Pengkhianat Adalah Sesiapa Yang Tak Mau Memajukan Negeri Ini

Konon, hanya 1 dari 1000 (atau 10.000?) orang Indonesia -negeri mayoritas muslim dan konon dengan populasi muslim terbesar di dunia- yg punya minat baca (buku). Kayaknya, secara kasar ini satu desa atau bahkan kecamatan hanya seorang saja yg demen mbaca buku.

Sedih. Miris. Tragis.

Padahal secara literal konon ayat pertama Al Quran jelas-jelas: Iqra’ …! Bacalah …!

Entah kurangnya minat baca (buku) ini terjadi sejak dulu atau sejak datangnya era digital, Indonesia rasanya masih teramat sangat jauh dari kemajuan kalo minat baca di negeri ini masih belum meningkat. Infrastruktur: jalan tol, gedung sekolah megah, bandara internasional, dll. adalah hal yg kita butuhkan namun saya rasa sama sekali bukanlah tolok ukur kemajuan negeri ini.

Minat baca (buku) yg tinggi (otomatis biasanya akan diikuti dengan habit: bicaranya berisi analisis berdasar data/fakta/informasi, tidak membuang sampah sembarangan, bisa antri, dan beradab dalam berlalu lintas) adalah tolok ukur sejati kemajuan bangsa dan negara ini.

Deasy Ibune Rahman: yuk terus mbentengi si kecil agar terus rajin membaca: Iqra’ bismi rabbikaladhī khalaq.

Dan tetap tebarkan inspirasi ke temen-temennya agar ikutan demen membaca. Meski susah karena orang tuanya kadang ada yg sama sekali “tak mendukung”: lebih demen beli pakaian atau henpon baru dll. yg bisa jadi ndhak terlalu dibutuhkan ketimbang beli buku.

Setidaknya, at least, mari selamatkan si kecil kita sendiri. Ini upaya terakhir yg bisa kita lakukan untuk bangsa, negara, agama, dan peradaban ini. Sebab, jika kita tak bersedia berusaha memajukan negeri ini: memajukan bangsa, negara, dan peradaban ini secara hakiki; rasanya kita telah menjadi pengkhianat atas tugas Allah pada kita: menjadi khalifah di muka bumi ini; untuk memimpin pergerakan diri kita guna bersama mengubah nasib: melanjutkan peradaban.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman

Blender

© Deasy Ibune Rahman

Namaku Aleef Rahman. Bisa dipanggil Aleef bisa dipanggil Rahman. Umurku 9 tahun, kelas 3 di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Doko, Kediri. Kebetulan hari Minggu ini, 19 April 2015, aku untuk pertama kalinya dengan ditemani Bapak dan Ibu ikut berkumpul bersama komunitas pengguna program/aplikasi pengolah 3-dimensi (3D) Blender se-(karesidenan) Kediri Raya.

Biasanya pertemuan ini diadakan di ruang workshop di kantor Telkom Kediri. Namun khusus hari ini, karena ruang workshop yang disediakan oleh pihak Telkom sedang digunakan, maka para pengurus komunitas ini memindah sementara di sebuah balai warga di sebuah kompleks perumahan di Kediri Barat.

Pertemuannya seru! Mulai jam sembilan hingga tengah siang. Intinya siy coaching-clinic, workshop, dan sharing seputar Blender. Pertemuan ini digelar rutin setiap minggu. Namun Aleef Rahman mungkin akan membolos beberapa pertemuan dalam sebulan jika ada aktivitas lain bersama Bapak dan Ibu.

Tutornya mas-mas yang masih kuliah atau barusan lulus dan bekerja. Pesertanya nyaris seragam: kebanyakan mas-mas dan mbak-mbak yang udah gedhe. Dua peserta terkecil adalah aku dan satu lagi seorang mas yang duduk satu kelas di atasku. Ia kelas empat, rumahnya di kawasan kaki Gunung Kelud yang kemarin meletus itu. Kebetulan untuk sesi hari ini, workshop-nya membuat 3D kursi.

© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman

Sejak playgroup, sebelum TK, Bapakku sudah ngajari aku main komputer. Komputernya ada gambar penguin. Itu penguin ternyata punya nama, namanya Tux. Tux ini ikon/maskot dari sistem-operasi Linux. Lucu si Tux ini, imut dan menggemaskan 🙂 Linux di komputerku pakenya distro Ubuntu.

Ubuntu berasal dari bahasa Afrika, yang artinya “kemanusiaan kepada sesama”. Kata Bapak, distro adalah bentuk perwujudannya Linux. Bapak sendiri juga kadang pake Linux OpenMandriva atau Fedora.

Dulu komputer kami gambarnya Apple krowak. Bapak bilang itu namanya Macintosh. Tapi komputernya rusak, mati layarnya. Kata Bapak, muuuahalll kalo mau mbetulinnya. Akhirnya Bapak pake yang gratis saja katanya: Linux namanya.

Kata Bapak, Linux itu seperti kita berteman dan membuat sesuatu bersama-sama. Hasil yang kita buat bersama tersebut jadinya bisa dipakai dengan bebas bahkan gratis, enggak pake beli. Belinya kalo perlu aplikasi yang super-khusus. Itu juga jika penggunaannya sudah kelas pekerja profesional atau perusahaan gedhe.

Karena dibuat dan dijaga bersama, Linux jadinya bisa diawasi oleh siapa saja. Tapi namanya buatan manusia, Linux juga pasti punya kelemahan. Tapi kelemahan yang ada justru akan membuat komunitas pendukungnya kuat, karena mereka akan selalu dan terus bergotong-royong: dari semua, oleh semua, untuk semua.

Seperti prinsip bangsa Indonesia ya: gotong-royong! Di sekolah aku juga diajari gotong-royong ini. Gotong-royong akan membuat hal yang berat menjadi ringan, dan membuat setiap kesulitan akan cepat ditemukan jalan keluarnya. Semoga semangat gotong royong ini senantiasa terjaga di negeriku Indonesia ini.

GCompris

Awalnya main Linux, aku cuman main GCompris. Aplikasi dasar komputer buat anak usia dini hingga pendidikan dasar. Aplikasinya seperti game atau permainan, tapi isinya benar-benar berguna dan edukatif sekali. Dengan GCompris kita bisa belajar komputer benar-benar dari dasar: – menggerakkan mouse dengan lihai. – memencet keyboard dengan pas. Demikian seterusnya.

Ada sekitar 100 jenis-jenis kegiatan (permainan) dalam GCompris, yang sekali lagi intinya untuk mengenalkan komputer pada anak usia dini dan membentuk ketrampilan dasar kita sampai tangan bisa lancar dan enggak kaku bergerak. Pokoknya basic banget. Bahkan untuk akung-uti yang sudah sepuh dan belum mengenal komputer sebelumnya pun pun bisa diajari komputer dengan GCompris ini lho! Kan lumayan, agar mereka bisa menemani cucunya main komputer. Hihihihihi…

Dan kata Bapak, inilah dasar dari semua penggunaan komputer kelak, agar kita bisa terampil dan cekatan menggunakan komputer, khususnya program-program yang memerlukan keahlian atau kecakapan khusus. Harusnya, setiap orang tua yang mengajari komputer kepada anaknya, dan setiap sekolah yang memiliki laboratorium komputer harus memiliki aplikasi Gcompris ini.

GCompris dapat diunduh bebas. Versi lengkapnya tersedia di Linux. Di Windows dan Mac juga ada, tapi entah apakah full-version atau tidak. Sebab aku menggunakannya hanya di Linux.

Program GCompris bisa di-setting bahasanya. Ada bahasa Inggris, juga bahasa Indonesia. Cocok untuk kita-kita yang ingin belajar komputer sekaligus belajar bahasa Inggris.

Kalo saran Bapak dan Ibuku, selain GCompris, semua komputer di sekolah mestinya pakai Linux. Sebab Linux mengajarkan semangat gotong-royong itu tadi.

Kalo pake program komputer yang berbayar, takutnya nanti kita akan terbiasa memandang segala sesuatu dengan uang semata. Kalo menggunakan aplikasi berbayar, sama artinya kita anak-anak sekolah ini diajari untuk nantinya terbiasa membeli, apa-apa serba duit; bukan bekerja sama dan sebisa mungkin membuat segala sesuatu sendiri alias mandiri.

Aku sih belum mengerti ini. Tapi aku percaya, kedua orang tuaku memberikan arahkan yang baik dan benar kepadaku.

Masuk sekolah, bapak mulai mengenalkanku dengan Blender. Blender adalah salah satu aplikasi pengolah 3D/animasi. Jika teman-teman suka nonton Marsha, Upin-Ipin, dll. animasi tersebut dibuat oleh program pengolah 3D/animasi. Banyak jenis program animasi/3D.

Blender ini adalah aplikasi animasi /3D yang bebas/open-source dan kebetulan gratis untuk kita diperoleh. Blender Bisa diinstal di Linux, Mac, atau Windows.

Awalnya Bapak menunjukkan ke aku gambar-gambar 3D (tiga dimensi) sederhana yang dibuat dengan Blender. Ada kotak: kubus, balok; prisma, limas, silinder, dll. Pokoknya sederhana banget. Trus bapak ngasih tutorial dasar membuat obyek/model sederhana: gelas, cangkir, botol. Model-model yang pasti dijalani buat sesiapa saja yang belajar aplikasi tiga dimensi.

Kini aku sudah bisa membuat obyek bergerak lho …! Aku sudah bisa membuat pesawat terbang yang take-off atau landing. Juga truk yang melintas di jalanan. Atau kereta api yang berputar-putar di atas rel. Kini, Bapakku malah yang kalah dan ketinggalan lawan aku! Hihihihihi…

Tapi aku bisanya masih dikit itu koq. Ini juga masih terus belajar. Masih banyak yang aku belom tau. Banyak banget. Dan semoga nantinya banyak yang membimbingku belajar. Allhuma aamiin.

https://i1.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/af/Tux.png/220px-Tux.pngUbuntuBlender

Meskipun suka komputer, Ibuku tetap melarangku terus-terusan main komputer. Pulang sekolah, aku harus tidur siang jika tidak ada ekstra kurikuler di sekolah.

Sore hari, Ibuku menyuruhku bermain dengan teman-teman sebaya di sekitar rumah. Kami main sepedaan, atau main main-mainan balok-balok kayu: bikin sepur-sepuran atau truk-trukan. Atau kadang juga sekedar nonton Marsha di TV. Sesekali juga main layang-layang, tapi enggak bisa terbang tinggi karena lahan kosong di sekitar kami sudah mulai habis 😦 😀

Intinya kata Bapak dan Ibu; aku tetep harus bersosialisasi, berinteraksi dengan temen-temen. Aku nggak boleh sampe dikuasai komputer, komputerlah yang harus aku kuasai.

Habis maghrib, aku juga dituntun belajar mengaji oleh Ibuku.

Malemnya sama Bapakku sukanya aku disuruh bermain saja, dilarang mengerjakan PR yang buuuanyakkk gitu. Kata Bapak, “Anak kecil ngapain dikasih PR buanyak-banyak gini? Enggak perlu!”

Begitu pendapatnya. Tapi Ibuku suka marah-marah sama Bapak. Katanya Bapakku ini ngajarin enggak bener sama anaknya. Masak PR dari sekolah koq enggak boleh dikerjakan? Hihihihihi…

Akhirnya Ibuku yang selalu menemaniku ngerjakan PR. Dan habis dimarahi Ibu gitu, Bapak kemudian pergi ngadep komputernya sendiri. Liat monitor sambil ngakak-ngakak sendiri. Hoalah Bapakku… -_-

WELL… Bulik, Paklik, Budhe, Pakpuh semuanya, ini tadi cerita tentang aku Aleef Rahman. Aleef Rahman mohon doa dan bimbingannya selalu ya; agar aku senantiasa patuh pada orang tua, dan kelak jika besar bisa berguna bagi bangsa & negara Indonesia serta bagi kehidupan umat manusia. Aamiin. Salam sayang, – Aleef Rahman H.

*Tentu yang nulis ini adalah Bapak dan Ibuku yang selalu baik kepadaku 🙂 Hihihihihi…*

LAINNYA: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10152848279223287&id=641283286 https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10152875596443287&id=641283286 https://www.facebook.com/groups/147515281967047?view=permalink&id=917255378326363

Sempat ada yang memperingatkan kami, anak kecil koq udah dicekoki komputer, enggak baik buat perkembangannya, di sini semua ceritanya https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/04/27/belajar-menjadi-orang-tua/. 🙂

Kecelakaan


– Ilustrasi, foto dari Dailymail.

Ini kejadian tahun kemarin, tepat di pertigaan depan rumah.

Siang hari nan terik dan panas.

Keluarga bermotor motor melaju lumayan kencang untuk jalanan kampung. Sang suami yang mengendarai, istri di boncengan, dan anak kecil di depan. Mereka berpakaian perjalanan lengkap: helm, jaket, dan sandal bukan jepit. Bukan sepatu memang. Sepertinya usai dari perjalanan yang berjarak lumayan.

Melaju lurus melalui pertigaan, mereka ditabrak dari arah samping oleh dua cewek ABG berboncengan yang mengendarai motor dengan cengengesan. (Tanpa helm siy, tapi saya abaikan faktor ini).

Keluarga bermotor tersebut mencelat, menghantam keras tembok rumah tetangga, menggelegarkan suara nan mengetuk jantung semua yang mendengarnya.

Si bapak dan si anak kecil selamat. Luka-luka saja.

Sang ibu yang parah. Tidak ada luka baret-baret di kulit, namun kakinya terkulai patah tulang, meski belom copot/terputus.

Saking shock-nya, beliau cuman bisa telentang. Pandangannya kosong, wajah pucattt. Tak ada suara apapun dari mulutnya. Tak ada jerit kesakitan sama sekali. Benar-benar tak ada suara keluar dari mulutnya.

Tetangga berlarian datang mengerubung. Saya ikutan keluar rumah.

Melihat kondisi yang sedemikian, saya keluarkan mobil, saya parkir di sebelahnya. Siap melarikan ke RS terdekat.

Di sini masalahnya.

Tetangga -maaf- beneran “ngawur” cara ngangkatnya. Si ibu serasa seperti diseret-seret saat melepaskannya dari timbunan motor dan digeletakkan di tengah jalan, di atas aspal nan panas.

Semua berniat baik: menolong. Hanya sama sekali tanpa pengetahuan tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).

Ini adalah kondisi yang sama sekali tidak disalahkan, saya sendiri juga tidak paham sebenarnya apa yang harus dilakukan dalam kondisi demikian.

Hingga seseorang datang. Beliaunya perawat. Sejurus, ada komando tegas terlontar darinya.

– “Kamu, kendorkan ikat pinggang atau semua yang sesak-mengikat. Lepas jaketnya!” Tak ada perintah ngasih air putih, karena khawatir tersedak karena saking shock-nya itu korban.

– “Kamu dan kamu: cari kayu, patahkan itu dahan pohon, taruh di bawah kaki beliau! Kita ikat pake kain yang ada. Kalo perlu disobek kainnya!” Yang diperintah langsung mengikuti. Si perawat mengikat-ikat, sekejap semuanya usai.

– “Kamu, kamu, dan kamu yang badannya gedhe, jongkok berlutut satu kaki di samping si ibu. Satu tangan megang lewat bawah badan, satu tangan lingkarkan merangkulnya. Ikuti aba-aba saya, langsung angkat barengan! 1… 2… 3!”

Hup! Si ibu, sang korban diangkat dalam posisi rata lurus.

Kemudian perlahan dengan hati-hati dimasukkan mobil.

***

Pas saya hendak masuk mobil, seseorang dengan badan tegap menghampiri saya.

“Mobil ini yang nabrak ya?” Tanya dia dengan intonasi tegas.

Saya pandang matanya kuat-kuat. Dari pertanyaannya, jelas dia tak tau sama sekali berlangsungnya kejadian barusan ini.

Untung ada seorang tetangga menyadari situasi dan langsung menjelaskan. “Bukan Mas, justru mobil ini hendak menolong itu korban ke rumah sakit! Kecelakaannya sama-sama motor!”

Saya tak mau kehilangan waktu hanya untuk mengumpat lelaki itu. Sepintas saya amati, dia bukan tetangga sekitaran sini. Mungkin tadi dia pas lewat. Entah maksudnya bertanya atau menggertak, tapi intonasinya terlalu melawan situasi dan keadaan.

Dan saya mikir jorok, mungkin itu orang adalah wartawan bodrek, wartawan tukang nyari amplop bukan nyari berita. Hadeh…

Dan langsung saya melaju ke rumah sakit.

***

Well, saya hanya sekedar bertanya, adakah regulasi yang mewajibkan semua pengendara paham P3K? Atau tak ada?

Pada regulasi lalu-lintas, seingat saya kewajiban pada pengendara hanya menyediakan emergency-kit (kotak P3K) pada kendaraan. Untuk memperoleh SIM, saya kurang tau apakah ada ujian tentang P3K atau tidak.

Jika ada, rasanya kurang adil karena peserta ujian SIM di sini biasanya bukan lulusan/pemegang sertifikat mengemudi seperti halnya di luar negeri. Di luar negeri, sebelom memperoleh SIM (surat izin mengemudi – driving license), mereka harus berjuang keras lulus sertifikasi yang ketat.

Jika tanpa pembekalan tentang P3K kemudian ada materi ujiannya, di sini kurang adilnya.

Jika tak ada ujian tentang tindakan P3K pada saat mengajukan perolehan SIM, rasanya serem aja.

PADA penjelasan di semua buku manual kendaraan, sopir wajib memahami anatomi kendaraan: cara nyetel kursi dan dimana tuas/tombolnya, posisi tuas sein, saklar-saklar lampu dan wiper, dan lain sebagainya; termasuk troubel-shoting ringan/emergency teknis: cara mendongkrak, letak ban serep, posisi sekring, hingga penggantian lampu dan semacamnya. Lebih dari itu, itu sudah domainnya bengkel, bukan lagi domain supir.

Selain menjelaskan bagaimana perilaku teknis terhadap kendaraan, supir senantiasa dijelaskan juga tentang safety-driving oleh buku manual. Cek buku manual deh!

Hanya untuk tindakan emergency yang bersifat di luar kendaraan & pengendaraannya, memang tidak dijelaskan. Mungkin ini tergantung dengan regulasi masing-masing negara. Atau kewajiban ini termaktub bukan pada produsen kendaraan.

Entahlah. Saya kemarin memperoleh SIM dengan “cara gampang”. Makanya, saya ndhak tau tentang regulasi P3K ginian ini.

Pernah saya menanyakan fenomena kondisi lalu-lintas kepada beberapa polisi yang berhadapan meja dengan saya di sebuah depot makan, mereka terdiam saat saya bilang, “Maaf Pak, jujur saya ndhak ngerti ginian, lha wong saya kemarin dapet SIM juga nembak…”

*pentung kepala sendiri*

***

MENOLONG orang itu baik. Namun jika salah tindakan, memang yasalam. Meskipun ada klausul Good Samaritan Law, yang melindungi penolong kecelakaan dari tuntutan hukum seandainya tindakan pertolongannya membawa efek samping (copas: Arnold Jonathan).

Mungkin, tindakan P3K ini perlu dijadikan mata pelajaran di sekolah, bukan di ekstra-kurikuler. Seingat seumur saya sekolah, saya hanya mendapatkan pelatihan demikian pas ikut ekstra Pencinta Alam atau di Pramuka.

Bukan hanya tindakan P3K, tindakan/latihan menyelamatkan diri dari kebakaran, bagaimana menghubungi polisi, dan lain-lain rasanya juga perlu masuk sebagai mata pelajaran, bukan pengetahuan sampingan/tambahan.

Termasuk sebagai mata pelajaran, khususnya pada tingkat dasar, adalah segala experience: mengenal public-space (stasiun, terminal, balai desa/kantor kelurahan), kantor Polsek, membuang sampah pada tempatnya, antri;

dan juga basic attitude-behaviour: meminta tolong, meminta maaf, berterima kasih.

Di kurikulum sekarang sudah ada atau belom? Saya ndhak ngikuti dunia ginian soale. Sebab saya ikutan sebel kalo si kecil pulang-pulang bawa PR setumpuk. Padahal jika malam, saya pinginnya dia bercengkrama saja bersama keluarga setelah sorenya main-main bersama teman-teman/tetangga kecilnya.

Kalo toh ada PR, sepertinya cukup 5-10 soal saja. Ndhak usah banyak-banyak. Dan akan keren jika PR si kecil, selain tercantum pertanyaan siapa nama pahlawan nasional kita, juga tercantum pertanyaan, misalnya, “Apa yang akan kamu lakukan jika melihat air PAM di jalan depan rumah bocor?”

Meski jawabannya bisa saja: lapor kepada orang tua atau apalah, setidaknya ini mendidik siswa untuk hirau dengan kondisi sekitarnya.

IMHO.

Mobil Rakyat

April 1934, Adolf Hitler memberikan order kepada Dr. Ing. Ferdinand Porsche untuk mengembangkan sebuah Mobil Rakyat.

Sekarang, ‘mobil rakyat’ itu menunjukkan kelas rakyat….sono, bukan rakyat sini. 😦

Jerman mencapai kemajuannya bukan dengan mendapatkan durian runtuh. Mereka memperoleh kemajuan, dan ‘kelas rakyat’-nya dengan perjuangan dan kerja keras, menemukan sesuatu yang genuine, serta tentunya: POLITICAL WILL (kemauan pemerintah, saya yakin juga kemauan rakyatnya) untuk menjadikan negerinya maju dan beradab.

Ciri (untuk memulai) negara maju, yang saya amati adalah, ternyata tidak selalu mereka (negara maju) itu punya industri mobil. Namun negara maju sepertinya pasti punya ciri yang sama, yakni antara lain…

…rakyatnya:
– tertib antri,
– tidak membuang sampah seenaknya.

Cek saja di semua negara maju. Ada yang keliru?

– Tapi kan, orang Jerman itu kafir-kafir, minum alkohol, bukan muslim? Kenapa kita harus bercermin kepada mereka? Itu juga kenapa materi standarnya? Bukankah kemajuan dan kehidupan itu tidak haru selalu diukur dengan materi?

Saya ndhak ingin jadi kemenakannya Gusti Allah di sini dan memastikan kekafiran orang lain. Alih-alih mengkafir-kafirkan orang, dalam keislaman saya mungkin saya malah jauh lebih kafir ketimbang orang yang kita cap kafir. Wallahualam bisawab. Yang gituan urusan Gusti Allah.

Tapi gini aja. Ingat petuah orang tua: sesuatu yang baik ambilah, yg (menurutmu) kurang baik buanglah.

That is, an-sich! Itu saja!

Ndhak usah ngeles mereka itu kafir-lah, inilah, itulah, dll.

Sekarang kita bicara sebagai manusia, kita semua adalah khalifah di muka bumi ini.

Bener kehidupan ini jangan pernah kita ukur dari materi. Tapi gini, kita ngeh dong, kalo apa yang bisa diraih oleh bangsa Jerman itu bukan sekedar numpuk materi, melainkan itu wujud pola pikir mereka untuk mempermudah dan memajukan kehidupan & peadaban?

Dan jika kita mau memandangnya lebih dalam, menutup mata dan memandangnya lebih luas, maka apa yang mereka peroleh itu sebenarnya adalah: hasil dari kesibukan mengisi kehidupan!

Mereka sibuk menterjemahkan kalam Tuhan yang terbentang luas di jagad raya ini.

Kalo memang kita muslim dan merasa memang takdir kita lebih baik, harusnya dengan keberadaan kaum muslimin maka peradaban dan kehidupan ini akan lebih baik, lebih tertata: muda-mudi berbusana rapi pergi mengaji, lingkungan bersih di mana-mana – tidak ada sampah yang dibuang sembarangan, lalu-lintas tertib, hutan terus hijau dan terjaga kelestariannya, tidak kekurangan air bersih, pemukiman kumuh tidak ada, pendidikan terjamin. Dan seterusnya.

Harusnya, seperti itulah jika sebuah bangsa dipenuhi oleh kaum muslimin yang berpegang teguh pada kitab sucinya, kitab yang mengajarkan ketuhanan dan kehidupan.

So?

Tidak perlu berkecil hati. Negara maju tidak selalu punya industri mobil. Namun negara maju sepertinya pasti punya ciri yang sama, yakni antara lain rakyatnya tertib antri dan tidak membuang sampah sembarangan.

Justru kita, khususon kaum muslimin dan umumnya bangsa Indonesia, kita sangat bisa menjadi negara maju.

Sebagai rakyat, kita bisa mencirikan bangsa kita sesuai ciri-ciri negara maju, kita bisa mulai dengan hal super guampang banget aja:

– tertib antri,
– bertatakrama lalu-lintas,
– jangan buang sampah sembarangan.

Bener-bener guampang banget kan untuk (memulai) menjadi negara maju itu? 🙂

– Freema HW
maju-mundur.

(Mari Membaca) Buku

Menarik mendapati sharing posting tersebut dari seorang teman di jejaring sosial. Kampanye yang dibuat oleh sebuah perpustakaan umum. Intinya sederhana: ketimbang menenggelamkan diri di Facebook, Youtube, atau Twitter; (lebih baik) mending tenggelamkan diri di buku dan buku.

Yep, 1000% right!!!

DULU, bangsa ini malah punya insinyur (en: engineer) canggih yg bisa mbangun Borobudur, Prambanan, dan ribuan candi kala kita belom mengenal semen dan kecanggihan teknologi konstruksi.

Dulu, kita punya ribuan prasasti dan serat (gubahan, writing) saat teknologi komunikasi bahkan “belom ada”.

Kini, dengan maraknya teknologi komunikasi, informasi, dan kemajuan peradaban, budaya membaca di negeri ini (seolah serasa) malah tenggelam.

Kini, kita hanya bercerita tentang masa kejayaan lampau, misalnya masa kejayaan Islam (Islamic golden age), di mana para ilmuwan Islam dengan semangat peradaban menemukan berbagai hal: penemuan kedokteran, penemuan matematika, penemuan astronomi, penemuan macam-macam yang clue-nya sudah ditunjukkan oleh Quran.

Buku (kitab, mushaf, setidaknya yang berlaku sejenis itu) -saya yakin demikian- pasti menjadi senjata mereka -para ilmuwan era Islamic golden age– dalam menembus waktu, mendobrak kungkungan, dan memajukan peradaban.

Kini, tampaknya mall fashion lebih ramai ketimbang toko buku. Keluarga lebih banyak menenteng tas belanja ini-itu penunjang penampilan ketimbang berberat-berat menenteng tas belanjaan buku yang mencerahkan.

MEMANG, berganti pakaian (mode ter)baru memang lebih membuat angan melayang ketimbang menghabiskan waktu tenggelam membaca buku. Membaca buku itu bikin eneg! Ya kan?

Tapi, kami sekeluarga punya semangat yang semoga tak pernah padam oleh waktu. Semangat tidak eneg membaca buku. Dan syaraf ini seolah malah ketagihan membaca.

Kami boleh saja “miskin”: meskipun pingin, kami bisa abai enggak punya kulkas empat pintu, kami bisa abai dengan itu; meskipun pingin, kami bisa abai tak punya kursi tamu berkayu jati atau berbungkus kulit asli; meskipun pingin, kami bisa abai tak punya TV LCD 3D; meskipun pingin, kami boleh abai tak punya ponsel terbaru dengan fitur terkini;

tapi kami galau jika lama tak beli buku. Biarpun jelek, alhamdulillah kami punya rak buku mini yang Insya Allah akan terus kami isi.

Makan (=nutrisi) adalah urusan pertama dalam keluarga. Pendidikan dan kesehatan adalah hal utama yang harus kami penuhi dan jaga. Dan buku adalah hal tepat setelahnya dalam kami menjalani kehidupan ini.

YUK, kurangi belanja konsumtif. Hentikan kebiasaan mengkoleksi sepatu yang tak perlu. Hentikan kebiasaan menumpuk pakaian tanpa pernah dipakai. Alihkan belanjanya untuk buku.

Ya, membaca buku itu eneg. Tidak bisa membuat angan melayang ke awang-awang sebagaimana kita habis belanja tas kulit, sepatu, atau gaun baru. Bahkan hijab baru.

Namun, membaca buku itu adalah nyala api penerus generasi kita.

Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh tanpa buku-buku yang bermartabat dan bermanfaat. Jadikan membaca buku adalah kesenangan ‘bermain’ bagi mereka.

Parents, khususon para ibu, sama sekali belom terlambat sedikitpun untuk memulai membudayakan membaca buku.

Jika eneg membaca buku yg banyak isinya, belilah buku yang ringan saja. Yang penting, tiap habis gajian, terima honor, atau dapet upah, sisihkan selalu untuk membeli buku. Mulai saja dari langkah demikian.

Semurah apapun buku yang Anda beli (well, kami juga banyakan sanggupnya mbeli buku-buku yg lagi diobral dengan harga super diskon); yang penting belilah dulu.

Membaca buku itu eneg. Namun jiwa kita mungkin akan lebih eneg melihat jasad kita jauh dari buku.

Begitu pentingnya buku, hingga Quran pun sampai dibukukan.

Kurang apa lagi pentingnya buku untuk kehidupan?

Dan, ingat pesan sayyidina Ali: ilmu menjaga kita, harta kita yang harus menjaga. Ilmu jika dibagi akan bertambah, harta jika dibagi akan berkurang. Harta bisa lenyap hilang (oleh waktu), ilmu tak akan pernah hilang (oleh waktu). Harta bisa bikin pikiran gelap, ilmu yang bermanfaat akan senantiasa mencerahkan dan menyinari.

Yuk mari, kita timbun dan kita bagikan ilmu. Ilmu ada di kehidupan, ilmu ada di alam ini, ilmu ada di buku. Ilmu ada di semangat kita membaca buku. Sebagaimana para empu menorehkan serat-nya. Sebagaimana para ilmuwan mencatatkan penemuannya di atas lembar peradaban.

Sebagaimana putra-putri kita bisa kita bentuk, kita bangun, dan kita jadikan seperti mereka.

*Semangat ini khususon untuk kami sekeluarga, dan untuk sesiapa yang menyepakati dan bersedia mengikuti kampanye batin kami ini.*

– Deasy Ibune Rahman,
Ibu rumah tangga yang selalu merasa bahagia.

Sekolah – Berjamaah di Kantin

Saat kami berbagi posting kami ini https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/01/15/anakku-kularang-ikut-pengajian/ di sebuah group, beragam pendapat muncul.

Jika Anda cermati, sedikit di situ yang menyuarakan kegalauan yang sama dengan kami, namun sepertinya lebih banyak lagi yang “sewot” gara-gara suara cerita isi hati kami (dan kami-kami yang bersedih karena gempuran fenomena rokok di sekitaran).

Salah satunya adalah komen ini: “jangan terlalu dilebarkan kalau perokok itu enggak punya etika, seakan-akan perokok itu pembangkang dan radikal enggak bisa diomongin (agar tidak) ngerokok di depan anak-anak. Bekomunikasilah dengan baik, pasti perokok juga ngerti dan malu. Kalo ngelarangnya sinis dan kasar, bukannya mereka berhenti tapi (bakal) malah disengajain. Suruh tutup pabriknya dan enggak boleh ada petani tembakau ‘kan beres, enggak (akan) ada perokok.”

Well, kami punya pengalaman begini.

Ya, para perokok memang kebanyakan bersedia mematikan rokoknya jika diperingatkan.

Tapi begini. Kalo memang mereka beretika, maaf beribu maaf, bukannya tanpa harus diperingatkan, jika memang di sekitar mereka ada orang lain, ada anak-anak, bukankah semestinya itu automate mereka-mereka dengan sendirinya tidak akan menyalakan rokok dan mencari tempat yang tidak mengkontaminasi orang lain?

Kenapa harus nunggu dikasih tau duluan?

Barusan ini tadi saya pulang pertemuan wali murid. Apa yang saya lihat? Para bapak berkumpul di kantin dan berjamaah mereka menyalakan rokok, DI DALAM SEKOLAH!

Naudzubillah….

Apakah hal seperti ini harus nunggu diperingatkan?

Bukankah jika mereka kaum perokok itu beretika, hal demikian mestinya otomatis: ini sekolahan, tempat para murid menempuh pendidikan, kenapa bisa mereka para wali murid yang terhormat itu masih dengan santainya dan berjamaah merokok?

Kejadian barusan saja sebelum saya posting, dan fenomena ini bukan sekalinya kami menjumpai di berbagai konteks.

Belom lagi, sangat tidak jarang kami melihat para perokok membuang puntung (filter) rokok mereka sembarangan. Menjentikkan dengan jari ke tempat terbuka. Tindakan yang kami artikan: mengundang Tuhan untuk memberikan banjir demi membersihkan puntung-puntung itu dari area terbuka.

KAMI tidak ingin memprotes, kami hanya ingin bercerita saja.

Yang kami pikirkan adalah sederhana: kami berusaha mengajarkan ke si kecil, bahwa perbuatan baik itu biasanya bisa diawali dengan ucapan basmallah dan diakhiri dengan ucapan alhamdulillah.

Misal:

– Bismillah nawaitu belajar kelompok. Alhamdulillah belajar kelompok hari ini selesai.

– Bismillah pergi berangkat kerja, alhamdulillah hari ini pekerjaan kelar/nyampe rumah.

– Bismillah mau merbaiki rumah. alhamdulillah sejauh ini sudah selesai setengah.

Nah, yang ini kami hanya tidak tau: bisakah merokok diawali dengan bismillah dan diakhiri dengan alhamdulillah?

Anda-anda sekalian yang jauh lebih paham ketimbang kami. Kami hanya mampu berpikir sedemikian saja https://freemindcoffee.wordpress.com/2014/03/18/alhamdulillah-saya-tidak-sakit-meski-saya-perokok/

Saya, kami sekeluarga, adalah manusia yang jauh dari sempurna. Kami juga bermasalah dengan orang lain dan diri sendiri. Dan kami sekedar tidak ingin menambah beban kehidupan kami ini dengan membiarkan anak kami, dan Insya Allah anak-anak penerus negeri ini, menyaksikan para bapak yang sesungguhnya adalah panutan dan idola masa depan kehidupan mereka para putra kita tersebut mengajarkan tata-cara merokok di tempat umum yang mana kaum bukan perokok memiliki hak otomatis yang sama dan sepenuhnya.

Kami para ibu hanya memberikan kehangatan jiwa bagi putra-putri kami, Anda para Bapaklah yang memberikan pondasi masa depan kepada mereka, putra-putri kehidupan kita ini.

Cara dari Gus Mus ini http://edukasi.kompasiana.com/2013/05/25/tips-sederhana-berhenti-merokok-ala-gus-mus-562974.html mungkin bermanfaat.

Kami turut mendoakan bagi para perokok kiranya segera bisa segera terlepas dari kecanduan dan ketergantungan ini. Aamiin.

– Deasy Ibune Rahman
Ya Allah kami mohon perlindungan-Mu.

Asing Bermain

Rapor Aleef Rahman

Di rapornya barusan, si kecil mendapat advis dari Guru Wali Kelasnya, “Lebih meningkatkan konsentrasi belajar, bermainlah dengan temanmu, kurangi BERJALAN-JALAN DI KELAS SAAT PELAJARAN BERLANGSUNG. Semangat terus!”

Seorang rekan kami bertanya, “Emang selama ini dia main sama siapa?”

Mestinya siy Aleef Rahman ya bermain dengan teman-temannya. Kurang tahu juga apa maksudnya Bu Guru dengan suggest demikian. Mungkin ini.

BEKAL & ISTIRAHAT

Si kecil saban hari kami bawain bekal. Uang sakunya hanya 2rb rupiah. Ya beneran, dua ribu rupiah saja! Hari gini?

Cukup koq… Dia kami ajari memilih dan memilah dalam membeli makanan. Kami melarangnya membeli -maaf- snack/kudapan murmer-murmer yang enggak jelas isinya itu…

Yang kami perkenankan dia beli hanya semacam susu segar cair, biskuit ‘branded’, dan beberapa list lainnya yang sebenarnya sangat sedikit item-nya.

Alhamdulillah sejauh ini dia nurut.

Jadinya, saat istirahat, kala teman-temannya menyerbu pedagang makanan, si kecil hanya sendirian di kelas menikmati bekal makannya. Menghabiskan waktu istirahat yang hanya 20 menit.

Istirahat pertama dia menikmati bekal kudapan, istirahat kedua dia menikmati makan siang. Jika ada sisa waktu, ia baru bermain dengan rekan-rekannya.

Ibu Guru wali kelasnya pas kami bertemu dan ngobrol banyak pernah menyatakan keheranannya dengan fenomena si kecil ini 😀

Di sini saja si kecil sudah ‘berbeda telak’ dengan teman-temannya.

BUKU

Lainnya lagi, si kecil membangun dunianya sendiri di rumah.

Kami tidak memaksa dia harus les ini, ikut itu, dll. Apapun kegiatan di luar sekolahnya, kami selalu nawari dia atau dia yang minta. Dan jika dia bosan, tentu akan kami biarkan berhenti.

Dulu pernah les ngedrum. Bosen, berhenti. Les renang. Bosen, berhenti. Satu aja yang kami sedikit ‘memaksa’ ke dia: ikut olah raga bela diri. Kebetulan pencak silat.

Sebab selain untuk mengenali budaya/kearifan lokal, dalam olah raga tersebut juga diajarkan kedisiplinan, rendah hati (pelatihnya ‘mengancam’, kalo sampe ada yg berkelahi, mereka justru akan ‘dihajar’ sendiri :D  Hehehe…) Serta agar dia ‘menjadi laki-laki’. 😀

Kebetulan lagi, oleh bapaknya dikenalkan komputer dan desain sejak dini. Kini, dia menggeluti aplikasi Blender 3D.

Kami perhatikan, imajinasinya berkembang merajalela di situ. Dia membuat pesawat terbang, membuat kereta api, membuat permainan/game dan animasi sederhana.

Semuanya bukan kami injeksi. Kami hanya memfasilitasi, selebihnya dia berkembang sendiri. Justru kami banyak mengerem ‘kecanduan’nya terhadap komputer agar ingat main bersama teman-teman sekitaran rumah: bersepeda bersama, saling bertukar mainan, dll. Intinya agar dia tetap bergerak juga secara fisik (hiks, padahal kalo udah polah, dia enggak bisa diam…) Pun agar ia tetap tak lupa makan.

(Well, biar enggak kayak bapaknya tuh: kalo pas inget makan, makannya buanyak; tapi kalo udah lupa makan juga kelewatan sampe sakit gitu. Hiks…)

Selain dia masih terus menekuni kegemarannya membaca. Sejauh ini buku-buku tentang applied-technology yang dia gemari: buku-buku tentang kereta api, pesawat terbang, selain juga buku-buku dongeng untuk anak-anak.

Saat kami amati, maaf, kegemaran si kecil ini memang kurang nyambung dengan aktivitas banyak temannya. Sepertinya, buku kurang diakrabi oleh teman-temannya.

Kebanyakan rekan-rekan si kecil menghabiskan waktu di luar sekolahnya dengan les, para orang tua masih banyak yang ketakutan dengan nilai angkawi rapor anak-anaknya ketimbang perilaku dasar yang mesti kita bentuk saat anak masih kecil: biasa meminta tolong, biasa meminta maaf, biasa berterima kasih, biasa membuang sampah pada tempatnya, dan bisa antri dengan tertib.

Atau jika tidak, mereka teman-teman si kecil bermain secara natural.

Sepertinya ini poin yang mungkin bikin kurang-nyambungnya si kecil kami dengan ‘dunia’nya, dengan teman-temannya. Dunia yang mereka geluti serasa berbeda.

Jika bertemu teman-temannya, si kecil banyak membicarakan apa yang barusan dia baca, apa yang barusan dia bikin, dan sejenisnya.

Si kecil kami lihat kurang nyambung saat rekan-rekannya membicarakan apa-apa, yang pada umumnya anak-anak membicarakannya. Sependengaran kami siy, obrolan mereka tak jauh dari mainan atau main-main.

MAINAN

Mainan, mungkin menjadi faktor lain ‘pemisah’ si kecil dengan rekan-rekannya. Kami -maaf- mendidik si kecil agar ringan tangan. Pinjamkan mainanmu kepada teman-temanmu saat berkumpul. Jangan pernah posesif dengan benda-bendamu. Namun sebisa mungkin jangan pernah meminjam mainan teman-temanmu, kecuali mereka menawarkan.

Kita tahu, bagi anak-anak, tentunya mainan adalah benda paling berharga yang mereka pegang/miliki.

Kadang, Aleef Rahman tak tahan untuk meminjam mainan teman-temannya, mungkin karena saking penasarannya.

Beberapa temannya ada yang biasa saja meminjamkan mainannya, dan tukar pinjam dengan mainan Aleef Rahman; namun beberapa temannya cukup posesif.

Di sini si kecil sering protes, “Koq aku gak boleh pinjem mainannya? (Padahal) aku ‘kan udah minjemkan mainanku?”

Jujur, sejauh ini kami masih kesulitan menjelaskan fenomena ini kepadanya. Dan kami hanya bisa tersenyum, terus memberi penjelasan bahwa tidak semua orang sama, dan seterusnya. Sambil terus berdoa dan meyakini, Insya Allah kelak jika ia dewasa, ia akan memahami fenomena ini.

***

“Keganjilan-keganjilan” Aleef Rahman inilah yang mungkin membuatnya tampak asing, teralienasi, dari kumpulan massif teman-temannya.

Sebab ketika ia berada diantara banyak teman-temannya, ia bertabiat aneh sendiri. Ngomongin TGV atau Shinkansen sementara lumayan tidak sedikit teman-temannya nyanyi lagunya Noah atau Cita Citata.

Dulu, kami berdua orang tua si kecil ini berdebat panjang saat hendak memutuskan si kecil bersekolah dasar di mana.

Saya menginginkan ia bersekolah di sekolah alam, sekolah khusus, yang muridnya hanya 5 orang per kelas sehingga guru-gurunya bisa memberikan perhatian penuh kepadanya, kepada para siswa. Sebab si kecil terlalu hiperaktif untuk dibiarkan tanpa perhatian penuh dan khusus.

Namun bapaknya berpendapat lain. Bapaknya tetap menginginkan si kecil kami bersekolah di sekolah ‘biasa’ saja. Bagaimana jika ia kurang terperhatikan karena sekelas aja isi siswanya tiga puluh lebih?

Satu alasan Bapaknya si kecil dulu itu, “Kita enggak peduli berapa nilai angkawinya. Dan mungkin di sekolah dia akan lolos dari perhatian gurunya, yang seorang diri harus mengawasi tiga puluh lebih siswa. Namun biarkan ia sekolah di sana, biarkan ia mengenali beragam karakter manusia: ada yang begini, ada yang begitu. Ada yang demikian, ada yang berseberangan. Itu justru jadi bekal kelak dia mengenali dunia dengan beragam isi dan karakternya. Lainnya itu, biarkan ia bermain dengan teman-temannya. Itu masa yang harus dia jalani: belajar dengan bermain. Selebihnya, kita akan meng-home schooling-nya ala kita sendiri di rumah.”

Jadilah kemudian ia kami masukkan ke sekolah pemerintah dekat rumah 😀

KAMI tidak pernah bisa memastikan jadi apa atau jadi seperti apa Aleef Rahman kami kelak. Yang kami lakukan hanya satu: berusaha yang terbaik.

Semoga Allah menuntun langkah dan jalannya, bagi Aleef Rahman kami dan aleefrahman-aleefrahman sedunia. Insya Allah, aamiin.

Deasy Widiasena,
– Ibune Aleef Rahman, masih terus belajar menjadi orang tua. Mohon bimbingan, arahan, dan doa restu Anda semuanya. Tq.