Zonasi

Sepintas dari pengamatan kami yg sangat sepintas, berhubung tahun ini si kecil (udah) masuk ke SLTP,

dari pergelutan dan pergulatan ibune si kecil melawan tenggat, berjibaku melawan waktu, pontang-panting ngurusi sekolah anaknya (aku mung dapuk supir, ora ngerti blas apa sing diurus emake thole 😂),

sistem zonasi ini kami rasakan membawa pengaruh yg teramat sangat positif di kota kecil Kediri sini.

Dulu, semua pada berebut masuk SMPN 1 Kediri Kota.

Anak-anak pinter dari pucuk gunung dan luar kota pada berebut bermodal NEM dan kepercayaan tinggi, masuk ke SMPN 1 Kediri Kota. Saia termauk alumnus sana.

Alhasil, sekolah ini sukses bertahun-tahun jadi menara gading yang tak retak.

Segala kejuaraan mereka sabet pialanya. Lomba apapun. Nyaris tak tersisa buat lainnya. Bisa dibilang demikian.

Mulai lomba bidang studi, olah raga, hingga Pramuka dan gerak jalan agustusan.

Kalo bukan SMPN 1 Kediri Kota, maka itu artinya adalah sekolah dengan kasta lebih rendah, di bawahnya.

Kini, dengan sistem zonasi, mendadak semua malik grembyang, berubah 180 derajat, seperti terbaliknya telapak tangan.

Orang tua gk peduli lagi dengan SMP 1 itu.

Semua berlomba mendaftarkan anaknya ke sekolah terdekat.

Dan denger-denger, alhasil sekolah di lereng gunung Kelud sana konon rataan NEM atau NEM tertingginya -entahlah- setanding dengan sekolah di pusat kota. Kami belom pegang data faktualnya untuk ini. Tapi sepintas dari pengamatan siswa yg diterima di sekolah-sekolah terdekat kemarin itu, bisa kami tarik kesimpulan kasar, emang kini kondisi siswa tampaknya lebih merata. Kalo toh belom merata, setidaknya tak lagi terfokus ke satu titik. ~> #future research#

Tampaknya kini orang tua memang lebih mengejar pendidikan untuk anaknya, bukan lagi mengejar sekolah.

***

Beberapa suara sumbang tetep masih saja kami dengar. Alasan yg terungkap antara lain: khawatir sekolah pinggiran kualitas pendidikan dan sarana-prasarananya berbeda dengan di kota, khawatir kualitas gurunya berbeda, dan sebagainya.

Tampak faktual, tapi lebih ke subyektif-diskriminatif rasanya.

Tebakan kami, mungkin mereka kecewa, karena sekolah kota yg jadi tujuannya, tak lagi menjadi sekolah menara gading dan jadinya sama saja dengan sekolah-sekolah lain. Mungkin.

Dan persoalan kualitas guru atau sarana-prasarana, yg okelah taruh kata masih berbeda, mungkin seiring perjalanan waktu bisa akan semakin seimbang.

Mengingat kualitas kemampuan/kompetensi siswa kini bisa dibilang merata dan tersebar.

Who knows aja.

Ini sedikit pengalaman kecil kami.

***

Belakangan kemudian, si kecil milih masuk MTsN ketimbang SMP, yg emang gk ada zonasi & regulasinya ikut kemenag, bukan kemendikbud. Tapi tetep lumayan jadi rebutan juga – nyaris semua MTsN di sini, apalagi yg favorit.

– Freema Bapakne Rahman

Advertisements

Inilah Politik, Inilah Bisnis, Inilah Indonesia

– Apa mustinya yg kita perbuat pada orang yg gk tau sementara kita mengetahuinya? Ya kita kasih tau.

Tapi di bisnis/perdagangan/jual-beli kadang lain. Kustomer yg gk punya pengetahuan tentang produk adalah makanan empuk buat kita porotin duitnya. Kita bisa jual produk jelek dengan harga tinggi. Karena pembeli kita gk tau.

– Apa yg seharusnya kita jalankan pada orang yg sedang silap/khilaf sementara kita tau benernya musti gimana? Ya kita arahkan gimana yg benernya.

Tapi di politik lain. Lawan politik yg sedang silap/khilaf adalah makanan empuk untuk kita jatuhkan.

– Apa yg semestinya kita perbuat ketika menghadapi sesuatu yg tampak aneh, tak semestinya, dan tak biasa di mata kita? Tabayyun, mencari klarifikasi dan konfirmasi kepada yang bersangkutan, itu sebenarnya apa atau ada apa di balik itu.

Tapi kebanyakan masyarakat Indonesia itu lain. Itu adalah bahan hujatan yg empuk dan sangat memuaskan batin kita.

Kami mengalaminya banyak kali hal-hal demikian semua itu tadi.

***

Yg pertama adalah saat saya iseng “menantang” temen sedan dari merk Jepang, berpenggerak roda depan (FWD), dan ber-cc sedengan namun bertransmisi manual untuk drag dengan mobil yg saya kendarai: BMW 3000cc V8 tapi otomatis. Dan jarak dragnya cuman 50 meter!

Drag terpendek di muka bumi ini normalnya 201 meter, itu pun sebenarnya jarak maksa. Setidaknya musti dua kali lipatnya biar pertandingan bisa berlangsung normal.

Temen yg saya ajak sempat terdiam. Ini pertarungan yg sama sekali gk adil dan gk patut lagi layak dijalankan. Namun demi kesenangan belaka dan “bodo amat” sama sekali. pertarungan tetep kami jalankan.

Temen yg bersedan manual udah siap-siap launch-control. Kaki kanan menginjak gas dalam-dalam, kaki kiri menginjak kopling. Begitu aba-aba start dimulai, dia tinggal lepas kopling dan mobilnya lansung melesat bak anak panah dilepaskan dari busurnya.

Sementara pada saat yg bersamaan, kaki kiri saya ada di foot-rest, kaki kanan masih menginjak pedal rem agar mobil yg masuk D -dengan mode S (sport)- gk ngeloyor. Begitu aba-aba start dimulai, saya baru saja melepas kaki kanan dari pedal rem, memindahkan ke pedal gas berikut menginjaknya dalam-dalam. Transmiis otomatik yg dari lahirnya udah hilang 20% tenaga saat start dibanding manual ini hanya bisa mengeram perlahan.

Alhasil, penonton dari kubu lawan saya bersorak-sorai tiada tara. Sebuah mobil Jepang ber-cc sedengan sanggup meninggalkan jauh sebuah BMW bermesin 3000cc V8 di drag 50 meter itu.

Dan dari kubu saya, saya dihujat habis-habisan, karena dianggap melakukan tindakan konyol yg sudah pasti saya akan kalah telak.

Tanpa pernah ada orang yg tau, bahwa lawan tanding saya begitu sungkannya mengungkapkan perasaan, karena dia menangnya “garing”, “tanpa perjuangan”, dan seperti kemenangan karena WO (walk-out). Dan saat saya ajak nyoba ganti mode: balapan beberapa kilometer, dia angkat kedua tangannya.

Namun karena nawaitu kami berdua adalah iseng seiseng-isengnya, kami berdua tetep ketawa-ketiwi.

Hanya kami berdua dan Tuhan yg tau kondisi ini.

Masyarakat di luar sana, bertahan dengan persepsinya masing-masing, dan pasti jauh lebih nikmat bertahan dengan persepsi masing-masing ketimbang perlu mencari tau fakta yg ada.

***

Lainnya itu, kami mengunggah video si kecil di Youtube. Si kecil yg kala itu berumur lima tahun melafalkan doa khatam Quran dg pronunciation yg amburadul. Morat-marit menurut tata bahasa Arab. Ya, itulah si kecil kami yg terlambat bicara. Namun kami bangga dia berani berlagu melafalkan doa suci itu.

Tapi apa komentar netijen? Sebuah komentar sewot mendarat di klip tersebut: banyak salah (pengucapan/pelafalannya), (klip/channel) kayak gini ngapain di-subscribe?

Namun alhamdulillah, tiga jempol naik ke atas, dua jempol turun ke bawah.

Yg tiga jempolnaik ke atas, kami cutiga itu adalah famili kami sendiri yg paham bener keadaan si kecil yg punya kebutuhan ekstra, bukan khusus. Yg dua jempol ke bawah, mungkin tipikal masyarakat judgementalis yg langsung menilai segala sesuatu dari hanya apa yg tampak, ter-frame, dan sekilas belaka.

Dan memang kenyataannya klip kami tersebut memang sekilas, sepotong, sepenggal dari keseluruhan. Meski sepenuhnya bukan klip framing.

Bayangkan jika Anda jadi orang tua dengan anak yg “lain” seperti itu, dengan maksud dan tujuan tertentu; alih-alih mendapatkan apresiasi, yg muncul malah hujatan.

Bagaimana perasaan Anda?

Kalo kami sih sudah kebal lahir batin.

Bodo amat sama masyarakat. Ada Tuhan di atas sana yg Maha Tahu segalanya.

***

Dan masih banyak contoh kejadian senada yg kami alami dalam hidup ini. Yg itninya sedemikian itu.

Anda juga pernah mengalaminya? Sering?

Jangan marah dan jangan kecewa. Mungkin kami, kita, juga sering/pernah melakukan hal demikian kepada orang lain, dengan atau tanpa kita sadari. Dan mungkin tabiat demikian ini sedang kita muntabkan menjelang/di musim pilihan presiden demikian. Di mana kita mengharamkan tabayyun, klarifikasi, dan konfirmasi dalam hidup kita. Karena kemenangan persepsi kita adalah tuhan kita secara de-facto, meski secara de-yure kita ngomongnya mengakui Tuhan Illahi.

Ini adalah saat mana hidup dalam persepsi subyektif kita sendiri “harus” kita fatwakan sebagai kebenaran dan obyektivitas.

Mungkin itulah kenapa tampaknya di muka bumi ini persepsi menjadi komoditas yg (perlu) selalu dikelola, dibentuk, dibangun, selalu diciptakan dan dimunculkan, serta selalu dijaga. Sementara kenyataan (obyektif), adalah sesuatu yg tidak perlu kita hiraukan.

INILAH Indonesia. Mending jangan pernah hidup dengan goal alias tujuan hidup obyektif yg kita rancang sendiri. Mending hiduplah kita dalam garis judgemental – garis penilaian masyarakat luas.

Sebab di sini kebenaran bukian ditentukan dengan obyektivitas, dari fakta yg ada, dan kenyataan yg sesungguhnya melainkan dari persepsi yg dominan beredar di masyarakat.

Jika Anda ngoceh tentang teknolgi 10 atau 50 taon ke depan, atau ngoceh tentang idealisme ekonomi yg bersandar pada sumber daya (resources) bukan pada kapital-nomimal, jika Anda mengagungkan agama yg hakiki-maknawi-implementatif bukan agama yg ritualistis kosong sarat dengan ajang pelarian; Anda akan menjadi manusia alien, manusia asing, yg gk layak hidup dalam realita Indonesia. Apa yg Anda ocehkan hanyalah akan menjadi khayalan alih-alih itu visi.

Jika Anda membayangkan bisa berprestasi dengan sesuatu yg tak jamak di Indonesia, mending bermimpilah untuk bisa hidup di negara maju yg mengakomodasi khayalan alias imajinasi tinggi Anda yg kelewat batas.

Di sini, Anda wajib hidup dengan realita hari ini, berotak datar yg nirvisi, dan ilegal untuk membahas dan membicarakan masa depan.

Di muka bumi sekarang ini, kebaikan adalah tentang apa yg diterima banyak orang, bukan apa yg sesungguhnya bermanfaat bagi banyak orang.

Mungkin demikian. Mungkin.

Jika Anda gk sepakat, mending tetep diamlah; jangan bersuara dan menyuarakannya kepada Indonesia.

Karena nasib kita bukan bergantung pada gotong-royong kehidupan yg semakin tergerus termakan jaman. Nasib kita tergantung tangan individual kita sendiri-sendiri.

Hidup kita bukan lagi ditentukan oleh hidupnya orang-orang lain. Hidup kita, tergantung matinya orang lain.

Mungkin demikian. Mungkin.

– Freema Bapakne Rahman
Kalo tentang bensin saya kering, itu fakta, bukan persepsi. Anda gk perlu berperepsi tentang hal ini.

Perisakan

https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4199435/sekolah-akui-kecolongan-bocah-bandung-dibully-sejak-kelas-4-sd


Si kecil kami badannya gedhe, tapi berpikirnya lurus. Dia susah menangkap guyon-guyon pasaran kebanyakan temen-temen sebayanya. Bagi dia, “lucu” itu kalo ada pesawat yg salah konsturksi, kereta yg salah desain, dan sejenisnya. Biasanya, hal demikian ada di Natgeo atau kanal Youtube. Intinya, hal yg sama sekali gk umumlah untuk kebanyakan (baca: nyaris semua) anak-anak seusianya.

Karena pola pikirnya yg gk selaras sama komunitasnya, jadinya si kecil malah sering dirisak (bullyed) sama temen-temennya. Baik dirisak dengan kata-kata – ini yg paling sering, maupun tindakan.

Pas kami suruh dia mbales/pukul aja temennya yg suka merisak, dia bilang: “Jangan, nanti aku gk disayang Allah…”

***

Dulu pernah, mungkin karena gk kuat menahan hati karena dirisak temen-temennya, akhirnya meledaklah emosinya. Temennya dilempar pake botol air mineral hingga hidungnya mengucurkan darah.

Kami berdua orang tuanya si kecil ini dipanggil ke sekolah. Dinasihati sama pihak sekolah agar si kecil lebih kami perhatikan.

Ya kami jawab aja dengan enteng ke bu gurunya: “Bu, anak saya yg menjadi pelaku atau korban perisakan sehingga bereaksi seperti itu?

Masih “untung” si kecil kami cuman melempar botol ke temennya, bukan tidak mungkin lho korban perisakan gini meledak dan membunuh temennya….”

Pihak sekolah terdiam.

Kayaknya perkara perisakan gini, juga fenomena masih massifnya rakyat yg buang sampah sembarangan, belom menjadi perkara yg serius untuk ditangani di negeri ini,

Dan pihak sekolah belom mau kalah.

Kata bu gurunya: “Pas kami tanya ke para santri (sekolahnya thole kala itu di madrasah ibtidaiyah, sekarang dia udah masuk MTs) siapa yg pagi tadi gk sholat (baca: sembahyang) Subuh, putra njenengan yg tunjuk jari. Katanya karena bapaknya juga bangun (ke)siang(an) jadi gk subuhan.”

Ya kami jawab dengan santai: “Alamdulillah kalo gitu bu, putra kami jujur. Itu temen-temennya yg gk ngacung, dijaminkah kalau mereka semua subuhan? Jadi sebenarnya siapa yg ‘sholat’ di sini: si kecil kami yg jujur bilang gk subuhan atau anak-anak yg mungkin diem gk ngaku kalo gk subuhan?”

Well, soale sedikit banyak kami kenal dan tau modelannya temen-temennya si kecil yg kadang kala main ke rumah.

Pihak sekolah melongo lagi.

Kayaknya maksud baik mereka jadi ancur lebur karena aka model orang tua murid kayak kami.

Dan yg pasti, kami pun si kecil hingga detik ini tetaplah menjadi warga bumi yg teralienasi. Kami susah banget diterima di banyak komunitas, karena cara berpikir kami. Dan kami juga songong: males ngikuti pola pandang dan pola pikir publik yg kadang … well, kami susah untuk menggambarkannya. Sebab pasti kami akan menjadi pihak yg salah karena menggambarkan kultur dan budaya dominan mayoritas.

Nanti akan kami sambung lagi ke bagian lain, tentang teralienasinya si kecil kami.

– FHW HDW

Jihad

Saya masih inget bener, akun seorang rekan meng-share catatan panjang tentang pengertian bahwa jihad itu harus perang. Perang fisik, bertempur melawan ‘orang kafir’.

Tulisan itu menentang keras pengertian jihad yg: jihad ekonomi – dimana kita harus berperang melawan kemiskinan ketimpangan dan penindasan ekonomi; jihad iptek – dimana kita musti menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi demi sebesar-besaranya kemaslahatan umat; dan semacamnya.

Oleh akun tsb, ulama-ulama hakiki macam Gus Mus dkk dll dalam seingatan saya tak pernah dikutip. Jelas yg bolak-balik di-share adalah mereka ‘ustadz-ustadz islamis’, yg pengikutnya pada kenyataannya emang mayan banyak.

Akun-akun kayak gini, kalo diajak diskusi pakai pikiran, tentu menghindar/membiarkan tanpa pernah menanggapi. Karena jelas, mereka beranggapan bahwa apa yg dilakukannya adalah membela islam dan macam kita-kita ini adalah penentang islam, pembela kafir, dsb dsj dst. Dan kemudian akan mengerucut: kita bakal didakwa sebagai golongan kubu politik seberang.

Jatuh-jatuhnya ujung-ujungnya akhirnya balik juga muaranya: ke persoalan politik kubu-kubuan. Kasihan banget kaum netral yg bebas kubu dan tak berkubu macam saya gini…

Dan mereka akan terus gencar posting, posting terus-terusan. Tema yg berbeda namun dengan inti yg sama. Diulang-ulang duputer-puter terus-menerus tiada pernah dan tanpa ada henti.

Kuatnya brainwash dan brainstorming pada mereka dg dalih cinta Allah cinta islam dan berjuang demi/untuk dan dalam islam benar-benar membuat logika bawah sadar mereka buntu. Mereka kuat luar biasa untuk terus-terusan mengulang-ulang posting berbeda-beda namun intinya sama saja. Sampai kita-kita yg berani membangunkan logika diri sendiri ini, yg mengajak tukar pikiran baik-baik ini jadi jengah dan bosen sendiri.

Ini macam teori komunikasi pemasaran: kampanye terus-terusan akan membuat sebuah citra menjadi menancap di benak audience, sekalipun audience tak menghendaki.

Islam itu merekalah yg berhak memiliki. Kita yg berbeda ini akan dicap bukan islam.

Tuhan serasa telah mereka ambil alih kekuasannya.

Akhirnya saya yg gk kuat, saya unfriend itu akun. saya kalah melawan itu akun.

******

Miris. Di bawah sana, Indonesia masih penuh dengan ancaman pada kedamaian.

Yg cinta Islam, cinta NKRI, dan cinta kedamaian ini kalo gk bergerak nyata membendung itu semua; entahlah apa yg bakal terjadi dg negeri ini.

Mungkin kita akan tunggu waktu untuk jadi afghanistan, suriah, iraq, libya… Porak-poranda karena kuatnya mereka yg tak pernah merasa kalo merasa menjadi islam paling benar, yg dikendalikan oleh entah siapa.

Bohong kalo Indonesia itu aman-aman saja. Ada bara tak pernah padam di bawah sana, yg mana mereka mengatasnamakan berjuang dalam islam, berjuang untuk islam, berjuang demi islam, dan seterusnya.

Mereka itu semua, saya meyakini sepenuhnya, tak pernah bisa diajak bicara baik-baik dengan akal-pikiran terbuka.

Salahnya, kadang yg berseberangan dengan mereka, meng-counter-nya (sama-sama) dengan sinisme. Jadi di kedua kubu kadang hanya terjadi gontok-gontokan picisan murahan yg sama-sama menjijikkan dan tak ada inti pikiran yg bisa didapat.

Parahnya lagi, perang gontok-gontokan ginian bisa berkepanjangan, dan melibatkan akun yg sangat buanyak.

Njijiki bener.

Mungkin demikian.

Mungkin.

Double-Deck

Dulu, ngumpulkan uang saku, buat beli kaset kosongan, trus bikin album kompilasi. Pake tape compo double-deck.

Tape compo double-deck, bukan bis Volvo double-decker yg udah sempat kami coba di kota besar Surabaya saat main ke bonbin; yg sekarang baru digandrungi ulang oleh abg-abg kagetan yg ngakunya maniak bis.

Rame-rame bawa koleksi kaset sama temen, atau pinjem temen anak orang kaya yg punya banyak koleksi kaset.

Trus diputer di tape-deck rumah, atau compo di kamar, atau walkman sambil bergaya jalan-jalan darma wisata sekolah. Laguku komplit: mulai Metallica, Europe, Firehouse, Def Leppard, hingga NKOTB.

Radio pun isinya Dewa19, masih pakai 19 bukan yg tanpa 19, dan yg jelas gk ada dangdut koplo.

Dunia isinya indah banget jaman segitu. Gk ada caci-maki di medsos.

Kala itu, jaman ribuan berbahagia karena dibelikan sepeda Federal sementara ribuan lainnya hanya sanggup memimpikannya belaka.

Jaman E34 atau E36 kita barusan nongol kinyis-kinyis baru lahir, mobil yg sama sekali belom saya kenal.

– Freema Bapakne Rahman

Kreatif

Dia malah sibuk nggambar papan tatakan kertas ujiannya. Ujian Semester & try-out menghadapi UN. Entah kapan dia nyoret-oret itu papannya.

Kayak buku-buku pelajarannya, isinya penuh coret-coretan. Sementara pelajarannya malah gk ditulis. Soal ulangannya juga sering gk diisi jawabannya.

Separuh buku mungkin ada: isinya oret-oretan semua.

Maka sesuai sistem pendidikan (negeri) di Indonesia: semua coretan kreativitas dan kisah imajinasi otaknya yg setinggi langit itu ostosmastis diabaikan,

dan “kepandaian & kecerdasannya” hanya akan diukur dari jawaban ujian yg dia kerjakan, dari nilai yg ditentukan oleh kurikulum.

– Ibune Rahman

Bukan Mak-kluwer!

Terima kasih pak, udah ngasih saya jalan duluan. Bapak baik banget, gk kayak pengendara lain yg kadang udah jelas gk berhak jalan tetep aja nekat nyrondol.

Tapi gini pak, dalam hal posisi kita sama, seimbang, atau dianggap setara; yakni ketika kita sama-sama jalan ntar kita bisa tabrakan;

atau ketika saya jalan itu bisa membuat bapak ngerem mendadak atau setidaknya ngerem dengan (lumayan) keras;

maka bapaklah yg harus jalan duluan.

Karena di regulasi lalu-lintas, bapak yg jalan lurus gitu punya hak sepenuhnya ketimbang saya yg hendak berbelok.

Jadi mustinya bapak tadi ndhak usah memelankan diri dan berhenti untuk ngasih kesempatan saya untuk berbelok.

Sayalah yg wajib menunggu bapak lewat dukuan, baru saya melaju berbelok.

Yaaa kecuali bapak dan di belakang bapak tuh puanjangggg barisannya, yg kayak gitu baru terima kasih banget jika bapak bersedia mem-pause barisan untuk memberikan kesempatan pengendara minoritas gini berbelok. 😀

Well…

Semoga selamat di perjalanan sampai tujuan ya pak. Sehat selalu buat bapak dan keluarga, berkah rejekinya senantiasa.

Kalo di Indonesia ini orang isinya mayoritas kayak bapak, betapa nyamannya lalu-lintas di negeri ini.

Saya impressed banget tadi sama ketulusan bapak ngasih jalan duluan ke saya.

Sayangnya orang kayak bapak ini sepertinya langka, laksana pandawa di kerumunan kurawa.

Tapi, meski cuman seuprit dibanding kurawa, pandawalah yg menang. Orang bala pandawa kayak bapaklah pemenang dalam kehidupan ini, meski mungkin bapak sering disleding pengendara-pengendara bala kurawa.

Barakallah.

– FHW
Bukan baladewa. Cuman generasi dewa19.