Anak Muda Penis Kecil Ngacengan

Saya sempat terkesima dengan status fesbuk ini.

Well, itu anak-anak muda yg suka pake motor ‘trondhol’ dengan ban cacing dan sejenisnya: kayaknya penis mereka tuh kecil banget, itu pun gampang banget ngacengan; plus susah bagi diri mereka untuk mengendalikan dirinya sendiri apalagi sampai tahap membangun kualitas dirinya sendiri; sehingga mereka bingung mau membanggakan apa dari dirinya sendiri.

Jadi anak muda itu emang musti bisa nakal. Kalo ndhak bisa nakal, maka matilah otak kalian.

Tapi nakalnya itu yg sama sekali ndhak mengganggu apalagi sampe bikin susah orang lain.

Dan yg pasti: di atas kenakalan itu harus ada kreativitas yg berguna lagi bermanfaat plus ada kualitas & kemampuan diri yg mumpuni dan bisa diandalkan.

Kayak gini ini nih contohnya nakal, tembok bagus-bagus malah dicorat-coret. 😛 Nakal yg lain bisa dengan bersenjatakan kuas, gitar, stick drum, gamelan, bola, dll. Bahkan cuman bersenjatakan mulut!

Itu baru anak muda yg nakal dengan sebenar-benarnya nakal, yg keren beud nakalnya. Itu baru namanya macho dan jantan.

Kalo cuman pamer motor ‘trondhol’ ban cacing apalagi semua itu masih fasilitas yg minta sama ortunya: cemen gini koq dipamerkan. Nyari eksistensi pake cara kayak gini?

Jelas, kayaknya hanya anak muda yg penisnya kecil buanget dan guampang ngacengan doang yg bisa melakukan kecemenan ini.

Mungkin demikian.

– Freema HW
Sudah pemuda.

#Foto-foto & klip-klip nemu dari internet, hak milik dan hak cipta masing-masing pengkaryanya.

Advertisements

Honda MogePro 3.0l 32-Valves V8 218ps 290Nm

Dear Honda,

Kami telah berhasil dan sukses memodifikasi sebuah Honda MogePro menjadi bermesin 3.0l 32-valves V8 dengan keluaran tenaga mencapai 218 ps (212 hp) dan torsi 290 Nm .

Namun untuk keselamatan jalan raya, kecepatan motor ini tetap kami batasi secara elektronis pada 100 kpj saja.

Kami juga telah berhasil mengubah transmisi manual ceklac-ceklic pada motor ini menjadi transmisi 7 kecepatan step tronic.

Sedikit penyeuaian lain yg kami lakukan adalah penambahan electronic-spoiler di bagian belakang (belakangnya motor, agak jauh ke sono).

Front-difuser juga telah kami tambahi wiper dengan opsi speed-sensing, namun rain-sensor telah kami lepas mengingat ini tetaplah sebuah motor, mau semahal apapun tetap saja kehujanan, oleh karena itu mending beli biem bekas ndhak kehujanan ndhak kepanasan ketimbang beli kalo tidak Ninja tidak cinta kalo bukan FU ndhak ai loop yu.

Semua fitur ini terintegrasi dengan Engine-DME Bosch(oc) version 6.9 terbaru dari pasaran loakan.

Oia, instrumen-cluster juga telah kami sempurnakan dengan paket android yg detachable, sehingga bisa diupgrade dan ditambahi aplikasi.

Semua proses modifikasi ini dikerjakan langsung sendirian saja oleh bengkel Sugitech di kawasan Bunderan Serayu, Madiun yg merupakan bagian dari Group SukurCom.

Bengkel ini termasuk salah satu bengkel kaliber internasional bahkan antar planet dan antar galaxy – mulai galaxy s sampai galaxy s-cond. Karena selain mennangani modifikasi segala jenis kendaraan baik BMW, Mitsubishi Colt T, Suzuki Truntung, Vespa, hingga motor besar jenis MogePro; Sugitech juga menangani segala servis elektronik mulai VCD Compo, speaker aktif, blender, kulkas, dispenser, rice-cooker dan er-er lainnya.

Juga yg terutama adalah SukurCom ini melayani segala kebutuhan cetak-mencetak Anda, mulai undangan manten (terserah mantenannya Anda atau siapapun), kertu nama, kertu siapa, dan kertu apa, hingga kertu mana. Beneran ini!

Jika Anda tertarik dengan karya otentik modifikasi anak bangsa(t) ini, silakan komeng dimari https://m.facebook.com/photo.php?fbid=178525259391423

***

JUGA tak lupa kami ucapkan hai dunia, lihat dan saksikanlah, inilah kami anak-anak BMW. Mosok pake motor cuman 150cc? Apaan tuh?

Namanya kami anak BMW, jelas kami ndhak terima dong dengan fakta menyedihkan ini!

Oleh karena maka daripada itu adapun kemudian akhirnya diperkenankanlah perkenalan modifikasi yang daripadamananya telah mengubah mesin 150cc tersebut menjadi mesin gahar sekaliber badak buas beringas nan kesetrum wabah kejang leher sehingga susah belok.

Maka saksikanlah apa yang mana daripadanya sebuah mahakarya tralala dari kami semua ini begini kapan kenapa seperti sebagaimana ininyalah: Honda MogePro 3.0l V8!

Tepuk tangan semua! Prok prok prok!

Demikian persembahan luar bi(n)asa dari kami hanya untuk Anda sedunia. Semoga berita gembira ini bisa bermanfaat mengendorkan saraf-saraf kaku dan hampir kram di otak Anda semua.

Akhirul kalam, jalesveva jayamahe, sekali di udara tetap di udara. Salam Wuling!

– Freema V8

Salut Dengan BBM Malaysia

Salut dengan BBM (bahan bakar minyak) di Malaysia, khususnya BBM diesel mereka. Ada:

  • Euro2 dengan sulfur 500 ppm, dan
  • Euro5 dengan sulfur 10 ppm

Sementara kita:

  • Solar busuk comberan dengan sulfur 3500 ppm,
  • Dexlite dengan sulfur 1.200 ppm,
  • Pertadex dengan sulfur 300 ppm.

Mungkin inilah kenapa anak-anak Malaysia tampak cerdas-cerdas (yaaa kalo liat Upin-Ipin sih 😀 Hehehehe), mungkin karena hanya sedikit sulfur yg mereka hirup dan meresap ke aliran darah. Kalo kata seorang kolega saya yg mantan TKI dari Malaysia, sepuluhan tahun silam, “Di Malaysia itu “solar”-nya warna merah Mas (low-sulphur), ndhak item (hi-sulphur) kayak solar di sini.”

#Catatan: Solar adalah salah satu nama dagang BBM diesel dari Pertamina, sebagaimana Dexlite, Pertadex. Cuman nama dagang ini semacam sudah menjadi metonimia untuk BBM diesel, khususnya di tempat-tempat yg jauh dari kota besar dan tidak/belom mengenal BBM diesel selain “Solar”.

Beda dengan anak muda Indonesia yg sering kita sangka sebagai generasi micin, mungkin selain karena kebanyakan micin beneran – ini cuman mungkin lho, kita juga kebanyakan menghirup sulfur yg berterbangan di jalan raya bahkan hingga ke persawahan pedesaan.

Mungkin. CMIIW.

Regards,
– Freemadex non lite.

Sembarangan Buang Bahasa

Seorang redaktur newsblog curhat akan amburadul dan ugal-ugalannya bahasa para penulis.

Saya khawatir bahwa budaya antri, tidak membuang sampah sembarangan, beradab dan bertata-krama lalu-lintas, serta rapi bertutur kata itu mencerminkan tingkat keagungan adab dan budaya suatu bangsa.

Tetapi, ngapain sih repot mikirin itu semua?

Biar saja orang mau seenakudelnya berlalu-lintas, yg penting kita jaga jarak dari mereka dan selamat sampai rumah. Biasanya, kecelakaan itu terjadi karena pengendara ndhak mengindahkan aturan lalu-lintas atau bahkan mungkin ndhak mengerti. Persetan aja sama mereka, yg penting ndhak nyenggol mobil saya. Situ mau nyungsep, ya derita situ. Salah sendiri di jalanan koq seenaknya.

Ngapain sih kita bingung dengan kelakuan orang yg membuang sampah sembarangan? Mau mereka mbuang sampah di jalan tol, di selokan, di sungai, mbuka jendela mobil dan mbuang sampah seenaknya di jalanan, di trotoar, di depan masjid, di parkiran mobil, keluar ruko, di lapangan pas nonton konser, di sepanjang jalan pas acara jalan santai, di pantai atau di gunung, di mana saja bukan urusan saya; yg penting bukan di halaman rumah kita. Beres!

Koq pusing amat sih kita sama orang yg ndhak mau antri, yg penting kita bukan bagian dari mereka aja kan kelar perkara. Kalo terpaksa semua ndhak mau antri, ya kita ikuti arus aja: situ jual sini beli!

Dan, kenapa juga kita harus mengkoreksi kerapian tutur kata dan bahasa (diri) kita sendiri? Kita ngetik dan ngomong amburadul, nabrak aturan bahasa sana-sini, mencampakkan EYD ke tong sampah, sms tanpa titik tanpa koma, dan dengan segala kelakuan ugal-ugalan berbahasa aja kita bisa nyari duit bahkan bisa beli mobil koq!

Riil aja, apa sih pentingnya beradab dalam berbahasa sekarang ini? Kalo bahasa kita morat-marit trus kita mati atau ndhak bisa kerja gitu?

Satu nusa satu bangsa satu BAHASA? Itu mah jargon! Yg penting adalah bagaimana saya bisa beli spare-parts dan ngerawat mobil, selesai urusan.

Regards,
– Sarkas HW

Mobil Listrik: Pola Pikir Masa Depan Sekarang

Sekian tahun silam, mungkin lima tahunan silam – saya lupa, saya dicemplungkan ke sebuah forum otomotif Motuba sama seorang rekan dari Yogya. Kala itu warganya masih seuprit, hanya seribuan kalo ndhak salah.

Kadang saya rasa di forum ini tuh gini: ada case jangka panjang, eh dikupas dengan bahasan jangka pendek. Atau mungkin sebaliknya.

Ada juga trit yg komengnya beratus-ratus tapi isinya komeng diulang-ulang sampe puluhan kali oleh akun yg berbeda, atau komeng candaan yg sangat amat dominan dan mayoritas hingga mengalahkan secuil komeng yg related dg tritnya; sebuah trit yg kalo dikompres paling cukupnya berisi beberapa komen saja.

Trus ada trit/bahasan konseptual, tapi sama yg komeng dikaji dengan kunci pragmatis. Atau trit bahasan prinsip, tapi terus-terusan dikomengi dengan bahasan teknis.

Salah satu contohnya misal bahasan mobil listrik. Dilihat dari segala sisi, khususnya sisi ekonomis, mobil listrik itu jelas sama sekali ndhak ekonomis. Daya jelajahnya terbatas, isi ulangnya lama, sembarangnya masih mahal. Bahkan yg katanya ramah lingkungan pun, dia bisa jadi masih pake sumber listrik bertenaga fosil buat chargingnya.

Tapi saya sepakat dengan komeng Lik @Wendy Kurniawan: teknologi dan riset, kalau tidak ada yg memulai, pasti tidak akan pernah efisien.

Mungkin inilah alasan mobil listrik (mulai) hadir sekarang ini, dengan segala keterbatasannya dan kemahalannya.

(Terlepas bahwa kapitalis butuh instrumen produksi & investasi baru agar produk lama jadi basi dan ada produk baru yg terpaksa harus dibeli, agar uang terus bisa mereka keruk dan duit terus berputar di dunia ini.)

Artinya, secara sederhana, mobil listrik adalah aspek jangka “nanti”, bukan aspek jangka “now”, apalagi jangka sorong.

Pro dan kontra teramat sangat wajar bilamana ada. Dan mungkin inilah yg akan membuat produsen akan berbenah.

Tapi mbok ya, gimana ya bilangnya, itu lho: lha wong namanya mobil listrik itu masih belom efisien dan belom menemukan bentuknya, terlebih skala ekonomisnya; mbok kalo komen itu diletakkan pada koridornya yg sesuai.

Wong namanya hal jangka panjang mbok ya dikritisi dengan aspek jangka panjang, bukan jangka pendek, apalagi jangka sorong atau instrumen berjangka.

Jangan-jangan yg mengkritisi hal jangka panjang dengan sudut pandang jangka pendek itu, dianya masih keturunan orang jaman old yg mengkritisi hadirnya mobil saat menggantikan dokar: bensinnya belom ada di mana-mana, mesinnya ndhak dipahami oleh banyak orang, kapasitas angkutnya sungguh terbatas, mogokan mungkin, dll. dll.

Sementara pedati itu sungguh sangat ekonomis dan skalabel: kuda lapar, di sepanjang jalan banyak rumput. Bensin habis, eh kuda haus, tinggal minggirkan ke sungai. Beban berat, tinggal tambah lagi kudanya di depan, jadilah belasan tenaga kuda. Mogok/kaki kudanya patah, tinggal sembelih dan dimaem. Spare-parts cadangan pun tersedia: itu si anak kuda yg ikut dituntun di samping kereta. Sungguh efisiensi yg tak terkalahkan bukan?

Jaman segitu, lantas ngapain orang bikin mobil segala? Mana udah gitu eh ada yg mbeli lagi… Pasti jaman segitu yg bikin mobil maupun yg mbeli adalah kategori orang yg ndhak waras.

Sama kayak produsen sekarang yg bikin mobil listrik maupun pembelinya.

Ngapain buang-buang duit untuk hal/mobil yg SEKARANG ini masih sama sekali ndhak efisien? Tolol banget kan?

Ngapain ndhak ditunggu aja sampe ntar kalo baterenya udah efisien: nge-charge cepet, dan daya jelajah sudah sangat amat jauh?

Mustinya mobil listrik kan diproduksi dan dikeluarkan ntar aja kan: kalo baterenya udah cuepett di-charge secepet kita ngisi bensin dan sekali charge daya jelajahnya setara setanki bensin kita bukan?

ITU cuman contoh saja. Seperti kalimat pembuka saya di trit ini: kadang saya rasa. Ini cuman perasaan saya saja.

DAN kapan waktu lalu, mungkin setahunan silam, saya pernah bikin trit uneg-uneg juga. Kalo ndhak salah protes saya terhadap dominasi penggunaan bahasa Jawa, di trit yg isi dan skup warganya luas gitu. Karena beragamnya cara pandang warga di situ, trit saya dianggap jadi rusuh. Akhirnya saya didepak oleh salah seorang admin.

Ini untuk pertama kalinya saya didepak dari semua group yg saya ikuti di fesbuk. Kalo di Motuba sendiri, kayaknya sudah beberapa kali trit saya didelete sama admin. Alasannya jelas: bikin rusuh/kontroversi. Yaaa… 😀

Tau akan hal ini, admin founder Mbah Muhsin Bonsai sampai minta maaf ke saya dan kembali memasukkan akun saya ke grup besarnya ini. Padahal siapa juga saya, sampe doi segitunya gitu. 😀

Makasih Mbah Bons.

Regards,
– Freema HW V8

Sampah

BBKSDA Jawa Timur melarang kegiatan wisata di cagar alam Pulau Sempu. Larangan wisata ke pulau Sempu akan mengakhiri polemik di dunia maya soal pemanfaatan CA Pulau Sempu untuk kepentingan wisata.

Satu kenangan saya dengan pulau Sempu adalah hampir 20 taon silam saat saya masih kuliah, saya pernah berenang dari Sendang Biru ke Pulau Sempu. Didampingi temen-temen yg menjaga saya dengan bersampan.

Itu jaman badan saya masih ceking dan perut masih rata, masih bisa gaya kupu-kupu. Sekarang dijamin saya bakal tenggelam kalo musti berenang kayak gitu lagi, saya cuman bisa gaya dada dan gaya batu. “Dadaaa!” 😀

Dulu, lebih dari 20 taon silam saat saya masih SMA, pergi ke Rinjani itu benar-benar mengasyikkan. Kemarin, saya baca di media, sekarang isinya sampah di mana-mana. Alhamdulillah dan salut buat yg pada mbersihkan.

Baiknya, pengunjung jangan dilarang untuk menjelajahi cagar alam. Tapi bagi siapa yg kedapatan mengotori bumi ini dengan sampah sembarangan, baiknya langsung tenggelamkan aja di laut atau tendang aja ke jurang dalam. Habis perkara.

Tapi yg ngeri lagi tuh cerita emak saya saat pergi haji sepuluhan taon silam. “Saat rombongan jemaah Indonesia beranjak dari duduk-duduk lesehannya di bandara sana, serakan sampah langsung terpampang di luasan lantai di depan mata!”

Itu semua dilakukan oleh orang yg pulang haji lho!

Gusti Allah…

– Freema HW

U-Turn

Barusan kemarin sore, saya “diketawai sinis” sama seseorang yg cangkruk di taman depan stasiun KA Kediri, gara-gara mlungker ndhak cukup jalan.

Mungkin batin itu orang yg sendirian melihat saya, “Nih orang bego banget, masak space segini masih ndhak cukup buat belok?”

Yakh… Saya hanya meyakini, tuh orang kayaknya belom pernah nyetir Everest. Meskipun emang sih, kalo pake Seri 5 bahkan mungkin Seri 7 pun itu space masih cukup buat mlungker mak kluwer.

Maklum, meski bodinya panjang dan gedhe, rancangan suspensi BMW atau juga Mercy bisa membuat roda berbelok sedemikian patah sehingga radius putarnya jadi minim. Kayak roda depannya bis itu lho, bisa dibelokkan sampe patah sepatah patahnya.

Beda dengan mobil yg dirancang buat beban dan ketangguhan macam Everest, atau juga macam Daihatsu Taft yg versi belom suspensi independen. Karena rancangan suspensinya difokuskan buat beban, maka belok rodanya ndhak bisa patah banget gitu. Jadinya goyang patah-patah deh! 😀

(Untuk Taft yg udah suspensi independen, konon radius putarnya jadi lebih kecil/sempit.)

Tapi ini ndhak berlaku buat Audi. Karena penggerak roda depan, Audi A4 (B5) radius putarnya sama dengan BMW E34 kami yg jauh lebih panjang dan gembrot!!! :O

Untung karena itu mobil ndhak gedhe-gedhe amat, jadinya di kebanyakan jalan raya dia masih bisa mlungker mak kluwer dalam sekali puter roda. Tapi ya emang ndhak selincah BMW Seri 3 yg berpenggerak roda belakang, (en)joy banget deh pokoknya itu tjap baling-baling.

Sekalender silam, gara-gara lebarnya radius putar ini Everest yg aslinya di-set up buat 4×4 dengan suspensi yg teramat sederhana gini, pernah pas kami ambil ancang-ancang melebar sebelum u-turn, terpaksa fender depan kanan disikat sama mobil kaleng yg nyelonong memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Fender/spakbor kami penyok, dianya ancur moncongnya. Dianya sempat protes, “Bapak mau belok/puter kanan, ngapain ngambil lajur tengah?”

Lha kami ya santai aja. “Lha bapak mau lurus, ngapain mepet di jalur u-turn kanan? Harusnya kan posisi bapak di kiri kami? Lagian jelas-jelas kami udah riting (Dutch = richting)!”

Akhirnya ini dianggap musibah dan kerugian ditanggung masing-masing.

Tapi inilah emang “sufi”-nya mbawa Everest, bagi yg ndhak ngeh radius putarnya ini mobil, pasti dianggap kita supir ndhak mahir.

Ini baru radius putar. Belom loncat kuda koboinya kalo penumpang dikit. Naik Audi taon ’97, kena aspal berlobang hanya kerasa di bokong saja. Pake Everest ’07, menerjang medan yang sama rasanya perut kayak ditonjok petinju dan punggung seperti digebuk pake balok kayu. Ya emang beneran gitu koq!

Cuman entah kenapa, mbawa Everest yg simple ini rasanya “lebih mobil” aja ketimbang saya bandingkan saat nyoba BMW X5 E53 punya temen. BMW X-Series yg anteng dan nyaman itu (standarnya) serasa “bukan” SUV yg punya ketangguhan antem-anteman ke medan terjal. Itulah kenapa BMW menyebutnya dengan SAV – Sport Activity Vehicle bukan SUV; karena meski tongkrongannya SUV, namun dengan kaki-kakinya yg sedemikian canggih dan rumit itu kayaknya dia justru lebih banci -cocoknya di jalanan saja atau berat-beratnya di salju- ketimbang SUV berkaki simple macam Everest gini yg bahkan “ndhak perlu jalanan” untuk berjalan.

Tapi itu mestinya buat Everest yg 4×4 sih. Kalo 4×2 apalagi matic gini, kayaknya sama aja “nasibnya” jadi kayak X5, cuman Everest menang maintenis aja, mengingat X5 isinya bejibun teknologi: sensor-sensor di mana-mana, komputer yg sangat cerdas termasuk untuk mengendalikan ketepatan rpm dan posisi gigi pada transmisi steptronicnya (ndhak ada manual di X5 sini), MAF yg harus bersih agar jitu membaca kondisi udara sehingga tepat suplai BBM yg dipasok dan disemprotkan ke ruang bakar, kaki-kaki yg kompleks dan mahal, jeroan dashboard yg njelimet dan penuh sesak dengan kabel serta soket-soket, kontrol klimat yg terintergrasi, cakram di keempat roda dengan “mata-mata” ketipisan kampas rem, dll dsb dll dsb. Susah deh pokoknya kalo musti nyemplung ke kubangan air. Sementara ini Everest dengkulnya pakai torsion-beam dan leaf-spring. Relatif murmer polll dan siap berkubang ke sepinggang genangan air. 😀 Hehehehehe…

So, dengan ber-everest hati ini musti penuh dengan kesabaran dan senyuman yg unlimited. 😀

– Freeverest TDCi AT
Gambar nemu dari internet