Akun Fesbuk Lenyap Pt.2

Akun admin “Tahukah Anda” lenyap lagi digaruk sugeblek. Apa salahnya akun ini tho sebenarnya: akun kriminal bukan, akun teroris bukan, akun penipuan bukan, akun gelap juga bukan, apalagi akun PSK online.

Bahkan ini akun (dan akun-akun admin lainnya di Mataraman) dikelola secara resmi oleh tim admins;

hanya karena melanggar administrasi fesbuk aja sampe digaruk. Fesbuk memang konon mempersyaratkan akun musti riil dan isinya tidak melanggar ketentuan komunitas fesbuk.

Sayang banget deretan like & komen yg udah ada jadi ilang.

Ya sudahlah, namanya juga numang gratisan di fesbuk, suka-sukanya yg bikin fesbuk.

So pelajaran yg bisa kita petik: jangan pernah sekali-sekali naruh postingan atau tulisan yg serius di fesbuk. Sebab kita ndhak pernah tau kapan akun kita dilenyapkan; tanpa ada kepastian bisa kembali atau tidak.

Akun kita mungkin bisa dilenyapkan cukup dengan “hasil aduan” oleh pengguna lain atau entah apa; tanpa pernah ada pengadilan, investigasi, atau apapun secara resmi.

Atau mungkin dianggap SARA/melanggar ketentuan komunitas fesbuk, alih-alih sebenarnya isinya hanya kebebasan berpikir atau berpendapat yg sesungguhnya sangat mungkin masih bisa dipertanggung jawabkan.

Intinya, kita tak bisa lagi membuat satu akun profil -dengan fungsionalisasi administrator- yg itu mewakili eksistensi komunal atau bersama.

Entah kenapa eksistensi yg ada dalam bentuk akun profile di fesbuk wajib sebagai eksistensi personal. Padahal bisa saja kita sebagai pengguna ini -dengan berbagai alasan tertentu yg sekiranya logis-
membutuhkan akun profil yg mana itu mewakili eksistensi komunal, melebihi eksistensi personal.

Tapi apapun, fesbuk adalah pencipta dan pemilik fesbuk. Kita di sini ada cuman numpang gratisan buat ajang sasaran iklan dan obyek untuk diawasi oleh tim keamanan dunia; dengan bonus ajang silaturahmi maya; yg pada silaturahmi sesungguhnya dan yg hakiki itu adalah jika kita ketemu (batin) secara langsung.

Jangankan fesbuk yg gratisan, kita langganan telepon seluler yg jelas-jelas mbayar secara mutlak untuk layanan yg kita pilih aja masih jadi korban iklan yg menyaru sebagai informasi koq!

So, kalo mau nilis yg perlu diwariskan ke pembaca atau generasi mendatang, tulislah di blog, atau bagus lagi bikinlah buku.

Di dunia maya khususon fesbuk, tulislah apasaja yg bisa ilang dengan seketika yg kita tak perlu mencari dan menggalinya lagi. Posting picisan atau mungkin hoax, itu saja kayaknya cukup. Dan mungkin malah aman. Apalagi nulis hoax dan posting picisannya serius banget.

Yg penting di fesbuk lalu-lintas postingnya rame, sehingga iklan laku dijual. Ibarat kata, “Kalian ngomong apalah gitu yg enteng-enteng aja, yg penting kalian pada liat iklan yg terpampang!”

Jangan sampe kalian nulis yg penuh pikiran, sehingga orang cuman fokus pada postingan dan sampe lupa kalo ada iklan yg perlu diklik dan jadi tambang uang bagi mereka.

Mungkin demikian.

Mungkin.

Tapi yg pasti, ini posting saya adalah posting picisan, terindikasi hoax, dan disinyalir memecahbelah persatuan dan kesatuan umat manusia.

– FHW

Akun Fesbuk Ilang Pt.1 https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/04/03/akun-fesbuk-saya-hilang/

BMacW

Mobil Eropa, salah satunya BMW, dikenal punya konsistensi nuansa desain dari generasi ke generasi, meski sebenarnya garis-garis desain mereka berubah lumayan radikal.

Kidney-grill dan segenap elemen konsistensi lain telah menyatukan beragam perbedaan garis desain pada tiap-tiap generasi BMW. Padahal dimensi desain kidney-grill itu sendiri berubah-ubah lumayan radikal.

Pada komputer, Apple Macintosh juga punya konsistensi semacam ini. Desain menu bar yang konsisten di atas ndhak “pindah-able”, dan suara Mac Chime yang khas meski pitch-nya sedikit berbeda, mungkin dipengaruhi oleh perangkat kerasnya juga.

BTW, Apple = hardware, Macintosh = software. Biasa disebut sepaket karena memang secara baku hardware tersebut diisi oleh software tersebut atau bisa disebut sebaliknya sebaliknya, software tersebut mengisi hardware tersebut.

Saya pertama mengenal/menggunakan komputer era DOS pada masa SMP, awal 90an. SMA, mulai mengenal Windows 3.1. Kuliah mulai mengenal Windows 95 dan 98. Juga Linux, meski belom menggunakannya. Di Windows mulai saya jalankan StarOffice, aplikasi office alternatif kala itu tatkala nyaris se-Indonesia seolah hanya mengenal Microsoft Office.

StarOffice belakangan menjadi OpenOffice.org dan kemudian bertransformasi lagi menjadi LibreOffice; perangkat office baku pada beragam distro Linux.

Lainnya itu saya juga mulai mengenal Mac dari beberapa tempat yang saya kenal.

Akhir masa kuliah, 2001, saya mulai menggunakan Linux dan perlahan menomorduakan Windows. Selanjutnya 2003, saya pertama kali menggunakan Mac.

Kala itu berkali-kali sering ditanya orang, “Mas ini laptopnya pake Windows apa sih, koq cantik tampilannya?”

Mereka terkesima lihat docking yang menari-nari dan meloncat-loncat itu.

Selanjutnya lama saya dan sekeluarga perlahan mengenal dan menggunakan Mac. Prosesnya masih PPC kala itu. Total ada empat biji Mac pada kami sekeluarga. Si kecil pun sudah kemi kenalkan dengan Mac sejak dia masih playgroup/TK.

Mac begitu pas mantab buat kerja. Stabil, bebas virus, konsisten kinerjanya, akurat warnanya.

Windows, selalu terkenal dengan BSOD (blue screen of death) dan suara login yang berubah-ubah pada tiap versi. Tapi dia teramat sangat populer, karena bisa dipasangkan di perangkat keras kelas apa saja. Mulai mainboard seharga 50 dolar hingga 500 dolar bahkan lebih.

Plus bajakannya melimpah. Alhasil semua orang bisa kenal komputer berikut kecanduan (bajakan)nya.

***

Kemudian era Mac keluar dengan Intel, Mac PPC mulai terhenti pemutakhirannya. Mendakan Mac cuman jadi barang koleksi, ndhak bisa dipakai kerja.

Dan mendadak Mac menjadi barang seperti PC Windows biasa, namun yang kelas hi-end; bukan lagi “komputer yang berbeda”.

Mulailah kami berhenti menggunakan Mac.

Saat ini kami sekeluarga pake PC dengan Linux sebagai sistem-operasinya. Windows masih kami pasang, untuk penggunaan tertentu.

***

ENAM tahun setelah menggunakan Mac, saya baru punya BMW. Mobil Eropa pertama yang ada di keluarga.

Awalnya kagok melihat mobil Eropa yang “serba beda semua” gini. Beda cara nananginya, beda (harga dan) spesifikasi-dimensi parts standarnya, beda fotur dan perlakuannya.

Tapi setelah mengingat Mac yang telah sekian lama mengisi dan menghiasi hari-hari kami sekeluarga, rasanya semua “seperti udah biasa” aja.

***

SEKARANG rasanya mulai tipis batas performa dan kecantikan (desain hardware maupun software) antara Windows dan Mac. Windows 10 pada jenis-jenis komputer kelas atas: komputer 2in1 (bisa jadi laptop atau tablet; komputer workstation; dll. begitu kelihatan cantik dan luar biasa peningkatan performanya. Windows 10 (rasanya sejak Windows 8) serasa telah meninggalkan Windows era lama/sebelumnya. Meski masih penuh corak warna, namun Windows 10 udah meninggalkan warna latar yang warna-warni dan bikin pedih mata, malah bikin susah konsentrasi kerja. Ini kalo saya. Ndhak tau kalo Anda.

Mac yang masih konsisten dengan nuansa lamanya, sebenarnya juga mulai berubah lumayan. Mac mulai penuh warna meski tetap ndhak pernah bisa norak kayak Windows. Secara umumnya warna sistem operasinya tetaplah simpel. Karakter warna simpel ini justru sekarang banyak kita temukan di laman web. Yang paling kondang tentunya ya si google itu. Putih mulus sepi corak norak gitu.

Kalo Linux mah, suka-suka yang bikin (distro). Bisa simpel kayak Mac, bisa norak kayak Windows. Namanya aja open-source, bisa dioprek semaunya yang bisa ngoprek.

Linux itu kan “bukan perusahaan” kayak Mac atau Windows. Dia kan kayak paguyuban warga, kayak orang banyak lagi gotong royong, atau mirip-miripnya kayak koperasi lah modelnya.

Koperasi kan juga bisa punya pabrik atau tokok kayak perusahaan gedhe. Tapi ngerti kan bedanya apa antara koperasi vs perusahaan partikelir? Ya kayak gitulah kurang lebihnya. ๐Ÿ˜€

***

Dan, era internet & koneksi telah membawa mereka semua ke satu fokus: offline-less. “OS”-store telah menjadi kata kunci yang senada sejak era Blackberry, Linux, Android, iOS, dan kemudian Windows serta Mac.

Bahkan perangkat kerasnya pun mulai semakin tipis perbedaannya. Antara ponsel, tablet, dan komputer cuman dibedakan pada sedikit penggunaan khusus aja. Sebab udah lumrah ada komputer atau ponsel seukuran tablet.

MacBook yang judulnya masih laptop itu pun jeroannya juga jeroan henpun.

Dan… BMW pun juga semakin tipis bedanya dengan mobil lain. Apalagi di era mobil listrik yang udah dekat ini. Di dalam BMW udah mulai banyak cup-holder. Dan BMW vs Crown bahkan Camry sekalipun – ndhak perlu harus Lexus, rasanya sudah semakin sedikit dan semakin sedikit perbedaan (kemewahan)fiturnya.

Hanya konsistensi karakter yang membuat Mac dan BMW masih “berbeda” dengan yang lain. Yakni kidney-grill dan konco-konconya serta palang atas berikut suara Mac Chime itu, juga dockingnya

Hal sederhana, namun ternyata menjadi pembeda yang luar biasa. Susah ditandingi lawan-lawannya. Kecuali ntar manajemennya salah langkah, bukan tak mungkin nasib mereka terjungkal.

Semoga Mac dan BMW terus selalu mengusung konsistensi mereka.

– Freemac HW,
pengguna BMacW.

Part KW = Buang Uang

Setelah 10 taunan bekerja, kiprok (regulator rectifier) bawaan motor modyar.

Sempat ane belikan yg kw, harganya sepertiga sampe setengah orinya, ndhak pake lama modyar lagi. Alhasil balik kanan lagi.

Nilai moralnya: pake part kw kadang bahkan seringnya malah buang-buang uang.

***

Di kijang rasanya sama juga. Dan kalo buat kijang, ane juga masih berani ngomong gitu: pake part kw kadang malah buang uang. Persoalannya, buat kijang part orinya juga murah. Shock ori aja sepasang cuman 400an rb. Mungkin sekarang 500 rb.

Malah part kw Kijang juga kualitasnya udah mendekati OEM.

Saya pernah ganti spion, sebiji cuman 25rb. Plastiknya emang ndhak se-firm orinya. Tapi kacanya ndhak getar, sudut pandangnya juga pleg ama orinya. Ndhak lebih cembung atau cekung, obyek ndhak tampak lebih dekat atau lebih jauh. Dan baut setelan kekencangannya juga bekerja sempurna. Ndhak gampang dol/slek. Dan itu spion udah bertahun-tahun terpasang di pintu, menggantikan spion ori yg pecah kesampluk gandengan truk yg mobat-mabit di jalan.

Berapa harga spion Kijang yg ori? Saya ndhak tau. Toko yg jual ndhak nyetok. Mungkin ndhak ada yg nyari kali ya? ๐Ÿ˜€

Cuman kalo batok lampu belakang Kijang, pendaran cahaya yg kw tetep ndhak bisa seterang yg ori.

Lampu belakang Kijang, yg kw mika lampunya doang 25rb sebiji. Kalo sama batoknya 250rb per set/dua biji. Sementara lampu ori (batok sama mikanya, udah ter-lem menyatu, non buka-able) 550rb sebiji!

NAH, di BMW/Audi sama juga. Part kw, kita biasanya nyebut “yg biasa”, sering kejadiannya juga ndhak awet.

Case paling sering kita dengar adalah visco fan. Yg biasa 450rb.

Biasanya temen-temen kalo udah pernah kebuang uang gara-gara part biasa, baru nyari “yg bagus”. Kayak visco, yg bagus harganya dua kalinya.

Kualitas “yg bagus” ini memang bukan ori dalam pengertian ada capnya BMW. Tapi dia udah kelas OEM.

Untuk kaki-kaki, shock misanya, biasanya cuman ada satu pilihan kualitas: “yg bagus” semua.

Hanya opsi/ยญmerknya beragam. Ada yg orientasi empuk-nyaman-touring, ada yg orientasi keras-sport.

Kayak packing/gasket mesin gitu malah adanya satu pilihan doang. OEM.

Di Audi sama kayak BMW, ada yg biasa sama yg bagus/OEM.

Tapi di beberapa item, pilihannya malah yg biasa sama langsung ori dengan cap/logo Audi.

CUMAN masalahnya, kalo part ori motor suzuki, meski harganya tiga kali lipat yg kw, masih relatif enteng dijabanin.

Kalo part OEM BMW, hiks… Ya jelas beda, motor vs mobil.

Tapi di luar itu, benefit yg hadir juga beda. BMW tua pake parts bagus, relatif masih lebih nyaman ketimbang mobil sejuta umat yg gress sekalipun, yg harganya masih berlipat-lipat dibanding BMW terestorasi.

IMHO.

Selamat Tinggal WA

Duluuu, waktu WA mulai populer di negeri ini, saya masih belom nge-intstall.

Selain waktu itu hape masih tipe 3G jadul dengan layar cuman 3,5″ dengan resolusi 480 x 320 pixels, saya ndhak (pernah) punya paket data untuk hape dan hanya terkoneksi via wifi-only;

saya ini juga tergolong lambat menerima perkembangan.

Akun fesbuk pun awalnya saya numpang sama akun istri. Hanya sekedar buat chit-chat. Hingga kemudian temen di pihak saya tambah banyak dan akhirnya saya bikin akun sendiri.

Pun dengan WA. Karena banyak yang nanyakan, akhirnya saya pasang WA dan ikutan beragam grup.

Boom!

Hape jadul itu ndhak kuat kena serbuan notifikasi yang bisa seribuan saban hari. Notifikasi emang bisa di-mute sehingga tak ada centhang-centhung pun load media-content bisa di-disable; tapi tetep saja banjir trafik WA gitu bikin hape hang terus.

Alhasil WA saya uninstall.

***

Sampe kemudian ada rejeki buat ganti hape. Sebuah hape 4G dengan harga termurah yang ada di pasaran kala itu. Dan kali ini rutin saya isi paket data, mengingat pake data 4G harganya sudah sedemikian relatif murah dan terjangkau. Dengan harga yang sama, paketan 4G bisa dapet data 10 kali lipatnya 3G. Plus satu keuntungan bahwa area edar saya dominan masuk jangkauan sinyal 4G.

Saya install WA lagi. Entah gimana ceritanya, ternyata saya ter-unsubscribe dari beragam grup yang sempat saya ikuti sebelumnya.

Akhirnya saya masuk lagi ke beragam grup yang saya ikuti sebelumnya.

Dan kejadiannya sama: jibunan notifikasi dateng ke hape setiap hari.

Hape yang ini sedikit lebih kuat. Tapi settingan standar saya pakai: mute semua grup, dan disable auto-load media-content sekalipun pake wifi.

Plus kali ini: setting notifikasi (show notification) dari aplikasinya saya matikan/uncheck/tak tercentang. Jadi selain tak ada suara karena saya mute, juga tak ada notifikasi di bar atas hape.

Alhasil. saya akan baru tau kalo ada WA masuk ketika aplikasi WA-nya saya buka/nyalakan. Lainnya itu, jika sekian hari lamanya aplikasi WA (males) saya buka, ya saya ndhak pernah tau kalo ada yang nge-WA saya, baik dari personal apalagi dari grup.

***

Dan sekarang case yang saya temukan beda, bukan lagi hape yang mbledhuk terkena serbuan postingan WA.

Kali ini case-nya dalam pengamatan saya pribadi: tingkat kegunaan WA ketika berada di tangan saya, saya nilai sekitar 5-10an % saja. Sisanya: sesuatu yang ‘tak akan terjadi apa-apa’ kalo saya ndhak ngecek WA.

Maklum, saya bukan pedagang online yang wajib punya nomor WA untuk mem-paste informasi yang sama berulang-ulang kepada banyak orang.

Padahal mustinya bisa aja kan ya sebenarnya satu informasi itu di-posting ke laman fesbuk atau laman web misalnya, sehingga bisa dibaca dulu oleh (calon) kustomer, dan baru nge-WA untuk menanyakan info yang belom jelas, gitu kan ya?

Tapi mungkin habbit, behavior, dan kultur di Indonesia sini beda. Orang kayaknya lebih suka nanyakan beragam hal satu per satu sambil jalan dan sambil lalu ketimbang “membaca dulu seluruh buku manual sebelumnya” untuk memahami sesuatu.

Kebetulan, saya tidak berada di lingkaran aktivitas yang (suka nanyakan beragam hal satu per satu sambil jalan dan sambil lalu) seperti itu. Maka secara ostosmastis, kebutuhan saya akan WA jadi rendah sekali.

Kalo ada hal penting, lebih clear kalo saya pakai metode komunikasi SMS atau telpun langsung.

Mengingat kesumpekan di dalam tubuh hape yang sudah tak bisa saya kendalikan, dan saya ternyata juga kesusahan untuk mengingat informasi yang telah terposting via WA, maka akhirnya dengan berat hati saya putuskan uninstall WA untuk yang kedua kalinya.

***

Lama saya udah uninstall WA dari hape, ternyata status WA saya di kontak temen/rekan/relasi/kolega masih menyala aktif. Saya cek di hape istri atau hape lain, ternyata status saya masih “pakai WA”. Padahal aplikasinya sudah saya uninstall.

Saya cari-cari opsi signout agar tidak nongol di kontak orang lain, ternyata ndhak ada.

Alhasil barusan ini tadi:
– saya install ulang WA, untuk
delete account, dan
uninstall WA lagi.

Pfiuh…

***

Dengan melenyapkan WA dari hape, saya bukan koq anti (media)sosial. Cuman sekian lamanya make WA, setelah saya pertimbangkan, kegunaan WA ketika berada di tangan saya, saya nilai sekitar 10an % saja. Sisanya: sesuatu yang ‘tak akan terjadi apa-apa’ kalo saya ndhak ngecek WA.

Tapi jangan salah, sekali lagi saya bukan antisosial/anti-medsos koq!

Buktinya, saya masih rajin mantau angkringan-online ini.

Sebab mau ndhak mau musti saya akui, fesbuk ini paling rapi dan paling organized sistemnya. Kita bisa ikutan banyak grup tanpa harus terpaksa menerima postingan/komenan/atau semacam itulah entah apa namanya. Karena bisa di-unfollow(-post) atau kita tak menerima notifikasi jika tak menyalakannya.

Kalo di WA, meski notifikasi bisa di-mute, tetep status kita mau tak mau haru terus nerima postingan masuk.

Lainnya itu, WA kalo udah puanjang scroll-nya, saya jadi susah nyari lagi ke atas. Apalagi dengan hobi saya yang suka nge-clear-chat.

Kalo di fesbuk gini, postingan lama masih bisa dicari dan ditemukan lagi. Tidak perlu menanyakan hal yang sama berulang kali, kecuali case tertentu atau khusus atau mendesak gitu.

Well, selamat tinggal WA. Entah ini seterusnya, atau entah saya harus terpaksa install lagi suatu saat nanti karena satu dan lain hal.

– FreeWA HW

Jag

Kalo modelnya, menurut saya ganteng Jag XE ini ketimbang BMW F30 atau Mercy W204.

Cuman; kalo BMW dari dulu sampe sekarang tampangnya konsisten cakep dan kerennya, sporty abis gitu – dan saya mulai ndhak suka karena gurat-gurat garis bodinya mulai bejibun ndhak simpel lagi;

atau Mercy juga konsisten dengan nuansa khasnya sendiri yang seperti itu;

Jag XE -seperti yg dikatakan di pereview di video- ini tampangnya kini baru keliatan cakep dari yang kemarin sempat hancur dan gagal parah di X-Type.

Sementara kalo Lexus, mood-mood-an. Kadang dia keliatan cakep, macam LS460 atau IS300, kadang hancur telak macam LS430 yang mirip Mercy atau yg model sekarang yang entah mirip apa itu.

Audi, karena dia sebenarnya VW yang ganti tampang, maka tampangnya ikutan nuansanya VW. Tapi sejauh ini dia selalu keren, karena simpel, dan selera saya emang yang simpel dan minim gurat-gurat garis bodi gitu.

Volvo? Dia senantiasa diam menanti kedatangan seseorang di ujung jalan sana.

HARI sekarang ini, umpama disuruh milih Mercy, BMW, atau Jag baru; saya milih Jag-nya. Atau Audi.

Ini cuman masalah tampang, bukan masalah rasa.

Menurut saya pribadi ini.

– FHW
ngablak.

Legroom Headroom Seat

Ini tentang mobil (yang ada di keluarga) kami. Ada satu mobil, kalo dilihat sepintas tampak legroom-nya lapang banget. Udah gitu kabinnya kesannya roomy banget. Headroom-nya kayak lega banget.

Tapi setelah diduduki, ternyata legroom ndhak lapang-lapang amat. Headrest juga ndhak lega, malah pada posisi duduk normal di jok belakang, kepala saya nyundul plafon.

Opsi duduknya: saya musti di depan, atau kalo di belakang kepala musti saya tekuk atau bokong agak geser ke depan sehingga punggung bisa sedikit membungkuk dan dengkul terpaksa lebih nekuk lagi.

Koq bisa kalo dilihat atau difoto tampak lega?

Karena tatakan duduk(/hip)nya ternyata pendek, ujung joknya masih “jauh” dari engsel dengkul. Bikin capek kalo duduk di perjalanan panjang. Karena paha seperti menggantung gitu.

Juga sandaran punggunggnya ndhak seberapa tinggi. Headrest pada posisi mentok bawah cuman kena di leher. (Neckrest dong jadinya?) Plus tebal jok+sandarannya tipis. Jadi secara proporsional dia (seolah) tampak lapang+lega kabinnya: legroom-nya seolah lapang, headroom-nya seolah lega, seat-nya seolah lebar. Padahal aslinya malah sempit banget.

YANG di atas itu masih mending, karena pada posisi nyetir, dengkul ndhak ngepres kiri-kanan. Alias selangkangan saya masih bisa sedikt mengankang.

Ada satu lagi mobil masih di barisan keluarga (besar) kami, dia jelas tipikal mobil irit dan yang ini headroom-nya malah lumayan, tapi legroom-nya sama sempitnya dan seat-nya juga pendek banget plus kalo posisi nyetir dengkul saya mentok kiri-kanan. Kaki seperti kejepit dari samping kiri-kanan gitu. Dan yang ini malah yang paling ndhak enak, soale selangkangan jadi ndhak nyaman banget puolll. Hiks…

Sementara mobil satunya, kabinnya malah terkesan ndhak seberapa roomy. Headroom-nya juga ndhak tampak lega. Legroom-nya pun kalo dilihat seperti pas-pasan.

Tapi setelah kita duduk, nyamannya luar biasa. Kaki malah bisa sedikit lebih selonjor, sama sekali ndhak nekuk banget. Headroom di jok belakang pada posisi duduk normal beneran lega banget.

Malah joknya lebih mem-bucket, sehingga badan kayak dipeluk, pas banget.

Koq bisa kalo dilihat atau difoto tampak sempit kabinnya?

Karena tatakan duduk(/hip)nya ternyata panjang, ujung joknya sampe mentok ke engsel dengkul. Bikin nyaman kalo perjalanan panjang. Karena paha ndhak kerasa menggantung gitu.

Sandaran punggungnya juga lebih tinggi. Headrest posisi mentok bawah aja pas di kepala. Plus jok dan sandarannya tebel banget. Jadi secara proporsional dia malah tampak sempit kabinnya: legroom-nya kayak sempit banget, headroom-nya kayak mepet banget, seat-nya kayak buntek gitu. Padahal aslinya lega banget.

Yach, pada saat barunya, keduanya memang mengusung pepatah kekinian: ada harga ada rupa.

Cuman pada saat sekennya, itu mobil yang kabinnya cuman tampak lega padahal aslinya sempit, depresiasi harga jual kembalinya malah rendah alias harga jual kembalinya masih lumayan tinggi dibanding harga barunya.

Karena mesinnya irit, salah satunya karena cc-nya yang kecil plus bodinya yang uentenggg banget. Sehingga mesin ndhak ngoyo untuk membuatnya melesat.

Sementara mobil yang seolah tampak sempit padahal aslinya lega banget depresiasi harga jual kembalinya ekstrim hancur jeblognya. Mungkin karena bensinnya boros, soale perlu mesin besar untuk menggotong bodinya yang berbobot (baca: berat banget).

Well, ternyata, masalah kondisi kabin (baca: kondisi keergonomisan tempat duduk/seat) adalah faktor yang tidak memveto harga jual kembali sebuah mobil menjadi bertahan. Kenyamanan berkendara ternyata tidak membuat depresiasi harga jual kembali bisa dicegah-tangkal dan ditahan kemerosotannya.

Yang diperlukan pasar pada kenyataannya adalah mobil yang irit, bukan yang nyaman. Mungkin karena fisik orang Indonesia kuat-kuat. Sehingga duduk dengan posisi “paha menggantung” pun enak-enak saja rasanya.

Kata orang, kenyamanan itu cuman masalah rasa dan bagaimana kita menerimanya.

Dan bagi saya: mobil ndhak nyaman bagi saya namanya ya tetep aja mobil ndhak nyaman. Bikin pinggang dan punggung mau patah rasanya. Ndhak ada istilah ndhak nyaman itu berubah jadi nyaman hanya karena persepsi (baca: stimulasi dan pengelabuan otak oleh hiburan dari diri sendiri).

Ini bukan karena kami tidak bersyukur. Ini cuman ngomong fakta. Ndhak bersyukur itu kalo saya ndhak mau dan menolak mentah-mentah naik mobil yang ndhak nyaman. Wong pada kenyataannya, dominan jam jalan saya juga di atas motor skutik 110cc atau mobil bersuspensi belakang leaf-spring koq!

Dan terakhir kalo kata orang kenyamanan itu mahal, bagi kami justru berbalik telak: kenyamanan ternyata malah itu murah meriah. Cuman separoh bahkan sepertiga bahkan seperempat harganya dari ketidaknyamanan. ๐Ÿ˜› ๐Ÿ˜€

Tidak penting apa merk dan tipe mobil yang saya uraikan di atas. Yang jelas itu semua ada di barisan kendaraan keluarga (besar) kami, dan kami udah menaiki semuanya pada perjalanan yang lumayan panjang yang cukup buat menemukan perbedaan (rasa) masing-masing. Kami hanya ingin mencoba menguraikan komparasi teknisnya secara deskriptif saja, bukan secara definitif.

Sekali lagi, ini tentang mobil (yang ada di keluarga) kami. Bukan ngomongin mobil Anda.

– FHW
punggung & pinggang vs bensin & perawatan.

Lenyapkan Kerukunan

Yang paling mengerikan jika Indonesia kuat memilikinya adalah: kerukunan.

Jikalau semua suku, semua umat beragama, semua aliran agama, semua golongan, hobi banget saling rukun saling tolong saling memaafkan saling memberi saling membantu getol melindungi semua umbar senyum gemar tertawa berpikir dewasa berhati bijak berlaku bajik dll. serta bersatu padu bergotong-royong saling mengisi dan memajukan kehidupan ketentraman kedamaian bersama;

jikalau semua suku, semua umat beragama, semua aliran agama, semua golongan demen banget menolak perpecahan melupakan friksi/gesekan cepet memaafkan muak menyakiti ndhak gampang tersinggung dll.;

maka Indonesia akan teramat susah untuk dikuasai dan dikendalikan oleh demi untuk kepentingan siapapun.

Maka kerukunan harus sebisa mungkin dieliminasi kalo perlu dilenyapkan keberadaan dan kekuatannya dari negeri ini dengan segala cara segala taktik segala strategi segala metode segala alasan segala apapun; mulai paling kasar sampai paling halus.

Tentunya akan sangat mengerikan jika kerukunan ada teramat kuat di negeri ini, maka Indonesia akan teramat susah untuk dikuasai dan dikendalikan oleh demi untuk kepentingan siapapun.

Tentunya akan sangat menyenangkan jika kerukunan bisa dilenyapkan dari negeri ini. Maka kedaulatan dan kemandirian akan runtuh dengan sendirinya dari negeri ini. Indonesia akan kekal hidup dalam dikte.

Maka akan sangat mengerikan jika kerukunan dan kedamaian hidup teramat kuat di negeri ini.

– FHW