Bengkel Khusus Kaki-Kaki

Untuk menyiasati masalah (khusus) kaki-kaki, kalo kita blank sama sekali, pasrahkan aja ke bengkel spesialis kaki-kaki; yg kalo di Jakarta macam Jantra atau Lili.

Saya sih lebih suka ke Lili. Ndhak tau kenapa. Kayaknya siy ongkos kerjanya sedikit lebih murah ketimbang Jantra, tapi saya ndhak pernah membandingkan langsung, cuman perasaan aja πŸ˜€ Cuman ndhak tau aja, saya koq lebih sreg ke Lili sejauh ini. Hasil kerjanya: Audi kami yg udah 5 tahun di tangan, dua kali kami pasrahkan ke Lili.

Yg pertama ganti total kaki-kaki. Yg kedua repair sepasang shock dan sebiji bushing doang, yg jebol karena kejedhog parah di Pantura.

Dulu pertama kali ngangkat juga kami rekondisikan total kaki-kaki. Dikerjakan oleh mekanik di pusat onderdil, parts belanja sendiri. Jatuhnya rasanya sama aja siy dengan masrahkan ke bengkel spesialis kaki-kaki. Cuman kalo macam di Jantra atau Lili, mereka ngasih garansi setahun. Kalo beli parts sendiri dan dikerjakan oleh mekanik spesialis kaki-kaki, ndhak ada gransinya. Entah kepake atau ndhak itu garansi, at least bikin ati ayem aja siy…

Lili ada di Haji Nawi atau BSD. Kalo Jantra malah ada di beberapa kota di seantero Jawa. Di kota kecil Kediri sini Jantra juga ada. Tapi rasanya bukan karena pasarnya, melainkan karena empunya Jantra berasal dari Kediri sini, tepatnya Tunglur/Badas, Pare.

Se-blank apapun kita ama kaki-kaki, mereka -baik Jantra maupun Lili- 99,999999% fair ngasih advisnya & ngerjakannya, pun ongkosannya. Kalo toh kerasanya mahal, karena memang habisnya ya segitu.

Maklum, kadang menyelesaikan masalah di kaki-kaki itu musti komprehensif. Maksudnya, pada case tertentu, parts yg kondisinya 50% bahkan masih 70% pun wajib diganti ketika parts pasangannya udah ancur. Karena jika tidak, malah akan segera timbul masalah baru karena beban kerja yang tak imbang karena disparitas kondisi parts yg mustinya bekerja simultan gitu.

Nah, bengkel kaki-kaii biasanya bisa memberikan saran atas kondisi demikian ini. Pun biasanya mereka mematok harga paket. Bushing misalnya, meski yg ancur empat dari total enam biji misalnya, akan mereka ganti semuanya. Tapi kalo cuman sebiji doang karena case khusus, seperti sebiji bushing yg pecah karena kejedhog parah di pantura, ya mereka ganti cuman sebiji aja.

***

Ini khusus masalah kaki-kaki.

Tapi bukan berarti asal bengkel spesialis kaki-kaki bisa ngerjakan kaki-kakinya BMW atau mobil Eropa lainnya. Belom tentu.

Belom tentunya bukan karena masalah skill, melainkan karena mereka ndhak nyetok parts-nya; karena beberapa parts ada yg bisa direpair, misalnya bushing atau joint atau mungkin juga shock – kalo mereka memang sanggup ngerepair dengan skill/proses tinggi, ada yg rasanya musti ganti, misalnya support/guide-shock.

Seperti di Kediri sini, ada bengkel kaki-kaki super kondang karena pengerjaannya rapi, presisi, dan harganya juga menginjak bumi. Nyaris semua penggemar otomotif kenal bengkel tersebut.

Tapi kalo udah merestorasi kaki-kaki BMW, sering ditolak. Karena mereka tak ada cadangan/stok parts-nya. Sementara untuk mobil lain, kebanyakan bengkel kaki-kaki sekarang kadang justru lebih suka nyetok/nge-replace si parts ketimbang ngerepair, seperti bikin bushing sendiri atau membuka dan mengganti lapisan teflonnya joint dan menutupnya kembali dengan rapi. Maklum, proses seperti ini kan ngabiskan waktu kerja. Sementara replacement parts di pasaran aftermarket sekarang jumlahnya udah pada melimpah dengan harga yg semakin terjengkau dan kualitasnya sangat layak diterima, udah kualitas OEM semuanya banyakan.

Dan juga bukan berarti bengkel spesialis tak pantas mengerjakan kaki-kaki. Asal kita tau dan percaya pada kapabilitas dan reputasi mereka, it’s ok koq! Intinya siy: jangan sampe ada salah analisis, sehingga parts yg mustinya masih sangat layak dipakai tanpa menimbulkan dampak jadi ikutan terganti atau sebaliknya parts yg mustinya diganti jadi kelewatan sehingga masalah kaki-kaki belom tuntas dan malah bikin dua kali kerja (plus ongkosnya). Kan ginian ini makan waktu dan buang uang jadinya.

BENGKEL SPESIALIS

Kalo di Depok, Anda bisa masrahkan biem Anda, termasuk kaki-kaki, ke bengkel kebon.

Di BSD, untuk sektor mesin bisa ke Pakpuh Purwa Prayitna yg ada di BSD Autoparts, yg sebelahan blok sama Lili yg di Sentral Onderdil BSD.

Sementara yg di kawasan Bintaro, saya sangat merekomendasikan Mas Irwan Engine-Elektro di BTC. Mas Irwan ini sebenarnya spesialis kelistrikan mobil, tapi untuk kasus-kasus lain doi juga sanggup nangani, karena pynya mekanik juga. Dan doi nerima bukan cuman BMW, melainkan semua merk, terutama merk aneh-aneh, dari Jaguar sampe Maserati pun doi atasi.

Kalo di Blitar, jelas langsung aja ke Karya Timur Autowroks.

Di Kediri, Anda bisa kontak sama Bang Rico.

Di Surabaya bisa hubungi Pak Rudi atau Mas Nur (N-Motor).

Yogya bisa ke Pakdhe Bambang OB atau Lik Sapto Kesen. Kalo AC bisa lari ke Lik Defri juga selain mereka berdua. Ada juga bengkel speialis BMW lain yg juga direkomendasikan oleh banyak teman lain, tapi saya belom mengenalnya. Ingat, saya belom kenal bukan berarti bengkelnya tidak rekomended lho!!! Kayak macam apa aja… πŸ˜€

Bandung ke Om Eko Garasibmw.

***

JADI intinya sekali lagi, kalo kita blank dengan kaki-kaki, bawalah ke bengkel spesialis kaki-kaki, atau bengkel speialis BMW yg udah saya sebut di atas, yg mana dalam hal ini saya pribadi merekomendasikan Jantra atau Lili (meski saya lebih suka ke Lili).

Ini semua cuman IMHO alias penilaian saya pribadi, mohon di-CMIIW.

– Freema HW

BMacW

Mobil Eropa, salah satunya BMW, dikenal punya konsistensi nuansa desain dari generasi ke generasi, meski sebenarnya garis-garis desain mereka berubah lumayan radikal.

Kidney-grill dan segenap elemen konsistensi lain telah menyatukan beragam perbedaan garis desain pada tiap-tiap generasi BMW. Padahal dimensi desain kidney-grill itu sendiri berubah-ubah lumayan radikal.

Pada komputer, Apple Macintosh juga punya konsistensi semacam ini. Desain menu bar yang konsisten di atas ndhak “pindah-able”, dan suara Mac Chime yang khas meski pitch-nya sedikit berbeda, mungkin dipengaruhi oleh perangkat kerasnya juga.

BTW, Apple = hardware, Macintosh = software. Biasa disebut sepaket karena memang secara baku hardware tersebut diisi oleh software tersebut atau bisa disebut sebaliknya sebaliknya, software tersebut mengisi hardware tersebut.

Saya pertama mengenal/menggunakan komputer era DOS pada masa SMP, awal 90an. SMA, mulai mengenal Windows 3.1. Kuliah mulai mengenal Windows 95 dan 98. Juga Linux, meski belom menggunakannya. Di Windows mulai saya jalankan StarOffice, aplikasi office alternatif kala itu tatkala nyaris se-Indonesia seolah hanya mengenal Microsoft Office.

StarOffice belakangan menjadi OpenOffice.org dan kemudian bertransformasi lagi menjadi LibreOffice; perangkat office baku pada beragam distro Linux.

Lainnya itu saya juga mulai mengenal Mac dari beberapa tempat yang saya kenal.

Akhir masa kuliah, 2001, saya mulai menggunakan Linux dan perlahan menomorduakan Windows. Selanjutnya 2003, saya pertama kali menggunakan Mac.

Kala itu berkali-kali sering ditanya orang, “Mas ini laptopnya pake Windows apa sih, koq cantik tampilannya?”

Mereka terkesima lihat docking yang menari-nari dan meloncat-loncat itu.

Selanjutnya lama saya dan sekeluarga perlahan mengenal dan menggunakan Mac. Prosesnya masih PPC kala itu. Total ada empat biji Mac pada kami sekeluarga. Si kecil pun sudah kemi kenalkan dengan Mac sejak dia masih playgroup/TK.

Mac begitu pas mantab buat kerja. Stabil, bebas virus, konsisten kinerjanya, akurat warnanya.

Windows, selalu terkenal dengan BSOD (blue screen of death) dan suara login yang berubah-ubah pada tiap versi. Tapi dia teramat sangat populer, karena bisa dipasangkan di perangkat keras kelas apa saja. Mulai mainboard seharga 50 dolar hingga 500 dolar bahkan lebih.

Plus bajakannya melimpah. Alhasil semua orang bisa kenal komputer berikut kecanduan (bajakan)nya.

***

Kemudian era Mac keluar dengan Intel, Mac PPC mulai terhenti pemutakhirannya. Mendakan Mac cuman jadi barang koleksi, ndhak bisa dipakai kerja.

Dan mendadak Mac menjadi barang seperti PC Windows biasa, namun yang kelas hi-end; bukan lagi “komputer yang berbeda”.

Mulailah kami berhenti menggunakan Mac.

Saat ini kami sekeluarga pake PC dengan Linux sebagai sistem-operasinya. Windows masih kami pasang, untuk penggunaan tertentu.

***

ENAM tahun setelah menggunakan Mac, saya baru punya BMW. Mobil Eropa pertama yang ada di keluarga.

Awalnya kagok melihat mobil Eropa yang “serba beda semua” gini. Beda cara nananginya, beda (harga dan) spesifikasi-dimensi parts standarnya, beda fotur dan perlakuannya.

Tapi setelah mengingat Mac yang telah sekian lama mengisi dan menghiasi hari-hari kami sekeluarga, rasanya semua “seperti udah biasa” aja.

***

SEKARANG rasanya mulai tipis batas performa dan kecantikan (desain hardware maupun software) antara Windows dan Mac. Windows 10 pada jenis-jenis komputer kelas atas: komputer 2in1 (bisa jadi laptop atau tablet; komputer workstation; dll. begitu kelihatan cantik dan luar biasa peningkatan performanya. Windows 10 (rasanya sejak Windows 8) serasa telah meninggalkan Windows era lama/sebelumnya. Meski masih penuh corak warna, namun Windows 10 udah meninggalkan warna latar yang warna-warni dan bikin pedih mata, malah bikin susah konsentrasi kerja. Ini kalo saya. Ndhak tau kalo Anda.

Mac yang masih konsisten dengan nuansa lamanya, sebenarnya juga mulai berubah lumayan. Mac mulai penuh warna meski tetap ndhak pernah bisa norak kayak Windows. Secara umumnya warna sistem operasinya tetaplah simpel. Karakter warna simpel ini justru sekarang banyak kita temukan di laman web. Yang paling kondang tentunya ya si google itu. Putih mulus sepi corak norak gitu.

Kalo Linux mah, suka-suka yang bikin (distro). Bisa simpel kayak Mac, bisa norak kayak Windows. Namanya aja open-source, bisa dioprek semaunya yang bisa ngoprek.

Linux itu kan “bukan perusahaan” kayak Mac atau Windows. Dia kan kayak paguyuban warga, kayak orang banyak lagi gotong royong, atau mirip-miripnya kayak koperasi lah modelnya.

Koperasi kan juga bisa punya pabrik atau tokok kayak perusahaan gedhe. Tapi ngerti kan bedanya apa antara koperasi vs perusahaan partikelir? Ya kayak gitulah kurang lebihnya. πŸ˜€

***

Dan, era internet & koneksi telah membawa mereka semua ke satu fokus: offline-less. “OS”-store telah menjadi kata kunci yang senada sejak era Blackberry, Linux, Android, iOS, dan kemudian Windows serta Mac.

Bahkan perangkat kerasnya pun mulai semakin tipis perbedaannya. Antara ponsel, tablet, dan komputer cuman dibedakan pada sedikit penggunaan khusus aja. Sebab udah lumrah ada komputer atau ponsel seukuran tablet.

MacBook yang judulnya masih laptop itu pun jeroannya juga jeroan henpun.

Dan… BMW pun juga semakin tipis bedanya dengan mobil lain. Apalagi di era mobil listrik yang udah dekat ini. Di dalam BMW udah mulai banyak cup-holder. Dan BMW vs Crown bahkan Camry sekalipun – ndhak perlu harus Lexus, rasanya sudah semakin sedikit dan semakin sedikit perbedaan (kemewahan)fiturnya.

Hanya konsistensi karakter yang membuat Mac dan BMW masih “berbeda” dengan yang lain. Yakni kidney-grill dan konco-konconya serta palang atas berikut suara Mac Chime itu, juga dockingnya

Hal sederhana, namun ternyata menjadi pembeda yang luar biasa. Susah ditandingi lawan-lawannya. Kecuali ntar manajemennya salah langkah, bukan tak mungkin nasib mereka terjungkal.

Semoga Mac dan BMW terus selalu mengusung konsistensi mereka.

– Freemac HW,
pengguna BMacW.

Part KW = Buang Uang

Setelah 10 taunan bekerja, kiprok (regulator rectifier) bawaan motor modyar.

Sempat ane belikan yg kw, harganya sepertiga sampe setengah orinya, ndhak pake lama modyar lagi. Alhasil balik kanan lagi.

Nilai moralnya: pake part kw kadang bahkan seringnya malah buang-buang uang.

***

Di kijang rasanya sama juga. Dan kalo buat kijang, ane juga masih berani ngomong gitu: pake part kw kadang malah buang uang. Persoalannya, buat kijang part orinya juga murah. Shock ori aja sepasang cuman 400an rb. Mungkin sekarang 500 rb.

Malah part kw Kijang juga kualitasnya udah mendekati OEM.

Saya pernah ganti spion, sebiji cuman 25rb. Plastiknya emang ndhak se-firm orinya. Tapi kacanya ndhak getar, sudut pandangnya juga pleg ama orinya. Ndhak lebih cembung atau cekung, obyek ndhak tampak lebih dekat atau lebih jauh. Dan baut setelan kekencangannya juga bekerja sempurna. Ndhak gampang dol/slek. Dan itu spion udah bertahun-tahun terpasang di pintu, menggantikan spion ori yg pecah kesampluk gandengan truk yg mobat-mabit di jalan.

Berapa harga spion Kijang yg ori? Saya ndhak tau. Toko yg jual ndhak nyetok. Mungkin ndhak ada yg nyari kali ya? πŸ˜€

Cuman kalo batok lampu belakang Kijang, pendaran cahaya yg kw tetep ndhak bisa seterang yg ori.

Lampu belakang Kijang, yg kw mika lampunya doang 25rb sebiji. Kalo sama batoknya 250rb per set/dua biji. Sementara lampu ori (batok sama mikanya, udah ter-lem menyatu, non buka-able) 550rb sebiji!

NAH, di BMW/Audi sama juga. Part kw, kita biasanya nyebut “yg biasa”, sering kejadiannya juga ndhak awet.

Case paling sering kita dengar adalah visco fan. Yg biasa 450rb.

Biasanya temen-temen kalo udah pernah kebuang uang gara-gara part biasa, baru nyari “yg bagus”. Kayak visco, yg bagus harganya dua kalinya.

Kualitas “yg bagus” ini memang bukan ori dalam pengertian ada capnya BMW. Tapi dia udah kelas OEM.

Untuk kaki-kaki, shock misanya, biasanya cuman ada satu pilihan kualitas: “yg bagus” semua.

Hanya opsi/Β­merknya beragam. Ada yg orientasi empuk-nyaman-touring, ada yg orientasi keras-sport.

Kayak packing/gasket mesin gitu malah adanya satu pilihan doang. OEM.

Di Audi sama kayak BMW, ada yg biasa sama yg bagus/OEM.

Tapi di beberapa item, pilihannya malah yg biasa sama langsung ori dengan cap/logo Audi.

CUMAN masalahnya, kalo part ori motor suzuki, meski harganya tiga kali lipat yg kw, masih relatif enteng dijabanin.

Kalo part OEM BMW, hiks… Ya jelas beda, motor vs mobil.

Tapi di luar itu, benefit yg hadir juga beda. BMW tua pake parts bagus, relatif masih lebih nyaman ketimbang mobil sejuta umat yg gress sekalipun, yg harganya masih berlipat-lipat dibanding BMW terestorasi.

IMHO.

Jag

Kalo modelnya, menurut saya ganteng Jag XE ini ketimbang BMW F30 atau Mercy W204.

Cuman; kalo BMW dari dulu sampe sekarang tampangnya konsisten cakep dan kerennya, sporty abis gitu – dan saya mulai ndhak suka karena gurat-gurat garis bodinya mulai bejibun ndhak simpel lagi;

atau Mercy juga konsisten dengan nuansa khasnya sendiri yang seperti itu;

Jag XE -seperti yg dikatakan di pereview di video- ini tampangnya kini baru keliatan cakep dari yang kemarin sempat hancur dan gagal parah di X-Type.

Sementara kalo Lexus, mood-mood-an. Kadang dia keliatan cakep, macam LS460 atau IS300, kadang hancur telak macam LS430 yang mirip Mercy atau yg model sekarang yang entah mirip apa itu.

Audi, karena dia sebenarnya VW yang ganti tampang, maka tampangnya ikutan nuansanya VW. Tapi sejauh ini dia selalu keren, karena simpel, dan selera saya emang yang simpel dan minim gurat-gurat garis bodi gitu.

Volvo? Dia senantiasa diam menanti kedatangan seseorang di ujung jalan sana.

HARI sekarang ini, umpama disuruh milih Mercy, BMW, atau Jag baru; saya milih Jag-nya. Atau Audi.

Ini cuman masalah tampang, bukan masalah rasa.

Menurut saya pribadi ini.

– FHW
ngablak.

Legroom Headroom Seat

Ini tentang mobil (yang ada di keluarga) kami. Ada satu mobil, kalo dilihat sepintas tampak legroom-nya lapang banget. Udah gitu kabinnya kesannya roomy banget. Headroom-nya kayak lega banget.

Tapi setelah diduduki, ternyata legroom ndhak lapang-lapang amat. Headrest juga ndhak lega, malah pada posisi duduk normal di jok belakang, kepala saya nyundul plafon.

Opsi duduknya: saya musti di depan, atau kalo di belakang kepala musti saya tekuk atau bokong agak geser ke depan sehingga punggung bisa sedikit membungkuk dan dengkul terpaksa lebih nekuk lagi.

Koq bisa kalo dilihat atau difoto tampak lega?

Karena tatakan duduk(/hip)nya ternyata pendek, ujung joknya masih “jauh” dari engsel dengkul. Bikin capek kalo duduk di perjalanan panjang. Karena paha seperti menggantung gitu.

Juga sandaran punggunggnya ndhak seberapa tinggi. Headrest pada posisi mentok bawah cuman kena di leher. (Neckrest dong jadinya?) Plus tebal jok+sandarannya tipis. Jadi secara proporsional dia (seolah) tampak lapang+lega kabinnya: legroom-nya seolah lapang, headroom-nya seolah lega, seat-nya seolah lebar. Padahal aslinya malah sempit banget.

YANG di atas itu masih mending, karena pada posisi nyetir, dengkul ndhak ngepres kiri-kanan. Alias selangkangan saya masih bisa sedikt mengankang.

Ada satu lagi mobil masih di barisan keluarga (besar) kami, dia jelas tipikal mobil irit dan yang ini headroom-nya malah lumayan, tapi legroom-nya sama sempitnya dan seat-nya juga pendek banget plus kalo posisi nyetir dengkul saya mentok kiri-kanan. Kaki seperti kejepit dari samping kiri-kanan gitu. Dan yang ini malah yang paling ndhak enak, soale selangkangan jadi ndhak nyaman banget puolll. Hiks…

Sementara mobil satunya, kabinnya malah terkesan ndhak seberapa roomy. Headroom-nya juga ndhak tampak lega. Legroom-nya pun kalo dilihat seperti pas-pasan.

Tapi setelah kita duduk, nyamannya luar biasa. Kaki malah bisa sedikit lebih selonjor, sama sekali ndhak nekuk banget. Headroom di jok belakang pada posisi duduk normal beneran lega banget.

Malah joknya lebih mem-bucket, sehingga badan kayak dipeluk, pas banget.

Koq bisa kalo dilihat atau difoto tampak sempit kabinnya?

Karena tatakan duduk(/hip)nya ternyata panjang, ujung joknya sampe mentok ke engsel dengkul. Bikin nyaman kalo perjalanan panjang. Karena paha ndhak kerasa menggantung gitu.

Sandaran punggungnya juga lebih tinggi. Headrest posisi mentok bawah aja pas di kepala. Plus jok dan sandarannya tebel banget. Jadi secara proporsional dia malah tampak sempit kabinnya: legroom-nya kayak sempit banget, headroom-nya kayak mepet banget, seat-nya kayak buntek gitu. Padahal aslinya lega banget.

Yach, pada saat barunya, keduanya memang mengusung pepatah kekinian: ada harga ada rupa.

Cuman pada saat sekennya, itu mobil yang kabinnya cuman tampak lega padahal aslinya sempit, depresiasi harga jual kembalinya malah rendah alias harga jual kembalinya masih lumayan tinggi dibanding harga barunya.

Karena mesinnya irit, salah satunya karena cc-nya yang kecil plus bodinya yang uentenggg banget. Sehingga mesin ndhak ngoyo untuk membuatnya melesat.

Sementara mobil yang seolah tampak sempit padahal aslinya lega banget depresiasi harga jual kembalinya ekstrim hancur jeblognya. Mungkin karena bensinnya boros, soale perlu mesin besar untuk menggotong bodinya yang berbobot (baca: berat banget).

Well, ternyata, masalah kondisi kabin (baca: kondisi keergonomisan tempat duduk/seat) adalah faktor yang tidak memveto harga jual kembali sebuah mobil menjadi bertahan. Kenyamanan berkendara ternyata tidak membuat depresiasi harga jual kembali bisa dicegah-tangkal dan ditahan kemerosotannya.

Yang diperlukan pasar pada kenyataannya adalah mobil yang irit, bukan yang nyaman. Mungkin karena fisik orang Indonesia kuat-kuat. Sehingga duduk dengan posisi “paha menggantung” pun enak-enak saja rasanya.

Kata orang, kenyamanan itu cuman masalah rasa dan bagaimana kita menerimanya.

Dan bagi saya: mobil ndhak nyaman bagi saya namanya ya tetep aja mobil ndhak nyaman. Bikin pinggang dan punggung mau patah rasanya. Ndhak ada istilah ndhak nyaman itu berubah jadi nyaman hanya karena persepsi (baca: stimulasi dan pengelabuan otak oleh hiburan dari diri sendiri).

Ini bukan karena kami tidak bersyukur. Ini cuman ngomong fakta. Ndhak bersyukur itu kalo saya ndhak mau dan menolak mentah-mentah naik mobil yang ndhak nyaman. Wong pada kenyataannya, dominan jam jalan saya juga di atas motor skutik 110cc atau mobil bersuspensi belakang leaf-spring koq!

Dan terakhir kalo kata orang kenyamanan itu mahal, bagi kami justru berbalik telak: kenyamanan ternyata malah itu murah meriah. Cuman separoh bahkan sepertiga bahkan seperempat harganya dari ketidaknyamanan. πŸ˜› πŸ˜€

Tidak penting apa merk dan tipe mobil yang saya uraikan di atas. Yang jelas itu semua ada di barisan kendaraan keluarga (besar) kami, dan kami udah menaiki semuanya pada perjalanan yang lumayan panjang yang cukup buat menemukan perbedaan (rasa) masing-masing. Kami hanya ingin mencoba menguraikan komparasi teknisnya secara deskriptif saja, bukan secara definitif.

Sekali lagi, ini tentang mobil (yang ada di keluarga) kami. Bukan ngomongin mobil Anda.

– FHW
punggung & pinggang vs bensin & perawatan.

PM FB BMW: Kisah Kebohongan Saya

Tahun 2009, si Badak Biru datang ke tengah-tengah kami. Ini mobil Eropa pertama yang keluarga kami punya.

Pengantin baru, saya sama istri pinginnya Volvo. Menikah 2005 silam, kami pun punya mimpi sebagaimana umumnya pasangan yang baru menikah: bisa segera punya rumah dan mobil. Saya ngobrol-ngobrol dengan istri, kami punya cita-cita: pingin miara Volvo dan sebuah Vespa 4 tak buat kendaraan resmi keluarga kecil kami.

Cuman sayang, pas udah pulkam eh nyaris saya ndhak pernah liat Volvo di jalanan kota kecil Kediri gini. Wah alamat ndhak ada temennya dong kalo pake mobil aneh begini? Mbengkelnya juga dimana, tauk juga niy… :O

Akhirnya keinginan punya Volvo kami pendam dulu sementara.

Kami butuh sedan, karena satu dan beberapa pertimbangan, termasuk pertimbangan produktivitas dan setelah sekian lama terbiasa wara-wiri dengan station-wagon Jepangan.

Sempat liat-liat harga Mercy, kami skip. Akhirnya BMW aja. Karena dengan spek dan kondisi yang sama, harga BMW bisa dibilang setengahnya Mercy. Dengan duit sesiap minang Mercy taruh kata, bisa dapet BMW dengan keluar duit setengahnya saja. Setengahnya lagi bisa buat bensin sekolam. πŸ˜›

Enam bulan lamanya saya belajar tentang BMW, mengerucut ke E34. Gimana spesifikasinya, di mana bengkel spesialis di kampung halaman sini, dimana beli spare-parts-nya. Niat jadi mantap usai menemukan info ada bengkel spesialis Eropa di kawasan Tulungagung.

Awalnya nyari 520i aja. Eh pas hunting, nemu 530i tangan pertama asli Jatim rawatan BMW senantiasa. Karena tergoda dengan nota rawatan yang segepok (kami simpan hingga hari ini), alhasil kami tebuslah ini badak tukang mabuk haus bensin.

Si Badak Biru datang ke tengah-tengah kami, mulai bingung gimana ya mengenali seluk beluk ini mobil? Sementara sekolah saya IPS, bukan IPA/teknik yang memang saya ndhak paham dunia mesin blasss.

Selain dateng ke bengkel spesialis di Tulungagung, alhasil saya musti bersosialisasi diri biar bisa nanyak-nanyak tentang ini mobil.

Jaman segitu masih era Friendster, belom ada Fesbuk. Thread kondang BMW Mania di Kaskus dan Modcom jadi ajang tujuan buat menggali wawasan.

Zonk, belom ada informasi spesial dan spesifik tentang E34.

Jadilah otak licik saya bekerja, saya bikin aja thread khusus tentang E34 di Modcom.

Rencana culas saya, biar pada master E34 mau turun gunung dan mencurahkan wawasannya di thread khusus.

Alhamdulillah berhasil. Cak Rizal dan Kang Vino, dua dari sekian nama besar pembela panji-panji E34 banyak memposting tentang seluk-beluk E34.

Cuman agak-agak apes di saya. Mungkin gegara saya yang bikin thread, saya dianggap paham banget E34. Banyak telpon ke saya tentang BMW.

Alamaaak…! Koq gini jadinya? Alih-alih saya mbuka thread buat memuaskan dahaga pertanyaan saya, malah saya yang dijadikan tujuan pertanyaan bagi teman-teman yang mencari jawaban.

Ya udah gpp-lah. Saya jawab sebisanya, itung-itung buat nambah teman. Toh pertanyaan yang pada ngubungi saya masih pertanyaan super dasar. Masih enteng lah saya njawabnya.

*mbetulkan kerah kemeja*

ERA Fesbuk kemudian hadir. Sosialisasi dengan para bimmerfan semakin meluas. Mulailah saya kenal dengan Lik Sugik. Jaman segitu fesbuk masih belom ada fitur group. Kami saling berkomunikasi dengan akun personal masing-masing.

Dan saya tambah kondang aja jadi tujuan pertanyaan bagi sesiapa yang menanyakan jawaban tentang BMW.

Alhamdulillah tuhan memberikan pertolongan kepada saya untuk menyelamatkan muka. Setiap ada pertanyaan dari rekan, yang sesungguhnya saya pasti ndhak tau dan ndhak sanggup membalas/menjawabnya, dengan YM/Yahoo Messenger -andalan kala itu mulai jaman kuliah pasca akrab dengan IRC- saya rutin ngontak bro Vino.

Bro Vino selalu sabar dan telaten menerangkan segala pertanyaan saya satu per satu. Baik pertanyaan saya sendiri, maupun pertanyaan teman-teman ke saya karena mereka sangka saya paham tentang BMW.

Lama-lama ramai di Fesbuk, 2011 dengan saya termasuk terlibat di dalamnya, teman-teman bikin komunitas offline BMCC dengan pusat di Madiun.

Fesbuk kemudian punya fitur group. BMCC membuka fesbuk groupnya.

Eh karena isinya dagelan semua, ndhak nyangka yang nimbrung dari seantero Indonesia. FB BMCC yang awalnya buat membahas internal BMCC, jadi seperti FB bimmerfan se-Indonesia.

Kami dari Kediri, Blitar, Madiun, dkk. akhirnya rapat dan memutuskan membuka saluran baru yang lebih terbuka untuk mewadahi silaturahmi para bimmerfan -penggemar BMW, baik yang udah miara maupun yang masih tahap tertarik-. Berhubung Kediri, Blitar, Madiun secara geokultur disebut Jatim Mataraman, maka cuman demi menegaskan asal-usul FB ini belaka tanpa bermaksud untuk membuat sekat dan batasan, kami membuka FB Group baru: Angkringan-online Bimmerfan Mataraman.

FB BMCC dari open kami ganti jadi close. Isinya buat membhasa sesuatu yang internal BMCC saja. Dan tetap melanjutkan tradisi penggunaan bahasa Jawa.

Sementara di Mataraman, meski namanya Mataraman, kami mewajibkan penggunaan bahasa Indonesia karena yang nimbrung emang beneran se-Indonesia.

Secara teknis, yang meng-create FB Mataraman emang melalui tangan saya. Tapi secara prinsip, ini adalah hasil keputusan bersama rapat rekan-rekan pas di Madiun, abis acara halal-bihalal. Rapatnya lesehan sambil ngopi di pinggir jalan. Dan secara faktual, teman-teman se-Indonesialah yang membesarkan Mataraman.

Turut memoderatori FB Mataraman, saya tambah kondang lagi. Telepon lumayan lebih sering berdering. Yang konsultasi tentang problem BMW-nya maupun yang minta petuah dan petunjuk mujarab kala mau minang BMW. Ini belom lagi via inbox ke FB.

Sampe istri saya mbecandain saya, “Kamu jadi konsultan BMW nih sekarang ceritanya? Berapa charge per jam?”

πŸ˜€

Namun semuanya selalu saya arahkan untuk posting dan bertanya terbuka di FB Mataraman.

Bukan karena apa. Kalo via japri (jalur pribadi), saya takutnya salah ngasih jawaban. Dan tentu tak ada yang ngoreksi. Kalo jawaban salah saya ini kemudian diikuti, ini artinya saya menjerumuskan teman.

Kalo via FB, kan yang mbaca banyak. Yang njawab juga bisa banyak. Yang berbagi pengalaman dari kejadian yang sama juga berpotensi banyak. Plus kalo ada yang salah ngasih jawaban, yang ngoreksi banyak.

Entah kenapa, saya udah berkali-kali bongkar PM (private message) yang saya pindahkan ke FB, eh masih aja ada yang PM. πŸ˜€

Seiring berjalannya waktu, saya bersama teman-teman Kedirian kemudian bergabung dengan BMWCCI. Jadi BMWCCI Kediri Chapter. BMCC tetap ada, namun jadi forum/komunitas kultural cangkrukan saja. Di Madiun, secara de-yure telah muncul pula BMWCCI Madiun Chapter.

Namun silaturahmi via Mataraman tetap terjaga dan semakin hangat, semakin meluas yang ikutan ngangkring di sana.

Mataraman, murni cuman sarana silaturahmi online. Karena itu salah besar jika Anda menganggap ini adalah klub atau komunitas. Secara offline, saya tergabung dengan BMWCCI Kediri Chapter, Blitarian Bimmer, atau BUCKS. Dan buanyak warga Mataraman yang secara offline tergabung dengan beragam klub/komunitas maupun yang sama sekali independen tanpa bergabung dengan klub/komunitas apapun.

***

DAN kini saya mulai bisa istirahat dari jibunan PM seperti era Modcom/pre-Fesbuk dulu.

Kalo dulu era Modcom saya selalu mem-forward pertanyaan temen-temen ke Bro Vino, kini guru saya bertambah. Ada Om Abi yang selalu jadi kiblat pencarian jawaban saya.

Jadi, kalo selama ini Anda menganggap saya adalah sumber referensi, baiklah sekarang saya buka saja kebohongan saya. Setiap ada pertanyaan tentang BMW, saya selalu banyak ke Bro Vino atau Om Abi.

So, jangan PM saya lagi sekarang. Silakan posting pertanyaan-pertanyaan rekan-rekan di Angkringan-online Bimmerfan Mataraman.

Kalo Anda beranggapan saya ngeh tentang BMW, itu adalah sebuah kebohongan yang tak patut Anda percayai.

– FHW
pembohong.

Foto nemu dari internet.

————————
Ref: Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://m.facebook.com/groups/323699264381705

BIMMER THE SERIES
(Bimmer The Series) Harga Pasaran BMW Bekas Pt. I
(Bimmer The Series) Harga Pasaran BMW Bekas Pt. II
Mobil Eropa Dijual Alakadarnya?

MEMILIH BMW – THE SERIES

Memilih BMW Pt. I
Memilih BMW Pt. II
Memilih BMW Pt. III
Memilih BMW Pt. IV
Memilih BMW Pt. V
Memilih BMW Pt. VI
Memilih BMW Pt. VII

Posting-posting BMW https://freemindcoffee.wordpress.com/category/kumis-hitler/

Audi A4(B5) vs BMW E36

Seorang rekan bertanya kepada saya, enak mana Audi (A4 B5) vs BMW (E36)? Begini sedikit perbedaannya.

Penggerak

Untuk versi 2WD, Audi berpenggerak FWD, BMW RWD. Ini perbedaan paling krusial. Dari satu perbedaan ini aja, semua faktor lainnya bisa diabaikan.

Dari sini sudah jelas kelihatan: Audi emang enak-enak aja, tapi BMW juauh lebih fun!!!

Mesin

Masing-masing punya versi mesin kecil (4 silinder) yang irit dan murah parts-nya (untuk ukuran Eropa) dan mesin 6 silinder yang boros bensinnya dan mahal parts-nya.

Mesin 6 silinder BMW terkenal presisi pemasangannya. Maklum, 6 biji piston berbaris lurus itu jadinya panjang banget. Secara teori, ia lebih panjang dua piston ketimbang mesin V8 yang sederhananya adalah mesin 4 piston bercabang dua ngiri-nganan. Maklum, mesin 8 silinder kalo dibikin lurus, entah kayak gimana panjangnya.

Jarak kipas radiator mesin i6 BMW (viscofan) dengan shroud dan selang-selang kecil di depannya bahkan tak bisa dilewati jari tangan ukuran besar. Kalo engine mounting mesin BMW udah ambles, mesin jadi turun posisinya dan kipas ini bisa ngantem shroud. Ada beberapa kasus demikian ini: kipas ngantem shroud karena engine mounting udah ambles dan dibiarkan aja ama pemiliknya.

Namun bagusnya mesin 6 silinder BMW berkonfigurasi inline (segaris) ini, ruang kiri kanan mesin BMW ini masih lega. Bisa buat merogoh beragam parts yang mau dicek atau dibetulkan.

Di bagian depan ruang mesin BMW juga ada rangka/frame-nya. Meski fungsinya kayaknya lebih buat mounting/tatakan/dudukan beragam parts yang ada (radiator, kondensor, dll.), setidaknya rancangan ini membuat montir kalo mau ngelepas macem-macem parts tak selalu harus melepas parts lain yang ndhak berkaitan.

Mau nurunkan mesin BMW misalnya, atau mau nyopot motor starter, alternator, dll.; radiator sama kondensor bisa tetep anteng aja di tempatnya.

Di Audi, mesin 6 silindernya dibikin dengan konfigurasi V (V-configuration), jadinya V6 di sini.

Apa masalahnya dengan V6?

Normalnya sih sama sekali tidak ada. Mesin V6 justu diciptakan untuk meringkas besaran si mesin. Bayangkan, secara teori mesin V6 adalah mesin 3 silinder yang berpisah ngiri-nganan. Dan karena bersudut V, bukan boxer yang mendatar ngiri-nganan, maka mesin ini jadinya kompak banget. Bisa menghemat penggunaan ruang mesin karena cuman makan sedikit banget space.

Nyaris semua pabrikan mobil yang menggunakan mesin 6 silinder saat ini pasti menggunakan konfigurasi V alias V6. Baik untuk posisi longitudinal (membujur) dan berpenggerak roda belakang; maupun yang dipasang transversal (melintang) dan berpenggerak roda depan.

Cuman BMW dan mungkin sedikit pabrikan lain aja yang tetep ngeyel pake inline 6 demi mempertahankan stabilitasnya.

Di sini masalahnya: Audi ini mesinnya longitudinal tapi default 2WD-nya FWD. Nah!

Jadinya, mesin Audi didorong maju ke depan, muepettt sama batas depan mobil, biar gearbox-nya tepat berada di atas sumbu roda dan langsung menyalurkan batang penggerak (drive-shaft)-nya ke kiri dan kanan langsung ke roda.

Saking mepetnya penataan peletakan ini, bahkan Audi sampe merancang throttle-body (katup hisap)nya di bagian belakang mesin, bukan di depan kayak umumnya.

Sebenarnya rancangan mesin Audi yang longitudinal dengan gearbox berada di atas sumbu roda ini tampaknya dioptimalkan buat quattro/AWD-nya. Dengan demikian, batang penggerak bisa keluar dari gearbox tanpa sambungan tambahan.

Di AWD BMW, untuk menggerakkan roda depan perlu batang penggerak tambahan yang kayak roda belakang. Dari gearbox ada batang ke arah depan, kemudian dicabang lagi ke kiri dan ke kanan.

AWD pada Audi. Perhatikan gearbox Audi berada di atas sumbu roda depan dan mesin terletak di depannya.

AWD pada mesin transversal.

AWD pada BMW. Perhatikan mesin BMW terletak di atas sumbu roda depan dan gearbox di belakangnya.

Bongkar Pasang

Buat melepas sebuah part, di Audi sangat wajar jika harus membongkar panel depan dan banyak melepas parts lain. Di BMW, pipa-pipa/selang-selang AC teramat gampang untuk diraih. Di Audi, montir harus membuka satu paket panel depan (bumper dicopot, radiator/kondensor dikendorkan. Bagusnya dilepas. ~> Buang air radiator, buang freon AC. 😦 Hiks…) hanya untuk melepas pipa AC, alternator, motor starter, atau sekedar mengganti timing belt dan thermostat, dll.

Di mobil normal, mengganti timing-belt buat mobil yang pakai timing-belt, normalnya ya cuman cukup membuka kover timing-belt-nya saja. Kalo timing-chain kan beda lagi. Karena rancangan penggunaannya puanjanggg dan dia harus kena oli, maka dia ikut tersembunyi menjadi bagian dari jeroan mesin.

Mengganti thermostat di BMW pun ya cukup buka housing-nya aja. langsung ganti. Isi kembali air radiator, kelar urusan. Di Audi, sekali lagi, seluruh panel depan musti dibuka: bumper dicopot, radiator/kondensor dikendorkan. Bagusnya dilepas. ~> Buang air radiator, buang freon AC. 😦

Sadar akan rancangannya sendiri ini, di bagian depan bodi Audi tak ada frame-nya. Radiator & kondensor menempel pada rangka di kiri-kanannya. Bukan atas-bawahnya.

Jadi kalo radiator, kondensor, dan mesin Audi dilepas, maka bagian depannya langsung ompong.

Jalur AC

AC BMW pun banyakan selangnya. Sementara di Audi banyakan pipanya. Soale jalur AC Audi musti belok-belok nekuk-nekuk mengikuti sempitnya ruang yang ada. Ndhak bisa kalo pake selang. Alhasil, kalo mau ngganti, jelas keliatan perbedaan ekstrim biayanya.

Selang AC sekaligus nge-klem sambunganya bisa dan gampang diperoleh di tukang AC plus relatif murah biayanya. Pipa AC Audi musti beli. Moncong sambungannya khusus, ndhak umum. Super susah (baca: ndhak bisa) dibikinkan di tukang bubut. 😦

Berbeda dengan Volvo yang overhang depannya agak panjang mungkin karena alasan safety, overhang depan Audi lumayan panjang sepertinya cuman buat mengakomodasi kebutuhan peletakan mesin membujur (yang normalnya untuk penggerak roda belakang) ini namun untuk kebutuhan menggerakkan roda depan.

Pola penataan letak mesin ini juga yang saya pribadi curiga membuat Audi tidak bisa menambahkan ekstra fan AC di depan kondensor. Karena ini artinya akan menambah ketebalan bagian depan.

Overheat

Ekstra fan akhirnya diletakkan sejajar dengan visco-fan. Visco-fan Audi sendiri ukurannya kecil banget, seperti cuman mengipasi separuh bagian radiator yang besar -sama kayak radiatornya BMW- itu saja. So bisa jadi inilah kenapa Audi di sini terkenal gampang overheat.

Overheat, pas muacettt luamaaa gitu sudah jadi omongan publik di kalangan kaum Audi di sini. Beruntung karena mesin V6-nya masih jadul: bloknya masih berbahan besi dan klepnya aja cuman dua biji per silinder, maka begitu dingin mesinnya langsung waras dengan sendirinya.

Di BMW yang udah pake bahan alumunium, overheat ini selaksa jadi hantu menakutkan di kemacetan.

Pola Konstruksi

Begini, BMW sejauh ini keukeuh mempertahankan prinsip pembagian berat (weight distribution) dengan keberimbangan 50:50.

Konsekuensi dari prinsip di atas, jadinya mesin dipasang sejauh mungkin dari sisi depan mobil. Alhasil mesin BMW begitu mepet dengan firewall (dinding pemisah antara kabin dan kompartemen mesin) dan gearbox-nya berada di bawah kabin.

Plus posisi sumbu roda depan dimajukan. Jadinya moncong BMW (pun Mercy yg RWD) keliatan kayak panjang banget dan wheelbase (jarak sumbu roda)nya juga jadi keliatan panjang banget. Padahal kayaknya ini ya karena posisi sumbu roda depan dimajukan itu tadi.

Di BMW, konsole tengah selalu sangat lebar, jauh lebih lebar dari rata-rata mobil. Ini memang menimbulkan bonus tak sengaja: jadi ada “meja makan” diantara dua jok depan. Namun minusnya, ruang gerak kaki penumpang depan jadi terbatas.

Memang tidak sempit sih. Juauh lebih sempit ruang kakinya Ertiga yang sangat populer hingga sempat mengalahkan dominasi Seniyapansa itu. Tapi dibanding mobil sekelas lainnya, taruh kata Mercy Klasse-C atau Audi A4, ruang kaki BMW tak selebar mereka.

Berhubung, meskipun sempit untuk ukuran Eropa namun ruang kaki ini sama sekali tak mengekakng kaki, maka kondisi ini bisa diabaikan. Dengan kata lain, secara umum dan normal tak ada sempit-sempitnya di ruang kaki penumpang depan BMW.

Tapi yang paling kerasa bedanya dari pola konstruksi ini adalah driving-feel-nya. Dengan pembagian berat 50:50 dan berpenggerak roda belakang, nyetir BMW itu menimbulkan sensasi dan kepuasan yang serasa tak tertandingi.

Sementara Audi, udah penggeraknya roda depan, tanpa LSD, mesinnya melesak jauh ke depan lagi, membuat understeer-nya jadi kelewatan banget.

Maka Audi ini cuman cocok buat yang jalannya lempeng-lempeng aja. Dan tenaga mesinnya cuman buat nyalip (overtake) sama menaklukkan medan menanjak.

Kabin

Space kabin BMW vs Audi kami rasa sama saja. Terkecuali beda “ruang nafas” kaki depan itu tadi.

Namun BMW E36 malah kami nilai jauh lebih bagus ketimbang Audi. Pasalnya, sandaran jok belakang E36 berkemiringan lebih rebah ketimbang jok belakang Audi.

Mungkin karena Audi berpenggerak roda depan, yang mana umumnya overhang belakang harus dikurangi panjangnya agar mobil ndhak ngos-ngosan, maka bagasi Audi jadi lebih buntek ketimbang bagasi E36.

Barangkali untuk menambah space bagasi belakang inilah akhirnya jok belakang Audi dibikin jadi agak lebih tegak.

Tapi berhubung ini mobil kompak, yang pengertiannya hanya untuk transporting jarak dekat atau membawa penumpang anak-anak di jok belakang, maka kemiringan jok ini mustinya diabaikan.

Karena semiring-miringnya jok belakang, jika tak diimbangi dengan legroom panjang yang membuat kaki bisa semakin selonjor, artinya sama aja. Malah aneh kalo punggung bersandar lebih rebah sementara dengkul tetep ditekuk rapat karena legroom sempit.

Di BMW E60 pun konon sandaran kursi belakang lebih tegak ketimbang Camry. Namanya juga kategori sport dan cuman midsize sedan, masih wajar kalo jok belakang dirancang bukan buat overnight diriving penumpang belakang dewasa.

Bila ditinjau secara pasar, maka Serie 3 mestinya pengertiannya semacam: dikemudikan sendirian buat ngantor, pergi untuk ketemu teman dan hang-out, atau nganter anak sekolah.

Sementara Serie 5 buat nyetir ngantor sendirian, pergi bersama teman untuk hang-out, atau di belakang isinya juragan perempuan yang duduknya dengan kedua kaki miring ke satu sisi sehingga jadinya bisa lumayan selonjor untuk ukuran perempuan.

Atau sekedar trip liburan membawa barang ringan keluarga, katakanlah pakaian dalam kopor, yang jaraknya pendek/sekian jam perjalanan atau hanya untuk dibawa ke bandara.

Meski kenyataan di lapangan berbalik semuanya. Serie 3 dan 5 bisa dipakai overnight thousands miles driving sekeluarga.

Namun setegak-tegaknya sandaran punggung jok belakang Seri 5 atau Serie 3 atau bahkan itu Audi, tetep aja dia tak setegak SUV yang memang dirancang lebih tegak dari sedan karena alasan kebutuhan/penggunaan. Penumpang SUV diasumsikan melewati jalan yang bouncing dan dumping sehingga harus duduk lebih tegak biar siap sedia menghadapi segala cobaan yang datang.

Meski juga tegaknya jok SUV ini tetap aman jaya jika dibanding macam jok kereta api ekonomi yang tegaknya itu bukan lagi tegak dalam pengertian jok mobil, melainkan emang tegak 90 derajat! Alamaaak…

Baru di Serie 7, Klasse S, A8, dan sekelasnyalah rebahnya jok belakang -bahkan bisa disetel kemiringannya- jadi kerasa banget, soale ruang kaki sampe cukup dibuat selonjor. Tapi bawa Serie 7 parkir di mall yang ada di Kediri tenyata amsyong tralala. Cuman bisa parkir di VIP depan lobby Hipermart Kediri. Di Transmart juga ndhak bisa parkir. 😦

Tapi biar gimana, meski dengkul Audi A4 dan E36 sama-sama ngepasnya, berhubung sandaran punggung jok E36 lebih rebah, kami tetap memberi nilai plus di sini. Lumayan, yang punya si kecil bisa duduk lebih nyaman di E36 ketimbang di Audi.

Dan gara-gara gearbox Audi ada di atas sumbu roda pas, jauh di depan firewall, maka konsol tengah di antara dua jok Audi jadinya kecil banget. Karena ya cuman buat tempat tuas transmisi aja. Nyaris sama sekali tak bisa diletaki apa-apa. Meskipun di E36 kondisinya sama juga. Konsol tengahnya yang lebih lebar ketimbang Audi, habis buat dijejali tombol power-window. Jadinya sama useless-nya.

Di BMW E34, saya biasa meletakkan empat air mineral gelas atau jus kotakan berjejer di depan tuas transmisi, berjejer dari kiri ke kanan. Kami menyebut “lapangan kecil” ini: meja makan.

Satu perbedaan lagi, kursi belakang Audi bisa dilipat rebah dengan konfigurasi 40:60 -jok kiri bisa rebah sendiri, jok kanan rebah bersama sandaran tengah- membuat ruang bagasi dan kabin menyatu. Cocok buat membawa barang yang panjangnya melebihi space bagasi. Di BMW fitur ini tak tersedia. Mungkin kata BMW, “Sedan buat bawa orang koq dikasih gituan, buat apa?”

πŸ˜€

Dan memang jika Anda menjejali bagasi Audi dengan audio, fitur ini jadi ilang fungsinya.

Built

Material Eksterior E36 dan A4 B5 sama nilai imbang. Material interiornya juga mirip. Malah kulit jok Audi cenderung lebih tipis kayaknya ketimbang E36. Kalo di E46 kan kulit joknya tebel dan kokoh banget tuh, bisa duduk sekasarnya tak perlu terlalu berhati-hati tanpa khawatir jok gampang rusak.

Audi menangnya datang dengan opsi komplit aja siy, khususnya di versi V6. Wood-panelnya cantik ciamik berganda. Di E36 ini cuman ada di Versi limited. Itupun sama sekali tak secantik Audi.

Sementara untuk fungsional lain macam fitur-fitur, bisa dibilang imbang semuanya. Instrumen-clusternya isinya ya itu-itu saja, kembar-kembar aja. Cuman beda tata letak dan dimensinya aja.

Style

Membandingkan desain bodi mobil adalah selera dan sangat relatif. Paling kita cuman bisa menilainya dari kesesuaian elemen desain, keharmonisan gurat desain, atau sense keelokan garis desain. Hasil akhirnya adalah cita rasa nuansa desainnya: futuristik, cantik, ganteng, macho, feminim, urban style, clasic modern, legant, sporty, dll. dst.

Sama-sama dari Eropa dan satu kampung federasi, baik Audi dan BMW sama-sama mengusung ciri khas desain masing-masing. BMW tentunya dengan kidney grille, hoftmeister kink, garis bodi samping, atau layered dashboard. Audi dengan pola desain simpel-nya, bodi membulat agak menggembung, serta kaca kecil di belakang pintu belakang, dll. dst. Kalo dalam bahasa desain VW, mereka punya kebijakan desain yang: timeless.

Masing-masing menimbulkan kesan yang khas. BMW tampak ganteng, sporty, mendominasi, dan sedikit norak dengan banyaknya guratan bodi. Audi tampak manis, simpel, timeless, dan oleh karena itu desainya seperti biasa aja seolah tanpa ada inovasi.

Perbedaan kecil lain misalnya: lampu kabut BMW dipasang di bagian bawah bumper, punya Audi menyatu dengan lampu utama.

Lainnya itu yang ada malah beragam kesamaan. Bukaan kap mesinnya sama-sama ke belakang dan ditopang pakai shock. Cuman punya BMW ada duakecil di kiri dan kanan, punya Audi cuman satu besar. Sama-sama lemah sebiji shock-nya, kap sama-sama ambleg lagi.

Persaman lain adalah pintunya yang bisa diuka sampai 90 derajat, begitu memudahkan penumpang keluar kabin plus tampak bossy gitu. πŸ˜€ Dan tetap ada pemberhentian 45 derajatnya.

Baik di BMW maupun Audi, ada mekanisme anti jepit pada power window-nya. Kaca akan otomatis balik ke bawah jika ada yang menahan pergerakannya ke atas.

Satu keunggulan Audi di sini adalah nutup pintunya: ringan banget, cuman perlu tenaga setengah bahkan kurang dari tenanga untuk menutup pintu BMW, namun pintunya tetap menutup dengan “Jlebbb!” mantep khas mobil berplat tebal.

Dan entah bagimana rancangan konstruksinya, pintu Audi jika dibuka kurang dari pemberhentian-nya, pintu ini dirancang untuk menarik diri hendak menutup.

Satu perbedaan lagi, kursi belakang Audi bisa dilipat rebah dengan konfigurasi 40:60 -jok kiri bisa rebah sendiri, jok kanan rebah bersama sandaran tengah- membuat ruang bagasi dan kabin menyatu. Cocok buat membawa barang yang panjangnya melebihi space bagasi. Di BMW fitur ini tak tersedia. Mungkin kata BMW, “Sedan buat bawa orang koq dikasih gituan, buat apa?”

πŸ˜€

Dan memang jika Anda menjejali bagasi Audi dengan audio, fitur ini jadi ilang fungsinya.

Kesimpulan

Di E36 malah melimpah versi transmisi manual, cocok buat penyuka olah raga jalan raya, sementara Audi menang di fitur tiptronic tanpa ada opsi manual di sini.

Harga parts Audi rata-rata 25% lebih mahal ketimbang BMW. Namun harga pasaran sekenan Audi tua bisa dibilang rata-rata cuman separohnya lebih dikit ndhak banyak dari BMW.

So, umpama penggeraknya sama-sama belakang atau sama-sama depan, dengan kondisi bodi dan interior yang ada, saya bakalan langsung milih Audi ketimbang BMW. Meskipun mesin Audi begitu rumit untuk dibongkar pasang.

Berhubung Audi lahir dengan 2WD berpengerak roda depan sementara BMW belakang, maka kami tetap jauh meletakkan E36 lebih unggul ketimbang Audi.

***

Trus ngapain kami miara Audi, mobil yang ndhak punya keunggulan khusus ini?

Seru aja! Melihat kerumitan mesin, parts yang tak selalu tersedia dan kadang harus order via ebay, tak banyak orang/penguna/user paham ini mobil apa, serta tak banyak montir yang mau alias males nangani ini mobil tuh merupakan keasyikan tersendiri.

Membuat BMW yang kata orang parts-nya mahal + perawatannya susah + dijual kembali jeblok (dan kenyatannya emang gitu) itu malah jadi mobil yang terlihat mudah untuk dirawat dan diperbaiki di mata kami.

Membuat pola pandang ini jadi lebih luas.

– FHW FWD RWD

Berhubung udah banyak gambar E36, kali ini saya pingin masang gambar-gambarnya Audi A4 B5 aja. πŸ˜€