#JanganBeliBiem #JanganBeliBMW

Ada sebuah komeng di sebuah trit: biem dengan usia belasan bahkan puluhan taon, apa yg bisa diharapkan (untuk daily usage)?

Yup, sama sekali ndhak ada, jika kita berparadigma memperlakukannya kayak mobil baru -se-“murah” apapun itu mobil baru- yg tinggal isi bensin ganti oli dan bejek gas. Plus masih ada garansi dari pabrikan.

Mobil baru -se”murah” apapun itu- yg kayak gini: tinggal isi bensin dan ganti oli doang inilah yg paling cocok buat daily usage.

Lalu buat apa biem itu? Beberapa rekan mengatakan itu cuman buat hobi saja. Mobil yg disayang-sayang, karena meskipun rasanya masih enak – jauh lebih enak ketimbang mobil baru yg harga perolehannya sama, dia tetep kurang cocok karena umurnya yg udah tua. Potensi terjadinya unexpected-trouble masih terpampang di depan mata.

Well, fix di situkah?

Ternyata belom tentu juga. Saya mendapati beberapa rekan menggunakan biemnya untuk penggunaan harian. Buat ngantor saban hari, khususnya musim penghujan gini. Atau buat wira-wiri ke mana-mana urusan kerjaan. Normal-normal aja. Nothing scary happen. Ndhak ada kejadian horror yg terjadi.

Mungkin selain beruntung, atau juga emang perawatannya boleh gitu, bisa jadi karena paradigmanya beda.

BEGINI, kata seorang temen, dengan duit yg sama kita bisa “menciptakan garansi” sendiri. Sederhana kata, paradigma harga beli biem yg selama ini ada dan tertancap di persepsi kita dan persepsi banyak orang musti diubah.

Kalo selama ini kita mungkin berpikiran harga beli atau harga perolehan adalah harga saat kita membeli itu si mobil (bekas), dan kemudian ada biaya TAMBAHAN berupa perbaikan-perbaikan, entah ringan atau berat, seusai kita ngangkat si mobil;

maka selanjutnya kita musti mengubah persepsi tersebut menjadi: harga beli atau harga perolehan adalah harga ngangkat si mobil plus biaya restorasinya. Bukan lagi perbaikan-perbaikan, melainkan restorasi.

Atau biar lebih mengerucut, kata restorasi ini kita ganti aja dengan rejuvenasi alias penyegaran semua komponen yg diperlukan untuk disegarkan. Kalo restorasi, kesannya kayak membangun ulang semua mobil menjadi seolah baru lagi. 😀

Maka, rejuvenasi ini akan lebih kompleks, luas, dan banyak skupnya ketimbang perbaikan-perbaikan yg sifatnya reaktif. Alias yg rusak aja yg diperbaiki.

Rejuvenasi akan bersifat preventif. Dengan kata lain, meskipun ndhak rusak, kita juga perlu mengganti apa yg mesti disegarkan.

Contoh: kalo perbaikan-perbaikan, maka parts kaki-kaki yg udah sowak dan oblak aja mungkin yg kita ganti. Kalo rejuvenasi, maka semua komponen kaki-kaki musti kita ganti.

Kalo perbaikan, maka water pump yg oblak aja yg kita ganti. Tapi kalo rejuvenasi, seluruh cooling-system akan kita ganti. Dengan begitu, kita bisa meminimalisasi terjadi unexpected error alias “menciptakan garansi” sendiri.

Banyak duitnya dong?

Jelas!

Namanya juga rejuvenasi. Namanya juga preventif. Namanya juga menciptakan garansi sendiri.

So, ndhak bisa lagi sebuah biem (seken) kita tebus dengan harga ngangkat mapuluh juta kemudian perbaikan-perbaikan awal lima atau mabelas juta. Sebuah biem yg kita angkat mapuluh juta, bisa jadi ntar biaya rejuvenasinya mapuluh juta juga.

Sadis?

Pasti! Tapi itulah harga yg kmusti kita bayar buat menciptakan garansi sendiri.

Lantas dengan biaya dan proses sebegitunya, kita bener-bener mendapatkan garansi sebagaimana kita beli mobil baru?

Kalo dilihat secara matematis dan probabilitas statistik, mungkin tetap tidak. Sebab bisa jadi meski kita udah ganti wiring-set, ada soket yg kelewatan ngepong sehingga memutus arus dan membuat si biem berhenti mendadak di tengah jalan. Namun secara realistis, kejadian macam ini jarang saya dengar berita dan kejadiannya.

Kalo ada berita biem kawan-kawan trouble di perjalanan, setelah kita audit, biasanya terjadi karena kurang perawatan. Dan saya tau bener contoh biem yg direstorasi, kemudian dirawat dengan skedul perawatan yg semestinya (ingat teori 10rb km: Oil ChangeInspection IInspection II, cek pdf-nya di sini) ternyata ya bertahun-tahun dipakai ya aman-aman saja. Kalo toh ke bengkel, kalo ndhak perawtaan rutin sebagaimana skedul tersebut, palingan ya upgrade-upgrade apa gitu.

DAN ini semua kembali ke masalah mental. Dengan duit 100jt, kita siap ndhak merejuvenasi sebuah biem tua dan menikmati segala kelebihannya: kencang, nyaman, stabil, di punggung ndhak sakit, dan mungkin aja sih mungkin semacam bergengsi geitu;

atau kita nebus aja LCGC misalnya yg maaf guyonannya kena hembpasan angin aja udah geyal-geyol dan dijalankan di “jalanan Indonesia pada umumnya” rasanya kayak ngepruk punggung namun irit banget dan dapet garansi pabrikan.

Saya tidak mengatakan mana yg lebih baik., Ini adalah pilihan. Sebab di keluarga besar kami, ada koq:

  • mobil “pasaran” baru: ada yg sedan 1500cc VVTi, ada yg LMPV 7 seater 1400cc, ada yg MPV 7 seater 2000cc. Ketiganya beli gress, dan dibeli dengan alasan sendiri-sendiri, terutama sih karena kapasitas angkut orangnya itu 😀 Hehehehe;
  • ada mobil lawas sejuta umat pada kalanya: Kijang Grand Extra;
  • ada SUV berbasis pikap: Ford “X-verets” Everest;
  • dan mobil premium lawas: ada yg V8 dan kami beli dengan kondisi super well maintained meski sekarang udah remuk dan ada V6 yg terejuvenasi (biem ndhak punya V6);

sehingga sedikit-banyak saya berani berkata bahwa saya memahami tabiat dan karakter masing-masing.

Dan pilihan saya pribadi: tetep juauh lebih enak bawa mobil premium lawas yg terejuvenasi/well maintained. Ulang-alik Kediri-Jakarta Jakarta-
Kediri berkali-kali PP alhamdulillah ndhak ada trouble. Dan badan rasanya enaaak banget. Bensinnya? Yg MPV 7 seater 2000cc kayaknya ndhak lebih irit ketimbang itu V8 3000cc atau V6 2600cc dengan bobot sama atau malah juauh lebih berattt.

Kalo pake mobil (sedan) 1500cc VVTi gress yg super irit, emak saya bawaannya menggenggam erat handle/pegangan tangan atas terus-terusan tatkala saya mbejek gas, melanggar sedikit di atas batas kecepatan atas jalan tol. 😀 (Jangan ditiru. Karena saya tau kelakuan Anda biasanya melanggar banyak dari batas atas kecepatan jalan tol. Maka niru saya artinya downgrade tho? 😛 😛 😛 Hahahaha!)

Sementara pake mobil premium lawas, emak saya ndhak percaya kalo beberapa puluh meter sebelumnya kami barusan mengalami pecah ban saat saya jalan santai 140kmh, setelah sebelumnya menghajar lobang aspal. Ini kejadian faktual. Emak saya yg ndhak ngerti mobil, sering saya jadikan parameter rasa sebuah mobil.

Kemudian istri saya yg saya ajak naik sebuah LMPV tiga baris 7 seater (katanya, tapi sempitnya minta ampun) gresss keluar dealer, malah sambat dan lebih demen naik biem tuwa 4 silinder umur 30 taon punya temen.

Ya itu, asal direjuvenasi dan dirawat dengan bener, kekhawatiran terjadinya unexpected trouble/error bisa diminimalisisasi.

Dan saya khawatirnya, garansi pabrikan terhadap mobil baru itu, sebagaimana kata mereka: limited warranty alias garansi terbatas, jangan-jangan lebih menyentuh aspek psikologis kita ketimbang aspek teknis. Nyatanya, mobil gress yg bergaransi tetep ndhak dapat pertanggungan apa-apa kala velg peyang dan ban hamil gara-gara menghajar lobang aspal.

Ingat, garansi pabrikan itu kalo kita cermati lebih kepada garansi karena kerusakan produksi, bukan kerusakan pemakaian lho! 😀 Artinya, kalo lolos dari kerusakan produksi, secara faktual garansi itu sebenarnya seperti ndhak pernah terjadi.

Dan di jalanan pun, mobil anyar yg minggir dan buka kap mesin dengan asep mengepul dari ruang mesinnya ada aja koq kejadiannya. Tapi ini bukan berita menarik untuk diviralkan. Akan jauh menggugah dan mengundang esmosi pembaca jika yg diviralkan adalah sebuah biem tua yg mogok, atau kecelakaan, atau kebakaran, atau segala bentuk celaka lainnya.

Bagi hater biem, maka ini akan menjadi makanan empuk: mobil mewah koq celaka. Bagi fansboy biem, ini akan menjadi bahan pertahanan reaktif: itu karena kurang perawatan, salah perawatan, dll dll dll.

Mobil itu sebuah mobil. Alat transportasi. Eh ternyata bisa membuat kubu-kubuan dan membawa aspek psikologis juga. Hadew…

Akan tetapi, kenyamanan, keantengan, stabilitas, dll itu rasanya bukanlah aspek psikologis, Itu semua bisa diukur mustinya. Dengan seismograf, alat pengukur benturan, dll dll misalnya. Saya ndhak paham metode teknikalnya. Tapi saya meyakini demikian adanya.

Dan kejadian barusan; saya akhir-akhir ini gantian mbawa X-verest, nama buat Ford Everest kami. Setelah dulu biasanya keseharian mbawa Kijang Grand Extra yg barangnya masih ada dan tersimpan di garasi, sekali-sekali dipakai dan dipanasi. Mbawa kedua jenis mobil ini, kalo ada polisi tidur wajib ngerem. Kalo ndhak, badan bisa kelempar dan kepala mentok plafon.

Mendadak saya dijemput temen bawa biemnya. Sebuah Seri 3 berusia 20 taon. Eh pas melewati poldur deket rumah yg langganan saya lewati, doi ndhak ngeliat dan lupa ngerem tentunya. Pada kecepatan ala dalam kompleks perumahan sih!

Tapi tetep saja saya refleks berteriak dan tangan mendadak menggenggam handle/pegangan atas buat siap-siap kelempar.

Eh ndhak terjadi apa-apa. Cuman jendhul-jendhul enak gitu. Kalo mbawa X-verest atau Kijang, bukannya jendhul-jendhul enak tapi pasti juendhulll glodhakkk!!!

***

SEMUA kendaraan yg kami ceritakan di sini adalah ada di keluarga besar di rumah. Bukan ngomongin kendaraannya orang lain. Kecuali itu Seri 3 punya temen atau kendaraan yg saya deskripsikan lain.

Jadi pilih mana?

Kalo paradigma Anda ngangkat biem tua adalah sebagaimana ngangkat Kijang tua, yg harga perolehannya adalah = harga beli sementara biaya perbaikan adalah biaya TAMBAHAN, saya sangat menyarankan jangan pernah sekali-sekali beli biem. #JanganBeliBiem #JanganBelBMW

Tapi kalo Anda bisa menyadari dan bisa mengatur budget untuk ngangkat+rejuvenasi sebagai harga beli/harga perolehan, maka silakan bicarakan lebih intensif dengan keluarga apakah tetap ngangkat LCGC misalnya atau biem tua terejuvenasi tsb.

Tapi ingat: jangan sampai salah milih bengkel biem. Silakan konsultasikan metode perawatannya dan ke mana arah perginya dengan rekan-rekan di angkringan-online ini.

Dan serejuvenasi-rejuvenasinya biem tua, kalo bisa jangan sampe salah milih bahan. Bukannya rejuvenasi, khawatirnya yg ada malah dapet bahan yg sewderhana katanya unrepairable. Misal: liner silinder udah baret dan krowak. Dll.

Semua tetep bisa diperbaiki atau diganti baru. Tapi takutnya bukan lagi rejuvenasi dan Anda tinggal ganti oli + isi bensin + bejek gas ke depannya tapi malah over budget dan biem cuman pindah bengkel tanpa sempat kita pakai dengan puas. Inilah yg saya istilahkan secara kontekstual unrepairable. Oleh karena itu ajaklah mekanik yg terpercaya untuk hunting bahan.

NGERI? Syerem? Menakutkan? Bikin ragu?

Yawdah, dengan budget yg sama belilah LCGC saja. Atau belilah mobil seken lain yg bisa jalan tanpa harus rejuvenasi-rejuvenasian. Selesai persoalan. Anda akan bebas dari kekhawatiran psikologis ke depannya. 😀

Sebab beli biem itu emang ndhak cukup kalo punya uang saja. Yg pertama diperlukan adalah: niat, niat, dan niat.

Semua ini hanyalah opini berdasarkan pengalaman pribadi saya. Silakan bagi pengalaman Anda juga yg mungkin berbeda dan berkebalikan dengan ini semua. Biar bisa cover both side story alias tabayyun.

Matur nuwun.

– Freema Bapakne Rahman
Bimmer enthusiast with great passion.

Remember, we talk about passion, not about money. Inget!!!

Advertisements

Bengkel Khusus Kaki-Kaki

Untuk menyiasati masalah (khusus) kaki-kaki, kalo kita blank sama sekali, pasrahkan aja ke bengkel spesialis kaki-kaki; yg kalo di Jakarta macam Jantra atau Lili.

Saya sih lebih suka ke Lili. Ndhak tau kenapa. Kayaknya siy ongkos kerjanya sedikit lebih murah ketimbang Jantra, tapi saya ndhak pernah membandingkan langsung, cuman perasaan aja 😀 Cuman ndhak tau aja, saya koq lebih sreg ke Lili sejauh ini. Hasil kerjanya: Audi kami yg udah 5 tahun di tangan, dua kali kami pasrahkan ke Lili.

Yg pertama ganti total kaki-kaki. Yg kedua repair sepasang shock dan sebiji bushing doang, yg jebol karena kejedhog parah di Pantura.

Dulu pertama kali ngangkat juga kami rekondisikan total kaki-kaki. Dikerjakan oleh mekanik di pusat onderdil, parts belanja sendiri. Jatuhnya rasanya sama aja siy dengan masrahkan ke bengkel spesialis kaki-kaki. Cuman kalo macam di Jantra atau Lili, mereka ngasih garansi setahun. Kalo beli parts sendiri dan dikerjakan oleh mekanik spesialis kaki-kaki, ndhak ada gransinya. Entah kepake atau ndhak itu garansi, at least bikin ati ayem aja siy…

Lili ada di Haji Nawi atau BSD. Kalo Jantra malah ada di beberapa kota di seantero Jawa. Di kota kecil Kediri sini Jantra juga ada. Tapi rasanya bukan karena pasarnya, melainkan karena empunya Jantra berasal dari Kediri sini, tepatnya Tunglur/Badas, Pare.

Se-blank apapun kita ama kaki-kaki, mereka -baik Jantra maupun Lili- 99,999999% fair ngasih advisnya & ngerjakannya, pun ongkosannya. Kalo toh kerasanya mahal, karena memang habisnya ya segitu.

Maklum, kadang menyelesaikan masalah di kaki-kaki itu musti komprehensif. Maksudnya, pada case tertentu, parts yg kondisinya 50% bahkan masih 70% pun wajib diganti ketika parts pasangannya udah ancur. Karena jika tidak, malah akan segera timbul masalah baru karena beban kerja yang tak imbang karena disparitas kondisi parts yg mustinya bekerja simultan gitu.

Nah, bengkel kaki-kaii biasanya bisa memberikan saran atas kondisi demikian ini. Pun biasanya mereka mematok harga paket. Bushing misalnya, meski yg ancur empat dari total enam biji misalnya, akan mereka ganti semuanya. Tapi kalo cuman sebiji doang karena case khusus, seperti sebiji bushing yg pecah karena kejedhog parah di pantura, ya mereka ganti cuman sebiji aja.

***

Ini khusus masalah kaki-kaki.

Tapi bukan berarti asal bengkel spesialis kaki-kaki bisa ngerjakan kaki-kakinya BMW atau mobil Eropa lainnya. Belom tentu.

Belom tentunya bukan karena masalah skill, melainkan karena mereka ndhak nyetok parts-nya; karena beberapa parts ada yg bisa direpair, misalnya bushing atau joint atau mungkin juga shock – kalo mereka memang sanggup ngerepair dengan skill/proses tinggi, ada yg rasanya musti ganti, misalnya support/guide-shock.

Seperti di Kediri sini, ada bengkel kaki-kaki super kondang karena pengerjaannya rapi, presisi, dan harganya juga menginjak bumi. Nyaris semua penggemar otomotif kenal bengkel tersebut.

Tapi kalo udah merestorasi kaki-kaki BMW, sering ditolak. Karena mereka tak ada cadangan/stok parts-nya. Sementara untuk mobil lain, kebanyakan bengkel kaki-kaki sekarang kadang justru lebih suka nyetok/nge-replace si parts ketimbang ngerepair, seperti bikin bushing sendiri atau membuka dan mengganti lapisan teflonnya joint dan menutupnya kembali dengan rapi. Maklum, proses seperti ini kan ngabiskan waktu kerja. Sementara replacement parts di pasaran aftermarket sekarang jumlahnya udah pada melimpah dengan harga yg semakin terjengkau dan kualitasnya sangat layak diterima, udah kualitas OEM semuanya banyakan.

Dan juga bukan berarti bengkel spesialis tak pantas mengerjakan kaki-kaki. Asal kita tau dan percaya pada kapabilitas dan reputasi mereka, it’s ok koq! Intinya siy: jangan sampe ada salah analisis, sehingga parts yg mustinya masih sangat layak dipakai tanpa menimbulkan dampak jadi ikutan terganti atau sebaliknya parts yg mustinya diganti jadi kelewatan sehingga masalah kaki-kaki belom tuntas dan malah bikin dua kali kerja (plus ongkosnya). Kan ginian ini makan waktu dan buang uang jadinya.

BENGKEL SPESIALIS

Kalo di Depok, Anda bisa masrahkan biem Anda, termasuk kaki-kaki, ke bengkel kebon.

Di BSD, untuk sektor mesin bisa ke Pakpuh Purwa Prayitna yg ada di BSD Autoparts, yg sebelahan blok sama Lili yg di Sentral Onderdil BSD.

Sementara yg di kawasan Bintaro, saya sangat merekomendasikan Mas Irwan Engine-Elektro di BTC. Mas Irwan ini sebenarnya spesialis kelistrikan mobil, tapi untuk kasus-kasus lain doi juga sanggup nangani, karena pynya mekanik juga. Dan doi nerima bukan cuman BMW, melainkan semua merk, terutama merk aneh-aneh, dari Jaguar sampe Maserati pun doi atasi.

Kalo di Blitar, jelas langsung aja ke Karya Timur Autowroks.

Di Kediri, Anda bisa kontak sama Bang Rico.

Di Surabaya bisa hubungi Pak Rudi atau Mas Nur (N-Motor).

Yogya bisa ke Pakdhe Bambang OB atau Lik Sapto Kesen. Kalo AC bisa lari ke Lik Defri juga selain mereka berdua. Ada juga bengkel speialis BMW lain yg juga direkomendasikan oleh banyak teman lain, tapi saya belom mengenalnya. Ingat, saya belom kenal bukan berarti bengkelnya tidak rekomended lho!!! Kayak macam apa aja… 😀

Bandung ke Om Eko Garasibmw.

***

JADI intinya sekali lagi, kalo kita blank dengan kaki-kaki, bawalah ke bengkel spesialis kaki-kaki, atau bengkel speialis BMW yg udah saya sebut di atas, yg mana dalam hal ini saya pribadi merekomendasikan Jantra atau Lili (meski saya lebih suka ke Lili).

Ini semua cuman IMHO alias penilaian saya pribadi, mohon di-CMIIW.

– Freema HW

Legroom Headroom Seat

Ini tentang mobil (yang ada di keluarga) kami. Ada satu mobil, kalo dilihat sepintas tampak legroom-nya lapang banget. Udah gitu kabinnya kesannya roomy banget. Headroom-nya kayak lega banget.

Tapi setelah diduduki, ternyata legroom ndhak lapang-lapang amat. Headrest juga ndhak lega, malah pada posisi duduk normal di jok belakang, kepala saya nyundul plafon.

Opsi duduknya: saya musti di depan, atau kalo di belakang kepala musti saya tekuk atau bokong agak geser ke depan sehingga punggung bisa sedikit membungkuk dan dengkul terpaksa lebih nekuk lagi.

Koq bisa kalo dilihat atau difoto tampak lega?

Karena tatakan duduk(/hip)nya ternyata pendek, ujung joknya masih “jauh” dari engsel dengkul. Bikin capek kalo duduk di perjalanan panjang. Karena paha seperti menggantung gitu.

Juga sandaran punggunggnya ndhak seberapa tinggi. Headrest pada posisi mentok bawah cuman kena di leher. (Neckrest dong jadinya?) Plus tebal jok+sandarannya tipis. Jadi secara proporsional dia (seolah) tampak lapang+lega kabinnya: legroom-nya seolah lapang, headroom-nya seolah lega, seat-nya seolah lebar. Padahal aslinya malah sempit banget.

YANG di atas itu masih mending, karena pada posisi nyetir, dengkul ndhak ngepres kiri-kanan. Alias selangkangan saya masih bisa sedikt mengankang.

Ada satu lagi mobil masih di barisan keluarga (besar) kami, dia jelas tipikal mobil irit dan yang ini headroom-nya malah lumayan, tapi legroom-nya sama sempitnya dan seat-nya juga pendek banget plus kalo posisi nyetir dengkul saya mentok kiri-kanan. Kaki seperti kejepit dari samping kiri-kanan gitu. Dan yang ini malah yang paling ndhak enak, soale selangkangan jadi ndhak nyaman banget puolll. Hiks…

Sementara mobil satunya, kabinnya malah terkesan ndhak seberapa roomy. Headroom-nya juga ndhak tampak lega. Legroom-nya pun kalo dilihat seperti pas-pasan.

Tapi setelah kita duduk, nyamannya luar biasa. Kaki malah bisa sedikit lebih selonjor, sama sekali ndhak nekuk banget. Headroom di jok belakang pada posisi duduk normal beneran lega banget.

Malah joknya lebih mem-bucket, sehingga badan kayak dipeluk, pas banget.

Koq bisa kalo dilihat atau difoto tampak sempit kabinnya?

Karena tatakan duduk(/hip)nya ternyata panjang, ujung joknya sampe mentok ke engsel dengkul. Bikin nyaman kalo perjalanan panjang. Karena paha ndhak kerasa menggantung gitu.

Sandaran punggungnya juga lebih tinggi. Headrest posisi mentok bawah aja pas di kepala. Plus jok dan sandarannya tebel banget. Jadi secara proporsional dia malah tampak sempit kabinnya: legroom-nya kayak sempit banget, headroom-nya kayak mepet banget, seat-nya kayak buntek gitu. Padahal aslinya lega banget.

Yach, pada saat barunya, keduanya memang mengusung pepatah kekinian: ada harga ada rupa.

Cuman pada saat sekennya, itu mobil yang kabinnya cuman tampak lega padahal aslinya sempit, depresiasi harga jual kembalinya malah rendah alias harga jual kembalinya masih lumayan tinggi dibanding harga barunya.

Karena mesinnya irit, salah satunya karena cc-nya yang kecil plus bodinya yang uentenggg banget. Sehingga mesin ndhak ngoyo untuk membuatnya melesat.

Sementara mobil yang seolah tampak sempit padahal aslinya lega banget depresiasi harga jual kembalinya ekstrim hancur jeblognya. Mungkin karena bensinnya boros, soale perlu mesin besar untuk menggotong bodinya yang berbobot (baca: berat banget).

Well, ternyata, masalah kondisi kabin (baca: kondisi keergonomisan tempat duduk/seat) adalah faktor yang tidak memveto harga jual kembali sebuah mobil menjadi bertahan. Kenyamanan berkendara ternyata tidak membuat depresiasi harga jual kembali bisa dicegah-tangkal dan ditahan kemerosotannya.

Yang diperlukan pasar pada kenyataannya adalah mobil yang irit, bukan yang nyaman. Mungkin karena fisik orang Indonesia kuat-kuat. Sehingga duduk dengan posisi “paha menggantung” pun enak-enak saja rasanya.

Kata orang, kenyamanan itu cuman masalah rasa dan bagaimana kita menerimanya.

Dan bagi saya: mobil ndhak nyaman bagi saya namanya ya tetep aja mobil ndhak nyaman. Bikin pinggang dan punggung mau patah rasanya. Ndhak ada istilah ndhak nyaman itu berubah jadi nyaman hanya karena persepsi (baca: stimulasi dan pengelabuan otak oleh hiburan dari diri sendiri).

Ini bukan karena kami tidak bersyukur. Ini cuman ngomong fakta. Ndhak bersyukur itu kalo saya ndhak mau dan menolak mentah-mentah naik mobil yang ndhak nyaman. Wong pada kenyataannya, dominan jam jalan saya juga di atas motor skutik 110cc atau mobil bersuspensi belakang leaf-spring koq!

Dan terakhir kalo kata orang kenyamanan itu mahal, bagi kami justru berbalik telak: kenyamanan ternyata malah itu murah meriah. Cuman separoh bahkan sepertiga bahkan seperempat harganya dari ketidaknyamanan. 😛 😀

Tidak penting apa merk dan tipe mobil yang saya uraikan di atas. Yang jelas itu semua ada di barisan kendaraan keluarga (besar) kami, dan kami udah menaiki semuanya pada perjalanan yang lumayan panjang yang cukup buat menemukan perbedaan (rasa) masing-masing. Kami hanya ingin mencoba menguraikan komparasi teknisnya secara deskriptif saja, bukan secara definitif.

Sekali lagi, ini tentang mobil (yang ada di keluarga) kami. Bukan ngomongin mobil Anda.

– FHW
punggung & pinggang vs bensin & perawatan.

Audi A4(B5) vs BMW E36

Seorang rekan bertanya kepada saya, enak mana Audi (A4 B5) vs BMW (E36)? Begini sedikit perbedaannya.

Penggerak

Untuk versi 2WD, Audi berpenggerak FWD, BMW RWD. Ini perbedaan paling krusial. Dari satu perbedaan ini aja, semua faktor lainnya bisa diabaikan.

Dari sini sudah jelas kelihatan: Audi emang enak-enak aja, tapi BMW juauh lebih fun!!!

Mesin

Masing-masing punya versi mesin kecil (4 silinder) yang irit dan murah parts-nya (untuk ukuran Eropa) dan mesin 6 silinder yang boros bensinnya dan mahal parts-nya.

Mesin 6 silinder BMW terkenal presisi pemasangannya. Maklum, 6 biji piston berbaris lurus itu jadinya panjang banget. Secara teori, ia lebih panjang dua piston ketimbang mesin V8 yang sederhananya adalah mesin 4 piston bercabang dua ngiri-nganan. Maklum, mesin 8 silinder kalo dibikin lurus, entah kayak gimana panjangnya.

Jarak kipas radiator mesin i6 BMW (viscofan) dengan shroud dan selang-selang kecil di depannya bahkan tak bisa dilewati jari tangan ukuran besar. Kalo engine mounting mesin BMW udah ambles, mesin jadi turun posisinya dan kipas ini bisa ngantem shroud. Ada beberapa kasus demikian ini: kipas ngantem shroud karena engine mounting udah ambles dan dibiarkan aja ama pemiliknya.

Namun bagusnya mesin 6 silinder BMW berkonfigurasi inline (segaris) ini, ruang kiri kanan mesin BMW ini masih lega. Bisa buat merogoh beragam parts yang mau dicek atau dibetulkan.

Di bagian depan ruang mesin BMW juga ada rangka/frame-nya. Meski fungsinya kayaknya lebih buat mounting/tatakan/dudukan beragam parts yang ada (radiator, kondensor, dll.), setidaknya rancangan ini membuat montir kalo mau ngelepas macem-macem parts tak selalu harus melepas parts lain yang ndhak berkaitan.

Mau nurunkan mesin BMW misalnya, atau mau nyopot motor starter, alternator, dll.; radiator sama kondensor bisa tetep anteng aja di tempatnya.

Di Audi, mesin 6 silindernya dibikin dengan konfigurasi V (V-configuration), jadinya V6 di sini.

Apa masalahnya dengan V6?

Normalnya sih sama sekali tidak ada. Mesin V6 justu diciptakan untuk meringkas besaran si mesin. Bayangkan, secara teori mesin V6 adalah mesin 3 silinder yang berpisah ngiri-nganan. Dan karena bersudut V, bukan boxer yang mendatar ngiri-nganan, maka mesin ini jadinya kompak banget. Bisa menghemat penggunaan ruang mesin karena cuman makan sedikit banget space.

Nyaris semua pabrikan mobil yang menggunakan mesin 6 silinder saat ini pasti menggunakan konfigurasi V alias V6. Baik untuk posisi longitudinal (membujur) dan berpenggerak roda belakang; maupun yang dipasang transversal (melintang) dan berpenggerak roda depan.

Cuman BMW dan mungkin sedikit pabrikan lain aja yang tetep ngeyel pake inline 6 demi mempertahankan stabilitasnya.

Di sini masalahnya: Audi ini mesinnya longitudinal tapi default 2WD-nya FWD. Nah!

Jadinya, mesin Audi didorong maju ke depan, muepettt sama batas depan mobil, biar gearbox-nya tepat berada di atas sumbu roda dan langsung menyalurkan batang penggerak (drive-shaft)-nya ke kiri dan kanan langsung ke roda.

Saking mepetnya penataan peletakan ini, bahkan Audi sampe merancang throttle-body (katup hisap)nya di bagian belakang mesin, bukan di depan kayak umumnya.

Sebenarnya rancangan mesin Audi yang longitudinal dengan gearbox berada di atas sumbu roda ini tampaknya dioptimalkan buat quattro/AWD-nya. Dengan demikian, batang penggerak bisa keluar dari gearbox tanpa sambungan tambahan.

Di AWD BMW, untuk menggerakkan roda depan perlu batang penggerak tambahan yang kayak roda belakang. Dari gearbox ada batang ke arah depan, kemudian dicabang lagi ke kiri dan ke kanan.

AWD pada Audi. Perhatikan gearbox Audi berada di atas sumbu roda depan dan mesin terletak di depannya.

AWD pada mesin transversal.

AWD pada BMW. Perhatikan mesin BMW terletak di atas sumbu roda depan dan gearbox di belakangnya.

Bongkar Pasang

Buat melepas sebuah part, di Audi sangat wajar jika harus membongkar panel depan dan banyak melepas parts lain. Di BMW, pipa-pipa/selang-selang AC teramat gampang untuk diraih. Di Audi, montir harus membuka satu paket panel depan (bumper dicopot, radiator/kondensor dikendorkan. Bagusnya dilepas. ~> Buang air radiator, buang freon AC. 😦 Hiks…) hanya untuk melepas pipa AC, alternator, motor starter, atau sekedar mengganti timing belt dan thermostat, dll.

Di mobil normal, mengganti timing-belt buat mobil yang pakai timing-belt, normalnya ya cuman cukup membuka kover timing-belt-nya saja. Kalo timing-chain kan beda lagi. Karena rancangan penggunaannya puanjanggg dan dia harus kena oli, maka dia ikut tersembunyi menjadi bagian dari jeroan mesin.

Mengganti thermostat di BMW pun ya cukup buka housing-nya aja. langsung ganti. Isi kembali air radiator, kelar urusan. Di Audi, sekali lagi, seluruh panel depan musti dibuka: bumper dicopot, radiator/kondensor dikendorkan. Bagusnya dilepas. ~> Buang air radiator, buang freon AC. 😦

Sadar akan rancangannya sendiri ini, di bagian depan bodi Audi tak ada frame-nya. Radiator & kondensor menempel pada rangka di kiri-kanannya. Bukan atas-bawahnya.

Jadi kalo radiator, kondensor, dan mesin Audi dilepas, maka bagian depannya langsung ompong.

Jalur AC

AC BMW pun banyakan selangnya. Sementara di Audi banyakan pipanya. Soale jalur AC Audi musti belok-belok nekuk-nekuk mengikuti sempitnya ruang yang ada. Ndhak bisa kalo pake selang. Alhasil, kalo mau ngganti, jelas keliatan perbedaan ekstrim biayanya.

Selang AC sekaligus nge-klem sambunganya bisa dan gampang diperoleh di tukang AC plus relatif murah biayanya. Pipa AC Audi musti beli. Moncong sambungannya khusus, ndhak umum. Super susah (baca: ndhak bisa) dibikinkan di tukang bubut. 😦

Berbeda dengan Volvo yang overhang depannya agak panjang mungkin karena alasan safety, overhang depan Audi lumayan panjang sepertinya cuman buat mengakomodasi kebutuhan peletakan mesin membujur (yang normalnya untuk penggerak roda belakang) ini namun untuk kebutuhan menggerakkan roda depan.

Pola penataan letak mesin ini juga yang saya pribadi curiga membuat Audi tidak bisa menambahkan ekstra fan AC di depan kondensor. Karena ini artinya akan menambah ketebalan bagian depan.

Overheat

Ekstra fan akhirnya diletakkan sejajar dengan visco-fan. Visco-fan Audi sendiri ukurannya kecil banget, seperti cuman mengipasi separuh bagian radiator yang besar -sama kayak radiatornya BMW- itu saja. So bisa jadi inilah kenapa Audi di sini terkenal gampang overheat.

Overheat, pas muacettt luamaaa gitu sudah jadi omongan publik di kalangan kaum Audi di sini. Beruntung karena mesin V6-nya masih jadul: bloknya masih berbahan besi dan klepnya aja cuman dua biji per silinder, maka begitu dingin mesinnya langsung waras dengan sendirinya.

Di BMW yang udah pake bahan alumunium, overheat ini selaksa jadi hantu menakutkan di kemacetan.

Pola Konstruksi

Begini, BMW sejauh ini keukeuh mempertahankan prinsip pembagian berat (weight distribution) dengan keberimbangan 50:50.

Konsekuensi dari prinsip di atas, jadinya mesin dipasang sejauh mungkin dari sisi depan mobil. Alhasil mesin BMW begitu mepet dengan firewall (dinding pemisah antara kabin dan kompartemen mesin) dan gearbox-nya berada di bawah kabin.

Plus posisi sumbu roda depan dimajukan. Jadinya moncong BMW (pun Mercy yg RWD) keliatan kayak panjang banget dan wheelbase (jarak sumbu roda)nya juga jadi keliatan panjang banget. Padahal kayaknya ini ya karena posisi sumbu roda depan dimajukan itu tadi.

Di BMW, konsole tengah selalu sangat lebar, jauh lebih lebar dari rata-rata mobil. Ini memang menimbulkan bonus tak sengaja: jadi ada “meja makan” diantara dua jok depan. Namun minusnya, ruang gerak kaki penumpang depan jadi terbatas.

Memang tidak sempit sih. Juauh lebih sempit ruang kakinya Ertiga yang sangat populer hingga sempat mengalahkan dominasi Seniyapansa itu. Tapi dibanding mobil sekelas lainnya, taruh kata Mercy Klasse-C atau Audi A4, ruang kaki BMW tak selebar mereka.

Berhubung, meskipun sempit untuk ukuran Eropa namun ruang kaki ini sama sekali tak mengekakng kaki, maka kondisi ini bisa diabaikan. Dengan kata lain, secara umum dan normal tak ada sempit-sempitnya di ruang kaki penumpang depan BMW.

Tapi yang paling kerasa bedanya dari pola konstruksi ini adalah driving-feel-nya. Dengan pembagian berat 50:50 dan berpenggerak roda belakang, nyetir BMW itu menimbulkan sensasi dan kepuasan yang serasa tak tertandingi.

Sementara Audi, udah penggeraknya roda depan, tanpa LSD, mesinnya melesak jauh ke depan lagi, membuat understeer-nya jadi kelewatan banget.

Maka Audi ini cuman cocok buat yang jalannya lempeng-lempeng aja. Dan tenaga mesinnya cuman buat nyalip (overtake) sama menaklukkan medan menanjak.

Kabin

Space kabin BMW vs Audi kami rasa sama saja. Terkecuali beda “ruang nafas” kaki depan itu tadi.

Namun BMW E36 malah kami nilai jauh lebih bagus ketimbang Audi. Pasalnya, sandaran jok belakang E36 berkemiringan lebih rebah ketimbang jok belakang Audi.

Mungkin karena Audi berpenggerak roda depan, yang mana umumnya overhang belakang harus dikurangi panjangnya agar mobil ndhak ngos-ngosan, maka bagasi Audi jadi lebih buntek ketimbang bagasi E36.

Barangkali untuk menambah space bagasi belakang inilah akhirnya jok belakang Audi dibikin jadi agak lebih tegak.

Tapi berhubung ini mobil kompak, yang pengertiannya hanya untuk transporting jarak dekat atau membawa penumpang anak-anak di jok belakang, maka kemiringan jok ini mustinya diabaikan.

Karena semiring-miringnya jok belakang, jika tak diimbangi dengan legroom panjang yang membuat kaki bisa semakin selonjor, artinya sama aja. Malah aneh kalo punggung bersandar lebih rebah sementara dengkul tetep ditekuk rapat karena legroom sempit.

Di BMW E60 pun konon sandaran kursi belakang lebih tegak ketimbang Camry. Namanya juga kategori sport dan cuman midsize sedan, masih wajar kalo jok belakang dirancang bukan buat overnight diriving penumpang belakang dewasa.

Bila ditinjau secara pasar, maka Serie 3 mestinya pengertiannya semacam: dikemudikan sendirian buat ngantor, pergi untuk ketemu teman dan hang-out, atau nganter anak sekolah.

Sementara Serie 5 buat nyetir ngantor sendirian, pergi bersama teman untuk hang-out, atau di belakang isinya juragan perempuan yang duduknya dengan kedua kaki miring ke satu sisi sehingga jadinya bisa lumayan selonjor untuk ukuran perempuan.

Atau sekedar trip liburan membawa barang ringan keluarga, katakanlah pakaian dalam kopor, yang jaraknya pendek/sekian jam perjalanan atau hanya untuk dibawa ke bandara.

Meski kenyataan di lapangan berbalik semuanya. Serie 3 dan 5 bisa dipakai overnight thousands miles driving sekeluarga.

Namun setegak-tegaknya sandaran punggung jok belakang Seri 5 atau Serie 3 atau bahkan itu Audi, tetep aja dia tak setegak SUV yang memang dirancang lebih tegak dari sedan karena alasan kebutuhan/penggunaan. Penumpang SUV diasumsikan melewati jalan yang bouncing dan dumping sehingga harus duduk lebih tegak biar siap sedia menghadapi segala cobaan yang datang.

Meski juga tegaknya jok SUV ini tetap aman jaya jika dibanding macam jok kereta api ekonomi yang tegaknya itu bukan lagi tegak dalam pengertian jok mobil, melainkan emang tegak 90 derajat! Alamaaak…

Baru di Serie 7, Klasse S, A8, dan sekelasnyalah rebahnya jok belakang -bahkan bisa disetel kemiringannya- jadi kerasa banget, soale ruang kaki sampe cukup dibuat selonjor. Tapi bawa Serie 7 parkir di mall yang ada di Kediri tenyata amsyong tralala. Cuman bisa parkir di VIP depan lobby Hipermart Kediri. Di Transmart juga ndhak bisa parkir. 😦

Tapi biar gimana, meski dengkul Audi A4 dan E36 sama-sama ngepasnya, berhubung sandaran punggung jok E36 lebih rebah, kami tetap memberi nilai plus di sini. Lumayan, yang punya si kecil bisa duduk lebih nyaman di E36 ketimbang di Audi.

Dan gara-gara gearbox Audi ada di atas sumbu roda pas, jauh di depan firewall, maka konsol tengah di antara dua jok Audi jadinya kecil banget. Karena ya cuman buat tempat tuas transmisi aja. Nyaris sama sekali tak bisa diletaki apa-apa. Meskipun di E36 kondisinya sama juga. Konsol tengahnya yang lebih lebar ketimbang Audi, habis buat dijejali tombol power-window. Jadinya sama useless-nya.

Di BMW E34, saya biasa meletakkan empat air mineral gelas atau jus kotakan berjejer di depan tuas transmisi, berjejer dari kiri ke kanan. Kami menyebut “lapangan kecil” ini: meja makan.

Satu perbedaan lagi, kursi belakang Audi bisa dilipat rebah dengan konfigurasi 40:60 -jok kiri bisa rebah sendiri, jok kanan rebah bersama sandaran tengah- membuat ruang bagasi dan kabin menyatu. Cocok buat membawa barang yang panjangnya melebihi space bagasi. Di BMW fitur ini tak tersedia. Mungkin kata BMW, “Sedan buat bawa orang koq dikasih gituan, buat apa?”

😀

Dan memang jika Anda menjejali bagasi Audi dengan audio, fitur ini jadi ilang fungsinya.

Built

Material Eksterior E36 dan A4 B5 sama nilai imbang. Material interiornya juga mirip. Malah kulit jok Audi cenderung lebih tipis kayaknya ketimbang E36. Kalo di E46 kan kulit joknya tebel dan kokoh banget tuh, bisa duduk sekasarnya tak perlu terlalu berhati-hati tanpa khawatir jok gampang rusak.

Audi menangnya datang dengan opsi komplit aja siy, khususnya di versi V6. Wood-panelnya cantik ciamik berganda. Di E36 ini cuman ada di Versi limited. Itupun sama sekali tak secantik Audi.

Sementara untuk fungsional lain macam fitur-fitur, bisa dibilang imbang semuanya. Instrumen-clusternya isinya ya itu-itu saja, kembar-kembar aja. Cuman beda tata letak dan dimensinya aja.

Style

Membandingkan desain bodi mobil adalah selera dan sangat relatif. Paling kita cuman bisa menilainya dari kesesuaian elemen desain, keharmonisan gurat desain, atau sense keelokan garis desain. Hasil akhirnya adalah cita rasa nuansa desainnya: futuristik, cantik, ganteng, macho, feminim, urban style, clasic modern, legant, sporty, dll. dst.

Sama-sama dari Eropa dan satu kampung federasi, baik Audi dan BMW sama-sama mengusung ciri khas desain masing-masing. BMW tentunya dengan kidney grille, hoftmeister kink, garis bodi samping, atau layered dashboard. Audi dengan pola desain simpel-nya, bodi membulat agak menggembung, serta kaca kecil di belakang pintu belakang, dll. dst. Kalo dalam bahasa desain VW, mereka punya kebijakan desain yang: timeless.

Masing-masing menimbulkan kesan yang khas. BMW tampak ganteng, sporty, mendominasi, dan sedikit norak dengan banyaknya guratan bodi. Audi tampak manis, simpel, timeless, dan oleh karena itu desainya seperti biasa aja seolah tanpa ada inovasi.

Perbedaan kecil lain misalnya: lampu kabut BMW dipasang di bagian bawah bumper, punya Audi menyatu dengan lampu utama.

Lainnya itu yang ada malah beragam kesamaan. Bukaan kap mesinnya sama-sama ke belakang dan ditopang pakai shock. Cuman punya BMW ada duakecil di kiri dan kanan, punya Audi cuman satu besar. Sama-sama lemah sebiji shock-nya, kap sama-sama ambleg lagi.

Persaman lain adalah pintunya yang bisa diuka sampai 90 derajat, begitu memudahkan penumpang keluar kabin plus tampak bossy gitu. 😀 Dan tetap ada pemberhentian 45 derajatnya.

Baik di BMW maupun Audi, ada mekanisme anti jepit pada power window-nya. Kaca akan otomatis balik ke bawah jika ada yang menahan pergerakannya ke atas.

Satu keunggulan Audi di sini adalah nutup pintunya: ringan banget, cuman perlu tenaga setengah bahkan kurang dari tenanga untuk menutup pintu BMW, namun pintunya tetap menutup dengan “Jlebbb!” mantep khas mobil berplat tebal.

Dan entah bagimana rancangan konstruksinya, pintu Audi jika dibuka kurang dari pemberhentian-nya, pintu ini dirancang untuk menarik diri hendak menutup.

Satu perbedaan lagi, kursi belakang Audi bisa dilipat rebah dengan konfigurasi 40:60 -jok kiri bisa rebah sendiri, jok kanan rebah bersama sandaran tengah- membuat ruang bagasi dan kabin menyatu. Cocok buat membawa barang yang panjangnya melebihi space bagasi. Di BMW fitur ini tak tersedia. Mungkin kata BMW, “Sedan buat bawa orang koq dikasih gituan, buat apa?”

😀

Dan memang jika Anda menjejali bagasi Audi dengan audio, fitur ini jadi ilang fungsinya.

Kesimpulan

Di E36 malah melimpah versi transmisi manual, cocok buat penyuka olah raga jalan raya, sementara Audi menang di fitur tiptronic tanpa ada opsi manual di sini.

Harga parts Audi rata-rata 25% lebih mahal ketimbang BMW. Namun harga pasaran sekenan Audi tua bisa dibilang rata-rata cuman separohnya lebih dikit ndhak banyak dari BMW.

So, umpama penggeraknya sama-sama belakang atau sama-sama depan, dengan kondisi bodi dan interior yang ada, saya bakalan langsung milih Audi ketimbang BMW. Meskipun mesin Audi begitu rumit untuk dibongkar pasang.

Berhubung Audi lahir dengan 2WD berpengerak roda depan sementara BMW belakang, maka kami tetap jauh meletakkan E36 lebih unggul ketimbang Audi.

***

Trus ngapain kami miara Audi, mobil yang ndhak punya keunggulan khusus ini?

Seru aja! Melihat kerumitan mesin, parts yang tak selalu tersedia dan kadang harus order via ebay, tak banyak orang/penguna/user paham ini mobil apa, serta tak banyak montir yang mau alias males nangani ini mobil tuh merupakan keasyikan tersendiri.

Membuat BMW yang kata orang parts-nya mahal + perawatannya susah + dijual kembali jeblok (dan kenyatannya emang gitu) itu malah jadi mobil yang terlihat mudah untuk dirawat dan diperbaiki di mata kami.

Membuat pola pandang ini jadi lebih luas.

– FHW FWD RWD

Berhubung udah banyak gambar E36, kali ini saya pingin masang gambar-gambarnya Audi A4 B5 aja. 😀

Pekok

Saya sering membaca guyonan: pake Pug itu pekok. Entah apa maksudnya. Apakah beneran pekok=tolol, atau sekedar plesetan Peugeot ~> Pegot ~> Pekok.

Well, coba kita lihat fakta (tentang Audi tua di sini) berikut ini.

AUDI:

  • Bukan mobil tua kolektibel. Harganya ndhak sekenceng Holden, LC, Pajero, CJ7, W124 300CE, Klasse-G, dll.

    Jangankan kenceng, dibanding BMW setara aja harganya assoy ambleg-nya: nyungsep ndhlosor njungkel.

    Yang tragis adalah, harga sekenan Audi bisa dibilang kalah jauh sama VW, yang mana notabene Audi adalah versi premium dari VW. Sebuah A3 harganya relatif lebih jeblog ketimbang Golf, sodara kembarnya untuk kelas yang lebih rendah.

  • Komunitasnya ndhak jelas.
  • Bengkel spesialis kayaknya cuman ada di Jakarta, itu pun beneran cuman beberapa gelintir.
  • Di jalanan, Anda pernah papasan sama Audi? Kalo pernah, seberapa banyak unitnya dan berapa kali dalam setahun?
  • Harga parts-nya rata-rata 25% lebih mahal dari BMW yang terkenal udah mihil.
  • Dijual kembali: bisa laku itu berkah, ndhak laku itu rasanya koq wajar-wajar aja.
  • Built quality-nya, untuk ukuran Eropa dia ndhak se-firm sama BMW.
  • Nyaman siy emang, tapi tetep aja ndhak se-fun BMW. Ndhak banget pokoknya.
  • Irit? Ndhak juga. FC-nya sama dengan BMW yang bermesin setara.
  • Liat Audi turun balapan di Sentul?
  • Bukan cuman sekali ditanyai sama orang: ini mobil merk-nya apa ya Mas?

PUG?

Saya kurang paham. Saya bukan pengguna Pug. Tapi yang pasti sebagaimana kita ketahui bersama: komunitas Pug itu besar, bengkel spesialis ada lumayan di mana-mana.

Saya kenal sama temen-temen komunitas Pug setempat sini yang luar biasa rame dan solid. Dan tiap keluar di jalan bisa dibilang papasan-papasan aja ama Pug.

So, pekok mana siy yang pake Pug vs yang pake Audi? Jadi siapa sebenarnya yang beneran pekok?

😀

– FHW-V

#JanganBeliBMW #JanganBeliBiem

Punten mau nanya… Gimana pendapat paklik-paklik di sini tentang BMW E34 520i M50 tahun 1992? Mobil pertama ini. Butuh panduan dari para paklik. Hehehe…

Saya dikasih tau kalo baru pegang mobil jangan BMW. Disuruh Great Corolla aja. Tapi duit belum cukup.

Terima kasih sebelumnya.

https://m.facebook.com/groups/323699264381705?view=permalink&id=1174618709289752

Sudah bener itu kata temennya, beli Corolla atau Civic atau Accord aja. Biar tenang hidupnya: spare-part gampang dicari, kadang banyak KW-nya yang bikin kantong nyaman; mobil gampang dibetulin, mekanik bawah pohon wari juga bisa mbetulin.; dijual kembali juga relatif cepet lakunya.

Kalo beli BMW ntar malah hidup bikin susah. Soale spare-parts BMW mihil, mesinya boros, dijual kembali ndhak laku-laku.

Mobil sakit dikit, ndhak bisa dibawa ke mekanik bawah pohon waru. Alih-alih sembuh, malah bisa tambah parah ntar sakitnya. Orang yang katanya bisa dan biasa megang BMW aja kadang masih suka ndhak bener ngerjakannya.

Apalagi buat tipe yang baruan dan bengkelnya ndhak punya scanner. Perkara nangani sensor ABS atau ganti alternator atau beberapa ‘special case’ lainnya bisa ndhak beres karena tanpa scanner buat ngereset ke posisi kembali awalnya.

Udah gitu kalo ganti parts, khususon parts slow-moving, seringnya musti pesen ke kota besar. Mesti nunggu paling ndhak besoknya nyampe, karena dikirim pake bis malam.

Coba kalo beli parts Corolla, Civic, atau Accord; asal toko spareparts aja, biasanya aja. Mau shock-breaker, coil, kabel busi, sampe fuel-pump nyaris pasti tersedia. Kadang banyak KW-nya, bikin kantong nyaman.

Coba aja tanyakan parts tersebut untuk BMW di toko parts (umum) paling gedhe di kota Anda. Boro-boro ada pilihan KW-nya, biasanya yang ada cuman businya doang. Maklum, jenis busi BMW jadul itu sepertinya udah mulai dipake mobil-mobil umum era kekinian. Makanya toko parts (umum) nyetok busi yang dipaki juga sama BMW.

Lainnya stok busi, ada juga sama aki tentunya.

Aki-nya BMW yang model DIN (DIN = SNI-nya Jerman, yakni yang kepala kutub-nya melesek ke dalem. Kalo yang kepala kutubnya nongol nonjol itu aki JIS. JIS = SNI-nya Jepang. Dengan harga aki DIN = 50% lebih mahal ketimbang aki JIS. Sementara model macam E30, E34, itu wajib pake aki DIN karena tempatnya udah dirancang super ngepres, ngepas banget.

Untuk beberapa model BMW seperti misalnya E36 yang space-nya memungkinkan dan bisa dipasangi aki JIS pun, bagi yang ngerti tetep ndhak mau. Karena daya tahannya bisa dibilang beda dibanding aki DIN.

Pake aki DIN pun, bagi yang ngerti, biasanya dipasanginya pake merk Varta atau yang setara, bukan Yuasa atau GS Astra apalagi G-Force atau Yokohama. Soale CCA/cold crank amperage-nya Varta, bahasa sederhananya CCA adalah simpanan setrum buat starter, beda.

Varta atau merk lain setara punya dua-tiga kali lipat angka CCA-nya. Buat nyetarter masih ada cadangan setrum banyak. Kalo merk lain umumnya, buat tiga kali nyetarter atau lebih biasanya udah musti di-charge. So, harganya Varta juga dua-tiga kali lipatnya merk lain umumnya.

Itu semua buat yang ngerti. Kalo saya tergolong kaum yang ndhak ngerti.

Udah gitu kalo mobil ada yang lagi ndhak enak, hidup keganggu banget. Hari-hari rasanya ndhak nyaman banget. Kalo mboil dalam kondisi enak, dunia beneran serasa milik kita sendiri!

Nggak percaya? Coba aja pake BMW. Cari yang sehat bin waras tapinya. Jangan yang kayak punya saya.

Udah gitu kalo seminggu ndhak mbejek gas, rasanya galau banget. Hari hari kayak orang linglung. Sekali mbejek gas, kayak orang sembuh dari penyakitnya. 😀

Udah gitu pas mau dijual, cuman ditawar murah ama temen sendiri. Itu masih mending. Kalo udah ketemu enaknya, pas mau dijual, suka dimarahin ama bini. “Ndhak boleh!”

Lho? Gimana sih? Jelas-jelas mobil nyusahin, koq ndhak boleh dijual? Hadew… repot emang pake BMW itu!

Udah jangan beli BMW.

Udah, gitu aja.

#JanganBeliBMW #JanganBeliBiem

– FHW
BMW E34 M60B30 530i AT 1995
Kediri, Jatim

Dijual! Salah Dua Dari Tiga Item Ini: Mesin BMW E34 M60; BMW E38 M62 735iL; Ford Everest 2007 AT

Dijual salah dua dari tiga item berikut ini.

  • Mesin E34 M60
  • BMW Seri 7 E38 M62 735iL
  • Ford Everest 2007 Matic – Bukan Kucing Dalam Karung

Kalo dua dari tiga item di atas udah laku, maka item ketiga akan saya simpan/keep/pakai sendiri (dulu). 😀 Posting ini akan saya update sesuai kondisi.

Mesin E34 M60

Posisi barang: Kediri, Jatim.

Saya jual mesin M60B30 lengkap girbok matic dan ECU/wiringnya.

Saat ini mesin masih terpasang di mobil.

Kondisi terakhir mesin saat dicek sama Om Abi lumayan okey, cuman kotor aja. Belom terdeteksi kerusakan yang signifikan.

Cocok buat Anda yang:

  • Pingin ngerestorasi E34 530i AT.
  • Perlu ngganti mesin M60 pada E38 730iL.
  • Pingin swap E30 atau E36 atau E34 M50 dll. dengan M60 V8.
  • Atau apa aja terserah Anda. 😀 Hehehehehe.

Saya ndhak tau ini musti dijual berapa. Coba tawar aja atau kasih referensi. Kalo harga sreg, saya lepas.

Dijual FOB Kediri, Jatim. Kalo tawaran masuk, ongkos bongkar pasang biar saya yang nanggung.

Dijual mesinnya saja?

Ya! Kalo mesinnya udah kejual, mobil sedang saya pertimbangkan untuk:

  • Lanjut dikampak. Akan saya jual tethelan kecuali interiornya komplit! Interior mau saya simpen sendiri.
  • Mau saya ganti dengan M70 V12. Hehehehehehe…

Foto berikut sekedar untuk ilustrasi.

BMW Seri 7 E38 M62 735iL

Posisi barang: Kediri, Jatim.

Akan dijual dengan kondisi terestorasi. Harga sekitar 125jt (terestorasi fungsi) hingga 150jt (sekalian balik nama), tergantung paket restorasi yang Anda minta. Detailnya bisa kita bicarakan dengan diskusi yang lebih detail.

Kalo kondisi mobil saat ini siy, intinya: body overall oke, bisa jalan, bisa ngebut, tapi: surat mati; interior masih acakadut – soale sambil dibenahi pelan-pelan sambil jalan; bumper ada bocelnya; ada rembesan di klem-kleman pipa power-steering, dan modar regulator power-windownya sisi belakang kiri sama lepas pengait dalam handel pintu sopir.

Kenapa dijual dengan kondisi terestorasi?

BMW kelas Seri 7 gini adalah mobil yang perlunya dinikmati, buat dinikmati. Bahkan malah kurang cocog kalo buat kaki/harian. Udah badannya gambrot – lumayan susah kalo parkir di mall, bensinnya juga aduhai nguras SPBU.

Kalo saya jual mentahan kayak gini, sayang aja buat Anda kalo ntar ndhak segera bisa menikmati ini mobil karena hanya terus-terusan dibenahi di bengkel.

Mending kalo Anda minat, saya setengah maksa Anda buat mbeli dalam kondisi terestorasi. Jadi tinggal isi bensin dan ganti oli.

Kalo mau paket kumplit 150jt, kami tambahkan free maintenis selama setahun kecuali parts tertentu – syarat ketentuan berlaku. Katakanlah ini semacam garansi terbatas gitu. Namun apapun opsi Anda, akan kami sertakan stok parts fast-moving untuk tune-up (filter oli, busi, filter udara, filter bensin) just as a bonus, sebagai bonus.

Dibeli mentahan aja boleh?

Prinsipnya siy boleh aja. Tapi jujur dengan kondisi yang masih perlu mayan banyak benah-benah, kami mungkin menjualnya di angka 60an jt. Ini pun entah kami bisa memberikan diskon atau ndhak.

Lebih detailnya siy hubungi kami aja via PM Fesbuk saya http://fb.com/freema.hw atau email ke saya freema97@yahoo.co.id

Gambar berikut hanyalah ilustrasi. Mobil kurang lebih demikian.

Ford Everest 2007 Matic – Bukan Kucing Dalam Karung

Posisi barang: Serpong/BSD, Tangerang Selatan, Jakarta/Banten.

Sale by Owner, Dijual Tanpa Perantara | Ford Everest AT 2007

Kondisi almost-perfect. Semua fungsi dijamin normal: AC, kaki-kaki, elektrikal. AC, kaki-kaki, baru direstorasi dalam setahun ini; juga oli matic udah dikuras dan timing belt udah diganti.

Filter solar diganti rutin berkala juga. Oli mesin/tune-up rajin sesuai jadwal. Intinya insya Allah very well-maintained.

Interior masih maknyusss, kulit trim utuh semua. Dijual dg kondisi interior standar (audio akan dilepas).

Pajak off, tapi harga jual termasuk perbaruan pajak alias pajak jadi tanggungan saya. Cocok kalo mau dibalik-nama sekalian.

Minumnya always Pertadex. Interior seger karena kami tidak merokok. Posisi mobil di Jakarta/BSD.

Asking price 150.000RB, jangan khawatir nego koq Gan! 😀 Maaf kalo mahal, saya berharap dengan memilih mobil ini Anda ndhak bakal ‘membeli kucing dalam karung’ soale. 😀

Terima barter dengan:
– Audi A8 (D3) Facelift/single-frame. Spec terserah.
– BMW E39 M54B30
– Honda Elysion V6

Info lebih lanjut hubungi saya Freema – 08553620665.

Lebih lengkap cek di sini Ford Everest – Bukan Kucing Dalam Karung 😀 http://olx.co.id/iklan/ford-everest-at-bukan-kucing-dalam-karung-terima-barter-IDkpZLj.html

Butuh BMW Terestorasi?

BMW itu mobil nikmat dan enak. Harga beli seken awal plus biaya restorasi di depannya bahkan masih jauh lebih murah ketimbang mobil low-end baru yang fiturnya bahkan masih jauh di bawah BMW tua seken.

Namun BMW tua seken akan jadi momok kalo semuanya masih dalam kondisi nanggung: mobil tidak fit bener. Sehingga mobil justru akan jadi pelanggan bengkel alih-alih siap-sedia Anda gunakan.

Agar BMW tua seken -yang rasanya masih nikmat dan harganya jauh lebih murah ketimbang mobil low-end baru- itu siap sedia setiap saat untuk digunakan, bagusnya memang langsung direstorasi di depan. Sehingga Anda tinggal isi bensin dan ganti oli saja.

Jika Anda sepakat dengan kondisi ini dan sedang mencari sebuah BMW yang siap dipakai, Anda bisa menghubungi saya. Akan saya carikan unit yang sesuai kebutuhan Anda dan kami restorasi hingga siap dikirimkan ke Anda.

Atau kirimkan unit yang sudah Anda dapatkan untuk kami restorasi. Hingga selesai dan kami kirim balik untuk siap-sedia Anda hela.

Harga paket restorasi ini berwariasi. Bisa sekitar 40jutaan untuk Seri 3 era 90an hingga harus kami hitung secara tersendiri untuk tipe dan taon lain, baik yang lebih tua maupun yang lebih muda.

Monggo PM ke Fesbuk saya http://fb.com/freema.hw atau email ke saya freema97@yahoo.co.id atau komen di bawah ini untuk diskusi lebih detail dan mendalam.

Dan monggo juga bookmark laman ini. Siapa tau suatu saat Anda membutuhkannya. 😀

Terima kasih telah membaca post ini. Silakan hubungi saya pada kontak di atas untuk hal-hal lebih lanjut.

Regards,
– Freema HW