Sepatu 43

Mungkin seperti bunda-bunda yang dianugerahi anak seusia Aleef Rahman, kami juga dibikin pusing untuk urusan sepatunya. Pertumbuhan badannya yang cukup pesat, membuat kami tiap taon harus ngganti sepatunya. Bukan cuman sepatunya, juga baju dan celananya. Hiks…

Duluuu saat dia masih kecil, namanya orang tua yang sebisa mungkin selalu berusaha memberikan yang terbaik buat buah hatinya.

Masuk TK, kami belikan dia sepatu yang menurut ukuran kami sudah cakep dan (teramat sangat) mahal (banget). Sebuah Converse Chuck Taylor All Star original. Sebuah sepatu yang desainnya enggak berubah selama 100 taon ini. Dan sejak taon 2003 kemarin Converse dimiliki oleh Nike.

Sekitar dua tahunan kami menikmati kelucuan si kecil dengan sepatu model jadul tapi kerennya, sepatu itu pun harus pensiun dini sebelum ada kerusakan apapun sedikitpun: kakinya udah enggak muat masuk itu sepatu.

Masuk sekolah dasar, dia kami masukkan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Doko, Kediri. Turun grade, kami belikan dia merk lokal namun lumayan kondang: Precise.

Awet ini sepatu, baik kualitas dan ukurannya. Sepatu pertamanya di tingkat sekolah dasar ini bertahan hingga dua tahun alias hingga dia usai kelas dua.

Kelas tiga, bapaknya mencoba bereksperimen dengan membelikannya sepatu di lapak kaki lima seharga 35rb. Ternyata cuman dalam hitungan sedikit bulan, itu sepatu sudah amburadul. Kulit sintetisnya mengelupas semua. Sol/(outsole/sockliner)-nya siy bisa dijahitkan, cuman dindingnya yang kena jahitan pada sobek. Trauma jadinya kami membelikan barang yang kelewatan murahnya gini.

Tapi Allah itu maha adil dan maha pengasih lagi maha penyayang. Pas sepatu eksperimentalnya rusak, alhamdulillah si kecil dapet rejeki nomplok: dia dibelikan sepatu oleh budhenya. Ndilalah sama, sepasang Precise lagi.

Kelas empat, alhamdulillah rejeki anak sholeh, si kecil bersama seorang sahabatnya yang yatim piatu dihadiahi sepasang Tomkins, kali ini gantian Omnya yang ngasih.

Jelas awet. Sukses sampai setahun. Tapi ujung kukunya jadi bolong, kalah sama kelakuan si kecil. Dan terutama lagi: udah enggak muat.

Bersama si Tomkins ini, Aleef Rahman juga punya sepasang sepatu pantofel untuk acara resmi. Merk distro gitu. Eh enggak dinyana, sepatu ini agak buruk secara kualitas. Kulitnya melar dan ngelupas, ujungnya mulai bolong, dan lem-lemannya melepuh lepas. Mirip sepatu abal-abal harga beberapa puluh ribu. Cuman yang ini masa pakainya lumayan lama. Dan yang pasti, di akhir masanya ini sepatu benar-benar enggak bisa dilungsurkan alias diberikan ke sesiapa yang masih bisa menggunakannya.

Kelas lima dan kembali harus ganti sepatu. Kami tak langsung menuju toko sepatu, yang hari-hari sebelumnya kami udah sempat jalan-jalan dan memperhatikan harga beberapa item sepatu yang cocok untuk si kecil.

Kami buka dulu salah satu lapak jual beli lokal khusus kawasan Kediri dan sekitarnya sini.

Kami mendapati penjual yang menawarkan sepatu merk lokal lain lagi: Ardiles; dengan harga relatif sangat murah: mulai 60 hingga 125rb, tergantung ukuran. Lokasinya enggak terlalu jauh dari rumah. Tempatnya di rumahan. Stok barangnya segunung!

Cuman kami amati, modelnya memang enggak terlalu banyak. Tampaknya si mbak penjual beli/konsinyasi sedikit model dengan banyak volume demi ngedapatkan harga kulak murah. So bisa dijual dengan tetep murah tentunya, menyasar ke pembeli sepatu yang hanya berorientasi fungsi dan harga bukan berorientasi model.

Untuk ukuran Aleef Rahman kala itu hanya kena harga 60rb rupiah saja!

Beneran enggak nih sepatu?

Ah nothing to loose-lah, taruh kata hanya kepakai dan awetnya cuman sebulan, anggap saja breakdown-nya ya segitu itu. Kami pernah posting kisahnya di sini.

Ternyata eh ternyata, sepatu ini awet hingga setaon sodara-sodara! Sebagaimana janji si mbak penjual setaon kemarin pas kami membeli, β€œKalo kuatnya kuat koq Mbak. Mungkin itu sepatu duluan sesaknya ketimbang rusaknya.”

Memang sih sol bawahnya udah mulai menghalus, dan dindingnya udah mulai melar pun ada beberapa jahitan yang udah mulai lepas. Tapi sepatu ini masih bisa dipakai dengan normal kalo mau. Dan, pensiun bukan karena rusak, tapi murni karena udah enggak muat lagi! Umpama masih muat di kakinya, tentu akan kami biarkan ia memakai terus sepatu ini.

Sepatu Abal-Abal Mahal

Kelas enam, kini kaki Aleef Rahman udah makin “bengkak”. Di beberapa sepatu nomor 42 kakinya terlalu ngepas, dan itu pun dicoba tanpa kaus kaki. Jadi buat main amannya kami mau nyarikan sepatu ukuran 43 aja buat dia.

Pengalaman membeli Ardiles seharga 60rb itu membuat kami yakin, bahwa sepatu murah belom tentu murahan.

Model taon kemarin itu, taon ini harganya udah naik.

Di tempat si mbak yang taon kemarin kami beli udah abis stok ukuran besarnya, dan kami lupa nanyakan berapa harga di dia sekarang. Yang jelas udah enggak 60rb kayak taon kemarin.

Lari ke sebuah toko sepatu, kami mendapati Ardiles dengan ukuran lebih gedhe harganya kena 100rb lebih dikit, 108rb mungkin, kami lupa. Cuman si Aleef Rahmannya menggeleng saat kami tawari. Dia kurang suka modelnya katanya. Duh nih anak…!

Nyari toko lain, ada sebuah model yang ditawarkan dengan harga 100rb. Dan si kecil mengangguk tanda suka modelnya. Akhirnya kami beli.

Bersamaan dengan sepatu olah raga/sepatu sekolah tersebut, sekaligus kami beli juga sepatu cadangan berupa safety-shoes, di toko lain lagi yang spesial jualan safety-shoes. Berpotongan tinggi, dan ada besi pelindungnya di bagian ujung kuku.

Semacam buatan home-industri dengan merk tembakan, harganya enggak sampai 200rb (175rb). Biasanya, sepatu ginian terkenal awet-awet aja dipakai. Entah kalo kena minyak beneran, solnya sanggup apa enggak menahan licin sebagaimana safety-shoes yang asli.

Awalnya si kecil menolak sepatu ini. Tapi kami yakinkan kalo sepatu ini cocok buat perjalanan, atau dipakai sekolah pas bukan hari dengan jam pelajaran olah raga. Akhirnya dia mau, dan gagah banget di memakainya. πŸ˜€

***

TAK dinyana, trauma kami tentang sepatu 35an rb terulang. Ini sepatu olah raga/sepatu sekolah seharga 100rb yang baru dipakai si kecil selama enam kali, ya enam kali dalam waktu kurang dari sebulan, udah rusak parah.

Lem-lemannya bagian bawah ngelupas luas, dan kulit-kulit aksentualnya di sisi samping mengelupas semua.

Setelah kami perhatikan baik-baik, ini sepatu rasanya lebih ke merk abal-abal yang tak jelas di mana produksinya atau dari mana asalnya ketimbang merk lokal yang setidaknya udah terkenal dari beberap ataon silam atau malah berani pasang iklan di TV.

Yakh, sesal dan kecewa memang selalu datang belakangan.

Tapi kami coba sedikit usaha. Kami datangi tokonya dengan pertanyaan pertama, “Mas, sepatu di sini ada garansinya enggak?”

Sambil kami menyodorkan itu sepatu rusak yang kardusnya masih snagat kinclong.

Pihak tokonya tampak gelagapan. Tapi masih bisa membantah. “Adik saya sendiri pakai sepatu ini sekian lama aman-aman saja. Bahkan dipakai juga untuk kegiatan baris berbaris. Mungkin ini sepatu rusak karena pemakaian.”

Kami tersenyum sambil sedikit berargumen tanpa bermaksud membantah. “Mas ini kan penjual sepatu, pasti hafal antara sepatu rusak karena (salah) pemakaian dengan rusak karena memang mutu bahan dan produksinya abal-abal.

Kami tadi pertama langsung bertanya, ada garansinya enggak? Kalo memang enggak ada, ya udah gpp. Udah risiko kami (salah) memilih.

Tapi kalo boleh kami mohon, kalo bisa mungkin jangan njual sepatu yang model ini lagi. Kasihan nanti kalo ada pembeli yang menalami kejadian kayak kami, baru dipakai beberapa kali udah rusak kayak gini.”

Anehnya, si Mas tokonya sama sekali enggak membantah dan malah mengucapkan, “Baiklah…”

Tanda dia sesungguhnya menyadari dan mengakui kondisi ini.

ITU sepatu kami masukkan kembali ke dalam kardus dan kami letakkan di atas tempat sampah tertutup yang ada di depan toko. Kepada tukang parkir (liar) yang ada di situ, kami sampaikan kalo kami meletakkan sepatu bekas, tidak sobek dinding sepatunya, hanya lepas besar lem-leman solnya, dan kemungkinan besar masih bisa dijahit lagi.

Mas tukang parkirnya senang dan bahkan enggak minta uang parkir ke kami. Di perjalanan, kami berdoa semoga itu sepatu bisa dijahit dan bisa bermanfaat ke mas si tukang parkir.

Prediksi kami harusnya itu sepatu masih bisa banget dijahit, Hanya kami udah terlanjur illfeel aja, makanya itu sepatu kami enyahkan dari kehidupan kami. Halah!

Dan kami sengaja enggak ngefoto itu sepatu plus kondisinya, biar kenangan pahit ini segera terlupakan dari perjalanan waktu kami. Halahhh!!! πŸ˜€

***

Alhasil, kami harus kembali mencarikan sepatu olah raga/sepatu sekolah buat si kecil, menemani sepatu safety yang dia pakai di luar jam olahraga.

Kembali nyoba browsing di lapak jual beli Kediri. Eh nemu ada sepatu bekas yang ditawarkan seharga 50rb. Merknya Nike, sudah pasti abal-abal. Cuman, meski abal-abal, kalo dipakai udah beberapa lama, tentunya malah ada nilai worthed-nya: paling enggak dia malah bukan tipikal baramg yang langsung rusak begitu beberapa kali dipakai.

Kami coba hubungi via online si Mas penjual dan janjian liat barangnya.

Tempatnya jauh keluar kota Kediri, arah kaki Gunung Wilis. Enggak terlalu jauh sih sebenarnya, sekitar 20km. Tapi jalannya kecil/sempit dan berkelak-kelok. Melewati hutan, persawahan, dan perkampungan berselang-seling. Sehingga perlu satu jam perjalanan untuk mencapai lokasi si penjual, di sebuah desa yang segala sinyal seluler beneran hilang dan kami ketemunya atas bantuan arahan penduduk. Tapi si mas penjualnya justru malah bisa internetan dengan adanya wifi desa. πŸ˜€

Ketemu. Kondisi sepatunya lumayan. Sambungan sol dan dinding sepatunya udah dijahit tambahan. Solnya masih bagus. Hanya ada sedikit jahitan di tungkai yang mengelupas kecil, kami pertimbangkan bisa dijahit lagi atau dilem sedikit saja. Dan entah kenapa alasan itu sepatu dijual, kami enggak menanyakannya. Yang jelasnya akun fesbuknya riil dan lumayan terbuka, setidaknya dengan ini kami meyakini kalo ini bukan sepatu curian.

Si kecil pun okey dengan modelnya. Alhasil kami dapat diskon 10rb, jadinya jatoh harga 40rb.

Cuman BBM mobil ke sananya mungkin hampir dua kalinya itu harga sepatu. πŸ˜€

Enggak apa-apa, sebelum kami memutuskan berangkat liat barang, kami sudah niati sekalian jalan-jalan malam mingguan bersama keluarga ke kaki Gunung Wilis yang dingin, sunyi, dan bener-bener lenyap segala sinyal seluler. Namun penduduknya yang kami jumpai ramah-ramah.

Well… Pelajaran moral yang bisa kami petik di sini: jangan pernah sekali-sekali beli sepatu abal-abal. Mending KW, masih bisa diprediksi kekuatannya.

Dan beli sepatu merk lokalpun enggak menjamin kualitasnya sepadan dengan harganya. Perlu referensi yang kuat tentang hal ini. Kecuali emang ada duit super enteng buat beli sepatu muahalll macam yang kami ceritakan di atas, itu lain soal lagi. Kalo enggak ada?

Ngomong-ngomong sepatu mahal, BTW, dulu Bapaknya Aleef Rahman pernah kehilangan sepatu di masjid, pas jaman dia kuliah. Udah gitu, itu sepatu pinjem dari temennya lagi. Pas itu bapaknya Aleef Rahman nginep di kos temennya, datang pake sandal, kemudian dia perlu ke kampus sehingga minjem sepatu temennya. Mampir ke masjid, pas mau capcus sepatunya udah raib.

Sepatu mahal. Kala itu harganya 200rb saat seporsi nasi pecel masih 750 rupiah. Sekarang harga seporsi nasi pecel rata-rata 7rb.

Dari sini, bapaknya Aleef Rahman jadi trauma juga dengan sepatu mahal. Plus kami emang enggak ada anggarannya khusus buat beli sepatu mahal. Dan, kami juga bukan maniak sepatu. Alhasil asal sepatu bisa dan layak dipakai, ya udah.

Bapaknya Aleef Rahman pun sukannya cuman sepatu safety, meski bukan berarti anti dengan model sepatu lainnya. Mungkin ini terkait dengan dunia dan karakternya. Plus lagi mungkin karena pengaruh almarhum bapandanya yang pensiunan dari sebuah perusahaan tambang, yang bisa dibilang seumur-umur kenalnya ya sepatu safety. Klop jadinya.

Perburuan sepatu murah emang butuh penggalian referensi, pengamatan mendetail dan mendalam, serta kekuatan doa dan keyakinan batin yang akan menjadi pengisi waktu dan perjalanan hidup yang menyenangkan. Sebagaimana kami bisa gembira karena dapet sepatu lumayan bagus dengan harga relatif murah atau harus bersedih karena kena sepatu abal-abal yang harganya setara sepatu lokal.

Yang penting semua jangan terlalu: terlalu gembira atau terlalu bersedih. Dinikmati saja. Masih banyak di luar sana yang lebih pusing daripada kami: bahkan untuk mendapatkan sepatu paling abal-abal pun mungkin mereka masih kesulitan.

Wallahualambisawab.

– Deasy Ibune Rahman,
dan ini sepatu KW yang kami beli seharga 40rb. Akan kami update nanti seberapa lama dia bisa dipakai Aleef Rahman.

Dan maaf kalo cuman urusan sepatu murah aja sampai segini panjang kisahnya. Kalo sudah cerita tentang anak, apa sih yang bisa kita persingkat? πŸ˜€

Advertisements

Sepatu 41

Sepatunya yang ‘barusan’ berumur setahun udah enggak muat. Solnya sempat terkelupas sedikit – dan sempat kami jahitkan. Namun ujung jempolnya sobek kecil.

Hendak membelikannya, kami tak langsung menuju toko sepatu, yang hari-hari sebelumnya kami udah sempat jalan-jalan dan memperhatikan harga beberapa item sepatu yang cocok untuk si kecil.

Kami buka dulu Lapak Jual Beli Kediri. Salah satu lapak jual beli lokal yang cukup kondang dan terkelola dengan lumayan baik oleh tim adminnya,

Tim admins LJB Kediri meng-setting itu forum dengan status close. Harapannya keliatan: agar seller dan buyer yang bergabung di sana sama-sama serius njual dan nyari barang.

Kalo open, khawatirnya banyak seller yang terlalu bombing post, ngepost banyak-banyak supaya trit/thread-nya di atas terus. Cara yang sah, namun jelas sama sekali enggak etis. Macam serakah ini namanya.

Hal semacam inilah yang membuat sebuah forum jual beli terkesan kumuh, rusak, semrawut, dan kurang jelas kondisinya: banyak anggota dan lalu-lintas postingnya, namun acakadut dan terlalu morat-marit kesan yang kita dapatinya: teramat buanyak trit kembar-kembar yang bukannya menarik perhatian namun malah bikin eneg ngeliatnya.

Sayangnya, meski admin LJB Kediri lumayan tegas memperingatkan seller yang nakal melanggar rule, masih banyak juga seller nakal yang melanggar rule dan masih lolos dari pantauan admin.

Semoga tim admins LJB Kediri bisa semakin berbenah memperbaiki kondisi forum agar benar-benar menjadi forum jual-beli paling berkualitas di area Kediri Raya.

***

Searching pake kata kunci sepatu, muncul beragam trit/lapak. Ada yang jual sepatu bekas, ada yang khusus jual sepatu khusus pantofel; dan kami menemukan sebuah trit sepatu sekolah/olah raga dengan harga dipajang 90RB.

Kami telpun empunya trit, ibu-ibu. Ternyata lokasinya enggak terlalu jauh dari rumah. Langsung kami meluncur.

Sampai di lokasi, si ibu yang punya lapak menyambut kami. Tempatnya di rumahan.

Stok barangnya segunung! Cuman kami amati, modelnya memang enggak terlalu banyak. Tampaknya si ibu beli/konsinyasi sedikit model dengan banyak volume demi ngedapatkan harga kulak murah. So bisa dijual dengan tetep murah tentunya. Dan harga yang tertera di price list emang membelalakkan mata: mulai 60RB hingga termahal 125RB!

Pilah-pilih sana-sini, nyoba sana-sini, kaki si kecil ternyata sudah berukuran 41!!!

Omegod… Ukuran 40 siy muat, cuman terlalu ngepas. Itu juga belom disumpel pake kaus kaki. Alhasil ukuran kami naikkan jadi 41.

Ibu yang punya lapak sama beberapa anggota keluarga yang ada di situ sempat terheran. “Putranya kelas berapa siy Mbak, koq kakinya gedhe banget?”

“Kelas lima, Bu…” Jawab saya pasrah.

“Byuh, lha itu nanti kalo idah SMP, berapa ukuran sepatunya?”

Saya hanya bisa tersenyum. Entah apa kata nanti ajalah. πŸ˜€

***

Kami dapet model yang kami tebus dengan harga 60RB. Si ibu buka rahasia, “Yang ini harga 60RB, soale saya kulakan putus Mbak… Kalo yang ini 90RB, soale ini konsinyasi. Kalo enggak laku saya bisa retur.”

Oooh… Ternyata biaya konsinyasi itu besar juga ya… Sampe 50% selisihnya. Wuih!

Cuman kalo itu model yang si Ibu kulakan putus banyak yang enggak laku, ya lumayan juga risikonya. Mana kami lihat tadi ada beberapa kardus lagi, dan satu kardus tampaknya isi dua lusin pasang sepatu. Ckckckckckck!

Inilah kaum wirausahawan, mereka berani menantang risiko, tentunya dengan perhitungan, pertimbangan, kalkulasi, dan keyakinan. Luar biasa!

***

Dilematis juga membelikan sepatu -dan baju- buat si kecil. Pertumbuhan badannya cepet banget.

Dulu Utinya pernah membelikannya celana cakep. Namanya celana cakep, dipakainya cuman buat kondangan aja. Dan yang kami ingat, itu celana cuman dia pakai beberapa kami aja, langsung enggak muat. 😦

Alhasil, pakpuh, budhe, bulik, dll. semuanya kami teriakin. “Sini kalo udah punya celana enggak muat!”

Beneran, koleksi celana pakpuh dan budhenya yang udah enggak muat, pas dipakai si kecil! Alamaaak!

Jadinya, kami mikir kalo membelikannya barang bagus. Sebentar udah enggak muat, sayang duit jadinya.

Akhirnya kami putuskan: kalo harus membelikannya pakaian/sepatu, kami belikan yang sekiranya daya tahannya selama muat dia pakai. Estimasi kami: setahun doang!

Namun kadang kami keterlaluan juga.

Dulu pernah nyarikan sepatu juga. Kami nyari di lapak sepatu kaki lima yang harganya lebih ekstrim lagi: mulai 15RB!

Kami membelikannya sepatu seharga 35RB. Ternyata cuman dalam hitungan sedikit bulan, itu sepatu sudah amburadul. Kulit sintetisnya mengelupas semua. Solnya siy bisa dijahitkan, cuman kulitnya yang kena jahitan pada sobek.

Trauma kami membelikan barang yang kelewatan murahnya gini.

Dan untuk sepatu yang barusan kami tebus, semoga bisa tahan setidaknya hingga setahun. Si Ibu pemilik lapak sepatu mencoba meyakinkan kami, “Kalo kuatnya kuat koq Mbak. Mungkin itu sepatu duluan sesaknya ketimbang rusaknya.”

Semoga.

Setidaknya untuk harga pengalaman kali ini adalah 60RB.

– Deasy Ibune Rahman

(Manusia Sampah,) Sampah Manusia

Sepeda motor, kalo enggak salah jenis Honda Vario warna hitam-merah nopol AG5250GH(?), dikendarai sepasang suami-istri, melintasi jalan antar desa dari desa sebelah masuk ke desa kami.

Dari atas jembatan kecil sungai perbatasan desa, pengendaranya melempar sebonggol kantung kresek (sampah detected) ke sungai yang lokasinya cuman beberapa meter di belakang rumah.

Bapakne Rahman yang kebetulan bermotor dari arah berlawanan melihatnya.

Motor tersebut lantas dicegat oleh Bapakne Rahman, dia hadangkan motornya di depan motor mereka.

Bapakne Rahman: “Ngapunten, ingkang njenengan bucal teng lepen wau sampah?”

– Misi Pak, yang bapak buang ke sungai tadi sampah?

Pemotor: (cengengesan) “Hehehe… Iya…”

Bapakne Rahman: “Lain kali mbok dibuang di TPS (Tempat Pembuangan Sementara) di selatan situ.. Kasihan sungainya kotor, siapa yang mbersihkan ntar?”

Seratus meter dari rumah ada TPS yang udah lama disediakan oleh pemerintah.

Pemotor: “Nggih Pak…” Sambil tetep cengengesan dan langsung tancap gas.

***

Lainnya kejadian ini, seringkali di depan/samping rumah ada sampah plastik berserakan.

Beberapa kali kami lihat dari kejauhan/dalam rumah, ada anak berseragam, pulang sekolah dibonceng (mustinya) ibundanya, membuang gelas plastik bekas minuman atau plastik pembungkus kudapan begitu saja sambil melaju dari atas motor.

Doakan sekali waktu kami bisa memergoki mereka dan menangkap tangan langsung.

Sungguh, kami hendak bikin perhitungan.

Yang ada di pikiran kami bukan memarahi atau minta upeti kompensasi kepada mereka.

Yang ada di pikiran kami: kami hendak menghadap pak Lurah desa kami atau Lurah desa sebelah kalo mereka warga desa sebelah yang sering melintasi jalanan depan/samping kami, dan bersama/disaksikan perangkat desa, kami akan membuang sampah di depan rumah mereka.

Kami pingin lihat, mereka itu manusia yang punya akal dan perasaan atau bukan ketika orang lain membuang sampah seenaknya di depan rumah mereka.

Itu masih di halaman rumah kita, sanksi terdekatnya mungkin cuman dari si pemilik rumah.

Kami juga sering melihat bonggolan kantung-kantung kresek, sebagian isi sampahnya udah berserakan, dibuang di jalanan antar desa sisi lain, tepatnya jalan antar desa Doko dan desa Burengan – Kediri yang kebetulan jalanan tersebut melintasi area persawahan dan agak jauh dari permukiman terdekat.

Sampah adalah pangkal kerusakan. Oleh karena itu, sampah musti kita kelola penanganannya.

Kalo sampah itu kita buang di halaman tanah negara, atau kita serakkan di hamparan bumi Allah, maka urusannya pasti adzab: banjir, penyakit, dan degradasi mental serta kualitas kehidupan.

Tidak sadarkah kita bahwa rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik? So, kalo kita berbuat kerusakan, maka rahmat Allah bakal jauh dari kita.

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 7:56)

– Deasy & Freema
belajar menjadi manusia.

Flashlight

Menemani Bapakne Rahman mencari lampu senter ke hipermarket, saat saya tanya kenapa tidak beli yang murah saja (bukan barang “bermerk (ternama)/branded“), toh sama-sama LED? Dia jawab:

  • Kualitasnya LED-nya mungkin beda: dengan spek/wattage yang sama, tingkat terang/lumens-nya bisa jadi beda telak.
  • Pun urusan daya tahan, lampu senter/flashlight LED branded bahan casing-nya kerasa lebih firm gitu. Dan daya tahan pakai lampu LED-nya mungkin juga beda panjang umur pakainya.
  • Belom masalah temperatur warna (colour temperature) atau tingkat Kelvin-nya: LED branded biasanya justru diproduksi dengan temperature cahaya lebih warm alias berangka Kelvin lebih rendah (mungkin sekitar 4500-5000 Kelvin atau mustinya kurang dari 6000 Kelvin) alias ada unsur kekuningan gitu di pancaran cahayanya.

    Sementara LED “biasa” umumnya punya temperatur warna lebih cool alias berangka Kelvin lebih tinggi, biasanya 6000 Kelvin bahkan mungkin lebih alias warna cahayanya lebih putih dan cenderung kebiruan.

    Bukannya lebih keren yang putih bersih gitu dengan sedikit nuansa biru, ketimbang yang warna cahayanya warm?

    Sesuai teori fisika dan kenyataan di lapangan, warna mendekati kekuningan justru lebih mudah menembus kegelapan, atau ketika kondisi di luar berkabut, dia justru lebih sanggup menembus kabut. Itulah kenapa lampu kabut di kendaraan dibikin berwarna kuning/kekuningan.

    Sementara warna cahaya yang putih apalagi kebiruan malah akan memantul balik dan tidak sanggup menembus pekat, khususon kabut.

    Dengan kalimat sederhana: warna cahaya yang putih mengarah biru itu itu memang kelihatan keren namun tidak terlalu fungsional.

Selain lampu senter/flashlight, lampu/bohlam LED di rumahan jika kita amati juga dirancang/diproduksi dengan prinsip senada. Kami sempat membandingkan sendiri sebuah bohlam LED “biasa” dan yang “branded” yang dengan wattage sama harganya dua kali lipat dari yang biasa, kesimpulan kami usai mencoba di ruangan yang sama:

  • Tingkat terangnya (Lumens) bohlam LED ‘branded’ kami nilai dan kami rasakan memang dua kalinya, bahkan lebih sepertinya, dibanding bohlam LED ‘biasa’, apalagi dibanding dengan yang ‘abal-abal’.
  • Bohlam LED ‘branded’ temperatur warnanya putih yang lebih warm meski judul variannya ‘cool daylight’, sementara bohlam LED ‘biasa’ temperatur warnanya lebih cool dan mengandung semburat kebiruan dan malah kurang enak di mata, semacam malah terlalu menyilaukan mata namun tidak terlalu memberikan terang di ruangan.

Akhirnya saya bisa memahfumi kenapa Bapakne Rahman memilih dan memutuskan mengeluarkan nominal rupiah dua kali lipat untuk membeli lampu senter bermerk ternama.

***

LANTAS kenapa kami mencarinya ke hipermarket? Kenapa tidak ke toko elektronik dekat pasar besar yang umumnya menjual barang yang sama dengan harga (lumayan jauh) lenbih murah?

Kalo barang yang sama ada siy, Bapakne Rahman pasti langsung ke sana. Dan itulah kebiasaannya saat membeli barang. Meski konsekuensinya harus rela antri berdesakan: baik berdesakan dengan barang dagangan yang makan dominan space toko dan menyisakan secuil lorong untuk pembeli maupun berdesakan dengan pembeli lain yang kelakuannya sama: rela berdesakan demi mendapatkan harga murah.

Yakh, beda memang dengan di supermarket apalagi hipermarket yang tempatnya nyaman ber-AC, yang mana kenyamanan itu memang kita beli dengan tingginya harga jual barang yang ada.

Namun, ini Kediri. Pedagang dekat hanya akan menjual barang yang bisa dibeli pembelinya alias sesuai dengan target dan segmentasi pasar yang ada; demikian kata Bapakne Rahman. Untuk lampu senter bermerk (kondang)/branded ternyata toko-toko elektronik itu nyaris tak ada yang mau nyetok.

Kebetulan untuk case nyari senter bermerk (kondang)/branded ini sementara kami memang baru menemukannya di hipermarket yang notabene dominan/mayoritas jenis produknya berlaku/tersedia secara nasional/nationwide. Akhirnya mau enggak mau, kami memutuskan membelinya dari sana.

***

Lainnya itu, kami menemukan sedikit data sebagai berikut:

  • Sebuah lampu senter merk lokal yang lumayan berkualitas, bukan ‘merk abal-abal’, di hipermarket dijual seharga 43rb sementara di supermarket barang yang sama persis dijual 45rb.
  • Ini yang ada mengejutkan: batere hi-power merk lokal ternama dan superkondang, di hipermarket dijual 13rb dengan isi dua butir, sementara di supermarket dengan rupiah yang sama dapat paket berisi 2+1 alias tiga butir. Dan di warung sebelah isi dua butir terakhir kami membeli untuk ganti batere remote malah dijual cuman 9rb!
  • Yang ini kami malah enggak terkejut: bohlam LED sebuah merk dan tipe/varian yang sama, di toko bangunan/elektronik dekat pasar dijual seharga 65rb, di hipermarket masih 100rb lebih.

    Tebakan kami: itu stok luuuama yang belom terkena koreksi harga. Karena tiga kali kami beli lampu LED di toko elektronik yang sama dekat pasar, dan untuk barang dengan merk dan spek/tipe yang sama, kami sempat membelinya dengan tiga harga yang berbeda, karena ada koreksi/penurunan harga dari produsen; namun juga dengan model/bentuk yang berbeda, semacam di-facelift atau disegarkan ulang gitu.

Yakh, setidaknya kini saya sedikit mengerti tentang lampu, benda yang menerangi kita dari kegelapan.

Semoga kita semua bisa menjadi lampu bagi diri kita, bagi sekitar kita, dan bagi dunia – alam raya, tanpa membedakan apa dan siapa yang kita terangi. Karena apapun dan siapapun yang kita terangi, jika kita memang meneranginya dari kegelapan maka hasilnya mustinya cuman kebaikan dan hanya kebaikan adanya, sesuatu yang berlaku bagi semuanya.

– Deasy Widiasena,
saat kecil sudah bisa mengganti batere dan bohlam/dop lampu senter jadul. πŸ˜€

Gambar hanya ilustrasi.

Unlimited

Ini bukan promo, bukan mbantuin promo. Cuman share aja.

Awalnya kami beli paket tergedhe Indosat Freedom Combo (XXL) masih dengan batas kuota. Harga 100 plus bbrp belas ribu, dapetnya melebihi apa yang tertera di laman web mereka.

Jika di laman web mereka bilang dapetnya 3gb 3G + 3 6gb 4G plus bonus 10gb 4G; kami dapetnya 10gb 3G + 10gb 4G plus bonus 20gb 4G sama gratis kuota khusus Spotify – saluran buat ndengerkan lagu, saingan iTunes, sebesar 10gb!

Kebetulan di Kediri jaringan 4G Indosat udah beberapa lama on dan area kami udah terkover. Udah gitu, harga ponsel 4G sekarang udah bisa dibilang sama dengan ponsel 3G dengan fitur yang seimbang. Jadi, ini momen yang pas buat yang lagi butuh/perlu upgrade ponsel baru dan di areanya sudah terkover jaringan 4G.

Lainnya data, kartu Indosat Freedom Combo ini sebenarnya free nelpon dan sms untuk sesama Indosat. Tapi kartu ini kami fungsikan buat datanya saja.

Setengah bulan pemakaian, iseng ngecek kuota, lho 4G-nya koq jadi unlimited? Beneran niy? :O :gasp

Spekulasi, bapaknya AleefRahman mencoba mengunduh berkas dengan besaran sampai melebihi sisa kuota yang ada.

Ternyata beneran unlimited!

Wih! :O :gasp

Entah ini cuman gimmick atau emang paketnya berubah jadi begini, atau entah paket/promo ini berlaku sampai kapan, sementara kami nikmati aja dulu.

Lumayan, kecepatan rata-rata 5 mbps, dan kadang sering tembus juga sampai 15 mbps. Meski teorinya 4G LTE sanggup sampai 150 mbps.

BTW, jangan nanyak-nanyak kami tentang gimana-gimana detail paketnya, gimana proses kelanjutan atau isi ulangnya, paket/promo ini berlaku sampai kapan, dlsb. Sekedar info yang kami dapatkan di sebuah lapak jual-beli lokal Kediri, di Kediri sini harga jual produk internet Indosat adalah sebagai berikut:

  • 1 gb 3G + 10 gb 4G (24 jam) berlaku 1 bulan = 25RB
  • 1 gb 3G + 10 gb 4G (24 jam) berlaku 2 bulan = 28RB
  • 19 gb (3 gb 24 jam + 6 gb jam 00-06 + 10 gb 4G) berlaku 2 bulan = 50RB
  • Paket XXL 6 gb 3G + 6 gb 4G + Unlimited 4G + unlimited telpon/sms (24 jam) berlaku 1 bulan = 115 RB

Entah kebijakan ini nasional atau berbeda untuk tiap daerah/area lain, atau paket/promo ini berlaku sampai kapan, silakan tanyakan langsung ke Galery Indosat, atau cek laman web Indosat, atau unduh aplikasi myCare mereka.

Kami siy pinginnya paket unlimited ini terus berlangsung selamanya. Harga segitu gpp, udah worthed dan pas rasanya. Ntar kalo kemurahan, kasihan operatornya jadi dikit untungnya atau lama balik investasinya. Tapi kalo kemahalan, ya mana mau kustomer beli πŸ˜›

– Deasy & Freema,
lanjut browsing.

Jutek

Mungkin banyak diantara rekan-rekan yang pernah ketemu karyawan/pramuniaga jutek (bad mood). Kalo suami saya, biasanya malah digodain, “Tanggal tua ya Mbak? Jutek amat… :D”

“Napa Mbak, marahan ama suami? Jutek amat… :D”

Dll. yang berharap bos-nya ndengarkan. Ada yang kemudian pramuniaganya tersenyum, ada yang makin jutek.

Suami -tabiat laki-laki kayaknya- cuek aja kalo ada karyawan/pramuniaga jutek. Dan pramuniaga cowok biasanya juga jarang jutek. Banyakan yang jutek, kena baper, emang pramuniaga cewek.

Kami siy cuek aja kalo ada pramuniaga jutek. Kami siy urusannya: ini barang sesuai yang kami cari apa enggak, dan worthed antara price and value-nya apa enggak. Itu aja.

Cuman, kasihan itu toko/mall kalo bos-nya sampe enggak tau kalo karyawatinya jutek. Pelanggan yang juga gampang baper bisa kabur.

So buat Anda-Anda yang punya usaha dan punya karyawan, rutinlah dikontrol kondisi psikologi karyawan. Kami yakin gaji bukan alasannya. Sebab kalo mereka enggak terima dengan gaji yang ada atau kondisi kerja yang ada, pasti udah pamit resign, keluar nyari kerjaan lain. Yang memang tipikal karyawan biasanya gampang-gampang aja buat segera dapet kerja lagi.

***

Kami yakin, jutek rasanya dominan dikarenakan ada satu dan lain hal yang menyangkut bukan urusan pekerjaan. Atau urusan pekerjaan namun persoalannya personal. Misal marahan atau ngambek-ngambekan antar karyawan.

Maklum, -maaf- di kalangan kelas karyawan atau di karyawan kelas bawah, sinetron mungkin masih menjadi hiburan yang paling top sedunia bagi mereka. Dampaknya, hawa sinetron kebawa ke urusan (non)pekerjaan. Ngambekan, marahan, sewotan ama temen atau anggota keluarga di rumah.

Jadi, aturlah gimana agar karyawan Anda enggak suka liat sinetron. Minimal, jangan puter tipi yang nanyangkan sinetron di lokasi kerja.

Atau cara lain apalah sesuai kreativitas Anda.

TAPI kalo “jutek”-nya karyawati karena lagi bulanan, mbok ya dikasih ijin atau beban pekerjaan yang ringan tho wahai para bos… Apalagi kalo Anda, the boss, adalah perempuan juga, pasti paham rasanya kena bulanan yang pas aduhainya.

Nyari duit ya nyari duit. Tapi, gimana ya, mbok ya jangan menentang kodrat alam. Karena sebanyak apapun duit kita, yang manusia manapun tak bisa menandinginya, tak akan pernah sanggup untuk melawan kodrat alam.

Runtuh bisnis Anda hanya karena ngasih ijin datang bulanan ke karyawati?

Well, meski tak kenal Anda, kami sampaikan banyak terima kasih kepada Anda yang dengan diam-diam biasa ngasih ijin datang-bulan ke karyawati. Kami doakan semoga bisnis Anda tambah dan semakin lancar, dan rejeki Anda halal-berkah adanya. Allahuma Aamiin.

– Deasy Widiasena
enggak jutek. Paling langsung ngamuk πŸ˜›

Diam-Diam

Ini bukan protes. Ini sekedar cerita saja.

Ternyata diam-diam -entah sudah berapa lama- Telkom meregister nomor telpun rumah ke paket bebas lokal/interlokal sekian menit yang abonemennya dari normalnya 27,5rb diam-diam -entah sudah berapa lama- jadi 45rb.

Ketauannya saat kami mutus langganan Speedy (Speedy-nya doang, bukan saluran PSTN-nya). Saat kami tanyakan komponen biaya (tetap) kami, oleh Mbak CS dijawab hanya koneksi Speedy sebesar sekian rupiah dan abonemen gratis bicara lokal/interlokal sekian menit sebesar 45rb.

“Lho, koq bisa kami diikutkan paket gituan Mbak?”

“Mungkin dulu ada penawaran dari 147 yang disetujui Bapak/Ibu…”

“Rasanya, kami enggak pernah menyetujui penawaran apapun dari 147 Mbak…”

Si mbak terdiam saja. Dan kami menandatangi form penghentian berlangganan Speedy mulai hari ini.

Tapi si Mbaknya tetep mengucapkan terima kasih kepada kami dan tersenyum saat kami pamitan, dan kami balas dengan senyum pula.

Koneksi Speedy yang sudah sekian tahun menemani hari-hari kami dalam kegetiran ini terpaksa dengan berat hati kami putus karena saat ini bisa dibilang sudah enggak terlalu useful: dengan koneksi kabel tua sering koneksi super lelet, jauh dari optimasi speed layak/wajarnya.

Mungkin inilah fungsinya istilah up-to dalam penawaran penjualan, yang artinya speed/bandwidth bisa dibagi hingga habis ke banyak pelanggan, bukan lagi dibagi secara wajar. Sehingga pelanggan hanya mendapatkan koneksi teoritis -hanya sekedar konek meski tanpa kecepatan- bukan koneksi realitis. Mirip dengan jalan tol yang (sering) macet, yang artinya pelanggan hanya menikmati jalan berbayar, bukan jalan yang lancar/bebas hambatan meski dipakai bersama-sama.

Sementara itu, mereka serasa tak berniat masang jaringan FO (fiber optic) dalam waktu dekat ini ke rumah (padahal 500 meter dari rumah sudah ada saluran FO – kami ngecek dari web indihome).

Bukan kami tak bersyukur: untung-untung ada koneksi internet sementara di banyak daerah di pelosok negeri ini masih buta koneksi. Bukan. Hanya saja, kalo semua hanya (sekedar) disyukuri tanpa ada penambahan/peningkatan (mutu koneksi) yang semakin cepat seiring pesatnya perkembangan jaman, apalagi ini fenomena komersial bukan sosial, ya malahan enggak worthed pelanggan seperti kami ini ngeluarkan duit.

Yakh, kami hanya bisa berdoa, semoga segera bermunculan ISP lokal/nasional yang bersedia memberikan penawaran koneksi broadband dengan tarif yang kompetitif dan produktif, mengingat harga teknologi sekarang semakin murah dan semakin murah.

***

Yth. Telkom Indonesia, bilamana ada rekaman bahwa kami pernah menyetujui ikutan paket abonemen gratis bicara sekian menit lokal/interlokal, kami tunggu konfirmasinya.

Silakan komen di bawah alamat email yang kami bisa menyebutkan nomor PSTN kami πŸ™‚

Terima kasih dan mohon maaf jika ada salah kata.