Atheis(me)

Tentu, saya pribadi tidak ingin menjadi atheis. Kebetulan di hati kecil menemukan gimana rasanya nikmat bersyukur. Sesuatu yg susah saya deskripsikan hanya dengan ucapan, namun begitu dalam saya rasakan di lubuk hati terdalam saya pribadi. Maka, persoalan hati saya beriman ini sementara biarlah menjadi ranah privat saya, bukan ranah publik yg musti ditunjukkan dengan pemenuhan eksistensi berupa penilaian dan pengakuan (oleh orang lain).

Sama artinya ketika hati kecil saya menolak atheisme, tentu ini adalah ranah privat saya yg tidak ingin saya carikan pemenuhan eksistensinya, misalnya dengan membunuh kaum atheis atau semacamnya. Sebab bisa jadi malah nanti saya yg terbunuh, soale badan mereka kebetulan pas lebih gedhe ketimbang badan saya. Hehehehehe….

Dan well, sebagai makhluk sosial yg mana saya hidup bersama dengan beragam jenis orang, maka kali ini saya ingin berbicara dengan saya sebagai bagian dari kesemuaan.

Menolak bukan berarti musti membenci. Saya menolak atheisme, tapi saya tidak (ingin) membenci atheis dan mengingkari kenyataan yg terwakilkan pada gambaran di poto ini.

Menurut beragam informasi yg ada, kebanyakan negara-negara dengan atheisme tinggi, kebanyakan di Eropa, emang lebih “islami” hasilnya:

– mereka berpendidikan dan berkeilmuan tinggi,
– kesehatan dan fasilitas kesehatannya sangat memadai,
– punya banyak penemuan teknolgi yg membantu memudahkan hidup dan kehidupan,
– sistem ekonominya stabil
– menghormati orang lain,
– bisa antri, dan
– tidak membuang sampah sembarangan.

Atau dengan kalimat sederhana: mereka malah bisa hidup dan menjadi masyarakat madani (civil-society), sesuatu yg menurut kisah-kisah “Islami” adalah apa yg dibentuk dan dibangun oleh Muhammad Rasulullah SAW.

Hal yg mustinya sangat bisa diraih oleh kaum muslimin, karena kitab sucinya berisi kemahailmuan dari segala jurusan/disiplin keilmuan, justru malah diraih oleh kaum atheist atau kaum “kadir”. Sedikit pengobatan atas kerinduan pemcapaian ini adalah adanya cerita pada era Islamic-golden-age, di mana Eropa masih diliputi kegelapan jahiliyah (kebodohan, keterbelakangan), sementara kaum muslimin telah berhasil mencetak barisan ilmuan yg bebas merdekan untuk berpikir dan menciptakan penemuan (invention) dan inovasi (inovation) dan segala bidang: kedokteran/kesehatan, matematika, fisika, astronomi, ekonomi, sosial, dll.

Selepas itu, meski bisa mengikuti gemerlapnya kemajuan dunia(wi), kaum muslimin kembali terpuruk serasa kembali ke jaman jahilitah, saat cahaya pencerahan Islam belom datang. Segala pencapaian pada era Islamic-golden-age berangsur berpindah ke benua Eropa, entah kenapa dan entah gimana kisahnya.

Banyak kemudian yg memanfaatkan pergantian era ini dengan alasan khalifah/khilafiah-lah, penjajahan budayalah, bahwa pencapaian re-Islamic-golden-age oleh bangsa barat itu adalah pencapaian kaum kafirlah, sampai kemudian ada yg menghibur diri dengan mengunggulkan angka fakta tingginya trend masuknya warga Eropa menjadi mualaf.

Sampai kemudian penentangan terbesar dari dalam diri kaum muslimin sendiri adalah dengan mengsekulerisasi: ini khasanah keilmuan Islam, yg ngomongkan beragam ritual atau amalan, dan yg itu adalah khasanah keilmuan umum (yg bukan kailmuan Islam).

Ini yg saya tolak mati-matian, Semua keilmuan: ekonomi, sosial, fisika, biologi, astronomi, bikin pesawat terbang, bikin mobil, mengembangkan metode pendidikan, dll. adalah keilmuan Islam atau ilmu agama Islam sejauh dikepentingkan untuk kemaslahatan umat manusia. Umat manusia, bukan cuman umat Islam.

Bagi saya, umat Islam adalah sesiapa yg memiliki kesadaran batiniah akan ketauhidan pada Sang Esa dan menjalankan tugasnya menjadi khalifah di muka bumi ini, yakni berbuat untuk peradaban, bukan untuk kebiadaban.

Ini pengertian yg saya pegang.

Tapi dari satu atau beragam pengertian lain, umat Islam sudah terpecah (baca: bertentangan), bukan lagi sekedar berbeda untuk bersama.

Dan pada paragraf terakhir di atas, itulah kemudian yg menjadi titik tekan atheis untuk “menusuk” kaum muslimin. Bahwa kita ini sudah pada taraf berpecah, bukan lagi berbeda. Yg mana perpecahan ini ibarat perang, masing-masing pihak berusaha menjadi kemenangan eksistens, hingga hasilnya kehidupanlah yg menjadi korban.

Kaum muslimin, yg konon kuat religinya, justru malah hidup terbelakang (pendidikan, keilmuan habbit antri dan mbuang sampahnya, dll.) di era yg semakin modern dan mutahir dalam beragam parameternya ini. Dan sekali lagi, kita terus-terusan “menolak” pencapaian kembali era Islamic-golden-age dengan terus mengsekulerkan/memisahkan: “ilmu agama” dan “ilmu umum”.

JANGAN salah pengertian, saya tidak ingin memuja-muji atheis(me), saya hanya ingin mengutarakan sejumput kenyataan yg ada di muka bumi ini. Bahwa inilah sepertinya gambaran kondisi yg ada sekarang.

Andai ada pertanyaan, kenapa kita kaum muslimin koq tidak bisa hidup (semaju) seperti mereka (kaum atheis itu – dalam bidang keilmuan sebagaimana pencapaian era Islamic-golden-age), apa yg musti kita jawabkan lik? Jawaban apa yg musti kita berikan lik?

Tentu tidak sekedar jawaban: wallahualam. Meski posting ini saya tutup dengan wallahualambisawab.

– Freema HW

CATATAN:

Kata ireligius mustinya tidak bisa sementah-mentah saya artikan atheis. Sebab bisa saja itu agnostik: bertuhan tapi tidak beragama. Tapi informasi yg ada, negara-negara yg maju itu memang tingkat atheismenya tinggi. Sehinga saya sementara mengkorelasikan ireligius dengan atheisme.

Plus kenyataan bahwa nyaris semua aliran Islam juga menolak agnostisme: ngakunya bertuhan tapi koq ndhak menjalankan “syariat”? Macam gitu.

Plus lagi, bahwa dominan pengertian yg ada adalah ketika orang “beragama” tapi bukan secara (aliran) Islam maka secara literal, searah, dan nirdialektika juga akan langsung disebut kafir.

Jadi frasa atheis yg saya pakai di sini selain atheis secara literal mungkin juga atheis secara klausal, yakni “non-muslim” dalam pengertian pada umumnya sekarang.

Daya angkawinya akan saya coba update nantinya kalo sempat. Ini tadi ngetiknya ndhak pake dikoreksi dulu soale. Tapi saya yakin, yg biasa mengikuti peredaran informasi secara luas bisa memahfumi postingan opini nirdata angkawi saya ini.

Tq.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s