Patah As

Pernah lihat truk patah as roda? Bagaimana perasaan Anda?

Kalo saya, jujur saya kasihan, berempati, namun sekaligus enggak terlalu peduli dengan fenomena ini.

Saya kasihan, begitulah beratnya supir truk bekerja, dia harus membawa truk dengan beban yang sangat melebihi kapasitas sehingga berpotensi terhambat pekerjaannya yang bisa jadi bukan karena salahnya. Terhambat pekerjaannya yang bisa jadi bukan karena salahnya inilah yang membuat saya berempati.

Tapi saya cuek dan enggak ambil pusing. Itu as, saya meyakini benar, patah karena beban muatannya yang berlebih. Sebab kejadiannya beberapa kali saya lihat di ruas jalan yang kondisinya baik-baik saja, bukan jalanan yang rusak.

Kalo jalanan rusak, okelah mungkin si jalan yang menyebabkan musibahnya. Dan jalan rusak ini bisa jadi karena dua perkara saja: kendaraan yang dibiarkan melebihi tonasenya terus-menerus melintas, atau pemerintah yang bikin jalan alakadarnya, dengan dalih anggaran enggak cukup dan rusak karena cuaca.

So, saya enggak sempat berpikir bagaimana mengatasi as roda truk yang patah begitu. As roda truk patah? Ya sudah. Cuman itu yang ada di pikiran saya.

Dan kalo jalanan macet karena kejadian itu, ya mau enggak mau saya harus bersabar. Mau mengumpat pun enggak ada hasilnya. Jadinya, jujur saya bersabar karena “terpaksa”, bukan karen ikhlas dan karena berempati.

***

Pernah lihat mobil penumpang patah as roda? Bagaimana perasaan Anda?

Kalo saya, jujur saya kasihan, berempati, dan berdoa.

Kasihan si pemilik mobil harus mengalami kejadian seperti itu Berempati dengan membantu sebisanya kalo memungkinkan, setidaknya saya bersabar saat lalu-lintas macet karenanya, dan ini bersabar bukan karena saya terpaksa bersabar. Ini bersabar karena saya bisa memahfuminya. Sama-sama bersabar, tapi isi hati ini yang membedakan kalusulnya.

Dan selanjutnya saya berdoa, semoga pemilik mobil punya rejeki untuk merawat mobilnya sehingga potensi patah as – yang bisa jadi karena telat perawatan, bisa segera diperbaiki dan dirawat dengan benar. Karena memang kenyataannya hal seperti ini urusannya bukan lagi kenyamanan melainkan sudah pada urusan keselamatan. Ya kselematan diri sendiri ya keselamatan orang lain.

Atau kalo misalnya orangnya punya duit dan tau bahwa as rodanya waktunya diservis/diganti namun dia mendahulukan mempercantik kosmetikal mobil, misalnya dengan bikin audio jebam-jebum, ya semoga kejadian seperti ini menyadarkannya untuk menomorsatukan perawatan dan perbaikan yang berhubungan dengan faktor dan aspek keselamatan kendaraan.

***

Lantas bagaimana jika ada kendaraan pribadi yang patah as roda karena jalan berlubang?

Ini kejadian yang baru saya alami semalam sebelum saya mengetik post ini.

Saya sedang di atas bis dalam perjalanan pulang ke Kediri. Kebetulan duduk saya pas di bangku belakang sopir.

Saat itu sekitar abis maghrib dan situasi hujan.

Mendadak bis berhenti karena masuk ke dalam antrian kendaraan yang macet. Lokasinya di utara kawasan Minggiran, Kediri.

Kendaraan berjalan bergantian dengan kendaraan dari arah depan.

Saat kemudian kami melihat bahwa kemacetan ini disebabkan oleh sebuah kendaraan kecil yang posisinya melintas di ruasnya dengan salah satu roda patah. Rodanya kiri depannya melesak ke dalam fender/spakbor mobil dan begitu sangat miring. Jelas sekali kalo itu patah, bukan modifan enggak penting dan enggak berguna ala hellaflush. Enggak penting dan enggakberguna bagi saya, bukan Anda.

Kendaraannya masih lumayan bagus, umurnya masih muda meski bukan model yang sedang dijual. Kondisinya pun bagus: kinclong, keren, mulus.

Si kendaraan menyalakan lampu hazard. Ada kendaraan lain yang juga menyalakan hazard sedang berhenti di bahu jalan di sebelah si kendaraan yang mengalami celaka itu.

Sebelum posisi kendaraan yang patah as roda, terpasang cone untuk pengaman. Cone, bukan segitiga pengaman. Saya menebak, cone itu dari sebuah BPR yang berada seitar beberapa puluh meter dari lokasi kejadian. Mungkin dipinjam atau dipinjami dari situ.

Dan kendaraan yang berhenti di bahu jalan, ini murni tebakan saya, mungkin hendak menolng menyeret namun enggak bisa. Entah enggak ada tali entah memang kendaraan yang patah as roda itu enggak bisa diseret.

Tampak dua orang, mereka berpayung, bercakap-capak. Sekali lagi ini cuman tebakan saya, mereka adalah dua temen. Mungkin kendaraan di bahu jalan itu adalah temen si korban yang datang ke situ untuk menemani atau hendak membantu.

Enggak ada petuga skepolisian tampak di lokasi.

Saya hanya merasa kasihan dan berdoa semoga ini semua segera tertangani dan lalu-lintas enggak macet.

***

Yang bikin perasaaan saya berkecamuk, adalah komentar si sopir bis kepada kenek/kondektur yang duduk di bangku asisten di dekat pintu bus.

“Saya yakin, itu patah karena dia menghantam lobang dalam dan tajam di situ. Ada lobang yang dalam dan tajam. Saya hafal bener bahwa di situ itu posisinya. Mungkin lobang itu enggak kelihatan karena tadi tertutup genangan air.” Kata pak sopir bus kepada keneknya.

Duh, kasihan si pemilik mobil. Ini kategorinya ranjau darat, bukan jalan rusak yang rusaknya merata. Ranjau darat itu ya lobang-lobang parsial atau sporadis yang berada di jalanan yang bisa dibilang pada umumnya baik-baik saja atau bahkan mulus.

Saya enggak tau apa penyebab ranjau darat kayak gini. Tapi bertahun-tahun saya menyusuri jalanan, nyaris setiap kali perjalanan, saya menemukan ranjau darat. Mulai yang sifatnya ringan namun cukup menimbulkan guncangan di bada, hingga yang kondisinya berat sampai bikin suara stopper suspensi kerasa banget: jedhakkkk!!! Plus perut yang seperti ditonjok dan punggu yang serasa dihantam balok.

Yang langsung ada di pikiran saya saat bis melintasi kendaraan yang patah as roda itu adalah: betapa dia kalo telat membayar pajak, denda langsung meyergap. Sementara saat dia kena celaka dan harus berkorban waktu, tenaga, terutama biaya karena terkena ranjau darat; maka itu akan sepenuhnya dianggap kecelakaan atau musibah yang enggak dikehendaki bersama. Seolah Tuhanlah penyebab dan yang menakdirkan semua ini.

Hingga hari ini saya enggak pernah mendengar bahwa hal begini adalah karena/sebuah kelalaian pemerintah yang enggak rutin menginspeksi jalanan dan langsung menambal lobang berbahaya yang mengancam keselamatan pengguna jalan raya.

Dan kenapa koq enggak ada inspeksi rutin terhadap lobang pengancam keselamatan pengguna jalan raya? Pasti penyebabnya adalah karena enggak ada anggaran, dan pemerintah kekuarangan SDM untuk bikin unit inspeksi rutin yang terus-terusan berkeliling jalanan sambil membawa bahan untuk menambal lobang pengancam nyawa, setidaknya suspensi kita seperti itu.

Rasa-rasanya, aspal berlubang adalah bukan sesuatu yang menjadi tanggung jawab khusus bagi pihak yang harus(nya) bertanggung jawab untuk itu. Ini semua berasa bukan sesuatu yang lepas tanggung jawab dari siapa yang harusnya bertanggung jawab, melainkan seolah seperti takdir alam.

Saya yakin seperti itu.

– FHW
Gambar hanya ilustrasi. Saya enggak sempat foto kejadiannya.

Advertisements

Komparasi Tiga SUV Gajah: Kita Cukup Beteman Biasa Saja

Dari sekian banyak full-size SUV, baik berbasis kendaraan komersial umumnya berjenis body-on-frame yang perkasa menerjang hambatan maupun yang dedicated untuk kenyamanan penumpang dengan menggunakan sasis monokok, ada tiga model yang saya teramat sangat terkesima melihat tampangnya.

Mereka adalah Cadillac Escalade, Mercy GLS, dan BMW X7 yang baru saja lahir dari rahim Bavaria.

Cadillac Escalade 4th Gen (GMT K2XL)

Saya enggak suka semua generasinya. Yang saya sukai adalah Cadillac Escalade generasi keempat (GMT K2XL). Baik SUV (SWB, wheelbase 116.0 in atau 2,946 mm) maupun ESV (LWB, wheelbase 130.0 in atau 3,302 mm), keduanya begitu teramat amat keren di mata saya.

Diluncurkan sebagai model 2015, meskipun produksinya dimulai sejak Januari 2014. Bermesin depan dengan penggerak roda belakang atau empat roda.

Menggunakan platform GMT K2XX, ia kembar beda tampang saja dengan SUV GMC Yukon, Chevy Tahoe (SWB)/Suburban (LWB); serta truk GMC Sierra dan Chevy Silverado.

Cadillac Esclade 4th gen ini hanya dipasangi mesin 6.2L EcoTec3 L86 V8 yang menyemburkan 420 tenaga kuda (313 kW) @ 5600 rpm dan menendangkan torsi 460 lb⋅ft (624 N⋅m) @ 4100 rpm. Ada dua pilihan transmisi yakni 6 perepatan GM 6L80 atau 8 percepatan GM 8L90, keduanya otomatis. Pada tahun 2019 ini yang 8 jadi 10 percepatan otomatis.

Meski cc-nya segitu gaban, di keluarga mesin GM, jajaran mesin LS ini masuk anggota keluarga small-block engine.

Jajaran mesin LS lahir sejak tahun 1996 (produksi dimulai tahun 1995), sementara varian L86 sendiri adalah generasi kelima yang nongol sejak tahun 2013.

Bonus: Cadillac Escalade 3rd Gen (2007- 2014) GMT 900

Mercy GL/GLS Class

Awalnya penamaan kelas ini adalah GL. Berikutnya, sesuai perapian klasifikasi kendaraan di jajaran Mercy, namanya berubah jadi GLS Class (Klasse, Jerman). Hirarkinya: G = geländewagen (off road), L = long-running atau bisa diterjemahkan turing, dan S adalah kasta SUV ini yg sejajar S-Class.

Konon, GLS Class ini diciptakan untuk menggantikan dan meneruskan kiprah G-Class yang udah tua bangka itu. Tak dinyana, G Class masih memiliki penggemar kuat dan permintaannya terus berlanjut.

ALih-alih dimatikan dan diganti GL-Class, hingga detik ini G-Class malah terus disempurnakan habis-habisan, dirombak total teknologinya, diganti menyeluruh semua fiturnya, tentunya dengan kemampuan yang terus meningkat dan efisiensi yang semakin dan semakin tinggi namun tetap menggunakan platform body yang enggak pernah berubah sejak sekian dasawarsa silam!

Hanya ada dua kode bodi G-Class sejak lahirnya di tahun 1979 silam, yakni W460 (1979-1990) dan W461 (1990 – ) dan W463 1st ge (1990 – 2018) dan 2nd gen W463 (mulai 2018).

Alhasil, jadilah G-Class dan GL(S) Class ini berpisah di kerangkanya saja. Lainnya itu: kemampuan offroad, kemewahan, teknologi dan fitur, dll. sudah semakin susah dibedakan. Bedanya hanya di: karakter.

Dalam perkembangannya, G-Class diperkuat branding dan karakternya untuk kegunaan off-road. Tepatnya: off-road yang teramat super-duper mewah. Itulah kenapa G-Class 6×6 foto-fotonya banyakan di gurun Dubai sana, tempat offroad-nya orang kaya. Enggak off-road “beneran” macam Land Rover Defender ataupun Jeep Wrangler.

Sementara GLS-Class seolah dan serasa adem ayem aja beritanya di jagad otomotif dunia.

Saya pribadi mengendusnya, GL-Class beneran jadi barang jualan sementara G-Class diperkuat sisi awareness-nya. Mengingat penjualan sepanjang tahun 2017 di US, GLS-Class laku 32 rb unit lebih, sementara G-Class hanya 4.200 unit kurang dikit. Yakh, mungkin karena faktor harga juga kali ya? Di US, GLS550 dijual USD 90 grand sementara G550 dilego USD 124,5 grand.

Saya suka kedua model GL(S)-Class yang telah ada: generasi pertama X164 (2006-2012) dan generasi kedua/sekarang X166 (2012-). Malahan, X164 saya lihat secara subyektif malah lebih keren: simpel, lugas, enggak banyak guratan yang enggak perlu gitu sepertinya.

Baik X164 maupun X166 punya sumbu roda sama 3,075 mm (121.1 in).

GLS Class ini punya mesin V6 dan V8 bensin serta V6 diesel yang dipecah menjadi lima varian model.

BMW X7

Ini adalah spesies terbaru dari BMW yangbelum pernah ada sebelumnya: BMW X7. Diproduksi sejak 2018, untuk keluaran sebagai model 2019.

Punya sumbu roda 3,105 mm (122.2 in).

Varian yang ada adalah:

  • Bensin B58B30M0 3.0 L I6 turbo (X7 xDrive40i). Bertenaga 250 kW (335 hp) @ 5,500–6,500 rpm dan torsi menendang sekuat 450 N⋅m (332 lb⋅ft) @ 1,500–5,200 rpm
  • Bensin N63B44M3 4.4 L V8 twin-turbo (X7 xDrive50i). Luapan tenaganya 340 kW (456 hp) @ 5,250–6,000 rpm dan hantaman torsinya 650 N⋅m (479 lb⋅ft) @ 1,500–4,750 rpm
  • Diesel B57D30 3.0 L I6 turbo (X7 xDrive30d). Tenaganya “imut” 195 kW (261 hp) @ 4,000 rpm namun seperti biasanya torsi diesel yang melimpah-ruah: 620 N⋅m (457 lb⋅ft) @ 2,000–2,500 rpm
  • Diesel B57D30C 3.0 L I6 quad turbo (X7 M50d). Berkekuatan 294 kW (394 hp) @ 4,400 rpm dengan torsi membludak 760 N⋅m (561 lb⋅ft) @ 2,000–3,000 rpm

Yap, BMW emang onsisten enggak bikin mesin V6.

Khayalan Tingkat Tinggi

Saya engak berniat mengupas fitur, teknologi, atau kemewahan di sini. Semua kendaraan tentu udah punya rem cakram di keempat rodanya dengan segala fitur pengeremannya: ABS, EBD, decent & accent assist, lane-keeping assist, park-assist, automatic ini-itu. dll. dengan bahasa dagang masing-masing.

Joknya jelas semuanya kulit dan penuh wood-panel di trim interiornya. Secara, mobil ginian apalagi yang perlu dikupas untuk sisi teknis dan materialnya.

Kapasitas bagasi pun meski berbeda-beda bukanlah hal yang menarik perhatian saya untuk saya gali perbandingannya. Karena jelaslah, seberapapun kapasitas bagasinya, pasti gedhe muatnya.

Bobot ketiganya pun ya imbang-imbang aja, di kisaran 2,5 ton. GLS yang sedikit agak ndut: 2,6 ton.

Ada sedikit perbedaan “kecil” di sini adalah: Cadillac Escalade adalah model body-on-frame yang punya dua wheelbase/sumbu roda, pendek (SWB) dan panjang (LWB). Yang mana SWB-nya lebih pendek ketimbang wheelbase BMW/Mercy sementara yang LWB lebih panjang dari keduanya.

Sementara Mercy GLS dan BMW X7 adalah SUV (BMW menyebutnya SAV – Sport activity vehicle) yang bersasis monokok dan hanya punya satu wheelbase/sumbu roda yang panjangnya berada di tengah-tengah antara Escalade SWB dan LWB.

Kelakuan mobil Amerika masih kebawa di Cadillac Escalade ini: mesinnya guedhe namun tenaganya memble, namun konsumsi bensinnya tumben lebih irit. Dengan mesin 6.2l yang paling gedhe di sini, ia cuman punya specific output 68.2 bhp/litre dan specific torque 101.27 Nm/litre dengan konsumsi BBM-nya adalah 16.8/10.2 l/100km city/highway. Mercy GLS AMG63 5.5l punya 105.7 bhp/litre dan 139.17 Nm/litre serta menenggak bensin 18.1/13.8/16.8 l/100km city/highway/combined.

Sementara Mercy GLS550 4.7l memiliki keluaran daya spesifik 96.3 bhp/litre dan torsi spesifik 150.12 Nm/litre serta minum bensin 13.8/10.7/12.4 l/100km city/highway/combined. Adapun BMW X7 xDrive5.0 yang bermesin paling imut 4.4l punya output spesifik 103.8 bhp/litre dan torsi spesifik 147.9 Nm/litre, seperti biasa dengan mesin lebih kecil tenaganya lebih gedhe namun torsinya kalah ketimbang Mercy. Saya belom dapet data konsumsi BBM-nya.

Oia satu yang sama lagi: ketiganya sama-sama 3 row seat/7 seater. Ini barang yang lumayan langka untuk pasar negara maju yang umumnya lebih individualistis namun sangat praktikal. Itulah kenapa kendaraan dengan dua baris tempat duduk pada umumnya sudah teramat cukup dan laris manis.

Model rendah: sedan atau estate/turing/wagon juga bisa dibilang merajai penjualan, mungkin karena unsur keamanan dan kenyamanannya. Plus hari-hari ini SUV yang kemudian naik daun, karena SUV sekarang udah bisa mendekati kenyamanan sedan karena laju perkembangan teknologi yang sedemikian pesat sehingga menjad fitur mumpuni dan memanusiakan di beragam produk kendaraan.

Satu-satunya faktor yang menarik perhatian saya hanyalah desain kendaraan dan aura karakter yang keluar dari ketiga SUV gajah di atas.

Dari model kendaraanya, jujur saya paling suka dengan Cadillac Escalade generasi keempat tersebut. Saya paling demen dengan karakter desain yang simpel, lugas, enggak banyak corak yang enggak perlu.

Bandingan ekstrimnya: saya jauh lebih demen VW Caravell yang “kota” begitu saja, lampu depan-belakangnya ya cuman begitu, yang seolah didesain sambil ngantuk ketimbang Alphard yang penuh corak: garis bodinya melekuk sana melekuk sini, lampu depan-belakangnya menyot sana menyot sini, atau grilnya yang entahlah gimana itu desainnya.

Bukan enggak keren, ini murni selera. Otak saya ngilu kalo memperhatikan desain Alphard yang meliuk-liuk kayak gitu. Sementara jiwa ini tenang rasanya ngelihat desain Caravelle yang ya cuman gitu itu.

Pun dengan Escalade, GLS, dan X7 itu.

Meski masing-masing punya akses yang kecil-kecil saja namun begitu terlihat: Escalade pada sudut lampunya, X7 pada grill-nya yang berkuasa, dan GLS pada… entah yang mana satu point of interest-nya, namun kesemuanya mencerminkan desain yang lugas dan enggak norak.

Dan dari ketiganya, Escalade K2XL yang saya nobatkan menjadi pemenang yang berhasil mencuri hati saya.

Namun secara brand, bukan per mobil, saya tetep cinta mampus sama BMW.

Bayangkan kalo punya duit, saya sebagai pecandu BMW eh kemudian memilih membeli itu Cadillac Escalade, orang pasti bingung memahami apa yang ada di isi benak saya.

Enggak perlu Anda susah-payah memahami. Pertama saya bukan keluarga Anda yang memang perlu saling memahami tanpa ada alasan apapun. Kalau pun toh Anda adalah teman saya, pemahaman Anda enggak akan menghasilkan tambahan pendapatan bagi Anda. Kita cukup berteman biasa saja.

– FHW

Jangan Beli Biem, Belilah Xeniavanza.

Edian sampe segininya.

Xeniavansa kayaknya udah bukan sekedar mobil lagi, dia berasa udah jadi metonimia dalam konteks tertentu.

Kendaraan ini sepertinya udah jadi simbol kultur.

#

Well, saya gk pernah punya xeniavansa (dan blackberry), dan nyatanya hidup saya baik-baik saja, meski terkena sengsara miara bmw.

Tapi mungkin hidup saya akan jadi jauh lebih baik kalo dari awal saya punyanya xeniavansa dan gk pernah mengenal (sehingga jadi keracunan) bmw gini.

So bagi yg belom, urungkan niat anda beli bmw. Asli susah dan sengsara kalo udah keracunan: dipiara kerasa berat, dilepas malah jauh lebih berat lagi, dan bikin mobil pasaran jadi gk enak sejak dari masih di dealer.

Bagi yg belum terlanjur terjerumus jadi bimmerfan, segeralah beli xeniavansa.

Atau wuling mungkin lebih baik.

Waspadalah. Waspadalah. Waspadalah.

– FHW

Rally vs Sirkuit

Dari penelusuran saya di internet, emang buanyakkk yang pakai BMW buat rally.

Konon, E30 M3 itu yang menghabiskan adalah para tim rally. Saking bagusnya mobil itu, laris buat dipakai rally, dan pada remuk karena berbagai kejadian. Alhasil, kini populasinya jadi super sedikit. Kisahnya ini mirip Peugeot 205 Rallye atau Renault GT5 gitu, pernah baca tapi saya lupa dari mana sumbernya.

Namun officially saya belom pernah menemukan BMW secara resmi terjun di rally, khususnya WRC, seperti beberapa pabrikan lain macam: VW, Citroen, Peugeot, Renault, Hyundai, dll.

Ketimbang mendukung balapan di atas kerikil tanah, pihak BMW tampaknya lebih demen olahraga aspal sirkuit: DTM, dll.

Tampaknya, emang buat di aspal jalananlah BMW pingin membangun citranya.

Jadi kalo Anda penggemar BMW buat melintasi jalanan tanah berkerikil, itu sama sekali tidak salah. Cuman bukan di situ tampaknya BMW ingin meletakkan perhatiannya.

Dan memang nyatanya, nyaris kebanyakan kaum bimmerfan yang saya temui, mobilnya senantiasa dibikin ceper. Yang hanya bisa menjalani kehidupannya di atas aspal mulus. Pastinya, mereka akan tak sanggup untuk menghadapi dunia maksudnya jalanan yang penuh kerikil.

Mungkin demikin. Mungkin.

– FHW,
supir turing bukan supir racing.

Safety

Sebagai manusia yang memilih untuk percaya kepada Tuhan, setiap kali hendak bepergian, kami selalu berdoa sebelum berangkat. Agar perjalanan lancar dan kami diberi keselamatan oleh-Nya senantiasa.

Namun sekaligus, kami “reseh” dalam urusan milih mobil. Kami suka mobil dengan fitur keselamatan tinggi. Katakanlah dalam hal ini: mobil Eropa. Meski tidak selalu pasti dan belom tentu juga yang lainnya enggak seperti itu. Frasa mobil Eropa ini hanya untuk kiasan atau mewakili atau menggambarkan saja. Dan juga, meskipun ini mobil tua entah masih seberapa waras kondisi safety feature-nya. Tapi secara prinsip, demikianlah pilihan kami.

ANEHNYA, mobil-mobil teraman di dunia, malah datang dari negara dengan tingkat atheisme yang sangat tinggi.

Katakanlah, mereka enggak mengenal doa tentunya.

Mungkin karena enggak mengenal “pasrah kepada Tuhan” itulah mereka jadi mikir habis-habisan gimana caranya selamat. Mungkin, karena nyawa adalah miliknya sendiri, bukan milik Tuhan. Mungkin.

Makanya mobil-mobil buatan mereka, fitur safety-nya pol-polan.

Sebagai contoh katakanlah Volvo misalnya, dari Swedia, negara yang konon tingkat atheismenya tinggi.

Volvo itu penemu seatbelt, yang sekarang ada di semua mobil di dunia.

Volvo itu penemu foglamp, yang kita semua begitu demen demen ada foglamp di mobil kita.

Volvo itu penemu side-impact protection system: ada palang besi di pintu samping plus airbag dari sisi samping-dalam mobil (di sisi samping kursi kalo enggak salah).

Volvo itu penemu seat-collaps system. Kalo kecelakaan, sandaran jok depan akan rebah ke belakang, sehingga penumpang berkurang kemungkinannya ngantem dashboard.

Terakhir, volvo itu penemu pedestrian air-bag. Airbag-nya bukan cuman di dalam mobil, tapi juga di luar mobil, menggelembung dari bawah kaca depan. Jadi kalo nabrak orang, orangnya akan disambut oleh air bag.

Bukan cuman Volvo, Mer4cy BMW Audy dan sebangsanya itu sampe sekarang masih ngeyel bikin bodi kokoh dan rangka kuat, rangka mobil itu sudah melebihi kekuatan roll-bar rasanya, agar penumpang aman jika mobilnya rolling. Padahal ini jelas bikin harga jual sangat mahal dan enggak terjangkau semua kalangan.

BMW juga misalnya, karena saya kenalnya cuman ini meski aslinya enggak paham-paham banget juga, terkenal rewel: kalo ada sistem yang fault, biasanya dia enggak mau distarter.

BMW, justru membuat beberapa parts dari bahan yang sangat rapuh. Misalnya thermostat housing. Kalo ada fault di cooling-system, biar dia rusak duluan, enggak sampe kena semuanya/perangkat sistem lainnya.

BMW juga beberapa kendaraan lain yang umurnya udah beberapa puluh taon itu, punya active seat belt. Kalo ada kecelakaan, seatbelt-nya akan ditarik mengencang. Sehingga penumpang dihatapkan berkurang potensi terlemparnya ke depan.

BMW yang umurnya puluhan taon ini, engine mounting-nya malah dirancang lemah. Agar kalo kecelakaan, mesinnya ambrol ke bawah, enggak ngantem kabin.

Meskipun rangkanya kuat, BMW juga beberapa kendaraan lain malah dibikin melipat moncong depannya kalo kecelakaan. Jadi kabinnya aman. Moncongnya dikorbankan. Istilahnya: crumple-zone. Pernah lihat Lamborghini yang kecelakaan hebat sampe moncongnya hancur lebur tapi kabinnya utuh tuh tuh gitu? Semacam itulah skenario teknisnya.

Dan kalo kecelakaan, BMW juga beberapa kendaraan lain akan meng-unlock sendiri kunci pintu, sehingga penumpang enggak terjebak di dalam.

Dan masih buanyakkkk fitur keselamatan yang ada di BMW tua ini. Apalagi yang muda.

*

Mobil keluaran terbaru sekarang fitur keselamatannya malah semakin edan lagi: ada warning “ngopi” kalo mobil membaca telah dikendarai non-stop lebih dari sekian jam.

Ada lane-keeping assist, kalo dia membaca bahwa posisinya mulai menerjang marka jalanan, mobil akan membelokkan sendiri kemudinya sehingga posisinya tetap lurus di antara dia garis marka, di posisi yang benar.

Ada lagi early collision warning with brake assist. Mobil punya radar yang membaca depannya. Kalo mobil menengarai sopir enggak ngerem sementara obyek did epannya semakin mendekat, mobil akan mengerem sendiri.

Di beberapa mobil juga ada fitur SOS-call. Mobil akan otomatis mengirim sinyal atau panggilan telepon darurat jika dia mengalami kecelakaan.

Dan masih bejibun lagi fitur keselamatan terbaru yang semakin membuat saya cuman bisa melongo.

Konon ada yang mengatakan itu semua lebay, hanya ulah kapitalis yang menginginkan agar lebih banyak lagi uang yang dibelanjakan oleh konsumennya. Tapi kalo ini lebay, kenapa urusannya serius banget: nyawa?

Terlepas dari itu, anehnya semua fitur keselamatan itu dibikin oleh negara-negara yang mengijinkan atheisme….

Padahal kalau kita yang mengenal doa dan Tuhan, mustinya kita akan lebih reseh dan jauh lebih hirau tentang safety/keselamatan ketimbang mereka yang atheis. Karena kita bersyukur pada tuhan YME dengan menghargai dan menjaga sekuat tenaga nyawa satu-satunya di kandung badan ini.

Entah kenapa kita lebih suka bersandar pada argumen bahwa hidup-mati itu urusan Tuhan sehingga aspek keselamatan sering kali tidak menjadi prioritas pilihan kita.

Iya enggak sih?

Wallahualam bisawab.
– FHW.

Kini BMW Bervelg Mercy!

Ada sesuatu yg menarik pada BMW generasi kode bodi G. BMW G30 (Seri 5, sedan) atau BMW G11 (Seri 7) misalnya, kini memiliki velg dengan PCD 5 x 112 dengan center-bore 66,6; meninggalkan spesifikasi lama yang 5×120 dengan center-bore 72,6.

Spesifikasi ini persis sis sis sis pleggg dengan spesifikasi PCD dan center-bore Mercy selama ini.

Kalo offset, rata-rata mobil era sekarang sudah pakai offset berangka besar, alias bagian tengah velg berposisi lebih ke-luar.

Dalam bahasa perbeemwean, offsetnya tuh offset Seri 3, bukan lagi offset Seri 5 atau 7 yg terkenal ber-angka kecil.

Suedikittt yg berbeda cuman di gendutnya baut. BMW pakai 1,25 sementara Mercy pakai 1,5. Ini malah enak, bautnya BMW bisa masup sluppp saat dipasangi velg Mercy.

INI berbalik dengan kelakuan VW/Audi. Ada model yg dimelarkan PCD-nya dari 5 x 112 dengan center-bore 57,1 mm menjadi 5×120 dengan center-bore 66,1; ada model yang tetap PCD-nya (%x112) namun dengan center-bore membengkak, dari 67,1 menjadi 66,5.

Biasanya, VW/Audi bisa dipasangi velgnya Mercy namun dengan dibuatkan center-bore ring buat mengepaskan center-borenya. Kini, tampaknya pengguna VW/Audi malah bisa pakai velg (lama) BMW dan tinggal bikinkan ring buat center-borenya.

***

Saat saia telusuri alasan kenapa BMW mengubah PCD dan center-borenya ini, saia belom menemukan informasinya.

Monggo dikomeng jika njenengan menemukan beritanya tentang alasan tersebut.

– Freema Bapakne Rahman.

Ket.: satuan-satuan angka mengikuti satuan baku yg dipakai, di sini adalah mm (milimeter).
Refs.: car.info, wheel-size.com

Selera Saya Rally, Turing Bukan Racing.

Semua orang bebas punya selera. Asal gk melanggar hukum, aturan, norma; asal gk merugikan diri sendiri, orang lain/masyarakat, dan alam-lingkungan.

Jika kebanyakan bimmerfan selera ubahan dari standarnya adalah ceper, velg gedhe, ban profil tipis atau semacamnya;

yg kayak ginilah selera saya:

pakai ban yg siap buat melibas tanah-kerikil; dengan deretan lampu tembak/lampu kabut yg siap menembus malam, menembus gelapnya belantara, menerjang kabut dan angin malam.

Berselera, bukan berarti saya punya. Membayangkan itu semua tuh gk melanggar hukum, aturan, norma; gk merugikan diri sendiri, orang lain/masyarakat, dan alam-lingkungan bukan?

Saya ini supir turing, bukan supir racing. Selera saya adalah rally.

– Freema Bapakne Rahman.

Racing = bahasa kontekstual untuk balapan aspal/sirkuit.