Gulung Tikar Sajalah Kalian

Internet sudah menjadi kebutuhan pokok di era sekarang ini. Sebagaimana sembako.

Sayangnya, alih-alih menyediakan akses internet yang semakin merata dan terjangkau sehingga volume penjualannya bisa banyak, ada ISP yang masih jual mahal ketika jaringannya telah masuk ke suatu tempat. Sementara ISP lain yang jual murah tampaknya membatasi diri saja untuk ekspansi area cakupan layanan.

Seperti saat mengamati paket unlimited dari Bolt yang cuman ada di kota besar ini http://www.bolt.id/bolt-4g-ultra-lte-luncurkan-ultra-unlimited. Saya cuman bisa mengatupkan mulut dan membatin, “Betapa beruntungnya mereka yang tinggal di kota besar. Sudah fasilitasnya bejibun, murah lagi…”

DULU, saya mendoakan agar ISP-ISP itu berani turun harga agar pelanggan semakin membludak. Rumus sederhana, untung 100 dengan pelanggan 5000 tentu lebih banyak ketimbang untung 500 dengan pelanggan 1000.

Loh, hatuh dapetnya kan sama-sama 500.000?

Kalo pelanggan banyak, dengan harga yang dianggap murah oleh pelanggan, harapannya churn alias pelanggan mati tidak terlalu mempengaruhi kinerja atau penjualan perusahaan. Churn 10 dari 5000 pelanggan itu tentu kecil nilainya ketimbang churn 5 dari 1000 pelanggan.

Bukannya ngeri me-maintain pelanggan yang sebegitu banyak?

Relatif. Pelanggan sedikit biasanya perlu layanan prioritas. Apalagi kalo harga pembelian yang mereka bayarkan tinggi. Pelanggan banyak, juga perlu handling yang memeras konsentrasi.

Tapi itulah bisnis, harus dijalani.

SEBERANI apa kita perlu menjual banyak dan murah produk kita?

Ini sungguh sesuatu yang sangat kasuistis. Namun di bisnis telko, beberapa testimoni yang saya dengar langsung dari pelaku bisnis teknologi informasi ini, nyatanya selalu menggunakan strategi klasik untuk meraup pelanggan baru atau mempertahankan pelanggan lama: pakai harga murah!

Ndhak rugi?

Ada keniscayaan dari hukum Moore, sehingga harga teknologi begitu teramat sangat cepat terkoreksi; makin murah, makin murah, dan makin murah.

Jual dengan harga murah, ekspansi harus sesegera mungkin dilakukan, agar duit segera muter, agar investasi cepet segera balik; hingga datangnya bentuk revisi baru teknolgi yang ada, untuk dijual ulang menjadi produk baru atau perbaruan produk.

TERAKHIR, jangan percaya dengan analisis saya ini. Saya sama sekali bukan pelaku bisnis teknologi. Saya cuman dengar dari temen-temen saya yang para pelakunya langsung.

Mereka yang paling paham tentang apa yang dihadapi dan apa yang harus(nya) dilakukan. Entah kemudian dilakukan beneran dengan penuh keberanian menghadapi risiko “kegagalan penjualan” atau tidak dilakukan karena ketakutan. Ketakutan pada kegagalan penjualan yang ternyata membuat bisnis bisa jadi stagnan.

DULU, saya mendoakan agar ISP-ISP itu berani turun harga agar pelanggan semakin membludak. Tapi kini doa saya berubah: kalo memang tak berniat mengejar perkembangan, gulung tikar sajalah kalian.

Biar lebih pasti nasib kalian. Kalo ya yang iya, kalo ndhak yang ndhak.

Tapi, berdoa yang buruk tentunya sangat tidak baik. Maka kini saya hanya bisa menyadari, saya dan mungkin jibunan warga negeri ini yang berpikiran sama dengan saya jikalau memang ada, mungkin bukan merupakan kustomer mereka, barisan ISP yang susah ditebak bagaimana pola bisnisnya.

Plus, mereka itu semu adalah perusahaan swasta. Urusan mereka cuman nyari untung, tak ada urusannya sedikitpun apalagi sampai level kewajiban untuk memperhatikan betapa sengsaranya jutaan warga bangsa di seluruh pelosok Indonesia yang tuna-internet.

Perkara pemerataan dan internet gratis, misalnya hingga kecepatan 1 mbps maka tarif gratis sebagaimana penggunaan listrik pada sekian kwh pertama atau air hingga sekian kubik pertama, itu adalah urusan pemerintah; yang urusannya adalah pola pandang pemerintah apakah internet sudah dianggap kebutuhan pokok sebagaimana listrik dan air atau bukan.

Dan tentang barisan ISP swasta itu, itu semua adalah bisnis milyaran dan triliunan, bukan bisnis warungan yang mungkin cuman jutaan aset dan omsetnya. Ada banyak taktik, strategi, elemen, faktor, dan berbagai hal terkait yang tersembunyi dan harus disembunyikan, entah karena murni kepentingan bisnis atau mungkin terkait kepentingan politis. So, tentunya mustahil untuk dinilai dengan mudah semudah menilai 2×2=4.

Yang bisnis warungan aja kadang susah untuk dinilai, apalagi yang triliunan.

Jelas, posting ini hanyalah tentang omong kosong dan mulut besar saya semata. Tak lain dan tak bukan. Sekali lagi, jangan pernah percaya posting ini. Ini cuman posting baper karena masih saya lihat begitu banyaknya warga tuna-internet di negeri ini.

– FHW
extralimited.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s