Double-Deck

Dulu, ngumpulkan uang saku, buat beli kaset kosongan, trus bikin album kompilasi. Pake tape compo double-deck.

Tape compo double-deck, bukan bis Volvo double-decker yg udah sempat kami coba di kota besar Surabaya saat main ke bonbin; yg sekarang baru digandrungi ulang oleh abg-abg kagetan yg ngakunya maniak bis.

Rame-rame bawa koleksi kaset sama temen, atau pinjem temen anak orang kaya yg punya banyak koleksi kaset.

Trus diputer di tape-deck rumah, atau compo di kamar, atau walkman sambil bergaya jalan-jalan darma wisata sekolah. Laguku komplit: mulai Metallica, Europe, Firehouse, Def Leppard, hingga NKOTB.

Radio pun isinya Dewa19, masih pakai 19 bukan yg tanpa 19, dan yg jelas gk ada dangdut koplo.

Dunia isinya indah banget jaman segitu. Gk ada caci-maki di medsos.

Kala itu, jaman ribuan berbahagia karena dibelikan sepeda Federal sementara ribuan lainnya hanya sanggup memimpikannya belaka.

Jaman E34 atau E36 kita barusan nongol kinyis-kinyis baru lahir, mobil yg sama sekali belom saya kenal.

– Freema Bapakne Rahman

Advertisements

Everybody Love Maroon

Adakah orang yg sangat mencintai BMW-nya dg segala pengorbanan? Adakah BMW yg dicintai juragannya dg sepenuh hati? Banyak.

Mulai berkorban mbenahi kerusakan yg aslinya kecil tapi jadi berat karena kurangnya daya dukung dompet; atau sampe mengkoleksi barisan velg mewah, yg semua atas nama cinta, pengorbanan, atau … pencapaian!

Adakah orang yg turut mencintai BMW orang lain? Adakah BMW milik sesorang yg juga dicintai orang lain? (Mungkin) ada.

Adakah sebuah BMW yg dicintai semua orang? Ada! Itu si Maroon M3 (Maroon Mawoot Morat-mariit).

Adakah semua orang mencintai sebuah BMW? Ada! Mereka adalah warga angkringan-online Bimmerfan Mataraman, mencintai sebuah BMW bernama Si Maroon.

Angkringan-online Bimmerfan Mataraman bukanlah sebuah klub bukan pula sebuah komunitas. Ini hanyalah sekedar angkringan-online belaka. Namun, Tanpa pengurus, namun kita terurus. Tanpa struktur, tapi kita teratur. Tanpa organisasi, tapi kita rapi. Tanpa bentuk, tapi kita berwujud. Tanpa lokasi, tapi kita eksis. Tanpa rupa, namun kita ada. Nyata.

Borderless friendship, unlimited silaturahmi.

– Freema Bapakne Rahman
V8

(Un)friend

Duluuu, saya numpang akun fesbuk istriku untuk berinteraksi. Padahal saya udah punya akun fesbuk sendiri. Hingga kemudian saya akhirnya pakai akun fesbuk sendiri.

Karena waktu itu saya menggunakan fesbuk murni untuk berinteraksi dengan asas silaturahmi. Dan buat ngomongin BMW tentunya.

Satu per satu, friendlist-ku mulai terisi oleh teman. Baik saya yang nge-add atau saya di-add.

Semuanya berjalan dengan riang dan gembira.

Kami saling membahas aspal yang bolong. Keluarga dan si kecil masing-masing temen, dan kehidupan secara universal.

Semua bisa berbicara dengan bahasanya ungkapan masing-masing, dan semua bisa saling menerima perbedaan bahasa pikir masing-masing.

Semua berbagi ide, berbagi pandangan, berbagi sudut pandang. Berbagi perbedaan, mengupas kesamaan. Semua indah. Indah semuanya.

Kami berbicara segala hal yang penting maupun tak penting, bermuatan maupun tak bermuatan, hanya demi satu nafas: silaturahmi.

Berhubung ini akun “hanya untuk” bersilaturahmi, maka setting posting saya default-kan ke friend. Bukan publik. Hanya teman fesbuk saya yang bisa membaca posting saya.

Karena memang posting cuman buat pertemanan saja.

Bicara yang “remeh temeh”, sekali-sekali bicar apedas dan menggigit, atau bicara dengan bahasa timuran ala sini, cuman buat suka-suka dengan sesungguhnya suka-suka.

Continue reading

Indonesia …!

Banjir di Jakarta (lagi). Membuat saya muak baik kepada pendukung maupun pembenci gubernur Jakarta.

Pendukung gubernur cuman mati-matian memberitakan berita pro-nya. Seolah sang gubernur adalah dewa yang bisa menuntaskan segalanya. Sucks!

Pembenci gubernur, bahkan sampe yang bukan warga Jakarta, mulai meledak posting meledeknya. Kalangan ini yang bukan warga Jakarta gaya postingnya khas: pura-pura menyindir. Tanpa berani menyindir beneran. Bencong!

***

Saya bukan warga Jakarta. Sayangnya, Jakarta seolah mewakili Indonesia. Indonesia seolah cuman Jawa. Jawa seolah cuman Jakarta. Sakit bener negeri ini.

Belanda sudah bener menata Jakarta. Air mustahil dilawan di Jakarta. Makanya mereka bikin kanal. Bikin jalan air. Yang justru perlu banyak-banyak air biar lancar jalan airnya.

Entah kenapa semua rencana Belanda ini seolah rusak semua.

***

Sukarno punya ide cerdas. Meski nuansanya politis kala itu. Ia ingin memindah ibukota negara ke tempat yang netral. Dilipihlah Palangka Raya.

Pilihan sempurna dan strategis.

Kalimantan sangat rendah potensi gempanya. Pun tingkat kesuburan tanahnya bagusan Jawa. Dan Palangka Raya berada di tengah-tengah Indonesia. Asal keadilan bisa lebih merata.

Andaikan Palangka Raya jadi ibukota negara, pasti asyik. Mungkin jalan tol akan banyak-banyak dibangun di Kalimantan. Tambang-tambang dan pembabatan hutan biar lebih bisa dikendalikan. Jawa biar jadi lumbung pertanian saja. Buat menjamin kenyangnya perut bangsa.

Para profesor kemarin-kemarin juga udah ngeluarkan rekomendasi: pindah ibukota negara ke Palangka Raya. Jakarta biarkan jadi pusat/ibukota bisnis saja. Namun negara tak pernah menggubrisnya.

***

Memindah ibukota negara mungkin akan lebih menstabilkan kondisi politik negeri ini. Tentu ini hal yang ndhak disukai oleh para bandar pemain negeri ini.

Jakarta masih terlalu ayik buat di(per)mainkan.

Pendukung dan penentang (gubernur) Jakarta masih sangat elok untuk diadu dengan segala dalih dan apapun alasannya.

Indonesia masih belum selamat dari ancaman perpecahan.

Dan kita-kita semakin memperkuat ancaman ini. Dengan beragam dalih, kita terus menguatkan potensi perpecahan untuk negeri ini.

Kita semualah rupanya yang menghendaki, kelak Indonesia jadi Iraq, Libya, Mesir, Suriah. Orang asing hanya memainkan kartunya saja. Kita ternyata yang membuka meja judinya: membuka perpecahan (dengan sesama, antar sesama).

Ya apa ya?

– FHW,
WNI.

(Manusia Sampah,) Sampah Manusia

Sepeda motor, kalo enggak salah jenis Honda Vario warna hitam-merah nopol AG5250GH(?), dikendarai sepasang suami-istri, melintasi jalan antar desa dari desa sebelah masuk ke desa kami.

Dari atas jembatan kecil sungai perbatasan desa, pengendaranya melempar sebonggol kantung kresek (sampah detected) ke sungai yang lokasinya cuman beberapa meter di belakang rumah.

Bapakne Rahman yang kebetulan bermotor dari arah berlawanan melihatnya.

Motor tersebut lantas dicegat oleh Bapakne Rahman, dia hadangkan motornya di depan motor mereka.

Bapakne Rahman: “Ngapunten, ingkang njenengan bucal teng lepen wau sampah?”

– Misi Pak, yang bapak buang ke sungai tadi sampah?

Pemotor: (cengengesan) “Hehehe… Iya…”

Bapakne Rahman: “Lain kali mbok dibuang di TPS (Tempat Pembuangan Sementara) di selatan situ.. Kasihan sungainya kotor, siapa yang mbersihkan ntar?”

Seratus meter dari rumah ada TPS yang udah lama disediakan oleh pemerintah.

Pemotor: “Nggih Pak…” Sambil tetep cengengesan dan langsung tancap gas.

***

Lainnya kejadian ini, seringkali di depan/samping rumah ada sampah plastik berserakan.

Beberapa kali kami lihat dari kejauhan/dalam rumah, ada anak berseragam, pulang sekolah dibonceng (mustinya) ibundanya, membuang gelas plastik bekas minuman atau plastik pembungkus kudapan begitu saja sambil melaju dari atas motor.

Doakan sekali waktu kami bisa memergoki mereka dan menangkap tangan langsung.

Sungguh, kami hendak bikin perhitungan.

Yang ada di pikiran kami bukan memarahi atau minta upeti kompensasi kepada mereka.

Yang ada di pikiran kami: kami hendak menghadap pak Lurah desa kami atau Lurah desa sebelah kalo mereka warga desa sebelah yang sering melintasi jalanan depan/samping kami, dan bersama/disaksikan perangkat desa, kami akan membuang sampah di depan rumah mereka.

Kami pingin lihat, mereka itu manusia yang punya akal dan perasaan atau bukan ketika orang lain membuang sampah seenaknya di depan rumah mereka.

Itu masih di halaman rumah kita, sanksi terdekatnya mungkin cuman dari si pemilik rumah.

Kami juga sering melihat bonggolan kantung-kantung kresek, sebagian isi sampahnya udah berserakan, dibuang di jalanan antar desa sisi lain, tepatnya jalan antar desa Doko dan desa Burengan – Kediri yang kebetulan jalanan tersebut melintasi area persawahan dan agak jauh dari permukiman terdekat.

Sampah adalah pangkal kerusakan. Oleh karena itu, sampah musti kita kelola penanganannya.

Kalo sampah itu kita buang di halaman tanah negara, atau kita serakkan di hamparan bumi Allah, maka urusannya pasti adzab: banjir, penyakit, dan degradasi mental serta kualitas kehidupan.

Tidak sadarkah kita bahwa rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik? So, kalo kita berbuat kerusakan, maka rahmat Allah bakal jauh dari kita.

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 7:56)

– Deasy & Freema
belajar menjadi manusia.

Pungli

Membaca sebuah postingan fesbuk yang isinya keluhan pungli jalanan oleh polisi pada sopir truk, saya teringat cerita seorang rekan yang bisnis angkutan/transportasi. Intinya sama & senada: uang pungli yang disiapkan buat sepanjang perjalanan ternyata emang lumayan jumlahnya. Dikalikan ribuan trip/perjalanan kendaraan, pasti super wow total akumulasi jumlahnya.

Cerita yang nyaris tak bisa dibuktikan terbuka, tapi sepertinya ini sudah jadi rahasia umum. Dan dengan kemajuan teknologi, satu per satu mulai muncul unggahan rekaman aneka ragam pungli di jalanan di linimaya.

Postingan di fesbuk tersebut memohon kepada penyelenggara negara: tegakkan regulasi batas tonase di jalan raya. Doi sang postinger yakin, para sopir dan pengusaha angkutan bakal menyambut kebijakan ini dengan tertawa riang gembira daripada aturan dibuat untuk dilanggar.

Saya juga 100% yakin, pengusaha ndhak akan ngresula/sambat (mengeluh) kalo aturan batas muatan diterapkan 100% secara fair, adil, tegas, dan konsisten.

Sederhana saja kita bayangkan: jika pungli hilang dan aturan batas tonase ditegakkan secara tegas, (mesin) truk akan bekerja lebih ringan, niscaya konsumsi bahan bakar akan lebih irit dan periode penggantian parts akan lebih panjang.

Atau setidaknya jika jatuh ongkos angkutnya tetep atau taruhlah jadi naik, rasanya pengusaha malah akan lebih “bernafas lega” karena hilangnya komponen biaya tanpa nota yang bikin tidur ndhak nyenyak.

Apes-apesnya, dengan beban muatan yang sesuai kemampuan kendaraan, mustinya akan berkurang cerita truk-truk lemot yang overtonnage yang menghambat kelancaran lalu-lintas itu.

Keselamatan dan kenyamanan bersama di jalan raya pun bisa lebih terjamin. Karena seperti kita tahu, truk-truk bermuatan berlebihan tentu sangat mengancam keselamatan di jalan raya, misalnya jika bannya meletus atau gardannya putus trus truknya terguling, kasihan kendaraan yang ketimpa plus seperti biasa: bikin kemacetan panjang yang bikin banyak bahan bakar terbuang sia-sia atau banyak mesin kendaraan overheat karena macet yang abnormal.

***

Perekonomian negeri ini kacau bukan karena manusia Indonesia tidak produktif. Melainkan: buuuanyakkknya elemen ekonomi biaya tinggi (high cost economy) yang masih mencekik roda ekonomi (pungli, infrastruktur/jalanan rusak, perijinan ndhak jelas dan ndhak pasti, dll.)

Saya 100% yakin, tanpa harus nyari ceperan ilegal, gaji aparatur pemerintah itu koq mustinya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, namun memang sampai kapanpun ndhak bakal pernah cukup untuk memenuhi keinginan.

Ini bukan cuman berlaku buat mereka saja. Buat saya juga.

Yuk, seberat apapun untuk memulainya, mari kita semua mengakhiri tindakan gelap dan ilegal dalam bentuk apa saja yang merusak tatanan kebaikan kehidupan; kebaikan bersama, kehidupan bersama. Selain ini sudah merupakan perkara melanggar hukum secara esensial, di akhirat ntar juga berat pertanggungjawabannya. Jauh lebih berat malahan.

Ndhak percaya?

– FHW WTF

*Gambar ilustrasi, nyomot dari internet*

Enyahlah Palestina

Sepanjang tahun 2012-2014, dua area Palestina yang terpisah udah semakin tergerus dan semakin tergerus oleh Israel. (http://mondoweiss.net/2015/02/israel-demolished-palestinians/)

Ya, selanjutnya Palestina akan lenyap tak berbekas. Padahal, per September 2015, 136 (70.5%) dari 193 negara anggota UN/PBB mengakui kedaulatan Palestina. (https://en.wikipedia.org/wiki/State_of_Palestine)

Hiks… RIP humaninty, RIP UN. Sementara, Allah ndhak akan mengubah nasib suatu kaum -kaum manusia, kaum terjajah, kaum tertindas- kecuali kita-kita sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri kita.

Ini bukan masalah agama; ini masalah kemanusiaan, kewajiban asasi, hak asasi, dan (masih berlangsungnya) penjajahan di muka bumi. (http://www.bbc.com/news/world-middle-east-28666562)

Dan saya cuman do nothing terhadap ini semua. Malah asyik mengkonsumsi barang-barang produksi perusahaan multinasional yang mungkin saja keuntungannya buat memasok pendanaan untuk mengenyahkan Palestina. Who knows…

Di Palestina sana, anak-anak bahkan bayi yang ndhak tau apa-apa bertaruh nyawa saban hari, mereka terkena mortir entah dari mana asalnya. Beberapa publikasi berdalih wanita dan anak-anak itu dijadikan temeng hidup pasukan Hamas yang berperang melawan Israel. Orang tua bergantian rutin menangisi kematian anak-anaknya.

Sementara di sini saya susahnya cuman karena bingung miara mesin V8, ngurusi kaki-kaki yang tak kunjung selesai, dan sibuk menghias interior agak tampak rapi dan dipuji orang – meski gaya saya merendah dan berkata, “Ah ini biasa aja koq… Masih cupu banget saya ini gan…”

Tapi mana ada orang menginclongkan kendaraannya namun menghindar(i) dari pandangan (kagum) orang lain?

Mustahil!

Padahal tanpa (V8) ini semua sesungguhnya saya ndhak mati dan mungkin hidup saya malah enteng, ringan tanpa ada beban; serta punya banyak waktu luang untuk mendoakan Palestina, mendoakan seluruh umat manusia, memperbanyak nanam sayur di pekarangan, menyendiri di pedesaan menghirup udara segar tanpa kontanimasi polusi, bebas asap rokok orang lain saat harus meeting dengan klien atau berkumpul dengan rekan-rekan komunitas.

Padahal tanpa (V8) ini semua mungkin hidup saya malah nyaman, ringan tanpa ada beban. Serta punya banyak waktu luang untuk merayu Tuhan agar mengintervensi kehidupan di Palestina agar perang segera berangsur surut dan mereka semua bisa bekerja dengan tenang tanpa was-was, infrastruktur yang dibangun bisa terus dimanfaatkan dan ndhak hancur lagi dan lagi karena perang.

Padahal tanpa (V8) ini semua mungkin hidup saya malah tenang. Bukan pening mikirin ganti suspensi dan galau mikirin gimana caranya beli gasket baru. Serta tidur tak nyenyak karena tekanan kompetisi kehidupan: harus mikirin deadline, mikir target, mikirin tagihan yang belom cair sementara hutang harus segera dibayar. Atau berbaik sama klien bukan karena ikhlas namun karena aslinya saya hanya menginginkan uang mereka terus-terusan.

Mungkin karena lembeknya saya yang tak bisa menahan diri melihat mesin V8 inilah Tuhan mentakdirkan saya lahir di Indonesia, sehingga saya bisa melanggengkan kelembekan hidup saya sepanjang masa; bukan saya lahir sebagai anak bangsa Palestina yang punya semangat juang tinggi membela bangsanya dengan berbagai cara, hingga cara berperang langsung melawan militer Israel yang terlatih dan bersenjata lengkap lagi super canggih. Mirip dengan para moyang nusantara yang gigih dan ulet membangun peradaban pada masanya.

Mungkin karena saya susahnya cuman karena suspensi dan gasket -hal yang belom pasti berguna- inilah Tuhan mentakdirkan saya lahir di Indonesia yang banyak orangnya permisif pada banyak hal tak berguna: permisif pada premanisme, permisif (banget) pada korupsi, permisif menggandakan harga obat farmasi, permisif merobotkan anak-anak melalui tekanan belajar sehingga les-lesan anak SD menjamur merajalela, permisif pada banyak penyelewengan. Bahkan begitu permisif menyajikan kekayaan alam negeri ini buat antek asing begitu saja.

Ah ndhak koq, ndhak sepenuhnya bangsa ini permisif. Bagi Anda yang telat mbayar pajak, biarpun cuman sehari, denda langsung menerkam anggaran rumah tangga Anda dengan penuh seringai. Sementara tak adanya sanksi pada pemerintah karena telatnya pemerintah menambal aspal bolong, yang bukan hanya telat sehari namun bisa berbulan-bulan, itu urusan lain yang berbeda dengan (denda atas) telatnya rakyat membayar pajak.

Mungkin karena merasa hepi saat mengendarai mesin V8 inilah Tuhan mentakdirkan saya lahir di Indonesia, karena di sini orang sukses itu jika Anda bisa menampilkan kebendaan wah: membangun rumah megah, bisa tampil perlente, atau bisa bawa Panther, Taft, atau Xenia saat pulang ke desa.

Ya, mungkin karena saya suka prestasi angkawi inilah hingga Tuhan mentakdirkan saya lahir di Indonesia, karena di sini prestasi itu hanya diukur dengan penjualan yang meningkat, omzet yang terus naik, atau korporasi bisa ekspansi dan melantai di bursa saham. Karena ada hal sama seperti itu yang tersembunyi di dalam diri saya atas nama pencapaian “prestasi”: memajang jumlah klien, memajang hasil/portofolio kerja; mengungkapkan nilai omzet bulanan, dan semacamnya yang saling melengkapi.

Prestasi?

– FHW,
mung bisa ndonga…