Plagiasi Blogger Reproduksi: Yang Penting SEO, Persetan Etika

Ada anak remaja meng-copas posting orang lain, dia didakwa secara sosial melakukan plagiasi. Si remaja mengaku bersalah dan udah minta maaf, dan yg punya tulisan awal pun juga memposting uraian tak berkeberatan sama sekali.

Akhirnya kasus selesai.

Meski demikian, plagiasi tentu bukan hal yg legal, layak, etis, atau patut -apatah nama atau istilahnya- untuk dilanjutkan, diteruskan, apalagi dikembangkan dan dibiarkan begitu saja menjadi budaya.

Tetapi bukan sebuah plagiasi jika kita meramu beberapa ide dari beragam sumber dan memformulasikannya menjadi sebuah ide baru yg (lebih) genuine. Mungkin akan panjang kalo kita jlentrehkan detail dan jabaran konsepsinya. Tapi saya yakin kita semua bisa memahami, setidaknya memahfumi, konsepsi ini.

Cuman….

Saya jadi mikir…

Itu bloger-bloger yg kerjaannya demenannya ngereproduksi tulisan dari laman-laman warta berita yg mustinya bisa tinggal di-share gitu doang;

apa ndhak lebih parah dari plagiasi tho?

Pewarta di seberang sono jungkir balik nyari berita, editor kerja keras meramu tulisan, tim teknis produksi berpacu melawan waktu menyajikan isi dan tampilan paling cakep;

eh di sebelah sini blogger-blogger cuman copas, udah kalimat dikit, dan menjadikan laman asli tulisan seolah sebagai narasumber ketimbang pemilik asli postingan;

dengan sadar dan sengaja dan dilakukan berulang-ulang,

mungkin bukan plagiasi; tapi apa namanya kelakuan (menjijikkan) kayak gini?

KALO memang ndhak sempat untuk memproduksi berita & informasi sendiri, mbok jangan mereproduksi. Nulis opini dengan dialektika yg matang dan analisis yg dalam justru akan membuat Anda-Anda para blogger jadi disegani di dunia persilatan ketikan.

Tapi memang pasar tulisan tajam itu jauh dari hits dan adsense.

Tulisan gosip: baik agama, politik, sosial, teknologi, bahkan sampe masakan (saya ndhak enak mau bilang ghibah) yang kebanyakan micin… sori, bumbu tulisan mungkin akan jauh lebih laku diklik orang.

Dan biar keren, polanya klasik tapi permanen (busuknya): pengantar tiga paragraf, isi satu paragraf, penutup satu paragraf. Dah panjang banget itu postingan, kayak diketik sama profesional di bidangnya.

Yang penting SEO. Persetan etika. Iya ndhak?

– Freemlagiat HW

*Siapa pemilik foto di laman-laman posting blog saya ini, klik kanan dan lihat gambar aja. Di situ link/tautan aslinya koq!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s