Membaca.

Membaca = ,emyelami dan memhami sesuatu, memang ngeri efeknya. Orang bisa keracunan bmw gegara membaca blog sesat ini. Sebaliknya, orang bisa ‘sinting’ gegara kebanyakan membaca anny arrow misalnya.

Membaca jadi seperti pistol, tinggal mau diinjeksikan ke polisi atau penjahat.

Mungkin itulah kenapa Soekarno, Hitler, dll dll dll hobi menulis, untuk mengubah dunia dengan kekuatan membaca.

Tinggal bikin bacaan yang baik, fainsya allah dunia bisa berubah lebih baik.

Dan itulah rasanya, kenapa semua kitab suci dijadikan buku bacaan.

So, kalo dibalik: untuk memburuk dunia, maka bukan dengan membombardir bacaan yang jelek. Karena itu lebih mudah diabaikan oleh pembacanya.

Untuk memperburuk dunia, cukup dengan menghilangkan kemauan orang, habit masyarakat, dan segala daya dukung untuk membuat orang membaca.

Inilah kenapa mungkin negara maju bisa maju, karena habit membaca mereka tinggi.

Dan inilah mungkin kenapa Indonesia kayak gini-gini aja, itu karena kita semua juga rasanya: males membaca.

Selamat buat yg bernasib “apes” telah kesasar ke blog laknat ini. Selamat bagi yang telah bernasib “naas” kecebur miara bmw tuwa, khususon gegara blog ini. Selamat menikmati menjadi manusia terasing di tengah kejamakan jumud di Indonesia sini.

Itu karena “salah” Anda: membaca (blog sesat ini).

Mungkin demikian.

Mungkin.

– Freema Bapakne Rahman

Advertisements

Atheisme (lagi).


Kata komen di post FB di atas: “Not with madrasa education.”

Madrasah adalah bahasa Arab untuk sekolah(an)/school.

Sayangnya mereka enggak tau gimana madrasah di sini: siswa (santri)nya diajari untuk cinta Tuhan, cinta alam, cinta lingkungan, cinta sesama manusia dan makhluk Tuhan, …. cinta alam raya termasuk cinta NKRI.

Komen tersebut adalah tantangan dan pertanyaan besar kepada umat beragama, termasuk umat Islam tentunya, untuk membuktikan diri lebih baik ketimbang atheis.

Sayangnya kayak di Indonesia sini, agama malah dijadikan alat (jualan) politik alih-alih alat (tool) untuk menjadikan manusia/pemeluknya menjadi manusia paling berkualitas sekaligus paling bermanfaat.

Plus, kualitas pendidikan di Indonesia, dapat kita lihat dari gimana para pengendara berkendara di jalan raya dan bagaimana sampah dibuang: jika kita mau jujur dan legawa menerima keadaan, lihatlah di sekitaran kita bahwa pengendara masih miskin tata-krama lalu-lintas dan masih buanyak orang mbuang sampah seenaknya, termasuk siswa/siswa sekolah/madrasah.

Gk usah pakai penelitian, langsung aja lihat di lapangan.

***

(Pemeluk) agama sendiri jadinya yang sebenarnya mendorong atheisme menjadi tumbuh, subur, berkembang, dan kuat.

Sementara, para pemeluk agama masih sibuk menghabiskan energi untuk membenci mereka kaum atheis & mencap mereka ahli neraka, tetap enggak peduli dengan kualitas diri – termasuk tata-krama lalu-lintas dan masih mbuang sampah sembarangan itu tadi alih-alih terus-terusan membuktikan diri menjadi manusia paling bermanfaat untuk alam raya dan orang lain;

pun masih enjoy saja korupsi berjamaah dan gemar banget diadu antar sesama, padahal katanya dia bertuhan dan takut kepada Tuhan.

Ditambah lagi, para pemeluk agam sekarang justru semakin sekuler: memisahkan “ilmu agama” dan “ilmu umum”. Padahal semua ilmu itu, sejauh kita memahami datangnya dari Tuhan dan perlu diimplementasikan dalam rangka tugas kita menjadi khalifah di muka bumi, itu adalah ilmu agama semua.

Apalagi ditambah dogma: kalo tidak bisa meraih ilmu agama dan ilmu umum sekaligus, maka baiknya dahulukan untuk memilih ilmu agama.

Sesiapa yang masih mempercayai adanya (pemisahan) ilmu agama dan ilmu umum, maaf saya bukan teman ideologis Anda.

***

Saya menolak atheisme, namun saya enggak punya urusan dengan mereka penganutnya. Bahkan saya menghargainya sebagai upaya untuk memperbaiki diri dan memperbaiki kehidupan kemasyarakatan alih-alih sebagai upaya menolak (kaum ber)agama.

Saya memilih untuk bertuhan dan percaya adanya Tuhan – Insya Allah sepanjang hayat dikandung badan, dan menyembah tuhan dengan cara saya;

tapi pola pikir dan cara berpikir implementatif saya sungguh sering bertolak-belakang dengan mereka yang katanya menganut agama (Islam): bahwa hidup itu untuk diisi dengan banyak “amalan” untuk mencari sorga.

Saya sepakat bahwa hidup ini perlu diisi dengan amalan (baik), namun saya berpikirnya bahwa amalan baik itu untuk dikembalikan ke kehidupan, plus buat bekal mati nanti; sama sekali enggak berpikir tentang sorga apalagi neraka. Itu biar jadi urusan Tuhan saja. Saya ridho dan ikhlas dengan apa yang jadi keputusan Tuhan.

Tentang amalan semasa hidup, saya menyepakati mereka yang menganut atheisme: pendidikan, dan perbaikan terhadap kualitas kehidupan – dalam segala hal.

Wallahualam bisawab.

Semoga Allah SWT senantiasa menuntunku untuk bertugas di muka bumi ini: menjadi khalifah untuk kehidupan. Allahuma aamiin.

– FHW
a theistist.

Atheisme 1
Atheisme 2
Atheisme 3
Safety 1
Safety 2
Life

Menjadi petani.

Kami pernah: lombokku sesawah harus dibabat karena pepes semua dihajar cuaca.

Udah gedhe, tapi belom sempat panen.

Untung rugi, bagi petani itu sudah asam garam.

Kita kerap untung karena diuntungkan oleh cuaca. Plus kita juga bisa rugi besar juga karena cuaca.

Tapi kita enggak pernah menjilat atau membenci cuaca.

Kita cuman sebel, kalo ada yang enggak menghargai petani, plus kalo ada yang suka memanfaatkan kondisi petani untuk kepentingan segelintir/sekelompok pihak saja.

Petani pada dasarnya enggak butuh dikasihani, juga enggak ngemis perhatian.

Petani hanya butuh kepastian, kejelasan, dan kejernihan tatanan kenegaraan ini.

Tapi, kami sudah memberontak koq terhadap negara ini.

Dari dulu, kalo panen beras, kami enggak pernah jual.

Kami maem sendiri perlahan-lahan.

Sementara di sana-sini orang sibuk menjerit dengan harga beras. Politikus ribut dengan impor beras. Oposan teriak-teriak negara enggak becus nangani beras.

Sakarepmu.

Dan bayangkan kalo petani ini sudah berani menarik anaknya dari sekolah, memanggil pulang anak-anak gedhenya yang kerja sebagai buruh pabrik, mengumpulkan anggota keluarganya yang tercecer, dan menguatkan tekat: kita makan seadanya yang penting kta enggak tergantung orang lain, politikus, dan pemerintah; …

… kita unsubscribe segala layanan pemerintah;

maka bakal kelimpunganlah semua yang selama ini memanfaatkan petani: yang memeras keringatnya maupun yang menjual nasibnya.

#

Untungnya petani itu manusia paling sabar du dunia.

Terpaan dan tempaan cuaca telah membangun sebongkah hati dan jiwa paling baja yangada di muka bumi, sekaligus hati dan jiwa paling lembut yang pernah ada.

Karena itu siapapun: politisi, oposan, bahkan ustadz: enggak usah kakehan cangkem ngomongin petani, kalo enggak ngerti bener megang cacing itu kayak apa rasanya;

tengah malam ngurusi daun tanaman itu kayak gimana rasanya;

atau menyiapkan lanjaran itu kayak gimana rasanya.

Ngomongin petani di ruang ber-AC DPR, entahlah…. Saya gk bisa mbayangkan.

#

Nenek moyang kami petani, meski banyak anggota keluarga yang menjadi pegawai, bahkan saya sendiri saat sebelum menikah.

Dan begitu mengganti KTP karena menikah satu setengah dasawarsa silam, saya dengan tegar dan tegas menutuskan mengganti pekerjaan saya dari Swasta menjadi: Petani.

Mungkin karena bawaan batin inilah, saat orang sibuk membuat taman di depan rumahnya, kami menamainya dengan buah dan sayur. Bukan membenci tanaman hias, sekali lagi mungkin karna bawaan batin.

Ini adalah nawaitu untuk mencari dan menghadap Tuhan.

Semampu dan sekuat kami; berpijak di atas kaki sendiri.

Meski sesungguhnya kami sama sekali enggak mampu, jauh dari mampu.

Tapi alam ini lebih suka mengasihi dan mengayomi kaum enggak mampu seperti kami ini ketimbang menendang dan menindasnya. Angin kencang, hujan lebat, panas terik itu adalah bentuk perhatian dan kasih sayang alam yang sesejati-sejatinya.

Mreka yang jauh dari alamlah yang mendeskripsikannya sebagai bencana dan prahara.

“Keganasan” alam itu, melemahkan badan, namun menguatkan batin.

Tinggal kita lulus dan lolos atau enggak dari semua ini.

^ Sesuatu yang teramat gampang saya ketik, tapi sungguh kaki ini seperti berhenti melangkah membayangkan itu semua harus dihadapi.

Karena sesungguhnya saya sama sekali enggak mampu, jauh dari mampu.

Tapi alam ini lebih suka mengasihi dan mengayomi kaum enggak mampu seperti saya ini.

Namun apapun yang terjadi, semua senjatanya hanya satu untuk menghadapi: syukur, ikhtyar, tawakal, ikhlas, balik lagi ke syukur dan seterusnya.

Wallahualam.

– Freema Bapakne Rahman
Ngaku-ngaku petani.

NU

Saya bukan warga Nahdiyin, enggak pernah mondok, dan enggak pernah ikut pengajiannya NU kacuali bikin acara tahlilan di rumah buat mendoakan alm. Bapanda & para leluhur kami yang telah berpulang karena emang kami tinggal di lingkungan NU yang kuat.

Utinya si kecil-lah yang aktif dan rutin ngaji bersama ibu-ibu muslimat Fatayat, meski di rumah tetap lihat pengajiannya Cak Nun – yang terus-terusan mendeklarasikan diri bukan sebagai warga Nahdiyin maupun Muhammadiyin.

Namun Utinya si kecil enggak masang kalender NU di ruang tamu.

Kalo saya, yang saya liat ceramahnya cuman Cak Nun sama Gus Mus. Lainnya itu enggak pernah. Sekalipun itu Ustadz Maulana, Ustadz Abdul Somad, Mamah Dedeh, Yusuf Mansyur, pun para kyai NU yang ketika ada pengajian di sini, jamaahnya selalu membludak.

BTW herannya, pengikut Ustadz Abdul Somad atau Yusuf Mansyur gitu koq saya amat-amati secara sepintas seperti enggak sama dengan mereka yang mengikuti para kyai (NU). Entah benar atau salah pengamatan saya ini, cobalah Anda jawab dengan berdasarkan hati nurani lantas akui saja jika memang itu benar namun koreksilaah jika saya salah.

#

Warga NU emang beragam kondisi sosial – ekonomi – pendidikannya. Jangankan warganya, kyai-nya pun juga beragam pola pikir dan pola pandangnya.

Gotong-royongnya kuat, kebersamaannya tinggi, dan enggak pernah kerasa ada pembedaan hanya karena beda aliran akidahnya. Inilah keseharian tinggal di lingkungan NU yang kuat.

Kalo ada undangan pengajian di mushalla, saya senantiasa mengupayakan datang untuk menghormati si pengundang plus menjaga silaturahmi dan ukhuwah lahiriyah-batiniyah dengan para warga/tetangga lingkungan sekitar, sesuatu yang saya nilai sebagai bagian “namun lebih dari sekedar” ukhuwah islamiyah. Hati-hati, saya pake tanda petik itu ngetiknya. Jangan ditelan mentah-mentah dan dipersepsikan menurut perspesi Anda.

Tapi jujur, saya sering merem saja dan enggak terlalu memperhatikan apa yang dingajikan.

Bukan berarti apa yang dingajikan itu jelek atau enggak berguna, itu lebih karena saya punya kekurangsepahaman atau berbeda paham saja, yang mana saya juga merasa punya dasar atas apa yang saya pahami sendiri. Terlalu panjang untuk saya uraikan di sini, ini sudah merupakan prinsip batiniah saya. Dan ini sudah urusan personal saya.

Satu yang pasti, seumur-umur saya ikut pengajian di mushalla, dari yang sejauh saya ketahui, kyainya enggak pernah menyinggung perbedaan NU dengan Muhammadiyah ataupun perbedaan sunni-syiah. Sama sekali!

Lainnya itu, pengajian khas kaum Nahdiyin itu jika saya tarik benang merahnya, rata-rata mereka (saling) mengajak untuk terus menyembah Tuhan, tunduk dan patuh kepada Tuhan, menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya dalam konteks yang mereka yakini (dan saya amati: apa yang mereka yakini sebenarnya buanyakkk persamaannya dengan banyak golongan/kaum/aliran/kelompok selain NU);

namun dalam ingatan saya, saya belom pernah mendengar sedikitpun teriakan-teriakan bela Islam atau teriakkan-teriakkan tegakkan syariah dari mereka. Baik secara harfiah (berteriak dengan suara keras/lantang) maupun istilah (berteriak dalam pengertian doktrinasi atau semacamnya).

Pengajian-pengajian (umum) dari kaum Nahdiyin yang saya ikuti hanya di mushalla kampung saya (lumayan sering pihak takmir mengadakan acara pengajian yang mengundang semua warga), umumnya membahas amalam-amalan untuk meningkatkan nilai pahala dan mengurangi/menghapus dosa.

Mengutarakan kepasrahan kita kepada Tuhan dengan bahasa yang sesuai audience emang jauh lebih berguna dan bermanfaat ketimbang membahas sesuatu yang terlalu jauh dari konteks riil keseharian kita.

Sayangnya, dalam semua pengajian yang pernah saya ikuti, enggak ada satupun life-guidance semacam jangan membuang sampah sembarangan, tertiblah berlalu-lintas, atau kejarlah pendidikan setinggi langit, dll. Sepertinya, hal-hal seperti ini masih dipahami bukan merupakan “ajaran agama”.

Secara langsung mungkin iya. Tapi tidak membuang sampah sembarangan misalnya, itu jelas-jelas pengejawentahan ayat Quran tentang tdak berbuat kerusakan.

Andaikan NU bisa menterjemahkan(/praktik atas konsepsi) Quran secara lebih kekinian, niscaya bangsa ini akan lebih luar biasa lagi dari yang sekarang udah tahan banting menghadapi kenyataan begini.

WELL, apapun kondisi mereka, yang kami rasakan satu hal: tinggal dan mengikuti kehidupan lingkungan NU itu nyaman; mereka dibentuk dan dididik untuk mencari kebenaran namun sama sekali tanpa pernah apalagi terus-terusan menyalahan-nyalahkan pihak lain.

Terlebih lagi, di lingkungan tempat tinggal kami ada punden keramat. Mushalla lingkungan kami, senantiasa menghentikan suara speaker luar setelah jam 10 malam saat ada yang tadarus di malam-malam bulan Ramadhan. Untuk menghormati yang lagi nyepi di punden.

Saat acara bersih desa pun, di punden tersebut malam sebelumnya senantiasa diadakan tahlilan untuk mendoakan si mati, dipimpin oleh mbah kyai kampung sini.

Ini merupakan sesuatu yang masih menjadi kontroversi di kalangan umat Islam kebanyakan. Banyak yang bilang, mendoakan kaum non-muslim itu sia-sia dan enggak boleh.

Tapi kami yang hidup di sini punya sudut pandang berbeda. Si mati di punden itu adalah pihak yang kami percayai membabat/mendirikan desa ini. Atas jasa merekalah akhirnya kami semua bisa tinggal dan hidup serta berkehidupan di sini. Termasuk beragama dan menjadi pemeluk agama.

Jadilah mereka itu, siapapun itu, kita anggap sebagai orang tua ideologis bagi kami smua. Dan mendoakan orang tua itu sudah menjadi kewajiban bagi kita semua.

Terserah Anda berpikiran dan berpandangan apa, kami semua yang meng-alami kondisi ini justru merasakan kepasrahan dan ketundukan serta pengingatan hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lain tidak.

Hidup di lingkungan NU itu damai. Asli damai.

#

Memang masih banyak yang harus dikritik dan dibenahi di kultur Nahdiyin namun jauh lebih banyak lagi yang musti dijaga dan dipertahankan. Namun ini biarlah berkembang bersama jaman.

Saya enggak akan pernah (berencana) bergabung dengan NU pun ormas (keagamaan) lainnya, apapun itu. Namun saya berdoa besar, agar NU senantiasa terus hidup, tumbuh, dan berkembang di negeri ini.

Dan saya juga mendoakan, agar semakin buanyakkk cendekiawan berhati NU yang tekun menjalankan Islam dan menjaga NKRI seutuhnya. Allhuma aamiin.

SAYA bukan warga Nahdiyin. Tapi saya harus jujur, inilah kenyataan yang saya alami sejak kecil hingga punya anak gini tinggal di lingkungan Nahdiyin.

Ini murni deskripsi eksposisi. Sama sekali enggak ada nawaitu persuasi apalagi agitasi untuk dan atas (nama/kepentingan) apapun.

– Freema Bapakne Rahman

Sampah, (Aliran) Agama

Saya bodo amat dengan sistem kenegaraan. Bagi saya, apapun yg penting: gotong royong. Dan alhamdulillah negara ini sebenarnya adalah manifestasi prinsip gotong royong.

Termasuk, saya bodo amat tentang agama-agama dan aliran-aliran dalam agama. Mau islam kristen hindu budha; mau sunni syiah; mau NU Muhammadiyah; mau quranis mau hadistis, bahkan mau beragama maupun enggak, … terserah.

Yang penting enggak mbuang sampah sembarangan, yang prinsipnya (enggak buang sampah sembarangan) itu sampe meresap ke dalam hati.

Sebab kalo orang sudah takut untuk berbuat kerusakan: dengan tidak mbuang sampah dan “sampah” sembarangan, mustinya hati ini akan ketakutan untuk merusak diri kita sendiri, merusak orang lain, merusak alam dan lingkungan, merusak tatanan kehidupan, merusak alam raya ini.

Mau apapun agama atau alirannya.

Wallahualam bisawab.

– FHW

Safety

Sebagai manusia yang memilih untuk percaya kepada Tuhan, setiap kali hendak bepergian, kami selalu berdoa sebelum berangkat. Agar perjalanan lancar dan kami diberi keselamatan oleh-Nya senantiasa.

Namun sekaligus, kami “reseh” dalam urusan milih mobil. Kami suka mobil dengan fitur keselamatan tinggi. Katakanlah dalam hal ini: mobil Eropa. Meski tidak selalu pasti dan belom tentu juga yang lainnya enggak seperti itu. Frasa mobil Eropa ini hanya untuk kiasan atau mewakili atau menggambarkan saja. Dan juga, meskipun ini mobil tua entah masih seberapa waras kondisi safety feature-nya. Tapi secara prinsip, demikianlah pilihan kami.

ANEHNYA, mobil-mobil teraman di dunia, malah datang dari negara dengan tingkat atheisme yang sangat tinggi.

Katakanlah, mereka enggak mengenal doa tentunya.

Mungkin karena enggak mengenal “pasrah kepada Tuhan” itulah mereka jadi mikir habis-habisan gimana caranya selamat. Mungkin, karena nyawa adalah miliknya sendiri, bukan milik Tuhan. Mungkin.

Makanya mobil-mobil buatan mereka, fitur safety-nya pol-polan.

Sebagai contoh katakanlah Volvo misalnya, dari Swedia, negara yang konon tingkat atheismenya tinggi.

Volvo itu penemu seatbelt, yang sekarang ada di semua mobil di dunia.

Volvo itu penemu foglamp, yang kita semua begitu demen demen ada foglamp di mobil kita.

Volvo itu penemu side-impact protection system: ada palang besi di pintu samping plus airbag dari sisi samping-dalam mobil (di sisi samping kursi kalo enggak salah).

Volvo itu penemu seat-collaps system. Kalo kecelakaan, sandaran jok depan akan rebah ke belakang, sehingga penumpang berkurang kemungkinannya ngantem dashboard.

Terakhir, volvo itu penemu pedestrian air-bag. Airbag-nya bukan cuman di dalam mobil, tapi juga di luar mobil, menggelembung dari bawah kaca depan. Jadi kalo nabrak orang, orangnya akan disambut oleh air bag.

Bukan cuman Volvo, Mer4cy BMW Audy dan sebangsanya itu sampe sekarang masih ngeyel bikin bodi kokoh dan rangka kuat, rangka mobil itu sudah melebihi kekuatan roll-bar rasanya, agar penumpang aman jika mobilnya rolling. Padahal ini jelas bikin harga jual sangat mahal dan enggak terjangkau semua kalangan.

BMW juga misalnya, karena saya kenalnya cuman ini meski aslinya enggak paham-paham banget juga, terkenal rewel: kalo ada sistem yang fault, biasanya dia enggak mau distarter.

BMW, justru membuat beberapa parts dari bahan yang sangat rapuh. Misalnya thermostat housing. Kalo ada fault di cooling-system, biar dia rusak duluan, enggak sampe kena semuanya/perangkat sistem lainnya.

BMW juga beberapa kendaraan lain yang umurnya udah beberapa puluh taon itu, punya active seat belt. Kalo ada kecelakaan, seatbelt-nya akan ditarik mengencang. Sehingga penumpang dihatapkan berkurang potensi terlemparnya ke depan.

BMW yang umurnya puluhan taon ini, engine mounting-nya malah dirancang lemah. Agar kalo kecelakaan, mesinnya ambrol ke bawah, enggak ngantem kabin.

Meskipun rangkanya kuat, BMW juga beberapa kendaraan lain malah dibikin melipat moncong depannya kalo kecelakaan. Jadi kabinnya aman. Moncongnya dikorbankan. Istilahnya: crumple-zone. Pernah lihat Lamborghini yang kecelakaan hebat sampe moncongnya hancur lebur tapi kabinnya utuh tuh tuh gitu? Semacam itulah skenario teknisnya.

Dan kalo kecelakaan, BMW juga beberapa kendaraan lain akan meng-unlock sendiri kunci pintu, sehingga penumpang enggak terjebak di dalam.

Dan masih buanyakkkk fitur keselamatan yang ada di BMW tua ini. Apalagi yang muda.

*

Mobil keluaran terbaru sekarang fitur keselamatannya malah semakin edan lagi: ada warning “ngopi” kalo mobil membaca telah dikendarai non-stop lebih dari sekian jam.

Ada lane-keeping assist, kalo dia membaca bahwa posisinya mulai menerjang marka jalanan, mobil akan membelokkan sendiri kemudinya sehingga posisinya tetap lurus di antara dia garis marka, di posisi yang benar.

Ada lagi early collision warning with brake assist. Mobil punya radar yang membaca depannya. Kalo mobil menengarai sopir enggak ngerem sementara obyek did epannya semakin mendekat, mobil akan mengerem sendiri.

Di beberapa mobil juga ada fitur SOS-call. Mobil akan otomatis mengirim sinyal atau panggilan telepon darurat jika dia mengalami kecelakaan.

Dan masih bejibun lagi fitur keselamatan terbaru yang semakin membuat saya cuman bisa melongo.

Konon ada yang mengatakan itu semua lebay, hanya ulah kapitalis yang menginginkan agar lebih banyak lagi uang yang dibelanjakan oleh konsumennya. Tapi kalo ini lebay, kenapa urusannya serius banget: nyawa?

Terlepas dari itu, anehnya semua fitur keselamatan itu dibikin oleh negara-negara yang mengijinkan atheisme….

Padahal kalau kita yang mengenal doa dan Tuhan, mustinya kita akan lebih reseh dan jauh lebih hirau tentang safety/keselamatan ketimbang mereka yang atheis. Karena kita bersyukur pada tuhan YME dengan menghargai dan menjaga sekuat tenaga nyawa satu-satunya di kandung badan ini.

Entah kenapa kita lebih suka bersandar pada argumen bahwa hidup-mati itu urusan Tuhan sehingga aspek keselamatan sering kali tidak menjadi prioritas pilihan kita.

Iya enggak sih?

Wallahualam bisawab.
– FHW.

Ikhlas

Si kecil kami, Aleef Rahman, udah mainan Blender 3D sejak kelas 3 SD, tepatnya MIN (madrasah ibtidaiyah negeri). Dia dulu sekolah di MIN Doko (MIN 2), Kediri

Kami ajari sepintas dasar-dasarnya, kemudian dia menyimak klip tutorial, yang entahlah koq begitu mudah diserap oleh anak usia 9 tahun/kelas 3 SD gitu; dan selanjutnya udah bikin macam-macam sendiri.

Masih sangat jauh dari sempurna, bahkan hingga hari ini. Obyek yang dia bikin masih sangat kurang detailnya. Poly-nya pun sedikit juga. Dan rendernya low-medium aja.

Karena masih terbatasnya waktu yang dia pakai, karena dia harus tetep belajar dan harus tetep main-main sama temen-temen kecilnya; sehingga pastinya tak cukup waktu untuk bikin obyek dengan detail tinggi dan poly yang buanyak.

Plus komputer kami emang apa adanya. Teramat apa adanya. Udah bisa running Blender dan bisa render aja udah bagus. Keseringan, dia perlu semaleman buat render. Sambil ditinggal tidur, dan pagi harinya baru dia cek hasilnya.

*

Kemudian kami bikinkan channel/kanal/saluran Youtube khusus untuknya. Hasil karyanya tak lagi kami muat berceceran di kanal Youtube atau akun Fesbuk kami.

Isi kanalnya masih teramat sedikit. Nanti pelan-pelan apa yang udah kami unggah di Fesbuk akan kami unduh dan kami unggah ulang ke kanal Youtubenya. Tapi mohon maaf sebelumnya, videonya acak-acakan. Ya nyutingnya, ya editingnya (lebih tepatnya tanpa editing sih). Karena orientasi kami hanya dokumentasi. Bukan eksistensi, apalagi promosi dan komersialisasi.

Dan kini si kecil kami udah besar. Physically, dia lebih besar/lebih tinggi dari kami, orang tuanya ini. Plus bertambah lebih besar juga daya pandangnya.

Kini dia sudah bisa bikin klip youtubenya sendiri, 100% dia kerjakan sendiri.

Bikin story-board sendiri, meski cuman sebaris kata, katakanlah demikian.

Bikin penyutradaraan sendiri, gimana dia musti nampilkan sudut pandang/arah kamera pengambilan gambar animasinya.

Bikin editing sendiri (mestinya ngetiknya: ngedit sendiri. Sudahlah. Hehehehehe….) Dia bikin scene pembuka, nyuplik video pengantar, dan nampilkan karya animasinya.

Bikin deskripsi sendiri di itu klipnya: bahwa dia pakai program animasi Blender 3D, program editing video Openshot, dan kesemuanya running di Ubuntu Linux, sistem operasi yang dia kenal sejak kecil setelah kami memutuskan purna dari MacOS saat dia belom bisa start dan shutdown komputer sendiri dulu.

Plus unggah semuanya di kanal Youtubenya.

Sebagaimana tampak di klip di atas itu.

*

Kini dia mulai seneng saat klipnya ada yg nge-like. Dia kini mulai memantau, berapa views klipnya.

Kini dia mulai memiliki harapan. Kini dia sudah mulai mengenal angka-angka.

Kini tugas kami bertambah lagi.

Kami harus terus memupuk harapannya: bikin klip animasi yg lebih bagus, yang disukai temen-temennya, namun tetap sesuai dengan isi hatinya sendiri.

Sekaligus kami harus membentenginya dengan keikhlasan: jangan hirau dan galau dengan kuantitas views atau subscriber, jangan hirau dan galau dengan angka-angka.

*

Di dunia yang semakin angkawi ini, serasanya semua ukuran/perameter apa-apa kini musti angkawi: kesuksesan, kegagalan, progres, regres, dll. Parameter kualitatif pun kadang dipaksa musti bisa diangkawikan juga: derma, sedekah, dll.

Ini beratnya kami membentengi dia, sebagaimana kami tetap berat membentengi diri sendiri:

hidup ini harus seperti menanam tanaman di sawah/ladang.

Kita harus tekun memilih dan memilah bibitnya. Kita harus telaten menanam biji/benihnya. Kita harus sungguh-sungguh merawat tanamannya: menyiangi rumputnya, mengusir ulat-ulatnya, … pokoknya memperlakukan tanaman itu seperti anak kita sendiri;

tapi kita dilarang, jangan sampai, kalkulasi/itungan-itungan di depan: berapa kita telah investasi dan berapa nanti pendapatan panennya.

Sebagaimana semua diajarkan oleh pakpuh kami yang dipercaya oleh keluarga untuk ngopeni sawah keluarga di Blitar Selatan sana.

Semuanya harus ikhlas.

Sementara dunia di luar sana, terus dan semakin kencang bergerak dengan angka: diskonan, gratisan pembelian, proyeksi profit, tingkat laba, return of investment, dll dll dll.

Kami harus kuat terjepit di sudut larinya dunia ini: kerjakan semua dengan sungguh-sungguh sesungguh-sungguhnya, tapi musti ikhlas untuk tidak pernah berharap dengan hasilnya nanti, tidak berharap dengan angka-angka.

Sementara kami sendiri harus bertarung melawan angka-angka: token listrik harus rutin diisi, bensin motor harus kembali diisi lagi, buku si kecil juga waktu beli lagi.

Dunia emang berat.

Berat, karena kita harus memenangkan diri sendiri, tanpa harus mengalahkan satupun siapapun pihak lain. Sementara sudah jamak di era sekarang, kemenangan kita adalah hasil mengalahkan orang/pihak lawan.

Berat, karena kami memilih untuk sekuat mungkin menghindari kejamakan era sekarang itu, menghindari memilih parameter angkawi dalam hidup ini. Dan entahlah kami mampu atau tidak dengan ini semua. Kalo toh mampu pun, seberapa mampu kami bertahan, kami sendiri juga tak tahu.

Yang penting dijalani aja (dulu), dilakoni kanthi laku.

INI tentang mblajari si kecil, dan diri kami sendiri, tentang ikhlas. Saat dia sudah mulai “mengenal angka” dan saat kami harus bertarung dengan angka-angka.

Semoga kami masih terus kuat menggali dan menggapai ridho-Nya senantiasa. Allahuma aamiin.

– Freema & Deasy,
Bapakne & Ibune Aleef Rahman.