Satu Pijak Beda Tabiat

Ini semua adalah murni subyektivitas ngasal dan ngawur saya.

Ada akun yg berbicara tentang hal yg sama. Mereka satu kubu, satu persepsi, satu “pihak” sebenarnya: berdiri di sisi yg sama.

Bedanya, satu berbicara dengan bobot, cerdas, bernas; datanya kuat, faktanya akurat, analisisnya matang, hipotesisnya tajam. Banyak hal yg dirangkum jadi satu butir uraian, jadinya uraiannya padat montok berisi.

yg satu berbicara dengan membabi-buta, penuh emosi, hanya berisi opini subyektif belaka. Sederhananya: tong kosong nyaring bunyinya. Baru tau satu hal, uraiannya berlipat-lipat lebih panjang lagi. Jadinya nggelambir kayak lemak perut saya.

Satu pihak yg sama, satu kubu yg sama, satu persepsi yg sama, satu pijakan kaki pun ternyata (bisa) beda tabiat; bisa terpilah jadi dua item yg sungguh sama sekali berbeda berlainan total telak.

#bersih-bersih fesbuk perlahan-lahan, persiapan 2019: #unfollow puluhan page ndhak jelas yg miskin data, lemah fakta, mentah analisis, dan tumpul hipotesis.

– Freema Bapakne Rahman,
subyektif.

Persiapan 2019

Ada sebuah akun. Mengomentari kubu lawannya dengan “2019 masih jauh woy! Udah pencitraan aja!”

Pas saya becandai, saya diblok.

Sementara dari kubunya sendiri, tampaknya persiapan 2019 juga udah mulai dilakukan.

Bullshit, semuanya!

Ndhak usah tutup mata, 2017 ini, pada kenyataannya semua pihak udah siap-siap menyambut 2019. Dan sebenarnya bukan sejak 2017 ini, sejak hajatan Pilpres 2014 kemarin kelar, semuanya pasti akan langsung berkoordinasi untuk mulai menyambut 2019.

Dan kembali peristiwa 2014 akan terulang: kedua belah pihak akan adu kuat: adu kuat inkonsistensinya. Saya menggaransi ini terjadi, garansi untuk diri saya sendiri. Garansi tidak berlaku untuk Anda.

Inkonsistensi, dari KEDUA belah kubu. Alias semua kubu.

2019 nanti peta sementara akan mirip Pilkadal DKI kemarin. Kubu Jokowi akan semakin kuat. Dan kubu SBY/Prabowo akan pakai strategi mirip pilkadal DKI: ada calon utama dan ada calon untuk pemecah suara.

Kemarin itu, dengan kesadaran saking kuatnya Ahok kalo “dilawan sendirian”, alhasil dipasanglah Anies sebagai calon utama, dan Agus sebagai pemecah suara.

Berhasil!

Plus ditambah kampanye “di luar sistem”. Macam Ahok yg ditekan dengan cap penista agama. Yg bahkan suara Buya Syafi’i Ma’arif yg dengan tegas mengatakan bahwa apa yg dilakukan Ahok bukanlah penistaan agama, dengan segala cara akan dikesampingkan.

Dua faktor ini sukses mengantarkan Ahok terdepak dari kancah politik DKI. Dan setidaknya, langkahnya untuk terus tampil ke muka bumi perpolitikan Indonesia sukses terhambat.

Jokowi kayaknya akan dibeginikan juga, entah dengan cara apa. Pemanasan yg ada, Jokowi udah mulai dicap dengan stempel “musuh Islam”. Namun langkah ini agak sulit karena NU “menghambat”.

Biar bagaimana kekuatan NU masih sangat diperhitungkan di negri ini. Apa dhawuh kyai, masih menjadi langkah komando yg ajib untuk menggerakkan jutaan massa NU.

Maka tampaknya, kini NU yg musti dirongrong dari dalam. Entah ada yg disusupkan ke dalam NU atau dijebak untuk memecah NU atau dirongrong secara sistematis lain, saya kurang paham. Tapi langkah ini logis untuk diupayakan.

Atau sambil jalan, mungkin tim komando dan tim intelijen masing-masing kubu sudah menyiapkan dan merangkai beberapa langkah strategis maupun langkah taktis lain demi saling menjegal lawan. Mustahil tidak.

Semuanya demi politik.

Semuanya adalah politik.

Dan warganet terus bersorak riuh tempik-sorai menyatakan semuanya sebagai kebenaran, keadilan, apapunlah namanya.

Dan inilah cerminan politik negeri ini, di mata pandang saya pribadi. Tidak berlaku untuk Anda.

***

MAKA, saya pun juga siap-siap dengan 2019.

Kini saya mulai meng-unfollow fanpage atau grouppage yg konon bilangnya keagamaan atau kebangsaan tapi di dalamnya berisi politik. Entah kepada kubu siapapun dia berpihak. Karena selama dia berpihak dan tidak universal, saya pribadi menganggapnya bukan kebangsaan dan bukan keagamaan.

Kalo dari kaum kebangsaan masih “enteng” buat dijawab umpama saya di-counter sama mereka. Kalo dari kaum keagamaan, ini yg repot. Sebab dari kemarin hingga detik ini, cara untuk meng-counter adalah sama sekali ndhak pake otak, sesuatu yg dianugerahkan-Nya untuk kita gunakan.

Cara mereka meng-counter biasanya pake stempel. Barangsiapa tidak sama dengan pandangan mereka, maka kita adalah kafir, sesat, laknat, liberal, sekuler, dll. Atau kalo kalah opini, pasti pake senjata jauhi perdebatan kusir. Padahal sesungguhnya ini adu otak, bukan debat kusir tanpa dasar tanpa logika.

Yawsudahlah.

***

SELAIN fanpage atau groupage, yg sudah lama saya lakukan sejak tahun-tahun silam adalah me-remove akun-akun sektarian begitu. Bukan karena saya benci mereka secara perorangan, melainkan murni karena saya ndhak ingin “terlibat”, meskipun cuman membaca posting statusnya, dalam perkubuan ke mana saja.

Bukan karena saya benci mereka. Sama sekali bukan. Saya hanya ndhak kuat mengisi waktu dengan membaca gituan. Maka lebih adil dan bijak, dalam sudut pandang saya sendiri, jika akun-akun demikian saya remove.

Saya akui, saya dalam konteks ini jauh dari kehebatan istri saya yg cerewet minta ampun itu. Istriku adalah sedikit dari kaum istri yg cerewetnya level 30 kalo di ukuran Boncabe.

Saya lagi geletakan mau berangkat kopdar ama temen-temen aja, dia udah berkali-kali nanyak. “Kamu ndhak kopdar? Ndhak jadi berangkat tho?”

Padahal itu kopdar bukanlah sekolah. Mau saya kopdar atau ndhak, ndhak ada urusannya dengan naik-turunnya keimanan, kondisi negara, apalagi stabilitas harga pangan.

Plus saya sedang ndhak janjian dengan siapa-siapa. Jadi kalo saya jadi kopdar, itu asyik karena menambah silaturahmi. Kalo saya ndhak jadi kopdar, itu juga asyik karena saya bisa istirahat di rumah.

Eh pas saya males njawab, malah saya jadinya yg salah, “Diajak ngomong gitu doang diem terus!”

Bayangkan coba, kuping lelaki mana yg ndhak illfeel dengan gituan? Dan apapun alasan saya, laki-laki pasti akan salah di mata perempuan. Pasti!

Ini baru satu contoh. Yg ndhak saya ingat-ingat mungkin bakalan ndhak cukup seharian atau semingguan saya ketikkan di sini. Nyaris saban hari bray! 😦 Hiks…

Tapi saya ndhak ngingat-ngingat. Ini bukan sekedar masalah saya mencintainya sepenuh hati sehingga ndhak mau ngingat-ngingat yg ginian. Ini kayaknya murni cuman karena saya laki-laki yg ndhak pernah bisa ngingat-ngingat hal ginian.

Bahkan mbawa handuk pas mandi aja sering lupa. Alhasil saya teriak minta tolong istri ngambilkan handuk. Dan alhasil kembali kuping ini kena semprot. “Udah berkali-kali mandi ketinggalan handuk, masih aja terus lupa!”

Lucunya, dia tetap ngambilkan handuk ke saya bray! Begitu terus berulang-ulang tiap kali saya lupa mbawa handuk pas mandi. Eits bukan cuman saya, juga si kecil.

Dan kasihan dia, kecil-kecil udah kena semprot ibunya. “Kamu itu jan persis bapakmu!”

Kadang si kecil bingung, kadang dia meringis. Mungkin batin dia, “Apa sih salahku?”

TAPI dia istriku itu hebat. Saya cek di dinding(ratapan) alias wall FB-nya, ada dua kubu politik yg rajib banget update status. Timeline-nya malah sepertinya berisi 80% politis dan 20% kehidupan universal ~> itu pun masih dibagi antara pendidikan anak dan kucing sama kuliner dan sedikit traveling.

Atau kalo angkanya kegedhean, baiklah 60% politis dan 40% kehidupan universal. Atau baiklah, saya ngelihatnya pas momen tertentu barangkali, jadi ini ndhak mewakili kondisi keseluruhan.

(Tapi kayaknya “momen tertentu” gitu koq sering banget ya di FB gitu? Kayak selalu ada terus gitu…)

Tapi pas saya nanyak, kenapa ini akun yg berkubu-kubuan ndhak kamu unfollow aja?

Dia bilang, “Mereka semua teman saya, dan kebetulan saya bisa cuek mendapati posting-posting mereka.”

Hebat! Suaminya dicereweti, teman-temannya malah dicueki.

Harusnya kalo dia sayang sama saya suaminya ini, suaminya dimanja-manja, dan cerewetilah itu temen-temenmu yg menjadikan FB sebagai ruang pubik bersama sebagai ajang kampanye masing-masing kubu.

Entahlah.

Saya ndhak mau melanjutkan posting ini.

Abis ini telingaku pasti kena semprot lagi.

Demikian dari kemarin, hari ini, hingga seterusnya.

Hiks… Nasib…

“Lho Mas, perempuan itu cerewet kepada orang yg disayanginya, itu karena pertanda cinta.”

Baiklah, ini cinta.

Baiklah. Saya juga mencintainya dari kemarin, hari ini, hingga seterusnya.

Tapi tetap saja, kuping ini, hiks…

– Freema Bapakne Rahman.

Menjaga dan Merawat Indonesia

Bismillahirahmanirahim.

Sejak pilpres-pilpresan 2014 silam, saya sudah menetapkan diri sebisa mungkin menghindari posting statuta politik. Memilih netral (ber)politik bukan berarti tidak mencintai bangsa dan negara ini kan?

Hingga sampe Pilkadal DKI yg bikin linimasa saya tampak teramat sangat njancuki, saya masih bisa menahan diri untuk ndhak terseret arus menggempur dan menempeleng sebagian dari kedua belah pihak yg menjijikkan di linimasa.

Tapi ketika sekarang di linimasa mulai muncul suara-suara kecil ribut case Cak Nun vs PBNU ini, saya gatel tergelitik ingin ikutan mengungkapkan perasaan.

Dari pengamatan subyektif sepintas saya, yg ribut buta masalah Cak Nun vs PBNU, itu:

  1. Bukan dari kalangan Maiyah atau Nahdliyin. Mereka cuman nyari kesempatan untuk memecah-belah dua kubu yg selama ini, ibarat diagram Venn, mereka adalah bidang interseksi/irisan yg sangat luas. Nyaris bisa dikatakan, tepatnya dikiaskan, bahwa jemaah Maiyah = Nahdliyin. Tapi ini tidak mutlak lho! Ini cuman kiasan, bukan faktualisasi sebenarnya.
  2. Nahdiyin gagap yg sotoy.
  3. Maiyah gagap yg sotoy.

“Ributnya” case Cak Nun vs PBNU ini sangat berbeda dengan tongkolnya kedua kubu: pro-Jokowi vs anti-Jokowi atau kubu pro-Ahok vs anti-Ahok. Mereka yg mendukung atau anti dengan cerdas dan cinta, terpaksa harus tergusur oleh mereka yg mendukung dan anti dengan tongkol dan dungu ~> ini yg dominan mendominasi linimasa dunia maya; dalam pengamatan subyektif sepintas saya.

Sementara dalam case Cak Nun vs PBNU, isinya justru jemaah yg sama-sama bermajelis taklim: menyimak sungguh-sungguh apa kata guru, ustadz, mursyid, kyai.

Maiyah maupun Nahdliyin, adalah dua dari segenap kekuatan besar dalam menjaga dan merawat Indonesia.

Satu-dua (dari kalangan Nahdliyin atau Maiyah) mungkin terlihat reseh. Tapi sangat bisa dikesampingkan.

Well sekali lagi, “perseteruan” ini seru. Serunya adalah karena mereka lebih banyak saling menggali satu sama lain; alih-alih saling menguruk satu sama lain sebagaimana umumnya perseteruan dua kubu yg ada. Kalo saya bahasakan, ini seperti dua saudara yg berdebat sengit dan keras bagaimana menyelamatkan warisan orang tua, bukan berebut mati-matian jatah warisan orang tua. Intinya, banyak adu cerdas dalam “perseteruan” ini ketimbang adu bolot.

Kalo (ada) yg reseh beneran dan banyak bolotnya, cek aja, dia kayaknya nyaris bisa dipastikan bukan Nahdliyin dan bukan Maiyah.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman,
Muslim WNI.

Foto nemu dari internet.

Atheis(me)

Tentu, saya pribadi tidak ingin menjadi atheis. Kebetulan di hati kecil menemukan gimana rasanya nikmat bersyukur. Sesuatu yg susah saya deskripsikan hanya dengan ucapan, namun begitu dalam saya rasakan di lubuk hati terdalam saya pribadi. Maka, persoalan hati saya beriman ini sementara biarlah menjadi ranah privat saya, bukan ranah publik yg musti ditunjukkan dengan pemenuhan eksistensi berupa penilaian dan pengakuan (oleh orang lain).

Sama artinya ketika hati kecil saya menolak atheisme, tentu ini adalah ranah privat saya yg tidak ingin saya carikan pemenuhan eksistensinya, misalnya dengan membunuh kaum atheis atau semacamnya. Sebab bisa jadi malah nanti saya yg terbunuh, soale badan mereka kebetulan pas lebih gedhe ketimbang badan saya. Hehehehehe….

Dan well, sebagai makhluk sosial yg mana saya hidup bersama dengan beragam jenis orang, maka kali ini saya ingin berbicara dengan saya sebagai bagian dari kesemuaan.

Menolak bukan berarti musti membenci. Saya menolak atheisme, tapi saya tidak (ingin) membenci atheis dan mengingkari kenyataan yg terwakilkan pada gambaran di poto ini.

Menurut beragam informasi yg ada, kebanyakan negara-negara dengan atheisme tinggi, kebanyakan di Eropa, emang lebih “islami” hasilnya:

– mereka berpendidikan dan berkeilmuan tinggi,
– kesehatan dan fasilitas kesehatannya sangat memadai,
– punya banyak penemuan teknolgi yg membantu memudahkan hidup dan kehidupan,
– sistem ekonominya stabil
– menghormati orang lain,
– bisa antri, dan
– tidak membuang sampah sembarangan.

Atau dengan kalimat sederhana: mereka malah bisa hidup dan menjadi masyarakat madani (civil-society), sesuatu yg menurut kisah-kisah “Islami” adalah apa yg dibentuk dan dibangun oleh Muhammad Rasulullah SAW.

Hal yg mustinya sangat bisa diraih oleh kaum muslimin, karena kitab sucinya berisi kemahailmuan dari segala jurusan/disiplin keilmuan, justru malah diraih oleh kaum atheist atau kaum “kadir”. Sedikit pengobatan atas kerinduan pemcapaian ini adalah adanya cerita pada era Islamic-golden-age, di mana Eropa masih diliputi kegelapan jahiliyah (kebodohan, keterbelakangan), sementara kaum muslimin telah berhasil mencetak barisan ilmuan yg bebas merdekan untuk berpikir dan menciptakan penemuan (invention) dan inovasi (inovation) dan segala bidang: kedokteran/kesehatan, matematika, fisika, astronomi, ekonomi, sosial, dll.

Selepas itu, meski bisa mengikuti gemerlapnya kemajuan dunia(wi), kaum muslimin kembali terpuruk serasa kembali ke jaman jahilitah, saat cahaya pencerahan Islam belom datang. Segala pencapaian pada era Islamic-golden-age berangsur berpindah ke benua Eropa, entah kenapa dan entah gimana kisahnya.

Banyak kemudian yg memanfaatkan pergantian era ini dengan alasan khalifah/khilafiah-lah, penjajahan budayalah, bahwa pencapaian re-Islamic-golden-age oleh bangsa barat itu adalah pencapaian kaum kafirlah, sampai kemudian ada yg menghibur diri dengan mengunggulkan angka fakta tingginya trend masuknya warga Eropa menjadi mualaf.

Sampai kemudian penentangan terbesar dari dalam diri kaum muslimin sendiri adalah dengan mengsekulerisasi: ini khasanah keilmuan Islam, yg ngomongkan beragam ritual atau amalan, dan yg itu adalah khasanah keilmuan umum (yg bukan kailmuan Islam).

Ini yg saya tolak mati-matian, Semua keilmuan: ekonomi, sosial, fisika, biologi, astronomi, bikin pesawat terbang, bikin mobil, mengembangkan metode pendidikan, dll. adalah keilmuan Islam atau ilmu agama Islam sejauh dikepentingkan untuk kemaslahatan umat manusia. Umat manusia, bukan cuman umat Islam.

Bagi saya, umat Islam adalah sesiapa yg memiliki kesadaran batiniah akan ketauhidan pada Sang Esa dan menjalankan tugasnya menjadi khalifah di muka bumi ini, yakni berbuat untuk peradaban, bukan untuk kebiadaban.

Ini pengertian yg saya pegang.

Tapi dari satu atau beragam pengertian lain, umat Islam sudah terpecah (baca: bertentangan), bukan lagi sekedar berbeda untuk bersama.

Dan pada paragraf terakhir di atas, itulah kemudian yg menjadi titik tekan atheis untuk “menusuk” kaum muslimin. Bahwa kita ini sudah pada taraf berpecah, bukan lagi berbeda. Yg mana perpecahan ini ibarat perang, masing-masing pihak berusaha menjadi kemenangan eksistens, hingga hasilnya kehidupanlah yg menjadi korban.

Kaum muslimin, yg konon kuat religinya, justru malah hidup terbelakang (pendidikan, keilmuan habbit antri dan mbuang sampahnya, dll.) di era yg semakin modern dan mutahir dalam beragam parameternya ini. Dan sekali lagi, kita terus-terusan “menolak” pencapaian kembali era Islamic-golden-age dengan terus mengsekulerkan/memisahkan: “ilmu agama” dan “ilmu umum”.

JANGAN salah pengertian, saya tidak ingin memuja-muji atheis(me), saya hanya ingin mengutarakan sejumput kenyataan yg ada di muka bumi ini. Bahwa inilah sepertinya gambaran kondisi yg ada sekarang.

Andai ada pertanyaan, kenapa kita kaum muslimin koq tidak bisa hidup (semaju) seperti mereka (kaum atheis itu – dalam bidang keilmuan sebagaimana pencapaian era Islamic-golden-age), apa yg musti kita jawabkan lik? Jawaban apa yg musti kita berikan lik?

Tentu tidak sekedar jawaban: wallahualam. Meski posting ini saya tutup dengan wallahualambisawab.

– Freema HW

CATATAN:

Kata ireligius mustinya tidak bisa sementah-mentah saya artikan atheis. Sebab bisa saja itu agnostik: bertuhan tapi tidak beragama. Tapi informasi yg ada, negara-negara yg maju itu memang tingkat atheismenya tinggi. Sehinga saya sementara mengkorelasikan ireligius dengan atheisme.

Plus kenyataan bahwa nyaris semua aliran Islam juga menolak agnostisme: ngakunya bertuhan tapi koq ndhak menjalankan “syariat”? Macam gitu.

Plus lagi, bahwa dominan pengertian yg ada adalah ketika orang “beragama” tapi bukan secara (aliran) Islam maka secara literal, searah, dan nirdialektika juga akan langsung disebut kafir.

Jadi frasa atheis yg saya pakai di sini selain atheis secara literal mungkin juga atheis secara klausal, yakni “non-muslim” dalam pengertian pada umumnya sekarang.

Daya angkawinya akan saya coba update nantinya kalo sempat. Ini tadi ngetiknya ndhak pake dikoreksi dulu soale. Tapi saya yakin, yg biasa mengikuti peredaran informasi secara luas bisa memahfumi postingan opini nirdata angkawi saya ini.

Tq.

Segera Hapuskan Premium & Solar!

Pertamina mengklaim bahwa minat masyarakat terhadap Premium turun. Well, saya ndhak bermaksud membela atau menghujat Pertamina sama sekali. Tapi pada kenyataannya, kalo kita mau ngitung secara cermat dan teliti, pake Premium itu justru break-down-nya mahal, khususon buat kendaraan yang sudah lumayan modern: kompresi tinggi, injeksi tekanan tinggi, dan sebagainya.

Apalagi era sekarang ini, rata-rata kubikasi mesin tinggal setengahnya untuk mencapai tenaga yang sama dengan mesin-mesin era satu-dua apalagi tiga dasawarsa kemarin.

Apalagi denger-denger, BBM dengan oktan setara Premium itu udah lenyap di muka bumi ini, konon tinggal segelintir-dua gelintir negara yang masih pakai.

SEJAK sekian tahun lama, sejak jaman SBY, saya mencermati banyak penggemar otomotif ini malah berharap Premium dan Solar dihapus, agar ada unsur keterpaksaan bagi pengendara untuk membeli BBM dg oktan lebih tinggi, yang memang harganya kerasa lebih mahal namun pada kenyataannya break-down-nya lebih murah.

Kalo masih ada yang beralasan premium masih dibutuhkan oleh rakyat miskin bla bla bla, ya gimanalah caranya mereka dikasih uang mentah aja ketimbang membakar Premium/Solar yang bikin emisi sangat tinggi di jalanan dan mesin-mesin mereka malah mahal biaya perawatannya.

Atau yang paling bagus lagi, mereka diberdayakan secara intensif sehingga tidak lagi terus terjebak pada -maaf- mentalitas miskin yang harus disuapi subsidi individual secara langsung. Karena subsidi itu masih diperlukan untuk kebutuhan komunal.

Well, di mata saya yang juga sering ndhak pegang uang ini, ndhak punya duit itu keadaan. Namun (merasa) miskin itu adalah mentalitas. Bangsa ini akan susah maju kalo mentalitas (merasa) miskin ini terus dipeli hara, entah oleh siapapun untuk tujuan apapun.

Tapi inget lho, menolak (mentalitas) miskin bukan berarti (harus berkelakuan) sok kaya! Jelas koq ini bedanya!

***

Sekarang malah bagusan Pertamina ngeluarkan Pertamax Turbo. Ini jenis BBM yg paling dicari oleh kalangan otomotif. Harganya Pertamax Turbo itu mahal banget lho, tapi bikin mesin lebih optimal tingkat kerusakan/keausannya bisa dibilang lebih rendah, dan optimasi tenaga mesinnya tercapai.

Kalo kita perhatikan era sekarang ini, rata-rata kubikasi mesin tinggal setengahnya untuk mencapai tenaga yang sama dengan mesin-mesin era satu-dua apalagi tiga dasawarsa kemarin.

Jatuh-jatuhnhya: semua akan kerasa malah relatif lebih murah.

Jadi jangan dianggap mereka yang beli BBM oktan tinggi itu orang kaya yang enteng menghamburkan uang. Buktinya, BBM oktan tinggi dibeli oleh mereka-mereka justru untuk berhemat secara ekonomis: yakni agar biaya perawatan kendaraan sesuai dengan jangkanya, bukan lebih cepat ketimbang jangkanya.

Apalagi sekarang udah masuk era mobil listrik. Masih banyak kontroversi, yang saya lebih membacanya sebagai tantangan ketimbang kontroversi. Antara lain anggapan bahwa mobil listrik itu hanya memindah energi fosil ke sentra pembangkit listrik alih-alih mereduksi apalagi menghilangkannya; plus masih belum layaknya mobil listrik untuk mengganti mobil berbahan bakar fosil/minyak, terutama dari sisi jarak tempuh dan kecepatan recharging.

Tapi liat saja nanti, cepat atau lambat niscaya mobil listrik akan serupa mobil berbahan bakar fosil/minyak: jarak tempuhnya panjang dan baterenya bisa di-charge dengan cepat, atau semacam di-replace gitu dengan batere penuh daya tatkala yang nempel di mobil sudah (mulai) habis. Dan sentra pembangkit listrik pun mungkin juga akan berganti ke teknologi yang lebih ramah lingkungan, entah dengan sel surya yang makin murah atau bentuk lain.

Industri akan segera menciptakannya, karena mereka memang juga perlu barang baru sebagai sarana investasi baru untuk menciptakan keuntungan/profit baru yang terus-menerus dan tak pernah putus.

Dan saya cuman asyik jadi penonton saja ketimbang ikutan terjun di dalamnya untuk menimbun kapital dengan wahana perubahan ini.

***

MASIH berangggapan Premium/Solar untuk menyelamatkan orang miskin dan BBM oktan tinggi itu hanya sanggup dibeli oleh orang kaya-raya yang serba kelebihan duit?

Itu sudah bukan lagi teori basi, melainkan emang kenyataan basi. Mudah-mudahan demikian.

Dan jangan dikira kalo saya sanggup posting demikian ini artinya saya enteng banget beli bensin. Sebaliknya, ini malah matii-matian bermotor demi menghindari mbensini mobil terus-terusan. Ngerti po ra?

– Freema Bapakne Rahman
V8

Jauh Herbal Dari Hembing

Ibunda saya perawat, tapi saya & ibunda sendiri sebenarnya sangat tidak suka akrab dengan obat.

Kalo sakit ringan (demam, pilek, pening, dll.) sama ibu malah suka disuruh minum “konsentrat” buah, makan banyak, air putih banyak, trus tidur. Atau metode “penanganan” lain yg sesuai dg diagnosis ibu.

Di rumah ibunda saya juga rutin bikin rebusan ramuan herbal, biasanya rempah-rempah (empon-empon) dan beberapa akar atau kulit dan daun tanaman. Terkadang beli, seringnya metik/ngambil dari hasil pekarangan sendiri.

Kami jga akrab dengan nama-nama besar pabrik jamu: Jago, Sido Muncul, dll. Atau pabrik jamu + bahan perawatan badan: Mustika Ratu & Sariayu.

Kalo tulang keseleo atau otot melintir, kami juga punya langganan “pakar” pijat tradisional yang bertahun-tahun menjadi solusi kami untuk menangani case ini, sedikitpun tanpa ada campur tangan metode medis/farmasi modern!

Dan saya juga takut banget disuntik.

Tapi bukan berarti kami anti medis/dokter/farmasi. Saat alm, bapanda saya stroke dulu, selain pengobatan medis kedokteran, beliau juga diupayakan dengan metode akupuntur.

(Kami sudah berusaha sekuat tenaga, namun Allah lebih sayang beliau dan memanggilnya pulang. Meski kami semua ikhlas sepenuhnya, namun tetap saja kepergiannya terasa cepat bagi kami.)

Di kotak obat di rumah juga tersedia mulai parasetamol dan beberapa obat medis lainnya.

Semuanya berpadu dalam dunia kami.

***

Intinya, medis maupun herbal, dalam sudut pandang kami tebagi menjadi dua kategori: pencegahan dan pengobatan. Kebanyakan ramuan herbal kalo kami nilai buat pencegahan, sementara medis buat pengobatan.

Pencegahan adalah sesuatu yg strategis, gradual, dan panjang, pengobatan adalah tindakan taktis, cepat, dan (harus) pendek. Mustinya jangan dibalik.

Kami kurang tahu jikamana ada metode herbal untuk pengobatan yg sifatnya taktis, cepat, dan pendek.

Bacaan kami sekeluarga juga Professor Hembing. Wikipedianya obat-obatan tanaman/herbal.

Cuman, fenomena belakangan ini, memang banyak pengobatan herbal di mana-mana. Cuman kami ndhak tau, apakah mereka sekelas Professor Hembing atau jauh herbal dari Hembing.

Dan saya juga ndhak tau Jeng Ana ini yg kayak gimana. Apakah herbalnya emang top cuman omongan medisnya itu yg super duper ngawur kalo kata artikel, atau emang herbalnya cuman gaya hidup aja plus omongan medisnya sama sekali ndhak berdasar kompetensi keilmuan.

Mari kita selamatkan dunia herbal dari oportunis yang tak jelas. Mari kita menyelamatkan diri dari herbalis oportunis.

Ajakan ini khususon buat diri kami sendiri.

Dunia sekarang sepertinya emang semakin rancu, absurd, dan nisbi. Kita harus punya prinsip dan pegangan yang jelas.

Wallahualambisawab.

– Freema HW,
“H”-nya bukan herbal.

Berbeda Itu Haram(?)

Ada satu tokoh publik. Posting statuta-nya saya komeni berseberangan. Eh saya diblokir.

Postingnya sempat saya screenshoot untungnya, tapi saya save pribadi aja, tidak untuk publikasi terbuka.

Well…

Terutama sejak pilpres 2014 kemarin, saya memilih tidak berkubu. Saya mencoba memposisikan diri memandang segala sesuatu secara seobyektif dan senetral mungkin.

Alhasil, isi pikir saya bisa menghujat sekaligus membela satu hal atau hal yg lain, satu pihak atau pihak yg lain, satu kubu atau kubu yg lain.

Saya hanya meyakini, tak ada kebenaran atau kesalahan mutlak di (makhluk yg ada di) dunia ini.

Pilihan sikap pribadi saya adalah membela negara dan bangsa ini sekuat tenaga sebisa mungkin sesuai kapasitas dan kemampuan saya.

Membela negara (dan pemerintahan), tak berarti pasti membela (pihak) pemerintahnya.

Namun sayang,

di lapangan ada pihak yg “memaksa” bahwa kita harus berpijak hanya di salah satu dari dua kondisi saja: harus terus membela (pihak) pemerintah atau harus terus anti (pihak) pemerintah.

Kalo saya uraikan secara asal, mencuplik lalu-lintas posting di dunia maya, ada empat golongan warga di negeri ini:

– Pro demo berjilid dan pro presiden. Saya ndhak tau golongan ini ada apa ndhak.

– Pro demo berjilid dan anti presiden. Golongan ini teramat jelas keberadaannya.

– Anti demo berjilid dan pro presiden. Golongan ini teramat jelas keberadaannya.

– Anti demo berjilid dan anti presiden. Golongan ini samar terlihat namun saya rasakan ada.

Dan mungkin, mungkin saja, saya masuk golongan yg terakhir itu tadi. Tapi bukan berarti saya menggolongkan ini. Mungkin saja, mungkin, sikap pribadi saya/kami senada, sedefinisi, serupa, mirip, atau seperti mereka. Mungkin.

APAPUN golongan yg ada, intinya bangsa ini telah sukses menguatkan potensi SARA: ber(antar)golongan.

So, adu otak & pemikiran yg mengedepankan kerukuran sepertinya tidak lagi diperlukan era sekarang ini.

Siapa berbeda, maka mereka adalah golongan lain. Siapa berbeda, maka mereka pasti salah dan kita yang benar. Kalo mereka benar dan bukan dari golongan kita, maka harus jadi salah. Dan siapa salah kalo itu dari golongan kita, maka harus dibenar(-benar)kan.

Golongan adalah segalanya. Golongan adalah tuhan.

Berbeda itu telah haram(?)

– Freema HW,
golong-golong.