Audi A4(B5) vs BMW E36

Seorang rekan bertanya kepada saya, enak mana Audi (A4 B5) vs BMW (E36)? Begini sedikit perbedaannya.

Penggerak

Untuk versi 2WD, Audi berpenggerak FWD, BMW RWD. Ini perbedaan paling krusial. Dari satu perbedaan ini aja, semua faktor lainnya bisa diabaikan.

Dari sini sudah jelas kelihatan: Audi emang enak-enak aja, tapi BMW juauh lebih fun!!!

Mesin

Masing-masing punya versi mesin kecil (4 silinder) yang irit dan murah parts-nya (untuk ukuran Eropa) dan mesin 6 silinder yang boros bensinnya dan mahal parts-nya.

Mesin 6 silinder BMW terkenal presisi pemasangannya. Maklum, 6 biji piston berbaris lurus itu jadinya panjang banget. Secara teori, ia lebih panjang dua piston ketimbang mesin V8 yang sederhananya adalah mesin 4 piston bercabang dua ngiri-nganan. Maklum, mesin 8 silinder kalo dibikin lurus, entah kayak gimana panjangnya.

Jarak kipas radiator mesin i6 BMW (viscofan) dengan shroud dan selang-selang kecil di depannya bahkan tak bisa dilewati jari tangan ukuran besar. Kalo engine mounting mesin BMW udah ambles, mesin jadi turun posisinya dan kipas ini bisa ngantem shroud. Ada beberapa kasus demikian ini: kipas ngantem shroud karena engine mounting udah ambles dan dibiarkan aja ama pemiliknya.

Namun bagusnya mesin 6 silinder BMW berkonfigurasi inline (segaris) ini, ruang kiri kanan mesin BMW ini masih lega. Bisa buat merogoh beragam parts yang mau dicek atau dibetulkan.

Di bagian depan ruang mesin BMW juga ada rangka/frame-nya. Meski fungsinya kayaknya lebih buat mounting/tatakan/dudukan beragam parts yang ada (radiator, kondensor, dll.), setidaknya rancangan ini membuat montir kalo mau ngelepas macem-macem parts tak selalu harus melepas parts lain yang ndhak berkaitan.

Mau nurunkan mesin BMW misalnya, atau mau nyopot motor starter, alternator, dll.; radiator sama kondensor bisa tetep anteng aja di tempatnya.

Di Audi, mesin 6 silindernya dibikin dengan konfigurasi V (V-configuration), jadinya V6 di sini.

Apa masalahnya dengan V6?

Normalnya sih sama sekali tidak ada. Mesin V6 justu diciptakan untuk meringkas besaran si mesin. Bayangkan, secara teori mesin V6 adalah mesin 3 silinder yang berpisah ngiri-nganan. Dan karena bersudut V, bukan boxer yang mendatar ngiri-nganan, maka mesin ini jadinya kompak banget. Bisa menghemat penggunaan ruang mesin karena cuman makan sedikit banget space.

Nyaris semua pabrikan mobil yang menggunakan mesin 6 silinder saat ini pasti menggunakan konfigurasi V alias V6. Baik untuk posisi longitudinal (membujur) dan berpenggerak roda belakang; maupun yang dipasang transversal (melintang) dan berpenggerak roda depan.

Cuman BMW dan mungkin sedikit pabrikan lain aja yang tetep ngeyel pake inline 6 demi mempertahankan stabilitasnya.

Di sini masalahnya: Audi ini mesinnya longitudinal tapi default 2WD-nya FWD. Nah!

Jadinya, mesin Audi didorong maju ke depan, muepettt sama batas depan mobil, biar gearbox-nya tepat berada di atas sumbu roda dan langsung menyalurkan batang penggerak (drive-shaft)-nya ke kiri dan kanan langsung ke roda.

Saking mepetnya penataan peletakan ini, bahkan Audi sampe merancang throttle-body (katup hisap)nya di bagian belakang mesin, bukan di depan kayak umumnya.

Sebenarnya rancangan mesin Audi yang longitudinal dengan gearbox berada di atas sumbu roda ini tampaknya dioptimalkan buat quattro/AWD-nya. Dengan demikian, batang penggerak bisa keluar dari gearbox tanpa sambungan tambahan.

Di AWD BMW, untuk menggerakkan roda depan perlu batang penggerak tambahan yang kayak roda belakang. Dari gearbox ada batang ke arah depan, kemudian dicabang lagi ke kiri dan ke kanan.

AWD pada Audi. Perhatikan gearbox Audi berada di atas sumbu roda depan dan mesin terletak di depannya.

AWD pada mesin transversal.

AWD pada BMW. Perhatikan mesin BMW terletak di atas sumbu roda depan dan gearbox di belakangnya.

Bongkar Pasang

Buat melepas sebuah part, di Audi sangat wajar jika harus membongkar panel depan dan banyak melepas parts lain. Di BMW, pipa-pipa/selang-selang AC teramat gampang untuk diraih. Di Audi, montir harus membuka satu paket panel depan (bumper dicopot, radiator/kondensor dikendorkan. Bagusnya dilepas. ~> Buang air radiator, buang freon AC. šŸ˜¦ Hiks…) hanya untuk melepas pipa AC, alternator, motor starter, atau sekedar mengganti timing belt dan thermostat, dll.

Di mobil normal, mengganti timing-belt buat mobil yang pakai timing-belt, normalnya ya cuman cukup membuka kover timing-belt-nya saja. Kalo timing-chain kan beda lagi. Karena rancangan penggunaannya puanjanggg dan dia harus kena oli, maka dia ikut tersembunyi menjadi bagian dari jeroan mesin.

Mengganti thermostat di BMW pun ya cukup buka housing-nya aja. langsung ganti. Isi kembali air radiator, kelar urusan. Di Audi, sekali lagi, seluruh panel depan musti dibuka: bumper dicopot, radiator/kondensor dikendorkan. Bagusnya dilepas. ~> Buang air radiator, buang freon AC. šŸ˜¦

Sadar akan rancangannya sendiri ini, di bagian depan bodi Audi tak ada frame-nya. Radiator & kondensor menempel pada rangka di kiri-kanannya. Bukan atas-bawahnya.

Jadi kalo radiator, kondensor, dan mesin Audi dilepas, maka bagian depannya langsung ompong.

Jalur AC

AC BMW pun banyakan selangnya. Sementara di Audi banyakan pipanya. Soale jalur AC Audi musti belok-belok nekuk-nekuk mengikuti sempitnya ruang yang ada. Ndhak bisa kalo pake selang. Alhasil, kalo mau ngganti, jelas keliatan perbedaan ekstrim biayanya.

Selang AC sekaligus nge-klem sambunganya bisa dan gampang diperoleh di tukang AC plus relatif murah biayanya. Pipa AC Audi musti beli. Moncong sambungannya khusus, ndhak umum. Super susah (baca: ndhak bisa) dibikinkan di tukang bubut. šŸ˜¦

Berbeda dengan Volvo yang overhang depannya agak panjang mungkin karena alasan safety, overhang depan Audi lumayan panjang sepertinya cuman buat mengakomodasi kebutuhan peletakan mesin membujur (yang normalnya untuk penggerak roda belakang) ini namun untuk kebutuhan menggerakkan roda depan.

Pola penataan letak mesin ini juga yang saya pribadi curiga membuat Audi tidak bisa menambahkan ekstra fan AC di depan kondensor. Karena ini artinya akan menambah ketebalan bagian depan.

Overheat

Ekstra fan akhirnya diletakkan sejajar dengan visco-fan. Visco-fan Audi sendiri ukurannya kecil banget, seperti cuman mengipasi separuh bagian radiator yang besar -sama kayak radiatornya BMW- itu saja. So bisa jadi inilah kenapa Audi di sini terkenal gampang overheat.

Overheat, pas muacettt luamaaa gitu sudah jadi omongan publik di kalangan kaum Audi di sini. Beruntung karena mesin V6-nya masih jadul: bloknya masih berbahan besi dan klepnya aja cuman dua biji per silinder, maka begitu dingin mesinnya langsung waras dengan sendirinya.

Di BMW yang udah pake bahan alumunium, overheat ini selaksa jadi hantu menakutkan di kemacetan.

Pola Konstruksi

Begini, BMW sejauh ini keukeuh mempertahankan prinsip pembagian berat (weight distribution) dengan keberimbangan 50:50.

Konsekuensi dari prinsip di atas, jadinya mesin dipasang sejauh mungkin dari sisi depan mobil. Alhasil mesin BMW begitu mepet dengan firewall (dinding pemisah antara kabin dan kompartemen mesin) dan gearbox-nya berada di bawah kabin.

Plus posisi sumbu roda depan dimajukan. Jadinya moncong BMW (pun Mercy yg RWD) keliatan kayak panjang banget dan wheelbase (jarak sumbu roda)nya juga jadi keliatan panjang banget. Padahal kayaknya ini ya karena posisi sumbu roda depan dimajukan itu tadi.

Di BMW, konsole tengah selalu sangat lebar, jauh lebih lebar dari rata-rata mobil. Ini memang menimbulkan bonus tak sengaja: jadi ada “meja makan” diantara dua jok depan. Namun minusnya, ruang gerak kaki penumpang depan jadi terbatas.

Memang tidak sempit sih. Juauh lebih sempit ruang kakinya Ertiga yang sangat populer hingga sempat mengalahkan dominasi Seniyapansa itu. Tapi dibanding mobil sekelas lainnya, taruh kata Mercy Klasse-C atau Audi A4, ruang kaki BMW tak selebar mereka.

Berhubung, meskipun sempit untuk ukuran Eropa namun ruang kaki ini sama sekali tak mengekakng kaki, maka kondisi ini bisa diabaikan. Dengan kata lain, secara umum dan normal tak ada sempit-sempitnya di ruang kaki penumpang depan BMW.

Tapi yang paling kerasa bedanya dari pola konstruksi ini adalah driving-feel-nya. Dengan pembagian berat 50:50 dan berpenggerak roda belakang, nyetir BMW itu menimbulkan sensasi dan kepuasan yang serasa tak tertandingi.

Sementara Audi, udah penggeraknya roda depan, tanpa LSD, mesinnya melesak jauh ke depan lagi, membuat understeer-nya jadi kelewatan banget.

Maka Audi ini cuman cocok buat yang jalannya lempeng-lempeng aja. Dan tenaga mesinnya cuman buat nyalip (overtake) sama menaklukkan medan menanjak.

Kabin

Space kabin BMW vs Audi kami rasa sama saja. Terkecuali beda “ruang nafas” kaki depan itu tadi.

Namun BMW E36 malah kami nilai jauh lebih bagus ketimbang Audi. Pasalnya, sandaran jok belakang E36 berkemiringan lebih rebah ketimbang jok belakang Audi.

Mungkin karena Audi berpenggerak roda depan, yang mana umumnya overhang belakang harus dikurangi panjangnya agar mobil ndhak ngos-ngosan, maka bagasi Audi jadi lebih buntek ketimbang bagasi E36.

Barangkali untuk menambah space bagasi belakang inilah akhirnya jok belakang Audi dibikin jadi agak lebih tegak.

Tapi berhubung ini mobil kompak, yang pengertiannya hanya untuk transporting jarak dekat atau membawa penumpang anak-anak di jok belakang, maka kemiringan jok ini mustinya diabaikan.

Karena semiring-miringnya jok belakang, jika tak diimbangi dengan legroom panjang yang membuat kaki bisa semakin selonjor, artinya sama aja. Malah aneh kalo punggung bersandar lebih rebah sementara dengkul tetep ditekuk rapat karena legroom sempit.

Di BMW E60 pun konon sandaran kursi belakang lebih tegak ketimbang Camry. Namanya juga kategori sport dan cuman midsize sedan, masih wajar kalo jok belakang dirancang bukan buat overnight diriving penumpang belakang dewasa.

Bila ditinjau secara pasar, maka Serie 3 mestinya pengertiannya semacam: dikemudikan sendirian buat ngantor, pergi untuk ketemu teman dan hang-out, atau nganter anak sekolah.

Sementara Serie 5 buat nyetir ngantor sendirian, pergi bersama teman untuk hang-out, atau di belakang isinya juragan perempuan yang duduknya dengan kedua kaki miring ke satu sisi sehingga jadinya bisa lumayan selonjor untuk ukuran perempuan.

Atau sekedar trip liburan membawa barang ringan keluarga, katakanlah pakaian dalam kopor, yang jaraknya pendek/sekian jam perjalanan atau hanya untuk dibawa ke bandara.

Meski kenyataan di lapangan berbalik semuanya. Serie 3 dan 5 bisa dipakai overnight thousands miles driving sekeluarga.

Namun setegak-tegaknya sandaran punggung jok belakang Seri 5 atau Serie 3 atau bahkan itu Audi, tetep aja dia tak setegak SUV yang memang dirancang lebih tegak dari sedan karena alasan kebutuhan/penggunaan. Penumpang SUV diasumsikan melewati jalan yang bouncing dan dumping sehingga harus duduk lebih tegak biar siap sedia menghadapi segala cobaan yang datang.

Meski juga tegaknya jok SUV ini tetap aman jaya jika dibanding macam jok kereta api ekonomi yang tegaknya itu bukan lagi tegak dalam pengertian jok mobil, melainkan emang tegak 90 derajat! Alamaaak…

Baru di Serie 7, Klasse S, A8, dan sekelasnyalah rebahnya jok belakang -bahkan bisa disetel kemiringannya- jadi kerasa banget, soale ruang kaki sampe cukup dibuat selonjor. Tapi bawa Serie 7 parkir di mall yang ada di Kediri tenyata amsyong tralala. Cuman bisa parkir di VIP depan lobby Hipermart Kediri. Di Transmart juga ndhak bisa parkir. šŸ˜¦

Tapi biar gimana, meski dengkul Audi A4 dan E36 sama-sama ngepasnya, berhubung sandaran punggung jok E36 lebih rebah, kami tetap memberi nilai plus di sini. Lumayan, yang punya si kecil bisa duduk lebih nyaman di E36 ketimbang di Audi.

Dan gara-gara gearbox Audi ada di atas sumbu roda pas, jauh di depan firewall, maka konsol tengah di antara dua jok Audi jadinya kecil banget. Karena ya cuman buat tempat tuas transmisi aja. Nyaris sama sekali tak bisa diletaki apa-apa. Meskipun di E36 kondisinya sama juga. Konsol tengahnya yang lebih lebar ketimbang Audi, habis buat dijejali tombol power-window. Jadinya sama useless-nya.

Di BMW E34, saya biasa meletakkan empat air mineral gelas atau jus kotakan berjejer di depan tuas transmisi, berjejer dari kiri ke kanan. Kami menyebut “lapangan kecil” ini: meja makan.

Satu perbedaan lagi, kursi belakang Audi bisa dilipat rebah dengan konfigurasi 40:60 -jok kiri bisa rebah sendiri, jok kanan rebah bersama sandaran tengah- membuat ruang bagasi dan kabin menyatu. Cocok buat membawa barang yang panjangnya melebihi space bagasi. Di BMW fitur ini tak tersedia. Mungkin kata BMW, “Sedan buat bawa orang koq dikasih gituan, buat apa?”

šŸ˜€

Dan memang jika Anda menjejali bagasi Audi dengan audio, fitur ini jadi ilang fungsinya.

Built

Material Eksterior E36 dan A4 B5 sama nilai imbang. Material interiornya juga mirip. Malah kulit jok Audi cenderung lebih tipis kayaknya ketimbang E36. Kalo di E46 kan kulit joknya tebel dan kokoh banget tuh, bisa duduk sekasarnya tak perlu terlalu berhati-hati tanpa khawatir jok gampang rusak.

Audi menangnya datang dengan opsi komplit aja siy, khususnya di versi V6. Wood-panelnya cantik ciamik berganda. Di E36 ini cuman ada di Versi limited. Itupun sama sekali tak secantik Audi.

Sementara untuk fungsional lain macam fitur-fitur, bisa dibilang imbang semuanya. Instrumen-clusternya isinya ya itu-itu saja, kembar-kembar aja. Cuman beda tata letak dan dimensinya aja.

Style

Membandingkan desain bodi mobil adalah selera dan sangat relatif. Paling kita cuman bisa menilainya dari kesesuaian elemen desain, keharmonisan gurat desain, atau sense keelokan garis desain. Hasil akhirnya adalah cita rasa nuansa desainnya: futuristik, cantik, ganteng, macho, feminim, urban style, clasic modern, legant, sporty, dll. dst.

Sama-sama dari Eropa dan satu kampung federasi, baik Audi dan BMW sama-sama mengusung ciri khas desain masing-masing. BMW tentunya dengan kidney grille, hoftmeister kink, garis bodi samping, atau layered dashboard. Audi dengan pola desain simpel-nya, bodi membulat agak menggembung, serta kaca kecil di belakang pintu belakang, dll. dst. Kalo dalam bahasa desain VW, mereka punya kebijakan desain yang: timeless.

Masing-masing menimbulkan kesan yang khas. BMW tampak ganteng, sporty, mendominasi, dan sedikit norak dengan banyaknya guratan bodi. Audi tampak manis, simpel, timeless, dan oleh karena itu desainya seperti biasa aja seolah tanpa ada inovasi.

Perbedaan kecil lain misalnya: lampu kabut BMW dipasang di bagian bawah bumper, punya Audi menyatu dengan lampu utama.

Lainnya itu yang ada malah beragam kesamaan. Bukaan kap mesinnya sama-sama ke belakang dan ditopang pakai shock. Cuman punya BMW ada duakecil di kiri dan kanan, punya Audi cuman satu besar. Sama-sama lemah sebiji shock-nya, kap sama-sama ambleg lagi.

Persaman lain adalah pintunya yang bisa diuka sampai 90 derajat, begitu memudahkan penumpang keluar kabin plus tampak bossy gitu. šŸ˜€ Dan tetap ada pemberhentian 45 derajatnya.

Baik di BMW maupun Audi, ada mekanisme anti jepit pada power window-nya. Kaca akan otomatis balik ke bawah jika ada yang menahan pergerakannya ke atas.

Satu keunggulan Audi di sini adalah nutup pintunya: ringan banget, cuman perlu tenaga setengah bahkan kurang dari tenanga untuk menutup pintu BMW, namun pintunya tetap menutup dengan “Jlebbb!” mantep khas mobil berplat tebal.

Dan entah bagimana rancangan konstruksinya, pintu Audi jika dibuka kurang dari pemberhentian-nya, pintu ini dirancang untuk menarik diri hendak menutup.

Satu perbedaan lagi, kursi belakang Audi bisa dilipat rebah dengan konfigurasi 40:60 -jok kiri bisa rebah sendiri, jok kanan rebah bersama sandaran tengah- membuat ruang bagasi dan kabin menyatu. Cocok buat membawa barang yang panjangnya melebihi space bagasi. Di BMW fitur ini tak tersedia. Mungkin kata BMW, “Sedan buat bawa orang koq dikasih gituan, buat apa?”

šŸ˜€

Dan memang jika Anda menjejali bagasi Audi dengan audio, fitur ini jadi ilang fungsinya.

Kesimpulan

Di E36 malah melimpah versi transmisi manual, cocok buat penyuka olah raga jalan raya, sementara Audi menang di fitur tiptronic tanpa ada opsi manual di sini.

Harga parts Audi rata-rata 25% lebih mahal ketimbang BMW. Namun harga pasaran sekenan Audi tua bisa dibilang rata-rata cuman separohnya lebih dikit ndhak banyak dari BMW.

So, umpama penggeraknya sama-sama belakang atau sama-sama depan, dengan kondisi bodi dan interior yang ada, saya bakalan langsung milih Audi ketimbang BMW. Meskipun mesin Audi begitu rumit untuk dibongkar pasang.

Berhubung Audi lahir dengan 2WD berpengerak roda depan sementara BMW belakang, maka kami tetap jauh meletakkan E36 lebih unggul ketimbang Audi.

***

Trus ngapain kami miara Audi, mobil yang ndhak punya keunggulan khusus ini?

Seru aja! Melihat kerumitan mesin, parts yang tak selalu tersedia dan kadang harus order via ebay, tak banyak orang/penguna/user paham ini mobil apa, serta tak banyak montir yang mau alias males nangani ini mobil tuh merupakan keasyikan tersendiri.

Membuat BMW yang kata orang parts-nya mahal + perawatannya susah + dijual kembali jeblok (dan kenyatannya emang gitu) itu malah jadi mobil yang terlihat mudah untuk dirawat dan diperbaiki di mata kami.

Membuat pola pandang ini jadi lebih luas.

– FHW FWD RWD

Berhubung udah banyak gambar E36, kali ini saya pingin masang gambar-gambarnya Audi A4 B5 aja. šŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s