Senjakala/Bangkitnya Pos Indonesia?

Ngenes juga mendengar kisruh demonstrasi serikat pekerja pos Indonesia yang gajinya terlambat dibayar. Di sisi lain, jujur, saat membayangkan jasa pengiriman atau kargo atau kurir, ingatan saya pribadi langsung tertuju ke JNE. Jika mengingat lagi agak lama, baru ada bayangan JNT dalam benak saya, perusahaan yang jauh lebih muda dibanding JNE itu.

Kondisi Pos ini sebenarnya sejak luama sempat menjadi bahan renungan saya, yang mana saya enggak punya hubungan apa-apa dengan PT Pos. Enggak ada keluarga yang kerja di PT Pos Indonesia, saya jadi vendornya PT Pos Indonesia juga enggak.

Saya sering bertanya dalam hati: itu Pos Indonesia masih hebatkah kinerjanya ditengah-tengah laju kencang JNE, JNT, atau Go-Send dan buanyak perusahaan kurir saat ini? Bahkan, KAI sendiri (melalui vendor pihak ketiga) juga membuka layanan kargo. Belum lagi bis malam yang juga udah mulai merangsek pertarungan perebutan gurihnya kue bisnis kargo. Kramat Djati dan Lorena yang tampaknya sudah merajai kiprah ini. Namun yang pasti, semua PO Bus, khususnya bus malam, juga mendadak jadi punya usaha kedua yang serius dijalani sejak munculnya bodi bus hi-deck yang ruang bawahnya bisa mengangkut beberapa unit sepeda motor sekaligus itu.

Yang pasti, meskipun PT Pos Indonesia adalah entitas bisnis independen, yang kebetulan sahamnya milik pemerintah Republik Indonesia yang ini notabene artinya adalah milik rakyat juga; kiprah Pos Indonesia tetaplah berkaitan dengan sejarah yang menyatu dengan perkembangan kultur dan peradaban bangsa dan negara ini juga. Sakitnya PT Pos, adalah sakitnya hati masyarakat Indonesia juga sebenarnya.

Hanya saja ketika masyarakat Indonesia berposisi sebagai kustomer jasa layanan logistik atau kargo atau kurir atau pengantaran, ya jangan salahkan mereka jika murni mencari layanan yang paling memberikan benefit sesuai kebutuhannya. Pertanyaan sederhana ini sebenarnya yang mustinya menjadi hal yang haru dijawab oleh PT Pos melalui kinerjanya.

Dan ternyata saat ini, PT Pos menghadapi titik nadirnya dalam perjalanan jaman. Gaji terlambat dibayarkan, mustahil jika kondisi internal PT Pos Indonesia itu baik-baik saja. Pasti ada sesuatu ini, entah di kondisi operasionalnya maupun finansialnya, yang mana keduanya pasti berkaitan.

Menurut saya pribadi, mending PT Pos ini segera dijual aja ke JNE atau Gojek atau apalah. Biar segera dirombak dan diisi dengan langkah-langkah kreatif anak-anak muda yang enggak lelet bin lamban bin lemot dengan birokrasi (internal).

Atau kalo pingin tetap bertahan sendiri, mau enggak mau, kasih direktur sekaliber Pak Jonan sebagaimana saat dia bertarung melawan keadaan luar-dalam kiri-kanan atas-bawah depan-belakang kala merombak total kultur bisnis PT KAI dulu itu. Kini kita bisa lihat hasilnya, PT KAI menjadi perusahaan yang kuat citranya di benak khalayak.

***

Penjualan perusahaan untuk penyelamatan itu bukan hal tabu dalam dunia bisnis, malah lumrah.

Volvo Cars aja sampe dibeli Geely dari China. Sementara UD Truck (Nissan Trucks) malah dibeli oleh Volvo Trucks (Volvo Cars & Truck itu beda entitas).

Mitsubishi Trucks yang kita lihat merajalela di jalanan Indonesia, nyatanya juga harus pasrah dibeli oleh Mercedes-Benz Trucks & Bus Corp. Sementara Mitsubishi Motors-nya harus dibeli Renault, yang mana Renault juga udah lama memiliki Nissan.

Bahkan, pabrikan sekaliber Lamborghini pun juga musti legawa dibeli oleh VW Group melalui salah satu anak perusahaan mereka: Audi.

Dan Hino, bersama Daihatsu serta Subaru (yang semula milik Fuji Heavy Industri) juga udah lama dicaplok oleh Toyota.

Rolls-Royce dan MINI udah sejak kemarin jadi anak perusahaannya BMW Group yang kita kenal sebagai induknya BMW AG.

Sedangkan Bentley, sebagaimana Lamborghini, udah dibeli juga oleh VW Group.

Jaguar dan Land Rover yang kurang ikonik apa mereka, juga sampe musti nyerah dibeli oleh TATA Group dari India.

Namun yang pasti, ciri khas masing-masing perusahaan, khususnya yang dari Eropa itu, tetap dipertahankan dan enggak semena-mena diubah begitu saja oleh pemilik barunya.

Nah, siapa tahu dengan segera menjual kepemilikan PT Pos Indonesia, perusahaan ini justru akan semakin kuat mengibarkan layanan dan citranya, plus meraup pundi-pundi laba.

Sebab jika kultur lama masih bercokol: sulit dan susah beradaptasi dengan perubahan jaman dan cuman bisa mengeluh saja tanpa gebrakan radikal, yaaa…. mungkin PT Pos Indonesia ya enggak akan pernah sesukses JNE atau JNT.

Atau sekali lagi jika tetap pingin dipertahankan secara independen, perlu ada direktur utama sekaliber Pak Jonan yang berani membuat “gebrakan berdarah” dalam tubuh PT Pos Indonesia.

Mungkin demikian. Mungkin.

Entah ini adalah senjakala atau mungkin titik balik bangkitnya Pos Indonesia, saya pribadi hanya bisa melihat dari kejauhan. Namun satu yang pasti, saya berdoa agar kondisi PT Pos Indonesia ini segera membaik, sehingga kami bisa menjadi pelanggan setianya. Demi mendapatkan layanan yang terbaik dan demi kebanggaan sebagai anak bangsa.

Mohon koreksi jika saya salah data/informasi. Monggo pendapat Anda.

BTW apa kabar Telkom Indonesia?

– Freema Hadi Widiasena,
bukan kustomer potensial.

Advertisements

Membaca.

Membaca = ,emyelami dan memhami sesuatu, memang ngeri efeknya. Orang bisa keracunan bmw gegara membaca blog sesat ini. Sebaliknya, orang bisa ‘sinting’ gegara kebanyakan membaca anny arrow misalnya.

Membaca jadi seperti pistol, tinggal mau diinjeksikan ke polisi atau penjahat.

Mungkin itulah kenapa Soekarno, Hitler, dll dll dll hobi menulis, untuk mengubah dunia dengan kekuatan membaca.

Tinggal bikin bacaan yang baik, fainsya allah dunia bisa berubah lebih baik.

Dan itulah rasanya, kenapa semua kitab suci dijadikan buku bacaan.

So, kalo dibalik: untuk memburuk dunia, maka bukan dengan membombardir bacaan yang jelek. Karena itu lebih mudah diabaikan oleh pembacanya.

Untuk memperburuk dunia, cukup dengan menghilangkan kemauan orang, habit masyarakat, dan segala daya dukung untuk membuat orang membaca.

Inilah kenapa mungkin negara maju bisa maju, karena habit membaca mereka tinggi.

Dan inilah mungkin kenapa Indonesia kayak gini-gini aja, itu karena kita semua juga rasanya: males membaca.

Selamat buat yg bernasib “apes” telah kesasar ke blog laknat ini. Selamat bagi yang telah bernasib “naas” kecebur miara bmw tuwa, khususon gegara blog ini. Selamat menikmati menjadi manusia terasing di tengah kejamakan jumud di Indonesia sini.

Itu karena “salah” Anda: membaca (blog sesat ini).

Mungkin demikian.

Mungkin.

– Freema Bapakne Rahman

Atheisme (lagi).


Kata komen di post FB di atas: “Not with madrasa education.”

Madrasah adalah bahasa Arab untuk sekolah(an)/school.

Sayangnya mereka enggak tau gimana madrasah di sini: siswa (santri)nya diajari untuk cinta Tuhan, cinta alam, cinta lingkungan, cinta sesama manusia dan makhluk Tuhan, …. cinta alam raya termasuk cinta NKRI.

Komen tersebut adalah tantangan dan pertanyaan besar kepada umat beragama, termasuk umat Islam tentunya, untuk membuktikan diri lebih baik ketimbang atheis.

Sayangnya kayak di Indonesia sini, agama malah dijadikan alat (jualan) politik alih-alih alat (tool) untuk menjadikan manusia/pemeluknya menjadi manusia paling berkualitas sekaligus paling bermanfaat.

Plus, kualitas pendidikan di Indonesia, dapat kita lihat dari gimana para pengendara berkendara di jalan raya dan bagaimana sampah dibuang: jika kita mau jujur dan legawa menerima keadaan, lihatlah di sekitaran kita bahwa pengendara masih miskin tata-krama lalu-lintas dan masih buanyak orang mbuang sampah seenaknya, termasuk siswa/siswa sekolah/madrasah.

Gk usah pakai penelitian, langsung aja lihat di lapangan.

***

(Pemeluk) agama sendiri jadinya yang sebenarnya mendorong atheisme menjadi tumbuh, subur, berkembang, dan kuat.

Sementara, para pemeluk agama masih sibuk menghabiskan energi untuk membenci mereka kaum atheis & mencap mereka ahli neraka, tetap enggak peduli dengan kualitas diri – termasuk tata-krama lalu-lintas dan masih mbuang sampah sembarangan itu tadi alih-alih terus-terusan membuktikan diri menjadi manusia paling bermanfaat untuk alam raya dan orang lain;

pun masih enjoy saja korupsi berjamaah dan gemar banget diadu antar sesama, padahal katanya dia bertuhan dan takut kepada Tuhan.

Ditambah lagi, para pemeluk agam sekarang justru semakin sekuler: memisahkan “ilmu agama” dan “ilmu umum”. Padahal semua ilmu itu, sejauh kita memahami datangnya dari Tuhan dan perlu diimplementasikan dalam rangka tugas kita menjadi khalifah di muka bumi, itu adalah ilmu agama semua.

Apalagi ditambah dogma: kalo tidak bisa meraih ilmu agama dan ilmu umum sekaligus, maka baiknya dahulukan untuk memilih ilmu agama.

Sesiapa yang masih mempercayai adanya (pemisahan) ilmu agama dan ilmu umum, maaf saya bukan teman ideologis Anda.

***

Saya menolak atheisme, namun saya enggak punya urusan dengan mereka penganutnya. Bahkan saya menghargainya sebagai upaya untuk memperbaiki diri dan memperbaiki kehidupan kemasyarakatan alih-alih sebagai upaya menolak (kaum ber)agama.

Saya memilih untuk bertuhan dan percaya adanya Tuhan – Insya Allah sepanjang hayat dikandung badan, dan menyembah tuhan dengan cara saya;

tapi pola pikir dan cara berpikir implementatif saya sungguh sering bertolak-belakang dengan mereka yang katanya menganut agama (Islam): bahwa hidup itu untuk diisi dengan banyak “amalan” untuk mencari sorga.

Saya sepakat bahwa hidup ini perlu diisi dengan amalan (baik), namun saya berpikirnya bahwa amalan baik itu untuk dikembalikan ke kehidupan, plus buat bekal mati nanti; sama sekali enggak berpikir tentang sorga apalagi neraka. Itu biar jadi urusan Tuhan saja. Saya ridho dan ikhlas dengan apa yang jadi keputusan Tuhan.

Tentang amalan semasa hidup, saya menyepakati mereka yang menganut atheisme: pendidikan, dan perbaikan terhadap kualitas kehidupan – dalam segala hal.

Wallahualam bisawab.

Semoga Allah SWT senantiasa menuntunku untuk bertugas di muka bumi ini: menjadi khalifah untuk kehidupan. Allahuma aamiin.

– FHW
a theistist.

Atheisme 1
Atheisme 2
Atheisme 3
Safety 1
Safety 2
Life

Menjadi petani.

Kami pernah: lombokku sesawah harus dibabat karena pepes semua dihajar cuaca.

Udah gedhe, tapi belom sempat panen.

Untung rugi, bagi petani itu sudah asam garam.

Kita kerap untung karena diuntungkan oleh cuaca. Plus kita juga bisa rugi besar juga karena cuaca.

Tapi kita enggak pernah menjilat atau membenci cuaca.

Kita cuman sebel, kalo ada yang enggak menghargai petani, plus kalo ada yang suka memanfaatkan kondisi petani untuk kepentingan segelintir/sekelompok pihak saja.

Petani pada dasarnya enggak butuh dikasihani, juga enggak ngemis perhatian.

Petani hanya butuh kepastian, kejelasan, dan kejernihan tatanan kenegaraan ini.

Tapi, kami sudah memberontak koq terhadap negara ini.

Dari dulu, kalo panen beras, kami enggak pernah jual.

Kami maem sendiri perlahan-lahan.

Sementara di sana-sini orang sibuk menjerit dengan harga beras. Politikus ribut dengan impor beras. Oposan teriak-teriak negara enggak becus nangani beras.

Sakarepmu.

Dan bayangkan kalo petani ini sudah berani menarik anaknya dari sekolah, memanggil pulang anak-anak gedhenya yang kerja sebagai buruh pabrik, mengumpulkan anggota keluarganya yang tercecer, dan menguatkan tekat: kita makan seadanya yang penting kta enggak tergantung orang lain, politikus, dan pemerintah; …

… kita unsubscribe segala layanan pemerintah;

maka bakal kelimpunganlah semua yang selama ini memanfaatkan petani: yang memeras keringatnya maupun yang menjual nasibnya.

#

Untungnya petani itu manusia paling sabar du dunia.

Terpaan dan tempaan cuaca telah membangun sebongkah hati dan jiwa paling baja yangada di muka bumi, sekaligus hati dan jiwa paling lembut yang pernah ada.

Karena itu siapapun: politisi, oposan, bahkan ustadz: enggak usah kakehan cangkem ngomongin petani, kalo enggak ngerti bener megang cacing itu kayak apa rasanya;

tengah malam ngurusi daun tanaman itu kayak gimana rasanya;

atau menyiapkan lanjaran itu kayak gimana rasanya.

Ngomongin petani di ruang ber-AC DPR, entahlah…. Saya gk bisa mbayangkan.

#

Nenek moyang kami petani, meski banyak anggota keluarga yang menjadi pegawai, bahkan saya sendiri saat sebelum menikah.

Dan begitu mengganti KTP karena menikah satu setengah dasawarsa silam, saya dengan tegar dan tegas menutuskan mengganti pekerjaan saya dari Swasta menjadi: Petani.

Mungkin karena bawaan batin inilah, saat orang sibuk membuat taman di depan rumahnya, kami menamainya dengan buah dan sayur. Bukan membenci tanaman hias, sekali lagi mungkin karna bawaan batin.

Ini adalah nawaitu untuk mencari dan menghadap Tuhan.

Semampu dan sekuat kami; berpijak di atas kaki sendiri.

Meski sesungguhnya kami sama sekali enggak mampu, jauh dari mampu.

Tapi alam ini lebih suka mengasihi dan mengayomi kaum enggak mampu seperti kami ini ketimbang menendang dan menindasnya. Angin kencang, hujan lebat, panas terik itu adalah bentuk perhatian dan kasih sayang alam yang sesejati-sejatinya.

Mreka yang jauh dari alamlah yang mendeskripsikannya sebagai bencana dan prahara.

“Keganasan” alam itu, melemahkan badan, namun menguatkan batin.

Tinggal kita lulus dan lolos atau enggak dari semua ini.

^ Sesuatu yang teramat gampang saya ketik, tapi sungguh kaki ini seperti berhenti melangkah membayangkan itu semua harus dihadapi.

Karena sesungguhnya saya sama sekali enggak mampu, jauh dari mampu.

Tapi alam ini lebih suka mengasihi dan mengayomi kaum enggak mampu seperti saya ini.

Namun apapun yang terjadi, semua senjatanya hanya satu untuk menghadapi: syukur, ikhtyar, tawakal, ikhlas, balik lagi ke syukur dan seterusnya.

Wallahualam.

– Freema Bapakne Rahman
Ngaku-ngaku petani.

NU

Saya bukan warga Nahdiyin, enggak pernah mondok, dan enggak pernah ikut pengajiannya NU kacuali bikin acara tahlilan di rumah buat mendoakan alm. Bapanda & para leluhur kami yang telah berpulang karena emang kami tinggal di lingkungan NU yang kuat.

Utinya si kecil-lah yang aktif dan rutin ngaji bersama ibu-ibu muslimat Fatayat, meski di rumah tetap lihat pengajiannya Cak Nun – yang terus-terusan mendeklarasikan diri bukan sebagai warga Nahdiyin maupun Muhammadiyin.

Namun Utinya si kecil enggak masang kalender NU di ruang tamu.

Kalo saya, yang saya liat ceramahnya cuman Cak Nun sama Gus Mus. Lainnya itu enggak pernah. Sekalipun itu Ustadz Maulana, Ustadz Abdul Somad, Mamah Dedeh, Yusuf Mansyur, pun para kyai NU yang ketika ada pengajian di sini, jamaahnya selalu membludak.

BTW herannya, pengikut Ustadz Abdul Somad atau Yusuf Mansyur gitu koq saya amat-amati secara sepintas seperti enggak sama dengan mereka yang mengikuti para kyai (NU). Entah benar atau salah pengamatan saya ini, cobalah Anda jawab dengan berdasarkan hati nurani lantas akui saja jika memang itu benar namun koreksilaah jika saya salah.

#

Warga NU emang beragam kondisi sosial – ekonomi – pendidikannya. Jangankan warganya, kyai-nya pun juga beragam pola pikir dan pola pandangnya.

Gotong-royongnya kuat, kebersamaannya tinggi, dan enggak pernah kerasa ada pembedaan hanya karena beda aliran akidahnya. Inilah keseharian tinggal di lingkungan NU yang kuat.

Kalo ada undangan pengajian di mushalla, saya senantiasa mengupayakan datang untuk menghormati si pengundang plus menjaga silaturahmi dan ukhuwah lahiriyah-batiniyah dengan para warga/tetangga lingkungan sekitar, sesuatu yang saya nilai sebagai bagian “namun lebih dari sekedar” ukhuwah islamiyah. Hati-hati, saya pake tanda petik itu ngetiknya. Jangan ditelan mentah-mentah dan dipersepsikan menurut perspesi Anda.

Tapi jujur, saya sering merem saja dan enggak terlalu memperhatikan apa yang dingajikan.

Bukan berarti apa yang dingajikan itu jelek atau enggak berguna, itu lebih karena saya punya kekurangsepahaman atau berbeda paham saja, yang mana saya juga merasa punya dasar atas apa yang saya pahami sendiri. Terlalu panjang untuk saya uraikan di sini, ini sudah merupakan prinsip batiniah saya. Dan ini sudah urusan personal saya.

Satu yang pasti, seumur-umur saya ikut pengajian di mushalla, dari yang sejauh saya ketahui, kyainya enggak pernah menyinggung perbedaan NU dengan Muhammadiyah ataupun perbedaan sunni-syiah. Sama sekali!

Lainnya itu, pengajian khas kaum Nahdiyin itu jika saya tarik benang merahnya, rata-rata mereka (saling) mengajak untuk terus menyembah Tuhan, tunduk dan patuh kepada Tuhan, menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya dalam konteks yang mereka yakini (dan saya amati: apa yang mereka yakini sebenarnya buanyakkk persamaannya dengan banyak golongan/kaum/aliran/kelompok selain NU);

namun dalam ingatan saya, saya belom pernah mendengar sedikitpun teriakan-teriakan bela Islam atau teriakkan-teriakkan tegakkan syariah dari mereka. Baik secara harfiah (berteriak dengan suara keras/lantang) maupun istilah (berteriak dalam pengertian doktrinasi atau semacamnya).

Pengajian-pengajian (umum) dari kaum Nahdiyin yang saya ikuti hanya di mushalla kampung saya (lumayan sering pihak takmir mengadakan acara pengajian yang mengundang semua warga), umumnya membahas amalam-amalan untuk meningkatkan nilai pahala dan mengurangi/menghapus dosa.

Mengutarakan kepasrahan kita kepada Tuhan dengan bahasa yang sesuai audience emang jauh lebih berguna dan bermanfaat ketimbang membahas sesuatu yang terlalu jauh dari konteks riil keseharian kita.

Sayangnya, dalam semua pengajian yang pernah saya ikuti, enggak ada satupun life-guidance semacam jangan membuang sampah sembarangan, tertiblah berlalu-lintas, atau kejarlah pendidikan setinggi langit, dll. Sepertinya, hal-hal seperti ini masih dipahami bukan merupakan “ajaran agama”.

Secara langsung mungkin iya. Tapi tidak membuang sampah sembarangan misalnya, itu jelas-jelas pengejawentahan ayat Quran tentang tdak berbuat kerusakan.

Andaikan NU bisa menterjemahkan(/praktik atas konsepsi) Quran secara lebih kekinian, niscaya bangsa ini akan lebih luar biasa lagi dari yang sekarang udah tahan banting menghadapi kenyataan begini.

WELL, apapun kondisi mereka, yang kami rasakan satu hal: tinggal dan mengikuti kehidupan lingkungan NU itu nyaman; mereka dibentuk dan dididik untuk mencari kebenaran namun sama sekali tanpa pernah apalagi terus-terusan menyalahan-nyalahkan pihak lain.

Terlebih lagi, di lingkungan tempat tinggal kami ada punden keramat. Mushalla lingkungan kami, senantiasa menghentikan suara speaker luar setelah jam 10 malam saat ada yang tadarus di malam-malam bulan Ramadhan. Untuk menghormati yang lagi nyepi di punden.

Saat acara bersih desa pun, di punden tersebut malam sebelumnya senantiasa diadakan tahlilan untuk mendoakan si mati, dipimpin oleh mbah kyai kampung sini.

Ini merupakan sesuatu yang masih menjadi kontroversi di kalangan umat Islam kebanyakan. Banyak yang bilang, mendoakan kaum non-muslim itu sia-sia dan enggak boleh.

Tapi kami yang hidup di sini punya sudut pandang berbeda. Si mati di punden itu adalah pihak yang kami percayai membabat/mendirikan desa ini. Atas jasa merekalah akhirnya kami semua bisa tinggal dan hidup serta berkehidupan di sini. Termasuk beragama dan menjadi pemeluk agama.

Jadilah mereka itu, siapapun itu, kita anggap sebagai orang tua ideologis bagi kami smua. Dan mendoakan orang tua itu sudah menjadi kewajiban bagi kita semua.

Terserah Anda berpikiran dan berpandangan apa, kami semua yang meng-alami kondisi ini justru merasakan kepasrahan dan ketundukan serta pengingatan hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lain tidak.

Hidup di lingkungan NU itu damai. Asli damai.

#

Memang masih banyak yang harus dikritik dan dibenahi di kultur Nahdiyin namun jauh lebih banyak lagi yang musti dijaga dan dipertahankan. Namun ini biarlah berkembang bersama jaman.

Saya enggak akan pernah (berencana) bergabung dengan NU pun ormas (keagamaan) lainnya, apapun itu. Namun saya berdoa besar, agar NU senantiasa terus hidup, tumbuh, dan berkembang di negeri ini.

Dan saya juga mendoakan, agar semakin buanyakkk cendekiawan berhati NU yang tekun menjalankan Islam dan menjaga NKRI seutuhnya. Allhuma aamiin.

SAYA bukan warga Nahdiyin. Tapi saya harus jujur, inilah kenyataan yang saya alami sejak kecil hingga punya anak gini tinggal di lingkungan Nahdiyin.

Ini murni deskripsi eksposisi. Sama sekali enggak ada nawaitu persuasi apalagi agitasi untuk dan atas (nama/kepentingan) apapun.

– Freema Bapakne Rahman

Patah As

Pernah lihat truk patah as roda? Bagaimana perasaan Anda?

Kalo saya, jujur saya kasihan, berempati, namun sekaligus enggak terlalu peduli dengan fenomena ini.

Saya kasihan, begitulah beratnya supir truk bekerja, dia harus membawa truk dengan beban yang sangat melebihi kapasitas sehingga berpotensi terhambat pekerjaannya yang bisa jadi bukan karena salahnya. Terhambat pekerjaannya yang bisa jadi bukan karena salahnya inilah yang membuat saya berempati.

Tapi saya cuek dan enggak ambil pusing. Itu as, saya meyakini benar, patah karena beban muatannya yang berlebih. Sebab kejadiannya beberapa kali saya lihat di ruas jalan yang kondisinya baik-baik saja, bukan jalanan yang rusak.

Kalo jalanan rusak, okelah mungkin si jalan yang menyebabkan musibahnya. Dan jalan rusak ini bisa jadi karena dua perkara saja: kendaraan yang dibiarkan melebihi tonasenya terus-menerus melintas, atau pemerintah yang bikin jalan alakadarnya, dengan dalih anggaran enggak cukup dan rusak karena cuaca.

So, saya enggak sempat berpikir bagaimana mengatasi as roda truk yang patah begitu. As roda truk patah? Ya sudah. Cuman itu yang ada di pikiran saya.

Dan kalo jalanan macet karena kejadian itu, ya mau enggak mau saya harus bersabar. Mau mengumpat pun enggak ada hasilnya. Jadinya, jujur saya bersabar karena “terpaksa”, bukan karen ikhlas dan karena berempati.

***

Pernah lihat mobil penumpang patah as roda? Bagaimana perasaan Anda?

Kalo saya, jujur saya kasihan, berempati, dan berdoa.

Kasihan si pemilik mobil harus mengalami kejadian seperti itu Berempati dengan membantu sebisanya kalo memungkinkan, setidaknya saya bersabar saat lalu-lintas macet karenanya, dan ini bersabar bukan karena saya terpaksa bersabar. Ini bersabar karena saya bisa memahfuminya. Sama-sama bersabar, tapi isi hati ini yang membedakan kalusulnya.

Dan selanjutnya saya berdoa, semoga pemilik mobil punya rejeki untuk merawat mobilnya sehingga potensi patah as – yang bisa jadi karena telat perawatan, bisa segera diperbaiki dan dirawat dengan benar. Karena memang kenyataannya hal seperti ini urusannya bukan lagi kenyamanan melainkan sudah pada urusan keselamatan. Ya kselematan diri sendiri ya keselamatan orang lain.

Atau kalo misalnya orangnya punya duit dan tau bahwa as rodanya waktunya diservis/diganti namun dia mendahulukan mempercantik kosmetikal mobil, misalnya dengan bikin audio jebam-jebum, ya semoga kejadian seperti ini menyadarkannya untuk menomorsatukan perawatan dan perbaikan yang berhubungan dengan faktor dan aspek keselamatan kendaraan.

***

Lantas bagaimana jika ada kendaraan pribadi yang patah as roda karena jalan berlubang?

Ini kejadian yang baru saya alami semalam sebelum saya mengetik post ini.

Saya sedang di atas bis dalam perjalanan pulang ke Kediri. Kebetulan duduk saya pas di bangku belakang sopir.

Saat itu sekitar abis maghrib dan situasi hujan.

Mendadak bis berhenti karena masuk ke dalam antrian kendaraan yang macet. Lokasinya di utara kawasan Minggiran, Kediri.

Kendaraan berjalan bergantian dengan kendaraan dari arah depan.

Saat kemudian kami melihat bahwa kemacetan ini disebabkan oleh sebuah kendaraan kecil yang posisinya melintas di ruasnya dengan salah satu roda patah. Rodanya kiri depannya melesak ke dalam fender/spakbor mobil dan begitu sangat miring. Jelas sekali kalo itu patah, bukan modifan enggak penting dan enggak berguna ala hellaflush. Enggak penting dan enggakberguna bagi saya, bukan Anda.

Kendaraannya masih lumayan bagus, umurnya masih muda meski bukan model yang sedang dijual. Kondisinya pun bagus: kinclong, keren, mulus.

Si kendaraan menyalakan lampu hazard. Ada kendaraan lain yang juga menyalakan hazard sedang berhenti di bahu jalan di sebelah si kendaraan yang mengalami celaka itu.

Sebelum posisi kendaraan yang patah as roda, terpasang cone untuk pengaman. Cone, bukan segitiga pengaman. Saya menebak, cone itu dari sebuah BPR yang berada seitar beberapa puluh meter dari lokasi kejadian. Mungkin dipinjam atau dipinjami dari situ.

Dan kendaraan yang berhenti di bahu jalan, ini murni tebakan saya, mungkin hendak menolng menyeret namun enggak bisa. Entah enggak ada tali entah memang kendaraan yang patah as roda itu enggak bisa diseret.

Tampak dua orang, mereka berpayung, bercakap-capak. Sekali lagi ini cuman tebakan saya, mereka adalah dua temen. Mungkin kendaraan di bahu jalan itu adalah temen si korban yang datang ke situ untuk menemani atau hendak membantu.

Enggak ada petuga skepolisian tampak di lokasi.

Saya hanya merasa kasihan dan berdoa semoga ini semua segera tertangani dan lalu-lintas enggak macet.

***

Yang bikin perasaaan saya berkecamuk, adalah komentar si sopir bis kepada kenek/kondektur yang duduk di bangku asisten di dekat pintu bus.

“Saya yakin, itu patah karena dia menghantam lobang dalam dan tajam di situ. Ada lobang yang dalam dan tajam. Saya hafal bener bahwa di situ itu posisinya. Mungkin lobang itu enggak kelihatan karena tadi tertutup genangan air.” Kata pak sopir bus kepada keneknya.

Duh, kasihan si pemilik mobil. Ini kategorinya ranjau darat, bukan jalan rusak yang rusaknya merata. Ranjau darat itu ya lobang-lobang parsial atau sporadis yang berada di jalanan yang bisa dibilang pada umumnya baik-baik saja atau bahkan mulus.

Saya enggak tau apa penyebab ranjau darat kayak gini. Tapi bertahun-tahun saya menyusuri jalanan, nyaris setiap kali perjalanan, saya menemukan ranjau darat. Mulai yang sifatnya ringan namun cukup menimbulkan guncangan di bada, hingga yang kondisinya berat sampai bikin suara stopper suspensi kerasa banget: jedhakkkk!!! Plus perut yang seperti ditonjok dan punggu yang serasa dihantam balok.

Yang langsung ada di pikiran saya saat bis melintasi kendaraan yang patah as roda itu adalah: betapa dia kalo telat membayar pajak, denda langsung meyergap. Sementara saat dia kena celaka dan harus berkorban waktu, tenaga, terutama biaya karena terkena ranjau darat; maka itu akan sepenuhnya dianggap kecelakaan atau musibah yang enggak dikehendaki bersama. Seolah Tuhanlah penyebab dan yang menakdirkan semua ini.

Hingga hari ini saya enggak pernah mendengar bahwa hal begini adalah karena/sebuah kelalaian pemerintah yang enggak rutin menginspeksi jalanan dan langsung menambal lobang berbahaya yang mengancam keselamatan pengguna jalan raya.

Dan kenapa koq enggak ada inspeksi rutin terhadap lobang pengancam keselamatan pengguna jalan raya? Pasti penyebabnya adalah karena enggak ada anggaran, dan pemerintah kekuarangan SDM untuk bikin unit inspeksi rutin yang terus-terusan berkeliling jalanan sambil membawa bahan untuk menambal lobang pengancam nyawa, setidaknya suspensi kita seperti itu.

Rasa-rasanya, aspal berlubang adalah bukan sesuatu yang menjadi tanggung jawab khusus bagi pihak yang harus(nya) bertanggung jawab untuk itu. Ini semua berasa bukan sesuatu yang lepas tanggung jawab dari siapa yang harusnya bertanggung jawab, melainkan seolah seperti takdir alam.

Saya yakin seperti itu.

– FHW
Gambar hanya ilustrasi. Saya enggak sempat foto kejadiannya.

Sampah, (Aliran) Agama

Saya bodo amat dengan sistem kenegaraan. Bagi saya, apapun yg penting: gotong royong. Dan alhamdulillah negara ini sebenarnya adalah manifestasi prinsip gotong royong.

Termasuk, saya bodo amat tentang agama-agama dan aliran-aliran dalam agama. Mau islam kristen hindu budha; mau sunni syiah; mau NU Muhammadiyah; mau quranis mau hadistis, bahkan mau beragama maupun enggak, … terserah.

Yang penting enggak mbuang sampah sembarangan, yang prinsipnya (enggak buang sampah sembarangan) itu sampe meresap ke dalam hati.

Sebab kalo orang sudah takut untuk berbuat kerusakan: dengan tidak mbuang sampah dan “sampah” sembarangan, mustinya hati ini akan ketakutan untuk merusak diri kita sendiri, merusak orang lain, merusak alam dan lingkungan, merusak tatanan kehidupan, merusak alam raya ini.

Mau apapun agama atau alirannya.

Wallahualam bisawab.

– FHW