Inilah Politik, Inilah Bisnis, Inilah Indonesia

– Apa mustinya yg kita perbuat pada orang yg gk tau sementara kita mengetahuinya? Ya kita kasih tau.

Tapi di bisnis/perdagangan/jual-beli kadang lain. Kustomer yg gk punya pengetahuan tentang produk adalah makanan empuk buat kita porotin duitnya. Kita bisa jual produk jelek dengan harga tinggi. Karena pembeli kita gk tau.

– Apa yg seharusnya kita jalankan pada orang yg sedang silap/khilaf sementara kita tau benernya musti gimana? Ya kita arahkan gimana yg benernya.

Tapi di politik lain. Lawan politik yg sedang silap/khilaf adalah makanan empuk untuk kita jatuhkan.

– Apa yg semestinya kita perbuat ketika menghadapi sesuatu yg tampak aneh, tak semestinya, dan tak biasa di mata kita? Tabayyun, mencari klarifikasi dan konfirmasi kepada yang bersangkutan, itu sebenarnya apa atau ada apa di balik itu.

Tapi kebanyakan masyarakat Indonesia itu lain. Itu adalah bahan hujatan yg empuk dan sangat memuaskan batin kita.

Kami mengalaminya banyak kali hal-hal demikian semua itu tadi.

***

Yg pertama adalah saat saya iseng “menantang” temen sedan dari merk Jepang, berpenggerak roda depan (FWD), dan ber-cc sedengan namun bertransmisi manual untuk drag dengan mobil yg saya kendarai: BMW 3000cc V8 tapi otomatis. Dan jarak dragnya cuman 50 meter!

Drag terpendek di muka bumi ini normalnya 201 meter, itu pun sebenarnya jarak maksa. Setidaknya musti dua kali lipatnya biar pertandingan bisa berlangsung normal.

Temen yg saya ajak sempat terdiam. Ini pertarungan yg sama sekali gk adil dan gk patut lagi layak dijalankan. Namun demi kesenangan belaka dan “bodo amat” sama sekali. pertarungan tetep kami jalankan.

Temen yg bersedan manual udah siap-siap launch-control. Kaki kanan menginjak gas dalam-dalam, kaki kiri menginjak kopling. Begitu aba-aba start dimulai, dia tinggal lepas kopling dan mobilnya lansung melesat bak anak panah dilepaskan dari busurnya.

Sementara pada saat yg bersamaan, kaki kiri saya ada di foot-rest, kaki kanan masih menginjak pedal rem agar mobil yg masuk D -dengan mode S (sport)- gk ngeloyor. Begitu aba-aba start dimulai, saya baru saja melepas kaki kanan dari pedal rem, memindahkan ke pedal gas berikut menginjaknya dalam-dalam. Transmiis otomatik yg dari lahirnya udah hilang 20% tenaga saat start dibanding manual ini hanya bisa mengeram perlahan.

Alhasil, penonton dari kubu lawan saya bersorak-sorai tiada tara. Sebuah mobil Jepang ber-cc sedengan sanggup meninggalkan jauh sebuah BMW bermesin 3000cc V8 di drag 50 meter itu.

Dan dari kubu saya, saya dihujat habis-habisan, karena dianggap melakukan tindakan konyol yg sudah pasti saya akan kalah telak.

Tanpa pernah ada orang yg tau, bahwa lawan tanding saya begitu sungkannya mengungkapkan perasaan, karena dia menangnya “garing”, “tanpa perjuangan”, dan seperti kemenangan karena WO (walk-out). Dan saat saya ajak nyoba ganti mode: balapan beberapa kilometer, dia angkat kedua tangannya.

Namun karena nawaitu kami berdua adalah iseng seiseng-isengnya, kami berdua tetep ketawa-ketiwi.

Hanya kami berdua dan Tuhan yg tau kondisi ini.

Masyarakat di luar sana, bertahan dengan persepsinya masing-masing, dan pasti jauh lebih nikmat bertahan dengan persepsi masing-masing ketimbang perlu mencari tau fakta yg ada.

***

Lainnya itu, kami mengunggah video si kecil di Youtube. Si kecil yg kala itu berumur lima tahun melafalkan doa khatam Quran dg pronunciation yg amburadul. Morat-marit menurut tata bahasa Arab. Ya, itulah si kecil kami yg terlambat bicara. Namun kami bangga dia berani berlagu melafalkan doa suci itu.

Tapi apa komentar netijen? Sebuah komentar sewot mendarat di klip tersebut: banyak salah (pengucapan/pelafalannya), (klip/channel) kayak gini ngapain di-subscribe?

Namun alhamdulillah, tiga jempol naik ke atas, dua jempol turun ke bawah.

Yg tiga jempolnaik ke atas, kami cutiga itu adalah famili kami sendiri yg paham bener keadaan si kecil yg punya kebutuhan ekstra, bukan khusus. Yg dua jempol ke bawah, mungkin tipikal masyarakat judgementalis yg langsung menilai segala sesuatu dari hanya apa yg tampak, ter-frame, dan sekilas belaka.

Dan memang kenyataannya klip kami tersebut memang sekilas, sepotong, sepenggal dari keseluruhan. Meski sepenuhnya bukan klip framing.

Bayangkan jika Anda jadi orang tua dengan anak yg “lain” seperti itu, dengan maksud dan tujuan tertentu; alih-alih mendapatkan apresiasi, yg muncul malah hujatan.

Bagaimana perasaan Anda?

Kalo kami sih sudah kebal lahir batin.

Bodo amat sama masyarakat. Ada Tuhan di atas sana yg Maha Tahu segalanya.

***

Dan masih banyak contoh kejadian senada yg kami alami dalam hidup ini. Yg itninya sedemikian itu.

Anda juga pernah mengalaminya? Sering?

Jangan marah dan jangan kecewa. Mungkin kami, kita, juga sering/pernah melakukan hal demikian kepada orang lain, dengan atau tanpa kita sadari. Dan mungkin tabiat demikian ini sedang kita muntabkan menjelang/di musim pilihan presiden demikian. Di mana kita mengharamkan tabayyun, klarifikasi, dan konfirmasi dalam hidup kita. Karena kemenangan persepsi kita adalah tuhan kita secara de-facto, meski secara de-yure kita ngomongnya mengakui Tuhan Illahi.

Ini adalah saat mana hidup dalam persepsi subyektif kita sendiri “harus” kita fatwakan sebagai kebenaran dan obyektivitas.

Mungkin itulah kenapa tampaknya di muka bumi ini persepsi menjadi komoditas yg (perlu) selalu dikelola, dibentuk, dibangun, selalu diciptakan dan dimunculkan, serta selalu dijaga. Sementara kenyataan (obyektif), adalah sesuatu yg tidak perlu kita hiraukan.

INILAH Indonesia. Mending jangan pernah hidup dengan goal alias tujuan hidup obyektif yg kita rancang sendiri. Mending hiduplah kita dalam garis judgemental – garis penilaian masyarakat luas.

Sebab di sini kebenaran bukian ditentukan dengan obyektivitas, dari fakta yg ada, dan kenyataan yg sesungguhnya melainkan dari persepsi yg dominan beredar di masyarakat.

Jika Anda ngoceh tentang teknolgi 10 atau 50 taon ke depan, atau ngoceh tentang idealisme ekonomi yg bersandar pada sumber daya (resources) bukan pada kapital-nomimal, jika Anda mengagungkan agama yg hakiki-maknawi-implementatif bukan agama yg ritualistis kosong sarat dengan ajang pelarian; Anda akan menjadi manusia alien, manusia asing, yg gk layak hidup dalam realita Indonesia. Apa yg Anda ocehkan hanyalah akan menjadi khayalan alih-alih itu visi.

Jika Anda membayangkan bisa berprestasi dengan sesuatu yg tak jamak di Indonesia, mending bermimpilah untuk bisa hidup di negara maju yg mengakomodasi khayalan alias imajinasi tinggi Anda yg kelewat batas.

Di sini, Anda wajib hidup dengan realita hari ini, berotak datar yg nirvisi, dan ilegal untuk membahas dan membicarakan masa depan.

Di muka bumi sekarang ini, kebaikan adalah tentang apa yg diterima banyak orang, bukan apa yg sesungguhnya bermanfaat bagi banyak orang.

Mungkin demikian. Mungkin.

Jika Anda gk sepakat, mending tetep diamlah; jangan bersuara dan menyuarakannya kepada Indonesia.

Karena nasib kita bukan bergantung pada gotong-royong kehidupan yg semakin tergerus termakan jaman. Nasib kita tergantung tangan individual kita sendiri-sendiri.

Hidup kita bukan lagi ditentukan oleh hidupnya orang-orang lain. Hidup kita, tergantung matinya orang lain.

Mungkin demikian. Mungkin.

– Freema Bapakne Rahman
Kalo tentang bensin saya kering, itu fakta, bukan persepsi. Anda gk perlu berperepsi tentang hal ini.

Advertisements

One thought on “Inilah Politik, Inilah Bisnis, Inilah Indonesia

  1. Nonosaurus pls text me at 087751309660

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s