Berbeda Itu Haram(?)

Ada satu tokoh publik. Posting statuta-nya saya komeni berseberangan. Eh saya diblokir.

Postingnya sempat saya screenshoot untungnya, tapi saya save pribadi aja, tidak untuk publikasi terbuka.

Well…

Terutama sejak pilpres 2014 kemarin, saya memilih tidak berkubu. Saya mencoba memposisikan diri memandang segala sesuatu secara seobyektif dan senetral mungkin.

Alhasil, isi pikir saya bisa menghujat sekaligus membela satu hal atau hal yg lain, satu pihak atau pihak yg lain, satu kubu atau kubu yg lain.

Saya hanya meyakini, tak ada kebenaran atau kesalahan mutlak di (makhluk yg ada di) dunia ini.

Pilihan sikap pribadi saya adalah membela negara dan bangsa ini sekuat tenaga sebisa mungkin sesuai kapasitas dan kemampuan saya.

Membela negara (dan pemerintahan), tak berarti pasti membela (pihak) pemerintahnya.

Namun sayang,

di lapangan ada pihak yg “memaksa” bahwa kita harus berpijak hanya di salah satu dari dua kondisi saja: harus terus membela (pihak) pemerintah atau harus terus anti (pihak) pemerintah.

Kalo saya uraikan secara asal, mencuplik lalu-lintas posting di dunia maya, ada empat golongan warga di negeri ini:

– Pro demo berjilid dan pro presiden. Saya ndhak tau golongan ini ada apa ndhak.

– Pro demo berjilid dan anti presiden. Golongan ini teramat jelas keberadaannya.

– Anti demo berjilid dan pro presiden. Golongan ini teramat jelas keberadaannya.

– Anti demo berjilid dan anti presiden. Golongan ini samar terlihat namun saya rasakan ada.

Dan mungkin, mungkin saja, saya masuk golongan yg terakhir itu tadi. Tapi bukan berarti saya menggolongkan ini. Mungkin saja, mungkin, sikap pribadi saya/kami senada, sedefinisi, serupa, mirip, atau seperti mereka. Mungkin.

APAPUN golongan yg ada, intinya bangsa ini telah sukses menguatkan potensi SARA: ber(antar)golongan.

So, adu otak & pemikiran yg mengedepankan kerukuran sepertinya tidak lagi diperlukan era sekarang ini.

Siapa berbeda, maka mereka adalah golongan lain. Siapa berbeda, maka mereka pasti salah dan kita yang benar. Kalo mereka benar dan bukan dari golongan kita, maka harus jadi salah. Dan siapa salah kalo itu dari golongan kita, maka harus dibenar(-benar)kan.

Golongan adalah segalanya. Golongan adalah tuhan.

Berbeda itu telah haram(?)

– Freema HW,
golong-golong.

Lenyapkan Kerukunan

Yang paling mengerikan jika Indonesia kuat memilikinya adalah: kerukunan.

Jikalau semua suku, semua umat beragama, semua aliran agama, semua golongan, hobi banget saling rukun saling tolong saling memaafkan saling memberi saling membantu getol melindungi semua umbar senyum gemar tertawa berpikir dewasa berhati bijak berlaku bajik dll. serta bersatu padu bergotong-royong saling mengisi dan memajukan kehidupan ketentraman kedamaian bersama;

jikalau semua suku, semua umat beragama, semua aliran agama, semua golongan demen banget menolak perpecahan melupakan friksi/gesekan cepet memaafkan muak menyakiti ndhak gampang tersinggung dll.;

maka Indonesia akan teramat susah untuk dikuasai dan dikendalikan oleh demi untuk kepentingan siapapun.

Maka kerukunan harus sebisa mungkin dieliminasi kalo perlu dilenyapkan keberadaan dan kekuatannya dari negeri ini dengan segala cara segala taktik segala strategi segala metode segala alasan segala apapun; mulai paling kasar sampai paling halus.

Tentunya akan sangat mengerikan jika kerukunan ada teramat kuat di negeri ini, maka Indonesia akan teramat susah untuk dikuasai dan dikendalikan oleh demi untuk kepentingan siapapun.

Tentunya akan sangat menyenangkan jika kerukunan bisa dilenyapkan dari negeri ini. Maka kedaulatan dan kemandirian akan runtuh dengan sendirinya dari negeri ini. Indonesia akan kekal hidup dalam dikte.

Maka akan sangat mengerikan jika kerukunan dan kedamaian hidup teramat kuat di negeri ini.

– FHW

(Un)friend

Duluuu, saya numpang akun fesbuk istriku untuk berinteraksi. Padahal saya udah punya akun fesbuk sendiri. Hingga kemudian saya akhirnya pakai akun fesbuk sendiri.

Karena waktu itu saya menggunakan fesbuk murni untuk berinteraksi dengan asas silaturahmi. Dan buat ngomongin BMW tentunya.

Satu per satu, friendlist-ku mulai terisi oleh teman. Baik saya yang nge-add atau saya di-add.

Semuanya berjalan dengan riang dan gembira.

Kami saling membahas aspal yang bolong. Keluarga dan si kecil masing-masing temen, dan kehidupan secara universal.

Semua bisa berbicara dengan bahasanya ungkapan masing-masing, dan semua bisa saling menerima perbedaan bahasa pikir masing-masing.

Semua berbagi ide, berbagi pandangan, berbagi sudut pandang. Berbagi perbedaan, mengupas kesamaan. Semua indah. Indah semuanya.

Kami berbicara segala hal yang penting maupun tak penting, bermuatan maupun tak bermuatan, hanya demi satu nafas: silaturahmi.

Berhubung ini akun “hanya untuk” bersilaturahmi, maka setting posting saya default-kan ke friend. Bukan publik. Hanya teman fesbuk saya yang bisa membaca posting saya.

Karena memang posting cuman buat pertemanan saja.

Bicara yang “remeh temeh”, sekali-sekali bicar apedas dan menggigit, atau bicara dengan bahasa timuran ala sini, cuman buat suka-suka dengan sesungguhnya suka-suka.

Continue reading

Jangan Pernah Lelah Untuk Mencintai Indonesia

“Yang paling tidak mengerti, biasa paling keras memaki.”

“Saya disumpah untuk taat pada hukum dan undang-undang. Selama aspirasi rakyat tidak melanggar hukum pasti diperjuangkan!”

“Jangan pernah lelah untuk mencintai Indonesia.”

“Kamu-kamu belajar yang rajin, jauhi narkoba, sayangi teman. Suatu hari gantikan kami ya?”

Ridwan Kamil

Indonesia …!

Banjir di Jakarta (lagi). Membuat saya muak baik kepada pendukung maupun pembenci gubernur Jakarta.

Pendukung gubernur cuman mati-matian memberitakan berita pro-nya. Seolah sang gubernur adalah dewa yang bisa menuntaskan segalanya. Sucks!

Pembenci gubernur, bahkan sampe yang bukan warga Jakarta, mulai meledak posting meledeknya. Kalangan ini yang bukan warga Jakarta gaya postingnya khas: pura-pura menyindir. Tanpa berani menyindir beneran. Bencong!

***

Saya bukan warga Jakarta. Sayangnya, Jakarta seolah mewakili Indonesia. Indonesia seolah cuman Jawa. Jawa seolah cuman Jakarta. Sakit bener negeri ini.

Belanda sudah bener menata Jakarta. Air mustahil dilawan di Jakarta. Makanya mereka bikin kanal. Bikin jalan air. Yang justru perlu banyak-banyak air biar lancar jalan airnya.

Entah kenapa semua rencana Belanda ini seolah rusak semua.

***

Sukarno punya ide cerdas. Meski nuansanya politis kala itu. Ia ingin memindah ibukota negara ke tempat yang netral. Dilipihlah Palangka Raya.

Pilihan sempurna dan strategis.

Kalimantan sangat rendah potensi gempanya. Pun tingkat kesuburan tanahnya bagusan Jawa. Dan Palangka Raya berada di tengah-tengah Indonesia. Asal keadilan bisa lebih merata.

Andaikan Palangka Raya jadi ibukota negara, pasti asyik. Mungkin jalan tol akan banyak-banyak dibangun di Kalimantan. Tambang-tambang dan pembabatan hutan biar lebih bisa dikendalikan. Jawa biar jadi lumbung pertanian saja. Buat menjamin kenyangnya perut bangsa.

Para profesor kemarin-kemarin juga udah ngeluarkan rekomendasi: pindah ibukota negara ke Palangka Raya. Jakarta biarkan jadi pusat/ibukota bisnis saja. Namun negara tak pernah menggubrisnya.

***

Memindah ibukota negara mungkin akan lebih menstabilkan kondisi politik negeri ini. Tentu ini hal yang ndhak disukai oleh para bandar pemain negeri ini.

Jakarta masih terlalu ayik buat di(per)mainkan.

Pendukung dan penentang (gubernur) Jakarta masih sangat elok untuk diadu dengan segala dalih dan apapun alasannya.

Indonesia masih belum selamat dari ancaman perpecahan.

Dan kita-kita semakin memperkuat ancaman ini. Dengan beragam dalih, kita terus menguatkan potensi perpecahan untuk negeri ini.

Kita semualah rupanya yang menghendaki, kelak Indonesia jadi Iraq, Libya, Mesir, Suriah. Orang asing hanya memainkan kartunya saja. Kita ternyata yang membuka meja judinya: membuka perpecahan (dengan sesama, antar sesama).

Ya apa ya?

– FHW,
WNI.

Banjir = (Manifestasi Kelakuan) Rakyat

Kami sedang berada di suatu tempat. Suatu tempat yang banyak diisi kaum berpendidikan. Suatu tempat di mana ada parkiran luas yang penuh sesak dengan -dominan/mayoritas besar nyaris semua- mobil pribadi. Dan dari kebanyakan mobil pribadi yang ada adalah keluaran baru. Harganya tentu ratus jutaan rupiah.

Kami tidak akan menunjukkan ini tempat apa dan di mana. Kami hanya ingin menunjukkan deskripsinya semendekati mungkin, karena kami ingin menggambarkan fenomenanya, bukan sesiapanya.

Sayangnya dari tempat ini adalah, saat kami melongok selokannya, yang kebetulan ini di pinggir area parkir, astaghfirullah… Sampah lumayan bejibun!

Entah ini berlangsung common/biasa atau hanya terjadi pas kebetulan sekali ini saja, kami kurang paham. Namun semestinya, sekalipun ini cuman sekali/sesekali saja, bila semua orang menyadari bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, maka hal seperti ini niscaya tak akan jamak terjadi.

Dan tentu jadi pertanyaan lebih lanjut bagi kami: orang berpendidikan, bisa beli mobil puluhan-ratus jutaan, koq bisa-bisanya kelakuannya masih uneducated dan miskin naluri-nurani gitu: mbuang sampah sembarangan/di selokan?

Ataukah semua sampah di selokan itu, di sungai-sungai sana, atau di manapun yang bukan tempat sampah, itu semua hanya kelakuan satu-dua-segelintir orang saja?

***

Sampah, sekalipun kecil-kecil, saat dia menumpuk banyak, akan menyebabkan saluran air tersumbat. Jika saluran air tersumbat, banjir akan dengan senang hati datang menerjang kita.

– Itu salahnya pemerintah dong, ngapain drainasenya ndhak dibersihkan! Udah gitu sering tuh gorong-gorong dirusak karena penggalian!

Gini lho cuk! Pemerintah dibentuk memang dengan kewajiban melayani masyarakat, yakni melakukan pekerjaan yang bisa jadi justru kacau kalo masyarakat sendirian melakukannya.

Misal: bikin jalan, bikin saluran drainase, dll.

Bayangkan kalo orang bikin jalan sendiri-sendiri. Speknya bisa ndhak sama. Malah ndhak teratur. Malah semrawut. Alih-alih tertata, yang ginian ini malah bisa bikin kacau negara.

Nah, baru kalo di tingkat kewajibannya ini pemerintah lalai: aspal dibiarkan bolong-bolong yang bisa mengancam nyawa pengguna jalan, saluran drainase dibiarkan semplah/ambrol sehingga menghambat aliran air, marka jalan raya tak ada sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan, dll.; baru kita lepas aja itu kepala-kepala pemegang kebijakan dari lehernya. Sori, dari jabatannya. Rakyat sebagai pemegang kedulatan bangsa dan negara, berkuasa penuh atas hal ini.

Sama halnya kalo rakyat melanggar aturan negara yang notabene merupakan manifestasi kepentingan dan kebutuhan bersama tanpa memandang golongan dan berdiri setara di atas segala perbedaan status rakyat, rakyat juga bisa didenda dan dipenjara koq!

Nah, tentu sama halnya dengan kewajiban individual: membuang sampah pada tempatnya. Tentu ini tugas, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing individu dong!

So, kalo sekarang banjir melanda di mana-mana, coba introspeksi dulu kelakuan kita: sudahkah kita membuang sampah pada tempatnya?

Kalo tau membuang sampah sembarangan itu bisa mengancam kondisi lingkungan, ada baiknya warga negara yang kayak gini dibuang pada tempatnya saja.

Biar negara jadi lebih tertata. Dan ini memang perlu aksi nyata. Yakni membersihkan sampah masyarakat dan sampah negara.

– FHW,
Manusia sampah.

Pungli

Membaca sebuah postingan fesbuk yang isinya keluhan pungli jalanan oleh polisi pada sopir truk, saya teringat cerita seorang rekan yang bisnis angkutan/transportasi. Intinya sama & senada: uang pungli yang disiapkan buat sepanjang perjalanan ternyata emang lumayan jumlahnya. Dikalikan ribuan trip/perjalanan kendaraan, pasti super wow total akumulasi jumlahnya.

Cerita yang nyaris tak bisa dibuktikan terbuka, tapi sepertinya ini sudah jadi rahasia umum. Dan dengan kemajuan teknologi, satu per satu mulai muncul unggahan rekaman aneka ragam pungli di jalanan di linimaya.

Postingan di fesbuk tersebut memohon kepada penyelenggara negara: tegakkan regulasi batas tonase di jalan raya. Doi sang postinger yakin, para sopir dan pengusaha angkutan bakal menyambut kebijakan ini dengan tertawa riang gembira daripada aturan dibuat untuk dilanggar.

Saya juga 100% yakin, pengusaha ndhak akan ngresula/sambat (mengeluh) kalo aturan batas muatan diterapkan 100% secara fair, adil, tegas, dan konsisten.

Sederhana saja kita bayangkan: jika pungli hilang dan aturan batas tonase ditegakkan secara tegas, (mesin) truk akan bekerja lebih ringan, niscaya konsumsi bahan bakar akan lebih irit dan periode penggantian parts akan lebih panjang.

Atau setidaknya jika jatuh ongkos angkutnya tetep atau taruhlah jadi naik, rasanya pengusaha malah akan lebih “bernafas lega” karena hilangnya komponen biaya tanpa nota yang bikin tidur ndhak nyenyak.

Apes-apesnya, dengan beban muatan yang sesuai kemampuan kendaraan, mustinya akan berkurang cerita truk-truk lemot yang overtonnage yang menghambat kelancaran lalu-lintas itu.

Keselamatan dan kenyamanan bersama di jalan raya pun bisa lebih terjamin. Karena seperti kita tahu, truk-truk bermuatan berlebihan tentu sangat mengancam keselamatan di jalan raya, misalnya jika bannya meletus atau gardannya putus trus truknya terguling, kasihan kendaraan yang ketimpa plus seperti biasa: bikin kemacetan panjang yang bikin banyak bahan bakar terbuang sia-sia atau banyak mesin kendaraan overheat karena macet yang abnormal.

***

Perekonomian negeri ini kacau bukan karena manusia Indonesia tidak produktif. Melainkan: buuuanyakkknya elemen ekonomi biaya tinggi (high cost economy) yang masih mencekik roda ekonomi (pungli, infrastruktur/jalanan rusak, perijinan ndhak jelas dan ndhak pasti, dll.)

Saya 100% yakin, tanpa harus nyari ceperan ilegal, gaji aparatur pemerintah itu koq mustinya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, namun memang sampai kapanpun ndhak bakal pernah cukup untuk memenuhi keinginan.

Ini bukan cuman berlaku buat mereka saja. Buat saya juga.

Yuk, seberat apapun untuk memulainya, mari kita semua mengakhiri tindakan gelap dan ilegal dalam bentuk apa saja yang merusak tatanan kebaikan kehidupan; kebaikan bersama, kehidupan bersama. Selain ini sudah merupakan perkara melanggar hukum secara esensial, di akhirat ntar juga berat pertanggungjawabannya. Jauh lebih berat malahan.

Ndhak percaya?

– FHW WTF

*Gambar ilustrasi, nyomot dari internet*