Jihad

Saya masih inget bener, akun seorang rekan meng-share catatan panjang tentang pengertian bahwa jihad itu harus perang. Perang fisik, bertempur melawan ‘orang kafir’.

Tulisan itu menentang keras pengertian jihad yg: jihad ekonomi – dimana kita harus berperang melawan kemiskinan ketimpangan dan penindasan ekonomi; jihad iptek – dimana kita musti menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi demi sebesar-besaranya kemaslahatan umat; dan semacamnya.

Oleh akun tsb, ulama-ulama hakiki macam Gus Mus dkk dll dalam seingatan saya tak pernah dikutip. Jelas yg bolak-balik di-share adalah mereka ‘ustadz-ustadz islamis’, yg pengikutnya pada kenyataannya emang mayan banyak.

Akun-akun kayak gini, kalo diajak diskusi pakai pikiran, tentu menghindar/membiarkan tanpa pernah menanggapi. Karena jelas, mereka beranggapan bahwa apa yg dilakukannya adalah membela islam dan macam kita-kita ini adalah penentang islam, pembela kafir, dsb dsj dst. Dan kemudian akan mengerucut: kita bakal didakwa sebagai golongan kubu politik seberang.

Jatuh-jatuhnya ujung-ujungnya akhirnya balik juga muaranya: ke persoalan politik kubu-kubuan. Kasihan banget kaum netral yg bebas kubu dan tak berkubu macam saya gini…

Dan mereka akan terus gencar posting, posting terus-terusan. Tema yg berbeda namun dengan inti yg sama. Diulang-ulang duputer-puter terus-menerus tiada pernah dan tanpa ada henti.

Kuatnya brainwash dan brainstorming pada mereka dg dalih cinta Allah cinta islam dan berjuang demi/untuk dan dalam islam benar-benar membuat logika bawah sadar mereka buntu. Mereka kuat luar biasa untuk terus-terusan mengulang-ulang posting berbeda-beda namun intinya sama saja. Sampai kita-kita yg berani membangunkan logika diri sendiri ini, yg mengajak tukar pikiran baik-baik ini jadi jengah dan bosen sendiri.

Ini macam teori komunikasi pemasaran: kampanye terus-terusan akan membuat sebuah citra menjadi menancap di benak audience, sekalipun audience tak menghendaki.

Islam itu merekalah yg berhak memiliki. Kita yg berbeda ini akan dicap bukan islam.

Tuhan serasa telah mereka ambil alih kekuasannya.

Akhirnya saya yg gk kuat, saya unfriend itu akun. saya kalah melawan itu akun.

******

Miris. Di bawah sana, Indonesia masih penuh dengan ancaman pada kedamaian.

Yg cinta Islam, cinta NKRI, dan cinta kedamaian ini kalo gk bergerak nyata membendung itu semua; entahlah apa yg bakal terjadi dg negeri ini.

Mungkin kita akan tunggu waktu untuk jadi afghanistan, suriah, iraq, libya… Porak-poranda karena kuatnya mereka yg tak pernah merasa kalo merasa menjadi islam paling benar, yg dikendalikan oleh entah siapa.

Bohong kalo Indonesia itu aman-aman saja. Ada bara tak pernah padam di bawah sana, yg mana mereka mengatasnamakan berjuang dalam islam, berjuang untuk islam, berjuang demi islam, dan seterusnya.

Mereka itu semua, saya meyakini sepenuhnya, tak pernah bisa diajak bicara baik-baik dengan akal-pikiran terbuka.

Salahnya, kadang yg berseberangan dengan mereka, meng-counter-nya (sama-sama) dengan sinisme. Jadi di kedua kubu kadang hanya terjadi gontok-gontokan picisan murahan yg sama-sama menjijikkan dan tak ada inti pikiran yg bisa didapat.

Parahnya lagi, perang gontok-gontokan ginian bisa berkepanjangan, dan melibatkan akun yg sangat buanyak.

Njijiki bener.

Mungkin demikian.

Mungkin.

Advertisements

Double-Deck

Dulu, ngumpulkan uang saku, buat beli kaset kosongan, trus bikin album kompilasi. Pake tape compo double-deck.

Tape compo double-deck, bukan bis Volvo double-decker yg udah sempat kami coba di kota besar Surabaya saat main ke bonbin; yg sekarang baru digandrungi ulang oleh abg-abg kagetan yg ngakunya maniak bis.

Rame-rame bawa koleksi kaset sama temen, atau pinjem temen anak orang kaya yg punya banyak koleksi kaset.

Trus diputer di tape-deck rumah, atau compo di kamar, atau walkman sambil bergaya jalan-jalan darma wisata sekolah. Laguku komplit: mulai Metallica, Europe, Firehouse, Def Leppard, hingga NKOTB.

Radio pun isinya Dewa19, masih pakai 19 bukan yg tanpa 19, dan yg jelas gk ada dangdut koplo.

Dunia isinya indah banget jaman segitu. Gk ada caci-maki di medsos.

Kala itu, jaman ribuan berbahagia karena dibelikan sepeda Federal sementara ribuan lainnya hanya sanggup memimpikannya belaka.

Jaman E34 atau E36 kita barusan nongol kinyis-kinyis baru lahir, mobil yg sama sekali belom saya kenal.

– Freema Bapakne Rahman