Asal Kita Lahir

Saat kita semua masih kecil, inget ndhak ortu kita bilangnya kita lahir dari mana? Dari pantat? Dari pintu di perut? Atau dibuat dari adonan tepung?

Masih mending kalian semua yg dulu kecilnya diboongi kalo kalian itu lahir dari pantatlah, dari pintu di perutlah, atau dibuat dari adonan.

Nah ortu ane bilang, ane ini asalnya dari kali Brantas. Ditemu sama mereka berdua. Trus dipiara. Meong kali ya?

Sampe sekarang ane masih dendam sama ortu kalo ingat cerita ini. Pingin ane dudukkan mereka berdua terus ane semprot abis-abisan.

Tapi Bapak udah duluan berpulang kepada-Nya. Kini saya malah sibuk mendoakannya. Dan menjaga emak yg kini sayang banget sama cucu-cucunya.

Subhanallah wallahuakbar.

– Freema KB (Kali Brantas)

Advertisements

Senjata Makan Tuan

Hyundai dan KIA awalnya adalah dua (dari) perusahaan otomotif Korea, yg kemudian merger jadi satu group, meski KIA jadinya adalah divisi dari Hyundai bersama Genesis, sub-brand yg diangkat jadi merk mewahnya Hyundai.

Memperbaiki diri, mereka “memindah” pusat risetnya ke Jerman. KIA membajak lik Peter Schreyer, direktur desain VW Group -doi mimpin desainnya VW, Audi, dan Bentley- buat jadi kepala desain KIA;

dan Hyundai membajak lik Thomas Bürkle, desainernya BMW untuk jadi kepala desainnya. Juga Lik Christopher Chapman yg nggambar BMW X5 buat ditaruh di Kalifornia, sononya Kaligawe.

Bukan cuman itu, Hyundai juga nyulik pakdhe Albert Biermann, bos teknisnya BMW-M buat mbikin mobil Hyundai-N yg mau nandingi BMW-M!

Senjata makan tuan?

YANG pasti, atas langkah revolusioner nyomoti tukang-tukang gambar pabrik-pabrik mobil kondang-mapan itu, kini Hyundai Motor duduk di posisi tiga besar pabrik mobil dunia.

Di mata saya pribadi, Hyundai Grup bukan lagi pabrikan mobil Kroya. Mereka adalah pabrikan mobil Jerman, bermerk Kroya. Itu!

Akun Fesbuk Lenyap Pt.2

Akun admin “Tahukah Anda” lenyap lagi digaruk sugeblek. Apa salahnya akun ini tho sebenarnya: akun kriminal bukan, akun teroris bukan, akun penipuan bukan, akun gelap juga bukan, apalagi akun PSK online.

Bahkan ini akun (dan akun-akun admin lainnya di Mataraman) dikelola secara resmi oleh tim admins;

hanya karena melanggar administrasi fesbuk aja sampe digaruk. Fesbuk memang konon mempersyaratkan akun musti riil dan isinya tidak melanggar ketentuan komunitas fesbuk.

Sayang banget deretan like & komen yg udah ada jadi ilang.

Ya sudahlah, namanya juga numang gratisan di fesbuk, suka-sukanya yg bikin fesbuk.

So pelajaran yg bisa kita petik: jangan pernah sekali-sekali naruh postingan atau tulisan yg serius di fesbuk. Sebab kita ndhak pernah tau kapan akun kita dilenyapkan; tanpa ada kepastian bisa kembali atau tidak.

Akun kita mungkin bisa dilenyapkan cukup dengan “hasil aduan” oleh pengguna lain atau entah apa; tanpa pernah ada pengadilan, investigasi, atau apapun secara resmi.

Atau mungkin dianggap SARA/melanggar ketentuan komunitas fesbuk, alih-alih sebenarnya isinya hanya kebebasan berpikir atau berpendapat yg sesungguhnya sangat mungkin masih bisa dipertanggung jawabkan.

Intinya, kita tak bisa lagi membuat satu akun profil -dengan fungsionalisasi administrator- yg itu mewakili eksistensi komunal atau bersama.

Entah kenapa eksistensi yg ada dalam bentuk akun profile di fesbuk wajib sebagai eksistensi personal. Padahal bisa saja kita sebagai pengguna ini -dengan berbagai alasan tertentu yg sekiranya logis-
membutuhkan akun profil yg mana itu mewakili eksistensi komunal, melebihi eksistensi personal.

Tapi apapun, fesbuk adalah pencipta dan pemilik fesbuk. Kita di sini ada cuman numpang gratisan buat ajang sasaran iklan dan obyek untuk diawasi oleh tim keamanan dunia; dengan bonus ajang silaturahmi maya; yg pada silaturahmi sesungguhnya dan yg hakiki itu adalah jika kita ketemu (batin) secara langsung.

Jangankan fesbuk yg gratisan, kita langganan telepon seluler yg jelas-jelas mbayar secara mutlak untuk layanan yg kita pilih aja masih jadi korban iklan yg menyaru sebagai informasi koq!

So, kalo mau nilis yg perlu diwariskan ke pembaca atau generasi mendatang, tulislah di blog, atau bagus lagi bikinlah buku.

Di dunia maya khususon fesbuk, tulislah apasaja yg bisa ilang dengan seketika yg kita tak perlu mencari dan menggalinya lagi. Posting picisan atau mungkin hoax, itu saja kayaknya cukup. Dan mungkin malah aman. Apalagi nulis hoax dan posting picisannya serius banget.

Yg penting di fesbuk lalu-lintas postingnya rame, sehingga iklan laku dijual. Ibarat kata, “Kalian ngomong apalah gitu yg enteng-enteng aja, yg penting kalian pada liat iklan yg terpampang!”

Jangan sampe kalian nulis yg penuh pikiran, sehingga orang cuman fokus pada postingan dan sampe lupa kalo ada iklan yg perlu diklik dan jadi tambang uang bagi mereka.

Mungkin demikian.

Mungkin.

Tapi yg pasti, ini posting saya adalah posting picisan, terindikasi hoax, dan disinyalir memecahbelah persatuan dan kesatuan umat manusia.

– FHW

Akun Fesbuk Ilang Pt.1 https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/04/03/akun-fesbuk-saya-hilang/

BMacW

Mobil Eropa, salah satunya BMW, dikenal punya konsistensi nuansa desain dari generasi ke generasi, meski sebenarnya garis-garis desain mereka berubah lumayan radikal.

Kidney-grill dan segenap elemen konsistensi lain telah menyatukan beragam perbedaan garis desain pada tiap-tiap generasi BMW. Padahal dimensi desain kidney-grill itu sendiri berubah-ubah lumayan radikal.

Pada komputer, Apple Macintosh juga punya konsistensi semacam ini. Desain menu bar yang konsisten di atas ndhak “pindah-able”, dan suara Mac Chime yang khas meski pitch-nya sedikit berbeda, mungkin dipengaruhi oleh perangkat kerasnya juga.

BTW, Apple = hardware, Macintosh = software. Biasa disebut sepaket karena memang secara baku hardware tersebut diisi oleh software tersebut atau bisa disebut sebaliknya sebaliknya, software tersebut mengisi hardware tersebut.

Saya pertama mengenal/menggunakan komputer era DOS pada masa SMP, awal 90an. SMA, mulai mengenal Windows 3.1. Kuliah mulai mengenal Windows 95 dan 98. Juga Linux, meski belom menggunakannya. Di Windows mulai saya jalankan StarOffice, aplikasi office alternatif kala itu tatkala nyaris se-Indonesia seolah hanya mengenal Microsoft Office.

StarOffice belakangan menjadi OpenOffice.org dan kemudian bertransformasi lagi menjadi LibreOffice; perangkat office baku pada beragam distro Linux.

Lainnya itu saya juga mulai mengenal Mac dari beberapa tempat yang saya kenal.

Akhir masa kuliah, 2001, saya mulai menggunakan Linux dan perlahan menomorduakan Windows. Selanjutnya 2003, saya pertama kali menggunakan Mac.

Kala itu berkali-kali sering ditanya orang, “Mas ini laptopnya pake Windows apa sih, koq cantik tampilannya?”

Mereka terkesima lihat docking yang menari-nari dan meloncat-loncat itu.

Selanjutnya lama saya dan sekeluarga perlahan mengenal dan menggunakan Mac. Prosesnya masih PPC kala itu. Total ada empat biji Mac pada kami sekeluarga. Si kecil pun sudah kemi kenalkan dengan Mac sejak dia masih playgroup/TK.

Mac begitu pas mantab buat kerja. Stabil, bebas virus, konsisten kinerjanya, akurat warnanya.

Windows, selalu terkenal dengan BSOD (blue screen of death) dan suara login yang berubah-ubah pada tiap versi. Tapi dia teramat sangat populer, karena bisa dipasangkan di perangkat keras kelas apa saja. Mulai mainboard seharga 50 dolar hingga 500 dolar bahkan lebih.

Plus bajakannya melimpah. Alhasil semua orang bisa kenal komputer berikut kecanduan (bajakan)nya.

***

Kemudian era Mac keluar dengan Intel, Mac PPC mulai terhenti pemutakhirannya. Mendakan Mac cuman jadi barang koleksi, ndhak bisa dipakai kerja.

Dan mendadak Mac menjadi barang seperti PC Windows biasa, namun yang kelas hi-end; bukan lagi “komputer yang berbeda”.

Mulailah kami berhenti menggunakan Mac.

Saat ini kami sekeluarga pake PC dengan Linux sebagai sistem-operasinya. Windows masih kami pasang, untuk penggunaan tertentu.

***

ENAM tahun setelah menggunakan Mac, saya baru punya BMW. Mobil Eropa pertama yang ada di keluarga.

Awalnya kagok melihat mobil Eropa yang “serba beda semua” gini. Beda cara nananginya, beda (harga dan) spesifikasi-dimensi parts standarnya, beda fotur dan perlakuannya.

Tapi setelah mengingat Mac yang telah sekian lama mengisi dan menghiasi hari-hari kami sekeluarga, rasanya semua “seperti udah biasa” aja.

***

SEKARANG rasanya mulai tipis batas performa dan kecantikan (desain hardware maupun software) antara Windows dan Mac. Windows 10 pada jenis-jenis komputer kelas atas: komputer 2in1 (bisa jadi laptop atau tablet; komputer workstation; dll. begitu kelihatan cantik dan luar biasa peningkatan performanya. Windows 10 (rasanya sejak Windows 8) serasa telah meninggalkan Windows era lama/sebelumnya. Meski masih penuh corak warna, namun Windows 10 udah meninggalkan warna latar yang warna-warni dan bikin pedih mata, malah bikin susah konsentrasi kerja. Ini kalo saya. Ndhak tau kalo Anda.

Mac yang masih konsisten dengan nuansa lamanya, sebenarnya juga mulai berubah lumayan. Mac mulai penuh warna meski tetap ndhak pernah bisa norak kayak Windows. Secara umumnya warna sistem operasinya tetaplah simpel. Karakter warna simpel ini justru sekarang banyak kita temukan di laman web. Yang paling kondang tentunya ya si google itu. Putih mulus sepi corak norak gitu.

Kalo Linux mah, suka-suka yang bikin (distro). Bisa simpel kayak Mac, bisa norak kayak Windows. Namanya aja open-source, bisa dioprek semaunya yang bisa ngoprek.

Linux itu kan “bukan perusahaan” kayak Mac atau Windows. Dia kan kayak paguyuban warga, kayak orang banyak lagi gotong royong, atau mirip-miripnya kayak koperasi lah modelnya.

Koperasi kan juga bisa punya pabrik atau tokok kayak perusahaan gedhe. Tapi ngerti kan bedanya apa antara koperasi vs perusahaan partikelir? Ya kayak gitulah kurang lebihnya. 😀

***

Dan, era internet & koneksi telah membawa mereka semua ke satu fokus: offline-less. “OS”-store telah menjadi kata kunci yang senada sejak era Blackberry, Linux, Android, iOS, dan kemudian Windows serta Mac.

Bahkan perangkat kerasnya pun mulai semakin tipis perbedaannya. Antara ponsel, tablet, dan komputer cuman dibedakan pada sedikit penggunaan khusus aja. Sebab udah lumrah ada komputer atau ponsel seukuran tablet.

MacBook yang judulnya masih laptop itu pun jeroannya juga jeroan henpun.

Dan… BMW pun juga semakin tipis bedanya dengan mobil lain. Apalagi di era mobil listrik yang udah dekat ini. Di dalam BMW udah mulai banyak cup-holder. Dan BMW vs Crown bahkan Camry sekalipun – ndhak perlu harus Lexus, rasanya sudah semakin sedikit dan semakin sedikit perbedaan (kemewahan)fiturnya.

Hanya konsistensi karakter yang membuat Mac dan BMW masih “berbeda” dengan yang lain. Yakni kidney-grill dan konco-konconya serta palang atas berikut suara Mac Chime itu, juga dockingnya

Hal sederhana, namun ternyata menjadi pembeda yang luar biasa. Susah ditandingi lawan-lawannya. Kecuali ntar manajemennya salah langkah, bukan tak mungkin nasib mereka terjungkal.

Semoga Mac dan BMW terus selalu mengusung konsistensi mereka.

– Freemac HW,
pengguna BMacW.

Part KW = Buang Uang

Setelah 10 taunan bekerja, kiprok (regulator rectifier) bawaan motor modyar.

Sempat ane belikan yg kw, harganya sepertiga sampe setengah orinya, ndhak pake lama modyar lagi. Alhasil balik kanan lagi.

Nilai moralnya: pake part kw kadang bahkan seringnya malah buang-buang uang.

***

Di kijang rasanya sama juga. Dan kalo buat kijang, ane juga masih berani ngomong gitu: pake part kw kadang malah buang uang. Persoalannya, buat kijang part orinya juga murah. Shock ori aja sepasang cuman 400an rb. Mungkin sekarang 500 rb.

Malah part kw Kijang juga kualitasnya udah mendekati OEM.

Saya pernah ganti spion, sebiji cuman 25rb. Plastiknya emang ndhak se-firm orinya. Tapi kacanya ndhak getar, sudut pandangnya juga pleg ama orinya. Ndhak lebih cembung atau cekung, obyek ndhak tampak lebih dekat atau lebih jauh. Dan baut setelan kekencangannya juga bekerja sempurna. Ndhak gampang dol/slek. Dan itu spion udah bertahun-tahun terpasang di pintu, menggantikan spion ori yg pecah kesampluk gandengan truk yg mobat-mabit di jalan.

Berapa harga spion Kijang yg ori? Saya ndhak tau. Toko yg jual ndhak nyetok. Mungkin ndhak ada yg nyari kali ya? 😀

Cuman kalo batok lampu belakang Kijang, pendaran cahaya yg kw tetep ndhak bisa seterang yg ori.

Lampu belakang Kijang, yg kw mika lampunya doang 25rb sebiji. Kalo sama batoknya 250rb per set/dua biji. Sementara lampu ori (batok sama mikanya, udah ter-lem menyatu, non buka-able) 550rb sebiji!

NAH, di BMW/Audi sama juga. Part kw, kita biasanya nyebut “yg biasa”, sering kejadiannya juga ndhak awet.

Case paling sering kita dengar adalah visco fan. Yg biasa 450rb.

Biasanya temen-temen kalo udah pernah kebuang uang gara-gara part biasa, baru nyari “yg bagus”. Kayak visco, yg bagus harganya dua kalinya.

Kualitas “yg bagus” ini memang bukan ori dalam pengertian ada capnya BMW. Tapi dia udah kelas OEM.

Untuk kaki-kaki, shock misanya, biasanya cuman ada satu pilihan kualitas: “yg bagus” semua.

Hanya opsi/­merknya beragam. Ada yg orientasi empuk-nyaman-touring, ada yg orientasi keras-sport.

Kayak packing/gasket mesin gitu malah adanya satu pilihan doang. OEM.

Di Audi sama kayak BMW, ada yg biasa sama yg bagus/OEM.

Tapi di beberapa item, pilihannya malah yg biasa sama langsung ori dengan cap/logo Audi.

CUMAN masalahnya, kalo part ori motor suzuki, meski harganya tiga kali lipat yg kw, masih relatif enteng dijabanin.

Kalo part OEM BMW, hiks… Ya jelas beda, motor vs mobil.

Tapi di luar itu, benefit yg hadir juga beda. BMW tua pake parts bagus, relatif masih lebih nyaman ketimbang mobil sejuta umat yg gress sekalipun, yg harganya masih berlipat-lipat dibanding BMW terestorasi.

IMHO.