Bimmer Turis, Turis Bimmer

Bimmer, yg miara biem, itu kalo saya ibaratkan laksana turis.

Ada turis kelas hotel. Dari mana ke mana naik pesawat tanpa peduli harga tiket dan pedulinya malah pada kualitas layanan dan jenis kelas pesawatnya, naik mobil antar jemput charteran atau paling ndhak taksi kelas premium. Maemnya menu hotel, buffet. Menu-menunya bahasa inggris semua: ice lemon tea, lychee tea, dan semacamnya.

Ada turis kelas rombongan. hunting tiket pesawatnya jauh-jauh hari dan mungkin dibela-belani begadang sapa tau dapet supres harga murah. Ke sana kemari pake mobil rombongan ala seniyapansa. Masih bisa naik taksi tapi senantiasa taksi kelas biasa atau mungkin taksi online. Maemnya di warung yg judulnya warung tapi tempatnya cekli. Dan sama buffet-nya cuman namanya biasanya ganti prasmanan. Menu-menu maemnya pakai bahasa inggris tapi bahasa inggris medhok. #Halah!

Ada turis kelas backpacker. Siap naik kereta ekonomi. Ke sana kemari jalan kaki atau naik angkot. Tidurnya di losmen atau homestay itu pun jadi pilihan terakhir kalo atap langit sudah tak memungkinkan. Makan di warteg atau nasi bungkusan di kios kopi dan minuman dingin pinggir jalan, yg gk pernah ada menu makanannya.

Dan kesemuanya punya persamaan:

  • Sama-sama berwisata, menjelajahi tempat baru yang belom pernah dijelajahi; mengeksplorasi hal-hal baru, baik untuk kesenangan melepas penat maupun untuk makanan otak dan batin – menambah wawasan; dan
  • Pada era kekinian: mereka semua sama-sama mengandalkan teknologi dan informasi. Cuman mungkin bedanya yang kelas atas mengandalkan geskan kartu kredit, yang kelas bawah mengandalkan kuota bonus buat menjelajahi tempat-tempat baru yang asyik tapi MURAH.

Saya mengamati di kalangan bimmerfan juga demikian adanya.

Ada yang miara biemnya super perfect. Yang ini pokoknya susah dan panjang dijlentrehkannya. Biasanya kaum inilah yang di-eksploitasi di-eksplorasi oleh media massa ataupun ATPM BMW karena mendukung posisi mereka: kendaraan premium dan luxury.

Biem keluaran taon anyar. Atau meskipun yg dimainkan itu biem tuwa bmwangka, tapi budget mainannya sama sekali bukan main-main. Jumlah mmereka sangat banyak, sama sekali gk bisa dibilang sedikit, dan cukup keliatan. Pokoknya susah kalo dibilang minoritas.

Berlebihan kah mereka?

Berlebihan itu kalo melebihi kemampuannya. Kalo semuanya itu tidak mengganggu kehidupan(finansial) mereka dan justru membawa kesenangan psikologis dan membawa manfaat kepada pihak lain, ya tentu bagus banget dong ah!

***

Ada yg kelas “rombongan”. Biemnya dipiara dengan baik dan benar. Namun susah untuk masuk kelas museum, kelas kontes orisinalitas, kontes collectible-item, dsb.

Model yg ginian ini emang rombongan beneran. Jumlahnya banyak, massif. Kalo pas ada bimmerfest, ada kopdar, ada gelaran yg ngumpulkan para bimmerfan, inilah yang memenuhsesaki acara. Beberapa dari irisan segmen ini udah masuk ke kasta yg biemnya kolektibel itu tadi.

Tanpilannya rata-rata monoton: mobil ceper, velg-velg ditonjolkan eksistensinya – meski yg kesengsem kenbanyakan cuman dirinya sendiri atau sedikit orang yg berselera sama. Selebihnya, orang biasanya cuman melihat tanpa ekspresi apapun. Atau mungkin cenderung merasa aneh.

‘Mereka itu ngapain sih?’ Mungkin kayak gitu yg di benak orang.

Kebalik dengan apa yg di benak mereka, bahwa ini-itu semua, biem dan pernak-perniknya itu, adalah simbol pencapaian atas pencarian. Pencarian jati diri yang sangat didukung dengan daya dukung nominal. Kalo bukan nominal, apa lagi? Adakah yg lainnya? Kalo kita mau berani jujur: gk ada!

Ya emang itulah satu-satunya syarat dan prasyarat. Kondisi dan pra-kondisi.

Duit mereka -kaum bimmer ‘turis rombongan’- itu sama sekali bukan sedikit lho! Tapi sepertinya kelas mereka masih tidak masuk klasifikasi sebagai pihak yg diperhatikan dan dibutuhkan untuk penguatan citra merk BMW. Entah karena apa. Mungkin -meskipun berbiaya sangat muahalll- karena style/gaya miara biem mereka cenderung independen, suka-suka sesuai selera, dan kurang mendekati unsur ‘premium dan kuxury’ ala BMW.

Atau kalo bimmerfan kelas kaum turis rombongan ini tampil gaya susah, tampil gaya susahnya itu pake biaya buanyakkk lho! Bukan susah beneran.

Lebay kah mereka?

Yg lebay itu yg nganggap mereka lebay.

Semua memiliki dimensi dan ukuran – kondisi masing-masing. Sebab bisa jadi, apa yang mereka belanjakan untuk membuat biemnya jalan dan dandan, kalo ditotal masih lebih murah ketimbang total cost of ownership untuk memiliki sebuah MPV atau SUV sejuta umat. Who knows tho?

Biarkan segmen ini bergerak. Sebab merekalah yang turut membuat dunia perekonomian bergerak juga.

Akan banyak pekerja bengkel yang mendapatkan rejeki-Nya via segemn ini. Akan banyak penjual pernak-pernik dan komponen/onderdil yang berputar keuangannya karena keberadaan mereka. Akan buanyak vendor item macem-macem ini-itu dapet banyak orderan karena dinamisme mereka.

Akan terus berputar, berjalan, dan bergerak aktivitas hidup ini juga karena keberadaan mereka semua.

***

Nah, yg unik dan menarik adalah justru wisatawan sori bimmerfan kelas kere kiri. Ini ibarat wisatawan adalah wisatawan nekat. Berani berwisata, tapi makannya ala… bukan ala tapi beneran khas orang susah.

Kartu debitnya buat cadangan pulang, bukan buat belanja senang-senang.

Gayanya ngikuti pertunjukan-pertunjukan kelas berat: sendratari, theater, musik yg kesemuanya bersufix ‘jalanan’; yg berat di pikiran namun gratis di ongkosan. Padahal sebenarnya karena gk kuat aja buat mengikuti gaya hidup ala urban dan nasib mereka jauh panggang dari api, jauh tampang dari hedonisme.

Omongannya selangit, karena banyak menghabiskan waktunya dengan makan wawasan; ya sebenarnya hanya karena tak bisa banyak menghabiskan waktunya dengan uang atau membeli kesenangan dengan nominal.

Model yg ginian, biemnya itu serasa jadi korban dan tumbal. Ngisi bensin mapuluh rebu. Ada rusak diakal-akali. Mobilnya kusam di sekujur bodi. Kaca jamuran penuh daki. Velg peyang sana-sini. Tapi sok ngerti aja sama mesin elektrikal mekanikal dan perawatan mobil. Ya karena suka belajar dari kerusakannya. Cuman tak ada isi dompet untuk menjawab itu (PR) semuanya.

Kadang mengejar sebuah angan impian cita-cita pas ada rejeki nomplok, apapun itu bentuk atau wujudnya: entah ganti shock bagus, ganti ini-itu yg biasanya cuman dikadali dan diakali, atau apalah namanya. Tapi kalo ndhak ya cuman se-item itu yg bisa diwujudkan, selebihnya paling ya sekali-sekali itu aja bisa mewujudkannya.

Useless-kah keberadaan mereka? Secara ekonomi mungkin iya. Tidak banyak nominal berputar dari kalangan ini.

Tapi, tanpa eksistensi alias keberadaan porsi bawah yg biemnya acakadut amburadul ini, mereka-mereka yang berada di lapisan atasnya tidak akan pernah punya ukuran penilaian bahwa biem mereka keren!

Ya apa ya?

Well, yg model kere kiri di barisan aliran terakhir ginian ini, yg selain saya hayo ngacung!

Yakh koq cuman kalian doang sih? Udah ah, bubar aja kita, gk usah bikin genk dan komplotan aliran kere kiri! Diasepin sama yg biemnya kinclong dan kenceng, tahu rasa ntar! Ayo sana pada pulang! Diapain gitu sana biemnya, pokoknya ada kesibukan dan sok perhatian ama biemnya sana! Gk usah pake banyak nggosip! Huh!

ITULAH dunia. Itulah turis. Itulah bimerfan. Dan ini semua cuman sudut pandang sangat subyektif yang saya ungkapkan dengan pemikiran yg sepenuh asal ngawur dan asal njeplak.

Kalo toh ini nyata, bagusnya ini posting tetep aja kita anggap ngawur. Jadi jika bagi Anda apa yg saya utarakan ini ngawur, ya kan udah saya bilang tadi!!! Bahwa ini tuh ngawur dan asal njeplak! Gimana sih…

– FHW.
Gaya turis, Sok ala backapcker.

Advertisements

Korban Matic

Di kampung halaman pedalaman Kediri gini, sejauh pengamatan sepintas saya, publik masih kurang doyan sama mobil matic. Banyakan maunya pada mobil manula. Eh manual.

Jadinya kayak dua temen saya. Yg pertama kali nyetir mobil matic kami. Keduanya sama-sama mengutarakan report yg sama: pas enak-enaknya nyetir, kaki kiri nginjek rem sekuat tenaga, berasa nginjek kopling yg emang biasanya diinjek sekonyong-konyong bukan pelan-pelan.

Alhasil, seisi mobil pada mencelat ke depan.

Meski bukan kategori apa-apa dan mencelatnya aman-aman saja, sumpah serapah keluar dari para penumpang.

Kebalik sama di luar negeri yang mayoritas kendaraan di sana bisa dipilang “pasti” matic. Saya pernah mbaca di suatu media, sayangnya pas saya googling ulang koq belom ketemu: ada maling yg udah ngerusak mobil buat diembat. Tapi si maling ngurungkan niatnya karena itu mobil transmisinya manual.

Well… Sekarang trend penjualan mobil di Indonesia, khususnya di kota besar, yg laku malah yg matic. Jalanan semakin macet, orang udah males ngopling.

Begitulah, beginilah ketikan iseng saya di siang ini.

– Freema Bapakne Rahman
Manumatic
Triptonic Tiptronic Steptronic Manumatic
Matic
Automatic
Manual

BMW E34 520i Non-Vanos

Untuk BMW E34 520i non-vanos , perhatikan aja:

  • Mesin jangan pincang, apapun alasan(seller)nya.
  • Knalpot jangan sampe ngasep pedih apalagi sampe berasep putih yg pedih banget.

    Kalo berasep banyak pagi-pagi dan ndhak pedih, itu malah sehat. Asep embun, kompresi mesinnya masih bagus brarti.

  • Jalankan pelan. Mobil jangan sampai tersendat-sendat.

Paling enak sih kalo seller-nya fair: kapan km terakhir tune-up: ganti oli, ganti filter oli, kiras transmisi, ganti filter udara, ganti filter bensin.

Jadi maintenisnya dapet dikira-kira.

***

Bener kata lik Berlin Sianipar: utamakan interior rapi. Mesin relatif mudah untuk dibenahi.

Namun demikian, pastikan:

  • Power-window lancar semua.
  • Semua kaca gk ada yg retak.
  • Lampu-lampu utuh.
  • Kabel gk ada jumper-jumperan acakadut.

Kalo jadi meminang, jika tidak ada riwayat perbaikan/perawatan barusan dari seller, maka persiapkan kocek buat:

  • Tune-up total (ganti oli, filter oli, filter udara, filter bbm).
  • Cek kesehatan rumah sekering (fuse box item di bagian kiri kompartemen mesin). Semprot total sama penetrant. Pastikan gk ada soket yg gosong. Lantas cadangkan sekring cadangan yg bagua. Jangan yg ece-ece. Gampang meleleh ntar.
  • Karet wiper diganti. Plafon-plafon dibersihkan.
  • Waspadai restorasi kaki-kaki. Ini muahalll: total jendral bisa 10jutaan. Tapi coba deh cek dg biaya ganti total kaki-kaki corolla atau innova. Rasanya so-so aja. 😀

    Tapi ini bisa dibikin gradual, gk langsung total, tapi kalo bisa per paket biar ongkos kerjanya gk dobel-dobel.

    Sekarang udah banyak bengkel kaki-kaki yg bisa rekondisi kaki-kaki bmw dg hasil kerja ajib koq.

    E34 adalah bmw yg termasuk generasi ekonomis. Shocknya tergolong paling murah diantara semua generasi bmw, khusunya generasi kode bodi setelahnya (e36, dst).

  • Buat pernak-pernik yg biasanya atas dasar rekues istri. Kalo dituruti, ntar istri pasti seneng. Dan biemnya ndhak boleh dijual. Jangan lupa ajak turing inisiasi buar perkenalan rasa si biem dg keluarga.

Kalo sampe semua pada bilang enakan naik biem ketimbang innova, itu bukan sentimen emosional.

Itu fakta.

Coba aja.

Selamat datang ke dunia biem.

Jangan hiraukan kata orang yg katanya, katanya, katanya, padahal mereka gk tau apa-apa.

Buktinya kuta di sini bisa-bisa aja koq miara biem dg tenaga yg beneran apa-adanya, bukan adanya apa.

Kalo orang bilang biem itu partsnya mahal, perawatan susah, bensinnya boros, percayalah mereka itu cuman katanya dan sesungguhnya benar adanya. Lho? 😁

Salam innova. Eh…

F25 LCI vs F48

Saat saya beserta dua sahabat baik saya: Kamituwa (Mbah Wo) Kedirian Ardian Boeng Satriyadi dan Lurah Kedirian Ghofar Ilmi K bertiga semobil, kami tidak bisa membedakan wajah X-Series yg membuntuti kami, apakah dia F25 LCI ataukah F48.

Kami bertiga ternyata sanggupnya cuman membedakan E36 M-Tech atau standar. Poll mentok tinggi-tinggi cuman sanggup membedakan wajah E46 pre-facelift & facelift, yg ferang keliatan bedanya itu.

Dan jadinya itu tadi: begitu ada X-Series membuntuti kami, kami berdebat panjang apakah itu F25 LCI ataukah sebuah F48.

Sampai kemudian dia itu X-Series berbelok dan menghilang, tanpa kami mendapatkan keputusan dan kepastian yg fix: dia itu F25 LCI ataukah F48.

So, jangan percaya sama omongan kami yg ternyata membedakan wajah F25 LCI sama F48 aja belom sanggup, apalagi kalo sampe Anda menuduh kami ini maniak BMW. Kebangeten keterlaluan nuduhnya itu namanya.

– FHW LCI

Mencintai Perbedaan Dengan Hati

Di keluarga besar kami, ada kendaraan: beberapa mobil Jepang dan beberapa mobil Eropa.

Masing-masing punya positioning dan fungsionalitas sendiri-sendiri.

Ada yg masih pake karbu dan perawatannya super guuuampanggg mudahhh dan murahhh serta muatnya banyak plus dijual kembali harganya oke buangettt. Mobil legenda yg rasanya luar biasa campur aduk tak karuannya.

Ada si imut VVTi yg bensinnya uiritttttt puollllll tapi rasanya yaaa gitu deh.

Ada yg bbm-nya wajib jib jib pertadex/shell diesel dan haram jadah solar busuk yg meskipun mahal harga per liternya tapi lumayan bisa dibilang irit konsumsinya ketimbang mobil Eropa meski tetep jauh lebih boros ketimbang si VVTi mesin kecil; tapi ya gitu rasanya: gemlodhak ndhak karuan dibanding si mobil Eropa.

Dan ada mobil Eropa dengan ciri khas (baca: stigma) permanennya: parts muahalll, bensin buorosss, dan dijual kembali serasa dihibahkan aja ke orang. Tapi rasanya tiada pernah bisa tertandingi dan tergantikan oleh yg manapun yg ada di kami.

DARI beragamnya barisan kendaraan yg ada tersebut kami semua akhirnya bisa mendapatkan kesimpulan hati:

kami bisa mencintai si mobil Eropa yg tiada pernah tertandingi rasanya, karena berkendara itu bagi kami adalah soal rasa dan pengalaman di perjalanan; meski perawatannya bikin kami mau muntah;

tanpa harus membenci sedikitpun mobil-mobil yg punya fungsional tinggi meski kami anggap tanpa ada rasa (soul)nya.

Sebab seenak-enaknya mobil Eropa yg ada di kami, pada suatu ketika, yakni ketika kami butuh fungsionalitas tertentu, mereka para mobil Eropa (sedan) itu mendadak jadi barang useless yg ndhak berguna sama sekali.

INI kondisi yg kami rasakan sendiri dan kami alami sendiri. Bukan dari “katanya, katanya, katanya”; bukan dari kondisi berdasar apa kata orang. Apalagi orang yg ndhak hidup bersama mobil Jepang(pasaran) dan mobil Eropa sekaligus.

***

Kami bisa mencintai mobil Eropa dan Jepang kami sepenuh hati dengan beragam karakternya masing-masing.

Kami bisa mencintai mobil Jepang dan mobil Eropa kami dengan sepenuh hati dan berdasarkan perbedaan masing-masing kondisi.

Kami bisa mencintai mobil Jepang kami yg irit dan murah perawatannya tapi ancur-ancuran rasanya tanpa pernah sedikitpun membenci mobil Eropa yg boros dan muahalll maintenisnya itu.

Kami bisa mencintai mobil Eropa kami yg luar biasa tak tertandingi enaknya meskipun mihil maintenisnya tanpa pernah membenci sedikitpun mobil Jepang yg soul-less namun fungsionalitasnya super tinggi dan bisa membuat mobil Eropa kami mendadak useless pada suatu kondisi.

– FHW Eropang.

Xverest: Gerinda Lubang Kunci

Habis menghadiri pembukaan kafe+pemancingannya lik Sugeng Ariadi di kawasan Tulungagung timur, kami dari rekan-rekan Blitarian-Kedirian melanjutkan diri turing ke Pantai Gemah, di Tulungagung selatan.

Usai bergembira ria main air, kepanikan mendadak menyergap dan melanda kami semua. Istri saya meninggalkan kunci di dalam mobil dan pintu meng-auto locking sendiri karena selama sekian detik tak ada aktivitas.

Untung beribu untung, warga sekitar ada yg punya gerinda. Dan di E36-nya pak bayan Blitarian Miftachul Huda ada inverter dg wattage gedhe.

Akhirnya, sama paklik berbaju Mataraman itu dibikinlah lobang kecil di posisi dibalik plat nomor untuk meng-unlocking tuas belakang.

Prosesinya paling sekitar 15 menit, diluar nunggu gerindanya datang sama survei-survei metode mbobol kunci di pinggir pantai yg jauh dari peralatan gitu.

Seru deh!

# video by pak bayan Kedirian Byan Bojana
# pic by mbah wo Kedirian Boeng Satriyadi
# seru-seruan by all bimmerfan blitarian/kedirian semuanya!!!
#kedirian #blitarian BMWCCI Kediri Chapter Blitarian Bimmer #touring

Pengetahuan Tentang Lebar Tapak Ban Dan Pengaruh Harganya Serta Hal-Hal Lain Yang Berkaitan Dengannya

Saya sih ndhak tertarik dengan supercar gituan. Selain masalah selera: saya lebih suka mobil buas bertampang (agak)biasa macam BMW-M atau Audi-RS (biar agak enak ngomongnya) juga masalah doku so pasti tentunya (nah ini inti sebenarnya. Klasik banget kan? Hehehehe…). Yakh, namanya beli baju kan musti ukur badan sendiri. Ya tho ya tho?

Cuman saya ndhak pernah lupa tentang bannya supercar/sportcar ginian. Kapan lalu pas di toko ban gedhe di kotapraja sana, saya lama tertegun memperhatikan pricelist ban dengan spek sportcar: tapaknya mayan luebar banget dan profilnya mayan tipis: 305/35 rimnya lupa, mungkin 20.

Harganya sebiji 12jt untuk merk kelas menengah-atas yg ada di pasaran Indonesia. Untuk merk-merk papan atas ndhak ada pricelist-nya di toko tersebut.

Spek dan harga yg tampak teramat sangat aneh sekali banget bagi saya, meski mungkin itu sangat umum lumrah jamak bagi Anda-Anda yg biasa cangkruk di Sentul sambil ngamati orang-orang naik mobil trondhol jeroannya dengan (suara)knalpot ndhak bener muter-muter sirkuit. Ampun likkk!!! 😀

Selain harganya yg teramat sangat mencengangkan sekali banget bagi ukuran saya pribadi, satu hal lagi yg saya meyakini: kayaknya ban ukuran tersebut ndhak ada yg jual copotan di lapak ban gedhe di pinggir jalan. Kalo 205/65-15 atau atau 215/55-17 buat badak kan relatif banyak banget, setidaknya ada aja di sana. Asyik tho? Yekan?

Well liks, inilah opini saya berupa pengetahuan tentang lebar tapak ban dan pengaruh harganya serta hal-hal lain yang berkaitan dengannya. Jadi ini semua sebenarnya saya ngomongin apa sih ya?

– Freema Ban Widiasena
Pelanggan lapak jual-beli (pinggir jalan tidak) online.