Newer Overall Better

Saya dari Malang pengguna E36 tahun ’96.
Rencana mau ganti ke E46 tahun 2004 atau E90 pre-facelift.
Sudah sempet googling soal keduanya.
Mungkin disini ada yg make E46 atau E90, mohon review-nya ya: soal kenyamanan, penyakit, dll.
Matur suwun.

Demikian sebuah posting pertanyaan di angkringan-online.

Saya coba awali mancing perkara dulu, moga-moga di bawah ntar ada yg mbetulkan.

Begini…

  1. Prinsip dasar teknis biem (seken) itu: newer is overall better, tapi juga makan duit lebih banyak. Jelas, karena teknologinya lebih update, maka ongkos bedak dan gincunya juga ndhak sembarangan.
  2. Prinsip dasar ekonomi mbeli biem seken adalah: jangan habiskan seluruh budget hanya untuk membeli. Pecah jadi dua segmen: ngangkat mobilnya + biaya benah-benah awal.

Berapa biaya benah-benah awal ini?

Ini yg sangat relatif, tergantung tipe, tahun, dan kelangkaannya. Tipe dan taon yg udah kelewat tua maka maintenisnya justru mungkin akan lebih mihil ketimbang tipe dan taon pasaran.

Tapi prinsipnya: makin baru makin banyak biaya maintenisnya. Ini teori. Praktiknya di lapangan bisa aja sangat kasuistis.

Berapa kisarannya aja untuk biaya benah-benah awal ini?

Lebih detailnya kita bahas di angkringan-online saja. Soale rentan berubah, agak riskan kalo saya cantumkan di sini. Soale mungkin saat posting ini dibaca lagi suatu saat kelak, nilai-nilai angkawinya sudah berubah terus, kayak posting Memilih BMW yg parameter angkawinya udah berubah karena itu posting saya ketik taon 2011, enam taon silam. 😀

***

PERIHAL komparasi teknis antara E46 vs E90, tentu dari sisi keseluruhan (overall) akan jauh lebih maknyusss E90: dimensinya, fiturnya (udah iDrive), dll. Juga rasio power mesinnya.

Tapi ya itu, buat mbenahi audio E90 aja udah setara nginstall audio kelas hi-end karena saking ribetnya dan semuanya saling terintegrasi. Sepintas yg tampak mata: itu monitor sama head-unitnya kan udah ada (installed) dan terpisah posisinya tho? Demikian sedikit petuah yg ane denger langsung dari suhu (suka huru-hara) Lik Abi Bintara yg belakangan ini nyaris ndhak pernah posting karena sedang sibuk “ngetik” pake mesin ketik yg empuk dan ginjur-ginjur. (Kecuali pas pitanya merah, mungkin doi nulis pake tangan). 😀

Belom lagi transmisi E90 yg udah mekantronik: gabungan dari mekanikal dan elektronis. Beda sama E46 yg masih mekanikal di dalam jeroan transmisinya, katakanlah demikian sederhananya.

Ribet? Mahal? Tapi canggih? Jelas, wong teknologi baru bin mutakhir yg mungkin baru akan hadir sepuluh taon lagi di mobil sejuta umat.

Sementara E46, meski saya pribadi masih belom bisa menerima keberadaan sisi teknis (apalagi sisi ekonomis)nya mobil ini, sudah relatif mudah ditangani ketimbang E90.

Cuman bawaan khas mobil tetep ada. Misal gasket yg musti diganti tiap sekian puluh rb km (saya lupa, moga-moga rekan-rekan E46ers ada yg ngoreksi); atau konstruksi kaki-kakinya yg sudah secanggih seri atasnya (E39/E38) dengan bahan full-alumunium: menjamin kenyamanan berkendara tapi ya gitu, kurang repairable untuk bimmerfan kelas saya (saya cocognya sebenarnya cukup Kijang lawas saja, bukan biem. 😀 Hehehehehe…).

Bahkan kalo ngganti alternator E46 dg ampere yg lebih tinggi pun perlu penyesuasian via diagnostic-tool (scanner). Tapi ini bukan hal yg ribet. BMW sejak era akhir 90an sudah wajib musti ditancepkan ke diagnostic-tool kalo mau ngrawat/repair. Yg ndhak wajar justru kalo ndhak ditancepkan scanner gitu: antara mekaniknya hebat luar biasa atau entahlah. 😀

Tapi ya gitu, nyari printhilan E46 secara umum rasanya (jauh) lebih murah ketimbang E90. Head-unitnya pun bisa diganti pake Dynavin, ajib deh, umurnya secara loncat semuda E90.

Tapi ya gitu, harga Dynavin ini sendiri juga ajib. Bahkan kalo mobilnya dijual, biasanya Dynavin-nya dilepas dan dijual terpisah, malah lebih mahal jatuh dapetnya.

***

JADI kesimpulannya, maaf saya ndhak bisa menjlentrehkan sisi teknis dari keduanya. Tapi sebelum mengupas sisi teknis lebih lanjut, intinya saya rasa balik ke itu tadi: seberapa siap budget kita mau ngangkat.

Kalo budgetnya cuman siap untuk ngangkat E46 plus benah-benah awalnya, saran saya nantinya jadikanlah salah satu E46 terbaik yg ada di jalanan Indonesia: yg kondisinya dibenahi semua mulai kaki-kaki, gasket-gasket, waterpump, dll. dll. Jadi tinggal pakai dan bisa dapet joy of driving.

Tapi kalo budgetnya bisa siap untuk ngangkat E90 plus benah-benah awalnya, tentu saya pribadi menyarankan ambil E90. Karena dia lebih baru dan overall lebih bagus ketimbang generasi sebelumnya.

Secara keseluruhan, bukan parsial, saya rasa BMW tidak pernah membuat generasi berikutnya lebih jelek dari generasi sebelumnya. Mereka selalu bikin lebih bagus.

So sekali lagi, batasan ukurannya adalah: kekuatan budget kita aja.

IMHO, CMIIW.

– Freema Bapakne Rahman

REF https://www.google.com/search?q=bmw+e46+vs+e90

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s