Orang Baik

Fails video kayak gini udah umum banget. Sering tayang di tipi juga.

Tapi khusus klip yang satu ini, membuat saya cukup terkesima usai melihatnya. Tapi entah saya terkesimanya karena apa. Pokoknya pas lihat, kayak gimanaaa gitu, serasa meresap dan menyentuh benak.

Selain klip ini merupakan cerminan karma (akibat) atas perilaku kita, bahwa setiap perbuatan baik atau buruk pasti akan ada balasannya; seperti misalnya jika urakan di jalanan, maka akibat buruklah yang kita terima.

Sayangnya bukan cuman kita aja (yang menerima akibat perbuatan buruk kita), orang lain yang tak bersalah pun kadang juga bisa kena getahnya.

Namun saya salut juga bagi mereka yang bersedia berhenti saat melihat kecelakaan terjadi. Tentu maksudnya pingin menolong si pelaku/korban kecelakan. Saya terkesima usai melihatnya: di mat saya mereka adalah orang-orang baik. Kebaikan ternyata tetap selalu muncul di mana-mana, pada apapun.

Jika perbuatan buruk kita bisa saja mencipratkan getah ke orang lainyang tak bersalah, maka mustinya perbuatan baik kita juga bisa memberikan efek manfaat kepada orang/pihak lain.

Jika kita menanam pohon di pekarangan sendiri, maka tetangga ada kebagian oksigennya. Sementara reruntuhan dedaunannya bisa kita cegah untuk tidak menyebar, dengan cara tepat memilih pohonnya atau rajin membersihkan rerontokan daun keringnya.

Dan beragam banyak contoh lainnya.

Jika kita membuang sampah seenaknya di pekarangan rumah sendiri, maka tetangga juga bisa kebagian bau busuknya, jika kita tak hirau dengan pengelolaannya.

Dan beragam banyak contoh lainnya.

Seperti pada klip yang satu ini, membuat saya cukup terkesima usai melihatnya. Satu nilai yang saya dapat: di mana-mana, pada apapun, orang buruk dan orang baik memang selalu ada.

Tinggal kita memilih jadi yang mana.

Ya Allah, tunjukilah kami jalan-Mu yang lurus, yakni jalan yang Engkau ridhai dan Engkau beri nikmat, bukan jalan yang Engkau murkai bukan pula jalan yang sesat.

– Freema Bapakne Rahman,
menyusuri jalan raya.

PM FB BMW: Kisah Kebohongan Saya

Tahun 2009, si Badak Biru datang ke tengah-tengah kami. Ini mobil Eropa pertama yang keluarga kami punya.

Pengantin baru, saya sama istri pinginnya Volvo. Menikah 2005 silam, kami pun punya mimpi sebagaimana umumnya pasangan yang baru menikah: bisa segera punya rumah dan mobil. Saya ngobrol-ngobrol dengan istri, kami punya cita-cita: pingin miara Volvo dan sebuah Vespa 4 tak buat kendaraan resmi keluarga kecil kami.

Cuman sayang, pas udah pulkam eh nyaris saya ndhak pernah liat Volvo di jalanan kota kecil Kediri gini. Wah alamat ndhak ada temennya dong kalo pake mobil aneh begini? Mbengkelnya juga dimana, tauk juga niy… :O

Akhirnya keinginan punya Volvo kami pendam dulu sementara.

Kami butuh sedan, karena satu dan beberapa pertimbangan, termasuk pertimbangan produktivitas dan setelah sekian lama terbiasa wara-wiri dengan station-wagon Jepangan.

Sempat liat-liat harga Mercy, kami skip. Akhirnya BMW aja. Karena dengan spek dan kondisi yang sama, harga BMW bisa dibilang setengahnya Mercy. Dengan duit sesiap minang Mercy taruh kata, bisa dapet BMW dengan keluar duit setengahnya saja. Setengahnya lagi bisa buat bensin sekolam. 😛

Enam bulan lamanya saya belajar tentang BMW, mengerucut ke E34. Gimana spesifikasinya, di mana bengkel spesialis di kampung halaman sini, dimana beli spare-parts-nya. Niat jadi mantap usai menemukan info ada bengkel spesialis Eropa di kawasan Tulungagung.

Awalnya nyari 520i aja. Eh pas hunting, nemu 530i tangan pertama asli Jatim rawatan BMW senantiasa. Karena tergoda dengan nota rawatan yang segepok (kami simpan hingga hari ini), alhasil kami tebuslah ini badak tukang mabuk haus bensin.

Si Badak Biru datang ke tengah-tengah kami, mulai bingung gimana ya mengenali seluk beluk ini mobil? Sementara sekolah saya IPS, bukan IPA/teknik yang memang saya ndhak paham dunia mesin blasss.

Selain dateng ke bengkel spesialis di Tulungagung, alhasil saya musti bersosialisasi diri biar bisa nanyak-nanyak tentang ini mobil.

Jaman segitu masih era Friendster, belom ada Fesbuk. Thread kondang BMW Mania di Kaskus dan Modcom jadi ajang tujuan buat menggali wawasan.

Zonk, belom ada informasi spesial dan spesifik tentang E34.

Jadilah otak licik saya bekerja, saya bikin aja thread khusus tentang E34 di Modcom.

Rencana culas saya, biar pada master E34 mau turun gunung dan mencurahkan wawasannya di thread khusus.

Alhamdulillah berhasil. Cak Rizal dan Kang Vino, dua dari sekian nama besar pembela panji-panji E34 banyak memposting tentang seluk-beluk E34.

Cuman agak-agak apes di saya. Mungkin gegara saya yang bikin thread, saya dianggap paham banget E34. Banyak telpon ke saya tentang BMW.

Alamaaak…! Koq gini jadinya? Alih-alih saya mbuka thread buat memuaskan dahaga pertanyaan saya, malah saya yang dijadikan tujuan pertanyaan bagi teman-teman yang mencari jawaban.

Ya udah gpp-lah. Saya jawab sebisanya, itung-itung buat nambah teman. Toh pertanyaan yang pada ngubungi saya masih pertanyaan super dasar. Masih enteng lah saya njawabnya.

*mbetulkan kerah kemeja*

ERA Fesbuk kemudian hadir. Sosialisasi dengan para bimmerfan semakin meluas. Mulailah saya kenal dengan Lik Sugik. Jaman segitu fesbuk masih belom ada fitur group. Kami saling berkomunikasi dengan akun personal masing-masing.

Dan saya tambah kondang aja jadi tujuan pertanyaan bagi sesiapa yang menanyakan jawaban tentang BMW.

Alhamdulillah tuhan memberikan pertolongan kepada saya untuk menyelamatkan muka. Setiap ada pertanyaan dari rekan, yang sesungguhnya saya pasti ndhak tau dan ndhak sanggup membalas/menjawabnya, dengan YM/Yahoo Messenger -andalan kala itu mulai jaman kuliah pasca akrab dengan IRC- saya rutin ngontak bro Vino.

Bro Vino selalu sabar dan telaten menerangkan segala pertanyaan saya satu per satu. Baik pertanyaan saya sendiri, maupun pertanyaan teman-teman ke saya karena mereka sangka saya paham tentang BMW.

Lama-lama ramai di Fesbuk, 2011 dengan saya termasuk terlibat di dalamnya, teman-teman bikin komunitas offline BMCC dengan pusat di Madiun.

Fesbuk kemudian punya fitur group. BMCC membuka fesbuk groupnya.

Eh karena isinya dagelan semua, ndhak nyangka yang nimbrung dari seantero Indonesia. FB BMCC yang awalnya buat membahas internal BMCC, jadi seperti FB bimmerfan se-Indonesia.

Kami dari Kediri, Blitar, Madiun, dkk. akhirnya rapat dan memutuskan membuka saluran baru yang lebih terbuka untuk mewadahi silaturahmi para bimmerfan -penggemar BMW, baik yang udah miara maupun yang masih tahap tertarik-. Berhubung Kediri, Blitar, Madiun secara geokultur disebut Jatim Mataraman, maka cuman demi menegaskan asal-usul FB ini belaka tanpa bermaksud untuk membuat sekat dan batasan, kami membuka FB Group baru: Angkringan-online Bimmerfan Mataraman.

FB BMCC dari open kami ganti jadi close. Isinya buat membhasa sesuatu yang internal BMCC saja. Dan tetap melanjutkan tradisi penggunaan bahasa Jawa.

Sementara di Mataraman, meski namanya Mataraman, kami mewajibkan penggunaan bahasa Indonesia karena yang nimbrung emang beneran se-Indonesia.

Secara teknis, yang meng-create FB Mataraman emang melalui tangan saya. Tapi secara prinsip, ini adalah hasil keputusan bersama rapat rekan-rekan pas di Madiun, abis acara halal-bihalal. Rapatnya lesehan sambil ngopi di pinggir jalan. Dan secara faktual, teman-teman se-Indonesialah yang membesarkan Mataraman.

Turut memoderatori FB Mataraman, saya tambah kondang lagi. Telepon lumayan lebih sering berdering. Yang konsultasi tentang problem BMW-nya maupun yang minta petuah dan petunjuk mujarab kala mau minang BMW. Ini belom lagi via inbox ke FB.

Sampe istri saya mbecandain saya, “Kamu jadi konsultan BMW nih sekarang ceritanya? Berapa charge per jam?”

😀

Namun semuanya selalu saya arahkan untuk posting dan bertanya terbuka di FB Mataraman.

Bukan karena apa. Kalo via japri (jalur pribadi), saya takutnya salah ngasih jawaban. Dan tentu tak ada yang ngoreksi. Kalo jawaban salah saya ini kemudian diikuti, ini artinya saya menjerumuskan teman.

Kalo via FB, kan yang mbaca banyak. Yang njawab juga bisa banyak. Yang berbagi pengalaman dari kejadian yang sama juga berpotensi banyak. Plus kalo ada yang salah ngasih jawaban, yang ngoreksi banyak.

Entah kenapa, saya udah berkali-kali bongkar PM (private message) yang saya pindahkan ke FB, eh masih aja ada yang PM. 😀

Seiring berjalannya waktu, saya bersama teman-teman Kedirian kemudian bergabung dengan BMWCCI. Jadi BMWCCI Kediri Chapter. BMCC tetap ada, namun jadi forum/komunitas kultural cangkrukan saja. Di Madiun, secara de-yure telah muncul pula BMWCCI Madiun Chapter.

Namun silaturahmi via Mataraman tetap terjaga dan semakin hangat, semakin meluas yang ikutan ngangkring di sana.

Mataraman, murni cuman sarana silaturahmi online. Karena itu salah besar jika Anda menganggap ini adalah klub atau komunitas. Secara offline, saya tergabung dengan BMWCCI Kediri Chapter, Blitarian Bimmer, atau BUCKS. Dan buanyak warga Mataraman yang secara offline tergabung dengan beragam klub/komunitas maupun yang sama sekali independen tanpa bergabung dengan klub/komunitas apapun.

***

DAN kini saya mulai bisa istirahat dari jibunan PM seperti era Modcom/pre-Fesbuk dulu.

Kalo dulu era Modcom saya selalu mem-forward pertanyaan temen-temen ke Bro Vino, kini guru saya bertambah. Ada Om Abi yang selalu jadi kiblat pencarian jawaban saya.

Jadi, kalo selama ini Anda menganggap saya adalah sumber referensi, baiklah sekarang saya buka saja kebohongan saya. Setiap ada pertanyaan tentang BMW, saya selalu banyak ke Bro Vino atau Om Abi.

So, jangan PM saya lagi sekarang. Silakan posting pertanyaan-pertanyaan rekan-rekan di Angkringan-online Bimmerfan Mataraman.

Kalo Anda beranggapan saya ngeh tentang BMW, itu adalah sebuah kebohongan yang tak patut Anda percayai.

– FHW
pembohong.

Foto nemu dari internet.

————————
Ref: Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://m.facebook.com/groups/323699264381705

BIMMER THE SERIES
(Bimmer The Series) Harga Pasaran BMW Bekas Pt. I
(Bimmer The Series) Harga Pasaran BMW Bekas Pt. II
Mobil Eropa Dijual Alakadarnya?

MEMILIH BMW – THE SERIES

Memilih BMW Pt. I
Memilih BMW Pt. II
Memilih BMW Pt. III
Memilih BMW Pt. IV
Memilih BMW Pt. V
Memilih BMW Pt. VI
Memilih BMW Pt. VII

Posting-posting BMW https://freemindcoffee.wordpress.com/category/kumis-hitler/

Pelajaran Hidup

Blitar (baru saja) disiram hujan deras. Mendekati Imlek, hujan seperti sebuah kepastian. Dan memang faktualnya hari-hari ini hujan deras. Seperti kemarin dan hari ini. Entah esok.

Saya sendirian di Starnafs Cafe. Salah satu tempat biasa temen-temen bengkel nongkrong dan ngopi, selain warung Mbokdhe War yang berada tepat di seberang bengkel, buat sesi ngopi malamnya karena dia buka saat matahari tenggelam hingga lewat tengah malam sampai dini hari.

Warung Mbokdhe War dan Starnafs Cafe ini berjejer, hanya selisih jalan masuk sawah dan sedikit petak kecil.

Starnafs Cafe ini keren. Pasangan suami-istri pemiliknya, tepatnya si Masnya, adalah maniak kopi. Dia bisa menceritakan tentang kopi berjam-jam. Dari beragam jenis kopi dan bagaimana biji kopi dipilih hingga diproses.

Di Starnafs Cafe ini tersedia beragam jenis kopi dari beberapa penjuru nusantara. Si Mas pemiliknya pernah komplain ke salah satu supliernya, “Biji kopi yang kamu petik masih muda. Besok lagi kirimi saya biji kopi yang beneran matang.”

Supliernya sempat menyanggah. Namun si Mas bilang, lidahnya ndhak bisa dibohongi. Belakangan supliernya selalu ngirim kopi dari biji yang dipetik matang beneran.

Keren.

Tempatnya juga homey. Ada lima set meja kursi. Ada yang seperti meja-kursi teras, ada yang seperti satu set meja kursi makan ala Jawa.

Di bawah atap atasnya, justru rumbia digunakan sebagai plafon mengikui/menempel atap. Jika dilihat dari dalam, Starnafs Cafe ini seperti beratap rumbia. Menimbulkan perasaan hangat.

Interiornya sederhana, namun aksentualnya pas banget. Daun pintu kupu-tarung (suicide doors)-nya berpola daun pintu rumah Jawa/joglo. Dan bisa jadi itu daun pintu eks rumah tua beneran. Nanti saya tanyakan ke Mas-nya kalo pas ngobrol.

Membingkai daun pintunya adalah sepasang jendela terbuka dengan teralis dari kayu berpola kotak miring bersilangan, dengan tembok bata telanjang tanpa diaci. Selain dinding sisi depan barulah diaci.

Ruang kafe ini tak luas. Mungkin sekitar 25 meter persegi. Sekali lagi, hanya berisi lima set meja dengan enam belas kursi.

Di teras depan masih tersedia dua meja dengan total empat kursi. Buat yang masih wifi-an saat kafe udah tutup. Buka dan 8:30 hingga 15:30. Break istirahat sebentar baru buka lagi bakda maghrib hingga jam 23:00

Satu yang menarik di sini: ada rak bukunya. Bukunya dominan buku budaya-agama, plus beberapa buku tentang motivasi dan terselip pula buku teknologi informasi. Silakan baca di tempat hingga puas.

Mahalkah menunya?

Segelas kopi tersedia mulai empat ribu hingga sepuluh ribu saja. Coklat panas lima rb. Jus tujuh rb. Mie instan tujuh ribu.

***

Malah ini saya mengetik posting ini di Starnafs Cafe sini, suasini sepi banget. Hanya saya seorang kustomer yang datang. Saya cuman memesan segelas coklat panas usai menikmati makan malam di luar rame-rame sama temen-temen bengkel barusan tadi.

Yang lain tak ada yang mau saya ajak nongkrong di sini. Pilih meringkuk bersama ponselnya.

Jadilah saya buka laptop, dan olah raga jari sebentar mengetik posting ini.

***

Posting tentang Starnafs Cafe?

Bukan. Saya bersama ibunya si kecil dulu pernah ngobrol dengan Mbak pemilik kafe, saat si Mas-nya lagi keluar kota kerja proyekan. Ngobrol tentang sejarah kafe ini, tentang pola bisnisnya, plus sederet foto-foto yang kami ambil dengan kamera.

Udah lamaaa banget. Sampai kami lupa di mana kami simpan file rekamannya sama foto-fotonya. Nantilah kalo ketemu akan kami unggah.

Malam ini dalam kesepian Mblitar diiring fade-in dan fade-out suara kendaraan di jalan raya depan kafe/depan bengkel ini, saya pribadi cuman pingin bersyukur.

Belakangan ini saya banyak ngobrol tentang hidup dan kehiduapn dengan banyak teman di banyak kesempatan yang berbeda. Bukan lagi berdominasi obrolan tentang BMW.

Entah kenapa koq belakangan ini saya sering ngobrol tentang hidup dan kehidupan.

Dan malam ini, usai ber-video call dengan si thole di rumah sambil nunggu coklat panas datang, saya merasa begitu bersyukur dengan hidup yang saya/kami miliki.

Dua belas tahun saya mengarungi kebersamaan dengan ibunya si kecil, dengan segala suka duka yang kami hadapi dan kami lalui; dengan tawa dan tangis; dengan tegang dan lega; dengan sedih pun gembira; ngambek-ngambekan namun yag pati selalu saling merindukan; pegang duit atau sama sekali tak punya makanan; kami hanya bisa bersyukur atas semuanya.

Di pojokan Starnafs Cafe ini saya memejamkan mata dan melihat kembali hidup kami. Ternyata, apa yang kami miliki, yang telah kami lalui, dan tentunya yang hendak kami hadapi besok lusa dan seterusnya; semata hanyalah tentang keindahan.

Keindahan di atas kanvas kehidupan yang nampak dengan terwarna dengan kuas syukur. Saat kita bersyukur, semuanya akan tergambar. Saat kita bersyukur, semuanya akan muncul. Saat kita bersyukur, semuanya akan terpampang.

Manusia memiliki lika-liku dan jalan hidup masing-masing. Kami memiliki tentangan hidup yang orang lain mungkin tak mengalaminya, pun sebaliknya orang lain mengalami tantangan hidup berbeda yang kami mungkin juga tak memilikinya. Orang kadang menyebutnya dengan misteri kehidupan. Bagi kami, inilah/itulah kehidupan itu sendiri.

Kehidupan adalah tentang perjalanan. Perjalanan melintasi waktu dan melalui masa. Perjalanan menapaki detik dan melewati saat. Orang Jawa membahasakan: laku (walking, passing… process). Bahasa sederhana laku di sini adalah proses..

Kabeh kudu dilakoni. Dilakoni kanthi laku. Laku.

Semua musti dijalani. Dijalani dengan proses. Berproses.

Ungkapan simpel, namun maknanya ternyata begitu mendalam. Meluas. Serasa tiada ada habisnya ditulis dan selalui ditulis oleh sesiapa yang sedang menemukan sudut pandang (baru) berdasar pengalaman yang dialaminya.

Bersyukur, bagi kami adalah tentang keikhlasan. Ikhlas menjalani dan ikhlas menerima.

Seperti kala kami menjalani semuanya ini bersama berdua. Belakangan kami menemukan frasa untuk menggambarkannya: kita mustinya bukan mencari jodoh, melainkan (saling) menerima jodoh.

Kami bersyukur menerima satu sama lain.

Jika ada orang berfalsafah bahwa hidup ini penuh persoalan, maka kami bisa menjawab setidaknya untuk diri kami sendiri, persoalan itu bisa diatasi dengan bersyukur.

Bersyukur menjalani pekerjaan, bersyukur menjalani antrian tiket, bersyukur menjalani lika-liku rumah tangga, bersyukur atas apapun kondisi dan isi dompet, bersyukur dalam pertemanan, bersyukur atas kondisi kesehatan, bersyukur dengan menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan, bersyukur atas apapun dan untuk semuanya. Semuanya.

Laiknya kami dua belas tahun kami melalui kebersamaan ini. Tentunya kami berharap bisa terus bersama melalui masa hingga sampai akhir permulaan kelak.

Ya Allah, selalu limpahkan rasa syukur kepada-Mu di hati-hati kami, di hati semua hamba-Mu.

Syukur pangkal mengatasi masalah.

Inilah pelajaran yang kami petik hari ini.

Bagi Anda yang mengenal kami, atau sekedar membaca posting ini, mohon kiranya sudilah memberikan kritik dan masukan kepada kami agar lebih baik dalam menjalani hidup ini, untuk menggapai kelak pada saatnya tanpa masa.

Alhamdulillah.

– FHW

https://freemindcoffee.wordpress.com/2014/08/27/pelajaran-hidup/

Audi A4(B5) vs BMW E36

Seorang rekan bertanya kepada saya, enak mana Audi (A4 B5) vs BMW (E36)? Begini sedikit perbedaannya.

Penggerak

Untuk versi 2WD, Audi berpenggerak FWD, BMW RWD. Ini perbedaan paling krusial. Dari satu perbedaan ini aja, semua faktor lainnya bisa diabaikan.

Dari sini sudah jelas kelihatan: Audi emang enak-enak aja, tapi BMW juauh lebih fun!!!

Mesin

Masing-masing punya versi mesin kecil (4 silinder) yang irit dan murah parts-nya (untuk ukuran Eropa) dan mesin 6 silinder yang boros bensinnya dan mahal parts-nya.

Mesin 6 silinder BMW terkenal presisi pemasangannya. Maklum, 6 biji piston berbaris lurus itu jadinya panjang banget. Secara teori, ia lebih panjang dua piston ketimbang mesin V8 yang sederhananya adalah mesin 4 piston bercabang dua ngiri-nganan. Maklum, mesin 8 silinder kalo dibikin lurus, entah kayak gimana panjangnya.

Jarak kipas radiator mesin i6 BMW (viscofan) dengan shroud dan selang-selang kecil di depannya bahkan tak bisa dilewati jari tangan ukuran besar. Kalo engine mounting mesin BMW udah ambles, mesin jadi turun posisinya dan kipas ini bisa ngantem shroud. Ada beberapa kasus demikian ini: kipas ngantem shroud karena engine mounting udah ambles dan dibiarkan aja ama pemiliknya.

Namun bagusnya mesin 6 silinder BMW berkonfigurasi inline (segaris) ini, ruang kiri kanan mesin BMW ini masih lega. Bisa buat merogoh beragam parts yang mau dicek atau dibetulkan.

Di bagian depan ruang mesin BMW juga ada rangka/frame-nya. Meski fungsinya kayaknya lebih buat mounting/tatakan/dudukan beragam parts yang ada (radiator, kondensor, dll.), setidaknya rancangan ini membuat montir kalo mau ngelepas macem-macem parts tak selalu harus melepas parts lain yang ndhak berkaitan.

Mau nurunkan mesin BMW misalnya, atau mau nyopot motor starter, alternator, dll.; radiator sama kondensor bisa tetep anteng aja di tempatnya.

Di Audi, mesin 6 silindernya dibikin dengan konfigurasi V (V-configuration), jadinya V6 di sini.

Apa masalahnya dengan V6?

Normalnya sih sama sekali tidak ada. Mesin V6 justu diciptakan untuk meringkas besaran si mesin. Bayangkan, secara teori mesin V6 adalah mesin 3 silinder yang berpisah ngiri-nganan. Dan karena bersudut V, bukan boxer yang mendatar ngiri-nganan, maka mesin ini jadinya kompak banget. Bisa menghemat penggunaan ruang mesin karena cuman makan sedikit banget space.

Nyaris semua pabrikan mobil yang menggunakan mesin 6 silinder saat ini pasti menggunakan konfigurasi V alias V6. Baik untuk posisi longitudinal (membujur) dan berpenggerak roda belakang; maupun yang dipasang transversal (melintang) dan berpenggerak roda depan.

Cuman BMW dan mungkin sedikit pabrikan lain aja yang tetep ngeyel pake inline 6 demi mempertahankan stabilitasnya.

Di sini masalahnya: Audi ini mesinnya longitudinal tapi default 2WD-nya FWD. Nah!

Jadinya, mesin Audi didorong maju ke depan, muepettt sama batas depan mobil, biar gearbox-nya tepat berada di atas sumbu roda dan langsung menyalurkan batang penggerak (drive-shaft)-nya ke kiri dan kanan langsung ke roda.

Saking mepetnya penataan peletakan ini, bahkan Audi sampe merancang throttle-body (katup hisap)nya di bagian belakang mesin, bukan di depan kayak umumnya.

Sebenarnya rancangan mesin Audi yang longitudinal dengan gearbox berada di atas sumbu roda ini tampaknya dioptimalkan buat quattro/AWD-nya. Dengan demikian, batang penggerak bisa keluar dari gearbox tanpa sambungan tambahan.

Di AWD BMW, untuk menggerakkan roda depan perlu batang penggerak tambahan yang kayak roda belakang. Dari gearbox ada batang ke arah depan, kemudian dicabang lagi ke kiri dan ke kanan.

AWD pada Audi. Perhatikan gearbox Audi berada di atas sumbu roda depan dan mesin terletak di depannya.

AWD pada mesin transversal.

AWD pada BMW. Perhatikan mesin BMW terletak di atas sumbu roda depan dan gearbox di belakangnya.

Bongkar Pasang

Buat melepas sebuah part, di Audi sangat wajar jika harus membongkar panel depan dan banyak melepas parts lain. Di BMW, pipa-pipa/selang-selang AC teramat gampang untuk diraih. Di Audi, montir harus membuka satu paket panel depan (bumper dicopot, radiator/kondensor dikendorkan. Bagusnya dilepas. ~> Buang air radiator, buang freon AC. 😦 Hiks…) hanya untuk melepas pipa AC, alternator, motor starter, atau sekedar mengganti timing belt dan thermostat, dll.

Di mobil normal, mengganti timing-belt buat mobil yang pakai timing-belt, normalnya ya cuman cukup membuka kover timing-belt-nya saja. Kalo timing-chain kan beda lagi. Karena rancangan penggunaannya puanjanggg dan dia harus kena oli, maka dia ikut tersembunyi menjadi bagian dari jeroan mesin.

Mengganti thermostat di BMW pun ya cukup buka housing-nya aja. langsung ganti. Isi kembali air radiator, kelar urusan. Di Audi, sekali lagi, seluruh panel depan musti dibuka: bumper dicopot, radiator/kondensor dikendorkan. Bagusnya dilepas. ~> Buang air radiator, buang freon AC. 😦

Sadar akan rancangannya sendiri ini, di bagian depan bodi Audi tak ada frame-nya. Radiator & kondensor menempel pada rangka di kiri-kanannya. Bukan atas-bawahnya.

Jadi kalo radiator, kondensor, dan mesin Audi dilepas, maka bagian depannya langsung ompong.

Jalur AC

AC BMW pun banyakan selangnya. Sementara di Audi banyakan pipanya. Soale jalur AC Audi musti belok-belok nekuk-nekuk mengikuti sempitnya ruang yang ada. Ndhak bisa kalo pake selang. Alhasil, kalo mau ngganti, jelas keliatan perbedaan ekstrim biayanya.

Selang AC sekaligus nge-klem sambunganya bisa dan gampang diperoleh di tukang AC plus relatif murah biayanya. Pipa AC Audi musti beli. Moncong sambungannya khusus, ndhak umum. Super susah (baca: ndhak bisa) dibikinkan di tukang bubut. 😦

Berbeda dengan Volvo yang overhang depannya agak panjang mungkin karena alasan safety, overhang depan Audi lumayan panjang sepertinya cuman buat mengakomodasi kebutuhan peletakan mesin membujur (yang normalnya untuk penggerak roda belakang) ini namun untuk kebutuhan menggerakkan roda depan.

Pola penataan letak mesin ini juga yang saya pribadi curiga membuat Audi tidak bisa menambahkan ekstra fan AC di depan kondensor. Karena ini artinya akan menambah ketebalan bagian depan.

Overheat

Ekstra fan akhirnya diletakkan sejajar dengan visco-fan. Visco-fan Audi sendiri ukurannya kecil banget, seperti cuman mengipasi separuh bagian radiator yang besar -sama kayak radiatornya BMW- itu saja. So bisa jadi inilah kenapa Audi di sini terkenal gampang overheat.

Overheat, pas muacettt luamaaa gitu sudah jadi omongan publik di kalangan kaum Audi di sini. Beruntung karena mesin V6-nya masih jadul: bloknya masih berbahan besi dan klepnya aja cuman dua biji per silinder, maka begitu dingin mesinnya langsung waras dengan sendirinya.

Di BMW yang udah pake bahan alumunium, overheat ini selaksa jadi hantu menakutkan di kemacetan.

Pola Konstruksi

Begini, BMW sejauh ini keukeuh mempertahankan prinsip pembagian berat (weight distribution) dengan keberimbangan 50:50.

Konsekuensi dari prinsip di atas, jadinya mesin dipasang sejauh mungkin dari sisi depan mobil. Alhasil mesin BMW begitu mepet dengan firewall (dinding pemisah antara kabin dan kompartemen mesin) dan gearbox-nya berada di bawah kabin.

Plus posisi sumbu roda depan dimajukan. Jadinya moncong BMW (pun Mercy yg RWD) keliatan kayak panjang banget dan wheelbase (jarak sumbu roda)nya juga jadi keliatan panjang banget. Padahal kayaknya ini ya karena posisi sumbu roda depan dimajukan itu tadi.

Di BMW, konsole tengah selalu sangat lebar, jauh lebih lebar dari rata-rata mobil. Ini memang menimbulkan bonus tak sengaja: jadi ada “meja makan” diantara dua jok depan. Namun minusnya, ruang gerak kaki penumpang depan jadi terbatas.

Memang tidak sempit sih. Juauh lebih sempit ruang kakinya Ertiga yang sangat populer hingga sempat mengalahkan dominasi Seniyapansa itu. Tapi dibanding mobil sekelas lainnya, taruh kata Mercy Klasse-C atau Audi A4, ruang kaki BMW tak selebar mereka.

Berhubung, meskipun sempit untuk ukuran Eropa namun ruang kaki ini sama sekali tak mengekakng kaki, maka kondisi ini bisa diabaikan. Dengan kata lain, secara umum dan normal tak ada sempit-sempitnya di ruang kaki penumpang depan BMW.

Tapi yang paling kerasa bedanya dari pola konstruksi ini adalah driving-feel-nya. Dengan pembagian berat 50:50 dan berpenggerak roda belakang, nyetir BMW itu menimbulkan sensasi dan kepuasan yang serasa tak tertandingi.

Sementara Audi, udah penggeraknya roda depan, tanpa LSD, mesinnya melesak jauh ke depan lagi, membuat understeer-nya jadi kelewatan banget.

Maka Audi ini cuman cocok buat yang jalannya lempeng-lempeng aja. Dan tenaga mesinnya cuman buat nyalip (overtake) sama menaklukkan medan menanjak.

Kabin

Space kabin BMW vs Audi kami rasa sama saja. Terkecuali beda “ruang nafas” kaki depan itu tadi.

Namun BMW E36 malah kami nilai jauh lebih bagus ketimbang Audi. Pasalnya, sandaran jok belakang E36 berkemiringan lebih rebah ketimbang jok belakang Audi.

Mungkin karena Audi berpenggerak roda depan, yang mana umumnya overhang belakang harus dikurangi panjangnya agar mobil ndhak ngos-ngosan, maka bagasi Audi jadi lebih buntek ketimbang bagasi E36.

Barangkali untuk menambah space bagasi belakang inilah akhirnya jok belakang Audi dibikin jadi agak lebih tegak.

Tapi berhubung ini mobil kompak, yang pengertiannya hanya untuk transporting jarak dekat atau membawa penumpang anak-anak di jok belakang, maka kemiringan jok ini mustinya diabaikan.

Karena semiring-miringnya jok belakang, jika tak diimbangi dengan legroom panjang yang membuat kaki bisa semakin selonjor, artinya sama aja. Malah aneh kalo punggung bersandar lebih rebah sementara dengkul tetep ditekuk rapat karena legroom sempit.

Di BMW E60 pun konon sandaran kursi belakang lebih tegak ketimbang Camry. Namanya juga kategori sport dan cuman midsize sedan, masih wajar kalo jok belakang dirancang bukan buat overnight diriving penumpang belakang dewasa.

Bila ditinjau secara pasar, maka Serie 3 mestinya pengertiannya semacam: dikemudikan sendirian buat ngantor, pergi untuk ketemu teman dan hang-out, atau nganter anak sekolah.

Sementara Serie 5 buat nyetir ngantor sendirian, pergi bersama teman untuk hang-out, atau di belakang isinya juragan perempuan yang duduknya dengan kedua kaki miring ke satu sisi sehingga jadinya bisa lumayan selonjor untuk ukuran perempuan.

Atau sekedar trip liburan membawa barang ringan keluarga, katakanlah pakaian dalam kopor, yang jaraknya pendek/sekian jam perjalanan atau hanya untuk dibawa ke bandara.

Meski kenyataan di lapangan berbalik semuanya. Serie 3 dan 5 bisa dipakai overnight thousands miles driving sekeluarga.

Namun setegak-tegaknya sandaran punggung jok belakang Seri 5 atau Serie 3 atau bahkan itu Audi, tetep aja dia tak setegak SUV yang memang dirancang lebih tegak dari sedan karena alasan kebutuhan/penggunaan. Penumpang SUV diasumsikan melewati jalan yang bouncing dan dumping sehingga harus duduk lebih tegak biar siap sedia menghadapi segala cobaan yang datang.

Meski juga tegaknya jok SUV ini tetap aman jaya jika dibanding macam jok kereta api ekonomi yang tegaknya itu bukan lagi tegak dalam pengertian jok mobil, melainkan emang tegak 90 derajat! Alamaaak…

Baru di Serie 7, Klasse S, A8, dan sekelasnyalah rebahnya jok belakang -bahkan bisa disetel kemiringannya- jadi kerasa banget, soale ruang kaki sampe cukup dibuat selonjor. Tapi bawa Serie 7 parkir di mall yang ada di Kediri tenyata amsyong tralala. Cuman bisa parkir di VIP depan lobby Hipermart Kediri. Di Transmart juga ndhak bisa parkir. 😦

Tapi biar gimana, meski dengkul Audi A4 dan E36 sama-sama ngepasnya, berhubung sandaran punggung jok E36 lebih rebah, kami tetap memberi nilai plus di sini. Lumayan, yang punya si kecil bisa duduk lebih nyaman di E36 ketimbang di Audi.

Dan gara-gara gearbox Audi ada di atas sumbu roda pas, jauh di depan firewall, maka konsol tengah di antara dua jok Audi jadinya kecil banget. Karena ya cuman buat tempat tuas transmisi aja. Nyaris sama sekali tak bisa diletaki apa-apa. Meskipun di E36 kondisinya sama juga. Konsol tengahnya yang lebih lebar ketimbang Audi, habis buat dijejali tombol power-window. Jadinya sama useless-nya.

Di BMW E34, saya biasa meletakkan empat air mineral gelas atau jus kotakan berjejer di depan tuas transmisi, berjejer dari kiri ke kanan. Kami menyebut “lapangan kecil” ini: meja makan.

Satu perbedaan lagi, kursi belakang Audi bisa dilipat rebah dengan konfigurasi 40:60 -jok kiri bisa rebah sendiri, jok kanan rebah bersama sandaran tengah- membuat ruang bagasi dan kabin menyatu. Cocok buat membawa barang yang panjangnya melebihi space bagasi. Di BMW fitur ini tak tersedia. Mungkin kata BMW, “Sedan buat bawa orang koq dikasih gituan, buat apa?”

😀

Dan memang jika Anda menjejali bagasi Audi dengan audio, fitur ini jadi ilang fungsinya.

Built

Material Eksterior E36 dan A4 B5 sama nilai imbang. Material interiornya juga mirip. Malah kulit jok Audi cenderung lebih tipis kayaknya ketimbang E36. Kalo di E46 kan kulit joknya tebel dan kokoh banget tuh, bisa duduk sekasarnya tak perlu terlalu berhati-hati tanpa khawatir jok gampang rusak.

Audi menangnya datang dengan opsi komplit aja siy, khususnya di versi V6. Wood-panelnya cantik ciamik berganda. Di E36 ini cuman ada di Versi limited. Itupun sama sekali tak secantik Audi.

Sementara untuk fungsional lain macam fitur-fitur, bisa dibilang imbang semuanya. Instrumen-clusternya isinya ya itu-itu saja, kembar-kembar aja. Cuman beda tata letak dan dimensinya aja.

Style

Membandingkan desain bodi mobil adalah selera dan sangat relatif. Paling kita cuman bisa menilainya dari kesesuaian elemen desain, keharmonisan gurat desain, atau sense keelokan garis desain. Hasil akhirnya adalah cita rasa nuansa desainnya: futuristik, cantik, ganteng, macho, feminim, urban style, clasic modern, legant, sporty, dll. dst.

Sama-sama dari Eropa dan satu kampung federasi, baik Audi dan BMW sama-sama mengusung ciri khas desain masing-masing. BMW tentunya dengan kidney grille, hoftmeister kink, garis bodi samping, atau layered dashboard. Audi dengan pola desain simpel-nya, bodi membulat agak menggembung, serta kaca kecil di belakang pintu belakang, dll. dst. Kalo dalam bahasa desain VW, mereka punya kebijakan desain yang: timeless.

Masing-masing menimbulkan kesan yang khas. BMW tampak ganteng, sporty, mendominasi, dan sedikit norak dengan banyaknya guratan bodi. Audi tampak manis, simpel, timeless, dan oleh karena itu desainya seperti biasa aja seolah tanpa ada inovasi.

Perbedaan kecil lain misalnya: lampu kabut BMW dipasang di bagian bawah bumper, punya Audi menyatu dengan lampu utama.

Lainnya itu yang ada malah beragam kesamaan. Bukaan kap mesinnya sama-sama ke belakang dan ditopang pakai shock. Cuman punya BMW ada duakecil di kiri dan kanan, punya Audi cuman satu besar. Sama-sama lemah sebiji shock-nya, kap sama-sama ambleg lagi.

Persaman lain adalah pintunya yang bisa diuka sampai 90 derajat, begitu memudahkan penumpang keluar kabin plus tampak bossy gitu. 😀 Dan tetap ada pemberhentian 45 derajatnya.

Baik di BMW maupun Audi, ada mekanisme anti jepit pada power window-nya. Kaca akan otomatis balik ke bawah jika ada yang menahan pergerakannya ke atas.

Satu keunggulan Audi di sini adalah nutup pintunya: ringan banget, cuman perlu tenaga setengah bahkan kurang dari tenanga untuk menutup pintu BMW, namun pintunya tetap menutup dengan “Jlebbb!” mantep khas mobil berplat tebal.

Dan entah bagimana rancangan konstruksinya, pintu Audi jika dibuka kurang dari pemberhentian-nya, pintu ini dirancang untuk menarik diri hendak menutup.

Satu perbedaan lagi, kursi belakang Audi bisa dilipat rebah dengan konfigurasi 40:60 -jok kiri bisa rebah sendiri, jok kanan rebah bersama sandaran tengah- membuat ruang bagasi dan kabin menyatu. Cocok buat membawa barang yang panjangnya melebihi space bagasi. Di BMW fitur ini tak tersedia. Mungkin kata BMW, “Sedan buat bawa orang koq dikasih gituan, buat apa?”

😀

Dan memang jika Anda menjejali bagasi Audi dengan audio, fitur ini jadi ilang fungsinya.

Kesimpulan

Di E36 malah melimpah versi transmisi manual, cocok buat penyuka olah raga jalan raya, sementara Audi menang di fitur tiptronic tanpa ada opsi manual di sini.

Harga parts Audi rata-rata 25% lebih mahal ketimbang BMW. Namun harga pasaran sekenan Audi tua bisa dibilang rata-rata cuman separohnya lebih dikit ndhak banyak dari BMW.

So, umpama penggeraknya sama-sama belakang atau sama-sama depan, dengan kondisi bodi dan interior yang ada, saya bakalan langsung milih Audi ketimbang BMW. Meskipun mesin Audi begitu rumit untuk dibongkar pasang.

Berhubung Audi lahir dengan 2WD berpengerak roda depan sementara BMW belakang, maka kami tetap jauh meletakkan E36 lebih unggul ketimbang Audi.

***

Trus ngapain kami miara Audi, mobil yang ndhak punya keunggulan khusus ini?

Seru aja! Melihat kerumitan mesin, parts yang tak selalu tersedia dan kadang harus order via ebay, tak banyak orang/penguna/user paham ini mobil apa, serta tak banyak montir yang mau alias males nangani ini mobil tuh merupakan keasyikan tersendiri.

Membuat BMW yang kata orang parts-nya mahal + perawatannya susah + dijual kembali jeblok (dan kenyatannya emang gitu) itu malah jadi mobil yang terlihat mudah untuk dirawat dan diperbaiki di mata kami.

Membuat pola pandang ini jadi lebih luas.

– FHW FWD RWD

Berhubung udah banyak gambar E36, kali ini saya pingin masang gambar-gambarnya Audi A4 B5 aja. 😀

Komparasi Bohlam LED

Ini beberapa komparasi bohlam LED yang kami rangkum dari beberapa sumber. (Efficacy = lumens/watt)

MERK WATT LUMEN EFFICACY
StarkLED Omni Series 5 500 100,0
Hannochs 5 450 90,0
Philips 4 350 87,5
Philips 6 470 78,3
Panasonic LED Neo LDAHV5LH5A / LDAHV5DH5A 5 350 70,0
MERK WATT LUMEN EFFICACY
Philips 13 1400 107,7
StarkLED Omni Series 15 1550 103,3
Panasonic LED Evo LDAHV13LH4A / LDAHV13DH4A 13 1320 101,5
Hannochs 14 1400 100,0
Osram 14 1350 96,4
MERK WATT LUMEN EFFICACY
Panasonic LED EVO Maxx LDTHV16DGNA 16 2000 125,0
Philips 18 2000 111,1
StarkLED Omni Series 15 1550 103,3
Hannochs Premier Jumbo 20 1800 90,0
Hannochs Royal 20 1700 85,0

Di sini mestinya ada satu faktor lagi yang perlu dipertimbangkan: harga. Namun harga ini mustinya harus keluar dari satu sumber atau sumber yang setara; misalnya MSRP (manufacturer suggested retail price) atau dari satu outlet yang sama yang menjual beragam merk produk tersebut.

Nah persoalannya, di sini datanya ndhak imbang. Jadi faktor harga ini terpaksa kita abaikan dulu. Padahal bisa jadi, untuk item yang lumens per watt-nya rendah, ternyata malah paling valuable jika masih diitung lagi dengan komparasi harganya.

Ada faktor lain lagi yang mungkin penting mungkin tidak penting untuk diperhitungkan, yakni keluaran panas (heat emitted) dan masa/umur pakai lampu. Tapi, rasanya pengguna rumahan jarang memperhitungkan faktor ini. 😀

CMIIW, CMIIW, CMIIW.

– FHW LED

REF:

Simulasi komparasi pemakaian lampu LED (light-emitting diode) vs CFL (compact fluorescent lamp) vs incandescent lamp/lampu pijar dapat disimak di sini http://www.hannochs.com/main/products/consumer-lighting/led-bulb/

Convertion Table (Electrical Energy into Light Energy) LED, ESL, and Incandescent Lamps

Bulb Shapes

Incandescent bulb shapes

Perbaikan Sepaket

Badak Biru dulu sampe ngabisin beberapa bengkel buat nyari penyebab overheat. Overheat-nya kalo muacettt luamaaa. Kalo jalan lancar/normal, temperatur aman di tengah terus.

  • Tekanan radiator pas dicek pake pressure checker hasilnya normal, ndhak ngempos ~> Ndhak ada kebocoran.
  • Selang-selang aman, ndhak ada yang pecah/ngembes.
  • Visco-fan masih dinilai aman. Dll.

Belakangan diketahui ternyata ada retak sambut yang ndhak terlalu keliatan di thermostat housing-nya. Tipiiiiiisss banget kalo diliat secara kasat mata. Mirip goresan tipis pada permukaan bodi plastiknya itu. Nyaris tak terdeteksi kalo ndhak dibongkar dan dibersihkan. Sementara thermostatnya sendiri pada kondisi yang dinilai aman.

Begitu diganti, waras.

Sekian taon setelahnya balik suka panas lagi. Belakangan diketahui kalo radiator berkerak karena pas disogrokkan, keluar lumpur keraknya segenggam tangan anak kecil.

Belakangan suka panas lagi. Temperatur lebih dari separoh meski ndhak sampe njeplak nganan. Ketahuan pas saya mematikan mesin usai jalan lumayan jauh dengan jalanan nanjak terus-terusan ~> kecepatan rendah namun beban tinggi.

Ada yang mendesis di kolong mesin. Ternyata ada ujung selang radiator yang sobek dikit kecil. Desisan ini ndhak ada usai mesin dimatikan usai mobil jalan datar/beban enteng.

Moral kisah ini: kalo ada satu barang rusak, cek semua yang lainnya. Bisa jadi temen-temennya satu paket sistem lagi antri rusak aja kalo ndhak diganti sekawanan.

Tapi sekarang badak aman jaya. Temperatur ndhak njeplak kanan, dan ndhak ada suara mendesis dari kolong mesin. Soale mobile saya anggurkan gitu aja.

😀

– FHW V8

Pekok

Saya sering membaca guyonan: pake Pug itu pekok. Entah apa maksudnya. Apakah beneran pekok=tolol, atau sekedar plesetan Peugeot ~> Pegot ~> Pekok.

Well, coba kita lihat fakta (tentang Audi tua di sini) berikut ini.

AUDI:

  • Bukan mobil tua kolektibel. Harganya ndhak sekenceng Holden, LC, Pajero, CJ7, W124 300CE, Klasse-G, dll.

    Jangankan kenceng, dibanding BMW setara aja harganya assoy ambleg-nya: nyungsep ndhlosor njungkel.

    Yang tragis adalah, harga sekenan Audi bisa dibilang kalah jauh sama VW, yang mana notabene Audi adalah versi premium dari VW. Sebuah A3 harganya relatif lebih jeblog ketimbang Golf, sodara kembarnya untuk kelas yang lebih rendah.

  • Komunitasnya ndhak jelas.
  • Bengkel spesialis kayaknya cuman ada di Jakarta, itu pun beneran cuman beberapa gelintir.
  • Di jalanan, Anda pernah papasan sama Audi? Kalo pernah, seberapa banyak unitnya dan berapa kali dalam setahun?
  • Harga parts-nya rata-rata 25% lebih mahal dari BMW yang terkenal udah mihil.
  • Dijual kembali: bisa laku itu berkah, ndhak laku itu rasanya koq wajar-wajar aja.
  • Built quality-nya, untuk ukuran Eropa dia ndhak se-firm sama BMW.
  • Nyaman siy emang, tapi tetep aja ndhak se-fun BMW. Ndhak banget pokoknya.
  • Irit? Ndhak juga. FC-nya sama dengan BMW yang bermesin setara.
  • Liat Audi turun balapan di Sentul?
  • Bukan cuman sekali ditanyai sama orang: ini mobil merk-nya apa ya Mas?

PUG?

Saya kurang paham. Saya bukan pengguna Pug. Tapi yang pasti sebagaimana kita ketahui bersama: komunitas Pug itu besar, bengkel spesialis ada lumayan di mana-mana.

Saya kenal sama temen-temen komunitas Pug setempat sini yang luar biasa rame dan solid. Dan tiap keluar di jalan bisa dibilang papasan-papasan aja ama Pug.

So, pekok mana siy yang pake Pug vs yang pake Audi? Jadi siapa sebenarnya yang beneran pekok?

😀

– FHW-V