#JanganBeliBiem #JanganBeliBMW

Ada sebuah komeng di sebuah trit: biem dengan usia belasan bahkan puluhan taon, apa yg bisa diharapkan (untuk daily usage)?

Yup, sama sekali ndhak ada, jika kita berparadigma memperlakukannya kayak mobil baru -se-“murah” apapun itu mobil baru- yg tinggal isi bensin ganti oli dan bejek gas. Plus masih ada garansi dari pabrikan.

Mobil baru -se”murah” apapun itu- yg kayak gini: tinggal isi bensin dan ganti oli doang inilah yg paling cocok buat daily usage.

Lalu buat apa biem itu? Beberapa rekan mengatakan itu cuman buat hobi saja. Mobil yg disayang-sayang, karena meskipun rasanya masih enak – jauh lebih enak ketimbang mobil baru yg harga perolehannya sama, dia tetep kurang cocok karena umurnya yg udah tua. Potensi terjadinya unexpected-trouble masih terpampang di depan mata.

Well, fix di situkah?

Ternyata belom tentu juga. Saya mendapati beberapa rekan menggunakan biemnya untuk penggunaan harian. Buat ngantor saban hari, khususnya musim penghujan gini. Atau buat wira-wiri ke mana-mana urusan kerjaan. Normal-normal aja. Nothing scary happen. Ndhak ada kejadian horror yg terjadi.

Mungkin selain beruntung, atau juga emang perawatannya boleh gitu, bisa jadi karena paradigmanya beda.

BEGINI, kata seorang temen, dengan duit yg sama kita bisa “menciptakan garansi” sendiri. Sederhana kata, paradigma harga beli biem yg selama ini ada dan tertancap di persepsi kita dan persepsi banyak orang musti diubah.

Kalo selama ini kita mungkin berpikiran harga beli atau harga perolehan adalah harga saat kita membeli itu si mobil (bekas), dan kemudian ada biaya TAMBAHAN berupa perbaikan-perbaikan, entah ringan atau berat, seusai kita ngangkat si mobil;

maka selanjutnya kita musti mengubah persepsi tersebut menjadi: harga beli atau harga perolehan adalah harga ngangkat si mobil plus biaya restorasinya. Bukan lagi perbaikan-perbaikan, melainkan restorasi.

Atau biar lebih mengerucut, kata restorasi ini kita ganti aja dengan rejuvenasi alias penyegaran semua komponen yg diperlukan untuk disegarkan. Kalo restorasi, kesannya kayak membangun ulang semua mobil menjadi seolah baru lagi. 😀

Maka, rejuvenasi ini akan lebih kompleks, luas, dan banyak skupnya ketimbang perbaikan-perbaikan yg sifatnya reaktif. Alias yg rusak aja yg diperbaiki.

Rejuvenasi akan bersifat preventif. Dengan kata lain, meskipun ndhak rusak, kita juga perlu mengganti apa yg mesti disegarkan.

Contoh: kalo perbaikan-perbaikan, maka parts kaki-kaki yg udah sowak dan oblak aja mungkin yg kita ganti. Kalo rejuvenasi, maka semua komponen kaki-kaki musti kita ganti.

Kalo perbaikan, maka water pump yg oblak aja yg kita ganti. Tapi kalo rejuvenasi, seluruh cooling-system akan kita ganti. Dengan begitu, kita bisa meminimalisasi terjadi unexpected error alias “menciptakan garansi” sendiri.

Banyak duitnya dong?

Jelas!

Namanya juga rejuvenasi. Namanya juga preventif. Namanya juga menciptakan garansi sendiri.

So, ndhak bisa lagi sebuah biem (seken) kita tebus dengan harga ngangkat mapuluh juta kemudian perbaikan-perbaikan awal lima atau mabelas juta. Sebuah biem yg kita angkat mapuluh juta, bisa jadi ntar biaya rejuvenasinya mapuluh juta juga.

Sadis?

Pasti! Tapi itulah harga yg kmusti kita bayar buat menciptakan garansi sendiri.

Lantas dengan biaya dan proses sebegitunya, kita bener-bener mendapatkan garansi sebagaimana kita beli mobil baru?

Kalo dilihat secara matematis dan probabilitas statistik, mungkin tetap tidak. Sebab bisa jadi meski kita udah ganti wiring-set, ada soket yg kelewatan ngepong sehingga memutus arus dan membuat si biem berhenti mendadak di tengah jalan. Namun secara realistis, kejadian macam ini jarang saya dengar berita dan kejadiannya.

Kalo ada berita biem kawan-kawan trouble di perjalanan, setelah kita audit, biasanya terjadi karena kurang perawatan. Dan saya tau bener contoh biem yg direstorasi, kemudian dirawat dengan skedul perawatan yg semestinya (ingat teori 10rb km: Oil ChangeInspection IInspection II, cek pdf-nya di sini) ternyata ya bertahun-tahun dipakai ya aman-aman saja. Kalo toh ke bengkel, kalo ndhak perawtaan rutin sebagaimana skedul tersebut, palingan ya upgrade-upgrade apa gitu.

DAN ini semua kembali ke masalah mental. Dengan duit 100jt, kita siap ndhak merejuvenasi sebuah biem tua dan menikmati segala kelebihannya: kencang, nyaman, stabil, di punggung ndhak sakit, dan mungkin aja sih mungkin semacam bergengsi geitu;

atau kita nebus aja LCGC misalnya yg maaf guyonannya kena hembpasan angin aja udah geyal-geyol dan dijalankan di “jalanan Indonesia pada umumnya” rasanya kayak ngepruk punggung namun irit banget dan dapet garansi pabrikan.

Saya tidak mengatakan mana yg lebih baik., Ini adalah pilihan. Sebab di keluarga besar kami, ada koq:

  • mobil “pasaran” baru: ada yg sedan 1500cc VVTi, ada yg LMPV 7 seater 1400cc, ada yg MPV 7 seater 2000cc. Ketiganya beli gress, dan dibeli dengan alasan sendiri-sendiri, terutama sih karena kapasitas angkut orangnya itu 😀 Hehehehe;
  • ada mobil lawas sejuta umat pada kalanya: Kijang Grand Extra;
  • ada SUV berbasis pikap: Ford “X-verets” Everest;
  • dan mobil premium lawas: ada yg V8 dan kami beli dengan kondisi super well maintained meski sekarang udah remuk dan ada V6 yg terejuvenasi (biem ndhak punya V6);

sehingga sedikit-banyak saya berani berkata bahwa saya memahami tabiat dan karakter masing-masing.

Dan pilihan saya pribadi: tetep juauh lebih enak bawa mobil premium lawas yg terejuvenasi/well maintained. Ulang-alik Kediri-Jakarta Jakarta-
Kediri berkali-kali PP alhamdulillah ndhak ada trouble. Dan badan rasanya enaaak banget. Bensinnya? Yg MPV 7 seater 2000cc kayaknya ndhak lebih irit ketimbang itu V8 3000cc atau V6 2600cc dengan bobot sama atau malah juauh lebih berattt.

Kalo pake mobil (sedan) 1500cc VVTi gress yg super irit, emak saya bawaannya menggenggam erat handle/pegangan tangan atas terus-terusan tatkala saya mbejek gas, melanggar sedikit di atas batas kecepatan atas jalan tol. 😀 (Jangan ditiru. Karena saya tau kelakuan Anda biasanya melanggar banyak dari batas atas kecepatan jalan tol. Maka niru saya artinya downgrade tho? 😛 😛 😛 Hahahaha!)

Sementara pake mobil premium lawas, emak saya ndhak percaya kalo beberapa puluh meter sebelumnya kami barusan mengalami pecah ban saat saya jalan santai 140kmh, setelah sebelumnya menghajar lobang aspal. Ini kejadian faktual. Emak saya yg ndhak ngerti mobil, sering saya jadikan parameter rasa sebuah mobil.

Kemudian istri saya yg saya ajak naik sebuah LMPV tiga baris 7 seater (katanya, tapi sempitnya minta ampun) gresss keluar dealer, malah sambat dan lebih demen naik biem tuwa 4 silinder umur 30 taon punya temen.

Ya itu, asal direjuvenasi dan dirawat dengan bener, kekhawatiran terjadinya unexpected trouble/error bisa diminimalisisasi.

Dan saya khawatirnya, garansi pabrikan terhadap mobil baru itu, sebagaimana kata mereka: limited warranty alias garansi terbatas, jangan-jangan lebih menyentuh aspek psikologis kita ketimbang aspek teknis. Nyatanya, mobil gress yg bergaransi tetep ndhak dapat pertanggungan apa-apa kala velg peyang dan ban hamil gara-gara menghajar lobang aspal.

Ingat, garansi pabrikan itu kalo kita cermati lebih kepada garansi karena kerusakan produksi, bukan kerusakan pemakaian lho! 😀 Artinya, kalo lolos dari kerusakan produksi, secara faktual garansi itu sebenarnya seperti ndhak pernah terjadi.

Dan di jalanan pun, mobil anyar yg minggir dan buka kap mesin dengan asep mengepul dari ruang mesinnya ada aja koq kejadiannya. Tapi ini bukan berita menarik untuk diviralkan. Akan jauh menggugah dan mengundang esmosi pembaca jika yg diviralkan adalah sebuah biem tua yg mogok, atau kecelakaan, atau kebakaran, atau segala bentuk celaka lainnya.

Bagi hater biem, maka ini akan menjadi makanan empuk: mobil mewah koq celaka. Bagi fansboy biem, ini akan menjadi bahan pertahanan reaktif: itu karena kurang perawatan, salah perawatan, dll dll dll.

Mobil itu sebuah mobil. Alat transportasi. Eh ternyata bisa membuat kubu-kubuan dan membawa aspek psikologis juga. Hadew…

Akan tetapi, kenyamanan, keantengan, stabilitas, dll itu rasanya bukanlah aspek psikologis, Itu semua bisa diukur mustinya. Dengan seismograf, alat pengukur benturan, dll dll misalnya. Saya ndhak paham metode teknikalnya. Tapi saya meyakini demikian adanya.

Dan kejadian barusan; saya akhir-akhir ini gantian mbawa X-verest, nama buat Ford Everest kami. Setelah dulu biasanya keseharian mbawa Kijang Grand Extra yg barangnya masih ada dan tersimpan di garasi, sekali-sekali dipakai dan dipanasi. Mbawa kedua jenis mobil ini, kalo ada polisi tidur wajib ngerem. Kalo ndhak, badan bisa kelempar dan kepala mentok plafon.

Mendadak saya dijemput temen bawa biemnya. Sebuah Seri 3 berusia 20 taon. Eh pas melewati poldur deket rumah yg langganan saya lewati, doi ndhak ngeliat dan lupa ngerem tentunya. Pada kecepatan ala dalam kompleks perumahan sih!

Tapi tetep saja saya refleks berteriak dan tangan mendadak menggenggam handle/pegangan atas buat siap-siap kelempar.

Eh ndhak terjadi apa-apa. Cuman jendhul-jendhul enak gitu. Kalo mbawa X-verest atau Kijang, bukannya jendhul-jendhul enak tapi pasti juendhulll glodhakkk!!!

***

SEMUA kendaraan yg kami ceritakan di sini adalah ada di keluarga besar di rumah. Bukan ngomongin kendaraannya orang lain. Kecuali itu Seri 3 punya temen atau kendaraan yg saya deskripsikan lain.

Jadi pilih mana?

Kalo paradigma Anda ngangkat biem tua adalah sebagaimana ngangkat Kijang tua, yg harga perolehannya adalah = harga beli sementara biaya perbaikan adalah biaya TAMBAHAN, saya sangat menyarankan jangan pernah sekali-sekali beli biem. #JanganBeliBiem #JanganBelBMW

Tapi kalo Anda bisa menyadari dan bisa mengatur budget untuk ngangkat+rejuvenasi sebagai harga beli/harga perolehan, maka silakan bicarakan lebih intensif dengan keluarga apakah tetap ngangkat LCGC misalnya atau biem tua terejuvenasi tsb.

Tapi ingat: jangan sampai salah milih bengkel biem. Silakan konsultasikan metode perawatannya dan ke mana arah perginya dengan rekan-rekan di angkringan-online ini.

Dan serejuvenasi-rejuvenasinya biem tua, kalo bisa jangan sampe salah milih bahan. Bukannya rejuvenasi, khawatirnya yg ada malah dapet bahan yg sewderhana katanya unrepairable. Misal: liner silinder udah baret dan krowak. Dll.

Semua tetep bisa diperbaiki atau diganti baru. Tapi takutnya bukan lagi rejuvenasi dan Anda tinggal ganti oli + isi bensin + bejek gas ke depannya tapi malah over budget dan biem cuman pindah bengkel tanpa sempat kita pakai dengan puas. Inilah yg saya istilahkan secara kontekstual unrepairable. Oleh karena itu ajaklah mekanik yg terpercaya untuk hunting bahan.

NGERI? Syerem? Menakutkan? Bikin ragu?

Yawdah, dengan budget yg sama belilah LCGC saja. Atau belilah mobil seken lain yg bisa jalan tanpa harus rejuvenasi-rejuvenasian. Selesai persoalan. Anda akan bebas dari kekhawatiran psikologis ke depannya. 😀

Sebab beli biem itu emang ndhak cukup kalo punya uang saja. Yg pertama diperlukan adalah: niat, niat, dan niat.

Semua ini hanyalah opini berdasarkan pengalaman pribadi saya. Silakan bagi pengalaman Anda juga yg mungkin berbeda dan berkebalikan dengan ini semua. Biar bisa cover both side story alias tabayyun.

Matur nuwun.

– Freema Bapakne Rahman
Bimmer enthusiast with great passion.

Remember, we talk about passion, not about money. Inget!!!

Advertisements

Kosakata BMW

Sebagaimana kita tahu, kata bisa diklasifikasikan menjadi:

Kata sandang atau artikel/artikula misalnya, kita tahu sejauh ini adalah si dan sang. Meski detailnya bisa lebih luas dari itu.

Sementara kata sambung alias konjungsi ini yang kayaknya paling sering kita pakai dalam keseharian, macam: dan, atau, serta, dengan, dan masih buuuanyakkk lagi yang fungsionalnya bisa Anda cermati di sini.

Termasuk kata depan atawa preposisi yang sering kita kenal adalah di, ke, dan dari yang luasannya bisa disimak di sini.

Atau kata ganti alias pronimona ku, mu, nya, kita, kami, mereka, dia, ia, dia ini mungkin lamah yang paling sering kita ucapkan/ketikkan/gunakan dalam keseharian? Entahlah. 😀

***

NAH, menjadi bimmerfan itu juga memperkaya khasanah dan perbendaharaan kosakata kita lho!

Saat mengunjungi Bimmerfest misalnya, inilah fungsinya ngunjungi Bimmerfest atau beragam gathering/meet BMW: bisa menambah perbendaharaan kata benda atau nomina. Misalnya: E12, E21, E23, E24, E28, E30, E31, E32, E34, E36, sampe F30, F31, F32, F33, F36, F80, F82, F83, dll dll.

Sementara jika rajin nongkrong di angkringan-online gini, kita juga bisa menambah perbendaharaan kata bilangan alias numeralia. Misal:
– Shock 2jt
– Filter oli 150rb
– Filter udara 175rb
– Filter bensin 200rb
– Busi 8x30rb = 240rb
– Oli 7 litres x 50-150rb = tak terhingga
Dll dll.

Jika kita rajin DIY atau bahasa Sundanya du it yourself (duit-duit ente sendiri), maka diri jiwa dan hati kita akan kaya dengan kata kerja alias verba. Misal:
– Dikampak
– Mengampak
– Ogel-ogel
– Ugil-ugil
– Oblak
– Koclak
– Malem minggu bongkar relay
– Weekend masang manifold
– Pulang kerja mbetulkan wiper
– Abis nganter istri langsung deh ngecek power-widow eh window
Dll dll.

Semakin mengenali biem kita sendiri, kita juga akan banyak belajar tentang kata sifat atawa adjektiva; baik itu sifat asli, sifat yang sesungguhnya, atau seringnya sifat yang dibuat-biat. Misalnya:
– Biem itu canggih.
– Biem itu kuat.
– Biem itu dijual kembali harganya tinggi selangit, udah gitu njualnya guampangnya minta ampun, sampai jadi rebutan para makelar jualan mobil.
– Biem itu perawatannya mudah banget.
– Biem itu harga spare-parts/suku cadangnya murah banget.
– Biem itu bensinnya irittt polll, sampe lupa bulan apa bahkan tahun kapan terakhir kali ngisi bensin.
– Biem itu yakin sifatnya kayak di atas itu.
Ini contohnya. Contoh!!!

Adapaun jika kita rajin browsing, bertanya kesana-kemari, jalan-jalan ke sana-ke sini, maka wawasan kita akan kaya dan penuh dengan kata keterangan alias adverbia; baik keterangan waktu, keterangan tempat, atau keterangan keadaan maupun keterangan palsu. Misalnya:
– Buluk
– Kucel
– Kusam
– Buthek
– Kapan dikampak
– Saatnya ngampak
– Kampakan
– Cocok dikampak
– Ganti BPKB
– Unrepairable
– Gergaji saja
Dll dll.

Pun jika kita banyak ketemu temen sesama bimmerfan, kita juga bisa menambah perbendahaan kata seru alias injeksi eh interjeksi. Misalnya:
– Jancuuuk, bushingku jebol lagi!
– Bajilakkk!!! Bensin habis!!!
– Kamprettt, visco-fan nyampluk radiator!!!
– @#$%^&**^%###!!!
– (Tiiit)
– (Sensor)
Dll dll.

Itu sedikit pengalaman yg bisa saya share tentang kepandaian saya berbahasa Indonesia sub cabang bahasa bimmer. Monggo bantu share juga kelihaian dan kecakapan temen-temen dalam menjunjung tinggi kosa kata bimmerfan. Mari kita semua menjadi bimmerfan yang pintar lagi cerdas. Plus nihil baperan, mengingat paragraf yang sedang Anda baca ini sangat kental mengandung unsur humor yang bisa bikin baper jika dianggap serius. Okey ndhak, cuk?

Matur tengkyu sudi membaca posting (tak) berguna ini. Sudah menghitung ada berapa banyak kata sesuai jenisnya di posting ini?

– F16

Honda MogePro 3.0l 32-Valves V8 218ps 290Nm

Dear Honda,

Kami telah berhasil dan sukses memodifikasi sebuah Honda MogePro menjadi bermesin 3.0l 32-valves V8 dengan keluaran tenaga mencapai 218 ps (212 hp) dan torsi 290 Nm .

Namun untuk keselamatan jalan raya, kecepatan motor ini tetap kami batasi secara elektronis pada 100 kpj saja.

Kami juga telah berhasil mengubah transmisi manual ceklac-ceklic pada motor ini menjadi transmisi 7 kecepatan step tronic.

Sedikit penyeuaian lain yg kami lakukan adalah penambahan electronic-spoiler di bagian belakang (belakangnya motor, agak jauh ke sono).

Front-difuser juga telah kami tambahi wiper dengan opsi speed-sensing, namun rain-sensor telah kami lepas mengingat ini tetaplah sebuah motor, mau semahal apapun tetap saja kehujanan, oleh karena itu mending beli biem bekas ndhak kehujanan ndhak kepanasan ketimbang beli kalo tidak Ninja tidak cinta kalo bukan FU ndhak ai loop yu.

Semua fitur ini terintegrasi dengan Engine-DME Bosch(oc) version 6.9 terbaru dari pasaran loakan.

Oia, instrumen-cluster juga telah kami sempurnakan dengan paket android yg detachable, sehingga bisa diupgrade dan ditambahi aplikasi.

Semua proses modifikasi ini dikerjakan langsung sendirian saja oleh bengkel Sugitech di kawasan Bunderan Serayu, Madiun yg merupakan bagian dari Group SukurCom.

Bengkel ini termasuk salah satu bengkel kaliber internasional bahkan antar planet dan antar galaxy – mulai galaxy s sampai galaxy s-cond. Karena selain mennangani modifikasi segala jenis kendaraan baik BMW, Mitsubishi Colt T, Suzuki Truntung, Vespa, hingga motor besar jenis MogePro; Sugitech juga menangani segala servis elektronik mulai VCD Compo, speaker aktif, blender, kulkas, dispenser, rice-cooker dan er-er lainnya.

Juga yg terutama adalah SukurCom ini melayani segala kebutuhan cetak-mencetak Anda, mulai undangan manten (terserah mantenannya Anda atau siapapun), kertu nama, kertu siapa, dan kertu apa, hingga kertu mana. Beneran ini!

Jika Anda tertarik dengan karya otentik modifikasi anak bangsa(t) ini, silakan komeng dimari https://m.facebook.com/photo.php?fbid=178525259391423

***

JUGA tak lupa kami ucapkan hai dunia, lihat dan saksikanlah, inilah kami anak-anak BMW. Mosok pake motor cuman 150cc? Apaan tuh?

Namanya kami anak BMW, jelas kami ndhak terima dong dengan fakta menyedihkan ini!

Oleh karena maka daripada itu adapun kemudian akhirnya diperkenankanlah perkenalan modifikasi yang daripadamananya telah mengubah mesin 150cc tersebut menjadi mesin gahar sekaliber badak buas beringas nan kesetrum wabah kejang leher sehingga susah belok.

Maka saksikanlah apa yang mana daripadanya sebuah mahakarya tralala dari kami semua ini begini kapan kenapa seperti sebagaimana ininyalah: Honda MogePro 3.0l V8!

Tepuk tangan semua! Prok prok prok!

Demikian persembahan luar bi(n)asa dari kami hanya untuk Anda sedunia. Semoga berita gembira ini bisa bermanfaat mengendorkan saraf-saraf kaku dan hampir kram di otak Anda semua.

Akhirul kalam, jalesveva jayamahe, sekali di udara tetap di udara. Salam Wuling!

– Freema V8

BMW, Boros, Shadowmasochist

BMW boros?

Sebenarnya ungkapan ini sama sekali ndhak berlaku buat pengguna 4 silinder atau 6 silinder. Bandingkan aja 323i atau 325i dengan Innova empat silinder; pada perilaku dan jalanan yg sama, boros mana kira-kira.

BMW boros rasanya hanya berlaku mutlak pada pengguna V8. Yg dari lahir ceprotnya aja, buku manual BMW udah mengatakan kalo konsumsi BBM-nya itu 1:6 untuk kondisi urban. Dan jalanan masa kini, di manapun rasanya adalah urban. Bahkan jalan tol pun, yg udah di kota besar, ia bukan jalan tol – bebas hambatan lagi, melainkan jalan tol – berbayar.

Saya juga miara sebuah E34 V8. Dan saya berdarah-darah miaranya. Namun ini darah kepedihan nan nikmat. Semakin berdarah, saya semakin merasakan kenikmatan. E34 V8 itu, laksana dewi cantik namun gualakkk nan sangat cantik dan teramat sangat begitu menggoda dan menggairahkan.

Tentunya hanya bagi yg bisa tergoda dan bergairah dengannya, itu V8. Ia suka mengelus kemudian menampar pipi kita, dan kemudian mengelusnya lagi. Bukan cuman pipi, yg bawah juga: dielus, dilentik, trus dijepit. Ouwh!

Yg bawahnya lagi apalagi: dijilat, diputer, dicelupin. Alamaaakkk… Rasanya, begitu manis legit! Apalagi dicelupinnya ke susu, persis iklannya di tipi itu, gurihnya…

*Apasih!*

Tapi ndhak semua pengguna V8 adalah shadowmasochist macam saya. Ada yg miaranya beneran laksana senopati miara kuda perangnya atau adipati miara kereta kencananya.

Tapi sesiapa pun mereka, saya sungguh angkat topi, salut tiada terkira, buat yg dengan sadar dengan sengaja milih miara E34 jadul matanya telanjang ndhak kekinian, dengan mesin V8 yang boros.

Mereka adalah segelintir manusia yg berbeda. Baik berbeda dengan tetesan dan luluran darah macam saya, atau berbeda laksana senopati atau adipati yg mengayomi rakyat kadipaten. Kadipaten-online Mataraman Hadiningrat. Halah!

Semoga Lik Valdirama Merzaputra Hartawan segera mendapatkan kereta kencananya yg siap bertempur menggempur barisan musuh: para prajurit sejuta umat dari tlatah Jepang. Eh bukan ding, bukan! 😀

Regards,
Freema HW
– V8
– TDCi

Newer Overall Better

Saya dari Malang pengguna E36 tahun ’96.
Rencana mau ganti ke E46 tahun 2004 atau E90 pre-facelift.
Sudah sempet googling soal keduanya.
Mungkin disini ada yg make E46 atau E90, mohon review-nya ya: soal kenyamanan, penyakit, dll.
Matur suwun.

Demikian sebuah posting pertanyaan di angkringan-online.

Saya coba awali mancing perkara dulu, moga-moga di bawah ntar ada yg mbetulkan.

Begini…

  1. Prinsip dasar teknis biem (seken) itu: newer is overall better, tapi juga makan duit lebih banyak. Jelas, karena teknologinya lebih update, maka ongkos bedak dan gincunya juga ndhak sembarangan.
  2. Prinsip dasar ekonomi mbeli biem seken adalah: jangan habiskan seluruh budget hanya untuk membeli. Pecah jadi dua segmen: ngangkat mobilnya + biaya benah-benah awal.

Berapa biaya benah-benah awal ini?

Ini yg sangat relatif, tergantung tipe, tahun, dan kelangkaannya. Tipe dan taon yg udah kelewat tua maka maintenisnya justru mungkin akan lebih mihil ketimbang tipe dan taon pasaran.

Tapi prinsipnya: makin baru makin banyak biaya maintenisnya. Ini teori. Praktiknya di lapangan bisa aja sangat kasuistis.

Berapa kisarannya aja untuk biaya benah-benah awal ini?

Lebih detailnya kita bahas di angkringan-online saja. Soale rentan berubah, agak riskan kalo saya cantumkan di sini. Soale mungkin saat posting ini dibaca lagi suatu saat kelak, nilai-nilai angkawinya sudah berubah terus, kayak posting Memilih BMW yg parameter angkawinya udah berubah karena itu posting saya ketik taon 2011, enam taon silam. 😀

***

PERIHAL komparasi teknis antara E46 vs E90, tentu dari sisi keseluruhan (overall) akan jauh lebih maknyusss E90: dimensinya, fiturnya (udah iDrive), dll. Juga rasio power mesinnya.

Tapi ya itu, buat mbenahi audio E90 aja udah setara nginstall audio kelas hi-end karena saking ribetnya dan semuanya saling terintegrasi. Sepintas yg tampak mata: itu monitor sama head-unitnya kan udah ada (installed) dan terpisah posisinya tho? Demikian sedikit petuah yg ane denger langsung dari suhu (suka huru-hara) Lik Abi Bintara yg belakangan ini nyaris ndhak pernah posting karena sedang sibuk “ngetik” pake mesin ketik yg empuk dan ginjur-ginjur. (Kecuali pas pitanya merah, mungkin doi nulis pake tangan). 😀

Belom lagi transmisi E90 yg udah mekantronik: gabungan dari mekanikal dan elektronis. Beda sama E46 yg masih mekanikal di dalam jeroan transmisinya, katakanlah demikian sederhananya.

Ribet? Mahal? Tapi canggih? Jelas, wong teknologi baru bin mutakhir yg mungkin baru akan hadir sepuluh taon lagi di mobil sejuta umat.

Sementara E46, meski saya pribadi masih belom bisa menerima keberadaan sisi teknis (apalagi sisi ekonomis)nya mobil ini, sudah relatif mudah ditangani ketimbang E90.

Cuman bawaan khas mobil tetep ada. Misal gasket yg musti diganti tiap sekian puluh rb km (saya lupa, moga-moga rekan-rekan E46ers ada yg ngoreksi); atau konstruksi kaki-kakinya yg sudah secanggih seri atasnya (E39/E38) dengan bahan full-alumunium: menjamin kenyamanan berkendara tapi ya gitu, kurang repairable untuk bimmerfan kelas saya (saya cocognya sebenarnya cukup Kijang lawas saja, bukan biem. 😀 Hehehehehe…).

Bahkan kalo ngganti alternator E46 dg ampere yg lebih tinggi pun perlu penyesuasian via diagnostic-tool (scanner). Tapi ini bukan hal yg ribet. BMW sejak era akhir 90an sudah wajib musti ditancepkan ke diagnostic-tool kalo mau ngrawat/repair. Yg ndhak wajar justru kalo ndhak ditancepkan scanner gitu: antara mekaniknya hebat luar biasa atau entahlah. 😀

Tapi ya gitu, nyari printhilan E46 secara umum rasanya (jauh) lebih murah ketimbang E90. Head-unitnya pun bisa diganti pake Dynavin, ajib deh, umurnya secara loncat semuda E90.

Tapi ya gitu, harga Dynavin ini sendiri juga ajib. Bahkan kalo mobilnya dijual, biasanya Dynavin-nya dilepas dan dijual terpisah, malah lebih mahal jatuh dapetnya.

***

JADI kesimpulannya, maaf saya ndhak bisa menjlentrehkan sisi teknis dari keduanya. Tapi sebelum mengupas sisi teknis lebih lanjut, intinya saya rasa balik ke itu tadi: seberapa siap budget kita mau ngangkat.

Kalo budgetnya cuman siap untuk ngangkat E46 plus benah-benah awalnya, saran saya nantinya jadikanlah salah satu E46 terbaik yg ada di jalanan Indonesia: yg kondisinya dibenahi semua mulai kaki-kaki, gasket-gasket, waterpump, dll. dll. Jadi tinggal pakai dan bisa dapet joy of driving.

Tapi kalo budgetnya bisa siap untuk ngangkat E90 plus benah-benah awalnya, tentu saya pribadi menyarankan ambil E90. Karena dia lebih baru dan overall lebih bagus ketimbang generasi sebelumnya.

Secara keseluruhan, bukan parsial, saya rasa BMW tidak pernah membuat generasi berikutnya lebih jelek dari generasi sebelumnya. Mereka selalu bikin lebih bagus.

So sekali lagi, batasan ukurannya adalah: kekuatan budget kita aja.

IMHO, CMIIW.

– Freema Bapakne Rahman

REF https://www.google.com/search?q=bmw+e46+vs+e90

BMW Yang Penuh Kepalsuan

BMW tua itu penuh kepalsuan. Jelas-jelas semua di sini tau kisah si Badak Biru kayak gimana acakadutnya.

Eh koq masih di-wow-kan terus ama orang-orang: parkir di hotel dikasih di depan lobby, beli penganan harganya mendadak dibikin naik, dll. dll.

Terakhir saya ke sebuah supermarket sama istri, mbak kasirnya sempat ngelihat dari dalam, eh tanpa malu dia bilang ke istri saya pas mbayar: “Itu mobil(tua)nya ya Bu? Keren…!”

Keren mbahmu! Mbaknya cuman liat siy enteng aja bilang keren. Ndhak tau apa kita nangis-nangis darah kayak gimana…

Dikira dompet kita ini tebelnya selemak perut dan saldo ATM kita unlimited gitu kali ya?

MIARA BMW itu sebenarnya sangat ndhak sebanding dengan apa yg kita dapat. Bayangkan kalo Anda miara seniyapansa: beli di depannya mungkin akan sedikit mahal; tapi sama itu mobil akan diganti dengan perawatannya murah, bensinnya irit, keluarga sekampung juga bisa diangkut. Udah gitu pas butuh duit, dijual kembali juga gampang banget.

Yang didapet jadinya adalah kegembiraan bersama keluarga. Perkara bahaya diseruduk truk atau melintir di tol, itu kan tergantung gimana kita nyetirnya aja. Perkara punggung serasa mau patah dan kaki kram ketekuk, itu kan persoalan perasaan dan bagaimana kita menerimanya aja. Nyatanya, jutaan keluarga Indonesia pemakai seniyapansa tak satupun ada yg ngeluh!

Bandingkan dengan miara BMW. Udah harga belinya kadang tetep ndhak murah, eh udah gitu masih ditimpuk tangga dengan: ngerawatnya susah, parts-nya mahal, dijual kembali ndhak laku-laku, isinya cuman empat orang, bensinnya wajib dibilang boros; eh dari segambreng susah itu yg didapet cuman keasyikan berkendara alias joyfull journey, gitu doang!

Masih niat miara BMW?

– Freema Keren Bapaknya Rahman,
foto hanya mulustrasi.

Bengkel Khusus Kaki-Kaki

Untuk menyiasati masalah (khusus) kaki-kaki, kalo kita blank sama sekali, pasrahkan aja ke bengkel spesialis kaki-kaki; yg kalo di Jakarta macam Jantra atau Lili.

Saya sih lebih suka ke Lili. Ndhak tau kenapa. Kayaknya siy ongkos kerjanya sedikit lebih murah ketimbang Jantra, tapi saya ndhak pernah membandingkan langsung, cuman perasaan aja 😀 Cuman ndhak tau aja, saya koq lebih sreg ke Lili sejauh ini. Hasil kerjanya: Audi kami yg udah 5 tahun di tangan, dua kali kami pasrahkan ke Lili.

Yg pertama ganti total kaki-kaki. Yg kedua repair sepasang shock dan sebiji bushing doang, yg jebol karena kejedhog parah di Pantura.

Dulu pertama kali ngangkat juga kami rekondisikan total kaki-kaki. Dikerjakan oleh mekanik di pusat onderdil, parts belanja sendiri. Jatuhnya rasanya sama aja siy dengan masrahkan ke bengkel spesialis kaki-kaki. Cuman kalo macam di Jantra atau Lili, mereka ngasih garansi setahun. Kalo beli parts sendiri dan dikerjakan oleh mekanik spesialis kaki-kaki, ndhak ada gransinya. Entah kepake atau ndhak itu garansi, at least bikin ati ayem aja siy…

Lili ada di Haji Nawi atau BSD. Kalo Jantra malah ada di beberapa kota di seantero Jawa. Di kota kecil Kediri sini Jantra juga ada. Tapi rasanya bukan karena pasarnya, melainkan karena empunya Jantra berasal dari Kediri sini, tepatnya Tunglur/Badas, Pare.

Se-blank apapun kita ama kaki-kaki, mereka -baik Jantra maupun Lili- 99,999999% fair ngasih advisnya & ngerjakannya, pun ongkosannya. Kalo toh kerasanya mahal, karena memang habisnya ya segitu.

Maklum, kadang menyelesaikan masalah di kaki-kaki itu musti komprehensif. Maksudnya, pada case tertentu, parts yg kondisinya 50% bahkan masih 70% pun wajib diganti ketika parts pasangannya udah ancur. Karena jika tidak, malah akan segera timbul masalah baru karena beban kerja yang tak imbang karena disparitas kondisi parts yg mustinya bekerja simultan gitu.

Nah, bengkel kaki-kaii biasanya bisa memberikan saran atas kondisi demikian ini. Pun biasanya mereka mematok harga paket. Bushing misalnya, meski yg ancur empat dari total enam biji misalnya, akan mereka ganti semuanya. Tapi kalo cuman sebiji doang karena case khusus, seperti sebiji bushing yg pecah karena kejedhog parah di pantura, ya mereka ganti cuman sebiji aja.

***

Ini khusus masalah kaki-kaki.

Tapi bukan berarti asal bengkel spesialis kaki-kaki bisa ngerjakan kaki-kakinya BMW atau mobil Eropa lainnya. Belom tentu.

Belom tentunya bukan karena masalah skill, melainkan karena mereka ndhak nyetok parts-nya; karena beberapa parts ada yg bisa direpair, misalnya bushing atau joint atau mungkin juga shock – kalo mereka memang sanggup ngerepair dengan skill/proses tinggi, ada yg rasanya musti ganti, misalnya support/guide-shock.

Seperti di Kediri sini, ada bengkel kaki-kaki super kondang karena pengerjaannya rapi, presisi, dan harganya juga menginjak bumi. Nyaris semua penggemar otomotif kenal bengkel tersebut.

Tapi kalo udah merestorasi kaki-kaki BMW, sering ditolak. Karena mereka tak ada cadangan/stok parts-nya. Sementara untuk mobil lain, kebanyakan bengkel kaki-kaki sekarang kadang justru lebih suka nyetok/nge-replace si parts ketimbang ngerepair, seperti bikin bushing sendiri atau membuka dan mengganti lapisan teflonnya joint dan menutupnya kembali dengan rapi. Maklum, proses seperti ini kan ngabiskan waktu kerja. Sementara replacement parts di pasaran aftermarket sekarang jumlahnya udah pada melimpah dengan harga yg semakin terjengkau dan kualitasnya sangat layak diterima, udah kualitas OEM semuanya banyakan.

Dan juga bukan berarti bengkel spesialis tak pantas mengerjakan kaki-kaki. Asal kita tau dan percaya pada kapabilitas dan reputasi mereka, it’s ok koq! Intinya siy: jangan sampe ada salah analisis, sehingga parts yg mustinya masih sangat layak dipakai tanpa menimbulkan dampak jadi ikutan terganti atau sebaliknya parts yg mustinya diganti jadi kelewatan sehingga masalah kaki-kaki belom tuntas dan malah bikin dua kali kerja (plus ongkosnya). Kan ginian ini makan waktu dan buang uang jadinya.

BENGKEL SPESIALIS

Kalo di Depok, Anda bisa masrahkan biem Anda, termasuk kaki-kaki, ke bengkel kebon.

Di BSD, untuk sektor mesin bisa ke Pakpuh Purwa Prayitna yg ada di BSD Autoparts, yg sebelahan blok sama Lili yg di Sentral Onderdil BSD.

Sementara yg di kawasan Bintaro, saya sangat merekomendasikan Mas Irwan Engine-Elektro di BTC. Mas Irwan ini sebenarnya spesialis kelistrikan mobil, tapi untuk kasus-kasus lain doi juga sanggup nangani, karena pynya mekanik juga. Dan doi nerima bukan cuman BMW, melainkan semua merk, terutama merk aneh-aneh, dari Jaguar sampe Maserati pun doi atasi.

Kalo di Blitar, jelas langsung aja ke Karya Timur Autowroks.

Di Kediri, Anda bisa kontak sama Bang Rico.

Di Surabaya bisa hubungi Pak Rudi atau Mas Nur (N-Motor).

Yogya bisa ke Pakdhe Bambang OB atau Lik Sapto Kesen. Kalo AC bisa lari ke Lik Defri juga selain mereka berdua. Ada juga bengkel speialis BMW lain yg juga direkomendasikan oleh banyak teman lain, tapi saya belom mengenalnya. Ingat, saya belom kenal bukan berarti bengkelnya tidak rekomended lho!!! Kayak macam apa aja… 😀

Bandung ke Om Eko Garasibmw.

***

JADI intinya sekali lagi, kalo kita blank dengan kaki-kaki, bawalah ke bengkel spesialis kaki-kaki, atau bengkel speialis BMW yg udah saya sebut di atas, yg mana dalam hal ini saya pribadi merekomendasikan Jantra atau Lili (meski saya lebih suka ke Lili).

Ini semua cuman IMHO alias penilaian saya pribadi, mohon di-CMIIW.

– Freema HW