8 Tahun Badak Biru V8

Badak kami itu, intinya gini: 2009, dulu awal beli emang niatnya dipakai, difungsikan secara produktif (buat kerja dan wara-wiri sama keluarga), dan diniati masa baktinya 5 tahunan.

Awal kegantengan tampangnya, yang menyaksikan adalah Om Warastra Adi yang bahkan saya belom kenal doi kala itu; dan Lik Pebriyanto Suryo, yang bersama doi dan satu orang lagi kami bertemu untuk pertama kalinya sebagai penggemar BMW di Kedirian(an).

Beneran, selama lima tahunan kami pegang badak, kami telah menempuh sekisar 100 ribuan km. Mulai lintas AKAP sampe turun berkubang tanah nengok kebon di Blitar selatan.

Kalo kaki-kaki Badak Biru dibongkar, di support-shock belakang ada ring pengganjal setebal 3 atau 5 cm gitu, saya malah lupa. Soale biar ndhak kejedhog batu pas nengok kebon di Blitar selatan.

Kala itu saya emang lumayan sering lintas AKAP ke Jakarta. Maklum, berempat pakai Badak yang boros itu malah bensinnya lebih hemat ketimbang naik kereta eksekutif. Capek nyetirnya dikonversi jadi acara jalan-jalan. Toh nyetir BMW AKAP itu ndhak capek-capek amat koq!

Lucunya, selama lima tahun itu saya ndhak sadar kalo setrum pengisiannya kurang.

Maklum, kala itu tak ada tukang dinamo yang berani nurunkan apalagi mbongkar alternatornya badak. Dan checking sementara waktu mesin running dan akinya saya copot, mesin tetap running. Makanya saya mikir itu alternator ndhak masalah dan kalo toh aki tekor, itu karena ada maling setrum yang tak terdekteksi.

Saya sadar kalo setrumnya 12 koma sekian volt. Cuman karena butanya kala itu sama BMW, saya mikir ini apa kelakuan komputernya yang super canggih sehingga kalo aki pas kondisi penuh, setrum dikurangi besarannya biar ndhak over-charging.

Cuman buat antisipasi, ke mana-mana saya tetep bawa aki cadangan yang rutin saya charge juga di rumah.

***

Kala itu jaman masih relatif murah-murahnya bensin, jaman nyaman-nyamannya Badak Biru -mobil Eropa pertama yang kami punya-, dan jaman relatif sepinya jalanan.

Plus jaman rame-ramenya bisnis advertising kami.

Pokoknya jaman enak-enaknya pake badak.

Dan karena pada kenyataannya saya emang blank sama BMW, mulailah “belagu” nyari mangsa: orang-orang berilmu yang paham seluk-beluk BMW saya coba kumpulkan di trit E34 Indonesia di Modcom agar bisa saya serap ilmunya! Jaman segitu fesbuk masih sederhana, belom ada fasilitas grup kayak gini.

Alhasil manusia-manusia berotak padat macam Cak Rizal atau bro Al Vino menjadi syekh atau kiai BMW kami. Dibantu juga manusia-manusia yang bermurah hati berbagi informasi macam Om Mirza Firmansyah atau Kang Aria Syah, miara BMW semakin keliatan tiik terang benderang kemudahan dan relatif kemurahannya. Intinya, ndhak seserem harga be-res gitulah. 😀

Mendapat petuah dari mereka berdua itu rasanya seperti mendapat siraman rohani BMW yang menyejukkan & menenangkan hati dan dompet. Bahwa miara BMW itu bisa ditangai asal kita telaten dan ulet menggali informasi, demi menyelamatkan isi dompet dari getokan penjarahan harga parts dan ongkos bengkel yang merajalela membabi buta, terutama -maaf- bengkel ndhak tau tapi sok tau nangani BMW.

Jaman segitu Lik Abi Bintara dan Bang Rico Montir masih di antah-berantah keberadaannya. Beruntunglah kepada generasi masa kini yang kala miara BMW udah langsung kenal sama orang-orang macam mereka. Plus melimpahnya arus informasi kala sekarang, semakin tampak kalo miara BMW itu kadang-kadang kerasanya ibarat miara Corolla atau Civic saja murahnya.

DARI Modcom & fesbuk yang masih sederhana, era 2010 saya dikontak sama Pakpuh Risky Mujiono yang belakangan jadi Ki Lurah Kedirian dan si bengal Lik Ardian Satriyo Adi, yang kala Badak berumur tepat lima tahun di tanganku kami bersama rekan-rekan lain mendirikan BMWCCI Kediri Chapter pada 2014, setelah pada 2011 kami bersama rekan-rekan Madiunan Cangkrukan (Lik Soegik Prestige, Ki Anang Moedjijono dkk. semanya – yang udah pada letoy ber-BMW, kecuali Lik Sugik) sempat pending mbikin BMWCCI Mataraman Chapter – tidak disetujui oleh pengurus pusat karena (pilihan) nama yang bukan nama kota atau wilayah khusus. (Belakangan kini udah lahir BMWCCI Madiun Chapter).

Modcom dan Kaskus BMW Mania adalah sumber ilmu utama miara BMW yang ndhak jelas gimana-gimananya ini: cara nanganinya dan beli spareparts-nya.

Harga parts masih blank kala itu. Maklum, teknologi informasi/komunikasi belom merata. Henpun Android belom ada, kalo toh ada masih satu dua yang punya.

Internetan masih pakai kompie dan modem 3G, atau Speedy kabel yang mahalnya ngaudubilah itu.

Pokoknya jaman “susah”, tapi justru jaman enak-enaknya badak.

***

Hingga (lebih)lima tahun kemudian.

Badak udah mulai capek. Bisnis advertising mendadak juga mulai drop karena serbuan era digital. Omzet turun hingga ndhak sampe 40% dari biasanya, bahkan seringan kurang.

Ribuan tenaga kontrak perusahaan gedhe dirumahkan diam-diam. Puluhan pelaku bisnis advertising yang print-based juga gulung tikar. Tinggal pemain besar dan sesiapa yang masih punya basis pelanggan kuat saja.

Kondisi ini semakin ke sini semakin “diperparah” dengan kebijakan “bersih baliho” dari banyak pemda. Pemkot/pemkab sudah menghentian penerbitan dan perpanjangan izin baru pemasangan reklame luar ruang. Alasan mereka sungguh saya sepakati: agar keindahan kota ndhak diberantaki oleh “sampah” udara baliho luar ruang itu.

Dan korporasi gedhe juga mulai mengalihkan metode promosinya ke jaringan online, yang belakangan cuman dikuasai oleh Google sama Fesbuk, plus Detikcom. Kurang lebihnya demikian.

Bahkan pabrikan gedhe tempat Lik Febri Suryo bekerja itu pun bikin program pensiun dini ke puluhan ribu karyawannya karena mereka mengubah diri ke mekanisasi.

Pokoknya di saat pertumbuhan penduduk sedang tinggi-tingginya, banyak lapangan pekerjaan yang hilang. Sebenarnya bukan hilang, hanya berganti atau bergeser jenisnya dan tumbuh sekian jenis lapangan kerja baru.

Konter hape misalnya, baik pulsa maupun device-nya, mendadak menjamur dan merajalela di mana-mana. Jenis bisnis yang sebelumnya ndhak pernah kita kenal pada era Nokia 3315 apalagi era 5510.

Alhamdulillah hanya karena Allah semata, saat bisnis suram, saya kelimpahan tugas musti ngurusi sawah pening galan keluarga. Setidaknya masih ada makanan) buat anak-istri.

***

Dengan kondisi tubuh capek dan empunya yang mulai diet dompetnya, si Badak Biru justru pas puncak-puncaknya minta perhatian.

Saya sama istri bukan ndhak sadar kondisi ini. Tapi situasi, kondisi, toleransi, pandangan, dan jangkauan berkata lain.

Badak terpaksa kami diamkan.

Susah mau kami lego, karena si kecil yang selalu “menghalangi” dengan berkali-kali menanyakan, “Pak BMW-ku koq ndhak dibetulin sih?”

Ya, kalo biasanya anak-anak kita menyebut mobil di rumah sebagai ‘mobilnya bapak/ayah/papa’, si kecil kami beda. Ia menyebut Badak Biru sebagai mobilnya. Karena dari awal kedatangannya, kami mengatakan ini mobil dia, Bapaknya ini cuman nyupiri aja.

Berembug dengan istri, akhirnya kami memutuskan, entah suatu ketika kapan, kami akan berusaha merekoveri Badak ke kondisi sebaik mungkinnya.

Salah satu contoh sukses rekoveri ini adalah mafio-nya Lik Ghofar Ilmi. E34 M60 individualnya yang pake kulkas di jok belakang berhasil di-pijat syaraf sama Lik Abi. Sehingga larinya bisa ngalahkan setan.

Entah kapan, mungkin badak akan kami ginikan.

Sebab saat saya mau njual mesinnya si badak biru duluan, ndhak pernah ada yang nawar.

Selain karena ini karmanaya BMW mungkin, khususon V8; lainnya itu mungkin emang karena takdirnya si kecil ndhak mengizinkan. Sehingga Gusti Allah mungkin belom ridho kalo badak acakadut ini lepas dari tangan kami.

Entahlah.

Sebab syarat besar merekoveri badak emang bukan cuman kemauan dan niat kuat belaka, melainkan juga segepok uang yang teramat sangat menentukan. (Ini berkebalikan dengan kala Anda mau mbeli BMW, punya uang saja ndhak cukup. Musti didahului dengan niat, niat, dan niat.)

ENTAH kenapa saya bisa “terjebak” tapi sekaligus menikmati ber-BMW V8 gini. Dan sementara sekarang, kinteran pake motor atau mesin 4 silinder saja.

Si Badak Biru? Mengalir bersama sang waktu (baca: isi dompet) aja dulu. Tak ada proyeksi, target, apalagi pencapaian (goal) yang bisa kami patok.

INI rangkuman kecil tentang si badak yang barusan sewindu menghiasi hari-hari kami.

Intiya, bersama Badak Biru ini saya telah mengenal sejibun manusia ramah di mana-mana, di banyak kota, di banyak tempat.

Bersama Badak biru ini, gugur kesan bahwa BMW hanya melulu terkoneksi dan terstigma dengan hedonisme dan hambur-hamburan uang.

Bersama Badak biru ini saya mengenal bagaimana mendapatkan kenyamanan dan keasyikan (joy) serasa terbang ke awang-awang namun dengan kaki tetap membumi.

Bersama Badak Biru ini saya bersama kawan-kawan bisa berkumpul dan berserikat, bukan untuk mengotakkan diri melainkan justru menjadi bagian dari kebersamaan dalam segala perbedaan yang ada.

Terakhir yang bikin saya sangat terharu adalah kala mengikuti acara ultah BUCKS Amazin9 di Bawen. Acaranya (temen-temen) BMW yang mungkin terstigma identik dengan duit melimpah, tapi ternyata acaranya begitu bersahaja, mirip klub sepeda gembira.

Cuman elektonan, makan dengan menu pada umumnya tanpa ada sajian Eropa dan yang ada malah menu-menu tradisional yang relatif murah dan mudah disajikan, plus games dengan hadiah dominan: snack anak-anak!

Siapa bilang ber-BMW harus hedon dan hura-hura?

***

Saya, Freema Hadi Widiasena, adalah salah satu bimmerfan dengan kepala yang mendongak ke angkasa namun dengan kaki yang tetap terus menapak bumi.

Bukan sebaliknya: kaki-kaki ketinggian di awang-awang namun dengan kepala nyungsep ke tanah.

Ini tentang saya dan BMW kami, yang tampangnya udah acakadut bulukan, yang dulu sempat beberapa kali dipinjem teman-teman buat jadi mobil manten.

– FHW V8

NOTE: Badak sebenarnya adalah julukan yang disematkan oleh Cak Rizal kepada BMW E34 M30 535i-nya: Badak Tua Jadul Purba. Belakangan Badak menjadi slang buat BMW E34.

Advertisements

One thought on “8 Tahun Badak Biru V8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s