Sampah

BBKSDA Jawa Timur melarang kegiatan wisata di cagar alam Pulau Sempu. Larangan wisata ke pulau Sempu akan mengakhiri polemik di dunia maya soal pemanfaatan CA Pulau Sempu untuk kepentingan wisata.

Satu kenangan saya dengan pulau Sempu adalah hampir 20 taon silam saat saya masih kuliah, saya pernah berenang dari Sendang Biru ke Pulau Sempu. Didampingi temen-temen yg menjaga saya dengan bersampan.

Itu jaman badan saya masih ceking dan perut masih rata, masih bisa gaya kupu-kupu. Sekarang dijamin saya bakal tenggelam kalo musti berenang kayak gitu lagi, saya cuman bisa gaya dada dan gaya batu. “Dadaaa!” 😀

Dulu, lebih dari 20 taon silam saat saya masih SMA, pergi ke Rinjani itu benar-benar mengasyikkan. Kemarin, saya baca di media, sekarang isinya sampah di mana-mana. Alhamdulillah dan salut buat yg pada mbersihkan.

Baiknya, pengunjung jangan dilarang untuk menjelajahi cagar alam. Tapi bagi siapa yg kedapatan mengotori bumi ini dengan sampah sembarangan, baiknya langsung tenggelamkan aja di laut atau tendang aja ke jurang dalam. Habis perkara.

Tapi yg ngeri lagi tuh cerita emak saya saat pergi haji sepuluhan taon silam. “Saat rombongan jemaah Indonesia beranjak dari duduk-duduk lesehannya di bandara sana, serakan sampah langsung terpampang di luasan lantai di depan mata!”

Itu semua dilakukan oleh orang yg pulang haji lho!

Gusti Allah…

– Freema HW

Advertisements

Kangen BUCKS

Kangen saya sama rekan-rekan BUCKS. Genk awal yg saya kenal pada skup luas pertama kali ya BUCKS ini. Entah taon kapan itu saya meregisterkan diri via email ke BUCKS, dan akhirnya saya masuk list warga bimmer underground ini. Yg jelas, BUCKS kemarin barusan ultah ke-9 saat si Badak Biru udah 8 taon bersama kami.

Orang-orang di dalamnya pada sangat sepintas yg saya kenal, sama aja kayak genk-genk bimmer lain. Ada yg brengsek sampe temen-temennya sendiri jadi malu, ada yg dedikasi dan loyalitasnya luar biasa. Mengabdikan diri ke komunitas nyaris setara mengabdikan diri pada agama, bangsa, dan keluarga.

Dan ini mirip juga dengan kalangan genk-genk bimmer lain;

  • ada yg omongannya (angkawi)kelas berat mlulu: velg mahal, ganti biem, biem ceper, biem kenceng, biem kinclong;
  • ada punya yg karakter kere eh sori, kiri hore persis kayak saya.

Tapi ada satu hal dominan sejauh sekian taon saya (merasa)tergabung jadi warga underground BUCKS selama ini: meski buanyakkk yg guyon “internal sendiri”, yakni guyonan yg susah diikuti atau dimengerti oleh orang lain di luar kalangan; tapi omongan mereka tentang teknis per-bieman itu terasa sangat dominan. Poin ini yg saya sangat suka dengan BUCKS.

Sederhana kata, mayoritas yg saya dapati bukan sekedar: rusak – bawa bengkel, kelar. Masih ada bahasan kalo rusak kayak gini tuh kenapa dan banyak yg ikutan mengupasnya.

Sampai pada suatu malam era akhir 2013 atau awal 2014 mungkin, saya udah lupa waktunya, saya ngobrol dengan beberapa dedengkot BUCKS pas saya lagi di Jakarta: bahwa saya dan rekan-rekan Kedirian ingin membentuk chapter dan bergabung dengan BMWCCI. Tentu secara refleks mereka nanyak, “Kenapa ndhak membesarkan BUCKS saja di sana/di Kediri dan sekitarnya sini?”

Saya perlu waktu setengah malam untuk menjelaskan tentang pilihan kawan-kawan saya di kampung halaman sini.

Pertama, warga Kedirian itu bisa dikata blank total tentang BMW. Sampai hari ini empat taon umur Kediri Chapter, omongannya kalo kopdar ya cuman senang-senang melepas penat pekerjaan saja. Saya rasa cukup minoritas bahasan-bahasan belajar teknis tentang perbieman, meskipun bahasan ini tetap ada dan bukan berarti hilang sama sekali.

Dalam hal seperti ini, kalo Kedirian tidak saya bawa ke klub resmi BMWCCI dan malah seperti pilihan awalnya: jadi klub lokalan saja (bahkan juga bukan BUCKS yg skupnya nasional), maka mau jadi apa Kedirian ntar? Mau jadi paguyuban ngopi?

Temen-temen Blitarian Bimmer, komunitas lokal dimana saya juga tergabung dalam paguyuban ini pun bisa ngeh teknisnya biem karena kebetulan ada lik Abi aja yg sangat paham biem. Tanpa ada manusia yg satu ini, niscaya mereka bakal cuman jadi paguyuban biem terlantar yg mungkin bakal terlunta-lunta miara biemnya.

Dan semoga semakin besok warga Kediri Chapter benar-benar menjadi bimmerfan yg memahami biem, setidaknya biemnya sendiri-sendiri masing-masing. Tinggal pengurus dan warga punya semangat untuk bersama-sama menuju arah ini atau ndhak. Pun dengan rekan-rekan Blitarian, mumpung ada ilmu yg bisa diserap, ayo seraplah sebanyak-banyaknya buat bekal miara biem dengan baik dan benar (serta murah).

Beda ama BUCKS. Mereka-mereka yg melahirkan BUCKS karena sebelumnya udah punya kemaniakan terhadap BMW. Mereka sangat mengenali biemnya, dan cinta mati ama biem, meskipun hariannya pakai mobil Jepangan sejuta umat. 😀

Alhasil, ketika BUCKS mereka ciptakan, dasar kemaniakan terhadap biem inilah yg jadi kultur besar mereka. So, bagi BUCKS, bisa dimaklumi kalo ber-sistem atau mengsistemkan diri itu justru mungkin malah akan menghambat soliditas komunitas ini.

Jadi itulah kenapa saya memilih menolak ide lik Ardian “Boeng” Satriyadi dkk. yg awalnya pinginnya menjadikan Kedirian ini sebagai klub lokalan independen saja dan setengah malam itu juga di Kediri saya mati-matian meyakinkan ke kawan-kawan Kedirian agar kami bergabung ke BMWCCI, sebuah organisasi dg sistem, agar ada pegangan sistemik yg bisa menjadi arah langkah kumpulan ini.

Agar ayam-ayam tanpa indukan ini punya satu pegangan arah untuk melangkah.

Kedua, lainnya itu di (setengah) malam itu di Jakarta, saya mengulangi janji pada internal temen-temen Kedirian ke temen-temen BUCKS: bahwa Kedirian akan menjadi chapter yg taat regulasi tapi sekaligus tidak akan pernah menghilangkan nilai keguyuban dan kecairannya pada siapa saja untuk selamanya! Sebagaimana guyub dan cair pada siapa saja inilah semangat awal mula terkumpulnya Kedirian.

Bagi saya pribadi, mengajak rekan-rekan Kedirian menjadi chapter BMWCCI bukan berarti saya bakal meninggalkan BUCKS, yg mana inilah salah satu dimana sumber wawasan perbieman saya berasal. Dengan tetap menjadi BUCKSer sekaligus warga Kediri Chapter, maka saya akan (ingin) menjadi pribadi yg lebih luas lagi berpandangan, berteman, berwawasan, dan berpola pikir; menambah teman-teman baru, menambah pergaulan baru, tanpa harus mengubah gaya hidup(baru) sedikitpun. Ini harapan saya pribadi.

Alhamdulillah temen-temen bisa memahami.

2011 kami pertama kali ikut turing bersama temen-temen Blitarian (kala itu masih bernama Tuner) ke Pantai Prigi, Trenggalek. 2012 kami dan temen-temen Madiunan ikut hadir pada acara pengukuhan BMWCCI Malang Chapter.

2012 juga ada kopdar pertama temen-temen Madiun, Kediri, Blitar, Malang di Simpang Lima Gumul, Kediri yg dihadiri oleh Lik Catur.

2013 kami ikutan turing dari Jakarta bersama temen-temen BUCKS dateng ke ID Bimmerfest, Yogya.

2014 BMWCCI Kediri Chapter terbentuk. 2015 ikutan liat ID Bimmerfest di Jakarta.

Puncaknya sejauh ini, Februari 2017 kemarin saya berkesempatan hadir di syukuran ultah Amazin9 BUCKS di Bawen, Jawa Tengah. Kembali bertemu, berkumpul, dan bercengkrama dengan para dedengkot BUCKS serta rekan-rekan lainnya yg sedikitpun ndhak pernah luntur keguyuban dan keakrabannya yg terasa begitu cair.

SEDIKIT flashback, era 2010-an Kedirian sudah berteman sangat akrab dengan temen-temen Madiunan. Era 2011, Kediri+Madiun pernah mengajukan diri jadi chapter BMWCCI dengan nama chapter Mataraman. Dan tentu saja usulan nama ini ditolak.

Akhirnya ide tersebut kami pending. Dan nama itu sempat diteruskan juga jadi nama angkringan-online ini, yg semangatnya angkringan-online adalah menyatukan beragam asal-usul menjadi satu kebersamaan tanpa sekat dan batas, borderless friendship, unlimited silaturahmi

Belakangan, kini Kediri dan Madiun masing-masing udah jadi chapter BMWCCI.

Karena dari awalnya semangat Kedirian ini adalah borderless friendship & unlimited silaturahmi, maka inilah kenapa macam saya pribadi jadi sangat enjoy berteman dengan siapa saja, mengenal siapa saja, dan duduk bergabung dengan rekan-rekan dari bendera mana saja.

Saya dengan bangga bisa menyebut diri saya sebagai warga Kediri Chapter, warga BUCKS, atau warga Blitarian Bimmer. Termasuk warga-online di angkringan-online tercinta ini.

Dan manusia macam Lik Sugik, bimmer independen paling independen seindonesia itu dengan santainya juga bisa cangkrukan dengan Ki Lurah Kedirian Risky Mujiono​​ atau rekan-rekan dari BMWCCI Malang Chapter. Cair sekali.

Manusia macam Lik Catur di sini, mbah dan manusia yg kita sesepuhkan untuk jadi pengayom kita semua di angkringan-online ini pun juga adalah sesosok manusia merdeka & independen yg kebimmerannya bisa dibilang “bebas agama”. Lik Catur adalah manusia yg bisa dimiliki oleh semuanya tanpa terkecuali, bukan manusia yg mengibarkan satu bendera bimmer tertentu. Kecuali urusan rumah tangga, maka doi cuman milik keluarganya semata.

Atau juga Cak Rizal, doi adalah bimmerfan yg juga telah “bebas agama”. Saat ini, loyalitas kebiemannya hanyalah pada guru Semar Lik Sugik semata. Eh… 😀

Dan inilah angkringan-online ini kemudian memutuskan tetap jadi angkringan-online belaka. Angkringan-online Bimmerfan Mataraman ini bukanlah klub atau komunitas. Namun demikian kita punya kepala pemerintahan virtual di sini, yakni lae camat-online Naulinet yg bercokol di Padangsidimpuan saja.

Cair, akrab, guyub, bebas sekat. Semuanya indah sekali bukan?

So kalo ada member klub manapun yg ndhak bisa loyal ke klub/komunitasnyanya atau sekaligus menolak untuk cair dengan bimmerfan siapapun dari manapun, menurut saya ini adalah tipikal bimmerfan alay.

– Freema HW,
kangen BUCKS.

Satu Pijak Beda Tabiat

Ini semua adalah murni subyektivitas ngasal dan ngawur saya.

Ada akun yg berbicara tentang hal yg sama. Mereka satu kubu, satu persepsi, satu “pihak” sebenarnya: berdiri di sisi yg sama.

Bedanya, satu berbicara dengan bobot, cerdas, bernas; datanya kuat, faktanya akurat, analisisnya matang, hipotesisnya tajam. Banyak hal yg dirangkum jadi satu butir uraian, jadinya uraiannya padat montok berisi.

yg satu berbicara dengan membabi-buta, penuh emosi, hanya berisi opini subyektif belaka. Sederhananya: tong kosong nyaring bunyinya. Baru tau satu hal, uraiannya berlipat-lipat lebih panjang lagi. Jadinya nggelambir kayak lemak perut saya.

Satu pihak yg sama, satu kubu yg sama, satu persepsi yg sama, satu pijakan kaki pun ternyata (bisa) beda tabiat; bisa terpilah jadi dua item yg sungguh sama sekali berbeda berlainan total telak.

#bersih-bersih fesbuk perlahan-lahan, persiapan 2019: #unfollow puluhan page ndhak jelas yg miskin data, lemah fakta, mentah analisis, dan tumpul hipotesis.

– Freema Bapakne Rahman,
subyektif.

Menjaga dan Merawat Indonesia

Bismillahirahmanirahim.

Sejak pilpres-pilpresan 2014 silam, saya sudah menetapkan diri sebisa mungkin menghindari posting statuta politik. Memilih netral (ber)politik bukan berarti tidak mencintai bangsa dan negara ini kan?

Hingga sampe Pilkadal DKI yg bikin linimasa saya tampak teramat sangat njancuki, saya masih bisa menahan diri untuk ndhak terseret arus menggempur dan menempeleng sebagian dari kedua belah pihak yg menjijikkan di linimasa.

Tapi ketika sekarang di linimasa mulai muncul suara-suara kecil ribut case Cak Nun vs PBNU ini, saya gatel tergelitik ingin ikutan mengungkapkan perasaan.

Dari pengamatan subyektif sepintas saya, yg ribut buta masalah Cak Nun vs PBNU, itu:

  1. Bukan dari kalangan Maiyah atau Nahdliyin. Mereka cuman nyari kesempatan untuk memecah-belah dua kubu yg selama ini, ibarat diagram Venn, mereka adalah bidang interseksi/irisan yg sangat luas. Nyaris bisa dikatakan, tepatnya dikiaskan, bahwa jemaah Maiyah = Nahdliyin. Tapi ini tidak mutlak lho! Ini cuman kiasan, bukan faktualisasi sebenarnya.
  2. Nahdiyin gagap yg sotoy.
  3. Maiyah gagap yg sotoy.

“Ributnya” case Cak Nun vs PBNU ini sangat berbeda dengan tongkolnya kedua kubu: pro-Jokowi vs anti-Jokowi atau kubu pro-Ahok vs anti-Ahok. Mereka yg mendukung atau anti dengan cerdas dan cinta, terpaksa harus tergusur oleh mereka yg mendukung dan anti dengan tongkol dan dungu ~> ini yg dominan mendominasi linimasa dunia maya; dalam pengamatan subyektif sepintas saya.

Sementara dalam case Cak Nun vs PBNU, isinya justru jemaah yg sama-sama bermajelis taklim: menyimak sungguh-sungguh apa kata guru, ustadz, mursyid, kyai.

Maiyah maupun Nahdliyin, adalah dua dari segenap kekuatan besar dalam menjaga dan merawat Indonesia.

Satu-dua (dari kalangan Nahdliyin atau Maiyah) mungkin terlihat reseh. Tapi sangat bisa dikesampingkan.

Well sekali lagi, “perseteruan” ini seru. Serunya adalah karena mereka lebih banyak saling menggali satu sama lain; alih-alih saling menguruk satu sama lain sebagaimana umumnya perseteruan dua kubu yg ada. Kalo saya bahasakan, ini seperti dua saudara yg berdebat sengit dan keras bagaimana menyelamatkan warisan orang tua, bukan berebut mati-matian jatah warisan orang tua. Intinya, banyak adu cerdas dalam “perseteruan” ini ketimbang adu bolot.

Kalo (ada) yg reseh beneran dan banyak bolotnya, cek aja, dia kayaknya nyaris bisa dipastikan bukan Nahdliyin dan bukan Maiyah.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman,
Muslim WNI.

Foto nemu dari internet.

Atheis(me)

Tentu, saya pribadi tidak ingin menjadi atheis. Kebetulan di hati kecil menemukan gimana rasanya nikmat bersyukur. Sesuatu yg susah saya deskripsikan hanya dengan ucapan, namun begitu dalam saya rasakan di lubuk hati terdalam saya pribadi. Maka, persoalan hati saya beriman ini sementara biarlah menjadi ranah privat saya, bukan ranah publik yg musti ditunjukkan dengan pemenuhan eksistensi berupa penilaian dan pengakuan (oleh orang lain).

Sama artinya ketika hati kecil saya menolak atheisme, tentu ini adalah ranah privat saya yg tidak ingin saya carikan pemenuhan eksistensinya, misalnya dengan membunuh kaum atheis atau semacamnya. Sebab bisa jadi malah nanti saya yg terbunuh, soale badan mereka kebetulan pas lebih gedhe ketimbang badan saya. Hehehehehe….

Dan well, sebagai makhluk sosial yg mana saya hidup bersama dengan beragam jenis orang, maka kali ini saya ingin berbicara dengan saya sebagai bagian dari kesemuaan.

Menolak bukan berarti musti membenci. Saya menolak atheisme, tapi saya tidak (ingin) membenci atheis dan mengingkari kenyataan yg terwakilkan pada gambaran di poto ini.

Menurut beragam informasi yg ada, kebanyakan negara-negara dengan atheisme tinggi, kebanyakan di Eropa, emang lebih “islami” hasilnya:

– mereka berpendidikan dan berkeilmuan tinggi,
– kesehatan dan fasilitas kesehatannya sangat memadai,
– punya banyak penemuan teknolgi yg membantu memudahkan hidup dan kehidupan,
– sistem ekonominya stabil
– menghormati orang lain,
– bisa antri, dan
– tidak membuang sampah sembarangan.

Atau dengan kalimat sederhana: mereka malah bisa hidup dan menjadi masyarakat madani (civil-society), sesuatu yg menurut kisah-kisah “Islami” adalah apa yg dibentuk dan dibangun oleh Muhammad Rasulullah SAW.

Hal yg mustinya sangat bisa diraih oleh kaum muslimin, karena kitab sucinya berisi kemahailmuan dari segala jurusan/disiplin keilmuan, justru malah diraih oleh kaum atheist atau kaum “kadir”. Sedikit pengobatan atas kerinduan pemcapaian ini adalah adanya cerita pada era Islamic-golden-age, di mana Eropa masih diliputi kegelapan jahiliyah (kebodohan, keterbelakangan), sementara kaum muslimin telah berhasil mencetak barisan ilmuan yg bebas merdekan untuk berpikir dan menciptakan penemuan (invention) dan inovasi (inovation) dan segala bidang: kedokteran/kesehatan, matematika, fisika, astronomi, ekonomi, sosial, dll.

Selepas itu, meski bisa mengikuti gemerlapnya kemajuan dunia(wi), kaum muslimin kembali terpuruk serasa kembali ke jaman jahilitah, saat cahaya pencerahan Islam belom datang. Segala pencapaian pada era Islamic-golden-age berangsur berpindah ke benua Eropa, entah kenapa dan entah gimana kisahnya.

Banyak kemudian yg memanfaatkan pergantian era ini dengan alasan khalifah/khilafiah-lah, penjajahan budayalah, bahwa pencapaian re-Islamic-golden-age oleh bangsa barat itu adalah pencapaian kaum kafirlah, sampai kemudian ada yg menghibur diri dengan mengunggulkan angka fakta tingginya trend masuknya warga Eropa menjadi mualaf.

Sampai kemudian penentangan terbesar dari dalam diri kaum muslimin sendiri adalah dengan mengsekulerisasi: ini khasanah keilmuan Islam, yg ngomongkan beragam ritual atau amalan, dan yg itu adalah khasanah keilmuan umum (yg bukan kailmuan Islam).

Ini yg saya tolak mati-matian, Semua keilmuan: ekonomi, sosial, fisika, biologi, astronomi, bikin pesawat terbang, bikin mobil, mengembangkan metode pendidikan, dll. adalah keilmuan Islam atau ilmu agama Islam sejauh dikepentingkan untuk kemaslahatan umat manusia. Umat manusia, bukan cuman umat Islam.

Bagi saya, umat Islam adalah sesiapa yg memiliki kesadaran batiniah akan ketauhidan pada Sang Esa dan menjalankan tugasnya menjadi khalifah di muka bumi ini, yakni berbuat untuk peradaban, bukan untuk kebiadaban.

Ini pengertian yg saya pegang.

Tapi dari satu atau beragam pengertian lain, umat Islam sudah terpecah (baca: bertentangan), bukan lagi sekedar berbeda untuk bersama.

Dan pada paragraf terakhir di atas, itulah kemudian yg menjadi titik tekan atheis untuk “menusuk” kaum muslimin. Bahwa kita ini sudah pada taraf berpecah, bukan lagi berbeda. Yg mana perpecahan ini ibarat perang, masing-masing pihak berusaha menjadi kemenangan eksistens, hingga hasilnya kehidupanlah yg menjadi korban.

Kaum muslimin, yg konon kuat religinya, justru malah hidup terbelakang (pendidikan, keilmuan habbit antri dan mbuang sampahnya, dll.) di era yg semakin modern dan mutahir dalam beragam parameternya ini. Dan sekali lagi, kita terus-terusan “menolak” pencapaian kembali era Islamic-golden-age dengan terus mengsekulerkan/memisahkan: “ilmu agama” dan “ilmu umum”.

JANGAN salah pengertian, saya tidak ingin memuja-muji atheis(me), saya hanya ingin mengutarakan sejumput kenyataan yg ada di muka bumi ini. Bahwa inilah sepertinya gambaran kondisi yg ada sekarang.

Andai ada pertanyaan, kenapa kita kaum muslimin koq tidak bisa hidup (semaju) seperti mereka (kaum atheis itu – dalam bidang keilmuan sebagaimana pencapaian era Islamic-golden-age), apa yg musti kita jawabkan lik? Jawaban apa yg musti kita berikan lik?

Tentu tidak sekedar jawaban: wallahualam. Meski posting ini saya tutup dengan wallahualambisawab.

– Freema HW

CATATAN:

Kata ireligius mustinya tidak bisa sementah-mentah saya artikan atheis. Sebab bisa saja itu agnostik: bertuhan tapi tidak beragama. Tapi informasi yg ada, negara-negara yg maju itu memang tingkat atheismenya tinggi. Sehinga saya sementara mengkorelasikan ireligius dengan atheisme.

Plus kenyataan bahwa nyaris semua aliran Islam juga menolak agnostisme: ngakunya bertuhan tapi koq ndhak menjalankan “syariat”? Macam gitu.

Plus lagi, bahwa dominan pengertian yg ada adalah ketika orang “beragama” tapi bukan secara (aliran) Islam maka secara literal, searah, dan nirdialektika juga akan langsung disebut kafir.

Jadi frasa atheis yg saya pakai di sini selain atheis secara literal mungkin juga atheis secara klausal, yakni “non-muslim” dalam pengertian pada umumnya sekarang.

Daya angkawinya akan saya coba update nantinya kalo sempat. Ini tadi ngetiknya ndhak pake dikoreksi dulu soale. Tapi saya yakin, yg biasa mengikuti peredaran informasi secara luas bisa memahfumi postingan opini nirdata angkawi saya ini.

Tq.

Pengkhianat Adalah Sesiapa Yang Tak Mau Memajukan Negeri Ini

Konon, hanya 1 dari 1000 (atau 10.000?) orang Indonesia -negeri mayoritas muslim dan konon dengan populasi muslim terbesar di dunia- yg punya minat baca (buku). Kayaknya, secara kasar ini satu desa atau bahkan kecamatan hanya seorang saja yg demen mbaca buku.

Sedih. Miris. Tragis.

Padahal secara literal konon ayat pertama Al Quran jelas-jelas: Iqra’ …! Bacalah …!

Entah kurangnya minat baca (buku) ini terjadi sejak dulu atau sejak datangnya era digital, Indonesia rasanya masih teramat sangat jauh dari kemajuan kalo minat baca di negeri ini masih belum meningkat. Infrastruktur: jalan tol, gedung sekolah megah, bandara internasional, dll. adalah hal yg kita butuhkan namun saya rasa sama sekali bukanlah tolok ukur kemajuan negeri ini.

Minat baca (buku) yg tinggi (otomatis biasanya akan diikuti dengan habit: bicaranya berisi analisis berdasar data/fakta/informasi, tidak membuang sampah sembarangan, bisa antri, dan beradab dalam berlalu lintas) adalah tolok ukur sejati kemajuan bangsa dan negara ini.

Deasy Ibune Rahman: yuk terus mbentengi si kecil agar terus rajin membaca: Iqra’ bismi rabbikaladhī khalaq.

Dan tetap tebarkan inspirasi ke temen-temennya agar ikutan demen membaca. Meski susah karena orang tuanya kadang ada yg sama sekali “tak mendukung”: lebih demen beli pakaian atau henpon baru dll. yg bisa jadi ndhak terlalu dibutuhkan ketimbang beli buku.

Setidaknya, at least, mari selamatkan si kecil kita sendiri. Ini upaya terakhir yg bisa kita lakukan untuk bangsa, negara, agama, dan peradaban ini. Sebab, jika kita tak bersedia berusaha memajukan negeri ini: memajukan bangsa, negara, dan peradaban ini secara hakiki; rasanya kita telah menjadi pengkhianat atas tugas Allah pada kita: menjadi khalifah di muka bumi ini; untuk memimpin pergerakan diri kita guna bersama mengubah nasib: melanjutkan peradaban.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman

Segera Hapuskan Premium & Solar!

Pertamina mengklaim bahwa minat masyarakat terhadap Premium turun. Well, saya ndhak bermaksud membela atau menghujat Pertamina sama sekali. Tapi pada kenyataannya, kalo kita mau ngitung secara cermat dan teliti, pake Premium itu justru break-down-nya mahal, khususon buat kendaraan yang sudah lumayan modern: kompresi tinggi, injeksi tekanan tinggi, dan sebagainya.

Apalagi era sekarang ini, rata-rata kubikasi mesin tinggal setengahnya untuk mencapai tenaga yang sama dengan mesin-mesin era satu-dua apalagi tiga dasawarsa kemarin.

Apalagi denger-denger, BBM dengan oktan setara Premium itu udah lenyap di muka bumi ini, konon tinggal segelintir-dua gelintir negara yang masih pakai.

SEJAK sekian tahun lama, sejak jaman SBY, saya mencermati banyak penggemar otomotif ini malah berharap Premium dan Solar dihapus, agar ada unsur keterpaksaan bagi pengendara untuk membeli BBM dg oktan lebih tinggi, yang memang harganya kerasa lebih mahal namun pada kenyataannya break-down-nya lebih murah.

Kalo masih ada yang beralasan premium masih dibutuhkan oleh rakyat miskin bla bla bla, ya gimanalah caranya mereka dikasih uang mentah aja ketimbang membakar Premium/Solar yang bikin emisi sangat tinggi di jalanan dan mesin-mesin mereka malah mahal biaya perawatannya.

Atau yang paling bagus lagi, mereka diberdayakan secara intensif sehingga tidak lagi terus terjebak pada -maaf- mentalitas miskin yang harus disuapi subsidi individual secara langsung. Karena subsidi itu masih diperlukan untuk kebutuhan komunal.

Well, di mata saya yang juga sering ndhak pegang uang ini, ndhak punya duit itu keadaan. Namun (merasa) miskin itu adalah mentalitas. Bangsa ini akan susah maju kalo mentalitas (merasa) miskin ini terus dipeli hara, entah oleh siapapun untuk tujuan apapun.

Tapi inget lho, menolak (mentalitas) miskin bukan berarti (harus berkelakuan) sok kaya! Jelas koq ini bedanya!

***

Sekarang malah bagusan Pertamina ngeluarkan Pertamax Turbo. Ini jenis BBM yg paling dicari oleh kalangan otomotif. Harganya Pertamax Turbo itu mahal banget lho, tapi bikin mesin lebih optimal tingkat kerusakan/keausannya bisa dibilang lebih rendah, dan optimasi tenaga mesinnya tercapai.

Kalo kita perhatikan era sekarang ini, rata-rata kubikasi mesin tinggal setengahnya untuk mencapai tenaga yang sama dengan mesin-mesin era satu-dua apalagi tiga dasawarsa kemarin.

Jatuh-jatuhnhya: semua akan kerasa malah relatif lebih murah.

Jadi jangan dianggap mereka yang beli BBM oktan tinggi itu orang kaya yang enteng menghamburkan uang. Buktinya, BBM oktan tinggi dibeli oleh mereka-mereka justru untuk berhemat secara ekonomis: yakni agar biaya perawatan kendaraan sesuai dengan jangkanya, bukan lebih cepat ketimbang jangkanya.

Apalagi sekarang udah masuk era mobil listrik. Masih banyak kontroversi, yang saya lebih membacanya sebagai tantangan ketimbang kontroversi. Antara lain anggapan bahwa mobil listrik itu hanya memindah energi fosil ke sentra pembangkit listrik alih-alih mereduksi apalagi menghilangkannya; plus masih belum layaknya mobil listrik untuk mengganti mobil berbahan bakar fosil/minyak, terutama dari sisi jarak tempuh dan kecepatan recharging.

Tapi liat saja nanti, cepat atau lambat niscaya mobil listrik akan serupa mobil berbahan bakar fosil/minyak: jarak tempuhnya panjang dan baterenya bisa di-charge dengan cepat, atau semacam di-replace gitu dengan batere penuh daya tatkala yang nempel di mobil sudah (mulai) habis. Dan sentra pembangkit listrik pun mungkin juga akan berganti ke teknologi yang lebih ramah lingkungan, entah dengan sel surya yang makin murah atau bentuk lain.

Industri akan segera menciptakannya, karena mereka memang juga perlu barang baru sebagai sarana investasi baru untuk menciptakan keuntungan/profit baru yang terus-menerus dan tak pernah putus.

Dan saya cuman asyik jadi penonton saja ketimbang ikutan terjun di dalamnya untuk menimbun kapital dengan wahana perubahan ini.

***

MASIH berangggapan Premium/Solar untuk menyelamatkan orang miskin dan BBM oktan tinggi itu hanya sanggup dibeli oleh orang kaya-raya yang serba kelebihan duit?

Itu sudah bukan lagi teori basi, melainkan emang kenyataan basi. Mudah-mudahan demikian.

Dan jangan dikira kalo saya sanggup posting demikian ini artinya saya enteng banget beli bensin. Sebaliknya, ini malah matii-matian bermotor demi menghindari mbensini mobil terus-terusan. Ngerti po ra?

– Freema Bapakne Rahman
V8