Safety

Sebagai manusia yang memilih untuk percaya kepada Tuhan, setiap kali hendak bepergian, kami selalu berdoa sebelum berangkat. Agar perjalanan lancar dan kami diberi keselamatan oleh-Nya senantiasa.

Namun sekaligus, kami “reseh” dalam urusan milih mobil. Kami suka mobil dengan fitur keselamatan tinggi. Katakanlah dalam hal ini: mobil Eropa. Meski tidak selalu pasti dan belom tentu juga yang lainnya enggak seperti itu. Frasa mobil Eropa ini hanya untuk kiasan atau mewakili atau menggambarkan saja. Dan juga, meskipun ini mobil tua entah masih seberapa waras kondisi safety feature-nya. Tapi secara prinsip, demikianlah pilihan kami.

ANEHNYA, mobil-mobil teraman di dunia, malah datang dari negara dengan tingkat atheisme yang sangat tinggi.

Katakanlah, mereka enggak mengenal doa tentunya.

Mungkin karena enggak mengenal “pasrah kepada Tuhan” itulah mereka jadi mikir habis-habisan gimana caranya selamat. Mungkin, karena nyawa adalah miliknya sendiri, bukan milik Tuhan. Mungkin.

Makanya mobil-mobil buatan mereka, fitur safety-nya pol-polan.

Sebagai contoh katakanlah Volvo misalnya, dari Swedia, negara yang konon tingkat atheismenya tinggi.

Volvo itu penemu seatbelt, yang sekarang ada di semua mobil di dunia.

Volvo itu penemu foglamp, yang kita semua begitu demen demen ada foglamp di mobil kita.

Volvo itu penemu side-impact protection system: ada palang besi di pintu samping plus airbag dari sisi samping-dalam mobil (di sisi samping kursi kalo enggak salah).

Volvo itu penemu seat-collaps system. Kalo kecelakaan, sandaran jok depan akan rebah ke belakang, sehingga penumpang berkurang kemungkinannya ngantem dashboard.

Terakhir, volvo itu penemu pedestrian air-bag. Airbag-nya bukan cuman di dalam mobil, tapi juga di luar mobil, menggelembung dari bawah kaca depan. Jadi kalo nabrak orang, orangnya akan disambut oleh air bag.

Bukan cuman Volvo, Mer4cy BMW Audy dan sebangsanya itu sampe sekarang masih ngeyel bikin bodi kokoh dan rangka kuat, rangka mobil itu sudah melebihi kekuatan roll-bar rasanya, agar penumpang aman jika mobilnya rolling. Padahal ini jelas bikin harga jual sangat mahal dan enggak terjangkau semua kalangan.

BMW juga misalnya, karena saya kenalnya cuman ini meski aslinya enggak paham-paham banget juga, terkenal rewel: kalo ada sistem yang fault, biasanya dia enggak mau distarter.

BMW, justru membuat beberapa parts dari bahan yang sangat rapuh. Misalnya thermostat housing. Kalo ada fault di cooling-system, biar dia rusak duluan, enggak sampe kena semuanya/perangkat sistem lainnya.

BMW juga beberapa kendaraan lain yang umurnya udah beberapa puluh taon itu, punya active seat belt. Kalo ada kecelakaan, seatbelt-nya akan ditarik mengencang. Sehingga penumpang dihatapkan berkurang potensi terlemparnya ke depan.

BMW yang umurnya puluhan taon ini, engine mounting-nya malah dirancang lemah. Agar kalo kecelakaan, mesinnya ambrol ke bawah, enggak ngantem kabin.

Meskipun rangkanya kuat, BMW juga beberapa kendaraan lain malah dibikin melipat moncong depannya kalo kecelakaan. Jadi kabinnya aman. Moncongnya dikorbankan. Istilahnya: crumple-zone. Pernah lihat Lamborghini yang kecelakaan hebat sampe moncongnya hancur lebur tapi kabinnya utuh tuh tuh gitu? Semacam itulah skenario teknisnya.

Dan kalo kecelakaan, BMW juga beberapa kendaraan lain akan meng-unlock sendiri kunci pintu, sehingga penumpang enggak terjebak di dalam.

Dan masih buanyakkkk fitur keselamatan yang ada di BMW tua ini. Apalagi yang muda.

*

Mobil keluaran terbaru sekarang fitur keselamatannya malah semakin edan lagi: ada warning “ngopi” kalo mobil membaca telah dikendarai non-stop lebih dari sekian jam.

Ada lane-keeping assist, kalo dia membaca bahwa posisinya mulai menerjang marka jalanan, mobil akan membelokkan sendiri kemudinya sehingga posisinya tetap lurus di antara dia garis marka, di posisi yang benar.

Ada lagi early collision warning with brake assist. Mobil punya radar yang membaca depannya. Kalo mobil menengarai sopir enggak ngerem sementara obyek did epannya semakin mendekat, mobil akan mengerem sendiri.

Di beberapa mobil juga ada fitur SOS-call. Mobil akan otomatis mengirim sinyal atau panggilan telepon darurat jika dia mengalami kecelakaan.

Dan masih bejibun lagi fitur keselamatan terbaru yang semakin membuat saya cuman bisa melongo.

Konon ada yang mengatakan itu semua lebay, hanya ulah kapitalis yang menginginkan agar lebih banyak lagi uang yang dibelanjakan oleh konsumennya. Tapi kalo ini lebay, kenapa urusannya serius banget: nyawa?

Terlepas dari itu, anehnya semua fitur keselamatan itu dibikin oleh negara-negara yang mengijinkan atheisme….

Padahal kalau kita yang mengenal doa dan Tuhan, mustinya kita akan lebih reseh dan jauh lebih hirau tentang safety/keselamatan ketimbang mereka yang atheis. Karena kita bersyukur pada tuhan YME dengan menghargai dan menjaga sekuat tenaga nyawa satu-satunya di kandung badan ini.

Entah kenapa kita lebih suka bersandar pada argumen bahwa hidup-mati itu urusan Tuhan sehingga aspek keselamatan sering kali tidak menjadi prioritas pilihan kita.

Iya enggak sih?

Wallahualam bisawab.
– FHW.

Advertisements

Bukan Mak-kluwer!

Terima kasih pak, udah ngasih saya jalan duluan. Bapak baik banget, gk kayak pengendara lain yg kadang udah jelas gk berhak jalan tetep aja nekat nyrondol.

Tapi gini pak, dalam hal posisi kita sama, seimbang, atau dianggap setara; yakni ketika kita sama-sama jalan ntar kita bisa tabrakan;

atau ketika saya jalan itu bisa membuat bapak ngerem mendadak atau setidaknya ngerem dengan (lumayan) keras;

maka bapaklah yg harus jalan duluan.

Karena di regulasi lalu-lintas, bapak yg jalan lurus gitu punya hak sepenuhnya ketimbang saya yg hendak berbelok.

Jadi mustinya bapak tadi ndhak usah memelankan diri dan berhenti untuk ngasih kesempatan saya untuk berbelok.

Sayalah yg wajib menunggu bapak lewat dukuan, baru saya melaju berbelok.

Yaaa kecuali bapak dan di belakang bapak tuh puanjangggg barisannya, yg kayak gitu baru terima kasih banget jika bapak bersedia mem-pause barisan untuk memberikan kesempatan pengendara minoritas gini berbelok. 😀

Well…

Semoga selamat di perjalanan sampai tujuan ya pak. Sehat selalu buat bapak dan keluarga, berkah rejekinya senantiasa.

Kalo di Indonesia ini orang isinya mayoritas kayak bapak, betapa nyamannya lalu-lintas di negeri ini.

Saya impressed banget tadi sama ketulusan bapak ngasih jalan duluan ke saya.

Sayangnya orang kayak bapak ini sepertinya langka, laksana pandawa di kerumunan kurawa.

Tapi, meski cuman seuprit dibanding kurawa, pandawalah yg menang. Orang bala pandawa kayak bapaklah pemenang dalam kehidupan ini, meski mungkin bapak sering disleding pengendara-pengendara bala kurawa.

Barakallah.

– FHW
Bukan baladewa. Cuman generasi dewa19.

Jalan Berlubang

Ini berita setahunan kemarin. Namun, 10 bulan sejak berita ini dirilis, saat kami melewati jalur di kawasan sana, kondisi jalannya masih parah.

BARUSAN belom lama, beberapa hari kemarin, saya nyaris mengalami kejadian serupa.

Ceritanya pas saya bermotor di suatu ruas jalan di Kediri sini. Bukan jalan raya antar kota yg lebar. Namun jalan yg saya lalui cukuplah untuk bersimpangan dua truk, meski lumayan berhimpitan.

Pas enak-enaknya melaju, aspal bongkah menganga di depan saya. Refleks saya berkelit menghindar, motor saya banting goyang ke kanan, posisi terdekat untuk menghindari itu lobang.

Ndilalah, tak dinyana, ada motor juga dari arah depan yg sedang menyalip mobil dari arahnya. Ostosmatis dia ngambil jalan melebihi tengah jalan.

Nyaris saja dia adu banteng dengan saya. Kami memang tidak ngebut, tapi kecepatan kami rasanya sama-sama tidak bisa dikata pelan.

Saya langsung kipas lagi motor ke kiri, dan dia agak memepetkan diri dg mobil yg dia salip.

Kami berdua alhamdulillah sama-sama selamat. Meski jantung saya berdegup tiada terkira.

Saya hanya kebayang si kecil yg lagi menunggu di rumah kala itu. Umpama, amit-amit, bapaknya ini harus berbelok ke rumah sakit dan tak sampai di rumah, entah gimana perasaannya dan ibunya.

Dan umpama si mas motor dari arah berlawanan saya tadi ‘nyampluk’ mobil yg dia salip, entah apa yg bakal terjadi dengannya.

KITA mungkin udah cukup berhati-hati di jalan. Namun kadang kondisi dan keadaan berkata lain.

Oleh karena itu, mari kita lebih berhati-hati lagi. Ikhtiyar sekuatnya untuk saling menjaga keselamatan diri sendiri dan keselamatan bersama/pengguna lain jalan raya. Selebihnya: senantiasa berdoa meminta keselamatan pada-Nya, bismillahi tawakaltu.

Dan buat pemerintah: mbok berhentilah mencelakai rakyatmu. Udah tak terhitung berita yg mewartakan: kecelakaan tragis gara-gara jalan berlubang. Mbok perkara jalan berlobang ini janganlah dianggap persoalan sepele. 1×24 jam, atau 2×24 jam mbok ditambal itu jalan bongkah.

Ya Allah berilah petunjuk-Mu pada kami semua senantiasa. Astaghfirullahaladzim………

– Freema Bapakne Rahman

Orang Baik

Fails video kayak gini udah umum banget. Sering tayang di tipi juga.

Tapi khusus klip yang satu ini, membuat saya cukup terkesima usai melihatnya. Tapi entah saya terkesimanya karena apa. Pokoknya pas lihat, kayak gimanaaa gitu, serasa meresap dan menyentuh benak.

Selain klip ini merupakan cerminan karma (akibat) atas perilaku kita, bahwa setiap perbuatan baik atau buruk pasti akan ada balasannya; seperti misalnya jika urakan di jalanan, maka akibat buruklah yang kita terima.

Sayangnya bukan cuman kita aja (yang menerima akibat perbuatan buruk kita), orang lain yang tak bersalah pun kadang juga bisa kena getahnya.

Namun saya salut juga bagi mereka yang bersedia berhenti saat melihat kecelakaan terjadi. Tentu maksudnya pingin menolong si pelaku/korban kecelakan. Saya terkesima usai melihatnya: di mat saya mereka adalah orang-orang baik. Kebaikan ternyata tetap selalu muncul di mana-mana, pada apapun.

Jika perbuatan buruk kita bisa saja mencipratkan getah ke orang lainyang tak bersalah, maka mustinya perbuatan baik kita juga bisa memberikan efek manfaat kepada orang/pihak lain.

Jika kita menanam pohon di pekarangan sendiri, maka tetangga ada kebagian oksigennya. Sementara reruntuhan dedaunannya bisa kita cegah untuk tidak menyebar, dengan cara tepat memilih pohonnya atau rajin membersihkan rerontokan daun keringnya.

Dan beragam banyak contoh lainnya.

Jika kita membuang sampah seenaknya di pekarangan rumah sendiri, maka tetangga juga bisa kebagian bau busuknya, jika kita tak hirau dengan pengelolaannya.

Dan beragam banyak contoh lainnya.

Seperti pada klip yang satu ini, membuat saya cukup terkesima usai melihatnya. Satu nilai yang saya dapat: di mana-mana, pada apapun, orang buruk dan orang baik memang selalu ada.

Tinggal kita memilih jadi yang mana.

Ya Allah, tunjukilah kami jalan-Mu yang lurus, yakni jalan yang Engkau ridhai dan Engkau beri nikmat, bukan jalan yang Engkau murkai bukan pula jalan yang sesat.

– Freema Bapakne Rahman,
menyusuri jalan raya.

Pre-Driving Inspection, The Safety Check

SS I: Parkir Sejam.

Semalam ada kejadian lucu sekaligus mengenaskan sekaligus konyol plus membahayakan keselamatan buat kami. Kemarin sore kami -saya, si kecil, dan ibunya- berangkat mau gathering ke Pantai Prigi, Trenggalek, menyusul rombongan Kedirian yang udah jalan duluan ke sana.

15:00 | Kediri.

Sebelum berangkat, saya sudah sadar kalo wiper saya mati. Sempat saya cek sekringnya, aman. Mungkin relay-nya mati, mungkin soket/rumah relay-nya ngepong, entah juga kalo modulnya.

Saya nekat, sementara ini musim penghujan.

Dan akhirnya inilah harga yang harus saya bayar.

Beru setengah jam jalan, hujan deras mendadak turun. Alhamdulillah posisi hanya beberapa ratus meter sebelum SPBU. Saya parkir di SPBU.

Sekian menit saya nyalakan mesin dan AC, kemudian saya matikan. Lama kelamaan mulai pengap, kami sempat buka pintu/jendela sedikit. Lama kelamaan air mulai banyak mencriprat, nyalakan mesin dan AC lagi.

Hiks, buang-buang bensin jadinya…

SS II: Parkir Empat Jam.

Hujan kemudian lumayan reda dan hari masih terang. Lumayan reda, sebab ndhak sepenuhnya reda. Masih ada rintik-rintik kecil.

Jalanan memang terlihat dan pandangan masih aman. Saya nekat terus jalan hingga 30an km, udah sampai masuk wilayah Tulungagung. Namun tetep saja kondisi ini mengharuskan saya beberapa kali minggir dan ngelap kaca depan (windshield) dengan lap chamois. Sepanjang 30km ini, saya berhenti sekitar tiga kali untuk ngelap kaca depan.

Masuk wilayah Tulungagung, hujan turun deras lagi. Hari mendadak gelap dan emang udah mau berganti malam.

Jalanan mulai kabur dan meremang. Posisi hujan, saya nekat buka kaca dan melongokkan kepala ke luar agar bisa liat jalan, sambil mengikuti mobil depan saya yang berjalan meminggir soale menghindari jalan yang sedang dalam pebaikan (namun para pekerja sedang istirahat semua).

Allah emang Maha Pemurah. Kami masih dikasih keselamatan: saya ndhak menanduk itu jejeran alat berat yang parkir dalam diam dan gelap.

17:00 | Ngantru, Tulungagung.

Dalam pandangan yang semakin tak kelihatan karena hujan yang semakin menderas, Alhamdulillah lagi kami bisa masuk ke SPBU Ngantru, SPBU pertama masuk kawasan Tulungagung.

Kali ini hujan deras sederas-derasnya. Di area parkir itu SPBU, mungkin karena paving-block-nya agak merendah, ada genangan air se-mata kaki.

Banyak pemotor yang juga beristirahat.

Kami istirahat di dalam mobil. Karema derasnya hujan yang membuat hawa dingin banget, kami ndhak terlalu lama menyalakan mesin dan AC. Lumayan lama kami cuman diam di dalam kabin. Sambil mengurangi gerakan.

Kala mulai pengap, kami buka pintu bentar. Hawa dingin dan hembusan angin langsung menghantam dalam kabin.

Begitu berulang-ulang.

***

Hampir empat jam, hujan mulai mereda dan menyisakan gerimis. Sayangnya, ini gerimis serasa tak mau berkurang intensitasnya. Di jalanan depan SPBU, pemotor sudah mulai berlalu lalang tanpa jas hujan. Ini malam minggu dan malam hari besar Sura/Muharram. Jalanan lumayan ramai.

Meskin bagi pemotor aman, bagi kaca depan ini tetep akan jadi masalah besar.

Pandangan redup-remang, hari yang telah malam, serta kena pancaran lampu dari depan, plus seruas jalanan yang sedang ditongkrongi barisan alat berat tadi, akan jadi penyebab sempurna untuk celaka.

21:00 | Ngantru, Tulungagung.

Tentu ini mustahil untuk lanjut ke Prigi. Apalagi rekan-rekan yang udah duluan nyampe juga mengabarkan kalo di sana juga hujan meski ndhak deras. Plus jalanan nantinya akan melewati kawasan hutan dan jurang, yang gelap tanpa lampu penerangan.

Maka langkah logisnya adalah: kami harus balik kanan pulang.

Si kecil semakin bete. Dia mulai ngomel-ngomel, “Koq lama kita berhenti di sini?”

Rombongan Kloter II, mereka dari rekan-rekan Blitarian, yang mau ikut gathering menelpon saya. Mengabarkan kalo udah di tengah perjalanan namun pit-stop menunggu satu rekan lagi.

Sempat mengajak saya untuk menunggu hujan reda total dan melanjutkan perjalanan.

Reda total pun, kalo ini malam dan berkabut, tetep riskan bagi kami. Sementara mereka semua punya senjata wiper.

Akhirnya saya putuskan tetep balik kanan.

SS III: Parkir Sejam.

Lalu-lintas di jalan raya Surabaya – Tulungagung di depan SPBU ini udah tampak mulai ramah. Akhirnya kami nekat: pulang!

Namun situasi alam masih belom mendukung kondisi perjalanan darurat kami.

Gerimis semakin pekat dan setengah hujan.

Memasuki kawasan Keras, Kediri, kecamatan terakhir yang berbatasan dengan Ngantru, Tulungagung, gerimis semakin memadat dan mulai menjadi hujan. Semakin ke utara semakin deras.

Jika awalnya saya berjalan di tepi dengan menyalakan lampu hazard, kali ini kembali nekat. Saya buka kaca, saya longokkan kepala, dan jalan normal!

Tujuannya: segera nyampe SPBU terdekat di depan, yakni SPBU Keras.

Jalanan kali ini melewati area persawahan tanpa rumah.

Dari depan, mata ini dihantam sorot lampu plus guyuran air hujan. Mata udah perih aja rasanya. Perihnya bisa ditahan sebenarnya, cuman meski “sepele” gini, ini udah kategori taruhan nyawa.

Jangan pernah niru apa yang saya lakukan ini.

Beberapa kali saya harus hard-braking/ngerem kenceng mendadak karena susah memperkirakan jarak dengan motor di depan saya.

Sekali juga ada mobil dari depan nyalip dan nyaris ciuman ke kepala saya. Saya sempat sedikit banting setir ke kiri.

Dan entah gimana ini rancangan spion, sorot lampu mobil di belakang saya ternyata nyampe juga ke mata saya.

Gila, asli gila!

Beruntung SPBU udah kelihatan di depan mata.

22:00 | Keras, Kediri.

Kami parkir lagi.

Ibunya si kecil udah sesenggukan menahan tangis.

Susah menggambarkan seremnya kejadian ini jika ndhak mengalaminya langsung.

Meski banyak kejadian yang juauuuhhh lebih seram dari kenekatan yang saya alami, tapi sekali lagi, ini sebenarnya urusannya udah sama taruhan nyawa.

***

Akhirnya kami pit-stop lagi sekitar sejam di SPBU Keras. Si kecil udah ngorok di bangku belakang. Kasihan, dia jadi korban ulah bapaknya ini. Maafkan Bapakmu ini Nak…

Hingga hari semakin malam, lalu-lintas semakin berkurang, dan hujan semakin reda. Saya putuskan lanjut jalan.

Alhamdulillah perjalanan kali ini lumayan diayomi Gusti Allah.

Saya ngikuti Seniyapansa di depan yang jalan lempeng.

Gerimis benar-benar kecil intensitasnya meski tidak bisa dikatakan reda total. Masih ada tetesan air jatuh dari langit meski sangat reda intensitasnya.

Plus dibantu lampu penerangan jalan yang mulai berjajar di kiri-kanan.

***

Masuk kota Kediri, gerimis semakin reda hingga reda total. Namun kaca depan udah buram karena cipratan air bercampur lumpur sebelum-sebelumnya. Beberapa kali saya sambil nggosokkan lap ke kaca kanan-atas, di arena depan pandangan saya.

23:0 | Rumah, Kediri.

Kami nyampe rumah dengan selamat. Alhamdulillah kami masih diberi keselamatan tanpa kurang suatu apa.

Namun perjalanan kali ini membuat saya langsung teringat almarhum Bapak. Almarhum Bapanda saya dulu adalah pensiunan dari perusahaan tambang asing. Pensiun, beliau bertani, jadi pemasok beras, sama bikin usaha kontraktor kecil-kecilan yang khusus spesial masang lantai marmer ke rumah-rumah.

Disiplinnya tinggi meski beliau adalah orang yang super penuh kompromi. Orangnya keras, khas manusia berdarah Ponorogo. Namun jiwanya lembut. Bapak ndhak bisa-an nolak orang minta tolong.

Sejak SMA, saya magang jadi supirnya. Pulang sekolah ndhak ada acara belajar atau bermain. Langsung ‘kerja’ nganter Bapak keluar kota ngurusi macem-macem.

Dan setiap mau luar kota/jalan jauh, saya selalu diwajibkan muteri mobil.

Pre-Driving Inspection, The Safety Check

Cek:

  • Bodi: posisi kendaraan enak dilihat, ndhak ‘pincang’. Cek ada bodi yang semplah apa ndhak.
  • Ban ada yang gembos apa ndhak. Pastikan tapak ban masih layak.
  • Semua fluida: minyak rem, air radiator, oli berkurang dari batasnya apa ndhak.
  • Semua lampu: lampu utama, lampu belakang/tail-lamp, lampu rem/stop-lamp, sein-sein dll. nyala apa ndhak.
  • Instrumen-cluster jalan semua apa ndhak.
  • Wiper pastikan nyala.
  • Spion pastikan ndhak pecah atau buram. Atur sudut spion sesuai pandangan.
  • Saat mesin nyala, cek ada kebocoran anggaran… eh, cairan di kolong mobil apa ndhak.
  • Pastikan sabuk pengaman berfungsi normal.
  • Saya kurang suka nglakson, saya buenci klakson sebenarnya. Tapi klakson nyala itu penting.

Pastikan:

  • Dan pastikan ban serep sama tool-kit lengkap tersedia!

Cadangkan:

  • Fluida: air radiator, minyak power-steering, oli, minyak rem juga disiapkan.
  • Bohlam-bohlam: headlamp, foglamp, tail-lamp, stop/brake-lamp, turn-signal, license plate-lamp.
  • Sekring dan relay. Biasanya siy di fuse-box emang udah ada slot buat sekring dan relay cadangan.
  • Cadangkan fuel-pump juga!

Ritual dan rutinitas yang menjemukan bagi saya. Tapi Bapak selalu memerintahkannya sambil mengawasi saya dari dekat. Dan kalo ada hal yang diputuskan membahayakan: batalkan perjalanan!

AC mati masih bisa dinikmati. Wiper mati?

Audio mati sama sekali tak mengganggu perjalanan dan bahkan bisa nambah konsentrasi. Fuel-pump mati?

Jok sobek paling urusannya sama gengsi. Ban pecah?

Pastikan rumah dalam keadaan aman kalo ditinggalkan tanpa orang: kompor mati – cabut gas jika perlu, perangkat listrik yang perlu dimatikan udah mati. Jangan lupa pula berdoa sebelum perjalanan dan tinggalkan pesan ke sesiapa yang Anda anggap penting. Kalo ada apa-apa jadinya jelas kita tadi mau perjalanan ke mana.

Siapkan juga nomor keluarga di rumah. Amit-amit, in case terjadi apa-apa di jalan, polisi/rumah sakit bisa langsung menghubungi keluarga di rumah.

Dan inilah pentingnya perawatan berkala kendaraan: untuk memastikan kendaraan dalam kondisi fit dan tidak membahayakan keselamatan. Termasuk bagian dari perawatan berkala adalah: kesehatan sasis – ada yang retak atau ndhak; elektrikal sehat apa ndhak; dan kaki-kaki mau copot apa ndhak.

Jadwal perawatan berkala kendaraan bisa Anda simak di sini https://m.facebook.com/notes/323699264381705/jadwal-perawatan-bmw/530192663732363/

***

Jangankan urusan perjalanan yang memang langung berhadapan dengan pertaruhan nyawa; bahkan untuk urusan “sepele” yang “jauh dari nyawa” seperti memaku, menggergaji, dll. Bapak juga “kelewatan” aturannya.

Saat orang lain dengan santainya pakai kaos dan berkaki-tangan telanjang, bagi kami urusan “sepele-sepele” itu artinya musti ada ritual pake kaca mata keselamatan, sarung tangan, dan sebagainya.

Helm dan sepatu safety kadang membuat tampilan kami jadi lucu dibanding orang sekitar yang melakukan kegiatan “sepele” yang sama.

Kini saat beliau udah kembali pulang ke hadirat-Nya, saya baru merasakan apa maksud dan tujuan ini semua.

– Freema HW,
masih terus belajar jadi bapak.

Siang ini saya ketik posting ini, langit di atas sana masih terlapisi mendung tipis sejak pagi tadi. Matahari sama sekali tak menyengat kulit sejak tadi.

*SS = Special-Stage, trip di antara dua jarak. Biasanya dipakai di kejuaraan rally. Mustinya sub-judul di post ini saya pakai pit-stop, bukan SS. Tapi iseng aja saya pakai SS, biar lebay gichu. 😉

*Sumber inspection-check adalah pengalaman pribadi, namun banyak referensi yang menjelaskan ini semua. Terima kasih telah menambahkan pengalaman pribadi atau referensi Anda di bawah ini untuk melengkapi.

Terima Kasih Avanza Hitam

Siang ini di kota kecil Kediri, 26 Desember 2015, hari kesekian dan masih awal-awal sesi libur panjang akhir tahun ini. Saya mengemudi sendiri, sedang terjebak kemacetan di salah satu titik keramaian kota Kediri, kota yang cuman ‘sejengkal’ ini.

Mendadak, sebuah Avanza (atau Xenia?) hitam berteriak kepada saya sambil berlalu agak cepat, “Pak pintunya kurang rapat!”

Kurang lebih mungkin itu kalimatnya. Entah apa yang beliau ucapkan tadi, saya kurang ngeh. Tapi saya yakin itu maksudnya.

Secara refleks saya mengangguk dan melambaikan tangan. Semoga mereka paham jika dengan gerakan itu saya hendak mengucapkan terima kasih.

Saya membuka dikit untuk kemudian menarik-menutup pintu saya lebih rapat.

TERIMA KASIH Avanza hitam. Salut buat penumpang kiri depan (ibu-ibu berjilbab, menemani si bapak yang konsentrasi nyetir tampaknya, beserta keluarga seisi mobil – mudah-mudahan saya tak salah lihat tadi) yang sepertinya sengaja membuka sebentar kacanya hanya untuk menyampaikan peringatan kepada saya.

Sayangnya saya masih tetap tertahan di lajur saya, tidak bisa menyusul itu Avanza di lajur sebelah saya yang duluan bergerak dan maju beberapa mobil ke depan.

Hingga lolos dari kemacetan, saya tak bisa mengejar itu Avanza untuk mengucapkan terima kasih secara langsung.


– Ilustrasi.

KEDIRI kota kecil yang cuma ‘sejengkal’ ini, siang tadi dilanda kemacetan parah. Jalur yang saya lalui siang ini tadi: Nabatiyasa, pusat kota Jalan Dhoho, Pattimura isinya macet semua. Di jembatan baru Semampir, kendaraan ke arah barat ekor kemacetannya bahkan sampai lampu merah Semampir.

Entah dengan kawasan Alun-Alun, saya tak hendak lewat sana ini tadi, udah keburu bete aja di jalan tadi. Cuman buat ngiteri jalur yang tak seberapa panjang tadi, (nyaris) satu setrip bensin ludes terbakar jadi emisi.

Walapun cuman sedikit kilometer dan tidak makan waktu berjam-jam ala Jakarta, namun rasanya Kota kecil yang cuman sejengkal ini sudah mulai belagu hendak menandingi Jakarta atau Malang. Sebab sejauh ini Kediri tidak mengenal kemacetan. Paling ya masih “antri lumayan agak lama”, begitu kalo saya mengistilahkan ‘kemacetan’ Kediri kala weekend-weekend biasanya.

Entah dengan hari sebelumnya, apakah seperti ini macetnya atau tidak. Siang ini tadi saya terpaksa keluar karena memang ada urusan. Bukan sekedar jalan-jalan menghabiskan liburan. Sementar amulai awal sesi libur panjang akhir tahun 2015 ini saya banyak menghabiskan waktu di Blitar.

KEPADA Avanza (atau Xenia?) hitam yang tak sempat saya perhatikan nomor polisinya karena serasa begitu cepatnya kejadian tadi, saya ucapkan terima kasih tiada terkira. Semoga posting ini sempat sampai ke layar ponsel/kompie Anda. Dan semoga kesehatan dan keselamatan senantiasa menyertai Anda sekeluarga, Allahuma aamiin.

Regards,
FHW
– Bimmerfan (BMWCCI Kediri; Angkringan-online Bimmerfan Mataraman – not club not community; Blitarian Bimmer; BUCKS; dll. mana aja saya okey buat diajak koq! 😀 Hehehehe…)

Konvoi Apa Balapan?

Kalo biasanya trending-topic tentang kelakuan ugal-ugalan di jalanan sering didominasi oleh bus, turing/konvoi moge yang seperti konvoi motor ucrit kelakuannya, kali ini Toyota Kijang Club Indonesia (TKCI) mendadak jadi trending-topic.

Ada video turing yang diunggah salah satu member mereka ke laman Fesbuk TKCI yang dinilai banyak pihak begitu ugal-ugalan dan membahayakan keselamatan bersama di jalan raya. Berkuasa makan jalan, menggunakan sirine/strobo dan mengeluarkan anggota badan/mengibas-kibaskan tangan kepada pengendara lain.

Tapi bukan sekedar itu masalahnya. Saat banyak yang komplain dan protes, justru ditanggapi dengan kesan arogan oleh member-membernya. Mereka merasa tindakannya sudah benar dan justru menjawab pertanyaan orang dengan kata-kata yang terlihat kasar.

Belakangan video tersebut hilang hari FB TKCI. Namun sempat ada yang mengunggahnya ulang di Youtube.

Beberapa screenshot postingan dari fesbuk juga terkoleksi di thread Kaskus ini http://m.kaskus.co.id/thread/5652ddfc5074109c188b4567/kelakuan-member-tkci-yg-arogan-serta-ugal—ugalan-membahayakan-pengguna-jalan-lain/

Saya bukan member TKCI. Namun saya yakin yakin, fenomena sebagian oknum yang mencoreng nama baik klub/komunitas ini bukan hanya menimpa TKCI saja. Mungkin klub/komunitas lain juga pernah harus sibuk duduk bersama membahas kelakuan anggotanya yang seperti itu.

Makanya, lebih baik peristiwa ini semua dijadikan koreksi bersama saja untuk tidak diikuti/tidak diulangi lagi untuk yang kedua kalinya.

***

Kepada TKCI atau semua klub/komunitas mobil apa saja, jika ada membernya membaca ini atau sesiapa mungkin bisa menyampaikan ke pihak TKCI dan klub/komunitas lain, mohon maaf sebelumnya jika ada salah kata:

coba deh itu yang ugal-ugalan di jalanan diarahkan buat turun ke sirkuit Sentul. Biar lebih terarah potensinya dan menjadi prestasi kemampuan nyetirnya.

Bukan menjadi sesuatu yang membahayakan nyawa orang lain, lebih dari sekedar mengganggu ketertiban atau kenyamanan orang lain.

Atau kalo pihak TKCI atau klub/komunitas apapun sudah biasa bikin track-day di Sentul, mungkin diperbanyak track-daynya. Biar semua bisa tersalurkan bakat mbejek gasnya.

Seperti TKCI yang punya 58 cabang dan buanyakkk anggotanya itu, mungkin akan lebih mudah meramaikan Sentul dan mungkin bisa diskon lebih banyak dari pengelola sirkuit kalo mau bikin track-day di sana.

“Yaaa… Rumah kita kan jauh dari Jakarta Gan…”

Ya koordinasilah dengan Polres & Pemda setempat, barangkali bisa nutup jalan untuk bikin track-day lokal sehingga ndhak perlu datang ke Jakarta.

Jika proposalnya layak, relatif aman dan relatif tidak mengganggu aktivitas masyarakat kota/wilayah setempat namun ijinnya ndhak dikasih sama Polres/Pemda, laporkan aja ke Menpora karena tidak serius memfasilitasi meratanya sirkuit olah raga otomotif di beberapa titik di Indonesia yang luas ini.

Intinya, lakukan langkah legal sampe mentok semuanya. Baru kalo pemerintah tetep mbisu-tuli, gunakan petisi massa agar suara Anda lebih didengar.

***

“Lho Gan, Kijang kan sesungguhnya bukan mobil balap melainkan mobil turing/keluarga?”

Ya sudah kalo begitu, jangan bikin kelakuan ala balapan di jalan raya. Mengendarailah sebagaimana semestinya jika memang itu mobil turing/mobil keluarga, bukan mobil balap yang memang punya kapabilitas & relatif bisa dikendalikan untuk menghadapi oversteer, understeer, rolling, spinning pada kecepatan tinggi.

Wong mobil sedan yang relatif siap untuk itu aja tetep ndhak patut koq berlagak ala balapan Sentul di jalan raya: duel di tikungan, overtaking dalam celah sempit, dan hanya dipacu untuk melaju menjadi paling terdepan tanpa harus memikirkan adanya kendaraan dari arah berlawanan. Kesemuanya adalah kondisi yang memang hanya disiapkan di sirkuit dan berbeda telak dengan kondisi nyata di jalan raya.

COBALAH turun atau ikuti dunia sirkuit. Biar Anda semua ngerti akan arti satu-satunya nyawa.

Pembalap-pembalap Sentul yang begitu liar dan ganas di sirkuit, justru mereka sangat ngerti artinya safety: paham perlu dan pentingnya perangkat safety minimal sabuk keselamatan di jalan raya serta paham perlu danpentingnya safety-driving di jalanan publik/jalan raya. yang mana the keyword is: jangan sampai membahayakan keselamatan orang lain.

Makanya meski mereka liar di sirkuit, mereka justru sangat santun dan bertata-krama di jalan raya.

WELL, semua peringatan yang Anda baca ini, sungguh sebenarnya khususon saya tujukan paling utama untuk diri saya sendiri.

Sebab saya kadang nge-pause kenormalan dan kewarasan pikiran sendiri saat berkendara santai-santai mendadak ada mobil yang nyalip dan memotong laju saya. Sesuatu yang bukan sekedar mengganggu kenyamanan -kalo masalah kenyamanan saya gampang melupakan- melainkan ini sudah menjurus ke sesuatu yang mengganggu keselamatan.

Regards,
– Freema HW,
belum merasa menjadi pengemudi yang baik, sopan, dan bertatakrama di jalan raya.