Honda MogePro 3.0l 32-Valves V8 218ps 290Nm

Dear Honda,

Kami telah berhasil dan sukses memodifikasi sebuah Honda MogePro menjadi bermesin 3.0l 32-valves V8 dengan keluaran tenaga mencapai 218 ps (212 hp) dan torsi 290 Nm .

Namun untuk keselamatan jalan raya, kecepatan motor ini tetap kami batasi secara elektronis pada 100 kpj saja.

Kami juga telah berhasil mengubah transmisi manual ceklac-ceklic pada motor ini menjadi transmisi 7 kecepatan step tronic.

Sedikit penyeuaian lain yg kami lakukan adalah penambahan electronic-spoiler di bagian belakang (belakangnya motor, agak jauh ke sono).

Front-difuser juga telah kami tambahi wiper dengan opsi speed-sensing, namun rain-sensor telah kami lepas mengingat ini tetaplah sebuah motor, mau semahal apapun tetap saja kehujanan, oleh karena itu mending beli biem bekas ndhak kehujanan ndhak kepanasan ketimbang beli kalo tidak Ninja tidak cinta kalo bukan FU ndhak ai loop yu.

Semua fitur ini terintegrasi dengan Engine-DME Bosch(oc) version 6.9 terbaru dari pasaran loakan.

Oia, instrumen-cluster juga telah kami sempurnakan dengan paket android yg detachable, sehingga bisa diupgrade dan ditambahi aplikasi.

Semua proses modifikasi ini dikerjakan langsung sendirian saja oleh bengkel Sugitech di kawasan Bunderan Serayu, Madiun yg merupakan bagian dari Group SukurCom.

Bengkel ini termasuk salah satu bengkel kaliber internasional bahkan antar planet dan antar galaxy – mulai galaxy s sampai galaxy s-cond. Karena selain mennangani modifikasi segala jenis kendaraan baik BMW, Mitsubishi Colt T, Suzuki Truntung, Vespa, hingga motor besar jenis MogePro; Sugitech juga menangani segala servis elektronik mulai VCD Compo, speaker aktif, blender, kulkas, dispenser, rice-cooker dan er-er lainnya.

Juga yg terutama adalah SukurCom ini melayani segala kebutuhan cetak-mencetak Anda, mulai undangan manten (terserah mantenannya Anda atau siapapun), kertu nama, kertu siapa, dan kertu apa, hingga kertu mana. Beneran ini!

Jika Anda tertarik dengan karya otentik modifikasi anak bangsa(t) ini, silakan komeng dimari https://m.facebook.com/photo.php?fbid=178525259391423

***

JUGA tak lupa kami ucapkan hai dunia, lihat dan saksikanlah, inilah kami anak-anak BMW. Mosok pake motor cuman 150cc? Apaan tuh?

Namanya kami anak BMW, jelas kami ndhak terima dong dengan fakta menyedihkan ini!

Oleh karena maka daripada itu adapun kemudian akhirnya diperkenankanlah perkenalan modifikasi yang daripadamananya telah mengubah mesin 150cc tersebut menjadi mesin gahar sekaliber badak buas beringas nan kesetrum wabah kejang leher sehingga susah belok.

Maka saksikanlah apa yang mana daripadanya sebuah mahakarya tralala dari kami semua ini begini kapan kenapa seperti sebagaimana ininyalah: Honda MogePro 3.0l V8!

Tepuk tangan semua! Prok prok prok!

Demikian persembahan luar bi(n)asa dari kami hanya untuk Anda sedunia. Semoga berita gembira ini bisa bermanfaat mengendorkan saraf-saraf kaku dan hampir kram di otak Anda semua.

Akhirul kalam, jalesveva jayamahe, sekali di udara tetap di udara. Salam Wuling!

– Freema V8

Advertisements

Salut Dengan BBM Malaysia

Salut dengan BBM (bahan bakar minyak) di Malaysia, khususnya BBM diesel mereka. Ada:

  • Euro2 dengan sulfur 500 ppm, dan
  • Euro5 dengan sulfur 10 ppm

Sementara kita:

  • Solar busuk comberan dengan sulfur 3500 ppm,
  • Dexlite dengan sulfur 1.200 ppm,
  • Pertadex dengan sulfur 300 ppm.

Mungkin inilah kenapa anak-anak Malaysia tampak cerdas-cerdas (yaaa kalo liat Upin-Ipin sih πŸ˜€ Hehehehe), mungkin karena hanya sedikit sulfur yg mereka hirup dan meresap ke aliran darah. Kalo kata seorang kolega saya yg mantan TKI dari Malaysia, sepuluhan tahun silam, “Di Malaysia itu “solar”-nya warna merah Mas (low-sulphur), ndhak item (hi-sulphur) kayak solar di sini.”

#Catatan: Solar adalah salah satu nama dagang BBM diesel dari Pertamina, sebagaimana Dexlite, Pertadex. Cuman nama dagang ini semacam sudah menjadi metonimia untuk BBM diesel, khususnya di tempat-tempat yg jauh dari kota besar dan tidak/belom mengenal BBM diesel selain “Solar”.

Beda dengan anak muda Indonesia yg sering kita sangka sebagai generasi micin, mungkin selain karena kebanyakan micin beneran – ini cuman mungkin lho, kita juga kebanyakan menghirup sulfur yg berterbangan di jalan raya bahkan hingga ke persawahan pedesaan.

Mungkin. CMIIW.

Regards,
– Freemadex non lite.

Mobil Listrik: Pola Pikir Masa Depan Sekarang

Sekian tahun silam, mungkin lima tahunan silam – saya lupa, saya dicemplungkan ke sebuah forum otomotif Motuba sama seorang rekan dari Yogya. Kala itu warganya masih seuprit, hanya seribuan kalo ndhak salah.

Kadang saya rasa di forum ini tuh gini: ada case jangka panjang, eh dikupas dengan bahasan jangka pendek. Atau mungkin sebaliknya.

Ada juga trit yg komengnya beratus-ratus tapi isinya komeng diulang-ulang sampe puluhan kali oleh akun yg berbeda, atau komeng candaan yg sangat amat dominan dan mayoritas hingga mengalahkan secuil komeng yg related dg tritnya; sebuah trit yg kalo dikompres paling cukupnya berisi beberapa komen saja.

Trus ada trit/bahasan konseptual, tapi sama yg komeng dikaji dengan kunci pragmatis. Atau trit bahasan prinsip, tapi terus-terusan dikomengi dengan bahasan teknis.

Salah satu contohnya misal bahasan mobil listrik. Dilihat dari segala sisi, khususnya sisi ekonomis, mobil listrik itu jelas sama sekali ndhak ekonomis. Daya jelajahnya terbatas, isi ulangnya lama, sembarangnya masih mahal. Bahkan yg katanya ramah lingkungan pun, dia bisa jadi masih pake sumber listrik bertenaga fosil buat chargingnya.

Tapi saya sepakat dengan komeng Lik @Wendy Kurniawan: teknologi dan riset, kalau tidak ada yg memulai, pasti tidak akan pernah efisien.

Mungkin inilah alasan mobil listrik (mulai) hadir sekarang ini, dengan segala keterbatasannya dan kemahalannya.

(Terlepas bahwa kapitalis butuh instrumen produksi & investasi baru agar produk lama jadi basi dan ada produk baru yg terpaksa harus dibeli, agar uang terus bisa mereka keruk dan duit terus berputar di dunia ini.)

Artinya, secara sederhana, mobil listrik adalah aspek jangka “nanti”, bukan aspek jangka “now”, apalagi jangka sorong.

Pro dan kontra teramat sangat wajar bilamana ada. Dan mungkin inilah yg akan membuat produsen akan berbenah.

Tapi mbok ya, gimana ya bilangnya, itu lho: lha wong namanya mobil listrik itu masih belom efisien dan belom menemukan bentuknya, terlebih skala ekonomisnya; mbok kalo komen itu diletakkan pada koridornya yg sesuai.

Wong namanya hal jangka panjang mbok ya dikritisi dengan aspek jangka panjang, bukan jangka pendek, apalagi jangka sorong atau instrumen berjangka.

Jangan-jangan yg mengkritisi hal jangka panjang dengan sudut pandang jangka pendek itu, dianya masih keturunan orang jaman old yg mengkritisi hadirnya mobil saat menggantikan dokar: bensinnya belom ada di mana-mana, mesinnya ndhak dipahami oleh banyak orang, kapasitas angkutnya sungguh terbatas, mogokan mungkin, dll. dll.

Sementara pedati itu sungguh sangat ekonomis dan skalabel: kuda lapar, di sepanjang jalan banyak rumput. Bensin habis, eh kuda haus, tinggal minggirkan ke sungai. Beban berat, tinggal tambah lagi kudanya di depan, jadilah belasan tenaga kuda. Mogok/kaki kudanya patah, tinggal sembelih dan dimaem. Spare-parts cadangan pun tersedia: itu si anak kuda yg ikut dituntun di samping kereta. Sungguh efisiensi yg tak terkalahkan bukan?

Jaman segitu, lantas ngapain orang bikin mobil segala? Mana udah gitu eh ada yg mbeli lagi… Pasti jaman segitu yg bikin mobil maupun yg mbeli adalah kategori orang yg ndhak waras.

Sama kayak produsen sekarang yg bikin mobil listrik maupun pembelinya.

Ngapain buang-buang duit untuk hal/mobil yg SEKARANG ini masih sama sekali ndhak efisien? Tolol banget kan?

Ngapain ndhak ditunggu aja sampe ntar kalo baterenya udah efisien: nge-charge cepet, dan daya jelajah sudah sangat amat jauh?

Mustinya mobil listrik kan diproduksi dan dikeluarkan ntar aja kan: kalo baterenya udah cuepett di-charge secepet kita ngisi bensin dan sekali charge daya jelajahnya setara setanki bensin kita bukan?

ITU cuman contoh saja. Seperti kalimat pembuka saya di trit ini: kadang saya rasa. Ini cuman perasaan saya saja.

DAN kapan waktu lalu, mungkin setahunan silam, saya pernah bikin trit uneg-uneg juga. Kalo ndhak salah protes saya terhadap dominasi penggunaan bahasa Jawa, di trit yg isi dan skup warganya luas gitu. Karena beragamnya cara pandang warga di situ, trit saya dianggap jadi rusuh. Akhirnya saya didepak oleh salah seorang admin.

Ini untuk pertama kalinya saya didepak dari semua group yg saya ikuti di fesbuk. Kalo di Motuba sendiri, kayaknya sudah beberapa kali trit saya didelete sama admin. Alasannya jelas: bikin rusuh/kontroversi. Yaaa… πŸ˜€

Tau akan hal ini, admin founder Mbah Muhsin Bonsai sampai minta maaf ke saya dan kembali memasukkan akun saya ke grup besarnya ini. Padahal siapa juga saya, sampe doi segitunya gitu. πŸ˜€

Makasih Mbah Bons.

Regards,
– Freema HW V8

Triptonic Tiptronic Steptronic Manumatic


Bahkan, penggemar/pengguna biem pun masih buuuanyakkk yg menuliskan steptronic dengan tiptronic. Lebih parahnya lagi, juauhhh lebih buuuanyakkk lagi yg salah menulis dan menulis salah tiptronic dengan triptonic. Googling aja triptonic, maka google akan menyarankan yg benar dg tiptronic.

Udah steptronic salah jadi tiptronic, udah gitu diperparah lagi malah jadi triptonic.

Masih lebih parah lagi, kejadian ini udah berlangsung lama, udah berkali-kali dibahas, eh masih terus aja berulang-ulang ini kesalahan yg sama.

Dan bahkan mungkin sangat suuuedikittt yg ngerti bahasa generiknya: manumatic.

Tuduhan subyektif saya, yg mempopulerkan, melestarikan, dan melanggengkan kesalahan ini adalah para pedagang umum yg lagi jualan biem. Yakni para pedagang sok tau yg mana kelakuan mereka justru kita amini dengan sikap jarang memverifikasi ulang setiap informasi yg masuk ke kita.

Cek aja di setiap post, komen, atau trit di fesbuk; atau lapak dagangan di jual-beli online, berapa yg menuliskan steptronic dan berapa yg menuliskan tiptronic, sori “triptonic”, untuk BMW.

Ternyata “kecanggihan” pengguna BMW belom tentu secanggih mobilnya.

– Freematronic

Kangen BUCKS

Kangen saya sama rekan-rekan BUCKS. Genk awal yg saya kenal pada skup luas pertama kali ya BUCKS ini. Entah taon kapan itu saya meregisterkan diri via email ke BUCKS, dan akhirnya saya masuk list warga bimmer underground ini. Yg jelas, BUCKS kemarin barusan ultah ke-9 saat si Badak Biru udah 8 taon bersama kami.

Orang-orang di dalamnya pada sangat sepintas yg saya kenal, sama aja kayak genk-genk bimmer lain. Ada yg brengsek sampe temen-temennya sendiri jadi malu, ada yg dedikasi dan loyalitasnya luar biasa. Mengabdikan diri ke komunitas nyaris setara mengabdikan diri pada agama, bangsa, dan keluarga.

Dan ini mirip juga dengan kalangan genk-genk bimmer lain;

  • ada yg omongannya (angkawi)kelas berat mlulu: velg mahal, ganti biem, biem ceper, biem kenceng, biem kinclong;
  • ada punya yg karakter kere eh sori, kiri hore persis kayak saya.

Tapi ada satu hal dominan sejauh sekian taon saya (merasa)tergabung jadi warga underground BUCKS selama ini: meski buanyakkk yg guyon “internal sendiri”, yakni guyonan yg susah diikuti atau dimengerti oleh orang lain di luar kalangan; tapi omongan mereka tentang teknis per-bieman itu terasa sangat dominan. Poin ini yg saya sangat suka dengan BUCKS.

Sederhana kata, mayoritas yg saya dapati bukan sekedar: rusak – bawa bengkel, kelar. Masih ada bahasan kalo rusak kayak gini tuh kenapa dan banyak yg ikutan mengupasnya.

Sampai pada suatu malam era akhir 2013 atau awal 2014 mungkin, saya udah lupa waktunya, saya ngobrol dengan beberapa dedengkot BUCKS pas saya lagi di Jakarta: bahwa saya dan rekan-rekan Kedirian ingin membentuk chapter dan bergabung dengan BMWCCI. Tentu secara refleks mereka nanyak, “Kenapa ndhak membesarkan BUCKS saja di sana/di Kediri dan sekitarnya sini?”

Saya perlu waktu setengah malam untuk menjelaskan tentang pilihan kawan-kawan saya di kampung halaman sini.

Pertama, warga Kedirian itu bisa dikata blank total tentang BMW. Sampai hari ini empat taon umur Kediri Chapter, omongannya kalo kopdar ya cuman senang-senang melepas penat pekerjaan saja. Saya rasa cukup minoritas bahasan-bahasan belajar teknis tentang perbieman, meskipun bahasan ini tetap ada dan bukan berarti hilang sama sekali.

Dalam hal seperti ini, kalo Kedirian tidak saya bawa ke klub resmi BMWCCI dan malah seperti pilihan awalnya: jadi klub lokalan saja (bahkan juga bukan BUCKS yg skupnya nasional), maka mau jadi apa Kedirian ntar? Mau jadi paguyuban ngopi?

Temen-temen Blitarian Bimmer, komunitas lokal dimana saya juga tergabung dalam paguyuban ini pun bisa ngeh teknisnya biem karena kebetulan ada lik Abi aja yg sangat paham biem. Tanpa ada manusia yg satu ini, niscaya mereka bakal cuman jadi paguyuban biem terlantar yg mungkin bakal terlunta-lunta miara biemnya.

Dan semoga semakin besok warga Kediri Chapter benar-benar menjadi bimmerfan yg memahami biem, setidaknya biemnya sendiri-sendiri masing-masing. Tinggal pengurus dan warga punya semangat untuk bersama-sama menuju arah ini atau ndhak. Pun dengan rekan-rekan Blitarian, mumpung ada ilmu yg bisa diserap, ayo seraplah sebanyak-banyaknya buat bekal miara biem dengan baik dan benar (serta murah).

Beda ama BUCKS. Mereka-mereka yg melahirkan BUCKS karena sebelumnya udah punya kemaniakan terhadap BMW. Mereka sangat mengenali biemnya, dan cinta mati ama biem, meskipun hariannya pakai mobil Jepangan sejuta umat. πŸ˜€

Alhasil, ketika BUCKS mereka ciptakan, dasar kemaniakan terhadap biem inilah yg jadi kultur besar mereka. So, bagi BUCKS, bisa dimaklumi kalo ber-sistem atau mengsistemkan diri itu justru mungkin malah akan menghambat soliditas komunitas ini.

Jadi itulah kenapa saya memilih menolak ide lik Ardian “Boeng” Satriyadi dkk. yg awalnya pinginnya menjadikan Kedirian ini sebagai klub lokalan independen saja dan setengah malam itu juga di Kediri saya mati-matian meyakinkan ke kawan-kawan Kedirian agar kami bergabung ke BMWCCI, sebuah organisasi dg sistem, agar ada pegangan sistemik yg bisa menjadi arah langkah kumpulan ini.

Agar ayam-ayam tanpa indukan ini punya satu pegangan arah untuk melangkah.

Kedua, lainnya itu di (setengah) malam itu di Jakarta, saya mengulangi janji pada internal temen-temen Kedirian ke temen-temen BUCKS: bahwa Kedirian akan menjadi chapter yg taat regulasi tapi sekaligus tidak akan pernah menghilangkan nilai keguyuban dan kecairannya pada siapa saja untuk selamanya! Sebagaimana guyub dan cair pada siapa saja inilah semangat awal mula terkumpulnya Kedirian.

Bagi saya pribadi, mengajak rekan-rekan Kedirian menjadi chapter BMWCCI bukan berarti saya bakal meninggalkan BUCKS, yg mana inilah salah satu dimana sumber wawasan perbieman saya berasal. Dengan tetap menjadi BUCKSer sekaligus warga Kediri Chapter, maka saya akan (ingin) menjadi pribadi yg lebih luas lagi berpandangan, berteman, berwawasan, dan berpola pikir; menambah teman-teman baru, menambah pergaulan baru, tanpa harus mengubah gaya hidup(baru) sedikitpun. Ini harapan saya pribadi.

Alhamdulillah temen-temen bisa memahami.

2011 kami pertama kali ikut turing bersama temen-temen Blitarian (kala itu masih bernama Tuner) ke Pantai Prigi, Trenggalek. 2012 kami dan temen-temen Madiunan ikut hadir pada acara pengukuhan BMWCCI Malang Chapter.

2012 juga ada kopdar pertama temen-temen Madiun, Kediri, Blitar, Malang di Simpang Lima Gumul, Kediri yg dihadiri oleh Lik Catur.

2013 kami ikutan turing dari Jakarta bersama temen-temen BUCKS dateng ke ID Bimmerfest, Yogya.

2014 BMWCCI Kediri Chapter terbentuk. 2015 ikutan liat ID Bimmerfest di Jakarta.

Puncaknya sejauh ini, Februari 2017 kemarin saya berkesempatan hadir di syukuran ultah Amazin9 BUCKS di Bawen, Jawa Tengah. Kembali bertemu, berkumpul, dan bercengkrama dengan para dedengkot BUCKS serta rekan-rekan lainnya yg sedikitpun ndhak pernah luntur keguyuban dan keakrabannya yg terasa begitu cair.

SEDIKIT flashback, era 2010-an Kedirian sudah berteman sangat akrab dengan temen-temen Madiunan. Era 2011, Kediri+Madiun pernah mengajukan diri jadi chapter BMWCCI dengan nama chapter Mataraman. Dan tentu saja usulan nama ini ditolak.

Akhirnya ide tersebut kami pending. Dan nama itu sempat diteruskan juga jadi nama angkringan-online ini, yg semangatnya angkringan-online adalah menyatukan beragam asal-usul menjadi satu kebersamaan tanpa sekat dan batas, borderless friendship, unlimited silaturahmi

Belakangan, kini Kediri dan Madiun masing-masing udah jadi chapter BMWCCI.

Karena dari awalnya semangat Kedirian ini adalah borderless friendship & unlimited silaturahmi, maka inilah kenapa macam saya pribadi jadi sangat enjoy berteman dengan siapa saja, mengenal siapa saja, dan duduk bergabung dengan rekan-rekan dari bendera mana saja.

Saya dengan bangga bisa menyebut diri saya sebagai warga Kediri Chapter, warga BUCKS, atau warga Blitarian Bimmer. Termasuk warga-online di angkringan-online tercinta ini.

Dan manusia macam Lik Sugik, bimmer independen paling independen seindonesia itu dengan santainya juga bisa cangkrukan dengan Ki Lurah Kedirian Risky Mujiono​​ atau rekan-rekan dari BMWCCI Malang Chapter. Cair sekali.

Manusia macam Lik Catur di sini, mbah dan manusia yg kita sesepuhkan untuk jadi pengayom kita semua di angkringan-online ini pun juga adalah sesosok manusia merdeka & independen yg kebimmerannya bisa dibilang “bebas agama”. Lik Catur adalah manusia yg bisa dimiliki oleh semuanya tanpa terkecuali, bukan manusia yg mengibarkan satu bendera bimmer tertentu. Kecuali urusan rumah tangga, maka doi cuman milik keluarganya semata.

Atau juga Cak Rizal, doi adalah bimmerfan yg juga telah “bebas agama”. Saat ini, loyalitas kebiemannya hanyalah pada guru Semar Lik Sugik semata. Eh… πŸ˜€

Dan inilah angkringan-online ini kemudian memutuskan tetap jadi angkringan-online belaka. Angkringan-online Bimmerfan Mataraman ini bukanlah klub atau komunitas. Namun demikian kita punya kepala pemerintahan virtual di sini, yakni lae camat-online Naulinet yg bercokol di Padangsidimpuan saja.

Cair, akrab, guyub, bebas sekat. Semuanya indah sekali bukan?

So kalo ada member klub manapun yg ndhak bisa loyal ke klub/komunitasnyanya atau sekaligus menolak untuk cair dengan bimmerfan siapapun dari manapun, menurut saya ini adalah tipikal bimmerfan alay.

– Freema HW,
kangen BUCKS.

Rawon Eh Pecel Eh Mobil Setan

Habis Dodge Challenger Hellcat, muncul lagi varian paling gaharnya: Dodge Challenger SRT(c) Demon.

Korona di mata (baca: dual-headlamp) Dodge Challenger ini mengingatkan Anda pada sesuatu? Yup, mirip BMW Angel Eyes yg kondnag itu. πŸ˜€ Cuman kalo itu orang Eropa pake nama malaikat (BMW Angel Eyes), itu orang Amerika pake nama setan (Hellcat, Demon).

Ini umpama kalo dari Indonesia, mustinya nama-nama kayak gini mustahil dipakai resmi sama pabrikan.

Bayangkan kalo ada Toyota FT86 Demit; Lexus IS300 Setan Edition; Nissan Patrol V8 Gendruwo Limited; Suzuki Every Pocong Cekli – Urban Style Lincah; Daihatsu Tuyul Pickup – Jagoan Cari Duit; Nissan Kuntilanak – Lovely Family Van; apa ndhak gimana gitu kalo sama empunya dibawa jumatan ke masjid? πŸ˜€

Tapi ndhak ah, dari Eropa juga banyak nama setan: Lamborghini Diablo (devil); The Red Devil; Rolls-Royce Ghost; dll tambahkan dong…

Mirip varian pecel sama rawon era kekinian ya?

– Freema HW

Segera Hapuskan Premium & Solar!

Pertamina mengklaim bahwa minat masyarakat terhadap Premium turun. Well, saya ndhak bermaksud membela atau menghujat Pertamina sama sekali. Tapi pada kenyataannya, kalo kita mau ngitung secara cermat dan teliti, pake Premium itu justru break-down-nya mahal, khususon buat kendaraan yang sudah lumayan modern: kompresi tinggi, injeksi tekanan tinggi, dan sebagainya.

Apalagi era sekarang ini, rata-rata kubikasi mesin tinggal setengahnya untuk mencapai tenaga yang sama dengan mesin-mesin era satu-dua apalagi tiga dasawarsa kemarin.

Apalagi denger-denger, BBM dengan oktan setara Premium itu udah lenyap di muka bumi ini, konon tinggal segelintir-dua gelintir negara yang masih pakai.

SEJAK sekian tahun lama, sejak jaman SBY, saya mencermati banyak penggemar otomotif ini malah berharap Premium dan Solar dihapus, agar ada unsur keterpaksaan bagi pengendara untuk membeli BBM dg oktan lebih tinggi, yang memang harganya kerasa lebih mahal namun pada kenyataannya break-down-nya lebih murah.

Kalo masih ada yang beralasan premium masih dibutuhkan oleh rakyat miskin bla bla bla, ya gimanalah caranya mereka dikasih uang mentah aja ketimbang membakar Premium/Solar yang bikin emisi sangat tinggi di jalanan dan mesin-mesin mereka malah mahal biaya perawatannya.

Atau yang paling bagus lagi, mereka diberdayakan secara intensif sehingga tidak lagi terus terjebak pada -maaf- mentalitas miskin yang harus disuapi subsidi individual secara langsung. Karena subsidi itu masih diperlukan untuk kebutuhan komunal.

Well, di mata saya yang juga sering ndhak pegang uang ini, ndhak punya duit itu keadaan. Namun (merasa) miskin itu adalah mentalitas. Bangsa ini akan susah maju kalo mentalitas (merasa) miskin ini terus dipeli hara, entah oleh siapapun untuk tujuan apapun.

Tapi inget lho, menolak (mentalitas) miskin bukan berarti (harus berkelakuan) sok kaya! Jelas koq ini bedanya!

***

Sekarang malah bagusan Pertamina ngeluarkan Pertamax Turbo. Ini jenis BBM yg paling dicari oleh kalangan otomotif. Harganya Pertamax Turbo itu mahal banget lho, tapi bikin mesin lebih optimal tingkat kerusakan/keausannya bisa dibilang lebih rendah, dan optimasi tenaga mesinnya tercapai.

Kalo kita perhatikan era sekarang ini, rata-rata kubikasi mesin tinggal setengahnya untuk mencapai tenaga yang sama dengan mesin-mesin era satu-dua apalagi tiga dasawarsa kemarin.

Jatuh-jatuhnhya: semua akan kerasa malah relatif lebih murah.

Jadi jangan dianggap mereka yang beli BBM oktan tinggi itu orang kaya yang enteng menghamburkan uang. Buktinya, BBM oktan tinggi dibeli oleh mereka-mereka justru untuk berhemat secara ekonomis: yakni agar biaya perawatan kendaraan sesuai dengan jangkanya, bukan lebih cepat ketimbang jangkanya.

Apalagi sekarang udah masuk era mobil listrik. Masih banyak kontroversi, yang saya lebih membacanya sebagai tantangan ketimbang kontroversi. Antara lain anggapan bahwa mobil listrik itu hanya memindah energi fosil ke sentra pembangkit listrik alih-alih mereduksi apalagi menghilangkannya; plus masih belum layaknya mobil listrik untuk mengganti mobil berbahan bakar fosil/minyak, terutama dari sisi jarak tempuh dan kecepatan recharging.

Tapi liat saja nanti, cepat atau lambat niscaya mobil listrik akan serupa mobil berbahan bakar fosil/minyak: jarak tempuhnya panjang dan baterenya bisa di-charge dengan cepat, atau semacam di-replace gitu dengan batere penuh daya tatkala yang nempel di mobil sudah (mulai) habis. Dan sentra pembangkit listrik pun mungkin juga akan berganti ke teknologi yang lebih ramah lingkungan, entah dengan sel surya yang makin murah atau bentuk lain.

Industri akan segera menciptakannya, karena mereka memang juga perlu barang baru sebagai sarana investasi baru untuk menciptakan keuntungan/profit baru yang terus-menerus dan tak pernah putus.

Dan saya cuman asyik jadi penonton saja ketimbang ikutan terjun di dalamnya untuk menimbun kapital dengan wahana perubahan ini.

***

MASIH berangggapan Premium/Solar untuk menyelamatkan orang miskin dan BBM oktan tinggi itu hanya sanggup dibeli oleh orang kaya-raya yang serba kelebihan duit?

Itu sudah bukan lagi teori basi, melainkan emang kenyataan basi. Mudah-mudahan demikian.

Dan jangan dikira kalo saya sanggup posting demikian ini artinya saya enteng banget beli bensin. Sebaliknya, ini malah matii-matian bermotor demi menghindari mbensini mobil terus-terusan. Ngerti po ra?

– Freema Bapakne Rahman
V8