Menjaga dan Merawat Indonesia

Bismillahirahmanirahim.

Sejak pilpres-pilpresan 2014 silam, saya sudah menetapkan diri sebisa mungkin menghindari posting statuta politik. Memilih netral (ber)politik bukan berarti tidak mencintai bangsa dan negara ini kan?

Hingga sampe Pilkadal DKI yg bikin linimasa saya tampak teramat sangat njancuki, saya masih bisa menahan diri untuk ndhak terseret arus menggempur dan menempeleng sebagian dari kedua belah pihak yg menjijikkan di linimasa.

Tapi ketika sekarang di linimasa mulai muncul suara-suara kecil ribut case Cak Nun vs PBNU ini, saya gatel tergelitik ingin ikutan mengungkapkan perasaan.

Dari pengamatan subyektif sepintas saya, yg ribut buta masalah Cak Nun vs PBNU, itu:

  1. Bukan dari kalangan Maiyah atau Nahdliyin. Mereka cuman nyari kesempatan untuk memecah-belah dua kubu yg selama ini, ibarat diagram Venn, mereka adalah bidang interseksi/irisan yg sangat luas. Nyaris bisa dikatakan, tepatnya dikiaskan, bahwa jemaah Maiyah = Nahdliyin. Tapi ini tidak mutlak lho! Ini cuman kiasan, bukan faktualisasi sebenarnya.
  2. Nahdiyin gagap yg sotoy.
  3. Maiyah gagap yg sotoy.

“Ributnya” case Cak Nun vs PBNU ini sangat berbeda dengan tongkolnya kedua kubu: pro-Jokowi vs anti-Jokowi atau kubu pro-Ahok vs anti-Ahok. Mereka yg mendukung atau anti dengan cerdas dan cinta, terpaksa harus tergusur oleh mereka yg mendukung dan anti dengan tongkol dan dungu ~> ini yg dominan mendominasi linimasa dunia maya; dalam pengamatan subyektif sepintas saya.

Sementara dalam case Cak Nun vs PBNU, isinya justru jemaah yg sama-sama bermajelis taklim: menyimak sungguh-sungguh apa kata guru, ustadz, mursyid, kyai.

Maiyah maupun Nahdliyin, adalah dua dari segenap kekuatan besar dalam menjaga dan merawat Indonesia.

Satu-dua (dari kalangan Nahdliyin atau Maiyah) mungkin terlihat reseh. Tapi sangat bisa dikesampingkan.

Well sekali lagi, “perseteruan” ini seru. Serunya adalah karena mereka lebih banyak saling menggali satu sama lain; alih-alih saling menguruk satu sama lain sebagaimana umumnya perseteruan dua kubu yg ada. Kalo saya bahasakan, ini seperti dua saudara yg berdebat sengit dan keras bagaimana menyelamatkan warisan orang tua, bukan berebut mati-matian jatah warisan orang tua. Intinya, banyak adu cerdas dalam “perseteruan” ini ketimbang adu bolot.

Kalo (ada) yg reseh beneran dan banyak bolotnya, cek aja, dia kayaknya nyaris bisa dipastikan bukan Nahdliyin dan bukan Maiyah.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman,
Muslim WNI.

Foto nemu dari internet.

Pengkhianat Adalah Sesiapa Yang Tak Mau Memajukan Negeri Ini

Konon, hanya 1 dari 1000 (atau 10.000?) orang Indonesia -negeri mayoritas muslim dan konon dengan populasi muslim terbesar di dunia- yg punya minat baca (buku). Kayaknya, secara kasar ini satu desa atau bahkan kecamatan hanya seorang saja yg demen mbaca buku.

Sedih. Miris. Tragis.

Padahal secara literal konon ayat pertama Al Quran jelas-jelas: Iqra’ …! Bacalah …!

Entah kurangnya minat baca (buku) ini terjadi sejak dulu atau sejak datangnya era digital, Indonesia rasanya masih teramat sangat jauh dari kemajuan kalo minat baca di negeri ini masih belum meningkat. Infrastruktur: jalan tol, gedung sekolah megah, bandara internasional, dll. adalah hal yg kita butuhkan namun saya rasa sama sekali bukanlah tolok ukur kemajuan negeri ini.

Minat baca (buku) yg tinggi (otomatis biasanya akan diikuti dengan habit: bicaranya berisi analisis berdasar data/fakta/informasi, tidak membuang sampah sembarangan, bisa antri, dan beradab dalam berlalu lintas) adalah tolok ukur sejati kemajuan bangsa dan negara ini.

Deasy Ibune Rahman: yuk terus mbentengi si kecil agar terus rajin membaca: Iqra’ bismi rabbikaladhÄ« khalaq.

Dan tetap tebarkan inspirasi ke temen-temennya agar ikutan demen membaca. Meski susah karena orang tuanya kadang ada yg sama sekali “tak mendukung”: lebih demen beli pakaian atau henpon baru dll. yg bisa jadi ndhak terlalu dibutuhkan ketimbang beli buku.

Setidaknya, at least, mari selamatkan si kecil kita sendiri. Ini upaya terakhir yg bisa kita lakukan untuk bangsa, negara, agama, dan peradaban ini. Sebab, jika kita tak bersedia berusaha memajukan negeri ini: memajukan bangsa, negara, dan peradaban ini secara hakiki; rasanya kita telah menjadi pengkhianat atas tugas Allah pada kita: menjadi khalifah di muka bumi ini; untuk memimpin pergerakan diri kita guna bersama mengubah nasib: melanjutkan peradaban.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman

Segera Hapuskan Premium & Solar!

Pertamina mengklaim bahwa minat masyarakat terhadap Premium turun. Well, saya ndhak bermaksud membela atau menghujat Pertamina sama sekali. Tapi pada kenyataannya, kalo kita mau ngitung secara cermat dan teliti, pake Premium itu justru break-down-nya mahal, khususon buat kendaraan yang sudah lumayan modern: kompresi tinggi, injeksi tekanan tinggi, dan sebagainya.

Apalagi era sekarang ini, rata-rata kubikasi mesin tinggal setengahnya untuk mencapai tenaga yang sama dengan mesin-mesin era satu-dua apalagi tiga dasawarsa kemarin.

Apalagi denger-denger, BBM dengan oktan setara Premium itu udah lenyap di muka bumi ini, konon tinggal segelintir-dua gelintir negara yang masih pakai.

SEJAK sekian tahun lama, sejak jaman SBY, saya mencermati banyak penggemar otomotif ini malah berharap Premium dan Solar dihapus, agar ada unsur keterpaksaan bagi pengendara untuk membeli BBM dg oktan lebih tinggi, yang memang harganya kerasa lebih mahal namun pada kenyataannya break-down-nya lebih murah.

Kalo masih ada yang beralasan premium masih dibutuhkan oleh rakyat miskin bla bla bla, ya gimanalah caranya mereka dikasih uang mentah aja ketimbang membakar Premium/Solar yang bikin emisi sangat tinggi di jalanan dan mesin-mesin mereka malah mahal biaya perawatannya.

Atau yang paling bagus lagi, mereka diberdayakan secara intensif sehingga tidak lagi terus terjebak pada -maaf- mentalitas miskin yang harus disuapi subsidi individual secara langsung. Karena subsidi itu masih diperlukan untuk kebutuhan komunal.

Well, di mata saya yang juga sering ndhak pegang uang ini, ndhak punya duit itu keadaan. Namun (merasa) miskin itu adalah mentalitas. Bangsa ini akan susah maju kalo mentalitas (merasa) miskin ini terus dipeli hara, entah oleh siapapun untuk tujuan apapun.

Tapi inget lho, menolak (mentalitas) miskin bukan berarti (harus berkelakuan) sok kaya! Jelas koq ini bedanya!

***

Sekarang malah bagusan Pertamina ngeluarkan Pertamax Turbo. Ini jenis BBM yg paling dicari oleh kalangan otomotif. Harganya Pertamax Turbo itu mahal banget lho, tapi bikin mesin lebih optimal tingkat kerusakan/keausannya bisa dibilang lebih rendah, dan optimasi tenaga mesinnya tercapai.

Kalo kita perhatikan era sekarang ini, rata-rata kubikasi mesin tinggal setengahnya untuk mencapai tenaga yang sama dengan mesin-mesin era satu-dua apalagi tiga dasawarsa kemarin.

Jatuh-jatuhnhya: semua akan kerasa malah relatif lebih murah.

Jadi jangan dianggap mereka yang beli BBM oktan tinggi itu orang kaya yang enteng menghamburkan uang. Buktinya, BBM oktan tinggi dibeli oleh mereka-mereka justru untuk berhemat secara ekonomis: yakni agar biaya perawatan kendaraan sesuai dengan jangkanya, bukan lebih cepat ketimbang jangkanya.

Apalagi sekarang udah masuk era mobil listrik. Masih banyak kontroversi, yang saya lebih membacanya sebagai tantangan ketimbang kontroversi. Antara lain anggapan bahwa mobil listrik itu hanya memindah energi fosil ke sentra pembangkit listrik alih-alih mereduksi apalagi menghilangkannya; plus masih belum layaknya mobil listrik untuk mengganti mobil berbahan bakar fosil/minyak, terutama dari sisi jarak tempuh dan kecepatan recharging.

Tapi liat saja nanti, cepat atau lambat niscaya mobil listrik akan serupa mobil berbahan bakar fosil/minyak: jarak tempuhnya panjang dan baterenya bisa di-charge dengan cepat, atau semacam di-replace gitu dengan batere penuh daya tatkala yang nempel di mobil sudah (mulai) habis. Dan sentra pembangkit listrik pun mungkin juga akan berganti ke teknologi yang lebih ramah lingkungan, entah dengan sel surya yang makin murah atau bentuk lain.

Industri akan segera menciptakannya, karena mereka memang juga perlu barang baru sebagai sarana investasi baru untuk menciptakan keuntungan/profit baru yang terus-menerus dan tak pernah putus.

Dan saya cuman asyik jadi penonton saja ketimbang ikutan terjun di dalamnya untuk menimbun kapital dengan wahana perubahan ini.

***

MASIH berangggapan Premium/Solar untuk menyelamatkan orang miskin dan BBM oktan tinggi itu hanya sanggup dibeli oleh orang kaya-raya yang serba kelebihan duit?

Itu sudah bukan lagi teori basi, melainkan emang kenyataan basi. Mudah-mudahan demikian.

Dan jangan dikira kalo saya sanggup posting demikian ini artinya saya enteng banget beli bensin. Sebaliknya, ini malah matii-matian bermotor demi menghindari mbensini mobil terus-terusan. Ngerti po ra?

– Freema Bapakne Rahman
V8

Lenyapkan Kerukunan

Yang paling mengerikan jika Indonesia kuat memilikinya adalah: kerukunan.

Jikalau semua suku, semua umat beragama, semua aliran agama, semua golongan, hobi banget saling rukun saling tolong saling memaafkan saling memberi saling membantu getol melindungi semua umbar senyum gemar tertawa berpikir dewasa berhati bijak berlaku bajik dll. serta bersatu padu bergotong-royong saling mengisi dan memajukan kehidupan ketentraman kedamaian bersama;

jikalau semua suku, semua umat beragama, semua aliran agama, semua golongan demen banget menolak perpecahan melupakan friksi/gesekan cepet memaafkan muak menyakiti ndhak gampang tersinggung dll.;

maka Indonesia akan teramat susah untuk dikuasai dan dikendalikan oleh demi untuk kepentingan siapapun.

Maka kerukunan harus sebisa mungkin dieliminasi kalo perlu dilenyapkan keberadaan dan kekuatannya dari negeri ini dengan segala cara segala taktik segala strategi segala metode segala alasan segala apapun; mulai paling kasar sampai paling halus.

Tentunya akan sangat mengerikan jika kerukunan ada teramat kuat di negeri ini, maka Indonesia akan teramat susah untuk dikuasai dan dikendalikan oleh demi untuk kepentingan siapapun.

Tentunya akan sangat menyenangkan jika kerukunan bisa dilenyapkan dari negeri ini. Maka kedaulatan dan kemandirian akan runtuh dengan sendirinya dari negeri ini. Indonesia akan kekal hidup dalam dikte.

Maka akan sangat mengerikan jika kerukunan dan kedamaian hidup teramat kuat di negeri ini.

– FHW

(Un)friend

Duluuu, saya numpang akun fesbuk istriku untuk berinteraksi. Padahal saya udah punya akun fesbuk sendiri. Hingga kemudian saya akhirnya pakai akun fesbuk sendiri.

Karena waktu itu saya menggunakan fesbuk murni untuk berinteraksi dengan asas silaturahmi. Dan buat ngomongin BMW tentunya.

Satu per satu, friendlist-ku mulai terisi oleh teman. Baik saya yang nge-add atau saya di-add.

Semuanya berjalan dengan riang dan gembira.

Kami saling membahas aspal yang bolong. Keluarga dan si kecil masing-masing temen, dan kehidupan secara universal.

Semua bisa berbicara dengan bahasanya ungkapan masing-masing, dan semua bisa saling menerima perbedaan bahasa pikir masing-masing.

Semua berbagi ide, berbagi pandangan, berbagi sudut pandang. Berbagi perbedaan, mengupas kesamaan. Semua indah. Indah semuanya.

Kami berbicara segala hal yang penting maupun tak penting, bermuatan maupun tak bermuatan, hanya demi satu nafas: silaturahmi.

Berhubung ini akun “hanya untuk” bersilaturahmi, maka setting posting saya default-kan ke friend. Bukan publik. Hanya teman fesbuk saya yang bisa membaca posting saya.

Karena memang posting cuman buat pertemanan saja.

Bicara yang “remeh temeh”, sekali-sekali bicar apedas dan menggigit, atau bicara dengan bahasa timuran ala sini, cuman buat suka-suka dengan sesungguhnya suka-suka.

Continue reading

Jangan Pernah Lelah Untuk Mencintai Indonesia

“Yang paling tidak mengerti, biasa paling keras memaki.”

“Saya disumpah untuk taat pada hukum dan undang-undang. Selama aspirasi rakyat tidak melanggar hukum pasti diperjuangkan!”

“Jangan pernah lelah untuk mencintai Indonesia.”

“Kamu-kamu belajar yang rajin, jauhi narkoba, sayangi teman. Suatu hari gantikan kami ya?”

Ridwan Kamil

Indonesia …!

Banjir di Jakarta (lagi). Membuat saya muak baik kepada pendukung maupun pembenci gubernur Jakarta.

Pendukung gubernur cuman mati-matian memberitakan berita pro-nya. Seolah sang gubernur adalah dewa yang bisa menuntaskan segalanya. Sucks!

Pembenci gubernur, bahkan sampe yang bukan warga Jakarta, mulai meledak posting meledeknya. Kalangan ini yang bukan warga Jakarta gaya postingnya khas: pura-pura menyindir. Tanpa berani menyindir beneran. Bencong!

***

Saya bukan warga Jakarta. Sayangnya, Jakarta seolah mewakili Indonesia. Indonesia seolah cuman Jawa. Jawa seolah cuman Jakarta. Sakit bener negeri ini.

Belanda sudah bener menata Jakarta. Air mustahil dilawan di Jakarta. Makanya mereka bikin kanal. Bikin jalan air. Yang justru perlu banyak-banyak air biar lancar jalan airnya.

Entah kenapa semua rencana Belanda ini seolah rusak semua.

***

Sukarno punya ide cerdas. Meski nuansanya politis kala itu. Ia ingin memindah ibukota negara ke tempat yang netral. Dilipihlah Palangka Raya.

Pilihan sempurna dan strategis.

Kalimantan sangat rendah potensi gempanya. Pun tingkat kesuburan tanahnya bagusan Jawa. Dan Palangka Raya berada di tengah-tengah Indonesia. Asal keadilan bisa lebih merata.

Andaikan Palangka Raya jadi ibukota negara, pasti asyik. Mungkin jalan tol akan banyak-banyak dibangun di Kalimantan. Tambang-tambang dan pembabatan hutan biar lebih bisa dikendalikan. Jawa biar jadi lumbung pertanian saja. Buat menjamin kenyangnya perut bangsa.

Para profesor kemarin-kemarin juga udah ngeluarkan rekomendasi: pindah ibukota negara ke Palangka Raya. Jakarta biarkan jadi pusat/ibukota bisnis saja. Namun negara tak pernah menggubrisnya.

***

Memindah ibukota negara mungkin akan lebih menstabilkan kondisi politik negeri ini. Tentu ini hal yang ndhak disukai oleh para bandar pemain negeri ini.

Jakarta masih terlalu ayik buat di(per)mainkan.

Pendukung dan penentang (gubernur) Jakarta masih sangat elok untuk diadu dengan segala dalih dan apapun alasannya.

Indonesia masih belum selamat dari ancaman perpecahan.

Dan kita-kita semakin memperkuat ancaman ini. Dengan beragam dalih, kita terus menguatkan potensi perpecahan untuk negeri ini.

Kita semualah rupanya yang menghendaki, kelak Indonesia jadi Iraq, Libya, Mesir, Suriah. Orang asing hanya memainkan kartunya saja. Kita ternyata yang membuka meja judinya: membuka perpecahan (dengan sesama, antar sesama).

Ya apa ya?

– FHW,
WNI.