Ikhlas

Si kecil kami, Aleef Rahman, udah mainan Blender 3D sejak kelas 3 SD, tepatnya MIN (madrasah ibtidaiyah negeri). Dia dulu sekolah di MIN Doko (MIN 2), Kediri

Kami ajari sepintas dasar-dasarnya, kemudian dia menyimak klip tutorial, yang entahlah koq begitu mudah diserap oleh anak usia 9 tahun/kelas 3 SD gitu; dan selanjutnya udah bikin macam-macam sendiri.

Masih sangat jauh dari sempurna, bahkan hingga hari ini. Obyek yang dia bikin masih sangat kurang detailnya. Poly-nya pun sedikit juga. Dan rendernya low-medium aja.

Karena masih terbatasnya waktu yang dia pakai, karena dia harus tetep belajar dan harus tetep main-main sama temen-temen kecilnya; sehingga pastinya tak cukup waktu untuk bikin obyek dengan detail tinggi dan poly yang buanyak.

Plus komputer kami emang apa adanya. Teramat apa adanya. Udah bisa running Blender dan bisa render aja udah bagus. Keseringan, dia perlu semaleman buat render. Sambil ditinggal tidur, dan pagi harinya baru dia cek hasilnya.

*

Kemudian kami bikinkan channel/kanal/saluran Youtube khusus untuknya. Hasil karyanya tak lagi kami muat berceceran di kanal Youtube atau akun Fesbuk kami.

Isi kanalnya masih teramat sedikit. Nanti pelan-pelan apa yang udah kami unggah di Fesbuk akan kami unduh dan kami unggah ulang ke kanal Youtubenya. Tapi mohon maaf sebelumnya, videonya acak-acakan. Ya nyutingnya, ya editingnya (lebih tepatnya tanpa editing sih). Karena orientasi kami hanya dokumentasi. Bukan eksistensi, apalagi promosi dan komersialisasi.

Dan kini si kecil kami udah besar. Physically, dia lebih besar/lebih tinggi dari kami, orang tuanya ini. Plus bertambah lebih besar juga daya pandangnya.

Kini dia sudah bisa bikin klip youtubenya sendiri, 100% dia kerjakan sendiri.

Bikin story-board sendiri, meski cuman sebaris kata, katakanlah demikian.

Bikin penyutradaraan sendiri, gimana dia musti nampilkan sudut pandang/arah kamera pengambilan gambar animasinya.

Bikin editing sendiri (mestinya ngetiknya: ngedit sendiri. Sudahlah. Hehehehehe….) Dia bikin scene pembuka, nyuplik video pengantar, dan nampilkan karya animasinya.

Bikin deskripsi sendiri di itu klipnya: bahwa dia pakai program animasi Blender 3D, program editing video Openshot, dan kesemuanya running di Ubuntu Linux, sistem operasi yang dia kenal sejak kecil setelah kami memutuskan purna dari MacOS saat dia belom bisa start dan shutdown komputer sendiri dulu.

Plus unggah semuanya di kanal Youtubenya.

Sebagaimana tampak di klip di atas itu.

*

Kini dia mulai seneng saat klipnya ada yg nge-like. Dia kini mulai memantau, berapa views klipnya.

Kini dia mulai memiliki harapan. Kini dia sudah mulai mengenal angka-angka.

Kini tugas kami bertambah lagi.

Kami harus terus memupuk harapannya: bikin klip animasi yg lebih bagus, yang disukai temen-temennya, namun tetap sesuai dengan isi hatinya sendiri.

Sekaligus kami harus membentenginya dengan keikhlasan: jangan hirau dan galau dengan kuantitas views atau subscriber, jangan hirau dan galau dengan angka-angka.

*

Di dunia yang semakin angkawi ini, serasanya semua ukuran/perameter apa-apa kini musti angkawi: kesuksesan, kegagalan, progres, regres, dll. Parameter kualitatif pun kadang dipaksa musti bisa diangkawikan juga: derma, sedekah, dll.

Ini beratnya kami membentengi dia, sebagaimana kami tetap berat membentengi diri sendiri:

hidup ini harus seperti menanam tanaman di sawah/ladang.

Kita harus tekun memilih dan memilah bibitnya. Kita harus telaten menanam biji/benihnya. Kita harus sungguh-sungguh merawat tanamannya: menyiangi rumputnya, mengusir ulat-ulatnya, … pokoknya memperlakukan tanaman itu seperti anak kita sendiri;

tapi kita dilarang, jangan sampai, kalkulasi/itungan-itungan di depan: berapa kita telah investasi dan berapa nanti pendapatan panennya.

Sebagaimana semua diajarkan oleh pakpuh kami yang dipercaya oleh keluarga untuk ngopeni sawah keluarga di Blitar Selatan sana.

Semuanya harus ikhlas.

Sementara dunia di luar sana, terus dan semakin kencang bergerak dengan angka: diskonan, gratisan pembelian, proyeksi profit, tingkat laba, return of investment, dll dll dll.

Kami harus kuat terjepit di sudut larinya dunia ini: kerjakan semua dengan sungguh-sungguh sesungguh-sungguhnya, tapi musti ikhlas untuk tidak pernah berharap dengan hasilnya nanti, tidak berharap dengan angka-angka.

Sementara kami sendiri harus bertarung melawan angka-angka: token listrik harus rutin diisi, bensin motor harus kembali diisi lagi, buku si kecil juga waktu beli lagi.

Dunia emang berat.

Berat, karena kita harus memenangkan diri sendiri, tanpa harus mengalahkan satupun siapapun pihak lain. Sementara sudah jamak di era sekarang, kemenangan kita adalah hasil mengalahkan orang/pihak lawan.

Berat, karena kami memilih untuk sekuat mungkin menghindari kejamakan era sekarang itu, menghindari memilih parameter angkawi dalam hidup ini. Dan entahlah kami mampu atau tidak dengan ini semua. Kalo toh mampu pun, seberapa mampu kami bertahan, kami sendiri juga tak tahu.

Yang penting dijalani aja (dulu), dilakoni kanthi laku.

INI tentang mblajari si kecil, dan diri kami sendiri, tentang ikhlas. Saat dia sudah mulai “mengenal angka” dan saat kami harus bertarung dengan angka-angka.

Semoga kami masih terus kuat menggali dan menggapai ridho-Nya senantiasa. Allahuma aamiin.

– Freema & Deasy,
Bapakne & Ibune Aleef Rahman.

Advertisements

Perisakan

https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4199435/sekolah-akui-kecolongan-bocah-bandung-dibully-sejak-kelas-4-sd


Si kecil kami badannya gedhe, tapi berpikirnya lurus. Dia susah menangkap guyon-guyon pasaran kebanyakan temen-temen sebayanya. Bagi dia, “lucu” itu kalo ada pesawat yg salah konsturksi, kereta yg salah desain, dan sejenisnya. Biasanya, hal demikian ada di Natgeo atau kanal Youtube. Intinya, hal yg sama sekali gk umumlah untuk kebanyakan (baca: nyaris semua) anak-anak seusianya.

Karena pola pikirnya yg gk selaras sama komunitasnya, jadinya si kecil malah sering dirisak (bullyed) sama temen-temennya. Baik dirisak dengan kata-kata – ini yg paling sering, maupun tindakan.

Pas kami suruh dia mbales/pukul aja temennya yg suka merisak, dia bilang: “Jangan, nanti aku gk disayang Allah…”

***

Dulu pernah, mungkin karena gk kuat menahan hati karena dirisak temen-temennya, akhirnya meledaklah emosinya. Temennya dilempar pake botol air mineral hingga hidungnya mengucurkan darah.

Kami berdua orang tuanya si kecil ini dipanggil ke sekolah. Dinasihati sama pihak sekolah agar si kecil lebih kami perhatikan.

Ya kami jawab aja dengan enteng ke bu gurunya: “Bu, anak saya yg menjadi pelaku atau korban perisakan sehingga bereaksi seperti itu?

Masih “untung” si kecil kami cuman melempar botol ke temennya, bukan tidak mungkin lho korban perisakan gini meledak dan membunuh temennya….”

Pihak sekolah terdiam.

Kayaknya perkara perisakan gini, juga fenomena masih massifnya rakyat yg buang sampah sembarangan, belom menjadi perkara yg serius untuk ditangani di negeri ini,

Dan pihak sekolah belom mau kalah.

Kata bu gurunya: “Pas kami tanya ke para santri (sekolahnya thole kala itu di madrasah ibtidaiyah, sekarang dia udah masuk MTs) siapa yg pagi tadi gk sholat (baca: sembahyang) Subuh, putra njenengan yg tunjuk jari. Katanya karena bapaknya juga bangun (ke)siang(an) jadi gk subuhan.”

Ya kami jawab dengan santai: “Alamdulillah kalo gitu bu, putra kami jujur. Itu temen-temennya yg gk ngacung, dijaminkah kalau mereka semua subuhan? Jadi sebenarnya siapa yg ‘sholat’ di sini: si kecil kami yg jujur bilang gk subuhan atau anak-anak yg mungkin diem gk ngaku kalo gk subuhan?”

Well, soale sedikit banyak kami kenal dan tau modelannya temen-temennya si kecil yg kadang kala main ke rumah.

Pihak sekolah melongo lagi.

Kayaknya maksud baik mereka jadi ancur lebur karena aka model orang tua murid kayak kami.

Dan yg pasti, kami pun si kecil hingga detik ini tetaplah menjadi warga bumi yg teralienasi. Kami susah banget diterima di banyak komunitas, karena cara berpikir kami. Dan kami juga songong: males ngikuti pola pandang dan pola pikir publik yg kadang … well, kami susah untuk menggambarkannya. Sebab pasti kami akan menjadi pihak yg salah karena menggambarkan kultur dan budaya dominan mayoritas.

Nanti akan kami sambung lagi ke bagian lain, tentang teralienasinya si kecil kami.

– FHW HDW

Kreatif

Dia malah sibuk nggambar papan tatakan kertas ujiannya. Ujian Semester & try-out menghadapi UN. Entah kapan dia nyoret-oret itu papannya.

Kayak buku-buku pelajarannya, isinya penuh coret-coretan. Sementara pelajarannya malah gk ditulis. Soal ulangannya juga sering gk diisi jawabannya.

Separuh buku mungkin ada: isinya oret-oretan semua.

Maka sesuai sistem pendidikan (negeri) di Indonesia: semua coretan kreativitas dan kisah imajinasi otaknya yg setinggi langit itu ostosmastis diabaikan,

dan “kepandaian & kecerdasannya” hanya akan diukur dari jawaban ujian yg dia kerjakan, dari nilai yg ditentukan oleh kurikulum.

– Ibune Rahman

(OBAT) SAKIT GIGI

Beberapa temen mengeluhkan giginya sakit. Kenapa gigi kita sakit?

Kalo bukan karena sakit fisik (kebentur, syaraf pecah, dll), maka sebabnya adalah karena ada kuman yg ngumpet di gigi kita. Mungkin di bolongan, di tepi gusi, dll.

Kuman ini yg bikin senut-senut karena mengganggu syaraf peka yg ada di gusi.

Obat itu cuman menghilangkan rasa sakitnya, bukan mematikan kuman ngumpet yg jadi sumber penyakitnya.

Kalo saya sakit gigi, sejak era kuliah akhir ’90an dulu, ada temen nyarankan kumur seseringnya pake Listerine, yg original, jangan yg varian fresh-freshan.

Kenapa listerin original? Karena kandungan “obat” dia yg paling keras. Saya belom menemukan merk lain yg setara dia. Mungkin ada, tapi saya belom nemu, dan ndhak mau repot nyari, karena nyari Listerine yg original itu gampang. DI minimarket sebelah atau di toko besar atau apotik terdekat bisa dibilang pasti ada.

Sesering mungkinnya itu berapa kali sehari? Sekuatnya. Karena sebenarnya obat kumur gini juga mematikan enzim baik di mulut. Jadi ini efek jeleknya. Makanya kalo abis kumur pake obat kumur, mulut kerasa kering dan kita kayak belom minum air seharian. Ya mustinya karena semua yg ada di mulut dimatikan.

Biasanya sakit gigi sesenut apapun, saya langsung minum air putih sebanyaknya, gosok gigi abis makan, dan kumur ini obat. Trus mulut istirahat.

Dan ternyata emang jitu.

Sehari tiga-empat kali: pagi pas bangun tidur/abis mandi/abis sarapan; abis makan siang, dan abis makan malam + sebelom bubuk itu aja udah bikin esok paginya saya bangun dengan gigi sembuh.

Lama-lamanya saya hanya perlu tiga hari untuk menuntaskan sakit gigi saya. Tiga hari itu pun karena saya ndhak disiplin. Misalnya makan di luar dan habis itu ndhak kumur.

DULU pertama kali saya dikasih saran temen itu pas kuliah, dua puluh taon silam. Saya udah abis Ponstan udah beberapa biji, pernah saking sakitnya itu gigi, sehari kayaknya ada kalo tujuh butir itu obat penghilang nyeri masuk perut.

Entah kayak gimana rasanya ginjal bekerja super keras membersihkan zat-zat kimian obat yg diserap darah. Untung ada temen yg ngasih saran pake Listerine tersebut.

Alhamdulillah, udah dua puluh tahun ini saya sekalipun ndhak pernah bersentuhan dengan obat sakit gigi, apapun bentuk merk dan jenisnya.

Kalo sakit gigi, ya pasti Listerin Original. Aneh ya? Tapi itulah yg kai alami dan kami jalani selama ini. ๐Ÿ˜€

Alhasil di atas wastafel kami selalu tersedia obat kumur ginian. Dan kadang kami juga mbawa yg kemasan botol paling kecil kalo bepergian atau ketemu klien – tapi biasanya yg fresh-er bukan yg original, sekedar buat bikin mulut ini bersih dan segar aja.

Tapi kalo gigi pada kondisi ndhak sakit, kami paling pake yg freshtener aja, atau merk lain yg kami temukan sedang promo/diskonan di toko/minimarket/pasar swalayan. ๐Ÿ˜€ Itu pun kami makenya cuman malam pas gogok gigi mau tidur, dan kadang juga ndhak tiap hari. Bisa sih tiap malam, atau dua malam sekali, atau tiga malam sekali. Atau seingat kami saja.

Soale itu tadi, biarpun ada manfaatnya, dia juga ada kerugiannya, yakni: mematikan enzim-enzim baik dalam mulut. Kalo dipake dengan baik, benar, dan tepat maka dia tentunya akan bermanfaat. Kalo dipake berlebihan, ya bisa-bisa malah merugikan atau berbahaya.

So, kalo mau antiseptik alami buat mulut, mending kita kumur pake rebusan daun sirih atau air garam. Rasanya emang aneh sih: satunya pengar satunya asin. Tapi itulah kearifan alam untuk membuat hidup kita sehat dengan mudah dan murah. Udah sehat, mudah, murah lagi. Kurang baik apa Tuhan ngasih segalanya buat kita? ๐Ÿ™‚

Bai nde wei, meskipun posting ini kerasa kayak posting endorsement, ini 100% murni cuman pengalaman pribadi saya. Sama sekali bukan penjelasan ilmiah, apalagi ada hubungan promosional dengan listerin. Tapi kalo pihak Listerine mau berbagi kebahagiannya juga kepada kami, dengan senang hati kami akan menerima bingkisannya atau transferannya. ๐Ÿ˜€ Hehehehe…

Jadi buat semua pembaca, mohon koreksinya jika ada penjelasan ilmiah yg kurang/tidak tepat di sini.

Monggo dicoba. Barangkali cocog kayak kami.

– Freshma HW,
mesin berlubang delapan.

Sepatu 43

Mungkin seperti bunda-bunda yang dianugerahi anak seusia Aleef Rahman, kami juga dibikin pusing untuk urusan sepatunya. Pertumbuhan badannya yang cukup pesat, membuat kami tiap taon harus ngganti sepatunya. Bukan cuman sepatunya, juga baju dan celananya. Hiks…

Duluuu saat dia masih kecil, namanya orang tua yang sebisa mungkin selalu berusaha memberikan yang terbaik buat buah hatinya.

Masuk TK, kami belikan dia sepatu yang menurut ukuran kami sudah cakep dan (teramat sangat) mahal (banget). Sebuah Converse Chuck Taylor All Star original. Sebuah sepatu yang desainnya enggak berubah selama 100 taon ini. Dan sejak taon 2003 kemarin Converse dimiliki oleh Nike.

Sekitar dua tahunan kami menikmati kelucuan si kecil dengan sepatu model jadul tapi kerennya, sepatu itu pun harus pensiun dini sebelum ada kerusakan apapun sedikitpun: kakinya udah enggak muat masuk itu sepatu.

Masuk sekolah dasar, dia kami masukkan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Doko, Kediri. Turun grade, kami belikan dia merk lokal namun lumayan kondang: Precise.

Awet ini sepatu, baik kualitas dan ukurannya. Sepatu pertamanya di tingkat sekolah dasar ini bertahan hingga dua tahun alias hingga dia usai kelas dua.

Kelas tiga, bapaknya mencoba bereksperimen dengan membelikannya sepatu di lapak kaki lima seharga 35rb. Ternyata cuman dalam hitungan sedikit bulan, itu sepatu sudah amburadul. Kulit sintetisnya mengelupas semua. Sol/(outsole/sockliner)-nya siy bisa dijahitkan, cuman dindingnya yang kena jahitan pada sobek. Trauma jadinya kami membelikan barang yang kelewatan murahnya gini.

Tapi Allah itu maha adil dan maha pengasih lagi maha penyayang. Pas sepatu eksperimentalnya rusak, alhamdulillah si kecil dapet rejeki nomplok: dia dibelikan sepatu oleh budhenya. Ndilalah sama, sepasang Precise lagi.

Kelas empat, alhamdulillah rejeki anak sholeh, si kecil bersama seorang sahabatnya yang yatim piatu dihadiahi sepasang Tomkins, kali ini gantian Omnya yang ngasih.

Jelas awet. Sukses sampai setahun. Tapi ujung kukunya jadi bolong, kalah sama kelakuan si kecil. Dan terutama lagi: udah enggak muat.

Bersama si Tomkins ini, Aleef Rahman juga punya sepasang sepatu pantofel untuk acara resmi. Merk distro gitu. Eh enggak dinyana, sepatu ini agak buruk secara kualitas. Kulitnya melar dan ngelupas, ujungnya mulai bolong, dan lem-lemannya melepuh lepas. Mirip sepatu abal-abal harga beberapa puluh ribu. Cuman yang ini masa pakainya lumayan lama. Dan yang pasti, di akhir masanya ini sepatu benar-benar enggak bisa dilungsurkan alias diberikan ke sesiapa yang masih bisa menggunakannya.

Kelas lima dan kembali harus ganti sepatu. Kami tak langsung menuju toko sepatu, yang hari-hari sebelumnya kami udah sempat jalan-jalan dan memperhatikan harga beberapa item sepatu yang cocok untuk si kecil.

Kami buka dulu salah satu lapak jual beli lokal khusus kawasan Kediri dan sekitarnya sini.

Kami mendapati penjual yang menawarkan sepatu merk lokal lain lagi: Ardiles; dengan harga relatif sangat murah: mulai 60 hingga 125rb, tergantung ukuran. Lokasinya enggak terlalu jauh dari rumah. Tempatnya di rumahan. Stok barangnya segunung!

Cuman kami amati, modelnya memang enggak terlalu banyak. Tampaknya si mbak penjual beli/konsinyasi sedikit model dengan banyak volume demi ngedapatkan harga kulak murah. So bisa dijual dengan tetep murah tentunya, menyasar ke pembeli sepatu yang hanya berorientasi fungsi dan harga bukan berorientasi model.

Untuk ukuran Aleef Rahman kala itu hanya kena harga 60rb rupiah saja!

Beneran enggak nih sepatu?

Ah nothing to loose-lah, taruh kata hanya kepakai dan awetnya cuman sebulan, anggap saja breakdown-nya ya segitu itu. Kami pernah posting kisahnya di sini.

Ternyata eh ternyata, sepatu ini awet hingga setaon sodara-sodara! Sebagaimana janji si mbak penjual setaon kemarin pas kami membeli, โ€œKalo kuatnya kuat koq Mbak. Mungkin itu sepatu duluan sesaknya ketimbang rusaknya.โ€

Memang sih sol bawahnya udah mulai menghalus, dan dindingnya udah mulai melar pun ada beberapa jahitan yang udah mulai lepas. Tapi sepatu ini masih bisa dipakai dengan normal kalo mau. Dan, pensiun bukan karena rusak, tapi murni karena udah enggak muat lagi! Umpama masih muat di kakinya, tentu akan kami biarkan ia memakai terus sepatu ini.

Sepatu Abal-Abal Mahal

Kelas enam, kini kaki Aleef Rahman udah makin “bengkak”. Di beberapa sepatu nomor 42 kakinya terlalu ngepas, dan itu pun dicoba tanpa kaus kaki. Jadi buat main amannya kami mau nyarikan sepatu ukuran 43 aja buat dia.

Pengalaman membeli Ardiles seharga 60rb itu membuat kami yakin, bahwa sepatu murah belom tentu murahan.

Model taon kemarin itu, taon ini harganya udah naik.

Di tempat si mbak yang taon kemarin kami beli udah abis stok ukuran besarnya, dan kami lupa nanyakan berapa harga di dia sekarang. Yang jelas udah enggak 60rb kayak taon kemarin.

Lari ke sebuah toko sepatu, kami mendapati Ardiles dengan ukuran lebih gedhe harganya kena 100rb lebih dikit, 108rb mungkin, kami lupa. Cuman si Aleef Rahmannya menggeleng saat kami tawari. Dia kurang suka modelnya katanya. Duh nih anak…!

Nyari toko lain, ada sebuah model yang ditawarkan dengan harga 100rb. Dan si kecil mengangguk tanda suka modelnya. Akhirnya kami beli.

Bersamaan dengan sepatu olah raga/sepatu sekolah tersebut, sekaligus kami beli juga sepatu cadangan berupa safety-shoes, di toko lain lagi yang spesial jualan safety-shoes. Berpotongan tinggi, dan ada besi pelindungnya di bagian ujung kuku.

Semacam buatan home-industri dengan merk tembakan, harganya enggak sampai 200rb (175rb). Biasanya, sepatu ginian terkenal awet-awet aja dipakai. Entah kalo kena minyak beneran, solnya sanggup apa enggak menahan licin sebagaimana safety-shoes yang asli.

Awalnya si kecil menolak sepatu ini. Tapi kami yakinkan kalo sepatu ini cocok buat perjalanan, atau dipakai sekolah pas bukan hari dengan jam pelajaran olah raga. Akhirnya dia mau, dan gagah banget di memakainya. ๐Ÿ˜€

***

TAK dinyana, trauma kami tentang sepatu 35an rb terulang. Ini sepatu olah raga/sepatu sekolah seharga 100rb yang baru dipakai si kecil selama enam kali, ya enam kali dalam waktu kurang dari sebulan, udah rusak parah.

Lem-lemannya bagian bawah ngelupas luas, dan kulit-kulit aksentualnya di sisi samping mengelupas semua.

Setelah kami perhatikan baik-baik, ini sepatu rasanya lebih ke merk abal-abal yang tak jelas di mana produksinya atau dari mana asalnya ketimbang merk lokal yang setidaknya udah terkenal dari beberap ataon silam atau malah berani pasang iklan di TV.

Yakh, sesal dan kecewa memang selalu datang belakangan.

Tapi kami coba sedikit usaha. Kami datangi tokonya dengan pertanyaan pertama, “Mas, sepatu di sini ada garansinya enggak?”

Sambil kami menyodorkan itu sepatu rusak yang kardusnya masih snagat kinclong.

Pihak tokonya tampak gelagapan. Tapi masih bisa membantah. “Adik saya sendiri pakai sepatu ini sekian lama aman-aman saja. Bahkan dipakai juga untuk kegiatan baris berbaris. Mungkin ini sepatu rusak karena pemakaian.”

Kami tersenyum sambil sedikit berargumen tanpa bermaksud membantah. “Mas ini kan penjual sepatu, pasti hafal antara sepatu rusak karena (salah) pemakaian dengan rusak karena memang mutu bahan dan produksinya abal-abal.

Kami tadi pertama langsung bertanya, ada garansinya enggak? Kalo memang enggak ada, ya udah gpp. Udah risiko kami (salah) memilih.

Tapi kalo boleh kami mohon, kalo bisa mungkin jangan njual sepatu yang model ini lagi. Kasihan nanti kalo ada pembeli yang menalami kejadian kayak kami, baru dipakai beberapa kali udah rusak kayak gini.”

Anehnya, si Mas tokonya sama sekali enggak membantah dan malah mengucapkan, “Baiklah…”

Tanda dia sesungguhnya menyadari dan mengakui kondisi ini.

ITU sepatu kami masukkan kembali ke dalam kardus dan kami letakkan di atas tempat sampah tertutup yang ada di depan toko. Kepada tukang parkir (liar) yang ada di situ, kami sampaikan kalo kami meletakkan sepatu bekas, tidak sobek dinding sepatunya, hanya lepas besar lem-leman solnya, dan kemungkinan besar masih bisa dijahit lagi.

Mas tukang parkirnya senang dan bahkan enggak minta uang parkir ke kami. Di perjalanan, kami berdoa semoga itu sepatu bisa dijahit dan bisa bermanfaat ke mas si tukang parkir.

Prediksi kami harusnya itu sepatu masih bisa banget dijahit, Hanya kami udah terlanjur illfeel aja, makanya itu sepatu kami enyahkan dari kehidupan kami. Halah!

Dan kami sengaja enggak ngefoto itu sepatu plus kondisinya, biar kenangan pahit ini segera terlupakan dari perjalanan waktu kami. Halahhh!!! ๐Ÿ˜€

***

Alhasil, kami harus kembali mencarikan sepatu olah raga/sepatu sekolah buat si kecil, menemani sepatu safety yang dia pakai di luar jam olahraga.

Kembali nyoba browsing di lapak jual beli Kediri. Eh nemu ada sepatu bekas yang ditawarkan seharga 50rb. Merknya Nike, sudah pasti abal-abal. Cuman, meski abal-abal, kalo dipakai udah beberapa lama, tentunya malah ada nilai worthed-nya: paling enggak dia malah bukan tipikal baramg yang langsung rusak begitu beberapa kali dipakai.

Kami coba hubungi via online si Mas penjual dan janjian liat barangnya.

Tempatnya jauh keluar kota Kediri, arah kaki Gunung Wilis. Enggak terlalu jauh sih sebenarnya, sekitar 20km. Tapi jalannya kecil/sempit dan berkelak-kelok. Melewati hutan, persawahan, dan perkampungan berselang-seling. Sehingga perlu satu jam perjalanan untuk mencapai lokasi si penjual, di sebuah desa yang segala sinyal seluler beneran hilang dan kami ketemunya atas bantuan arahan penduduk. Tapi si mas penjualnya justru malah bisa internetan dengan adanya wifi desa. ๐Ÿ˜€

Ketemu. Kondisi sepatunya lumayan. Sambungan sol dan dinding sepatunya udah dijahit tambahan. Solnya masih bagus. Hanya ada sedikit jahitan di tungkai yang mengelupas kecil, kami pertimbangkan bisa dijahit lagi atau dilem sedikit saja. Dan entah kenapa alasan itu sepatu dijual, kami enggak menanyakannya. Yang jelasnya akun fesbuknya riil dan lumayan terbuka, setidaknya dengan ini kami meyakini kalo ini bukan sepatu curian.

Si kecil pun okey dengan modelnya. Alhasil kami dapat diskon 10rb, jadinya jatoh harga 40rb.

Cuman BBM mobil ke sananya mungkin hampir dua kalinya itu harga sepatu. ๐Ÿ˜€

Enggak apa-apa, sebelum kami memutuskan berangkat liat barang, kami sudah niati sekalian jalan-jalan malam mingguan bersama keluarga ke kaki Gunung Wilis yang dingin, sunyi, dan bener-bener lenyap segala sinyal seluler. Namun penduduknya yang kami jumpai ramah-ramah.

Well… Pelajaran moral yang bisa kami petik di sini: jangan pernah sekali-sekali beli sepatu abal-abal. Mending KW, masih bisa diprediksi kekuatannya.

Dan beli sepatu merk lokalpun enggak menjamin kualitasnya sepadan dengan harganya. Perlu referensi yang kuat tentang hal ini. Kecuali emang ada duit super enteng buat beli sepatu muahalll macam yang kami ceritakan di atas, itu lain soal lagi. Kalo enggak ada?

Ngomong-ngomong sepatu mahal, BTW, dulu Bapaknya Aleef Rahman pernah kehilangan sepatu di masjid, pas jaman dia kuliah. Udah gitu, itu sepatu pinjem dari temennya lagi. Pas itu bapaknya Aleef Rahman nginep di kos temennya, datang pake sandal, kemudian dia perlu ke kampus sehingga minjem sepatu temennya. Mampir ke masjid, pas mau capcus sepatunya udah raib.

Sepatu mahal. Kala itu harganya 200rb saat seporsi nasi pecel masih 750 rupiah. Sekarang harga seporsi nasi pecel rata-rata 7rb.

Dari sini, bapaknya Aleef Rahman jadi trauma juga dengan sepatu mahal. Plus kami emang enggak ada anggarannya khusus buat beli sepatu mahal. Dan, kami juga bukan maniak sepatu. Alhasil asal sepatu bisa dan layak dipakai, ya udah.

Bapaknya Aleef Rahman pun sukannya cuman sepatu safety, meski bukan berarti anti dengan model sepatu lainnya. Mungkin ini terkait dengan dunia dan karakternya. Plus lagi mungkin karena pengaruh almarhum bapandanya yang pensiunan dari sebuah perusahaan tambang, yang bisa dibilang seumur-umur kenalnya ya sepatu safety. Klop jadinya.

Perburuan sepatu murah emang butuh penggalian referensi, pengamatan mendetail dan mendalam, serta kekuatan doa dan keyakinan batin yang akan menjadi pengisi waktu dan perjalanan hidup yang menyenangkan. Sebagaimana kami bisa gembira karena dapet sepatu lumayan bagus dengan harga relatif murah atau harus bersedih karena kena sepatu abal-abal yang harganya setara sepatu lokal.

Yang penting semua jangan terlalu: terlalu gembira atau terlalu bersedih. Dinikmati saja. Masih banyak di luar sana yang lebih pusing daripada kami: bahkan untuk mendapatkan sepatu paling abal-abal pun mungkin mereka masih kesulitan.

Wallahualambisawab.

– Deasy Ibune Rahman,
dan ini sepatu KW yang kami beli seharga 40rb. Akan kami update nanti seberapa lama dia bisa dipakai Aleef Rahman.

Dan maaf kalo cuman urusan sepatu murah aja sampai segini panjang kisahnya. Kalo sudah cerita tentang anak, apa sih yang bisa kita persingkat? ๐Ÿ˜€

Pengkhianat Adalah Sesiapa Yang Tak Mau Memajukan Negeri Ini

Konon, hanya 1 dari 1000 (atau 10.000?) orang Indonesia -negeri mayoritas muslim dan konon dengan populasi muslim terbesar di dunia- yg punya minat baca (buku). Kayaknya, secara kasar ini satu desa atau bahkan kecamatan hanya seorang saja yg demen mbaca buku.

Sedih. Miris. Tragis.

Padahal secara literal konon ayat pertama Al Quran jelas-jelas: Iqra’ …! Bacalah …!

Entah kurangnya minat baca (buku) ini terjadi sejak dulu atau sejak datangnya era digital, Indonesia rasanya masih teramat sangat jauh dari kemajuan kalo minat baca di negeri ini masih belum meningkat. Infrastruktur: jalan tol, gedung sekolah megah, bandara internasional, dll. adalah hal yg kita butuhkan namun saya rasa sama sekali bukanlah tolok ukur kemajuan negeri ini.

Minat baca (buku) yg tinggi (otomatis biasanya akan diikuti dengan habit: bicaranya berisi analisis berdasar data/fakta/informasi, tidak membuang sampah sembarangan, bisa antri, dan beradab dalam berlalu lintas) adalah tolok ukur sejati kemajuan bangsa dan negara ini.

Deasy Ibune Rahman: yuk terus mbentengi si kecil agar terus rajin membaca: Iqra’ bismi rabbikaladhฤซ khalaq.

Dan tetap tebarkan inspirasi ke temen-temennya agar ikutan demen membaca. Meski susah karena orang tuanya kadang ada yg sama sekali “tak mendukung”: lebih demen beli pakaian atau henpon baru dll. yg bisa jadi ndhak terlalu dibutuhkan ketimbang beli buku.

Setidaknya, at least, mari selamatkan si kecil kita sendiri. Ini upaya terakhir yg bisa kita lakukan untuk bangsa, negara, agama, dan peradaban ini. Sebab, jika kita tak bersedia berusaha memajukan negeri ini: memajukan bangsa, negara, dan peradaban ini secara hakiki; rasanya kita telah menjadi pengkhianat atas tugas Allah pada kita: menjadi khalifah di muka bumi ini; untuk memimpin pergerakan diri kita guna bersama mengubah nasib: melanjutkan peradaban.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman

Asal Kita Lahir

Saat kita semua masih kecil, inget ndhak ortu kita bilangnya kita lahir dari mana? Dari pantat? Dari pintu di perut? Atau dibuat dari adonan tepung?

Masih mending kalian semua yg dulu kecilnya diboongi kalo kalian itu lahir dari pantatlah, dari pintu di perutlah, atau dibuat dari adonan.

Nah ortu ane bilang, ane ini asalnya dari kali Brantas. Ditemu sama mereka berdua. Trus dipiara. Meong kali ya?

Sampe sekarang ane masih dendam sama ortu kalo ingat cerita ini. Pingin ane dudukkan mereka berdua terus ane semprot abis-abisan.

Tapi Bapak udah duluan berpulang kepada-Nya. Kini saya malah sibuk mendoakannya. Dan menjaga emak yg kini sayang banget sama cucu-cucunya.

Subhanallah wallahuakbar.

– Freema KB (Kali Brantas)