Kini BMW Bervelg Mercy!

Ada sesuatu yg menarik pada BMW generasi kode bodi G. BMW G30 (Seri 5, sedan) atau BMW G11 (Seri 7) misalnya, kini memiliki velg dengan PCD 5 x 112 dengan center-bore 66,6; meninggalkan spesifikasi lama yang 5×120 dengan center-bore 72,6.

Spesifikasi ini persis sis sis sis pleggg dengan spesifikasi PCD dan center-bore Mercy selama ini.

Kalo offset, rata-rata mobil era sekarang sudah pakai offset berangka besar, alias bagian tengah velg berposisi lebih ke-luar.

Dalam bahasa perbeemwean, offsetnya tuh offset Seri 3, bukan lagi offset Seri 5 atau 7 yg terkenal ber-angka kecil.

Suedikittt yg berbeda cuman di gendutnya baut. BMW pakai 1,25 sementara Mercy pakai 1,5. Ini malah enak, bautnya BMW bisa masup sluppp saat dipasangi velg Mercy.

INI berbalik dengan kelakuan VW/Audi. Ada model yg dimelarkan PCD-nya dari 5 x 112 dengan center-bore 57,1 mm menjadi 5×120 dengan center-bore 66,1; ada model yang tetap PCD-nya (%x112) namun dengan center-bore membengkak, dari 67,1 menjadi 66,5.

Biasanya, VW/Audi bisa dipasangi velgnya Mercy namun dengan dibuatkan center-bore ring buat mengepaskan center-borenya. Kini, tampaknya pengguna VW/Audi malah bisa pakai velg (lama) BMW dan tinggal bikinkan ring buat center-borenya.

***

Saat saia telusuri alasan kenapa BMW mengubah PCD dan center-borenya ini, saia belom menemukan informasinya.

Monggo dikomeng jika njenengan menemukan beritanya tentang alasan tersebut.

– Freema Bapakne Rahman.

Ket.: satuan-satuan angka mengikuti satuan baku yg dipakai, di sini adalah mm (milimeter).
Refs.: car.info, wheel-size.com

Advertisements

Selera Saya Rally, Turing Bukan Racing.

Semua orang bebas punya selera. Asal gk melanggar hukum, aturan, norma; asal gk merugikan diri sendiri, orang lain/masyarakat, dan alam-lingkungan.

Jika kebanyakan bimmerfan selera ubahan dari standarnya adalah ceper, velg gedhe, ban profil tipis atau semacamnya;

yg kayak ginilah selera saya:

pakai ban yg siap buat melibas tanah-kerikil; dengan deretan lampu tembak/lampu kabut yg siap menembus malam, menembus gelapnya belantara, menerjang kabut dan angin malam.

Berselera, bukan berarti saya punya. Membayangkan itu semua tuh gk melanggar hukum, aturan, norma; gk merugikan diri sendiri, orang lain/masyarakat, dan alam-lingkungan bukan?

Saya ini supir turing, bukan supir racing. Selera saya adalah rally.

– Freema Bapakne Rahman.

Racing = bahasa kontekstual untuk balapan aspal/sirkuit.

Why BMW Owner Are Fanatics

Fanatically loyal, that is.

They buy a BMW because the car is a great idea. A perfectly practical family sedan and a superb sport car. All in one.

And the the longer they own it, the more enthusiastic they get. Because that great idea is such a great car.

Driving one is a very special exprerience. There is a responsiveness, a smoothness, a precise sureness, in the way a BMW handles that makes driving a real joy.

The car is fast, and incredibly rugged. And because of the sophisticated BMW suspension, it holds the road better than any other car we know of.

Yet for all that, performance is only the beginning. There is the dependability, and the comfort, and the roominess, and the economy.

There is the finish, and the craftsmanship, and the materials.

And most of all, there is the feeling that of all the machinery you may have driven, nothing was put together as beautifully as this.

So sure, BMW owners are fanatics. After all, the’ve got a lot going for them.

Last but not least, mutunya terjamin.

– FHW.
Nemu iklan editan.

(Street Legal) Race Car.

“Curang” nih… Kalo tim balap biasanya beli mobil jadi; trus dibongkar dan dibangun ulang: chasis enforcement, bikin body kit, dan pasang segala perlengkapan (roll bar, pemadam, dll) sesuai homologasi, sama sunat sana-sini buat meringankan berat;

berhubung ini tim balapnya BMW, maka ia cukup memenggal body jadi tapi belom selesai dari jalur produksi dan melanjutkan sendiri segala proses yg diperlukan secara hand-made. Tanpa harus memasang parts yg tak diperlukan tentunya: jok penumpang, dashboard komplit, dll. Dan biasanya juga tidak termasuk AC, sound-system, perangkat electric tambahan (power-window, dll.), dll.

Yaaa… mungkin bukan cuman BMW, tim-tim resmi pabrikan kelas dunia mungkin juga sama kayak gini prosesnya.

Dan mobil balap yg dibikin legal di jalan raya, karena sudah dikompliti segala atribut yg dipersyaratkanb oleh regulasi jalan raya: lampu, sein, instrumen cluster, dll. kemudian dijual ke umum melalui dealer resminya sebagai street-legal race car.

Duit maning dapetnya.

Itulah kita kalo pintar, nyari duit itu jadi “gampang”.

Saya bukan penggemar mobil balap/racing. Karena jiwa saya itu mobil dolan/turing.

Tapi menonton video ini tuh imprssif banget.

Layak ditonton dan inspiratif. (y)

Ford Ecosport Storm

Pertama kali melihat sosok Ford Ecosport di jalanan Indonesia, saya melihatnya di Jakarta kala itu pas awal-awal dia abis di-launching, saya terkesima dengan sosoknya. Aneh, tidak memunculkan kesan lucu, tapi unik dan menarik.

Mobil urban, dan terlihat cocoknya buat dinaiki pria/wanita pekerja ketimbang anak-anak kuliah – yang pantesnya mbawa Brio atau Jazz atau Yaris; kesan subyektif saya semacam itu. Ya tapi siapa yg bilang gk cocok kalo Ford Ecosport dinaiki anak SMA sebagaimana Jazz atau Yaris dinaiki seorang supervisior atau bahkan manajer? 😀

Mungkin karena Ford Ecosport ini produk global, bisa dibilang desainnya justru khas Ford banget, tidak bernuansa atau bernafaskan region tertentu. Platform B2E-nya sama dengan Ford Fiesta kalo di Indonesia sini. Ford Ecosport yang kita kenal adalah generasi kedua. Generasi pertama dibikin di Brazil untuk pasar Amerika Selatan. Baru yang generasi kedualah dirakit di banyak tempat, yakni Rumania, Brazil, China, India, dan Thailand untuk dijual buat pasar yang lebih global.

Saya tidak tau, untuk pasar Indonesia dapet mesin apa. kayaknya cuman 1,5l dengan 109 ps dan 140 Nm. Entah juga transmisi manumatiknya itu yg versi 4-speed automatic atau 6-speed PowerShift™ dual-clutch transmission (DCT). Kalo versi globalnya sih komplit; mulai mesin NA 1,5l 1,6l 2,0l juga diesel 1,5l hingga mesin buas Ecoboost 1,0l yang cc-nya paling imut tapi bisa menyemburkan tenaga 120 ps dan 170 Nm, melebihi keluaran dari mesin 1,6l yg 60% lebih gedhe cc-nya itu.

Ford Ecosport ini kerasa beneran hawa mobil internasionalnya. Jok ada arm rest-nya meski cuman di supir; ada lumbar support; setirnya juga dapet teleskopik selain tilt. Bukaan pintu belakangnya juga masih ala setir kiri: dibuka ke kiri. Mirip Mercy Klasse-G. Atau Chevy/Isuzu Trooper. Karet pintunya pun doubel dan tebel. Plus ada lis dalem berlapis kain macam mobil premium.

Switch/saklar lampunya juga model puteran di dashboard, bukan puteran di ujung tuas sein. Tuas sein/wipernya pun “kebalik”: sein di tuas kiri dan wiper di tuas kanan. Akrab banget dengan gaya mobil Eropa. Spion tengah nih: ada fitur auto-dimming.

Lampu dan wipernya pake autosensor. Plus ada vanity-lamp di balik visor, meski manual pake saklar pencet nyalakannya. Kalo di biem tua kita kan udah ostosmatis ikut bukaan cermin/sunvisornya. Dapet sunroof, meski gk ada handgrip untuk semua penumpang. Detail tentang mobil ini sebagaimana saya cuplik sekilas di atas bisa Anda dapatkan di wiki atau beberapa review dari youtuber dalam negeri.

***

DI Kediri, saya koq seperti belom pernah melihat unit ini lalu-lalang di jalanan. Mungkin ada, tapi saya kelewatan. Maklum, di sini kan gk ada dealernya Ford. Ford apapun, di Kediri sini lumayan jarang terlihat, termasuk Everest juga Fiesta. Ranger masih lumayan lah. Tapi jika Anda tiap hari di jalanan, belom tentu tiap hari -bahkan mungkin seminggu sekali- Anda liat Ford. Intinya begitu kurang lebihnya.

Dan akhirnya pukauan saya kepada si Ecosport memudar seiring waktu.

Hingga selusur-selusur dunia maya, saya nemu berita tentang Ford Ecosport edisi Storm.

Sama kayak Ecosport generasi pertama, Ford Ecosport Storm ini dirilis oleh Ford Brazil lagi.

Ubahannya, intinya dia lebih offroad-looks ketimbang standarnya yang urban-looks. Kalo Motor1 bilang, dia adalah Raptor Wannabe. Raptor sendiri adalah versi dedicated-offroad dari truk-pikap F-Series.

Sungguh Ford Ecosport Storm ini emang keren. Khususon grill-nya yang Raptor-looks itu. Asli keren.

Ditambah lagi dengan warna velg yg sangar bingar, wiks.. bikin merinding disco melihatnya. Fender item dan juga aksen item di bodi samping atau kap mesinnya mempertegas kesan offroad ini. Meski umpama saya yang memilikinya, saya akan lepas itu stiker di samping dan di kap mesin. Biar lebih keliatan simpel dan rapi, gk pating grêmbèl. 😀

Yup, Ecosport Storm emang kesannya offroad, lebih dari sekedar cross-over. Karena Ecosport itu sendiri adalah sebuah CUV/compact utility vehicle ketimbang sekedar cross-over.

Dan kemudian saya kangen lagi tentang kisah si Ecosport yang sekali pun belom pernah saya jamah.

Ada yg mau minjemkan Ford Ecosport-nya ke saya buat saya test? 😀

IMHO, CMIIW.
– FHW Raptor Storm

Philips Retro

Menjelajahi dunia maya, saya lagi pingin mengkoleksi gambar-gambar produk dari Philips yang bertema retro. Umumnya produk-produk ini tak dipasarkan di Indonesia. Bahkan di sononya, beberapa produk juga sudah diskontinyu.

Jika dulu produk-produk tersebut masih berteknologi analog, yang tentunya sudah sedemikian teramat canggih pada eranya, plus desain yang genuine: tak ada sebelumnya; maka tentunya di era kekinian produk-produk tersebut sudah pada digital semua.

Itu Philip Boombox, atau tape-compo lazim disebutnya di sini pada era 90an, slot kasetnya berisi colokan USB. Buat flashdisk tentunya. Atau mungkin ada CD-playernya di dalamnya situ.

Entahlah. Saya tak terlalu menelusuri sepk masing-masing produk. Saya hanya terkesima dengan desainnya yang luar biasa. Luar biasa keren, dan bisa jadi inspirasi: semacam melanggengkan tradisi yang adaptif dengan kondisi era kekinian.

BTW, anak-anak sekolah sekarang ngerti tape-compo atau mini-compo enggak ya? Yang jelas kalo si kecil kami sih enggak ngeh. Meski masih ada mini-compo peninggalan jaman kuliah ibunya di rumah.

Thanks Philips, you inspire us.

– FHW double-deck

Philips Original Radio ORD7300

Philips Original Radio ORT7500/10

Philips Original Radio Mini ORD2100B/37




Philips Retro Radio AE2730

Philips Sound Machine OS685/05



Philips Retro Vinyl Spinner OTT2000


TAMBAHAN

Philips Classic LED, bohlam LED serasa bohlam pijar/filamen.



Nintendo Classic Mini, mengingatkan era 90an. Permainan di dalamnya pun berisi permainan era 8bit kala itu.


Honda Super Cub



Honda Super Cub 2017, lampunya LED, tentunya.

Chevrolet HHR, melahirkan kembali van 60an.




Chevrolet SSR, melahirkan kembali truk 60an.



FORD Thunderbird



Chrysler PT Cruiser


VW New-Beetle


MINI

Korban Matic

Di kampung halaman pedalaman Kediri gini, sejauh pengamatan sepintas saya, publik masih kurang doyan sama mobil matic. Banyakan maunya pada mobil manula. Eh manual.

Jadinya kayak dua temen saya. Yg pertama kali nyetir mobil matic kami. Keduanya sama-sama mengutarakan report yg sama: pas enak-enaknya nyetir, kaki kiri nginjek rem sekuat tenaga, berasa nginjek kopling yg emang biasanya diinjek sekonyong-konyong bukan pelan-pelan.

Alhasil, seisi mobil pada mencelat ke depan.

Meski bukan kategori apa-apa dan mencelatnya aman-aman saja, sumpah serapah keluar dari para penumpang.

Kebalik sama di luar negeri yang mayoritas kendaraan di sana bisa dipilang “pasti” matic. Saya pernah mbaca di suatu media, sayangnya pas saya googling ulang koq belom ketemu: ada maling yg udah ngerusak mobil buat diembat. Tapi si maling ngurungkan niatnya karena itu mobil transmisinya manual.

Well… Sekarang trend penjualan mobil di Indonesia, khususnya di kota besar, yg laku malah yg matic. Jalanan semakin macet, orang udah males ngopling.

Begitulah, beginilah ketikan iseng saya di siang ini.

– Freema Bapakne Rahman
Manumatic
Triptonic Tiptronic Steptronic Manumatic
Matic
Automatic
Manual