saya pending dulu bentar koq. Usainya baru saya bilang ke istri, “Eh nanyak apa tadi?”

Trus saya di keplak mesra. Saking mesranya sampe pipi saya panas, berasa ngecap tangan gitu.

Istrimu mesra gitu juga ndhak sama kamu lik?

Regards,
– Freema Bapakne Rahman
Supir keluarga.

*********

Ini penjelasan psikolog tentang musik di mobil itu:

Tapi memang saat mendengarkan musik di mobil, musik bisa membuat perhatian Anda teralihkan saat menyetir, atau istilah kerennya distraksi.

Menurut psikolog Agatha N. Ardhiati, 88 persen pengendara selalu mendengarkan musik di dalam kendaraan, sementara sisanya kadang-kadang saja atau tidak mendengarkan musik.

“Faktor-faktor distraksi adalah apa yang kita lihat, dengar, cium/hirup, rasakan, pikirkan. Sebenarnya walaupun lewat indera pendengaran, tetapi lewat musik kita bisa memunculkan emosi, perasaan tertentu, dan itu yang membuat jadi distraksi saat nyetir,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Alasan kedua musik bisa jadi distraksi saat menyetir adalah kita bisa tiba-tiba jadi mengkhayal, memikirkan pengalaman masa lalu.

“Jadi bukan hanya musiknya saja, tetapi efeknya bisa memunculkan emosi/perasaan tertentu,” ujar Agatha.

Jadi bagaimana mendengarkan musik yang benar dalam mobil? Dia menyarankan pengguna kendaraan memilih lagu-lagu atau membuat playlist yang bisa menjaga emosi.

“Kalau lagi galau, jangan setel lagu-lagu galau, diganti ama yang senang. Pilih musik yang sesuai yang bisa berfungsi menjaga perasaan, kalau tadi senang tetep senang,” ujarnya.

Namun ada kalanya saat nyetir kita benar-benar harus mematikan musik, misalnya saat parkir kendaraan.

“Matiin saja musiknya, jangan sampai tukang parkirnya sudah bilang setop-setop eh malah ‘dug!’ udah deh,” ujarnya.

Saat melalui jalan tikus yang sempit, kadang kita perlu mematikan musik, karena saat itu butuh konsentrasi yang tinggi.

“Tetapi kalau kalau situasi normal, biar moodnya bagus menyalakan musik sih oke-oke saja,” pungkasnya.

Lengkapnya silakan menuju dimari https://oto.detik.com/berita/d-3894221/heboh-larangan-dengarkan-musik-di-mobil-ini-penjelasan-polisi

Bukan Mak-kluwer!

Terima kasih pak, udah ngasih saya jalan duluan. Bapak baik banget, gk kayak pengendara lain yg kadang udah jelas gk berhak jalan tetep aja nekat nyrondol.

Tapi gini pak, dalam hal posisi kita sama, seimbang, atau dianggap setara; yakni ketika kita sama-sama jalan ntar kita bisa tabrakan;

atau ketika saya jalan itu bisa membuat bapak ngerem mendadak atau setidaknya ngerem dengan (lumayan) keras;

maka bapaklah yg harus jalan duluan.

Karena di regulasi lalu-lintas, bapak yg jalan lurus gitu punya hak sepenuhnya ketimbang saya yg hendak berbelok.

Jadi mustinya bapak tadi ndhak usah memelankan diri dan berhenti untuk ngasih kesempatan saya untuk berbelok.

Sayalah yg wajib menunggu bapak lewat dukuan, baru saya melaju berbelok.

Yaaa kecuali bapak dan di belakang bapak tuh puanjangggg barisannya, yg kayak gitu baru terima kasih banget jika bapak bersedia mem-pause barisan untuk memberikan kesempatan pengendara minoritas gini berbelok. ๐Ÿ˜€

Well…

Semoga selamat di perjalanan sampai tujuan ya pak. Sehat selalu buat bapak dan keluarga, berkah rejekinya senantiasa.

Kalo di Indonesia ini orang isinya mayoritas kayak bapak, betapa nyamannya lalu-lintas di negeri ini.

Saya impressed banget tadi sama ketulusan bapak ngasih jalan duluan ke saya.

Sayangnya orang kayak bapak ini sepertinya langka, laksana pandawa di kerumunan kurawa.

Tapi, meski cuman seuprit dibanding kurawa, pandawalah yg menang. Orang bala pandawa kayak bapaklah pemenang dalam kehidupan ini, meski mungkin bapak sering disleding pengendara-pengendara bala kurawa.

Barakallah.

– FHW
Bukan baladewa. Cuman generasi dewa19.

Jalan Berlubang

Ini berita setahunan kemarin. Namun, 10 bulan sejak berita ini dirilis, saat kami melewati jalur di kawasan sana, kondisi jalannya masih parah.

BARUSAN belom lama, beberapa hari kemarin, saya nyaris mengalami kejadian serupa.

Ceritanya pas saya bermotor di suatu ruas jalan di Kediri sini. Bukan jalan raya antar kota yg lebar. Namun jalan yg saya lalui cukuplah untuk bersimpangan dua truk, meski lumayan berhimpitan.

Pas enak-enaknya melaju, aspal bongkah menganga di depan saya. Refleks saya berkelit menghindar, motor saya banting goyang ke kanan, posisi terdekat untuk menghindari itu lobang.

Ndilalah, tak dinyana, ada motor juga dari arah depan yg sedang menyalip mobil dari arahnya. Ostosmatis dia ngambil jalan melebihi tengah jalan.

Nyaris saja dia adu banteng dengan saya. Kami memang tidak ngebut, tapi kecepatan kami rasanya sama-sama tidak bisa dikata pelan.

Saya langsung kipas lagi motor ke kiri, dan dia agak memepetkan diri dg mobil yg dia salip.

Kami berdua alhamdulillah sama-sama selamat. Meski jantung saya berdegup tiada terkira.

Saya hanya kebayang si kecil yg lagi menunggu di rumah kala itu. Umpama, amit-amit, bapaknya ini harus berbelok ke rumah sakit dan tak sampai di rumah, entah gimana perasaannya dan ibunya.

Dan umpama si mas motor dari arah berlawanan saya tadi ‘nyampluk’ mobil yg dia salip, entah apa yg bakal terjadi dengannya.

KITA mungkin udah cukup berhati-hati di jalan. Namun kadang kondisi dan keadaan berkata lain.

Oleh karena itu, mari kita lebih berhati-hati lagi. Ikhtiyar sekuatnya untuk saling menjaga keselamatan diri sendiri dan keselamatan bersama/pengguna lain jalan raya. Selebihnya: senantiasa berdoa meminta keselamatan pada-Nya, bismillahi tawakaltu.

Dan buat pemerintah: mbok berhentilah mencelakai rakyatmu. Udah tak terhitung berita yg mewartakan: kecelakaan tragis gara-gara jalan berlubang. Mbok perkara jalan berlobang ini janganlah dianggap persoalan sepele. 1×24 jam, atau 2×24 jam mbok ditambal itu jalan bongkah.

Ya Allah berilah petunjuk-Mu pada kami semua senantiasa. Astaghfirullahaladzim………

– Freema Bapakne Rahman