Tabayyun

Sebagai muslim, kita punya kewajiban tabayun. Bahasa gaulnya: cover both side story. Kenapa sekarang tabayyun ini hilang dari diri kita?

PILPRES kemarin, orang Indonesia kelihatan tabiat aslinya: mendadat buta pikiran. Bahkan buanyak rekan saya yang berpendidikan tinggi, mendadak seperti saya: menjadi sampah intelektual. Mereka semua menjadi manusia yang tidak bersedia meng-cover-both-side story.

Tentang adanya berita, kita tidak pernah tau yang benar yang mana sampai ada fakta otentik tentangnya.

Manusia Indonesia hawa-hawanya masih harus menemukan kebenaran dengan menciptakan kesalahan/penyalahan. Masih banyak yang belom sanggup menemukan dan mendapatkan kebenaran tanpa harus ada parameter kesalahan/penyalahan.

Alhasil, segala hal yang berbau bersekongkol/berkubu/bersekutu dengan apa yang satu persepsi/pandangan/ideologi/keyakinan menjadi fenomena/tindakan/aksi sehari-hari di masyarakat sini. Dengan kata lain, segala hal yang berbeda masih dianggap tabu dan harus dihindari/dilenyapkan.

Wujud nyata dari sangkaan subyektif saya di atas, masyarakat kita guuuaaampanggg banget terbelah/terpecah hanya karena perbedaan, bahkan sekecil apapun itu.

Ghibah/bergosip alias menguatkan pandangan nirfakta dan miskin otentifikasi menjadi sarana bagi itu semua.

***

Sebagai muslim, kita punya kewajiban tabayun. Bahaasa gaulnya: cover both side story. Kenapa sekarang tabayyun ini hilang dari diri kita? Bukankah tabayun ini ada pada ayat?

Tabayun, orang sono menterjemahkannya sebagai cover both side story.

Ternyata inilah hasilnya semua ini. Kita sudah nyaman untuk tidak ber-cover both side story. Tidak perlu kita cari “sisi satunya, sisi lainnya, sisi sebaliknya” sebelum kita mengumbar kata.

Kita sudah melenyapkan tabayyun dari diri kita.

Kita sering share berita hoax. Giliran ketauan hoax, dengan santainya kita ngomong, “Itu buat menyudutkan Islam.” Bla… bla… bla….

Kalo kita tabayyun, mstinya itu semua ndhak terjadi. Ndhak akan terjadi perbuatan yang merendahkan otak kita sendiri.

Hal yang berseberangan akan selalu kita anggap salah, tanpa kita periksa fakta dan logikanya. Ciri tabayun telah lenyap. Ciri ayat telah kita korupsi, ciri hikmah telah kita reduksi, ciri Quran telah kita nistakan berjamaah.

***

So, jangan pernah gampang terbuai dengan segala informasi yang sejalan, searah, atau seprinsip dengan ideologi Anda. Selalu tabayyun – cek kebenarannya alias cover both side story.

Dan jangan pernah gampang membenci dengan segala informasi yang tidak sejalan, searah, atau seprinsip dengan ideologi Anda. Jadikan informasi itu sebagai bahan cover both side story.

Buanyak kejadian posting viral yang katanya tentang kerusuhan agama, belakangan muncul edisi klarifikasinya kalo ternyata gambar-gambar yang diviralkan tersbut bukan sebagaimana yang diviralkan. Padahal saat memviralkan posting-posting yang belum jelas kebenarannya tersebut, nama Tuhan dibawa-bawa. Kalo sudah seperti ini -menyebut-nyebut Subhanallah, Masya Allah, Astagfirullah, dll.- saat membagi atau mengomentari posting/berita yang belum tervalidasi keotentikan faktualnya ini masuk ranah/kategori melecehkan Tuhan bukan?

Padahal mustinya kalo datang suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kita tidak mencelakakan suatu pihak karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kita menyesali perbuatan itu. Gali data-data atau bukti-bukti faktual otentik sejelas-jelasnya dulu sebelum menelan informasi. Dan sekali lagi: tabayyun/cover both side stroy!

Wallahualambisawab.

– FHW
both side person.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s