(Un)friend

Duluuu, saya numpang akun fesbuk istriku untuk berinteraksi. Padahal saya udah punya akun fesbuk sendiri. Hingga kemudian saya akhirnya pakai akun fesbuk sendiri.

Karena waktu itu saya menggunakan fesbuk murni untuk berinteraksi dengan asas silaturahmi. Dan buat ngomongin BMW tentunya.

Satu per satu, friendlist-ku mulai terisi oleh teman. Baik saya yang nge-add atau saya di-add.

Semuanya berjalan dengan riang dan gembira.

Kami saling membahas aspal yang bolong. Keluarga dan si kecil masing-masing temen, dan kehidupan secara universal.

Semua bisa berbicara dengan bahasanya ungkapan masing-masing, dan semua bisa saling menerima perbedaan bahasa pikir masing-masing.

Semua berbagi ide, berbagi pandangan, berbagi sudut pandang. Berbagi perbedaan, mengupas kesamaan. Semua indah. Indah semuanya.

Kami berbicara segala hal yang penting maupun tak penting, bermuatan maupun tak bermuatan, hanya demi satu nafas: silaturahmi.

Berhubung ini akun “hanya untuk” bersilaturahmi, maka setting posting saya default-kan ke friend. Bukan publik. Hanya teman fesbuk saya yang bisa membaca posting saya.

Karena memang posting cuman buat pertemanan saja.

Bicara yang “remeh temeh”, sekali-sekali bicar apedas dan menggigit, atau bicara dengan bahasa timuran ala sini, cuman buat suka-suka dengan sesungguhnya suka-suka.

PILPRES, THE DEATH OF FACEBOOK

Sampailah pada suatu ketika. Pilpres 2014. Mendadak dinding ratapan fesbuk-ku menjadi aneh. Mendadak para manusia berantem tanpa titik poin yang jelas dan pasti. Mendadak semua temanku, yang kukenal maupun belom saya kenal, menjadi manusia asing. Mereka seperti manusia kesurupan, berbicara tanpa jelas inti dan poinnya. Apalagi muatan dan bobotnya.

Semua berbicara bagai orang kesurupan.

Saya terhenyak. Kaget bukan kepalang.

Untuk inikah fesbuk dibuat? Untuk memetakan sisi tersembunyi para manusia offline di belakang layar sana?

Apakah ini proyek penerusan paten “Nervous system manipulation by electromagnetic fields from monitors” ini https://www.google.com/patents/US6506148?

Saya tidak tahu. Yang jelas, saya muak melihat kelakuan dua kubu pendukung pilpres kala itu. Mereka sudah tidak lagi bicara cover-both-side-story, atau dalam bahasa Arabnya tabayyun.

Saya banyak mengun-follow temen-temen kala itu.

Meng-unfollow temen, itu sama artinya kita menutup telinga saat tetangga muter musik keras-keras.

Perlahan-lahan, sesuai perkembangan situasi, unfollow ini kemudian saya buka.

Posting-posting peninggalan masa pilpres masih ada saja dan masih terus berlanjut secara sporadis, baik dari kubu pendukung maupun penentang.

Namun semua masih bisa saya mahfumi.

REVIEW KHITTAH

Seiring dengan waktu, saya merasa musti kembali mereview kondisi friendlist fesbuk saya. Saya ingin review sesuai khittah awal saya berfesbuk: menjalin silaturahmi dengan siapa saja, dan bebas dari kepentingan apa saja. Kecuali hal BMW. 😀

Dengan nafas panjang, saya cek satu per satu 1500 akun di friendlist saya.

Akhirnya, satu per satu saya hapus… 😦

  • Yang pertama saya hapus adalah, justru teman-teman terbaik dan terdekat saya. Baik dengan secara jarak fisik maupun dekat secara emosional. Termasuk dalam barisan ini adalah para saudara/keluarga saya. Saya “tidak butuh” fesbuk untuk terkoneksi dengan mereka.Mereka adalah barisan pertama yang justru saya lenyapkan dari isian friendlist saya.

    Beberapa nama diantaranya adalah Lik Catur, Abi, Ardian. Dan buuuanyakkk nama lain.

    Sekali lagi, masih buanyakkk yang belom saya sebutkan di sini untuk kategori pertama ini.

    Jadi kalo Anda kaget koq akun saya mendadak tidak ter-friendlist dengan saya, ini alasannya.

  • Yang kedua adalah akun-akun jualan. Akun-akun yang memang dibuat buat jualan, bukan buat pertemanan.Ini tak ada sisi emosional apapun yang mendasarinya. Barang jualan bisa saya cari dan saya temukan di forum jualan yang melimpah-ruah di fesbuk.
  • Yang ketiga adalah akun “tak jelas”. Biasanya akun ini nge-add saya karena interaksi saya dengan beragam group, baik group otomotif maupun group diskusi pemikiran.Tidak masalah dengan barisan akun ini. Cuman sedikit bermasalah kalo mereka sama sekali tidak berinteraksi dengan saya (atau tepatnya sebaliknya, saya tidak berinteraksi dengan mereka).

    Bukannya tidak ada interaksi, karena interaksi yang ada terus berlangsung di group/forum otomotif atau forum diskusi pemikiran yang saya ikuti. Dan interaksinya tentunya sesuai dengan tema group-group/forum-forum tsb.

    Alhasil, barisan akun definisi ketiga ini satu per satu, perlahan-lahan saya kembalikan ke habitat(interaksi)nya: ke group/forum saja, bukan di wall pribadi.

  • Yang keempat ini, tepatnya bukan saya bersihkan, melainkan saya undur diri; dari akun-akun yang tidak menghendaki saya.Saya hanya bisa berbicara dengan akal dan pikiran. Keyakinan saya, saya berkomitmen pada diri saya sendiri, saya sembunyikan secara pribadi sepanjang hidup saya.

    Saya ingin tampil kepada Anda semua, sesiapa saja, sebagai sesama manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Tanpa membawa perbedaan dan bukan hanya berkumpul karena persamaan.

    Namun iklim pribadi saya ini, tidak sepenuhnya bisa diterima oleh beberapa akun di friendlist saya.

    Saya sering dibilangi untuk menutup telinga saya jika ndhak mau mendengar musik yang mereka putar; instead of/alih-alih mereka melirihkan volume musiknya dan cukup didengar oleh mereka-mereka sendiri saja.

    Tentu kehadiran manusia seperti saya ini adalah salah dan kesalahan besar di mata mereka.

    “Ini musik Tuhan!” mungkin demikian kata mereka. Kata mereka.

    Sehingga siapapun wajib mendengarnya dan bagi yang tidak mendengarkan = tidak bertuhan dan tidak mengikuti tuhan dan tidak membela tuhan.

    Sekencang apapun saya menjelaskan, akan semakin salah bagi saya di mata mereka.

    So, baiknya saya harus undur diri. Agar tidak mengganggu kebenaran mereka.

ITU semua yang saya review dari friendlist saya.

Tinggal yang ada hanyalah dua kategori saja:

  • Manusia bajik dan bijak yang saya kagumi dan saya ingin terus dengar petuah kehidupannya dan pembicaraannya tentang kebaikan untuk alam semesta dan jaga raya;
  • Akun-akun yang memang terus saya amati untuk melihat perkembangan dunia di sebelah sana. Dunia yang tak tersentuh oleh saya.

NETRAL, BERPIHAK PADA KEBAIKAN

LAINNYA pertemanan, saya malah banyak meng-follow beragam akun atau fan-page. Jangan dikira saya hanya meng-follow akun atau fan-page yang senada dengan selera saya. Kalo itu Anda, mungkin iya.

Saat kuliah, oleh para senior saya yang mumpuni dan bermutu tinggi, saya dididik untuk menjadi manusia netral dan berpihak hanya kepada kebenaran (baca: kebaikan). Setelah saya olah dengan pikiran sempit dan dangkal saya, saya menerima itu semua.

Sejak kuliah, saya tak pernah ikutan satu OMEK (organisasi mahasiswa ekstra kampus) pun. Tapi saya berteman dan sangat akrab dengan semua rekan dari semua OMEK. Dari yang mulai bandul paling kiri hingga bandul paling kanan.

Kini saat berada di kehidupan nyata, saya meneruskan tradisi ini. Saya tidak (ingin) tergabung dengan satu organisasi masyarakat/organisasi sosial apapun.

Bukan karena mereka semua jelek bagi saya, sebaliknya, karena mereka semua baik bagi saya. Sementara aturan ataupun aktivitas internal setiap organisasi umumnya membuat kita menjadi terbatas (terbatas waktu) untuk bergabung dengan semuanya.

Maka dengan segala kelemahan yang sama miliki, saya memutuskan tradisi netral ini, dan memilih “bergabung” dalam diam kepada semuanya.

  • Saya suka NU yang mendedikasikan diri untuk membela NKRI dan konsisten membangun batin bangsa yang penuh keluasan pandang mata hati; menjaga tradisi baik dan bijak warisan keafiran lokal; dan bersilaturahmi dengan semuanya saja tanpa garis batas.Tapi saya ndhak suka kelakuan para kyainya yang rokokan.
  • Saya suka Muhammadiyah yang beriklim terbuka dan bergerak hebat dalam pencerdasan masyarakat.Tapi saya ndhak suka eksklusivitas mereka, setidaknya ini di mata saya.
  • Saya suka rekan-rekan baju putih yang biasa demo dengan tertib. Mereka berjalan di pinggir jalan dan tidak menggangu lalu-lintas secara frontal. Bahkan saat berbaris naik motor pun mereka pakai helm semuanya.Tapi saya kurang suka kepada penolakan mereka pada tradisi dan kearifan lokal yang lahir dan tumbuh dari tanah untuk menjaga ketentraman dan kedamaian batin dan jiwa semuanya.

Ini yang saya konstruksi dengan menggunakan syaraf-syaraf otak sederhana ini.

Jadilah saya, manusia tanpa identitas. Sering dipertanyakan kemusliman saya, dan masih tak berguna bagi nusa bangsa dan negara. 😀 Hehehehehe….

Kini saat berada di kehidupan nyata, saya meneruskan tradisi ini. Saya tidak (ingin) tergabung dengan satu organisasi masyarakat/organisasi sosial apapun.

Makanya saya dengan enjoy bisa meng-follow beragam akun dan fan-page, dari yang bandul paling kiri hingga bandul paling kanan.

Saya bisa menerima semuanya, meski saya tetap mengambil sikap secara pribadi menurut pemikiran sempit dan dangkal saya.

Jangan dikira saya hanya meng-follow akun atau fan-page yang senada dengan selera saya. Kalo itu Anda, mungkin iya.

Saya hanya ingin mencoba berusaha berpihak pada kebaikan. Meski masih teramat jauh dari kemampuan.

Kebenaran mutlak, kebenaran sejati, itu hanya Allah yang memiliki. Di dunia ini, segala kebenaran masih saya anggap nisbi meski belom tentu absurd.

Sementara, kebaikan itu universal. Berlaku bisa oleh dan bagi siapa saja.

Saya hanya ingin mencoba berusaha berpihak pada kebaikan. Meski masih teramat jauh dari kemampuan.

TABAYYUN

Dari 1500 akun di friendlist saya, selanjutnya tinggal 500 akun.

Dan kehidupan online saya kembali normal.

Setting akun yang biasanya friend, kini saya default-kan jadi Public sekaligus open. Sehingga siapa saja tanpa harus perlu berteman dengan saya bisa komen di posting-posting saya.

Lainnya itu, fitur follow saya aktifkan. Jadi sesiapa tidak perlu harus berteman dengan saya untuk mengikuti posting saya dia wall mereka.

Dan ini saya rasa lebih fair.

Saya open dan follow, artinya saya bersedia dikomentari siapapun bahkan tanpa perlu saya kenal sesiapanya. Artinya, saya ingin berbicara secara pemikiran di sini.

Saya aktifkan fitur follow, artinya buat Anda yang memfollow saya, berarti bersedia menerima persamaan dan perbedaan sudut pandang dari saya.

Hingga hari-hari ini tiba.

Ada demo yang poin dan titik tujuannya sama-sama saya abaikan dan tak saya hiraukan.

Persoalannya bukan demonya atau apa/siapa yang didemo. Persoalannya kembali kepada: dinding ratapan (wall) fesbuk saya.

Kali ini kondisinya saya nilai lebih parah. Sepertinya, kedua kubu peninggalan pasca pilpres 2014, baik kubu kiri maupun kubu kanan, kembali meluapkan sisi tersembunyi mereka sebagai manusia.

Dua tahun ini, media sosial kembali menjadi agen-agen pemuncul sisi tersembunyi para manusia di belakang layar untuk memunculkan ulang sisi kerasukannya, berbicara tanpa menggunakan tabayyun apapun!

Ya, tabayyun, ayat Quran itu, telah dilenyapkan mentah-mentah dengan ledakkan dan luapan emosi yang tak terbendung. Emosi golongan yang sama sekali mengharamkan adalah golongan lain dengan pemikiran yang berbeda.

Paling shahih, kebenaran golongan sendiri harus dibungkus dengan bau-bau agama. Barang siapa tidak sepakat dengan golongan saya, maka ia adalah salah, haram. Titik. Ini menjadi stempel paling mujarab untuk mematikan adanya kehidupan pemikiran yang jernih dan obyektif.

Pemikiran telah mati di atas sana. Hanya segelintir manusia yang tetap menjaga nyala pemikirannya terbuang di selokan bawah tanah sini. Hidup dalam kesendirian mereka.

Mereka yang mensyukuri nikmat obyektivitas dari Tuhan, harus tersingkir secara kultural. Hidup sporadis dalam kesendirian. Dan saya memilih bersama mereka.

Saya mulai (kembali) berbicara dengan diri sendiri melalui layar monitor yang senantiasa diam dan terus memunculkan barisan huruf yang kaya ketiks melalui tus-tuts keyboard, yang konon buatan zionis ini.

Batin saya menangis.

Sekali lagi, saya hanya teringat dengan tujuan awal akun fesbuk ini saya create: silaturahmi tanpa batas tanpa sekat.

Semuanya masih gagal hingga hari ini.

Dengan hati yang sungguh, beneran, teriris pedih ini, dengan berat hati saya kembali membuka friendlist akun fesbuk saya. Dengan hati menitikkan air batin, dengan jari yang maha berat mengklik tombol mouse, saya kurang lagi satu per satu daftar friendlist saya.

Kategorinya tetap dan tetap jelas seperti sedia kala.

Pertama, yang saya ‘singkirkan’ justru teman-teman terbaik saya. Saya tak ingin mereka semua terseret arus yang sama atau arus yang berlawanan dengan isi posting saya.

Saya tak ingin di friendlist fesbuk saya ada kategori: satu pandangan dan berbeda pandangan. Saya ingin mereka semua sama.

Sekali lagi, akun-akun teman baik saya yang paling pertama saya ‘singkirkan’. Maaf Daeng Andi Muhammad Aswar, Cak Bagus Purwanto, Acha, dll. Termasuk bro Wima atau Gus Uphik, Lik Agus, atau Gus Kholiq. Atau Kenneth, Al Vino, Lik Anton RW, Lik Sugik, Pakdhe Iwan Widdi dan Lik Abel (saya ingin banget mampir YK dan ketemu njenengan bedua), Lik Dayat, Lae Daniel, lae Nauli, dkk. semuanya tanpa terkecuali.

Berikutnya yang kedua, bukan saya ‘singkirkan’, adalah saya yang undur diri. Bagi yang memaksa saya untuk menutup telinga agar tidak memndengar suara musik mereka, dengan hati yang patah akhirnya saya undur diri dari pertemanan dengan mereka.

Ada seorang kawan yang saya komen-i postingnya, eh dengan seenaknya dia njawab, “Ini fesbuk Mas, jangan dianggap serius. Dibikin suka-suka saja.”

Padahal postingnya berisi sesuatu yang serius meski disampaikan dengan guyon. Giliran saya jawab dengan bobot yang sama, eh disepelekan begitu saja.

Ada lainnya lagi yang postingnya saya komen-i. Jawabannya senada namun dengan kalimat yang berbeda, “Saya ndhak ingin diskusi/berdebat dengan njenengan…”

Sumpah saya bingung musti bereaksi gimana. Posting di fesbuk, giliran dikomeni berbeda, dibilang ndhak mau debat. Cuman komen yg senada aja yang dibiarkan.

Trus kenapa posting kalo ndhak mau dikomen (berbeda) oleh temannya?

SAYA tidak pergi karena temen-teman yang memaksa saya untuk menutup telinga karena mendengar musik mereka saya pandang salah atau benar. Saya tidak peduli bahwa orang lain itu berbeda dengan saya.

Saya hanya undur diri, karena sebagian dari mereka saya nilai sudah ndhak tabayyun lagi dalam berkata (baca: posting).

Saya tidak ingin menjadi manusia yang terseret jadi kurang tabayyun.

Dan lebih baik saya mendapatkan predikat: saya tidak islam, tidak muslim, sesuai standar mereka.

Saya hanya percaya Allah Yang Maha Kuasa, bukan percaya pada standar mereka.

Dari 500 orang, dalam beberapa hari friendlist saya menjadi 300 orang sejak rencana aksi awal November ini tergaung beberapa minggu sebelumnya.

Puncaknya usai aksi kemarin ini, dari 300 akun yang ada, tinggal 100 akun.

Yang ini saya tidak ingin pergi dari mereka. Sebab mereka hanyalah manusia netral yang tidak bersedia berbicara golongan apapun kecuali dunia secara terbuka tanpa sekat.

mereka hanya manusia yang berbicar atentang kehidupan bagi siapa saja, bukan bagi sekelompok isi dunia.

NORMAL

Kini, saya kembali bernafas berat. Ada sedikit kelegaan bisa mengundurkan diri dari gangguan keberadaan saya kepada teman-teman yang terganggu karena saya tidak bersedia menutup telingan saat mereka memutar musik.

Dan saya bisa kembali berbaur dalam group/forum yang sesuai dengan tema masing-masing.

Saya merasa kembali kepada khittah saya membuat akun fesbuk.

Saya merdeka atas diri saya sendiri. Dan setiap detik setiap waktu, saya semakin merasakan Tuhan menyayangi saya, sementara saya masih jauh untuk menyayangi-Nya.

Saya merdeka dalam kesunyian ini. Dan saya bersyukur untuk ini semua.

Alhamdulillahi wallahu akbar.

***

Buat Meme, Rilla, dkk. semuanya yang permintaan friend-nya saya tolak, inilah apa yang melatari semuanya. Hidup kalian sudah menemukan bentukknya. Merawat keluarga, mencintai suami/istri+anak-anak, dan menyiapkan masa depan terbaik bagi mereka: anak-anak kalian.

Menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat bagi semuanya tanpa batas sekat.

Jangan ikut akunku. Sekarang posting-postingku tambah liar. Tidak baik untuk kalian baca, malah bikin dosa nanti. 😀

Sekian tahun kalian mengenalku, sebagai -kalo boleh saya bahasakan sendiri- manusia yang kekeuh (baca: ngeyel) mempertahankan pikiran.

Saya minta kejujuran kalian: saya ngeyelan mempertahankan pemikiran, tapi ndhak mempertahankan aliran dan golongan kan?

Saya ingin tetap menjadi manusia yang mati-amtian mempertahankan pemikiran, bukan aliran atau golongan.

Dan saya minta doa restu kepada teman-teman semuanya, saya ingin mewariskan ini semua kepada Aleef Rahman saya, Aleef Rahman kami; sesosok manusia yang ingin kami kenalkan pada dunia, dan kelak Insya Allah ingin kami wakafkan untuk kehidupan.

Untuk mengenal manusia dan alam raya tanpa sekat, untuk memandang keluasan jagad raya ini dengan mata batinnya, untuk terus mengenal Tuhannya.

Bismillahi tawakaltu.

– FHW
no identity.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s