Pedagang “Gila”

Lumrahnya pedagang adalah menyembunyikan berapa harga modal dagangannya, dan mengambil keuntungan saat menjualnya. Berapa keuntungan yang diambil? Era kini sangat beragam patokannya. Sebab perdagangan bukan lagi “jual-beli” melainkan sudah menghitung oportunitas; bisa oportunitas tempat ataupun waktu. Bahasa kasarnya: memanfaatkan keadaan.

Selain oportunitas tempat dan waktu, modal (capital) telah menjadi kekuatan perdagangan yang sukses melengserkan kekuatan sumber daya ((human)resources).

Di tengah “lumrahnya” perdagangan yang sejak lama telah menjadikan oportunitas tempat dan waktu sebagai tambahan faktor nilai jual, ternyata di sudut-sudut dunia ini masih tersimpan mereka-mereka yang berdagang “melawan arus”.

Di tengah kejamakan perdagangan yang sangat menjunjung tinggi hawa kapitalistis ini, masih tersimpan segelintir manusia yang mendudukkan perdagangan sebagai sekedar “jual beli” semata.

Berikut diantaranya yang kami temui.

Pak Nan Jus22

Sebuah warung jus buah plus kopi, mie instan, dan beragam kudapan untuk teman cangkrukan ini terletak di ruko nomer 22 Stadion Brawijaya, Kediri. Tiap malam, khususnya akhir pekan, tempat ini pasti ramai dijadikan tempat nongkrong warga klub otomotif Yang biasa kopdar di parkiran di depannya. Anak otomotif di Kediri bisa dibilang pasti mengenalnya.

Pak Nan dikenal ramah. Bisa bergaul dengan segala kalangan. Plus termasuk “santri gaul”. Dulu doi sempat menyimpan seutas kisah kelam dalam sepenggal waktu perjalanan hidupnya, yang saya tak ingin menceritakannya di sini.

Saya menganggapnya “gila” karena pernah mengalami beberapa kejadian, namun satu yang saya ingat; suatu malam saya ngopi dan mengudap beberapa item kudapan. Pas kelar nongkrong dan mau mbayar total yang cuman beberapa ribu, saya hanya punya uang 100 rb di dompet. Abis ngambil ATM soale.

Kebetulan waktu itu saya termasuk pengunjung berisan terakhir. Karena mau tutup, melihat besaran duit yang saya sodorkan, Pak Nan tampaknya males buat nyarikan kembalian di laci uangnya.

“Besok aja kalo ke sini lagi!”

Tolak dia sambl ngusir saya agar segera pulang, maksudnya saya ndhak usah ngeyel mbayar malem itu. Soalnya doi (lebih memilih) mau beres-beres nutup warung (ketimbang ngacak-ngacak laci duitnya yang emang ndhak beraturan buat nyari kembalian ke saya).

SEKIAN hari lamanya saya ndhak sempat ke situ. Pas ke situ lagi, saya udah lupa kemarin berapa nominal yang musti saya bayarkan. Dan doi juga lupa!

“Gila” niy orang! Ndhak pake catatan, ndhak ngingat-ngingat pula.

Akhirnya saya memeras otak mengingat-ngingat minuman dan cemilan-cemilan yang saya maem. Pas saya sodornya hasil ingatan keras saya, Pak Nan langsung mengiyakan begitu saja.

Pas iseng saya ngobrol dengannya, koq “seenaknya” menjalankan usaha, apa ndhak takut rugi?

Dengan “seenaknya” pula dia bilang, ada Gusti Allah Yang Maha Tahu. Hanya itu kalimatnya. Membuat saya merenung alih-alih bertanya lebih panjang.

Mas Ma’ruf, Tukang Bakso

Dulunya doi adalah (salah satu) tukang bakso keliling di kampung kami. Ikut inang asuhnya (yang sekaligus juragannya), tetangga sebelah rumah (yang saat ini baik si Bapak maupun si Ibu tetangga kami tsb. telah almarhum).

Cara jualannya seenaknya. Kalo yang mbeli warga kampung yang udah akrab dengannya, dia males kalo disuruh ngeladeni. Yang mbeli disuruh ngambil bakso sendiri. Duitnya dia suruh naruh di (dan kembaliannya diambil sendiri dari) kotak duit di rombong baksonya.

Dianya asyik leyeh-leyeh sambil mainan hape atau gitaran. Kadang dia bawa gitar sendiri sambil keliling, kadang main gitarnya anak-anak nongkrong kampung sini.

Saya sempat iseng ngetes dia mbayar pake duit palsu, saya nge-print duit sendiri tapi saya tandai kalo itu duit mainan. Sengaja duitnya saya sodorkan pas dia melayani pembeli yang musti dia layani. Biasanya orang tua, anak-anak, atau orang lain.

Pas nerima duit palsu dari saya, dia sama sekali ndhak ngecek, bahkan melihat (memperhatikan) duit itu pun ndhak. Dia cuman melihat sambil lalu, sambil menerima maksudnya, hanya untuk sekedar mengetahui nominal duit itu berapa. Langsung dia masukkan laci/kotak duitnya lantas ngasihkan kembalian.

Selesai transaksi, saya baru minta kembai duit palsu yang saya berikan dan memberikan duit asli. Dia tampak bingung. Dan malah semakin bingung waktu saya jelaskan kalo duit yang saya kasihkan itu duit palsu.

Hati kecil saya meyakini, dia tidak membatin “kenapa ya saya koq ndhak waspada sama uang palsu.” Atau “duh apesnya saya koq kena/menerima duit palsu.”

Saya yakin dia lebih membatin, “Koq ada ya orang tega (baca: menghina dirinya sendiri dengan) membayar dengan uang palsu?”

Keyakinan batin kecil ini berdasarkan keseharian saya ngobrol dengan si Ma’ruf. Banyak cerita dan bukti kisahnya yang mengerucutkan bahwa semacam itulah kondisi batiniah Ma’ruf kala mendapatkan perlakuan “buruk” dari orang lain.

INI jelas kasta batin yang super tinggi yang bisa diraih manusia: lebih merasa kasihan kepada sesiapa yang berbuat munkar alih-alih marah atau murka. Karena sesiapa yang berbuat munkar, sesungguhya mereka telah menjerumuskan dan mencelakai dirinya sendiri ketimbang yang tampaknya mencelakai orang lain. Tanpa harus kita hukum, orang sudah akan terhukum sendiri oleh karena perbuatannya sendiri.

“Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. 43:76) “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. 42:30)

SESUAI namanya, Ma’ruf. Dia hanya mengenal dan sejauh yang saya tahu dia hanya melakukan kebaikan dan kesehariannya, tanpa harus kehilangan kegaulan dan kesantriannya.

Sudah lama Ma’ruf tidak tinggal di kampung kami lagi sejak dia menikah dan berpindah ke kecamatan yang jauh dari tempat kami, namun masih satu kabupaten.

Semoga Allah berikan kesehatan senantiasa kepadanya dan keluarganya. Aamiin.

Tukang Tambal Ban

Ini kejadian masih terbilang barusan sebelum saya ngetik posting ini.

Nyaris tengah malam pas saya bermotor dalam perjalanan pulang dari Blitar. Jalur yang saya lalui melewati kawasan lereng Gunung Kelud, jalan pintas Kediri – Blitar, dari Kediri langsung mengarah ke tenggara ke arah Blitar, yang sebenarnya waktu tempuhnya kadang malah lebih lama karena kondisi jalanannya; ketimbang melewati jalur normal yang agak memutar: karena harus mengarah lurus ke selatan dulu kemudian berbelok lurus ke timur.

Dari total sekisar 65 km, ini sudah 4/5 perjalanan sebelum nyampai kota Kediri/rumah. Di malam yang sepi dan berangin kencang itu, mendadak ban saya gembos pas habis sebuah perkampungan dan memasuki area “bulak” atau area yang di kiri-kanannya hanya persawahan.

Mau mundur ke balakang ke kampung yang barusan saya lewati, perasaan rumah warga udah pada sepi, tak ada tambal ban yang terlihat (buka) tadi.

Akhirnya dengan ban yang habis anginnya, motor tetap saya paksa melaju perhalan, dan posisi duduk saya semaju mungkin ke depan. Untung saya sendirin kala itu, ndhak mbonceng anak atau istri tercinta.

Masuk perkampugan lagi, Alhamdulillah ada kios kecil tambal ban yang masih menyala lampunya. Lampu “ruangan utama”-nya, bukan sekedar lampu kecil yang buat penerangan jalan gitu.

Pas saya berhenti celingukan nyari orangnya, mendadak seseorang berlari dari warung kopi kecil di seberang itu kios tambal ban. Rupanya si empunya kios lagi ngopi tipis-tipis di warung yang juga masih buka itu, demikian jelasnya. Entah sampe jam berapa itu warung buka, saya lupa menanyakan.

Apalagi konsumen yang dia sasar dengan buka sampe tengah malam itu: apakah traveler Kediri – Blitar yang sekali-dua emang masih ada yang melintas atau warga setempat yang sempatnya bercengkrama hanya kala malam setelah sesiangan sibuk bekerja di sawah, juga tak terlintas untuk saya tanyakan.

Saya hanya begitu exited mendapati jam segini, gelap malam yang sangat dingin karena kencangnya angin plus di tempat yang bukan jalur utama antar kota ini masih ada lapak tambal ban yang buka.

(Bahkan pas di kawasan Blitar yang dingin, jaket tak kuasa menahan merasukknya dingin, saya sempat merasakan hipotermia ringan: sekujur badan rasanya kayak dicelupkan ke air es sehingga geraham saya bergemelutuk kencang serta mulut mulai mengigau – tanda serangan hipotermia. Punggung rasanya super kaku serasa mau patah.)

Kata si Mas, kalo malem meski pintu kiosnya ditutup, dia masih bisa diketok pintu. Asal lampu teras kiosnya nyala, brarti dia ada di situ. Kalo mati, maka dia lagi keluar. Selain nambal ban, dia juga kerja serabutan: membersihkan kebun sampe mijat orang, dan ini justru kadang pas sorean, bukan malem-malem tentunya.

LANGSUNG sama si Mas motor saya digarap. Ban tidak kena paku, diagnosisnya adalah ban terlalu tua (emang udah empat tahun sih, meski kilometer motor serasa masih setahun-dua untuk pemakaian rata-rata orang), sehingga bodi ban sudah tidak lagi firm: ban kemungkinan meleyot kala saya menikung agak miring meski ndhak semiring Rossi, sehingga ban dalamnya kejepit dan sobek.

Hiks… Padahal itu ban dalam belom ada tambalannya sama sekali. Utuh tuh tuh, habis ganti kapan lalu (karena kena paku dan sempat terseret paksa juga sehingga sobek lebar dan tak bisa ditambal).

Karena ban dalamnya sobek malam itu, terpaksa ganti ban dalam. Untung si Mas punya ban dalam bekas, bekas beberaoa titik tambalan yang sama kustomer sebelumnya pilih “dibuang” dan diganti baru saja, sehingga si Mas bisa menawarkan ulang itu ban dengan harga sepertiga dari harga baru. Ban luar dan dalam ini masih bisa dipakai, asal tekanan anginnya selalu dijaga keras, jangan sampe berkurang.

AWALNYA saya sempat deg-degan, karena duit di dompet tinggal 22 RB, kembalian dari beli bensin yg 28 RB sebelumnya tadi. Pikir saya, umpama duit kurang, saya mau ninggal hape dan pergi nyari ATM dulu.

Duluuu juga pernah kayak gini soale, pas kena aspal berlobang, ban kejedhog keras sehingga ban dalam sobek. Jalan sekitar sekilo dan ketemu tambal ban, eh duit kurang 10 RB. Akhirnya saya ninggal hape dan pergi nyari ATM dulu.

Alhamdulillah pas mbayar malam itu, ban dalam bekasnya sama si Mas dihargai 15 RB dan ongkos bongkar pasangnya hanya 5 RB!

Hari gini duit 5 RB ternyata (masih) “ada” artinya.

Pas iseng saya nanyak, “Mas koq ongkos dan harga bannya murah banget, padahal ini tengah malam dan kayak saya gini kan ndhak ada pilihan lain?”

Dia dengan seenaknya njawab, “Buat apa mas saya jual (jasa dan barang) mahal-mahal. Segini aja udah cukup.”

Speechless saya.

Nanti kalo ganti ban, ini ban dalam bekas pingin saya hibahkan ke dia. Siapa tau, bukan berarti ini berharap lho, ada pemotor lain yang kena musibah ban dalamnya sobek di area situ, ini ban bisa dijadikan ban pengganti sementara.

Ya Allah, berilah si Mas itu sehat dan berkah-Mu. Kiosnya emang sangat kecil dan sederhana, tidak ada kompresor dan hanya pakai pompa tangan biasa – yang artinya dia tak bisa untuk mengerjakan ban mobil, juga tanpa ada peralatan tubeless (saya ketahui pas ngobrol sambil lalu), tapi hatinya besar.

Dia tidak mau “gila” memanfaatkan keadaan: keadaan di mana kustomernya tak punya pilihan lain dan mau tak mau harus membayar berapapun harga yang ada.

Si Mas ini benar-benar “gila”!

***

Ini contoh kecil dari banyak kejadian senada yang pernah saya alami. Sengaja saya memposting hal “sepele” ini agar saya bisa bersykur, bahwa masih ada manusia-manusia “miskin” materi tapi teramata sangat kaya jiwa.

Kebaikanlah yang menjadi oksigen bagi nafas peradaban ini. Konon kata Aesop, “No act of kindness, no matter how small, is ever wasted.”. Dengan kata lain, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (QS. 99:7)”

Dan catatan kecil ini juga ingin saya jadikan prasasti di hati saya, agar saya selalu mengingat kebaikan orang.

Maklum, kelakuan hati saya biasanya paling sulit untuk melupakan dan paling mudah untuk mengingat keburukan & kejelekan orang lain; namun paling gampang untuk melupakan dan paling sulit untuk mengingat budi & kebaikan orang. Saya ingin berusaha membalik ini. Mohon doakan dan restui saya.

Apa pengalaman Anda saat menemukan orang-orang “gila” serupa di atas?

– Freema Bapakne Rahman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s