Penasaran sama BMW Indonesia dan Jerman.

Saya koq jadi penasaran, pihak BMW Indonesia atau sekalian BMW AG Jerman sana kalo ngikuti angkringan-online Bimmerfan Mataraman ini kayak gimana ya perasaan mereka?

Geram atau malah ngakak-ngakak ya?

Atau langsung jajaran manajemen (board of directors/BOD) dan tim R&D-nya rapat maraton, membahas fenomena adanya sekelompok penggemar BMW garis keras tapi beraliran kere eh (jarum bensinnya) kiri alias kelakuannya kayak enggak ada BMW-BMW-nya blas kayak kita di sini ini,

termasuk mendatangkan ahli bahasa untuk membahas materi posting berisi “Ini dompet apa kopiah” di forum yang ngakunya forum penggemar BMW?

Atau mungkin FB Group ini (sama blog saya) udah diblokir ama mereka (tapi diam-diam di rumah para pekerjanya sembunyi-sembunyi mbaca-mbaca, trus pas istirahat siang di kantin pabrik Dingolfing mereka rasan-rasan “Pssst gaes, udah tau belom ada fenomena baru lagi dari Indonesia: jam tangan BMW yang dibawa ke tukang jam bolak-balik masih enggak bener-bener juga“)?

Tapi kalo saya musti dipanggil ke Jerman untuk diinterogasi atas keberadaan kita di sini, saya bakal langsung bikin paspor seketika.

Kalo interogratornya nanti pakai bahasa Jerman, jelas saya akan diem saja karena enggak bisa bahasa Jerman. Kalo interogratornya ntar pake bahasa Inggris, saya bakal jawab “little-little I can” dan saya ulur waktunya biar jadi luama, pake gelagapan gitu.

Dan ini bukan gelagapan gaya-gayaan karena ya emang bahasa Inggris itu bikin saya gelagapan macam bule mau tenggelam dan teriak “Help! help! Help!” gitu.

Yang mana setelah Lik Sugik lihat bule mau tenggelam dan teriak-teriak helep-helep gitu, Lik Sugik langsung teriak ke Lik Catur “Bule klelep! Bule klelep!”

Jadilah Lik Sugik penemu asal kata klelep (tenggelam).

Kalo interogratornya pakai bahasa Indonesia, saya bakal pisuhi dia “Jancuk, lha ngapa takon barang, ngapain ente nanyak-nanyak aja sih? Kayak hidup dari mana aja kamu tuh ya!”

Kalo interogratornya pakai bahasa Arab, mau ngomong apapun dia, nanti saya tinggal bilang “Aamiin… aamiin…”

Sebab kalo dia ngomong jelek terlebih lagi enggak ada dasarnya, dia sendiri ntar yang dosa.

– Freema MW,
penasaran tapi enggak gentayangan.

Advertisements

Jangan Beli Biem, Belilah Xeniavanza.

Edian sampe segininya.

Xeniavansa kayaknya udah bukan sekedar mobil lagi, dia berasa udah jadi metonimia dalam konteks tertentu.

Kendaraan ini sepertinya udah jadi simbol kultur.

#

Well, saya gk pernah punya xeniavansa (dan blackberry), dan nyatanya hidup saya baik-baik saja, meski terkena sengsara miara bmw.

Tapi mungkin hidup saya akan jadi jauh lebih baik kalo dari awal saya punyanya xeniavansa dan gk pernah mengenal (sehingga jadi keracunan) bmw gini.

So bagi yg belom, urungkan niat anda beli bmw. Asli susah dan sengsara kalo udah keracunan: dipiara kerasa berat, dilepas malah jauh lebih berat lagi, dan bikin mobil pasaran jadi gk enak sejak dari masih di dealer.

Bagi yg belum terlanjur terjerumus jadi bimmerfan, segeralah beli xeniavansa.

Atau wuling mungkin lebih baik.

Waspadalah. Waspadalah. Waspadalah.

– FHW

Why BMW Owner Are Fanatics

Fanatically loyal, that is.

They buy a BMW because the car is a great idea. A perfectly practical family sedan and a superb sport car. All in one.

And the the longer they own it, the more enthusiastic they get. Because that great idea is such a great car.

Driving one is a very special exprerience. There is a responsiveness, a smoothness, a precise sureness, in the way a BMW handles that makes driving a real joy.

The car is fast, and incredibly rugged. And because of the sophisticated BMW suspension, it holds the road better than any other car we know of.

Yet for all that, performance is only the beginning. There is the dependability, and the comfort, and the roominess, and the economy.

There is the finish, and the craftsmanship, and the materials.

And most of all, there is the feeling that of all the machinery you may have driven, nothing was put together as beautifully as this.

So sure, BMW owners are fanatics. After all, the’ve got a lot going for them.

Last but not least, mutunya terjamin.

– FHW.
Nemu iklan editan.

Pengetahuan Tentang Lebar Tapak Ban Dan Pengaruh Harganya Serta Hal-Hal Lain Yang Berkaitan Dengannya

Saya sih ndhak tertarik dengan supercar gituan. Selain masalah selera: saya lebih suka mobil buas bertampang (agak)biasa macam BMW-M atau Audi-RS (biar agak enak ngomongnya) juga masalah doku so pasti tentunya (nah ini inti sebenarnya. Klasik banget kan? Hehehehe…). Yakh, namanya beli baju kan musti ukur badan sendiri. Ya tho ya tho?

Cuman saya ndhak pernah lupa tentang bannya supercar/sportcar ginian. Kapan lalu pas di toko ban gedhe di kotapraja sana, saya lama tertegun memperhatikan pricelist ban dengan spek sportcar: tapaknya mayan luebar banget dan profilnya mayan tipis: 305/35 rimnya lupa, mungkin 20.

Harganya sebiji 12jt untuk merk kelas menengah-atas yg ada di pasaran Indonesia. Untuk merk-merk papan atas ndhak ada pricelist-nya di toko tersebut.

Spek dan harga yg tampak teramat sangat aneh sekali banget bagi saya, meski mungkin itu sangat umum lumrah jamak bagi Anda-Anda yg biasa cangkruk di Sentul sambil ngamati orang-orang naik mobil trondhol jeroannya dengan (suara)knalpot ndhak bener muter-muter sirkuit. Ampun likkk!!! 😀

Selain harganya yg teramat sangat mencengangkan sekali banget bagi ukuran saya pribadi, satu hal lagi yg saya meyakini: kayaknya ban ukuran tersebut ndhak ada yg jual copotan di lapak ban gedhe di pinggir jalan. Kalo 205/65-15 atau atau 215/55-17 buat badak kan relatif banyak banget, setidaknya ada aja di sana. Asyik tho? Yekan?

Well liks, inilah opini saya berupa pengetahuan tentang lebar tapak ban dan pengaruh harganya serta hal-hal lain yang berkaitan dengannya. Jadi ini semua sebenarnya saya ngomongin apa sih ya?

– Freema Ban Widiasena
Pelanggan lapak jual-beli (pinggir jalan tidak) online.

Honda MogePro 3.0l 32-Valves V8 218ps 290Nm

Dear Honda,

Kami telah berhasil dan sukses memodifikasi sebuah Honda MogePro menjadi bermesin 3.0l 32-valves V8 dengan keluaran tenaga mencapai 218 ps (212 hp) dan torsi 290 Nm .

Namun untuk keselamatan jalan raya, kecepatan motor ini tetap kami batasi secara elektronis pada 100 kpj saja.

Kami juga telah berhasil mengubah transmisi manual ceklac-ceklic pada motor ini menjadi transmisi 7 kecepatan step tronic.

Sedikit penyeuaian lain yg kami lakukan adalah penambahan electronic-spoiler di bagian belakang (belakangnya motor, agak jauh ke sono).

Front-difuser juga telah kami tambahi wiper dengan opsi speed-sensing, namun rain-sensor telah kami lepas mengingat ini tetaplah sebuah motor, mau semahal apapun tetap saja kehujanan, oleh karena itu mending beli biem bekas ndhak kehujanan ndhak kepanasan ketimbang beli kalo tidak Ninja tidak cinta kalo bukan FU ndhak ai loop yu.

Semua fitur ini terintegrasi dengan Engine-DME Bosch(oc) version 6.9 terbaru dari pasaran loakan.

Oia, instrumen-cluster juga telah kami sempurnakan dengan paket android yg detachable, sehingga bisa diupgrade dan ditambahi aplikasi.

Semua proses modifikasi ini dikerjakan langsung sendirian saja oleh bengkel Sugitech di kawasan Bunderan Serayu, Madiun yg merupakan bagian dari Group SukurCom.

Bengkel ini termasuk salah satu bengkel kaliber internasional bahkan antar planet dan antar galaxy – mulai galaxy s sampai galaxy s-cond. Karena selain mennangani modifikasi segala jenis kendaraan baik BMW, Mitsubishi Colt T, Suzuki Truntung, Vespa, hingga motor besar jenis MogePro; Sugitech juga menangani segala servis elektronik mulai VCD Compo, speaker aktif, blender, kulkas, dispenser, rice-cooker dan er-er lainnya.

Juga yg terutama adalah SukurCom ini melayani segala kebutuhan cetak-mencetak Anda, mulai undangan manten (terserah mantenannya Anda atau siapapun), kertu nama, kertu siapa, dan kertu apa, hingga kertu mana. Beneran ini!

Jika Anda tertarik dengan karya otentik modifikasi anak bangsa(t) ini, silakan komeng dimari https://m.facebook.com/photo.php?fbid=178525259391423

***

JUGA tak lupa kami ucapkan hai dunia, lihat dan saksikanlah, inilah kami anak-anak BMW. Mosok pake motor cuman 150cc? Apaan tuh?

Namanya kami anak BMW, jelas kami ndhak terima dong dengan fakta menyedihkan ini!

Oleh karena maka daripada itu adapun kemudian akhirnya diperkenankanlah perkenalan modifikasi yang daripadamananya telah mengubah mesin 150cc tersebut menjadi mesin gahar sekaliber badak buas beringas nan kesetrum wabah kejang leher sehingga susah belok.

Maka saksikanlah apa yang mana daripadanya sebuah mahakarya tralala dari kami semua ini begini kapan kenapa seperti sebagaimana ininyalah: Honda MogePro 3.0l V8!

Tepuk tangan semua! Prok prok prok!

Demikian persembahan luar bi(n)asa dari kami hanya untuk Anda sedunia. Semoga berita gembira ini bisa bermanfaat mengendorkan saraf-saraf kaku dan hampir kram di otak Anda semua.

Akhirul kalam, jalesveva jayamahe, sekali di udara tetap di udara. Salam Wuling!

– Freema V8

Persiapan 2019

Ada sebuah akun. Mengomentari kubu lawannya dengan “2019 masih jauh woy! Udah pencitraan aja!”

Pas saya becandai, saya diblok.

Sementara dari kubunya sendiri, tampaknya persiapan 2019 juga udah mulai dilakukan.

Bullshit, semuanya!

Ndhak usah tutup mata, 2017 ini, pada kenyataannya semua pihak udah siap-siap menyambut 2019. Dan sebenarnya bukan sejak 2017 ini, sejak hajatan Pilpres 2014 kemarin kelar, semuanya pasti akan langsung berkoordinasi untuk mulai menyambut 2019.

Dan kembali peristiwa 2014 akan terulang: kedua belah pihak akan adu kuat: adu kuat inkonsistensinya. Saya menggaransi ini terjadi, garansi untuk diri saya sendiri. Garansi tidak berlaku untuk Anda.

Inkonsistensi, dari KEDUA belah kubu. Alias semua kubu.

2019 nanti peta sementara akan mirip Pilkadal DKI kemarin. Kubu Jokowi akan semakin kuat. Dan kubu SBY/Prabowo akan pakai strategi mirip pilkadal DKI: ada calon utama dan ada calon untuk pemecah suara.

Kemarin itu, dengan kesadaran saking kuatnya Ahok kalo “dilawan sendirian”, alhasil dipasanglah Anies sebagai calon utama, dan Agus sebagai pemecah suara.

Berhasil!

Plus ditambah kampanye “di luar sistem”. Macam Ahok yg ditekan dengan cap penista agama. Yg bahkan suara Buya Syafi’i Ma’arif yg dengan tegas mengatakan bahwa apa yg dilakukan Ahok bukanlah penistaan agama, dengan segala cara akan dikesampingkan.

Dua faktor ini sukses mengantarkan Ahok terdepak dari kancah politik DKI. Dan setidaknya, langkahnya untuk terus tampil ke muka bumi perpolitikan Indonesia sukses terhambat.

Jokowi kayaknya akan dibeginikan juga, entah dengan cara apa. Pemanasan yg ada, Jokowi udah mulai dicap dengan stempel “musuh Islam”. Namun langkah ini agak sulit karena NU “menghambat”.

Biar bagaimana kekuatan NU masih sangat diperhitungkan di negri ini. Apa dhawuh kyai, masih menjadi langkah komando yg ajib untuk menggerakkan jutaan massa NU.

Maka tampaknya, kini NU yg musti dirongrong dari dalam. Entah ada yg disusupkan ke dalam NU atau dijebak untuk memecah NU atau dirongrong secara sistematis lain, saya kurang paham. Tapi langkah ini logis untuk diupayakan.

Atau sambil jalan, mungkin tim komando dan tim intelijen masing-masing kubu sudah menyiapkan dan merangkai beberapa langkah strategis maupun langkah taktis lain demi saling menjegal lawan. Mustahil tidak.

Semuanya demi politik.

Semuanya adalah politik.

Dan warganet terus bersorak riuh tempik-sorai menyatakan semuanya sebagai kebenaran, keadilan, apapunlah namanya.

Dan inilah cerminan politik negeri ini, di mata pandang saya pribadi. Tidak berlaku untuk Anda.

***

MAKA, saya pun juga siap-siap dengan 2019.

Kini saya mulai meng-unfollow fanpage atau grouppage yg konon bilangnya keagamaan atau kebangsaan tapi di dalamnya berisi politik. Entah kepada kubu siapapun dia berpihak. Karena selama dia berpihak dan tidak universal, saya pribadi menganggapnya bukan kebangsaan dan bukan keagamaan.

Kalo dari kaum kebangsaan masih “enteng” buat dijawab umpama saya di-counter sama mereka. Kalo dari kaum keagamaan, ini yg repot. Sebab dari kemarin hingga detik ini, cara untuk meng-counter adalah sama sekali ndhak pake otak, sesuatu yg dianugerahkan-Nya untuk kita gunakan.

Cara mereka meng-counter biasanya pake stempel. Barangsiapa tidak sama dengan pandangan mereka, maka kita adalah kafir, sesat, laknat, liberal, sekuler, dll. Atau kalo kalah opini, pasti pake senjata jauhi perdebatan kusir. Padahal sesungguhnya ini adu otak, bukan debat kusir tanpa dasar tanpa logika.

Yawsudahlah.

***

SELAIN fanpage atau groupage, yg sudah lama saya lakukan sejak tahun-tahun silam adalah me-remove akun-akun sektarian begitu. Bukan karena saya benci mereka secara perorangan, melainkan murni karena saya ndhak ingin “terlibat”, meskipun cuman membaca posting statusnya, dalam perkubuan ke mana saja.

Bukan karena saya benci mereka. Sama sekali bukan. Saya hanya ndhak kuat mengisi waktu dengan membaca gituan. Maka lebih adil dan bijak, dalam sudut pandang saya sendiri, jika akun-akun demikian saya remove.

Saya akui, saya dalam konteks ini jauh dari kehebatan istri saya yg cerewet minta ampun itu. Istriku adalah sedikit dari kaum istri yg cerewetnya level 30 kalo di ukuran Boncabe.

Saya lagi geletakan mau berangkat kopdar ama temen-temen aja, dia udah berkali-kali nanyak. “Kamu ndhak kopdar? Ndhak jadi berangkat tho?”

Padahal itu kopdar bukanlah sekolah. Mau saya kopdar atau ndhak, ndhak ada urusannya dengan naik-turunnya keimanan, kondisi negara, apalagi stabilitas harga pangan.

Plus saya sedang ndhak janjian dengan siapa-siapa. Jadi kalo saya jadi kopdar, itu asyik karena menambah silaturahmi. Kalo saya ndhak jadi kopdar, itu juga asyik karena saya bisa istirahat di rumah.

Eh pas saya males njawab, malah saya jadinya yg salah, “Diajak ngomong gitu doang diem terus!”

Bayangkan coba, kuping lelaki mana yg ndhak illfeel dengan gituan? Dan apapun alasan saya, laki-laki pasti akan salah di mata perempuan. Pasti!

Ini baru satu contoh. Yg ndhak saya ingat-ingat mungkin bakalan ndhak cukup seharian atau semingguan saya ketikkan di sini. Nyaris saban hari bray! 😦 Hiks…

Tapi saya ndhak ngingat-ngingat. Ini bukan sekedar masalah saya mencintainya sepenuh hati sehingga ndhak mau ngingat-ngingat yg ginian. Ini kayaknya murni cuman karena saya laki-laki yg ndhak pernah bisa ngingat-ngingat hal ginian.

Bahkan mbawa handuk pas mandi aja sering lupa. Alhasil saya teriak minta tolong istri ngambilkan handuk. Dan alhasil kembali kuping ini kena semprot. “Udah berkali-kali mandi ketinggalan handuk, masih aja terus lupa!”

Lucunya, dia tetap ngambilkan handuk ke saya bray! Begitu terus berulang-ulang tiap kali saya lupa mbawa handuk pas mandi. Eits bukan cuman saya, juga si kecil.

Dan kasihan dia, kecil-kecil udah kena semprot ibunya. “Kamu itu jan persis bapakmu!”

Kadang si kecil bingung, kadang dia meringis. Mungkin batin dia, “Apa sih salahku?”

TAPI dia istriku itu hebat. Saya cek di dinding(ratapan) alias wall FB-nya, ada dua kubu politik yg rajib banget update status. Timeline-nya malah sepertinya berisi 80% politis dan 20% kehidupan universal ~> itu pun masih dibagi antara pendidikan anak dan kucing sama kuliner dan sedikit traveling.

Atau kalo angkanya kegedhean, baiklah 60% politis dan 40% kehidupan universal. Atau baiklah, saya ngelihatnya pas momen tertentu barangkali, jadi ini ndhak mewakili kondisi keseluruhan.

(Tapi kayaknya “momen tertentu” gitu koq sering banget ya di FB gitu? Kayak selalu ada terus gitu…)

Tapi pas saya nanyak, kenapa ini akun yg berkubu-kubuan ndhak kamu unfollow aja?

Dia bilang, “Mereka semua teman saya, dan kebetulan saya bisa cuek mendapati posting-posting mereka.”

Hebat! Suaminya dicereweti, teman-temannya malah dicueki.

Harusnya kalo dia sayang sama saya suaminya ini, suaminya dimanja-manja, dan cerewetilah itu temen-temenmu yg menjadikan FB sebagai ruang pubik bersama sebagai ajang kampanye masing-masing kubu.

Entahlah.

Saya ndhak mau melanjutkan posting ini.

Abis ini telingaku pasti kena semprot lagi.

Demikian dari kemarin, hari ini, hingga seterusnya.

Hiks… Nasib…

“Lho Mas, perempuan itu cerewet kepada orang yg disayanginya, itu karena pertanda cinta.”

Baiklah, ini cinta.

Baiklah. Saya juga mencintainya dari kemarin, hari ini, hingga seterusnya.

Tapi tetap saja, kuping ini, hiks…

– Freema Bapakne Rahman.

Rawon Eh Pecel Eh Mobil Setan

Habis Dodge Challenger Hellcat, muncul lagi varian paling gaharnya: Dodge Challenger SRT(c) Demon.

Korona di mata (baca: dual-headlamp) Dodge Challenger ini mengingatkan Anda pada sesuatu? Yup, mirip BMW Angel Eyes yg kondnag itu. 😀 Cuman kalo itu orang Eropa pake nama malaikat (BMW Angel Eyes), itu orang Amerika pake nama setan (Hellcat, Demon).

Ini umpama kalo dari Indonesia, mustinya nama-nama kayak gini mustahil dipakai resmi sama pabrikan.

Bayangkan kalo ada Toyota FT86 Demit; Lexus IS300 Setan Edition; Nissan Patrol V8 Gendruwo Limited; Suzuki Every Pocong Cekli – Urban Style Lincah; Daihatsu Tuyul Pickup – Jagoan Cari Duit; Nissan Kuntilanak – Lovely Family Van; apa ndhak gimana gitu kalo sama empunya dibawa jumatan ke masjid? 😀

Tapi ndhak ah, dari Eropa juga banyak nama setan: Lamborghini Diablo (devil); The Red Devil; Rolls-Royce Ghost; dll tambahkan dong…

Mirip varian pecel sama rawon era kekinian ya?

– Freema HW