Menarik mencermati grafik trend penurunan penjualan sedan gambrot (large passenger car) di negara tetangga ini.

Kenapa rata-rata pada melorot semua gitu?

Menurut chief executive of the Federal Chamber of Automotive Industries, Tony Weber, “The prices of luxury cars have come down … and they have a wider array of vehicles in different segments, so they’re starting to drift down into areas where they weren’t historically,”

Dan ternyata bener, penjualan mobil di Australia ndhak melorot, cuman kategorinya yang berpindah. Semua pada suka SUV.

Kenapa Australia suka SUV? Jawaban ini siy kayaknya normatif banget…

Atau karena dominan area Australia adalah gurun/offroad/ungraded-road sehingga mereka perlu SUV?

Entahlah.

Tapi bisa jadi mereka suka SUV -yang seirit-iritnya dia masih saja identik dengan bensin boros ketimbang para mobil imut tentunya- didukung juga oleh harga bahan bakar minyak yang juga melorot.

Benarkah SUV mendadak laris di Australia hanya karena harga bahan bakar minyak yang turun? Atau karena dominan area Australia adalah gurun/offroad/ungraded-road sehingga mereka perlu SUV?

Entahlah. Saya googling-googling masih belom menemukan data statistik semacam survei oleh lembaga survei tentang apa motivasi kustomer membeli SUV. (Mohon infokan ke saya kalo ada exit-poll dari lembaga survei terkait.) 😀

Tapi jika saya pribadi, saya juga suka SUV, cuman musti SUV yang senyaman sedan; yang punya kontrol traksi dan kontrol stabilitas yang mumpuni.

Saya pernah nyoba BMW X5. Nyaman, enak, asyik. Asli seperti bukan SUV sama sekali, udah pleg kayak sedan. Cuman, sayangnya senyaman-nyamannya SUV premium yang sudah sangat nyaman itu, saya rasakan masih tetep lebih nyaman lagi (versi) sedan premiumnya.

Tapi entah kalo Cadillac Escalade. Melihat tampang Cadillac Escalade versi terbaru ini, membuat saya males liat semua large SUV Jerman, baik: Audi Q7, BMW X5, ataupun Mercy GLS-Class. 😀 😀 😀






Kalo SUV berbasis pikap, saya membuktikan sendiri, naik Everest taon 2007 ternyata nyamannya masih jauh panggang dari api dibanding naik Audi A4 1997.

Naik Audi, kena aspal berlobang hanya kerasa di bokong saja. Pake Everest, menerjang medan yang sama rasanya perut kayak ditonjok petinju dan punggung seperti digebuk pake balok kayu.

Kalo ada yang bilang sembarang SUV -khususon SUV berbasis pikap itu- pada nyaman, bisa jadi dia bohong dan cuman menghibur diri.

Kenyamanan dan stabilitas ala sedan tetep saja masih miliknya SUV premium yang mahal harga(perawatan)nya.

Cuman memang, apapun SUV-nya, saya sepakat dengan pernyataan ini bahwa “SUVs are the Swiss Army Knife of cars”.

– FHW

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s