Trik Memilih BMW Seken

Dapet pertanyaan kayak gini, “Di-compare dong amtara tipe ini vs tipe ini vs tipe ini; yg komplit semuanyalah, trus value masing-masing model biar kami yg ekstra nubie ini paham jika nanti menetukan pilihan, apalagi yg tinggal di kota kecil macam kami ini,”

Kalo super ekstra nubie, prinsipnya gini aja: beli BMW yg se-baru mungkin yg kitanya kuat ngangkat plus siap budget maintenisnya.

Soale kalo udah keterlaluan tuanya si BMW, dia udah pindah posisi dari mobil fungsional ke mobil hobi dan koleksi. Maintenisnya malah ngelunjak, soale tingkat kerusakannya asumsinya makin parah dan partsnya khawatirnya makin langka. Kecuali njenengan bersedia menyelami sedalam-dalamnya sehingga bisa me-manage waktu dan budget buat hunting parts atau nyari subtitusinya sedapat-dapatnya.

Kalo asal terbaru mungkin, jatuh perawatannya malah enak/gampang. Cuman gampang bukan berarti (relatif paling) murah lho!

Jadi kalo misalnya budget siap berapa nih, taruh kata 50 atau 100 atau 150 atau mungkin cuman 25 misalnya; ya dari kesiapan budget itu baru hunting yg sebaru mungkin yg bisa diangkat plus budget itu termasuk maintenis awalnya. Soale biar gimana-gimana, kita beli mobil buat dipakai; bukan mindah mobil ngangkrak dari garasi orang ke garasi kita.

BERAPA yang musti disiapkan buat maintenis/benah-benah awal?

Ini relatif banget. Dan banyak patokan yg beredar di beragam kalangan bimmerfan.

Tapi setidaknya, perlu biaya buat tune-up – ganti semua fluida: oli mesin, oli transmisi, oleh gardan, minyak rem, minyak power-steering, air radiator, dll dll; ganti semua filter: filter bbm, filter oli, filter udara, filter kabin/filter AC; ganti bvusi dan semua belt; dll. Tune-up standar gitulah. Kecuali sama sellernya disebutkan kalo itu semua barusan diganti.

Termasuk drier dan freon+oli kompresor AC juga. Sukur-sukur sekalianseal-seal sambungan AC. Ini sering bikin masalah bocor. Drier yg udah kadaluwarsa juga bikin kompresor kasihan kerjanya ntar. Oia, avap bersihkan juga.

Plus beberapa hal yg kita curigai udah rawan ganti: kaki-kaki, ban, water-pump, thermostat, dll. Karena itu semua tersembunyi dan rawan bikin runyam kalo ndhak diganti. Ya sekali lagi kecuali kalo sellernya bilang udah ada penggantian itu sebelumnya.

Kalo mau joss lagi, ya restorasi. Mesin turun setengah buat dibersihkan, semua gasket diganti baru, termasuk seal-klep. Serta pastikan bearing-bearing dalam kondisi lancar: bearing AC, tensioner, dll.

Itu semua kalo dikerjakan di mobil lawas sejuta umat, biayanya cuman sekian persen dari harga perolehan mobil. Kalo di BMW, itu semua bisa sama bahkan melebihi harga beli mobilnya!

Suka ndhak suka, senang ndhak senang, percaya ndhak percaya, plis jadikan ini pegangan. Dan inilah emangf yg bikin harga biem jatuh hancur. Soale maintenisnya emang sering mengejutkan dan bikin shock bagi sesiapa yang memaksakan persepsi maintenis biem kayak mobil jepangan pasaran.

#Saya duliu beli biem juga bisa dipakai dan larinya kuencang koq! Meski sekarang ngangkrak. 😛 😛 😛

Secara sederhana, yang musti kita pegang kala nyari biem seken secara umumnya:

  1. Prinsip ngambil biem adalah se-baru mungkin/semuda mungkin tahunnya. Biem itu newer is overall better.
  2. Jangan habiskan budget buat ngangkat aja. Budget yg tersedia musti dipecah/disiapkan buat: ngangkat + benah-benah awal.
  3. Nah, dari budget yg disiapkan itu nantinya baru bisa diarahkan bagusnya ke model apa.
  4. Mau apapun tipe biemnya, persyaratan dasarnya adalah: kita musti tahu bengkel rujukan, paham teknis-teknis dasar: cek/nambah air radiator – kebanyakan tipe biem pakai sistem bleeding, dan paham semua makna/maksud indikator di instrument-cluster. Wajib! Terserah gimana cara Anda.

Tambahan dikit: pas hunting upayakan printhilan slow-movingnya dalam kondisi bagus. Slow-moving ini macam parts/kondisi interior, lampu-lampu, dll. Soale bikin bagus itu semua, budgetnya alamak bener deh!

Nah, di atas saya bayangkan: dari budget yg disiapkan itu nantinya baru bisa diarahkan bagusnya ke model apa. Pilihan model ini, nantinya akan disesuaikan dengan selera Anda.

Akan ada sedikit kompromi di sini. Seri 3 mungkin harga perolehannya sedikit lebih tinggi ketimbang seri lainnya, khususnya seri 5. Karena biem ini emang yg paling pasaran dan paling dicari. Maklum, rasa dan sensasinya tetep biem, sementara dia relatif paling irit dan maintenisnya paling mudah+murah diantara seri-seri biem lainnya. Meski per varian nanti bisa saja menghasilkan kesimpulan yg berbeda. Tapi secara umum bisalah kita bilang kayak gitu kan ya? 😀

Kalo misalnya satu varian, misalkan E34 M20 vs E34 M50 vs E34 M50TU (Vanos); ya tetep prinsipnya yg terbaru mungkin. Yakni M50TU. Karena kalo dalam kondisi optimal, tentu varian terbaru yg meberikan optimasi paling bagus. Optimasinya pada umumnya: bensin lebih irit, namun tenaga lebih gedhe. Kalo perkara maintenisnya gimana, itu tergantung kondisi si mobil aja kalo khusus case spesifik kayak gini.

Jadi inti dan kuncinya sih ya itu tadi: sebaru mungkin yg budget kuat ngangkat plus sekalian maintenisnya.

DARI segala susahnya nyari biem plus maintenis awal tersebut, sayangnya biem cuman ngasih satu hal saja: kepuasan tiada tara nan tak tergantikan.

Gak percaya? Terserah koq. 😛 😛 😛

IMHO, CMIIW. Ini cuman pikiran subyektif saya pribadi, monggo kalo ada yg mau ngoreksi atau nambahi.

Moga membantu & bermanfaat. Terima kasih sudi meluangkan waktu membaca clometan saya.

– FHW TU Non-Vanos Halah Mbuh

Advertisements

Philips Retro

Menjelajahi dunia maya, saya lagi pingin mengkoleksi gambar-gambar produk dari Philips yang bertema retro. Umumnya produk-produk ini tak dipasarkan di Indonesia. Bahkan di sononya, beberapa produk juga sudah diskontinyu.

Jika dulu produk-produk tersebut masih berteknologi analog, yang tentunya sudah sedemikian teramat canggih pada eranya, plus desain yang genuine: tak ada sebelumnya; maka tentunya di era kekinian produk-produk tersebut sudah pada digital semua.

Itu Philip Boombox, atau tape-compo lazim disebutnya di sini pada era 90an, slot kasetnya berisi colokan USB. Buat flashdisk tentunya. Atau mungkin ada CD-playernya di dalamnya situ.

Entahlah. Saya tak terlalu menelusuri sepk masing-masing produk. Saya hanya terkesima dengan desainnya yang luar biasa. Luar biasa keren, dan bisa jadi inspirasi: semacam melanggengkan tradisi yang adaptif dengan kondisi era kekinian.

BTW, anak-anak sekolah sekarang ngerti tape-compo atau mini-compo enggak ya? Yang jelas kalo si kecil kami sih enggak ngeh. Meski masih ada mini-compo peninggalan jaman kuliah ibunya di rumah.

Thanks Philips, you inspire us.

– FHW double-deck

Philips Original Radio ORD7300

Philips Original Radio ORT7500/10

Philips Original Radio Mini ORD2100B/37




Philips Retro Radio AE2730

Philips Sound Machine OS685/05



Philips Retro Vinyl Spinner OTT2000


TAMBAHAN

Philips Classic LED, bohlam LED serasa bohlam pijar/filamen.



Nintendo Classic Mini, mengingatkan era 90an. Permainan di dalamnya pun berisi permainan era 8bit kala itu.


Honda Super Cub



Honda Super Cub 2017, lampunya LED, tentunya.

Chevrolet HHR, melahirkan kembali van 60an.




Chevrolet SSR, melahirkan kembali truk 60an.



FORD Thunderbird



Chrysler PT Cruiser


VW New-Beetle


MINI

Korban Matic

Di kampung halaman pedalaman Kediri gini, sejauh pengamatan sepintas saya, publik masih kurang doyan sama mobil matic. Banyakan maunya pada mobil manula. Eh manual.

Jadinya kayak dua temen saya. Yg pertama kali nyetir mobil matic kami. Keduanya sama-sama mengutarakan report yg sama: pas enak-enaknya nyetir, kaki kiri nginjek rem sekuat tenaga, berasa nginjek kopling yg emang biasanya diinjek sekonyong-konyong bukan pelan-pelan.

Alhasil, seisi mobil pada mencelat ke depan.

Meski bukan kategori apa-apa dan mencelatnya aman-aman saja, sumpah serapah keluar dari para penumpang.

Kebalik sama di luar negeri yang mayoritas kendaraan di sana bisa dipilang “pasti” matic. Saya pernah mbaca di suatu media, sayangnya pas saya googling ulang koq belom ketemu: ada maling yg udah ngerusak mobil buat diembat. Tapi si maling ngurungkan niatnya karena itu mobil transmisinya manual.

Well… Sekarang trend penjualan mobil di Indonesia, khususnya di kota besar, yg laku malah yg matic. Jalanan semakin macet, orang udah males ngopling.

Begitulah, beginilah ketikan iseng saya di siang ini.

– Freema Bapakne Rahman
Manumatic
Triptonic Tiptronic Steptronic Manumatic
Matic
Automatic
Manual

Nyetir Lagu, Mendengarkan Kendaraan

Bukannya pro atau kontra sama pak plokis isilop, tapi kalo saya pribadi emang juarang ndengerkan musik di perjalanan.

Bukannya gk pernah apalagi gk pernah sama sekali, pernah dan lumayan sering juga koq.

Cuman overall saya lebih suka tanpa musik, atau volume lirih/secukupnya aja muternya; dan enakan ndenger radio atau ngobrol sama istri.

Jadi, haram bin mubadzir nbih pasang audio kenceng-kenceng? Saya ndhak bilang gitu. Itu case-nya macam lampu HID yg warnanya buuuiiiruuu. Atau stop/tail-lamp yg harusnya merah dijadikan putih.

Boleh koq, kalau keperluannya kosmetikal-artistik, misalnya untuk kontes, karena itu -katakanlah- ada unsur keindahannya. Yaaa mobil dalam satu sisi tertentu kan juga merupakan benda seni, sebagai makanan psikologis. Atau apalah alasannya terserah. Ini sangat relatif sekali. Ndhak bisa di-gebyah uyah, di-judge dengan pukul rata.

Tapi kalo udah berbicara jalan raya, ya itu: aturan adalah di atas segalanya. Lamnpu depan buiru, stop/tail-lamp putih, ya hukumnya haram jadah. Membahayakan diri sendiri dan terutama orang lain. Bisa sampe nyawa urusannya. Kasarnya kata: gara-gara stop/tail lamp putih itu bisa jadi nyawa orang melayang. Bukankah ini sama artinya dengan pembunuhan (berencana yg dilakukan tanpa sengaja)?

Yakh intinya sih: driving is driving. An sich.

Kita musti bisa nyetir/mengendalikan lagu (agar tak mengganggu) dan mendengarkan, merasakan, get the feel dan keep in touch dengan kendaraan. Jangan samapi pas enak-enaknya ndengerkan musik kenceng di kabin, gk sadar kalo bumper lepas (ya embuh apa sebabnya, pokoknya contohnya gitu. 😛 Weeekkk! 😀 Hehehehehehe)

MUSIK, radio, ngobrol itu mengganggu? Tergantung kitanya sih.

Pas istri nanyak sesuatu dan saya lagi butuh konsentrasi, ya jawabannya saya pending dulu bentar koq. Usainya baru saya bilang ke istri, “Eh nanyak apa tadi?”

Trus saya di keplak mesra. Saking mesranya sampe pipi saya panas, berasa ngecap tangan gitu.

Istrimu mesra gitu juga ndhak sama kamu lik?

Regards,
– Freema Bapakne Rahman
Supir keluarga.

*********

Ini penjelasan psikolog tentang musik di mobil itu:

Tapi memang saat mendengarkan musik di mobil, musik bisa membuat perhatian Anda teralihkan saat menyetir, atau istilah kerennya distraksi.

Menurut psikolog Agatha N. Ardhiati, 88 persen pengendara selalu mendengarkan musik di dalam kendaraan, sementara sisanya kadang-kadang saja atau tidak mendengarkan musik.

“Faktor-faktor distraksi adalah apa yang kita lihat, dengar, cium/hirup, rasakan, pikirkan. Sebenarnya walaupun lewat indera pendengaran, tetapi lewat musik kita bisa memunculkan emosi, perasaan tertentu, dan itu yang membuat jadi distraksi saat nyetir,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Alasan kedua musik bisa jadi distraksi saat menyetir adalah kita bisa tiba-tiba jadi mengkhayal, memikirkan pengalaman masa lalu.

“Jadi bukan hanya musiknya saja, tetapi efeknya bisa memunculkan emosi/perasaan tertentu,” ujar Agatha.

Jadi bagaimana mendengarkan musik yang benar dalam mobil? Dia menyarankan pengguna kendaraan memilih lagu-lagu atau membuat playlist yang bisa menjaga emosi.

“Kalau lagi galau, jangan setel lagu-lagu galau, diganti ama yang senang. Pilih musik yang sesuai yang bisa berfungsi menjaga perasaan, kalau tadi senang tetep senang,” ujarnya.

Namun ada kalanya saat nyetir kita benar-benar harus mematikan musik, misalnya saat parkir kendaraan.

“Matiin saja musiknya, jangan sampai tukang parkirnya sudah bilang setop-setop eh malah ‘dug!’ udah deh,” ujarnya.

Saat melalui jalan tikus yang sempit, kadang kita perlu mematikan musik, karena saat itu butuh konsentrasi yang tinggi.

“Tetapi kalau kalau situasi normal, biar moodnya bagus menyalakan musik sih oke-oke saja,” pungkasnya.

Lengkapnya silakan menuju dimari https://oto.detik.com/berita/d-3894221/heboh-larangan-dengarkan-musik-di-mobil-ini-penjelasan-polisi

Kreatif

Dia malah sibuk nggambar papan tatakan kertas ujiannya. Ujian Semester & try-out menghadapi UN. Entah kapan dia nyoret-oret itu papannya.

Kayak buku-buku pelajarannya, isinya penuh coret-coretan. Sementara pelajarannya malah gk ditulis. Soal ulangannya juga sering gk diisi jawabannya.

Separuh buku mungkin ada: isinya oret-oretan semua.

Maka sesuai sistem pendidikan (negeri) di Indonesia: semua coretan kreativitas dan kisah imajinasi otaknya yg setinggi langit itu ostosmastis diabaikan,

dan “kepandaian & kecerdasannya” hanya akan diukur dari jawaban ujian yg dia kerjakan, dari nilai yg ditentukan oleh kurikulum.

– Ibune Rahman

Bukan Mak-kluwer!

Terima kasih pak, udah ngasih saya jalan duluan. Bapak baik banget, gk kayak pengendara lain yg kadang udah jelas gk berhak jalan tetep aja nekat nyrondol.

Tapi gini pak, dalam hal posisi kita sama, seimbang, atau dianggap setara; yakni ketika kita sama-sama jalan ntar kita bisa tabrakan;

atau ketika saya jalan itu bisa membuat bapak ngerem mendadak atau setidaknya ngerem dengan (lumayan) keras;

maka bapaklah yg harus jalan duluan.

Karena di regulasi lalu-lintas, bapak yg jalan lurus gitu punya hak sepenuhnya ketimbang saya yg hendak berbelok.

Jadi mustinya bapak tadi ndhak usah memelankan diri dan berhenti untuk ngasih kesempatan saya untuk berbelok.

Sayalah yg wajib menunggu bapak lewat dukuan, baru saya melaju berbelok.

Yaaa kecuali bapak dan di belakang bapak tuh puanjangggg barisannya, yg kayak gitu baru terima kasih banget jika bapak bersedia mem-pause barisan untuk memberikan kesempatan pengendara minoritas gini berbelok. 😀

Well…

Semoga selamat di perjalanan sampai tujuan ya pak. Sehat selalu buat bapak dan keluarga, berkah rejekinya senantiasa.

Kalo di Indonesia ini orang isinya mayoritas kayak bapak, betapa nyamannya lalu-lintas di negeri ini.

Saya impressed banget tadi sama ketulusan bapak ngasih jalan duluan ke saya.

Sayangnya orang kayak bapak ini sepertinya langka, laksana pandawa di kerumunan kurawa.

Tapi, meski cuman seuprit dibanding kurawa, pandawalah yg menang. Orang bala pandawa kayak bapaklah pemenang dalam kehidupan ini, meski mungkin bapak sering disleding pengendara-pengendara bala kurawa.

Barakallah.

– FHW
Bukan baladewa. Cuman generasi dewa19.

BMW E34 520i Non-Vanos

Untuk BMW E34 520i non-vanos , perhatikan aja:

  • Mesin jangan pincang, apapun alasan(seller)nya.
  • Knalpot jangan sampe ngasep pedih apalagi sampe berasep putih yg pedih banget.

    Kalo berasep banyak pagi-pagi dan ndhak pedih, itu malah sehat. Asep embun, kompresi mesinnya masih bagus brarti.

  • Jalankan pelan. Mobil jangan sampai tersendat-sendat.

Paling enak sih kalo seller-nya fair: kapan km terakhir tune-up: ganti oli, ganti filter oli, kiras transmisi, ganti filter udara, ganti filter bensin.

Jadi maintenisnya dapet dikira-kira.

***

Bener kata lik Berlin Sianipar: utamakan interior rapi. Mesin relatif mudah untuk dibenahi.

Namun demikian, pastikan:

  • Power-window lancar semua.
  • Semua kaca gk ada yg retak.
  • Lampu-lampu utuh.
  • Kabel gk ada jumper-jumperan acakadut.

Kalo jadi meminang, jika tidak ada riwayat perbaikan/perawatan barusan dari seller, maka persiapkan kocek buat:

  • Tune-up total (ganti oli, filter oli, filter udara, filter bbm).
  • Cek kesehatan rumah sekering (fuse box item di bagian kiri kompartemen mesin). Semprot total sama penetrant. Pastikan gk ada soket yg gosong. Lantas cadangkan sekring cadangan yg bagua. Jangan yg ece-ece. Gampang meleleh ntar.
  • Karet wiper diganti. Plafon-plafon dibersihkan.
  • Waspadai restorasi kaki-kaki. Ini muahalll: total jendral bisa 10jutaan. Tapi coba deh cek dg biaya ganti total kaki-kaki corolla atau innova. Rasanya so-so aja. 😀

    Tapi ini bisa dibikin gradual, gk langsung total, tapi kalo bisa per paket biar ongkos kerjanya gk dobel-dobel.

    Sekarang udah banyak bengkel kaki-kaki yg bisa rekondisi kaki-kaki bmw dg hasil kerja ajib koq.

    E34 adalah bmw yg termasuk generasi ekonomis. Shocknya tergolong paling murah diantara semua generasi bmw, khusunya generasi kode bodi setelahnya (e36, dst).

  • Buat pernak-pernik yg biasanya atas dasar rekues istri. Kalo dituruti, ntar istri pasti seneng. Dan biemnya ndhak boleh dijual. Jangan lupa ajak turing inisiasi buar perkenalan rasa si biem dg keluarga.

Kalo sampe semua pada bilang enakan naik biem ketimbang innova, itu bukan sentimen emosional.

Itu fakta.

Coba aja.

Selamat datang ke dunia biem.

Jangan hiraukan kata orang yg katanya, katanya, katanya, padahal mereka gk tau apa-apa.

Buktinya kuta di sini bisa-bisa aja koq miara biem dg tenaga yg beneran apa-adanya, bukan adanya apa.

Kalo orang bilang biem itu partsnya mahal, perawatan susah, bensinnya boros, percayalah mereka itu cuman katanya dan sesungguhnya benar adanya. Lho? 😁

Salam innova. Eh…