Pengkhianat Adalah Sesiapa Yang Tak Mau Memajukan Negeri Ini

Konon, hanya 1 dari 1000 (atau 10.000?) orang Indonesia -negeri mayoritas muslim dan konon dengan populasi muslim terbesar di dunia- yg punya minat baca (buku). Kayaknya, secara kasar ini satu desa atau bahkan kecamatan hanya seorang saja yg demen mbaca buku.

Sedih. Miris. Tragis.

Padahal secara literal konon ayat pertama Al Quran jelas-jelas: Iqra’ …! Bacalah …!

Entah kurangnya minat baca (buku) ini terjadi sejak dulu atau sejak datangnya era digital, Indonesia rasanya masih teramat sangat jauh dari kemajuan kalo minat baca di negeri ini masih belum meningkat. Infrastruktur: jalan tol, gedung sekolah megah, bandara internasional, dll. adalah hal yg kita butuhkan namun saya rasa sama sekali bukanlah tolok ukur kemajuan negeri ini.

Minat baca (buku) yg tinggi (otomatis biasanya akan diikuti dengan habit: bicaranya berisi analisis berdasar data/fakta/informasi, tidak membuang sampah sembarangan, bisa antri, dan beradab dalam berlalu lintas) adalah tolok ukur sejati kemajuan bangsa dan negara ini.

Deasy Ibune Rahman: yuk terus mbentengi si kecil agar terus rajin membaca: Iqra’ bismi rabbikaladhΔ« khalaq.

Dan tetap tebarkan inspirasi ke temen-temennya agar ikutan demen membaca. Meski susah karena orang tuanya kadang ada yg sama sekali “tak mendukung”: lebih demen beli pakaian atau henpon baru dll. yg bisa jadi ndhak terlalu dibutuhkan ketimbang beli buku.

Setidaknya, at least, mari selamatkan si kecil kita sendiri. Ini upaya terakhir yg bisa kita lakukan untuk bangsa, negara, agama, dan peradaban ini. Sebab, jika kita tak bersedia berusaha memajukan negeri ini: memajukan bangsa, negara, dan peradaban ini secara hakiki; rasanya kita telah menjadi pengkhianat atas tugas Allah pada kita: menjadi khalifah di muka bumi ini; untuk memimpin pergerakan diri kita guna bersama mengubah nasib: melanjutkan peradaban.

Wallahualambisawab.

– Freema Bapakne Rahman

Asal Kita Lahir

Saat kita semua masih kecil, inget ndhak ortu kita bilangnya kita lahir dari mana? Dari pantat? Dari pintu di perut? Atau dibuat dari adonan tepung?

Masih mending kalian semua yg dulu kecilnya diboongi kalo kalian itu lahir dari pantatlah, dari pintu di perutlah, atau dibuat dari adonan.

Nah ortu ane bilang, ane ini asalnya dari kali Brantas. Ditemu sama mereka berdua. Trus dipiara. Meong kali ya?

Sampe sekarang ane masih dendam sama ortu kalo ingat cerita ini. Pingin ane dudukkan mereka berdua terus ane semprot abis-abisan.

Tapi Bapak udah duluan berpulang kepada-Nya. Kini saya malah sibuk mendoakannya. Dan menjaga emak yg kini sayang banget sama cucu-cucunya.

Subhanallah wallahuakbar.

– Freema KB (Kali Brantas)

Komparasi Bohlam LED

Ini beberapa komparasi bohlam LED yang kami rangkum dari beberapa sumber. (Efficacy = lumens/watt)

MERK WATT LUMEN EFFICACY
StarkLED Omni Series 5 500 100,0
Hannochs 5 450 90,0
Philips 4 350 87,5
Philips 6 470 78,3
Panasonic LED Neo LDAHV5LH5A / LDAHV5DH5A 5 350 70,0
MERK WATT LUMEN EFFICACY
Philips 13 1400 107,7
StarkLED Omni Series 15 1550 103,3
Panasonic LED Evo LDAHV13LH4A / LDAHV13DH4A 13 1320 101,5
Hannochs 14 1400 100,0
Osram 14 1350 96,4
MERK WATT LUMEN EFFICACY
Panasonic LED EVO Maxx LDTHV16DGNA 16 2000 125,0
Philips 18 2000 111,1
StarkLED Omni Series 15 1550 103,3
Hannochs Premier Jumbo 20 1800 90,0
Hannochs Royal 20 1700 85,0

Di sini mestinya ada satu faktor lagi yang perlu dipertimbangkan: harga. Namun harga ini mustinya harus keluar dari satu sumber atau sumber yang setara; misalnya MSRP (manufacturer suggested retail price) atau dari satu outlet yang sama yang menjual beragam merk produk tersebut.

Nah persoalannya, di sini datanya ndhak imbang. Jadi faktor harga ini terpaksa kita abaikan dulu. Padahal bisa jadi, untuk item yang lumens per watt-nya rendah, ternyata malah paling valuable jika masih diitung lagi dengan komparasi harganya.

Ada faktor lain lagi yang mungkin penting mungkin tidak penting untuk diperhitungkan, yakni keluaran panas (heat emitted) dan masa/umur pakai lampu. Tapi, rasanya pengguna rumahan jarang memperhitungkan faktor ini. πŸ˜€

CMIIW, CMIIW, CMIIW.

– FHW LED

REF:

Simulasi komparasi pemakaian lampu LED (light-emitting diode) vs CFL (compact fluorescent lamp) vs incandescent lamp/lampu pijar dapat disimak di sini http://www.hannochs.com/main/products/consumer-lighting/led-bulb/

Convertion Table (Electrical Energy into Light Energy) LED, ESL, and Incandescent Lamps

Bulb Shapes

Incandescent bulb shapes

Pre-Driving Inspection, The Safety Check

SS I: Parkir Sejam.

Semalam ada kejadian lucu sekaligus mengenaskan sekaligus konyol plus membahayakan keselamatan buat kami. Kemarin sore kami -saya, si kecil, dan ibunya- berangkat mau gathering ke Pantai Prigi, Trenggalek, menyusul rombongan Kedirian yang udah jalan duluan ke sana.

15:00 | Kediri.

Sebelum berangkat, saya sudah sadar kalo wiper saya mati. Sempat saya cek sekringnya, aman. Mungkin relay-nya mati, mungkin soket/rumah relay-nya ngepong, entah juga kalo modulnya.

Saya nekat, sementara ini musim penghujan.

Dan akhirnya inilah harga yang harus saya bayar.

Beru setengah jam jalan, hujan deras mendadak turun. Alhamdulillah posisi hanya beberapa ratus meter sebelum SPBU. Saya parkir di SPBU.

Sekian menit saya nyalakan mesin dan AC, kemudian saya matikan. Lama kelamaan mulai pengap, kami sempat buka pintu/jendela sedikit. Lama kelamaan air mulai banyak mencriprat, nyalakan mesin dan AC lagi.

Hiks, buang-buang bensin jadinya…

SS II: Parkir Empat Jam.

Hujan kemudian lumayan reda dan hari masih terang. Lumayan reda, sebab ndhak sepenuhnya reda. Masih ada rintik-rintik kecil.

Jalanan memang terlihat dan pandangan masih aman. Saya nekat terus jalan hingga 30an km, udah sampai masuk wilayah Tulungagung. Namun tetep saja kondisi ini mengharuskan saya beberapa kali minggir dan ngelap kaca depan (windshield) dengan lap chamois. Sepanjang 30km ini, saya berhenti sekitar tiga kali untuk ngelap kaca depan.

Masuk wilayah Tulungagung, hujan turun deras lagi. Hari mendadak gelap dan emang udah mau berganti malam.

Jalanan mulai kabur dan meremang. Posisi hujan, saya nekat buka kaca dan melongokkan kepala ke luar agar bisa liat jalan, sambil mengikuti mobil depan saya yang berjalan meminggir soale menghindari jalan yang sedang dalam pebaikan (namun para pekerja sedang istirahat semua).

Allah emang Maha Pemurah. Kami masih dikasih keselamatan: saya ndhak menanduk itu jejeran alat berat yang parkir dalam diam dan gelap.

17:00 | Ngantru, Tulungagung.

Dalam pandangan yang semakin tak kelihatan karena hujan yang semakin menderas, Alhamdulillah lagi kami bisa masuk ke SPBU Ngantru, SPBU pertama masuk kawasan Tulungagung.

Kali ini hujan deras sederas-derasnya. Di area parkir itu SPBU, mungkin karena paving-block-nya agak merendah, ada genangan air se-mata kaki.

Banyak pemotor yang juga beristirahat.

Kami istirahat di dalam mobil. Karema derasnya hujan yang membuat hawa dingin banget, kami ndhak terlalu lama menyalakan mesin dan AC. Lumayan lama kami cuman diam di dalam kabin. Sambil mengurangi gerakan.

Kala mulai pengap, kami buka pintu bentar. Hawa dingin dan hembusan angin langsung menghantam dalam kabin.

Begitu berulang-ulang.

***

Hampir empat jam, hujan mulai mereda dan menyisakan gerimis. Sayangnya, ini gerimis serasa tak mau berkurang intensitasnya. Di jalanan depan SPBU, pemotor sudah mulai berlalu lalang tanpa jas hujan. Ini malam minggu dan malam hari besar Sura/Muharram. Jalanan lumayan ramai.

Meskin bagi pemotor aman, bagi kaca depan ini tetep akan jadi masalah besar.

Pandangan redup-remang, hari yang telah malam, serta kena pancaran lampu dari depan, plus seruas jalanan yang sedang ditongkrongi barisan alat berat tadi, akan jadi penyebab sempurna untuk celaka.

21:00 | Ngantru, Tulungagung.

Tentu ini mustahil untuk lanjut ke Prigi. Apalagi rekan-rekan yang udah duluan nyampe juga mengabarkan kalo di sana juga hujan meski ndhak deras. Plus jalanan nantinya akan melewati kawasan hutan dan jurang, yang gelap tanpa lampu penerangan.

Maka langkah logisnya adalah: kami harus balik kanan pulang.

Si kecil semakin bete. Dia mulai ngomel-ngomel, “Koq lama kita berhenti di sini?”

Rombongan Kloter II, mereka dari rekan-rekan Blitarian, yang mau ikut gathering menelpon saya. Mengabarkan kalo udah di tengah perjalanan namun pit-stop menunggu satu rekan lagi.

Sempat mengajak saya untuk menunggu hujan reda total dan melanjutkan perjalanan.

Reda total pun, kalo ini malam dan berkabut, tetep riskan bagi kami. Sementara mereka semua punya senjata wiper.

Akhirnya saya putuskan tetep balik kanan.

SS III: Parkir Sejam.

Lalu-lintas di jalan raya Surabaya – Tulungagung di depan SPBU ini udah tampak mulai ramah. Akhirnya kami nekat: pulang!

Namun situasi alam masih belom mendukung kondisi perjalanan darurat kami.

Gerimis semakin pekat dan setengah hujan.

Memasuki kawasan Keras, Kediri, kecamatan terakhir yang berbatasan dengan Ngantru, Tulungagung, gerimis semakin memadat dan mulai menjadi hujan. Semakin ke utara semakin deras.

Jika awalnya saya berjalan di tepi dengan menyalakan lampu hazard, kali ini kembali nekat. Saya buka kaca, saya longokkan kepala, dan jalan normal!

Tujuannya: segera nyampe SPBU terdekat di depan, yakni SPBU Keras.

Jalanan kali ini melewati area persawahan tanpa rumah.

Dari depan, mata ini dihantam sorot lampu plus guyuran air hujan. Mata udah perih aja rasanya. Perihnya bisa ditahan sebenarnya, cuman meski “sepele” gini, ini udah kategori taruhan nyawa.

Jangan pernah niru apa yang saya lakukan ini.

Beberapa kali saya harus hard-braking/ngerem kenceng mendadak karena susah memperkirakan jarak dengan motor di depan saya.

Sekali juga ada mobil dari depan nyalip dan nyaris ciuman ke kepala saya. Saya sempat sedikit banting setir ke kiri.

Dan entah gimana ini rancangan spion, sorot lampu mobil di belakang saya ternyata nyampe juga ke mata saya.

Gila, asli gila!

Beruntung SPBU udah kelihatan di depan mata.

22:00 | Keras, Kediri.

Kami parkir lagi.

Ibunya si kecil udah sesenggukan menahan tangis.

Susah menggambarkan seremnya kejadian ini jika ndhak mengalaminya langsung.

Meski banyak kejadian yang juauuuhhh lebih seram dari kenekatan yang saya alami, tapi sekali lagi, ini sebenarnya urusannya udah sama taruhan nyawa.

***

Akhirnya kami pit-stop lagi sekitar sejam di SPBU Keras. Si kecil udah ngorok di bangku belakang. Kasihan, dia jadi korban ulah bapaknya ini. Maafkan Bapakmu ini Nak…

Hingga hari semakin malam, lalu-lintas semakin berkurang, dan hujan semakin reda. Saya putuskan lanjut jalan.

Alhamdulillah perjalanan kali ini lumayan diayomi Gusti Allah.

Saya ngikuti Seniyapansa di depan yang jalan lempeng.

Gerimis benar-benar kecil intensitasnya meski tidak bisa dikatakan reda total. Masih ada tetesan air jatuh dari langit meski sangat reda intensitasnya.

Plus dibantu lampu penerangan jalan yang mulai berjajar di kiri-kanan.

***

Masuk kota Kediri, gerimis semakin reda hingga reda total. Namun kaca depan udah buram karena cipratan air bercampur lumpur sebelum-sebelumnya. Beberapa kali saya sambil nggosokkan lap ke kaca kanan-atas, di arena depan pandangan saya.

23:0 | Rumah, Kediri.

Kami nyampe rumah dengan selamat. Alhamdulillah kami masih diberi keselamatan tanpa kurang suatu apa.

Namun perjalanan kali ini membuat saya langsung teringat almarhum Bapak. Almarhum Bapanda saya dulu adalah pensiunan dari perusahaan tambang asing. Pensiun, beliau bertani, jadi pemasok beras, sama bikin usaha kontraktor kecil-kecilan yang khusus spesial masang lantai marmer ke rumah-rumah.

Disiplinnya tinggi meski beliau adalah orang yang super penuh kompromi. Orangnya keras, khas manusia berdarah Ponorogo. Namun jiwanya lembut. Bapak ndhak bisa-an nolak orang minta tolong.

Sejak SMA, saya magang jadi supirnya. Pulang sekolah ndhak ada acara belajar atau bermain. Langsung ‘kerja’ nganter Bapak keluar kota ngurusi macem-macem.

Dan setiap mau luar kota/jalan jauh, saya selalu diwajibkan muteri mobil.

Pre-Driving Inspection, The Safety Check

Cek:

  • Bodi: posisi kendaraan enak dilihat, ndhak ‘pincang’. Cek ada bodi yang semplah apa ndhak.
  • Ban ada yang gembos apa ndhak. Pastikan tapak ban masih layak.
  • Semua fluida: minyak rem, air radiator, oli berkurang dari batasnya apa ndhak.
  • Semua lampu: lampu utama, lampu belakang/tail-lamp, lampu rem/stop-lamp, sein-sein dll. nyala apa ndhak.
  • Instrumen-cluster jalan semua apa ndhak.
  • Wiper pastikan nyala.
  • Spion pastikan ndhak pecah atau buram. Atur sudut spion sesuai pandangan.
  • Saat mesin nyala, cek ada kebocoran anggaran… eh, cairan di kolong mobil apa ndhak.
  • Pastikan sabuk pengaman berfungsi normal.
  • Saya kurang suka nglakson, saya buenci klakson sebenarnya. Tapi klakson nyala itu penting.

Pastikan:

  • Dan pastikan ban serep sama tool-kit lengkap tersedia!

Cadangkan:

  • Fluida: air radiator, minyak power-steering, oli, minyak rem juga disiapkan.
  • Bohlam-bohlam: headlamp, foglamp, tail-lamp, stop/brake-lamp, turn-signal, license plate-lamp.
  • Sekring dan relay. Biasanya siy di fuse-box emang udah ada slot buat sekring dan relay cadangan.
  • Cadangkan fuel-pump juga!

Ritual dan rutinitas yang menjemukan bagi saya. Tapi Bapak selalu memerintahkannya sambil mengawasi saya dari dekat. Dan kalo ada hal yang diputuskan membahayakan: batalkan perjalanan!

AC mati masih bisa dinikmati. Wiper mati?

Audio mati sama sekali tak mengganggu perjalanan dan bahkan bisa nambah konsentrasi. Fuel-pump mati?

Jok sobek paling urusannya sama gengsi. Ban pecah?

Pastikan rumah dalam keadaan aman kalo ditinggalkan tanpa orang: kompor mati – cabut gas jika perlu, perangkat listrik yang perlu dimatikan udah mati. Jangan lupa pula berdoa sebelum perjalanan dan tinggalkan pesan ke sesiapa yang Anda anggap penting. Kalo ada apa-apa jadinya jelas kita tadi mau perjalanan ke mana.

Siapkan juga nomor keluarga di rumah. Amit-amit, in case terjadi apa-apa di jalan, polisi/rumah sakit bisa langsung menghubungi keluarga di rumah.

Dan inilah pentingnya perawatan berkala kendaraan: untuk memastikan kendaraan dalam kondisi fit dan tidak membahayakan keselamatan. Termasuk bagian dari perawatan berkala adalah: kesehatan sasis – ada yang retak atau ndhak; elektrikal sehat apa ndhak; dan kaki-kaki mau copot apa ndhak.

Jadwal perawatan berkala kendaraan bisa Anda simak di sini https://m.facebook.com/notes/323699264381705/jadwal-perawatan-bmw/530192663732363/

***

Jangankan urusan perjalanan yang memang langung berhadapan dengan pertaruhan nyawa; bahkan untuk urusan “sepele” yang “jauh dari nyawa” seperti memaku, menggergaji, dll. Bapak juga “kelewatan” aturannya.

Saat orang lain dengan santainya pakai kaos dan berkaki-tangan telanjang, bagi kami urusan “sepele-sepele” itu artinya musti ada ritual pake kaca mata keselamatan, sarung tangan, dan sebagainya.

Helm dan sepatu safety kadang membuat tampilan kami jadi lucu dibanding orang sekitar yang melakukan kegiatan “sepele” yang sama.

Kini saat beliau udah kembali pulang ke hadirat-Nya, saya baru merasakan apa maksud dan tujuan ini semua.

– Freema HW,
masih terus belajar jadi bapak.

Siang ini saya ketik posting ini, langit di atas sana masih terlapisi mendung tipis sejak pagi tadi. Matahari sama sekali tak menyengat kulit sejak tadi.

*SS = Special-Stage, trip di antara dua jarak. Biasanya dipakai di kejuaraan rally. Mustinya sub-judul di post ini saya pakai pit-stop, bukan SS. Tapi iseng aja saya pakai SS, biar lebay gichu. πŸ˜‰

*Sumber inspection-check adalah pengalaman pribadi, namun banyak referensi yang menjelaskan ini semua. Terima kasih telah menambahkan pengalaman pribadi atau referensi Anda di bawah ini untuk melengkapi.

Sepatu 41

Sepatunya yang ‘barusan’ berumur setahun udah enggak muat. Solnya sempat terkelupas sedikit – dan sempat kami jahitkan. Namun ujung jempolnya sobek kecil.

Hendak membelikannya, kami tak langsung menuju toko sepatu, yang hari-hari sebelumnya kami udah sempat jalan-jalan dan memperhatikan harga beberapa item sepatu yang cocok untuk si kecil.

Kami buka dulu Lapak Jual Beli Kediri. Salah satu lapak jual beli lokal yang cukup kondang dan terkelola dengan lumayan baik oleh tim adminnya,

Tim admins LJB Kediri meng-setting itu forum dengan status close. Harapannya keliatan: agar seller dan buyer yang bergabung di sana sama-sama serius njual dan nyari barang.

Kalo open, khawatirnya banyak seller yang terlalu bombing post, ngepost banyak-banyak supaya trit/thread-nya di atas terus. Cara yang sah, namun jelas sama sekali enggak etis. Macam serakah ini namanya.

Hal semacam inilah yang membuat sebuah forum jual beli terkesan kumuh, rusak, semrawut, dan kurang jelas kondisinya: banyak anggota dan lalu-lintas postingnya, namun acakadut dan terlalu morat-marit kesan yang kita dapatinya: teramat buanyak trit kembar-kembar yang bukannya menarik perhatian namun malah bikin eneg ngeliatnya.

Sayangnya, meski admin LJB Kediri lumayan tegas memperingatkan seller yang nakal melanggar rule, masih banyak juga seller nakal yang melanggar rule dan masih lolos dari pantauan admin.

Semoga tim admins LJB Kediri bisa semakin berbenah memperbaiki kondisi forum agar benar-benar menjadi forum jual-beli paling berkualitas di area Kediri Raya.

***

Searching pake kata kunci sepatu, muncul beragam trit/lapak. Ada yang jual sepatu bekas, ada yang khusus jual sepatu khusus pantofel; dan kami menemukan sebuah trit sepatu sekolah/olah raga dengan harga dipajang 90RB.

Kami telpun empunya trit, ibu-ibu. Ternyata lokasinya enggak terlalu jauh dari rumah. Langsung kami meluncur.

Sampai di lokasi, si ibu yang punya lapak menyambut kami. Tempatnya di rumahan.

Stok barangnya segunung! Cuman kami amati, modelnya memang enggak terlalu banyak. Tampaknya si ibu beli/konsinyasi sedikit model dengan banyak volume demi ngedapatkan harga kulak murah. So bisa dijual dengan tetep murah tentunya. Dan harga yang tertera di price list emang membelalakkan mata: mulai 60RB hingga termahal 125RB!

Pilah-pilih sana-sini, nyoba sana-sini, kaki si kecil ternyata sudah berukuran 41!!!

Omegod… Ukuran 40 siy muat, cuman terlalu ngepas. Itu juga belom disumpel pake kaus kaki. Alhasil ukuran kami naikkan jadi 41.

Ibu yang punya lapak sama beberapa anggota keluarga yang ada di situ sempat terheran. “Putranya kelas berapa siy Mbak, koq kakinya gedhe banget?”

“Kelas lima, Bu…” Jawab saya pasrah.

“Byuh, lha itu nanti kalo idah SMP, berapa ukuran sepatunya?”

Saya hanya bisa tersenyum. Entah apa kata nanti ajalah. πŸ˜€

***

Kami dapet model yang kami tebus dengan harga 60RB. Si ibu buka rahasia, “Yang ini harga 60RB, soale saya kulakan putus Mbak… Kalo yang ini 90RB, soale ini konsinyasi. Kalo enggak laku saya bisa retur.”

Oooh… Ternyata biaya konsinyasi itu besar juga ya… Sampe 50% selisihnya. Wuih!

Cuman kalo itu model yang si Ibu kulakan putus banyak yang enggak laku, ya lumayan juga risikonya. Mana kami lihat tadi ada beberapa kardus lagi, dan satu kardus tampaknya isi dua lusin pasang sepatu. Ckckckckckck!

Inilah kaum wirausahawan, mereka berani menantang risiko, tentunya dengan perhitungan, pertimbangan, kalkulasi, dan keyakinan. Luar biasa!

***

Dilematis juga membelikan sepatu -dan baju- buat si kecil. Pertumbuhan badannya cepet banget.

Dulu Utinya pernah membelikannya celana cakep. Namanya celana cakep, dipakainya cuman buat kondangan aja. Dan yang kami ingat, itu celana cuman dia pakai beberapa kami aja, langsung enggak muat. 😦

Alhasil, pakpuh, budhe, bulik, dll. semuanya kami teriakin. “Sini kalo udah punya celana enggak muat!”

Beneran, koleksi celana pakpuh dan budhenya yang udah enggak muat, pas dipakai si kecil! Alamaaak!

Jadinya, kami mikir kalo membelikannya barang bagus. Sebentar udah enggak muat, sayang duit jadinya.

Akhirnya kami putuskan: kalo harus membelikannya pakaian/sepatu, kami belikan yang sekiranya daya tahannya selama muat dia pakai. Estimasi kami: setahun doang!

Namun kadang kami keterlaluan juga.

Dulu pernah nyarikan sepatu juga. Kami nyari di lapak sepatu kaki lima yang harganya lebih ekstrim lagi: mulai 15RB!

Kami membelikannya sepatu seharga 35RB. Ternyata cuman dalam hitungan sedikit bulan, itu sepatu sudah amburadul. Kulit sintetisnya mengelupas semua. Solnya siy bisa dijahitkan, cuman kulitnya yang kena jahitan pada sobek.

Trauma kami membelikan barang yang kelewatan murahnya gini.

Dan untuk sepatu yang barusan kami tebus, semoga bisa tahan setidaknya hingga setahun. Si Ibu pemilik lapak sepatu mencoba meyakinkan kami, “Kalo kuatnya kuat koq Mbak. Mungkin itu sepatu duluan sesaknya ketimbang rusaknya.”

Semoga.

Setidaknya untuk harga pengalaman kali ini adalah 60RB.

– Deasy Ibune Rahman

(Manusia Sampah,) Sampah Manusia

Sepeda motor, kalo enggak salah jenis Honda Vario warna hitam-merah nopol AG5250GH(?), dikendarai sepasang suami-istri, melintasi jalan antar desa dari desa sebelah masuk ke desa kami.

Dari atas jembatan kecil sungai perbatasan desa, pengendaranya melempar sebonggol kantung kresek (sampah detected) ke sungai yang lokasinya cuman beberapa meter di belakang rumah.

Bapakne Rahman yang kebetulan bermotor dari arah berlawanan melihatnya.

Motor tersebut lantas dicegat oleh Bapakne Rahman, dia hadangkan motornya di depan motor mereka.

Bapakne Rahman: “Ngapunten, ingkang njenengan bucal teng lepen wau sampah?”

– Misi Pak, yang bapak buang ke sungai tadi sampah?

Pemotor: (cengengesan) “Hehehe… Iya…”

Bapakne Rahman: “Lain kali mbok dibuang di TPS (Tempat Pembuangan Sementara) di selatan situ.. Kasihan sungainya kotor, siapa yang mbersihkan ntar?”

Seratus meter dari rumah ada TPS yang udah lama disediakan oleh pemerintah.

Pemotor: “Nggih Pak…” Sambil tetep cengengesan dan langsung tancap gas.

***

Lainnya kejadian ini, seringkali di depan/samping rumah ada sampah plastik berserakan.

Beberapa kali kami lihat dari kejauhan/dalam rumah, ada anak berseragam, pulang sekolah dibonceng (mustinya) ibundanya, membuang gelas plastik bekas minuman atau plastik pembungkus kudapan begitu saja sambil melaju dari atas motor.

Doakan sekali waktu kami bisa memergoki mereka dan menangkap tangan langsung.

Sungguh, kami hendak bikin perhitungan.

Yang ada di pikiran kami bukan memarahi atau minta upeti kompensasi kepada mereka.

Yang ada di pikiran kami: kami hendak menghadap pak Lurah desa kami atau Lurah desa sebelah kalo mereka warga desa sebelah yang sering melintasi jalanan depan/samping kami, dan bersama/disaksikan perangkat desa, kami akan membuang sampah di depan rumah mereka.

Kami pingin lihat, mereka itu manusia yang punya akal dan perasaan atau bukan ketika orang lain membuang sampah seenaknya di depan rumah mereka.

Itu masih di halaman rumah kita, sanksi terdekatnya mungkin cuman dari si pemilik rumah.

Kami juga sering melihat bonggolan kantung-kantung kresek, sebagian isi sampahnya udah berserakan, dibuang di jalanan antar desa sisi lain, tepatnya jalan antar desa Doko dan desa Burengan – Kediri yang kebetulan jalanan tersebut melintasi area persawahan dan agak jauh dari permukiman terdekat.

Sampah adalah pangkal kerusakan. Oleh karena itu, sampah musti kita kelola penanganannya.

Kalo sampah itu kita buang di halaman tanah negara, atau kita serakkan di hamparan bumi Allah, maka urusannya pasti adzab: banjir, penyakit, dan degradasi mental serta kualitas kehidupan.

Tidak sadarkah kita bahwa rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik? So, kalo kita berbuat kerusakan, maka rahmat Allah bakal jauh dari kita.

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 7:56)

– Deasy & Freema
belajar menjadi manusia.

The Cok-e Machine: Bukan Resensi

Ini bukan resensi. Dan bukan sinopsis. Kami beli buku ini dengan alasan, pertama: judul dan tampangnya menggelitik/menarik perhatian.

Dan alasan kedua yang membuat kami tak bisa membantah untuk membelinya: setelah kami tanyakan/pastikan ke pramuniaga, ini buku diskon 70%, tinggal 30% dari harganya asalnya!

Entah karena ia buku keluaran luama yang overstock; entah dia buku ndhak laku di pasar Indonesia karena isinya terlalu bermutu sehingga “terlalu berat” untuk publik sini; atau ndhak laku karena isinya memang ndhak bermutu,

kami kurang paham karena ia terbungkus hotwrap. Kami hanya bisa mbaca teaser di backcover.

Belakangan setelah nyampe rumah dan kami telanjangi wrapping-nya, ini buku rilisan 2011 di sini dari asalnya lahiran 2010.

Entah kenapa kami baru menemukannya tahun ini. Di toko buku miskin rupa namun kaya diskon yang biasa kami kunjungi memang jarang memajang judul-judul dari barisan itu genk penerbit. Sementara, toko buku yang segrup dengan itu genk penerbit malah jarang kami kunjungi. Soale tokonya kaya rupa tapi miskin diskon. πŸ˜›

Dan mungkin paket koneksi data kami kurang melimpah, sehingga kami belom menemukan wajah buku ini selama enam tahun ini kami berselancar di dunia maya. πŸ˜›

MENGINGAT dia diterbitkan oleh genk publisher toplist di negeri ini, susah untuk menilai bahwa isinya ndhak bermutu. Kami punya keyakinan: buku ini ndhak laku -sehingga didiskon 70%- karena isinya kelewat bermutu sekali sehingga malah “terlalu berat”, atau alusnya: kurang menarik minat, untuk pasar buku di negeri ini.

BTW, entah berapa nilai kapitalisasi pasar buku di negeri ini. Saat kami jalan-jalan ke itu mall, banyak pengunjung berkerumun di slot pakaian dan aneka kebutuhan lebaran. Hanya ada bapak tua sedang asyik melihat-lihat ditemani istrinya yang hanya diam saja. Plus anak -mungkin usia SD atau SMP- melihat-lihat aneka macam komik ditemani -kalo kami menebak- neneknya.

Oh negeriku… Lebih ramai toko baju ketimbang toko buku. 😦

Tapi baiklah, eureka! Dan buku-buku kayak ginilah yang kami sukai, kami demeni, pake banget: buku-buku dengan bobot mantabs, dengan harga yang diskon habis-habisan (karena ndhak laku)!

Ini rasanya seperti membeli BMW bekas: harga seperempatnya mobil sejuta umat, namun dengan safety & comfort empatbelas kali lipatnya! πŸ˜› πŸ˜› πŸ˜› πŸ˜›

Hehehehe…. πŸ˜€

TRUS gimana isinya ini buku? Sekeren ‘jaminan mutu’ dari genk penerbitnyakah?

Mari kita mulai baca. πŸ˜›

FYI untuk buku semacam ini, atau buku-buku apapun yang kami beli, nawaitu kami meluaskan wawasan. Bukan menjatuhkan suatu brand (tak terkalahkan) apalagi melahirkan dan beranak dendam pada merk tertentu. Sebab selain pada fakta dan nalar yang ada, kita tak akan pernah tau kebenaran sesungguhnya pada polah-tingkah merk-merk/korporasi lokal maupun nasional, besar maupun kecil, hingga di akhirat nanti.

Kami juga ada koq buku- buku yg mengupas “citra positif” pabrikan-pabrikan kondang dunia: Honda, Starbucks, McDonald. Trus kalo punya buku “citra positif”-nya gitu, lantas apakah ini artinya kita menjadi pembela dan pengunggul mereka/brand-brand itu?

Intinya untuk masalah buku, atau ilmu pengetahuan/knowledge, atau wawasan, atau informasi; kami tak ingin membatasi diri. Apalagi menjustifikasi sebuah buku melalui paham pribadi, melalui sudut pandang pribadi, dll.: ini salah, ini benar.

Tidak. Kami tidak mau, tidak bersedia, dan Insya Allah tidak (akan)pernah melakukan itu semua.

Semua buku berhak bicara dalam konteks buku, wawasan, dan informasi. Kamilah yang memilih dan memilah output hasil kami membaca. Tentu semua berdasarkan iman, takwa, dan kondisi sosial-masyarakat; tekstual dan kontekstual.

Pokoknya gitulah. πŸ˜€

***

Dan sejauh yang sudah-sudah, kami akui kami suka dengan buku-buku terjemahan -ala buku seperti ini- dari genk penerbit itu buku atau nama penerbit toplist lainnya. Bahkan sekalipun saat dijual tanpa diskon lebih dari sparrow harga.

TANPA bermaksud promosi, kami mendapatkannya di salah satu hipermarket di kota Kediri. Jika ada uang berlebih, mungkin buku ini bisa Anda beli, karena cuman seharga seperempat harga celana jins ala Tanah Abang.

Kalo toh nanti isinya ternyata isinya (ndhak mutu dan) bikin Anda serasa mau menendang pemain Euro2016 atau artis-artis infotainemen atau muka-muka politisi (atau ustadz-ustadz artis) di layar TV, setidaknya nantinya fisiknya bisa buat nyumpel sisi pinggir rak buku Anda.

Ini bukan sinopsis apalagi seuntai resensi. Ini cuman cerita lebay gimana kami ‘terpaksa’ memborong empat judul buku yang didiskon 70% sore kemarin.

– FreemaCola
– Freema “The Cok-e” Cola.