Jihad

Saya masih inget bener, akun seorang rekan meng-share catatan panjang tentang pengertian bahwa jihad itu harus perang. Perang fisik, bertempur melawan ‘orang kafir’.

Tulisan itu menentang keras pengertian jihad yg: jihad ekonomi – dimana kita harus berperang melawan kemiskinan ketimpangan dan penindasan ekonomi; jihad iptek – dimana kita musti menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi demi sebesar-besaranya kemaslahatan umat; dan semacamnya.

Oleh akun tsb, ulama-ulama hakiki macam Gus Mus dkk dll dalam seingatan saya tak pernah dikutip. Jelas yg bolak-balik di-share adalah mereka ‘ustadz-ustadz islamis’, yg pengikutnya pada kenyataannya emang mayan banyak.

Akun-akun kayak gini, kalo diajak diskusi pakai pikiran, tentu menghindar/membiarkan tanpa pernah menanggapi. Karena jelas, mereka beranggapan bahwa apa yg dilakukannya adalah membela islam dan macam kita-kita ini adalah penentang islam, pembela kafir, dsb dsj dst. Dan kemudian akan mengerucut: kita bakal didakwa sebagai golongan kubu politik seberang.

Jatuh-jatuhnya ujung-ujungnya akhirnya balik juga muaranya: ke persoalan politik kubu-kubuan. Kasihan banget kaum netral yg bebas kubu dan tak berkubu macam saya gini…

Dan mereka akan terus gencar posting, posting terus-terusan. Tema yg berbeda namun dengan inti yg sama. Diulang-ulang duputer-puter terus-menerus tiada pernah dan tanpa ada henti.

Kuatnya brainwash dan brainstorming pada mereka dg dalih cinta Allah cinta islam dan berjuang demi/untuk dan dalam islam benar-benar membuat logika bawah sadar mereka buntu. Mereka kuat luar biasa untuk terus-terusan mengulang-ulang posting berbeda-beda namun intinya sama saja. Sampai kita-kita yg berani membangunkan logika diri sendiri ini, yg mengajak tukar pikiran baik-baik ini jadi jengah dan bosen sendiri.

Ini macam teori komunikasi pemasaran: kampanye terus-terusan akan membuat sebuah citra menjadi menancap di benak audience, sekalipun audience tak menghendaki.

Islam itu merekalah yg berhak memiliki. Kita yg berbeda ini akan dicap bukan islam.

Tuhan serasa telah mereka ambil alih kekuasannya.

Akhirnya saya yg gk kuat, saya unfriend itu akun. saya kalah melawan itu akun.

******

Miris. Di bawah sana, Indonesia masih penuh dengan ancaman pada kedamaian.

Yg cinta Islam, cinta NKRI, dan cinta kedamaian ini kalo gk bergerak nyata membendung itu semua; entahlah apa yg bakal terjadi dg negeri ini.

Mungkin kita akan tunggu waktu untuk jadi afghanistan, suriah, iraq, libya… Porak-poranda karena kuatnya mereka yg tak pernah merasa kalo merasa menjadi islam paling benar, yg dikendalikan oleh entah siapa.

Bohong kalo Indonesia itu aman-aman saja. Ada bara tak pernah padam di bawah sana, yg mana mereka mengatasnamakan berjuang dalam islam, berjuang untuk islam, berjuang demi islam, dan seterusnya.

Mereka itu semua, saya meyakini sepenuhnya, tak pernah bisa diajak bicara baik-baik dengan akal-pikiran terbuka.

Salahnya, kadang yg berseberangan dengan mereka, meng-counter-nya (sama-sama) dengan sinisme. Jadi di kedua kubu kadang hanya terjadi gontok-gontokan picisan murahan yg sama-sama menjijikkan dan tak ada inti pikiran yg bisa didapat.

Parahnya lagi, perang gontok-gontokan ginian bisa berkepanjangan, dan melibatkan akun yg sangat buanyak.

Njijiki bener.

Mungkin demikian.

Mungkin.

Advertisements

Double-Deck

Dulu, ngumpulkan uang saku, buat beli kaset kosongan, trus bikin album kompilasi. Pake tape compo double-deck.

Tape compo double-deck, bukan bis Volvo double-decker yg udah sempat kami coba di kota besar Surabaya saat main ke bonbin; yg sekarang baru digandrungi ulang oleh abg-abg kagetan yg ngakunya maniak bis.

Rame-rame bawa koleksi kaset sama temen, atau pinjem temen anak orang kaya yg punya banyak koleksi kaset.

Trus diputer di tape-deck rumah, atau compo di kamar, atau walkman sambil bergaya jalan-jalan darma wisata sekolah. Laguku komplit: mulai Metallica, Europe, Firehouse, Def Leppard, hingga NKOTB.

Radio pun isinya Dewa19, masih pakai 19 bukan yg tanpa 19, dan yg jelas gk ada dangdut koplo.

Dunia isinya indah banget jaman segitu. Gk ada caci-maki di medsos.

Kala itu, jaman ribuan berbahagia karena dibelikan sepeda Federal sementara ribuan lainnya hanya sanggup memimpikannya belaka.

Jaman E34 atau E36 kita barusan nongol kinyis-kinyis baru lahir, mobil yg sama sekali belom saya kenal.

– Freema Bapakne Rahman

Saya masih menemukan, beberapa kali jika gk bisa dibilang sering, orang bikin page-break dengan menekan enter buuuanyakkk kali hingga ke halaman berikutnya; alih-alih dengan “ctrl+enter”.

Dan barusan yg saya dapati adalah sebuah dokumen dari pemerintah.

Pentingkah hal demikian untuk diperhatikan?

Bagi mereka mungkin tidak. Dan bagi banyak orang juga tidak. Bagi Indonesia mungkin juga tidak. Selama pekerjaan bisa selesai sesuai dengan tugas yg dihadapi. Selama halaman bisa ter-break sesuai dengan isi yang harus diketikkan.

Cuman kalo kita mau jujur mengakui, dari sini sebenarnya menunjukkan, rendahnya tingkat efektivitas kerja & kinerja SDM yg melakukannya.

Bayangkan untuk mem-break halaman harus menekan enter buanyakkk kali, meski waktunya mungkin cuman dalam hitungan detik, tapi ini adalah proses pekerjaan yg berulang-ulang dan sangat membuang waktu. Proses yg panjang dan tidak ringkas.

Belom lagi kalo ada perubahan isi atau perubahan layout, bisa-bisa ntar ngeditnya dari awal halanan hingga akhir halaman.

Iya kalo cuman 10 halaman. Kalo ratusan halaman, gimana coba?

Padahal hanya dengan ctrl+enter, itu cuman satu proses: cring, jadi!

Dan ketika ada satu halaman diedit, halaman yang sebelum atau sesudah ter-break tidak akan terganggu posisinya.

“Yaaa… kan gk semua orang ngerti dan bisa!”

Baiklah. Tapi ini sebenarnya ilmu yang sangat dasar di dunia ketik-mengetik.

Ini mirip seperti pengetahuan tentang perlu (baca: wajib)nya kita menyalakan sein kendaraan saat berbelok, sekalipun belok kiri.

Kita tetap bisa berbelok (kiri) meski sein tak kita nyalakan. Motor tidak akan macet, laju tak akan terhenti.

Beda dengan jika tanki tak kita isi bahan bakar atau kampas rem habis tak kita ganti., Itu efeknya direct.

Lampu sein? Itu mirip ctrl+enter.

Tak ada efek direct. Tapi ini efek mentalitas (kita bicara sisi teknis dan psikologis dulu, terlepas dari sisi hukum kewajiban hukum menyalakan sein dalam hal ini).

Kita semua tau kan apa bedanya sesiapa yang menyalakan sein saat belok (kiri) dengan yang tidak?

Mungkin seperti itulah bedanya yang menekan ctrl+enter sekali dengan puluhan enter berkali-kali.

“Yaaa… satu kasus ini kan bukan berarti semua aparat pemerintah seperti itu.”

Betul banget. Tapi benerkah ini cuman oknum atau aparat minoritas?

Mudah-mudahan memang demikian: ini hanya oknum dan aparat minoritas.

Bukan sebagaimana persepsi kotor yg selama ini bercokol di otak saya: yg kinerja efektif dan efisien, yg skill-nya mumpuni, yg pelayanannya profesional itulah yg oknum dan minoritas.

Mudah-mudahan itu tadi.

***

INI baru masalah halaman. Belum masalah lain yang lebih banyak, lebih kompleks, dan berdampak luas dan besar.

Alhasil, macam kasus eKTP kemarin sampe bisa sebegitunya: antri berbulan-bulan, masyarakat menghabiskan waktu dan tenaga untuk sesuai yang sama sekali tak produktif. Yang mending dibuat tidur ketimbang kepanasan di balai kecamatan atau apalah nama tempatnya.

Sementara di sana-sini, bank bisa menerbitkan jutaan kartu ATM yang lebih canggih dalam waktu yang sedemikian singkat.

Itu baru satu contoh yang kelihatan.

KALO di pelayanan swasta, kita tinggal ganti provider/produsen jika adalah hal yang tidak memuaskan.

Kalo pelayanan pemerintah tidak memuaskan, mau ganti dan pindah ke mana coba? Sementara kita sudah mati-matian mencintai negeri ini dan mati-matian ingin memajukannya sekuat tenaga. Syangnya, gate utama niatan ini, yakni pemerintah, sama sekali jauh panggang dari api, jauh pelayanan pemerintah dari pelayanan swasta.

Wahai pemerintah, gk usah banyak kampanye menghabiskan anggaran untuk koar-koar bahwa Anda semakin baik melayani rakyat.

Simpan anggaran yg mungkin milyaran itu untuk sesuatu yg riil dan nyata.

Pemerintah ndhak dituntut menghasilkan laba. Karena itu gk usah bikin promosi pencitraan.

Baiknya bikinlah kerja nyata dalam senyap, dengan hanya satu hasil dan parameter saja: tak ada layanan swasta manapun yg bisa mengalahkan efektif dan efisiennya layanan pemerintahan.

Itu saja sudah cukup.

Regards,
– FHW,
hanyalah sesosok rakyat abal-abal tanpa skill atawa kemampuan mumpuni. Mangkanya ndhak cocok jadi aparatur pemerintahan.

Nyetir Lagu, Mendengarkan Kendaraan

Bukannya pro atau kontra sama pak plokis isilop, tapi kalo saya pribadi emang juarang ndengerkan musik di perjalanan.

Bukannya gk pernah apalagi gk pernah sama sekali, pernah dan lumayan sering juga koq.

Cuman overall saya lebih suka tanpa musik, atau volume lirih/secukupnya aja muternya; dan enakan ndenger radio atau ngobrol sama istri.

Jadi, haram bin mubadzir nbih pasang audio kenceng-kenceng? Saya ndhak bilang gitu. Itu case-nya macam lampu HID yg warnanya buuuiiiruuu. Atau stop/tail-lamp yg harusnya merah dijadikan putih.

Boleh koq, kalau keperluannya kosmetikal-artistik, misalnya untuk kontes, karena itu -katakanlah- ada unsur keindahannya. Yaaa mobil dalam satu sisi tertentu kan juga merupakan benda seni, sebagai makanan psikologis. Atau apalah alasannya terserah. Ini sangat relatif sekali. Ndhak bisa di-gebyah uyah, di-judge dengan pukul rata.

Tapi kalo udah berbicara jalan raya, ya itu: aturan adalah di atas segalanya. Lamnpu depan buiru, stop/tail-lamp putih, ya hukumnya haram jadah. Membahayakan diri sendiri dan terutama orang lain. Bisa sampe nyawa urusannya. Kasarnya kata: gara-gara stop/tail lamp putih itu bisa jadi nyawa orang melayang. Bukankah ini sama artinya dengan pembunuhan (berencana yg dilakukan tanpa sengaja)?

Yakh intinya sih: driving is driving. An sich.

Kita musti bisa nyetir/mengendalikan lagu (agar tak mengganggu) dan mendengarkan, merasakan, get the feel dan keep in touch dengan kendaraan. Jangan samapi pas enak-enaknya ndengerkan musik kenceng di kabin, gk sadar kalo bumper lepas (ya embuh apa sebabnya, pokoknya contohnya gitu. 😛 Weeekkk! 😀 Hehehehehehe)

MUSIK, radio, ngobrol itu mengganggu? Tergantung kitanya sih.

Pas istri nanyak sesuatu dan saya lagi butuh konsentrasi, ya jawabannya saya pending dulu bentar koq. Usainya baru saya bilang ke istri, “Eh nanyak apa tadi?”

Trus saya di keplak mesra. Saking mesranya sampe pipi saya panas, berasa ngecap tangan gitu.

Istrimu mesra gitu juga ndhak sama kamu lik?

Regards,
– Freema Bapakne Rahman
Supir keluarga.

*********

Ini penjelasan psikolog tentang musik di mobil itu:

Tapi memang saat mendengarkan musik di mobil, musik bisa membuat perhatian Anda teralihkan saat menyetir, atau istilah kerennya distraksi.

Menurut psikolog Agatha N. Ardhiati, 88 persen pengendara selalu mendengarkan musik di dalam kendaraan, sementara sisanya kadang-kadang saja atau tidak mendengarkan musik.

“Faktor-faktor distraksi adalah apa yang kita lihat, dengar, cium/hirup, rasakan, pikirkan. Sebenarnya walaupun lewat indera pendengaran, tetapi lewat musik kita bisa memunculkan emosi, perasaan tertentu, dan itu yang membuat jadi distraksi saat nyetir,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Alasan kedua musik bisa jadi distraksi saat menyetir adalah kita bisa tiba-tiba jadi mengkhayal, memikirkan pengalaman masa lalu.

“Jadi bukan hanya musiknya saja, tetapi efeknya bisa memunculkan emosi/perasaan tertentu,” ujar Agatha.

Jadi bagaimana mendengarkan musik yang benar dalam mobil? Dia menyarankan pengguna kendaraan memilih lagu-lagu atau membuat playlist yang bisa menjaga emosi.

“Kalau lagi galau, jangan setel lagu-lagu galau, diganti ama yang senang. Pilih musik yang sesuai yang bisa berfungsi menjaga perasaan, kalau tadi senang tetep senang,” ujarnya.

Namun ada kalanya saat nyetir kita benar-benar harus mematikan musik, misalnya saat parkir kendaraan.

“Matiin saja musiknya, jangan sampai tukang parkirnya sudah bilang setop-setop eh malah ‘dug!’ udah deh,” ujarnya.

Saat melalui jalan tikus yang sempit, kadang kita perlu mematikan musik, karena saat itu butuh konsentrasi yang tinggi.

“Tetapi kalau kalau situasi normal, biar moodnya bagus menyalakan musik sih oke-oke saja,” pungkasnya.

Lengkapnya silakan menuju dimari https://oto.detik.com/berita/d-3894221/heboh-larangan-dengarkan-musik-di-mobil-ini-penjelasan-polisi

Jalan Berlubang

Ini berita setahunan kemarin. Namun, 10 bulan sejak berita ini dirilis, saat kami melewati jalur di kawasan sana, kondisi jalannya masih parah.

BARUSAN belom lama, beberapa hari kemarin, saya nyaris mengalami kejadian serupa.

Ceritanya pas saya bermotor di suatu ruas jalan di Kediri sini. Bukan jalan raya antar kota yg lebar. Namun jalan yg saya lalui cukuplah untuk bersimpangan dua truk, meski lumayan berhimpitan.

Pas enak-enaknya melaju, aspal bongkah menganga di depan saya. Refleks saya berkelit menghindar, motor saya banting goyang ke kanan, posisi terdekat untuk menghindari itu lobang.

Ndilalah, tak dinyana, ada motor juga dari arah depan yg sedang menyalip mobil dari arahnya. Ostosmatis dia ngambil jalan melebihi tengah jalan.

Nyaris saja dia adu banteng dengan saya. Kami memang tidak ngebut, tapi kecepatan kami rasanya sama-sama tidak bisa dikata pelan.

Saya langsung kipas lagi motor ke kiri, dan dia agak memepetkan diri dg mobil yg dia salip.

Kami berdua alhamdulillah sama-sama selamat. Meski jantung saya berdegup tiada terkira.

Saya hanya kebayang si kecil yg lagi menunggu di rumah kala itu. Umpama, amit-amit, bapaknya ini harus berbelok ke rumah sakit dan tak sampai di rumah, entah gimana perasaannya dan ibunya.

Dan umpama si mas motor dari arah berlawanan saya tadi ‘nyampluk’ mobil yg dia salip, entah apa yg bakal terjadi dengannya.

KITA mungkin udah cukup berhati-hati di jalan. Namun kadang kondisi dan keadaan berkata lain.

Oleh karena itu, mari kita lebih berhati-hati lagi. Ikhtiyar sekuatnya untuk saling menjaga keselamatan diri sendiri dan keselamatan bersama/pengguna lain jalan raya. Selebihnya: senantiasa berdoa meminta keselamatan pada-Nya, bismillahi tawakaltu.

Dan buat pemerintah: mbok berhentilah mencelakai rakyatmu. Udah tak terhitung berita yg mewartakan: kecelakaan tragis gara-gara jalan berlubang. Mbok perkara jalan berlobang ini janganlah dianggap persoalan sepele. 1×24 jam, atau 2×24 jam mbok ditambal itu jalan bongkah.

Ya Allah berilah petunjuk-Mu pada kami semua senantiasa. Astaghfirullahaladzim………

– Freema Bapakne Rahman

Level Loyalitas

Suatu waktu saya sedang ngobrol sama seorang bapak driver ojol (ojek online). Beliau udah lumayan sepuh. Umuran orang udah punya cucu gitulah.

“Saya pindah daro ojol lama ke ojol baru, Mas!” Demikian kisahnya. “Ojol lama saya itu kapitalis sejati; pelit ngasih bonus buat penumpang juga buat drivernya.”

Saya manggut-manggut.

“Kalo yang baru ini enak. Murah hati mereka. Suka ngasih bonus buat penumpang juga buat drivernya.” Lanjut kisahnya.

Urutan kata anatara ‘penumpang’ dan ‘driver’ tampaknya benar-benar diperhatikan sama si bapak. “Suka ngasih bonus buat penumpang juga buat drivernya” itu maknanya mendahulukan kebaikan buat penumpang terlebih dahulu baru kemudian buat drivernya.

Saya kembali manggut-manggut.

Usai si bapak berkisah, baru saya mencoba mengutarakan pendapat menurut cara pandang saya.

“Pak, mohon maaf nih… Ojol lama bapak itu kan emang udah lama hadirnya/lama umurnya tho? Kalo kita ingat-ingat, dulu mereka suka banting harga dan banyak ngasih bonus dan sekarang udah ndhak. Wajar Pak, dulu mereka masih mencari pelanggan dan menciptakan basis pelanggan. Atau dalam bahasa kerennya: menciptakan ekosistem.” Pelan-pelan saya membuka opini saya.

“Nah, ketika ekosistem pelanggan udah terbentuk, yakni pelanggan berkumpul banyak-banyak karena trigger/dipicu oleh harga murah tadi awalnya, sehingga pelanggan apal sama seluk-beluk aplikasinya, apal kapan musti segera order dan apal berapa lama ojol akan dateng, dll dll dll. maka selanjutnya mereka bakal beralih ke tahap berikutnya: me-maintain ekosistem tersebut untuk membangun loyalitas pelanggan kepada merk/produk.” Lanjut saya sok-sokan aja pokoknya.

“Pada tahap ini, ojol lama bapak sudah ndhak akan terlalu fokus bermain dengan harga. Mereka akan sibuk memperbaiki dan menjaga kualitas layanan: driver berkendara dengan sopan, kondisi kendaraan terjaga kesehatan dan tampangnya, driver konstan dan konsisten menjaga kesopanan berbahasa dan bersikap kepada penumpang dan itu alami yang dibangun/dibentuk/diciptakan/dilahirkan bukan dibuat-buat, dan lain sejenisnya.” Saya semakin jumawa ngoceh. “Penumpang pun mungkin juga sudah ndhak hirau dengan harga, Pak! Mungkin pikir penumpang: aha selisih seribu-dua riba perak, pake ojol yang ini enak nih, drivernya sopan nyetirnya beradab dan kendaraannya pun nyaman.”

Si Bapak mulai terdiam oleh bualan saya.

“Mungkin ojol baru bapak ini masih pada tahap pertama. Mereka masih bermain di sisi insentif: bonus untuk penumpang pun driver. Tapi kalo penumpang sudah banyak karena pancingan harga murah, basis pelanggannya sudah terbentuk, ekosistem pelanggannya udah terbangun; mustinya mereka akan masuk ke tahap berikutnya yg sama juga untuk menjaga, merawat, dan mempertahankan ekosistemnya: fokus pada layanan, bukan lagi sekedar harga.” Saya semakin menjadi-jadi beromong besar.

Si Bapak mulai manggut-manggut.

***

Secara anti-klimaks dan tanpa fade-out kami menyudahi percakapan kami. Mungkin benak si bapak kerasukan sesuatu dari mulut besar saya: omong besar saya tentang level loyalitas kita.

Saya sama sekali tidak menyalahkan si Bapak karena aksi “reaksioner”-nya. Cuman dari ini semua saya jadi merenung, beliaunya -si Bapak- karena (maaf) “tidak’ memiliki bekal pemahaman terhadap hal-hal kayak gini, jadinya gampang terbang terombang-ambing menuju sorotan cahaya yang lebih terang. Padahal kita tak tau, cahaya itu bisa terang dan semakin terang selamanya atau hanya lebih terang secara temporer aja.

Dan akhirnya saya pribadi merasakan benar apa kata Ali: harta itu kita yg musti menjaga, sementara ilmu itu menjaga kita.

Pun benarlah adanya kiranya, semakin kita tambah tahu sesuatu, semakin tersadar bahwa kita ternyata semakin tak tahu tentang apa-apa. Terlalu luas hal-hal tak kelihatan yg bisa kita jelajahi sepanjang umur kita berlangsung di dunia ini. Maka alangkah eloknya jika kita tak gampang memfatwa sesuatu karena reaktif belaka.

Ini jadi self reminder buat saya pribadi, yg bahkan kondisi ini ndhak sampai selaksa buih di tengah samudera.

Saya ngobrol sama si Bapak ojol itu aja udah sedemikian besarnya mulut dan omongan saya. Gimana kalo saya ngobrol sama diri saya sendiri yg tanpa ada kontrol dari pihak lain selain diri saya sendiri ini? Pasti jatuhnya saya bakal semakin jumawa dan merasa paling tau, paling bisa, dan paling benar.

– FHW

Sembarangan Buang Bahasa

Seorang redaktur newsblog curhat akan amburadul dan ugal-ugalannya bahasa para penulis.

Saya khawatir bahwa budaya antri, tidak membuang sampah sembarangan, beradab dan bertata-krama lalu-lintas, serta rapi bertutur kata itu mencerminkan tingkat keagungan adab dan budaya suatu bangsa.

Tetapi, ngapain sih repot mikirin itu semua?

Biar saja orang mau seenakudelnya berlalu-lintas, yg penting kita jaga jarak dari mereka dan selamat sampai rumah. Biasanya, kecelakaan itu terjadi karena pengendara ndhak mengindahkan aturan lalu-lintas atau bahkan mungkin ndhak mengerti. Persetan aja sama mereka, yg penting ndhak nyenggol mobil saya. Situ mau nyungsep, ya derita situ. Salah sendiri di jalanan koq seenaknya.

Ngapain sih kita bingung dengan kelakuan orang yg membuang sampah sembarangan? Mau mereka mbuang sampah di jalan tol, di selokan, di sungai, mbuka jendela mobil dan mbuang sampah seenaknya di jalanan, di trotoar, di depan masjid, di parkiran mobil, keluar ruko, di lapangan pas nonton konser, di sepanjang jalan pas acara jalan santai, di pantai atau di gunung, di mana saja bukan urusan saya; yg penting bukan di halaman rumah kita. Beres!

Koq pusing amat sih kita sama orang yg ndhak mau antri, yg penting kita bukan bagian dari mereka aja kan kelar perkara. Kalo terpaksa semua ndhak mau antri, ya kita ikuti arus aja: situ jual sini beli!

Dan, kenapa juga kita harus mengkoreksi kerapian tutur kata dan bahasa (diri) kita sendiri? Kita ngetik dan ngomong amburadul, nabrak aturan bahasa sana-sini, mencampakkan EYD ke tong sampah, sms tanpa titik tanpa koma, dan dengan segala kelakuan ugal-ugalan berbahasa aja kita bisa nyari duit bahkan bisa beli mobil koq!

Riil aja, apa sih pentingnya beradab dalam berbahasa sekarang ini? Kalo bahasa kita morat-marit trus kita mati atau ndhak bisa kerja gitu?

Satu nusa satu bangsa satu BAHASA? Itu mah jargon! Yg penting adalah bagaimana saya bisa beli spare-parts dan ngerawat mobil, selesai urusan.

Regards,
– Sarkas HW