Ikhlas

Si kecil kami, Aleef Rahman, udah mainan Blender 3D sejak kelas 3 SD, tepatnya MIN (madrasah ibtidaiyah negeri). Dia dulu sekolah di MIN Doko (MIN 2), Kediri

Kami ajari sepintas dasar-dasarnya, kemudian dia menyimak klip tutorial, yang entahlah koq begitu mudah diserap oleh anak usia 9 tahun/kelas 3 SD gitu; dan selanjutnya udah bikin macam-macam sendiri.

Masih sangat jauh dari sempurna, bahkan hingga hari ini. Obyek yang dia bikin masih sangat kurang detailnya. Poly-nya pun sedikit juga. Dan rendernya low-medium aja.

Karena masih terbatasnya waktu yang dia pakai, karena dia harus tetep belajar dan harus tetep main-main sama temen-temen kecilnya; sehingga pastinya tak cukup waktu untuk bikin obyek dengan detail tinggi dan poly yang buanyak.

Plus komputer kami emang apa adanya. Teramat apa adanya. Udah bisa running Blender dan bisa render aja udah bagus. Keseringan, dia perlu semaleman buat render. Sambil ditinggal tidur, dan pagi harinya baru dia cek hasilnya.

*

Kemudian kami bikinkan channel/kanal/saluran Youtube khusus untuknya. Hasil karyanya tak lagi kami muat berceceran di kanal Youtube atau akun Fesbuk kami.

Isi kanalnya masih teramat sedikit. Nanti pelan-pelan apa yang udah kami unggah di Fesbuk akan kami unduh dan kami unggah ulang ke kanal Youtubenya. Tapi mohon maaf sebelumnya, videonya acak-acakan. Ya nyutingnya, ya editingnya (lebih tepatnya tanpa editing sih). Karena orientasi kami hanya dokumentasi. Bukan eksistensi, apalagi promosi dan komersialisasi.

Dan kini si kecil kami udah besar. Physically, dia lebih besar/lebih tinggi dari kami, orang tuanya ini. Plus bertambah lebih besar juga daya pandangnya.

Kini dia sudah bisa bikin klip youtubenya sendiri, 100% dia kerjakan sendiri.

Bikin story-board sendiri, meski cuman sebaris kata, katakanlah demikian.

Bikin penyutradaraan sendiri, gimana dia musti nampilkan sudut pandang/arah kamera pengambilan gambar animasinya.

Bikin editing sendiri (mestinya ngetiknya: ngedit sendiri. Sudahlah. Hehehehehe….) Dia bikin scene pembuka, nyuplik video pengantar, dan nampilkan karya animasinya.

Bikin deskripsi sendiri di itu klipnya: bahwa dia pakai program animasi Blender 3D, program editing video Openshot, dan kesemuanya running di Ubuntu Linux, sistem operasi yang dia kenal sejak kecil setelah kami memutuskan purna dari MacOS saat dia belom bisa start dan shutdown komputer sendiri dulu.

Plus unggah semuanya di kanal Youtubenya.

Sebagaimana tampak di klip di atas itu.

*

Kini dia mulai seneng saat klipnya ada yg nge-like. Dia kini mulai memantau, berapa views klipnya.

Kini dia mulai memiliki harapan. Kini dia sudah mulai mengenal angka-angka.

Kini tugas kami bertambah lagi.

Kami harus terus memupuk harapannya: bikin klip animasi yg lebih bagus, yang disukai temen-temennya, namun tetap sesuai dengan isi hatinya sendiri.

Sekaligus kami harus membentenginya dengan keikhlasan: jangan hirau dan galau dengan kuantitas views atau subscriber, jangan hirau dan galau dengan angka-angka.

*

Di dunia yang semakin angkawi ini, serasanya semua ukuran/perameter apa-apa kini musti angkawi: kesuksesan, kegagalan, progres, regres, dll. Parameter kualitatif pun kadang dipaksa musti bisa diangkawikan juga: derma, sedekah, dll.

Ini beratnya kami membentengi dia, sebagaimana kami tetap berat membentengi diri sendiri:

hidup ini harus seperti menanam tanaman di sawah/ladang.

Kita harus tekun memilih dan memilah bibitnya. Kita harus telaten menanam biji/benihnya. Kita harus sungguh-sungguh merawat tanamannya: menyiangi rumputnya, mengusir ulat-ulatnya, … pokoknya memperlakukan tanaman itu seperti anak kita sendiri;

tapi kita dilarang, jangan sampai, kalkulasi/itungan-itungan di depan: berapa kita telah investasi dan berapa nanti pendapatan panennya.

Sebagaimana semua diajarkan oleh pakpuh kami yang dipercaya oleh keluarga untuk ngopeni sawah keluarga di Blitar Selatan sana.

Semuanya harus ikhlas.

Sementara dunia di luar sana, terus dan semakin kencang bergerak dengan angka: diskonan, gratisan pembelian, proyeksi profit, tingkat laba, return of investment, dll dll dll.

Kami harus kuat terjepit di sudut larinya dunia ini: kerjakan semua dengan sungguh-sungguh sesungguh-sungguhnya, tapi musti ikhlas untuk tidak pernah berharap dengan hasilnya nanti, tidak berharap dengan angka-angka.

Sementara kami sendiri harus bertarung melawan angka-angka: token listrik harus rutin diisi, bensin motor harus kembali diisi lagi, buku si kecil juga waktu beli lagi.

Dunia emang berat.

Berat, karena kita harus memenangkan diri sendiri, tanpa harus mengalahkan satupun siapapun pihak lain. Sementara sudah jamak di era sekarang, kemenangan kita adalah hasil mengalahkan orang/pihak lawan.

Berat, karena kami memilih untuk sekuat mungkin menghindari kejamakan era sekarang itu, menghindari memilih parameter angkawi dalam hidup ini. Dan entahlah kami mampu atau tidak dengan ini semua. Kalo toh mampu pun, seberapa mampu kami bertahan, kami sendiri juga tak tahu.

Yang penting dijalani aja (dulu), dilakoni kanthi laku.

INI tentang mblajari si kecil, dan diri kami sendiri, tentang ikhlas. Saat dia sudah mulai “mengenal angka” dan saat kami harus bertarung dengan angka-angka.

Semoga kami masih terus kuat menggali dan menggapai ridho-Nya senantiasa. Allahuma aamiin.

– Freema & Deasy,
Bapakne & Ibune Aleef Rahman.

Advertisements

Indonesia = Gotong Royong

Saya sih gk pernah peduli Indonesia ini mau jadi negara kapitalis, komunis, republik islam, negara federal, republik demokratik, khilafah islamiyah, persemakmuran, protektorat, kerajaan, pilpres/pilkada langsung ataupun mufakat permusyawarakatan perwakilan, diktatorian, proletar, progresif, alternatif, permisif, protektif, sosialis, fasis, borjuis, hedonis, sadis, shadowmasokis, penis, klitoris, kumis, betis, klimis, amis, najis, manis, cookies, sinis, optimis, realistis, feminis, filantropis, pianis, violis, gitaris, agamis, atheis, quranis, hadis, nahdiyin, muhammadiyin, wahabi, khawarij, sunni, syiah, ahmadiyah, robiah, katijah, katenah, romingah, asiyah, aisyah, aisiyah, fatimah, fathonah, patonah, ngalkamdulillah, petekah, sepedah, muhammad, mohammad, mochammad, antek asing, antek aseng, ….. whatever.

Saya cuman takut kalo negara, negeri, bangsa, dan masyarakat Indonesia kehilangan (jiwa, semangat, hakikat, dan kultur) GOTONG-ROYONG.

.

Gotong-royong, akan meleburkan segala jenis beragam macam dan segenap perbedaan yg ada.

Gotong-royong, adalah senjata paling jitu untuk menerjang hambatan kita dalam berbangsa dan bernegara.

Gotong-royong, adalah solusi jitu menjawab rumus dan formulasi kita hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Gotong-royong, dengan sendiri mebuat kita berdaulat dan berkesatuan.

Bhinneka Tunggal Ika, lima sila Pancasila, adalah manifestasi nyata hakikat, jiwa, semangat, & budaya gotong-royong bangsa dan negara ini, negeri ini.

Apapun paham, pakem, paugeman, paugeran pribadi kita masing-masing; dengan bergotong-royong semuanya akan tetap terjaga di dalam diri kita masing-masing namun bisa luruh dan lebur saat kita bersama-sama.

Bergotong-royong di segala bidang, adalah langkah ampuh dalam memajukan Indonesia.

.

Hilangnya (amanah) gotong-royong, mungkin bisa bikin Indonesia bubrah.

Hilangnya gotong-royong, bisa dimulai dari lunturnya terlebih dahulu.

Melunturkan gotong-royong, bisa diawsali dengan kita cengkrah.

Saya hanya takut satu hal ini saja: negara, negeri, bangsa, dan masyarakat Indonesia kehilangan GOTONG-ROYONG.

– Freema Bapakne Rahman

Zonasi

Sepintas dari pengamatan kami yg sangat sepintas, berhubung tahun ini si kecil (udah) masuk ke SLTP,

dari pergelutan dan pergulatan ibune si kecil melawan tenggat, berjibaku melawan waktu, pontang-panting ngurusi sekolah anaknya (aku mung dapuk supir, ora ngerti blas apa sing diurus emake thole ๐Ÿ˜‚),

sistem zonasi ini kami rasakan membawa pengaruh yg teramat sangat positif di kota kecil Kediri sini.

Dulu, semua pada berebut masuk SMPN 1 Kediri Kota.

Anak-anak pinter dari pucuk gunung dan luar kota pada berebut bermodal NEM dan kepercayaan tinggi, masuk ke SMPN 1 Kediri Kota. Saia termauk alumnus sana.

Alhasil, sekolah ini sukses bertahun-tahun jadi menara gading yang tak retak.

Segala kejuaraan mereka sabet pialanya. Lomba apapun. Nyaris tak tersisa buat lainnya. Bisa dibilang demikian.

Mulai lomba bidang studi, olah raga, hingga Pramuka dan gerak jalan agustusan.

Kalo bukan SMPN 1 Kediri Kota, maka itu artinya adalah sekolah dengan kasta lebih rendah, di bawahnya.

Kini, dengan sistem zonasi, mendadak semua malik grembyang, berubah 180 derajat, seperti terbaliknya telapak tangan.

Orang tua gk peduli lagi dengan SMP 1 itu.

Semua berlomba mendaftarkan anaknya ke sekolah terdekat.

Dan denger-denger, alhasil sekolah di lereng gunung Kelud sana konon rataan NEM atau NEM tertingginya -entahlah- setanding dengan sekolah di pusat kota. Kami belom pegang data faktualnya untuk ini. Tapi sepintas dari pengamatan siswa yg diterima di sekolah-sekolah terdekat kemarin itu, bisa kami tarik kesimpulan kasar, emang kini kondisi siswa tampaknya lebih merata. Kalo toh belom merata, setidaknya tak lagi terfokus ke satu titik. ~> #future research#

Tampaknya kini orang tua memang lebih mengejar pendidikan untuk anaknya, bukan lagi mengejar sekolah.

***

Beberapa suara sumbang tetep masih saja kami dengar. Alasan yg terungkap antara lain: khawatir sekolah pinggiran kualitas pendidikan dan sarana-prasarananya berbeda dengan di kota, khawatir kualitas gurunya berbeda, dan sebagainya.

Tampak faktual, tapi lebih ke subyektif-diskriminatif rasanya.

Tebakan kami, mungkin mereka kecewa, karena sekolah kota yg jadi tujuannya, tak lagi menjadi sekolah menara gading dan jadinya sama saja dengan sekolah-sekolah lain. Mungkin.

Dan persoalan kualitas guru atau sarana-prasarana, yg okelah taruh kata masih berbeda, mungkin seiring perjalanan waktu bisa akan semakin seimbang.

Mengingat kualitas kemampuan/kompetensi siswa kini bisa dibilang merata dan tersebar.

Who knows aja.

Ini sedikit pengalaman kecil kami.

***

Belakangan kemudian, si kecil milih masuk MTsN ketimbang SMP, yg emang gk ada zonasi & regulasinya ikut kemenag, bukan kemendikbud. Tapi tetep lumayan jadi rebutan juga – nyaris semua MTsN di sini, apalagi yg favorit.

– Freema Bapakne Rahman

Perisakan

https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4199435/sekolah-akui-kecolongan-bocah-bandung-dibully-sejak-kelas-4-sd


Si kecil kami badannya gedhe, tapi berpikirnya lurus. Dia susah menangkap guyon-guyon pasaran kebanyakan temen-temen sebayanya. Bagi dia, “lucu” itu kalo ada pesawat yg salah konsturksi, kereta yg salah desain, dan sejenisnya. Biasanya, hal demikian ada di Natgeo atau kanal Youtube. Intinya, hal yg sama sekali gk umumlah untuk kebanyakan (baca: nyaris semua) anak-anak seusianya.

Karena pola pikirnya yg gk selaras sama komunitasnya, jadinya si kecil malah sering dirisak (bullyed) sama temen-temennya. Baik dirisak dengan kata-kata – ini yg paling sering, maupun tindakan.

Pas kami suruh dia mbales/pukul aja temennya yg suka merisak, dia bilang: “Jangan, nanti aku gk disayang Allah…”

***

Dulu pernah, mungkin karena gk kuat menahan hati karena dirisak temen-temennya, akhirnya meledaklah emosinya. Temennya dilempar pake botol air mineral hingga hidungnya mengucurkan darah.

Kami berdua orang tuanya si kecil ini dipanggil ke sekolah. Dinasihati sama pihak sekolah agar si kecil lebih kami perhatikan.

Ya kami jawab aja dengan enteng ke bu gurunya: “Bu, anak saya yg menjadi pelaku atau korban perisakan sehingga bereaksi seperti itu?

Masih “untung” si kecil kami cuman melempar botol ke temennya, bukan tidak mungkin lho korban perisakan gini meledak dan membunuh temennya….”

Pihak sekolah terdiam.

Kayaknya perkara perisakan gini, juga fenomena masih massifnya rakyat yg buang sampah sembarangan, belom menjadi perkara yg serius untuk ditangani di negeri ini,

Dan pihak sekolah belom mau kalah.

Kata bu gurunya: “Pas kami tanya ke para santri (sekolahnya thole kala itu di madrasah ibtidaiyah, sekarang dia udah masuk MTs) siapa yg pagi tadi gk sholat (baca: sembahyang) Subuh, putra njenengan yg tunjuk jari. Katanya karena bapaknya juga bangun (ke)siang(an) jadi gk subuhan.”

Ya kami jawab dengan santai: “Alamdulillah kalo gitu bu, putra kami jujur. Itu temen-temennya yg gk ngacung, dijaminkah kalau mereka semua subuhan? Jadi sebenarnya siapa yg ‘sholat’ di sini: si kecil kami yg jujur bilang gk subuhan atau anak-anak yg mungkin diem gk ngaku kalo gk subuhan?”

Well, soale sedikit banyak kami kenal dan tau modelannya temen-temennya si kecil yg kadang kala main ke rumah.

Pihak sekolah melongo lagi.

Kayaknya maksud baik mereka jadi ancur lebur karena aka model orang tua murid kayak kami.

Dan yg pasti, kami pun si kecil hingga detik ini tetaplah menjadi warga bumi yg teralienasi. Kami susah banget diterima di banyak komunitas, karena cara berpikir kami. Dan kami juga songong: males ngikuti pola pandang dan pola pikir publik yg kadang … well, kami susah untuk menggambarkannya. Sebab pasti kami akan menjadi pihak yg salah karena menggambarkan kultur dan budaya dominan mayoritas.

Nanti akan kami sambung lagi ke bagian lain, tentang teralienasinya si kecil kami.

– FHW HDW

ctrl+enter

Saya masih menemukan, beberapa kali jika gk bisa dibilang sering, orang bikin page-break dengan menekan enter buuuanyakkk kali hingga ke halaman berikutnya; alih-alih dengan “ctrl+enter”.

Dan barusan yg saya dapati adalah sebuah dokumen dari pemerintah.

Pentingkah hal demikian untuk diperhatikan?

Bagi mereka mungkin tidak. Dan bagi banyak orang juga tidak. Bagi Indonesia mungkin juga tidak. Selama pekerjaan bisa selesai sesuai dengan tugas yg dihadapi. Selama halaman bisa ter-break sesuai dengan isi yang harus diketikkan.

Cuman kalo kita mau jujur mengakui, dari sini sebenarnya menunjukkan, rendahnya tingkat efektivitas kerja & kinerja SDM yg melakukannya.

Bayangkan untuk mem-break halaman harus menekan enter buanyakkk kali, meski waktunya mungkin cuman dalam hitungan detik, tapi ini adalah proses pekerjaan yg berulang-ulang dan sangat membuang waktu. Proses yg panjang dan tidak ringkas.

Belom lagi kalo ada perubahan isi atau perubahan layout, bisa-bisa ntar ngeditnya dari awal halanan hingga akhir halaman.

Iya kalo cuman 10 halaman. Kalo ratusan halaman, gimana coba?

Padahal hanya dengan ctrl+enter, itu cuman satu proses: cring, jadi!

Dan ketika ada satu halaman diedit, halaman yang sebelum atau sesudah ter-break tidak akan terganggu posisinya.

“Yaaa… kan gk semua orang ngerti dan bisa!”

Baiklah. Tapi ini sebenarnya ilmu yang sangat dasar di dunia ketik-mengetik.

Ini mirip seperti pengetahuan tentang perlu (baca: wajib)nya kita menyalakan sein kendaraan saat berbelok, sekalipun belok kiri.

Kita tetap bisa berbelok (kiri) meski sein tak kita nyalakan. Motor tidak akan macet, laju tak akan terhenti.

Beda dengan jika tanki tak kita isi bahan bakar atau kampas rem habis tak kita ganti., Itu efeknya direct.

Lampu sein? Itu mirip ctrl+enter.

Tak ada efek direct. Tapi ini efek mentalitas (kita bicara sisi teknis dan psikologis dulu, terlepas dari sisi hukum kewajiban hukum menyalakan sein dalam hal ini).

Kita semua tau kan apa bedanya sesiapa yang menyalakan sein saat belok (kiri) dengan yang tidak?

Mungkin seperti itulah bedanya yang menekan ctrl+enter sekali dengan puluhan enter berkali-kali.

“Yaaa… satu kasus ini kan bukan berarti semua aparat pemerintah seperti itu.”

Betul banget. Tapi benerkah ini cuman oknum atau aparat minoritas?

Mudah-mudahan memang demikian: ini hanya oknum dan aparat minoritas.

Bukan sebagaimana persepsi kotor yg selama ini bercokol di otak saya: yg kinerja efektif dan efisien, yg skill-nya mumpuni, yg pelayanannya profesional itulah yg oknum dan minoritas.

Mudah-mudahan itu tadi.

***

INI baru masalah halaman. Belum masalah lain yang lebih banyak, lebih kompleks, dan berdampak luas dan besar.

Alhasil, macam kasus eKTP kemarin sampe bisa sebegitunya: antri berbulan-bulan, masyarakat menghabiskan waktu dan tenaga untuk sesuai yang sama sekali tak produktif. Yang mending dibuat tidur ketimbang kepanasan di balai kecamatan atau apalah nama tempatnya.

Sementara di sana-sini, bank bisa menerbitkan jutaan kartu ATM yang lebih canggih dalam waktu yang sedemikian singkat.

Itu baru satu contoh yang kelihatan.

KALO di pelayanan swasta, kita tinggal ganti provider/produsen jika adalah hal yang tidak memuaskan.

Kalo pelayanan pemerintah tidak memuaskan, mau ganti dan pindah ke mana coba? Sementara kita sudah mati-matian mencintai negeri ini dan mati-matian ingin memajukannya sekuat tenaga. Syangnya, gate utama niatan ini, yakni pemerintah, sama sekali jauh panggang dari api, jauh pelayanan pemerintah dari pelayanan swasta.

Wahai pemerintah, gk usah banyak kampanye menghabiskan anggaran untuk koar-koar bahwa Anda semakin baik melayani rakyat.

Simpan anggaran yg mungkin milyaran itu untuk sesuatu yg riil dan nyata.

Pemerintah ndhak dituntut menghasilkan laba. Karena itu gk usah bikin promosi pencitraan.

Baiknya bikinlah kerja nyata dalam senyap, dengan hanya satu hasil dan parameter saja: tak ada layanan swasta manapun yg bisa mengalahkan efektif dan efisiennya layanan pemerintahan.

Itu saja sudah cukup.

Regards,
– FHW,
hanyalah sesosok rakyat abal-abal tanpa skill atawa kemampuan mumpuni. Mangkanya ndhak cocok jadi aparatur pemerintahan.

Nyetir Lagu, Mendengarkan Kendaraan

Bukannya pro atau kontra sama pak plokis isilop, tapi kalo saya pribadi emang juarang ndengerkan musik di perjalanan.

Bukannya gk pernah apalagi gk pernah sama sekali, pernah dan lumayan sering juga koq.

Cuman overall saya lebih suka tanpa musik, atau volume lirih/secukupnya aja muternya; dan enakan ndenger radio atau ngobrol sama istri.

Jadi, haram bin mubadzir nbih pasang audio kenceng-kenceng? Saya ndhak bilang gitu. Itu case-nya macam lampu HID yg warnanya buuuiiiruuu. Atau stop/tail-lamp yg harusnya merah dijadikan putih.

Boleh koq, kalau keperluannya kosmetikal-artistik, misalnya untuk kontes, karena itu -katakanlah- ada unsur keindahannya. Yaaa mobil dalam satu sisi tertentu kan juga merupakan benda seni, sebagai makanan psikologis. Atau apalah alasannya terserah. Ini sangat relatif sekali. Ndhak bisa di-gebyah uyah, di-judge dengan pukul rata.

Tapi kalo udah berbicara jalan raya, ya itu: aturan adalah di atas segalanya. Lamnpu depan buiru, stop/tail-lamp putih, ya hukumnya haram jadah. Membahayakan diri sendiri dan terutama orang lain. Bisa sampe nyawa urusannya. Kasarnya kata: gara-gara stop/tail lamp putih itu bisa jadi nyawa orang melayang. Bukankah ini sama artinya dengan pembunuhan (berencana yg dilakukan tanpa sengaja)?

Yakh intinya sih: driving is driving. An sich.

Kita musti bisa nyetir/mengendalikan lagu (agar tak mengganggu) dan mendengarkan, merasakan, get the feel dan keep in touch dengan kendaraan. Jangan samapi pas enak-enaknya ndengerkan musik kenceng di kabin, gk sadar kalo bumper lepas (ya embuh apa sebabnya, pokoknya contohnya gitu. ๐Ÿ˜› Weeekkk! ๐Ÿ˜€ Hehehehehehe)

MUSIK, radio, ngobrol itu mengganggu? Tergantung kitanya sih.

Pas istri nanyak sesuatu dan saya lagi butuh konsentrasi, ya jawabannya saya pending dulu bentar koq. Usainya baru saya bilang ke istri, “Eh nanyak apa tadi?”

Trus saya di keplak mesra. Saking mesranya sampe pipi saya panas, berasa ngecap tangan gitu.

Istrimu mesra gitu juga ndhak sama kamu lik?

Regards,
– Freema Bapakne Rahman
Supir keluarga.

*********

Ini penjelasan psikolog tentang musik di mobil itu:

Tapi memang saat mendengarkan musik di mobil, musik bisa membuat perhatian Anda teralihkan saat menyetir, atau istilah kerennya distraksi.

Menurut psikolog Agatha N. Ardhiati, 88 persen pengendara selalu mendengarkan musik di dalam kendaraan, sementara sisanya kadang-kadang saja atau tidak mendengarkan musik.

“Faktor-faktor distraksi adalah apa yang kita lihat, dengar, cium/hirup, rasakan, pikirkan. Sebenarnya walaupun lewat indera pendengaran, tetapi lewat musik kita bisa memunculkan emosi, perasaan tertentu, dan itu yang membuat jadi distraksi saat nyetir,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Alasan kedua musik bisa jadi distraksi saat menyetir adalah kita bisa tiba-tiba jadi mengkhayal, memikirkan pengalaman masa lalu.

“Jadi bukan hanya musiknya saja, tetapi efeknya bisa memunculkan emosi/perasaan tertentu,” ujar Agatha.

Jadi bagaimana mendengarkan musik yang benar dalam mobil? Dia menyarankan pengguna kendaraan memilih lagu-lagu atau membuat playlist yang bisa menjaga emosi.

“Kalau lagi galau, jangan setel lagu-lagu galau, diganti ama yang senang. Pilih musik yang sesuai yang bisa berfungsi menjaga perasaan, kalau tadi senang tetep senang,” ujarnya.

Namun ada kalanya saat nyetir kita benar-benar harus mematikan musik, misalnya saat parkir kendaraan.

“Matiin saja musiknya, jangan sampai tukang parkirnya sudah bilang setop-setop eh malah ‘dug!’ udah deh,” ujarnya.

Saat melalui jalan tikus yang sempit, kadang kita perlu mematikan musik, karena saat itu butuh konsentrasi yang tinggi.

“Tetapi kalau kalau situasi normal, biar moodnya bagus menyalakan musik sih oke-oke saja,” pungkasnya.

Lengkapnya silakan menuju dimari https://oto.detik.com/berita/d-3894221/heboh-larangan-dengarkan-musik-di-mobil-ini-penjelasan-polisi

Bukan Mak-kluwer!

Terima kasih pak, udah ngasih saya jalan duluan. Bapak baik banget, gk kayak pengendara lain yg kadang udah jelas gk berhak jalan tetep aja nekat nyrondol.

Tapi gini pak, dalam hal posisi kita sama, seimbang, atau dianggap setara; yakni ketika kita sama-sama jalan ntar kita bisa tabrakan;

atau ketika saya jalan itu bisa membuat bapak ngerem mendadak atau setidaknya ngerem dengan (lumayan) keras;

maka bapaklah yg harus jalan duluan.

Karena di regulasi lalu-lintas, bapak yg jalan lurus gitu punya hak sepenuhnya ketimbang saya yg hendak berbelok.

Jadi mustinya bapak tadi ndhak usah memelankan diri dan berhenti untuk ngasih kesempatan saya untuk berbelok.

Sayalah yg wajib menunggu bapak lewat dukuan, baru saya melaju berbelok.

Yaaa kecuali bapak dan di belakang bapak tuh puanjangggg barisannya, yg kayak gitu baru terima kasih banget jika bapak bersedia mem-pause barisan untuk memberikan kesempatan pengendara minoritas gini berbelok. ๐Ÿ˜€

Well…

Semoga selamat di perjalanan sampai tujuan ya pak. Sehat selalu buat bapak dan keluarga, berkah rejekinya senantiasa.

Kalo di Indonesia ini orang isinya mayoritas kayak bapak, betapa nyamannya lalu-lintas di negeri ini.

Saya impressed banget tadi sama ketulusan bapak ngasih jalan duluan ke saya.

Sayangnya orang kayak bapak ini sepertinya langka, laksana pandawa di kerumunan kurawa.

Tapi, meski cuman seuprit dibanding kurawa, pandawalah yg menang. Orang bala pandawa kayak bapaklah pemenang dalam kehidupan ini, meski mungkin bapak sering disleding pengendara-pengendara bala kurawa.

Barakallah.

– FHW
Bukan baladewa. Cuman generasi dewa19.