Pencetakan Kustom

Bolehkah saya bertanya? Kalo mau Cetak e-book yang murah dimana ya? Untuk 1000 buku yg rata-rata 500 pages lebih.

Apakah mending beli mesin sekalian? Or any idea?

Saya butuh buku yang murah, untuk teman yang belajar di Ciheras. Kalo beli yg ori dari Singapore or Malay mahal banget.

Ricky Elson

- Gambar dari internet.

Saya tertarik dengan pertanyaan di fesbuk salah satu anak bangsa, tokoh de-facto negeri ini.

Ricky Elson adalah pejuang energi terbarukan, khususnya berbasis energi angin.

Dia saat ini terus diminta oleh korporasi dari Jepang untuk bekerja pada mereka – tentunya dengan nominal pendapatan yang tak perlu ditanyakan menggiurkannya; namun sejauh ini masih terus mengabdikan diri kepada bangsa dan negara tanpa dukungan signifikan dari pihak pemerintah, bahkan dukungan dari media massa sekalipun.

Maklum, ide-idenya yang benar-benar riil dan sepenuhnya bermanfaat itu mungkin dianggap terlalu idealis, atau terlalu melawan kepentingan industrialis yang harus menomorduakan kebutuhan rakyat sebenarnya di bawah kebutuhan cash-cow bagi pemilik kapital.

Hanya jutaan rakyat yang terus menyimpan cita-cita dan cinta untuk Indonesia inilah yang di bawah tanah, melalui medsos, terus menggulirkan dukungan semangatnya untuk dia agar terus berkarya.

Terlepas bentuk bukunya apa dan bagaimana cash-flow untuk produksi buku tersebut (asumsi buku ini dibeli/dibayar entah oleh siapa dan dengan cara bagaimana), saya tergelitik untuk turut sumbang pendapat alakadarnya dan pastiya lebih banyak ngawurnya 😀

Jangan Beli Mesin Cetak (Offset) Sendiri Kalo Ndhak Main Percetakan.

Biaya bahan nyetak sendiri emang murah, jauh lebih murah ketimbang nge-print ato poto-copy. Tapi biaya operasional lain-lain bisa jadi mbengkak kalo cuman dipake sendiri, sekalipun jumlah eksemplar yg mau dicetak banyak.

Di dunia percetakan, mesin cetak itu sering diposisikan sebagai deposit, bukan investasi yang pake ROI (return of investment). Atau, ROi yang diperhitungkan sangat kecil nilainya dan dalam jangka yang super panjang skemanya, nyaris unlimited.

Sederhananya, dalam kalkulasi biaya nyetak, kadang harga investasi mesin cetak ndhak dimasukkan. Percetakan kadang hanya ngitung harga kertas, tinta, litrik ongkos pekerja, dll, dan biaya pengembalian investasi mesin cetak sangat kecil dimasukkan.

Kenapa? Sebab jika dijual kembali, harga mesin cetak bisa dibilang relatif stabil.

Penurunannya pun proporsinya ndhak terlalu signifikan. Apalagi mesin cetak buatan Jerman (Heidelberg). Heidelberg taon 70-80an pun kadang masih diperjualbelikan di pasaran mesin cetak seken dan dengan harga yang masih lumayan.

Maklum, untuk percetakan kelas banting harga, beli mesin cetak baru itu memang cuman angan-angan. Itu kelasnya pemain kakap yang ngeladeni korporasi gajah aja mainnya: yakni kustomer yang cuman peduli kualitas dan bernai bayar mahal.

Dan jika mesin seken sekalipun, ROI-nya dimasukkan ke komponen kalkulasi biaya cetak, maka jatuhnya mereka ndhak kompetitif lawan kompetitornya.

DUNIA percetakan low-end terbiasa harus menyalakan mesinnya non-stop. Ini untuk mengejar volume profit dikarenakan margin yang memang kecil tadi. Jika ndhak banyak volume cetak yang dikerjakan, sudah sering terdengar berita: percetakan njual mesin cetakknya.

Itungan rekan-rekan saya yang pemain dunia offset, perlu lima taon bagi mereka untuk bisa mengembalikan investasi mesin cetak, itu pun mereka bener-bener ndhak ngambil margin profitnya.

Dengan kata lain: seluruh keuntungan dari kinerja si mesin cuman buat ngembalikan harga perolehan (ROI) mesin!

Perih memang dunia percetakan offset ini.

Jika Mencetakkan di Percetakan

Kalo nyetakkan ke percetakan, ini efisien, tapi harus jelas breakdown-nya. Upayakan jangan sampe nyetok buku. Misal nyetak 1000, ternyata cash-flow yang masuk cuman 500. Ini bisa berabe.

Lain kalo cash-flow untk 500 buku sudah mengkover 1000 eksemplar cetak. Masih mending. So sisa buku yang gk terbayar (or somewhat) bukan menjadi beban keuangan.

Risikonya, maka harga end-user per eksemplar akan naik.

Cetak Sendiri

Kalo untuk kebutuhan internal, sekalipun kuota produksinya tinggi, bisa diakali dengan main mesin printer laser. Bukanb printer inkjet lho ya! Bisa jebol ntar itu printer 😀

Untuk kuota besar, cari printer laser yang yield/page per month-nya tinggi. Biasanya, produsen akan mengkategorikan printer ini ke dalam segmen business printer, bukan home-office printer.

Mesin printer laser untuk kuota super banyak mungkin harga breakdown-nya akan di atas percetakan.

Namun akan ada beberapa efisiensi di sini:

  • Kita bisa nyetak secara gradual, tidak mendadak langsung dalam jumlah banyak.
  • Cocok untuk pencetakan kustom: misal 1000 eksemplar buku dengan beberapa judul. Percetakan offset yang ndhak bakal sanggup demikian.
  • Operasionalisasinya mudah ditangani, berbeda dengan mesin offset yang perlu keahlian tertentu.
  • Printer laser sekarang bisa diregenerasi sendiri. Telah tersedia bahan konsumabel: serbuk isi ulang dan spare-part aktif cadangan (yakni spare-part yang haru diganti rutin-periodikal, semacam roller/penggulung/penarik kertas dan development-drum atau image transfer-kit yang mentransformasikan citra digital ke temporary-image buat ‘dicetakkan’ kek kertas. Harganya sudah sangat kompetitif dhitung dengan breakdown-nya.
  • Kadang tidak harus beli baru. Di Jakarta banyak yang jual mesin printer laser dari lelangan perusahaan gedhe. Kondisinya masih pada perferct (normal banget secara teknis) dengan harga yang sepertiga bahkan seperempat dari barunya. Biasanya hanya perlu rekondisi pada toner dan parts aktif tertentu. Masih sangat worthed secara ekonomis dan teknis.
  • Bahkan tersedia laser warna. Menarik bukan?

Penghitungan harga produksi mesin printer laser tentu bukan hanya didasarkan pada bahan konsumabel (toner+chip resetter dan kertas) sematam melainkan juga operasionalnya (listrik, roller, drum, image transfer kit). Namun sekali lagi, breakdown-nya panjang dan masih sangat worthed, khususnya untuk pencetakan yang tidak dituntut harus ngejar volume tinggi sebagaimana percetakan low-end, dan sekali lagi ia bisa digunakan untuk mencetak secara gradual dan kustom. Ditambah lagi ini semua bisa dikerjakan sendiri.

Persoalan Yang Mungkin Muncul

Investasi mesin printer laser harus dibarengi dengan:
– Pemahaman troubel-shoting ringan, dan
– Cadangan supplies (bahan konsumabel + parts aktif cadangan).

Secara sederhana, jika menggunakan printer laser untuk kebutuhan tinggi, siapkan di gudang:
– Serbuk toner refil/pengisi ulang termasuk chip resetter-nya,
– Catridge cadangan,
Parts aktif konsumabel periodikal (roller, drum, imae transfer kit).

Parts tersebut yang biasanya akan habis di tengah jalan dan diperlukan segera penggantian mendadaknya.

Penjual printer laser, baik baru maupun bekas, biasanya sudah siap dengan supporting/dukungan ini. Jika tidak menyediakan langsung, mereka biasanya akan menunjukkan ke mana kita musti mencari. Biasanya, tempat-tempat tersebut memang sudah jadi tempat rujukan para pemain industri grafika.

Dan akan lebih seru lagi jika mesin printer lase ryang tersedia ada dua unit, untuk fungsi redundant.

Fungsi redundant ini bukan berarti sau mesin ngagur bekerja semenara satunya kerja terus. Dia bisa saja di-shift kerjanya. Gantian 12 jam sekali, atau sehari sekali, atau seminggu sekali.

TROUBEL-SHOOTING ringan mutlak diperlukan. Yang paling pati adalah mengisi ulang sendiri toner pada katridge.

Umumnya, jenis printer populer seperti pada HP akan sangat gampang diisi ulang. Hanya saja, tiap tipe punya metode sendiri-sendiri sehingga tetap perlu dipelajari. Umumya, guidansi untuk kebutuhan ini tersedia melimpah di internet.

Mengisi ulang toner bukan hal yang sulit namun perlu kesabaran dan ketelatenan tersendiri agar tidak tumpah-tumpah.

Beberapa hal lain yang harus dipahami adalah maintenis rutin, biasanya cuman cleaning aja. Prosesi ini sedikit lebih makan kesabaran danketelatenan, namun guidansi tetap melimpah di internet.

DEMIKIAN jika boleh ikut urun rembug. Ini semua cuman pendapat pribadi dan tidak mewakili apapun/siapapun. Mohon koreksi sebesar-besarnya jika ada kesalahan.

Regards,
Freema HW
Pengecer Jasa Ide dari AwindoCreative

Referensi http://www.techcrates.com/why-choose-laser-printer-for-effective-printing/

Advertisements

Artistik Visual

*Ini adalah sebuah posting subyektif tentang dunia (awak) media massa. Semua gambar di laman ini diambil dari tautan lain.

Menyampaikan informasi dari pihak lain tanpa mengurangi esensi informasi tersebut adalah kewajiban kita sebagai informan, wartawan, jurnalis, atau penyampai informasi/berita.

Atau sekedar masyarakat biasa yang sedang menyampaikan pesan.

Apalagi jika informasi yang kita sampaikan/teruskan adalah informasi yang bermuatan tinggi, berbobot, padat, berisi, montok, semok, semlohai, dan dapat mengubah dunia: baik dunia secara harfiah maupun dunia pemikiran masing-masing orang ke arah yang lebih baik (maslahat) dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sayangnya, meski berbobot, informasi yang terlalu padat tanpa disertai dengan sentuhan artistik bisa jadi, kadang kala, atau takutnya membuat pembaca eneg, bosan, dan males baca.

Membantu mengurangi kejumudan audience (pendengar, pemirsa, pembaca) informasi yang kita sampaikan, kita bisa “meringankan” keenegan itu semua dengan sentuhan artistik dalam penyampaian.

Maklum, tidak semua orang rakus membaca, luas wawasannya dalam menerima berbagai kondisi, dan sebagainya. (Meski kalo kita males baca (hal yang baik), yang rugi kita-kita sendiri juga). Sentuhan artistik dalam penyampaian informasi diharapkan bertujuan membuat audience lebih nyaman dan terus berlanjut dalam menikmati sajian informasi yang kita usung/sampaikan.

MENUANGKAN sentuhan artistik dalam penyampaian informasi memaktub kewajiban berupa tetap utuhnya informasi yang disampaikan. Dengan kata lain, kita dilarang alias jangan sampai sentuhan artistik yang kita buat mengurangi isi apalagi esensi informasi pihak ketiga yang kita teruskan penyampaiannya.

SENTUHAN ARTISTIK

Ada dua hal utama dalam memberikan sentuhan artistik dalam penyampaian informasi.

1. Berupa intonasi dalam lisan atau diksi dalam tulisan. Ini agak-agak riskan, karena beberapa informasi dari pihak ketiga berpotensi berubah jika kita salah menyunting diksi dan redaksionalnya.

2. Berupa visualisasi artistik, bisa gestur dalam penyampaian lisan atau seni visual dalam penyampaian visual.

Seni visual ini tergantung media yang kita pakai. Apakah penyiaran elektronik, media cetak, atau daring.

Dalam penyiaran elektronik (broadcasting), olah suara atau olah gambar dan/atau keduanya menjadi kunci utama. Sementara kita tidak akan membahas lebih lanjut tentang sisi ini. Sementara kita fokus pada olah artistik dalam penyampaian informasi melalui media cetak dan/atau laman daring.

Dalam enerbitan (publishing) cetak atau laman daring, maka permainan warna, corak, ilustrasi, dan pemilihan foto menjadi sebagian kunci utama yang berperan luar biasa besar memberikan nilai rasa (sense) dan rasa itu sendiri (taste) yang susah diukur dalam parameter angkawi namun bisa diukur dalam penilaian relatif.

Tidak ada ukuran pasti dalam hal ini, namun banyak pencontohan dan studi kasus yang bisa kita gunakan.

Pada laman blog saya https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/01/12/hijrahmigrasi-dominasi/ misalnya, ini sama sekali bukan merupakan parameter namun saya berharap ini bisa menjadi contohnya, sedikit olahan artistik visual yang saya lakukan pada laman tersebut:

– Pemilihan foto yang menggugah selera dan ketertarikan. Pas pada case ini, foto tersebut memang foto nyuplik dari sumber lain. Namun dari foto tersebut bisa kita ambil nuansa, metode, dan maknanya. Dan ini yang terpenting: foto yang bermakna.

Belakangan kita bisa memproduksi foto senuansa untuk menguatkan tulisan kita.

Ingat, menguatkan, bukan merusak!

Indikatornya case-per-case aja.

Dan pada kondisi hukum tertentu, kita tidak bisa seenaknya mencomot foto dari pihak lain tanpa izin/legalitas yang sah.

Drop-cap pada beberapa sub-frame tulisan. Ini gunanya untuk membuat pembaca bernafas.

Selain drop-cap, pemenggalan sub-frame dengan simbol alphabet tertentu juga lumayan membuat otak bernafas. Misal dengan tiga bintang (***), kombinasi seperti -oOo- atau yang lainnya terserah kreativitas kita.

– Warna pada pemerian. Alih-alih plain, pada pemerian (pointing) yg ada di posting tsb. saya coba bikin berwarna. Hurufnya tidak harus kapital semua seperti itu, itu kebetulan saja saya memilih template mode-3 (pada text-editor WordPress) yang otomatis mengkapitalkan satu kalimat/seleksi.

Intinya, kita bisa memberikan suatu aksentual yang membuat nafas otak bisa lebih ringan, santai, dan menjadi lebih rileks sehingga informasi yang diserap bisa lebih masuk lagi.

WARNA

Adakah patokan (baku pemilihan) warna yang menarik yang bisa kita gunakan?

Tidak ada sebenarnya. Kadang selera dan intuisi lebih berbicara, meski inspirasinya tetap memperhatikan konsep keseluruhan dalam memproduksi halaman-halaman cetak maupun daring.

Dan, hati-hati ketika bicara selera di sini!

Kita mem-posting tulisan secara terbuka, artinya kita meletakkan tulisan tersebut di tengah-tengah ruang publik.

Siapa publik yang kita letaki tulisan, itulah salah satu acuan (referensi) yang kita perlu mengolahnya.

Warna sebenarnya adalah hal yang netral. Namun spektrum frekuensi pada warna membuat otak bekerja dengan tingkat kesibukan yang berbeda untuk melihat masing-masing warna sehingga menjadikan warna seperti bermuatan dan bercitra sendiri-sendiri.

Alhasil, kita mengenali (semacam) konvensi bahwa warna hijau menggambarkan kesegaran alam atau suasana; biru menggambarkan dinamisme; merah menggambarkan semangat membara; putih menggambarkan kedataran, kekosongan, bahkan sebaliknya ke-penuh-an; coklat menggambarkan nuansa alam; hitam menggambarkan ketegasan, kekuatan, atau bahkan kehilangan. Merah muda menggambarkan hati, cinta, dan keindahan. Oranye menggambarkan kesegaran fluida atau hawa. Dan warna-warna pastel, yakni warna utama yang ditambahi putih, akan menggambarkan hal yang ringan, santai, atau familiar atau dunia anak-anak. Dan sebagainya

TIDAK ada yang baku dan pasti (tentang patokan ini). Semua(warna)nya terkait dengan komponen pembentuk yg lain: tulisan, bangun ilustrasi, dll.

Tentang warna ini, akhirnya kita mesti meng-STP (segment, target, positioning) media kita, dimana posisi keberadaan kita dengan absorber media kita, dan paling penting: siapa segmen yang kita tuju:

apakah bapak-bapak yang model calm? Apakah anak muda yang gaul? Apakah anak muda yang bergelut dengan dunia tertentu: dunia olah raga tertentu, dunia saintifik, dll.? Apakah bapak-bapak dari kalangan pekerja biasa? Apakah ibu-ibu rumah tangga? Apakah wanita karir? Apakah anak-anak? Atau semua demografi segmen?

Atau berbicara tentang hobi, profesi, dan preferensi tertentu: otomotif, kuliner, kereta api, dunia penerbangan/aviasi, dunia pelayaran; pariwisata; sejarah dan seni-budaya; politik hubungan antar bangsa-golongan; agama, dll.?

MENGGABUNGKAN pertimbangan antara penentuan segmen yang dituju, dengan mempertimbangkan kekuatan daya kerja otak mereka untuk mengabsorbsi informasi serta (kekuatan) menyerap frekuensi warna; plus konten yang dimaktubkan; itulah kemudian sebuah publikasi bisa dirancang dengan warna-warna khas tertentu atau jika tidak dia akan berdasar putih datar (plain) yang kemudian oleh tim vesual bersama tim editor diputuskan hendak diisi corak atau warna apa sebagai aksentual penguat, penegas, dan pembangun.

Jadi siapapun itu yang kita tuju sebagai pihak penerima pesan yang hendak kita sampaikan, itu semua memerlukan pola dan skema operasional yang tepat dan jitu -bahkan sangat rumit meski hasilnya sederhana- untuk memutuskan segala pilihan yang kita buat: diksi, ilustrasi, komposisi, dan visualisasi.

Di sinilah selera kita bisa berbaur, bekerja, dan berkompromi.

FONTAGE

Selain warna, pemilihan font (khot, jenis/gaya huruf) juga membawa nuansa tersendiri dalam publikasi yang kita wujudkan.

Font secara umum terbagi pada serif (huruf berkaki-berkepala), san-serif (tanpa kaki dan tanpa kepala) serta sebagai tambahan adalah freehand (bebas) dan symbol.

Huruf serif terkesan lebih formal, berwibawa, namun justru mengusung nuansa ringan.

Huruf sans-serif lebih berkarakter gaul, informal, namun malah agak menyedot tenaga otak jika dibaca dalam tulisan yang panjang.

Karena itu, pemilihan font ini mesti dipertimbangkan dengan matang.

Selain pengenalan terhadap segmen yang membaca publikasi kita, kekuatan merasakan tentang karakter font ini juga perlu kita olah dan kita perkuan dalam diri kita yang berhubungan dengan hal ini.

Belakangan ini, dunia industri publikasi telah berkembang sehingga banyak font beredar yang mendobrak pakem. Beberapa font tampak seperti perkawinan silang antara serif dan san-serif.

Dan beberapa font sengaja diciptakan untuk kebutuhan khusus (title, bodytext, dll.) namun banyak juga font yang bisa mengakomodasi kebutuhan yang ‘bereberangan’ tersebut sekaligus. Artinya ia tampak sangat elok kala berukuran (size) besar namun tetap cantik terbaca kala berukuran kecil.

NORAK

Dengan mudah dan murahnya perangkat teknologi yang membantu kita dalam mem-publish segala sesuatu, jika tidak dibarengi dengan kekuatan mental dan kecerdasan dalam membuat batasan serta kelihaian dalam menentukan pilihan, kita berpotensi untuk berbuat norak.

Kadang warna asal kita penuh-penuhkan tanpa pertimbangan matang. Alih-alih cantik, warna yang ‘ngawur’ dipasangkan kadang malah tampak aneh dilihat, memberangus muatan tulisan, dan lain sebagainya.

“Dalam chaos ada keteraturan.” Inilah hukum fisika yang bisa kita gunakan untuk mengkomposisi warna.

Chaos warna tidak haram, tapi perhatikan pertimbangannya. Ini mirip chaos di lalu-lintas pasar rakyat atau kota besar India. Kendaraan atau lalu-lalang orang tampak tidak rapi. Namun kecelakaan jarang terjadi, karena semua memperhatikan ‘keteraturan’ untuk tidak saling bertabrakan.

Salah satu tabrakan yang dipertimbangkan ini misalnya kemeja batik dengan celana jeans. Malah keren!

Ini dalam visualisasi tertentu, kita bisa menggabungkan coklat dengan biru; dua komposisi yang kadang terlihat mati namun bisa hidup jika kita pas mengkomposisikannya. Dibantu dengan garis dan lengkung yang sedemikian rupa, kecantikan visual bisa kita dapatkan.

Sementara jika tidak yakin dengan chaositas kayak gitu, pakai metode standar saja. Ambil warna yang mendukung untuk dicampurkan.

Trik lain, kita bisa mengambil skema warna (theme) dari nuansa tulisan, segmen yang kita tuju, atau scheme dari foto yang kita gunakan.

Jika fotonya mengandung nuansa merah, kita bisa memilih warna merah untuk aksentual pernak-pernik visual lain. Misal judul (title tulisan), sub-judul, quote (kutipan), teaser, header, dll.

SELAIN chaos warna, kadang chaos font juga menjadi persoalan rendahnya kualitas publikasi kita, khususnya publikasi cetak.

Dulu, jaman dunia percetakan masih menggunakan typeset: font berbentuk lempengan yang disusun dalam mesin cetak untuk di-cap-kan ke kertas sehingga muncullah tulisan -persis sebagaimana mesin ketik mengetukkan lempengan font ke kertas hanya saja ini lebih massif dan font sudah dibariskan ribuan lempengan sehingga sekali ketuk langsung satu lembar kertas ter’ketik’- memilih jenis font, ukuran/(size)nya, bahkan sekedar memiringkan huruf menjadi persoalan yang luar biasa rumit.

Warisan ‘kebekuan’ opsionalisasi font ini masih kita lihat pada mesin ketik.

Kini dengan dunia digital, komputer akan menuruti kemauan gila kita untuk mengatur font sesuka hati.

Mudahnya font di-copy (padahal tidak semua font legal untuk di-copy begitu saja, banyak yang harus dibeli untuk digunakan) membuat kita maruk. Semua font kita pakai habis-habisan tanpa memperlihatkan pertimbangan yang matang dan dalam.

Font yang tanpa aksentual memang seperti makan ayam goreng lezat tiap hari. Jadinya malah datar.

Aksentual diperlukan, namun perhatikan pilihannya. Tepatkan dengan nuansa tulisan, sesuaikan dengan nuansa foto, atau dengan pertimbangan lain yang kuat.

Intinya, tidak batasan tentang pemilihan font atau warna. Namun hati-hati jangan sampai kebablasan dalam memfontasi atau mewarnai halaman.

Silakan rekan-rekan kunjungi buanyak (contoh) halaman, baik media cetak atau laman daring, untuk membandingkan tentang aksen dan penggunaan unsur artistik-visual sebagai referensi.

***

Artistik visual memang susah terpisah dari preferensi masing-masing diri kita. Namun di sinilah letak seninya. Kita bisa melayani kondisi yang kita hadapi tanpa kehilangan jati diri sendiri jika memahami semua ini.

Dan satu quote pernah dikatakan seorang rekan dekat kepada saya: “Tidak penting apa tools yang kamu pakai dalam bekerja kreatif, mendesain misalnya. Yang terpenting dari itu semua adalah ide dan kreativitas dasar yang kita munculkan.”

Senada dengan hal ini, pada halaman preface buku manual PageMaker edisi jadul (dari namanya aja udah menunjukkan kalo dia jadul: PageMaker, jaman masih Aldus dan kemudian sebentar berpindah ke Adobe, yang kemudian ditranformasi menjadi InDesign) tertulis: “PageMaker memberikan semua tools yang Anda butuhkan untuk mendesain/menata letak halaman. Kecuali satu hal: ide dan kreativitas.”

Sebab ide dan kreativitas itu ada di tangan kita sendiri, langit adalah batas keluasan ide dan kreativitas kita.

Kesimpulan ngasal dari tulisan teramat ndhak jelas ini: selalu ada pilihan di depan mata kita. Kitalah yang menentukan dengan pertimbangan.

CMIIW.

Freema HW,

– Sarjana Ekonomi (Manajemen), bukan orang seni. Terinspirasi dari pengalaman pribadi nirteori. Pengecer jasa/layanan komunikasi produk/pemasaran di sini http://www.facebook.com/awindocreative
Mobile: +62855 362 0665
Email: freema97@yahoo.co.id

Ini Referensi Asyik

http://speckyboy.com/2008/06/15/32-inspirational-examples-of-amazing-layout-and-typography/