Lenyapkan Kerukunan

Yang paling mengerikan jika Indonesia kuat memilikinya adalah: kerukunan.

Jikalau semua suku, semua umat beragama, semua aliran agama, semua golongan, hobi banget saling rukun saling tolong saling memaafkan saling memberi saling membantu getol melindungi semua umbar senyum gemar tertawa berpikir dewasa berhati bijak berlaku bajik dll. serta bersatu padu bergotong-royong saling mengisi dan memajukan kehidupan ketentraman kedamaian bersama;

jikalau semua suku, semua umat beragama, semua aliran agama, semua golongan demen banget menolak perpecahan melupakan friksi/gesekan cepet memaafkan muak menyakiti ndhak gampang tersinggung dll.;

maka Indonesia akan teramat susah untuk dikuasai dan dikendalikan oleh demi untuk kepentingan siapapun.

Maka kerukunan harus sebisa mungkin dieliminasi kalo perlu dilenyapkan keberadaan dan kekuatannya dari negeri ini dengan segala cara segala taktik segala strategi segala metode segala alasan segala apapun; mulai paling kasar sampai paling halus.

Tentunya akan sangat mengerikan jika kerukunan ada teramat kuat di negeri ini, maka Indonesia akan teramat susah untuk dikuasai dan dikendalikan oleh demi untuk kepentingan siapapun.

Tentunya akan sangat menyenangkan jika kerukunan bisa dilenyapkan dari negeri ini. Maka kedaulatan dan kemandirian akan runtuh dengan sendirinya dari negeri ini. Indonesia akan kekal hidup dalam dikte.

Maka akan sangat mengerikan jika kerukunan dan kedamaian hidup teramat kuat di negeri ini.

– FHW

Advertisements

Menarik mencermati grafik trend penurunan penjualan sedan gambrot (large passenger car) di negara tetangga ini.

Kenapa rata-rata pada melorot semua gitu?

Menurut chief executive of the Federal Chamber of Automotive Industries, Tony Weber, “The prices of luxury cars have come down … and they have a wider array of vehicles in different segments, so they’re starting to drift down into areas where they weren’t historically,”

Dan ternyata bener, penjualan mobil di Australia ndhak melorot, cuman kategorinya yang berpindah. Semua pada suka SUV.

Kenapa Australia suka SUV? Jawaban ini siy kayaknya normatif banget…

Atau karena dominan area Australia adalah gurun/offroad/ungraded-road sehingga mereka perlu SUV?

Entahlah.

Tapi bisa jadi mereka suka SUV -yang seirit-iritnya dia masih saja identik dengan bensin boros ketimbang para mobil imut tentunya- didukung juga oleh harga bahan bakar minyak yang juga melorot.

Benarkah SUV mendadak laris di Australia hanya karena harga bahan bakar minyak yang turun? Atau karena dominan area Australia adalah gurun/offroad/ungraded-road sehingga mereka perlu SUV?

Entahlah. Saya googling-googling masih belom menemukan data statistik semacam survei oleh lembaga survei tentang apa motivasi kustomer membeli SUV. (Mohon infokan ke saya kalo ada exit-poll dari lembaga survei terkait.) 😀

Tapi jika saya pribadi, saya juga suka SUV, cuman musti SUV yang senyaman sedan; yang punya kontrol traksi dan kontrol stabilitas yang mumpuni.

Saya pernah nyoba BMW X5. Nyaman, enak, asyik. Asli seperti bukan SUV sama sekali, udah pleg kayak sedan. Cuman, sayangnya senyaman-nyamannya SUV premium yang sudah sangat nyaman itu, saya rasakan masih tetep lebih nyaman lagi (versi) sedan premiumnya.

Tapi entah kalo Cadillac Escalade. Melihat tampang Cadillac Escalade versi terbaru ini, membuat saya males liat semua large SUV Jerman, baik: Audi Q7, BMW X5, ataupun Mercy GLS-Class. 😀 😀 😀






Kalo SUV berbasis pikap, saya membuktikan sendiri, naik Everest taon 2007 ternyata nyamannya masih jauh panggang dari api dibanding naik Audi A4 1997.

Naik Audi, kena aspal berlobang hanya kerasa di bokong saja. Pake Everest, menerjang medan yang sama rasanya perut kayak ditonjok petinju dan punggung seperti digebuk pake balok kayu.

Kalo ada yang bilang sembarang SUV -khususon SUV berbasis pikap itu- pada nyaman, bisa jadi dia bohong dan cuman menghibur diri.

Kenyamanan dan stabilitas ala sedan tetep saja masih miliknya SUV premium yang mahal harga(perawatan)nya.

Cuman memang, apapun SUV-nya, saya sepakat dengan pernyataan ini bahwa “SUVs are the Swiss Army Knife of cars”.

– FHW

Posting Politik

Saya mengamati sebuah akun fesbuk, akunnya ndhak friend-nan ama saya.

Posting-posting terbukanya, isinya bisa dibilang 100% politik. Dan postingnya super rajin banget.

Yang jadi pertanyaan saya: itu orang kerjaannya apa ya?

Sebab dalam benak saya, mengamati fenomena politik itu tidak bisa seperti semerta-merta menyimpulkan besarnya gajah atau kecilnya semut.

Mengamati fenomena politik; rasanya banyak hal absurd, nisbi, abstrak, relatif, paradoksal, hiperbolik, dinamis, kontra-konsisten, fluktuatif, fleksibel, dsb. yang tentunya itu perlu didukung dengan data komprehensif dan analisis yang dalam. Plus laiknya disertai jam terbang yang tinggi dalam menghadapi beragamnya warna-warni kehidupan, khususnya kehidupan di bawah sana nan tak kasat mata oleh banyak orang. Tidak bisa seperti semerta-merta menyimpulkan besarnya gajah atau kecilnya semut.

Bisa jadi posting satu paragraf bahkan satu kalimat tentang politik itu memerlukan perasan otak yang seperas-perasnya, ibarat cucian hingga tiada air menetes lagi. Plus laiknya disertai jam terbang yang tinggi dalam menghadapi beragamnya warna-warni kehidupan, khususnya kehidupan di bawah sana nan tak kasat mata oleh banyak orang.

Lha itu akun begitu rajinnya posting politik. Koq kuat banget otaknya ya?

Jadi, itu orang kerjaannya apa ya?

– FHW,
serabutan

Gulung Tikar Sajalah Kalian

Internet sudah menjadi kebutuhan pokok di era sekarang ini. Sebagaimana sembako.

Sayangnya, alih-alih menyediakan akses internet yang semakin merata dan terjangkau sehingga volume penjualannya bisa banyak, ada ISP yang masih jual mahal ketika jaringannya telah masuk ke suatu tempat. Sementara ISP lain yang jual murah tampaknya membatasi diri saja untuk ekspansi area cakupan layanan.

Seperti saat mengamati paket unlimited dari Bolt yang cuman ada di kota besar ini http://www.bolt.id/bolt-4g-ultra-lte-luncurkan-ultra-unlimited. Saya cuman bisa mengatupkan mulut dan membatin, “Betapa beruntungnya mereka yang tinggal di kota besar. Sudah fasilitasnya bejibun, murah lagi…”

DULU, saya mendoakan agar ISP-ISP itu berani turun harga agar pelanggan semakin membludak. Rumus sederhana, untung 100 dengan pelanggan 5000 tentu lebih banyak ketimbang untung 500 dengan pelanggan 1000.

Loh, hatuh dapetnya kan sama-sama 500.000?

Kalo pelanggan banyak, dengan harga yang dianggap murah oleh pelanggan, harapannya churn alias pelanggan mati tidak terlalu mempengaruhi kinerja atau penjualan perusahaan. Churn 10 dari 5000 pelanggan itu tentu kecil nilainya ketimbang churn 5 dari 1000 pelanggan.

Bukannya ngeri me-maintain pelanggan yang sebegitu banyak?

Relatif. Pelanggan sedikit biasanya perlu layanan prioritas. Apalagi kalo harga pembelian yang mereka bayarkan tinggi. Pelanggan banyak, juga perlu handling yang memeras konsentrasi.

Tapi itulah bisnis, harus dijalani.

SEBERANI apa kita perlu menjual banyak dan murah produk kita?

Ini sungguh sesuatu yang sangat kasuistis. Namun di bisnis telko, beberapa testimoni yang saya dengar langsung dari pelaku bisnis teknologi informasi ini, nyatanya selalu menggunakan strategi klasik untuk meraup pelanggan baru atau mempertahankan pelanggan lama: pakai harga murah!

Ndhak rugi?

Ada keniscayaan dari hukum Moore, sehingga harga teknologi begitu teramat sangat cepat terkoreksi; makin murah, makin murah, dan makin murah.

Jual dengan harga murah, ekspansi harus sesegera mungkin dilakukan, agar duit segera muter, agar investasi cepet segera balik; hingga datangnya bentuk revisi baru teknolgi yang ada, untuk dijual ulang menjadi produk baru atau perbaruan produk.

TERAKHIR, jangan percaya dengan analisis saya ini. Saya sama sekali bukan pelaku bisnis teknologi. Saya cuman dengar dari temen-temen saya yang para pelakunya langsung.

Mereka yang paling paham tentang apa yang dihadapi dan apa yang harus(nya) dilakukan. Entah kemudian dilakukan beneran dengan penuh keberanian menghadapi risiko “kegagalan penjualan” atau tidak dilakukan karena ketakutan. Ketakutan pada kegagalan penjualan yang ternyata membuat bisnis bisa jadi stagnan.

DULU, saya mendoakan agar ISP-ISP itu berani turun harga agar pelanggan semakin membludak. Tapi kini doa saya berubah: kalo memang tak berniat mengejar perkembangan, gulung tikar sajalah kalian.

Biar lebih pasti nasib kalian. Kalo ya yang iya, kalo ndhak yang ndhak.

Tapi, berdoa yang buruk tentunya sangat tidak baik. Maka kini saya hanya bisa menyadari, saya dan mungkin jibunan warga negeri ini yang berpikiran sama dengan saya jikalau memang ada, mungkin bukan merupakan kustomer mereka, barisan ISP yang susah ditebak bagaimana pola bisnisnya.

Plus, mereka itu semu adalah perusahaan swasta. Urusan mereka cuman nyari untung, tak ada urusannya sedikitpun apalagi sampai level kewajiban untuk memperhatikan betapa sengsaranya jutaan warga bangsa di seluruh pelosok Indonesia yang tuna-internet.

Perkara pemerataan dan internet gratis, misalnya hingga kecepatan 1 mbps maka tarif gratis sebagaimana penggunaan listrik pada sekian kwh pertama atau air hingga sekian kubik pertama, itu adalah urusan pemerintah; yang urusannya adalah pola pandang pemerintah apakah internet sudah dianggap kebutuhan pokok sebagaimana listrik dan air atau bukan.

Dan tentang barisan ISP swasta itu, itu semua adalah bisnis milyaran dan triliunan, bukan bisnis warungan yang mungkin cuman jutaan aset dan omsetnya. Ada banyak taktik, strategi, elemen, faktor, dan berbagai hal terkait yang tersembunyi dan harus disembunyikan, entah karena murni kepentingan bisnis atau mungkin terkait kepentingan politis. So, tentunya mustahil untuk dinilai dengan mudah semudah menilai 2×2=4.

Yang bisnis warungan aja kadang susah untuk dinilai, apalagi yang triliunan.

Jelas, posting ini hanyalah tentang omong kosong dan mulut besar saya semata. Tak lain dan tak bukan. Sekali lagi, jangan pernah percaya posting ini. Ini cuman posting baper karena masih saya lihat begitu banyaknya warga tuna-internet di negeri ini.

– FHW
extralimited.