Dangdhut Pt. 1 – The Beginning

***

Saya ini lumayan update lagu-lagu dangdhut lho! Soale tetangga depan rumah nyaris tiap hari muter dangdhut, koplo seringnya, dengan speaker … well, saya kira 12″.

Mungkin tidak terlalu kencang baginya. Namun, resonansi dari berbagai bidang pantul: tembok-tembok penyekat kami-kami malah membuat amplitudonya datang berlipat ganda ketika frekuensi-frekuensi nces-nces-jless itu setia mengunjungi ruang kedaulatan dengar kami. Lumayan membuat sudut kamar paling belakang dan paling tersembunyi di rumah masih tetap merasakan dentuman kendangnya yang sudah dikontemporer dengan kooptasi drum.

Tapi… hegemoni kerancakan perkusi dan mayoritas perangkat nada elektronik era dangdhut sekarang rasanya koq malah monoton ya? Rasanya koq justru lebih asyik “monotonisme” dangdhut era dominasi ketipung jaman Pakdhe Meggyzeth atau Mbak Ike Nurjanah yang justru sangat terdengar rancak menggemakan nafas seni suara ke seluruh penjuru sudut angkasa indera dengar kita.

Beragam lagu yang mengusung tema-tema berbeda bukan hanya menjogetkan pinggung dan membuat badan bergoyang, namun juga sanggup mengiris hati laksana sembilu, dengan detakan ketipung yang mendalu. Suka, sedih, tawa, tangis, beneran hadir nyata dalam alunan nada suara para biduan-biduanita masa kemarin. Mengolah sisi rasa terdalam kita.

***

Saat ini, koplo membuat semuanya saya dengar jadi hancur berantakan. Entah kenapa, saya tak sanggup menjelaskan. Sebab lagu memang soal buncahan perasaan. Kadang tanpa perlu penjelasan. Ia, lagu nan sesungguhnya lagu, kadang hanya datang dengan pemahaman. Dengarlah suara tersembunyi dari Om Ebiet atau Cranberries jika hendak membuktikan.

Kini dunia benar-benar koplo. Entah ini pelarian atau sebuah ungkapan baru dari kata-kata sosial-kemasyarakatan, saya ternyata belom memiliki kesanggupan untuk mencernanya. Kerancakan koplo justru membuat semuanya monoton dalam mata dengar saya.

Untungnya, dari dulu hingga sekarang, dangdhut masih sanggup membuat dunia berjoget dan bergoyang. Dalam masanya masing-masing. Detak-detak waktu yang kadang serasa hendak terputus oleh keadaan sontak tersambung lagi dengan untaian harmonik, menyingkirkan ketuk-ketuk pentatonik yang mulai kembali digali ulang oleh pejuanmg seni era kini.

TETANGGA depan rumah nyaris tiap hari muter dangdhut, koplo seringnya, dengan speaker … well, saya kira 12″. Suara yang datang tanpa permisi, tapi inilah harmoni di ruang waktu kebersamaan kami sebagai tetangga. Bunyi dangdhut koplo, bunyi desing gerinda pak tukang sebelah, dan bunyi knalpot memekakkan telinga dari anak-anak muda yang sedang berusaha keras mencari eksistensi jati dirinya: dengan berkeyakinan jika bebek 100cc-nya ini seolah benar-benar setara tunggangan para jagoan Motor GP.

Saya ini lumayan update lagu-lagu dangdhut lho! Soale tetangga depan rumah nyaris tiap hari muter dangdhut, koplo seringnya, dengan speaker … well, saya kira 12″. Tapi saya ndhak tau judulnya apaan. Cuman update lagunya aja. Ndhak kenal judulnya.

– Freema HW,
ndhut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s