Salut Dengan BBM Malaysia

Salut dengan BBM (bahan bakar minyak) di Malaysia, khususnya BBM diesel mereka. Ada:

  • Euro2 dengan sulfur 500 ppm, dan
  • Euro5 dengan sulfur 10 ppm

Sementara kita:

  • Solar busuk comberan dengan sulfur 3500 ppm,
  • Dexlite dengan sulfur 1.200 ppm,
  • Pertadex dengan sulfur 300 ppm.

Mungkin inilah kenapa anak-anak Malaysia tampak cerdas-cerdas (yaaa kalo liat Upin-Ipin sih πŸ˜€ Hehehehe), mungkin karena hanya sedikit sulfur yg mereka hirup dan meresap ke aliran darah. Kalo kata seorang kolega saya yg mantan TKI dari Malaysia, sepuluhan tahun silam, “Di Malaysia itu “solar”-nya warna merah Mas (low-sulphur), ndhak item (hi-sulphur) kayak solar di sini.”

#Catatan: Solar adalah salah satu nama dagang BBM diesel dari Pertamina, sebagaimana Dexlite, Pertadex. Cuman nama dagang ini semacam sudah menjadi metonimia untuk BBM diesel, khususnya di tempat-tempat yg jauh dari kota besar dan tidak/belom mengenal BBM diesel selain “Solar”.

Beda dengan anak muda Indonesia yg sering kita sangka sebagai generasi micin, mungkin selain karena kebanyakan micin beneran – ini cuman mungkin lho, kita juga kebanyakan menghirup sulfur yg berterbangan di jalan raya bahkan hingga ke persawahan pedesaan.

Mungkin. CMIIW.

Regards,
– Freemadex non lite.

Advertisements

Sembarangan Buang Bahasa

Seorang redaktur newsblog curhat akan amburadul dan ugal-ugalannya bahasa para penulis.

Saya khawatir bahwa budaya antri, tidak membuang sampah sembarangan, beradab dan bertata-krama lalu-lintas, serta rapi bertutur kata itu mencerminkan tingkat keagungan adab dan budaya suatu bangsa.

Tetapi, ngapain sih repot mikirin itu semua?

Biar saja orang mau seenakudelnya berlalu-lintas, yg penting kita jaga jarak dari mereka dan selamat sampai rumah. Biasanya, kecelakaan itu terjadi karena pengendara ndhak mengindahkan aturan lalu-lintas atau bahkan mungkin ndhak mengerti. Persetan aja sama mereka, yg penting ndhak nyenggol mobil saya. Situ mau nyungsep, ya derita situ. Salah sendiri di jalanan koq seenaknya.

Ngapain sih kita bingung dengan kelakuan orang yg membuang sampah sembarangan? Mau mereka mbuang sampah di jalan tol, di selokan, di sungai, mbuka jendela mobil dan mbuang sampah seenaknya di jalanan, di trotoar, di depan masjid, di parkiran mobil, keluar ruko, di lapangan pas nonton konser, di sepanjang jalan pas acara jalan santai, di pantai atau di gunung, di mana saja bukan urusan saya; yg penting bukan di halaman rumah kita. Beres!

Koq pusing amat sih kita sama orang yg ndhak mau antri, yg penting kita bukan bagian dari mereka aja kan kelar perkara. Kalo terpaksa semua ndhak mau antri, ya kita ikuti arus aja: situ jual sini beli!

Dan, kenapa juga kita harus mengkoreksi kerapian tutur kata dan bahasa (diri) kita sendiri? Kita ngetik dan ngomong amburadul, nabrak aturan bahasa sana-sini, mencampakkan EYD ke tong sampah, sms tanpa titik tanpa koma, dan dengan segala kelakuan ugal-ugalan berbahasa aja kita bisa nyari duit bahkan bisa beli mobil koq!

Riil aja, apa sih pentingnya beradab dalam berbahasa sekarang ini? Kalo bahasa kita morat-marit trus kita mati atau ndhak bisa kerja gitu?

Satu nusa satu bangsa satu BAHASA? Itu mah jargon! Yg penting adalah bagaimana saya bisa beli spare-parts dan ngerawat mobil, selesai urusan.

Regards,
– Sarkas HW

Mobil Listrik: Pola Pikir Masa Depan Sekarang

Sekian tahun silam, mungkin lima tahunan silam – saya lupa, saya dicemplungkan ke sebuah forum otomotif Motuba sama seorang rekan dari Yogya. Kala itu warganya masih seuprit, hanya seribuan kalo ndhak salah.

Kadang saya rasa di forum ini tuh gini: ada case jangka panjang, eh dikupas dengan bahasan jangka pendek. Atau mungkin sebaliknya.

Ada juga trit yg komengnya beratus-ratus tapi isinya komeng diulang-ulang sampe puluhan kali oleh akun yg berbeda, atau komeng candaan yg sangat amat dominan dan mayoritas hingga mengalahkan secuil komeng yg related dg tritnya; sebuah trit yg kalo dikompres paling cukupnya berisi beberapa komen saja.

Trus ada trit/bahasan konseptual, tapi sama yg komeng dikaji dengan kunci pragmatis. Atau trit bahasan prinsip, tapi terus-terusan dikomengi dengan bahasan teknis.

Salah satu contohnya misal bahasan mobil listrik. Dilihat dari segala sisi, khususnya sisi ekonomis, mobil listrik itu jelas sama sekali ndhak ekonomis. Daya jelajahnya terbatas, isi ulangnya lama, sembarangnya masih mahal. Bahkan yg katanya ramah lingkungan pun, dia bisa jadi masih pake sumber listrik bertenaga fosil buat chargingnya.

Tapi saya sepakat dengan komeng Lik @Wendy Kurniawan: teknologi dan riset, kalau tidak ada yg memulai, pasti tidak akan pernah efisien.

Mungkin inilah alasan mobil listrik (mulai) hadir sekarang ini, dengan segala keterbatasannya dan kemahalannya.

(Terlepas bahwa kapitalis butuh instrumen produksi & investasi baru agar produk lama jadi basi dan ada produk baru yg terpaksa harus dibeli, agar uang terus bisa mereka keruk dan duit terus berputar di dunia ini.)

Artinya, secara sederhana, mobil listrik adalah aspek jangka “nanti”, bukan aspek jangka “now”, apalagi jangka sorong.

Pro dan kontra teramat sangat wajar bilamana ada. Dan mungkin inilah yg akan membuat produsen akan berbenah.

Tapi mbok ya, gimana ya bilangnya, itu lho: lha wong namanya mobil listrik itu masih belom efisien dan belom menemukan bentuknya, terlebih skala ekonomisnya; mbok kalo komen itu diletakkan pada koridornya yg sesuai.

Wong namanya hal jangka panjang mbok ya dikritisi dengan aspek jangka panjang, bukan jangka pendek, apalagi jangka sorong atau instrumen berjangka.

Jangan-jangan yg mengkritisi hal jangka panjang dengan sudut pandang jangka pendek itu, dianya masih keturunan orang jaman old yg mengkritisi hadirnya mobil saat menggantikan dokar: bensinnya belom ada di mana-mana, mesinnya ndhak dipahami oleh banyak orang, kapasitas angkutnya sungguh terbatas, mogokan mungkin, dll. dll.

Sementara pedati itu sungguh sangat ekonomis dan skalabel: kuda lapar, di sepanjang jalan banyak rumput. Bensin habis, eh kuda haus, tinggal minggirkan ke sungai. Beban berat, tinggal tambah lagi kudanya di depan, jadilah belasan tenaga kuda. Mogok/kaki kudanya patah, tinggal sembelih dan dimaem. Spare-parts cadangan pun tersedia: itu si anak kuda yg ikut dituntun di samping kereta. Sungguh efisiensi yg tak terkalahkan bukan?

Jaman segitu, lantas ngapain orang bikin mobil segala? Mana udah gitu eh ada yg mbeli lagi… Pasti jaman segitu yg bikin mobil maupun yg mbeli adalah kategori orang yg ndhak waras.

Sama kayak produsen sekarang yg bikin mobil listrik maupun pembelinya.

Ngapain buang-buang duit untuk hal/mobil yg SEKARANG ini masih sama sekali ndhak efisien? Tolol banget kan?

Ngapain ndhak ditunggu aja sampe ntar kalo baterenya udah efisien: nge-charge cepet, dan daya jelajah sudah sangat amat jauh?

Mustinya mobil listrik kan diproduksi dan dikeluarkan ntar aja kan: kalo baterenya udah cuepett di-charge secepet kita ngisi bensin dan sekali charge daya jelajahnya setara setanki bensin kita bukan?

ITU cuman contoh saja. Seperti kalimat pembuka saya di trit ini: kadang saya rasa. Ini cuman perasaan saya saja.

DAN kapan waktu lalu, mungkin setahunan silam, saya pernah bikin trit uneg-uneg juga. Kalo ndhak salah protes saya terhadap dominasi penggunaan bahasa Jawa, di trit yg isi dan skup warganya luas gitu. Karena beragamnya cara pandang warga di situ, trit saya dianggap jadi rusuh. Akhirnya saya didepak oleh salah seorang admin.

Ini untuk pertama kalinya saya didepak dari semua group yg saya ikuti di fesbuk. Kalo di Motuba sendiri, kayaknya sudah beberapa kali trit saya didelete sama admin. Alasannya jelas: bikin rusuh/kontroversi. Yaaa… πŸ˜€

Tau akan hal ini, admin founder Mbah Muhsin Bonsai sampai minta maaf ke saya dan kembali memasukkan akun saya ke grup besarnya ini. Padahal siapa juga saya, sampe doi segitunya gitu. πŸ˜€

Makasih Mbah Bons.

Regards,
– Freema HW V8

Kangen BUCKS

Kangen saya sama rekan-rekan BUCKS. Genk awal yg saya kenal pada skup luas pertama kali ya BUCKS ini. Entah taon kapan itu saya meregisterkan diri via email ke BUCKS, dan akhirnya saya masuk list warga bimmer underground ini. Yg jelas, BUCKS kemarin barusan ultah ke-9 saat si Badak Biru udah 8 taon bersama kami.

Orang-orang di dalamnya pada sangat sepintas yg saya kenal, sama aja kayak genk-genk bimmer lain. Ada yg brengsek sampe temen-temennya sendiri jadi malu, ada yg dedikasi dan loyalitasnya luar biasa. Mengabdikan diri ke komunitas nyaris setara mengabdikan diri pada agama, bangsa, dan keluarga.

Dan ini mirip juga dengan kalangan genk-genk bimmer lain;

  • ada yg omongannya (angkawi)kelas berat mlulu: velg mahal, ganti biem, biem ceper, biem kenceng, biem kinclong;
  • ada punya yg karakter kere eh sori, kiri hore persis kayak saya.

Tapi ada satu hal dominan sejauh sekian taon saya (merasa)tergabung jadi warga underground BUCKS selama ini: meski buanyakkk yg guyon “internal sendiri”, yakni guyonan yg susah diikuti atau dimengerti oleh orang lain di luar kalangan; tapi omongan mereka tentang teknis per-bieman itu terasa sangat dominan. Poin ini yg saya sangat suka dengan BUCKS.

Sederhana kata, mayoritas yg saya dapati bukan sekedar: rusak – bawa bengkel, kelar. Masih ada bahasan kalo rusak kayak gini tuh kenapa dan banyak yg ikutan mengupasnya.

Sampai pada suatu malam era akhir 2013 atau awal 2014 mungkin, saya udah lupa waktunya, saya ngobrol dengan beberapa dedengkot BUCKS pas saya lagi di Jakarta: bahwa saya dan rekan-rekan Kedirian ingin membentuk chapter dan bergabung dengan BMWCCI. Tentu secara refleks mereka nanyak, “Kenapa ndhak membesarkan BUCKS saja di sana/di Kediri dan sekitarnya sini?”

Saya perlu waktu setengah malam untuk menjelaskan tentang pilihan kawan-kawan saya di kampung halaman sini.

Pertama, warga Kedirian itu bisa dikata blank total tentang BMW. Sampai hari ini empat taon umur Kediri Chapter, omongannya kalo kopdar ya cuman senang-senang melepas penat pekerjaan saja. Saya rasa cukup minoritas bahasan-bahasan belajar teknis tentang perbieman, meskipun bahasan ini tetap ada dan bukan berarti hilang sama sekali.

Dalam hal seperti ini, kalo Kedirian tidak saya bawa ke klub resmi BMWCCI dan malah seperti pilihan awalnya: jadi klub lokalan saja (bahkan juga bukan BUCKS yg skupnya nasional), maka mau jadi apa Kedirian ntar? Mau jadi paguyuban ngopi?

Temen-temen Blitarian Bimmer, komunitas lokal dimana saya juga tergabung dalam paguyuban ini pun bisa ngeh teknisnya biem karena kebetulan ada lik Abi aja yg sangat paham biem. Tanpa ada manusia yg satu ini, niscaya mereka bakal cuman jadi paguyuban biem terlantar yg mungkin bakal terlunta-lunta miara biemnya.

Dan semoga semakin besok warga Kediri Chapter benar-benar menjadi bimmerfan yg memahami biem, setidaknya biemnya sendiri-sendiri masing-masing. Tinggal pengurus dan warga punya semangat untuk bersama-sama menuju arah ini atau ndhak. Pun dengan rekan-rekan Blitarian, mumpung ada ilmu yg bisa diserap, ayo seraplah sebanyak-banyaknya buat bekal miara biem dengan baik dan benar (serta murah).

Beda ama BUCKS. Mereka-mereka yg melahirkan BUCKS karena sebelumnya udah punya kemaniakan terhadap BMW. Mereka sangat mengenali biemnya, dan cinta mati ama biem, meskipun hariannya pakai mobil Jepangan sejuta umat. πŸ˜€

Alhasil, ketika BUCKS mereka ciptakan, dasar kemaniakan terhadap biem inilah yg jadi kultur besar mereka. So, bagi BUCKS, bisa dimaklumi kalo ber-sistem atau mengsistemkan diri itu justru mungkin malah akan menghambat soliditas komunitas ini.

Jadi itulah kenapa saya memilih menolak ide lik Ardian “Boeng” Satriyadi dkk. yg awalnya pinginnya menjadikan Kedirian ini sebagai klub lokalan independen saja dan setengah malam itu juga di Kediri saya mati-matian meyakinkan ke kawan-kawan Kedirian agar kami bergabung ke BMWCCI, sebuah organisasi dg sistem, agar ada pegangan sistemik yg bisa menjadi arah langkah kumpulan ini.

Agar ayam-ayam tanpa indukan ini punya satu pegangan arah untuk melangkah.

Kedua, lainnya itu di (setengah) malam itu di Jakarta, saya mengulangi janji pada internal temen-temen Kedirian ke temen-temen BUCKS: bahwa Kedirian akan menjadi chapter yg taat regulasi tapi sekaligus tidak akan pernah menghilangkan nilai keguyuban dan kecairannya pada siapa saja untuk selamanya! Sebagaimana guyub dan cair pada siapa saja inilah semangat awal mula terkumpulnya Kedirian.

Bagi saya pribadi, mengajak rekan-rekan Kedirian menjadi chapter BMWCCI bukan berarti saya bakal meninggalkan BUCKS, yg mana inilah salah satu dimana sumber wawasan perbieman saya berasal. Dengan tetap menjadi BUCKSer sekaligus warga Kediri Chapter, maka saya akan (ingin) menjadi pribadi yg lebih luas lagi berpandangan, berteman, berwawasan, dan berpola pikir; menambah teman-teman baru, menambah pergaulan baru, tanpa harus mengubah gaya hidup(baru) sedikitpun. Ini harapan saya pribadi.

Alhamdulillah temen-temen bisa memahami.

2011 kami pertama kali ikut turing bersama temen-temen Blitarian (kala itu masih bernama Tuner) ke Pantai Prigi, Trenggalek. 2012 kami dan temen-temen Madiunan ikut hadir pada acara pengukuhan BMWCCI Malang Chapter.

2012 juga ada kopdar pertama temen-temen Madiun, Kediri, Blitar, Malang di Simpang Lima Gumul, Kediri yg dihadiri oleh Lik Catur.

2013 kami ikutan turing dari Jakarta bersama temen-temen BUCKS dateng ke ID Bimmerfest, Yogya.

2014 BMWCCI Kediri Chapter terbentuk. 2015 ikutan liat ID Bimmerfest di Jakarta.

Puncaknya sejauh ini, Februari 2017 kemarin saya berkesempatan hadir di syukuran ultah Amazin9 BUCKS di Bawen, Jawa Tengah. Kembali bertemu, berkumpul, dan bercengkrama dengan para dedengkot BUCKS serta rekan-rekan lainnya yg sedikitpun ndhak pernah luntur keguyuban dan keakrabannya yg terasa begitu cair.

SEDIKIT flashback, era 2010-an Kedirian sudah berteman sangat akrab dengan temen-temen Madiunan. Era 2011, Kediri+Madiun pernah mengajukan diri jadi chapter BMWCCI dengan nama chapter Mataraman. Dan tentu saja usulan nama ini ditolak.

Akhirnya ide tersebut kami pending. Dan nama itu sempat diteruskan juga jadi nama angkringan-online ini, yg semangatnya angkringan-online adalah menyatukan beragam asal-usul menjadi satu kebersamaan tanpa sekat dan batas, borderless friendship, unlimited silaturahmi

Belakangan, kini Kediri dan Madiun masing-masing udah jadi chapter BMWCCI.

Karena dari awalnya semangat Kedirian ini adalah borderless friendship & unlimited silaturahmi, maka inilah kenapa macam saya pribadi jadi sangat enjoy berteman dengan siapa saja, mengenal siapa saja, dan duduk bergabung dengan rekan-rekan dari bendera mana saja.

Saya dengan bangga bisa menyebut diri saya sebagai warga Kediri Chapter, warga BUCKS, atau warga Blitarian Bimmer. Termasuk warga-online di angkringan-online tercinta ini.

Dan manusia macam Lik Sugik, bimmer independen paling independen seindonesia itu dengan santainya juga bisa cangkrukan dengan Ki Lurah Kedirian Risky Mujiono​​ atau rekan-rekan dari BMWCCI Malang Chapter. Cair sekali.

Manusia macam Lik Catur di sini, mbah dan manusia yg kita sesepuhkan untuk jadi pengayom kita semua di angkringan-online ini pun juga adalah sesosok manusia merdeka & independen yg kebimmerannya bisa dibilang “bebas agama”. Lik Catur adalah manusia yg bisa dimiliki oleh semuanya tanpa terkecuali, bukan manusia yg mengibarkan satu bendera bimmer tertentu. Kecuali urusan rumah tangga, maka doi cuman milik keluarganya semata.

Atau juga Cak Rizal, doi adalah bimmerfan yg juga telah “bebas agama”. Saat ini, loyalitas kebiemannya hanyalah pada guru Semar Lik Sugik semata. Eh… πŸ˜€

Dan inilah angkringan-online ini kemudian memutuskan tetap jadi angkringan-online belaka. Angkringan-online Bimmerfan Mataraman ini bukanlah klub atau komunitas. Namun demikian kita punya kepala pemerintahan virtual di sini, yakni lae camat-online Naulinet yg bercokol di Padangsidimpuan saja.

Cair, akrab, guyub, bebas sekat. Semuanya indah sekali bukan?

So kalo ada member klub manapun yg ndhak bisa loyal ke klub/komunitasnyanya atau sekaligus menolak untuk cair dengan bimmerfan siapapun dari manapun, menurut saya ini adalah tipikal bimmerfan alay.

– Freema HW,
kangen BUCKS.

Satu Pijak Beda Tabiat

Ini semua adalah murni subyektivitas ngasal dan ngawur saya.

Ada akun yg berbicara tentang hal yg sama. Mereka satu kubu, satu persepsi, satu “pihak” sebenarnya: berdiri di sisi yg sama.

Bedanya, satu berbicara dengan bobot, cerdas, bernas; datanya kuat, faktanya akurat, analisisnya matang, hipotesisnya tajam. Banyak hal yg dirangkum jadi satu butir uraian, jadinya uraiannya padat montok berisi.

yg satu berbicara dengan membabi-buta, penuh emosi, hanya berisi opini subyektif belaka. Sederhananya: tong kosong nyaring bunyinya. Baru tau satu hal, uraiannya berlipat-lipat lebih panjang lagi. Jadinya nggelambir kayak lemak perut saya.

Satu pihak yg sama, satu kubu yg sama, satu persepsi yg sama, satu pijakan kaki pun ternyata (bisa) beda tabiat; bisa terpilah jadi dua item yg sungguh sama sekali berbeda berlainan total telak.

#bersih-bersih fesbuk perlahan-lahan, persiapan 2019: #unfollow puluhan page ndhak jelas yg miskin data, lemah fakta, mentah analisis, dan tumpul hipotesis.

– Freema Bapakne Rahman,
subyektif.

Persiapan 2019

Ada sebuah akun. Mengomentari kubu lawannya dengan “2019 masih jauh woy! Udah pencitraan aja!”

Pas saya becandai, saya diblok.

Sementara dari kubunya sendiri, tampaknya persiapan 2019 juga udah mulai dilakukan.

Bullshit, semuanya!

Ndhak usah tutup mata, 2017 ini, pada kenyataannya semua pihak udah siap-siap menyambut 2019. Dan sebenarnya bukan sejak 2017 ini, sejak hajatan Pilpres 2014 kemarin kelar, semuanya pasti akan langsung berkoordinasi untuk mulai menyambut 2019.

Dan kembali peristiwa 2014 akan terulang: kedua belah pihak akan adu kuat: adu kuat inkonsistensinya. Saya menggaransi ini terjadi, garansi untuk diri saya sendiri. Garansi tidak berlaku untuk Anda.

Inkonsistensi, dari KEDUA belah kubu. Alias semua kubu.

2019 nanti peta sementara akan mirip Pilkadal DKI kemarin. Kubu Jokowi akan semakin kuat. Dan kubu SBY/Prabowo akan pakai strategi mirip pilkadal DKI: ada calon utama dan ada calon untuk pemecah suara.

Kemarin itu, dengan kesadaran saking kuatnya Ahok kalo “dilawan sendirian”, alhasil dipasanglah Anies sebagai calon utama, dan Agus sebagai pemecah suara.

Berhasil!

Plus ditambah kampanye “di luar sistem”. Macam Ahok yg ditekan dengan cap penista agama. Yg bahkan suara Buya Syafi’i Ma’arif yg dengan tegas mengatakan bahwa apa yg dilakukan Ahok bukanlah penistaan agama, dengan segala cara akan dikesampingkan.

Dua faktor ini sukses mengantarkan Ahok terdepak dari kancah politik DKI. Dan setidaknya, langkahnya untuk terus tampil ke muka bumi perpolitikan Indonesia sukses terhambat.

Jokowi kayaknya akan dibeginikan juga, entah dengan cara apa. Pemanasan yg ada, Jokowi udah mulai dicap dengan stempel “musuh Islam”. Namun langkah ini agak sulit karena NU “menghambat”.

Biar bagaimana kekuatan NU masih sangat diperhitungkan di negri ini. Apa dhawuh kyai, masih menjadi langkah komando yg ajib untuk menggerakkan jutaan massa NU.

Maka tampaknya, kini NU yg musti dirongrong dari dalam. Entah ada yg disusupkan ke dalam NU atau dijebak untuk memecah NU atau dirongrong secara sistematis lain, saya kurang paham. Tapi langkah ini logis untuk diupayakan.

Atau sambil jalan, mungkin tim komando dan tim intelijen masing-masing kubu sudah menyiapkan dan merangkai beberapa langkah strategis maupun langkah taktis lain demi saling menjegal lawan. Mustahil tidak.

Semuanya demi politik.

Semuanya adalah politik.

Dan warganet terus bersorak riuh tempik-sorai menyatakan semuanya sebagai kebenaran, keadilan, apapunlah namanya.

Dan inilah cerminan politik negeri ini, di mata pandang saya pribadi. Tidak berlaku untuk Anda.

***

MAKA, saya pun juga siap-siap dengan 2019.

Kini saya mulai meng-unfollow fanpage atau grouppage yg konon bilangnya keagamaan atau kebangsaan tapi di dalamnya berisi politik. Entah kepada kubu siapapun dia berpihak. Karena selama dia berpihak dan tidak universal, saya pribadi menganggapnya bukan kebangsaan dan bukan keagamaan.

Kalo dari kaum kebangsaan masih “enteng” buat dijawab umpama saya di-counter sama mereka. Kalo dari kaum keagamaan, ini yg repot. Sebab dari kemarin hingga detik ini, cara untuk meng-counter adalah sama sekali ndhak pake otak, sesuatu yg dianugerahkan-Nya untuk kita gunakan.

Cara mereka meng-counter biasanya pake stempel. Barangsiapa tidak sama dengan pandangan mereka, maka kita adalah kafir, sesat, laknat, liberal, sekuler, dll. Atau kalo kalah opini, pasti pake senjata jauhi perdebatan kusir. Padahal sesungguhnya ini adu otak, bukan debat kusir tanpa dasar tanpa logika.

Yawsudahlah.

***

SELAIN fanpage atau groupage, yg sudah lama saya lakukan sejak tahun-tahun silam adalah me-remove akun-akun sektarian begitu. Bukan karena saya benci mereka secara perorangan, melainkan murni karena saya ndhak ingin “terlibat”, meskipun cuman membaca posting statusnya, dalam perkubuan ke mana saja.

Bukan karena saya benci mereka. Sama sekali bukan. Saya hanya ndhak kuat mengisi waktu dengan membaca gituan. Maka lebih adil dan bijak, dalam sudut pandang saya sendiri, jika akun-akun demikian saya remove.

Saya akui, saya dalam konteks ini jauh dari kehebatan istri saya yg cerewet minta ampun itu. Istriku adalah sedikit dari kaum istri yg cerewetnya level 30 kalo di ukuran Boncabe.

Saya lagi geletakan mau berangkat kopdar ama temen-temen aja, dia udah berkali-kali nanyak. “Kamu ndhak kopdar? Ndhak jadi berangkat tho?”

Padahal itu kopdar bukanlah sekolah. Mau saya kopdar atau ndhak, ndhak ada urusannya dengan naik-turunnya keimanan, kondisi negara, apalagi stabilitas harga pangan.

Plus saya sedang ndhak janjian dengan siapa-siapa. Jadi kalo saya jadi kopdar, itu asyik karena menambah silaturahmi. Kalo saya ndhak jadi kopdar, itu juga asyik karena saya bisa istirahat di rumah.

Eh pas saya males njawab, malah saya jadinya yg salah, “Diajak ngomong gitu doang diem terus!”

Bayangkan coba, kuping lelaki mana yg ndhak illfeel dengan gituan? Dan apapun alasan saya, laki-laki pasti akan salah di mata perempuan. Pasti!

Ini baru satu contoh. Yg ndhak saya ingat-ingat mungkin bakalan ndhak cukup seharian atau semingguan saya ketikkan di sini. Nyaris saban hari bray! 😦 Hiks…

Tapi saya ndhak ngingat-ngingat. Ini bukan sekedar masalah saya mencintainya sepenuh hati sehingga ndhak mau ngingat-ngingat yg ginian. Ini kayaknya murni cuman karena saya laki-laki yg ndhak pernah bisa ngingat-ngingat hal ginian.

Bahkan mbawa handuk pas mandi aja sering lupa. Alhasil saya teriak minta tolong istri ngambilkan handuk. Dan alhasil kembali kuping ini kena semprot. “Udah berkali-kali mandi ketinggalan handuk, masih aja terus lupa!”

Lucunya, dia tetap ngambilkan handuk ke saya bray! Begitu terus berulang-ulang tiap kali saya lupa mbawa handuk pas mandi. Eits bukan cuman saya, juga si kecil.

Dan kasihan dia, kecil-kecil udah kena semprot ibunya. “Kamu itu jan persis bapakmu!”

Kadang si kecil bingung, kadang dia meringis. Mungkin batin dia, “Apa sih salahku?”

TAPI dia istriku itu hebat. Saya cek di dinding(ratapan) alias wall FB-nya, ada dua kubu politik yg rajib banget update status. Timeline-nya malah sepertinya berisi 80% politis dan 20% kehidupan universal ~> itu pun masih dibagi antara pendidikan anak dan kucing sama kuliner dan sedikit traveling.

Atau kalo angkanya kegedhean, baiklah 60% politis dan 40% kehidupan universal. Atau baiklah, saya ngelihatnya pas momen tertentu barangkali, jadi ini ndhak mewakili kondisi keseluruhan.

(Tapi kayaknya “momen tertentu” gitu koq sering banget ya di FB gitu? Kayak selalu ada terus gitu…)

Tapi pas saya nanyak, kenapa ini akun yg berkubu-kubuan ndhak kamu unfollow aja?

Dia bilang, “Mereka semua teman saya, dan kebetulan saya bisa cuek mendapati posting-posting mereka.”

Hebat! Suaminya dicereweti, teman-temannya malah dicueki.

Harusnya kalo dia sayang sama saya suaminya ini, suaminya dimanja-manja, dan cerewetilah itu temen-temenmu yg menjadikan FB sebagai ruang pubik bersama sebagai ajang kampanye masing-masing kubu.

Entahlah.

Saya ndhak mau melanjutkan posting ini.

Abis ini telingaku pasti kena semprot lagi.

Demikian dari kemarin, hari ini, hingga seterusnya.

Hiks… Nasib…

“Lho Mas, perempuan itu cerewet kepada orang yg disayanginya, itu karena pertanda cinta.”

Baiklah, ini cinta.

Baiklah. Saya juga mencintainya dari kemarin, hari ini, hingga seterusnya.

Tapi tetap saja, kuping ini, hiks…

– Freema Bapakne Rahman.

Menjaga dan Merawat Indonesia

Bismillahirahmanirahim.

Sejak pilpres-pilpresan 2014 silam, saya sudah menetapkan diri sebisa mungkin menghindari posting statuta politik. Memilih netral (ber)politik bukan berarti tidak mencintai bangsa dan negara ini kan?

Hingga sampe Pilkadal DKI yg bikin linimasa saya tampak teramat sangat njancuki, saya masih bisa menahan diri untuk ndhak terseret arus menggempur dan menempeleng sebagian dari kedua belah pihak yg menjijikkan di linimasa.

Tapi ketika sekarang di linimasa mulai muncul suara-suara kecil ribut case Cak Nun vs PBNU ini, saya gatel tergelitik ingin ikutan mengungkapkan perasaan.

Dari pengamatan subyektif sepintas saya, yg ribut buta masalah Cak Nun vs PBNU, itu:

  1. Bukan dari kalangan Maiyah atau Nahdliyin. Mereka cuman nyari kesempatan untuk memecah-belah dua kubu yg selama ini, ibarat diagram Venn, mereka adalah bidang interseksi/irisan yg sangat luas. Nyaris bisa dikatakan, tepatnya dikiaskan, bahwa jemaah Maiyah = Nahdliyin. Tapi ini tidak mutlak lho! Ini cuman kiasan, bukan faktualisasi sebenarnya.
  2. Nahdiyin gagap yg sotoy.
  3. Maiyah gagap yg sotoy.

“Ributnya” case Cak Nun vs PBNU ini sangat berbeda dengan tongkolnya kedua kubu: pro-Jokowi vs anti-Jokowi atau kubu pro-Ahok vs anti-Ahok. Mereka yg mendukung atau anti dengan cerdas dan cinta, terpaksa harus tergusur oleh mereka yg mendukung dan anti dengan tongkol dan dungu ~> ini yg dominan mendominasi linimasa dunia maya; dalam pengamatan subyektif sepintas saya.

Sementara dalam case Cak Nun vs PBNU, isinya justru jemaah yg sama-sama bermajelis taklim: menyimak sungguh-sungguh apa kata guru, ustadz, mursyid, kyai.

Maiyah maupun Nahdliyin, adalah dua dari segenap kekuatan besar dalam menjaga dan merawat Indonesia.

Satu-dua (dari kalangan Nahdliyin atau Maiyah) mungkin terlihat reseh. Tapi sangat bisa dikesampingkan.

Well sekali lagi, “perseteruan” ini seru. Serunya adalah karena mereka lebih banyak saling menggali satu sama lain; alih-alih saling menguruk satu sama lain sebagaimana umumnya perseteruan dua kubu yg ada. Kalo saya bahasakan, ini seperti dua saudara yg berdebat sengit dan keras bagaimana menyelamatkan warisan orang tua, bukan berebut mati-matian jatah warisan orang tua. Intinya, banyak adu cerdas dalam “perseteruan” ini ketimbang adu bolot.

Kalo (ada) yg reseh beneran dan banyak bolotnya, cek aja, dia kayaknya nyaris bisa dipastikan bukan Nahdliyin dan bukan Maiyah.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman,
Muslim WNI.

Foto nemu dari internet.