Pelajaran Hidup

Blitar (baru saja) disiram hujan deras. Mendekati Imlek, hujan seperti sebuah kepastian. Dan memang faktualnya hari-hari ini hujan deras. Seperti kemarin dan hari ini. Entah esok.

Saya sendirian di Starnafs Cafe. Salah satu tempat biasa temen-temen bengkel nongkrong dan ngopi, selain warung Mbokdhe War yang berada tepat di seberang bengkel, buat sesi ngopi malamnya karena dia buka saat matahari tenggelam hingga lewat tengah malam sampai dini hari.

Warung Mbokdhe War dan Starnafs Cafe ini berjejer, hanya selisih jalan masuk sawah dan sedikit petak kecil.

Starnafs Cafe ini keren. Pasangan suami-istri pemiliknya, tepatnya si Masnya, adalah maniak kopi. Dia bisa menceritakan tentang kopi berjam-jam. Dari beragam jenis kopi dan bagaimana biji kopi dipilih hingga diproses.

Di Starnafs Cafe ini tersedia beragam jenis kopi dari beberapa penjuru nusantara. Si Mas pemiliknya pernah komplain ke salah satu supliernya, “Biji kopi yang kamu petik masih muda. Besok lagi kirimi saya biji kopi yang beneran matang.”

Supliernya sempat menyanggah. Namun si Mas bilang, lidahnya ndhak bisa dibohongi. Belakangan supliernya selalu ngirim kopi dari biji yang dipetik matang beneran.

Keren.

Tempatnya juga homey. Ada lima set meja kursi. Ada yang seperti meja-kursi teras, ada yang seperti satu set meja kursi makan ala Jawa.

Di bawah atap atasnya, justru rumbia digunakan sebagai plafon mengikui/menempel atap. Jika dilihat dari dalam, Starnafs Cafe ini seperti beratap rumbia. Menimbulkan perasaan hangat.

Interiornya sederhana, namun aksentualnya pas banget. Daun pintu kupu-tarung (suicide doors)-nya berpola daun pintu rumah Jawa/joglo. Dan bisa jadi itu daun pintu eks rumah tua beneran. Nanti saya tanyakan ke Mas-nya kalo pas ngobrol.

Membingkai daun pintunya adalah sepasang jendela terbuka dengan teralis dari kayu berpola kotak miring bersilangan, dengan tembok bata telanjang tanpa diaci. Selain dinding sisi depan barulah diaci.

Ruang kafe ini tak luas. Mungkin sekitar 25 meter persegi. Sekali lagi, hanya berisi lima set meja dengan enam belas kursi.

Di teras depan masih tersedia dua meja dengan total empat kursi. Buat yang masih wifi-an saat kafe udah tutup. Buka dan 8:30 hingga 15:30. Break istirahat sebentar baru buka lagi bakda maghrib hingga jam 23:00

Satu yang menarik di sini: ada rak bukunya. Bukunya dominan buku budaya-agama, plus beberapa buku tentang motivasi dan terselip pula buku teknologi informasi. Silakan baca di tempat hingga puas.

Mahalkah menunya?

Segelas kopi tersedia mulai empat ribu hingga sepuluh ribu saja. Coklat panas lima rb. Jus tujuh rb. Mie instan tujuh ribu.

***

Malah ini saya mengetik posting ini di Starnafs Cafe sini, suasini sepi banget. Hanya saya seorang kustomer yang datang. Saya cuman memesan segelas coklat panas usai menikmati makan malam di luar rame-rame sama temen-temen bengkel barusan tadi.

Yang lain tak ada yang mau saya ajak nongkrong di sini. Pilih meringkuk bersama ponselnya.

Jadilah saya buka laptop, dan olah raga jari sebentar mengetik posting ini.

***

Posting tentang Starnafs Cafe?

Bukan. Saya bersama ibunya si kecil dulu pernah ngobrol dengan Mbak pemilik kafe, saat si Mas-nya lagi keluar kota kerja proyekan. Ngobrol tentang sejarah kafe ini, tentang pola bisnisnya, plus sederet foto-foto yang kami ambil dengan kamera.

Udah lamaaa banget. Sampai kami lupa di mana kami simpan file rekamannya sama foto-fotonya. Nantilah kalo ketemu akan kami unggah.

Malam ini dalam kesepian Mblitar diiring fade-in dan fade-out suara kendaraan di jalan raya depan kafe/depan bengkel ini, saya pribadi cuman pingin bersyukur.

Belakangan ini saya banyak ngobrol tentang hidup dan kehiduapn dengan banyak teman di banyak kesempatan yang berbeda. Bukan lagi berdominasi obrolan tentang BMW.

Entah kenapa koq belakangan ini saya sering ngobrol tentang hidup dan kehidupan.

Dan malam ini, usai ber-video call dengan si thole di rumah sambil nunggu coklat panas datang, saya merasa begitu bersyukur dengan hidup yang saya/kami miliki.

Dua belas tahun saya mengarungi kebersamaan dengan ibunya si kecil, dengan segala suka duka yang kami hadapi dan kami lalui; dengan tawa dan tangis; dengan tegang dan lega; dengan sedih pun gembira; ngambek-ngambekan namun yag pati selalu saling merindukan; pegang duit atau sama sekali tak punya makanan; kami hanya bisa bersyukur atas semuanya.

Di pojokan Starnafs Cafe ini saya memejamkan mata dan melihat kembali hidup kami. Ternyata, apa yang kami miliki, yang telah kami lalui, dan tentunya yang hendak kami hadapi besok lusa dan seterusnya; semata hanyalah tentang keindahan.

Keindahan di atas kanvas kehidupan yang nampak dengan terwarna dengan kuas syukur. Saat kita bersyukur, semuanya akan tergambar. Saat kita bersyukur, semuanya akan muncul. Saat kita bersyukur, semuanya akan terpampang.

Manusia memiliki lika-liku dan jalan hidup masing-masing. Kami memiliki tentangan hidup yang orang lain mungkin tak mengalaminya, pun sebaliknya orang lain mengalami tantangan hidup berbeda yang kami mungkin juga tak memilikinya. Orang kadang menyebutnya dengan misteri kehidupan. Bagi kami, inilah/itulah kehidupan itu sendiri.

Kehidupan adalah tentang perjalanan. Perjalanan melintasi waktu dan melalui masa. Perjalanan menapaki detik dan melewati saat. Orang Jawa membahasakan: laku (walking, passing… process). Bahasa sederhana laku di sini adalah proses..

Kabeh kudu dilakoni. Dilakoni kanthi laku. Laku.

Semua musti dijalani. Dijalani dengan proses. Berproses.

Ungkapan simpel, namun maknanya ternyata begitu mendalam. Meluas. Serasa tiada ada habisnya ditulis dan selalui ditulis oleh sesiapa yang sedang menemukan sudut pandang (baru) berdasar pengalaman yang dialaminya.

Bersyukur, bagi kami adalah tentang keikhlasan. Ikhlas menjalani dan ikhlas menerima.

Seperti kala kami menjalani semuanya ini bersama berdua. Belakangan kami menemukan frasa untuk menggambarkannya: kita mustinya bukan mencari jodoh, melainkan (saling) menerima jodoh.

Kami bersyukur menerima satu sama lain.

Jika ada orang berfalsafah bahwa hidup ini penuh persoalan, maka kami bisa menjawab setidaknya untuk diri kami sendiri, persoalan itu bisa diatasi dengan bersyukur.

Bersyukur menjalani pekerjaan, bersyukur menjalani antrian tiket, bersyukur menjalani lika-liku rumah tangga, bersyukur atas apapun kondisi dan isi dompet, bersyukur dalam pertemanan, bersyukur atas kondisi kesehatan, bersyukur dengan menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan, bersyukur atas apapun dan untuk semuanya. Semuanya.

Laiknya kami dua belas tahun kami melalui kebersamaan ini. Tentunya kami berharap bisa terus bersama melalui masa hingga sampai akhir permulaan kelak.

Ya Allah, selalu limpahkan rasa syukur kepada-Mu di hati-hati kami, di hati semua hamba-Mu.

Syukur pangkal mengatasi masalah.

Inilah pelajaran yang kami petik hari ini.

Bagi Anda yang mengenal kami, atau sekedar membaca posting ini, mohon kiranya sudilah memberikan kritik dan masukan kepada kami agar lebih baik dalam menjalani hidup ini, untuk menggapai kelak pada saatnya tanpa masa.

Alhamdulillah.

– FHW

https://freemindcoffee.wordpress.com/2014/08/27/pelajaran-hidup/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s