Level Loyalitas

Suatu waktu saya sedang ngobrol sama seorang bapak driver ojol (ojek online). Beliau udah lumayan sepuh. Umuran orang udah punya cucu gitulah.

“Saya pindah daro ojol lama ke ojol baru, Mas!” Demikian kisahnya. “Ojol lama saya itu kapitalis sejati; pelit ngasih bonus buat penumpang juga buat drivernya.”

Saya manggut-manggut.

“Kalo yang baru ini enak. Murah hati mereka. Suka ngasih bonus buat penumpang juga buat drivernya.” Lanjut kisahnya.

Urutan kata anatara ‘penumpang’ dan ‘driver’ tampaknya benar-benar diperhatikan sama si bapak. “Suka ngasih bonus buat penumpang juga buat drivernya” itu maknanya mendahulukan kebaikan buat penumpang terlebih dahulu baru kemudian buat drivernya.

Saya kembali manggut-manggut.

Usai si bapak berkisah, baru saya mencoba mengutarakan pendapat menurut cara pandang saya.

“Pak, mohon maaf nih… Ojol lama bapak itu kan emang udah lama hadirnya/lama umurnya tho? Kalo kita ingat-ingat, dulu mereka suka banting harga dan banyak ngasih bonus dan sekarang udah ndhak. Wajar Pak, dulu mereka masih mencari pelanggan dan menciptakan basis pelanggan. Atau dalam bahasa kerennya: menciptakan ekosistem.” Pelan-pelan saya membuka opini saya.

“Nah, ketika ekosistem pelanggan udah terbentuk, yakni pelanggan berkumpul banyak-banyak karena trigger/dipicu oleh harga murah tadi awalnya, sehingga pelanggan apal sama seluk-beluk aplikasinya, apal kapan musti segera order dan apal berapa lama ojol akan dateng, dll dll dll. maka selanjutnya mereka bakal beralih ke tahap berikutnya: me-maintain ekosistem tersebut untuk membangun loyalitas pelanggan kepada merk/produk.” Lanjut saya sok-sokan aja pokoknya.

“Pada tahap ini, ojol lama bapak sudah ndhak akan terlalu fokus bermain dengan harga. Mereka akan sibuk memperbaiki dan menjaga kualitas layanan: driver berkendara dengan sopan, kondisi kendaraan terjaga kesehatan dan tampangnya, driver konstan dan konsisten menjaga kesopanan berbahasa dan bersikap kepada penumpang dan itu alami yang dibangun/dibentuk/diciptakan/dilahirkan bukan dibuat-buat, dan lain sejenisnya.” Saya semakin jumawa ngoceh. “Penumpang pun mungkin juga sudah ndhak hirau dengan harga, Pak! Mungkin pikir penumpang: aha selisih seribu-dua riba perak, pake ojol yang ini enak nih, drivernya sopan nyetirnya beradab dan kendaraannya pun nyaman.”

Si Bapak mulai terdiam oleh bualan saya.

“Mungkin ojol baru bapak ini masih pada tahap pertama. Mereka masih bermain di sisi insentif: bonus untuk penumpang pun driver. Tapi kalo penumpang sudah banyak karena pancingan harga murah, basis pelanggannya sudah terbentuk, ekosistem pelanggannya udah terbangun; mustinya mereka akan masuk ke tahap berikutnya yg sama juga untuk menjaga, merawat, dan mempertahankan ekosistemnya: fokus pada layanan, bukan lagi sekedar harga.” Saya semakin menjadi-jadi beromong besar.

Si Bapak mulai manggut-manggut.

***

Secara anti-klimaks dan tanpa fade-out kami menyudahi percakapan kami. Mungkin benak si bapak kerasukan sesuatu dari mulut besar saya: omong besar saya tentang level loyalitas kita.

Saya sama sekali tidak menyalahkan si Bapak karena aksi “reaksioner”-nya. Cuman dari ini semua saya jadi merenung, beliaunya -si Bapak- karena (maaf) “tidak’ memiliki bekal pemahaman terhadap hal-hal kayak gini, jadinya gampang terbang terombang-ambing menuju sorotan cahaya yang lebih terang. Padahal kita tak tau, cahaya itu bisa terang dan semakin terang selamanya atau hanya lebih terang secara temporer aja.

Dan akhirnya saya pribadi merasakan benar apa kata Ali: harta itu kita yg musti menjaga, sementara ilmu itu menjaga kita.

Pun benarlah adanya kiranya, semakin kita tambah tahu sesuatu, semakin tersadar bahwa kita ternyata semakin tak tahu tentang apa-apa. Terlalu luas hal-hal tak kelihatan yg bisa kita jelajahi sepanjang umur kita berlangsung di dunia ini. Maka alangkah eloknya jika kita tak gampang memfatwa sesuatu karena reaktif belaka.

Ini jadi self reminder buat saya pribadi, yg bahkan kondisi ini ndhak sampai selaksa buih di tengah samudera.

Saya ngobrol sama si Bapak ojol itu aja udah sedemikian besarnya mulut dan omongan saya. Gimana kalo saya ngobrol sama diri saya sendiri yg tanpa ada kontrol dari pihak lain selain diri saya sendiri ini? Pasti jatuhnya saya bakal semakin jumawa dan merasa paling tau, paling bisa, dan paling benar.

– FHW

Advertisements

F25 LCI vs F48

Saat saya beserta dua sahabat baik saya: Kamituwa (Mbah Wo) Kedirian Ardian Boeng Satriyadi dan Lurah Kedirian Ghofar Ilmi K bertiga semobil, kami tidak bisa membedakan wajah X-Series yg membuntuti kami, apakah dia F25 LCI ataukah F48.

Kami bertiga ternyata sanggupnya cuman membedakan E36 M-Tech atau standar. Poll mentok tinggi-tinggi cuman sanggup membedakan wajah E46 pre-facelift & facelift, yg ferang keliatan bedanya itu.

Dan jadinya itu tadi: begitu ada X-Series membuntuti kami, kami berdebat panjang apakah itu F25 LCI ataukah sebuah F48.

Sampai kemudian dia itu X-Series berbelok dan menghilang, tanpa kami mendapatkan keputusan dan kepastian yg fix: dia itu F25 LCI ataukah F48.

So, jangan percaya sama omongan kami yg ternyata membedakan wajah F25 LCI sama F48 aja belom sanggup, apalagi kalo sampe Anda menuduh kami ini maniak BMW. Kebangeten keterlaluan nuduhnya itu namanya.

– FHW LCI

Mencintai Perbedaan Dengan Hati

Di keluarga besar kami, ada kendaraan: beberapa mobil Jepang dan beberapa mobil Eropa.

Masing-masing punya positioning dan fungsionalitas sendiri-sendiri.

Ada yg masih pake karbu dan perawatannya super guuuampanggg mudahhh dan murahhh serta muatnya banyak plus dijual kembali harganya oke buangettt. Mobil legenda yg rasanya luar biasa campur aduk tak karuannya.

Ada si imut VVTi yg bensinnya uiritttttt puollllll tapi rasanya yaaa gitu deh.

Ada yg bbm-nya wajib jib jib pertadex/shell diesel dan haram jadah solar busuk yg meskipun mahal harga per liternya tapi lumayan bisa dibilang irit konsumsinya ketimbang mobil Eropa meski tetep jauh lebih boros ketimbang si VVTi mesin kecil; tapi ya gitu rasanya: gemlodhak ndhak karuan dibanding si mobil Eropa.

Dan ada mobil Eropa dengan ciri khas (baca: stigma) permanennya: parts muahalll, bensin buorosss, dan dijual kembali serasa dihibahkan aja ke orang. Tapi rasanya tiada pernah bisa tertandingi dan tergantikan oleh yg manapun yg ada di kami.

DARI beragamnya barisan kendaraan yg ada tersebut kami semua akhirnya bisa mendapatkan kesimpulan hati:

kami bisa mencintai si mobil Eropa yg tiada pernah tertandingi rasanya, karena berkendara itu bagi kami adalah soal rasa dan pengalaman di perjalanan; meski perawatannya bikin kami mau muntah;

tanpa harus membenci sedikitpun mobil-mobil yg punya fungsional tinggi meski kami anggap tanpa ada rasa (soul)nya.

Sebab seenak-enaknya mobil Eropa yg ada di kami, pada suatu ketika, yakni ketika kami butuh fungsionalitas tertentu, mereka para mobil Eropa (sedan) itu mendadak jadi barang useless yg ndhak berguna sama sekali.

INI kondisi yg kami rasakan sendiri dan kami alami sendiri. Bukan dari “katanya, katanya, katanya”; bukan dari kondisi berdasar apa kata orang. Apalagi orang yg ndhak hidup bersama mobil Jepang(pasaran) dan mobil Eropa sekaligus.

***

Kami bisa mencintai mobil Eropa dan Jepang kami sepenuh hati dengan beragam karakternya masing-masing.

Kami bisa mencintai mobil Jepang dan mobil Eropa kami dengan sepenuh hati dan berdasarkan perbedaan masing-masing kondisi.

Kami bisa mencintai mobil Jepang kami yg irit dan murah perawatannya tapi ancur-ancuran rasanya tanpa pernah sedikitpun membenci mobil Eropa yg boros dan muahalll maintenisnya itu.

Kami bisa mencintai mobil Eropa kami yg luar biasa tak tertandingi enaknya meskipun mihil maintenisnya tanpa pernah membenci sedikitpun mobil Jepang yg soul-less namun fungsionalitasnya super tinggi dan bisa membuat mobil Eropa kami mendadak useless pada suatu kondisi.

– FHW Eropang.

Xverest: Gerinda Lubang Kunci

Habis menghadiri pembukaan kafe+pemancingannya lik Sugeng Ariadi di kawasan Tulungagung timur, kami dari rekan-rekan Blitarian-Kedirian melanjutkan diri turing ke Pantai Gemah, di Tulungagung selatan.

Usai bergembira ria main air, kepanikan mendadak menyergap dan melanda kami semua. Istri saya meninggalkan kunci di dalam mobil dan pintu meng-auto locking sendiri karena selama sekian detik tak ada aktivitas.

Untung beribu untung, warga sekitar ada yg punya gerinda. Dan di E36-nya pak bayan Blitarian Miftachul Huda ada inverter dg wattage gedhe.

Akhirnya, sama paklik berbaju Mataraman itu dibikinlah lobang kecil di posisi dibalik plat nomor untuk meng-unlocking tuas belakang.

Prosesinya paling sekitar 15 menit, diluar nunggu gerindanya datang sama survei-survei metode mbobol kunci di pinggir pantai yg jauh dari peralatan gitu.

Seru deh!

# video by pak bayan Kedirian Byan Bojana
# pic by mbah wo Kedirian Boeng Satriyadi
# seru-seruan by all bimmerfan blitarian/kedirian semuanya!!!
#kedirian #blitarian BMWCCI Kediri Chapter Blitarian Bimmer #touring